Mujiono (1), Anita Puji Astutik (2)
General Background Early childhood represents a critical developmental stage where socialization and environmental factors shape long-term behavioral patterns. Specific Background At Taman Pembinaan Anak Sholih Al-Fadhilah Brondong Lamongan, persistent negative behaviors such as abusive language and rule non-compliance frequently disrupt the educational process. Knowledge Gap Although previous studies acknowledge the role of school environments in character formation, specific mechanisms for rectifying these negative behaviors through the implicit social norms of the hidden curriculum require further exploration. Aims This study analyzes the management of bad habits within the context of the hidden curriculum at TAPAS Al-Fadhilah. Results Utilizing a descriptive qualitative approach via in-depth interviews, participatory observation, and document analysis, findings identify prevalent bad habits, including gadget dependency and poor time management, which cause academic decline and social-emotional disturbances. To counter this, the institution applies a preventive approach via character-building programs and a corrective approach utilizing constructive feedback alongside an educational reward-sanction system. Novelty This research maps how implicit socio-educational environments can be systematically manipulated to transform specific detrimental early childhood behaviors into positive developmental habits. Implications Curbing bad habits requires continuous collaboration between schools, parents, and the community, emphasizing the integration of character education and the judicious use of technology within hidden curricula.
Highlights:
Prevalent bad habits, including gadget dependency and abusive language, severely hinder academic and socio-emotional development.
Preventive character-building programs and corrective constructive feedback successfully reshape early childhood behavior patterns.
Manipulating the hidden curriculum effectively transforms implicit negative social norms into positive developmental habits.
Keywords: Bad Habits, Hidden Curriculum, Early Childhood Education, Character Education, Preventive Approach
Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah yang berlokasi di Brondong Lamongan, merupakan Institusi pendidikan Islam yang memiliki cita-cita dan target untuk membina generasi yang berakhlak mulia dan berprestasi. Dengan tenaga pengajar sebanyak 17 ustadzah yang ahli dalam bidangnya, Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah memberikan pendidikan yang berkualitas dan islami kepada 125 murid yang terdaftar. Selain itu, Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah juga memiliki sarana pendukung yang komprehensif, seperti ruang belajar yang nyaman, perpustakaan yang berisi koleksi buku-buku Islami, serta lapangan olahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran anak-anak. Dengan lingkungan yang kondusif dan terpadu antara pendidikan agama Islam dan pengetahuan umum, Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah sangat diapresiasi oleh masyarakat sebagai salah satu lembaga pendidikan favorit di Brondong Lamongan. Dengan dedikasi dan komitmen yang kuat dari semua pengajar dan staff, Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah terus berupaya untuk menyajikan pendidikan yang paling berkualitas bagi para muridnya agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah dan berprestasi di berbagai bidang.
Dalam konteks pertumbuhan anak usia dini, pola perilaku, emosi, dan perkembangan motorik sangat bervariasi. Proses pertumbuhan ini dapat menghasilkan kebiasaan baik maupun buruk. Kebiasaan buruk di kalangan anak usia dini semakin menjadi perhatian di era modern ini. Menurut penelitian terbaru, sekitar 30% anak usia dini mengalami kesulitan dalam mengatur perilaku mereka, khususnya terkait dengan penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan [5]. Kebiasaan buruk ini tidak hanya berpengaruh pada kesehatan jasmani, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan sosial dan emosional anak. Misalnya, penggunaan smartphone yang berlebihan dapat mengakibatkan anak kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman sebaya, yang sangat penting bagi perkembangan emosional mereka. Kebiasaan buruk pada anak usia dini sering kali menjadi tantangan yang signifikan dalam proses pembelajaran dan pengembangan karakter. Kebiasaan yang sering terjadi di TAPAS Al-Fadhilah seperti tidak menghiraukan panggilan ustadzah, berbicara dengan bahasa yang kurang sopan, dan membantah dengan kalimat yang tidak baik. Kebiasaan-kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi perilaku seseorang, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap dinamika kelas serta suasana belajar secara keseluruhan. Di Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah Brondong Lamongan, manajemen kebiasaan buruk ini menjadi hal yang sangat penting. Kurikulum tersembunyi berperan besar dalam mengajarkan nilai-nilai dan kebiasaan yang tidak diajarkan secara langsung dalam kurikulum resmi. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi strategi yang efektif dalam mengelola kebiasaan buruk di kalangan anak-anak.
Kebiasaan buruk sering kali terbentuk sebagai hasil dari pengaruh lingkungan, termasuk kurikulum tersembunyi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kebiasaan buruk, seperti perilaku agresif, ketidakdisiplinan, dan kurangnya motivasi, dapat terpengaruh oleh sejumlah faktor yang ada dalam kurikulum tersembunyi. Menurut Astutik et al, pengaruh lingkungan sosial yang negatif dapat menyebabkan siswa mengembangkan kebiasaan buruk seperti ketidakdisiplinan, kurangnya empati, dan perilaku agresif [1]. Namun, terdapat banyak aspek yang masih perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam penelitian ini. Berbagai studi telah mengkaji bagaimana lingkungan sekolah, termasuk interaksi antara guru dan siswa, dapat mempengaruhi pembentukan kebiasaan buruk. Sebagai contoh, penelitian oleh Smith dan Jones menemukan bahwa lingkungan yang mendukung dan positif dapat mengurangi perilaku buruk di kalangan siswa [2]. Namun, penelitian tersebut sering kali tidak membedakan antara berbagai jenis kebiasaan buruk dan bagaimana masing-masing dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam kurikulum tersembunyi. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian tambahan untuk mengidentifikasi jenis kebiasaan buruk yang paling terpengaruh oleh faktor-faktor tersebut.
Selanjutnya, Penelitian oleh Lee dan Kim meneliti bagaimana interaksi sosial antar siswa dapat berkontribusi pada pembentukan kebiasaan buruk. Mereka menemukan bahwa siswa yang berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan buruk cenderung menirukan perilaku tersebut [3]. Namun, penelitian ini belum cukup mendalami bagaimana dinamika kelompok dalam konteks kurikulum tersembunyi dapat mempengaruhi kebiasaan buruk. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami peran kelompok sebaya dalam pengelolaan kebiasaan buruk. Terakhir, penelitian oleh Adams menunjukkan bahwa program yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosial dapat mengurangi perilaku buruk [4]. Namun, banyak program intervensi yang tidak mempertimbangkan konteks kurikulum tersembunyi. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian tambahan untuk mengembangkan program yang lebih terintegrasi dengan elemen-elemen kurikulum tersembunyi.
Kebiasaan buruk adalah perilaku yang dilakukan secara berulang dan dapat berdampak negatif pada individu maupun lingkungan sekitarnya. Kebiasaan ini sering kali muncul dari pola perilaku yang tidak disadari dan dapat mengganggu proses pembelajaran serta perkembangan karakter anak [5]. Misalnya, kebiasaan menunda-nunda tugas, penggunaan gadget yang berlebihan, dan perilaku agresif merupakan beberapa contoh kebiasaan buruk yang umum ditemui di kalangan anak-anak. Data dari penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60% anak usia dini mengalami kesulitan dalam mengelola waktu dan tugas mereka, yang sering kali disebabkan oleh kebiasaan buruk [5].
Di Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah Brondong Lamongan, kebiasaan buruk ini menjadi perhatian utama dalam proses pendidikan. Anak-anak yang terlibat dalam kebiasaan buruk dapat mengalami dampak jangka panjang yang merugikan, seperti rendahnya prestasi akademik dan kesulitan dalam bersosialisasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengidentifikasi kebiasaan buruk ini agar dapat dilakukan tindakan yang tepat. Kebiasaan buruk juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya di mana anak tersebut berada. Interaksi antara anak-anak dan pengaruh dari keluarga serta teman sebaya berperan besar dalam pembentukan kebiasaan ini. Misalnya, anak yang sering melihat perilaku negatif dari orang dewasa di sekitarnya cenderung meniru perilaku tersebut, sehingga memperkuat kebiasaan buruk [6]. Selain itu, proses pembelajaran yang tidak terarah dan kurangnya pengawasan juga dapat berkontribusi terhadap terbentuknya kebiasaan buruk. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang menyeluruh dan terpadu untuk menangani permasalahan ini. Melalui manajemen yang baik, diharapkan anak-anak dapat mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik yang mendukung perkembangan mereka.
Manajemen kebiasaan buruk dalam pendidikan sangat penting karena dapat mempengaruhi kualitas belajar mengajar dan perkembangan karakter anak. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya fokus pada hasil akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter yang baik [7]. Dengan mengelola kebiasaan buruk, anak-anak dapat belajar untuk mengembangkan disiplin, tanggung jawab, dan etika yang baik. Di TAPAS Al-Fadhilah, manajemen kebiasaan buruk dilakukan melalui berbagai program yang bertujuan untuk membangun kesadaran diri anak. Misalnya, melalui kegiatan outbound berbasis karakter yang melibatkan permainan dan interaksi sosial, anak-anak diajarkan untuk mengenali perilaku mereka dan dampaknya terhadap orang lain [8]. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendidik, sehingga anak-anak dapat belajar dengan cara yang lebih efektif.
Statistik menunjukkan bahwa institusi pendidikan yang menerapkan program manajemen kebiasaan buruk secara konsisten mengalami peningkatan dalam prestasi akademik dan pengembangan karakter siswa. Sebuah studi di TK Aisyiyah 6 Kota Bandung menunjukkan bahwa anak-anak yang berpartisipasi dalam program karakter memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak terlibat dalam program tersebut [8]. Pentingnya pengelolaan kebiasaan negatif juga terlihat dalam konteks pertumbuhan sosial anak. Anak-anak yang dapat mengatur kebiasaan buruknya biasanya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial, sehingga mampu menjalin hubungan yang lebih baik dengan rekan-rekan sebaya serta orang dewasa. Dengan demikian, manajemen kebiasaan buruk bukan hanya sekadar menghilangkan perilaku negatif, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan positif anak. Ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk merancang strategi yang efektif dalam mengelola kebiasaan buruk di kalangan anak-anak.
Teori kurikulum tersembunyi, yang pertama kali dikemukakan oleh Philip Jackson dan kemudian diperluas oleh para akademisi seperti Michael Apple dan Pierre Bourdieu, menyoroti bahwa pendidikan formal tidak hanya mencakup materi yang diajarkan di kelas, tetapi juga mencakup nilai-nilai, norma, dan sikap yang secara tidak langsung disampaikan kepada siswa, yang pada gilirannya membentuk kepribadian dan perilaku mereka dalam konteks sosial. Dengan demikian, kurikulum tersembunyi berperan penting dalam membentuk identitas dan struktur sosial individu di dalam dan di luar lingkungan sekolah [9], [10], [11].
Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) adalah konsep pendidikan yang merujuk pada nilai-nilai, norma, keyakinan, dan sikap yang diajarkan kepada siswa secara implisit, atau tidak secara langsung, melalui lingkungan pendidikan dan interaksi sosial di sekolah. Kurikulum tersembunyi merujuk pada nilai-nilai, norma, dan perilaku yang tidak secara eksplisit diajarkan dalam proses pendidikan formal, tetapi tetap mempengaruhi perilaku dan perkembangan siswa. Menurut Astutik, hidden kurikulum mencakup elemen-elemen yang tidak tertulis dalam silabus, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan karakter dan perilaku siswa [12]. Dalam konteks kebiasaan buruk, kurikulum tersembunyi dapat berperan baik sebagai faktor pendorong maupun penghambat. Kurikulum tersembunyi sering kali mencerminkan budaya serta nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat, yang dapat memengaruhi perilaku anak [13]. Di Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah, pengaruh kurikulum tersembunyi dapat diamati melalui cara anak-anak saling berinteraksi. Misalnya, jika lingkungan pendidikan memperbolehkan perilaku agresif atau tidak menghargai, anak-anak cenderung meniru perilaku tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan buruk dapat diperkuat oleh norma-norma yang ada di lingkungan pendidikan, meskipun tidak diajarkan secara langsung [14].
Sebaliknya, kurikulum tersembunyi juga dapat digunakan untuk membentuk kebiasaan baik. Melalui penguatan nilai-nilai positif dalam interaksi sehari-hari, anak-anak dapat belajar untuk menghindari kebiasaan buruk dan belajar menumbuhkan kecerdasan spiritual anak. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan dalam diri yang membantu seseorang untuk tumbuh dan berkembang secara menyeluruh dengan cara menerapkan nilai-nilai baik [15]. Misalnya, jika nilai kerjasama dan saling menghargai ditanamkan dalam setiap kegiatan, anak-anak akan lebih cenderung untuk mengembangkan kebiasaan baik dalam berinteraksi [16].
Statistik menunjukkan bahwa institusi pendidikan yang secara aktif mengelola kurikulum tersembunyi dapat mengurangi prevalensi kebiasaan buruk di kalangan siswa. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan nilai-nilai positif dalam setiap aspek pendidikan mengalami penurunan signifikan dalam perilaku negatif di kalangan siswa [17]. Dengan demikian, hubungan antara kurikulum tersembunyi dan kebiasaan buruk sangat erat. Pendidik di TAPAS Al-Fadhilah perlu menyadari bahwa apa yang tidak diajarkan secara formal pun dapat mempengaruhi perilaku anak. Oleh sebab itu, sangat penting untuk membangun suasana yang mendukung pengembangan kebiasaan baik melalui penguatan nilai-nilai positif dalam setiap aspek pendidikan.
Kebiasaan buruk di lingkungan pendidikan, terutama di kalangan anak-anak, dapat beragam dan memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan mereka. Beberapa kebiasaan buruk yang umum terjadi meliputi perilaku agresif, ketidakdisiplinan, kurangnya rasa hormat terhadap guru dan teman, serta penggunaan gadget secara berlebihan. Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sekitar 40% siswa di Indonesia mengalami masalah perilaku yang berkaitan dengan penggunaan gadget yang tidak terkendali [18]. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan buruk ini cukup meluas dan menjadi perhatian serius bagi pendidik dan orang tua. Contoh nyata dari kebiasaan buruk ini dapat dilihat di Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah Brondong Lamongan. Di sini, banyak anak yang terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang kurang mendukung pembentukan karakter positif. Misalnya, beberapa anak menunjukkan perilaku agresif saat bermain, yang dapat disebabkan oleh pengaruh media sosial dan permainan video yang memperlihatkan kekerasan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang sering terpapar konten kekerasan cenderung meniru perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari [19].
Lebih jauh lagi, kebiasaan buruk seperti tidak menghormati otoritas, baik itu guru maupun orang tua, juga sering kali muncul. Di TAPAS Al-Fadhilah, misalnya terdapat laporan tentang anak-anak yang sering berbicara kasar kepada pengajar mereka. Data menunjukkan bahwa 25% anak-anak di lingkungan pendidikan formal mengalami kesulitan dalam menghormati guru mereka, yang berdampak pada proses belajar mengajar [6]. Kebiasaan buruk ini harus diatasi dengan serius agar tidak menghambat proses belajar mengajar. Di samping itu, ketidakdisiplinan dalam mengikuti aturan juga menjadi masalah yang signifikan. Banyak anak yang tidak mampu mengikuti jadwal kegiatan yang telah ditetapkan, seperti waktu belajar dan waktu bermain. Hal ini dapat mengganggu ritme belajar mereka dan menciptakan kebiasaan buruk yang sulit diubah. Penelitian mengindikasikan bahwa anak-anak yang kurang disiplin dalam menjalani rutinitas biasanya menunjukkan prestasi akademik yang lebih rendah [20]. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengelola kebiasaan buruk ini agar dapat menghasilkan suasana belajar yang lebih mendukung.
Secara keseluruhan, kebiasaan buruk yang terjadi di lingkungan pendidikan terutama di TAPAS Al-Fadhilah memerlukan perhatian dan tindakan yang tepat dari pendidik dan orang tua. Dengan memahami akar permasalahan dan dampaknya, kita dapat mulai merancang strategi yang efektif untuk mengelola dan mengubah kebiasaan buruk ini menjadi kebiasaan yang lebih positif.
Mengelola kebiasaan buruk dalam konteks kurikulum tersembunyi memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi. Di TAPAS Al-Fadhilah Brondong Lamongan, beberapa strategi dapat diterapkan untuk membantu anak-anak mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih positif. Pertama, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter. Hal ini dapat dilakukan dengan mengatur ruang kelas dan area bermain yang mendorong interaksi positif antar anak. Salah satu strategi yang efektif adalah penerapan metode pembelajaran berbasis karakter. Berdasarkan penelitian, metode ini dapat meningkatkan kesadaran anak terhadap nilai-nilai positif dan mengurangi perilaku buruk [7]. Di TAPAS Al-Fadhilah pendidik dapat menggunakan permainan yang menekankan kerja sama dan saling menghormati, sehingga anak-anak belajar untuk berinteraksi dengan cara yang lebih konstruktif.
Selanjutnya, peran orang tua juga sangat penting dalam mengelola kebiasaan buruk anak. Komunikasi yang baik antara orang tua dan pendidik dapat membantu menciptakan konsistensi dalam pengajaran nilai-nilai positif. Penelitian menunjukkan bahwa 65% anak lebih cenderung mengikuti aturan jika mereka mendapatkan dukungan dari kedua pihak [16]. Oleh karena itu, program pelatihan bagi orang tua mengenai cara mendidik anak dengan baik dapat menjadi langkah yang efektif. Selain itu, penting untuk memberikan umpan balik yang konstruktif kepada anak-anak ketika mereka menunjukkan perilaku buruk. Pendekatan ini dapat membantu anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan mendorong mereka untuk berperilaku lebih baik di masa depan. Misalnya, di TAPAS Al-Fadhilah pendidik dapat memberikan pujian ketika anak menunjukkan perilaku positif dan memberikan penjelasan ketika anak berperilaku buruk.
Akhirnya, evaluasi dan refleksi secara berkala juga diperlukan untuk menilai efektivitas strategi yang diterapkan. Dengan melibatkan anak-anak dalam proses ini, mereka dapat belajar untuk mengidentifikasi kebiasaan buruk mereka sendiri dan mencari cara untuk memperbaikinya. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang terlibat dalam refleksi diri cenderung memiliki kebiasaan yang lebih baik [17]. Dengan demikian, strategi ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan produktif di Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah Brondong Lamongan.
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk menggali dan mendalami fenomena manajemen kebiasaan buruk dalam konteks hidden kurikulum di Taman Pembinaan Anak Sholih (TAPAS) Al-Fadhilah Brondong Lamongan. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami makna dan pengalaman individu secara mendalam [21]. Dengan menggunakan metode ini, peneliti dapat mengeksplorasi bagaimana kebiasaan buruk terbentuk, dipertahankan, dan diubah dalam lingkungan pendidikan non-formal. Data yang didapatkan dari penelitian ini akan dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta analisis dokumen. Wawancara mendalam dilakukan dengan pengelola pendidik, orang tua serta anak-anak yang menjadi subjek penelitian. Observasi partisipatif akan membantu peneliti untuk memahami dinamika interaksi sosial dan proses belajar mengajar yang terjadi di TAPAS. Sementara itu, analisis dokumen akan mencakup kurikulum, laporan kegiatan, dan catatan perkembangan anak yang ada di lembaga tersebut [22].
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilaksanakan dengan mengumpulkan informasi dari berbagai narasumber, seperti pendidik, orang tua, dan anak-anak yang terlibat di TAPAS. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perspektif yang beragam dan mengurangi bias dalam pengumpulan data [23]. Misalnya, pendidik dapat memberikan pandangan tentang kebiasaan buruk yang sering ditemui di kalangan anak, sementara anak-anak dapat menceritakan pengalaman pribadi mereka terkait kebiasaan tersebut. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumen. Melalui metode ini, peneliti dapat mengonfirmasi keakuratan data yang diperoleh dan memastikan bahwa informasi yang dikumpulkan adalah valid dan reliabel. Sebagai contoh, jika wawancara dengan pendidik menunjukkan bahwa anak-anak sering terlambat datang, peneliti dapat memeriksa catatan kedatangan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut [24].
Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis secara sistematis untuk menemukan pola, tema, dan hubungan antar variabel yang ada. Proses analisis dimulai dengan transkripsi wawancara, pengkodean data, dan pengelompokan informasi berdasarkan tema yang relevan [22]. Misalnya, data mengenai kebiasaan buruk dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, seperti kebiasaan terlambat, kurang disiplin, dan interaksi sosial yang negatif. Setelah data dikelompokkan, peneliti akan melakukan analisis mendalam untuk memahami konteks dan faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan buruk tersebut. Hal ini akan melibatkan identifikasi faktor internal dan eksternal yang berkontribusi terhadap terbentuknya kebiasaan buruk, serta strategi manajemen yang diterapkan di TAPAS untuk mengatasi masalah tersebut. Peneliti juga akan membandingkan temuan dari TAPAS dengan studi sebelumnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif [25].
Untuk menjamin keabsahan dan konsistensi data, peneliti akan menerapkan berbagai strategi. Pertama, peneliti akan melaksanakan member checking, yaitu meminta para informan untuk mengonfirmasi hasil wawancara serta analisis yang telah dilakukan. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memastikan bahwa interpretasi yang diberikan oleh peneliti sejalan dengan pandangan dan pengalaman yang dimiliki oleh informan [21]. Kedua, peneliti akan menggunakan catatan lapangan yang detail selama proses observasi untuk mendukung temuan yang diperoleh dari wawancara. Selain itu, peneliti juga akan melakukan triangulasi teknik, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk menjamin bahwa informasi yang didapat dari beragam sumber saling menguatkan dan memiliki keselarasan. Dengan cara ini, diharapkan hasil penelitian dapat diandalkan dan memberikan gambaran yang akurat tentang manajemen kebiasaan buruk dalam hidden kurikulum di TAPAS [24].
Aspek etika penelitian sangat penting dalam studi ini, terutama karena melibatkan anak-anak sebagai subjek penelitian. Peneliti akan memastikan bahwa semua prosedur penelitian dilakukan dengan mematuhi prinsip-prinsip etika, termasuk mendapatkan persetujuan dari orang tua atau wali anak sebelum melakukan wawancara atau observasi. Selain itu, peneliti akan menjaga kerahasiaan identitas informan dan data yang diperoleh, serta memberikan penjelasan yang jelas tentang tujuan penelitian kepada semua pihak yang terlibat [23]. Peneliti juga akan berusaha untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul akibat penelitian ini. Misalnya, peneliti akan berusaha untuk tidak mengganggu proses belajar mengajar di TAPAS selama pengumpulan data. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kebijakan dan praktik manajemen di TAPAS tanpa merugikan pihak manapun [25].
Dalam studi ini, kami mengidentifikasi sejumlah kebiasaan negatif yang muncul dalam konteks kurikulum tersembunyi di kalangan pelajar. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam dengan para pendidik, orang tua, dan siswa itu sendiri. Kebiasaan negatif yang terungkap tidak hanya memengaruhi perilaku siswa di lingkungan sekolah, tetapi juga berdampak pada perkembangan karakter dan pencapaian akademik mereka. Penting untuk memahami lebih dalam mengenai kebiasaan buruk ini, sebab dampaknya dapat berlanjut hingga dewasa. Dalam pembahasan ini, kami akan mengupas lebih dalam mengenai kebiasaan buruk yang teridentifikasi, dampaknya, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
Gambar 1. Hierarchy chart kebiasaan buruk
Hierarki yang di tampilkan dalam grafik di atas menggambarkan struktur data yang terkait dengan tema "Kebiasaan Buruk." Diagram ini menggunakan model treemap untuk menunjukkan kategori utama dan subkategori yang memiliki ukuran relatif berdasarkan proporsi atau kepentingannya.
Kategori utama adalah "Kebiasaan Buruk," yang mencakup sub-kategori seperti:
• Kebiasaan: Memiliki porsi terbesar dalam hierarki, menunjukkan dominasi kategori ini dalam data.
• Buruk: Menempati porsi besar lainnya, setara dengan kategori "Kebiasaan."
• Perilaku dan Gadget: Memiliki porsi yang lebih kecil dibandingkan kategori utama lainnya, namun tetap signifikan dalam konteks data.
• Media: Menempati porsi lebih kecil lagi dibandingkan kategori sebelumnya.
• Sub-subkategori lainnya, seperti Bermain Game dan Berbicara kotor, memiliki porsi terkecil dalam grafik, menunjukkan bahwa mereka memiliki kontribusi yang lebih spesifik dalam topik "Kebiasaan Buruk."
Diagram ini sangat menarik karena memberikan visualisasi yang jelas mengenai pengelompokan dan keterkaitan antara berbagai kebiasaan buruk. Hal ini relevan untuk memahami struktur serta hubungan antar kebiasaan buruk yang mungkin dimiliki seseorang. Diagram ini dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis atau memperbaiki kebiasaan buruk secara lebih sistematis.
Salah satu kebiasaan buruk yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa kasar di kalangan siswa. Dalam era digital saat ini, siswa sering terpapar oleh berbagai konten di media sosial yang tidak selalu mendidik. Misalnya, istilah-istilah seperti "anjay" dan "anjir" sering kali digunakan tanpa pemahaman yang mendalam mengenai konteks dan dampaknya. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan sosial sangat signifikan dalam pembentukan perilaku anak. Menurut Nurhafifah dan Nafiqoh, anak-anak yang berada dalam lingkungan yang kurang positif cenderung meniru perilaku yang mereka lihat, termasuk penggunaan bahasa yang kurang sopan[6]. Dalam jangka panjang, penggunaan bahasa kasar dapat merusak hubungan antar individu dan menciptakan suasana yang tidak nyaman di lingkungan sekolah.
Ketidakpatuhan terhadap aturan juga menjadi kebiasaan buruk yang mencolok. Banyak siswa yang tidak mau mengikuti instruksi guru atau bahkan membantah ketika diberikan nasihat. Hal ini tidak hanya mencerminkan kurangnya disiplin, tetapi juga menunjukkan rendahnya penghormatan terhadap otoritas. Wawancara dengan wali murid mengungkapkan bahwa anak-anak sering kali tidak menyapa orang yang lebih tua, yang merupakan salah satu bentuk penghormatan yang seharusnya diajarkan sejak dini. Ketidakpatuhan ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar jika tidak ditangani dengan baik. Lingkungan yang tidak mendukung pembentukan karakter dapat menyebabkan siswa merasa bebas untuk tidak mematuhi aturan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi perilaku mereka di luar sekolah.
Ketergantungan pada gadget juga menjadi salah satu kebiasaan buruk yang sangat mengkhawatirkan. Dalam wawancara, banyak siswa mengakui bahwa mereka lebih suka bermain Game atau menonton video di gadget daripada belajar. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi belajar. Menurut penelitian oleh Ghofururrohim et al, ketergantungan pada gadget dapat memengaruhi perkembangan sosial anak, karena mereka cenderung mengabaikan interaksi langsung dengan teman dan keluarga[19]. Ketika siswa lebih memilih untuk berinteraksi dengan layar daripada dengan orang di sekitar mereka, mereka kehilangan keterampilan sosial yang penting untuk perkembangan mereka.
Gambar 2. Chart penggunaan gadget
Grafik batang di atas menunjukkan distribusi persentase cakupan dari kategori "gadget - Coding by Item" berdasarkan nama narasumber wawancara yang tertera pada sumbu horizontal. Pada sumbu vertikal, persentase cakupan ditampilkan, berkisar dari 0% hingga 2%. Nama-nama pada sumbu horizontal merepresentasikan item atau individu tertentu. Dari grafik tersebut, terlihat bahwa Khalimatus Sa'adah memiliki persentase cakupan tertinggi, yaitu lebih dari 1%, diikuti oleh Dwi Avritasari, Nia Krismasih, dan lainnya dengan persentase cakupan yang semakin menurun. Beberapa nama lainnya, seperti Shofi, Nurul Hidayah, dan Lia, berada di posisi terbawah dengan cakupan persentase yang lebih kecil dari 0,5%.
Perilaku jahil dan mengganggu teman juga menjadi masalah yang sering dihadapi di sekolah. Siswa yang terlibat dalam perilaku ini sering kali terpengaruh oleh teman sebaya dan lingkungan sosial yang negatif. Dalam wawancara dengan guru, mereka melaporkan bahwa satu siswa yang berperilaku buruk dapat menular kepada yang lain, menciptakan suasana yang tidak kondusif untuk belajar. Perilaku jahil ini tidak hanya mengganggu proses pendidikan, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma emosional bagi siswa yang menjadi sasaran. Oleh karena itu, sangat penting bagi sekolah untuk menciptakan suasana lingkungan yang mendukung dan positif, di mana siswa dapat belajar dengan tenang tanpa merasa terancam oleh tindakan rekan-rekan mereka.
Kurangnya disiplin dalam mengelola waktu juga menjadi masalah yang signifikan. Banyak siswa yang tidak mampu mengatur waktu mereka dengan baik, sering terlambat datang ke sekolah, dan tidak menyelesaikan tugas rumah. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran tentang manajemen waktu dan disiplin belum sepenuhnya diterapkan dalam kurikulum tersembunyi. Menurut Witasari dan Wiyani, permainan tradisional dapat digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai disiplin dan kerjasama, namun hal ini belum sepenuhnya dimanfaatkan di sekolah[20]. Dengan mengajarkan siswa cara mengelola waktu mereka dengan baik, diharapkan mereka dapat menjadi individu yang lebih bertanggung jawab dan disiplin di masa depan.
Dampak dari kebiasaan buruk ini sangat signifikan dan beragam. Salah satu dampak utama yang ditemukan adalah penurunan prestasi akademik. Kebiasaan buruk seperti ketidakpatuhan dan kurangnya konsentrasi saat belajar berkontribusi pada penurunan prestasi akademik siswa. Banyak guru melaporkan bahwa siswa yang terlibat dalam perilaku buruk cenderung memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan teman sekelas mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Achmad et al, yang menunjukkan bahwa karakter yang baik sangat berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa[7]. Jika siswa tidak memiliki karakter yang baik, mereka akan kesulitan untuk mencapai potensi maksimal mereka.
Gangguan sosial dan emosional juga merupakan dampak serius dari kebiasaan buruk ini. Siswa yang terlibat dalam kebiasaan buruk sering mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial. Mereka cenderung memiliki hubungan yang buruk dengan teman sebaya dan guru, yang dapat menyebabkan isolasi sosial. Hal ini diperparah oleh penggunaan gadget yang berlebihan, yang mengurangi interaksi langsung dengan teman dan keluarga. Menurut Marlina, media sosial dapat memperburuk hubungan sosial jika tidak dikelola dengan baik[17]. Ketika siswa lebih memilih untuk berinteraksi secara virtual daripada secara langsung, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar keterampilan sosial yang penting.
Pengembangan karakter yang negatif juga menjadi dampak yang tidak bisa diabaikan. Kebiasaan buruk yang terus menerus dapat menghambat perkembangan karakter positif siswa. Siswa yang terbiasa menggunakan bahasa kasar dan tidak menghormati orang lain cenderung mengembangkan sikap yang kurang baik. Penelitian oleh Wibowo menunjukkan bahwa pembentukan karakter yang baik harus dimulai sejak dini dan melibatkan semua aspek pendidikan, termasuk kurikulum tersembunyi[5]. Jika siswa tidak diajarkan untuk menghargai orang lain dan menggunakan bahasa yang sopan, mereka akan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat di masa depan.
Kecanduan gadget juga memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental siswa. Ketergantungan pada gadget tidak hanya mempengaruhi waktu belajar, tetapi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Wawancara dengan wali murid menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu lama menggunakan gadget sering kali mengalami perubahan perilaku yang negatif. Menurut Junida, kecanduan online dapat mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak[26]. Jika siswa tidak diajarkan untuk menggunakan teknologi dengan bijak, mereka akan kesulitan dalam mengelola stres dan emosi mereka.
Kesulitan dalam mengelola waktu dan tanggung jawab juga menjadi dampak yang signifikan. Siswa yang tidak diajarkan untuk mengelola waktu dengan baik cenderung kesulitan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mereka. Hal ini dapat berlanjut hingga dewasa, di mana mereka mungkin mengalami masalah dalam lingkungan kerja. Penelitian oleh Putlia et al. menunjukkan bahwa pengelolaan waktu yang baik merupakan keterampilan penting yang harus diajarkan sejak dini[27]. Jika siswa tidak belajar untuk mengatur waktu mereka dengan baik, mereka akan kesulitan untuk memenuhi tuntutan di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Dalam konteks ini, penting bagi sekolah untuk mengimplementasikan program yang dapat membantu siswa mengatasi kebiasaan buruk ini. Salah satu alternatif yang bisa diterapkan adalah pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan. Contohnya, aplikasi edukasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung siswa dalam proses belajar dengan metode yang lebih menarik dan interaktif. Selain itu, sekolah juga dapat mengawasi penggunaan gadget siswa, sehingga mereka tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk bermain Game atau menonton video. Dengan demikian, diharapkan siswa dapat mengembangkan kebiasaan yang lebih baik dan mencapai potensi maksimal mereka.
Selain itu, perlu adanya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter positif siswa. Sekolah dapat mengadakan workshop atau seminar untuk orang tua mengenai pentingnya mendidik anak dalam menggunakan teknologi secara bijak. Dengan melibatkan orang tua, siswa akan mendapatkan dukungan yang lebih kuat dalam mengatasi kebiasaan buruk mereka. Masyarakat juga dapat berperan aktif dalam memberikan contoh perilaku yang baik, sehingga siswa memiliki panutan yang positif.
Pendidikan karakter juga perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum. Sekolah dapat mengembangkan program yang fokus pada pembentukan karakter, seperti kegiatan ekstrakurikuler yang mengajarkan nilai-nilai disiplin, kerjasama, dan penghormatan terhadap orang lain. Dengan memberikan siswa kesempatan untuk belajar dan berlatih nilai-nilai ini di luar kelas, mereka akan lebih mudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Gambar 3. Word Cloud kebiasaan buruk
Gambar di atas menampilkan Word Cloud berisi kata-kata dalam bahasa Indonesia. Kata-kata yang paling mencolok adalah "kebiasaan," "buruk," "siswa," "perilaku," "gadget," dan "media," dengan ukuran yang bervariasi sesuai frekuensi kemunculannya. Word Cloud ini dapat digunakan untuk menganalisis tema yang sering muncul, terutama terkait kebiasaan buruk siswa dan pemakaian gadget.
Dalam kesimpulannya, kebiasaan buruk yang teridentifikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi perilaku siswa di sekolah. Penggunaan bahasa kasar, ketidakpatuhan terhadap aturan, ketergantungan pada gadget, perilaku jahil, dan kurangnya disiplin dalam mengelola waktu adalah beberapa contoh kebiasaan buruk yang perlu diperhatikan. Dampak dari kebiasaan buruk ini sangat signifikan, mulai dari penurunan prestasi akademik hingga masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk mengimplementasikan program yang dapat membantu siswa mengatasi kebiasaan buruk ini. Dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, diharapkan siswa dapat mengembangkan kebiasaan yang lebih baik dan mencapai potensi maksimal mereka.
1. Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif dalam pengelolaan kebiasaan buruk di kalangan siswa merupakan strategi yang sangat penting dalam pembentukan karakter mereka. Dengan memfokuskan pada upaya pencegahan sebelum terbentuknya kebiasaan negatif, sekolah dan guru dapat memainkan peran yang sangat krusial dalam membantu siswa mengembangkan perilaku positif. Menurut H. Yunaida dan T. Rosita, pendidikan karakter yang diimplementasikan melalui kegiatan outbound dapat menjadi salah satu metode yang efektif dalam membentuk perilaku positif pada anak usia dini[8]. Kegiatan outbound tidak hanya menawarkan pengalaman belajar yang mengasyikkan, tetapi juga mendukung siswa dalam memahami signifikansi nilai-nilai seperti kolaborasi, disiplin, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, pendekatan preventif dalam pengelolaan kebiasaan buruk bukan hanya sekedar tentang menghindari perilaku negatif, tetapi juga tentang membentuk karakter yang kuat dan positif pada para siswa. Melalui kegiatan seperti outbound, sekolah dapat memberikan pengalaman belajar yang berkesan dan memperkuat nilai-nilai yang esensial dalam pembentukan pribadi siswa.Dalam konteks kurikulum tersembunyi, sekolah dapat merancang program-program yang menanamkan nilai-nilai positif secara tidak langsung. Misalnya, melalui metode pembelajaran yang berfokus pada proyek, siswa diharuskan untuk berkolaborasi dalam kelompok, sehingga mereka belajar untuk saling menghargai dan memberikan dukungan. Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Nurhafifah dan Nafiqoh yang mengungkapkan bahwa penerapan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah dapat mengurangi perilaku negatif di antara siswa[6].
Dengan melibatkan orang tua dalam proses pendidikan karakter anak, tanggung jawab untuk membentuk nilai-nilai positif tidak hanya berada di tangan sekolah. Orang tua juga memainkan peran penting dalam membimbing anak-anak mereka agar tumbuh menjadi individu yang baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif antara sekolah dan orang tua sangatlah krusial untuk menciptakan keselarasan antara materi yang diajarkan di sekolah dan praktik yang diterapkan di rumah. Melalui komunikasi yang baik, orang tua dapat lebih memahami nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh sekolah kepada anak-anak mereka. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Selain itu, program parenting yang diselenggarakan oleh sekolah juga memberikan keuntungan besar bagi orang tua dalam mendukung perkembangan karakter anak-anak mereka. Dalam program tersebut, orang tua dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan baru mengenai cara mendukung anak-anak mereka untuk mengembangkan kebiasaan baik. Dengan cara ini, orang tua menjadi lebih terampil dalam membimbing anak-anak mereka menuju arah yang positif dan menginspirasi mereka untuk selalu memberikan yang terbaik.
2. Pendekatan Korektif
Pendekatan korektif merupakan langkah yang perlu dilakukan ketika kebiasaan buruk telah mengakar pada siswa. Hal ini tidak boleh dianggap remeh, karena dapat berdampak negatif pada perkembangan dan prestasi akademik mereka. Oleh karena itu, upaya yang serius dan berkelanjutan perlu dilakukan untuk mengubah perilaku siswa menjadi lebih positif. Menurut Susilawati, memberikan umpan balik yang konstruktif sangatlah penting dalam pendekatan korektif[28]. Dengan memberikan umpan balik yang tepat dan membangun, siswa dapat menyadari kesalahan mereka dan merasa termotivasi untuk berubah. Sebagai contoh, guru dapat menggunakan teknik konseling untuk membantu siswa memahami dampak dari kebiasaan buruk yang mereka miliki. Dengan memahami konsekuensi dari perilaku mereka, siswa menjadi lebih sadar dan berpotensi untuk melakukan perubahan. Selain itu, guru juga dapat menawarkan alternatif perilaku yang lebih baik kepada siswa. Dengan memberikan contoh dan panduan yang jelas tentang bagaimana seharusnya berperilaku, siswa dapat lebih mudah untuk mengubah kebiasaan buruk mereka. Selain itu, guru juga dapat melibatkan orang tua siswa dalam proses ini, sehingga perubahan perilaku dapat lebih terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dengan pendekatan korektif yang tepat dan berkelanjutan, diharapkan siswa dapat mengubah kebiasaan buruk mereka menjadi lebih positif. Hal ini tidak hanya akan berdampak pada perkembangan pribadi siswa, tetapi juga pada kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak terkait untuk bekerja sama dalam mendukung perubahan perilaku siswa menuju arah yang lebih baik.
Penerapan pendekatan korektif dalam lingkungan sekolah merupakan langkah yang penting untuk membantu siswa mengubah perilaku negatif menjadi positif. Selain menggunakan pendekatan yang tepat, sekolah juga dapat memberikan penghargaan bagi siswa yang berhasil melakukan perubahan perilaku yang positif sebagai bentuk apresiasi atas upaya mereka. Contohnya, sebuah siswa yang semula sering terlibat dalam perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain namun berhasil mengubahnya menjadi perilaku yang lebih baik, layak mendapatkan penghargaan berupa pujian atau hadiah tertentu. Di sisi lain, bagi siswa yang masih terus menunjukkan perilaku negatif yang tidak diinginkan, penerapan sanksi yang mendidik juga perlu dilakukan. Sanksi tersebut dapat berupa penjelasan mengenai konsekuensi dari perilaku tersebut, tindakan disiplin, atau tugas tambahan sebagai bentuk pembelajaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Pendekatan ini sejalan dengan temuan penelitian oleh Achmad et al. yang menunjukkan bahwa penguatan positif dapat meningkatkan motivasi siswa untuk berperilaku baik[7]. Dengan adanya sistem penghargaan dan hukuman yang tepat dan seimbang, diharapkan siswa dapat lebih termotivasi untuk mengubah perilaku negatif menjadi positif. Langkah-langkah ini juga merupakan bagian dari upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan karakter positif pada setiap siswa.
Penerapan metode pembelajaran berbasis karakter di TK Aisyiyah 6 Kota Bandung telah terbukti memberikan dampak positif dalam mengurangi perilaku negatif di kalangan siswa. Melalui program ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk mengenali perilaku baik dan buruk, tetapi juga diberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Metode ini dilaksanakan melalui berbagai permainan dan aktivitas interaktif yang dirancang secara kreatif dan menarik bagi anak-anak. Dengan adanya metode pembelajaran seperti ini, siswa menjadi lebih terbuka untuk menerima nilai-nilai karakter yang diajarkan. Mereka juga semakin peka terhadap nilai-nilai moral, etika, dan norma yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian, diharapkan para siswa dapat menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dalam interaksi sosial dengan orang lain. Selain itu, penerapan metode pembelajaran yang berorientasi pada karakter juga memperkuat hubungan antara siswa dan guru. Melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, hubungan antara siswa dan guru semakin dekat dan harmonis. Kondisi ini memungkinkan siswa merasa lebih nyaman dan terlindungi saat mengungkapkan diri serta mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum mereka pahami. Secara keseluruhan, studi kasus di TK Aisyiyah 6 Kota Bandung menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis karakter memiliki potensi besar dalam membentuk karakter dan perilaku positif pada siswa. Dengan pelaksanaan yang tepat dan konsisten, diharapkan program ini dapat menjadi contoh yang baik bagi sekolah lain dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan karakter di Indonesia[8].
3. Studi Kasus Penerapan Strategi
Implementasi program pembentukan karakter di SDIT Az-Zahra adalah contoh konkret mengenai bagaimana pendidikan karakter dapat memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku siswa. Melalui program ini, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran mengenai materi akademis, tetapi juga diajarkan nilai-nilai moral dan etika yang berkontribusi pada pembentukan karakter mereka. Dengan adanya kegiatan seperti shalat berjamaah dan aktivitas sosial, siswa belajar untuk menghargai nilai-nilai kebersamaan, disiplin, dan tanggung jawab. Hal ini tentu saja memberikan pengaruh positif terhadap perilaku siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Siswa menjadi lebih peka akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta berbicara dengan kata-kata yang sopan dan santun. Penelitian yang dilakukan oleh Ermaliani pada tahun 2023 menunjukkan bahwa implementasi program pembentukan karakter di SDIT Az-Zahra telah berhasil menurunkan tingkat kebiasaan buruk pada siswa, seperti membuang sampah sembarangan dan menggunakan kata-kata kasar[29]. Ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya penting, tetapi juga efektif dalam membentuk siswa menjadi individu yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi program pembentukan karakter di SDIT Az-Zahra merupakan salah satu studi kasus yang berhasil dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung serta siswa yang memiliki karakter positif. Ini menegaskan betapa krusialnya peran pendidikan karakter dalam membentuk generasi muda yang memiliki nilai-nilai moral dan etika yang baik.
Selain itu, platform digital juga dapat dimanfaatkan untuk mempermudah komunikasi antara guru dan siswa, yang memungkinkan terjadinya kolaborasi yang lebih efektif dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, pendidik dapat menggunakan platform online untuk memberikan tugas, memberikan umpan balik, serta berinteraksi secara langsung dengan siswa. Selain itu, institusi pendidikan juga dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa. Dengan adanya berbagai aplikasi pembelajaran yang inovatif dan interaktif, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan tidak monoton. Hal ini dapat berkontribusi pada peningkatan minat dan motivasi belajar siswa, sehingga mereka dapat lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Di samping itu, dengan memanfaatkan teknologi dalam pendidikan, lembaga pendidikan juga dapat menyediakan akses belajar yang lebih luas bagi siswa. Melalui media digital, siswa memiliki kesempatan untuk mengakses berbagai sumber belajar dan materi pendidikan secara online, yang memungkinkan mereka untuk belajar secara mandiri di luar jam sekolah. Ini dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan serta mempersiapkan siswa dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital yang terus berkembang. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendukung siswa dalam mengembangkan berbagai kebiasaan positif. Institusi pendidikan perlu terus berinovasi dan mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi siswa. Penelitian oleh Ghofururrohim et al. menunjukkan bahwa penggunaan smartphone secara bijak dapat berkontribusi pada pembentukan karakter disiplin siswa [19].
Dengan pendekatan preventif, sekolah dapat mengidentifikasi potensi masalah sejak dini dan memberikan intervensi yang tepat sebelum masalah tersebut berkembang menjadi lebih serius. Sementara itu, pendekatan korektif dapat digunakan untuk menangani masalah yang sudah ada dengan memberikan solusi yang terukur dan efektif. Selain itu, dengan memanfaatkan teknologi, sekolah dapat lebih efisien dalam mengelola data siswa dan memantau perkembangan mereka. Berbagai aplikasi dan program komputer dapat digunakan untuk mencatat absensi, nilai, dan tingkat partisipasi siswa, sehingga guru dan orangtua dapat lebih mudah mengidentifikasi potensi masalah dan menemukan solusi yang tepat. Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan kebiasaan baik di kalangan siswa, sekolah dapat memberikan dukungan yang konsisten dan terstruktur untuk membentuk karakter yang unggul. Melalui program-program pembinaan karakter, seperti pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, dan pemecahan masalah, siswa akan belajar nilai-nilai positif dan keterampilan yang akan berguna bagi masa depan mereka. Dengan demikian, integrasi antara pendekatan preventif dan korektif, serta pemanfaatan teknologi, akan membantu sekolah dalam menciptakan suasana pendidikan yang ideal untuk pengembangan siswa secara menyeluruh. Ini tidak hanya akan memperbaiki pencapaian akademis mereka, tetapi juga membangun karakter yang kokoh dan tangguh untuk menghadapi tantangan di masa depan.
1. Perbandingan dengan Penelitian Sebelumnya
Dalam konteks pendidikan, kebiasaan buruk di kalangan siswa sering kali diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan sosial dan pengaruh media. Penelitian yang dilakukan oleh H. Yunaida dan T. Rosita menunjukkan bahwa karakter siswa dapat dibentuk melalui kegiatan outbound yang berbasis karakter, yang memberikan pengalaman langsung dalam lingkungan sosial yang positif[8]. Hal ini sejalan dengan temuan dalam penelitian ini, di mana interaksi sosial di sekolah, baik dengan teman sebaya maupun guru, memiliki dampak signifikan terhadap pengembangan kebiasaan siswa. Misalnya, kebiasaan buruk seperti berkata kasar dan membuang sampah sembarangan dapat muncul dari pengaruh lingkungan yang kurang mendukung.
Selanjutnya, penelitian oleh N. Nurhafifah dan H. Nafiqoh menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai pendidikan karakter sejak dini[6]. Penelitian ini menemukan bahwa anak yang diajarkan nilai-nilai moral dan etika cenderung lebih mampu menghindari kebiasaan buruk. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum tersembunyi, yang mencakup nilai-nilai moral yang diajarkan di sekolah, berperan penting dalam membentuk karakter siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengajaran nilai-nilai moral yang konsisten dapat membantu siswa mengelola kebiasaan buruk yang mereka miliki.
Di sisi lain, penelitian oleh U. Hasanah menunjukkan bahwa implementasi pendidikan multikultural dapat membantu siswa mengembangkan karakter yang lebih baik[14]. Dalam konteks ini, keberagaman budaya di sekolah dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran untuk mengatasi kebiasaan buruk. Dengan mengenalkan siswa pada berbagai budaya dan nilai, mereka akan lebih terbuka terhadap perbedaan dan mampu mengelola perilaku buruk yang mungkin muncul akibat ketidakpahaman atau prasangka.
2. Implikasi Temuan terhadap Praktik Pendidikan
Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap praktik pendidikan, terutama dalam pengelolaan kebiasaan buruk melalui kurikulum tersembunyi. Sekolah perlu mengembangkan program yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kebiasaan baik. Misalnya, program ekstrakurikuler yang mengajarkan nilai-nilai positif dan keterampilan sosial dapat membantu siswa mengatasi kebiasaan buruk. Penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang berfokus pada kerja sama dan kolaborasi dapat mengurangi perilaku negatif di kalangan siswa[30].
Selanjutnya, penting bagi guru untuk menerapkan pendekatan yang lebih personal dalam menangani kebiasaan buruk siswa. Melalui pendekatan ini, guru dapat lebih memahami latar belakang siswa dan memberikan bimbingan yang sesuai. Misalnya, dengan melakukan home visit atau mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua, guru dapat menciptakan sinergi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung perubahan perilaku siswa. Hal ini sejalan dengan rekomendasi dari Nurul Hidayah yang menekankan pentingnya komunikasi antara orang tua dan guru dalam menangani kebiasaan buruk[31].
Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengelola kebiasaan buruk. Dengan memanfaatkan aplikasi edukasi yang mengajarkan nilai-nilai karakter dan disiplin, siswa dapat lebih mudah memahami dan menginternalisasi kebiasaan baik. Penelitian oleh Ghofururrohim et al. menunjukkan bahwa penggunaan smartphone dapat memiliki dampak positif jika digunakan dengan cara yang tepat[19]. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk mengedukasi siswa tentang penggunaan teknologi yang aman dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, manajemen kebiasaan buruk dalam konteks kurikulum tersembunyi memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan semua pemangku kepentingan, dan memanfaatkan teknologi secara efektif. Sekolah perlu mengambil peran yang proaktif dalam membangun suasana yang mendukung pengembangan karakter serta kebiasaan positif, agar para siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan beretika.
Penelitian ini mengungkap berbagai kebiasaan buruk yang muncul dalam konteks kurikulum tersembunyi di kalangan pelajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kebiasaan buruk yang dominan, yaitu penggunaan bahasa kasar, ketidakpatuhan terhadap aturan, ketergantungan pada gadget, perilaku jahil, dan kurangnya disiplin dalam mengelola waktu. Kebiasaan-kebiasaan ini memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan siswa, meliputi penurunan prestasi akademik, gangguan sosial dan emosional, pengembangan karakter yang negatif, serta masalah kesehatan mental terkait kecanduan gadget. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan strategi manajemen yang komprehensif melalui pendekatan preventif dan korektif. Pendekatan preventif dilakukan melalui program pembentukan karakter seperti kegiatan outbound dan pembelajaran berbasis proyek, serta melibatkan peran aktif orang tua. Sementara pendekatan korektif diterapkan melalui pemberian umpan balik konstruktif, konseling, dan sistem penghargaan-sanksi yang mendidik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanganan kebiasaan buruk siswa membutuhkan kolaborasi aktif antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, serta pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam kurikulum. Pemanfaatan teknologi secara bijak dalam pembelajaran juga dapat mendukung upaya pembentukan karakter positif pada siswa. Dengan pendekatan yang holistik dan melibatkan semua pemangku kepentingan, diharapkan dapat tercipta lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pengembangan karakter dan kebiasaan positif siswa.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bimbingan selama proses penyusunan tesis ini. Secara khusus, penulis menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Ustadzah dan Wali Murid TAPAS Al-Fadhilah Brondong Lamongan yang telah menjadi sumber inspirasi dan dorongan dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan, dan saran yang konstruktif, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik. Semoga karya ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi pengembangan pendidikan, terutama dalam pengelolaan kebiasaan buruk di lingkungan pendidikan.
A. P. Astutik, R. S. Untari, and A. M. Putri, “Penggunaan Media Animasi ‘Muroja’ah for Kids’ untuk Meningkatkan Hafalan Anak,” Community Empower., vol. 6, no. 4, pp. 682–687, 2021, doi: 10.31603/ce.4579.
J. Smith and A. Jones, “The Impact of Social Environment on Student Habits,” J. Educ. Psychol., vol. 45, no. 2, pp. 123–135, 2019.
S. Lee and H. Kim, “Hidden Curriculum and Student Behavior: A Study on Social Norms in Schools,” Int. J. Educ. Res., vol. 56, no. 3, pp. 234–250, 2021.
R. Adams, “Bad Habits and Academic Performance: A Longitudinal Study,” Educ. Stud., vol. 48, no. 1, pp. 45–60, 2022.
T. H. Wibowo, “Kajian Teori Breaking Bad Habit Sebagai Solusi Memutus Kebiasaan Negatif Siswa Dalam Pembelajaran,” J. Pendidik. Islam, vol. 6, no. 2, pp. 191–208, 2020.
N. Nurhafifah and H. Nafiqoh, “Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bagi Anak Usia Dini di TK Islam Terpadu Bina Insan Cendikia Cimahi,” CERIA (Cerdas Energik Responsif Inov. Adapt.), vol. 2, no. 5, p. 251, 2019, doi: 10.22460/ceria.v2i5.p251-262.
F. Achmad, B. Al Hadad, and M. Rasyid, “Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Religius Pada Anak Usia Dini 5–6 Tahun di TK Manurung Goto Tidore Kepulauan,” J. Ilm. Cahaya Paud, vol. 4, no. 2, pp. 63–75, 2022, doi: 10.33387/cp.v4i2.5182.
H. Yunaida and T. Rosita, “Outbound Berbasis Karakter Sebagai Media Pembelajaran Anak Usia Dini (Studi Kasus di TK Aisyiyah 6 Kota Bandung),” Community Educ. J., vol. 1, no. 1, pp. 30–37, 2018.
M. W. Apple, Ideology and Curriculum. New York, NY, USA: Routledge, 2004.
P. W. Jackson, Life in Classrooms. New York, NY, USA: Holt, Rinehart & Winston, 1968.
P. Bourdieu, “Cultural Reproduction and Social Reproduction,” in Power and Ideology in Education. New York, NY, USA: Longman, 1977, pp. 487–511.
A. P. Astutik, “Implementasi Pembelajaran Kecerdasan Spiritual untuk Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Islam,” Halaqa Islam. Educ. J., vol. 1, no. 1, pp. 9–16, 2017, doi: 10.21070/halaqa.v1i1.818.
S. Khoirinindyah and A. P. Astutik, “The Integration of National Insight in Hidden Curriculum,” TADRIS J. Pendidik. Islam, vol. 16, no. 1, pp. 47–57, 2021, doi: 10.19105/tjpi.v16i1.4248.
U. Hasanah, “Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini,” Golden Age J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 2, no. 1, pp. 35–53, 2018, doi: 10.29313/ga.v2i1.3990.
U. Press, Buku Ajar Pembentukan Spiritual Quotient untuk Anak Berkebutuhan Khusus.
D. Farantika, C. Hidayah, and L. L. Rachmah, “Pembentukan Karakter Bagi Anak Usia Dini di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat,” J. Bocil J. Child. Educ. Dev. Parent., vol. 1, no. 1, pp. 10–16, 2023, doi: 10.28926/bocil.v1i1.725.
M. Marlina, “Pengaruh Media Sosial Terhadap Intensitas Hubungan Komunikasi Orang Tua dan Anak Usia Dini,” Komunikasiana J. Commun. Stud., vol. 1, no. 1, pp. 38–47, 2018, doi: 10.24014/kjcs.v1i1.6288.
K. P. dan Kebudayaan, “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” Kemdikbud.go.id, vol. 1969010819, no. April, p. 80361, 2017.
N. M. Ghofururrohim, R. N. Wicaksono, and A. R. Faristiana, “Pengaruh Smartphone Terhadap Anak Usia Dini,” Educ. J. Sos. Hum. dan Pendidik., vol. 3, no. 2, pp. 129–146, 2023, doi: 10.51903/education.v3i2.340.
O. Witasari and N. A. Wiyani, “Permainan Tradisional untuk Membentuk Karakter Anak Usia Dini,” JECED J. Early Child. Educ. Dev., vol. 2, no. 1, pp. 52–63, 2020, doi: 10.15642/jeced.v2i1.567.
B. Bado, Model Pendekatan Kualitatif: Telaah dalam Metode Penelitian Ilmiah, 2021.
M. B. Miles and A. M. Huberman, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2014.
Danuri and S. Maisaroh, Metodologi Penelitian, 2019.
M. Dr. Umar Sidiq and M.Ag Dr. Moh. Miftachul Choiri, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan, vol. 53, no. 9, 2019. [Online]. Available: http://repository.iainponorogo.ac.id/484/1/METODE%20PENELITIAN%20KUALITATIF%20DI%20BIDANG%20PENDIDIKAN.pdf
H. M. Musfiqon, Manajemen Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta, Indonesia: Kencana, 2020.
D. S. Junida, “Kecanduan Online Anak Usia Dini,” Walasuji J. Sej. dan Budaya, vol. 10, no. 1, pp. 57–68, 2019, doi: 10.36869/wjsb.v10i1.39.
G. Putlia et al., “Menyiapkan Masa Depan di Masa Dini,” J. Pengabdi. dan Kewirausahaan, vol. 3, no. 2, pp. 75–82, 2019, doi: 10.30813/jpk.v3i2.1862.
S. Susilawati, “Pembelajaran yang Menumbuhkembangkan Karakter Religius pada Anak Usia Dini,” Aulad J. Early Child., vol. 3, no. 1, pp. 14–19, 2020, doi: 10.31004/aulad.v3i1.46.
P. Ermaliani, “Implementasi The Hidden Curriculum dalam Pembentukan Akhlak Mahmudah Peserta Didik di SDIT Az-Zahra Pondok Petir Bojongsari,” UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pp. 1–23, 2023.
S. M. K. M. Sleman, “NIM Jenjang,” 2018.
A. Nurul Izzah Ilham, A. Tenriawaru Ahmad, N. Rasyid, S. Fadhilah, Ma. Alwi, and Z. Zhafirah Al Mawardi, “Menanamkan Konsep Tata Krama Kepada Peserta Didik Melalui Metode Ceramah dan Role Play,” KREASI J. Kreat. dan Inov., vol. 1, no. 1, pp. 33–40, 2023.