Selviola (1), Aprizan (2), Zulqoid R Habibie (3)
Background: Early reading is a foundational literacy skill that supports all subsequent learning. Specific background: Many early grade students struggle with recognizing letters, reading syllables, and forming words, which delays literacy development. Knowledge gap: Previous studies often examined either the SAVI model or visual media separately, but few integrated both approaches in a multisensory framework for early reading. Aim: This study aimed to optimize early reading learning by applying the SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) model supported by Alphabet Cards for grade 2 students. Results: Using a classroom action research design over two cycles, teacher performance improved from 75% (good) to 90% (very good), student activity rose from 70.8% to 87.5%, and reading mastery increased from 62.5% to 83.3%, surpassing the 80% mastery threshold. Novelty: This research explicitly integrates a multisensory SAVI approach with alphabet media, offering a more engaging and holistic reading experience. Implications: The findings suggest that multisensory, interactive strategies can strengthen student motivation, support literacy acquisition, and improve teaching practice in early primary classrooms.
Teacher performance improved significantly between the first and second cycle.
Student participation and confidence increased through multisensory activities.
Reading mastery exceeded the minimum classical mastery threshold.
Early Reading Skills, SAVI Model, Alphabet Cards, Multisensory Learning, Primary Education
Membaca merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk diajarkan di Sekolah, khususnya Sekolah Dasar. Karena kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi dan sebagai sarana berkomunikasi. Jika anak pada usia Sekolah Dasar tidak memiliki kemampuan atau keterampilan membaca, maka ia akan mengalami kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.
Keterampilan membaca merupakan salah satu kunci keberhasilan peserta didik dalam meraih kemajuan. Peserta didik yang memiliki keterampilan membaca yang memadai akan lebih mudah menggali informasi dari berbagai sumber tertulis. Maka dari itu, keterampilan dan kemauan membaca hendaknya ditekankan sejak jenjang Pendidikan Dasar yaitu saat anak masih berada di bangku SD. Upaya pengembangan dan peningkatan keterampilan membaca dilakukan melalui pembelajaran di sekolah-sekolah dasar sebagai pengalaman pertama [1].
Rosyid dalam [2] berpendapat bahwa keterampilan membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai keterampilan yang mendasar maka keterampilan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian pendidik. Apabila dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut peserta didik akan mengalami kesulitan untuk memiliki keterampilan membaca yang memadai. Membaca permulaan merupakan tahap awal anak dalam proses belajar membaca. Membaca permulaan sebagai keterampilan dasar membaca peserta didik dan alat bagi peserta didik untuk mengetahui makna dari isi mata pelajaran yang dipelajarinya di sekolah. Semakin cepat peserta didik dapat membaca makin besar peluang untuk memahami isi makna mata pelajaran di sekolah.
Sebagai keterampilan yang mendasari keterampilan berikutnya maka keterampilan membaca permulaan harus benar-benar diperhatikan oleh pendidik. Pembelajaran membaca di sekolah diajarkan melalui pelajaran bahasa Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat [1] pembelajaran membaca di kelas 1 dan kelas 2 itu merupakan pembelajaran membaca tahap awal. Keterampilan membaca yang diperoleh peserta didik di kelas 1 dan 2 tersebut akan menjadi dasar pembelajaran membaca di kelas berikutnya. Membaca permulaan merupakan tahapan dalam proses belajar membaca mengenal huruf-huruf dan menyebutkan simbol-simbol huruf yang di kenal agar peserta didik memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan dapat memahami isi bacaan dengan baik, contohnya dengan membaca permulaan peserta didik dapat membaca nama sendiri, memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf [3]. Karena dapat mengatasi tantangan literasi yang semakin kompleks yang dihadapi anak-anak akibat paparan dini terhadap teknologi dan informasi, strategi pembelajaran seperti SAVI juga penting di era digital saat ini. Anak-anak harus mampu membaca secara mekanis serta memahami konteks dan makna dari apa yang mereka baca di dunia informasi digital yang serba cepat.
Selain itu, model SAVI diharapkan akan lebih bermanfaat dengan penggunaan kartu alfabet sebagai alat bantu. Media interaktif, menghibur, dan mudah dipahami ini dirancang untuk membantu siswa mengenali huruf dan kata. Siswa akan lebih antusias berlatih membaca jika mereka dihadapkan pada beragam elemen pembelajaran yang menarik, seperti gambar dan warna pada kartu alfabet.
Penggunaan model SAVI yang dipadukan dengan kartu alfabet diharapkan akan memberikan pembelajaran membaca yang lebih menarik dan efektif bagi siswa, yang secara progresif meningkatkan kemampuan membaca awal mereka.
Model pembelajaran membaca awal SAVI menekankan partisipasi aktif siswa dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Mereka didorong untuk bergerak sesuai dengan materi pelajaran melalui latihan fisik. Komponen visual memungkinkan siswa mengamati teks atau gambar yang meningkatkan pembelajaran, sementara komponen auditori membantu siswa memahami informasi dari bacaan atau penjelasan lisan. Memahami dan menggunakan pengetahuan yang diperoleh dalam skenario pembelajaran autentik membantu siswa mengembangkan kemampuan intelektual mereka. Dengan kombinasi ini, keterampilan membaca dan pemahaman peserta didik diharapkan meningkat secara signifikan [4].
Aspek baru dari penelitian ini adalah bagaimana pendekatan pembelajaran SAVI dikombinasikan dengan media kartu alfabet di kelas-kelas sekolah dasar awal yang kesulitan dengan literasi dasar. Penelitian ini secara eksplisit mengintegrasikan kedua metodologi untuk menghasilkan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh dan multisensori, berbeda dengan penelitian lain yang cenderung menilai kemanjuran model SAVI secara umum atau penerapan media visual secara terpisah [5], [6], [7], [8]. Selain itu, studi ini menempatkan tantangan membaca dini dalam konteks era digital, di mana anak-anak membutuhkan paparan dini terhadap keterampilan literasi dasar yang kuat agar siap menghadapi perkembangan teknologi informasi yang pesat. Oleh karena itu, studi ini tidak hanya mendukung metode pengajaran konvensional, tetapi juga menawarkan cara untuk menciptakan teknik sastra yang lebih fleksibel bagi dunia modern.
Karena model pembelajaran SAVI (Somatik, Auditori, Visual, dan Intelektual) dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif melalui berbagai pendekatan pembelajaran yang mencakup aktivitas fisik (somatik), pendengaran (auditori), penglihatan (visual), dan pemikiran intelektual (intelektual), penulis memutuskan untuk menggunakannya. Karena siswa dapat menggunakan beragam gaya belajar mereka untuk belajar secara holistik, pendekatan ini dianggap relevan untuk meningkatkan keterampilan membaca dini.
Selain itu, model SAVI memberikan kesempatan bagi pendidik untuk menggunakan alat peraga dari lingkungan sekitar, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menarik bagi peserta didik [9]. Dengan keterlibatan aktif melalui berbagai aspek ini, diharapkan peserta didik lebih termotivasi dalam belajar dan mampu mencapai ketuntasan belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan melihat pentingnya penggunaan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan, maka peneliti perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Proses Pembelajaran Keterampilan Membaca Permulaan Menggunakan Model SAVI Dengan Media Alfabet Card Di Kelas 2 SDN 088 / II Sungai Mengkuang”
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama [10]. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa siklus yang melibatkan empat tahapan utama: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing),danrefleksi (reflecting).
Jenis penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kolaboratif, yaitu bahwa pihak yang melakukan tindakan adalah pendidik itu sendiri. Sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan pendidik yang sedang melakukan tindakan [10]. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan suatu mutu pembelajaran bagi peneliti.
Desain penelitian yang digunakan adalah model penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas/PTK. Dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dalam [10]. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa siklus, dengan setiap siklusnya meliputi tahapan planning (perencanaan), action (pelaksanaan), observation (observasi), dan reflection (refleksi).
1. Kegiatan Pembelajaran Aspek Pendidik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran dengan model SAVI menggunakan media Alfabet Card mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus II. Pada siklus I, keterlaksanaan pembelajaran masih berada pada kategori cukup hingga baik, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi sangat baik. Hal ini menandakan bahwa pendidik semakin terampil dalam mengelola pembelajaran, mengatur waktu, serta menciptakan variasi strategi yang menarik dan menyenangkan.
Menurut [11], guru berperan penting dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa agar tujuan belajar tercapai. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian ini, di mana pendidik mampu menyesuaikan strategi dengan kondisi siswa, sehingga keterlibatan mereka semakin meningkat.
Temuan ini diperkuat oleh penelitian Nailul Maisyaroh (2024) yang menyatakan bahwa penggunaan model SAVI terbukti efektif meningkatkan keterampilan membaca siswa SDN Kupang 3 Jabon. Sebelum penerapan model SAVI, hanya 11,11% siswa yang mencapai ketuntasan, sedangkan setelah penerapan meningkat menjadi 77,77% dengan pengaruh yang signifikan berdasarkan uji t. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pendidik dalam menerapkan model SAVI sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Hal ini merupakan kemajuan dari 75% (bon) dari siklus utama menjadi 90% (sangat baik) ketika Anda siklus kedua, elemen-elemen yang tepat terlihat jelas di kelas, seperti halnya strategi magang dan diversifikasi, suatu tindakan untuk waktu yang lebih lama efektif atau mendapatkan kembali informasi langsung dari ketinggian. Ini dapat membantu para pembaca untuk menggunakan motif-motif tersebut.
Hasil yang berkaitan dengan kesempurnaan kompetensi para petinggi dan penerapan model SAVI dalam magang dapat diperkuat oleh teori konstruktivis [12], yang menegaskan bahwa magang berdasarkan pengalaman konkret yang sesuai dengan pemahaman des élèves. Pemanfaatan model SAVI, berbagai aspek yang sangat baik seperti somatique, auditif, visual dan intelektual, menyukai pengalaman magang plus global untuk siswa, yang sesuai dengan teori ini. Selain itu, magang dengan pengalaman multisensori, seperti sel-sel yang direalisasikan dengan Cartes Alphabet, sera plus approfondi dan menguntungkan bagi para élèves, yang juga berkontribusi pada peningkatan kompetensi para petinggi dalam pengelolaan kelas [13], [14].
Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa perbaikan ini tidak dapat dipisahkan dari elemen-elemen tambahan. Selanjutnya, perbaikan progresif kompetensi para pemain dengan cara yang terintegrasi menyeimbangkan aspek-aspek somatik, audit, visual, dan kecerdasan dari siklus lainnya menghasilkan beragam strategi yang tidak monoton. Kedua, para peserta akan mengadopsi fleksibilitas yang lebih besar dalam pemanfaatan media, seperti huruf alfabet, yang merupakan izin untuk menjaga keefektifan pemahaman orang-orang. Tentu saja, masalah pengembalian siklus utama adalah izin dari petugas untuk mengulangi tugas-tugas yang kemudian diperbaiki pada siklus kedua, yang juga merupakan bagian dari proses magang untuk para pendidik.
2. Proses Belajar Peserta Didik
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa proses belajar peserta didik pada siklus II jauh lebih aktif dibandingkan dengan siklus I. Siswa lebih percaya diri dalam membaca, antusias dalam mengikuti kegiatan, serta mampu bekerja sama ketika menyusun kartu kata menjadi kalimat sederhana. Pada siklus II, kategori kurang sudah tidak ditemukan lagi, sementara kategori sangat baik meningkat hingga 37,50%.
[15] menegaskan bahwa keaktifan siswa dalam belajar merupakan indikator adanya motivasi intrinsik yang kuat. Hal ini terbukti pada penelitian ini, di mana siswa semakin bersemangat mengikuti pembelajaran karena media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Temuan ini sejalan dengan penelitian [16] yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan membaca permulaan pada anak autis di SDLB setelah diterapkan pendekatan SAVI. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 40,1 menjadi 76,56, dan hasil uji hipotesis menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Artinya, model SAVI mampu memfasilitasi peserta didik dengan berbagai karakteristik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, untuk lebih aktif dalam belajar membaca. Peningkatan aktivitas yang dilakukan, melewati 70,8% pada siklus I hingga 87,5% pada siklus II, mungkin juga disebabkan oleh petunjuk dari pabrik yang berbeda, karena pemanfaatan dukungan dan penyesuaian penyesuaian dengan karakteristik tingkat lanjut, lingkungan kelas yang disukai memanfaatkan kepercayaan diri para siswa, atau bahkan melakukan modifikasi pada dinamika grup yang disimpan saat magang. Bukan hanya aktivitas belajar yang bertambah secara kuantitas, namun elemen-elemen tersebut adalah motivasi intrinsik yang dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman multisensor dan juga memberikan kontribusi dalam melakukan transformasi yang signifikan. Terlihat jelas bahwa tingkat penggunaan siswa meningkat, melewati 62,5% pada siklus pertama hingga 83,3% pada siklus kedua. Hak gadai masuk ke dalam chiffres dan pabrikan yang berkontribusi, yaitu metode pementasan plus interaktif dan magang dengan pengalaman, menawarkan visi plus ketepatan keberhasilan model SAVI. Aksennya salah pada pendekatan multisensori melalui dukungan yang sama dengan Cartes Alphabet, yang mengintegrasikan elemen visual, taktil, dan auditif, serta adaptasi strategi pedagogi dan pembelajaran, yang merupakan kontribusi besar terhadap proses perbaikan ini.
Pemenuhan aktivitas siswa pada siklus II menunjukkan bahwa penerapan pendekatan multi-sensori dapat memperkuat motivasi intrinsik siswa. Teori motivasi dan penentuan nasib sendiri [17] didasarkan pada fakta bahwa siswa yang merespons dengan cara ini memerlukan otonomi, kompetensi, dan hubungan dengan orang lain untuk memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam proses magang. Model SAVI, yang meminta plusieurs senses (taktil, auditif, visual dan intelektual), memungkinkan siswa untuk memperhatikan motif dan implikasi yang bermanfaat dalam kegiatan magang.
Dengan menghubungkan seluruh kegiatan magang siswa dengan motivasi yang dihasilkan oleh magang yang menyenangkan dan partisipatif. Model SAVI tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga emosi dan fisik siswa, juga disukai dalam kepercayaan diri dan kecerdasan dalam magang. Selain itu, pemanfaatannya mendukung visual yang membuat Cartes Alphabétiques menawarkan visual stimulus yang menarik, mendukung pemahaman konsep, dan memperkuat implikasi emosi pada tingkat aktivitas magang. Peningkatan aktivitas dan keaktifan siswa yang terlibat dalam setiap tahap pembelajaran juga berkontribusi langsung pada kemajuan keterampilan membaca mereka
3. Keterampilan Membaca Permulaan
Keterampilan membaca permulaan peserta didik juga meningkat cukup signifikan. Pada siklus I, sebanyak 62,5% siswa mencapai ketuntasan, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 83,3%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model SAVI dengan media Alfabet Card efektif membantu siswa mengenal huruf, membaca suku kata, hingga merangkai kata sederhana.
Menurut [18], Karena membaca dini sangat penting bagi perkembangan literasi anak, diperlukan strategi pengajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan multisensori. Model SAVI telah terbukti menawarkan pengalaman pendidikan multisensori yang meningkatkan pemahaman siswa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nailul Maisyaroh (2024), yang menemukan bahwa model SAVI meningkatkan keterlibatan, kreativitas, dan antusiasme siswa dalam membaca. Selain itu, penelitian [16] mendukung gagasan bahwa pendekatan SAVI membantu anak berkebutuhan khusus meningkatkan kemampuan membaca dini mereka. Hal ini menunjukkan efikasi dan penerapan model SAVI yang luas, baik di sekolah dasar reguler maupun di lingkungan pendidikan khusus.
Peningkatan keterampilan membaca permulaan dapat dikaitkan dengan teori magang kognitif [12], yang menekankan pentingnya memanfaatkan manfaat yang tersirat dari pengalaman sensorik untuk memperkuat pemahaman konsep. Kartu-kartu abjad, menggabungkan aspek visual dan taktil, memperkuat pemahaman huruf dan hal-hal lain yang berhubungan dengan huruf. Metode ini sesuai dengan pembelajaran kognitif, yang menegaskan bahwa perolehan ilmu pengetahuan sangat efektif jika Anda tertarik pada kemampuan sensorik yang lebih baik untuk memberikan informasi.
Secara refleksi, dapat dikaitkan dengan peningkatan kompetensi dalam perkuliahan sebelum waktunya melalui sinergi antara pemanfaatan media yang disesuaikan, pendekatan pembelajaran multisensori, dan kemampuan indera dalam melakukan pengukuran di masa depan. Media Alfabet Card menawarkan lebih banyak kemungkinan untuk melakukan pengulanagan secara individu atau kelompok. Perbaikan juga mempengaruhi strategi petugas yang terkait dengan praktik perkuliahan, aktivitas fisik dan visual, sehingga tidak hanya menghafal huruf, tetapi juga pemahaman dan pengguna dalam konteksnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran SAVI dengan media Kartu Alfabet efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas II SDN 088/II Sungai Mengkuang. Para pendidik semakin terampil dalam mengelola pembelajaran, siswa lebih aktif dan termotivasi, serta keterampilan membaca awal meningkat secara signifikan. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya, baik pada siswa reguler [13] maupun siswa berkebutuhan khusus [19], sehingga memperkuat bahwa model SAVI merupakan pendekatan yang relevan dan efektif untuk meningkatkan keterampilan membaca awal. Selain itu, pembahasan ini juga menggambarkan bahwa penggunaan magang bukanlah kondisi unik dari model yang digunakan, namun demikian juga dengan parameter lain yang merupakan motivasi siswa, efektivitas media, dan orisinalitas profesor dan laboratorium strategi sesuai. Oleh karena itu, hal pertama yang dilakukan para analis dan evaluasi karyawan dalam proses magang adalah untuk memastikan bahwa metode karyawan mempengaruhi pengembangan kompetensi tingkat tinggi.
Kesimpulan dari penelitian ini sesuai dengan teori Kognitivisme, Konstruktivisme, dan Motivasi Intrinsik, yang menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran multisensor untuk kesempurnaan kompetensi tingkat tinggi. Karyawan yang menggunakan model SAVI dengan Kartu Alfabet tidak hanya berkontribusi untuk mengembangkan kompetensi perkuliahan sebelum waktunya, tetapi juga merangsang motivasi para siswa dan partisipasi aktif dalam proses magang. Secara keseluruhan, hasil yang diperoleh dari peningkatan keterampilan membaca permulaan menunjukkan bahwa model SAVI dengan media Alfabet Card tidak hanya efektif untuk meningkatkan keterampilan membaca, tetapi juga untuk memperkuat keterampilan pedagogik guru serta meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa.
Selain itu, penggunaan alat-alat tertentu seperti Kartu Alfabet dapat membatasi penggunaan model SAVI dalam konteks yang berbeda. Pemanfaatan berbagai media memberikan hasil yang berbeda-beda, dan hal ini disetujui oleh penelitian-penelitian lainnya. Penting untuk menyebutkan bahwa keterbatasan ini tidak sesuai dengan nilai hasil yang telah dicapai; sebaliknya, dia baru saja menerima izin untuk melakukan perbaikan dan perbaikan. Penelitian-penelitian tersebut saling melengkapi dengan perkembangan yang lebih luas, jangka waktu yang panjang dan keragaman serta media yang besar yang menawarkan perspektif serta persetujuan terhadap keefektifan dan penerapan model SAVI dalam berbagai konteks dan pendidikan kader.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan melalui dua siklus, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) berbantuan media Alfabet Card mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, keterlaksanaan pembelajaran baru mencapai kategori baik dengan persentase rata-rata 75%, sedangkan pada siklus II meningkat ke kategori sangat baik dengan persentase rata-rata 90%. Hal ini menunjukkan bahwa para pendidik menjadi lebih mahir dalam mengorganisasikan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran membaca awal.
2. Terdapat pula peningkatan aktivitas siswa yang signifikan. Persentase siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran adalah 70,8% pada siklus I (kategori cukup) dan 87,5% pada siklus II (kategori baik–sangat baik). Saat terlibat dalam kegiatan membaca, siswa tampak lebih terlibat, bersemangat, dan percaya diri dalam kemampuan mereka mengenali huruf, membaca suku kata, dan membentuk kata-kata sederhana.
3. Keterampilan membaca permulaan siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, jumlah siswa yang mencapai ketuntasan adalah 15 siswa dari 24 siswa atau sebesar 62,5%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 20 siswa dari 24 siswa atau sebesar 83,3%. Dengan demikian, target ketuntasan klasikal minimal 80% telah tercapai pada siklus II. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan model SAVI dengan media Alfabet Card efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa kelas II SDN 088/II Sungai Mengkuang.
4. Teknik SAVI, yang menggunakan kartu alfabet untuk mengatasi masalah literasi di era digital, dapat dikembangkan lebih lanjut, menurut penelitian ini. Model ini meningkatkan kemampuan membaca dasar anak-anak dengan menggabungkan unsur taktil, auditori, visual, dan intelektual. Kemampuan-kemampuan ini penting untuk menavigasi informasi digital yang terus bertambah. Oleh karena itu, mengintegrasikan pembelajaran adaptif teknologi dengan pendekatan SAVI merupakan langkah awal yang bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan literasi anak usia dini.
5. Hasil penelitian ini bisa menjadi masukan yang bermanfaat bagi guru-guru di sekolah dasar, khususnya yang mengajar di kelas-kelas awal. Model pembelajaran SAVI terbukti mampu membuat siswa lebih semangat, aktif, dan cepat menangkap materi membaca. Karena itu, guru sangat disarankan untuk mencoba pendekatan ini dalam kegiatan belajar sehari-hari. Apalagi, media yang digunakan seperti Alfabet Card cukup sederhana tapi menarik, sehingga bisa membantu siswa lebih cepat mengenal huruf dan merangkai kata dengan cara yang menyenangkan.
6. Ke depannya, model SAVI ini bisa dicoba juga untuk pelajaran lain atau diterapkan di kelas berbeda agar bisa diketahui apakah hasilnya tetap efektif. Selain itu, akan lebih menarik jika media pembelajarannya dikembangkan dalam bentuk digital, supaya lebih sesuai dengan zaman dan semakin menarik bagi siswa.
Dapat disimpulkan bahwa model SAVI, yang dipadukan dengan media alfabet card tidak hanya efektif dalam rencana kuantitatif, tetapi juga mendorong kualitatif keterlibatan aktif para senior dan meningkatkan kapasitas petugas untuk meningkatkan kapasitas kerja sebelum kuliah. Strategi ini khususnya disesuaikan dengan pembelajaran di kelas-kelas pendidikan rendah seperti solusi praktis untuk meningkatkan kompetensi anak-anak sebelumnya.
Ucapan Terima Kasih
Terselesaikannya penyusunan artikel jurnal ini saya tidak akan bisa melakukan semua ini tanpa ketekunan, doa, dorongan, dan bantuan dari beberapa Oleh karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing atas semua bimbingan dan inspirasi yang telah diberikannya kepada saya. dan revisi bagi penulis untuk menyelesaikan artikel jurnal ini.
Darmiyati and B., Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2020.
Suparno, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Peserta didik,” Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 7, no. 1, p. 67, 2020.
R. Haryanto, Sistem Pembelajaran Keterampilan Membaca Pada Anak. Jakarta: Balai Pustaka, 2021.
Rusman, Model-Model Pembelajaran Membaca. Jakarta: Raja Grafindo, 2020.
Shoimin, Penerapan Model Pembelajaran Somatic Auditory Visual Intellectual. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2020.
Ngalimun, Evaluasi Pembelajaran Pada Model Somatic Auditory Visual Intellectual. Bandung: Alfabeta CV, 2021.
Arsyad, Mendesain Media Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Media, 2021.
D. Latifah, “Penggunaan Media Big Book Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Kalimat Sederhana,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 4, no. 2, pp. 212–242, 2021, doi: 10.36989/didaktik.v4i2.73.
Husniyatus, Desain Media Pembelajaran. Jakarta: Kencana Permada Media Group, 2022.
S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pystaka Insan, 2019.
W. Sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran (Teori & Praktek KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2022.
J. Piaget, The Origins of Intelligence in Children. New York: International Universities Press, 1952.
Supiyati, Pendekatan Somatic Auditory Visual Intellectual Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Anak. Jakarta: Rajawali Press, 2020.
Somadayo, Pembelajaran Multimedia di Sekolah: Pedoman Pembelajaran Inspiratif, Konstruktif, dan Prospektif. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2021.
S. B. Djamarah, Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar. Jakarta: PINUS Book Publisher, 2020.
Adinul, Paradigma Baru Sistem Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia, 2021.
E. L. Deci and R. M. Ryan, “The ‘What’ and ‘Why’ of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior,” Psychological Inquiry, vol. 11, no. 4, pp. 227–268, 2000.
Rahim, Pembelajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 2020.
Muammar, Membaca Permulaan di Sekolah Dasar. Bandung: Sanabil, 2020.