sandra hidayat (1), Suhirman Suhirman (2), Ali Akbar jono (3)
General Background: Moral education plays a crucial role in shaping individual character, particularly among youth within Islamic educational environments. Specific Background: Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Bengkulu integrates moral education through extracurricular Satria Sejati silat as part of character formation efforts. Knowledge Gap: However, limited studies examine structured processes and contextual factors of akhlaqul karimah internalization within silat-based extracurricular activities in tahfidz institutions. Aims: This study aims to analyze the internalization process of moral values and identify supporting and inhibiting factors in Satria Sejati silat activities. Results: The findings reveal six core moral values, including morals toward Allah, the Prophet, parents, self, society, and the environment. The internalization occurs through three stages: introduction and understanding, acceptance, and internalization, implemented via habituation, role modeling, and conditioning. Supporting factors include a supportive environment, integrated teaching methods, and adequate facilities, while limited extracurricular time and diverse student backgrounds act as constraints. Novelty: This study highlights a structured integration of Islamic moral values within silat extracurricular practices in a tahfidz setting. Implications: The findings suggest that silat extracurricular activities can function as a systematic medium for moral education, contributing to character formation through integrated religious and physical training approaches.
Highlights• Six moral domains identified within silat-based character education• Three-stage internalization model applied in tahfidz environment• Supporting and constraining factors mapped in extracurricular implementation
KeywordsMoral Value Internalization; Islamic Moral Education; Satria Sejati Silat; Extracurricular Learning; Character Formation
Internalisasi nilai-nilai akhlak menjadi fokus penting dalam pembentukan pribadi seorang individu, khususnya generasi muda. Sejak lahir, manusia membawa fitrah (potensi) untuk menjadi baik atau buruk yang dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya. Nabi Muhammad ﷺ menegaskan dalam sabdanya bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tuanya yang berperan besar dalam membentuk akhlak serta arah kehidupannya (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658). Dengan demikian, pendidikan akhlak memiliki peran strategis untuk menjaga dan mengarahkan fitrah manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan menjadi khalifah di bumi.
Pendidikan akhlaqul karimah sangat urgen untuk ditanamkan sejak dini karena menjadi tolok ukur baik atau buruknya kepribadian seseorang. Nilai-nilai akhlak yang baik akan membentuk karakter beriman, bertakwa, serta berakhlak sosial dan ekologis sehingga peserta didik mampu menghindari keburukan serta memberi manfaat bagi diri, masyarakat, bangsa, dan negara. Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan maraknya fenomena kenakalan remaja seperti pergaulan bebas, budaya pacaran, melawan guru, bolos sekolah, hingga perilaku kriminal. Kondisi ini berdampak negatif terhadap masa depan generasi muda sekaligus mengganggu keharmonisan masyarakat. Oleh sebab itu, pendidikan akhlak perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh melalui kerja sama yang harmonis antara orang tua, lingkungan, dan lembaga pendidikan. Salah satu lembaga yang memiliki kontribusi besar dalam menanamkan nilai-nilai akhlak adalah rumah tahfidz. Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu tidak hanya berfokus pada kegiatan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter peserta didik melalui pembelajaran agama serta beragam kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung.Namun, berdasarkan hasil pra-observasi yang dilakukan, masih ditemukan beberapa peserta didik yang dalam kesehariannya kurang menunjukkan sikap sopan dalam berbicara dan cenderung bercanda secara berlebihan.
Oleh karena itu, organisasi ini berupaya mendidik siswanya melalui berbagai kegiatan, seperti ekstrakurikuler Satria Sejati yang menjadi salah satu media utama dalam mendidik siswa. Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan efek positif pencak silat dalam analisis akhlak. Menurut Rangga dkk., kurikulum Tapak Suci di Pesantren Thawalib Kota Padang dapat mencapai tujuan sebagai berikut: nilai akhlaqul karimah, yaitu disiplin, toleransi, kerja keras, kesabaran, rendah hati, dan kesopanan.
Penelitian Hamidum dkk. di MTs Infarul Ghoy Semarang juga membuktikan bahwa pencak silat dapat menginternalisasikan nilai akhlak ḥablum minannās seperti sopan santun, tanggung jawab sosial, dan kedisiplinan melalui perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi yang sistematis. Hasil penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwa kegiatan pencak silat merupakan salah satu sarana efektif dalam pembentukan karakter sosial-religius peserta didik.
Namun penelitian mengenai internalisasi akhlaqul karimah berbasis ekstrakurikuler silat Satria Sejati dalam tahfidz rumah lingkungan masih terus dilakukan. Karena memadukan kajian Al-Qur'an dengan kegiatan akhlak dan ekstrakurikuler, maka rumah tahfidz memiliki ciri khas. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian ini untuk menganalisis celah-celah tersebut di atas.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis proses internalisasi nilai-nilai akhlaqul karimah dalam pendidikan akhlak berbasis ekstrakurikuler silat Satria Sejati di Rumah Tahfidz Bakti Ilahi Kota Bengkulu, dan (2) mengidentifikasi faktor pendukung serta penghambat dalam proses internalisasi tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk meneliti kondisi objek secara alamiah dengan menekankan makna dan pemahaman yang mendalam terhadap fenomena yang diteliti. Data yang dikumpulkan bukan berupa angka, melainkan berasal dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi, serta catatan lapangan. Penelitian kualitatif bersifat emic, artinya data diperoleh berdasarkan pengalaman, pandangan, dan realitas yang dialami subjek penelitian, bukan sekadar interpretasi peneliti. fokus utama penelitian ini adalah internalisasi akhlaqul karimah dalam pendidikan akhlak berbasis ekstrakurikuler Silat Satria Sejati di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu.
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu selama satu bulan, terhitung tanggal 10 Maret 2025 sampai dengan tanggal 10 April 2025. Subyek penelitiannya adalah pimpinan kediaman Tahfidz, santri Satria Sejati, dan santri yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Purposive sampling digunakan untuk pemilihan subjek, dan diyakini bahwa informasi tersebut paling mudah dipahami dan dipercaya selama internalisasi akhlak melalui kegiatan ekstrakurikuler. Penanggung jawab kegiatan dan pembuat kebijakan pendidikan karakter menjadi alasan dipilihnya ketua kediaman Tahfidz. Sebagai teladan dan pembimbing siswa dalam mengidentifikasi akhlaqul karimah, pelatih silat dibedakan dari dedikasinya yang tak tergoyahkan.. Adapun siswa dipilih karena mereka menjadi pelaku utama yang mengalami proses internalisasi nilai akhlak dalam kegiatan tersebut. Jumlah partisipan penelitian terdiri atas 1 kepala rumah tahfidz, 1 pelatih utama, dan 6 siswa yang aktif mengikuti kegiatan selama minimal enam bulan, sehingga data yang diperoleh lebih mendalam dan representatif.
Objek penelitian ini adalah internalisasi nilai-nilai akhlaqul karimah yang ditanamkan melalui kegiatan ekstrakurikuler Silat Satria Sejati, baik melalui pembiasaan, keteladanan, maupun pengkondisian yang dilakukan pelatih dalam proses latihan.
Sumber data dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui wawancara dan observasi yang melibatkan kepala rumah tahfidz, pelatih, serta para siswa. Adapun data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, artikel, catatan kegiatan, dan dokumentasi yang berkaitan dengan pelaksanaan ekstrakurikuler Silat Satria Sejati.
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik utama, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi.
a. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi secara lebih mendalam mengenai bentuk kegiatan, proses pelaksanaan, serta nilai-nilai akhlak yang ditanamkan dalam kegiatan tersebut.b. Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung pelaksanaan aktivitas silat, interaksi yang terjalin antara pelatih dan siswa, serta kondisi lingkungan di rumah tahfidz.c. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian melalui penelaahan berbagai dokumen, foto, dan arsip yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler tersebut.
Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi yang mencakup triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data atau informasi yang diperoleh dari kepala rumah tahfidz, pelatih, dan siswa. Triangulasi teknik diterapkan dengan memadukan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sementara itu, triangulasi waktu dilakukan dengan memeriksa data pada kondisi dan waktu yang berbeda, seperti pagi, siang, dan malam, sehingga hasil penelitian menjadi lebih akurat dan dapat dipercaya.
Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap utama, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Pada tahap reduksi data, peneliti merangkum sekaligus menyeleksi data yang relevan agar fokus pada informasi penting sehingga lebih jelas dan terarah. Selanjutnya, pada tahap penyajian data, peneliti mengorganisasikan hasil temuan ke dalam bentuk uraian naratif agar makna yang terkandung di dalamnya lebih mudah dipahami.
Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu menginterpretasikan data yang telah disajikan untuk menjawab rumusan masalah sekaligus memastikan kebenarannya melalui proses verifikasi berulang agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana nilai-nilai akhlaqul karimah diinternalisasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler Silat Satria Sejati di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu, baik dari sisi konsep, praktik, maupun dampak terhadap peserta didik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu, ditemukan bahwa proses internalisasi nilai-nilai akhlaqul karimah melalui kegiatan ekstrakurikuler Silat Satria Sejati berlangsung dalam tiga bentuk utama, yaitu pembiasaan, keteladanan, dan pengkondisian. Ketiga aspek tersebut menjadi unsur penting yang menopang tercapainya tujuan pendidikan akhlak dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Pertama, aspek pembiasaan diwujudkan melalui berbagai kegiatan sederhana tetapi memberikan pengaruh yang nyata, seperti membiasakan mengucapkan salam sebelum dan setelah kegiatan, memanfaatkan waktu secara baik, mematuhi aturan yang berlaku, serta menanamkan niat dan sikap positif pada para peserta. Berbagai kegiatan tersebut tidak hanya membentuk siswa agar lebih disiplin dan teratur, tetapi juga turut menumbuhkan rasa percaya diri serta sikap menghargai diri sendiri.
Proses pembiasaan yang berulang memudahkan penentuan nilai-nilai akhlak karena siswa lebih bersedia berpartisipasi dalam suasana formal maupun informal.
Aspek kedua keteladanan terlihat jelas dari cara para siswa diajarkan tidak hanya teknik bela diri, tetapi juga bagaimana mengamalkan ajaran Islam melalui sikap sehari-hari. Pelatih merupakan sosok yang dikagumi dan dikagumi para siswa karena sikap rendah hati, kesabaran, dan konsistensi mereka dalam menegakkan prinsip-prinsip Islam. Senantiasa, misalnya, mengajarkan para siswa bagaimana berperilaku baik saat berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana bersikap penuh perhatian. Hal ini merupakan faktor penting karena lebih mudah bagi didik untuk memahami apa yang dikatakan daripada bagi nasihat untuk memperhatikan.
Ketiga, aspek pengkondisian dilakukan dengan membangun etos kerja yang teliti, menjunjung tinggi disiplin, dan menekankan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan sikap positif. Suasana latihan yang tertata dengan baik membuat siswa merasa lebih nyaman dan terdorong untuk mengembangkan kemampuan mereka, sekaligus memahami serta menghayati nilai-nilai akhlak. Pengondisian ini juga tampak dalam aturan latihan yang tegas namun tetap bersifat mendidik, seperti kewajiban menjaga sopan santun, datang tepat waktu, dan menghindari sikap bercanda berlebihan yang dapat mengganggu jalannya latihan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai akhlaqul karimah yang berhasil tertanam pada peserta didik meliputi disiplin, sopan santun, keberanian, tanggung jawab, rendah hati, dan kerja sama. Nilai disiplin terlihat dari semakin meningkatnya kepatuhan siswa terhadap jadwal latihan dan aturan yang berlaku. Sikap sopan santun tampak dari cara siswa yang semakin menghormati pelatih maupun teman-temannya. Nilai keberanian berkembang melalui latihan bela diri yang menuntut ketangguhan mental, sedangkan tanggung jawab tercermin dari kesiapan siswa dalam menjalankan tugas yang diberikan. Selain itu, sikap rendah hati dan kerja sama juga mulai tumbuh melalui interaksi kelompok dalam latihan yang dilakukan secara rutin.
Berikut ringkasan nilai-nilai tersebut dalam bentuk tabel:
Hasil wawancara dengan pelatih dan kepala rumah tahfidz mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa mengalami perubahan perilaku positif, terutama dalam aspek kedisiplinan, penghormatan terhadap guru, serta kemampuan mengendalikan diri. Perubahan ini menunjukkan bahwa kegiatan silat tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mampu menjadi media efektif dalam pembentukan karakter. Namun, masih ditemukan kendala berupa sebagian siswa yang belum mampu mengontrol sikap bercanda berlebihan dan berbicara kurang sopan. Hal ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai akhlak merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan pendampingan intensif.
Adapun faktor pendukung internalisasi nilai-nilai akhlak di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi antara lain adalah komitmen pelatih dalam menanamkan nilai Islami yang konsisten ditunjukkan dalam setiap latihan. Di samping itu, dukungan yang diberikan secara penuh oleh kepala rumah tahfidz beserta para pengurus turut memperkuat keberlangsungan program tersebut. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara rutin dan terstruktur juga menjadi faktor penting yang membuat proses internalisasi berlangsung lebih efektif. Selain itu, suasana religius di rumah tahfidz yang dipenuhi dengan berbagai aktivitas keagamaan, seperti tahfidz dan kajian keislaman, ikut membangun lingkungan yang kondusif bagi pembentukan akhlak siswa.
Adapun faktor penghambat yang ditemukan dalam penelitian ini berkaitan dengan latar belakang siswa yang beragam, baik dari sisi karakter pribadi maupun pola asuh yang diterapkan dalam keluarga.
Perbedaan latar belakang membuat proses internalisasi tidak berjalan seragam pada setiap individu. Selain itu, kurangnya kontrol dari orang tua di rumah menjadi tantangan tersendiri, sebab pembinaan akhlak tidak hanya dibutuhkan di lingkungan rumah tahfidz tetapi juga harus berlanjut di lingkungan keluarga. Faktor lain adalah keterbatasan waktu latihan yang hanya dilakukan seminggu sekali, sehingga proses internalisasi membutuhkan strategi tambahan agar dapat lebih optimal.
Dengan adanya faktor pendukung dan penghambat tersebut, dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai akhlaqul karimah melalui ekstrakurikuler Silat Satria Sejati di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi berjalan cukup efektif meskipun masih terdapat tantangan yang perlu diatasi. Proses ini menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler, khususnya pencak silat, dapat menjadi media pendidikan akhlak yang berharga dalam membentuk karakter peserta didik.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa ekstrakurikuler Silat Satria Sejati memiliki peran penting dalam menginternalisasikan nilai-nilai akhlaqul karimah pada siswa di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu. Proses internalisasi dilakukan melalui tiga strategi utama, yaitu pembiasaan, keteladanan, dan pengkondisian. Ketiga strategi ini terbukti mampu menanamkan nilai-nilai Islami secara sistematis dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pembiasaan melatih siswa agar terbiasa dengan perilaku positif yang berulang, keteladanan memberikan model nyata yang dapat ditiru, sedangkan pengkondisian menciptakan suasana yang kondusif untuk terbentuknya karakter Islami.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pencak silat bukan hanya aktivitas fisik semata, melainkan juga sarana pendidikan karakter. Hal ini sejalan dengan penelitian Rangga dkk. yang menemukan bahwa pencak silat Tapak Suci mampu menanamkan tujuh nilai penting, yakni keberanian, disiplin, toleransi, kerja keras, kesabaran, rendah hati, dan kesopanan. Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam kegiatan ekstrakurikuler Silat Satria Sejati, terutama dalam aspek disiplin, tanggung jawab, dan kesopanan. Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa pencak silat dapat dijadikan sebagai media alternatif dalam pendidikan akhlak berbasis nilai Islami.
Demikian pula, penelitian Hamidum dkk. menunjukkan bahwa pencak silat efektif dalam menginternalisasikan nilai ḥablum minannās seperti sopan santun, tanggung jawab sosial, dan kedisiplinan. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian ini, yang menunjukkan bahwa siswa mengalami perkembangan dalam sikap menghormati guru, menjaga sopan santun, serta belajar mengendalikan diri. Dengan demikian, pencak silat memberikan kontribusi dalam membentuk karakter sosial-religius yang tidak hanya berguna di lingkungan rumah tahfidz, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih lanjut, kegiatan pencak silat dapat dipahami sebagai wujud penerapan pendidikan akhlak yang bersifat integratif. Selain melatih kemampuan bela diri, siswa juga dibimbing untuk menyeimbangkan kekuatan fisik dengan kelembutan akhlak. Perpaduan keduanya membentuk karakter yang tangguh sekaligus mulia. Keberhasilan proses internalisasi ini semakin diperkuat oleh beberapa faktor pendukung, seperti keteladanan pelatih, komitmen lembaga, kegiatan rutin yang tersusun dengan baik, serta lingkungan religius di rumah tahfidz. Faktor-faktor tersebut menegaskan bahwa pendidikan akhlak tidak dapat berjalan sendiri, tetapi perlu ditopang oleh ekosistem pendidikan yang kondusif.
Sebaliknya, terdapat pula faktor penghambat yang perlu mendapat perhatian, antara lain latar belakang siswa yang heterogen, kurangnya kontrol orang tua, serta keterbatasan waktu latihan yang hanya dilakukan sekali dalam seminggu. Hambatan ini menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dengan strategi pembinaan yang lebih variatif. Misalnya, pelatih dapat menambah kegiatan pendukung seperti diskusi nilai akhlak setelah latihan, atau melibatkan orang tua dalam program pembinaan karakter. Dengan demikian, proses internalisasi nilai-nilai akhlak tidak hanya terjadi di lingkungan rumah tahfidz, tetapi juga berlanjut dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Secara umum, penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi nilai akhlaqul karimah melalui kegiatan Silat Satria Sejati di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi memberikan kontribusi yang nyata dalam membentuk karakter siswa agar menjadi lebih disiplin, sopan, dan bertanggung jawab. Temuan ini turut memperkaya khazanah penelitian mengenai pendidikan akhlak berbasis kegiatan ekstrakurikuler, sekaligus menawarkan salah satu strategi alternatif dalam menjawab tantangan degradasi moral remaja di era modern.
Oleh karena itu, pendidikan akhlak melalui kegiatan pencak silat dapat menjadi strategi efektif yang patut dipertimbangkan dalam sistem pendidikan Islam, baik di lembaga formal maupun nonformal.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu, dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai akhlaqul karimah melalui ekstrakurikuler Silat Satria Sejati berjalan secara sistematis melalui tahapan pengenalan dan pemahaman (transformasi nilai), tahap penerimaan (transaksi), serta tahap pengintegrasian (transinternalisasi). Nilai-nilai akhlak yang berhasil diinternalisasikan mencakup enam aspek utama, yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada Rasulullah, akhlak kepada orang tua, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada masyarakat, dan akhlak kepada lingkungan.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan adanya faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat proses internalisasi tersebut. Faktor pendukungnya meliputi suasana rumah tahfidz yang religius dan mendukung, metode pembelajaran yang dipadukan dengan pembiasaan, keteladanan, serta pengondisian, dan tersedianya fasilitas maupun sarana yang memadai.
Sementara itu, faktor penghambat yang dihadapi antara lain keterbatasan waktu latihan yang hanya dilakukan seminggu sekali dan keterbatasan prasarana pendukung.
Dengan demikian, ekstrakurikuler Silat Satria Sejati tidak hanya berfungsi sebagai sarana latihan bela diri, tetapi juga menjadi media pendidikan akhlak yang efektif dalam membentuk karakter Islami peserta didik.
Rekomendasi
Penulis menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada dosen pembimbing yang telah dengan sabar memberikan arahan, bimbingan, serta masukan berharga dalam proses penyusunan penelitian ini.
Penghargaan yang tulus juga penulis sampaikan kepada Program Studi yang telah memberikan dukungan akademik, serta kepada Kepala Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Kota Bengkulu, pelatih Silat Satria Sejati, dan para siswa yang telah berpartisipasi aktif dalam penelitian ini.
Tidak lupa, penulis mengucapkan terima kasih kepada istri tercinta yang senantiasa memberikan doa, dukungan moral, dan semangat tanpa henti dalam setiap langkah penelitian ini. Kehadiran dan pengorbanannya menjadi kekuatan besar bagi penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini.
Ahmad Warson Munawir, 2020, Almunawir Kamus Bahasa Arab-Indonesia, Surabaya: Progresif.
Angraini, Anggun. “Pembinaan Akhlaqul karimahRemaja Di Boarding School SMA N 5 Payakumbuh.” Jurnal Pendidikan Dan Konseling 4, no. 5 (2022): 2384–90. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jpdk/article/download/6960/5254.
Baba, Mastang Ambo. “Dasar-Dasar Dan Ruang Lingkup Pendidikan Islam Di Indonesia.” Jurnal Ilmiah Iqra’ 6, no. 1 (2018). https://doi.org/10.30984/jii.v6i1.616.
Editor Repoeblik. “Perguruan Pencak Silat Satria Sejati Bengkulu Ujian Kenaikan Tingkat Bagi Siswa.” repoeblik.com, 2023. https://repoeblik.com/perguruan-pencak-silat-satria-sejati-bengkulu-ujian-kenaikan-tingkat-bagi-siswa/.
Firdaus. “Membentuk Pribadi Berakhlakul Karimah.” Al - Dzikra XI, no. 1 (2017): 55–88. https://media.neliti.com/media/publications/178009-ID-membentuk-pribadi-berakhlakul-karimah-se.pdf.
Hidayat, Muhammad. “Analisis Pendidikan Akhlak Dalam Pandangan Ibnu Miskawaih.” Tesis, 2017, 1–123. https://eprints.pancabudi.ac.id/id/eprint/767/1/PUTRI IMA MERIAH.pdf.
Husni, Muhammad. “Manajemen Pesantren Berbasis Ekstrakulikuler Di Pondok Modern Darul Khoirot Tirtoyudo Kabupaten Malang.” Jurnal Studi Pesantren 3, no. 1 (2023): 1–17.
Imam Mashuri and Ahmad Aziz Fanani, ‘Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islam dalam Membentuk Karakter Siswa Sma Al-Kautsar Sumbersari Srono Banyuwangi’, Ar-Risalah: Media Keislaman, Pendidikan Dan Hukum Islam, 19.1 (2021),
Jaya, Surayadi. “13 Pelajar Rusak Warung Manisan Hingga Lukai Leher Warga Di Bengkulu Tengah.” TribunBengkulu.Com, 2024. https://bengkulu.tribunnews.com/2024/09/23/13-pelajar-rusak-warung-manisan-hingga-lukai-leher-warga-di-bengkulu-tengah-dikenakan-wajib-lapor.
Liputan6.com. “4 Anak Di Bawah Umur Jadi Tersangka Pembunuhan Dan Pemerkosaan Siswi SMP Di Palembang,” 2024. https://www.liputan6.com/regional/read/5694148/4-anak-di-bawah-umur-jadi-tersangka-pembunuhan-dan-pemerkosaan-siswi-smp-di-palembang?page=2.
Muhammad Hamidum, dkk. Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Ḥablum Minannās Melalui Ekstrakurikuler Pencak Silat Di Mts Infarul Ghoy Semarang. Yasin (Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya) p-ISSN: 2808-2346 e-ISSN: 2808-1854. https://doi.org/10.58578/yasin.v5i3.5374.
Muhaimin, Paradigma Pendidikan islam upaya mengefektifkan Pendidikan agama islam di sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012)
Munir Samsul A. Ilmu Akhlak. Cetatakan ke-1 (Jakarta : Amzah, 2016)
Rangga Asrina Wahyu Putra, and Al Ikhlas. “Penanaman Nilai-Nilai Akhlaqul karimahMelalui Ekstrakurikuler Pencak Silat Tapak Suci Di Pesantren Thawalib Kota Padang.” Jurnal Pendidikan Tambusai 7, no. 1 (2023):
Redaksi matadian.com. “Pencak Silat Satria Sejati Bina Generasi Berprestasi.” MataDian.com, 2022. https://matadian.com/pencak-silat-satria-sejati-bina-generasi-berprestasi/.
Rohemah, Rohemah, and Muru’atul Afifah. “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Pada Santriwati Kalong Pondok Pesantren Al-Amien Putri I Prenduan.” Dar El-Ilmi : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora 8, no. 1 (2021): 133–51. https://doi.org/10.52166/darelilmi.v8i1.2446.
Salimah, Maratus. “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Akhlaqul karimahPada Siswa Di Smp Negeri 5 Lamongan.” Uinmalang.Ac.Id. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2022. Http://Etheses.Uin-Malang.Ac.Id/40320/1/18770083.Pdf.
Salman. “Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an.” Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam 5, no. 1 (2017): 145–68. http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/mudarrisuna/article/view/302.
Sugiono, metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2019
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Cetakan ke-3(Bandung: Alfabeta, 2023).
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Kombinasi (mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Syamsul Wahid, Tuti Awaliyah dan Ali Trisnawati. “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Pada Semester 1 Di Ma’had Idia Prenduan Tahun 2022.” Journal of Innovation Research and Knowledge 2, no. 4 (2022): 981. https://www.mendeley.com/catalogue/321b803b-ce64-3a38-bf74-00297045c99d/?utm_source=desktop&utm_medium
Tanjung, Idon. “Mahasiswa Dan Pelajar SMK Diduga Pesta Narkoba Di Hotel Pekanbaru.” Kompas.Com, 2024. https://regional.kompas.com/read/2024/10/21/162958778/mahasiswa-dan-pelajar-smk-diduga-pesta-narkoba-di-hotel-pekanbaru.
Usman, Errina. “Internalisasi Nilai-Nilai Karakter Dalam Pembelajaran Akhlak Di Pondok Pesantren Fadllillah Sidoarjo.” Uin Walisongo, 2018. Https://Eprints.Walisongo.Ac.Id/Id/Eprint/9956/7/Tesis_160011006_Errina_Usman.Pdf.