Edi Purwanto (1), Hana Catur Wahyuni (2)
General Background Modernization introduces foreign cultural influences that threaten indigenous moral traditions, making school culture vital for sustaining positive educational environments and student behavior. Specific Background An Nahl Islamic Primary School in Sidoarjo actively promotes a 5S culture—Smile, Greet, Acknowledge, Polite, and Courteous—as part of its core strategy to build a positive atmosphere and counter limited infrastructure. Knowledge Gap Although literature confirms the theoretical benefits of positive environments, quantitative studies measuring the direct statistical correlation between specific 5S cultural implementation and the dual outcomes of academic achievement and moral development remain limited. Aims This study investigates the statistical correlation of implementing the 5S culture on the formation of noble character and student achievement. Results Utilizing a quantitative survey methodology with saturated sampling of thirteen teachers, a one-way ANOVA test accompanied by normality testing confirmed a significant correlation. Data analysis yielded a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a substantial variance between the observed groups. Novelty The research quantitatively maps how highly specific traditional interaction norms directly stimulate dual enhancements in both measurable academic outcomes and holistic character formation within an Islamic elementary context. Implications Implementing the 5S culture provides a fundamental, low-cost strategic framework for educational institutions aiming to foster excellent academic motivation and continuous moral development among students despite resource limitations.
Highlights:
A one-way ANOVA test yielded a significant value of 0.000, confirming the direct correlation of cultural norms.
The 5S culture actively shapes positive environments that stimulate both academic performance and strong ethical behavior.
Consistent implementation of simple interaction norms provides an effective framework for holistic student development.
Keywords: 5S Culture, Noble Character, Student Achievement, Islamic Primary School, Educational Quality
Di era modernisasi ini, ada kekhawatiran bahwa budaya asli Indonesia mulai memudar karena pengaruh budaya asing. Sangatlah penting untuk melestarikan budaya nenek moyang bangsa kita. Budaya diartikan sebagai adat istiadat yang ada di masyarakat. Dalam hal budaya sekolah, hal ini mengacu pada tradisi dan norma yang ditemukan di sekolah, yang dibentuk dan dipelihara melalui kepemimpinan sekolah dan guru. “Budaya memiliki dampak yang signifikan dalam menegakkan dan menjaga struktur organisasi, seperti lembaga pendidikan. Budaya institusi mencerminkan dedikasi dan prinsip-prinsip etis yang dianut oleh organisasi.”.[1] Upaya untuk membangun budaya sekolah merupakan bagian penting dalam mencapai pendidikan yang berkualitas tinggi sebagai upaya penjaminan mutu pendidikan yang independen dan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas prosedur dan hasil pendidikan. Bertujuan agar penerapan budaya di dalam institusi pendidikan dan pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan yang independen dan berkelanjutan dapat menghasilkan pendidikan berkualitas tinggi yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.[2].
Budaya sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan. Budaya sekolah yang positif dapat menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan kondusif bagi siswa dan guru. Dalam budaya sekolah yang positif, siswa dan guru saling menghormati, bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan pendidikan. Begitu juga sebaliknya, jika budaya sekolah yang negatif dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dan kinerja guru, dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak nyaman, tidak aman, dan tidak kondusif bagi siswa dan guru. Dalam budaya sekolah yang negatif, siswa dan guru mungkin merasa tidak dihargai, tidak mendapat dukungan dari rekan mereka, dan kurang termotivasi untuk belajar atau mengajar. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk membangun budaya sekolah yang positif. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti mempromosikan nilai-nilai positif, seperti saling menghormati, saling bekerja sama, dan saling mendukung, dan mengadopsi praktik-praktik yang mendukung lingkungan belajar yang positif. Selain itu, penting juga bagi sekolah untuk memastikan bahwa semua anggota sekolah, termasuk guru dan siswa, mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam budaya sekolah tersebut.[3].
Lingkungan sekolah memainkan peran penting dalam pembentukan akhlak siswa, yang mencakup kematangan mental, kondisi fisik, serta kehidupan sosial siswa di sekolah. Faktor-faktor seperti tenaga pengajar, staf, kurikulum, dan metode pengajaran juga perlu diperhatikan secara serius untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akhlak yang baik. Menurut Imam al-Ghazali berpendapat bahwa "Akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang melahirkan tindakan-tindakan mudah serta gampang dilakukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan". Muhammad Ibn 'Ilan al-Sadiqi juga berpendapat bahwa "Akhlak merupakan suatu kebiasaan atau pembawaan yang tertanam dalam diri, yang dapat mendorong (seseorang) berbuat baik dengan gampang".[4]
Moral berfungsi sebagai dasar fundamental untuk membentuk manusia seutuhnya. Langkah utama yang harus dilakukan adalah memberikan pendidikan yang menumbuhkan individu yang bermoral. Proses pembinaan akhlak di lembaga pendidikan harus dilaksanakan secara konsisten dan terencana agar para siswa dapat membudayakan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak merupakan salah satu dari tiga pilar penting dalam ajaran Islam. Aqidah, syariah, dan akhlak saling berkaitan dan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Akhlak merupakan hasil yang diperoleh dari penerapan aqidah dan syariah. Ibarat sebuah bangunan, akhlak merupakan sentuhan akhir setelah memastikan fondasi dan struktur yang kuat. Oleh karena itu, mustahil seseorang dapat mewujudkan akhlak yang baik tanpa memiliki aqidah yang kokoh dan ketaatan pada syariah.[5]
Peserta didik merupakan subjek dan objek yang memerlukan bimbingan orang dewasa khususnya guru untuk mencapai potensi dirinya dan mengembangkannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Melalui pembinaan akhlak terus menerus secara bertahap, akhlak peserta didik akan dapat berkembang lebih baik. Moralitasnya berubah menjadi lebih baik karena siswa dipengaruhi oleh unsur sekolah yaitu guru yang harus memiliki empat kompetensi utama yang akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam mendidik akhlak siswa. Karena guru juga merupakan tokoh sentral dan panutan bagi siswanya dalam segala tingkah laku dan perkataannya yang akan ditiru oleh siswanya. Jadi guru harus memiliki kepribadian. Dari hasil penelitian Nada Shofa Lubis ditunjukkan bahwa lingkungan sekolah berpengaruh positif terhadap akhlak siswa sebesar 26,9%, kompetensi guru berkontribusi positif terhadap akhlak siswa sebesar 38,4%, mutu pendidikan berpengaruh positif terhadap akhlak siswa sebesar 36,19%, dan lingkungan sekolah, kompetensi guru dan mutu pendidikan berpengaruh positif (49,4%) terhadap akhlak siswa di sekolah.[6]
Akhlak siswa dapat dibentuk dengan budaya sekolah yang dikembangkan melalui pendidikan, khususnya pendidikan Islam, yang mencakup kegiatan dan program yang bertujuan untuk menanamkan budaya Islam pada siswa. Budaya tersebut adalah budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (5S) merupakan bagian dari pendidikan karakter berbasis Islam yang diterapkan di sekolah. Memulai interaksi positif dengan senyuman itu penting. Dalam konteks agama, senyuman dipandang sebagai bentuk amal, yang berkontribusi pada pengembangan kepribadian yang ramah, murah hati, dan penuh kasih. Siswa diinstruksikan untuk menyapa teman-teman mereka dengan senyuman, yang menandakan sikap penerimaan, kebaikan, dan kehangatan. Memberi salam adalah praktik yang sangat dianjurkan dalam agama. Di lingkungan sekolah, tindakan menyapa orang lain adalah bagian dari menunjukkan kedisiplinan dan rasa hormat. Baik guru maupun siswa didorong untuk memberikan salam dengan tulus dan sopan, sehingga dapat membina hubungan yang kuat antara individu dan kelompok. Salam, ucapan yang sopan, dan hemat dalam berkata-kata merupakan aspek integral dari budaya religius. Siswa diajarkan untuk berkomunikasi dengan sopan, menahan diri untuk tidak menggunakan bahasa yang kasar atau menyakitkan, dan terlibat dalam komunikasi yang efektif dan bertanggung jawab. Kesopanan, etika, dan perilaku yang baik sangat dihargai di semua agama. Di lingkungan sekolah, siswa dididik untuk menunjukkan kesopanan dalam interaksi sehari-hari, termasuk mengungkapkan rasa terima kasih, meminta maaf, dan menunjukkan rasa hormat kepada guru dan teman sebaya. Perilaku sopan santun merupakan cerminan dari nilai-nilai moral yang diajarkan dalam agama. Sebagai bagian dari program 5S, siswa dibimbing untuk bersikap sopan, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama.[7]
“Tersenyum merupakan salah satu bentuk ibadah, karena orang biasanya tersenyum ketika mereka merasa gembira. Senyuman adalah manifestasi diam dari tawa yang menyampaikan kebahagiaan, kegembiraan, kebaikan, dan banyak lagi melalui pengangkatan bibir yang lembut. Kekuatan senyuman dapat melenyapkan permusuhan, menyembuhkan penyakit, memperkuat ikatan persaudaraan, dan meredakan luka emosional.” Mengenai salam, salam memainkan peran penting dalam meningkatkan persaudaraan. Ketika seseorang mengucapkan salam yang tulus, lingkungan menjadi lebih ramah dan terasa kekeluargaan. Salam bertindak sebagai metode untuk menyapa orang lain. Menawarkan salam dapat memfasilitasi undangan untuk terlibat dalam percakapan. Salam dapat membantu seseorang untuk terhubung pada tingkat yang lebih dalam, menjangkau satu sama lain, dan berinteraksi. Menyapa orang lain dengan sopan adalah praktik atau tradisi yang diwariskan dan dikembangkan dalam budaya masyarakat, yang membantu dalam bersosialisasi untuk menciptakan rasa keakraban, pengertian, dan saling menghormati berdasarkan adat istiadat yang telah ditetapkan. Sejalan dengan hal tersebut, tata krama atau unggah ungguh bahasa Jawa mencakup cara seseorang berperilaku saat berbicara dan sifat tuturan itu sendiri.[8] Asmaun Sahlan (2010: 116) menyatakan bahwa senyum, salam, dan isyarat penyambutan dalam konteks budaya mengindikasikan bahwa tindakan-tindakan tersebut dapat menumbuhkan kedamaian, kesantunan, saling menghargai, dan toleransi di antara anggota masyarakat.[9]
“Budaya sekolah dapat mempengaruhi moral dan juga meningkatkan kinerja siswa. Para ahli memiliki definisi yang berbeda-beda mengenai prestasi belajar. Nana Sudjana menyatakan bahwa prestasi belajar mencerminkan kemampuan siswa setelah belajar, sedangkan Mulyono Abdurrahman mendeskripsikan prestasi belajar sebagai kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Menurut Syaiful Bahri Djamarah, prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang dilakukan secara individu maupun kelompok. Prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan belajar mengajar dan memanfaatkan kecakapan atau bakat yang dimiliki siswa secara individual maupun kelompok. Tony Bush dan Marianne Coleman menekankan pengaruh yang signifikan dari budaya sekolah terhadap prestasi siswa, dengan menyatakan bahwa budaya yang positif dapat mendorong keunggulan akademik dan perilaku yang baik.”.[10].
Pembentukan nilai-nilai budaya mutu di sekolah akan menciptakan karakter dan kualitas institusi pendidikan yang unggul. Ketika kepala sekolah sebagai manajer mengelola sekolah dengan baik, budaya mutu akan terbentuk secara alami dan menjadi fondasi yang kuat untuk mendukung kualitas dan keberhasilan sekolah. Budaya mutu selain berdampak pada akhlak juga memiliki dampak langsung Motivasi dan Kepuasan Guru, lingkungan kerja yang positif juga berdampak langsung pada prestasi siswa. Dengan adanya budaya mutu yang kuat, siswa cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi yang pada akhirnya meningkatkan prestasi akademis dan non-akademis mereka.[11] Sesuai dengan Depdiknas, pendampingan siswa bertujuan pertama, untuk membantu siswa mewujudkan potensi diri mereka secara optimal dengan mengintegrasikan bakat, minat, dan kreativitas. Kedua, untuk membentengi karakter siswa, sehingga mereka mampu bertahan dari pengaruh negatif dan konflik yang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Ketiga, membantu siswa mengaktualisasikan potensi mereka dan mencapai prestasi yang lebih besar sesuai dengan bakat dan minat mereka. Terakhir, untuk mempersiapkan siswa untuk mewujudkan keluhuran budi, demokrasi, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, yang berkontribusi pada pembentukan masyarakat madani.[12] Dalam penelitian yang dilakukan Holland (2005) menyimpulkan bahwa ketika pengembangan profesional terkait langsung dengan program yang diajarkan guru, standar dan penilaian, fokus pada pengetahuan guru tentang materi pelajaran, dan bagaimana siswa memahami serta mempelajarinya, maka guru mempunyai kecenderungan untuk mengubah praktik mengajarnya. Selanjutnya, praktik mengajar mampu meningkatkan prestasi siswa.[13]
Saat ini sekolah tidak hanya perhatian pada academik saja, namun juga bagaimana membentuk akhlak siswa menjadi lebih baik. Salah satunya SD Islam An Nahl, sekolah yang memiliki komitmen menanamkan nilai-nilai keislaman, menanamkan jiwa entrepreneur dan menumbuhkan semangat berprestasi. Serta membekali tahfidz Qur'an untuk mempersiapkan siswa menjadi pemimpin yang ahlul qur’an. Maka dengan penerapan budaya sekolah 5S dalam penyambutan pagi dan segala aktivitas di sekolah, dan budaya sholat dhuha, tilawah, dan muroja'ah menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang islami dan disiplin. Pembiasaan ibadah harian serta evaluasi guru dan staf secara berkala juga diadakan untuk meningkatkan komitmen dan akuntabilitas seluruh pihak di sekolah. diantaranya dalam hal kedisiplinan guru dalam penerapan saat penyambutan siswa di pagi hari ataupun saat bertemu dengan warga sekolah serta kedisiplinan dalam mengawal pembiasaan akhlak siswa sehari-hari, faktor sarana dan prasarana yang terbatas dan belum terbentuk iklim berprestasi bagi siswa dan guru, sehingga prestasi-prestasi yang diperoleh sekolah masih sangat terbatas.
Faktor-faktor yang disebutkan di atas menghambat pencapaian kualitas dan kemajuan sekolah. Oleh karena itu, membangun budaya keunggulan dalam pendidikan Islam menuntut pendekatan yang komprehensif dan sesuai. Para ahli telah mengusulkan beberapa strategi, antara lain sebagai berikut: 1. M. Nursya`bani Katjasungkana mengemukakan bahwa untuk menumbuhkan budaya keunggulan dalam pendidikan Islam dapat dilakukan dengan berbagai strategi, antara lain: a. Mengembangkan visi dan misi yang jelas: Visi dan misi yang jelas akan mengarahkan seluruh civitas akademika untuk mencapai pendidikan yang bermutu. b. Mendorong komitmen dan keterlibatan: Partisipasi dan dedikasi dari seluruh civitas akademika sangat penting untuk menumbuhkan budaya mutu. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan. c. Membangun sistem mutu: Sistem mutu yang kuat akan membantu lembaga pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya. Sistem mutu ini harus terdiri dari standar mutu, proses pemantauan dan evaluasi, dan insentif.[14] Maka peneliti melakukan penelitian tentang “Pengaruh budaya 5S terhadap pembentukan akhlak mulia dan prestasi siswa SD Islam An Nahl”. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh budaya 5S terhadap pembentukan aklak mulia siswa dan prestasi siswa secara terintegrasi.
Informasi data penelitian ini diperoleh secara langsung dari partisipan melalui penelitian menggunakan alat pengumpul data kuesioner dengan instrumen penelitian yang menggunakan Skala Likert, yaitu skala likert 1- 5 dengan definisi: 1: sangat tidak setuju, 2: tidak setuju, 3:kurang setuju, 4:setuju, 5:sangat setuju. Penelitian ini memanfaatkan informasi utama melalui survei atau kuesioner yang diberikan kepada guru SD Islam An Nahl dengan tujuan mengumpulkan informasi tentang pengaruh budaya 5S, akhlak dan prestasi siswa. Populasi pada penelitian ini adalah guru SD Islam An nahl. Sampel penelitian berjumlah 13 orang guru, mereka adalah guru kelas dan guru mata pelajaran. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel ialah pengambilan sampel secara menyeluruh (sampling jenuh) dimana teknik penentuan sampel ini bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel dan hal ini sering dilakukan jika jumlah populasi terbilang kecil kurang dari 30 orang atau dalam penelitian bertujuan untuk generalisasi tingkat kesalahan yang kecil/minimal.[15]
Hasil dari studi kuantitatif tersebut digabungkan dengan pendekatan deskriptif yang didasarkan pada teori-teori dan literatur yang terkait dengan penelitian budaya 5S terhadap pembentukan akhlak mulia dan prestasi siswa. Dalam penelitian ini menggunakan Kuesioner sebagai alat ukur, dan instrumen telah diuji untuk mengetahui validitasnya. Untuk melanjutkan analisis data terdapat uji syarat asumsi, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji hipotesis menggunakan uji ANOVA. Pada pengujian data menggunakan aplikasi SPSS. Pengujian kuesioner Menurut Ghozali (2001) dalam Sujarweni (2019), bahwa uji reliabilitas dilakukan terhadap item pertanyaan untuk mengukur kuesioner.[16]
Berdasarkan penelitian ini dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur kepada 13 guru di sekolah. Untuk melanjutkan analisis data terdapat uji syarat asumsi, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji hipotesis menggunakan uji ANOVA dengan menggunakan aplikasi SPSS.
Analisis statistik dilakukan dengan One Way Anova bisa disebut dengan Uji Anova atau uji analysis of varian (uji ANOVA satu arah/factor. Jika nilai signifikan < 0,05 maka distribusi data residual tidak normal. Apabila nilai signifikan > 0,05 maka data residual terdistribusi normal.
Tabel 1. Sumber output dari SPSS
Rata-rata Budaya adalah 5S 37,615 dengan deviasi standar sekitar 3.71069, berdasarkan sampel sejumlah 13 data. Rata- rata Akhlak Mulia adalah 20.7692 dengan deviasi standar sekitar 1.87767, berdasarkan sampel yang sama yaitu 13 data. Rata -rata Prestasi adalah 16.9231 deviasi standar sekitar 1.55250, berdasarkan sampel yang sama juga sebanyak 13 data.
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS, melalui uji normalitas Shapiro Wilk. Menurut uji ini, jika nilai signifikansi melebihi 0,05, hal ini mengindikasikan bahwa data mengikuti distribusi normal. Hasil tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel 2. Sumber output dari SPSS
Nilai signifikansi Budaya 5S 0.644 > 0,05, sedangkan nilai signifikansi variabel Akhlak Mulia 0,418 > 0,05, dan nilai signifikansi variabel Prestasi 0,386 > 0,05. Dari ketiga data menunjukkan nilai yang lebih besar dari taraf nyata 0,05. Maka dapat disimpukan bahwa data variabel Budaya 5S, Akhlak Mulia dan Prestasi dinyatakan berdistribusi secara normal.
Uji homogenitas harus dilakukan sebelum melakukan ANOVA satu arah. Jika nilai signifikansi pada uji homogenitas lebih besar dari 0,05, maka hal tersebut menandakan bahwa data bersifat homogen. Berikut adalah hasil uji homogenitas yang diperoleh dengan menggunakan aplikasi SPSS.
Tabel 3. Sumber output SPSS
Berdasarakan tabel di atas bahwa Nilai sig variabel 0,002. Karena nilai sig 0,002 < 0,05. Berkesimpulan bahwa uji homegenitas varian data tidak homegen (Uji Homogenitas tidak terpenuhi).
Uji One Way ANOVA digunakan untuk menguji pengaruh pada kelompok variabel bebas yaitu budaya 5S terhadap variabel terikat yaitu akhlak mulia dan prestasi siswa. Jika nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Maka ditarik kesimpulan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang dianalisis. Hasil uji analisis one way ANOVA dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Sumber output SPSS
Dari tabel uji analisis ANOVA satu arah, terlihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0.000, yang lebih kecil dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen budaya 5S memiliki pengaruh terhadap variabel dependen akhlak mulia dan prestasi siswa.
Tabel 5. sumber output SPSS
Jika nilai signifikansi < 0,05 maka ada perbedaan secara nyata. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak ada perbedaan secara nyata.
Berdasarkan tabel di atas nilai signifikansi Budaya 5S dan Akhlak mulia 0,000, Budaya 5S dan prestasi 0,000 artinya ada perbedaan antara kelompok Budaya 5S dan Akhlak mulia, antara Budaya 5S dan prestasi yang sangat signifikan.
Uji ANOVA untuk pengujian hipotesis digunakan untuk menilai apakah variabel independen (budaya 5S) secara signifikan mempengaruhi variabel dependen (akhlak mulia dan prestasi siswa).
Uji Anova menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, yang kurang dari 0,05; oleh karena itu, hipotesis nol (H0) ditolak. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel independen (budaya 5S) berpengaruh terhadap variabel dependen (akhlak mulia dan prestasi siswa).
Berdasarkan hasil di atas disimpulkan bahwa adanya budaya 5S berpengaruh terhadap akhlak mulia dan prestasi siswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai Signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05.
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui descriftive statistic menunjukkan Rata-rata Budaya adalah 5S 37,615 dengan deviasi standar sekitar 3.71069, berdasarkan sampel sejumlah 13 data. Rata- rata Akhlak Mulia adalah 20.7692 dengan deviasi standar sekitar 1.87767, berdasarkan sampel yang sama yaitu 13 data. Rata -rata Prestasi adalah 16.9231 deviasi standar sekitar 1.55250, berdasarkan sampel yang sama juga sebanyak 13 data.
Sedangkan uji normalitas menunjukkan Nilai signifikansi Budaya 5S 0.644 > 0,05, sedangkan nilai signifikansi variabel Akhlak Mulia 0,418 > 0,05, dan nilai signifikansi variabel Prestasi 0,386 > 0,05. Dari ketiga data menunjukkan nilai yang lebih besar dari taraf nyata 0,05. Maka dapat disimpukan bahwa data variabel Budaya 5S, Akhlak Mulia dan Prestasi dinyatakan berdistribusi secara normal. Sedangkan Uji Homogenitas bahwa nilai signifikansi variabel 0,002. Karena nilai sig 0,002 < 0,05. Berkesimpulan bahwa uji homegenitas varian data tidak homegen (Uji Homogenitas tidak terpenuhi).
Adapun hasil uji analisis ANOVA satu arah, terlihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0.000, yang lebih kecil dari 0.05, hipotesis nol (H0) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen budaya 5S memiliki pengaruh terhadap variabel dependen akhlak mulia dan prestasi siswa.
Dalam penelitian ini dihasilkan pengaruh yang signifikan bahwa budaya 5S memberikan dampak yang besar dalam membentuk akhlak siswa dan meningkatkan prestasi siswa menjadi lebih baik. Maka untuk mengembangkan budaya sekolah menjadi lebih maksimal dalam lembaga tersebut perlu adanya komitmen-komitmen dari pimpinan, guru, staf dan warga sekolah untuk mewujudkan visi misi sekolah dengan memperhatikan strategi dan implementasi penerapan budaya mutu serta sistem dalam pendidikan Islam untuk tercapainya pengembangan karakter dan akhlak mulia para siswa serta prestasi-prestasi siswa baik akademik maupun non akademik yang tinggi. Sehingga peneliti merekomendasikan kepada lembaga sekolah untuk menguatkan sistem penjaminan mutu internal lembaga dalam merealisasikan visi misi lembaga serta untuk mewujudkan lembaga yang profesional dan berintegritas tinggi serta diminati masyarakat luas.
Alhamdulillah, penulis bersyukur kepada Allah Subhanallahi Wata’ala atas rahmat dan pertolongaNya. Penulis mampu menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Ucapan terima kasih yang setinggi-tinginya penulis ucapkan kepada keluarga, teman dan pihak yayasan maupun sekolah serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama proses penyelesaikan karya ilmiah ini berlangsung hingga selesai.
L. Hamdiyah and J. Jumari, “Pengaruh budaya sekolah 5S terhadap pembentukan karakter Islami siswa di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang,” Educ. Learn. Islam. J., vol. 5, no. 1, pp. 70–82, 2023, doi: 10.33752/el-islam.v5i1.3869.
Harni, “Implementasi manajemen budaya mutu dalam rangka mewujudkan prestasi akademik,” Media Manaj. Pendidik., vol. 4, no. 1, pp. 117–127, 2021.
N. L. G. Setya, U. I. Gst, and A. Oka, “Kontribusi budaya sekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru,” JP2, vol. 4, no. 1, pp. 168–178, 2021.
A. Fitri and B. Y. Candra, “Pengaruh budaya religius terhadap akhlak siswa,” JM2PI: J. Mediakarya Mhs. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 1, pp. 11–18, 2023, doi: 10.33853/jm2pi.v4i1.574.
E. Sumiyati, “Pengaruh budaya religius sekolah terhadap akhlak siswa kelas XI di SMA Plus Permata Insani Islamic School Kabupaten Tangerang,” JM2PI: J. Mediakarya Mhs. Pendidik. Islam, vol. 1, no. 1, pp. 21–46, 2020, doi: 10.33853/jm2pi.v1i1.69.
N. S. Lubis, “Pembentukan akhlak siswa di madrasah: Kontribusi lingkungan sekolah, kompetensi guru, dan mutu pendidikan,” Al-Thariqah, vol. 7, no. 1, 2022, doi: 10.25299/al-thariqah.2022.vol7(1).8847.
W. Khairunnisah, S. Salminawati, and Z. Dahlan, “Implementasi program budaya sekolah 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) dalam menanamkan religiusitas siswa (studi multisitus),” Ideguru: J. Karya Ilm. Guru, vol. 9, no. 2, pp. 574–580, 2024, doi: 10.51169/ideguru.v9i2.870.
N. A. Mu’anayah and W. Setiyoko, “Peran guru Pendidikan Agama Islam dalam menanamkan perilaku 5S pada peserta didik SMK Negeri 2 Temanggung,” J. Al Ghazali, vol. 3, no. 2, pp. 1–21, 2020. [Online]. Available: https://www.ejournal.stainupwr.ac.id/index.php/al_ghzali/article/view/184
F. Silkyanti, “Analisis peran budaya sekolah yang religius dalam pembentukan karakter siswa,” Indones. Values Character Educ. J., vol. 2, no. 1, p. 36, 2019, doi: 10.23887/ivcej.v2i1.17941.
Wahyuni Ahadiyah, “Penerapan Total Quality Management sebagai pengembangan budaya mutu sekolah dalam meningkatkan prestasi siswa di SD Al Hikmah Surabaya,” Akademika, vol. 14, no. c, pp. 245–254, 2020.
S. Umroniyah, “Kepemimpinan efektif kepala sekolah dalam pengembangan budaya mutu di SMP Negeri 21 Purworejo,” Cakrawala, vol. 4, no. 1, pp. 202–238, 2020.
D. Khasanah and D. D. Prasetyo, “Manajemen kesiswaan dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan non akademik peserta didik,” Al-Fahim: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 5, no. 1, pp. 155–172, 2023, doi: 10.54396/alfahim.v5i1.484.
Y. Kasmawati, “Peningkatan prestasi siswa melalui pengembangan profesional guru: Suatu tinjauan literatur,” J. Maksipreneur: Manaj., Koperasi, dan Entrep., vol. 10, no. 1, p. 13, 2020, doi: 10.30588/jmp.v10i1.648.
B. Abdullah, A. L. A. Arafah, S. Patimah, A. Warisno, U. Islam, and A. Nur, “Building a culture of quality in Islamic education: Strategies and implementation,” Cakrawala Pedagog., vol. 8, pp. 68–82, 2024.
Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 2020.
D. Amelia, N. Simatupang, B. J. Sinuraya, F. Ekonomi, and U. Prima, “Pengaruh harga, citra merek dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan PT. JNE Cabang Medan,” J. Manaj., vol. 7, pp. 11–24, 2020.