Login
Section Innovation in Education

Innovation In Inclusive Student Care Management At Aisyiyah Kindergarten


Inovasi Manajemen Pengasuhan Siswa Inklusi Di Taman Kanak Kanak Aisyiyah
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Massuniyah (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

The purpose of this research is to analyze the care management applied to inclusive students and to find out what factors support the success of appropriate care for inclusive students at Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Kindergarten. As an inclusive kindergarten since 2021, Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Kindergarten continues to improve, especially in terms of managing the care of inclusive students by implementing program planning management, organizing, managing resources, coordinating, controlling implementation, controlling resources, and evaluating programs. In implementing care management for inclusive students, various kinds of challenges are often encountered, including challenges regarding funding which are quite large, challenges from parents of inclusive students who are very critical of school policies. This research uses a qualitative descriptive method using data analysis techniques by collecting, processing and interpreting data from various sources, such as observation, documentation and interviews. From the results of the data analysis, the researcher concluded that the Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Kindergarten had management for caring for inclusive students that was quite well organized and had been successful in providing care for its inclusive students. This is because there are several supporting factors, namely good coordination from top to bottom, competent educators and education staff, adequate facilities and infrastructure, intervention from experts, sufficient funds sourced internally from the institution, from parents and funds from the government


General Background Providing appropriate care and educational facilities for children with special needs represents a fundamental aspect of inclusive early childhood education. Specific Background Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Kindergarten operates as an inclusive institution developing specialized care programs and individualized interventions to accommodate diverse disabilities. Knowledge Gap Although literature confirms the necessity of inclusive practices, qualitative evaluations focusing specifically on the systematic management cycle and the unique resource challenges faced by inclusive kindergartens remain underexplored. Aims This research analyzes the specific care management strategies applied to inclusive students and identifies the primary factors supporting their success. Results Utilizing a qualitative descriptive method, the study found that the kindergarten successfully applies a comprehensive management cycle involving program planning, organizing, resource allocation, and continuous evaluation. Key supporting factors include strong top-down coordination, competent special assisting teachers, adequate infrastructure, specialized therapeutic interventions, and sufficient funding sourced internally, from parents, and through government assistance. Novelty This study provides a detailed blueprint of how early childhood institutions can successfully synergize professional therapeutic interventions with daily pedagogical care within a structured management framework. Implications Implementing this structured care management model allows other early childhood institutions to effectively overcome resource challenges and ensure that special needs students receive optimal developmental support.


Highlights:




  • A comprehensive management cycle ensures structured care from initial program planning to continuous evaluation.




  • Integrating professional occupational and speech therapy directly supports the individualized developmental needs of inclusive students.




  • Successful inclusive care requires combined financial support from institutional resources, parents, and targeted government assistance.




Keywords: Inclusive Care Management, Early Childhood Education, Special Needs Students, Therapeutic Intervention. Educational Innovation


 

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Manajemen pengasuhan terhadap siswa inklusi harus betul-betul dirancang dan diterapkan dengan baik agar pengasuhan yang dilakukan terhadap siswa inklusi bisa dijalankan sesuai aturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. Manajemen adalah sesuatu yang harus direncanakan secara matang, kemudian diorganisasikan dengan baik, dipimpin oleh seseorang yang ahli dibidangnya, dan mampu mengendalikan apa yang telah diupayakan oleh anggota suatu perkumpulan serta pemanfaatan seluruh sumber daya yang ada dalam perkumpulan tersebut agar dapat mencapai tujuan yang sudah disepakati bersama-sama.[1]

Manajemen melibatkan pengaturan terhadap sumber daya yang ada secara efektif dan efisien supaya dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada manajemen pengasuhan siswa inklusi terdapat aspek penting yaitu pembagian tugas, perencanaan program, pencatatan penerimaan dan pengeluaran, pelaporan, serta pengawasan.[2]. Selanjutnya manajemen yaitu tindakan bekerja dengan beberapa orang agar bisa meraih tujuan atau sasaran yang diinginkan menggunakan teknik yang efektif dan efisien.[2]

Manajemen merupakan beberapa langkah yang harus ditempuh, termasuk menyusun rencana, mengorganisasikan, melakukan koordinasi, dan mengendalikan sumber daya agar tujuan bisa tercapai dengan cara yang efektif dan efisien. Mabajemen di dalam kelas adalah bagaimana guru menciptakan lingkungan kelas yang kondusif bagi semua anak sehingga anak merasa bahagia dalam belajar, anak merasa aman dan nyaman ketika berada di dalam kelas, dengan demikian anak bisa menerima materi pembelajaran dengan baik, dan pada akhirnya tujuan pembelajaran bisa tercapai sesuai dengan yang kita harapkan.[3]

Manajemen pengasuhan terhadap siswa inklusi adalah bagaimana cara merencanakan program pengasuhan yang tepat terhadap siswa inklusi agar bisa tertangani dengan tepat sesuai kebutuhan anak, kemudian mengorganisasikannya dengan baik, pengelolaan sumber daya yang ada, mengontrol pelaksanaannya dan mengevaluasi terhadap program pengasuhan yang telah dilaksanakan. Untuk menerapkan manajemen pengasuhan yang tepat terhadap siswa inklusi diperlukan adanya kurikulum khusus yang tersusun mulai dari perencanaan yang matang, terprogram dengan baik, dan diorganisasikan dengan rapi, sehingga bisa digunakan sebagai strategi pembelajaran yang menarik berisi konten-konten pembelajaran yang kontekstual agar pembelajaran bisa membawa hasil yang terbaik.[4]

Perencanaan adalah salah satu tahap yang sangat penting dalam manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Perencanaan adalah proses pemikiran yang sistematis dan terorganisir untuk mempersiapkan rencana yang terarah dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[5] Perencanaan disini meliputi penyusunan program tahunan, penyusunan anggaran, dan penyusunan kurikulum khusus siswa inklusi. Pengorganisasian adalah cara untuk mengetahui tentang sumber daya yang ada dan apa saja kegiatan yang diperlukan agar bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan, selanjutnya dibentuk komunitas belajar untuk membantu terwujudnya hal tersebut, serta ada tanggung jawab dan wewenang khusus yang diberikan untuk melaksanakan tugas-tugas pekerjaan yang diembannya.[6] Sumber daya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam pengasuhan siswa inklusi di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan. Seorang yang siap, bersedia dan memiliki kemampuan dalam memberi sumbangsih terhadap upaya dalam mencapai tujuan organisasi disebut sumber daya manusia.[7] Yang dimaksud disini adalah pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua murid dan masyarakat sekitar.

Pengaturan terhadap sumber daya manusia adalah bagian dari manajemen perencanaan, pengorganisasian, pengendalian serta pengarahan mulai dari pengadaan tenaga kerja, pengembangan kompetensi, memberikan kompensasi, integrasi, pemeliharaan dan pemutusan hubungan kerja yang bertujuan untuk mencapai tujuan atau sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat.[8] Kemudian supervisi merupakan sebuah layanan yang diberikan kepada semua pendidik dan tenaga kependidikan dengan tujuan untuk menghasilkan perbaikan instruksional, proses belajar mengajar dan kurikulum.[9] Sedangkan evaluasi adalah suatu proses menggambarkan sesuatu, memperoleh dan menyampaikan informasi yang bermanfaat untuk menilai alternatif suatu Keputusan.[10]

Dalam penerapan manajemen pengasuhan siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Tidak hanya merencanakan program, menyusun anggaran, dan menyiapkan kurikulum khusus untuk siswa inklusi saja, akan tetapi diperlukan juga kemauan yang keras bagi para pendidik dan tenaga kependidikan untuk banyak belajar, baik itu melalui pelatihan-pelatihan, membaca buku, mencari pengetahuan di sosial media, maupun melakukan studi tiru ke lembaga-lembaga inklusi yang sudah menerapkan manajemen pengasuhan yang baik terhadap siswa inklusinya, sehingga dengan banyak belajar guru mampu mewujudkan pola pengasuhan yang tepat terhadap siswa inklusinya. Selain itu guru juga harus mampu menampilkan perilaku yang baik ketika proses pendidikan, karena guru adalah model bagi anak-anak, apa yang dilakukan oleh guru akan berpengaruh kuat bagi pendidikan perilaku dan kepribadian anak didik. Oleh sebab itu perilaku dan kepribadian guru harus dikembangkan sebaik mungkin sehingga akan dicontoh oleh anak didik dalam proses pendidikan.[11]

Siswa inklusi atau yang disebut siswa berkebutuhan khusus yaitu siswa yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami hambatan yang bermakna dalam hal karakteristik Neuromotor atau fisik, mental, perilaku sosial, sensorik, penyakit kronis, dan kemampuan berkomunikasi, atau gabungan dari dua karakteristik tersebut atau lebih.[12]. Siswa inklusi juga disebut siswa penyandang disabilitas yang memiliki karakteristik dan kebutuhan khusus serta memerlukan penanganan yang khusus pula agar mereka bisa tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya. Siswa inklusi memiliki keunikan, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda-beda, oleh sebab itu perlu pembimbingan serta bantuan secara intensif sesuai kebutuhan masing-masing anak. Pada pengertian yang lain, siswa inklusi adalah siswa yang memiliki hambatan dalam perkembangannya sehingga dalam kegiatan belajar mengajar memerlukan bimbingan khusus.[13]. Bimbingan khusus adalah bimbingan yang diperlukan bagi anak berkebutuhan khusus yang dilihat dari latar belakang psikologis, pendidikan, dan sosiologisnya agar tujuan pendidikan bisa tercapai secara optimal bagi setiap peserta didik berkebutuhan khusus.[14]. Siswa inklusi mempunyai Tingkat kesulitan yang berbeda-beda, oleh sebab itu mereka membutuhkan fasilitas yang tidak sama dengan anak-anak yang lainnya.[15]

Setelah memperhatikan beberapa teori di atas, seharusnya siswa inklusi itu diberikan pengasuhan yang khusus, namun pada kenyataannya dalam penerapan pendidikan inklusi, anak-anak yang berkebutuhan khusus ini masih kurang diperhatikanan oleh guru, sehingga ketika proses belajar mengajar materinya disamaratakan dengan anak-anak reguler, dengan demikian perkembangan anak inklusi terlihat relatif lambat. Hal ini disebabkan karena anak inklusi kurang fokus dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, disamping itu anak kurang mampu dalam menyelesaikan masalah sederhana yang dihadapi dalam kehidupannya, kurang inisiatif, dan tidak bisa berpikir logis, akibatknya perkembangan kognitif anak menjadi terhambat.[16]. Untuk bisa melaksanakan pengasuhan yang tepat terhadap siswa inklusi di sekolah inklusif sebaiknya guru kelas dan guru pendamping khusus harus sering berkomunikasi dengan orangtua murid mengenai perkembangan anaknya, hasil komunikasi bisa dimanfaatkan untuk bahan penyususnan profil anak dan Program Pembelajaran Individu (PPI), karena dengan tersusunnya profil anak dan PPI siswa inklusi akan bisa diberikan pendidikan khusus sesuai keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing siswa inklusi, dan akan lebih baik lagi jika siswa inklusi dalam proses belajar mengajar ada Guru Pendamping Khusus (GPK) supaya bisa betul-betul diperhatikan.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang berusaha mengakomodasi siswa yang beraneka ragam, termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Secara ideal dan paradigmatik, pembelajaran yang mengakomodir semua anak didik dan berusaha meminimalisir label-lebel yang kurang baik, dan melibatkan beberapa kelompok yang ikut andil dalam pekerjaannya.[17]. Pendidikan inklusif merupakan lembaga pendidikan yang melayani pendidikan untuk anak-anak reguler dan anak-anak inklusi, namun pada waktu-waktu tertentu peserta didik yang mempunyai hambatan ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar disebabkan adanya suatu yang berbeda pada mental, emosional, fisik, sosial, atau mempunyai potensi cerdas istimewa akan diberikan pendidikan khusus.

Dengan diberikannya fasilitas pendidikan secara khusus diharapkan siswa inklusi bisa mendapatkan pengasuhan yang tepat serta mampu meningkatkan hasil belajar, pembelajaran yang sesuai, sikap toleransi antar peserta didik dan kesejahteraan siswa inklusi. Namun pada kenyataan di lapangan manajemen pengasuhan terhadap siswa inklusi apakah sudah dijalankan dengan tepat sesuai pedoman umum pelaksanaan pendidikan khusus atau belum? Pada kenyataannya masih ada guru yang memperlakukan siswa inklusi dengan perlakuan yang berbeda, hal ini akan mengancam mental anak dan sangat tidak pantas, karena semua anak harus mendapatkan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak untuk mempersiapkan masa depannya.[18]. Disamping itu masih banyak ditemukan guru-guru yang mendampingi siswa inklusi tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan pendidikan inklusi, sehingga memperlakukan siswa inklusi tidak sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya dia dapatkan.

Berkenaan dengan permasalahan di atas penulis tergerak untuk melakukan analisis mengenai seberapa efektifnya manajemen pengasuhan siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo, yang meliputi penerapan manajemen pengasuhan terhadap siswa inklusi, faktor apa saja yang mendukung terlaksananya pengasuhan yang tepat, dan hasil yang didapat dari pola pengasuhan yang tepat. Tujuan dilakukan analisis ini adalah ingin mengungkap manajemen pengasuhan siswa inklusi, faktor pendukung terlaksananya pengasuhan yang tepat, dan hasil belajar siswa inklusi setelah dilaksanakannya pengasuhan yang tepat di jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Penulis melakukan penelitian di lembaga tersebut karena lembaga tersebut merupakan TK inklusif sejak tahun 2021 hingga sekarang, dan setiap tahunnya menerima anak inklusi berbagai jenis sesuai kuota yang telah ditetapkan, yaitu setiap kelas maksimal ada dua anak inklusi dengan didampingi satu pendamping khusus. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh psikolog, anak-anak inklusi yang ada di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan ada jenis autizm, ADHD, Bakat Istimewa, Down Syndrom, dan cerebal palsy (CP).

Adapun penelitian sebelumnya yang penulis gunakan sebagai rujukan, adalah penelitian yang dilakukan oleh Mashun, 2020. Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk membaca sambil menganalisis isi dalam buku tersebut. Penelitian ini diberi judul “Implementasi Manajemen Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar Al Firdaus Solo dan Sekolah Dasar Negeri Karanganyar Yogjakarta : Suatu Evaluasi Program” . Penelitian ini dilaksanakan di dua lembaga, yaitu sekolah swasta dan SD Negeri Karanganyar Yogyakarta yang merupakan kebutuhan rakyat saat ini dan kesesuaian program dengan tujuan ingin mengetahui sampai dimana efektifnya pelaksanaan memasukkan program pembelajaran inklusi di Sekolah Dasar Al Firdaus Solo dan Sekolah Dasar Negeri Karanganyar Yogyakarta yang antara lain siswa, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, kurikulum, dan asesmen.

Mengenai efektivitasnya pelaksanaan proses perencanaan pendidikan inklusi pada Sekolah Dasar Al Firdaus Solo dan Sekolah Dasar Negeri Karanganyar Yogyakarta yang meliputi rencana pembelajaran, proses pembelajaran, dan manajemen sampai dimana pelaksanaannya? Kemudian seberapa efektifnya hasil implementasi program pendidikan inklusi pada Sekolah Dasar Al Firdaus Solo dan Sekolah Dasar Negeri Karanganyar Yogyakarta yang meliputi hasil belajar siswa dilihat dari bidang pengembangan Nilai Agama dan Moral, sosial emosional, motorik, kognitif, dan bahasa. Tulisan ini berusaha untuk membedah, praktek pelaksanaan manajemen pendidikan pada siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar.[19]

Dalam penelitian terdahulu yang lain dilakukan oleh Alisa Alfina, dan Rosyida Nurul Anwar, mereka meneliti tentang manajemen sekolah ramah anak pada PAUD inklusi di Cendekia Kids School (CKS) dan Rumah Belajar All Kids di Kota Madiun. Manajemen sekolah ramah anak pada PAUD inklusif sangat penting untuk dilaksanakan dengan baik, karena saat ini pemerintah sedang memperhatikan betul tentang sekolah ramah anak pada PAUD inklusif.[20]

Dari ke-dua penelitian tersebut jika diperhatikan ada beberapa persamaan dengan penelitian yang penulis lakukan, diantaranya, ke-duanya sama-sama meneliti tentang manajemen yang diterapkan di pendidikan inklusi. Sedangkan perbedaannya, kalau penelitian yang yang dilakukan oleh Mashun obyek penelitiannya adalah siswa inklusi jenjang Sekolah Dasar (SD), sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Alisa Alfina dan Rosyida Nurul Anwari penelitiannya juga di sekolah inklusi dengan mengunakan manajemen sekolah ramah anak, dan dilaksanakan di jenjang PAUD. . Dan yang peneliti lakukan saat ini adalah penelitian yang difokuskan pada manajemen pengasuhan siswa inklusi, dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengasuhan terhadap siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan.

Berdasarkan fokus penelitian di atas penulis mencoba untuk merumuskan beberapa rumusan masalah yang antara lain :

1) Bagaimana manajemen yang diterapkan pada pengasuhan terhadap siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo?

2) Faktor apa saja yang mendukung keberhasilan pengasuhan yang tepat bagi siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo?.

II. Metode

Dalam penelitian ini jenis penelitiannya adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, artinya penelitian yang hasilnya berupa kata-kata atau kalimat yang ditulis dari hasil analisis kasus atau kejadian tertentu secara mendalam melalui pengamatan terhadap perilaku orang-orang yang telah diteliti, Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan beberapa temuan yang tidak mungkin dicapai jika mempergunakan metode kuantitatif dengan prosedur statistik.[21] Pada penelitian ini penulis melakukan pengamatan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo, pada Tahun Ajaran 2024-2025. Tehnik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah tehnik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Untuk mendapatkan informasi yang berguna dan akurat penulis menggunakan tehnik analisis data dengan analisis konten, yaitu menganalisis isi dari data hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara selanjutnya mengumpulkan, mengolah, dan mengintepretasikan data tersebut. Tujuan dilakukan observasi adalah untuk memperoleh data secara langsung praktek manajemen pengasuhan pada siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo. Observasi yang dilaksanakan yaitu observasi mengenai manajemen lembaga dalam menerapkan pengasuhan pada siswa inklusi, kegiatan belajar-mengajar terhadap siswa inklusi, kurikulum khusus yang digunakan, sarana-prasana penunjang pembelajaran, Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengasuhan, dan hasil belajar siswa inklusi. Subyek penelitian adalah siswa inklusi, Kepala Sekolah, wali kelas, guru pendamping khusus, sarana-prasarana untuk siswa inklusi, terapis okupasi dan terapis wicara, psikolog, dan bendahara sekolah.

Tehnik wawancara yang peneliti lakukan adalah melakukan wawancara dengan dengan kepala sekolah, Kooordinator inklusi, Wali kelas, guru pendamping khusus, terapis okupasi dan terapis wicara, psikolog, bendahara sekolah, dan wawancara dengan teman sejawat di sekolah lain. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang manajemen pengasuhan di TK Inklusif, program-program pendidikan khusus untuk siswa inklusi dan kurikulum yang telah diterapkan terhadap siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo. Sedangkan wawancara dengan terapis yang ada di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang program intervensi melalui terapi okupasi maupun terapi wicara dan hasil yang dicapai siswa inklusi setelah mengikuti kegiatan terapi secara berkala. Adapun observasi penulis melakukan observasi mengenai penerapan manajemen pengasuhan dan faktor yang mendukung keberhasilan itu apa saja. Teknik dokumentasi dilaksanakan bertujuan untuk memperoleh data sekolah dan kegiatan siswa inklusi pada saat observasi. Dokumentasi juga berupa foto dan Link video rekaman tentang penerapan pengasuhan terhadap siswa inklusi, proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas, foto sarana dan prasarana yang digunakan untuk intervensi terhadap siswa inklusi, proses terapi untuk anak inklusi, dan video wawancara dengan subyek penelitian yang telah penulis sebutkan di atas.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Penerapan Manajemen Pengasuhan Pada Siswa Inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan

Berdasarkan hasil dari penelitian yang penulis lakukan melalui tehnik wawancara, observasi, dan dokumentasi mengenai manajemen pengasuhan pada siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo, penulis akan membahas hasil dari penelitian berdasarkan hasil analisis data melalui ketiga tehnik tersebut yang sesuai dengan rumusan masalah pada bab sebelumnya, yaitu tentang bagaimana manajemen pengasuhan pada siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan. Dari hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan Koordinator Inklusi Iqomatul Diniyah, S.M, menghasilkan data sebagai berikut :

TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan merupakan TK yang tertua di Kecamatan Taman, berdiri sejak tahun 1952 hingga sekarang usianya sudah 72 tahun, sudah sangat tua usianya disbanding dengan Lembaga-lembaga yang lain di sekitarnya. Namun, meskipun pada saat ini banyak sekali persaingan dengan lembaga-lembaga baru yang muncul TK Aisyiyah Bustanul Athfal tetap eksis hingga sekarang. Hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah siswa secara keseluruhan mencapai 146 siswa, yang terbagi dalam Sembilan kelompok. Karena TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan merupakan TK Inklusif maka setiap kelas ada siswa berkebutuhan khusus atau inklusi. Dalam satu kelas terdiri dari 15 hingga 19 siswa regular dan juga inklusi. Setiap kelas ada yang berisi satu siswa inklusi ada pula yang dua siswa inklusi, di dalam kelas terdiri satu guru kelas dan satu guru pendamping khusus yang mendampingi siswa inklusi ketika di dalam atau di luar kelas. Jumlah pendidik dan tenaga kependidikan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan ada 30 orang.

Implementasi menajemen pengasuhan terhadap siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan Taman Sidoarjo menerapkan manajemen perencanaan program, pengorganisasian, pengaturan sumber daya, melakukan koordinasi, mengontrol pelaksanaannya, mengendalikan sumberdaya, dan mengevaluasi program. Agar pelaksanaan pengasuhan terhadap siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan bisa berjalan dengan baik, maka diperlukan perencanaan program yang matang. Manajemen Perencanaan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan meliputi : penetapan kuota siswa inklusi yang akan diterima di tahun ajaran yang akan datang, perencanaan program beserta penganggaran biayanya, penataan aktivitas pengasuhan, penetapan sumberdaya manusia, termasuk penetapan koordinator inklusi, wali kelas, dan guru pendamping khusus di masing-masing kelas, menyiapkan kurikulum dan mengembangkan materi pembelajaran, menyiapkan akomodasi yang layak untuk mendukung jalannya pengasuhan, serta mengkomunikasikan rencana-rencana yang telah diputuskan kepada pihak-pihak yang ada kaitannya dengan pendidikan inklusi.[6]

Tidak kalah pentingnya dengan manjemen perencanaan, lembaga Pendidikan yang merupakan TK inklusif ini juga menerapkan manajemen pengorganisasian. Untuk mengetahui tentang sumber daya manusia yang ada, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan melakukan identifikasi awal melalui kegiatan interview calon pendidik dan tenaga kependidikan sebelum diterima sebagai pegawai. Dengan adanya kegiatan interview tersebut para pimpinan Lembaga akan mampu mengklasifikasikan berbagai kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing calon pendidik dan tenaga kependidikan sebagai dasar penempatan tugas pekerjaan, karena siswa inklusi memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh sebab itu karakteristik guru-guru yang akan mendampingi harus disesuaikan dengan karakteristik siswa inklusi yang akan didampinginya. Bagi pendidik yang sudah lama mengajar maupun yang baru sering diikutkan pelatihan, setiap tahun ada evaluasi kinerjanya sehingga jika ada pendidik yang kinerjanya kurang bagus akan ada peringatan-peringatan khusus, dan jika ada pendidik yang kinerjanya bagus akan mendapatkan reword dari pimpinan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Dalam pengaturan sumber daya, setiap organisasi perlu untuk mengelola sumber daya manusia yang ada pada organisasi tersebut, termasuk juga organisasi lembaga pendidikan, karena sumber daya manusia memiliki peran yang paling utama, oleh sebab itu pimpinan lembaga pendidikan berkewajiban untuk mengelola sumber daya yang ada dengan sebaik-baiknya untuk melaksanakan sistem manajemen supaya bisa berjalan secara efektif dan efisien untuk mencapai visi, misi, dan tujuan yang telah disepakati bersama.[22]

Proses pengelolaan sumberdaya manusia diperlukan koordinasi yang baik antara elemen yang satu dengan yang lainnya, Koordinasi merupakan proses penyesuaian diri dari bagian yang satu dengan yang lainnya, dan dalam upaya untuk menggerakkan dan mengoperasikan bagian-bagian pada saat yang sesuai, sehingga antara bagian yang satu dengan yang lainnya mampu memberikan sumbangsih paling banyak pada keseluruhan hasil yang dicapai.[23] Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan sudah melakukan koordinasi sejak sebelum memasuki tahun ajaran baru, para pimpinan sudah menetapkan tugas masing-masing individu yang terdiri dari beberapa elemen, diantaranya : ada Guru Kelompok A, Guru Kelompok B, Guru Pendamping Khusus Kelompok A, dan Guru Pendamping Khusus Kelompok B. Dengan adanya penetapan tugas tersebut para pimpinan membentuk kelompok-kelompok kerja yang tergabung dalam komunitas belajar kelompok kecil, masing-masing komunitas belajar memiliki visi, misi dan tujuan yang berbeda-beda, hal ini sebagai pedoman dan motivasi bagi mereka dalam melaksanakan diskusi di setiap komunitas belajar. Komunitas belajar adalah Kumpulan dari beberapa orang guru dalam suatu Lembaga Pendidikan yang saling berbagi praktik baik dan saling berkolaborasi secara rutin dengan memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sehinga bisa membawa dampak yang baik bagi Lembaga Pendidikan.[24]

Dengan adanya komunitas belajar kelompok kecil tersebut manfaatnya sangat besar sekali, karena para pendidik yang sudah berpengalaman dalam memberikan pengasuhan kepada siswa inklusi di masing-masing kelompok bisa saling berbagi praktik baik sehingga para pendidik yang baru bisa menimbah ilmu disitu, disamping itu mereka juga bisa mengerjakan tugas secara bersama-sama, dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi di kelas secara bersama-sama pula, sehingga masalah yang dihadaapi oleh masing-masing pendidik bisa diatasi dengan baik. Kemudian dari kelompok-kelompok kecil tersebut, setiap satu bulan sekali dijadwalkan untuk berkumpul dalam wadah komunitas belajar tingkat sekolah. Dalam komunitas belajar tingkat sekolah disini banyak yang dibahas, karena biasanya sekalian penyampaian informasi-informasi terbaru yang disampaikan oleh Kepala Sekolah maupun Wakil Kepala Sekolah, setelah itu dilanjutkan diskusi bersama tentang pemecahan masalah yang ditemukan di Komunitas Belajar kelompok kecil hingga dipecahkannya masalah tersebut dilanjutkan dengan adanya suatu kesepakatan bersama. Dengan demikian koordinasi akan bisa berjalan dengan baik dan akan membawa dampak yang positif terhadap pola pengasuhan siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan.

Setelah adanya koordinasi yang sudah tertata dengan baik, langkah selanjutnya adalah Kepala Sekolah beserta team melakukan supervisi untuk mengontrol pelaksanaan tugas para pendidik dan tenaga kependidikan dengan menyusun jadwal supervisi ke kelas-kelas, dengan demikian Kepala Sekolah bisa mengamati secara langsung kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya. Jika dalam supervisi ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan, disnilah Kepala sekolah harus mampu mengendalikannya, yaitu dengan memberikan masukan kepada pendidik yang bersangkutan, baik itu disampaikan secara lisan maupun melalui catatan di buku supervisi kelas. Selanjutnya hasil supervisi tersebut diinput ke dalam aplikasi E-Kinerja, khususnya bagi para pendidik. Dengan adanya kegiatan supervisi tersebut diharapkan adanya perbaikan-perbaikan terhadap kinerja para pendidik dan tenaga kependidikan, sehingga pendidikan yang dijalankan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan bisa menjadi pendidikan yang berkualitas.

Sebagai langkah yang terakhir, manajemen pengasuhan siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan yaitu adanya kegiatan Refleksi dan evaluasi terhadap semua program yang telah dijalankan. Refleksi dan evaluasi disini ada yang skala kecil, yaitu refleksi dan evaluasi yang dilakukan setiap selesai melaksanakan program, dan ada refleksi dan evaluasi dalam skala besar, yaitu refleksi dan evaluasi terhadap semua program yang telah dilaksanakan dalam satu tahun. Dari hasil refleksi dan evaluasi tersebut apakah ada program yang perlu dilanjutkan di tahun ajaran yang akan datang atau ada program yang harus dihapus karena kurang manfaatnya bagi pendidikan. Kegiatan ini dilakukan setiap akhir tahun ajaran dengan mengundang Pimpinan Aisyiyah Sepanjang dan perwakilan orang tua murid, karena dengan menghadirkan mereka diharapkan pihak sekolah akan mendapatkan masukan-masukan yang baik untuk pengembangan lembaga selanjutnya.

Pada tehnik observasi, penulis melakukan observasi ketika proses pelaksanaan penerapan manajemen pengasuhan siswa inklusi, yaitu mulai tahap perencanaan. Dalam manajemen perencanaan ini penulis melakukan observasi ketika seluruh pendidik dan tenaga kependidikan melakukan rapat kerja penyusunan program yang melibatkan perwakilan orang tua murid, pengurus IWAMA, dan PCA Majelis Paud Dasmen. Kemudian observasi ketika menyusun kurikulum khusus siswa inklusi yang berbentuk Program Pembelajaran Individu (PPI) yang melibatkan Kepala Sekolah, Koordinator inklusi, wali kelas, guru pendamping khusus, orang tua murid, dan terapis okupasi yang ada di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan. Disamping itu juga melakukan observasi ketika proses sosialisasi pihak sekolah kepada seluruh orang tua murid tentang TK Inklusif serta program-program dan SOP yang harus diataati. Selanjutnya dalam pengorganisasian, penulis melakukan observasi ketika proses interview calon guru pendamping khusus. Dan yang terakhir penulis melakukan observasi pada saat proses rapat tentang refleksi dan evaluasi terhadap kinerja semua pendidik dan tenaga kependidikan. Adapun tehnik dokumentasi, penulis mendokumentasikan tentang semua kegiatan yang penulis sebutkan di atas.

B. Faktor Pendukung terlaksananya Pengasuhan yang Tepat dan Faktor Keberhasilan Pengasuhan terhadap siswa Inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan

Proses pengasuhan terhadap siswa inklusi tidak akan bisa berhasil dengan baik jika tidak didukung dengan beberapa hal, diantaranya : dana atau biaya yang cukup, sarana pra sarana yang cukup memadai dan mampu memberikan akomodasi yang layak untuk siswa penyandang disabilitas agar mampu memberikan stimulasi pertumbuhan dan perkembangannya. Kemudian juga perlu menyiapkan pendidik dan tenaga kependidikan yang berkompeten di bidangnya.

Pada Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 tentang Akomodasi yang layak bagi siswa Penyandang Disabilitas di Satuan Pendidikan Pada Kementerian Agama, BAB 1, menjelaskan, bahwa Akomodasi yang layak yaitu penyesuaian dan modifikasi yang tepat dan digunakan untuk menjamin pelaksanaan dan penikmatan semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental untuk penyandang disabilitas berdasarkan kesetaraan. [25] Untuk memberikan akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas tersebut perlu didukung dengan biaya yang cukup banyak, baik itu biaya yang harus dikeluarkan oleh sekolah maupun oleh orang tua siswa. Bagi sekolah, sebelum menerima siswa inklusi perlu menyiapkan terlebih dahulu sarana prasarana yang dibutuhkan oleh siswa inklusi. Dalam hal sarana pra sarana yang dibutuhkan oleh siswa inklusi penulis mengambil data melalui wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah yang membidangi sarana dan pra sarana, yaitu Ibu Yuli Sugiharti, A. Md.

Sarana pra sarana yang dibutuhkan untuk siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan menurut Ibu Yuli Sugiharti, A. Md. antara lain : alat permainan outdoor dan indoor yang sesuai dengan jumlah siswa dan bisa berfungsi ganda, yaitu sebagai alat bermain bersama anak-anak reguler setiap hari, sehingga siswa inklusi bisa bersosialisasi dengan teman-temannya yang reguler, disamping itu alat permainan yang ada juga harus bisa berfungsi sebagai alat yang bisa digunakan untuk intervensi terhadap siswa inklusi, seperti lapangan bola yang banyak rumputnya bisa berfungsi untuk terapi sensory motor anak, ayunan bisa berfungsi untuk menstimulasi konsentrasi dan fokus anak, tangga majemuk berfungsi untuk menguatkan otot-otot persendian agar anak mampu mekakukan kegiatan motorik halus dengan baik. Kemudian pihak sekolah juga harus menyiapkan ruang terapi okupasi, terapi wicara, ruang konsultasi psikologi, maupun ruang sumber atau ruang bridging. Ruangan-ruangan tersebut sangat diperlukan bagi siswa inklusi, yaitu untuk kegiatan intervensi khusus atau terapi oleh tenaga ahli yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Semua itu di TK Aisyiyah Bustanul Athfal bebekan telah tersedia. Namun untuk kegiatan intervensi atau terapi okupasi dan terapi wicara tidak harus dilakukan di sekolah, akan tetapi bisa dilakukan di tempat lain, seperti di lembaga-lembaga terapi, atau di rumah sakit yang menyediakan sarana terapi okupasi maupun terapi wicara, namun pihak sekolah tetap meminta laporannya secara tertulis.

Berkenaan dengan kegiatan terapi, penulis melakukan wawancara dengan terapis okupasi dan terapis wicara mengenai pentingnya dilakukan terapi bagi siswa inklusi. Berdasarkan dengan hasil wawancara dengan terapis okupasi dan terapis wicara di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan, mereka menyampaikan kalau kegiatan terapi sangat diperlukan bagi siswa inklusi untuk menstimulasi perkembangannya agar bisa mengejar ketertinggalannya. Menurut Kemenkes, direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan, Okupasi Terapi adalah sebuah perawatan yang memiliki tujuan untuk membantu seseorang yang memiliki keterbatasan mental, fisik, serta kognitif. intervensi ini dilaksanakan bertujuan agar pengidap dapat menjadi tidak ketergantungan pada orang lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan diadakannya terapi adalah agar masalah perilaku dan konsentrasi anak bisa berkurang, setelah itu bisa meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan anak, terutama dalam hal penggunaan bahasa. Tujuan diadakan terapi bisa berhasil dengan baik melalui program okupasi terapi yang menyeluruh dan sifatnya individual.[26]

Untuk kegiatan asesmen dan untuk mengatasi masalah-masalah psikologis pada siswa inklusi, di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan menyediakan layanan konsultasi psikologi, agar masalah-masalah yang dialami oleh anak maupun orang tua bisa teratasi dengan baik. Dalam hal konsultasi psikologi TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan melakukan kerjasama dengan team Psikolog Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang bersedia hadir di sekolah setiap ada permintaan untuk hadir. Dengan adanya layanan asesmen dan konstasi psikologi ini pihak sekolah juga harus menyiapkan sarana untuk ruangan konsultasi psikologi. Jadi banyak sekali sarana yang harus disiapkan dan tentunya dengan banyaknya sarana yang harus disiapkan akan membutuhkan biaya banyak yang harus dikeluarkan oleh pihak sekolah. Dalam hal asesmen dan konsultasi psikologi penulis melakukakan wawancara dengan Psikolog Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Agar supaya anak-anak inklusi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, dan bisa mengejar ketertinggalannya, orang tua siswa harus rela mengeluarkan biaya khusus untuk anaknya yang menyandang disabilitas, yaitu biaya untuk asesmen ke dokter tumbuh kembang atau ke psikolog untuk mengetahui sejak dini keadaan anaknya serta jenis disabilitas apa yang disandang oleh anaknya. Tidak hanya itu saja biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua siswa inklusi, karena masih ada biaya terapi untuk anaknya agar pertumbuhan dan perkembangannya tidak terlalu jauh terlambat, dan ini harus dilakukan beberapa lama tergantung dukungan dari orang tua ketika di rumah, apakah bersedia menindak lanjuti melakukan intervensi yang disarankan oleh terapisnya atau tidak, karena jika orang tua tidak menindak lanjuti ketika di rumah maka perkembangan anak akan terus terlambat, dan akhurnya terus mengeluarkan biaya untuk terapi sang anak. Selain itu ada biaya untuk membayar Guru Pendamping Khusus jika anaknya disarankan oleh terapisnya harus ada Guru Pendamping Khusus yang akan mendampingi anaknya ketika berada di sekolah. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara dengan perwakilan orang tua siswa inklusi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan.

Berhubungan dengan pembiayaan, penulis melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan, karena dengan banyaknya biaya yang diperlukan oleh siswa inklusi di atas, pihak sekolah tidak bisa tinggal diam, akan tetapi berupaya untuk menyisihkan anggaran khusus untuk subsidi biaya Guru Pendamping Khusus, terapi okupasi, terapi wicara, maupun konsultasi psikologi. Disamping itu pihak sekolah berupaya untuk mengajukan dana bantuan khusus untuk anak-anak inklusi kepada pemerintah atau Dirjen PAUD Kemndikbud Ristek, dan alhamdulillah pengajuan ini disetujui oleh pihak Dirjen PAUD dalam dua tahun terakhir ini, sehingga bisa mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan oleh sekolah maupun orang tua murid, karena bantuan yang didapat bisa diperuntukkan untuk subsidi biaya tambahan honor Guru Pendamping Khusus, biaya terapi, untuk pembangunan ruang bridging beserta perlengkapannya, dan untuk peningkatan kompetensi pendidik.

Dengan adanya biaya yang telah disisihkan oleh sekolah serta bantuan dari pemerintah tersebut manfaatnya sangat besar sekali, karena disamping bermanfaat untuk sekolah dan anak-anak juga bermanfaat untuk guru-gurunya, karena guru-gurunya sering diikutkan pelatihan-pelatihan, baik yang diadakan oleh intern sekolah dengan memanggil narasumber dari luar juga mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Pimpinan Aisyiyah, baik pusat maupun wilayah dan daerah, serta pelatihan mandiri yang diikuti oleh guru-guru melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM), sehingga dengan adanya pelatihan-pelatihan tersebut guru-guru bisa semakin memahami tentang karakteristik dan kebutuhan anak-anak inklusi, sehingga bisa mengasuh siswa inklusi dengan baik dan bisa menghasilkan pengasuhan yang berkualitas. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menciptakan pengasuhan yang berkualitas, karena banyak sekali permasalahan yang harus dihadapi oleh TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan berkenaan dengan implementasi TK Inklusif tersebut.

Dalam perjalannya TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan sebagai TK inklusif tidak selalu berjalan mulus, akan tetapi sering mengalami kendala yang harus dihadapi dengan baik dan tenang. Kendala tersebut antara lain, sering ada guru pendamping khusus yang tidak lama mengasuh anak inklusi kemudian tiba-tiba mengajukan pengunduran diri karena merasa kurang mampu dalam mengasuh siswa inklusi yang begitu aktifnya. Disamping itu kendala dari orang tua murid siswa inklusi, karena sering ditemukan orang tua siswa yang sangat kritis dan banyak menuntut kepada pihak sekolah maupun kepada Guru Pendamping Khususnya dengan tutntutan yang bermacam-macam.

Menghadapi berbagai kendala tersebut tidak membuat para pimpinan dan para guru surut dalam mengimplementasikan TK Inklusif, akan tetapi membuat lebih semangat dalam mencari jalan keluar yang terbaik dalam mengatasi kendala tersebut, sehingga sampai sekarang tetap bertahan dalam memberikan pelayanan pengasuhan terhadap siswa inklusi. Upaya yang dilakukan oleh TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah, sebelum menerima Guru Pendamping Khusus maupun Guru Kelas, sudah disiapkan Pakta integritas yang harus ditandatangani oleh calon guru agar tidak asal-asalan dalam melaksanakan tugas mengajar. Kemudian untuk orang tua murid, sebelum menerima peserta didik baru (PPDB) sudah menyiapkan SOP untuk pendaftaran dan pelayanan terhadap siswa inklusi. SOP tersebut harus ditunjukkan ke orang tua siswa inklusi ketika hendak mendaftarkan anaknya, meyiapkan surat perjanjian/kesepakatan untuk mematuhi SOP tersebut. Selanjutkan sebelum memulai tahun ajaran baru pihak sekolah mengundang semua orang tua murid untuk mensosialisasikan tentang TK Inklusif TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan, hal ini dilakukan agar dalam perjalanan proses belajar mengajar jika menemukan hal-hal yang tidak diingankan berkenaan dengan siswa inklusi orang tua sudah memahami dan memakluminya, serta tidak banyak kompline ke pihak sekolah.

Sebagai bahan kelengkapan analisis data, pada poin faktor pendukung keberhasilan pengasuhan siswa inklusi penulis melakukan observasi dan sekaligus mendokumentasikan ketika siswa inklusi melukukan kegiatan bermain di taman bermain dan ketika siswa inklusi bermain di dalam kelas didampingi guru pendamping khusus, ketika kegiatan terapi okupasi dan terapi wicara dan ketika kegiatan pendampingan one and one di ruang bridjing oleh guru pendamping khusus. Disamping itu penulis juga melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi mengenai pembiayaan pengasuhan siswa inklusi ke bendahara sekolah untuk mengetahui sumber-sumber dana yang diperuntukkan untuk pengasuhan siswa inklus berasal dari mana saja dan untuk apa saja penggunaan dana tersebut.

IV. Simpulan

TK Aisyiyah Bustanul Athfal Bebekan menerapkan manajemen pengasuhan terhadap siswa inklusi yang terdiri dari manajemen perencanaan program, pengorganisasian, pengaturan sumber daya, melakukan koordinasi, mengontrol pelaksanaannya, mengendalikan sumberdaya, dan mengevaluasi program. Hal ini bisa dijalankan dengan baik karena adanya koordinasi yang baik mulai dari atas hingga ke bawah, dan dukungan dari berbagai pihak termasuk orang tua murid, adapun faktor pendukung terlaksananya pengasuhan yang tepat terhadap siswa Inklusi di TK Aisyiyah Bebekan adalah adanya dana pendukung baik dari intern lembaga maupun dana yang dari pemerintah yang manfaatnya sangat besar sekali bagi siswa inklusi dan dari orang tua siswa serta pihak lembaga pendidkan. Disamping itu faktor keberhasilan juga disebabkan karena adanya sarana dan pra-sarana yang cukup memadai sehingga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan intervensi peserta didik inklusi secara rutin dan terjadwal dengan baik, serta didukung oleh tenaga pendidikan dan kependidikan yang berkompeten di bidangnya, selain itu didukung oleh beberapa tenaga ahli dalam melakukan intervensi atau terapi okupasi, terapi wicara, dan konsultasi psikologi. Namun semuanya tidak seterusnya berjalan mulus karena sering menemukan berbagai macam kendala, baik itu dari guru pendamping khusus yang sering keluar masuk maupun dari orang tua siswa inklusi yang sering kompline ke pihak sekolah. Akan tetapi semua kendala bisa teratasi dengan baik dan dengan penuh kesabaran.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur alhamdulillah kepada Allah SWT. Karena tesis ini bisa terselesaikan dengan baik meski berbagai kendala telah penulis alami namun akhirnya bisa terselesaikan juga. Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang turut serta mensukseskan terselesaikannya tesis ini, yaitu Allah SWT yang telah memberi petunjuk dan kesehatan sehingga bisa menyelesaikan tesis ini. Kemudian penulis ucapkan terimakasih juga kepada Ibu dosen pembimbing, semua keluarga dan teman-teman yang telah turut serta mendukung penyelesaian tesis ini hingga selesai. Semoga Allah SWT.membalasnya dengan balasan yang lebih baik. Aamiin.

References

H. Habe and A. Ahiruddin, “Sistem pendidikan nasional,” Ekombis Sains: J. Ekon., Keuang. dan Bisnis, vol. 2, no. 1, pp. 39–45, 2017, doi: 10.24967/ekombis.v2i1.48.

N. Pardede, D. Nababan, O. Simanjuntak, et al., “Pengelolaan manajemen keuangan sekolah pada lembaga pendidikan (studi kasus: SMK N 1 Sidikalang),” J. Cross..., vol. 2, no. 1, pp. 261–269, 2024. [Online]. Available: https://edujavare.com/index.php/IJCK/article/view/387

L. Zahroh, “Pengelolaan kelas dan siswa: Sebuah pendekatan evaluatif,” J. Tarbiyah-Syari’ah Islam., vol. 22, p. 142, 2015.

H. H. Siti Nurjannah, “Modifikasi kurikulum untuk mengakomodasi pendidikan inklusif guna mendukung PAUD holistik integratif,” J. Obs.: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 7, no. 4, pp. 4819–4836, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i4.4898.

S. Nizamuddin, B. Kurniawan, and M. Subhan, “Perencanaan dalam ilmu pengantar manajemen,” J. Student Res., vol. 2, no. 1, pp. 106–120, 2024.

N. Silvia, A. A. Saepudin, N. Mufidah, and A. Malik, “Manajemen perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran bahasa Arab,” vol. 4, no. 1, 2023.

S. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia: Pendekatan Non-Sekuler. Muhammadiyah University Press, 2021.

N. Nuryanta, “Pengelolaan sumber daya manusia (tinjauan aspek rekrutmen dan seleksi),” el-Tarbawi, vol. 1, no. 1, pp. 55–69, 2008, doi: 10.20885/tarbawi.vol1.iss1.art5.

Hasan, “Pelaksanaan supervisi kelas kepala sekolah terhadap guru PAI di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Bukitraya,” J. Al-Mutharahah, vol. 16, no. 2, pp. 317–346, 2019. [Online]. Available: http://ojs.diniyah.ac.id/index.php/Al-Mutharahah

M. Huljannah, “Pentingnya proses evaluasi dalam pembelajaran di sekolah dasar,” Educ.: Directory Elem. Educ. J., vol. 2, no. 2, pp. 164–180, 2021, doi: 10.58176/edu.v2i2.157.

N. Hafidzoh, “Pola asuh guru terhadap anak berkebutuhan khusus (studi kasus Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa YPAC Jember),” Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Jember, 2019.

N. Yunaini, “Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus dalam setting pendidikan inklusi,” J. Elem. Sch. Educ., vol. 1, no. 1, pp. 18–25, 2021, doi: 10.52657/jouese.v1i1.1326.

N. Praktiningrum, “Fenomena penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus,” JPK: J. Pendidik. Khusus, vol. 7, no. 2, pp. 32–39, 2010. [Online]. Available: https://journal.uny.ac.id/index.php/jpk/article/view/774

M. P. Dr. Aljon Nixon Dapa and M. Pd. Dr. Meisie Lenny Mangantes, Bimbingan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus, vol. 11, no. 1, 2019. [Online]. Available: http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf

K. Sholikhah, “Pola pengasuhan ABK serta implementasi pendidikan inklusi jenjang pendidikan dasar,” vol. 6, no. 1, pp. 9–22, 2023.

H. B. Muslim, L. Alawiyah, S. Yuhandira, and A. Supena, “Pembinaan minat dan bakat siswa berkebutuhan khusus,” vol. 6, pp. 94–99, 2020.

A. Lestari, F. Setiawan, E. Agustin, U. Ahmad, and D. Yogyakarta, “Manajemen pendidikan inklusi di sekolah dasar,” vol. 2, pp. 602–610, 2022.

R. Chanda, “Management and infrastructure of early age management growing early childhood education inclusion in Growing Tegalrejo Yogyakarta,” Annu. Conf. Islam. Early Child. Educ., vol. 4, no. 20, pp. 62–69, 2019.

M. Mashun, “Implementasi manajemen pendidikan inklusi pada SD Al Firdaus Surakarta dan SDN Karanganyar Yogyakarta: Suatu evaluasi program,” At-Tadbir: J. Manaj. Pendidik., vol. 4, no. 1, pp. 1–13, 2020. [Online]. Available: http://ejournal.kopertais4.or.id/sasambo/index.php/atTadbir/article/view/3690

A. Alfina and R. N. Anwar, “Manajemen sekolah ramah anak PAUD inklusi,” Al-Tanzim: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 1, pp. 36–47, 2020, doi: 10.33650/al-tanzim.v4i1.975.

M. F. Shofa, “Implementasi manajemen pendidikan inklusi di PAUD Inklusi Saymara Kartasura,” At-Tarbawi: J. Kaji. Kependidikan Islam, vol. 3, no. 2, 2018, doi: 10.22515/attarbawi.v3i2.1337.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Pengelolaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, no. 09, 2013.

Yunanta and S. Umiyati, “Koordinasi antar instansi dalam pelaksanaan program rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni Kota Surabaya,” Policy Marit. Rev., vol. 2, no. 1, pp. 45–49, 2023, doi: 10.30649/pmr.v2i1.46.

Kemendikbudristek, Petunjuk Awal Membangun Komunitas Belajar dalam Sekolah, 2022, p. 7.

Kementerian Agama Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama,” 2024.

S. Tinggi, I. Kesehatan, and F. De Kock, “Jurnal ipteks terapan,” vol. 1, pp. 20–27, 2015.