Login
Section Innovation in Education

Innovation Of Balanced Scorecard Indicators In Vocational Centers Of Excellence


Inovasi Indikator Balanced Scorecard Pada Pusat Keunggulan Sekolah Menengah Kejuruan
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Zia Nailillah (1), Imelda Dian Rahmawati (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Vocational education relies heavily on industrial partnerships to produce competent graduates who meet dynamic workforce demands. Specific Background SMKN 1 Sidoarjo implemented the Teaching Factory model to align its curriculum and instructional practices with industrial standards. Knowledge Gap Although the institution utilized the Teaching Factory framework and the independent curriculum, comprehensive evaluations combining the link and match strategy with the Balanced Scorecard system to holistically measure vocational success remain absent. Aims This study evaluates institutional performance and Teaching Factory execution utilizing Balanced Scorecard indicators to determine readiness as a Center of Excellence. Results Qualitative analysis employing observation, interviews, and documentation revealed that the independent curriculum effectively integrated industrial planning, guest instructors, and graduate absorption strategies. However, the Teaching Factory in the Machining Engineering concentration failed to achieve full graduate employment in partner industries. Consequently, establishing standardized operational procedures, organizational structures, and continuous evaluation parameters within the Balanced Scorecard framework is necessary to ensure institutional progress. Novelty This research integrates the link and match model within a multidimensional Balanced Scorecard framework to objectively measure educational quality, financial independence, and industrial relevance. Implications Vocational institutions must utilize structured performance indicators to systematically address curriculum deficits and optimize their Teaching Factory initiatives, ultimately achieving financial autonomy and higher graduate employability.


Highlights:




  • The Balanced Scorecard framework holistically measures financial independence, internal business processes, and student learning outcomes.




  • The Machining Engineering concentration failed to achieve full graduate employment despite implementing the Teaching Factory model.




  • Integrating the link and match strategy guarantees curriculum relevance and stronger industrial involvement.




Keywords: Vocational Center of Excellence, Key Performance Indicators, Teaching Factory, Balanced Scorecard, Independent Curriculum

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Program Bantuan SMK Pusat Keunggulan memberikan dampak Luar biasa pada perubahan paradigma pembelajaran di Kompetensi Kejuruan Teknik Pemesinan pada khususnya dan Seluruh program keahlian yang ada di SMKN Sidoarjo pada umumnya. Selain perubahan paradigma pembelajaran, program ini juga mengubah arah kebijakan manajerial di SMKN 1 Sidoarjo, bahwa Tujuan Lembaga Pendidikan ini adalah bagaimana memberikan pelayanan proses pembelajaran yang dibutuhkan oleh Peserta didik. Sekolah tidak boleh lagi memaksakan hasil yang harus di capai oleh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan, namun yang lebih penting adalah bagaimana sekolah dapat memfasilitasi kualitas proses pembelajaran peserta didik secara optimal melalui komitmen yang dijalin bersama mitra industry. Melahirkan Kualitas lulusan sesuai kompetensi yang diharapkan oleh indutri adalah salah satu ukuran keberhasilan dari Pendidikan yang dilaksanakan SMKN 1 Sidoarjo.

Komitmen SMKN 1 Sidoarjo di tahun berikutnya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas Kerjasama industry dalam Teaching Factory, tidak hanya pada konsentrasi keahlian yang diunggulkan saja, yaitu Teknik Pemesinan, namun akan mengimbas pada seluruh kompetensi Keahlian yang ada di SMKN 1 Sidoarjo. Teaching Factory (TeFa) merupakan pengintegrasian proses pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk atau jasa yang layak jual untuk menghasilkan nilai tambah bagi sekolah.

Balanced Score Card (BSC) adalah suatu konsep manajemen kinerja yang dikembangkan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton. BSC bertujuan untuk memberikan gambaran yang seimbang dan komprehensif terhadap kinerja suatu organisasi, tidak hanya dari segi keuangan, tetapi juga melibatkan perspektif pelanggan, proses internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan. Rerangka (framework) Balanced Scorecard merujuk pada struktur atau kerangka kerja yang digunakan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengukur kinerja dengan pendekatan Balanced Scorecard. Rerangka ini memastikan bahwa organisasi memperhatikan dan menilai kinerjanya melalui berbagai dimensi yang mencakup aspek keuangan dan non-keuangan.

Balance scorecard pada dasarnya merupakan pengembangan secara pengukuran keberhasilan perusahaan dengan mengintegrasikan beberapa teknik pengukuran atau penilaian kinerja yang terpisah-pisah. Pengukuran tersebut selama ini merupakan kegiatan manajemen akuntansi berupa penilaian kinerja keuangan dengan melakukan analisis trend pengeluaran operasional dan analisis trend pengeluaran investasi, pengukuran arus kas, pengukuran return on Equity (ROE), dll. Sedang dari sisi lain manajemen SDM melakukan juga kegiatan evaluasi kinerja nonfinansial berupa evaluasi terhadap pelaksaan pekerja yang dilakukan oleh seseorang karyawan untuk suatu jangka waktu tertentu.[3]

Komponen utama dalam rerangka Balanced Scorecard melibatkan empat perspektif utama yaitu, 1.) Perspektif Keuangan (Financial Perspective): Melibatkan ukuran kinerja keuangan tradisional seperti pendapatan, laba bersih, dan tingkat pengembalian investasi, pada perspektif ini, SMKN 1 Sidoarjo mengelola keuangannya tidak hanya mengandalkan dari Bantuan Operasional Sekolah Reguler (BOS) dan Biaya Operasional Pendidikan (BOP), namun juga sudah akan direncanakan mengandalkan Bantuan Masyarakat, industry dalam system Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). 2.) Perspektif Pelanggan (Customer Perspective): Berkaitan dengan kepuasan pelanggan, pemenuhan kebutuhan pelanggan, dan bagaimana organisasi dilihat oleh pelanggan. SMKN 1 Sidoarjo memiliki Peserta Didik, Wali Peserta didik dan Mitra Industri sebagai pelanggan yang menggunakan lulusan SMKN 1 Sidoarjo. Bagaimana melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi dasar sesuai dengan mitra industry merupakan salah satu Tingkat keberhasilan proses Pendidikan di SMKN 1 Sidoarjo. 3.) Perspektif Proses Internal (Internal Business Process Perspective): Fokus pada efisiensi dan efektivitas operasional, termasuk proses-proses yang kritis untuk memberikan nilai kepada pelanggan dan pemegang saham. SMKN 1 Sidoarjo telah mendapatkan 4 tahun pendampingan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam penguatan pembelajaran dimana salah satunya adalah pengembangan pemanfaatan sarana prasarana dalam Pembelajaran Teaching Factory. Harapan besar Teknik Pemesinan, Konstentrasi Keahlian yang diunggulkan dalam program bantuan SMK Pusat Keunggulan mampu meengimbaskan pelaksanaan Teching Factory/ Kelas Industri pada 6 kompetensi keahlian lainnya di SMKN 1 Sidoarjo. Sehingga harapan besar seluruh kompetensi keahlian ini mampu memunculkan inovasi pembelajarannya dan berdampak pada kemandirian finansial pada masing masing kompetensi keahlian dalam Unit Produksi. 4.) Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective): Menilai kemampuan organisasi untuk beradaptasi, belajar, dan berkembang, melibatkan aspek-aspek seperti pelatihan karyawan, inovasi, dan kapabilitas organisasi. Peningkatan kepemimpinan kepala sekolah dan kepemimpinan instruksional yang dikemas dalam kegiatan peningkatan kapabilitas kepala sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan adalah sebuah Upaya dalam pengembangan organisasi di SMKN 1 Sidoarjo, untuk memotivasi penguatan manajerial dan motivasi guru serta tenaga kependidikan dalam meningkatkan capaian kinerja sesuai dengan karakteristik, visi, misi dan tujuan Pendidikan SMKN 1 Sidoarjo

Dengan menggunakan rerangka Balanced Scorecard, SMKN 1 Sidoarjo dapat merancang dan mengukur kinerja mereka secara holistik, memastikan bahwa tidak hanya aspek keuangan yang diperhatikan, tetapi juga elemen-elemen penting lainnya yang berkontribusi pada keberhasilan jangka panjang. Rerangka ini membantu menyusun strategi SMKN 1 Sidoarjo dan menghubungkannya dengan tindakan konkret yang dapat diukur untuk mencapai tujuan jangka panjang.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bermaksud untuk melakukan evaluasi pada Key Performance Indikator jurusan dan manajerial di SMKN 1 Sidoarjo dalam melaksanakan proses Teaching Factory di masing masing jurusan setelah mendapatkan pendampingan dari kementrian Pendidikan dan kebudayaan dalam program bantuan pemerintah SMK Pusat Keunggulan selama 4 tahun. Permasalahan yang muncul saat ini ada pada Lulusan yang cenderung menghindari pekerjaan sesuai kompetensinya dan cenderung memilih pekerjaan yang tidak mengandalkan kompetensi sesuai Konsentrasi keahliannya, namun cenderung pada pekerjaan ringan yang tidak membutuhkan kompetensi Peserta didik selama mengenyam Pendidikan di SMKN 1 Sidoarjo seperti pekerjaan Kurir barang, security, penjaga Toko, Minimarket, maupun resto. Fenomena lulusan yang tidak percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki sesuai kompetensi keahlian yang dimiliki menjadi sumber data awal penelitian dan sebagai dasar penelitian ini dilaksanakan.

Teknik Pengumpulan data melalui Observasi, Wawancara. Sumber data premier yang diperoleh peneliti melalui wawancara, observasi kepada peserta didik kelas XII di SMKN 1 Sidoarjo. Data sekunder berupa hasil Job Fair yang dilaksanakan di SMKN 1 Sidoarjo pada tanggal 22 dan 23 Nopevember 2023 yang melibatkan 15 Perusahaan. Teknik Analisa data menggunakan miles & Hubermen dengan Langkah 1) Pengumpulan Data; 2) Reduksi data; 3) Penyajian data dan 4) Penarikan Kesimpulan

III. Hasil dan Pembahasan

A. SMK Pusat Keunggulan pada jurusan Teknik Pemesinan SMKN 1 Sidoarjo

SMK Pusat Keunggulan merupakan salah satu upaya transformasi pengembangan SMK yang berfokus pada pengembangan SMK dengan kompetensi keahlian tertentu dalam peningkatan kualitas dan kinerja yang diperkuat melalui kemitraan dan penyelarasan dengan dunia kerja, yang akhirnya menjadi SMK rujukan yang memiliki semangat pengimbasan serta pusat peningkatan kualitas dan kinerja SMK lainnya. Program SMK Pusat Keunggulan ini mulai di kembangkan pada tahun 2021, merupakan program transformasi pengembangan SMK yang sebelumnya bernama SMK Center Of Excellent (COE) tahun 2020 berfokus pada peningkatan pembelajaran SMK yang Link and Match dengan Dunia Usaha/ Industri/Dunia Kerja, melalui peningkatan kompetensi guru dan kepala SMK serta sarana dan prasarananya., pada sektor prioritas utama (pemesinan dan konstruksi, ekonomi kreatif, hospitality, care services) dan serta prioritas lain (kerjasama luar negeri) dan Program SMK Revitalisasi (2019) yang berfokus pada peningkatan mutu dan kualitas sarana prasarana pembelajaran sesuai standar dunia usaha/industry/kerja pada sektor maritim, pariwisata, pertanian, industry kreatif dan teknologi. Di tahun 2022 SMK Pusat Keunggulan mengembangkan Skema Pemadanan Dukungan, merupakan program pengembangan SMK Pusat Keunggulan berbasis kemitraan dan penyelarasan dengan dunia kerja. Dengan harapan mampu meningkatkan kolaborasi yang terukur nyata dengan dunia kerja dalam pengembangan SMK berkualitas sangat baik sehingga menjadi mercusuar kinerja dan pusat belajar SMK lain. Dukungan yang diharapkan dari dunia kerja minimal dalam bentuk intervensi; penyelarasan kurikulum, praktisi Dunia kerja dan sarana prasarana yang proses pemadanannya dilakukan kemendikbudristek.

Kemendikbudristek mengakselerasi kualitas SMK melalui Program SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) dengan teori perubahan melalui 3 hal; Kepemimpinan Sekolah, Kerjasama dan keselarasan dengan dunia kerja, keterserapan lulusan (bekerja, melanjutkan Pendidikan dan berwirausaha. Peningkatan 3 aspek tersebut akan menghasilkan; SMK dengan Teaching Factory yang aktif memproduksi, dengan status keuangan yang fleksibel, dan menjadi pusat pembelajaran bagi SMK lain dengan program keahlian yang sama, lulusan SMK berkarakter Pelajar Pancasila dan Bekerja, wirausaha atau melanjutkan study. Intervensi yang diberikan kemendikbud ristek dalam program SMK PK Skema Pemadanan Dukungan (SPD) adalah pembelajaran Kurikulum Merdeka, Peningkatan Kompetensi SDM (guru dan Kepala Sekolah), pendampingan oleh perguruan tinggi dan BB/BPPMPV (UPT Vokasi), bantuan sarana prasarana, penguatan koordinasi dengan Pemda, Perencanaan berbasis Data. Skema pembiayaan untuk program SMK PK Reguler 100% dari APBN, sedangkan SMK PK SPD, Pemadanan 1:1 dengan industry Mitra (in Kind/in Cash).

SMKN 1 Sidoarjo pada konsentrasi keahlian Teknik Pemesinan yang di prioritaskan mendapatkan bantuan pemerintah SMK PK sejak program SMK COE tahun 2020, SMK PK 2021, SMK PK SPD 2022, hingga SMK PK Reguler Lanjutan dan SMK PK SPD Lanjutan 2023, telah mengalami transformasi pengembangan SMK yang sangat signifikan. 1) Kurikulum Merdeka Mandiri berbagi dengan porsi pembelajaran kejuruan meningkat dari tahun ke tahun, pengembangan pembelajaran lebih fleksibel yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah, kemitraan dunia kerja, dan potensi local atau daerah, Modul modul pembelajaran disususn bersama mitra dunia kerja, Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi matapelajaran wajib selama 6 bulan, pengembangan kompetensi Profil Pelajar Pancasila mendorong siswa SMK mengembangkan softskill 2)Peningkatan kompetensi SDM ( guru dan Kepala Sekolah) dalam bentuk; Peningkatan manajerial Kepala Sekolah, pelatihan komite pembelajaran & inhouse training bagi guru untuk penguatan implementasi pembelajaran, peningkatan kompetensi guru keuruan berbasis industry dan magang guru di dunia kerja.

B. Link and Match 8+I

Transformasi SMK terwujud melalui link and match yang mendalam dan menyeluruh, tidak hanya MOU namun juga dengan melaksanakan 9 kegiatan berikut; 1)Kurikulum yang disusun bersama antara SMK dan Industri, termasuk penguatan aspek Softskill dan karakter kebekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, 2) Pembelajaran berbasis project riil dari dunia kerja (PBL), untuk memastikan penguasaan hardskill akan disertai softskill dan karakter yang kuat bagi peserta didik, 3) jumlah dan peran guru/instruktur dari industry dan ahli dari dunia kerja, ditingkatkan secara signifikan (sampai minimal mencapai 50 jam/ semester/program keahlian, 4) Praktik kerja lapangan/industry, minimal 1 semester/ 6 bulan, 5) Sertifikasi Kompetensi, yang sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja (bagi lulusan dan bagi guru/instruktur), 6) Update Teknologi dan Pelatihan bagi guru/ instruktu secara rutin dari dunia kerja, 7)Riset terapan mendukung Teaching Factory yang bermula dari kasus atau kebutuhan industry, kemudian project riil dimanfaatkan sebagai media praktik di TeFa, 8) Komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja, i) Berbagi kemungkinan Kerjasama yang dapat dilakukan dengan dunia kerja, antara lain: beasiswa dan/atau ikatan dinas Donasi dalam bentuk peralatan laboratorium atau dalam bentuk lainnya.

Penandatanganan MOU dengan skema link and match (8+i) antara SMKN 1 Sidoarjo dengan mitra industry di kompetensi keahlian Teknik Pemesinan Sudah dilaksanakan sejak program SMK Pusat Keunggulan tahun 2021. Keterlibatan 3 industri pada Kompetensi keahlian Teknik Pemesinan mencakup Penyelarasan kurikulum yang disusun bersama sejalan dengan penguatan aspek softskill, hardskill dan karakter kebekerjaan sesuai kebutuhan dunia kerja, menambahkan kompetensi yang dibutuhkan SMK, Capaian pembelajaran SMK ditambahkan sesuai kompetensi yang di inginkan industry, Pembelajaran berbasis project riil untuk memastikan hardskill, softskill dan karakter yang kuat melalui perancangan, pendampingan dan evaluasi industry dalam Teaching Factory, Guru/instruktur tamu minimal sudah terlaksana 50 jm per semester, magang siswa selama 6 bulan, magang guru selama 15-30 hari, Sertifikasi siswa dan guru oleh industry, update teknologi melalui Upskilling dan reskilling, pelaksanaan riset terapan yang mendukung Teaching Factory berdasarkan job order dari industry, komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja dan hibah peralatan praktik yang mendukung TeFa.

C. Teaching Factory

Teaching Factory (TeFa) menjadi pendorong di bidang vokasi Dimana strander dan prosedur pembelajaran di sekolah menyerupai suasana di industry. Dengan TeFa, SMK, Perguruan Tinggi Vokasi dan Lembaga kursus Pelatihan (LKP) tidak hanya bembekali siswa denga Pelajaran teori saja namun juga pembelajaran praktik dengan prosedur dan standar industri. Dengan TeFa, lulusan SMK didorong menghasilkan produk/ jasa yang terhilirisasi ke Masyarakat maupun dunia usaha dan dunia industry dan Dunia Kerja (DUDIKA), para lulusan juga dituntut kompetent sesuai kebutuhan DUDIKA sehingga dapat terserap untuk bekerja sambil melanjutkan Pendidikan maupun berwirausahaan. Lulusan yang berhasil di bidangnya nanti diharapkan dapat berkontribusi untuk Pendidikan SMK guna memperkaya kompetensi lulusan.

Berdasar Peraturan Pemerintah (PP) nomor 41 tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri, Teaching Factory atau pabrik didalam sekolah merupakan sarana produksi yang dioperasikan berdasarkan prosedur dan standar kerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk sesuai dengan kondisi nyata industry tanpa berorientasi kepada keuntungan. Pengembangan pembelajaran yang sebelumnya dikembangkan melalui Unit Produksi kemudian berubah menjadi pembelajaran TeFa, yaitu mengubah budaya pembelajaran sekolah. Semua unsur disekolah harus mengembangkan budaya dan pola pikir bahwa Sekolah saat ini bukan saja sebagai tempat Pendidikan akademik, tetapi juga merupakan tempat membuat produk/layanan yang berstandar industry sesuai kebutuhan Masyarakat pada umumnya. Suasana Bengkel di sekolah harus mengkondisikan area, lingkungan, suasana, aturan tata Kelola kerja diruang praktik seperti di industry atau tempat kerja yang sebenarnya agar peserta didik memahami karakter dan budaya kerja industry.

Teaching Factory (TeFa) bertujuan untuk 1) mempersiapkan lulusan SMK menjadi pekerja dan berwirausaha, 2) membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan kompetensinya, 3) menumbuhkan kreatifitas siswa melalui learning by doing, 4) Memberikan ketrampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja, 5) memperluas cakupan kesempatan rekruitmen bagi lulusan SMK, 6) Membantu siswa SMK dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja, serta membantu menjalin Kerjasama dengan dunia kerja yang actual, serta 7) Memberikan kesempatan kepada siswa Vokasi untuk melatih ketrampilannya sehingga dapat membuat Keputusan tentang karier yang akan dipilih.

D. Blud

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) merupakan sebuah paradigma baru dalam pengelolaan keuangan negara Sebagai wujud reformasi dalam pengelolaan keuangan negara. Paket undang-undang keuangan negara memberikan koridor baru dalam pengelolaan keuangan negara yang memiliki basis kinerja dan penganggaran. Pola pengelolaan BLUD memberikan fleksibelitas berbentuk keleluasaan untuk menerapkan praktik bisnis yang sehat dalam pelaksanaan TeFa. Pada SMK yang sudah BLUD akan diberikan fleksibelitas dalam bentuk keleluasaan pengelolaan keuangan atau barang BLUD SMK sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Melalui BLUD SMK, diharapkan implementasi Teaching Factory dan PBL benar benar menjadi wadah simulasi industry bagi peserta didik untuk dapat mengasah kompetensinya serta melahirkan berbagai produk produk unggulan yang layak untuk dipasarkan di Masyarakat.

Pelaksanaan TeFa di SMKN 1 Sidoarjo sudah mendapatkan pendampingan dari mitra DUDI, memasukkan job order/ project riil industry dalam pembelajaran. Mendesain modul pembelajaran sesuai job riil, pendampingan industry dalam proses TeFa dan mengevaluasi capaian kompetensi siswa sesuai dengan kompetensi yang diharapkan industry. Namun SMKN 1 Sidoarjo masih dalam proses pengajuan BLUD ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa timur.

E. Key Performance Indikator

Ganbar 1. Key performance SMKN 1 Sidoarjo

Key Performance Indicator (KPI) atau Indikator Kinerja Utama adalah metrik atau parameter yang digunakan untuk mengukur keberhasilan kinerja suatu organisasi, proyek, atau individu dalam mencapai tujuan atau sasaran tertentu. KPI sangat penting dalam proses evaluasi dan pengambilan keputusan, membantu mengidentifikasi sejauh mana suatu entitas mencapai target yang telah ditetapkan. KPI memiliki ciri ciri sebagai berikut; 1) Relevan dengan tujuan; KPI harus KPI harus terkait erat dengan tujuan dan strategi organisasi. Mereka seharusnya memberikan gambaran yang akurat tentang sejauh mana organisasi mencapai visi dan misinya. 2) Mengukur kinerja; KPI seharusnya dapat mengukur kinerja secara kuantitatif. Ini bisa berupa angka, persentase, atau rasio yang memberikan gambaran nyata tentang pencapaian. 3) Spesifik dan dapat diukur; KPI seharusnya terukur dan spesifik, sehingga mudah dimengerti dan dilacak. Contohnya, "Penjualan Bulanan" lebih baik daripada "Kinerja Penjualan.", 4)dapat diferivikasi dan diperoleh; Data yang diperlukan untuk menghitung KPI seharusnya dapat diverifikasi dan diperoleh dengan mudah. Ini memastikan keandalan dan keakuratan informasi. 5) Terfokus pada perbaikan; KPI seharusnya memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Mereka harus mendorong tindakan yang produktif. 6) dapat diukur secara berkala; KPI perlu diukur secara berkala untuk memantau perkembangan sepanjang waktu. Periode pengukuran dapat bervariasi tergantung pada tujuan dan jenis KPI, 7) Relevant untuk pihak yang berkepentingan; KPI seharusnya memberikan nilai dan informasi yang signifikan bagi pihak yang berkepentingan, seperti pemegang saham, karyawan, atau pelanggan.

F. Masterplan SMKN 1 Sidoarjo sebagai SMK Pusat Keunggulan

Penting untuk menentukan Key Performance indicator masing masing jurusan dan manajerial di SMKN 1 Sidoarjo sebagai kunci keberhasilan kinerja dan pencapaian tujuan. Kesepakatan yang tercantum dalam MOU link and match 8+i minimal 1 industri tiap Jurusan memenuhi komponen Penyelarasan Kurikulum, Pembelajaran Project Riil, Guru Tamu, Magang Siswa dan guru, Sertifikasi Siswa dan Guru oleh industry, Upskilling Reskilling Guru dan Tenaga Pendidik, Teaching factory, Penyerapan Lulusan, Ikatan Dinas/ Beasiswa/ Donasi Peralatan, Pelaksanaan 8+i dalam 1 tahun pelajaran. Penyelarasan Kurikulum merupakan kegiatan penyelarasan yang dilaksanakan antara jurusan dan industry untuk memetakan CP Kurikulum SMK dengan kebutuhan kompetensi minimum Industri[11]. Dilaksanakan diawal tahun agar dapat digunakan dalam pembelajaran berstandar industry selama 1 tahun kedepan. Target setiap tahun dapat ditambahkan CP industry dana dapat dievaluasi sesuai dengan perkembangan Industri. Pelaksanaan Project Based Learning merupakan seluruh proses pembelajarana baik Normatif adaptif mampu mendukung kebutuhan kompetensi dan penguatan profil pelajar Pancasila untuk peserta didik, Pelaksanaan Guru Tamu, dengan mengundang praktisi industry untuk mengajar di sekolah sesuai dengan kompetensi yang dibutuh sekolah. Pelaksanaannya minimum 50 jam per semester[12]. Pelaksanaan magang siswa minimum 6 bulan dan dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan industry dan program Teaching Factory. Pelaksanaan magang guru minimum dilaksanakan 1 bulan dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan guru dan Teaching Factory. Sertifikasi siswa dilaksanakan dalam program Prakeri, Teaching Factory dan Uji Kompetensi keahlian[13]. Sertifikasi guru dapat dilaksanakan melalui BNSP, namun diharapkan dapat dilaksanakan oleh Industri. Meningkatkan kuantitas Upskilling dan Reskilling guru dan karyawan untuk peningkatan kompetensi yang sudah ada dan menambah kompetensi sesuai perkembangan teknologi saat ini. Pelaksanaan Teaching Factory atau Kelas Industri harus memuat 8+I, pelaksanaannya mendapat bimbingan dari dindustri, dilaksanakan sesuai ritme pekerjaan industry, dievaluasi oleh industry dan terjadi komitmen penyerapan lulusan, Proses penyerapan lulusan dilaksanakan minimum 2 kali dalam 1 tahun sesuai dengan kebutuhan mitra industry dalam kebutuhan tenaga kerja melalui Job Fair SMKN 1 Sidoarjo dengan pengawasan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pendidikan, Mitra industry memberikan komitmen dalam Perekrutan, pemberian beasiswa maupun donasi peralatan praktik kepada siswa dana SMKN 1 Sidoarjo[14]. Evaluasi pelaksanaan dan ketercapaian pelaksanaan 8+I antara SMKN 1 Sidoarjo bersama mitra industry untuk mengukur Tingkat keberhasilannya, Evaluasi Key Performance Indikator jurusan dan manajerial bersama komite sekolah[15]. Penyusunan program kerja tahunan, jangka menengah menggunakan KPI sebagai indicator kunci keberhasilan program bersama komite sekolah. Mendesain ulang MOU 8+I bersama mitra industri

G. Lini Masa

Gambar 2. Lini masa

Tabel 1. Strategy map

Gambar 3. Key Performance Indicator 7 Jurusan

Gambar 4. Key Performance Indicator Manajerial

Gambar 5. Link And Match 8+I

Gambar 6. Alur Pelaksanaan Tefa Manajerial

Gambar 7. Alur Pelaksanaan Tefa Ketua Program Keahlian/Jurusan

Gambar 8. Diagram Pelaksanaan TEFA

Gambar 9. Parameter Monitoring Dan Evaluasi Key Result Tata Kelola

Gambar 10. Parameter Monitoring Dan Evaluasi Key Result Sumber Daya Manusia

Gambar 11. Parameter Monitoring Dan Evaluasi Key Result Proses Dan Hasil Pembelajaran Tefa

Gambar 12. Parameter Monitoring Dan Evaluasi Key Result Sarana Prasarana

Gambar 13. Parameter Monitoring Dan Evaluasi Key Result Hubungan Mitra Kerja

Gambar 14. Skema BLUD

I V. Simpulan

SMKN 1 Sidoarjo sebagai SMK Pusat Keunggulan merupakan target ketercapaian pelaksanaan program bantuan pemerintah SMK Pusat Keunggulan yang telah diberikan kemendikbudristek selama 4 tahun mulai tahun 2020 s.d 2023. Dengan harapan SMKN 1 Sidoarjo mampu meningkatkan kolaborasi yang terukur nyata dengan dunia kerja dalam membangun SMK berkualitas sangat baik sehingga menjadi mercusuar kinerja dan pusat belajar SMK lain. Salah satu indicator keberhasilan SMK Pusat Keunggulan ada pada pelaksanaan Teaching Factory di masing masing jurusan, Teaching Factory merupakan puncak kemitraan dengan industry, yang membutuhkan pengawalan dan evaluasi tindak lanjut dalam pelaksanaanya, baik dari sisi manajemen SMK maupun sisi Industri. Evaluasi key performance indicator (KPI) dalam rerangka Balanced Scorecard (BSC) sebagai upaya mencapai SMK Pusat Keunggulan yang diharapkan. Pembelajaran berkualitas, Edukatif, akuntable, Efisien dan Profesional, menjadikan SMKN 1 Sidoarjo sebagai ekosistem yang memenuhi standar DUDI dalam budaya kerja, tempat praktik maupun peralatan praktiknya.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada keluarga besar saya yang sudah mensupport secara penuh baik materiil dan spriritual, Bapak Kepala SMKN 1 Sidoarjo dan semua pihak di SMKN 1 Sidoarjo baik siswa dan guru yang telah berkontribusi dalam pengembangan SMK Pusat Keunggulan di SMKN 1 Sidoarjo selama 4 tahun ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyelesaikan artikel ilmiah ini.

References

A. Arika, M. S. Nawir, A. Ubaidillah, M. Yusuf, and Z. Zulihi, “Strategi implementasi program CoE (Center of Excellence) pada kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik,” Cetta: J. Ilmu Pendidik., vol. 6, no. 2, pp. 288–305, 2023, doi: 10.37329/cetta.v6i2.2379.

A. Dwi et al., “Mencetak SDM terampil dan berkarakter melalui implementasi model IPjBL pada pendidikan vokasi di era Industri 4.0,” 2016.

J. S. Akyuwen, R. Kempa, and S. Rumfot, “Peran kepala sekolah dalam pengembangan teaching factory (TEFA) pada SMK Pusat Keunggulan yang ada di Kota Ambon,” EDUKASIA: J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 4, no. 2, pp. 1145–1154, 2023. [Online]. Available: https://jurnaledukasia.org/index.php/edukasia/article/view/407

M. Fahmi, J. Syah, and C. Suyatmini, “Evaluasi pelaksanaan teaching factory,” vol. 12, no. 2, pp. 203–215, 2020.

Ley 25.632, “No title,” pp. 1–11, 2002.

O. Arifudin, A. Mayasari, and U. Ulfah, “Implementasi Balanced Scorecard dalam mewujudkan pendidikan tinggi world class,” Edumaspul: J. Pendidik., vol. 5, no. 2, pp. 767–775, 2021, doi: 10.33487/edumaspul.v5i2.2333.

P. S. Akuntansi, F. Ekonomi, U. Bhayangkara, and J. Raya, “Analisis penerapan metode Balance Scorecard dalam mengukur kinerja PT. Kencana Pesaka Abadi,” vol. 19, no. 2, pp. 114–125, 2023.

L. F. Viera Valencia and D. Garcia Giraldo, “No title,” Angew. Chemie Int. Ed., vol. 2, 2019.

E. Rosyifa, “Optimalisasi Key Performance Indicators (KPI) melalui pendekatan Balance Scorecard: Upaya mengimplementasikan Performance Management System (PMS) pada perguruan tinggi,” 2012.

D. Sekolah, M. Kejuruan, D. Jenderal, P. Vokasi, and K. Pendidikan, “Mengapa TEFA?,” 2023.

A. Arika, M. S. Nawir, A. Ubaidillah, M. Yusuf, and Z. Zulihi, “Strategi implementasi program CoE (Center of Excellence) pada kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik,” Cetta: J. Ilmu Pendidik., 2023.

U. Efendi, D. Pangestu, R. Rapani, and N. R. Utami, “Implementasi sikap nasionalisme peserta didik sekolah dasar di Kota Bandar Lampung pada era Revolusi Industri 4.0,” TERAMPIL: J. Pendidik. dan Pembelajaran Dasar, 2022.

J. S. Akyuwen, R. Kempa, and S. Rumfot, “Peran kepala sekolah dalam pengembangan teaching factory (TEFA) pada SMK Pusat Keunggulan yang ada di Kota Ambon,” EDUKASIA: J. Pendidik. dan Pembelajaran, 2023.

N. Fajaryati, “Evaluasi pelaksanaan teaching factory SMK di Surakarta,” J. Pendidik. Vokasi, 2013.

Z. P. Prasloranti, M. Bukit, and S. Maharani, “Evaluasi pelaksanaan model pembelajaran teaching factory di SMKN 1 Cibadak,” EDUFORTECH, 2021.