Nuryanti (1), Eni Fariyatul Fahyuni (2)
General Background: Digital skills are increasingly required for teachers to create interactive, creative, and joyful learning. Specific Background: At SDN Kenongo 1, digital technology has been integrated into classroom learning, although differences in teachers’ digital competence and available resources remain. Knowledge Gap: Uneven digital skills, unstable internet access, limited devices, and preparation time create challenges in consistent digital learning implementation. Aims: This study analyzes teachers’ professional competence in digital skills for Joyful learning and identifies classroom implementation barriers. Results: Using a qualitative phenomenological approach, the study found that 100% of teachers prepared learning modules aligned with teaching materials, while 75% implemented learning according to their modules. Novelty: The study highlights the combination of digital competence, school support, varied digital media, and active student participation in Joyful learning. Implications: Structured training and continuous learning-community mentoring are recommended to support more equitable digital competence development in elementary schools.
Key Findings Highlights
A total of 20 educators demonstrated varying levels of technological proficiency, ranging from high to low.
Activities such as games, exploration, interactive media, and group work made the students more active, enthusiastic, and confident.
The availability of Wi-Fi, LCD screens, projectors, training, and learning communities supports the learning process, but network connectivity, devices, and preparation time remain challenges.
Keywords: Digital Skills, Joyful Learning, Teacher Professional Competence, Digital Learning, Elementary Education
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting dalam membangun generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas, yang bertujuan untuk memberikan pengalaman dan pemahaman kepada siswa [1]. Dalam menghadapi tantangan zaman di abad 21, banyak keterampilan yang harus dimiliki dan dikuasai oleh peserta didik salah satunya adalah literasi dasar [2]. Literasi adalah kemampuan mendasar yang harus dimiliki setiap individu guna menyelesaikan dan memecahkan berbagai tantangan dalam kehidupan [3], [4], [5]. Tujuan dari literasi membaca adalah membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman serta menemukan strategi yang efektif untuk meningkatkan keterampilan membaca, termasuk kemampuan dalam memahami makna sebuah teks [6]. Pada tahun 2022 indonesia berada ditingkat 68 dari 81 negara dan menduduki skor literasi 371 menurut PISA (Program for international asesment ) [7]. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah mencanangkan program gerakan literasi sebagai wujud dari kepedulian terhadap masyarakat Indonesia, dengan harapan agar seluruh lapisan masyarakat bisa mengenyam pendidikan melalui program tersebut. Gerakan literasi sekolah adalah sebuah program pemerintah dalam upaya peningkatan keterampilan berliterasi peserta didik melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan [8] . Gerakan literasi sekolah merupakan upaya yang dilakukan sekolah secara menyeluruh melalui pelibatan publik sebagai organisasi pembelajaran literat sepanjang hayat [9]. Pada tingkat pendidikan dasar, pelaksanaan gerakan literasi sekolah dapat dilaksanakan dalam 3 tahap sesuai dengan kesiapan tiap- tiap lembaga. Tahapan tersebut antara lain : 1). tahap pembiasaan, 2). tahap pengembangan, 3) dan tahap pembelajaran [10],[11].
Sejalan dengan gagasan piaget mengungkapkan bahwa dalam memahami konsep yang dipelajari, siswa mengacu pada pengalaman pribadi mereka sebagai dasar pemahaman [12]. Untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pengembangan literasi tidak berhenti hanya ketika peserta didik sudah mampu membaca dengan lancar dan baik saja, namun harus terus berjalan dan diimplementasikan dalam setiap pembelajaran pada semua mata pelajaran yang ada agar menjadi kebiasaan belajar. Melalui 15 menit pertama diawal pembelajaran diharapkan mampu membangun pola pikir anak dalam memahami konsep literasi. Dengan membaca, maka dapat menumbuhkan suatu pola pikir yang kreatif, inovatif dan produktif sehingga mampu menghantarkan anak dalam menghadapi tantangan zaman [13], [14]. Tujuan utama dari gerakan literasi sekolah adalah menumbuhkan budaya membaca yang kuat, sehingga mampu meningkatkan kualitas belajar di sekolah. Program gerakan literasi sekolah bisa diwujudkan melalui berbagai cara, diantaranya adalah melalui pemanfaatan literasi digital. Literasi digital merupakan salah satu wadah yang disediakan untuk kepentingan literasi dengan menawarkan berbagai koleksi buku digital [15]. Adanya teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana dan sumber materi pembelajaran [16]. Platform digital ini menyediakan koleksi buku – buku dengan memanfaatkan teknologi sebagai akses pembuka. Dengan adanya pelayanan literasi digital diharapkan mampu menjadi solusi bagi sekolah yang belum memiliki ruang perpustakaan konvensional dan koleksi buku yang masih terbatas sehingga dapat menumbuhkan keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar siswa menjadi lebih baik, sebagaimana penelitian menjelaskan bahwa literasi ini dapat meningkatkan minat baca peserta didik dalam menumbuhkan keterampilan membaca dan menulis, sehingga mereka dapat mengembangkan pola pikir yang lebih baik [17].
Adanya perkembangan pola pikir dapat dilihat dari keterampilan yang dimiliki siswa seperti bagaimana cara mereka membaca dan memahami isi bacaan ( keterampilan kognitif ), memenejemen diri, dan kepercayaan diri yang bertambah [18]. Jika keterampilan diri sudah terbentuk, maka kebiasaan belajar menjadi sebuah rutinitas yang menyenangkan buat siswa. Keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar merupakan dua aspek esensial dalam mendukung perkembangan akademik dan karakter siswa sekolah dasar. Keterampilan pribadi dapat membantu siswa dalam pembentukan sikap positif seperti adanya tingkat kemandirian, disiplin dan kepercayaan diri sedangkan kebiasaan belajar berkontribusi pada pencapaian hasil belajar yang optimal. Dua aspek tersebut menjadi dasar penting dan saling melengkapi dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan di abad 21 terutama dalam hal pendidikan karena mampu membentuk peserta didik yang mandiri dan mampu berpikir kritis. Dengan demikian keterampilan pribadi dan kebiasaan balajar mampu menjadi langkah strategis dalam mengimplementasikan pembelajaran sepanjang hayat. Sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian sebelumnya bahwa program gerakan literasi digital berfokus pada implementasi kegiatan membaca selama 15 menit [19]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas yang mendukung mampu meningkatkan partisipasi, namun belum mengeksplor secara rinci peran literasi digital dalam membentuk, refleksi diri, berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa. Sebagian studi penelitian masih menempatkan teknologi sebatas alat bantu teknis tanpa menelaah perubahan paradigma belajar [20]. Literasi digital sering dipahami hanya sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat, bukan kemampuan kritis dalam mengelola informasi. Penelitian ini menawarkan perspektif baru dengan menyoroti pergeseran literasi dari aktivitas membaca menjadi praktik kognitif dan sosial yang terintegrasi dengan teknologi untuk memperkuat keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar abad ke-21.
Kompetensi literasi digital guru menjadi kunci utama dalam peningkatan kualitas pendidikan [21]. Guru harus memiliki berbagai inovasi untuk mengembangkan program pemerintah yang sudah dicanangkan. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan mampu meningkatkan literasi bagi peserta didik di sekolah dasar yang ada dikabupaten Sidoarjo, terutama bagi sekolah yang baru berdiri dan belum memiliki ruang perpustakaan secara memadai. Untuk mewujudkan program gerakan literasi sekolah yang optimal, dibutuhkan manajemen yang baik agar tujuan dari program tersebut bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Manajemen yang baik memiliki beberapa komponen diantaranya adalah; perencanaan (planning), pengorganisasian ( organizing ), pengarahan (actuating), dan pengendalian ( controlling ) [22], [23], [24]. Perencanaan adalah aktivitas awal dalam bidang fungsi manajemen, Pengorganisasian tidak hanya berhubungan dengan individu, tetapi juga mencakup pengelolaan dan distribusi keuangan, informasi, serta berbagai sumber daya lainnya dalam organisasi, Kerja sama yang baik dan efektif dari anggota untuk mencapai tujuan organisasi dapat dilakukan melalui pengarahan dan tahap terakhir yaitu mengevaluasi kemajuan dalam mencapai tujuan serta mengambil langkah yang diperlukan jika tujuan belum tercapai [25]. Manajemen yang baik sangat menentukan tingkat keberhasilan dari sebuah program yang akan dijalankan, untuk itu bagi pemangku kepentingan dalam hal ini adalah kepala sekolah harus memiliki rencana sebelum melakukan segala sesuatunya.
Disisi lain, tidak semua lembaga sekolah memiliki manajemen yang baik dalam mengelola program gerakan literasi sekolah melalui pemanfaatan literasi digital. Hingga saat ini belum ada kerangka kerja yang sistematis untuk mengintegrasikan literasi digital secara utuh kedalam gerakan literasi digital, menjadikannya hanya pelengkap teknologi, bukan kompetensi inti abad ke-21. Sebagian besar penelitian masih bersifat jangka pendek dan deskriptif sehingga program belum terukur dampak jangka panjangnya, kurangnya kajian yang mendalam tentang kompetensi dan kesiapan guru dalam mengkonsep pembelajaran literasi digital, menghambat kebijakan berbasis bukti, serta minimnya kolaborasi antara orang tua dan komunitas sekolah. Secara keseluruhan, program ini masih menghadapi tantangan dalam pengukuran dampak, kapasitas pedagogis, dan penyelarasan praktik untuk memenuhi tuntutan literasi digital abad ke-21. Krisis pembelajaran ini ditandai dengan langkanya kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung pada banyak anak dalam mengembangkan kemampuannya [26]. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, peserta didik harus dilatih untuk membaca. Namun, kemampuan literasi di Indonesia sangat rendah, terutama di lingkungan sekolah dasar. Anak- anak mengalami perkembangan yang sangat cepat pada saat usia 6 sampai 12 tahun yaitu ketika memasuki usia sekolah dasar [27]. Rendahnya tingkat literasi ini dapat berdampak pada sumber daya manusia yang ada sehingga kurang kompetitif. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya tingkat literasi diantaranya: metode yang diberikan saat pembelajaran kurang menyenangkan bagi siswa, masih berorientasi pada hasil bukan pada proses pembelajarannya [17], fasilitas yang ada kurang mendukung, kualitas pendidikan yang belum merata, rendahnya minat baca, faktor budaya , dan lain-lain [28]
Adapun pra riset yang dilakukan oleh peneliti dengan mengamati kondisi secara langsung di beberapa sekolah dasar yang ada didaerah Kabupaten Sidoarjo terkait infrastruktur yang ada, proses pembelajaran, dan lain sebagainya. Dengan budaya dan ekonomi masyarakat yang beraneka ragam, menuntut guru untuk terus berinovasi. Sejalan dengan model pembelajaran di era digital saat ini bahwa kemajuan teknologi informasi yang signifikan dikalangan siswa dan komunikasi telah menggeser peran guru dari sekadar pemberi materi menjadi fasilitator dalam proses belajar [29], [30]. Sebagai pendamping bagi peserta didik, maka guru perlu dibekali dengan metode pembelajaran yang inovatif melalui strategi literasi [31]. Langkah inovatif yang diambil guru untuk membantu meningkatkan literasi peserta didik adalah dengan memanfaatkan teknologi yang ada dan menuangkan kedalam bentuk literasi digital melalui perantara smartphone, computer dan jaringan internet sebagai syarat utama pengaksesan literasi digital. Melalui kegiatan membaca, keberadaan literasi digital diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih giat membaca secara mandiri, menjadikannya kebiasaan dalam aktivitas sehari-hari, serta mendapatkan manfaat yang besar dalam proses pembelajaran mereka. walaupun gerakan literasi digital telah diimplementasikan di pendidikan dasar dan menengah, namun dalam implementasinya masih menunjukkan sejumlah keterbatasan. Integrasi literasi digital dalam praktik Gerakan Literasi Digital belum optimal; keterampilan berpikir kritis siswa masih minim, evaluasi dampak program terhadap kebiasaan belajar dan kesiapan pedagogis guru belum terukur secara komprehensif dalam mengembangkan literasi digital. Berdasarkan kondisi tersebut, permasalahan utama yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pemanfaatan literasi digital dalam menumbuhkan keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar siswa dan memberikan arah konseptual bagi pengembangan gerakan literasi digital yang lebih relevan, adaptif, dan berbasis bukti ilmiah di era digital.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran ( mixed method ) dengan desain exploratory sequential. Penelitian metode campuran merupakan bentuk penelitian yang mengasosiasikan metode kuantitatif dengan metode kualitatif [32]. Pendekatan ini melibatkan berbagai asumsi filosofis serta melakukan pencampuran kedua metode ( kuantitatif dan kualitatif ) dalam satu penelitian [33]. Pendekatan ini dipilih dengan tujuan untuk memberikan gambaran secara komperehensif dan mendalam terhadap permasalahan yang ada. Deskriptif kualitatif datanya disajikan dalam bentuk kalimat melalui fenomena alam ( fenomologis ) terhadap subyek penelitian dengan ruang lingkup khusus serta memanfaatkan metode yang alamiah [34], [35], [36]. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menguji data melalui pengukuran variabel dengan prosedur statistik [32]. Desain exploratory sequential memiliki 2 fase yaitu melalui teknik kualitatif dan teknik kuantitatif. Tahap awal, peneliti memulai dengan mengumpulkan dan menganalisis data kualitatif terlebih dahulu. Hasil dari analisis kualitatif ini kemudian menjadi dasar untuk pengumpulan data kuantitatif pada tahap kedua. Pada strategi ini, metode kualitatif memiliki bobot atau penekanan utama yang digunakan untuk 1). mengidentifikasi pemanfaatan literasi digital dalam menumbuhkan keterampilan dan kebiasaan belajar di sekolah dasar. 2). untuk mengetahui kendala yang dihadapi selama pelaksanaan serta upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk meningkatkan efektifitas program literasi digital. Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk mengukur hubungan antara variabel literasi digital, keterampilan pribadi (personal skills), dan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar dalam konteks pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Desain exploratory sequential memiliki 2 fase yaitu melalui teknik kualitatif dan fase kedua melalui teknik kuantitatif . Fase pertama menekankan pada pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan terakhir terhitung sejak desember 2024 s.d Mei 2025. Adapun tempat penelitian dilaksanakan dibeberapa Sekolah Dasar yang ada di kabupaten sidoarjo. Jumlah informan yang terlibat sebanyak 20 orang terdiri dari guru, siswa, orang tua. Agar data yang didapat lebih akurat maka pemilihan subyek dilakukan melalui teknik pusposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara serta dokumentasi. Pada awal penelitian kualitatif, kegiatan analisis data dilakukan secara terus menerus dan interaktif sampai pada titik jenuh dari data tersebut [37]. Adapun alur prosedurnya memiliki tiga tahapan yang dapat dilakukan antara lain : (1) reduksi data, (2) tampilan data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi [38]. Data dari observasi dan wawancara kemudian dianalisis dengan cara mereduksi data yaitu memilih hal yang ada keterkaitan dan merangkumnya agar mendapatkan gambaran yang jelas. Teknik analisis dilakukan secara sistematis melalui familiarisasi data, proses pengkodean awal seperti “penggunaan media digital”, “dukungan guru”, “kendala fasilitas”, dan “motivasi membaca”. Kemudian dilakukan kategorisasi dengan mengelompokkan tiga tema utama yaitu integrasi digital dalam GLS, transformasi kebiasaan belajar dan peran ekosistem literasi dalam hal ini kolaborasi guru, siswa dan orang tua. Data yang sudah direduksi akan memudahkan peneliti pada proses pengumpulan data selanjutnya sesuai dengan yang diperlukan. Untuk menguji keabsahan data dari sebuah penelitian kualitatif adalah dengan menggunakan triangulasi yaitu suatu proses pengumpulan data yang diambil dari berbagai sumber yang berbeda [39], [40]. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek dan membandingkan derajat kepercayaan informasi yang didapatkan melalui cara dan waktu yang berbeda, sedangkan triangulasi metode dilakukan untuk menunjang keabsahan data dengan metode yang berbeda. Untuk memudahkan teknik analisis, maka penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan member cheking sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Fase kedua desain exploratory sequential beralih ke pendekatan kuantitatif. Tujuan dari fase ini adalah untuk mengkonfirmasi atau memvalidasi temuan yang diperoleh dari fase kualitatif sebelumnya. Jadi, data kuantitatif digunakan untuk memperkuat atau menggeneralisasi hasil awal yang didapatkan dari data kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk mengukur hubungan antara variabel literasi digital, keterampilan pribadi (personal skills), dan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar dalam konteks pelaksanaan GLS. Dalam penelitian ini, jumlah sampel ditetapkan sebanyak 100 responden dari sekolah dasar berbeda. Variabel dalam penelitian ini ada tiga yaitu ; 1) Literasi digital (X_1) mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi digital secara kritis dan etis, 2) Keterampilan pribadi (Y_1) meliputi kemampuan komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab dan pengelolaan diri dalam belajar, dan 3) Kebiasaan belajar (Y_2) mengukur konsistensi siswa dalam membaca, mencatat dan menggunakan sumber belajar digital. Instrumen yang digunakan adalah penyebaran angket dengan skala likert 4- poin dengan rentang 1 (“sangat tidak setuju”) hingga 4 (“sangat setuju”) dan telah diuji melalui validitas isi (expert judgment). Data dikumpulkan secara daring melalui Google Form yang dibagikan melalui guru kelas. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan tahapan uji validitas dan reliabilitas, analisis deskriptif, uji korelasi pearson, dan analisis regresi linear sederhana. Dengan metode ini, diharapkan dapat memberikan gambaran yang mendalam terkait pemanfaatan literasi digital sehingga mampu menumbuhkan keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar siswa dan pada akhirnya mampu meningkatkan pemahaman dan kualitas belajar siswa di sekolah dasar.
Langkah awal dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan wawancara kepada sejumlah informan yang dijadikan subyek penelitian secara langsung terkait program gerakan literasi sekolah melalui literasi digital serta bagaimana manajemen pengelolaan program tersebut. Subyek penelitian dibagi menjadi tiga yaitu: 1).tenaga pendidik dalam hal ini adalah kepala sekolah dan guru , 2). Siswa, dan 3). orang tua. Hal ini bertujuan agar penelitian ini bisa mendapatkan data yang lebih mendalam sehingga mampu mengidentifikasi pemanfaatan literasi digital dalam menumbuhkan keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar dan untuk mengetahui barbagai kendala selama pelaksanaan serta mencari solusi dan upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah sehingga mampu memberikan arah konseptual terhadap pengembangan GLS. Untuk mendapatkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, maka peneliti juga menggunakan teknik wawancara secara tidak langsung melalui google form. Dari data pra riset sebelum penerapan literasi digital, tingkat literasi siswa terbagi menjadi 4 kriteria dengan spesifikasi sebagai berikut : a). Angka 1 menunjukkan tingkat literasi sangat rendah, artinya Siswa belum mengenal konsep literasi digital dasar, belum mampu mengakses, memahami, atau menggunakan media digital untuk belajar; b). Angka 2 menunjukkan tingkat literasi siswa rendah, artinya siswa sudah mengenal huruf, dapat membaca sederhana, dan mulai berinteraksi dengan media digital meskipun masih terbatas pada aspek teknis; c). Angka 3 menunjukkan tingkat literasi siswa sedang, artinya Siswa sudah mampu membaca dengan pemahaman dasar, mengenali informasi relevan dari sumber digital, dan mulai membangun kebiasaan belajar teratur; d). Angka 4 menunjukkan tingkat literasi siswa tinggi artinya pada posisi ini, siswa sudah memiliki kemampuan literasi digital komprehensif artinya dapat membaca dengan lancar, memahami makna bacaan, mengevaluasi sumber, dan menggunakan media digital secara etis serta produktif. Dari hasil wawancara didapatkan data bahwa siswa yang memiliki tingkat literasi sangat rendah dengan persentase sekitar 8%, siswa memiliki tingkat literasi rendah dengan persentase 62%, , diantaranya memiliki tingkat literasi sedang sebesar 15%. Dan sisanya siswa memiliki tingkat literasi tinggi sebesar 15%. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi siswa masih tergolong rendah, oleh sebab itu diperlukan inovasi guru untuk menarik minat siswa dalam hal literasi, salah satunya dengan pengadaan literasi digital.
A. Tahapan program gerakan literasi digital di sekolah dasar
Program gerakan literasi sekolah digital dapat dilakukan dengan 4 tahap yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan evaluasi. Perencanaan ( planning ) adalah proses awal yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal melalui kerangka kerja maupun bentuk pemikiran [41], [42]. Dengan adanya perencanaan, maka akan memberikan arahan yang jelas terhadap aktivitas organisasi dan perilaku kerja para manajer dan pihak lainnya [43]. Perencanaan yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam mewujudkan program gerakan literasi sekolah antara lain : a). Kepala sekolah mengadakan rapat dengan dewan guru mengenai program GLS melalui literasi digital dengan membentuk tim literasi. b). Guru bersama tim literasi mengundang wali murid terkait pembahasan program literasi digital. c). Menganalisis kebutuhan untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa, infrastruktur yang dibutuhkan dan ketersediaan sumber daya dalam penyelenggaraan literasi digital. Pengorganisasian ( organizing ) merupakan proses pembagian kerja di mana pekerjaan diberikan kepada seseorang sesuai tupoksinya dan diberikan semua kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah diputuskan bersama [44], [25]. Untuk meningkatkan kinerja organisasi, sebuah organisasi harus berkonsentrasi pada inovasi di antara para karyawan dan kinerja pekerjaan mereka [45]. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai pelindung dan pembimbing dari program yang akan dijalankan.Tim literasi terdiri dari guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Wali murid sebagai pendukung dari program gerakan literasi sekolah melalui literasi digital.
Pengarahan ( actuating ) adalah tindakan pemimpin dalam membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan seluruh bagian organisasi agar tujuan tercapai [41], [46]. Pada tahap ini tim literasi melaksanakan program literasi sesuai rencana yang telah disusun yaitu 15 menit pertama dilakukan pembiasaan membaca. Pelaksanaan program literasi digital melibatkan beberapa pihak antara lain ; guru, tenaga kependidikan, perwakilan orang tua, dan siswa. Evaluasi ( controlling ) merupakan proses untuk memastikan bahwa setiap kegiatan berlangsung sesuai dengan rencana, ketentuan, dan instruksi yang telah ditetapkan sebelumnya [47], [48]. Pada tahap ini, dapat diidentifikasi bahwa 1). Adanya peningkatan kemampuan membaca, 2). Siswa memiliki kepercayaan diri saat menceritakan kembali buku yang sudah dibaca sesuai dengan bahasanya sendiri dan memiliki keteladanan dari buku yang dibaca. Baik dari segi guru maupun peserta didik harus mampu mengembangkan platform pembelajaran baru dan pembelajaran literasi [18]. Untuk mengetahui efektivitas hasil dari program literasi, maka tim literasi harus melakukan evaluasi secara berkala dan mengidentifikasi komponen yang perlu diperbaiki.
Figure 1. Gambar 1. Grafik perubahan tingkat literasi
Grafik garis diatas menunjukkan perubahan tingkat literasi siswa sebelum (pra riset) dan sesudah program literasi digital. Terlihat bahwa: a). Kategori literasi sangat rendah dan literasi rendah mengalami penurunan signifikan. b). Sementara kategori literasi sedang dan literasi tinggi mengalami peningkatan, menandakan keberhasilan program dalam meningkatkan keterampilan pribadi dalam hal ini kemampuan membaca siswa. Sejalan dengan hasil wawancara yang telah dilakukan pada sejumlah informan menunjukkan bahwa program gerakan literasi sekolah melalui literasi digital mampu meningkatkan tingkat literasi siswa meskipun tidak sepenuhnya karena ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya. Kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan komunikasi siswa akan berkorelasi positif dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis mereka [49].
Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap hasil yang ditampilkan pada Gambar 1, pencapaian literasi siswa di sekolah dasar membentuk pola bertingkat yang mencerminkan perbedaan kualitas dalam penguasaan teknik literasi digital. Siswa dalam kategori literasi menengah dan tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu mengakses dan membaca sumber digital, namun belum mencapai pemahaman membaca yang mendalam dan reflektif. Siswa dalam kategori literasi rendah dan sangat rendah menunjukkan bahwa program literasi dan teknologi yang tersedia tidak secara otomatis menghasilkan keterampilan literasi yang signifikan. Hasil menunjukkan bahwa siswa berada dalam fase transisi literasi, di mana mereka mampu membaca secara teknis tetapi belum sepenuhnya memahami makna bacaan. Oleh karena itu, pendekatan pedagogis yang berpusat pada proses kognitif dan metakognitif perlu diperkuat. Kesuksesan literasi digital dalam pendidikan dasar harus diukur berdasarkan kualitas pemahaman dan kebiasaan belajar siswa, bukan hanya tingkat aktivitas membaca berbasis teknologi.
Figure 2. Gambar 2. Grafik respon guru
Gambar 2. menunjukkan grafik respon hasil wawancara terstruktur dengan guru. Respon guru terhadap pembelajaran literasi digital menunjukkan kecenderungan positif namun belum sepenuhnya transformatif. Sebagian besar guru telah memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran dan melaksanakan kegiatan membaca digital 15 menit. Hal ini menandakan adanya kesadaran profesional bahwa literasi digital adalah bagian dari tuntutan kompetensi guru abad ke-21. Namun, berdasarkan wawancara kualitatif, guru masih cenderung melihat literasi digital sebagai alat bantu (instrumental tool), bukan sebagai kerangka pedagogis (pedagogical framework). Guru lebih banyak menggunakan teknologi untuk memindahkan materi ke platform digital, bukan untuk mengubah pendekatan mengajar.
Guru tidak hanya memandang literasi digital sebagai alat pendukung teknis, tetapi juga sebagai alat pedagogis yang berkontribusi dalam meningkatkan keterlibatan siswa, kemandirian belajar, dan kualitas interaksi belajar. Pola respons ini menunjukkan bahwa efektivitas literasi digital, menurut perspektif guru, sangat dipengaruhi oleh integrasinya dalam strategi belajar dan bimbingan yang terarah.
Figure 3. Gambar 3. Grafik respon siswa
Respon siswa menunjukkan antusiasme tinggi dan keterlibatan aktif dalam kegiatan literasi digital. Mereka menganggap platform digital lebih menarik, interaktif, dan menumbuhkan minat membaca. Hal ini menandakan adanya pergeseran paradigma belajar, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga produsen makna (meaning maker) melalui aktivitas membaca dan menulis digital. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat guru ketika diajukan pertanyaan secara langsung terkait minat siswa saat pelaksanaan program gerakan literasi sekolah melalui literasi digital. Guru menjawab “ Para siswa sangat antusias dengan pembelajaran berbasis digital khususnya literasi digital dikarenakan tidak hanya mendengarkan mereka juga dapat melihat berbagai model pembelajaran yang menarik yang akan memudahkan dalam memahami materi tersebut “. Ini bisa menjadi peluang bagi guru untuk terus berinovasi dalam mengembangkan program literasi agar diminati oleh siswa. Melalui pemanfaatan media digital, mampu memicu keaktifan siswa dalam membaca, mencari informasi, serta mengasah kemampuan berpikir kritis mereka [19]. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Andersen dkk bahwa aktivitas yang bervariasi dalam sebuah pembelajaran mampu mengurangi tingkat kejenuhan siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna [50], [51]. Namun ketika siswa diberikan pertanyaan terkait kelengkapan fasilitas yang mendukung program tersebut, mereka menjawab fasilitasnya masih belum memadai. Hal ini menyebabkan kesempatan mereka dalam mengakses literasi digital menjadi terbatas karena harus bergantian dengan siswa lainnya.
Dari sudut pandang pedagogis, literasi digital dapat digunakan untuk membentuk pengalaman belajar yang bermanfaat bagi siswa sekolah dasar, asalkan didukung oleh instruksi yang terstruktur. Berdasarkan tanggapan positif siswa, literasi digital mampu menjembatani kebutuhan belajar anak-anak dengan karakteristik generasi digital. Namun, hal ini juga memerlukan desain pembelajaran yang mengarahkan siswa menuju pemahaman membaca yang lebih mendalam. Temuan ini memperkuat argumen bahwa tanggapan siswa terhadap literasi digital merupakan indikator penting keberhasilan implementasi program literasi, yang mencerminkan kualitas proses pembelajaran yang berlangsung, bukan hanya tingkat kepuasan siswa.
Figure 4. Gambar 4. Grafik respon orang tua
Orang tua menunjukkan respon positif dan partisipatif terhadap pembelajaran literasi digital. Sebagian besar mendukung anaknya menggunakan perangkat digital untuk membaca dan belajar, serta menerapkan sistem reward and punishment guna mengatur waktu penggunaan handphone. Dari perspektif ekologi pendidikan Bronfenbrenner, keterlibatan orang tua merupakan bagian dari mikrosistem literasi yang memperkuat keberlanjutan praktik literasi dari sekolah ke rumah [52] . Namun, wawancara menunjukkan bahwa sebagian orang tua masih memandang literasi digital secara fungsional sebatas penggunaan perangkat, belum sebagai praktik literasi reflektif yang membentuk nilai dan kebiasaan belajar. Dengan demikian, peran orang tua masih dominan pada aspek pengawasan, belum pada aspek co-learning (belajar bersama anak). Padahal, penelitian terbaru menegaskan bahwa kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi faktor utama keberhasilan gerakan literasi digital
Orang tua berfungsi sebagai bagian dari ekosistem literasi digital, yang membantu memastikan bahwa praktik literasi terus berlanjut di rumah dan di sekolah. Respon orang tua menunjukkan bahwa literasi digital bukan hanya program sekolah; itu adalah praktik sosial edukatif yang membutuhkan kerja sama keluarga dan institusional. Oleh karena itu, temuan ini meningkatkan pemahaman tentang literasi digital sebagai proses kolaboratif yang bergantung pada keterlibatan aktif orang tua dalam membantu dan mengawasi pengalaman belajar digital anak-anak mereka.
Figure 5. Gambar 5. Hasil wawancara terkait literasi digital
Gambar diatas menunjukkan persentase alasan siswa tertarik dengan pengembangan literasi digital. Ada berbagai alasan singkat yang diungkapkan oleh subyek saat diberi pertanyaan terkait ketertarikannya dengan literasi digital. Dari gambar diatas secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa lebih antusias dengan inovasi dalam suatu pembelajaran. Siswa merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrah dan tahap usianya, jasmani dan rohaninya akan lebih mudah menerima pelajaran apabila materi dan metode pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan usianya [53], [54]. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ragil dkk bahwa dengan diterapkannya pembelajaran abad ke-21 dalam dunia pendidikan yang terus mengalami perkembangan dan pergeseran cepat dalam praktik literasi global, kesadaran akan pentingnya pendekatan pembelajaran yang mampu merespons kebutuhan individu setiap peserta didik semakin meningkat [55], [56].
Sebagai seorang pendidik yang berada di era mereka, harus mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran salah satunya melalui literasi digital. Dengan berbagai fitur yang disediakan , maka siswa merasa lebih tertarik dan tertantang untuk mengunjungi platform digital. Buku- buku yang disediakan juga sangat beragam, selain buku pelajaran, buku- buku bernuansa islami juga disediakan. Meskipun pada awalnya mereka kurang senang membaca, dari hasil penelitian yang didapat, akhirnya mereka tertarik untuk mengunjunginya. Untuk mengasah motorik siswa, platform tersebut juga dilengkapi dengan berbagai video yang menampilkan permainan, nyanyian tradisional yang bisa di implementasikan langsung saat jam istirahat berlangsung. Dengan demikian, aspek kualitas konten digital menjadi kunci dalam menumbuhkan keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar.
B. Kendala dan arah konseptual program Gerakan Literasi digital.
Kemampuan membaca menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan kognitif dan pencapaian akademik [57], [58]. Disamping itu, tim pengajar yang kompeten dan profesional juga menjadi penentu dalam keberhasilan suatu pendidikan [59]. Dalam pengembangan program gerakan literasi sekolah melalui literasi digital di Sekolah Dasar tidak bisa berjalan secara optimal, ada beberapa faktor yang menjadi kendala antara lain metode yang diberikan saat pembelajaran kurang menyenangkan bagi siswa, masih berorientasi pada hasil bukan pada proses pembelajarannya, seperti yang dikutip dari penjelasan salah satu informan melalui wawancara secara langsung. Ketika pertanyaan diajukan kepada guru terkait kendala yang dihadapi saat pelaksanaan program literasi digital, beberapa guru menjawab “ Ada beberapa kendala yang dialami saat pelaksanaan program GLS diantaranya kurang perangkat yang disediakan oleh pihak sekolah , keterbatasan dana dan kurangnya persiapan komunitas belajar sekolah, yang terdiri dari guru, siswa, dan perangkat sekolah”. Guru juga menjelaskan bahwa dukungan dari orang tua juga sangat berpengaruh dalam kegiatan literasi dirumah sehingga bisa menjadi kendala program literasi digital. Sejalan dengan respon siswa ketika diajukan dengan pertanyaan “Bagaimana kelengkapan fasilitas sekolah dalam mendukung program Gerakan literasi sekolah digital ? apakah sudah bagus ?” sebagian menjawab “kurang lengkap”. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dari pihak sekolah seperti penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana dan dukungan teknis sangat menentukan keberhasilan program tersebut. Pusat dari organisasi disekolah adalah proses belajar mengajar [60]
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, pihak sekolah terus berupaya dalam meningkatkan efektifitas program gerakan literasi sekolah melalui literasi digital dengan cara melakukan sosialisasi secara berkala terkait pentingnya budaya literasi pada orang tua siswa. Memberikan pelatihan kepada guru baik secara langsung maupun dengan mengikuti diklat atau seminar yang diadakan oleh pemerintah terkait pengembangan inovasi pembelajaran di era digital ini. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Gunawan bahwa upaya peningkatan kompetensi literasi guru bisa berasal dari diri sendiri maupun pihak lain [61] . Tidak dapat dipungkiri bahwa didalam mengajar kadangkala guru juga mengalami suatu kejenuhan yang disebabkan oleh berbagai masalah dan tuntutan, oleh sebab itu butuh suatu program khusus untuk mengatasi kejenuhan tersebut, salah satunya dengan program mindfulness [62]. Selain itu sekolah berupaya dalam penyediaan anggaran untuk sarana dan prasarana pendukung program literasi digital sebagaimana diungkapkan oleh kepala sekolah “ Untuk mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah digital, sekolah dapat meningkatkan aksesibilitas, menambah konten edukatif, mengintegrasikannya dalam pembelajaran, mengadakan program literasi interaktif, dan memberikan pelatihan penggunaan bagi guru serta siswa.,Serta memberikan macam macam buku baca dari buku ilmu pengetahuan buku cerita buku kisah nabi sehinggga dapat memberikan motivasi pada siswa untuk selalu rajin membaca setiap hari “. Melalui upaya- upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektifitas program literasi digital sehingga mampu meningkatkan keterampilan pribadi dan pemahaman siswa secara mendalam, karena pada dasarnya siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, yang secara teoritis dapat ditingkatkan melalui pembelajaran yang tepat [63], [49]. Kemampuan ini akan lebih terasah apabila didukung oleh bahan bacaan yang terstruktur, seperti materi ajar yang dirancang secara khusus dan selaras dengan target pengembangan kemampuan berpikir kritis mereka.
Berdasarkan hasil temuan dari analisis kualitatif dan untuk mendapatkan hasil yang lebih kredibel, maka peneliti juga menyajikan data kuantitatif untuk mengukur hasil belajar siswa dari ranah kemampuan literasi melalui analisis regresi linear sederhana dan uji korelasi pearson dengan SPSS versi 2024 untuk melihat hubungan antarvariabel.
a. Uji Korelasi Antarvariabel
Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa seluruh hubungan antarvariabel bersifat positif dan signifikan
( sign < 0,05)
Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat literasi digital siswa, semakin baik pula keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar mereka. Korelasi yang kuat antara keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar juga menunjukkan adanya saling keterkaitan antara kedua aspek hasil belajar tersebut. Temuan ini konsisten dengan teori Self-Regulated Learning (SRL) oleh Zimmerman, yang menyatakan bahwa kemampuan mengatur diri dalam belajar (self-discipline, goal setting, self-monitoring) merupakan prasyarat terbentuknya kebiasaan belajar yang efektif [64]. Selain itu, hubungan positif antara personal skills dan learning habits ini mendukung hasil penelitian Fauziah & Pratiwi dan Rahmawati yang menemukan bahwa literasi digital mampu meningkatkan motivasi dan kemandirian belajar melalui penguatan disposisi pribadi [20], [31].
Kekuatan korelasi yang moderat ini menunjukkan bahwa keterampilan pribadi seperti kemandirian, tanggung jawab, ketegasan pendapat, dan refleksi diri berperan sebagai dasar internal dalam pembentukan kebiasaan belajar yang konsisten, seperti ketekunan membaca, manajemen waktu belajar, dan pemanfaatan sumber belajar digital. Dengan kata lain, siswa yang memiliki keterampilan pribadi yang lebih berkembang cenderung memiliki pola belajar yang lebih terorganisir dan bermakna. Korelasi ini mendukung teori konstruktivisme dan teori belajar yang diatur sendiri. Teori-teori ini menempatkan aspek intrapersonal sebagai komponen penting dalam pembentukan kebiasaan belajar. Namun, nilai korelasi yang tidak mencapai kategori sangat kuat menunjukkan bahwa ada faktor tambahan yang mempengaruhi kebiasaan belajar siswa. Desain pembelajaran berbasis literasi digital, lingkungan keluarga, dan dukungan guru adalah beberapa faktor tersebut. Akibatnya, temuan Tabel 1 tidak hanya menunjukkan adanya hubungan antara variabel, tetapi juga memungkinkan pemahaman analitis yang lebih mendalam tentang kebiasaan belajar sebagai hasil interaksi multidimensi daripada hanya faktor individu.
b. Uji regresi linier sederhana 1
Model 1: Pengaruh Literasi Digital terhadap Keterampilan Pribadi
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa semakin tinggi literasi digital siswa yang ditandai dengan kemampuan mencari, menilai, dan menggunakan informasi digital, maka semakin berkembang pula keterampilan pribadi seperti kemandirian, tanggung jawab, kolaborasi, dan refleksi diri. Hal itu ditunjukan dari R² = 0,68, menunjukkan bahwa 68 variasi keterampilan pribadi siswa dijelaskan oleh pemanfaatan literasi digital. Nilai t = 9,34 (p < 0,05) menunjukkan pengaruh yang kuat dan signifikan. Temuan ini sejalan dengan teori new literacies oleh Gee, bahwa interaksi digital yang bermakna dapat mengasah personal agency dan keterampilan sosial-emosional siswa [65].
c. Uji regresi linier sederhana 2
Model 2: Pengaruh Literasi Digital terhadap Kebiasaan Belajar
Hasil ini mengindikasikan bahwa siswa dengan literasi digital yang baik cenderung memiliki rutinitas belajar yang lebih terstruktur, seperti kebiasaan membaca daring, mencari sumber belajar tambahan, dan merefleksikan proses belajarnya. R² = 0,78, artinya 78% variasi kebiasaan belajar siswa dapat dijelaskan oleh literasi digital. Nilai t = 12.493 (p < 0,05) menandakan bahwa literasi digital berpengaruh signifikan terhadap pembentukan kebiasaan belajar siswa. Hal ini memperkuat pandangan bahwa literasi digital berperan dalam membangun self-regulated learning [64].
Berdasarkan hasil analisis regresi linier, literasi digital memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar. Literasi digital terbukti lebih efektif dalam mengembangkan kualitas belajar internal siswa, seperti rasa tanggung jawab dan kemandirian. Hal ini berbeda dengan pembentukan kebiasaan belajar yang konsisten. Hasil ini menunjukkan bahwa literasi digital terutama mendorong pengembangan kapasitas intrapersonal. Di sisi lain, pembentukan kebiasaan belajar memerlukan dukungan pedagogis dan pembiasaan jangka panjang. Oleh karena itu, literasi digital seharusnya dilihat sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter bukan sekadar alat belajar berbasis teknologi.
Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan teori literasi digital dalam konteks pendidikan dasar dengan menegaskan bahwa literasi digital bukan hanya keterampilan teknologis, melainkan kompetensi kognitif, afektif, dan sosial yang membentuk keterampilan pribadi serta kebiasaan belajar siswa. Dari hasil analisis kuantitatif menunjukkan adanya temuan bahwa literasi digital berpengaruh signifikan terhadap keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar, sehingga semakin tinggi tingkat literasi siswa, semakin baik pula tanggung jawab, kemandirian, serta kedisiplinan siswa dalam belajar. Secara teori, penelitian ini mampu memberikan perluasan terhadap pemahaman kerangka Gerakan Literasi Sekolah dengan menambahkan dimensi literasi digital sebagai transformasi budaya belajar, artinya adanya pergeseran paradigma sebuah pembelajaran literasi konvensional menuju literasi yang memiliki sifat kolaboratif dan reflektif berbasis teknologi. Kontribusi teoretis penelitian ini juga terletak pada formulasi hubungan antarvariabel: literasi digital, keterampilan pribadi, dan kebiasaan belajar, yang menggambarkan rantai pengaruh pembelajaran digital terhadap pembentukan karakter belajar. Penelitian ini secara keseluruhan memberikan kontribusi terhadap pengembangan model konseptual baru terkait literasi digital melalui penguatan teori yang terletak pada tiga kerangka besar hubungan antara keterampilan pribadi dan kebiasaan belajar. Kontribusi praktisnya membuka peluang bagi lembaga pendidikan dasar untuk menjadikan literasi digital sebagai sarana pembentukan karakter belajar yang reflektif, kolaboratif, dan etis. Sementara kontribusi konseptualnya berupa rancangan model Gerakan Literasi digital yang dapat diimplementasikan pada sekolah dasar dengan melibatkan partisipasi guru, siswa, dan orang tua sehingga mampu berorientasi pada pembentukan kompetensi belajar jangka panjang.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih ditujukan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas kesempatan luar biasa untuk menimba ilmu dan mengembangkan diri. Dukungan akademik, fasilitas riset, serta arahan dari seluruh civitas akademika, khususnya para dosen pembimbing, telah menjadi pilar penting dalam penyelesaian penelitian ini serta pihak Sekolah Dasar Kabupaten Sidoarjo sebagai tempat penelitian. Semua narasumber baik guru, siswa , dan orang tua siswa yang telah bersedia menjadi informan dalam penelitian ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
P. S. Ritonga et al., “Reading in the Digital Age: An Empirical Examination of Digital Literacy’s Significance for UIN Suska Riau Students Using SEM Path Analysis,” Indonesian Journal of Learning and Advanced Education, vol. 6, no. 1, pp. 123–136, 2024, doi: 10.23917/ijolae.v6i1.23185.
W. Wiratsiwi, “Penerapan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar,” Refleks Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 10, no. 2, pp. 230–238, 2020, doi: 10.24176/re.v10i2.4663.
R. L. Coo, D. Qondias, P. W. Kaka, and M. P. Wau, “Implementasi Pojok Baca untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca (Studi Eksplorasi Gerakan Literasi Sekolah),” Dharmas Education Journal, vol. 5, no. 1, pp. 385–392, 2024, doi: 10.56667/dejournal.v5i1.1332.
R. Sampelolo, H. Lura, Y. Mangolo, and A. K. Sampeasang, “Digitalisasi Pojok Baca bagi Siswa Sekolah Dasar di Tanah Toraja,” Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat, vol. 6, no. 2, pp. 219–230, 2022.
L. Anjarwati, D. R. Pratiwi, and D. R. Rizaldy, “Implementasi Literasi Digital dalam Upaya Menguatkan Pendidikan Karakter Siswa,” Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran, vol. 3, no. 2, 2021, doi: 10.23917/bppp.v4i2.19420.
J. Noveliana and A. R. A. Ghani, “Literasi Membaca dan Dampaknya terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Dasar,” vol. 10, no. 3, pp. 469–475, 2022, doi: 10.23887/jjpgsd.v10i3.
U. N. Inawati and M. Hambali, “Penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk Menunjang Kemampuan Literasi Peserta Didik Sekolah Dasar,” Jurnal Kaji Bahasa, Sastra, dan Pengajaran, vol. 7, no. 2, pp. 506–521, 2024, doi: 10.31539/kibasp.v7i2.9703.
S. P. Veronica, A. Iriani, and M. Waruwu, “Evaluasi Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar dengan Menggunakan Model Evaluasi CIPPO,” Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 11, no. 1, pp. 82–92, 2024, doi: 10.24246/j.jk.2024.v11.i1.p82-92.
U. Mansyur, R. Rusdiah, Taufik Hidayat, and Aulia Annisa, “Penggunaan Pojok Baca dalam Mengoptimalkan Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS),” Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, vol. 10, no. 3, pp. 2630–2638, 2024, doi: 10.30605/onoma.v10i3.3300.
W. Dwi Aryani and H. Purnama, “Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dalam Budaya Membaca Peserta Didik Sekolah Dasar di Indonesia,” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 4, no. 2, pp. 47–68, 2024, doi: 10.55266/jurnalmind.v4i2.407.
M. Saddam, N. Sholichah, and Z. Fatah, “Inovasi Pelayanan Pojok Baca Digital (POCADI) dalam Mendukung Gerakan Literasi Siswa Sekolah di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tebing Tinggi,” SAP, vol. 1, no. 2, pp. 161–172, 2023.
Z. Ulya, “Penerapan Teori Konstruktivisme Menurut Jean Piaget dan Teori Neuroscience dalam Pendidikan,” Al-Mudarris: Journal of Education, vol. 7, no. 1, pp. 12–23, 2024, doi: 10.32478/vg1nnv56.
R. Ambarita and M. I. Batubara, “Meningkatkan Budaya Literasi Siswa Melalui Pojok Baca Berbasis Digital,” Dedikasi Sains dan Teknologi, pp. 192–203, 2024, doi: 10.47709/dst.v4i2.4796.
Islami, L. Nulhakim, and A. D. J. Suhandoko, “Pengaruh Penggunaan Literacy Cloud terhadap Minat Baca dan Keterampilan Membaca Pemahaman,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 1, pp. 670–680, 2024, doi: 10.31004/edukatif.v6i1.6352.
V. Septiandika, M. G. Lestari, S. Aisyah, M. R. Hidayatullah, and M. J. A. Amrullah, “Inovasi Pojok Baca Digital dalam Meningkatkan Literasi Masyarakat di Perpustakaan Kabupaten Probolinggo,” Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, vol. 7, no. 3, pp. 2830–2834, 2023, doi: 10.58258/jisip.v7i1.5704.
Y. Harmawati, A. Abdulkarim, P. Bestari, and B. I. Sari, “Data of Digital Literacy Level Measurement of Indonesian Students: Based on the Components of Ability to Use Media, Advanced Use of Digital Media, Managing Digital Learning Platforms, and Ethics and Safety in the Use of Digital Media,” Data in Brief, vol. 54, 2024, doi: 10.1016/j.dib.2024.110397.
N. Sueca and S. Ari, “Peran Pojok Baca sebagai Wadah Literasi Digital dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMK Praja Pandawa Bangli,” Jurnal Pendidikan Deiksis, vol. 5, no. 1, pp. 30–37, 2023.
Vaszkun and K. Mihalkov Szakács, “Looking for Student Success Factors Outside of the Educators’ Scope: The Effect of Digital Literacy, Personal Skills, and Learning Habits and Conditions on Self-Evaluated Online Learning Effectiveness in Management Education,” International Journal of Management Education, vol. 23, no. 2, 2025, doi: 10.1016/j.ijme.2025.101188.
R. Zulkarnain, R. Kusdyawati, and R. Zabrina, “Media Literasi Digital sebagai Pojok Baca Siswa pada Sekolah SMK,” Jurnal Malikussaleh Mengabdi, vol. 3, no. 2, pp. 367–372, 2024, doi: 10.29103/jmm.v3n2.19942.
S. N. Pratiwi, I. Prasetia, and Gajah, “Literacy Culture in Elementary Schools: The Impact of the Literacy Movement Program and Library Facilities,” Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, pp. 786–794, 2020, doi: 10.33394/jk.v8i3.5559.
X. Feng, W. Guan, and E. Xu, “The Relationship Between Preschool Inclusive Teachers’ Perception of Traditional Culture and Digital Literacy: The Chain Mediating Role of Technology Acceptance and Job Insecurity,” Acta Psychologica, vol. 258, p. 105141, 2025, doi: 10.1016/j.actpsy.2025.105141.
M. M. Ramadhani, Manajemen Pendidikan. Medan, Indonesia: PT Mifandi Mandiri Digital, 2023. [Online]. Available: http://repository.uinsa.ac.id/id/eprint/3196/1/Syamsul%20Maarif_Manajemen%20Pendidikan.pdf
U. R. Christa, I. M. Wardana, C. Dwiatmadja, and V. Kristinae, “The Role of Value Innovation Capabilities in the Influence of Market Orientation and Social Capital to Improving the Performance of Central Kalimantan Bank in Indonesia,” Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, vol. 6, no. 4, pp. 1–14, 2020, doi: 10.3390/joitmc6040140.
M. Zaini, Manajemen Pembelajaran: Kajian Teoritis dan Praktis. Jember, Indonesia: IAIN Jember Press, 2021.
J. Pandya, Principles of Management, 2020, doi: 10.1007/978-1-4419-5774-0_47.
O. B. Azubuike, W. J. Browne, and G. Leckie, “State and Wealth Inequalities in Foundational Literacy and Numeracy Skills of Secondary School-Aged Children in Nigeria: A Multilevel Analysis,” International Journal of Educational Development, vol. 110, p. 103112, 2024, doi: 10.1016/j.ijedudev.2024.103112.
Purnama Dewi, O. Hodijah, and D. Y. K. Anggraeni, “Pojok Baca sebagai Media Peningkatan Budaya Literasi dan Pembentukan Karakter Siswa Sekolah Dasar Negeri Citengah di Era Digital,” vol. 2, no. 3, pp. 117–123, 2024.
A. K. Sari and E. P. Setiawan, “Literasi Baca Siswa Indonesia Menurut Jenis Kelamin, Growth Mindset, dan Jenjang Pendidikan: Survei PISA,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 8, no. 1, pp. 1–16, 2023, doi: 10.24832/jpnk.v8i1.3873.
S. Bahri, “Peningkatan Kapasitas Guru di Era Digital Melalui Model Pembelajaran Inovatif Variatif,” Jurnal HURRIAH: Jurnal Evaluasi Pendidikan dan Penelitian, vol. 2, no. 4, pp. 93–102, 2021, doi: 10.56806/jh.v2i4.58.
Maulidiya, D. Hanisa Putri, and R. Lestary, “Digital Skills Assessment in Blended Learning Settings in Mathematics and Physics Education Programs,” Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, vol. 11, no. 4, pp. 377–380, 2024, doi: 10.21831/jitp.v11i4.70998.
Zutiasari, I. Putri Kurniasari, A. Fikri, K. Umiyah, and S. Nur Rahmawati, “Pojok Baca Digital: Media Penunjang Aktivitas Belajar Masa Pandemi Covid-19,” Dinamika: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 1, no. 1, pp. 1–7, 2021, doi: 10.33752/dinamis.v1i1.356.
Saparudin and K. Arizona, Pengantar Metode Penelitian Campuran. 2022.
J. W. Creswell, Design Research Kuantitatif Kualitatif. 2014.
S. Hermawan and W. Hariyanto, Buku Ajar Metode Penelitian Bisnis (Kuantitatif dan Kualitatif). 2022, doi: 10.21070/2022/978-623-464-047-2.
Alaslan, B. Suharti, Laxmi, N. Rustandi, E. Sutrisno, and S. Rahmi, Penelitian Metode Kualitatif. 2023.
M. Nashrullah, E. F. Fahyuni, N. Nurdyansyah, and R. S. Untari, Metodologi Penelitian Pendidikan (Prosedur Penelitian, Subyek Penelitian, dan Pengembangan Teknik Pengumpulan Data). Sidoarjo, Indonesia: Umsida Press, 2023, doi: 10.21070/2023/978-623-464-071-7.
Zuchri, Metode Penelitian Kualitatif. Makassar, Indonesia: Syakir Media Press, 2021.
M. B. Miles and A. H. Michael, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. London, U.K.: SAGE Publications, 2015.
K. Purwaningsih, “Manajemen Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Negeri 1 Purworejo dan SMA Negeri 6 Purworejo,” Media Manajemen Pendidikan, vol. 4, no. 3, pp. 508–519, 2022, doi: 10.30738/mmp.v4i3.8695.
M. R. Pahleviannur et al., Metode Penelitian Kualitatif. 2023, doi: 10.2307/jj.608190.4.
D. R. Syahputra and N. Aslami, “Prinsip-Prinsip Utama Manajemen George R. Terry,” Manajemen Kreatif Jurnal, vol. 1, no. 3, pp. 51–56, 2023.
S. Marmoah, J. I. S. Poerwanti, and Suharno, “Literacy Culture Management of Elementary School in Indonesia,” Heliyon, vol. 8, no. 4, p. e09315, 2022, doi: 10.1016/j.heliyon.2022.e09315.
H. N. Verma et al., Principles of Management. Bavdhan, Pune, India: Universal Training Solutions Private Limited, 2013.
N. Nuryanti and I. Fauji, “Management of Organizing From the Perspective of the Qur’an and Hadith in the Modern Era,” vol. 2, no. 1, 2025.
P. Vyas, “Knowledge Management and Higher Education Institute: Review & Topic Analysis,” Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, vol. 10, 2024.
W. and S. McShane, Principles of Management. Library of Congress Cataloging, 2008.
H. Fayol, Administración Industrial y General. Paris, France, 1916.
M. Yusuf et al., Teori Manajemen. Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, 2023.
L. Heliawati, L. Lidiawati, and I. D. Pursitasari, “Articulate Storyline 3 Multimedia Based on Gamification to Improve Critical Thinking Skills and Self-Regulated Learning,” International Journal of Evaluation and Research in Education, vol. 11, no. 3, pp. 1435–1444, 2022, doi: 10.11591/ijere.v11i3.22168.
L. B. Andersen et al., “Infrastructuring Digital Literacy in K-12 Education: A National Case Study,” International Journal of Child-Computer Interaction, vol. 42, 2024, doi: 10.1016/j.ijcci.2024.100697.
Sudirman et al., Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jawa Tengah, Indonesia: PT Pena Persada Kerta Utama, 2024.
J. Sudbery and A. Whittaker, “Bronfenbrenner’s Ecological Model,” 2018, doi: 10.4324/9780203730386-13.
K. Niamah, “Paradigma Pendidikan Islam Perspektif Al-Ghazali,” HEUTAGOGIA: Journal of Islamic Education, vol. 1, no. 1, pp. 59–71, 2021, doi: 10.14421/hjie.2021.11-05.
J. Piaget, Play, Dreams, and Imitation in Childhood. 1951, doi: 10.1176/ajp.111.1.69.
Ragil, W. Atmojo, D. Y. Saputri, and C. N. Kholifah, “Analysis of Elementary School Students’ Learning Readiness in the Implementation of Differentiated Learning,” vol. 11, no. 4, pp. 757–772, 2024, doi: 10.53400/mimbar-sd.v11i4.78857.
Vargas, L. Altamura, M. C. Blanco-Gandía, L. Gil, and A. Ma, “Print and Digital Reading Habits and Comprehension in Children With and Without Special Education Needs,” Research in Developmental Disabilities, vol. 146, 2024, doi: 10.1016/j.ridd.2024.104675.
U. Saputro, I. Suyitno, I. A. Basuki, and S. R. Kusumaningrum, “Pengaruh Mindfulness terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman Kreatif pada Siswa Sekolah Dasar,” Didaktika: Jurnal Kependidikan, vol. 13, no. 2, pp. 1861–1870, 2024, doi: 10.58230/27454312.696.
R. Aulia, U. Hidayat, S. Setyaarini, G. G. Gustine, and B. Hermawan, “Primary School Teachers’ Perceptions of Critical Literacy in EFL Classrooms,” Mimbar Sekolah Dasar, vol. 11, no. 4, pp. 688–701, 2024, doi: 10.53400/mimbar-sd.v11i4.78721.
Fitriansyah, “Menumbuhkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar melalui Gerakan Literasi Sekolah pada Program Kampus Mengajar,” Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 5, pp. 238–246, 2024, doi: 10.37478/jpm.v5i3.4467.
Marini, Manajemen Pendidikan: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta, Indonesia, 2016.
R. D. Gunawan, A. Sutisna, and E. F. Ana, “Literature Review: The Role of Learning Management System (LMS) in Improving the Digital Literacy of Educators,” Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, vol. 11, no. 2, pp. 116–123, 2024, doi: 10.21831/jitp.v11i2.56326.
Baharun, I. Bukhori, and F. Zahro, “Enhancing Madrasa Teacher Mindfulness Through Organizational Culture,” Journal of Innovation in Educational and Cultural Research, vol. 6, no. 2, pp. 253–261, 2025, doi: 10.46843/jiecr.v6i2.1825.
Fahruddin, M. R. Kurniawanti, T. H. Nurgiansah, and D. Gularso, “Development of Teaching Materials for Evaluating History Learning to Improve Students’ Critical Thinking Skills,” Journal of Education and Learning, vol. 19, no. 1, pp. 530–541, 2025, doi: 10.11591/edulearn.v19i1.20882.
J. Zimmerman, “Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview,” Theory Into Practice, vol. 41, no. 2, p. 64, 2002, doi: 10.1207/s15430421tip4102.
James Paul Gee, “Literacy Studies,” SAGE Handbook of Sociolinguistics, pp. 598–611, 2015, doi: 10.4135/9781446200957.n39.