Login
Section Innovation in Education

Innovation Of POAC Management For Islamic Personal Development In Public Schools


Inovasi Manajemen POAC Untuk Bina Pribadi Islami Di Sekolah Dasar Negeri
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Lailatul Yuliana (1), Imam Fauji (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Islamic personal development programs within elementary education construct essential foundational values for moral and spiritual character formation among students. Specific Background SDN Pucang 1 Sidoarjo deliberately integrates religious character education into its curriculum through programs such as Aku Cinta Al-Qur'an, Tajwid Clinics, Jumat Berbagi, and congregational prayers. Knowledge Gap Although character education is a recognized policy, qualitative analyses explicitly applying the POAC management framework to evaluate the implementation and structural challenges of religious value-based programs within secular public schools remain scarce. Aims This study describes the POAC-based management processes of the Islamic Personal Development Program at SDN Pucang 1 Sidoarjo and analyzes the specific challenges encountered during its implementation. Results Utilizing a qualitative phenomenological approach through participatory observations, in-depth interviews, and document analysis, findings reveal a highly structured management cycle. Planning involves collaborative curriculum design, organizing delegates specific roles to religion teachers and class advisors, actuating features daily religious routines, while controlling relies on weekly evaluations. The program faces challenges including dense academic schedules, limited teacher training, and insufficient parental involvement, which the institution mitigates through schedule adjustments, collaborative religious training, and continuous parental socialization. Novelty This research isolates the POAC management cycle within a public school context, proving that secular institutions can successfully orchestrate intensive religious habituation typically reserved for madrasas. Implications Public elementary schools can effectively utilize structured management frameworks to seamlessly integrate spiritual development into crowded national curricula, thereby ensuring holistic moral and academic student growth.


Highlights:




  • The POAC management framework successfully integrates intensive religious routines into a dense public school curriculum.




  • Programs like ACA and Jumat Berbagi significantly enhance students' spiritual discipline and social empathy.




  • Addressing challenges through schedule flexibility and increased parental involvement guarantees sustainable character development.




Keywords: POAC Management, Character Education, Islamic Values, Public Elementary School, Educational Innovation

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Manajemen dalam dunia pendidikan adalah elemen kunci untuk memastikan keberhasilan proses belajar-mengajar dan pencapaian tujuan pendidikan[1]. Robbins dan Coulter (2016) menjelaskan bahwa manajemen mencakup empat fungsi utama, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengendalian (controlling), yang sering disingkat sebagai POAC. Prinsip ini memberikan kerangka kerja sistematis untuk mengelola sumber daya, kurikulum, dan berbagai kegiatan di institusi pendidikan. Dalam konteks pendidikan, pengelolaan yang baik tidak hanya bertujuan mencapai hasil akademik tetapi juga untuk membangun karakter siswa[2]. Di era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini, tantangan pendidikan semakin kompleks, sehingga diperlukan manajemen yang mampu mengintegrasikan teknologi, nilai-nilai moral, dan kebutuhan masyarakat modern.

Sekolah dasar memiliki peran strategis sebagai fondasi awal pembentukan karakter siswa. Manajemen yang diterapkan di tingkat sekolah dasar tidak hanya berfokus pada pengelolaan aspek akademik, tetapi juga pembentukan nilai-nilai moral dan sosial[3]. Wahid dan Hamami (2021) menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan di sekolah dasar sangat bergantung pada kemampuan manajemen sekolah dalam mengintegrasikan berbagai komponen pendidikan. Hal ini termasuk pengelolaan kurikulum, pengelolaan tenaga pengajar, dan pelaksanaan program ekstrakurikuler yang mendukung pembentukan karakter siswa. Dalam praktiknya, manajemen di sekolah dasar harus mampu menyelaraskan antara kurikulum formal dengan kegiatan berbasis nilai, seperti nilai-nilai keislaman yang menjadi salah satu fokus penting dalam pendidikan karakter.[4]

Penerapan manajemen di sekolah dasar mencakup pengelolaan kurikulum, program sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Kurikulum sekolah dasar dirancang tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan tetapi juga untuk membangun karakter siswa melalui integrasi nilai-nilai agama, budaya lokal, dan moral universal[5]. Sebagai contoh, nilai kedisiplinan dapat diajarkan melalui kegiatan pembiasaan harian, sementara nilai empati dan kepedulian sosial dapat dikembangkan melalui program berbasis komunitas. Dalam konteks pendidikan Islam, pengelolaan program berbasis nilai keislaman menjadi salah satu strategi untuk mendukung pembentukan generasi yang unggul secara intelektual dan spiritual[6]. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan karakter yang menekankan pentingnya pembentukan moralitas sejak usia dini.

Program bina pribadi islami di sekolah dasar menjadi salah satu bentuk implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari siswa. Program ini dirancang untuk membangun karakter religius siswa melalui pembiasaan, pembelajaran kelompok, dan aktivitas berbasis komunitas[7]. Program ini dirancang untuk membangun karakter siswa melalui berbagai kegiatan berbasis nilai keislaman yang sistematis dan terstruktur. Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari siswa sejak dini, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia. Pembiasaan ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa bersama menjadi bagian dari rutinitas harian yang melatih kedisiplinan dan tanggung jawab siswa[8]. Selain itu, kegiatan sosial mengajarkan siswa untuk peduli terhadap sesama dengan berbagi makanan atau donasi kepada yang membutuhkan. Kegiatan pembelajaran mendalam membantu siswa memperbaiki pemahaman mereka tentang ajaran Islam melalui bimbingan langsung dari guru yang berkompeten. Dalam upaya memperkuat rasa cinta kepada Rasulullah, siswa juga dibekali dengan keterampilan melantunkan sholawat dan seni islami lainnya. Kegiatan doa bersama diadakan sebagai bentuk pembelajaran spiritual yang menumbuhkan kesadaran akan pentingnya berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah[9]. Peringatan hari besar keagamaan menjadi momen penting untuk menanamkan nilai-nilai sejarah Islam melalui perlombaan dan kegiatan edukatif yang menarik. Selain itu, kegiatan mentoring dan kajian rutin diberikan untuk menambah wawasan siswa mengenai ajaran Islam secara mendalam. Dengan penerapan program ini, SDN Pucang 1 Sidoarjo berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta kesadaran spiritual yang kuat.

Pendidikan karakter menekankan pentingnya pembentukan moral dan etika sejak dini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lickona (1991), yang menyatakan bahwa pendidikan karakter harus mencakup aspek moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Pendidikan karakter telah menjadi bagian dari kebijakan pendidikan di Indonesia, seperti yang tertuang dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah memiliki dampak positif terhadap perkembangan sikap dan perilaku siswa. Studi yang dilakukan oleh Rahmawati (2023) menemukan bahwa program berbasis nilai agama di sekolah dasar berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kedisiplinan dan empati siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Supriyadi (2020) menunjukkan bahwa penerapan program keislaman di sekolah mampu meningkatkan kecerdasan spiritual dan moral siswa melalui pembiasaan ibadah serta kegiatan berbasis komunitas. Sementara itu, studi oleh Hamzah & Yusuf (2019) menemukan bahwa pendidikan karakter yang diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah dapat meningkatkan sikap toleransi, disiplin, dan tanggung jawab siswa. Selain itu, penelitian yang dilakukan di beberapa madrasah menunjukkan bahwa program berbasis nilai agama tidak hanya berdampak pada peningkatan moral siswa, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian akademik mereka[10]. Dengan penerapan program ini, SDN Pucang 1 Sidoarjo berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta kesadaran spiritual yang kuat.

Penelitian terdahulu program pendidikan karakter religius di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu telah menunjukkan hasil yang positif dalam membentuk karakter siswa yang religius dan bermoral[13]. Sistem pembelajaran MANPK di MAN 4 Jombang telah membuktikan efektivitasnya dalam mencetak ulama masa depan. Dengan pendekatan yang terpadu dan komprehensif, MANPK mampu menghadapi tantangan globalisasi dan berkontribusi signifikan terhadap pendidikan[12]. Dengan dukungan dari semua pihak, program ini dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendidikan karakter di Indonesia. Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam menerapkan pendidikan karakter melalui tiga komponen utama: kepengasuhan, pengajaran, dan kesantrian, yang dilengkapi dengan tradisi pesantren, jiwa pesantren, kedisiplinan, dan struktur organisasi/manajemen[13]. implementasi pendidikan karakter Islam di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dapat dijadikan referensi dalam meningkatkan mutu pendidikan karakter di Indonesia Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program berbasis nilai agama memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pembentukan karakter siswa. Rahmatullah dan Said (2019) dalam studinya menekankan pentingnya integrasi nilai agama, tradisi pembiasaan, dan pengelolaan program berbasis komunitas dalam pembentukan karakter siswa.

SDN Pucang 1 Sidoarjo adalah salah satu contoh sekolah yang berhasil mengimplementasikan program keislaman. Program seperti ACA, Clinic Tajwid, dan Jumat Berbagi telah menjadi bagian integral dari kegiatan sekolah. Namun, pelaksanaannya menghadapi kendala seperti keterbatasan waktu untuk mengintegrasikan program ke dalam kurikulum yang padat, minimnya pelatihan bagi guru, dan rendahnya keterlibatan orang tua dalam mendukung kegiatan tersebut.

Kesenjangan antara potensi besar program bina islami dalam membentuk karakter siswa dan implementasinya di lapangan menjadi tantangan yang harus diatasi. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi penerapan manajemen berbasis nilai keislaman di sekolah dasar negeri. Rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana proses penerapan manajemen program bina pribadi islami (POAC) di SDN Pucang 1 Sidoarjo 2) tantangan penerapan manajemen program bina pribadi islami (POAC) di SDN Pucang 1 Sidoarjo. Tujuan penelitian untuk menganalisis proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi Program bina pribadi islami di SDN Pucang 1 dan tantagan bserta mengeksplorasi dampaknya terhadap pembentukan karakter siswa.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi untuk mengeksplorasi pengalaman mendalam para subjek penelitian dalam penerapan Program bina Islamdi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pucang 1 Sidoarjo. Pendekatan fenomenologi dipilih karena tujuannya untuk memahami makna dan esensi pengalaman yang dialami oleh individu yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Program Bina Pribadi Islami di sekolah dasar. Data dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi [14]. Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah, guru agama, staf administrasi, serta siswa yang terlibat dalam program-program tersebut. Pertanyaan dalam wawancara difokuskan pada pengalaman mereka dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program keislaman, serta tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut. Observasi partisipatif dilakukan selama kegiatan keislaman berlangsung di sekolah untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai interaksi antar peserta dan dinamika yang terjadi selama pelaksanaan program. [15]. Selain itu, dokumen-dokumen terkait seperti jadwal kegiatan, rencana kerja sekolah, serta laporan pelaksanaan program juga dikumpulkan untuk memberikan konteks yang lebih mendalam mengenai kegiatan yang dilakukan.

Proses analisis data menggunakan teknik analisis tematik.Teknik triangulasi digunakan untuk memastikan validitas hasil penelitian dengan membandingkan temuan dari wawancara, observasi, dan dokumentasi.[16] Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang bagaimana penerapan Program bina Islamdi sekolah dasar mempengaruhi pembentukan karakter siswa dan tantangan yang dihadapi dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di sekolah[17].

III. Hasil dan Pembahasan

SDN Pucang 1 Sidoarjo adalah lembaga pendidikan dasar yang terletak di Sidoarjo. Sekolah ini beroperasi di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berkomitmen untuk menerapkan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran. Dengan visi untuk membentuk karakter religius siswa, SDN Pucang 1 mengintegrasikan pendidikan agama dalam kurikulum nasional melalui berbagai program yang berbasis nilai-nilai Islam. Kegiatan bina Islam yang dilakukan oleh SDN Pucang 1 Sidoarjo diantaranya;

1. Aku Cinta Al-Qur'an (ACA)

Planning (Perencanaan):Program Aku Cinta Al-Qur'an (ACA) dirancang oleh guru agama dan kepala sekolah dengan tujuan menanamkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur'an sejak dini. Perencanaan dimulai dengan rapat awal tahun yang melibatkan seluruh pihak terkait, termasuk guru agama, kepala sekolah, dan komite sekolah. Pada tahap ini, dibuatlah jadwal harian kegiatan ACA yang diadakan sebelum pelajaran dimulai. Guru agama bertugas menyusun modul pembelajaran, yang mencakup tahapan membaca tartil, memahami tajwid, dan hafalan surah-surah pendek. Modul tersebut disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa sehingga dapat diterapkan secara efektif. Hasil wawancara dengan kepala sekolah menunjukkan bahwa program ini diinisiasi karena adanya kebutuhan untuk meningkatkan literasi Al-Qur'an sejak dini. Guru agama menambahkan bahwa modul pembelajaran disusun berdasarkan hasil observasi terhadap kemampuan siswa selama kegiatan sebelumnya. Orang tua yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka mendukung penuh program ini karena membantu anak-anak mereka lebih mencintai Al-Qur'an. Dokumentasi berupa catatan rapat perencanaan dan modul pembelajaran menunjukkan adanya keterlibatan aktif semua pihak dalam tahap ini.Perencanaan juga mempertimbangkan alokasi anggaran yang disediakan oleh komite sekolah untuk kebutuhan seperti mushaf, audio murattal, dan perangkat pendukung lainnya. Guru agama melakukan survei awal untuk mengetahui kebutuhan spesifik siswa, seperti surah yang menjadi fokus hafalan dan tingkat kemahiran membaca Al-Qur'an. Berdasarkan observasi, persiapan teknis seperti pembagian kelompok siswa berdasarkan tingkat kemampuan juga dilakukan agar pembelajaran menjadi lebih efektif.

Organizing (Pengorganisasian): Guru agama bertindak sebagai koordinator utama dalam pelaksanaan program ACA. Mereka mengatur jalannya kegiatan dengan dukungan guru kelas, yang bertugas mendampingi siswa selama sesi ACA berlangsung. Guru kelas memiliki peran penting dalam mencatat perkembangan hafalan siswa secara individu. Komite sekolah juga berperan aktif dalam mendukung kebutuhan logistik, seperti penyediaan bahan ajar tambahan, mushaf, dan perangkat audio. Berdasarkan wawancara dengan komite sekolah, mereka menyatakan bahwa peran mereka meliputi pengadaan perlengkapan, seperti mushaf Al-Qur'an dan audio murattal. Observasi menunjukkan bahwa guru kelas aktif mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Dokumentasi mingguan yang dikumpulkan oleh guru agama menunjukkan peningkatan hafalan siswa yang konsisten. Dalam struktur organisasi, kepala sekolah memiliki peran supervisi untuk memastikan program berjalan sesuai rencana. Guru agama bertugas memberikan arahan teknis kepada guru kelas, seperti metode pengajaran yang digunakan dan strategi mendampingi siswa. Komite sekolah, selain mendukung logistik, juga memantau anggaran yang telah digunakan dan memberikan masukan pada evaluasi bulanan.

Actuating (Pelaksanaan): Pelaksanaan kegiatan ACA dilakukan setiap pagi di musholla sekolah. Siswa berkumpul untuk membaca Al-Qur'an di bawah bimbingan langsung guru agama. Guru memberikan arahan tentang cara membaca tartil, membimbing siswa yang kesulitan, dan memberikan motivasi kepada siswa yang menunjukkan kemajuan. Kegiatan ini dirancang agar berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mendukung semangat belajar siswa. Wawancara dengan siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dalam membaca Al-Qur'an setelah mengikuti program ini. Guru agama mencatat bahwa motivasi siswa meningkat, terutama setelah diadakannya kompetisi hafalan antar kelas. Dokumentasi berupa foto kegiatan menunjukkan antusiasme siswa selama pelaksanaan program. Observasi langsung juga memperlihatkan adanya interaksi positif antara guru dan siswa. Pelaksanaan juga melibatkan peran orang tua melalui sosialisasi. Orang tua diajak untuk mendampingi anak-anak mereka di rumah dalam mengulang hafalan. Guru agama menyediakan panduan berupa rekaman audio murattal untuk digunakan di rumah, yang menurut hasil wawancara dengan orang tua sangat membantu meningkatkan hafalan anak-anak mereka.

Controlling (Pengendalian): Evaluasi program ACA dilakukan secara rutin oleh guru agama. Setiap minggu, perkembangan hafalan siswa dicatat dan dilaporkan kepada kepala sekolah. Guru agama juga melakukan tes hafalan untuk memastikan bahwa siswa benar-benar memahami dan menguasai surah-surah yang telah dipelajari. Jika ditemukan siswa yang mengalami kesulitan, guru memberikan bimbingan tambahan secara personal. Menurut kepala sekolah, evaluasi bulanan sangat membantu dalam mengidentifikasi kendala yang dihadapi siswa dan guru. Orang tua siswa menyatakan bahwa laporan mingguan yang mereka terima membantu mereka memantau perkembangan hafalan anak-anak mereka di rumah. Dokumentasi berupa laporan evaluasi menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan dari waktu ke waktu. Pengendalian juga melibatkan diskusi antara guru agama dan guru kelas dalam rapat mingguan untuk membahas tantangan yang dihadapi siswa. Observasi menunjukkan bahwa rapat ini menjadi momen penting untuk merancang strategi baru, seperti memberikan bimbingan intensif kepada siswa yang mengalami kesulitan atau mengatur kembali kelompok belajar agar lebih efektif.

Melalui program ACA, siswa tidak hanya belajar membaca Al-Qur'an, tetapi mereka juga merasakan bahwa setiap bacaan mengandung kedalaman makna yang menyentuh hati. Setiap kali mereka berhasil menghafal surah baru, mereka merasakan kebanggaan yang mendalam. Proses belajar ini juga mengajarkan mereka untuk lebih disiplin dalam waktu dan usaha, karena setiap hafalan yang mereka capai memerlukan konsistensi dan ketekunan[18]. Mereka mulai menyadari bahwa Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada perubahan signifikan dalam cara berpikir mereka, di mana mereka mulai merasa bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk hidup yang dapat memberikan ketenangan dan arah. Di tengah kesibukan sekolah, mereka merasa bahwa memulai hari dengan Al-Qur'an membuat mereka lebih fokus dan penuh semangat. Program ini mengubah cara mereka memandang hubungan dengan Allah, menjadikan setiap bacaan sebagai bentuk ibadah yang penuh makna[19]. Siswa juga merasa lebih dekat dengan teman-teman mereka karena mereka memiliki tujuan yang sama dalam mempelajari Al-Qur'an. Dalam setiap tanya jawab dengan guru agama, mereka merasa dihargai karena dapat berbagi pemahaman mereka tentang ayat-ayat yang mereka hafal. Semua ini membentuk ikatan batin yang lebih kuat antara siswa, Al-Qur'an, dan Allah.

2. Clinic Tajwid

Planning (Perencanaan): Clinic Tajwid dirancang sebagai program pendukung untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar. Dalam tahap perencanaan, guru agama menyusun kurikulum yang mencakup teori tajwid dan praktik langsung. Kurikulum dirancang secara sistematis agar siswa dapat memahami setiap kaidah tajwid dengan mudah. Jadwal kegiatan Clinic Tajwid diatur agar tidak mengganggu waktu pelajaran inti, sehingga siswa dapat berpartisipasi tanpa merasa terbebani. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, program ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas bacaan siswa. Guru agama menyatakan bahwa kurikulum tajwid disusun setelah dilakukan survei terhadap kemampuan siswa. Dokumentasi berupa rancangan kurikulum dan jadwal menunjukkan adanya persiapan yang matang. Orang tua siswa menyambut baik program ini karena membantu anak-anak mereka memahami kaidah tajwid secara lebih mendalam. Dalam tahap perencanaan, komite sekolah juga dilibatkan untuk memastikan kebutuhan logistik terpenuhi. Guru agama menyampaikan kepada kepala sekolah bahwa program ini membutuhkan alat bantu seperti audio murattal, buku panduan tajwid, dan materi visual untuk mendukung proses belajar siswa. Berdasarkan observasi, perencanaan yang matang ini menjadi kunci keberhasilan program.

Organizing (Pengorganisasian): Guru agama bertindak sebagai pelatih utama dalam kegiatan Clinic Tajwid. Mereka memimpin sesi belajar dengan bantuan guru kelas yang mendampingi siswa. Guru kelas bertugas mencatat perkembangan siswa selama kegiatan berlangsung dan memberikan laporan kepada guru agama. Komite sekolah bertanggung jawab menyediakan perlengkapan yang diperlukan, seperti perangkat audio dan materi pembelajaran tambahan. Komite sekolah mengungkapkan bahwa mereka berkomitmen untuk mendukung penyediaan alat bantu pembelajaran. Observasi menunjukkan bahwa guru kelas mendampingi siswa secara aktif selama sesi berlangsung. Dokumentasi berupa laporan mingguan guru agama menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap tajwid. Struktur organisasi melibatkan kepala sekolah sebagai pengawas utama. Kepala sekolah memastikan program berjalan sesuai jadwal dan melakukan koordinasi dengan guru agama untuk mengatasi kendala yang mungkin terjadi. Komite sekolah juga bertugas melakukan monitoring terhadap penggunaan anggaran untuk mendukung keberlangsungan program.

Actuating (Pelaksanaan): Kegiatan Clinic Tajwid dilaksanakan melalui kombinasi teori dan praktik langsung. Siswa diajarkan kaidah tajwid, seperti hukum bacaan mad, ikhfa, dan idgham, oleh guru agama. Setiap sesi dilengkapi dengan latihan membaca Al-Qur'an secara individu dan kelompok. Guru memberikan koreksi langsung kepada siswa yang mengalami kesulitan. Wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa mereka merasa lebih memahami tajwid setelah mengikuti program ini. Guru agama menyatakan bahwa teknologi audio membantu siswa mencontoh bacaan yang benar. Dokumentasi berupa video kegiatan menunjukkan siswa aktif dalam mengikuti sesi. Observasi memperlihatkan suasana belajar yang interaktif dan mendukung. Pelaksanaan juga melibatkan pendekatan inovatif, seperti permainan edukasi berbasis tajwid dan penggunaan aplikasi berbasis teknologi. Hal ini didasarkan pada masukan dari orang tua dan siswa yang merasa metode tradisional kurang menarik bagi anak-anak. Guru agama menyebutkan bahwa pendekatan ini membantu siswa lebih cepat memahami kaidah tajwid.

Controlling (Pengendalian): Evaluasi program Clinic Tajwid dilakukan secara berkala oleh guru agama. Setiap minggu, siswa mengikuti tes membaca Al-Qur'an untuk mengukur pemahaman mereka tentang tajwid. Hasil evaluasi dicatat dan dilaporkan kepada kepala sekolah sebagai bahan monitoring. Kepala sekolah menyatakan bahwa evaluasi berkala membantu mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bimbingan tambahan. Guru agama memberikan laporan rinci kepada orang tua agar mereka dapat mendukung anak-anak mereka di rumah. Dokumentasi berupa laporan evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar. Selain evaluasi formal, pengendalian juga dilakukan melalui feedback langsung dari siswa. Observasi menunjukkan bahwa guru agama mengadakan sesi diskusi kelompok untuk mendengar pengalaman siswa selama mengikuti program. Hal ini digunakan untuk menyempurnakan metode pengajaran dan memastikan keberhasilan program dalam jangka panjang.

Program Clinic Tajwid membawa siswa lebih dekat dengan kesempurnaan bacaan Al-Qur'an. Setiap pertemuan menjadi kesempatan bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan setiap kaidah tajwid yang diajarkan, dan mereka merasakan manfaat langsung saat mereka membaca lebih lancar dan benar. Hal ini sesuai dengan temuan yang menunjukkan bahwa pengajaran tajwid melalui pendekatan klinik (kelas kecil) efektif dalam memperbaiki kualitas bacaan siswa [18]. Interaksi langsung antara guru dan siswa memberikan hasil yang lebih baik dibanding metode klasikal. Siswa merasa bahwa proses belajar ini tidak hanya memperbaiki bacaan, tetapi juga mendalamkan pemahaman mereka tentang bagaimana bacaan yang benar[19]. Mereka mulai menyadari pentingnya setiap huruf yang mereka baca, dan merasa bahwa setiap bacaan adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Program ini juga memberikan mereka rasa tanggung jawab, karena mereka merasa bahwa bacaan yang benar adalah bagian dari kewajiban mereka sebagai umat Islam. Siswa yang awalnya kesulitan dengan tajwid merasa puas ketika akhirnya mereka bisa melafalkan dengan tepat, dan ini menjadi pencapaian yang memotivasi mereka untuk terus belajar[8]. Di sisi lain, mereka juga merasa semakin terbuka dengan pendekatan teknologi, yang membantu mereka mempraktikkan tajwid dengan lebih baik di rumah. Rasa bangga tumbuh ketika mereka mendengar pujian atas kemajuan mereka dari guru agama. Aktivitas ini tidak hanya mengasah keterampilan membaca, tetapi juga membentuk karakter mereka untuk lebih menghargai setiap amal ibadah yang dilakukan dengan cara yang benar[20]. Dengan semakin pahamnya mereka tentang tajwid, mereka merasa lebih aman dan percaya diri dalam setiap bacaan yang mereka lakukan.

3. Jum’at Berbagi

Planning (Perencanaan):Program Jum'at Berbagi dirancang dengan tujuan menanamkan nilai empati dan kepedulian sosial melalui kegiatan berbagi makanan dan minuman kepada warga sekolah, termasuk teman sekelas, antar kelas, guru, petugas kebersihan, penjaga sekolah, dan satpam. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, program ini bertujuan membentuk karakter siswa agar lebih peduli dan bersyukur. Guru kelas menyusun jadwal kegiatan dan menyampaikan informasi kepada orang tua melalui surat pemberitahuan. Komite sekolah terlibat dalam memastikan kebutuhan logistik tersedia, seperti tempat pengumpulan donasi. Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan dukungan penuh, di mana mereka mengapresiasi kegiatan ini karena dapat menanamkan kebiasaan positif pada anak-anak mereka. Beberapa siswa mengungkapkan melalui wawancara bahwa mereka senang bisa berbagi makanan dengan teman-temannya.

Organizing (Pengorganisasian):Guru kelas bertugas mengoordinasikan siswa dalam pengumpulan makanan dan minuman. Berdasarkan wawancara dengan guru, mereka merasa terbantu dengan arahan dari kepala sekolah untuk menjalankan kegiatan ini secara sederhana tetapi efektif. Komite sekolah memastikan makanan yang dibawa siswa terorganisir dengan baik dan sesuai sasaran penerima. Dokumentasi kegiatan menunjukkan adanya daftar penerima donasi yang meliputi teman sekelas, guru, dan staf sekolah. Observasi terhadap proses pengumpulan menunjukkan bahwa siswa sangat antusias menyerahkan makanan dan minuman yang mereka bawa.

Actuating (Pelaksanaan):Pada hari Jumat, siswa membawa makanan atau minuman yang telah disiapkan dari rumah. Guru kelas mengoordinasikan proses pembagian, di mana siswa berbagi dengan teman sekelas terlebih dahulu sebelum menyebarkannya ke antar kelas, guru, dan staf sekolah. Observasi menunjukkan suasana kebersamaan yang erat saat siswa secara langsung menyerahkan makanan kepada guru, petugas kebersihan, atau penjaga sekolah. Guru agama memberikan pengantar tentang pentingnya berbagi dalam Islam, yang menjadi penguat nilai spiritual kegiatan ini. Dalam wawancara, siswa mengaku merasa senang dan bangga bisa memberikan makanan kepada teman dan staf sekolah. Beberapa siswa bahkan mengatakan kegiatan ini membuat mereka ingin lebih sering berbagi, baik di rumah maupun di luar sekolah.

Controlling (Pengendalian): Evaluasi dilakukan setiap minggu melalui laporan guru kelas kepada kepala sekolah. Berdasarkan wawancara, kepala sekolah menyebutkan bahwa laporan ini membantu memastikan program berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif. Guru kelas melaporkan partisipasi siswa yang terus meningkat setiap minggu. Komite sekolah mengevaluasi logistik untuk memastikan distribusi berjalan lancar. Dokumentasi berupa foto kegiatan dan daftar donasi menunjukkan keterlibatan aktif seluruh warga sekolah. Selain itu, survei kepada siswa dan orang tua mengungkapkan bahwa program ini berhasil meningkatkan kesadaran sosial siswa. Observasi jangka panjang menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih peduli terhadap kebutuhan teman dan lingkungan sekitarnya.

Program Jum'at Berbagi membentuk pemahaman siswa tentang arti penting berbagi dalam kehidupan sosial mereka. Hal ini sesuai dengan temuan sebelumnya Program berbagi secara rutin, seperti Jumat Berbagi, mampu menanamkan nilai empati dan kepedulian sosial pada siswa sejak dini[21]. Kegiatan ini juga meningkatkan interaksi positif antara siswa, guru, dan masyarakat.Ketika mereka membawa makanan dan minuman, mereka merasa memiliki peran dalam menciptakan kebersamaan dan kepedulian di sekolah. Ada kebahagiaan yang tulus ketika mereka membagikan sesuatu yang sederhana, namun dapat memberikan kebahagiaan bagi orang lain[22]. Kegiatan ini mengajarkan mereka bahwa berbagi bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang membangun hubungan yang baik dengan sesama[21]. Setiap kali mereka melihat wajah-wajah bahagia setelah menerima donasi, mereka semakin yakin bahwa tindakan kecil mereka dapat memberi dampak besar bagi orang lain. Program ini memperkenalkan mereka pada nilai-nilai empati dan kepedulian sosial yang harus dimiliki setiap individu. Rasa syukur muncul dalam diri mereka ketika mereka menyadari bahwa mereka memiliki lebih dan dapat memberikan sesuatu untuk orang lain. Sebagai hasilnya, siswa merasa terinspirasi untuk lebih peduli terhadap orang di sekitar mereka, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Program Jum'at Berbagi juga membuka pikiran mereka tentang pentingnya berbagi dalam Islam, dan mereka merasa bahwa dengan berbagi, mereka mendekatkan diri kepada Allah[23]. Aktivitas ini, meskipun sederhana, meninggalkan dampak mendalam yang akan terus terpatri dalam kehidupan mereka.

4. Banjari

Planning (Perencanaan): Program Banjari dirancang sebagai upaya memperkenalkan seni budaya Islam kepada siswa melalui musik islami. Guru seni dan guru agama bersama kepala sekolah menyusun rencana kegiatan ini, termasuk jadwal latihan mingguan, pilihan tema sholawat, dan pengadaan alat musik seperti rebana. Kepala sekolah memastikan keterlibatan komite sekolah dalam penganggaran kebutuhan program ini. Berdasarkan wawancara dengan guru seni, mereka merasa kegiatan ini penting untuk mengembangkan potensi seni siswa sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman. Orang tua siswa yang diwawancarai mendukung program ini karena dianggap memberikan ruang bagi anak-anak mereka untuk mengekspresikan diri secara positif. Observasi terhadap perencanaan menunjukkan adanya jadwal latihan yang konsisten dan daftar tema sholawat yang disesuaikan dengan momen-momen tertentu. Komite sekolah menyebutkan bahwa mereka mengalokasikan anggaran untuk pembelian alat musik dan kebutuhan teknis lainnya. Guru agama juga menyusun panduan yang menghubungkan nilai-nilai islami dengan seni Banjari sehingga siswa dapat memahami makna dari setiap sholawat yang mereka lantunkan.

Organizing (Pengorganisasian): Guru seni memimpin latihan Banjari, sementara guru agama memberikan masukan terkait pilihan sholawat dan nilai-nilai yang ingin disampaikan. Kepala sekolah memantau pelaksanaan kegiatan melalui laporan berkala dari guru seni. Komite sekolah bertanggung jawab menyediakan perlengkapan latihan, termasuk alat musik dan sound system. Dokumentasi menunjukkan struktur organisasi yang jelas, di mana guru seni bertindak sebagai pelatih utama dengan dukungan dari guru agama dan komite sekolah. Observasi selama latihan menunjukkan adanya pembagian peran yang efektif di antara siswa, seperti pemain rebana, vokalis, dan koordinator tim. Kepala sekolah memastikan bahwa siswa yang memiliki minat dan bakat dalam seni diberikan kesempatan untuk berkembang melalui program ini. Berdasarkan wawancara, siswa merasa termotivasi karena mendapatkan bimbingan langsung dari guru seni yang kompeten.

Actuating (Pelaksanaan): Latihan Banjari diadakan setiap Jumat di musholla sekolah. Siswa diajarkan cara memainkan rebana dan melantunkan sholawat dengan benar. Guru seni membimbing siswa secara intensif, memberikan koreksi jika ada kesalahan, dan menciptakan suasana latihan yang menyenangkan. Setiap bulan, siswa diberi kesempatan untuk tampil di depan seluruh warga sekolah dalam acara khusus.Observasi selama pelaksanaan menunjukkan bahwa siswa sangat antusias mengikuti latihan. Guru seni mencatat bahwa kepercayaan diri siswa meningkat setelah mereka tampil di depan publik. Dokumentasi berupa video dan foto kegiatan menunjukkan keberhasilan siswa dalam membawakan pertunjukan seni islami.

Controlling (Pengendalian): Evaluasi dilakukan setelah setiap penampilan. Guru seni bersama kepala sekolah mengumpulkan feedback dari siswa, guru lain, dan orang tua untuk meningkatkan kualitas latihan. Hasil wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dan memahami nilai-nilai islami yang terkandung dalam sholawat. Pengendalian juga dilakukan melalui rapat bulanan yang melibatkan semua pihak terkait. Kepala sekolah menyatakan bahwa masukan dari siswa dan orang tua sangat membantu dalam menyempurnakan program ini. Dokumentasi menunjukkan bahwa evaluasi yang dilakukan secara konsisten menghasilkan perbaikan signifikan dalam pelaksanaan kegiatan.

Latihan Banjari memberikan siswa sebuah wadah untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui seni yang sarat dengan nilai-nilai islami. Hal ini menunjukkan bahwa seni Islami seperti Banjari dapat menjadi media pembelajaran nilai-nilai keagamaan secara kreatif.[24] Siswa lebih termotivasi untuk mengenal budaya Islam melalui seni musik. Dengan memfokuskan pada pelatihan musik, siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan bakat mereka. Latihan Banjari membantu siswa untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam bidang musik dan vokal[25]. Siswa-siswi belajar tentang berbagai teknik vokal, cara memainkan alat musik, dan interpretasi lagu. Seiring waktu, mereka menjadi lebih mahir dan percaya diri dalam penampilan mereka. Setiap sholawat yang mereka lantunkan bukan hanya sekadar musik, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan kedamaian batin. Mereka mulai menyadari bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan agama dengan cara yang indah dan menyentuh hati. Melalui latihan yang rutin, mereka semakin terampil dalam memainkan alat musik dan menghafal lirik sholawat, dan mereka merasa bangga setiap kali dapat tampil dengan baik. Setiap pertunjukan menjadi momen penting bagi mereka untuk menunjukkan kepada teman-teman dan guru bahwa seni adalah cara yang efektif untuk menyampaikan pesan spiritual[26]. Dalam setiap penampilan, siswa merasa bahwa mereka tidak hanya menunjukkan bakat, tetapi juga menyebarkan keberkahan dan rasa cinta kepada Allah melalui musik. Hal ini mendukung bahwa kegiatan bermain rebana dan melantunkan sholawat terbukti meningkatkan kepercayaan diri siswa, terutama saat tampil di depan umum[27]. Aktivitas ini memperkaya mereka dengan pengalaman spiritual yang berbeda, yang memperdalam kecintaan mereka terhadap agama. Mereka merasa lebih terhubung dengan ajaran Islam melalui musik, dan ini memberi mereka rasa tenang dan bahagia. Seni Banjari juga mempererat hubungan antar siswa, karena mereka berlatih bersama dan saling mendukung dalam setiap sesi latihan. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bahwa seni dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk memperkuat iman dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah.

5. Sholat Berjamaah

Planning (Perencanaan): Program Sholat Berjamaah dirancang untuk menanamkan kebiasaan sholat secara tepat waktu dan berjamaah kepada siswa. Perencanaan dimulai melalui rapat antara kepala sekolah, guru agama, guru kelas, dan komite sekolah. Rapat ini membahas jadwal pelaksanaan, lokasi sholat berjamaah, serta teknis pelibatan siswa, seperti pembagian peran imam, muazin, dan petugas kebersihan tempat sholat. Wawancara dengan kepala sekolah mengungkapkan bahwa program ini bertujuan untuk membangun karakter siswa yang disiplin dan religius melalui praktik ibadah langsung. Guru agama merancang panduan kegiatan, termasuk pembelajaran tentang tata cara sholat berjamaah yang benar, adab masuk masjid/musholla, dan pembacaan doa bersama setelah sholat. Orang tua mendukung penuh program ini karena dianggap dapat membiasakan anak untuk mencintai sholat berjamaah sejak dini. Dokumentasi berupa jadwal mingguan menunjukkan bahwa sholat berjamaah dilaksanakan setiap hari pada waktu sholat dhuha dan dzuhur di musholla sekolah. Observasi juga mencatat adanya diskusi mengenai teknis pembagian tugas antara guru agama dan guru kelas sebagai pendamping siswa selama kegiatan berlangsung.

Organizing (Pengorganisasian): Pengorganisasian kegiatan melibatkan guru agama sebagai penanggung jawab utama program. Guru agama mengatur teknis pelaksanaan, seperti penunjukan siswa sebagai imam, muazin, dan pembaca doa setelah sholat. Guru kelas bertugas mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung dan membantu mengarahkan siswa yang belum memahami tata cara sholat dengan benar. Komite sekolah turut mendukung program ini dengan menyediakan perlengkapan ibadah, seperti sajadah tambahan, mukena, serta pengeras suara untuk musholla. Hasil wawancara dengan komite menunjukkan bahwa mereka juga terlibat dalam pengelolaan dana untuk kebutuhan perbaikan fasilitas musholla. Struktur organisasi menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan sebagai pengawas, memastikan bahwa kegiatan berlangsung sesuai rencana. Observasi menunjukkan adanya koordinasi rutin antara guru agama, guru kelas, dan komite sekolah untuk mengevaluasi peran masing-masing dalam mendukung kelancaran kegiatan.

Actuating (Pelaksanaan): Pelaksanaan sholat berjamaah dimulai setiap hari pada waktu sholat dhuha dan dzuhur. Siswa diarahkan oleh guru kelas menuju musholla, lalu bersiap melakukan wudhu sebelum sholat dimulai. Guru agama memimpin jalannya kegiatan dengan memberikan arahan tentang adab sholat berjamaah. Siswa yang telah diberi tugas menjadi imam atau muazin melaksanakan perannya di bawah bimbingan guru. Wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa mereka merasa senang dan bangga dapat berperan aktif dalam kegiatan ini, baik sebagai imam, muazin, atau petugas kebersihan musholla. Orang tua menyampaikan bahwa mereka melihat perubahan positif pada anak-anak mereka yang kini lebih sering mengingatkan keluarga untuk sholat berjamaah di rumah. Observasi selama kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa siswa mengikuti program dengan antusias, meskipun beberapa siswa masih perlu diarahkan dalam memahami tata cara sholat. Pelaksanaan juga dilengkapi dengan pembelajaran singkat setelah sholat berjamaah. Guru agama memberikan tausiyah singkat mengenai keutamaan sholat berjamaah, pentingnya disiplin waktu, dan adab beribadah. Dokumentasi berupa foto kegiatan dan laporan harian menunjukkan bahwa program ini berjalan dengan baik dan mendapatkan respon positif dari siswa.

Controlling (Pengendalian): Evaluasi program dilakukan secara berkala setiap minggu oleh guru agama dan kepala sekolah. Guru agama mencatat kehadiran siswa, keterlibatan mereka dalam sholat berjamaah, serta kendala yang dihadapi selama pelaksanaan. Laporan perkembangan siswa disampaikan kepada orang tua melalui komunikasi langsung atau melalui grup sekolah. Hasil wawancara dengan kepala sekolah menyatakan bahwa evaluasi ini digunakan untuk memberikan pembimbingan tambahan kepada siswa yang masih membutuhkan pemahaman lebih lanjut. Orang tua juga dilibatkan untuk memotivasi anak-anak mereka agar terus melaksanakan sholat berjamaah di rumah. Observasi menunjukkan bahwa siswa yang konsisten mengikuti sholat berjamaah menunjukkan perubahan perilaku positif, seperti menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Dokumentasi berupa laporan evaluasi dan catatan kegiatan digunakan untuk memperbaiki pelaksanaan program di masa mendatang.

Program sholat berjamaah mengajarkan siswa tentang pentingnya disiplin dan ibadah secara kolektif. Setiap kali siswa mengikuti sholat berjamaah, mereka merasakan manfaat spiritual yang luar biasa, seperti ketenangan hati dan kedamaian dalam jiwa. Hal ini sesuai dengan temuan sebelumnya bahwa pelaksanaan sholat berjamaah secara konsisten membangun karakter religius, disiplin, dan tanggung jawab siswa[28]. Mereka merasa terhubung satu sama lain melalui ibadah, dan ini mengeratkan hubungan sosial di antara mereka. Menjadi imam atau muazin memberi mereka tanggung jawab yang besar, dan mereka merasa bangga bisa memimpin teman-teman mereka dalam ibadah. Aktivitas ini juga mengajarkan mereka tentang adab dan tata cara sholat berjamaah yang benar, yang memperkaya pemahaman mereka tentang ibadah[29]. Ada rasa bangga dan bahagia ketika mereka melihat diri mereka semakin disiplin dalam menjalankan ibadah, baik di sekolah maupun di rumah. Ketika mereka mengingatkan keluarga untuk sholat berjamaah, mereka merasa bahwa mereka telah berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih religius. Sholat berjamaah tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah mereka, tetapi juga memperkuat karakter mereka dalam kehidupan sehari-hari[30]. Dengan mengikuti program ini, siswa belajar bahwa ibadah adalah bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan. Setiap langkah yang mereka ambil dalam melaksanakan sholat berjamaah memberikan rasa kedekatan yang lebih dalam kepada Allah.

6 . Tantangan dan Strategi untuk Mengatasi Hambatan

Pelaksanaan Program Bina Pribadi Islami di sekolah dasar negeri tidak terlepas dari tantangan-tantangan, seperti keterbatasan waktu, kurangnya sumber daya manusia yang kompeten, dan fasilitas yang terbatas.[31] Pelaksanaan Program bina Islamdi SDN Pucang 1 menghadapi beberapa tantangan : 1)keterbatasan waktu dalam jadwal akademik yang padat. 2) kurangnya pelatihan untuk guru agama. 3) keterlibatan orang tua yang masih minim. Untuk mengatasi keterbatasan waktu, sekolah dapat menyesuaikan jadwal kegiatan keislaman dengan menggunakan waktu istirahat atau sesi tambahan setelah jam pelajaran. Dalam hal kurangnya pelatihan guru, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga keagamaan untuk mengadakan pelatihan berkala yang membantu guru meningkatkan kompetensi. Keterlibatan orang tua dapat ditingkatkan melalui sosialisasi rutin, program parenting, dan undangan aktif untuk berpartisipasi dalam kegiatan keislaman. Strategi lain meliputi penggunaan teknologi, seperti aplikasi digital untuk mendukung hafalan Al-Qur'an dan praktik tajwid, yang memungkinkan siswa belajar lebih fleksibel. Dengan pendekatan kolaboratif antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua, hambatan-hambatan ini dapat diatasi untuk memastikan keberhasilan program keislaman.

IV. Simpulan

Setelah penulis melakukan penelitian dan pemaparan di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa 1). manajemen program Bina Pribadi Islami di SDN Pucang 1 Sidoarjo dilaksanakan sesuai dengan pendekatan POAC. Perencanaan yang mencakup integrasi nilai-nilai keislaman dalam kurikulum serta penyusunan program seperti Aku Cinta Al-Qur'an (ACA), Clinic Tajwid (CT), Jumat Berbagi, dan kegiatan lainnya. Pengorganisasian struktur yang melibatkan guru agama, wali kelas, komite sekolah, dan orang tua untuk mendukung pelaksanaan program secara efektif. Pelaksanaan kegiatan keislaman yang dilakukan secara rutin, seperti pembiasaan membaca Al-Qur'an, pelatihan tajwid, sholat berjamaah, dan kegiatan sosial seperti Jumat Berbagi. Pengendalian melalui evaluasi rutin, laporan capaian siswa, dan umpan balik dari guru, siswa, serta orang tua untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan dan memberikan dampak positif pada pembentukan karakter siswa. 2). Tantangan yang dihadapi oleh SDN Pucang 1 Sidoarjo, yaitu : a). keterbatasan waktu akibat padatnya kurikulum, b). kurangnya pelatihan bagi guru, c). minimnya keterlibatan orang tua. Strategi untuk mengatasi tantangan ini meliputi : a). penyesuaian jadwal kegiatan dengan waktu istirahat atau sesi tambahan, b). pelaksanaan pelatihan berkala bagi guru dengan bekerja sama dengan lembaga keagamaan, c). peningkatan keterlibatan orang tua melalui sosialisasi rutin, program parenting, dan undangan aktif untuk berpartisipasi dalam kegiatan keislaman.

Ucapan Terimakasih

Terimakasih kepada seluruh informan di SDN Pucang 1 Sidoarjo yang telah membantu penyelesaian artikel ini semoga penelitian ini dapat bermanfaat untuk berkembangnya SDN Pucang 1 dan untuk segenap Masyarakat umum lainnya.

References

U. Hasanah, S. Nurhaliza, S. Hayatissa, and I. Nurhaliza, “Pentingnya Manajemen Organisasi Pendidikan,” vol. 1, no. 3, pp. 74–86, 2024.

N. V. Wongkar and R. D. Herdi Pangkey, “Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pendidikan Karakter: Strategi Meningkatkan Kualitas Siswa di Era Modern,” J. Educ., vol. 6, no. 4, pp. 22008–22017, 2024, doi: 10.31004/joe.v6i4.6322.

F. Ramadhanti Fuji Astuti, N. Nabila Aropah, and S. Vebrianto Susilo, “Pendidikan Moral Sebagai Landasan Nilai Karakter Berprilaku,” J. Innov. Prim. Educ., vol. 1, no. 1, pp. 10–21, 2022.

K. Jasmine, “済無No Title No Title No Title,” Penambahan Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat dan Kecepatan Pengadukan sebagai Upaya Penghambatan Reaksi Inversi pada Nira Tebu, vol. 4, no. 2, pp. 57–65, 2014.

M. Amran, E. S. Sahabuddin, and Muslimin, Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar, 2018. [Online]. Available: file:///C:/Users/Easy/Downloads/6121-14535-1-PB.pdf

S. Rahmadani, “Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Digital: Tinjauan Literatur Kualitatif,” J. Media Akad., vol. 2, no. 6, pp. 1–16, 2024. [Online]. Available: https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/view/515

Dahirin and Rusmin, “Integrasi Nilai-Nilai Keislaman pada Peserta Didik Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” Dirasah, vol. 7, no. 2, pp. 762–771, 2024. [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.55403/hikmah.v13i1.718

T. Abdillah and T. Churrahman, “Using the Tajdied Method to Improve Students’ Ability to Read the Qur’an,” KnE Soc. Sci., vol. 2022, pp. 569–577, 2022, doi: 10.18502/kss.v7i10.11259.

S. K. Jelita and Sholehuddin, “Upaya Guru Pembimbing untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa,” Semin. Nas. dan Publ. Ilm. 2024 FIP UMJ, pp. 800–809, 2024.

E. Fauziah, “Pembentukan Karakter Islami Peserta Didik Melalui Program Bina Pribadi Islami di SDIT Harapan Bangsa Natar,” J. Pendidik. Profesi Guru Agama Islam, vol. 1, no. 2, pp. 201–210, 2021.

K. Santoso, “VICRATINA: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5 Nomor 1 Tahun 2020 P-ISSN: 2087-0678X,” Pendidik. Islam, vol. 5, no. 2, pp. 17–23, 2020.

N. Qonitah, “Sistem Pembelajaran Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) sebagai Upaya Kaderisasi Ulama di Madrasah Aliyah Negeri 4 Jombang,” 2021.

R. Rahmatullah and A. Said, “Implementasi Pendidikan Karakter Islam di Era Milenial pada Pondok Pesantren Mahasiswa,” J. TA’LIMUNA, vol. 8, no. 2, pp. 37–52, 2019, doi: 10.32478/talimuna.v8i2.269.

Agustini, A. Grashenta, S. Putra, Sukarman, and F. A. Guampe, Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Panduan Praktis Analisis Data Kualitatif), 2023.

U. Ridlo, Metode Penelitian Studi Kasus: Teori dan Praktik, 2023. [Online]. Available: https://notes.its.ac.id/tonydwisusanto/2020/08/30/metode-penelitian-studi-kasus-case-study/

“Teknik Pengumpulan Data.”

H. Heriyanto, “Thematic Analysis sebagai Metode Menganalisa Data untuk Penelitian Kualitatif,” Anuva, vol. 2, no. 3, p. 317, 2018, doi: 10.14710/anuva.2.3.317-324.

L. H. Hanifa, A. W. Ritonga, S. Rahmah, and H. Q. Aini, “Upaya Peningkatan Kualitas Bacaan Al-Qur’an Siswa dalam Lembaga Pendidikan Islam,” J. Al Burhan, vol. 3, no. 1, pp. 45–60, 2023, doi: 10.58988/jab.v3i1.106.

A. Dudin Abdul Latip, S. Hamidah, G. Kania, and S. Rakeyan Santang, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Menghafal Surah-Surah Pendek pada Anak Usia 5–6 Tahun dengan Menggunakan Media Al-Qur’an Digital Pen,” J. Plamboyan Edu, vol. 1, no. 2, pp. 166–175, 2023.

H. Hambali, F. Rozi, and N. Farida, “Pengelolaan Pembelajaran Ilmu Tajwid Melalui Media Audio Visual,” Naturalistic: J. Kaji. Penelit. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 5, no. 2, pp. 872–881, 2021, doi: 10.35568/naturalistic.v5i2.1180.

R. Susanti, “Pengaruh Program Pendidikan Berkarakter terhadap Pembentukan Sikap Empati Siswa Sekolah Dasar,” J. Rev. Pendidik. dan Pengajaran, vol. 7, no. 1, pp. 2290–2302, 2024. [Online]. Available: http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp

R. Pangastuti, F. Pratiwi, A. Fahyuni, and K. Kammariyati, “Pengaruh Pendampingan Orangtua terhadap Kemandirian dan Tanggung Jawab Anak Selama Belajar dari Rumah,” JECED J. Early Child. Educ. Dev., vol. 2, no. 2, pp. 132–146, 2020, doi: 10.15642/jeced.v2i2.727.

I. Fauji, E. F. Fahyuni, A. Muhid, and Z. N. Fahmawati, “Implementing Child-Friendly Teaching Methods to Improve Qur’an Reading Ability,” J. Pendidik. Islam, vol. 6, no. 1, pp. 69–78, 2020, doi: 10.15575/jpi.v6i1.8078.

M. Waroh, K. Arisanti, and H. Herwati, “Penguatan Nilai-Nilai Karakter Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Hadrah,” J. TA’LIMUNA, vol. 12, no. 1, pp. 70–77, 2023, doi: 10.32478/talimuna.v12i1.1433.

H. N. Bayhaqi, I. D. Nurdiansah, M. H. Sidqi, and A. Bandar, “Abdi Laksana: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat,” vol. 5, no. September, 2024.

Dina Aulia Yudistira Munthe, Fadiah Adlina, Linda Damayanti, Lutfi Aulia, and Pipi Andriani, “Pelaksanaan Festival Anak Soleh untuk Menggali Potensi dan Meningkatkan Talenta Anak dalam Rangka Peringatan 1 Muharram 1445 H di Bah Jambi, Simalungun,” ALKHIDMAH J. Pengabdi. dan Kemitraan Masy., vol. 2, no. 1, pp. 237–245, 2024, doi: 10.59246/alkhidmah.v2i1.752.

M. S. Ummah, “Implementasi Kegiatan Ekstrakurikuler Rebana dalam Meningkatkan Sikap Religius dan Sosial di SD Islam NU Pungkuran Semarang,” Sustain., vol. 11, no. 1, pp. 1–14, 2019.

A. M. Alimuddin and Yuzrizal, “Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam,” J. Pendidik. dan Pemikir. Islam, vol. 7, no. 2, pp. 113–122, 2020. [Online]. Available: http://conference.kuis.edu.my/pasak2017/images/prosiding/nilaisejagat/10-MAAD-AHMAD.pdf

D. Hartono and Z. Lailiyah, “Mengembangkan Model Alternatif Pendidikan Islam: Kritik Atas,” 2024.

D. N. Azizah, D. H. Muhammad, and P. D. W. Sitaresmi, “Strategi Guru dalam Menanamkan Kebiasaan Sholat Berjamaah pada Siswa di MTs Miftahul Ulum Leces Kabupaten Probolinggo,” Islamika, vol. 5, no. 2, pp. 669–689, 2023, doi: 10.36088/islamika.v5i2.3140.

L. A. Wahid and T. Hamami, “Tantangan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam dan Strategi Pengembangannya dalam Menghadapi Tuntutan Kompetensi Masa Depan,” J-PAI J. Pendidik. Agama Islam, vol. 8, no. 1, pp. 23–36, 2021, doi: 10.18860/jpai.v8i1.15222.