Zahrotun Nisa (1), Dzulfikar Akbar Romadlon (2)
General Background: Qur’anic learning in student pesantren requires an approach aligned with adult learners’ characteristics, emphasizing independence, experience, and active participation. Specific Background: Mahad Umar bin Al-Khattab Sidoarjo applies andragogy in Qur’anic learning for female university students residing in its boarding program. Knowledge Gap: Previous studies have mainly addressed adult Qur’anic learning and reading outcomes, while this study examines its implementation in students’ academic and community contexts. Aims: This study describes planning, implementation, monitoring, and evaluation of andragogical Qur’anic learning. Results: Needs identification, structured murojaah, partnership, daily mutabaah, routine evaluation, mentoring, and flexible arrangements support memorisation, discipline, motivation, academic learning, and Qur’anic teaching competence. Novelty: The study combines partnership, daily monitoring, motivation, and appreciation within a student boarding context. Implications: The model provides a reference for other student pesantren developing Qur’anic learning for adult learners.
Key Findings Highlights
Structured murojaah supports sustained Qur’anic memorisation.
Partnership develops active participation and teaching competence.
Daily mutabaah and appreciation reinforce learner responsibility.
Keywords: Andragogical Learning, Qur’anic Learning, Student Pesantren, Qur’anic Memorisation, Partnership Learning
Pembelajaran Al-Qur’an di pesantren mahasiswi memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan karakter religius. Mahasiswa sebagai peserta didik dewasa membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan anak-anak, sehingga konsep andragogi menjadi relevan karena menekankan kemandirian, pengalaman, dan keterlibatan aktif dalam belajar. Ma’had Umar bin Al-Khattab Sidoarjo sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam menerapkan pembinaan Al-Qur’an dengan pendekatan ini agar proses belajar lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswi. Ma'had Umar bin Khattab adalah Lembaga Pendidikan Tinggi yang menawarkan program Bahasa Arab dan studi Islam untuk usia dewasa. Tujuan utama Ma'had Umar bin Khattab adalah mencetak kader muslim yang menguasai bahasa Arab dan studi Islam dan mampu menghadapi tantangan zaman[1]. Sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada Bahasa Arab dan kajian Islam, mahasiswi di Ma'had Umar bin Khattab diwajibkan untuk mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Hal ini sejalan dengan tujuan utama Ma'had Umar untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas dalam kajian Islam, tetapi juga terampil dalam berbahasa Arab, yang merupakan bahasa Al-Qur'an. Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik menjadi sangat penting. Meskipun demikian, tidak semua mahasiswi yang masuk ke Ma'had Umar memiliki kemampuan baca Al-Qur'an yang baik pada awalnya. Beberapa di antaranya mungkin belum terbiasa membaca Al-Qur'an dengan lancar atau bahkan baru mulai menghafal. Oleh karena itu, lembaga ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa para mahasiswi menguasai kemampuan baca Al-Qur'an dengan baik, seiring dengan pembelajaran bahasa Arab dan studi Islam yang mereka jalani. Pendidikan Al-Qur'an di Ma'had Umar sangat mendukung tujuan utamanya sebagai lembaga pendidikan Bahasa Arab. Al-Qur'an. Al-Qur’an, menurut M. Sarbini (2017) adalah kalamullah SWT. (kata-kata Allah SWT.) yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang mana setiap kandungannya mengandung mukjizat juga bernilai ibadah, baik dengan cara membacanya atau mentadabburi (mendalami) maknanya.[2]
Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian, akhlak, dan spiritualitas manusia. Pembelajaran Al-Qur'an harus dikelola dengan inovasi yang baik agar dapat menghasilkan output yang optimal. Pengelolaan pembelajaran Al-Qur'an mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Dalam kegiatan Pendidikan,[3] Pembelajaran Al-Qur’an menjadi komponen penting dalam konteks pendidikan Islam yang harus diperkenalkan secara sistematis dan berkelanjutan. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 5027). Hadis ini menegaskan pentingnya pembelajaran dan pengajaran Al-Qur'an yang mulia dalam Islam.[4] Di era modern ini, tantangan moral dan sosial semakin kompleks, dan pembelajaran Al-Qur'an berfungsi sebagai benteng untuk membentuk ketahanan spiritual dan moral setiap individu. Dalam pendidikan, lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran, termasuk pesantren, yang memiliki ciri khas dalam pengajaran Al-Qur'an. Sejak awal, pesantren telah menempatkan Al-Qur'an sebagai inti kurikulum pendidikan. Program tahfidz dan pembelajaran Bahasa Arab merupakan penunjang utama untuk memahami Al-Qur'an dengan baik.[5] Dalam penyelenggaraan Pendidikan diperlukan peran Lembaga Pendidikan sebagai tempat proses terjadinya pendidikan[6] diantaranya adalah pesantren, sebagai Lembaga Pendidikan yang kental akan nilai Al-Qur’an. Sejak awal kemunculannya, pesantren telah menempatkan Al-Qur’an sebagai inti dari kurikulum pendidikan.[7] Hal ini terlihat dari adanya program seperti tahfidz dan pembelajaran bahasa Arab sebagai penunjang memahami Al-Qur’an. Pesantren memainkan peran penting dalam melestarikan metode pengajaran Al-Qur'an, baik secara tradisional (talaqqi, tahfidz, muraja'ah) maupun modern, dengan pendekatan andragogi dan pedagogis yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta didik.[8] Dalam konteks pendidikan nasional, pesantren menjadi garda depan dalam menghadirkan pendidikan agama yang berkualitas, tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga aspek spiritual dan afektif, yang membentuk karakter bangsa. Oleh karena itu, lembaga ini menjadi salah satu ujung tombak dalam pembangunan moral bangsa dan penjaga warisan keilmuan Islam.[9] Seiring berkembangnya zaman, pesantren kini bertransformasi menjadi pesantren yang tidak hanya bersifat tradisional, tetapi juga menjadi pesantren pendidikan tinggi[10] yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu (integrasi-interkoneksi), Hal ini bertujuan agar lulusan pesantren tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam aspek spiritual dan moral. Pesantren pendidikan tinggi juga berfungsi sebagai wadah pembinaan karakter dan kepemimpinan yang Qur’ani, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.[11] Salah satunya adalah Pesantren Mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab di Sidoarjo, yang secara khusus menampung dan membina para mahasiswi untuk memperdalam ilmu agama, terutama pada keilmuan Bahasa Arab dan Al-Qur’an, di tengah kesibukan studi akademik mereka. Pendidikan tingkat tinggi menjadi Lembaga Pendidikan yang paling dekat dengan penerapan keilmuan dalam pengabdian masyarakat, mengadopsi pendekatan andragogi dalam ilmu agama dan ilmu umum sehingga mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam aspek spiritual dan moral.[12] Pesantren pendidikan tinggi juga berfungsi sebagai wadah pembinaan karakter dan kepemimpinan mahasiswa yang Qur’ani, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial.
Pembinaan pembelajaran Al-Qur’an sangat dibutuhkan di setiap jenjang pendidikan dan oleh semua kalangan usia,[13] oleh karena itu, pendekatan andragogi dalam pengajaran Al-Qur’an di pesantren mahasiswi menjadi sangat relevan[14] pendekatan andragogi merupakan pendekatan yang meyakini bahwa orang dewasa memiliki karakteristik berbeda dengan karakteristik anak-anak dan remaja, karakteristik yang berbeda memerlukan penaganan yang berbeda pula. Diantara karakteristik orang dewasa yaitu dapat mengatur dirinya sendiri, tidak bergantung pada pendidik, eksplirisasi sehingga dapat belajar menyesuaikan kebutuhannya sendiri, menggunakan pengalamannya sebagai sumber pembelajaran, menyukai belajar secara diskusi dalam memperoleh problem solving. Pembelajaran ini menyarankan pentingnya pengadaan materi yang menunjang kemampuan individu mandiri, tidak memiliki ketergantungan berlebih, kemampuan untuk belajar sendiri, memecahkan masalah, dan kemampuan untuk bersaing[15]. Pesantren ini memiliki asrama khusus mahasiswi, yang terletak tidak jauh dari gedung perkuliahan yang berlokasi di Sidoarjo. Asrama Ma’had sendiri, hingga tahun 2025 hanya menerima mahasiswi aktif dan alumni Mahad Umar yang melanjutkan studi S1 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) setelah lulus dari Mahad Umar. Salah satu program utama di asrama putri Mahad Umar adalah pembinaan tahfidz yang dilaksanakan dengan bimbingan dari musyrifah yang berkompeten dalam hafalan dan pemahaman ilmu Al-Qur’an. Seluruh anggota pesantren mahasiswi adalah kelompok dewasa yang sudah memiliki karakter tersebut untuk mendapatkan pembelajaran yang optimal dengan pendekatan andragogi. Artikel ini akan membahas mengenai pendekatan andragogi dalam pembinaan pembelajaran Al-Qur’an yang diberikan kepada mahasiswi mukim di Pesantren Mahasiswi Ma'had Umar bin Al-Khattab Sidoarjo. Pesantren ini merupakan tempat tinggal sekaligus tempat pembekalan agama bagi para mahasiswi, terutama dalam hal membaca, menghafal, mentadabburi atau memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari. Maka dengan ini pesantren mahasiswi tidak hanya menjadi tempat tinggal mahasiswi selama masa perkuliahan seperti asrama pada umumnya, tetapi juga memberikan lingkungan pendidikan yang kental akan pembinaan keislaman dan menunjang optimalisasi pemahaman mata kuliah di kelas dengan adanya jadwal wajib belajar serta akses yang mudah untuk berdiskusi dengan teman antar mahasiswi. Memiliki fokus utama pada pendekatan pembelajaran berbasis asrama (boarding), interaksi langsung dengan pembina (musyrifah) dan integrasi antara kegiatan spiritual dan akademik. Memberikan gambaran tentang efektivitas pembekalan Al-Qur’an di lingkungan pesantren kampus[16] serta kontribusinya dalam mencetak generasi muda muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Beberapa penelitian terdahulu telah membahas penerapan pendekatan andragogi dalam pembelajaran Al-Qur'an. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pembelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an bagi lansia di masjid Ar-royyan, Jember, menunjukkan perkembangan yang positif. Awalnya, para ibu belum bisa membaca Al-Qur’an atau belum lancar. Setelah mengikuti kegiatan ini, mereka menjadi lebih lancar dalam membaca. Dalam hal menghafal, sebelumnya mereka belum memiliki hafalan sama sekali, namun kini sudah mulai memiliki hafalan. Perkembangan ini terlihat dari pertemuan mingguan dan evaluasi dua bulan sekali. Kemajuan tersebut didorong oleh semangat dan motivasi yang tinggi dari para lansia serta tujuan yang jelas dalam mengikuti pembelajaran.[17] Penelitian lainnya menemukan bahwa Cara belajar orang dewasa, terutama ibu-ibu, berbeda dengan anak-anak dan remaja. Pendekatan yang menggunakan kekuasaan atau hukuman tidak lagi cocok, karena orang dewasa memiliki emosi dan cara berpikir yang berbeda. Mereka lebih bisa mengatur diri sendiri, sehingga tidak perlu banyak diatur dan suasana belajar pun lebih tenang. Orang dewasa juga punya inisiatif sendiri dalam belajar, biasanya karena kebiasaan atau dorongan pribadi. Kegiatan belajar membaca Al-Qur’an dilakukan dengan suasana santai, tanpa aturan ketat. Peserta bebas memilih tempat duduk dan belajar tanpa tekanan[18]. Proses pembelajaran bagi dewasa didukung oleh beberapa faktor penting. Pertama, motivasi yang kuat dari peserta didik mendorong semangat belajar yang konsisten. Kedua, adanya inovator atau pihak yang memberikan ide-ide baru dan metode pembelajaran yang menarik turut memperlancar proses belajar. Ketiga, kebersamaan antar peserta menciptakan suasana yang saling mendukung dan nyaman. Namun, pembelajaran juga menghadapi hambatan. Faktor fisik, seperti keterbatasan penglihatan atau kondisi tubuh yang tidak sekuat usia muda, dapat mempengaruhi konsentrasi dan kecepatan belajar. Selain itu, faktor waktu juga menjadi tantangan, karena peserta memiliki kesibukan atau tanggung jawab lain di luar kegiatan belajar[19]. Terakhir, sebuah penelitian terdahulu berkesimpulan bahwa Metode yang sistematis memberikan kemudahan bagi jamaah putri dalam mempelajari Al-Qur’an secara bertahap. Tingginya motivasi belajar mendorong semangat dan konsistensi dalam mengikuti setiap sesi pembelajaran. Pendekatan andragogi yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik orang dewasa. Suasana belajar yang santai dan nyaman turut mendukung terciptanya proses belajar yang efektif. Ketiga aspek tersebut menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan relevan bagi jamaah putri[20]. Dapat disimpulkan, beberapa penelitian terdahulu mengenai pendekatan andragogi pada pembelajaran Al-Qur’an hanya berfokus pada keberhasilan membaca Al-Qur’an, maka pada penelitian ini penulis juga akan memberikan gambaran mengenai pengaruh pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan andragogi pada proses kehidupan akademik mahasiswi dan pemanfaatan bekal pembelajaran Al-Qur’an pada masyarakat di sekitarnya. Sehingga artikel ini dapat menunjukkan bahwa pesantren mahasiswi seperti Ma’had Umar bin Al-Khattab memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda Islam agar tidak hanya memiliki kecerdasan secara akademik, tetapi juga kuat dalam keimanan dan budi pekerti akhlaknya melalui pembekalan Al-Qur’an yang terarah dan berkelanjutan. Juga membahas tantangan dan solusi dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an, seperti manajemen waktu para santri yang juga berperan sebagai mahasiswi, kualitas musyrifah, serta motivasi individu. Sehingga tergambar nantinya efektivitas pembekalan Al-Qur’an di lingkungan pesantren kampus dalam menunjang akademis agar dapat mencetak generasi muda muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan selalu berpegang teguh pada nilai-nilai dalam Al-Qur’an.
Pemilihan Ma’had Umar bin Al-Khattab Sidoarjo sebagai objek penelitian didasarkan pada keunggulan institusional yang dimilikinya, khususnya dalam pengajaran bahasa Arab aktif dan komunikatif yang menjadi ciri khas pembelajarannya. Keunggulan tersebut berimplikasi pada lahirnya lulusan yang memiliki kompetensi tinggi, sehingga banyak dibutuhkan oleh berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an maupun lembaga keagamaan lainnya. Selain itu, kualitas akademik yang dihasilkan juga terbukti dari adanya sebagian lulusan yang mampu melanjutkan studi ke luar negeri, yang sekaligus merefleksikan daya saing serta reputasi Ma’had Umar dalam konteks pendidikan Islam baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada penelitian ini, pembahasan mengenai implementasi dan evaluasi pendekatan andragogi dalam pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di pesantren mahasiswi bertujuan untuk menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa diterapkan dalam kegiatan pendidikan Al-Qur’an sekaligus menilai efektivitasnya. Implementasi difokuskan pada penerapan aspek kemandirian, pengalaman, motivasi, serta partisipasi aktif mahasiswi yang dikembangkan melalui berbagai strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dewasa. Sementara itu, evaluasi diarahkan pada pengukuran keberhasilan program, identifikasi kendala yang muncul, serta menelaah solusi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan. Dengan demikian, kajian ini diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman empiris tentang praktik pembinaan Al-Qur’an di lingkungan pesantren mahasiswi, tetapi juga menghasilkan kontribusi teoritis bagi pengembangan model pendidikan Islam berbasis andragogi yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara mendalam [21] proses pembelajaran Al-Qur’an di pendidikan tinggi, khususnya di Pesantren Mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah field research yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyusun hasil penelitian [22] terkait dengan pembinaan pengajaran Al-Qur’an di lingkungan pesantren mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab. Proses penelitian dimulai dengan pengumpulan data lapangan melalui observasi dan wawancara, kemudian dilakukan reduksi data untuk memfokuskan pada informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Setelah itu, data yang telah disaring disajikan dalam bentuk naratif deskriptif yang didukung dengan gambar, tabel, atau diagram untuk mempermudah pemahaman. Penyajian data ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi secara objektif dan jelas.[23]. Untuk memastikan keotentikan dan kredibilitas data yang diperoleh, peneliti melakukan verifikasi melalui beberapa teknik, yaitu kredibilitas data. Kredibilitas ini diuji dengan berbagai tindakan seperti keterlibatan peneliti dalam kehidupan sehari-hari informan dalam jangka waktu yang cukup panjang, serta upaya untuk mengonfirmasi dan mengklarifikasi data dengan informan secara berkala. Beberapa langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas penelitian antara lain adalah meningkatkan ketekunan peneliti dalam observasi, triangulasi (penggunaan berbagai sumber data untuk cross-check), dan membercheck (mengonfirmasi temuan kepada informan). Proses analisis data dilakukan dalam tiga tahap utama: (1) Reduksi data, yakni pemilihan dan penyederhanaan informasi yang relevan; (2) Penyajian data, yakni penyusunan data dalam bentuk yang mudah dipahami dan komprehensif; dan (3) Verifikasi data, yang melibatkan pemeriksaan terhadap data yang sudah terkumpul untuk memastikan akurasi dan konsistensinya.
Penelitian ini berfokus pada pembelajaran Al-Qur’an dalam konteks andragogi, dengan menggali metode pengajaran yang diterapkan di Mahad Umar bin Al-Khattab serta menilai efektivitas pembelajaran Al-Qur’an terhadap mahasiswi. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari subjek penelitian, yakni mahasiswi dan musyrifah di asrama Mahad Umar. Musyrifah memegang peran penting sebagai pengelola kebijakan dan pelaksanaan program pembelajaran Al-Qur’an di asrama, serta memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan. Data sekunder diperoleh dari dokumen, arsip, dan sumber lain yang relevan untuk mendukung temuan penelitian[24]. Penelitian ini dilakukan di Pesantren Mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab Sidoarjo yang menerapkan sistem boarding untuk jenjang pendidikan tinggi di bidang studi Islam dan Bahasa Arab. Pengumpulan data dilakukan dalam jangka waktu tertentu, menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, seperti observasi (baik partisipatif maupun non-partisipatif) dan studi dokumentasi[25].
Penerapan pendekatan andragogi dalam pembinaan pembelajaran Al-Qur’an dilakukan dengan menekankan kemandirian, tanggung jawab, serta partisipasi aktif peserta didik. Peran guru lebih difokuskan sebagai fasilitator dan pendamping, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga pada pengembangan kedisiplinan dan motivasi belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik dewasa. Dalam melakukan proses implementasi diperlukan adanya metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik [26]. Pelaksanaan ide atau perencanaan metode pembelajaran dipengaruhi oleh unsur-unsur penting komponen Pendidikan diantaranya subjek pendidikan, metode pendidikan, dan materi pendidikan. Memahami unsur dari komponen Pendidikan ini guna meningkatkan masing-masing unsur komponen dan melakukan pemerataan tingkat komponen Pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan optimal[27]. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam terhadap berbagai komponen Pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh semua pihak yang terlibat. Dengan pemahaman yang baik, proses pendidikan dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Andragogi dalam perspektif Islam, merupakan pembelajaran orang dewasa yang tercermin dalam metode pendidikan yang diajarkan dalam Al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad SAW, serta ijtihad para ulama. Metode tersebut mencakup proses memahami materi secara mendalam, menumbuhkan kesadaran akan nilai dan tanggung jawab, serta menerapkan ilmu secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Contoh penerapan pembelajaran ini terlihat pada kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS yang diceritakan dalam QS. Al-Kahfi ayat 60–82. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana Nabi Musa belajar melalui pengalaman bersama Nabi Khidir, mulai dari mengikuti perjalanan, mengamati tindakan, hingga belajar bersabar dalam memahami hikmah di balik peristiwa yang terjadi[28]. Melalui proses itu, terlihat bahwa pembelajaran orang dewasa dalam Islam mengutamakan penggabungan antara pemahaman, penyadaran, dan praktik nyata. Penerapan pembelajaran dengan pendekatan andragogi di Pesantren Mahad Umar bin Al-Khattab dirasa tepat karena pendekatan tersebut merupakan metode pembelajaran yang memberikan ruang kebebasan kepada mahasiswa dalam mengelola proses belajarnya secara mandiri. Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk menyadari pentingnya pengembangan potensi diri yang dimilikinya, baik secara intelektual maupun spiritual. Selain itu, pendekatan ini juga menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri mahasiswa untuk terus belajar, berkembang, dan mencapai tujuan-tujuan pembelajarannya secara lebih bermakna. Kebebasan yang diberikan tidak hanya mendorong tanggung jawab pribadi, tetapi juga membentuk karakter yang kuat dan kesadaran diri yang tinggi dalam perjalanan akademik dan kehidupan spiritualnya[29]. Sehingga, pendekatan andragogi dapat menjadi seni dan ilmu mengajar orang dewasa membantu mereka belajar sesuai dengan kebutuhannya serta memotivasi agar dapat memanfaatkan pengalaman yang dimiliki untuk mencapai pengalaman belajar yang baru. Menurut Malcolm Knowles, salah satu tokoh utama dalam teori andragogi, ada beberapa prinsip dan tahapan yang mendasari pembelajaran orang dewasa. Beberapa tahapan umum dalam pembelajaran adalah : 1) perencanaan yang terkait dengan identifikasi kebutuhan pembelajaran, pemanfaatan pengalaman sebagai sumber belajar membantu penetapan tujuan pembelajaran, perencanaan strategi pembelajaran, 2) Pelaksanaan pembelajaran aktif dan parsitipatif, dan 3) Refleksi dan evaluasi [30].
A.Perencanaan Pembelajaran Al-Qur’an
Pesantren Mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab melakukan perencanaan dimulai dengan identifikasi kebutuhan belajar peserta didik. Tahap ini dilakukan melalui wawancara serta tes awal bacaan dan hafalan Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh musyrifah asrama. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswi telah memiliki hafalan lebih dari dua juz dan bacaan dengan tajwid serta makharijul huruf yang baik. Namun, terdapat sebagian kecil yang masih membutuhkan bimbingan dasar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kebutuhan utama mereka adalah menjaga hafalan yang sudah ada agar tidak hilang sekaligus menjadikannya sebagai penunjang studi akademik, khususnya dalam mata kuliah Tahfidzul Qur’an, Tafsir, dan Balaghah. Data ini juga mengarahkan program agar tidak terlalu menekankan materi dasar seperti Tajwid, tetapi lebih fokus pada penguatan hafalan melalui murojaah yang terstruktur. Klasifikasi yang digunakan dalam pengelompokan kemampuan peserta didik adalah dengan metode tes bacaan dan hafalan yang dilakukan oleh Musyrifah asrama. Dari 17 mahasiswi mukim didapati bahwa :
Figure 1.
Gambar data kemampuan awal hafalan dan bacaan Al-Qur’an mahasiswi pesantren
Berdasarkan gambar, hasil tes membaca Al-Qur’an yang dilakukan oleh musyrifah asrama disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswi baru memiliki kemampuan membaca yang baik dari segi tajwid, makhorijul huruf, dll, maka materi pembelajaran ilmu tajwid dan makhorijul huruf dari dasar tidak lagi diperlukan atau dititik beratkan. Didapati juga bahwa, lebih dari setengah mahasiswi baru memiliki bekal hafalan di atas 2 juz, ini menunjukkan bahwa mereka sudah akrab dan terbiasa untuk menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an bukan lagi hal yang asing bagi mereka sehingga tidak memerlukan banyak adaptasi. Inilah yang menjadi dasar perencanaan pembelajaran tahfidz di pesantren Mahasiswi mahad berfokus pada pengulangan hafalan atau murojaah dengan pendekatan andragogi.
Setelah dilakukan identifikasi kebutuhan peserta didik, hal ini dimanfaatkan agar peserta menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk menetapkan tujuan pembelajaran. Mahasiswi didorong untuk menentukan tujuan spesifik yang ingin dicapai selama program. Keterlibatan ini membuat mereka merasa memiliki peran dalam proses pembelajaran dan menumbuhkan motivasi internal. Dalam membantu penetapan tujuan pembelajaran dan perencanaan pembelajaran, peserta didik didorong untuk menetapkan tujuan mereka sendiri mengenai apa yang ingin mereka capai dalam proses belajar. Mereka memiliki tujuan yang relevan dan spesifik. Hal inilah yang membuat mereka ikut terlibat dalam proses pembelajaran, memgetahui materi yang akan diajarkan, metode yang digunakan, dan cara mengevaluasi. Hal ini terbukti efektif menumbuhkan rasa memiliki terhadap program, karena mahasiswi merasa ikut berperan dalam menentukan arah pembelajaran. Namun, terdapat kendala ketika sebagian mahasiswi menetapkan target yang terlalu tinggi atau kurang realistis, sehingga perlu pendampingan lebih intensif dari musyrifah. Musyrifah asrama memaparkan bahwa mereka sudah sepaham dengan para peserta didik mengenai pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di pesantren ini adalah menitikberatkan pada murojaah ayat-ayat atau surat yang telah dihafal sebelumnya, bukan berfokus pada hafalan baru tanpa mengesampingkannya, karena mayoritas mahasiwi sudah memiliki bekal hafalan Al-Qur’an baik dari sekolah atau pesantren mereka sebelumnya dan dari perkuliahan mereka pada mata kuliah tahfidz di kampus, sehingga tujuan utama program pembelajaran Al-Qur’an di pesantren mahasiswi adalah untuk menumbuhkan kesadaran akan urgensi penjagaan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihafal lebih besar daripada fokus menambah hafalan baru..
Tahap terakhir adalah perumusan strategi pembelajaran. Strategi ini disusun berdasarkan kebutuhan nyata, pengalaman yang dimiliki, serta tujuan yang ditetapkan peserta didik. Fokus strategi diarahkan pada pelaksanaan murojaah yang konsisten, pengelompokan peserta sesuai tingkat kemampuan, dan bimbingan personal bagi mereka yang menghadapi kesulitan. Perencanaan dilakukan melalui tes awal bacaan dan hafalan, kemudian mahasiswi dikelompokkan sesuai kemampuannya. Setiap hari, setelah Subuh, halaqah Qur’an dilaksanakan selama dua jam. Setiap mahasiswi wajib menyetorkan minimal 5 halaman murojaah dan 1 halaman hafalan baru. Perencanaan ini berjalan cukup efektif. Jadwal Subuh dipilih bukan hanya karena waktu kuliah siang hingga sore, tetapi juga karena keyakinan akan keberkahan waktu fajar. Meski begitu, perbedaan jadwal kuliah antar semester kadang mengganggu konsistensi kedisiplinan, sehingga pengelolaan waktu menjadi tantangan utama.
B.Pelaksanaan Pembelajaran Aktif dan Partisipatif
Model pembelajaran berbasis partnership (berpasangan) menjadi ciri utama program ini. Pembelajaran Aktif dan Partisipatif melibatkan peserta didik secara aktif, tidak hanya bersifat satu arah. Karena pembelajaran orang dewasa lebih efektif ketika mereka aktif berpartisipasi dalam proses belajar, bukan hanya mendengarkan informasi. Oleh karena itu, pembelajaran perlu mengutamakan diskusi, pemecahan masalah, dan studi kasus[31]. Maka pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama dibentuk dalam setiap kelompoknya terdiri dari 2 anggota dengan sistem partnership. Hasil wawancara kami dengan Musyrifah asrama menjelaskan bahwa fungsi partner di sini sesuai dengan pendekatan andragogi dalam melibatkan peserta didik secara aktif. Mereka harus aktif untuk menyimak, mengoreksi, dan mampu memberikan pertanyaan berupa potongan ayat kepada partnernya sebagai bentuk persiapan dan pematangan hafalan mahsiswi sebelum menyetorkan hafalannya kepada musyrifah.
Konsep metode partner merujuk pada pendekatan pembelajaran kelompok kecil yang terdiri dari dua orang, di mana dua orang mahasiswi saling bekerjasama dalam melakukan muroja’ah atau mengulang hafalan Al-Qur’an. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hafalan serta mengurangi kesalahan dalam bacaan, seperti tajwid, harakat, dan makharijul huruf. Prinsip utama dalam metode ini mencakup pemilihan pasangan yang sesuai, adanya semangat saling mendukung antar partner, serta pemanfaatan metode ini untuk memperkuat hafalan dan pemahaman santri terhadap bacaan Al-Qur’an[32]. Sebelumnya konsep partnership ini telah diterapkan oleh Rosulullah SAW ketika Rasulullah SAW berada di Madinah, beliau meletakkan dasar-dasar pembentukan masyarakat Islam. Dasar-dasar ini menjadi fondasi kuat yang mampu melahirkan peradaban baru bagi dunia, khususnya bagi umat Islam. Salah satu asas penting yang beliau tanamkan adalah Al-Ikha’ (persaudaraan), yaitu membangun hubungan persaudaraan yang kuat antara kaum Muhajirin dan Anshar. Prinsip ini mempererat solidaritas sosial dan menjadi contoh nyata integrasi sosial dalam masyarakat yang beragam[33].
Metode partner pada pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama mahasiswi dirasa efektif untuk menumbuhkan kemampuan mahsiswi menjadi pengajar Al-Qur’an karena partnernya dianalogikan sebagai murid yang perlu dikoreksi ketepatan dan kebenaran hafalannya. Seorang partner yang mengoreksi dan membetulkan bacaan temannya telah memiliki teori dan menguasai ilmu mengenai bacaan Al-Qur’an atau tajwid itu sendiri, mengingat bahwa mereka adalah mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab yang selama perkuliahan juga dibekali dengan ilmu Tajwid di salah satu mata kuliahnya. Pembelajaran Al-Qur’an di asrama dapat mereka manfaatkan untuk menimplementasikan teori yang sudah mereka pelajari sebelumnya pada kelas perkuliahan. Data di bulan Juni 2025 yang kami dapatkan pada salah satu ujian tahfidz asrama dengan menghafal 1 juz sekali duduk sebagai berikut :
Figure 2.
Gambar data pencapaian ujian tahfidz mahasiswi asrama bulan Juni dan partnernya
Kegiatan Pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama Mahad Umar bin Al-Khattab dimulai setelah shalat subuh. Kegiatan asrama mahasiswi menyesuaikan jadwal perkuliahan Mahad Umar bin Al-Khattab UMSIDA yang aktif pada siang hingga sore hari, namun selain menyesuaikan jadwal mahasiswi mukim asrama dengan jam perkuliahan, alasan yang lebih utama adalah untuk memperoleh keberkahan waktu fajar dengan Al-Qur’an, Dan dari Abu Umamah ra, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Bacalah Al-Qur'an pada pagi dan petang hari, karena itu akan menjadi saksi bagimu pada hari kiamat.'" (HR. Ahmad). Dari hadits tersebut memiliki intisari bahwa membaca Al-Qur'an setelah sholat shubuh dapat memberikan manfaat bagi seseorang dalam meningkatkan kualitas spiritualnya, meraih keberkahan dan keberlimpahan dalam hidupnya, serta mendapatkan semangat yang tinggi dalam memulai harinya. Anjuran untuk membaca Al-Qur'an setelah sholat shubuh juga terdapat dalam kitab Fathul Qarib karya Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Qurafi Al-Maliki. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa membaca Al-Qur'an setelah sholat shubuh dapat membantu seseorang untuk meraih keberkahan dan keberlimpahan dalam hidupnya, serta memperkuat imannya dan meningkatkan kualitas spiritualnya[34]. Hal ini sesuai dengan tujuan Mahad untuk mencetak generasi dengan kecerdasan intelektual dan spiritual serta akhlaqul karimah. Kegiatan pembinaan pembelajaran Al-Qur’an dilaksanakan selama 2 jam dengan mewajibkan setiap mahasiswi hadir di Aula asrama untuk berdoa bersama dalam halaqoh qur’an tersebut sembari musyrifah melakukan absen kehadiran para mahasiswi mukim dengan tujuan kedisiplinan dan optimalisasi program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an. Metode ini efektif dalam menumbuhkan tanggung jawab, ukhuwah, serta meningkatkan kualitas hafalan. Bahkan, kemampuan mengajar Qur’an ikut terbentuk, karena setiap partner bertindak seakan-akan sebagai guru bagi temannya. Kendala muncul ketika ada perbedaan motivasi antara partner, perbedaan jadwal kuliah, atau masalah komunikasi. Untuk mengatasi hal ini, musyrifah menerapkan rolling partner tiap semester, yang terbukti memperkuat hubungan sosial dan ukhuwah Islamiyah antar mahasiswi.
C.Refleksi dan Evaluasi
Refleksi dan evaluasi dalam pendekatan andragogi berperan penting untuk mengetahui apakah tujuan telah tercapai dan untuk memahami efektivitas pendekatan yang digunakan. Tahap refleksi memungkinkan peserta didik melihat sejauh mana mereka telah mencapai tujuan pembelajaran mereka, serta memahami kekuatan dan kelemahan mereka. Evaluasi ini juga memberikan kesempatan bagi pengajar untuk memperbaiki metode atau materi yang digunakan[35]. Maka kami mewawancarai beberapa mahasiswi mukim pesantren dan mendapati bahwa pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama Mahad Umar bin Al-Khattab memiliki efisiensi yang cukup tinggi dalam membantu menjaga hafalan Al-Qur’an mereka sebelumnya. Di tengah kegiatan mereka yang cukup padat sebagai mahsiswi aktif, terbentuknya lingkungan yang kondusif pada asrama berbasis qur’ani ini, menunjang keilmuan bahasa arab dan Al-Qur’an mereka dengan mengevaluasi hasil ujian akademik kampus setiap semesternya. Dari hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa beberapa dari mahasiswi mukim asrama Mahad Umar bin Al-Khattab dapat menjalankan peran sebagai tenaga pengajar dengan terjun langsung di tengah masyarakat menjadi guru di TPQ, rumah tahfidz, les prifat, dll. Karena Mahasiswa memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan menjadi pengajar seperti guru les di sekitar tempat tinggalnya, atau menjadi mentor bagi anak-anak atau adik kelasnya, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Mereka bisa membantu memahamkan pelajaran, membimbing saat belajar, dan memberi semangat agar peserta didiknya lebih termotivasi untuk belajar. Proses mengajar yang dilakukan mahsiswa ini dapat mengembangkan wawasan, karakter, dan soft skill mahasiswa, sehingga menjadikan mereka lulusan yang berkualitas dan profesional[36]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini memiliki efisiensi tinggi dalam menjaga hafalan mahasiswi. Lingkungan asrama yang kondusif memperkuat keilmuan Qur’ani dan menunjang prestasi akademik di kampus. Walaupun ada kendala berupa ketidakhadiran atau motivasi yang menurun, musyrifah mengatasinya dengan pemberian peringatan dan hukuman ringan agar disiplin tetap terjaga.
Prinsip dan tahapan yang mendasari pembelajaran andragogi menurut Malcolm Knowles yang terakhir adalah Aplikasi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari yakni keefektifan pembelajaran harus dapat diterapkan dalam keseharian orang dewasa karena mereka cenderung lebih termotivasi untuk belajar jika mereka dapat melihat relevansi langsung dari apa yang mereka pelajari terhadap kehidupan mereka. Maka aplikasi pembelajaran dalam konteks nyata sangat penting[30]. Pendekatan andragogi yang berfokus pada keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran menjadi efektif dengan ketrlibatan setiap mahasiswi bersama partnernya ketika kemampuan mereka menjadi pendidik terlibat dan terasah saat menyimak bacaan temannya. Mereka akan mengevaluasi bacaan yang tidak tepat dan memberikan perbaikan sesuai dengan keilmuan Al-Qur’an yang telah mereka dapatkan dan pelajari. Dalam konteks pesantren, pendekatan andragogi dapat membantu mahasiswi untuk lebih memahami dan menghayati pembelajaran Al-Qur'an dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi mereka. Fokus pengulangan ayat atau murojaah di pesantren mahasiswi memperkuat hafalan mereka nantinya kemudian dapat mereka kembangkan dalam ilmu tafsir, tajwid, balaghoh, dll, yang saat ini tengah mereka pelajari juga di bangku perkuliahan. Sehingga penghayatan dan pemahaman keilmuan Al-Qur’an yang lebih menda;am akan mudah meraka dapatkan. Bahkan selain di mempermudah mereka dalam memahami materi pembelajaran di kuliah, pendekatan andragogi pada pembelajaran Al-Qur’an memudahkan mereka untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada peserta didiknya, hal ini dapat dilihat dari keterlibatan beberapa anggota pesantren mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab di beberapa Lembaga Pendidikan Al-Qur’an sekitar Sidoarjo.
Program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama mahasiswi ini secara intensif aktif pada tahun 2023, tergolong masih baru dibandingkan keberadaan Lembaga Pendidikan Mahad Umar bin Al-Khattab itu sendiri. Asrama sempat kosong selama pandemi covid dan mulai aktif kembali pada tahun 2023 dengan mencanangkan program tahfidznya bagi mahasisiwi mukim bersama musyrifah yang juga tinggal di asrama tersebut. Penuturan yang disampaikan oleh musyrifah asrama mengenai program ini yang telah berjalan kurang lebih selama 2 tahun memiliki kelebihan dan kekurangan serta mengalami beberapa evaluasi dan perbaikan. Musyrifah menjalankan peran pertamanya dalam program ini dengan mewawancarai setiap calon mahasisiwi mukim sebagai bagian dari identifikasi karakter dan kemampuan peserta didik dari segala aspek karena pembina asramalah yang membimbing, mengawasi peserta didik, mengidentifikasi karakter peserta didik baik selama berlansungnya kehidupan di asrama ataupun ketika belajar di lingkungan pendidikan atau universitas karena setiap elemennya akan berpengaruh pada pembentukan karakter anak[37]. Dari hasil wawancara yang dilakaukan oleh musyrifah kepada para calon mahasiswi mukim asrama didapati bahwa hampir 90% calon mahasiswi mukim telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan memiliki beberapa bekal hafalan atau bahkan telah selesai menghafal keseluruhan Al-Qur’an, namun ada dari sedikit juga yang perlu bimbingan dari dasar pembinaan pembelajaran Al-Qur’an seperti ilmu tajwid. Informasi kemampuan membaca Al-Qur’an ini menjadi acuan musyrifah untuk kemudian melakukan partnership dalam pelaksanaan program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an. Acuan pada hasil wawancara saja tidak cukup sebagai satu-satunya faktor keberhasilan program, karena partnership dalam program ini juga memiliki kendala ditinjau dari permasalahan dan keluhan yang muncul seperti : 1) Kurangnya motivasi dari salah satu partner sehingga santri yang kurang motivasi enggan untuk melakukan tugasnya, 2) Kesibukan yang berbeda mengingat selain beberapa dari mereka juga berkegiatan sebagai pengajar, 3) Jenjang semester perkuliahan yang berbeda antar partner menimbulkan perbedaan jam kosong menyesuaikan jam perkuliahan dan tugas masing-masing tingkat semester, 4) Selisih paham antar partner / masalah internal, dll. Solusi dari permasalahan yang dihadapi pada partnership ini dengan melakukan rolling partner pada setiap pergantian semester dimaksudkan agar hubungan baik antar anggota asrama dapat terbentuk semakin kuat dan saling mengenal lebih dalam sehingga terjalin ukhuwah Islamiyah, keterikatan karena Al-Qur’an.
Mengetahui bahwa anggota asrama adalah mahasiswi aktif yang memiliki kesibukan dan tugas perkuliahan mengharuskan mereka untuk pandai-pandai membagi waktu agar Al-Qur’an yang telah susah payah mereka hafalkan tidak terbengkalai begitu saja atau malah dianggap sebagai beban karena berkewajiban menyetorkan murojaah setiap harinya, justru mereka harus memahami dan ditanamkan bahwa Al-Qur’an yang telah mereka hafalkan menjadi penunjang keberkahan pada setiap aktifitas mereka, selaras dengan penelitian yang menyatakan bahwa seluruh disiplin ilmu keislaman pada dasarnya bermuara pada sumber utama Islam, yaitu Al-Qur’an. Oleh karena itu, penguasaan atau hafalan Al-Qur’an menjadi alat yang kuat dalam memahami berbagai cabang ilmu keislaman. Bagi peserta didik, hafalan Al-Qur’an memiliki kaitan yang erat dengan pelajaran lainnya. Hal ini dapat membantu mereka dalam menguasai materi ajar di berbagai bidang pelajaran. Kemampuan dalam menghafal Al-Qur’an terbukti berpengaruh besar terhadap prestasi belajar, yang terlihat dari beberapa indikator, seperti minat belajar, motivasi, keaktifan, dan nilai akademik peserta didik[38]. Maka untuk mengantisipasi ketidakhadiran tanpa alasan yang dapat ditolerir dan menjaga kedisiplinan mahasiswi mukim untuk hadir di halaqoh diberlakukan laporan pencapaian harian atau mutabaah oleh musyrifah setiap harinya yang tercatat di dalamnya kehadiran, pencapaian murojaah minimal 5 halaman, dan penyetoran hafalan baru yang tidak diwajibkan. Meskipun hafalan baru tidak diwajibkan pada program ini, musyrifah mengamati bahwa semangat mereka untuk menambah hafalan baru tidak mudah luntur, hal ini dipengaruhi oleh semangat para peserta untuk terus berlomba dalam kebaikan dan lingkungan asrama yang mendukung untuk terus bersahabat dengan Al-Qur’an. Sedangkan untuk peserta yang tercatat absen lebih dari 3 kali akan diberlakukan peringatan kepadanya, kemudian pemberian hukuman. Hasil wawancara dari beberapa mahsiswi mukim menyatakan dan membenarkan bahwa program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama sangat membantu dalam menunjang beberapa mata kuliah di kampus terutama pada mata kuliah tahfidzul Qur’an dan membantu dalam mengasah kompetensi mereka sebagai guru Qur’an yang kompeten.
Selain partnership dan menejemen waktu, musyrifah juga menemukan bahwa faktor motivasi pada setiap individu berpengaruh besar dalam kesuksesan program. Karena Motivasi belajar memiliki dorongan internal dan eksternal yang membuat mahasiswa semangat, fokus, dan serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi biasanya memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan yang kurang termotivasi. Oleh karena itu, motivasi belajar sangat penting dalam upaya meningkatkan hasil belajar mahasiswa, motivasi belajar adalah salah satu bagian penting dalam proses pendidikan. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan motivasi tinggi cenderung memiliki prestasi belajar yang lebih baik. Selaras dengan teori self-determination, yang menyatakan bahwa orang dengan dorongan dari dalam diri lebih mudah memahami materi mahasiswa yang termotivasi biasanya lebih serius dalam mengikuti kuliah, mengerjakan tugas, dan aktif berdiskusi. Motivasi ini tidak hanya datang dari dalam diri, tapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, seperti suasana belajar yang baik, dukungan pengajar atau dosen, dan apresiasi atas keberhasilan yang dicapai[39]. Dalam prakteknya, program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di pesantren mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab menerapkan sistem motivasi dan apresiasi pada setiap mahasiswi mukim dengan cara mengumpulkan semua anggota asrama baik di aula asrama atau di luar asrama seperti alun-alun kota dengan disertai ramah tamah dan game kelompok setiap kurang lebih tiga bulan sekali dengan menyertai di dalam acara tersebut pembekalan motivasi oleh musyrifah asrama dan pemberian hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswi berprestasi berdasarkan penilaian musyrifah melalui buku mutabaah yang dicatat setiap harimya. Penuturan dari musyrifah asrama, adapun kategori yang dinilai dalam pemberian apresiasi ini diantaranya kehadiran, keaktifan, serta perkembangan bacaan dan hafalan. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi para mahsiswi agar tetap mempertahankan prestasi atau bersemangat untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Diharapkan nantinya program ini dapat membentuk pribadi yang kritis dan kompetitif positif.
Maka dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendekatan andragogi dalam program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab yang mulai aktif sejak tahun 2023 dan telah berjalan dua tahun ini memberikan dampak positif terhadap nilai akademik di kuliah, penguatan hafalan, peningkatan kedisiplinan, serta pembentukan karakter religius mahasiswi. Program ini melibatkan di dalamnya proses identifikasi awal melalui kemampuan calon peserta dengan wawancara, pembinaan harian melalui sistem mutabaah, pembentukan partnership antar mahasiswi, serta penerapan sistem motivasi dan apresiasi berkala. Meskipun terdapat kendala seperti perbedaan jadwal kuliah, kurangnya motivasi, dan dinamika kerja sama antar peserta, strategi rolling partner dan pemberian penghargaan dinilai mampu meningkatkan semangat serta keterlibatan aktif peserta. Juga, program ini turut berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik mahasiswi, terutama dalam mata kuliah tahfidzul Qur’an, dan memperkuat kompetensi mereka sebagai pendidik Al-Qur’an yang tengah mereka geluti saat ini. Dengan harapan program pembinaan pembelajaran Al-Qur’an di asrama mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab ini dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan menjadi model pembinaan yang efektif dalam membentuk generasi mahasiswi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga spiritual, kedisiplinan, serta komitmen terhadap nilai-nilai Al-Qur’an, dan dapat menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan sistem yang terstruktur, lingkungan yang kondusif, serta pembinaan yang konsisten diharapkan program ini mampu mencetak calon-calon pendidik dan pemimpin muslimah yang kompeten, berakhlak mulia, dan berkontribusi nyata dalam membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Penerapan pendekatan andragogi dalam pembelajaran Al-Qur’an di Pesantren Mahasiswi Mahad Umar bin Al-Khattab mampu menjawab kebutuhan mahasiswi yang datang dengan latar belakang hafalan dan bacaan berbeda. Prinsip andragogi yang menekankan identifikasi kebutuhan, pemanfaatan pengalaman belajar, serta penetapan tujuan bersama menjadikan program lebih terarah, partisipatif, dan relevan. Fokus utama pada murojaah membuat mahasiswi mampu menjaga hafalan yang sudah dimiliki, meningkatkan kedisiplinan, serta memperkuat keterkaitan antara hafalan dengan mata kuliah akademik seperti tahfidz, tafsir, dan balaghah. Selain itu, mekanisme pelaksanaan berbasis sistem partner, mutabaah harian, serta evaluasi rutin terbukti meningkatkan motivasi dan membangun rasa tanggung jawab bersama. Kendala seperti perbedaan jadwal kuliah atau target yang terlalu tinggi dapat diatasi melalui pendampingan musyrifah, rolling partner, dan pemberian apresiasi. Dengan hasil tersebut, program ini tidak hanya efektif menjaga kualitas hafalan, tetapi juga menumbuhkan karakter religius, kemandirian, dan keterampilan sosial mahasiswi. Model pembelajaran berbasis andragogi ini dapat dijadikan rujukan bagi pesantren mahasiswa lain dalam membangun generasi muslimah yang intelektual, berkarakter, dan berkomitmen menjaga serta mengajarkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Ucapan Terima Kasih
Saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT, juga berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penelitian ini, dan turut serta menyempurnakan narasi penelitian ini. Terimakasih kepada para peneliti, dosen pembimbing, para dosen di FAI Umsida, musyrifah asrama, para mahasiswi mukim asrama, dan semua pihak yang terlibat. Karena tanpa dukungan dan bantuan dari banyak pihak penelitian ini tidak mungkin dapat terselesaikan dan terjadi. Semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penelitian ini. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan dalam mendukung peningkatan kualitas peserta didik dengan Al-Qur’an, khususnya di lingkungan Ma’had Umar bin Al-Khattab demi generasi bangsa yang berakhlak mulia.
P. Febriantania and Istikomah, “Integration of Ma’had Umar Bin Al Khattab Sidoarjo to the Faculty of Islamic Religion, Muhammadiyah University of Sidoarjo, Viewed from the Management Aspect,” 2024, doi: 10.21070/ups.5909.
M. D. Purnama, M. Sarbini, and A. Maulida, “Implementasi Metode Pembelajaran Alquran Bagi Santri Usia Tamyiz di Kuttab Al-Fatih Bantarjati Bogor,” Pros. Al-Hidayah Pendidik. Agama Islam, no. 1, pp. 179–191, 2018.
E. Nurhidin, “Strategi Implementasi Moderasi Beragama M. Quraish Shihab Dalam Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” Kuttab, vol. 5, no. 2, p. 115, 2021, doi: 10.30736/ktb.v5i2.686.
M. A. Ridlo, S. Vera, and E. Ismail, “Studi Tematik Hadis tentang Keutamaan Membaca Al-Quran,” Gunung Djati Conf. Ser., vol. 8, p. 101, 2022.
R. Rumalutur and N. Nurhasanah, “Peran Tenaga Pengajar Dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Al Qur’an di TPQ Al Hijrah 2 Desa Kahena Kec. Sirimau Kota Ambon,” Kuttab J. Ilm. Mhs., vol. 4, no. 1, pp. 45–69, 2022, doi: 10.33477/kjim.v4i1.2920.
H. Khair, “Peran Lembaga Pendidikan Dalam Masyarakat di Era Modern,” Darul Ulum J. Ilm. Keagamaan, Pendidik. dan Kemasyarakatan, vol. 12, no. 2, pp. 24–36, 2021, doi: 10.62815/darululum.v12i2.67.
E. Endang, “Konsep Pendidikan Islam Integral Menurut Mohammad Natsir,” Kuttab J. Ilm. Mhs., vol. 2, no. 2, p. 141, 2022, doi: 10.33477/kjim.v2i2.2568.
S. S. Aslamiyah, “Peran Pondok Pesantren dalam Mencegah Faham Radikalisme di Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Lamongan,” Kuttab, vol. 4, no. 2, 2020, doi: 10.30736/ktb.v4i2.281.
M. Keliobas, “Peran Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadist Dalam Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Pada Peserta Didik Kelas VII di MTs Al-Anshor Ambon,” Kuttab J. Ilm. Mhs., vol. 1, no. 2, p. 11, 2021, doi: 10.33477/kjim.v1i2.2055.
F. Fauziah, “Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan yang Efektif,” Dinamika J. Kaji. Pendidik. dan Keislam., vol. 2, no. 1, pp. 27–51, 2017, doi: 10.32764/dinamika.v2i1.129.
Bakar, “Sinergi Pesantren dan Perguruan Tinggi,” Madrasah, vol. 6, no. 2, pp. 117–150, 2014.
U. Muzayanah, “Sistem Pendidikan Kuttab Al Jazary Sebagai Representasi Pendidikan Islam Klasik,” EDUKASI J. Penelit. Pendidik. Agama dan Keagamaan, vol. 18, no. 2, pp. 186–203, 2020, doi: 10.32729/edukasi.v18i2.763.
R. Abubakar, K. Abunawas, and M. Mas’ud, “Optimalisasi Pendidikan Al-Qur’an Dalam Pengembangan Pendidikan Agama Islam,” Inspiratif Pendidik., vol. 11, no. 1, pp. 207–221, 2022, doi: 10.24252/ip.v11i1.31439.
Kurniati, A. S. Malik, A. Maslachah, H. S. Muchtar, and R. Sulastini, “Pendekatan Andragogi Pada Proses Pembelajaran di Institut,” J. Ilmu Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 46–51, 2022.
S. Wijaya and T. Trisnawati, “Pendekatan Andragogi dalam Menumbuhkan Kesadaran Wajib Belajar Pendidikan Dasar pada Warga Belajar Kelompok Penyanyi Jalanan di Kota Serang,” J. Hermeneut., vol. 7, no. 2, pp. 1–10, 2021.
J. Rahmat, “Efektivitas Pembelajaran Al-Qur’an dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa di MTs. Ma’arif Puro’ro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng,” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Makassar, 2023.
D. P. Atmajayanti, “Pembelajaran Al-Qur’an Bagi Lansia melalui Pendekatan Andragogi di Masjid Ar-Royyan Curah Sawah Umbulsari Jember,” Skripsi, 2022.
Q. Khoirudin, “Implementasi Pendekatan Andragogi dalam Meningkatkan Kompetensi Ibu-Ibu Membaca Al-Qur’an (Studi Kasus di Rumah Syaamil Qur’an Ponorogo),” Dr. Diss., IAIN Ponorogo, pp. 1–126, 2018.
Y. Zamrodah, “Metode Pembelajaran Bagi Orang Dewasa untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an,” Skripsi, 2016.
I. Faidia, “Motivasi Pembelajaran Al-Qur’an dengan Pendekatan Andragogi pada Jamaah Putri Tartilul Quran Kholilullah Genteng Banyuwangi,” Skripsi, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, 2024.
Ardiansyah, Risnita, and M. S. Jailani, “Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan pada Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif,” J. IHSAN J. Pendidik. Islam, vol. 1, no. 2, pp. 1–9, 2023, doi: 10.61104/ihsan.v1i2.57.
D. Mulyana, “Metode Penelitian Kualitatif,” pp. 24–33, 2004.
D. A. Romadlon, A. Bagus, and H. Kurniawan, “Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal di Sekolah Dasar,” Procedia Soc. Sci. Humanit., vol. 3, pp. 678–685, 2022.
R. Rokim, “Implementasi Program Literasi Sebagai Aktualisasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah,” Kuttab, vol. 1, no. 2, 2022, doi: 10.30736/ktb.v1i2.46.
F. T. Rahman and N. Rahminawati, “Implementasi Kurikulum Tahfizh Qur’an di Kuttab At-Taubah Kota Bandung,” Bandung Conf. Ser. Islam. Educ., vol. 4, no. 2, pp. 620–626, 2024, doi: 10.29313/bcsied.v4i2.14286.
E. Syafriyanto, “Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Rekonstruksional Sosial,” Al-Tadzkiyyah J. Pendidik. Islam, vol. 6, p. 14, 2015.
A. Habsy, M. K. V. Wulan, B. P. Syah, and M. S. Ulinnuha, “Komponen Pendidikan: Dasar, Tujuan, dan Implementasi dalam Sistem Pendidikan,” Ilm. Multidisiplin, vol. 2, no. 2, pp. 262–267, 2024.
R. Nofriana and W. Fitriani, “Konsep Pendidikan Andragogi dalam Perspektif Islam,” Qalam J. Ilmu Kependidikan, vol. 12, no. 1, pp. 28–34, 2023, doi: 10.33506/jq.v12i1.2093.
J. Hamidah and A. Syakir, “Implementasi Pendekatan Andragogi Spiritual dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Mandiri Mahasiswa pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Banjarmasin,” Silampari Bisa: J. Penelit. Pendidik. Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, vol. 4, no. 2, pp. 358–372, 2021, doi: 10.31540/silamparibisa.v4i2.1376.
S. Mukharomah, A. Ansori, and N. Widiastuti, “Penerapan Pendekatan Andragogi dalam Meningkatkan Life Skill Masyarakat melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah Kantong Plastik,” Comm-Edu (Community Educ. Journal), vol. 6, no. 1, p. 19, 2023, doi: 10.22460/comm-edu.v6i1.11434.
N. P. Lianingsih and E. Hasanah, “Metode Pembelajaran untuk Meningkatkan Daya Serap Mahasiswa,” Kuttab, vol. 6, no. 1, p. 133, 2022, doi: 10.30736/ktb.v6i1.813.
P. Mahasiswa, F. Agama, I. Universitas, S. Utara, and T. Perbankan, “Yayasan Amanah Nur Aman Yayasan Amanah Nur Aman,” vol. II, pp. 1–8, 2022.
Prayoga, I. S. Permana, and D. Shelvira, “Tata Kelola Hubungan Masyarakat di Lembaga Pendidikan Kuttab,” J. Manaj. Pendidik. Islam Al-Idarah, vol. 6, no. 2, pp. 72–79, 2021, doi: 10.54892/jmpialidarah.v6i02.138.
F. B. Ali and I. Al-Khatib, “Program Tadarus Ba’da Subuh (TABUH) dalam Memotivasi Membaca Al-Qur’an di Pendidikan Nonformal,” J. Kaji. Islam Dan Sos. Keagamaan, vol. 2, no. 3, pp. 524–530, 2025.
L. A. N. I. Kumala, J. Sarjono, and Praptiningsih, “Creativity of Islamic Religious Education Teachers in Forming Students’ Behavior at Kuttab Al Husnayain Surakarta,” Andragogi J. Ilm. Pendidik. Agama Islam, vol. 5, no. 2, pp. 91–103, 2023, doi: 10.33474/ja.v5i2.20402.
M. Nurhadi, T. Pramesti, B. K. A. Martinus, and A. A. E. Tanjung, “Abdi Massa: Jurnal Pengabdian Nasional,” ABDI MASSA J. Pengabdi. Nas., vol. 3, no. 4, pp. 37–48, 2023.
N. Arief, “Pembinaan di Asrama dan Kaitannya dengan Prestasi Santri di SMP Plus Ibnu Khaldun Tanjung Pati Kabupaten Limapuluh Kota,” Skripsi, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, 2018.
Mirhanah, “Pengaruh Hafalan Al-Quran terhadap Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Alquran Hadist Kelas XI MIA.1 MAN 2 Parepare,” AL-ISHLAH J. Pendidik. Islam, vol. 17, no. 1, pp. 1–12, 2019, doi: 10.35905/alishlah.v17i1.983.
Maiyanti and S. Pradikto, “Pengaruh Motivasi dan Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi di Universitas PGRI Wiranegara,” J. Kaji. dan Penelit. Umum, vol. 3, no. 1, pp. 107–114, 2025.