Login
Section Innovation in Economics, Finance and Sustainable Development

Strategy and Dynamics of the Curriculum of the Islamic Boarding School of Darul Muhajirin Lumajang

Strategy, Dynamics, KMI (Mu’allimin Al-Islamiyah Curriculum)
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Muhlason (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: The Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) curriculum integrates formal and informal education within a 24-hour pesantren system. Specific Background: At Darul Muhajirin Islamic Boarding School, KMI implementation involves human resources, student management, leadership, discipline, and infrastructure. Knowledge Gap: Its implementation still faces limited qualified teaching staff, inadequate facilities, and restricted clean-water availability. Aims: This study examines KMI implementation, supporting programs, and its strengths and weaknesses at Darul Muhajirin Lumajang. Results: The findings show that KMI is supported by professional management, kiai leadership, student organization, regular supervision, teacher development, and entrepreneurship education, while limitations remain in human resources and infrastructure. Novelty: The study identifies collaboration with higher education and community-based entrepreneurship through Damhar Mart as distinctive strategies. Implications: KMI implementation requires teacher capacity development, professional management, student discipline, and community-supported infrastructure.


Key Findings Highlights


Kiai leadership supports teacher development and institutional management.


Student organization reinforces discipline across pesantren activities.


Community collaboration supports entrepreneurship and infrastructure provision.


Keywords: KMI Curriculum, Islamic Boarding School, Curriculum Implementation, Human Resources, Pesantren Management

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Kurikulum merupakan dasar dalam menerapkan proses pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Dalam buku arif munandar menjelaskan Kurikulum berkaitan dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh setiap upaya pembelajaran, mendesain model-model kurikulum yang dapat digunakan sehingga akan membantu pendidik dalam merancang sistem pembelajaran dan mengontrol dalam menentukan batas-batas kualitas pembelajaran. Suatu kurikulum merupakan suatu jalan untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan. Penerapan proses kurikulum merupakan proses dalam mencapai sebuah tujuan yang diinginkan oleh pondok pesantren atau suatu lembaga. Keberahasilan sebuah lembaga tidak lepas dari penerapan manajemen kurikulum yang baik [1]. Pondok Pesantren sering kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum karena jarang mengajarkan informasi umum dan hanya mengajarkan ilmu agama. Namun, karena pesantren mengajarkan semua disiplin ilmu, bukan hanya ilmu agama, pernyataan ini tidak dapat dibuktikan. Mutu pesantren yang luar biasa dan lulusannya, banyak di antaranya yang berhasil saat belajar di luar negeri dan menemukan karier yang luar biasa, membuktikan hal ini sehingga pesantren tidak dapat diremehkan. [2] Pondok pesantren memang sebuah lembaga pendidikan yang tidak

diragukan dalam proses pendidikan, bahkan dalam sejarah pendidikan Indonesia pengeluaran pesantren menjadi orang-orang penting dalam menjaga kesetabilan negara. pendidikan pesantren mempunyai daya tarik bagi masyarakat dalam mengembangkan pendidikan. Permasalahan yang sering dihadapai oleh lembaga pesantren yaitu mengembangkan model pendidikannya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Hal ini merupakan isu yang harus didiskusikan oleh para penggerak pesantren.[3] Menurut Ki Hajar Dewantoro, Menteri Pendidikan Republik Indonesia, pesantren merupakan pilar utama sumber daya pendidikan bangsa karena sejalan dengan jiwa dan jati diri bangsa Indonesia. Pemerintah menyadari hal ini sebagai landasan bagi tumbuhnya pendidikan nasional Indonesia. [4]

Manajemen mutu merupakan suatu cara meningkatkan kinerja secara terus menerus pada setiap proses, dengan menggunakan sumber daya manusia dan modal yang tersedia. Manajemen mutu mengimplementasikannya melalui perencanaan, pengendalian, jaminan, dan peningkatan mutu[5] Manajemen mutu merupakan kemampuan atau kapabilitas yang melekat dalam sumber daya manusia serta merupakan proses yang dapat dikontrol dan bukan suatu yang kebetulan. Manajemen mutu pesantren memiliki 3 prinsip diantranya:

1. Fokus pada minat masyarakat, 2. Menerapkan Kurikulum Terpadu, 3.Peran Kyai dan seluruh unsur yang terlibat didalamnya.[6] Penelitian yang dilakukan Pondok Pesantren Nurul Huda Sumenep tentang manajemen mutu pendidikan di era 5.0, bahwa dalam pelaksanaan manajemen mutu pondok pesantren ini sangat dibutuhkan kerja sama dan juga saling mengingatkan satu sama lain, sehingga program kerja yang telah di rancang terus meningkat sehingga mutu pendidikan pondok pesantren berkualitas dan lulusan akan menjadi hebat.[7] Penelitian yang dilakukan Pondok Pesantren Nurul Anwar Garut tentang menerapkan fungsi manajemen dalam meningkatakan manajemen mutu di pondok pesantren. faktor penghambat seperti kurangnya sinergi, kedisiplinan, pemahaman tugas, dan perbedaan komando dapat menghambat pelaksanaan fungsi manajemen. [8] Kurikulum Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) adalah model kurikulum yang diterapkan pertama kali oleh pondok Darussallam Gontor. Kurikulum ini biasa diadopsi di pondok pesantren modern yang tersebar di Indonesia yang diterapkan secara totalitas oleh kiyai dan dewan guru. Di dalam undang- undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2003 mengakui pesantren sebagai salah satu institusi untuk pendidikan keagamaan. Kurikulum KMI sudah menjadi bagian dari kurikulum yang diakui oleh Negara. Hal ini dibuktikan dengan undang-undang tentang pesantren pasal I ayat 5 tentang pendidikan Muadalah yaitu pendidikan pesantren yang diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dengan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan pesantren dengan berbasis kitab kuning atau Dirasah Islamiah dengan pola pendidikan muallimin secara berjenjang dan terstruktur.[9] penelitian yang dilakukan MA Al-Rosyid Bojonegoro menunjukkan bahwa dalam mencapai mutu pendidikan madrasah di era zaman yang semakin berkembang ini, menerapkan model kurikulum terpadu antara kurikulum kementrian Agama dengan kurikulum Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI).[10]

Dinamika dalam menerapkan kurikulum KMI di Pondok Pesantren Darul Muhajirin merupakan pembentukan karakter santri untuk disiplin melalui program ekstrakurikuler yang dirancang dalam aktivitas selama 24 jam. Indikator kedisiplinan meliputi hal-hal seperti disiplin waktu dan tindakan.[11] Menurut hasil kajian yang dilakukan di Pondok Pesantren AL-Ishlah Sukadamai, adanya peraturan-peraturan pondok pesantren yang dapat mengatur tingkah laku dan aktivitas santri merupakan salah satu bentuk metode kedisiplinan pondok pesantren.[12]Kiai memegang peranan penting dalam kapasitas kepemimpinannya. Dengan berperan sebagai pengelola, pengajar pemberdayaan sumber daya manusia, dan pengambil keputusan, kiai turut andil dalam peningkatan mutu pendidikan, sebagaimana penelitian yang dilakukan di pesantren Ainul Yakin Probolinggo.[13] Tugas kiai adalah mengatur agar para instruktur menjadi pendidik yang tepat waktu, disiplin, dan terampil. Dengan demikian akan tercipta lembaga yang baik. Di lingkungan pesantren, pengelolaan sarana dan prasarana sama pentingnya untuk mendidik dan membentuk kepribadian peserta didik kepribadian peserta didik[14] Menurut penelitian yang dilakukan di Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an, akan lebih berhasil dan memperlancar hafalan Al-Qur'an para santri apabila memiliki sarana dan sumber daya manusia. yang memadai.[15] Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, maka keterbaruan dalam penelitian ini tentang strategi meningkatkan kualitas pendidikan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumajang yaitu peran kyaidalam meningkatkan kualitas pendidik bekerja sama dengan STIT dan STKIP dan bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk ketahanan pangan, serta melakukan pembinaan secara berkala para santri mengikuti ekstrakurikuler entrepreneurship.

Strategi kurikulum KMI yang dilakukan di pesantren Darul Muhajirin siswa kelas XII di utus untuk mengikuti Pendidikan profesi guru (Amaliyah Tadris) di Gontor pusat sebagai bagian dari kurikulum KMI yang menitikberatkan pada sumber daya manusia dan penerapan manajemen mutu di Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumajang. Lembaga Pendidikan berkelanjutan tingkat SMP, SMA berfokus pada pengembangan calon guru agama islam yang siap mengabdi kepada masyarakat sebagai da’i dan mu’allim, proses Pendidikan berlangsung selama 24 jam, Pendidikan umum dan Pendidikan agama diberikan secara berimbang selama 6 atau 3 tahun. [16] Kurikulum KMI dapat diimplementasikan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menciptakan suasana yang terisolasi dari dunia luar. Di lingkungan pesantren, baik guru maupun siswa dapat membantu menjaga kedisiplinan, memudahkan dalam mengikuti kurikulum KMI, dan menciptakan suasana belajar yang positif Jelas terlihat bahwa masih banyak guru yang kurang memahami kurikulum KMI secara mendalam, dan gagasan KMI belum digunakan sebagaimana diharapkan.[17] Sejalan dengan penelitian yang dilakukan pondok pesantren Al-Amin sumenep, adanya faktor pendukung dan faktor penghambat dengan cara meningkatkan kualitas SDM dengan mengikutsertakan guru dalam pelatihan dan Pendidikan dipesantren maupun diluar pesantren [18]

Pondok Pesantren Darul Muhajirin yang terletak 25 kilometer dari pusat kota merupakan pondok pesantren kontemporer di Lumajang. Masyarakat setempat sangat tertarik untuk menyekolahkan anak-anaknya di sana. Akan tetapi, lebih dari 340 anak tidak dapat ditampung karena keterbatasan air bersih. Penggunaan kurikulum KMI yang hanya diterapkan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan pondok pesantren lain di Lumajang. Akan tetapi, dalam pelaksanaan kurikulum tersebut terdapat kendala atau keterbatasan, seperti faktor sumber daya manusia, seperti minimnya tenaga pengajar yang bergelar sarjana dan minimnya sarana dan prasarana. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu manajemen mutu pendidikan, peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian di Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumajang dengan menyajikan konsep kurikulum KMI secara tepat. Tujuan penelitian ini adalah: 1. memberikan gambaran singkat tentang pelaksanaan kurikulum KMI; dan 2. mengetahui kelebihan dan kekurangan pelaksanaan kurikulum tersebut.

Metode

Pendekatan kualitatif adalah suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami.[19] Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumajang dalam menerapkan kurikulum KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah). Variabel yang di gunakan SDM (Sumber Daya Manusia ) dan Sarana Prasarana. Ruang lingkup manajemen mutu yang diamati pada penelitian ini terkait dengan kurikulum, terutama tentang (1) penerapan kurikulum KMI, (2) Pendukung Pelaksanaan kurikulum KMI, (3) Program pendukung kurikulum, (4) analisis kelebihan dan kelembahan kurikulum KMI

Metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data antara lain wawancara, dokumentasi, dan observasi. Metode pengumpulan data: 1. Teknik observasi merupakan cara pengumpulan informasi dengan mengamati perilaku atau perubahan objek penelitian. Untuk menyesuaikan temuan dengan teori dan kajian pustaka, penelitian difokuskan pada pengamatan terhadap santri selama proses pembelajaran dan praktik instruktur selama pembelajaran. 2. Posedur dokumentasi adalah metode pengumpulan data terkait penelitian dengan menggunakan berbagai bahan tertulis dan digital yang berkaitan dengan lokasi penelitian, seperti informasi tentang literatur dan tujuan pondok pesantren. Metode yang paling krusial dalam rangka pengumpulan informasi secara rinci adalah teknik wawancara, yakni dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung dan memperoleh jawaban langsung dari para santri, pimpinan pondok pesantren dan pengurus pondok pesantren. Menyajikan data dan membuat kesimpulan merupakan langkah awal dalam analisis data. Teknik analisis data : 1. Penyaringan data, yang meliputi proses validasi dan pengelompokan data yang diperlukan. 2. Pengelompokan data dari berbagai sumber naratif merupakan bagian dari penyajian data. 3. Kesimpulan, yang secara khusus menguraikan temuan dari penelitian [20].

Hasil dan Pembahasan

A.Dinamika Kurikulum KMI di Pesantren Darul Muhajirin.

a.Gambaran Umum Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumajang

Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumajang merupakan Lembaga Pendidikan Formal setara jenjang SMP dan SMA bernaung di bawah naungan Yayasan Keluarga berdiri pada tahun 2013 diresmikan tahun 2014 dan mempunyai peserta didik keseluruhan sekitar 340 santri. Adapun Visinya “Sebagai Lembaga Pendidikan yang Siap Mencetak Kader Pemimpin Umat yang Mempunyai Bekal IMTAQ, menjadi Sumber Ilmu Pengetahuan Islam, serta Pengetahuan Umum dengan tetap Berjiwa Pesantren”. Pondok Pesantren Darul Muhajirin mempunyai keunggulan di antaranya: 1. OSDM (Organisasi Santri Darul Muhajirin), 2. Program kelas akhir fathul kutub 3. Pelatihan Amaliyah Tadris 4. Pendidikan Entrepreneurship. Lokasi Pondok Pesantren Darul Muhajirin terletak 25 km dari perkotaan tepatnya di Kecamatan Gucialit Wonolopo. Tenaga pengajar dari berbagai latar belakang dari mulai lulusan pondok pesantren yang di bawah naungan IKPM ( Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Modern), STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dan STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah). Pondok Pesantren Darul Muhajirin merupakan satu- satunya pondok yang berada di kota lumajang, yang secara keseluruhan dalam sistem kurikulumnya sepenuhnya mengadopsi dari pesantren Modern Gontor

b.Penerapan Kurikulum KMI

Kurikulum KMI yang memadukan pendidikan formal dan informal dilaksanakan di pesantren selama 24 jam pelajaran. Meskipun demikian, seluruh kurikulum dipecah menjadi beberapa bagian yang disesuaikan dengan kebutuhan santri. Kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan intrakurikuler merupakan program kegiatan. Penggunaan bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia diwajibkan pada program pendidikan formal maupun informal, yang menjaga kecerdasan linguistik santri. Sistem pendidikan pesantren kemudian memadukan corak pendidikan ini. Sementara pendidikan agama diberikan di ruang kelas, sebagaimana umumnya di pesantren tertentu, para santri juga tinggal di asrama, yang menjaga semangat dan suasana kehidupan pesantren. Untuk memastikan bahwa semua yang dilihat, didengar, disaksikan, dan dilakukan santri selama proses pendidikan 24 jam adalah untuk pendidikan, maka pendidikan umum dan keagamaan diberikan secara berimbang.[21] Sementara itu, Kurikulum KMI Pondok Pesantren Darul Muhajirin merupakan lembaga pendidikan yang menggunakan kurikulum dan sistem pondok pesantren modern Gontor. Sejak berdiri, pondok pesantren ini terus berupaya untuk mengembangkan tujuannya, terutama dengan menunjukkan capaian positif dan mampu membantu masyarakat dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia di bidang pendidikan. Berikut ini adalah beberapa cara yang dilakukan KMI Pondok Darul Muhajirin dalam menjalankan kurikulum tersebut: (a) Menggunakan metode dan pendekatan yang menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, (b) Memberikan kegiatan rekreasi di luar kelas kepada santri. Namun demikian, kurikulum tersebut masih perlu disempurnakan dari berbagai sektor pendukung agar dapat terlaksana. Sejumlah pihak yang turut membantu dalam pelaksanaan kurikulum KMI guna meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin antara lain. 1. Kepemimpinan kiai merupakan salah satu aspek yang sangat krusial dalam sebuah lembaga pendidikan, karena kepemimpinan seorang pemimpin dalam mengelola lembaga pendidikan akan menentukan maju atau mundurnya lembaga pendidikan tersebut. Keberadaan seorang kiai merupakan salah satu ciri pemimpin dalam sebuah pesantren

Figure 1.

Gambar 1. Jaringan Kepemimpinan

Simpul utama jaringan kekuasaan kiai bertumpu pada pemimpin pesantren yang diperkuat oleh kekuatan asatid, santri, dan dukungan masyarakat, sesuai dengan gambaran jaringan tersebut. Tidak mengherankan jika sebagian pesantren hanya sekadar nama setelah digantikan oleh penerusnya, karena kiai memegang peranan penting dalam perkembangan sebuah pesantren. Ada beberapa sebab, pertama, karena kekuasaan penerusnya mulai memudar. Kedua, karena kasih sayang masyarakat mulai memudar. Sebagai pemimpin, kiai memegang berbagai tugas dalam mengelola pesantrennya, termasuk Pondok Pesantren Darul Muhajirin. Salah satu peran tersebut adalah meningkatkan mutu pendidikan di pesantren, yaitu: 1) kiai sebagai guru. 2) kiai berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. 3) kiai berperan dalam pengambilan keputusan. 4) menjalin kerjasama yang konstruktif dengan kiai atau organisasi lain. 5) menyiapkan kaderisasi. 6) menjalin hubungan yang positif dengan lingkungan sekitar. Salah satu pondok pesantren yayasan keluarga adalah Pondok Pesantren Darul Muhajirin

2. Asatidz adalah karier, pekerjaan, dan seseorang yang bertugas untuk mengajar. Instruktur dapat memiliki banyak sebutan, termasuk instruktur agama, guru olahraga, dan sebagainya. Guru juga memberikan pengetahuan, instruksi moral, dan jiwa spiritual. Seorang guru juga harus memainkan peran penting dalam membantu guru maju dalam kariernya. Guru memainkan tiga peran: sosial, profesional, dan pribadi. [22] Karena setiap sikap, perilaku, moral, bahkan kerapian pakaian dapat dijadikan contoh, maka tidak sembarang orang dapat menjadi guru. Pendidikan pribadi adalah pendidikan karakter yang akan diwujudkan sebagai contoh. Nilai-nilai menjadi guru yang profesional, yang meliputi memiliki rasa tanggung jawab yang kuat, kompeten, dan memiliki wawasan yang luas. Guru harus memiliki keterampilan sosial yang kuat agar dapat bekerja sebagai seorang profesional. Kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswa, orang tua, anggota masyarakat lainnya, dan profesional pendidikan dikenal sebagai kompetensi sosial.[23] Guru memegang peranan penting dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di lingkungan Pondok Pesantren Darul Muhajirin 3. Pembinaan santri termasuk suatu teknik, metode, atau tindakan bimbingan dikenal dengan sebutan Bimbingan Santri (melakukan sesuatu pada tempatnya yang benar). Agar semua kegiatan di pesantren dapat berjalan dengan tertib dan teratur, maka semua santri harus menaati peraturan dan tata tertib yang berlaku. Bimbingan dilaksanakan untuk membina akhlak melalui teknik-teknik pendisiplinan. Tentunya setiap pesantren memiliki cara tersendiri dalam menanamkan akhlak yang baik kepada santrinya. Karena sulit untuk membentuk manusia seperti yang kita inginkan tanpa adanya kedisiplinan yang tinggi, maka kedisiplinan sangatlah dijunjung tinggi. Peraturan dan tata tertib hanya menjadi pajangan tanpa adanya sanksi dan hukuman, oleh karena itu peraturan dan tata tertib tersebut ditegakkan dengan tegas. Jika hal tersebut terjadi, maka pesantren akan sulit mencapai mutu yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu, maka kehidupan pesantren yang dinamis harus dibina dengan disiplin yang ketat.[17]. Melalui organisasi yang bernama OSDM (Organisasi Pelajar Darul Muhajirin), kedisiplinan diterapkan di semua bidang di pondok pesantren Darul Muhajirin, meliputi waktu, belajar, beribadah, dan berpenampilan. Hal ini memastikan semua santri terbiasa dengan tata tertib yang berlaku untuk membentuk santri yang berkarakter IMTAQ. 4. Sarana prasarana sebagai komponen penting dari keseluruhan kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan, sarana dan prasarana memiliki berbagai fungsi dan berperan dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum. Salah satu aspek yang dipelajari dalam administrasi pendidikan pesantren adalah pengelolaan prasarana dan sarana lembaga tersebut.[24] Perencanaan, pembelian, dan penggunaan semuanya terkait erat dengan proses pengelolaan prasarana dan sarana. Generasi yang berkualitas dapat dihasilkan dari lembaga pendidikan. Untuk menghasilkan generasi tersebut, diharapkan dapat mengembangkan pendidikan yang bermutu.[25] Lembaga pendidikan harus berupaya mengelola pendidikan seefektif mungkin untuk memenuhi kebutuhan akan pengajaran yang bermutu. Ada beberapa cara untuk mencapainya. Peningkatan dan perampingan pengelolaan prasarana dan sarana merupakan salah satunya Salah satu keunggulan amenitas dan prasarana Pondok Darul Muhajirin adalah lokasinya yang terpencil, yang menawarkan kenyamanan dan latar belakang pegunungan yang menakjubkan.

c.Program Pendukung

1.OSDM ( Organisasi Santri Darul Muhajirin)

Figure 2.

Gambar 2. Struktur OSDM

Berdasarkan struktur organisasi Pondok Pesantren Darul Muhajirin, OSDM berada di bawah dan dibina oleh pimpinan pondok pesantren, dan pimpinan OSDM mewakili pimpinan pondok pesantren dalam mengelola seluruh kegiatan kemahasiswaan. Dengan demikian, pembentukan organisasi kemahasiswaan merupakan salah satu tindakan pimpinan pondok pesantren untuk mewujudkan sumber daya manusia yang profesional. Kemampuan organisasi kemahasiswaan dalam melaksanakan tugas yang diberikan sesuai dengan tuntunan pimpinan pondok pesantren sangat penting bagi keberhasilan lembaga.

2.Ujian Akhir Setiap tahun, kelas VI mengikuti Fathul Kutub, yaitu membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Agar kiai dapat mencetak kader-kader yang memahami agama dan bermanfaat bagi masyarakat, para santri diberi tugas untuk membahas berbagai topik terkait keimanan, fiqih, hadis, tasawuf, dan topik-topik lainnya, serta berbagai tantangan masa kini. Sebagai bagian dari kriteria kelulusan para santri yang telah duduk di kelas VI, Pondok Pesantren Darul Muhajirin secara rutin menyelenggarakan kegiatan Fathul Kutub setiap tahunnya. Dewan Masyayeikh secara langsung mengawasi dan menguji kegiatan ini.

3.Pelatihan Tadris Amaliyah merupakan program tiga bulan yang memperbolehkan siswa kelas VI untuk mendapatkan pengajaran di Pondok Pesantren Gontor. Tujuan dari program ini adalah agar siswa memperoleh pengalaman mengajar siswa kelas VI yang merupakan prasyarat untuk mengajar di lembaga tersebut. Dengan demikian, siswa kelas VI yang berprestasi akan dikirim ke Pondok Pesantren Gontor untuk mengikuti pelatihan tadris amaliyah selama tiga bulan. Keberhasilan sistem KMI dalam menanamkan pola pikir kewirausahaan pada siswanya ditunjukkan oleh kemampuannya untuk tidak hanya memberikan contoh nyata tentang cara mereka mengelola pesantren, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang sistem tersebut dengan menggunakan siswa sebagai subjek dalam proses pendidikan. Hal ini memungkinkan siswa untuk mendapatkan pengalaman dan kapasitas untuk tidak hanya menavigasi suatu sistem, tetapi juga untuk mengidentifikasi dan menavigasi suatu sistem untuk mencapai hasil yang mereka inginkan. Dengan memungkinkan masyarakat setempat untuk saling bertukar pengetahuan tentang kewirausahaan, Pesantren Darul Muhajirin menggunakan pendidikan kewirausahaan untuk meningkatkan pendapatan pesantren dan memungkinkan pengembangan "Damhar Mart."”.

4.Supervisi berkala berfungsi sebagai wadah informasi, hambatan, dan kontrol langsung terhadap pembelajaran di lapangan. Hasil supervisi dimanfaatkan sebagai bahan penilaian untuk pengembangan secara bertahap berdasarkan informasi yang dihimpun oleh supervisor supervisi Pondok Pesantren Darul Muhajirin yang telah dilaksanakan

melalui kurikulum KMI yang melibatkan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. Di antara hal-hal yang menjadi supervisi adalah sebagai berikut: 1) Agar tercipta kenyamanan pondok pesantren, kyai harus mampu melaksanakan kebijakan yang baik. 2) Asatidz berperan lebih imajinatif dalam pengajaran, menguasai isi yang akan disampaikan. 3) Nasehat santri tentang manajemen waktu, berpakaian rapi, dan terlibat dalam kegiatan. 4) Prasarana dan sarana menjamin seluruh komponen pondok pesantren lengkap dan sesuai dengan kebutuhan santri.

5.Evaluasi harus dilakukan secara berkala ntuk memastikan bahwa program dan tujuan berjalan efektif. Evaluasi dapat dilakukan dalam bentuk rapat yang diadakan secara berkala. Diskusi umum dan evaluasi dilakukan setiap minggu, sedangkan OSDM (Organisasi Santri Darul Muhajirin) dan pengurus harian bertemu sebulan sekali. Dalam rapat evaluasi setelah supervisi, asatid dapat memberikan masukan, komentar, atau keluhan terkait kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

d.Strategi Kurikulum KMI di Pesantren Darul Muhajirin

1.Peran Kiai, berdasarkan hasil wawancara yang ada di pondok pesantren Darul Muhajirin bahwasanya kiai sebagai pemimpin memiliki banyak peran dalam menjalankan pesantrennya, termasuk juga Pondok Pesantren Darul Muhajirin, diantara peran Kiai dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pondok pesantren Darul Muhajirin adalah: 1) Kiai Sebagai Pendidik yaitu Sebagai panutan, kiai juga berperan menjadi pendidik dan tauladan utama di setiap pesantren, begitu juga yang terjadi di Pondok Pesantren Darul Muhajirin. Kiai mendidik para santri dan guru dengan ucapan dan tindakan, pendidikan yang dilakukan secara ucapan, berada di kelas, beliau mengajar minimal satu hari di masing-masing lembaga. 2) Kiai berperan untuk memperbaiki SDM tentu dibantu oleh banyak tenaga, diantaranya adalah asatid dan tenaga kependidikan, oleh sebab itu kiai di Pondok Pesantren Darul Muhajirin, mendukung para guru untuk belajar atau mengikuti diklat yang dibutuhkan dalam mematangkan kualitas guru dan tenaga pendidik. Sebagai pengambil keputusan dalam suatu organisasi, Kiai memiliki pengaruh yang signifikan terhadap semua keputusan, oleh karena itu salah satu tanggung jawab seorang pemimpin adalah membuat keputusan dan menerima akuntabilitas atas hasilnya. 3) Menjalin kerjasama yang konstruktif dengan Kiai atau organisasi lain, dalam rangka memperoleh beasiswa bagi para asatid yang mengajar di pondok pesantren, pondok pesantren Darul Muhajirin menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi dan individu, antara lain perguruan tinggi terdekat, STIT (Perguruan Tinggi Tarbiyah) dan STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan). 4) Mengirimkan generasi penerus ke pondok pesantren modern Gontor Pusat dalam rangka menyiapkan kader-kader di pondok pesantren Darul Muhajirin. 5) Menjalin hubungan positif dengan lingkungan sekitar. Dalam rangka membina hubungan positif dengan masyarakat, Pondok Pesantren Darul Muhajirin turut serta dalam menjamin kestabilan dan ketahanan pangan santri

2.Peran Asatid

Figure 3.

Gambar 3. Data Asatid

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin, dari 340 santri, 45 orang telah menyelesaikan jenjang S1, 20 orang telah menyelesaikan jenjang S1, dan sisanya 25 orang dan 10 orang merupakan santri kedinasan. Asatid memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan santri dengan cara menumbuhkan karakter disiplin dan bermoral dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Melalui kurikulum KMI, seperti melalui kegiatan yang dilaksanakan di luar asrama, diterapkan pendekatan yang menyenangkan dan imajinatif. Ketiadaan tenaga pengajar yang memenuhi standar jenjang S1 sebesar 62% Kementerian Pendidikan Nasional menjadi salah satu kendala yang dihadapi Pondok Pesantren Darul Muhajirin

3.Pembinaan Santri Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin, santri dibina melalui kegiatan OSDM untuk menumbuhkan karakter disiplin dengan tetap menaati peraturan perundang- undangan. Pembinaan santri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1) Metode Pujian: Santri diberikan pujian ketika berhasil menyelesaikan kegiatan atau melakukan sesuatu yang terpuji. Bisa juga diberikan hadiah untuk memotivasi agar berbuat baik. 2) Metode Hukuman, yaitu pemberian hukuman bagi santri yang melanggar peraturan, tentunya hukuman yang diberikan harus bersifat mendidik dan menimbulkan efek jera, sehingga santri yang melanggar tidak mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Santri di Pondok Pesantren Darul Muhajirin diberikan pembinaan kedisiplinan dengan cara merawat dan menanam tanaman

4.Sarana Prasarana

Figure 4.

Gambar.4 Sarpras

Prasarana di Pondok Pesantren Darul Muhajirin masih sangat kurang, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di sana. Hal ini dikarenakan pondok pesantren ini berada di daerah pedesaan dengan kondisi ekonomi yang sangat rendah, dan ketika pihak pondok pesantren berupaya menaikkan biaya pendidikan, para orang tua santri dan masyarakat bereaksi keras. Proses belajar mengajar masih dilakukan di ruang utama masjid, depan asrama, depan kelas, dan di gazebo. Hal ini berdampak signifikan terhadap ketersediaan prasarana yang memadai. Selain itu, ketersediaan air bersih juga masih sangat kurang sehingga jumlah santri yang diterima tidak bertambah. Pihak yayasan dan kiai bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk mendukung proses penyediaan prasarana, termasuk penggalangan dana untuk membeli bahan pangan dari hasil panen setempat dan bahan sandang atau bahan bangunan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Pesantren Darul Muhajirin

B.Kelemahan dan Kelebihan dalam mererapkan Kurikulum KMI

Kelemahan pelaksanaan kurikulum KMI adalah sebagai berikut: 1) Kurikulum KMI masih kurang dipahami oleh sebagian besar siswa. 2) Ketidakmampuan siswa dalam menyesuaikan diri dengan kurikulum KMI. 3) Minimnya sarana dan prasarana, seperti ruang kelas, air bersih, dan perpustakaan yang belum memadai. 4) Terbatasnya SDM Asatid yang berpendidikan S1 dan kurang menguasai materi yang diajarkan. 5) Tidak mampu menampung siswa yang lebih banyak. Salah satu kelebihannya adalah memiliki halaman yang luas. 2) Mendapat bantuan dari masyarakat sekitar. 3) Satu- satunya pondok pesantren Islam yang menggunakan KMI. 4) Memiliki perusahaan bernama "Damhar Mart" yang melibatkan masyarakat dan siswa. 5) Memiliki jaringan alumni yang luas

Simpulan

Mutu sumber daya manusia pesantren sangat berpengaruh terhadap efektivitas kurikulum KMI. Agar sistem pendidikan ini dapat berjalan dengan baik, maka harus didukung oleh peningkatan kapasitas tenaga pengajar, pengelolaan peserta didik yang baik, dan penerapan struktur manajemen yang profesional. Pesantren harus mampu menerapkan teknik pendidikan yang lebih modern dan mampu menyeimbangkan antara adat istiadat pesantren dengan tuntutan zaman agar dapat meningkatkan mutu sumber daya manusianya. Fasilitas dan sumber daya manusia pesantren Darul Muhajirin memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan sumber daya manusia, pesantren bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk memberikan beasiswa bagi para pengajarnya. Selain itu, pihaknya juga mendukung sarana dan prasarana dengan memberikan pendidikan kewirausahaan kepada para santri, sehingga dapat berdiri minimarket bernama "Damhar Mart" untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mutu prasarana.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Mudir Pondok Pesantren Darul Muhajirin Lumjang, yang telah memberikan izin dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada astaid, dan asatidzah yang telah memberikan waktu, bantuan, dan partisipasi aktif dalam wawancara dan observasi yang dilakukan. Keberhasilan penelitian ini tidak lepas dari dukungan dan kerjasama yang luar biasa dari seluruh civitas di pesantren, termasuk Mudir yang telah menyediakan sumber daya dan fasilitas yang diperlukan. Ucapan terima kasih yang tulus juga ditujukan kepada peserta didik yang dengan antusias berpartisipasi dalam kegiatan ini, memberikan wawasan berharga melalui pengalaman mereka. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan di pondok pesantren lainnya

References

M. T. Tahir, M. Muhammad, and S. Subki, “Penerapan Kurikulum Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Pesantren,” J. Kependidikan Islam, vol. 14, no. 1, pp. 1–10, 2024, doi: 10.15642/jkpi.2024.14.1.1-10.

Sahbana, “49-Article Text-96-1-10-20200325,” vol. 3, no. 1, pp. 70–88, 2020.

Istikomah and B. Haryanto, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Sidoarjo, Indonesia: Nizamia Learning Center, 2021.

Haryanto, Manajemen Mutu Pendidikan Islam. Sidoarjo, Indonesia, 2020.

H. C. Wahyuni, Buku Ajar Manajemen Teknologi Pada Industri. Sidoarjo, Indonesia: UMSIDA Press, 2023.

Haryanto and Istikomah, Manajemen Mutu Pendidikan Islam. Sidoarjo, Indonesia, 2020.

Z. Abidin and R. Ratnawati, “Manajemen Mutu Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Huda Pragaan Sumenep Di Era 5.0,” J. Adm. Educ. Manag., vol. 7, no. 1, pp. 96–105, 2024, doi: 10.31539/alignment.v7i1.9507.

U. Suherman and E. S. Cipta, “Penerapan Fungsi Manajemen Dalam Meningkatkan Mutu Pondok Pesantren,” SPECTRA J. Pendidik. Agama Islam, vol. 1, no. 1, pp. 40–60, 2024.

M. K. J. Hafiz and R. Lukluk, “Hambatan Penerapan Kurikulum Kulliyatu al-Mu’allimîn al-Islâmiyyah Pada Pembelajaran Bahasa Arab Di Pondok Pesantren Raudhotus Salâm Yogyakarta,” Kalamuna J. Pendidik. Bhs. Arab dan Kebahasaaraban, vol. 5, no. 1, pp. 59–75, 2024, doi: 10.52593/klm.05.1.05.

Oernika Mahanani and S. Sulistyorini, “Manajemen Kurikulum Terpadu: Studi Tentang Penerapan Model Kurikulum Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di MA Al-Rosyid Bojonegoro,” Eval. J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 7, no. 2, pp. 165–179, 2023, doi: 10.32478/evaluasi.v7i2.1529.

O. Prasetyo, D. Permadi, and U. C. Barlian, “Internalisasi Nilai Kedisiplinan Santri Melalui Kepemimpinan Kiai Di Pondok Pesantren Darul Falah dan Pondok Pesantren Nurul Huda Al-Islami Lembang,” JIIP - J. Ilm. Ilmu Pendidik., vol. 5, no. 3, pp. 680–689, 2022, doi: 10.54371/jiip.v5i3.473.

K. M. I. Muttaqin, Zulhannan, and U. Hijriyah, “Implementasi Kedisiplinan Santri Di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sukadamai Natar Lampung Selatan,” J. Pendidik. dan Konseling, vol. 4, pp. 1349–1358, 2023.

Q. Aini, U. Muawanah, and O. Lisa, “Peran Kiai Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren (Studi Di Pondok Pesantren Ainul Yaqin Jirongan Leces Probolinggo),” Ekon. Manaj. dan Bisnis, vol. 1, no. 2, p. 94, 2022, doi: 10.59818/kontan.v1i2.283.

F. Tirtoni, Manajemen Pendidikan. 2021.

W. Waslah, A. Kholid, and I. Tiarawati, “Ketersediaan SDM Dan Sarana Prasarana Dalam Menunjang Pembelajaran Al-Qur’an Di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Putri Jogoroto Jombang,” Din. J. Kaji. Pendidik. dan Keislam., vol. 7, no. 1, pp. 14–21, 2022. [Online]. Available: https://ejournal.unwaha.ac.id/index.php/dinamika/article/view/2295

J. H. Bin Andi, “Implementasi Kurikulum Kulliyatul Mu’allimin Wal Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI) Di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang,” Risalah, J. Pendidik. dan Stud. Islam, vol. 10, no. 2, pp. 722–739, 2024.

Karti, “Implementasi Kurikulum Kulliyatul Mu’allimat al Islamiyah (KMI) Dalam Pembinaan Akhlak Mulia Santriwati Di Pondok Pesantren Annajiyah Lubuklinggau,” Ej, vol. 5, no. 1, pp. 55–65, 2022, doi: 10.37092/ej.v5i1.411.

M. Ulum and J. S. Fajriyah, “Implementasi Kurikulum Kulliyatul Mu’alimin Al-Islamiyah (KMI) Di Pondok Pesantren Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan Dan Ma’hadul Mu’allimien Al-Islamiyah (MMI),” no. MMI.

M. Nashrullah, E. F. Fahyuni, N. Nurdyansyah, and R. S. Untari, Metodologi Penelitian Pendidikan (Prosedur Penelitian, Subyek Penelitian, Dan Pengembangan Teknik Pengumpulan Data). 2023, doi: 10.21070/2023/978-623-464-071-7.

S. Purnia, M. F. Adiwisastra, H. Muhajir, and D. Supriadi, “Pengukuran Kesenjangan Digital Menggunakan Metode Deskriptif Berbasis Website,” EVOLUSI J. Sains dan Manaj., vol. 8, no. 2, 2020, doi: 10.31294/evolusi.v8i2.8942.

M. Suparji and A. Julianto, “Sistem Pengelolaan Pendidikan Pesantren Modern (Studi Kasus Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 Bogor),” J. Pendidik. Islam Al-Affan, vol. 3, no. 2, pp. 93–103, 2023, doi: 10.69775/jpia.v3i2.104.

M. Jannah et al., Inovasi Pembelajaran Sekolah Unggul. 2020.

M. Choliq, D. L. Rohmah, and F. A. Putri, “Peran Vital Guru Dalam Konsep Pendidikan Islam (Peran Guru Didalam Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor),” DIAJAR J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 3, no. 3, pp. 343–348, 2024, doi: 10.54259/diajar.v3i3.2784.

H. Rizandi, M. Arrazi, Asmendri, and M. Sari, “Pentingnya Manajeman Sarana dan Prasarana Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,” Akad. J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 5, no. 1, pp. 47–59, 2023, doi: 10.51339/akademika.v5i1.745.

Salahudin, M. Akos, and A. Hermawan, “Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui Sumber Daya Manusia dan Sarana Prasarana Di MTsN Banjar Selatan 2 Kota Banjarmasin,” J. Ilmu Adm. dan Manaj., vol. 2, no. 1, pp. 1–13, 2018.