Juni Salmiah (1), Reni Guswita (2), Abdulah (3)
Background (general): Reading comprehension is a key skill in elementary education, yet many students still struggle to understand texts effectively. Background (specific): In Grade V at SDN 106/II Sungai Binjai, difficulties such as limited vocabulary, low comprehension, and weak ability to answer text-based questions were observed. Knowledge Gap: Previous studies have shown positive outcomes of the Cooperative Script model in various contexts, but limited research has focused specifically on its application in Grade V Indonesian language learning. Aims: This study aimed to improve students’ reading comprehension through the Cooperative Script model within a Classroom Action Research framework. Results: Across two cycles, findings revealed improvements in teacher performance (from 77.78% to 94.44%), student activeness (from 61.10% to 100%), and comprehension mastery (from 33.3% to 72.2%). Novelty: This research demonstrates the applicability of Cooperative Script in elementary-level Indonesian language comprehension, filling a contextual gap in existing literature. Implications: The study suggests Cooperative Script can be integrated into primary curriculum design to foster active, collaborative, and deeper comprehension learning.
Cooperative Script improved teacher engagement, student activity, and comprehension mastery
Reading comprehension achievement increased significantly across two research cycles
Cooperative Script fosters collaborative and active learning in elementary classrooms
Cooperative Script, Reading Comprehension, Elementary Students, Collaborative Learning, Indonesian Language
Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia dan digunakan sebagai bahasa nasional. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang harus di ajarkan di sekolah dasar. Hal ini yang merupakan salah satu sebab mengapa pelajaran bahasa Indonesia harus di ajarkan pada semua jenjang pendidikan ,terutama di SD/MI karena merupakan dasar dari semua pembelajaran. Tujuan mata pelajaran tersebut jika di pahami oleh guru akan memberi dampak kepada kegiatan pembelajaran yang mengarah kepada Peserta didik mampu berkomunikasi melalui bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia di arahkan oleh guru untuk Peserta didik mampu memahami dan menggunakan bahasa Indonesia secara Efektif dan Efisien baik lisan maupun tulisan [1].
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik tentang keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan dan fungsinya. Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar Peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien yang mana sesuai dengan etika yang berlaku, baik itu lisan maupun tulisan yang diterapkan, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, menggunakan nya dengan tepat kemudian untuk meningkatkan kemampuan Intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, budi pekerti, serta menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai Khazanah budaya dan intelektual manusia [2]. Membaca merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam sebuah tulisan. Membaca bukanlah sekedar melihat kumpulan huruf yang telah membentuk kata, kalimat paragraf dan wawancara saja melainkan membaca juga merupakan kegiatan memahami dan menginterprestasikan lambang/tanda tulisan yang bermakna sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat diterima oleh pembaca [3].
Penelitian ini tidak hanya menunjukkan efektivitas model Cooperative Script dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas lima di SDN 106/II Sungai Binjai, tetapi juga berpotensi sebagai inovasi pembelajaran yang dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan kurikulum Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar secara lebih luas. Dengan penerapan model ini, diharapkan pembelajaran akan menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan mampu memenuhi kebutuhan kompetensi abad ke-21, sehingga memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pendidikan secara umum.
Membaca Pemahaman merupakan keterampilan membaca yang berbeda pada urutan yang lebih tinggi. Membaca pemahaman adalah membaca secara Kognitif membaca untuk memahami. Dalam membaca pemahaman, pembaca dituntut mampu memahami isi bacaan oleh sebab itu, setelah membaca teks, sipembaca dapat menyampaikan hasil pemahaman membacanya dengan cara membuat rangkuman isi bacaan dengan menggunakan bahasa sendiri dan menyampaikan baik secara lisan maupun tulisan. Menurut [4]. Membaca pemahaman Reading For Understanding adalah sejenis membaca untuk memahami standar-standar atau norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, dan pola-pola fiksi dalam menggunakan strategi tertentu.
Menurut [5] Pada dasarnya Membaca Pemahaman merupakan kelanjutan dari membaca permulaan. Apabila seorang pembaca telah memulai memulai tahap membaca pemahaman atau membaca lanjut. Di sini seorang pembaca tidak lagi dituntut bagaimana ia melafalkan huruf dengan
benar dan merangkaikan setiap bunyi bahasa menjadi bentuk kata, frasa, dan kalimat. Namun dituntut untuk memahami isi bacaan.
Berdasarkan hasil Observasi yang peneliti lakukan pada 20-25 November 2023 di Kelas V SD Negeri 106/II Sungai Binjai dengan wali kelas yang bernama Rosmaida,S.Pd, dalam proses membaca pemahaman Peserta didik tampak kurang memahami apa yang di ajarkan guru, terlihat pada saat proses pembelajaran guru langsung melakukan pembelajaranya. Masalah yang sering ditemui ketika proses pembelajaran dalam membaca pemahaman yaitu kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar yang rendah, rendah nya kosakata yang dimiliki siswa, siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan, siswa mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang berasal dari bacaan.
Pada saat proses pembelajaran model pembelajaran yang digunakan guru sudah efektif, namun peserta didik yang kurang mampu memahami apa yang disampaikan guru dengan menggunakan metode ceramah, sehingga Peserta didik sulit untuk memahami materi yang di sampaikan guru. Disebabkan guru jarang memberikan pertanyaan yang menggali pemahaman Peserta didik dan pembelajaran masih terpusat pada guru. Saat proses pembelajaran, guru langsung melakukan pembelajarannya, saat pembelajaran berlangsung guru meminta Peserta didik membaca secara bergilir, paragraf demi paragraf. dalam menilai keberhasilan Peserta didik, guru meminta Peserta didik menjawab pertanyaan dari cerita yang dibacanya. Hal tersebut menjadi tolak ukur untuk menilai keberhasilan Peserta didik dalam membaca pemahaman, Peserta didik tidak bisa menemukan atau mengungkapkan kembali ide-ide maupun gagasan pokok dari bacaan yang telah di bacanya. Hal tersebut yang membuat hasil belajar Peserta didik berada di bawah KKTP. Berdasarkan hasil pengamatan, ketuntasan minimal (KKTP) yang diterapkan untuk pembelajaran membaca pemahaman adalah 70.Dan terdapat 3 Peserta didik yang belum bisa membaca dan 15 Peserta didik lainnya bisa membaca. Seperti yang dapat dilihat dari nilai Ulangan Harian bahasa Indonesia Peserta didik sebagai berikut:
Sumber Guru Kelas V SDN 106/II Sungai Binjai
Berdasarkan uraian diatas terlihat nilai rata-rata hasil UH Peserta didik masih banyak yang di bawah KKTP (70) sedang nilai paling tinggi yang di peroleh Peserta didik adalah 85, Nilai yang di peroleh Peserta didik paling rendah adalah 55. Berdasarkan tabel di atas terlihat hanya 7 Peserta didik yang tuntas (44%) dan 11 Peserta didik tidak tuntas (56%), maka sudah terlihat dari tabel I di atas bahwa kemampuan membaca Peserta didik pada pembelajaran bahasa Indonesia masih kurang maksimal.
Hal ini menunjukkan bahwa guru kurang memperhatikan seberapa besar ketertiban Peserta didik dalam menerima materi dan minimnya kemampuan Peserta didik pada pembelajaran membaca pemahaman. Agar pembelajaran menjadi aktif dan efisien, maka guru perlu mencari Alternatif dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan membaca Peserta didik yaitu dengan merancang dan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Script
Menurut [6] Model pembelajaran Cooperative Script merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menuntut Peserta didik bekerja secara berpasangan dan bergantian secara lisan dalam memahami materi yang dipelajari. Model pembelajaran Cooperative Script baik digunakan dalam pembelajaran untuk menumbuhkan ide-ide atau gagasan baru (dalam pemecahan suatu permasalahan), daya berpikir kritis serta mengembangkan jiwa keberanian dalam menyampaikan hal-hal baru yang diyakinkan benar [7]. Menurut [8] metode pembelajaran Cooperative Script merupakan belajar di mana Peserta didik bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan dalam mengikthisarkan atau menjelaskan bagian-bagian materi yang di pelajari. Menurut [9] Model pembelajaran Cooperative Script merupakan model pembelajaran yang membiasakan Peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran yaitu Peserta didik berkerja berkelompok dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang di pelajari. Model ini dipilih karena menggabungkan kerja kelompok dengan aktivitas verbal, sehingga mendorong siswa untuk memah ami materi lebih dalam melalui diskusi berpasangan. [6] menyatakan bahwa Cooperative Script mengharuskan siswa untuk bekerja berpasangan dan bergiliran menjelaskan materi. Menurut Suprijono [10], pendekatan ini efektif dalam menumbuhkan keberanian, berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi siswa.
Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji penerapan model pembelajaran Cooperative Script dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman, seperti yang dilakukan oleh Eris Puryanti dan Hidayat dkk. yang menunjukkan hasil positif terhadap keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Namun, penelitian-penelitian tersebut lebih terfokus pada jenjang pendidikan atau materi pembelajaran yang berbeda, sehingga belum secara spesifik mengkaji keefektifan model Cooperative Script dalam pembelajaran membaca pemahaman di kelas V SD dengan konteks materi bahasa Indonesia di SDN 106/II. Penelitian ini menyajikan kebaruan dengan menerapkan dan mengkaji model Cooperative Script secara spesifik pada siswa kelas V SD, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan strategi pembelajaran membaca yang lebih efektif di jenjang SD.
Berdasarkan hasil observasi awal di atas yang dilakukan peneliti di SD Negeri 106/II Sungai Binjai dengan cara membaca secara bergantian maka ada beberapa masalah yang di ungkapkan peserta didik. Masalah tersebut di antaranya adalah Peserta didik merasa jenuh dengan pembelajaran membaca sehingga mereka kurang antusias mengikuti pembelajaran karena teks bacaan yang banyak dan tidak menarik. Selain itu peserta didik memang sudah dapat membaca dengan lancar namun mereka terkadang tidak memperhatikan tanda baca dan jeda dalam membaca. Misalnya tanda baca titik mereka tidak berhenti tapi di lanjutkan begitu saja. Berdasarkan penjelasan di atas model ini dapat digunakan untuk peningkatan keterampilan membaca Peserta didik pada saat proses pembelajaran membaca pemahaman di SD Negeri 106/II Sungai Binjai. Model Cooperative Script merupakan sebuah target yang di gunakan untuk pemahaman Peserta didik. Model ini menuntut Peserta didik berkerja kelompok atau berpasangan karena model ini mendorong Peserta didik untuk lebih memahami apa yang di bacanya.
Penerapan model Cooperative Script pada pembelajaran bahasa Indonesia, diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman Peserta didik menjadi lebih baik.peneliti memfokuskan penelitiadengan judul “Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman Menggunakan Model Cooperative Script pada kelas V SDN 106/II Sungai Binjai.
Jenis penelitian ini peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan (Planning), tindakan (Action), Observasi (Observing) dan refleksi (Reflecting) [11]. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Kusnandar (2018:45), penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti dikelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (Kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kalaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan (Treatment) tertentu dalam suatu siklus [12]. [13] Menyatakan penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan guru dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Hal ini menunjukan bahwa sangat penting bagi guru untuk melakukan PTK.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh [13] diatas/1dapat di simpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu Guruan yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki segala kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung melalui langkah-langkah yang telah direncanakan sesuai dengan prosedur kerja.
Untuk analisis data, data kuantitatif yang diperoleh dari hasil observasi dan tes pembelajaran dianalisis secara deskriptif. Hasil observasi aktivitas guru dan siswa dibagi menjadi tiga kategori: Baik: jika persentase aktivitas mencapai 85% atau lebih. Cukup: jika persentase aktivitas berada pada rentang 70% - 84%. Kurang: jika persentase aktivitas di bawah 70%. Terkait hasil belajar siswa, ketuntasan belajar ditentukan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah, yaitu 70. Siswa dianggap tuntas belajar jika nilai tesnya mencapai atau melebihi 70, dan tidak tuntas jika nilainya di bawah 70.
Selanjutnya, data observasi dan tes dianalisis dengan membandingkan capaian pada Siklus I dan Siklus II untuk mengetahui peningkatan hasil belajar. Analisis ini digunakan untuk menilai efektivitas model Cooperative Script dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa.
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus yang setiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi aktivitas pendidik, dan lembar observasi belajar peserta didik, serta hasil tes akhir belajar setiap akhir siklus.
1. Kegiatan Pembelajaran Aspek Pendidik
Keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran pada umumnya dilihat juga dari pengelolaan pelaksanaan pembelajaran pada kegiatan pendidik. Dalam hal ini terlihat peningkatan dari siklus I ke siklus II, dapat dilihat pada diagram berikut ini:
Figure 1. Rekapitulasi Persentase Pengamatan Aspek Guru dalam penggunaan model Cooperative Script Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan diagram 4.1 dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Cooperative Script telah terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu terbukti dari 77,78%, pada Siklus II sebesar 94,44%. Peningkatan nilai pendidik disebabkan pendidik sudah bisa melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan pembelajaran Cooperative Script sesuai dengan yang diharapkan. Dimana pendidik selalu melihat hasil pelaksanaan yang di nilai oleh observer pada saat selesai pelaksanaan pembelajaran sehingga diketahui letak kekurangan peneliti pada saat proses pembelajaran agar tidak terjadi kesalahan yang serupa untuk pertemuan berikutnya. Dari lembar observasi aktivitas pendidik/ peneliti dapat mengurangi kesalahan dari pertemuan ke pertemuan sehingga terlihat adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II seperti pada diagram 4.1.
2 . Proses Belajar Peserta didik
Figure 2. Hasil Obervasi Peserta Didik
Berdasarkan diagram di atas, ada proses pembelajaran menggunakan Model Cooperative Script di kelas V SDN 106/II Sungai Binjai, terjadi perkembangan yang signifikan antara siklus I dan siklus II. Pada siklus I, persentase keberhasilan proses belajar peserta didik tercatat sebesar 61,10%. Angka ini menunjukkan adanya kemajuan, namun masih terdapat tantangan dalam mencapai pemahaman membaca yang optimal.
Memasuki siklus II, persentase keberhasilan mengalami lonjakan dramatis menjadi 100%. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas yang signifikan dari penerapan Model Cooperative Script dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman peserta didik. Keberhasilan penuh ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya berhasil dalam memahami teks dengan lebih baik tetapi juga menunjukkan pencapaian yang merata di antara mereka.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Model Cooperative Script telah berhasil mengatasi tantangan yang ada pada siklus I, memberikan dampak positif yang signifikan pada proses belajar. Hal ini menunjukkan peningkatan dalam kualitas pembelajaran dan pemahaman peserta didik yang sangat memuaskan.
3. Kemampuan Membaca Pemahaman
Figure 3. Persentase Kemampuan Membaca Pemahaman
Dalam analisis kemampuan membaca pemahaman peserta didik, terdapat perkembangan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, persentase keberhasilan dalam kemampuan membaca pemahaman tercatat sebesar 33,3%. Angka ini menunjukkan bahwa masih terdapat banyak peserta didik yang menghadapi kesulitan dalam memahami teks bacaan secara mendalam.
Namun, pada siklus II, terjadi peningkatan yang substansial dengan persentase keberhasilan mencapai 72,2%. Peningkatan ini mencerminkan kemajuan yang berarti dalam kemampuan membaca pemahaman peserta didik. Proses pembelajaran yang diterapkan, termasuk penggunaan Model Cooperative Script, tampaknya berhasil meningkatkan pemahaman bacaan peserta didik secara signifikan.
Perubahan ini menunjukkan bahwa intervensi dan metode pembelajaran yang diterapkan pada siklus II telah berhasil mengatasi beberapa tantangan yang ada pada siklus I. Dengan demikian, pencapaian 72,2% dalam kemampuan membaca pemahaman menandakan kemajuan yang menggembirakan dan memperlihatkan efektivitas dari strategi pembelajaran yang telah diterapkan.
Peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model Skrip Kooperatif terlihat jelas pada diagram, yang menunjukkan peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar, dari 33,3% pada Siklus I menjadi 72,2% pada Siklus II. Namun, yang lebih penting, perubahan ini mencerminkan dampak pendekatan pembelajaran mendalam. Penerapan Skrip Kooperatif terbukti tidak hanya meningkatkan skor tetapi juga meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami materi bacaan secara komprehensif. Hal ini terlihat dari peningkatan keterampilan siswa dalam mengidentifikasi gagasan utama, meringkas isi bacaan, dan menyatakan kembali gagasan utama dengan kata-kata mereka sendiri. Sejalan dengan teori Vygotsky, interaksi antar siswa dalam diskusi berpasangan menciptakan zona perkembangan proksimal, di mana siswa yang lebih mampu dapat membantu teman sebayanya memahami bacaan. Dalam konteks ini, Cooperative Script menyediakan perancah alami melalui komunikasi verbal dan kolaboratif. Lebih lanjut, hasil ini sejalan dengan temuan [14] yang menyatakan bahwa model Cooperative Script dapat meningkatkan pemahaman siswa melalui diskusi aktif dan pemrosesan informasi verbal. Penelitian [15] juga menunjukkan bahwa model ini efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam memahami teks bacaan. Oleh karena itu, data kuantitatif yang disajikan dalam diagram didukung oleh analisis teoretis dan komparatif dari penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada skor tetapi juga pada kualitas keseluruhan proses belajar siswa.
Meskipun hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterampilan pemahaman membaca siswa melalui penerapan model Cooperative Script, penting untuk mengakui keterbatasan penelitian ini. Penelitian ini hanya dilakukan pada satu kelas dengan jumlah sampel terbatas, yaitu 18 siswa di SDN 106/II Sungai Binjai. Hal ini tentu saja memengaruhi generalisasi hasil penelitian ke konteks yang lebih luas. Lebih lanjut, karakteristik siswa, latar belakang sosial, dan gaya mengajar guru di sekolah lain dapat sangat bervariasi, sehingga efektivitas model ini mungkin tidak sepenuhnya konsisten ketika diterapkan di tempat lain. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk menerapkan model Cooperative Script pada berbagai tingkatan dan lingkungan sekolah, dan dengan jumlah mata pelajaran yang lebih banyak, untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang efektivitas model ini dalam mengajarkan pemahaman membaca.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Cooperative Script dapat meningkatkan keterampilan pemahaman membaca siswa secara signifikan. Temuan ini sejalan dengan pendapat [10] yang menyatakan bahwa Cooperative Script efektif dalam meningkatkan interaksi antar siswa, sehingga memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini memperkuat bukti empiris mengenai manfaat penggunaan model ini dalam proses pembelajaran.
Dengan mempertimbangkan keterbatasan tersebut, hasil penelitian ini tetap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap praktik pembelajaran, namun penggunaannya harus disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan masing-masing sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksankan dalam dua siklus dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Script untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V, maka peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan proses belajar bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 106/II Sungai Binjai. Dimana terjadi peningkatan pada pengamatan pendidik dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan.
2. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN 106/II Sungai Binjai.
3. Berdasarkan peningkatan signifikan dalam keterlibatan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar di setiap siklus, dapat disimpulkan bahwa model Cooperative Script tidak hanya efektif dalam meningkatkan keterampilan pemahaman membaca siswa, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan aktif.
4. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru sebaiknya mempertimbangkan penggunaan model Cooperative Script sebagai strategi alternatif untuk pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya dalam pemahaman membaca. Sekolah juga dapat mengintegrasikan model ini ke dalam program peningkatan mutu pembelajaran sebagai bagian dari upaya pencapaian standar kompetensi minimum.
5. Untuk pelaksanaan yang optimal, sebaiknya guru membekali siswa dengan keterampilan berdiskusi, memberikan arahan peran yang jelas dalam kerja kelompok, dan melakukan refleksi di akhir pembelajaran agar siswa dapat mengevaluasi dan memantapkan pemahamannya.
6. Disarankan agar penelitian selanjutnya menguji penerapan model Skrip Kooperatif di tingkat SMP atau dengan materi bacaan yang berbeda untuk menilai efektivitas dan adaptabilitasnya dalam konteks yang lebih luas. Penelitian lebih lanjut juga dapat mengkaji dampak jangka panjang penggunaan Skrip Kooperatif terhadap keterampilan membaca dan aspek-aspek lain dalam pembelajaran bahasa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Cooperative Script tidak hanya efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa di kelas tertentu, tetapi juga berpotensi menjadi strategi pembelajaran yang dapat diadopsi lebih luas dalam pengembangan kurikulum Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar. Dengan demikian, model ini memberikan kontribusi penting bagi upaya inovasi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan nasional.
Ucapan Terima Kasih
Terselesaikannya penyusunan artikel jurnal ini saya tidak akan bisa melakukan semua ini tanpa ketekunan, doa, dorongan, dan bantuan dari beberapa Oleh karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing atas semua bimbingan dan inspirasi yang telah diberikannya kepada saya. dan revisi bagi penulis untuk menyelesaikan artikel jurnal ini.
E. R. Rufaiqoh, M. A. Yaqin, and M. Yunus, “Pendampingan komunitas lembaga kementrian bahasa dalam pelaksanaan pembelajaran kemahiran berbicara dengan menggunakan metode mubasyarah guna mempermudah dan membiasakan peserta didik dalam berbicara bahasa Arab di lingkungan lembaga kementrian bahasa,” Al-Ijtimā: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 1, no. 2, pp. 116–124, Apr. 2021, doi: 10.53515/aijpkm.v1i2.15.
A. Anjasmara, “Kajian tokoh wayang golek purwa dan pemanfaatannya sebagai bahan ajar dalam menyampaikan pengajaran sastra untuk meningkatkan nilai-nilai budi pekerti peserta didik,” FON: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 12, no. 1, Mar. 2018. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.25134/fjpbsi.v12i1.1532
Novemi, “Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di SDN PANNARA, dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan membaca pada siswa atas nama Muh. Fikram sampai saat ini belum mengenal huruf, belum mampu membaca suku kata, belum mampu membaca kata karena kurangnya minat belajar membaca,” Center for Open Science, Jul. 2022. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.31219/osf.io/83a4q
N. K. Juliantari, “Paradigma analisis wacana dalam memahami teks dan konteks untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman,” Acarya Pustaka, vol. 3, no. 1, p. 12, Dec. 2017. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.23887/ap.v3i1.12732
Dalman, Keterampilan Membaca. Jakarta, Indonesia: PT Raja Grafindo Persada, 2013.
I. Hidayat, et al., “Penerapan model pembelajaran Cooperative Script berbantuan mind map untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar IPS peserta didik kelas V,” Jurnal Pendidikan, vol. 2, no. 4, pp. 562–568, 2017.
E. Puryanti and Maryamah, “Penerapan model Cooperative Script terhadap hasil belajar peserta didik kelas V pada mata pelajaran SKI di Madrasah Ibtidayah Nurul Huda Kabupaten OKU Timur,” Jurnal Ilmiah, vol. 2, Jul. 2015.
A. Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2013.
I. R. Ihsan and R. S. F. Iskandar, “Model pembelajaran penemuan terbimbing tipe MInDS, suatu alternatif model pembelajaran untuk membiasakan peserta didik belajar matematika secara mandiri,” Center for Open Science, Oct. 2018. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.31227/osf.io/2ek9a
A. Suprijon, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2017.
S. Budiono, “Konseling kreatif dan inovasi dalam penelitian tindakan bidang bimbingan dan konseling,” ACTION: Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah, vol. 1, no. 1, pp. 62–68, Jul. 2021, doi: 10.51878/action.v1i1.360.
A. Fadhillah, “Meningkatkan kualitas pembelajaran dalam inovasi pendidikan dengan penelitian tindakan kelas,” Center for Open Science, Mar. 2023. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.31237/osf.io/yk23x
S. Tarwiyah, “Pendampingan pembelajaran berbasis lesson study dan penelitian tindakan kelas dalam rangka optimalisasi kinerja guru mapel bahasa Inggris,” Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan, vol. 16, no. 2, p. 367, Dec. 2016, doi: 10.21580/dms.2016.162.1098.
D. Asiah, “Meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui model pembelajaran Cooperative Script dengan teknik merangkum,” MENDIDIK: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pengajaran, vol. 6, no. 2, pp. 178–184, Oct. 2020, doi: 10.30653/003.202062.139.
Mardewi, “Penerapan model Cooperative Script untuk meningkatkan keterampilan siswa membaca teks eksposisi,” Center for Open Science, Dec. 2019. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.31227/osf.io/nuz6w