Login
Section Articles

Writing Skills Development Through Think Pair Share in Elementary

Pengembangan Keterampilan Menulis melalui Think Pair Share di Sekolah Dasar
Vol. 26 No. 4 (2025): October:

Delliza Asriyoni (1), Aprizan (2), Opi Andriani (3)

(1) Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Indonesia
(2) Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Indonesia
(3) Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Indonesia

Abstract:

Background (general): Writing is a fundamental literacy skill in elementary education, yet many students still face difficulties in expressing ideas coherently. Background (specific): At SDN 219/II BTN Lintas Asri, most sixth-grade students had not achieved the minimum mastery criteria in writing, with weaknesses in structuring sentences and paragraphs. Knowledge Gap: Prior studies have focused on specific text genres or lower grade levels, leaving limited exploration of collaborative learning approaches in higher elementary classes. Aim: This study aims to examine how the Think Pair Share (TPS) model supports the development of students’ writing abilities. Results: Using Classroom Action Research with two cycles, findings showed notable progress in both teacher and student activities. Teacher observation scores increased from 82.35% to 100%, while student observation scores improved from 56.9% to 94.54%. The proportion of students achieving the minimum writing score rose from 36.36% to 81.82%. Qualitative evidence demonstrated clearer sentence structures, more coherent ideas, and increased confidence in writing. Novelty: This study highlights the effectiveness of TPS not only in enhancing student performance but also in fostering collaboration, critical thinking, and learner engagement in writing tasks. Implications: TPS can be adapted in elementary classrooms as a practical strategy to strengthen literacy skills and encourage active participation in language learning.


Highlight


  • Improved students’ writing performance and classroom participation.




  • TPS fostered collaborative learning and critical thinking.




  • Writing outcomes showed higher mastery and confidence.




Keyword

Writing Skills, Think Pair Share, Elementary School, Classroom Action Research, Student Participation

Downloads

Download data is not yet available.

1. Pendahuluan

Pendidikan adalah upaya terencana untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri mereka. Dalam proses ini, pengembangan mencakup berbagai aspek, seperti kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, moralitas, dan keterampilan yang diperlukan untuk diri sendiri, masyarakat, dan bangsa. Dengan demikian, esensi pendidikan terletak pada kemampuannya untuk memperbarui dan meningkatkan kualitas hidup manusia [1] . Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan lingkungan mereka.

Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, berfungsi sebagai alat komunikasi utama untuk menyampaikan ide, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Bahasa ini membedakan manusia dari makhluk lain, memfasilitasi berbagai aktivitas, dan membuka akses ke ilmu pengetahuan [2] . Oleh karena itu, penguasaan bahasa Indonesia sangat penting dalam mendukung proses pendidikan dan pengembangan diri. Dengan kemampuan berbahasa yang baik, individu dapat berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi, baik dalam konteks sosial maupun akademis, sehingga memperkuat peran mereka dalam masyarakat [3].

Namun, pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi tidak hanya untuk membantu peserta didik mengemukakan gagasan dan perasaan, tetapi juga untuk berpartisipasi dengan orang lain. Berdasarkan kenyataan saat ini, sebagian besar peserta didik meremehkan dan bahkan menganggap bahwa belajar bahasa Indonesia itu monoton, terutama dalam hal menulis [4] . Sikap ini dapat menghambat proses pembelajaran dan mengurangi minat peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berbahasa mereka. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan relevan agar peserta didik dapat lebih termotivasi dalam belajar bahasa Indonesia, sehingga mereka dapat melihat nilai dan manfaat dari keterampilan berbahasa yang mereka pelajari.

Salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan dalam komunikasi tidak langsung adalah menulis [5]. Kemampuan menulis harus dikembangkan melalui pembelajaran dan latihan; keterampilan ini tidak datang secara alami. Menulis pada dasarnya bersifat produktif dan reseptif terhadap bahasa. Penulis harus mahir dalam logika bahasa, kosa kata, konstruksi kalimat, dan pengembangan paragraf untuk tugas menulisnya, karena menulis memerlukan proses kematangan melalui latihan dan pembelajaran [6] . Dengan demikian, pengembangan keterampilan menulis menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan bahasa Indonesia, agar peserta didik dapat mengekspresikan ide dan gagasan mereka dengan jelas dan efektif, serta berkontribusi dalam diskusi dan interaksi sosial yang lebih luas.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Ibu Andika Trianingsih S.Pd selaku guru kelas V yang dilakukan pada hari selasa dan rabu tanggal 03-04 Juni 2025 semester genap di kelas V SDN 219/II BTN Lintas Asri, menunjukkan peneliti menemukan permasalahan bahwa banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam mengekspresikan ide secara tertulis, terutama dalam memulai tulisan dan menyusun paragraf. Faktor yang mempengaruhi rendahnya keterampilan menulis ini meliputi kurangnya pemahaman tentang struktur tulisan, kebiasaan yang kecenderungan untuk menyalin tanpa memahami isi. Selain itu, peserta didik sering merasa kurang percaya diri karena takut melakukan kesalahan tata bahasa, dan kurangnya umpan balik dari guru. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan untuk meningkatkan keterampilan menulis peserta didik, seperti model pembelajaran yang mendorong kolaborasi dan diskusi.

Keterampilan menulis diajarkan di kelas V SDN BTN Lintas Asri. Observasi pembelajaran menunjukkan bahwa peserta didik belum cukup untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Ketika pembelajaran dilaksanakan, peserta didik menjadi tidak tertarik, tidak antusias, dan tidak memperhatikan. Hal ini disebabkan karena kegiatan belajar mengajar yang ada saat ini belum menggunakan model pembelajaran yang menarik bagi peserta didik ketika melaksanakan pembelajaran. Rendahnya keterampilan menulis peserta didik maka peneliti menggunakan model think pair share untuk memecahkan masalah dalam keterampilan menulis. Peneliti menerapkan model pembelajaran Think pair share dengan tujuan agar keterampilan menulis peserta didik yang rendah dapat meningkat.

Menurut [7] menyatakan bahwa model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dan hasil belajar karena membuat peserta didik lebih aktif, antusias, dan dapat bekerja sama dengan teman sebayanya sehingga menumbuhkan semangat pada saat belajar. [8] menjelaskan model think pair share merupakan salah satu pembelajaran yang efektif karena dapat memberikan peserta didik lebih banyak waktu berfikir sehingga secara tidak sengaja dapat mengasah daya pikir kritis dan kreatif peserta didik, Selain itu model think pair share ini memungkinkan pesta didik untuk bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan secara berpasangan dan bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan dalam berpasangan tersebut dapat memecahkan suatu masalah [9].

Hanya sedikit penelitian yang mengkaji secara mendalam penerapan model TPS dalam menyusun email, kalimat sederhana, dan kalimat majemuk, terutama di sekolah dasar kelas enam. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada genre teks tertentu atau pada anak-anak di kelas yang lebih rendah [10], [11], [12]. Dengan membuktikan bahwa pendekatan TPS tidak hanya meningkatkan hasil belajar tetapi juga mendorong partisipasi siswa yang kooperatif dan aktif dalam pembelajaran menulis di tingkat sekolah dasar, penelitian ini berupaya untuk menutup kesenjangan ini dan memberikan kontribusi. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan untuk menciptakan strategi pembelajaran yang bertujuan meningkatkan literasi siswa secara umum.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dengan membuat proposal penelitian dengan judul penelitian “Peningkatan keterampilan menulis menggunakan model Think Pair Share di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri”, karena penggunaan model pembelajaran Think Pair Share cukup efektif untuk meningkatkan pembelajaran peserta didik.

2. Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian Tindakan kelas (PTK) penelitian Tindakan kelas adalah bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas mereka sendiri untuk meningkatkan praktik pembelajaran. PTK ini mencakup siklus tindakan berulang, termasuk perencanaan, langkah-langkah implementasi, pengamatan, dan refleksi. Melalui siklus ini, guru dapat mengidentifikasi masalah dalam proses pembelajaran, mengimplementasikan solusi baru, dan menilai efektivitas solusi. PTK tidak hanya membantu memecahkan masalah yang ada, tetapi juga mendorong guru untuk belajar dan meningkatkan keterampilan mereka di kelas [13].

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal ini terjadi karena kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri, di kelas sendiri dengan melibatkan siswa sendiri, melalui sebuah tindakan yang direncanakan, dilaksanakan, evaluasi, dan refleksi. Dengan demikian diperolah umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar untuk diterapkan dengan baik di kelas yang ditekuninya. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi di kelasnya. Melalui PTK, pendidik dapat mengadaptasikan teori lain untuk kepentinngan proses dan atau produk belajar yang lebih efektif, optimal, dan fungsional [14].

Lokasi dan Subjek Penelitian ini dilaksanakan di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri pada semester genap tahun ajaran 2024/2025. Subjek dalam penelitian ini adalah 22 siswa kelas VI, yang terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan dengan latar belakang kemampuan akademik yang beragam. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Lembar observasi aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran untuk menilai keterlibatan dan keterlaksanaan model Think Pair Share dan Tes keterampilan menulis, yang mencakup tiga jenis teks yaitu menulis surel, kalimat sederhana, dan kalimat majemuk setara/bertingkat. Tes ini dibuat menggunakan kisi-kisi tes yang mencakup topik-topik seperti kesesuaian mata pelajaran, konstruksi kalimat, penggunaan ejaan, serta kohesi dan koherensi paragraf. Tes ini disusun berdasarkan indikasi keterampilan menulis yang sejalan dengan Kurikulum Mandiri.

Berikut ini menentukan kriteria keberhasilan tindakan Mencapai ≥75, Kriteria Kelulusan Siswa Tertinggi (KKTP). Setidaknya 75% siswa memperoleh skor keterampilan menulis minimal 75. Pada lembar observasi, aktivitas belajar guru dan siswa setidaknya berada dalam kategori "baik" (≥80%). Metode Analisis Data kuantitatif dan kualitatif dilakukan terhadap data yang terkumpul Hasil tes dan lembar observasi memberikan data kuantitatif, yang kemudian dikaji menggunakan Proporsi siswa dengan Kategori aktivitas untuk guru dan siswa (sangat baik, cukup, baik, dan kurang). Untuk mengkarakterisasi dinamika proses pembelajaran, tantangan baru, dan reaksi siswa terhadap penggunaan model Think Pair Share, data kualitatif berupa observasi dan catatan lapangan dikaji.

Dengan metode ini, penelitian ini tidak hanya menjelaskan hasil akhir, tetapi juga bagaimana model pembelajaran yang dipilih diterapkan dan bagaimana kemampuan menulis siswa berubah dan meningkat.

3. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dalam dua siklus yang dimulai dari tanggal 06 Agustus 2025 sampai 12 Agustus 2025 di SDN 219/II BTN Lintas Asri, dengan hasil dari observasi pendidik, peserta didik dan hasil menulis peserta didik, maka peneliti akan membahas mengenai hasil-hasil yang telah diperoleh dilapangan. Adapun pembahasannya sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Model Pembelajaran Think Pair Share Pada Keterampilan Menulis di Kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri

Pelaksanaan model pembelajaran think pair share di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri dilaksanakan dengan tindakan kelas yaitu siklus I dan siklus II, Pada siklus I dan siklus II tahapan-tahapan telah dilaksanakan dengan baik sehingga memberikan dampak dan perbaikan positif bagi diri peserta didik. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil keterampilan menulis di kelas VI dengan cara memilih model yang tepat untuk diterapkan kepada peserta didik. Adapun model pembelajaran yang dianggap mampu menarik perhatian peserta didik sehingga akan meningkatkan hasil keterampilan menulis adalah model pembelajaran think pair share. Secara tidak langsung, model pembelajaran think pair share ini menuntut peserta didik untuk berfikir lebih logis dengan menggunakan gambar dan buku. Pendidik memberikan gambar yang berhubungan langsung dengan materi. Model ini menekankan pada penggunaan media gambar sebagai stimulus untuk mendorong peserta didik berpikir kritis, logis, serta mampu mengembangkan keterampilan menulis.

Pada tahap kegiatan, peserta didik diberikan kesempatan untuk berpikir secara individual dan kelompok untuk saling berbagi pemahaman dan ide mengenai topik menulis surel, menulis kalimat sederhana dan menulis kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Hal ini sesuai dengan pendapat [15], yang menyatakan bahwa pendidik menerapkan langkah-langkah model think pair share yaitu: 1) Berpikir (thinking) :Guru mengajukan pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta peserta didik menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Peserta didik membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian berpikir, 2) Berpasangan (pairing) :Guru meminta peserta didik untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan, 3) Berbagi (sharing) :Guru meminta pasangan-pasangan peserta didik untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan. Dari hasil observasi, terlihat bahwa peserta didik mampu bekerja sama dengan pasangan/kelompok dan lebih aktif berdiskusi. Pada kegiatan penutup, pendidik bersama peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran secara bersama-sama, dan memberikan penguatan terhadap materi yang telah dipelajari. Hasil penerapan model think pair share menunjukkan bahwa adanya peningkatan partisipasi dan hasil keterampilan menulis peserta didik. Peserta didik tampak lebih antusias mengikuti pelajaran karena materi yang disajikan secara konkret. Selain itu, keterampilan menulis mengalami peingkatan. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh [4] yang menyatakan bahwa model think pair share efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan kreatif peserta didik melalui media ppt dan gambar. Namun demikian, pelaksanaan model ini juga menghadapi beberapa kendala. Pertama, terdapat sebagian peserta didik yang masih pasif dan cenderung bergantung pada teman dalam kelompok. Kedua, pendidik perlu memberikan bimbingan lebih intensif kepada peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan kalimat. Oleh karena itu, strategi perbaikan dapat dilakukan dengan cara membagi kelompok secara heterogen dan memberikan perdampingan individual kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.

Namun, terdapat sejumlah tantangan dalam menerapkan pendekatan ini. Pertama, beberapa siswa tidak berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok atau berpasangan, melainkan tetap pasif. Kedua, beberapa anak tidak menunjukkan kemandirian dalam menulis karena mereka terus bergantung pada teman sebayanya untuk menghasilkan kalimat atau paragraf. Pendekatan pembelajaran yang terdiferensiasi diperlukan untuk mengatasi hal ini, di mana guru dapat memberikan tugas atau stimulus yang spesifik untuk setiap siswa. Misalnya, guru dapat memberikan instruksi menulis langkah demi langkah atau kalimat referensi kepada siswa berkemampuan rendah. Sementara itu, siswa berprestasi tinggi mungkin diberi tugas menulis yang semakin sulit. Selain itu, penggunaan beragam sumber belajar sangat penting untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Misalnya, sumber daya visual interaktif (seperti film pendek, rangkaian gambar digital, atau lembar kerja interaktif) dapat membantu siswa mengekspresikan ide mereka dengan cara yang lebih menarik dan nyata.

Secara keseluruhan, pelaksanaan model pembelajaran think pair share di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri terbukti mampu meningkatkan aktivitas keterampilan menulis, interaksi antar peserta didik, serta hasil keterampilan menulis peserta didik meskipun masih terdapat beberapa aspek ataupun kekurangan yang perlu diperbaiki agar pembelajaran lebih optimal. Dalam proses pelaksanaannya ada beberapa hal yang diamati oleh peneliti dengan bantuan observer yaitu aktivitas pendidik dan peserta didik. Hasilnya adalah sebagai berikut:

a. Aktivitas Pendidik dalam Mengelola Pembelajaran

Pengamatan terhadap pendidik atau peneliti dilakukan oleh observer yaitu wali kelas VI, aktivitas pendidik memegang peranan penting dalam keberhasilan penerapan model pembelajaran think pair share.

Siklus Persentase Aktivitas Pendidik Kategori
II 82,35% Baik
III 100% Sangat Baik
Table 1. Aktivitas pendidik diamati oleh observer

Pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pengelolaan kelas agar kegiatan belajar mengajar berjalan kondusif, menyenangkan dan terarah. Berdasarkan pengamatan yang mereka lakukan, pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran think pair share setiap pertemuan bernilai baik. Pada siklus I aktivitas pendidik dalam mengelola pembelajaran sudah tergolong “baik” karena sudah mencapai indidkator keberhasilan yaitu 80% dan pada siklus II aktivitas pendidik dalam mengelola pembelajaran sudah mengalami peningkatan dan tergolong kedalam kategori “sangat baik” dibandingkan dengan siklus I, yang mana pada siklus I (82,35%) dan siklus II menjadi (100%). Peningkatan ini terlihat pada aspek dimana pendidik sudah melakukan evaluasi menyeluruh yaitu pendidik sudah menanyakan kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran., pendidik juga sudah bertanya tentang pemahaman peserta didik.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [15] dengan judul “Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dibantu dengan Gambar Seri Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Deskripsi Pada Peserta Didik Kelas II SD Neuheun”, yang menjelaskan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran think pair share dalam setiap siklus mengalami peningkatan.

b. Aktivitas Peserta Didik selama Proses Pembelajaran

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran adalah lebih efektif dari pada siklus II. Data hasil pengamatan terhadap peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan model think pair share pada materi menulis surel pada siklus I, materi menulis kalimat sederhana dan menulis kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat pada siklus II. Hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik dilakukan oleh 2 orang yaitu teman sejawat. Pada pelaksanaan siklus I, aktivitas peserta didik masih belum berjalan sesuai harapan, yaitu karena masih banyak peserta didik yang kurang fokus pada saat pembelajaran, hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh [16] yang menyatakan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share berbantuan media Pop Up Book dapat dilihat bahwa keterampilan menulis iklan siswa kelas V SDN 006 Karya Bhakti pada tindakan siklus II mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan keterampilan menulis iklan siswa pada siklus I. Keterampilan menulis iklan siswa pada siklus II pertemuan I sebesar 69%. Sedangkan pada siklus II pertemuan II sebesar 81%.

2. Hasil Keterampilan Menulis Peserta Didik

Dalam kegiatan belajar mengajar, salah satu tujuan utama yang ingin dicapai oleh pendidik dan peserta didik adalah adanya peningkatan keterampilan menulis. Pada siklus I, hasil keterampilan menulis peserta didik masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai KKTP yang ingin dicapai peserta didik, masih sebagian peserta didik yang memperoleh skor dibawah batas ketuntasan, penyebab hasil keterampilan menulis belum berhasil yaitu banyak peserta didik yang kurang fokus pada saat pembelajaran dan peserta didik tidak memperhatikan apa yang ditampilkan pendidik di depan kelas, dalam diskusi kelompok hanya beberapa peserta didik yang aktif, dan peserta didik juga masih kurang dalam memahami materi yang diajarkan. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, hasil keterampilan menulis peserta didik terjadi peningkatan, tetapi masih ada empat peserta didik yang belum mencapai KKTP yang ditetapkan dikarenakan adanya faktor individu dari peserta didiknya, dimana peserta didik memiliki kemampuan akademik yang berbeda, keempat peserta didik ini memiliki daya serap yang lambat dibanding dengan teman lainnya, dan kurang fokusnya mereka pada saat pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil keterampilan menulis menggunakan model pembelajaran think pair share di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri dengan jumlah 22 orang. Kemampuan peserta didik pada materi menulis surel, menulis kalimat sederhana dan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat dengan meggunakan model think pair share dapat dilihat dari hasil tes. Oleh karena itu, peneliti menggunakan tes yang dilakukan dalam dua tahap yaitu siklus I dan siklus II. Tes yang digunakan pada kedua siklus tersebut bertujuan untuk mengetahui kemampuan menulis peserta didik dalam memahami materi pelajaran.

Siklus Jumlah Siswa (N) N ilai ≥75 Nilai <75 Persentase Ketuntasan
Siklus I 22 88 14 36,36%
Siklus II 22 118 4 81,81%
Table 2. Peningkatan keterampilan menulis peserta didik

Pada siklus I, peserta didik yang memperoleh nilai ≥75 sebanyak 8 orang, peserta didik yang memperoleh nilai <75 sebanyak 14 orang. Sedangkan pada siklus II, peserta didik yang memperoleh nilai ≥75 sebanyak 4 orang. Dengan demikian penerapan model pembelajaran think pair share dapat meningkatkan keterampilan menulis di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri. Dapat dikatakan model pembelajaran think pair share ini sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan keterampilan menulis peserta didik. Hal ini terbukti dengan keaktifan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini sejalan dengan [17], dengan judul “Keefektifan Model Pembelajaran Think Pair Share Berbantu Media Gaser Terhadap Keterampilan Menulis Siswa”, yang menjelaskan bahwa penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan hasil uji T menunjukkan bahwa thitung (13,16) lebih besar dari ttabel (1,687) seehingga hipotesis diterima.

Para peneliti juga melakukan penilaian kualitatif tentang perkembangan tulisan siswa untuk mendukung hasil kuantitatif. Misalnya, karya seorang siswa dari Siklus I masih memiliki pemikiran yang terfragmentasi dan struktur kalimat yang tidak sempurna: "Liburan menarik bagi saya. Mengunjungi pantai. Makan ikan bakar." Karya siswa yang sama menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal pembentukan ide dan struktur kalimat setelah penerapan metodologi Think Pair Share pada Siklus II: "Saya dan keluarga sangat menyukai liburan di pantai. Saya berenang dan bermain di pantai di sana. Kami juga suka makan ikan bakar yang lezat."

Modifikasi ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam mengomunikasikan gagasan secara tertulis, di samping kemajuan teknis menulis mereka.

Selain itu, berikut ini dikutip dari observasi guru mitra pada Siklus II: "Mayoritas siswa tampak lebih percaya diri saat menulis dan berpartisipasi dalam percakapan. Mereka mulai membiasakan diri berbicara dalam kalimat utuh dan mengungkapkan pengalaman mereka dengan cara yang lebih logis. Hasil kuantitatif yang menunjukkan bahwa model Think Pair Share berhasil meningkatkan kemampuan menulis serta memotivasi siswa untuk berpikir lebih berani, logis, dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran didukung oleh data kualitatif ini.

Temuan-temuan ini telah dikaitkan secara efektif dengan sejumlah studi sebelumnya dalam diskusi penelitian ini. Namun, penting untuk mempertimbangkan penerapan temuan-temuan penelitian ini dalam kerangka pengajaran menulis di kelas yang lebih luas untuk meningkatkan kedalaman dan praktik pembelajaran. Selain terbukti berhasil, model Think Pair Share dapat diintegrasikan dengan model-model pembelajaran terkait lainnya untuk memaksimalkan hasil belajar siswa. Pendekatan kombinasi ini memungkinkan penyesuaian dengan karakteristik siswa dan lingkungan kelas yang berbeda, sehingga menciptakan prospek masa depan untuk menciptakan strategi pengajaran yang lebih inovatif dan berhasil.

Meskipun pendekatan Think Pair Share (TPS) secara umum telah menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan menulis siswa, beberapa siswa masih mengalami kesulitan meskipun telah mencapai kemajuan pada Siklus II karena sejumlah masalah penting. Elemen-elemen ini meliputi:

1. Perbedaan Kemampuan Akademik Individual

Dibandingkan dengan teman sebayanya, beberapa anak belajar lebih lambat. Meskipun menggunakan taktik kelompok, hal ini membutuhkan lebih banyak waktu dan pendekatan pembelajaran yang lebih individual. Karena kurangnya kemahiran dalam linguistik fundamental, beberapa siswa masih kesulitan memahami struktur kalimat, terutama kalimat majemuk [18].

2. Kurang Percaya Diri

Beberapa siswa menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam menulis dan mengungkapkan pikiran mereka. Mereka cenderung pasif atau hanya mengikuti pendapat teman sekelasnya, meskipun diberi kesempatan untuk berdiskusi berpasangan. Hal ini menunjukkan bahwa unsur afektif serta bakat linguistik berdampak pada kemampuan menulis [19]. Keterbatasan Waktu dan Tingkat Praktik Karena periode pembelajaran yang singkat di kelas, beberapa siswa tidak memiliki cukup waktu untuk diskusi mendalam atau koreksi tulisan. Latihan berkelanjutan sangat penting untuk keterampilan menulis; dua siklus tindakan saja tidak cukup.

3. Dampak Lingkungan Pendidikan

Lingkungan keluarga tidak selalu memberikan dukungan pembelajaran terbaik bagi siswa tertentu [19]. Hal ini menyebabkan kurangnya praktik menulis di luar kelas, yang seharusnya menjadi komponen penting dalam penguatan materi.

Hasil yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa pendekatan yang berbeda tidak selalu sama efektifnya. Meskipun intervensi pendidikan seperti TPS umumnya bermanfaat dalam konteks pembelajaran, intervensi tersebut tetap membutuhkan kombinasi pendekatan kontekstual, afektif, dan individual yang mendukung. Dengan kata lain, model pembelajaran hanyalah salah satu elemen pengaruh internal maupun eksternal dalam diri siswa juga memengaruhi hasil belajar.

Hal ini mendukung gagasan bahwa guru harus mengadopsi pendekatan yang reflektif dan fleksibel, terutama ketika menangani beragam bakat dan sifat siswa.

4. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian proses dan hasil peningkatan belajar keterampilan menulis peserta didik serta pembahasan pada halaman sebelumnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Terjadi peningkatan proses pembelajaran menulis peserta didik dapat dilihat dari adanya peningkatan dalam proses pembelajaran, yaitu bisa dilihat dri lembar lembar observasi pendidik pada siklus I yaitu 82,35% (kategori baik) menjadi 100% (kategori sangat baik) pada siklus II. Lembar observasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada siklus I memperoleh persentase 69,5% (kategori Kurang) dan pada siklus II 85% (kategori sangat baik).

2. Terjadi peningkatan hasil keterampilan menulis peserta didik di kelas VI SDN 219/II BTN Lintas Asri dengan menggunakan model pembelajaran think pair share dari siklus I dengan persentase 36,36% ke siklus II dengan persentase 81,82%.

3. Secara reflektif, metodologi Think Pair Share meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menulis, motivasi belajar, dan keterlibatan aktif, selain meningkatkan hasil belajar secara numerik. Siswa dapat mengekspresikan pikiran mereka secara bebas, menyusun kalimat dengan lancar, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan logis mereka melalui interaksi dalam percakapan kelompok dan berpasangan.

4. Hasil ini menunjukkan bahwa model Think Pair Share merupakan metode pengajaran yang efektif, terutama untuk meningkatkan kemampuan menulis di sekolah dasar. Dengan menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakteristik siswa, model ini juga dapat digunakan secara lebih luas dalam berbagai mata pelajaran dengan berbagai skala.

5. Berdasarkan hasil ini, model Think Pair Share disarankan sebagai pendekatan pembelajaran menulis untuk sekolah ini serta sekolah dasar lain yang menangani isu-isu serupa. Adaptabilitas model ini membuatnya cocok untuk diterapkan di berbagai lingkungan belajar, termasuk berbasis teknologi dan tatap muka.

Ucapan Terima Kasih

Penyusunan artikel jurnal ini tentu tidak terlepas dari doa, semangat, dukungan, serta bantuan dari berbagai pihak. Dengan penuh penghargaan, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada dosen pembimbing atas segala arahan, masukan, dan koreksi berharga yang telah banyak membantu dalam penyempurnaan penulisan hingga karya ini dapat diselesaikan.

References

H.R.P. Renna, “Konsep Pendidikan Menurut John Locke dan Relevansinya bagi Pendidikan Sekolah Dasar di Wilayah Pedalaman Papua,” Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 1, pp. 7–16, 2022. [Online]. Available: https://doi.org/10.36232/jurnalpendidikandasar.v4i1.1698.

I.I. Saliya, E. Kuntarto, and S. Noviyanti, “Analisis Tingkat Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IV Pada Muatan Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Dasar,” Jurnal Muara Pendidikan, vol. 8, no. 2, pp. 330–337, 2023. [Online]. Available: https://doi.org/10.52060/mp.v8i2.1440.

Z. Arifin, Keterampilan dan Pembelajaran Efektif. Yogyakarta: Penerbit ABC, 2020.

N.S.M.S. Lakilaf, “Penerapan Model Pembelajaran Think-Pair-Share Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Kelas II Pada Di SD N 3 Banjar Jawa,” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, vol. 1, no. 4, pp. 284–287, 2017.

S. Rahmawati, “Indikator Keterampilan Menulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Ilmiah Pendidikan, vol. 5, no. 1, pp. 45–52, 2021.

M. Cahyani, L. Rabani, and M. Mansyur, “Peningkatan Keterampilan Menulis Permulaan melalui Penerapan metode Struktural Analitik Sintetik Pada Siswa Kelas I SDN 88 Kendari,” Jurnal Ilmiah Pembelajaran Sekolah Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 70–78, 2023.

A. Karim, “The Effect of Think Pair Share (TPS) Model on Students Mathematic Learning Outcomes,” JURNAL AXIOMA: Jurnal Matematika dan Pembelajaran, vol. 2, no. 1, pp. 80–87, 2017.

C.V. Sumarsya and S. Ahmad, “Think Pair Share sebagai Model untuk Meningkatkan Motivasi Peserta Didik dalam Pembelajaran,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 4, no. 2, pp. 1374–1387, 2020.

W.Y. Butar-Butar and O.D. Appulembang, “Analisis Penggunaan Model Think Pair Share Untuk Membangun Partisipasi Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Secara Daring,” ELIPS: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 4, no. 1, pp. 81–92, 2023. [Online]. Available: http://repository.uph.edu/12356/.

N. Aina Shabrina, Pengaruh Metode Example Non Example Terhadap Keterampilan Menulis Pantun Siswa Kelas V MI Al-Wathoniah 10 Pedaengan Jakarta Timur, pp. 1–97, 2021.

A.F. Lusianti, Peningkatan Kemampuan Menulis Pantun Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2012.

N. Istiqoh, “Peningkatan kemampuan menulis pantun dengan menggunakan model Think Pair Share dikelas VII A MTs pesantren pembangunan majenang kabupaten cilacap tahun pelajaran 2018/2019,” Diksatrasia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 4, no. 1, pp. 22–29, 2021.

M.N. Sari and Mudrikah, Metodologi Penelitian Tindakan Kelas dan Research and Development. Metodologi Penelitian Tindakan Kelas & Research and, 2024.

D. Susilowati, “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) solusi Alternatif Problematika Pembelajaran,” Jurnal Dinamika Pendidikan, vol. 12, no. 1, pp. 29–39, 2019.

K. Ismi, R.W. Alawiyah, and R. Mawardati, “Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Dibantu Dengan Gambar Seri Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi Pada Peserta Didik Kelas II SD Neuheun,” AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya, vol. 1, no. 2, pp. 138–146, 2022.

E. Delfiani Saputri, U. Pahlawan Tuanku Tambusai, R. Ananda, and Y. Fitra Surya, “Berbantuan Media Pop Up Book Sekolah Dasar,” MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, vol. 10, no. 3, pp. 674–685, 2023.

R.U. Khasanah, S. Sutrisno, and M. Mudzanatun, “Keefektifan Model Think Pair Share Berbantu Media Gaser Terhadap Keterampilan Menulis Siswa,” Janacitta, vol. 1, no. 2, 2019.

V. Sardila, “Strategi Pengembangan Linguistik Terapan Melalui Kemampuan Menulis Biografi Dan Autobiografi: Sebuah Upaya Membangun,” Jurnal Pemikiran Islam, vol. 40, no. 2, pp. 110–117, 2015. [Online]. Available: https://scholar.google.co.id.

Dahwadin and F.S. Nugraha, “Motivasi dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” vol. 3, pp. 73–84, 2019.