Muna Rumbouw (1), Johan Mattinahoru (2), Fransina Sarah Latumahina (3)
General Background: Antioxidants play a crucial role in neutralizing free radicals, which are linked to cellular damage and the onset of various chronic diseases. Specific Background: The exploration of natural antioxidant sources, particularly from endemic Indonesian flora, is gaining momentum due to their therapeutic and ecological value. Knowledge Gap: However, limited research exists on indigenous plants from East Seram, particularly those with traditional use in herbal beverages. Aims: This study investigates the botanical characteristics, processing methods, and antioxidant potential of the Ramadelas tree (Camellia sinensis var. assamica), a culturally significant plant in East Seram. Results: Phytochemical analysis revealed that Ramadelas tea exhibits strong antioxidant activity, with an IC50 value of 87.856 μg/mL. Novelty: This is the first scientific documentation linking the traditional practice of Ramadelas tea consumption with its quantifiable antioxidant capacity. The plant’s cultural narrative—hospitality through “rama” and delicious taste—aligns with its biochemical potential to support health. Implications: These findings support the use of Ramadelas tea as a functional beverage and contribute to the valorization of local biodiversity for nutraceutical development and ethnobotanical conservation.
Highlights:
Strong antioxidant with IC50 value of 87.856 μg/mL.
Traditionally used herbal tea with cultural significance.
Potential for functional beverage and health promotion.
Keywords: Ramadelas Tree, Antioxidant Activity, Herbal Tea, Free Radicals, East Seram
IDENTIFIKASI POHON RAMADELAS (CAMELLIA CINESIS VAR. ASSAMICA) SEBAGAI SUMBER DAUN TEH TRADISIONAL DI DESA ANGAR KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR
Identification of Ramadelas Tree (Camellia Sinensis Var. Assamica) as a Source of Traditional Tea Leaves in Angar Village, East Seram Regency
Muna Rumbouw1, Johan Mattinahoru, Fransina Sarah Latumahina
1Program Studi Magister Manajemen Hutan, Universitas Pattimura, Jl. Ir. M. Putuhena, Ambon, 97233, Indonesia
2Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, Jl. Ir. M. Putuhena, Ambon, 97233, Indonesia
Email Korespondensi : fransina.latumahina@yahoo.com
ABSTRACT
Ramadelas tree (Camellia cinensis var assamica) comes from East Seram, which means Polite and delicious, with the philosophy of entertaining guests with rama and serving tasty, fresh drinks, to make guests feel comfortable. Ramadelas tree (Camellia cinensis var. assamica) is a tree with a height of 10-15 meters, and its leaves are used as herbal tea. Pohin is from the kingdom: Plantae (plants), Division is Spermatophyta (seed plants), Subdivision: Angiospermae (flowering plants), Class is Dicotyledoneae (two-parted plants), Order is Theales (tea nation), Family is Theaceae (tea tribe), Genus is Camellia, Species: Camellia sinensis L. (type of tea), Variety is var. assamica (assam variety). The processing process is also straightforward, from leaf picking-boiling (withering) to sun drying-shredding-brewing-ready for consumption. Based on the results of the antioxidant activity test (IC50) of Ramadelas leaves, the IC50 value has the highest value of 87.856, so Ramadelas tea has potent antioxidant activity and its function is to protect body cells from damage caused by free radicals, to prevent various diseases.
Keywords: ramadelas tree, antioxidants, protect the body, free radicals
ABSTRAK
Pohon Ramadelas (Camellia cinensis var. assamica) berasal dari Seram Timur. Rama Delas yang berarti Sopan dan enak dengan filosifi dalam menjamu tamu dengan rama dan suguhan minuman yang enak dan segar, untuk membuat tamu merasa nyaman. Pohon Ramadelas (Camellia cinensis var. assamica) merupakan jenis pohon yang tingginya 10-15 meter dan daunya dijadikan sebagai teh herbal. Pohon ini berasal dari Kerajaan plantae (tumbuhan), Divisi adalah Spermatophyta (tumbuhan berbiji), Subdevisi: Angiospermae (tumbuhan Berbungan), Kelas: Dicotyledoneae (tumbuhan berkeping dua), Ordo: Theales (bangsa teh) Famili adalah Theaceae (suku teh), Genus: Camellia (Marga Camelia), Spesies: camellia sinensis L. (jenis teh),Varietas yakni var.assamica (varietas assam). Proses pengolahannya juga sangat sederhana yaitu mulai dari pemetikan daun-perebusan (pelayuan)-pengeringan dengan sinar matahari-penghacuran-penyeduhan-siap dikonsumsi. Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan (IC50) dari daun Ramadelas menunjukkan bahwa nilai IC50 memiliki nilai tertinggi 87,856 sehingga teh ramadelas memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dan fungsinya untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan yang disebebkan oleh radikal bebas, sehingga dapat mencegah berbagai penyakit.
Kata Kunci: Antioksidan, perlindungan tubuh, pohon Ramadelas, radikal bebas,
PENDAHULUAN
Pohon Ramadelas (Camellia cinensis var assamica) merupakan jenis pohon yang tingginya 10-15 meter, pengambilan daunnya melalui pemanjatan pohon. Tanaman ini terletak di hutan pada lahan-lahan masyarakat Desa Angar. Menurut masyarakat pohon ramadelas sangat banyak di hutan sehingga pengambilannya tidak susah dan tersedia sepanjang waktu. Proses pengolahannya juga sangat sederhana yaitu mulai dari pemetikan daun-perebusan-pengeringan dengan sinar matahari-penghacuran-penyeduhan-siap dikonsumsi. Warna teh ramadelas agak kemerah-merahan dan baunya cukup harum. Konsumsinya juga bisa ditambahkan sedikit kayu manis dan jahe. Campuran bahan-bahan inilah yang membuat rasa teh ramadelas semakin enak dan mantap. Informasi awal diketahui bahwa teh Ramadelas (Camellia cinensis var. assamica) diproduksi secara rutin oleh masyarakat Desa Angar dan menjadi sumber penghasilan mereka. Setiap rumah tangga mengolah daun teh Ramadelas dan memasarkan ke desa tetangga, Teh alami ini sangat diminati oleh masyarakat Desa Angar maupun masyarakat desa tetangga. Mereka tidak membeli daun teh yang lain karena menurut mereka rasa daun tehnya murni dan enak, lebih mudah diolah dan diproduksi sepanjang masa. Teh Ramadelas (Camellia cinensis var. assemica) sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur melalui kegiatan pameran produk-produk olahan asli Kabupaten. Namun belum seluruhnya masyarakat mengkonsumsi teh Ramadelas secara kontinu. Masyarakat di Kota Kabupaten Bula masih mengandalkan teh celup lainnya. padahal ketersediaan teh Ramadelas (Camellia cinensis var. assamica) cukup banyak. yang apabilla dimanfaatkan dan diolah secara kontinu maka pastinya masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur tidak perlu untuk membeli teh celup lainnya. Untuk menunjang pemanfaatan teh Ramadelas (Camellia cinensis var. assemica) secara kontinu oleh masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur maka teh ini perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui kandungan-kandungan gizi pada Teh Ramadelas.
Teh merupakan minuman yang banyak dikomsumsi oleh semua lapisan Masyarakat karena selain ekonomis, teh juga dianggap dapat memberikan manfaat bagi Kesehatan, karena memiliki kandungan zat bioaktif penangkal radikal bebas dan teh herbal merupakan istilah umum yang digunakan untuk minuman yang bukan berasal dari daun teh Camellia sinensis. Teh herbal banyak terbuat dari berbagai tanaman [1] Antioksidan dapat melawan radikal bebas yang terdapat dalam tubuh, yang dihasilkan dari hasil metabolism tubuh, polusi udara, cemaran makanan, dan sinar matahari [2]. Antioksidan juga berguna untuk mencegah stress oksidatif. Berbagai tanaman yang ada di Indonesia dan sering dikomsumsi terdapat kandungan antioksidan didalamnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui taksonomi pohon ramadelas (Camellia cinensis var. assemica) dan kandungan senyawa antioksidan yang dihasilkan teh ramadelas. [3]
METODE PENELITIAN
a. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian Antioksidan dilakukan di Laboratorium Biokimia, Fakultas Sain dan Teknologi, Universitas Pattimura Ambon pada bulan Januari – Februari 2025 dan identifikasi taksonomi pehon Ramadelas (Camellia cinensis var. assemica) dilakukan di labolatorium Dendrologi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Jogyakarta pada bulan April - Mei 2025
b. Alat dan Bahan. Bahan yang digunakan untuk mengidentifikasi taksonomi yaitu daun, batang, kulit pohon ramadelas, dan DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil). Alat yang yakni buku panduan, kunci identifikasi dan Spektrofotometer .
c.Rancangan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Tunggal dengan 2 perlakuan konsentrasi simplesia ramadelas. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 2 kali sehingga diperoleh 4 satuan percobaan. Perbandingan simplesia ramadelas (1:1)
d. Prosedur Penelitian.
Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan pada ekstrak bahan kering dan segar daun ramadelas. Masing-masing sampel yang akan diuji dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian divortex. Larutan tersebut disentrifuse dengan kecepatan 4000 rpm selama 10 menit untuk memisahkan ekstrak dengan endapan. Selanjutnya 0,05 M larutan 1,1-diphenyl-2picrylhydrazil (DPPH) dalam etanol 95% disiapkan. 0,2 mll dari larutan sampel dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah ditutupi aluminium foil dan ditambahkan dengan 3,8 mL DPPH. Diamkan 30 menit di tempat gelap, kemudian diukur absorbansinya pada Panjang gelombang 517 nm. Masing-masing aktivitas penghambatan sampel yang diuji dihitung menurut persamaan:
% inhibisi = Absorbansi blanko – absorbansi sampel / absorbansi blanko x 100%
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Identifikasi Jenis Tumbuhan
Identifikasi jenis tumbuhan adalah proses menentukan nama dan klasifikasi suatu tumbuhan berdasarkan karakteristik Taksonomi, morfologi, anatomi, dan molekuler. Taksonomi Camellia sinensis var. assamica sebagai berikut:
1.Kerajaan: plantae (Tumbuhan)
2.Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
3.Subdevisi: Angiospermae (Tumbuhan Berbungan)
4.Kelas: Dicotyledoneae (Tumbuhan berkeping dua)
5.Ordo: Theales (bangsa Teh)
6.Famili: Theaceae (suku Teh)
7.Genus: Camellia (Marga Camelia)
8.Spesies: camellia sinensis L. (Jenis Teh)
9.Varietas: var.assamica (Varietas assam)
Gambar 1. Camellia sinensis L.
Ciri-ciri Umum dapat dilihat pada tabel 1 Dibawah ini:
Tabel 1. Morfologi Tumbuhan Ramadelas ( Camellia cinensis var.assamica)
No.Nama Bagian PohonGambar
1Daun Tunggal, bersusun, lebih besar dan tebal, berbentuk lonjong, Ukuran Panjang 10 cm, lebar 2–5 cm. Permukaan licin, warna hijau tua, tepi rata atau sedikit bergerigi, pangkal daun tumpul
2Bunga berwarna putih kekuningan, baunya wangi
s3Buah bulat kecil, berwarna hijau,kekuningan dan berdiameter 1-2 cm
4Batang berwarna hijau kecoklatan dan bercabang banyak, bergetah putih susu Kulit mengandung serat
5Akar tunggang, warna akar putih kecoklatan
b. Skrinning Fitokimia Daun Ramadelas
Tabel 2. Hasil uji skrining fitokimia daun Ramadelas (Camellia cinensis var.assamica)
No.Parameter UjiHasil UjiPengamatan Hasil Positif
TK1 TK2 TB1 TB2
1Saponin__++Terdapat busa
2Tanin ____Terbentuk warna hijau kehitaman
3Alkaloid++++Terbentuk watnah merah kecoklatan
4Flavonoid__++Terbentuk warna kuning
5Steroid____Terbentuk cicin ungu
6Triterpenoid__++Terbentuk warna biru
Keterangan
TK1 = Teh Kering 1
TK2 = Teh Kering 2
TB1 = Teh Basah (segar) 1
TB2 = Teh Basah (segar) 2
Hasil analisi tabel diatas diketahui bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi hasil uji fitokimia positif atau negative antara lain:
1.Jenis sampael, berbagai jenis taanaman atau sampel dapat memiliki kandungan fitokimia yang berbeda-beda.
2.Metode ekstrak yang digunakan dapat mempengaruhi hasil
3.Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya
4.Kualitas sampel yang digunakan dapat mempengaruhi uji fitokimia.
5.Metode analisis
Dari tabel hasil pengujian fitikimia diatas dapat dilihat bahwa ada empat senyawa yang terditeksi positif yaitu: saponi, alkaloid, flavonoid, terpenoid yakni
1. Teh Kering1,2(TK1,TK2) mengandung senyawa alkaloid yang berfungsi untuk pengobatan berbagai penyakit seperti malaria, kenker, dan sakit kepala. [4]
2.Teh Basah / segar (TB1,TB2) mengandung senyawa saponin, alkaloid, flavonoid, triterpenoid dimana saponin berfungsi untuk mengobati infeksi, sedangkan alkaloid berfungsi untuk pengobatan malaria, kanker, sakit kepala dan Flavonoid memiliki sifat antioksidan dan dapat melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, serta Triterpenoid berfungsi untuk mengobati peredangan, infeksi, dan kanker.
Daun teh segar mengandung polifenol rata-rata sekitar 36%, 25% karbohidrat, 15% protein, 6,5% lignin, 5% abu, 4% asam amino, 2% lipid, 1,5% asam organik, 0,5% klorofil, serta karotenoid dan berbagai zat lainnya dalam jumlah kurang dari 0,1%.[5] Polifenol mencakup 18-36% dari berat kering teh dan terdapat dalam bentuk glikosida atau aglikon bebas. Polifenol utama yang ditemukan dalam teh adalah flavonoid dan asam fenolik. Di antara flavonoid, katekin membentuk 12-24% dari berat kering teh, flavonol 3-4%, dan antosianidin 2-3% dan Polifenol yang melimpah dalam teh hitam memberikan berbagai manfaat kesehatan yang signifikan. Di antara polifenol ini, katekin merupakan komponen utama dengan konsentrasi tertinggi. Katekin yang paling penting meliputi epigallocatechin gallate (EGCG), epigallocatechin (EGC), epicatechin gallate (ECG), dan epicatechin (EC). [6] Selain itu, terdapat katekin dalam jumlah lebih kecil seperti gallocatechin, epigallocatechin digallate, 3-methylepicatechin gallate, catechin gallate, dan gallocatechin gallate. [7] Kandungan katekin dalam daun teh bervariasi sesuai dengan usia daun tersebut. Umumnya, kandungan katekin dalam teh hitam lebih tinggi dibandingkan dengan teh hijau
C. Antioksidan Daun Ramadelas
Tabel 3. Hasil uji antioksidan daun Ramadelas berdasarkan IC50
SampelKonsentrasiAbsorbansi% InhibisiIC50
TK1100,69116,141
52,489
200,65320,752
300,54034,466
400,48141,626
500,44446,117
Blanko0,824
TK2100,61325,607
56,866
200,60526,578
300,54334,102
400,50738,471
500,42648,301
TB1100,7597,888
78,014
200,71213,592
300,65820,146
400,61425,485
500,55133,131
TB2100,59627,670
87,856
200,56831,068
300,54833,495
400,52436,408
500,50139,199
Daun ramadelas kering memiliki nilai IC50 yang lebih rendah, berarti memiliki nilai aktivitas antioksidan yang tinggi. Sedangkan daun ramadelas basah (mentah) memiliki nilai IC50 yang tinggi, berarti memiliki nilai antioksidan yang rendah. Hal ini ditunjukkan keberadaan senyawa fenolik pada daun ramadelas. Nilai aktivitas antioksodan yang tinggi dipengaruhi oleh kandungan fenolik pada sampel, jika semakin tinggi maka aktivitas aktioksidannya juga makin tinggi yang ditunjukkan dengan nilai IC50 [8]Senyawa golongan fenol pada daun ramadelas memiliki aktivitas antioksidan yang dapat mencegah radikal bebas di dalam tubuh sehingga system pertahanan tubuh semakin baik. Antioksidan yang terdapat dalam bahan pangan berfungsi dalam mencegah atau menghambat terjadinya kerusakan sel dalam tubuh akibat radikal bebas. [9]
Senyawa metabolit sekunder pada daun ramadelas Basah (mentah) memiliki aktivitas antioksidan yang rendah. Hal ini menunjukkan radikal bebas yang dapat dicegah di dalam tubuh juga rendah. Jika aktivitas antioksidan tinggi maka radikal bebas yang dapat dicegah juga semakin tinggi. Senyawa fenol dapat menangkal radikal bebas.[8] Hal ini mengingat penangkapan radikal bebas DPPH dipengaruhi oleh gugus OH yang terdapat dalam senyawa fenolik dan mampu menangkap radikal bebas makin kuat jika gugus hidroksil yang tersubstitusi dalam molekul meningkat sehingga makin banyak atom hidrogen yang didonorkan. [10]
Dari hasil sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan nyata pada nilai IC50 terhadap aktivitas antioksidan yang dihasilkan berkisar 52,489, 56,866, 78,014 dan 87,856. Nilai IC50 yang rendah pada sampel teh kering (TK1, TK2) sedangkan nilai IC50 yang tertinggi pada sampel teh basah (TB1, TB2), sehingga teh kering memiliki aktivitas antioksidan lebih kuat dibandingkan dengan teh basah yang lebih rendah.[11] Aktivitas antioksidan yang kuat berfungsi untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan, mengurangi inflamasi, mencegah penyakit krinis, mengurangi strae oksidatif, dan meningkatkan Kesehatan kulit. Manfaat aktivitas antioksidan yang kuat yaitu meningkatkan kualitas hidup, mengurangi resiko penyakit, meningkatkan fungsi tubuh dan memperbaiki keseimbangan oksidatif dalam tubuh. [12]
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Pohon Ramadelas (Camellia cinensis var.assamica) adalah salah satu tumbuhan yang berbentuk perdu atau pohon dari famili Theaceae yang memiliki fitokimia dengan senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, dan triterpenoid ini sudah melalui uji laboraturium dan senyawa aktif dalam teh ramadelas berfungsi pada tubuh manusia untuk pengobatan berbagai penyakit seperti malaria, kenker, sakit kepala, infeksi, peredangan dan juga terdapat aktivitas antioksidan (IC50) dihasilkan berkisar 52,489, 56,866, 78,014 dan 87,856, sehingga tergolong kuat. Berfungsi untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan sel, mengurangi inflamasi, mencegah penyakit krinis, mengurangi strae oksidatif, dan meningkatkan Kesehatan kulit. Manfaat aktivitas antioksidan yang kuat juga dapat meningkatkan kualitas hidup, mengurangi resiko penyakit, meningkatkan fungsi tubuh dan memperbaiki keseimbangan oksidatif dalam tubuh sehingga Teh dengan bahan dasar daun ramadelas layak menjadi pilihan minuman segar yang memberi dampak Kesehatan bagi tubuh manusia.
Daftar Pustaka
[1]Y. Mutia and L. Trimo, “Beberapa Faktor Penyebab Ketidaksesuaian Proses Produksi Teh Hitam Orthodox Di Pabrik Xyz,” J. Agroindustri, vol. 9, no. 2, pp. 83–93, 2019, [Online]. Available: https://ejournal.unib.ac.id/index.php/agroindustri
[2]H. Dewiansyah, R. M. D. Ujianti, R. Umiyati, and F. Nurdyansyah, "STUDI PEMBUATAN TEH CELUP DARI DAUN KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) (KAJIAN VARIASI SUHU PENYANGRAIAN DAUN UMUR DAUN),” Pro Food, vol. 8, no. 2, pp. 50–59, 2022, doi: 10.29303/profood.v8i2.197.
[3]Z. H. Fadhilah, F. Perdana, and R. A. M. R. Syamsudin, “Review: Telaah Kandungan Senyawa Katekin dan Epigalokatekin Galat (EGCG) sebagai Antioksidan pada Berbagai Jenis Teh,” J. Pharmascience, vol. 8, no. 1, p. 31, 2021, doi: 10.20527/jps.v8i1.9122.
[4]Irfan Fadhlurrohman, Cahya Wulandari, and Muhammad Razan Assaqthi Al-Ryadhi, “Diversifikasi Produk Susu Fermentasi dengan Pemanfaatan Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) sebagai Inovasi Pangan Fungsional: Review,” Pros. Semin. Nas. Pembang. Dan Pendidik. Vokasi Pertan., vol. 4, no. 1, pp. 363–374, 2023, doi: 10.47687/snppvp.v4i1.659.
[5]U. Kulsum, N. Qomariah, and A. Wulandari, “Application of Appropriate Technology for the Making of Orange Peels Dyed Tea as a Diversification of Agriculture," Agriovet, vol. 2, no. 2, pp. 49–58, 2020.
[6]I. Fadhlurrohman and J. Susanto, "Functional Food Innovation Based on Fermented Milk Products with Fortification of Various Types of Tea: A Review," JITIPARI (Jurnal Ilm. Teknol. dan Ind. Pangan UNISRI), vol. 9, no. 1, pp. 101–114, 2024, doi: 10.33061/jitipari.v9i1.10221.
[7]M. N. Britany and L. Sumarni, “Pembuatan Teh Herbal Dari Daun Kelor Untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Selama Pandemi Covid-19 Di Kecamatan Limo,” Pros. Semin. Nas. Pengabdi. Masy. LPPM UMJ, pp. 1–6, 2020, [Online]. Available: http://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaskat
[8]J. Kamczyc, M. K. Dyderski, and P. Horodecki, "Mite Communities ( Acari, Mesostigmata ) in the Initially Decomposed 'Litter Islands' of 11 Tree Species in Scots Pine ( Pinus sylvestris L .) Forest,” 2019.
[9]N. Artanti, Y. Ma’arifa, and M. Hanafi, “Isolation and identification of active antioxidant compound from star fruit (Averrhoa carambola) mistletoe (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.) ethanol extract,” Journal of Applied Sciences, vol. 6, no. 8. pp. 1659–1663, 2006. doi: 10.3923/jas.2006.1659.1663.
[10]S. Achat, N. Rakotomanomana, K. Madani, and O. Dangles, “Antioxidant activity of olive phenols and other dietary phenols in model gastric conditions: Scavenging of the free radical DPPH and inhibition of the haem-induced peroxidation of linoleic acid,” Food Chem., vol. 213, pp. 135–142, 2016, doi: 10.1016/j.foodchem.2016.06.076.
[11]D. Q. ’Aini, N. A. A. Sjakoer, and N. J. Mubarakati, “POTENTIAL OF ENDOFITING FUNGALE EXTRACT FROM THE LEAVES OF MANGO PARASITE (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq) AS ANTIOXIDANTS,” J-PEN Borneo J. Ilmu Pertan., vol. 6, no. 1, pp. 41–49, 2023, doi: 10.35334/jpen.v6i1.3548.
[12]M. Fajriyah, A. Nirmalawaty, D. A. Rosida, and T. W. S. Panjaitan, “PEMBUATAN TEH HERBAL DENGAN BAHAN BAKU DAUN GINSENG JAWA (Talinum paniculatum), ROSELLA (Hibiscus sabdariffa) DAN SERAI (Cymbopogon citratus),” Agroteksos, vol. 34, no. 1, p. 242, 2024, doi: 10.29303/agroteksos.v34i1.1100.
[1] Y. Mutia and L. Trimo, “Causative Factors of Incompatibility Production Process of Orthodox Black Tea in XYZ Factory,” J. Agroindustri, vol. 9, no. 2, pp. 83–93, Jul.–Nov. 2019.
[2] H. Dewiansyah, R. M. D. Ujianti, R. Umiyati, and F. Nurdyansyah, “Study of Tea Bag Production from Robusta Coffee Leaves (Coffea canephora): Variations in Roasting Temperature and Leaf Age,” Pro Food: J. Ilmu dan Teknol. Pangan, vol. 8, no. 2, pp. 50–59, Nov. 2022, doi: 10.29303/profood.v8i2.197.
[3] Z. H. Fadhilah, F. Perdana, and R. A. M. R. Syamsudin, “Review: Analysis of Catechin and Epigallocatechin Gallate (EGCG) as Antioxidants in Various Types of Tea,” J. Pharmascience, vol. 8, no. 1, p. 31, 2021, doi: 10.20527/jps.v8i1.9122.
[4] I. Fadhlurrohman, C. Wulandari, and M. R. A. Ryadhi Al‑Ryadhi, “Diversification of Fermented Milk Products Utilizing Cinnamon (Cinnamomum burmannii) as Functional Food Innovation: A Review,” in Proceedings of the National Seminar on Development and Vocational Education, vol. 4, no. 1, pp. 363–374, 2023, doi: 10.47687/snppvp.v4i1.659.
[5] U. Kulsum, N. Qomariah, and A. Wulandari, “Application of Appropriate Technology for Making Orange‑Peel Dyed Tea as Agricultural Diversification,” Agriovet, vol. 2, no. 2, pp. 49–58, 2020.
[6] I. Fadhlurrohman and J. Susanto, “Functional Food Innovation Based on Fermented Milk Products Fortified with Various Types of Tea: A Review,” JITIPARI (J. Ilm. Teknol. dan Ind. Pangan UNISRI), vol. 9, no. 1, pp. 101–114, 2024, doi: 10.33061/jitipari.v9i1.10221.
[7] M. N. Britany and L. Sumarni, “Production of Herbal Tea from Moringa Leaves to Improve Immune Resistance during the COVID‑19 Pandemic in Limo District,” in Proceedings of the National Seminar on Community Service, LPPM UMJ, 2020, pp. 1–6.
[8] J. Kamczyc, M. K. Dyderski, and P. Horodecki, “Mite Communities (Acari: Mesostigmata) in Initially Decomposed ‘Litter Islands’ of 11 Tree Species in Scots Pine (Pinus sylvestris L.) Forests,” Bioflux, vol. 10, pp. 710–722, 2019.
[9] N. Artanti, Y. Ma’arifa, and M. Hanafi, “Isolation and Identification of Active Antioxidant Compound from Star Fruit (Averrhoa carambola) Mistletoe (Dendrophthoe pentandra) Ethanol Extract,” J. Appl. Sci., vol. 6, no. 8, pp. 1659–1663, 2006, doi: 10.3923/jas.2006.1659.1663.
[10] S. Achat, N. Rakotomanomana, K. Madani, and O. Dangles, “Antioxidant Activity of Olive Phenols and Other Dietary Phenols under Simulated Gastric Conditions: DPPH Scavenging and Inhibition of Haem‑Induced Peroxidation of Linoleic Acid,” Food Chem., vol. 213, pp. 135–142, 2016, doi: 10.1016/j.foodchem.2016.06.076.
[11] D. Q. ’Aini, N. A. A. Sjakoer, and N. J. Mubarakati, “Potential of Endophytic Fungal Extract from Leaves of Mango Parasite (Dendrophthoe pentandra) as Antioxidants,” J‑PEN Borneo: J. Ilmu Pertan., vol. 6, no. 1, pp. 41–49, 2023, doi: 10.35334/jpen.v6i1.3548.
[12] M. Fajriyah, A. Nirmalawaty, D. A. Rosida, and T. W. S. Panjaitan, “Herbal Tea Production from Java Ginseng (Talinum paniculatum), Roselle (Hibiscus sabdariffa) and Lemongrass (Cymbopogon citratus),” Agroteksos, vol. 34, no. 1, p. 242, 2024, doi: 10.29303/agroteksos.v34i1.1100.
[13] I. Nuryana, R. C. Astari, and M. A. Alamsyah, “Catechin Contents, Antioxidant and Antibacterial Activities of Different Types of Indonesian Tea (Camellia sinensis),” Asian Journal of Agriculture and Biology, vol. 9, no. 2, pp. 214–223, 2021, doi: 10.35495/ajab.2020.11.591.
[14] N. Riski, R. Rambe, and L. Ardi, “Risk Analysis of Black Tea Production Process in PTPN IV Bah Butong Plantation, Simalungun District,” Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, vol. 7, no. 2, pp. 165–172, 2023, doi: 10.14710/agrisocionomics.v7i2.17055.
[15] S. Ramadhani, R. E. Putri, and E. Yulianti, “Characterization of Fermented Tea from Aquilaria malaccensis Leaves Using Lactobacillus plantarum,” Indonesian Journal of Pharmaceutics and Science Technology, vol. 2, no. 1, pp. 45–52, 2022, doi: 10.24198/ijpst.v2i1.38426.