Login
Section Innovation in Education

Storytelling Based on Contextual Learning with Hand Puppets in Early Childhood Language Development

Metode Storytelling Berbasis Contextual Learning dengan Boneka Tangan pada Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Sri Asung Sundari Rini (1), Aini Mahabbati (2)

(1) Program Studi Magister Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia, Indonesia
(2) Program Studi Magister Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia, Indonesia

Abstract:

General background: Early childhood is a critical stage for language development, yet children at risk of learning difficulties often struggle with vocabulary, sentence construction, and confidence. Specific background: Conventional teaching methods in kindergartens frequently fail to address these challenges, particularly for children with barriers in receptive and expressive language. Knowledge gap: Limited research explores how contextual storytelling integrated with concrete media can support inclusive language learning. Aims: This study examines the application of contextual storytelling using hand puppets in improving the language skills of group B kindergarten children at risk of learning difficulties. Results: Conducted through two cycles of classroom action research, findings revealed that children’s average language scores rose from 47.5 (pre-test) to 58.3 (Cycle I) and 72.7 (Cycle II), with mastery increasing from 0% to 75%. Both receptive skills (understanding stories) and expressive skills (retelling and sentence-making) improved. Novelty: The integration of contextual storytelling with multisensory media provided richer experiences than conventional methods. Implications: This approach supports inclusive education by offering practical strategies for teachers and policymakers to foster meaningful language learning in early childhood.


Highlight


  • Storytelling with contextual learning and hand puppets enriched children’s language skills




  • Receptive and expressive language abilities developed progressively through two research cycles




  • The study offers practical strategies for inclusive early childhood education




Keywords

Storytelling, Contextual Learning, Language Development, Early Childhood, Inclusive Education

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Pendidikan merupakan hak setiap individu tanpa memandang derajat, kasta, sosial, maupun budaya, yang dapat dimulai sejak anak memasuki usia dini karena pada masa inilah awal mula anak menerima stimulus dari lingkungan sekitarnya. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak baik jasmani maupun rohani, sehingga anak siap ketika memasuki pendidikan yang lebih lanjut pada jalur formal, non formal, maupun informal . Salah satu bentuk pendidikan formal bagi anak usia dini adalah Taman Kanak-kanak (TK), yang ditujukan bagi anak usia 4–6 tahun dengan tujuan mengembangkan potensi anak mulai dari aspek fisik, moral, nilai-nilai bahasa, motorik, hingga seni agar siap memasuki pendidikan dasar . PAUD sendiri merupakan suatu usaha pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan guna membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani, sehingga anak memiliki kesiapan untuk melanjutkan pendidikan [3]. Pada masa usia dini ini, anak mulai membentuk dasar keterampilan belajar yang lebih kompleks dan membutuhkan pendekatan yang tepat agar dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar, sebab anak memiliki rentang perhatian yang terbatas serta kemampuan konsentrasi yang masih berkembang, sehingga strategi komunikasi dan pengajaran yang lebih baik sangat diperlukan untuk membantu mereka memahami materi pembelajaran. Masa usia lahir hingga 6 tahun sering disebut sebagai masa keemasan (The Golden Age), yaitu periode ketika anak peka dan sensitif dalam menerima berbagai rangsangan [4].

Kemampuan berbahasa merupakan salah satu aspek perkembangan utama pada anak usia dini yang menjadi dasar bagi perkembangan kognitif, sosial-emosional, dan akademik mereka di masa mendatang. Menurut Vygotsky dalam Santrock dengan teori Sociocultural Development, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat berpikir yang memfasilitasi anak dalam memahami dan menyusun makna dalam konteks sosial . Anak-anak di Kelompok B TK mengembangkan keterampilan bahasa mereka baik secara reseptif maupun ekspresif. Menurut [4], kemampuan ini merupakan komponen penting dari perkembangan bahasa ekspresif. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa anak-anak harus terlebih dahulu memahami arti kata atau konsep sebelum mereka dapat menggunakannya dalam berbicara. [5] mengklaim bahwa keterampilan ini dikembangkan melalui proses penguatan di mana anak-anak yang mencoba berkomunikasi diberikan umpan balik positif. Semua siswa di Kelompok B TK perlu meningkatkan keterampilan bahasa mereka, tetapi mereka yang berisiko mengalami kesulitan belajar perlu melakukannya terutama karena mereka sering kesulitan untuk memperoleh bahasa. [6] mengatakan bahwa masalah perkembangan membaca tertentu disebabkan oleh masalah dengan pemrosesan fonologis, bahkan jika anak itu pintar atau lebih pintar dari rata-rata. Tanda-tanda bahwa seorang anak mungkin memiliki kesulitan belajar di masa kanak-kanak awal termasuk tidak dapat mengenali huruf, membaca, atau menulis kata dengan benar. Kondisi ini dapat memengaruhi harga diri anak dan membuat mereka sulit untuk belajar di lingkungan sekolah formal.

Di TK N1S, hasil observasi awal menunjukkan adanya empat anak kelompok B yang mengalami kesulitan belajar dengan karakteristik seperti kurang fokus saat mengikuti kegiatan, pasif dalam berpartisipasi, terlalu bergantung pada guru atau teman, serta menampilkan perilaku disruptif seperti berbicara sendiri atau bergerak tanpa tujuan. Mereka juga tampak kurang tertib, sering menolak belajar, tidak percaya diri, dan mudah merasa bosan. Kesulitan ini tercermin dalam kemampuan memahami materi, di mana anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mengolah informasi, sulit memahami instruksi lisan maupun tulisan, serta mengalami hambatan dalam mengingat dan menceritakan kembali apa yang telah dipelajari. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya kelemahan dalam kemampuan berbahasa, seperti keterbatasan kosakata, kesulitan menyusun kalimat dengan jelas, dan hambatan dalam menghubungkan gagasan. Perkembangan bahasa yang belum sesuai dengan harapan untuk usia mereka berdampak pada komunikasi serta kemampuan mengekspresikan pikiran secara baik dan terarah. Intervensi guru selama ini masih menggunakan metode pembelajaran konvensional, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan lembar kerja, menyanyi, bermain, menghafal, dan latihan berulang, namun pendekatan ini belum sepenuhnya efektif karena anak tetap tampak kurang responsif, mudah kehilangan fokus, serta sulit mengikuti alur pembelajaran. Ketergantungan mereka yang kuat pada guru dan teman sebaya menyebabkan mereka menjadi kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas. Hasil belajar yang kurang ideal juga muncul akibat ketidakmampuan guru untuk memodifikasi strategi pengajaran mereka agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa, terutama dalam hal pemahaman konseptual, retensi informasi, dan penerapan keterampilan yang dipelajari. Untuk memotivasi, melibatkan, dan meningkatkan hasil belajar, skenario ini menekankan perlunya teknik pengajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan sesuai perkembangan.

Teori contextual learning oleh Johnson (2002) menekankan bahwa pembelajaran akan lebih baik dan terarah ketika anak mampu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata (Maliasih et al., 2017). Penerapan contextual learning pada Anak Usia Dini sangat relevan, terutama bagi anak dengan dugaan kesulitan belajar, karena pendekatan ini memungkinkan pemahaman melalui pengalaman langsung dan aktivitas kontekstual, misalnya melalui komunikasi dalam permainan peran, kegiatan bercerita, atau aktivitas interaktif lainnya. Konsep ini mendukung pengembangan kemampuan berbahasa, seperti storytelling, yang membantu anak mengenal kosakata, memahami struktur kalimat, serta mengekspresikan ide secara lisan dengan mengaitkan cerita pada pengalaman sehari-hari. Wright (2008) menegaskan bahwa storytelling merupakan metode pembelajaran yang melibatkan penyampaian cerita untuk menstimulasi imajinasi, kreativitas, dan pemahaman bahasa anak . Ketika dipadukan dengan pendekatan contextual learning sebagaimana dijelaskan Johnson (2002), metode ini menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna, karena cerita yang disampaikan dapat disesuaikan dengan pengalaman maupun lingkungan anak, sehingga memudahkan mereka memahami pesan yang terkandung dalam cerita. Dengan demikian, storytelling tidak hanya merangsang imajinasi dan kreativitas anak, tetapi juga mendorong mereka menghubungkan cerita dengan situasi nyata yang mereka alami, sesuai dengan prinsip contextual learning yang menekankan keterhubungan antara pembelajaran di kelas dan dunia nyata .

Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi metode storytelling berbasis contextual learning dengan pemanfaatan media konkret berupa boneka tangan dan dukungan audiovisual. Inovasi ini memberikan pengalaman multisensori yang lebih kaya dibandingkan penelitian sebelumnya yang umumnya hanya menggunakan cerita lisan atau media visual sederhana. Dengan kombinasi ini, anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat, memegang, dan berinteraksi secara langsung dengan media, sehingga stimulasi bahasa lebih optimal, terutama bagi anak dengan risiko kesulitan belajar.

Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B dengan risiko kesulitan belajar di TKN 1 S melalui penerapan metode storytelling berbasis contextual learning. Melalui pendekatan ini, diharapkan anak mampu mengembangkan kosakata, menyusun kalimat dengan lebih baik, serta mengekspresikan ide secara lisan secara terarah dengan mengaitkan pembelajaran pada pengalaman sehari-hari. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi praktis bagi guru dalam mendukung perkembangan bahasa anak dengan kebutuhan khusus, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif, interaktif, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B melalui penerapan metode storytelling berbasis contextual learning. Model penelitian yang digunakan adalah model [9] yang melibatkan empat tahapan, yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan tindakan (act), observasi (observe), dan refleksi (reflect), yang dilaksanakan secara siklus hingga hasil yang diharapkan tercapai [8]. John Elliott (1991) mendefinisikan PTK sebagai proses guru merefleksikan praktik pengajaran secara sistematis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, melalui identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan. Selaras dengan itu, Salim dkk. [10] menegaskan bahwa tujuan PTK adalah mengatasi persoalan guru di lapangan guna memperbaiki serta meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian ini secara khusus menggunakan model Kemmis dan McTaggart [11] dengan empat tahap utama (planning, action, observation, reflection) yang bersifat siklis, partisipatif, serta reflektif. Alasan pemilihan model ini adalah karena memiliki struktur siklus yang jelas, memungkinkan revisi strategi bila hasil belum optimal, bersifat kolaboratif antara peneliti dan guru, serta berfokus pada perbaikan berkelanjutan melalui refleksi proses dan hasil. Dengan model ini, penelitian diharapkan lebih sistematis dalam mengembangkan serta mengevaluasi efektivitas storytelling berbasis contextual learning dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

Desain tindakan dalam penelitian ini mencakup penerapan metode storytelling berbasis contextual learning yang mengacu pada teori perkembangan anak usia dini (Vygotsky, Piaget, Wright) serta kebijakan Kurikulum Merdeka PAUD (Permendikbudristek No. 56/M/2022) yang menekankan pembelajaran kontekstual, menyenangkan, dan berbasis kehidupan nyata. Implementasi media konkret berupa boneka tangan digunakan sebagai alat bantu visual dan verbal untuk merangsang kemampuan reseptif dan ekspresif anak dalam kegiatan bercerita. Desain tindakan disusun dalam dua siklus dengan penyesuaian strategi berdasarkan hasil refleksi tiap tahap, di mana cerita yang digunakan selalu dikaitkan dengan pengalaman keseharian anak, seperti ke pasar, bermain di taman, atau membantu orang tua di rumah. Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan (April–Juni 2025) di TK N1S di Kabupaten Sangkulirang, Kutai Timur, yang terdiri dari dua sesi mingguan, masing-masing berlangsung 15–30 menit. Subjek penelitian adalah empat anak dari Kelompok B, berusia 5 hingga 6 tahun, yang diidentifikasi berisiko mengalami kesulitan belajar terkait bahasa dari total 18 siswa. Anak-anak ini menunjukkan kesulitan dalam perolehan visual, formulasi kalimat, dan keterlibatan kelompok. Tes kemampuan bahasa yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada indikator perkembangan bahasa anak usia dini. Indikator-indikator ini adalah: (1) bahasa reseptif, yaitu kemampuan untuk memahami isi cerita, menjawab pertanyaan sederhana, dan mengikuti instruksi lisan; dan (2) bahasa ekspresif, yaitu kemampuan untuk meningkatkan pemahaman, membuat kalimat sederhana, dan menceritakan sebuah cerita dengan cara yang masuk akal. Evaluasi menggunakan lembar observasi yang menampilkan skala penilaian dari 1 hingga 4 untuk setiap indikator, kemudian dirata-ratakan untuk memastikan skor akhir untuk setiap anak. Alat ini memungkinkan pengukuran data yang dikumpulkan secara sistematis dan akurat sesuai dengan tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif (memahami cerita dan instruksi) dan bahasa ekspresif (menceritakan cerita secara akurat). Metrik keberhasilannya adalah tingkat peningkatan 80% di antara subjek dan peningkatan skor minimal 20% dari evaluasi pra-tes ke pasca-tes.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

1. Pelaksanaan Pra Tindakan

Sebelum tindakan dilaksanakan, peneliti melakukan pra-tindakan berupa observasi awal terhadap kondisi pembelajaran dan kemampuan dasar anak dalam memahami cerita, menceritakan kembali, serta menggunakan kosakata. Berdasarkan hasil observasi tersebut disusun instrumen pre-test berbentuk kegiatan bermain dan bercerita untuk mengukur tiga indikator utama kemampuan berbahasa, yaitu pemahaman isi cerita, kemampuan menceritakan kembali dengan bantuan media gambar, dan penggunaan kosakata dari cerita. Tes ini diberikan kepada empat anak sebagai subjek penelitian, dan hasilnya menjadi dasar perancangan tindakan selanjutnya.

No Inisial Anak Skor Akhir Ketuntasan
1 A1 60 Tidak Tuntas
2 A2 55 Tidak Tuntas
3 A3 75 Tuntas
4 A4 50 Tidak Tuntas
Table 1. Hasil Pre-test Kemampuan Berbahasa Anak

Sumber: Peneliti (2025)

Dari tabel di atas terlihat bahwa hanya satu anak (A3) yang berhasil mencapai skor di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70 sehingga dikategorikan tuntas, sedangkan tiga anak lainnya (A1, A2, dan A4) memperoleh skor di bawah KKM dan tergolong tidak tuntas. Berdasarkan hasil ini, mayoritas anak masih mengalami kesulitan bahasa dalam memahami alur cerita, menceritakannya kembali, dan menggunakan apa yang telah mereka pelajari. Hal ini menekankan pentingnya kegiatan yang dirancang dengan cermat dan menggunakan strategi pengajaran yang lebih terarah dan disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Oleh karena itu, hasil pra-tes menjadi alat yang berguna untuk menyusun kegiatan siklus berikutnya. Hasil tersebut juga dapat dilihat pada diagram berikut ini:

Figure 1. Hasil Pre-Test Kemampuan Berbahasa anak

Interpretasi dari grafik pra-tindakan menunjukkan bahwa indikator memahami isi cerita memperoleh skor tertinggi (48), menandakan bahwa anak relatif lebih mudah menangkap makna umum dari cerita yang didengarkan. Namun, kemampuan menyampaikan kembali isi cerita masih rendah (45), menandakan anak kesulitan menstruktur ulang informasi yang sudah dipahami. Kondisi yang paling jelas dan memiliki skor terendah (42) adalah indikator penggunaan istilah baru. Hal ini menunjukkan bagaimana keterbatasan ekspresi verbal anak-anak disebabkan oleh keterbatasan pemahaman mereka. Dengan skor total rata-rata 45, kemampuan berbahasa anak-anak sebagian besar berada di kisaran rendah. Anak-anak yang menunjukkan penguasaan konsep baru yang buruk belum sepenuhnya mampu menggunakan pengalaman kontekstual mereka untuk menguasai cerita, sehingga temuan ini menjadi signifikan. Dengan demikian, metode storytelling berbasis contextual learning yang dipadukan dengan media konkret diharapkan mampu memperkaya kosakata anak, sekaligus memperkuat keterhubungan antara pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

2 . Data Tindakan Siklus I

Berdasarkan hasil pra-tindakan yang menunjukkan sebagian besar anak belum mencapai KKM, peneliti bersama guru menyusun perencanaan pembelajaran dengan fokus pada tiga indikator kemampuan berbahasa, yaitu pemahaman isi cerita, kemampuan menceritakan kembali, dan penggunaan kosakata. Tindakan pada Siklus I dilaksanakan dalam dua pertemuan dengan tema “Kegiatan di Pasar” dan “Kegiatan di Rumah”, menggunakan media buku cerita bergambar, boneka tangan, kartu urutan cerita, serta papan flanel. Media ini dipilih untuk membantu anak-anak memahami alur cerita dan mempermudah penceritaan ulang. Anak-anak lebih memperhatikan cerita, menjawab pertanyaan dengan percaya diri, dan berusaha menjelaskan apa yang telah mereka pelajari selama implementasi.

Hasil observasi menunjukkan peningkatan dalam semua metrik keterampilan berbahasa dibandingkan dengan sebelum intervensi. Anak-anak mulai membangun alur cerita dengan bantuan ilustrasi dasar, memahami cerita lebih mendalam, dan menggunakan sebagian dari apa yang telah mereka pelajari dalam dialog. Rata-rata skor kemampuan berbahasa meningkat dari 45,0 pada pra-tindakan menjadi 58,3 pada Siklus I. Selain itu, 1 dari 4 anak (25%) berhasil mencapai skor ≥70 sesuai KKM, yang menandakan adanya perkembangan kemampuan berbahasa meskipun sebagian besar anak masih memerlukan bimbingan lebih lanjut.

Indikator Kemampuan Berbahasa Rata-rata Pre-Test Rata-rata Siklus I
1. Memahami isi cerita 48 70
2. Menyampaikan kembali isi cerita 45 58
3. Menggunakan kosa kata baru 42 55
Rata-rata Total Skor 45,0 58,3
Jumlah Anak yang Tuntas (≥70) 0 anak 1 anak (25%)
Table 2. Perbandingan rata-rata hasil tes Kemampuan Berbahasa anak pretest dan Siklus I

Sumber: Diolah Peneliti (2025)

Hasil analisis data di atas, menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbahasa anak dari tahap pre-test ke Siklus I setelah penerapan metode storytelling berbasis contextual learning. Tiga indikator utama yang dinilai mencakup: kemampuan memahami isi cerita, kemampuan menyampaikan kembali isi cerita, serta penggunaan kosakata baru. Skor rata-rata pra-tes pada indikator pemahaman cerita adalah 48, menunjukkan bahwa sebagian besar anak belum sepenuhnya memahami cerita. Skor rata-rata 45 pada indikator menceritakan kembali cerita menunjukkan bahwa anak-anak kesulitan mengulang cerita yang telah mereka dengar. Indikator pemahaman yang baru hanya mencapai skor rata-rata 42, menunjukkan pemahaman yang buruk.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik bercerita berbasis pembelajaran kontekstual mulai memberikan dampak positif bagi perkembangan bahasa anak, terutama dalam hal penggunaan bahasa kontekstual dan pemahaman cerita. Meskipun belum seluruh anak mencapai ketuntasan, hasil ini menjadi landasan untuk menyusun strategi penguatan pada Siklus II.

Adapun hasil tersebut, dapat dilihat pada diagram perbandingan yang di tampilkan berikut ini:

Figure 2. Diagram Kemampuan Berbahasa Anak Pre-test dan Siklus I

Refleksi hasil Siklus I menunjukkan bahwa anak mulai menunjukkan minat terhadap kegiatan storytelling, terutama ketika didukung media visual dan alat bantu konkret. Namun, keterlibatan verbal anak masih terbatas pada pengulangan kosakata, belum berkembang pada kalimat yang runtut dan mandiri. Aktivitas menyusun cerita dengan gambar membantu memahami alur, tetapi belum cukup mendorong kemampuan menyampaikan kembali isi cerita secara utuh. Oleh karena itu, bahasa ekspresif anak-anak harus diperkuat melalui bimbingan verbal, bermain peran, aktivitas berdasarkan pengalaman nyata, dan penguatan berupa pertanyaan-pertanyaan probing dari guru. Pemeriksaan hasil Siklus I menunjukkan bahwa anak-anak mulai menunjukkan minat dalam bercerita, terutama ketika diberikan dukungan konkret dan alat bantu visual. Namun, karena mereka belum membentuk kalimat yang utuh dan mandiri, interaksi verbal anak-anak masih terbatas pada peningkatan pemahaman. Membuat cerita dengan gambar memang meningkatkan pemahaman mereka terhadap alur cerita, tetapi tidak membantu mereka menceritakan kembali keseluruhan cerita. Oleh karena itu, bimbingan verbal, bermain peran, aktivitas berdasarkan pengalaman hidup, dan penguatan berupa pertanyaan-pertanyaan probing dari guru merupakan cara-cara untuk memperkuat bahasa ekspresif anak-anak.

Dalam interpretasi grafis, indikator pemahaman cerita meningkat drastis dari 48 menjadi 70 (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak mulai memahami cerita secara lebih mendalam dengan bantuan boneka tangan dan visualisasi kontekstual. Meskipun masih belum optimal, indikator menceritakan kembali isi cerita juga meningkat dari 45 menjadi 58, menunjukkan bahwa anak-anak mulai merasa nyaman menceritakan kembali alur cerita dengan bahasa yang kurang jelas. Indikator penerapan pengetahuan baru juga meningkat, dari 42 menjadi 55. Temuan ini penting karena menunjukkan bagaimana teknik bercerita berbasis pembelajaran kontekstual secara efektif memperluas kosakata anak-anak dengan menghubungkan konsep-konsep yang baru dipelajari dengan situasi dunia nyata. Dengan demikian, meskipun belum semua anak mencapai standar ketuntasan, Siklus I menunjukkan adanya perubahan positif berupa peningkatan keterlibatan aktif, pemahaman isi cerita yang lebih baik, serta penguasaan kosakata yang lebih variatif. Hasil ini sekaligus menegaskan bahwa penggunaan media konkret dan kontekstual mulai memberikan dampak nyata terhadap pengembangan bahasa anak dengan risiko kesulitan belajar.

3 . Data Tindakan Siklus II

Perencanaan pada Siklus II disusun berdasarkan refleksi hasil Siklus I yang menunjukkan masih adanya kelemahan anak dalam keterlibatan verbal, penggunaan kosakata, dan penyampaian kembali isi cerita. Oleh karena itu, peneliti dan guru menyusun strategi perbaikan berupa pemilihan cerita yang lebih interaktif, peningkatan kualitas media pembelajaran dengan menambahkan video dan audio storytelling, penguatan teknik bercerita yang lebih ekspresif, serta penambahan aktivitas bermain bahasa seperti permainan peran dan mencocokkan gambar dengan kata. Siklus II dilaksanakan dalam dua pertemuan, masing-masing berdurasi ±30 menit, dengan tema “Bermain di Taman” dan “Hari Hujan”. Media yang digunakan antara lain video animasi pendek, audio cerita, boneka karakter, kartu kosakata, dan alat peraga konkret yang relevan dengan tema.

Perencanaan pada Siklus II disusun berdasarkan refleksi hasil Siklus I yang menunjukkan masih adanya kelemahan anak dalam keterlibatan verbal, penggunaan kosakata, dan penyampaian kembali isi cerita. Oleh karena itu, peneliti dan guru menyusun strategi perbaikan berupa pemilihan cerita yang lebih interaktif, peningkatan kualitas media pembelajaran dengan menambahkan video dan audio storytelling, penguatan teknik bercerita yang lebih ekspresif, serta penambahan aktivitas bermain bahasa seperti permainan peran dan mencocokkan gambar dengan kata. Siklus II dilaksanakan dalam dua pertemuan, masing-masing berdurasi ±30 menit, dengan tema “Bermain di Taman” dan “Hari Hujan”. Media yang digunakan antara lain video animasi pendek, audio cerita, boneka karakter, kartu kosakata, dan alat peraga konkret yang relevan dengan tema.

Indikator Kemampuan Berbahasa Rata-rata Pre-Test Rata-rata Siklus I Rata-rata Siklus II
1. Memahami isi cerita 48 70 76
2. Menyampaikan kembali isi cerita 45 58 72
3. Menggunakan kosa kata baru 42 55 70
Rata-rata Total Skor 45,0 58,3 72,7
Jumlah Anak yang Tuntas (≥70) 0 anak 1 anak (25%) 3 anak (75%)
Table 3. Perbandingan rata-rata hasil tes Kemampuan Berbahasa anak pretest, Siklus I dan Siklus II

Sumber: Diolah Peneliti (2025)

Tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbahasa anak dari tahap pre-test ke Siklus I hingga Siklus II. Pada indikator memahami isi cerita, skor rata-rata meningkat dari 48 pada pre-test, menjadi 70 pada Siklus I, dan mencapai 76 pada Siklus II. Jumlah anak yang mampu menceritakan kembali cerita juga meningkat, dari 45 pada tes awal menjadi 58 pada Siklus I, kemudian menjadi 72 pada Siklus II. Pada saat yang sama, jumlah anak yang menyatakan menggunakan wawasan baru meningkat dari 42 pada tes awal menjadi 55 pada Siklus I, kemudian menjadi 70 pada Siklus II. Rata-rata skor total kemampuan berbahasa anak meningkat dari 45,0 pada tes awal menjadi 58,3 pada Siklus I, kemudian menjadi 72,7 pada Siklus II. Jumlah anak yang lulus KKM (≥70) juga meningkat: dari tidak ada yang lulus pada tes awal, menjadi 1 anak (25%) pada Siklus I, dan kemudian menjadi 3 anak (75%) pada Siklus II. Hasil ini menegaskan bahwa penerapan metode storytelling berbasis contextual learning mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak secara bertahap dan signifikan.

Hasil tersebut juga dapat dilihat melalui diagram berikut ini:

Figure 3. Diagram Kemampuan Berbahasa Anak Pre-test, Siklus I dan Siklus II

Refleksi hasil pelaksanaan Siklus II menunjukkan adanya peningkatan yang lebih signifikan dibandingkan dengan Siklus I, baik dari keterlibatan anak maupun capaian kemampuan berbahasa. Tiga dari empat anak berhasil mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70, menandakan keberhasilan intervensi dalam mengembangkan keterampilan berbahasa. Anak-anak tidak hanya lebih memahami cerita, tetapi mereka juga dapat menceritakannya secara berurutan dan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk menyusun kalimat-kalimat yang sederhana dan bermakna. Anak-anak tampak lebih percaya diri, langsung menjawab pertanyaan, dan mulai mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dengan lantang. Penggunaan video, gambar, dan permainan membantu anak-anak lebih memahami dan lebih tertarik untuk bercerita.

Sehingga, Refleksi hasil pelaksanaan Siklus II menunjukkan adanya peningkatan yang lebih signifikan dibandingkan dengan Siklus I, baik dari keterlibatan anak maupun capaian kemampuan berbahasa. Tiga dari empat anak berhasil mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70, menandakan keberhasilan intervensi dalam mengembangkan keterampilan berbahasa. Perkembangan terlihat tidak hanya pada aspek pemahaman isi cerita, tetapi juga dalam kemampuan anak menyampaikan kembali cerita secara kronologis serta menggunakan kosakata baru dalam kalimat sederhana yang bermakna. Anak-anak mulai menyuarakan pikiran mereka, aktif menjawab pertanyaan, dan tampak lebih percaya diri. Minat anak-anak dalam bercerita terusik dan pemahaman diperkuat melalui penggunaan alat bantu visual, aktivitas bermain, dan konten video.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bahasa anak-anak meningkat dari awal intervensi hingga akhir. Mayoritas anak-anak tidak dapat memahami cerita secara keseluruhan, menurut pengamatan yang dilakukan selama fase pra-tes melalui kegiatan bermain sambil bercerita. Tiga dari empat anak kesulitan menceritakan kembali cerita dan kesulitan menggunakan kata-kata baru. Dengan skor rata-rata total 45,0, hanya satu anak yang menyelesaikan intervensi (25% anak berhasil). Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bahasa anak-anak meningkat dari awal intervensi hingga akhir. Mayoritas anak-anak tidak dapat memahami cerita secara keseluruhan, menurut pengamatan yang dilakukan selama fase pra-tes melalui kegiatan bermain sambil bercerita. Tiga dari empat anak kesulitan menceritakan kembali cerita dan kesulitan menggunakan kata-kata baru. Dengan skor rata-rata total 45,0, hanya satu anak yang menyelesaikan intervensi (25% anak berhasil). Setelah menambahkan materi bercerita audio dan video, Siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan. Anak-anak tampak lebih bersemangat dan percaya diri, serta mulai mampu menggunakan kata-kata baru dalam konteks, menyusun cerita secara kronologis, dan aktif menjawab pertanyaan guru. Aktivitas bermain peran dan pencocokan gambar dengan kata juga memperkuat pemahaman naratif serta keterampilan ekspresif anak. Pada tahap ini, skor rata-rata mencapai 72,7, dengan 3 dari 4 anak (75%) mencapai ketuntasan sesuai KKM. Hasil ini menunjukkan bahwa metode storytelling berbasis contextual learning efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak secara reseptif maupun ekspresif.

Interpretasi grafik (Gambar 3) memperlihatkan bahwa indikator memahami isi cerita terus mengalami peningkatan konsisten, mencapai skor 76 pada Siklus II. Hal ini menegaskan bahwa anak semakin terbiasa menangkap alur cerita secara utuh. Indikator menyampaikan kembali isi cerita menunjukkan lonjakan signifikan dari 58 pada Siklus I menjadi 72 pada Siklus II, membuktikan bahwa anak sudah mampu menuturkan cerita dengan runtut, bahkan mulai menambahkan detail sederhana dari pemahamannya sendiri. Indikator menggunakan kosakata baru meningkat tajam dari 55 menjadi 70, yang menunjukkan keterhubungan kuat antara pembelajaran kontekstual dan pengalaman nyata anak. Kosakata baru yang diperoleh tidak hanya diingat, tetapi juga dipraktikkan dalam kalimat sederhana ketika bermain peran. Rata-rata total skor meningkat hingga 72,7 dan jumlah anak yang tuntas naik menjadi 3 anak (75%). Hasil ini menegaskan bahwa penerapan metode storytelling berbasis contextual learning dengan dukungan media konkret dan audiovisual tidak hanya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, tetapi juga efektif meningkatkan kemampuan berbahasa anak dengan risiko kesulitan belajar secara bertahap dan signifikan. Dengan demikian, Siklus II membuktikan efektivitas strategi pembelajaran ini, terutama dalam memperkaya kosakata anak dan melatih keberanian mereka mengekspresikan kembali cerita secara mandiri, yang menjadi kunci pengembangan bahasa reseptif dan ekspresif dalam konteks pendidikan inklusif.

Pembahasan

Penerapan metode storytelling berbasis contextual learning pada anak usia dini secara teoritis menunjukkan potensi besar dalam menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan konkret. Storytelling menyediakan konteks naratif yang mudah dipahami sekaligus melibatkan anak secara emosional, sedangkan contextual learning menekankan keterhubungan materi dengan kehidupan nyata anak. Kombinasi keduanya menciptakan situasi belajar yang lebih inklusif dan partisipatif, khususnya bagi anak dengan risiko kesulitan belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Johnson [14], bahwa pembelajaran menjadi lebih efektif ketika anak mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sehari-hari. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa metode storytelling berbasis contextual learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di Taman Kanak-Kanak. Storytelling memberi stimulus verbal yang kaya melalui narasi sesuai dunia anak, sementara contextual learning menekankan pentingnya menghubungkan cerita dengan konteks kehidupan nyata. Fitriyani dan Yulsyofriend [15] menegaskan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis cerita dapat memperkuat pemahaman instruksi, memperluas kosakata, serta meningkatkan keberanian anak untuk mengekspresikan diri. Mustofa dan Lestari [16] juga menemukan bahwa keterlibatan emosional dalam kegiatan bercerita mendorong perkembangan bahasa anak secara alami, karena mereka merasa nyaman dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Konteks visual dan konkret yang diterapkan dalam storytelling juga memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Penggunaan boneka tangan, gambar berseri, hingga media audio-visual membantu menarik perhatian anak dan mempertahankan fokus mereka. Menurut Sugihartono et al. [17], pembelajaran diferensiasi yang menyesuaikan strategi dengan kebutuhan anak memperkuat efektivitas pengajaran, terutama bagi anak dengan hambatan belajar. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa storytelling, baik tradisional maupun digital, mampu meningkatkan kelancaran berbicara, pemilihan kata, serta perolehan kosakata baru anak usia dini [18], [19]. Dengan demikian, metode ini relevan untuk diterapkan dalam berbagai konteks pembelajaran PAUD. Lebih jauh, keberhasilan metode ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi afektif anak. Storytelling menciptakan suasana aman dan menyenangkan sehingga anak lebih percaya diri mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka tanpa tekanan. Temuan ini sejalan dengan penelitian [20] yang menyebutkan bahwa keterlibatan emosional selama proses bercerita membantu perkembangan bahasa secara lebih natural. Selain itu, kegiatan bercerita interaktif juga memperkuat keterampilan sosial seperti mendengarkan, mengambil giliran berbicara, dan merespons secara tepat [21].

Hasil penelitian ini juga konsisten dengan studi yang menunjukkan bahwa contextual learning dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis naratif anak. Penelitian di Bulukumba menemukan bahwa pendekatan ini signifikan meningkatkan kemampuan berbicara anak usia 5–6 tahun [22], sementara studi lain di tingkat sekolah dasar melaporkan adanya peningkatan keterampilan menulis naratif melalui penggunaan media flipbook berbasis kontekstual [23]. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis konteks memberi ruang bagi anak untuk memahami bahasa dalam situasi yang nyata, aman, dan bermakna. Selain meningkatkan keterampilan reseptif, storytelling berbasis contextual learning juga berpengaruh positif terhadap kemampuan ekspresif anak. Mereka tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga berlatih menyusun kalimat, memperkaya kosakata, dan menyampaikan kembali cerita dengan runtut. Anak-anak yang diceritakan cerita cenderung berbicara lebih lancar dan dengan struktur bahasa yang lebih baik, menurut penelitian [24]. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh [25], yang menemukan bahwa kegiatan mendongeng tradisional dan digital meningkatkan keterampilan ekspresi verbal anak-anak, penguasaan kosakata, dan pemahaman narasi.

Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menawarkan pengalaman multisensori yang lebih komprehensif dengan menggabungkan mendongeng berbasis pembelajaran kontekstual dengan media nyata (tulang tangan) dan bantuan audiovisual. Metode ini bermanfaat untuk menjadikan kebijakan pendidikan anak usia dini lebih inklusif, dan juga membantu anak-anak meningkatkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif mereka. Hasil penelitian ini dapat membantu guru dan pembuat undang-undang menciptakan lingkungan belajar yang terbuka bagi semua orang dan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak yang mungkin mengalami kesulitan belajar. Penelitian ini mendukung kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia dan memiliki signifikansi di tingkat kelas.

Dari aspek reseptif, anak menunjukkan peningkatan kemampuan dalam memahami kosakata baru, mengikuti instruksi verbal dengan tepat, serta memberikan respons sosial sesuai konteks pembelajaran. Penelitian [26] menunjukkan bahwa pendekatan bercerita kontekstual mampu meningkatkan pemahaman instruksi verbal hingga 40% dibandingkan metode konvensional. Demikian pula, studi [27] menegaskan bahwa narasi berbasis visualisasi dan pengulangan kosakata mempercepat pemahaman struktur bahasa sehingga anak lebih cepat merespons instruksi. Penelitian lain [28] memperkuat temuan ini dengan bukti bahwa contextual learning berbasis aktivitas nyata mampu meningkatkan kemampuan reseptif anak dalam memahami pesan verbal yang kompleks, termasuk instruksi berurutan. Pada aspek ekspresif, anak semakin mampu menyusun kalimat dan menceritakan kembali isi cerita dengan lebih runtut. Menurut penelitian [29], storytelling mendorong anak berbicara lebih terstruktur dan percaya diri karena mereka terlibat secara emosional maupun kognitif. Hal ini diperkuat oleh [30], yang menegaskan bahwa storytelling meningkatkan speaking skills dan memperkaya kosakata anak. Lebih jauh, kegiatan bercerita interaktif juga melatih keterampilan sosial-emosional, karena anak berlatih mengambil giliran bicara, mendengarkan orang lain, serta mengekspresikan perasaan secara tepat [31].

Pada aspek ekspresif, anak semakin mampu menyusun kalimat dan menceritakan kembali isi cerita dengan lebih runtut. Menurut penelitian [29], storytelling mendorong anak berbicara lebih terstruktur dan percaya diri karena mereka terlibat secara emosional maupun kognitif. Hal ini diperkuat oleh [30], yang menegaskan bahwa storytelling meningkatkan speaking skills dan memperkaya kosakata anak. Lebih jauh, kegiatan bercerita interaktif juga melatih keterampilan sosial-emosional, karena anak berlatih mengambil giliran bicara, mendengarkan orang lain, serta mengekspresikan perasaan secara tepat [31]. Secara praktis, temuan penelitian ini memiliki implikasi bagi guru, lembaga, hingga pembuat kebijakan. Guru dapat memanfaatkan metode ini sebagai strategi pembelajaran rutin untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak, terutama yang berisiko mengalami kesulitan belajar. Dinas pendidikan dapat mengintegrasikannya dalam pelatihan guru PAUD berbasis inovasi pembelajaran, sementara kebijakan kurikulum juga dapat diarahkan untuk menekankan pembelajaran berbasis konteks dan naratif. Studi [33] menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum berbasis praktik nyata dan storytelling mendorong terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis anak sejak dini.Lebih jauh, kombinasi storytelling dan contextual learning terbukti memberikan manfaat multisensori, di mana anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat, menyentuh, dan memerankan bagian dari cerita. Hal ini sejalan dengan penelitian [34] yang menyatakan bahwa pembelajaran naratif kontekstual mendukung anak dengan hambatan bahasa maupun gangguan perhatian. Selain itu, penelitian [35] menegaskan bahwa storytelling dalam konteks autentik meningkatkan kemampuan reseptif dan ekspresif anak sekaligus memperkuat partisipasi belajar. Bahkan, studi [36] menunjukkan bahwa integrasi pendekatan kontekstual dan naratif berdampak signifikan pada hasil belajar bahasa anak usia dini, sehingga relevan diterapkan secara sistemik di satuan PAUD.

IV. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui dua siklus dan didahului oleh pre-test, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode storytelling berbasis contextual learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B yang berisiko kesulitan belajar. Para guru menggunakan media konkret, seperti boneka tangan dan gambar, untuk menciptakan pengalaman belajar interaktif dengan membuat cerita berdasarkan pengalaman anak-anak di rumah, pasar, dan taman mereka. Anak-anak mampu lebih aktif dalam berbicara, mengorganisir, menerapkan pengetahuan baru, dan menunjukkan keberanian saat menjawab pertanyaan pada Siklus II berkat penguatan strategi melalui permainan peran dan pengulangan cerita. Dengan kemajuan yang signifikan baik dalam hal reseptif (memahami isi cerita) maupun ekspresif (menceritakan kembali cerita secara koheren dan bermakna), skor rata-rata kemahiran berbahasa meningkat dari 47,5 pada pra-tes menjadi 58,3 pada Siklus I dan 72,7 pada Siklus II. Perkembangan belajar anak usia dini sangat dipengaruhi oleh temuan ini. Meskipun lembaga pendidikan anak usia dini harus mendukung anak-anak dengan media pembelajaran, pelatihan guru, dan kebijakan yang responsif secara internal, guru taman kanak-kanak menyarankan penerapan taktik kreatif seperti mendongeng kontekstual untuk mendorong bahasa alami anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menyediakan lingkungan komunikasi yang kaya dan emosional bagi anak-anak, orang tua dihimbau untuk melanjutkan stimulasi bahasa di rumah melalui kegiatan mendongeng. Hasil ini memberi para peneliti kesempatan untuk melihat bagaimana mendongeng memengaruhi domain lain, seperti literasi dini dan perkembangan sosioemosional, dan bagaimana hal itu dapat digunakan untuk berbagai macam subjek dan situasi. Dukungan pemerintah dan otoritas pendidikan juga penting, terutama dalam bentuk program pelatihan guru anak usia dini yang menekankan pembelajaran kontekstual dan mendongeng, serta penyediaan materi untuk membantu anak-anak dengan disabilitas belajar menemukan pembelajaran yang lebih menarik, inklusif, dan bermakna. Keterbatasan penelitian ini termasuk ukuran sampelnya yang kecil (empat anak) dan lokasi penelitian (satu taman kanak-kanak), yang membatasi seberapa luas temuan dapat diterapkan. Selain itu, daripada menyelidiki secara menyeluruh aspek perkembangan lain seperti sosioemosional atau literasi dini, penelitian ini berfokus pada kemahiran berbahasa. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih beragam yang mencakup berbagai aspek perkembangan anak disarankan untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang kemanjuran pendekatan ini. Anak-anak yang dikisahkan dongeng cenderung berbicara lebih lancar dan dengan struktur bahasa yang lebih baik, menurut penelitian [24]. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh [25], yang menemukan bahwa kegiatan mendongeng tradisional dan digital meningkatkan keterampilan ekspresi verbal, penguasaan kosakata, dan pemahaman narasi anak-anak.

Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menawarkan pengalaman multisensori yang lebih komprehensif dengan menggabungkan mendongeng berbasis pembelajaran kontekstual dengan media konkret (tulang tangan) dan bantuan audiovisual. Pendekatan ini menawarkan aplikasi yang bermanfaat untuk memperkuat kebijakan pendidikan anak usia dini yang inklusif selain membantu anak-anak mengembangkan keterampilan bahasa reseptif dan ekspresif mereka. Guru dan legislator dapat menggunakan temuan penelitian ini untuk membantu menciptakan model pembelajaran yang inklusif, interaktif, dan peka terhadap kebutuhan anak-anak yang mungkin memiliki tantangan belajar. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya mendukung arah kebijakan pendidikan inklusif Indonesia, tetapi juga relevan di tingkat kelas.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada guru, anak-anak, serta pihak sekolah TK N1S yang telah memberikan dukungan dan kesempatan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan penelitian ini.

References

A. I. Muammar and U. A. H. Al Gharbi, “Pendidikan Anak Usia Dini,” Sekolah Indonesia Riyadh. Accessed: Jul. 24, 2024. [Online]. Available: https://siln-riyadh.kemdikbud.go.id/paud/

F. Rozie, D. Safitri, and W. Haryani, “Peran Guru Dalam Penanganan Perilaku Anak Hiperaktif di TK Negeri 1 Samarinda,” Journal of Early Childhood Education (JECE), vol. 1, no. 2, pp. 53–59, Dec. 2019, doi: 10.15408/jece.v1i2.12874.

J. Santrock, Psikologi Pendidikan, 2nd ed. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2017.

L. S. Vygotsky, Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge: Harvard University Press, 1978.

A. F. Skinner, The Behavior of Organisms: An Experimental Analysis, vol. 49, no. 1, 1938.

S. Shaywitz, “Functional disruption in the organization of the brain for reading in dyslexia,” Proceedings of the National Academy of Science, pp. 1–9, 1998.

S. Huda, M. U. Ridwanulloh, and others, “Improving Language Skills and Instilling Character Values in Children Through Storytelling,” Tadzkiyyah: Jurnal …, vol. 13, no. 2, pp. 161–184, 2022.

Maliasih, Hartono, and P. Nurani, “Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Kognitif Melalui Metode Teams Games Tournaments dengan Strategi Peta Konsep Pada Siswa SMA,” Jurnal Profesi Keguruan, vol. 3, no. 2, pp. 222–226, 2017.

M. H. Yee, T. K. Tee, M. M. Mohamad, M. Y. Jailani, and O. Widad, “The difference between polytechnic students’ learning styles and their higher order thinking skills level,” Pertanika Journal of Social Sciences and Humanities, vol. 25, pp. 233–246, Apr. 2017.

A. Wright, Storytelling with Children. Cambridge: Oxford University Press, 2008.

F. Alkaaf and A. Al-Bulushi, “Tell and Write, the Effect of Storytelling Strategy for Developing Story Writing Skills among Grade Seven Learners,” Open Journal of Modern Linguistics, vol. 7, no. 2, pp. 119–141, 2017, doi: 10.4236/ojml.2017.72010.

C. Bradshaw, “Review: Tell it Again! The New Storytelling Handbook for Primary Teachers,” English Language Teaching Journal, vol. 58, no. 1, 2004, doi: 10.1093/elt/58.1.94.

Lestari, “Story Telling sebagai Sarana Perkembangan Bahasa pada Anak,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 5, pp. 1512–1515, 2021.

R. R. Pratiwi, “Penerapan Metode Storytelling untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas II SDN S4 Bandung,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 199–207, 2016.

Yusra, “Evaluasi pelaksanaan metode story telling dalam pembelajaran anak usia dini,” Majelis Pendidikan, vol. 16, no. 2, pp. 55–68, 2022.

M. D. H. Rahiem, “Storytelling in early childhood education: Time to go digital,” International Journal of Child Care and Education Policy, vol. 15, no. 1, 2021, doi: 10.1186/s40723-021-00081-x.

Handrayani, “Penerapan Metode Story Telling Pada Pembelajaran Berbicara di Kelas III Sekolah Dasar,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 6, no. 1, pp. 1–10, 2022.

Q. Q. Resi Wulandari, F. S. Huriyah, and E. H. Mulyana, “Peran dan Strategi Orang Tua dalam Keterampilan Berbahasa Anak Usia Dini,” Golden Age, Universitas Hamzanwadi, vol. 7, no. 2, pp. 390–400, 2023.

Fakhriah and Rosmiati, “Improving Language Skills of Young Children Through Story Telling Method in Simehate Kindergarten of Aceh Tengah Distrik,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, pp. 85–96, 2017.

H. Abd. Malik, E. D. W. Lubis, O. Resa, and N. Agustin, “Pengaruh Kemampuan Berbahasa Lisan Terhadap Perkembangan Hubungan Sosial Anak Usia Dini,” Unes Journal of Education Sciences, vol. 2, no. 1, p. 082, 2018, doi: 10.31933/ujes.2.1.082-089.2018.

B. Makhoul, E. Olshtain, and R. Ibrahim, “Promoting Comprehension Skills among At-Risk First Graders: The Role of Motivation in One-to-One Tutoring Environment,” Psychology, vol. 6, no. 4, pp. 375–386, 2015, doi: 10.4236/psych.2015.64034.

T. Raharjo and S. Wimbarti, “Assessment of learning difficulties in the category of children with dyslexia,” Jurnal Konseling dan Pendidikan, vol. 8, no. 2, pp. 79–85, 2020, doi: 10.29210/141600.

J. F. Kalkhoran and M. Homayounnia, “An Investigation of the Effects of a Period of Individual and Team Plays on the Social Development of Educable Mentally Retarded Children,” OALib, vol. 2, no. 3, pp. 1–7, 2015, doi: 10.4236/oalib.1101380.

S. Purnama et al., Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini, 2015.

D. Fitriani, H. Fajriah, and W. Rahmita, “Media Belajar Big Book dalam Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Reseptif Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 1, p. 247, 2019, doi: 10.31004/obsesi.v4i1.197.

N. A. Salim, “Peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini: peran pendekatan pedagogis dan kualifikasi guru,” Jurnal Warna: Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini, vol. 6, no. 2, pp. 101–114, 2024, doi: 10.24903/jw.v6i2.1532.

A. M. Diputera, D. N. Sembiring, J. V. Berliana, S. Yanti, and W. D. Lestari, “Identifikasi Masalah Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini di Kota Medan,” Jurnal Usia Dini, vol. 8, no. 2, p. 102, 2022, doi: 10.24114/jud.v8i2.41473.

Komalasari, Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama, 2017.

Johnson, Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Mizan Learning Center (MLC), 2007.

Y. Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009.

A. F. Nasution and E. Yusnaldi, “Penerapan Model Contextual Teaching And Learning untuk Meningkatkan Sikap Sosial Peserta Didik di Kelas IV MIS Mutiara,” vol. 13, no. 3, pp. 2937–2950, 2024.

I. Widiastuti, “Pengaruh Penggunaan Metode Storytelling Terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Konsep Gerak Benda Dan Energi,” vol. 2507, Feb. 2020, pp. 1–9.

M. D. Siregar, I. W. Suastra, I. B. P. Arnyana, I. D. P. Partha, and Marfuatun, “Penerapan Paired Storytelling terhadap Kemampuan Literasi Sains IPA Kelas IV,” JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia), vol. 7, no. 2, pp. 348–355, 2022.

L. Rahmawati, Sutarman, R. A. I. Aryani, and R. Ayatullah, “Penggunaan Digital Story Telling dalam Pengajaran Speaking di SMPN 21 Mataram,” JILPI: Jurnal Ilmiah Pengabdian dan Inovasi, vol. 2, no. 2, pp. 555–564, 2023, doi: 10.57248/jilpi.v2i2.340.

E. Sulistianingsih, J. Mujiyanto, and others, “Digital Storytelling: Studi Kasus Pengajaran Bahasa Inggris dalam Kecakapan Berbicara pada Mahasiswa,” Prosiding Seminar, pp. 261–265, 2023.

K. N. Manik et al., “Meningkatkan Sikap Percaya Diri dengan Storytelling dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Anak-Anak di Lingkungan XVII Pasar 2 Barat, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Medan – Sumatera Utara,” Mengabdi: Jurnal Hasil Kegiatan Bersama Masyarakat, vol. 2, no. 2, p. 2, 2024.