Istikomah (1), Muryadi (2)
General Background Strategic management plays a critical role in directing educational institutions to allocate resources efficiently and maintain competitive standards. Specific Background Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo operates as an Islamic institution integrating national standards with global competencies in a highly competitive regional context. Knowledge Gap However, Islamic educational institutions frequently encounter structural execution gaps, including curriculum innovation deficits, competency disparities, and unintegrated evaluation systems. Aims This study analyzes the implementation of a milestone-based strategic planning framework within the institution through qualitative case study methods. Results Findings reveal that structured execution across planning, organizing, actuating, and controlling components elevated student enrollment to 1.591, achieved a 4.1 Cambridge Primary Checkpoint average, and expanded digital management through the SIMADAR system. Novelty This work establishes an empirical model demonstrating the systemic convergence of Islamic values and international Cambridge accreditation within suburban educational governance. Implications These insights provide a practical strategic roadmap for faith-based schools navigating quality assurance and internationalization.
Implementation of milestone-based management successfully increased student enrollment to 1.591 while securing A-plus accreditation across all educational levels.
Blending Islamic value-based programs with international Cambridge standards yielded high academic checkpoints and strong student Quranic memorization metrics.
Deployment of custom digital platforms like SIMADAR enhanced institutional administration, parental transparency, and strategic evaluation processes
Keywords : Milestone Strategic Management, Islamic Education Development, Cambridge International School, Educational Digital Transformation, School Quality Governance
Kualitas pendidikan adalah elemen kunci dalam membangun generasi yang unggul dan mempunyai daya saing yang baik. Guna menciptakan pendidikan berkualitas tinggi, diperlukan manajemen strategi yang efektif. Manajemen strategi meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian dengan tujuan mencapai sasaran organisasi. Dalam konteks pendidikan, manajemen strategi sangat penting dalam menentukan arah dan prioritas pengembangan lembaga pendidikan serta mengalokasikan sumber daya secara optimal untuk mencapai tujuan pendidikan.[1] Penelitian ini membahas pentingnya penerapan manajemen strategi dalam pendidikan. Perencanaan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam semua proses pendidikan. Dengan adanya perencanaan, arah penyelenggaraan pendidikan menjadi jelas, sehingga pengelolaan dan pengaturan lembaga pendidikan dapat dijalankan dengan lebih efektif dan efisien.[2] Sistem pendidikan di negara-negara maju jauh lebih baik dari pada sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Kenyataan ini menjadikan tantangan Indonesia khususnya bagi lembaga pendidikan dan satuan pendidikan harus segera memperbaiki diri sehingga sehingga tidak jauh tertinggal disebabkan cepatnya perubahan arus globalisasi dan diharapakan lulusanya mampu bersaing dengan lulusan bangsa lain.[3] Fakta menunjukkan bahwa hasil proses mendidik, dari tingkat satuan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, masih belum memenuhi harapan dan kalah bersaing dengan sistem pendidikan di negara lain. Hal itu tidak aneh jika banyak yang mengritik, memberikan saran dan masukan ditujukan kepada sektor pendidikan, termasuk birokrasi pendidikan dan lembaga sekolah. Meskipun kritik dan masukan tersebut biasanya ditanggapi oleh pihak terkait, hasil yang diperoleh sering kali belum memuaskan para pemangku kepentingan. Namun, upaya untuk melakukan pembaharuan dan inovasi dalam bidang pendidikan terus menerus dilakukan oleh sektor pendidikan, yang mencakup inovasi dalam manajemen pendidikan serta inovasi dalam metode pembelajaran dengan jangkauan yang luas.[4]
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu pencapaian penting dari kemajuan pendidikan secara keseluruhan. Dalam era globalisasi yang terus berkembang, lembaga pendidikan diharapkan mampu merancang strategi yang efektif, mengantisipasi tantangan, serta mengakomodasi kebutuhan untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan visi dan misi mereka. Hal ini sangat penting untuk menghindari terjadinya stagnasi, ketidakfleksibelan, atau bahkan kemunduran dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Realitas menunjukkan bahwa beberapa sekolah menghadapi masalah serius, seperti mutu lulusan yang rendah hingga terpaksa harus ditutup. Fenomena ini menegaskan perlunya penerapan manajemen strategis yang komprehensif sebagai upaya menjaga keberlanjutan dan daya saing lembaga pendidikan di tengah perubahan yang dinamis..[5]
Pembentukan genarasi Indonesia yang berkualitas tidak terlepas adanya peran sekolah sehingga pemerintah dan semua lapisan masyarakat harus mendukungnya secara penuh. Lembaga pendidikan atau satuan pendidikan harus berupaya dengan sungguh-sungguh dan maksimal untuk memperbaikai layananya agar output dan potensi pendidikan selalu menjadi lebih baik. Upaya memperbaiki itu bisa meliputi perbaikan sistem manejemenya dalam pengelolaan sumber daya yang ada mulai dari Sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kurikulum dan biaya pendidikan yang sesuai. Upaya tersebut akan menjadikan sekolah mampu menjalankan fungsinya menjadi lebih baik.[6]
Dalam pengelolaan pengembangan lembaga pendidikan, terdapat sejumlah aspek kunci yang harus menjadi fokus utama, di antaranya: pengelolaan kurikulum dan proses pembelajaran, pengelolaan tenaga pendidik dan staf, pengelolaan peserta didik, pengelolaan administrasi sekolah atau madrasah, pengelolaan fasilitas dan infrastruktur, pengelolaan keuangan dan pembiayaan, serta pengelolaan hubungan dan partisipasi masyarakat. Setiap aspek ini memegang peranan penting dalam mendukung pencapaian tujuan lembaga pendidikan secara menyeluruh. Untuk menghadapi tantangan perubahan di lembaga pendidikan, pengelolaan pengembangan harus dilakukan secara berkelanjutan, agar bisa mencapai tujuan yang efektif maka menggunakan dan menerapkan manajemen strategi yang bentuk kegiatanya POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling). Strategi pengembangan lembaga pendidikan integratif ini dapat meningkatkan mutu dan daya saing lembaga pendidikan baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional.[7] Hal ini tersebut juga sama seperti yang apa yang dikatakan agar tujuan bisa tercapai secara efektif maka Simanjutak (2010:12) mengatakan bahwa Manajemen strategi dapat diartikan sebagai upaya terstruktur untuk meraih tujuan organisasi dengan cara yang efisien dan efektif. Proses ini melibatkan serangkaian langkah, mulai dari perencanaan yang matang (planning), pengorganisasian sumber daya secara optimal (organizing), penempatan tenaga kerja sesuai kebutuhan (staffing), pemberian arahan dan kepemimpinan yang jelas (leading), hingga pengawasan terhadap pelaksanaan strategi (controlling).[8]
Manajemen strategi secara umum dapat dipahami sebagai sebuah sistem terpadu yang terdiri dari berbagai elemen saling berinteraksi dan saling memengaruhi, bekerja secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Elemen pertama dalam manajemen strategi adalah perencanaan strategis, yang mencakup perumusan visi, misi, dan tujuan organisasi sebagai panduan arah. Elemen kedua adalah implementasi operasional, yang melibatkan penerapan tujuan operasional melalui berbagai fungsi manajerial, seperti pengorganisasian, pelaksanaan, alokasi anggaran, kebijakan adaptif, pengelolaan hubungan internal dan eksternal, serta pengawasan dan evaluasi yang dilengkapi dengan mekanisme umpan balik untuk perbaikan berkelanjutan.[9]
Dalam konteks manajemen, istilah strategis mengacu pada pendekatan utama yang dirancang secara terstruktur untuk menjalankan fungsi-fungsi manajerial guna mencapai tujuan strategis organisasi. Proses ini dikenal sebagai perencanaan strategis. Manajemen strategis melibatkan serangkaian aktivitas yang mencakup perumusan dan pelaksanaan rencana, serta pengelolaan elemen-elemen penting, komprehensif, dan berkelanjutan dalam sebuah organisasi. Proses ini mencakup serangkaian keputusan dan tindakan yang bertujuan untuk merancang dan melaksanakan strategi demi tercapainya tujuan organisasi.Dalam praktiknya, manajemen strategis melibatkan berbagai tahapan berikut: (a) Menyusun visi dan misi lembaga pendidikan Islam, termasuk menetapkan filosofi serta tujuan yang bersifat umum. (b) Mengembangkan profil lembaga yang menggambarkan kondisi internal saat ini. (c) Melakukan analisis terhadap lingkungan eksternal lembaga, mencakup identifikasi pesaing dan faktor-faktor lain yang memengaruhi konteks organisasi. (d) Mengevaluasi alternatif strategi dengan menyesuaikan sumber daya internal terhadap dinamika lingkungan eksternal. (e) Memilih strategi terbaik yang selaras dengan visi dan misi organisasi melalui analisis terhadap alternatif yang ada. (f) Menetapkan tujuan jangka panjang serta strategi umum untuk mencapainya. (g) Merancang sasaran tahunan dan strategi jangka pendek yang mendukung tujuan utama. (h) Melaksanakan strategi yang dipilih dengan mengalokasikan sumber daya, mengoordinasikan tugas, struktur, teknologi, dan sistem penghargaan agar selaras. (i) Mengevaluasi keberhasilan implementasi strategi sebagai dasar perbaikan dan pengambilan keputusan di masa mendatang.[9]
Manajemen strategis terdiri dari tiga tahapan inti yang saling berkaitan: (1) Perumusan Strategi: Langkah awal ini melibatkan penyusunan visi dan misi lembaga pendidikan Islam sebagai pedoman utama. Pada tahap ini, dilakukan pula identifikasi peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal, serta analisis mendalam terhadap kekuatan dan kelemahan internal lembaga. Selain itu, penetapan tujuan jangka panjang menjadi fondasi arah strategis yang jelas bagi organisasi. (2) Implementasi Strategi: Tahap ini berfokus pada penerapan strategi yang telah dirumuskan. Lembaga pendidikan Islam menetapkan sasaran tahunan, menyusun kebijakan, memberikan motivasi kepada tenaga pendidik dan staf, serta mengalokasikan sumber daya untuk mendukung strategi. Implementasi juga mencakup pembentukan budaya kerja yang mendukung tujuan strategis, perancangan struktur organisasi yang efisien, optimalisasi kegiatan pemasaran, perencanaan anggaran, pengembangan sistem informasi, dan penyesuaian sistem penghargaan dengan kinerja lembaga. (3) Evaluasi Strategi: Sebagai langkah terakhir, evaluasi bertujuan untuk memastikan strategi yang dijalankan sesuai dengan rencana dan target yang ditetapkan. Tiga aktivitas utama dalam evaluasi ini meliputi: (a) Meninjau kembali faktor internal dan eksternal yang memengaruhi strategi, (b) Mengukur hasil kinerja untuk menilai pencapaian tujuan, dan (c) Melakukan perbaikan melalui tindakan korektif bila diperlukan.Evaluasi strategi menjadi elemen penting karena keberhasilan masa kini tidak selalu menjamin keberlanjutan di masa depan. Proses ini memastikan strategi tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan dinamika organisasi dan lingkungan.[9]
Menurut Stephen P. Robbins dan Mary Coulter (2016), manajemen strategis melibatkan beberapa langkah utama yang dapat diterapkan dalam lembaga pendidikan Islam sebagai berikut: (1) Menentukan Misi, Tujuan, dan Strategi Organisasi: Langkah awal adalah menetapkan pernyataan misi yang jelas, yang mencerminkan arah dan tujuan lembaga secara keseluruhan. Misi ini menjadi dasar bagi perumusan strategi dan pelaksanaan tujuan organisasi. (2) Melakukan Analisis Faktor Eksternal: Tahap ini melibatkan identifikasi dan penilaian terhadap faktor eksternal yang dapat memengaruhi operasional lembaga, seperti peluang yang dapat dimanfaatkan serta ancaman yang perlu diantisipasi. (3) Melakukan Analisis Faktor Internal: Proses ini bertujuan untuk memahami kekuatan dan kelemahan lembaga melalui evaluasi sumber daya, kapabilitas, dan potensi internal yang dimiliki. Informasi ini membantu menilai kesiapan lembaga dalam menghadapi tantangan dan peluang. (4) Merumuskan Strategi: Setelah memahami lingkungan eksternal dan internal, langkah berikutnya adalah merancang strategi yang realistis dan efektif. Strategi ini harus selaras dengan kapasitas lembaga serta kondisi lingkungan untuk memastikan keberhasilannya. (5) Mengimplementasikan Strategi: Strategi yang telah dirancang perlu diterapkan secara terencana. Tahap ini mencakup pengorganisasian, pengalokasian sumber daya, dan memastikan seluruh elemen lembaga bekerja selaras dengan tujuan strategis yang ditetapkan. (6) Melakukan Evaluasi Hasil: Tahap akhir adalah mengukur keberhasilan implementasi strategi melalui evaluasi hasil. Proses ini penting untuk menentukan sejauh mana strategi yang diterapkan telah mendukung pencapaian tujuan lembaga dan memberikan masukan untuk perbaikan di masa mendatang. Pendekatan ini memastikan bahwa proses manajemen strategis dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penentuan arah hingga pengukuran kinerja, sehingga lembaga dapat terus beradaptasi dan berkembang sesuai dengan dinamika lingkungan.[9]
Untuk mengembangkan strategi yang efektif, Nawawi (2005) mengidentifikasi beberapa langkah penting. Pertama, organisasi perlu merancang visi strategis yang jelas mengenai arah yang ingin dicapai. Kedua, menetapkan tujuan spesifik yang diterjemahkan dari visi tersebut untuk dijadikan hasil kinerja yang harus diraih. Ketiga, menentukan pilihan strategi yang paling sesuai untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Keempat, memastikan bahwa strategi yang telah dipilih diimplementasikan dengan cara yang efisien dan efektif. Terakhir, melakukan evaluasi terhadap efektivitas strategi yang diterapkan serta dampaknya terhadap hasil kinerja organisasi.[9]
Karakteristik manajemen strategis yang ideal mencakup beberapa aspek penting berikut: (1) Berorientasi pada Jangka Panjang: Manajemen strategis dirancang sebagai panduan jangka panjang yang menetapkan arah dan visi organisasi untuk masa depan. (2) Bersifat Holistik: Strategi yang dirancang harus memiliki cakupan yang luas, berlaku untuk seluruh aspek organisasi, dan mencakup semua fungsi utama seperti pemasaran, keuangan, produksi, sumber daya manusia, teknologi informasi, dan akuntansi. (3) Terintegrasi secara Menyeluruh: Sebuah strategi yang efektif mampu menyelaraskan tujuan dan pandangan dari berbagai divisi atau departemen dalam organisasi, sehingga menciptakan kesatuan dalam pelaksanaan. (4) Mempertimbangkan Faktor Eksternal: Strategi harus mengakomodasi pengaruh lingkungan eksternal, termasuk dinamika pasar, persaingan, kebutuhan pemangku kepentingan, dan faktor-faktor makro yang memengaruhi operasional organisasi. (5) Fleksibel dan Adaptif: Kemampuan beradaptasi merupakan elemen kunci dalam manajemen strategis, memungkinkan organisasi untuk merespons perubahan lingkungan internal maupun eksternal berdasarkan hasil analisis yang komprehensif.Pendekatan ini menekankan pentingnya pengelolaan yang bersifat menyeluruh, kolaboratif, dan responsif terhadap perubahan, sehingga organisasi dapat terus berkembang dan mencapai tujuan jangka panjangnya secara efektif.[10]
Penentu manajemen strategi, Dalam perusahaan kecil, pemilik seringkali juga menjabat sebagai pimpinan puncak yang bertanggung jawab atas penyusunan strategi. Selain itu, mereka juga bisa meminta bantuan konsultan. Secara umum, apabila melihat organisasi dalam perusahaan dan proses penetapannya maka dapat digambarkan dalam gambar di bawah ini;
Figure 1. Gambar 1. Organisasi Penentu Manajemen Strategi dalam Perusahaan [10]
Manajemen pada berbagai tingkatan memiliki perbedaan dalam prinsip-prinsip pengambilan keputusan dan perencanaan: (1) Lower Management yaitu keahlian Teknis atau Operasional adalah terlibat pada perencanaan jangka pendek untuk karyawan operasional. (2) Middle Management yaitu keahlian fungsional terlibat perencanaan jangka menengah (½ - 1 tahun) untuk karyawan fungsional. (3) Top Management yaitu kelompok Kemampuan Konsepsional dan Kreativitas: Bertanggung jawab atas perencanaan jangka panjang (misal 5-10 tahun). Perencanaan ini bersifat strategis, menunjukkan arah perusahaan, dan berfokus pada masalah-masalah eksternal. Sifat Strategis Top Management: (a) Perencanaan Jangka Panjang: Fokus pada perencanaan yang bersifat strategis untuk jangka panjang. (b) Orientasi Eksternal: Menekankan pada hal-hal yang bersifat eksternal. (c) Integratif dan Komprehensif: Memastikan keterpaduan antara berbagai departemen untuk menghindari konflik internal. Berdasarkan karakteristik ini, dapat disimpulkan bahwa top management memiliki sifat strategis yang mencakup pemikiran jangka panjang, perencanaan yang komprehensif, integratif, dan berorientasi eksternal. Tingkatan manajerial inilah yang memegang peran penting dalam menentukan arah strategis perusahaan.[10]
Proses pengembangan strategi merupakan metode untuk menerapkan perubahan secara terencana, mencakup keseluruhan sistem dalam jangka waktu tertentu, serta upaya untuk menghadapi perubahan yang berkaitan dengan visi, misi, dan tujuan lembaga. Penyusunan strategi menjadi langkah kunci dalam menentukan arah pengembangan lembaga pendidikan setelah mengevaluasi ancaman, peluang, kekuatan, dan kelemahan yang ada. Proses ini melibatkan beberapa elemen utama: (1) Visi: Visi mencerminkan gambaran besar tentang tujuan akhir yang ingin dicapai oleh lembaga. Hal ini menjadi panduan utama dalam pengembangan strategi jangka panjang. (2) Misi: Misi menjelaskan pendekatan spesifik yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Fokusnya adalah pada upaya meningkatkan kualitas lembaga, mengidentifikasi nilai inti yang membedakan lembaga dari yang lain, dan menentukan fokus utama dalam produk atau layanan yang akan diberikan, serta pasar yang akan dilayani. (3) Tujuan:Tujuan merupakan hasil konkret yang ingin diraih berdasarkan visi dan misi yang telah dirumuskan. Tujuan ini mencakup sasaran-sasaran spesifik yang menjadi acuan keberhasilan lembaga dalam pelaksanaan strateginya. Strategi yang efektif harus dirancang secara terintegrasi, memastikan bahwa visi, misi, dan tujuan selaras dengan kebutuhan serta potensi lembaga, sekaligus responsif terhadap tantangan eksternal dan peluang yang tersedia.[11] M Idrus (2019;6) menggambarkan model proses manajemen strategi dalam bentuk gambar seperti di bawah ini
Figure 2. Gambar 2. Model proses manajemen strategi menurut M. Idrus [11]
Rahayu Puji Astuti (2015;8) mengambarkan proses penyusunan strategi seperti yang terlihat pada gabar di bawah ini;
Figure 3.
Gambar 3. Model manajemen strategi menurut Rahayu Puji Astuti [11]
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kasus yaitu penelitian mengamati dan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan staf manajemen; observasi partisipatif terhadap kegiatan di LPFDT; serta studi dokumentasi dari berbagai dokumen resmi lembaga seperti hasil capaian rata-rata nilai baik di bidang akademik dan non akademik, hasil survey layanan kepuasan pelanggan, dokumen 1, dokumen 2, dan rekapitulasi nilai hasil supervise pembelajaran, dan kondisi sarana dan prasarana , maka ditemukan beberapa kesenjangan yang sekaligus akan menjadi hambatan yaitu; (1) Sarana dan prasarana belum sesuai dengan standar nasional pendidikan, (2) Hasil supervisi menunjukkan beberapa guru belum kompetensi guru yang baik, (3) Proses belajar dan mengajar belum terintegrasi dengan nilai-nilai islam. Peneliti akan dalam penelitian menitik beratkan pembahasan pada kesenjangan di pint 2 dan 3. Point tersebut menunjukkan bahwa peneliti merumuskan strategi pengembangan pada aspek sumber daya manusia (SDM) dan kurikulum.
Beberapa temuan penelitian sebelumnya dengan judul mirip atau sama diantaranya adalah; (1) Made Santika, Vip Paramarta, dan Ittang Somba dalam jurnalnya dengan metode penelitian deskriptif kualitatif dan research literature yang diterbitkan dalam jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan judul Pentingnya Penerapan Strategik Manajemen mengatakan bahwa manajemen strategis adalah penting untuk mengatur keuangan dasar, merencanakan prediksi, merancang strategi eksternal, dan mengelola pemasaran. Manajemen strategi memerlukan keterampilan kepemimpinan untuk membuat keputusan kunci, mengatasi hambatan, dan memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Manajemen strategis dilakukan secara berkelanjutan dengan mengevaluasi dan mengendalikan bisnis internal, menganalisis kompetitor, serta menetapkan strategi untuk bersaing dengan yang lain dan memiliki program unggulan yang meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan. Manajemen strategis harus diterapkan oleh seluruh pihak manajemen dan layanan untuk menghadapi persaingan dan menunjukkan keunggulan, serta meningkatkan kualitas pelayanan.[12] (2) Abdul Khaliq dalam jurnalnya yang diterbitkan oleh jurnal Alasma tahun 2020 dengan judul Strategi pengembangan Lembaga Pendidikan Islam yang Unggul menyampaikan bahwa; (a) Untuk menghadapi tantangan perubahan dalam lembaga pendidikan Islam, pengembangan manajemen hendaknya dilakukan secara berkelanjutan. Proses pengembangan manajemen lembaga pendidikan Islam dilakukan melalui tahapan POAC (Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengendalian).[7] (3) Dalam artikel yang diterbitkan di International Journal of Scientific & Technology Research pada tahun 2019 berjudul "Strategi Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam," Ainissifa menerapkan pendekatan penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan lembaga pendidikan Islam dapat ditingkatkan dengan merumuskan visi, misi, dan tujuan pendidikan yang jelas oleh pihak manajemen. Selain itu, penekanan pada pengembangan kurikulum yang tepat serta pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum juga dianggap sangat penting.[13] (4) Ahmad Nurdin Kholili dan Syarief Fajaruddin dalam artikel di Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan tahun 2020 yang berjudul "Manajemen Strategik Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Gunung Kidul" menegaskan pentingnya penerapan manajemen strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan, yang mengharuskan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di setiap tahapnya. Partisipasi seluruh elemen dalam lembaga pendidikan sangat diperlukan dalam proses perumusan, implementasi, dan evaluasi strategi. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pendidikan meliputi: (a) Pengembangan Kurikulum, (b) Upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), (c) Peningkatan Capaian Prestasi Peserta Didik, (d) Penguatan Citra Lembaga, (e) Evaluasi Strategi Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan.[14]
Penerapan kedelapan standar ini memastikan bahwa lembaga pendidikan memenuhi kriteria mutu yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga dapat menjadi tolok ukur dalam menilai efektivitas manajemen strategi yang diterapkan.[15] Selain itu, survei kepuasan pelanggan, yang dalam konteks pendidikan melibatkan siswa, orang tua, dan stakeholder lainnya, memberikan umpan balik langsung mengenai persepsi dan harapan mereka terhadap layanan pendidikan yang diberikan. Informasi ini penting untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dan memastikan bahwa layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.[16] Survei kepuasan pelanggan dalam konteks pendidikan biasanya mengacu pada teori manajemen mutu yang menekankan pentingnya umpan balik dari pemangku kepentingan (stakeholders) untuk meningkatkan kualitas layanan. Kepuasan pelanggan (dalam hal ini siswa, orang tua, dan masyarakat) dianggap sebagai indikator penting dari keberhasilan strategi manajemen pendidikan karena mencerminkan persepsi dan pengalaman langsung terhadap layanan yang diberikan oleh lembaga pendidikan.[17]
Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT) adalah sebuah institusi pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dengan misi utama membentuk generasi yang unggul, baik dalam aspek akademik maupun moral. Namun, seperti halnya banyak lembaga pendidikan lainnya, LPFDT dihadapkan pada berbagai tantangan yang dapat menghambat tercapainya tujuan tersebut. Beberapa masalah utama yang teridentifikasi mencakup kurang optimalnya kurikulum yang diterapkan, belum meratanya kompetensi tenaga pendidik sesuai dengan standar nasional, dan keterbatasan sarana serta prasarana yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP). Selain itu, proses pengawasan, evaluasi, serta tindak lanjut atas program-program yang dirancang masih belum terlaksana dengan efektif. Tugas pokok fungsi tiap departemen terkadang overlapping antara yang satu dengan yang lainya sehingga berdampak pada keberhasilan strategi pengembangan lembaga.
Merujuk hasil temuan diatas maka Kami melakukan proses penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu kami menerapan metodologi penelitian kualitatif dengan studi kasus dengan objek penelitian Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT). Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara interview kepala sekolah, guru, konsumen dalam hal ini adalah wali murid, hasil survey, raport pendidikan, analisa hasil rumusan SWOT, kurikulum, sarana dan prasarana sekolah, standar pengelolaan, analisa pendidik dan tenaga kependidikan.
Penelitian ini menerapkan metode kualitatif. Berdasarkan pendapat Sugiyono, penelitian kualitatif berlandaskan pada filosofi postpositivisme, yang bertujuan untuk menyelidiki kondisi objek secara nyata.[18] Musfiqon menambahkan bahwa penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan kategoris, yang didasarkan pada kondisi lapangan yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, realitas tidak hanya mencakup apa yang terlihat atau dapat diamati, tetapi juga berusaha memahami aspek yang mendasarinya.[18] Desain studi kasus digunakan untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan, serta memahami bagaimana LPFDT mengatasi kelemahan tersebut dan mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dengan mempelajari kondisi di lapangan secara nyata tanpa adanya opini pribadi. Sugiyono juga menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih subjek penelitian, yaitu memilih sumber data yang dianggap paling mengetahui informasi yang diperlukan, sehingga memudahkan analisis situasi sosial.[18] J. Sarwono menyatakan bahwa data primer diperoleh melalui pertanyaan tertulis dengan kuesioner atau wawancara lisan.[18] sedangkan data sekunder mencakup dokumen, situs, arsip, dan data terkait lainnya. Teknik pengumpulan data yang diterapkan mencakup observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis dan interpretasi data melibatkan reduksi data, penyajian data, serta pengambilan kesimpulan atau verifikasi. Setelah melakukan proses reduksi dan penampilan data, peneliti akan mengambil kesimpulan.[18] Metode penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan melibatkan data dalam bentuk narasi, yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan penggalian dokumen. Untuk memberikan penjelasan yang jelas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, sangat penting untuk memahami keberadaan orang yang meneliti, tempat untuk melakukan penelitian, asal pemerolehan data, teknik pengumpulan data, melakukan analisa data, serta mengecek keabsahan temuan dalam proposal atau laporan penelitian.[19] Studi kasus merupakan jenis penelitian di mana peneliti mendalami fenomena tertentu (kasus) yang terjadi dalam rentang waktu dan kegiatan tertentu, seperti program, acara, proses, institusi, atau kelompok sosial. Dalam proses ini, peneliti mengumpulkan informasi yang rinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai metode pengumpulan data selama periode waktu yang telah ditentukan.[20]
Manajemen strategi pengembangan Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT) berdasarkan dari hasil observasi di lapangan, melihat dokumen, survey dan wawancara ditemukan bahwa strategi pengembangan yang dilakukan LPFDT adalah dengan melakukan atau membuat angkah-langkah sebagai berikut:
A. Keunggulan dan Strategi Inovatif LPFDT
Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT) telah membuktikan diri sebagai pelopor pendidikan berbasis nilai-nilai Islam yang mampu bersinergi dengan tuntutan global. Dengan pendekatan manajemen strategis berbasis milestone, LPFDT telah berhasil merancang, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program unggulan yang relevan, inovatif, dan berdampak luas. Pengembangan Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT) menggunakan pendekatan milestone yang berlandaskan teori manajemen strategis. Pendekatan ini melibatkan fungsi-fungsi Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan), dan Controlling (Pengendalian) yang terintegrasi. Semua tahap ini dirancang dengan menyesuaikan pada metodologi penelitian deskriptif-kualitatif yang digunakan, yang memadukan analisis data dokumen internal LPFDT dan wawancara mendalam.[21]
1. Analisis Fungsi Manajemen Strategis
a. Planning (Perencanaan): Menetapkan Arah Strategis
Perencanaan strategis LPFDT dituangkan dalam Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS), yang menjadi panduan utama pengembangan jangka pendek, menengah, dan panjang. Visi besar “Menjadi pusat pendidikan unggul yang menghasilkan generasi berakhlak karimah, berjiwa global, berketerampilan canggih, dan berjiwa entrepreneur” telah diurai menjadi tujuan yang spesifik dan terukur.
Tebel 1. Data Utama dari Perencanaan LPFDT [21]
Figure 4.
Keunggulan Strategi Perencanaan:
1. Komitmen pada Pendidikan Berbasis Nilai: Kurikulum LPFDT memadukan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pendekatan global, menjadikannya unik dan relevan.
2. Inovasi Berbasis Teknologi: LPFDT telah merancang digitalisasi manajemen melalui platform SIMADAR (Sistem Manajemen Al Falah Darussalam) dan pembelajaran daring berbasis Al Falah Edu (Sistem Belajar Online).
3. Pendekatan Bertahap: Strategi milestone memastikan setiap langkah memiliki fokus dan target yang realistis, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga implementasi kurikulum internasional.
Tantangan yang Dikelola:
- Kebutuhan Infrastruktur: LPFDT tidak melihat keterbatasan ruang kelas sebagai kelemahan, melainkan peluang untuk mempercepat pembangunan fasilitas baru yang lebih modern.
- Kompleksitas Kebijakan Pendidikan: Perubahan kurikulum nasional menjadi motivasi untuk mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel tanpa mengorbankan nilai-nilai Islami.
Hasil:
- Peningkatan jumlah siswa yang terus melebihi target menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya pada LPFDT sebagai lembaga pendidikan unggulan.
b. Organizing (Pengorganisasian):
Membangun Fondasi yang Kokoh. LPFDT memiliki struktur organisasi yang berbasis kolaborasi, di mana setiap elemen sekolah, dari yayasan hingga guru, berperan aktif dalam mendukung pengembangan. Pengorganisasian di LPFDT melibatkan pengaturan sumber daya manusia, keuangan, dan infrastruktur untuk memastikan eksekusi program berjalan lancar. Struktur organisasi LPFDT berbasis kolaborasi antara yayasan, guru, staf administrasi, dan komite sekolah.
Tabel 2. Data Struktur Organisasi dan Peran SDM [21]
Figure 5.
Keunggulan Strategi Pengorganisasian:
1. Kolaborasi Multifungsi: Dibentuknya tim lintas fungsi untuk mendukung pengembangan kurikulum, pelatihan guru, dan evaluasi program.
2. Penguatan SDM: Pelatihan guru secara rutin memastikan kesiapan tenaga pengajar dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajaran.
3. Pendekatan Digitalisasi: Implementasi SIMADAR (Sistem Manajemen Al Falah Darussalam) mendukung efisiensi pengelolaan data, inventarisasi, dan pengawasan program.
1. Kompetensi SDM Beragam: LPFDT tidak melihat ini sebagai hambatan, tetapi sebagai motivasi untuk terus mengadakan pelatihan dan pemberdayaan guru.
2. Keterlibatan Wali Murid: LPFDT memandang partisipasi orang tua sebagai aset strategis dan mendorong keterlibatan melalui seminar, parenting class, dan diskusi intensif.
Hasil: Struktur organisasi yang kuat memungkinkan program-program unggulan, seperti Tahfidz Juz 30, Market Day, dan Internasionalisasi Studi, berjalan dengan sukses.
c. Actuating (Pelaksanaan): Eksekusi yang Inspiratif
Pelaksanaan program di LPFDT didasarkan pada prinsip kolaborasi dan inovasi untuk memastikan setiap inisiatif memberikan dampak nyata bagi siswa dan masyarakat. Pelaksanaan program strategis LPFDT bertujuan memberikan dampak nyata pada siswa, guru, dan masyarakat. Program-program unggulan dijalankan dengan inovasi dan pendekatan berbasis kebutuhan.
Tabel 3. Data Pelaksanaan Program Unggulan [21]
Figure 6.
Keunggulan Strategi Pelaksanaan:
1. Program Unggulan: LPFDT berhasil mengintegrasikan pendidikan karakter Islami dengan pendekatan global melalui program International Class Program (ICP) dan Tahfidz Camp.
2. Pemberdayaan Siswa: Program berbasis kewirausahaan seperti Market Day melatih siswa menjadi inovator muda dengan semangat Islami.
3. Penggunaan Teknologi: Pembelajaran daring melalui Al Falah Edu (Sistem Belajar Online) memastikan akses pendidikan yang fleksibel.
1. Adaptasi Teknologi: LPFDT mengubah resistensi awal terhadap teknologi menjadi peluang untuk melatih guru dan siswa dalam menguasai metode pembelajaran digital.
2. Keragaman Karakter Siswa: Metode blended learning memastikan setiap siswa mendapatkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hasil: Rata-rata nilai Cambridge Primary Checkpoint siswa mencapai 4,1 (skala 5), dan program tahfidz berhasil menghasilkan lulusan dengan hafalan minimal 3 juz
d. Controlling (Pengendalian): Evaluasi untuk Kesempurnaan
LPFDT melakukan evaluasi berkala untuk memastikan setiap strategi berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif. Pengendalian di LPFDT dilakukan secara berkala melalui evaluasi capaian program dan umpan balik dari berbagai pihak. Sistem digital membantu mempercepat analisis data dan pengambilan keputusan.
Tabel 4. Data Evaluasi dan Indikator Kinerja [21]
Figure 7.
Keunggulan Strategi Pengendalian:
1. Pengukuran Kinerja: LPFDT menggunakan survei kepuasan wali murid, observasi siswa, dan hasil belajar sebagai alat ukur utama keberhasilan program.
2. Sistem Digital: SIMADAR (Sistem Manajemen Al Falah Darussalam) memungkinkan analisis data yang akurat untuk mendukung keputusan strategis.
3. Evaluasi Triwulanan: Rapat evaluasi memastikan adanya perbaikan terus-menerus berdasarkan umpan balik dari guru, siswa, dan orang tua.
- Standarisasi Data: Sistem evaluasi yang terus diperbarui memastikan laporan data semakin akurat dan konsisten.
Hasil: Evaluasi berkelanjutan membantu LPFDT memperbaiki program dengan cepat dan efisien, memperkuat posisi LPFDT sebagai lembaga pendidikan unggulan.
2. Posisi Strategis LPFDT Berdasarkan Milestone
a. Milestone Jangka Pendek (1–3 Tahun):
- Optimalisasi ruang kelas dan fasilitas pendukung.
- Penguatan kurikulum berbasis Al-Qur’an dan internasional.
- Digitalisasi administrasi dan pembelajaran.
b. Milestone Jangka Menengah (4–6 Tahun):
- Ekspansi program internasional dengan mitra global.
- Peningkatan kompetensi guru dalam teknologi dan pembelajaran abad ke-21.
- Penerapan program kewirausahaan berbasis proyek.
c. Milestone Jangka Panjang (7–10 Tahun):
- Pembangunan infrastruktur modern seperti gedung boarding school.
- Ekspansi jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi berbasis nilai Islami.
- Menjadi pusat pendidikan rujukan di tingkat nasional dan internasional.
B. Posisi Strategis Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT)
Kecamatan Waru, Sidoarjo, merupakan kawasan dengan persaingan pendidikan yang tinggi, baik dari sekolah negeri maupun swasta. Namun, LPFDT telah menunjukkan keunggulan yang signifikan dengan menjadi satu-satunya sekolah berstatus Cambridge International School (CIS) di wilayah ini. Status ini bukan sekadar pengakuan internasional, tetapi juga menjadi bukti bahwa LPFDT mampu mengintegrasikan standar pendidikan global dengan nilai-nilai Islami. Melalui kurikulum Cambridge, LPFDT mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global, memberikan mereka peluang melanjutkan pendidikan ke universitas internasional, dan membangun keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh sekolah lain di Kecamatan Waru.
1. Perbandingan LPFDT dengan Sekolah Lain di Kecamatan Waru
Untuk memahami keunggulan LPFDT, berikut adalah tabel perbandingan dengan sekolah-sekolah lain di wilayah Kecamatan Waru:
Tabel 5. Tabel perbandingan LPFDT dengan sekolah-sekolah di wilayah Waru [21]
Figure 8.
Dari tabel di atas, LPFDT tidak hanya unggul dalam jumlah siswa, tetapi juga dalam hal pengakuan internasional, inovasi pembelajaran berbasis teknologi, dan integrasi kurikulum Islami-global yang menjadikannya berbeda dari institusi lainnya.
2. Keunggulan Strategis LPFDT
LPFDT memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menjadi pilihan utama bagi orang tua di Kecamatan Waru:
1. Status Cambridge International School:
LPFDT telah mendapatkan lisensi resmi dari Cambridge Assessment International Education. Hal ini memungkinkan siswa mengikuti ujian internasional seperti Cambridge Primary Checkpoint, memberikan pengakuan global yang dapat menjadi tiket untuk melanjutkan studi ke universitas internasional.
2. Integrasi Kurikulum Islami dan Internasional:
Kurikulum Cambridge dipadukan dengan program tahfidz Al-Qur'an, menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga berkarakter Islami.
3. Digitalisasi Pembelajaran dan Manajemen:
Berdasarkan survei internal 2023:
- 85% guru menyatakan platform SIMADAR (Sistem Manajemen Al Falah Darussalam) mempermudah pengelolaan administrasi, seperti pencatatan nilai dan jadwal.\n - 78% siswa merasakan peningkatan efisiensi belajar melalui Al Falah Edu (Sistem Belajar Online).
- 90% orang tua merasa lebih terlibat melalui transparansi informasi akademik anak mereka.
4. Program Unggulan Kewirausahaan:
Melalui Market Day, siswa dilatih mengelola usaha kecil dengan pendekatan Islami. Contohnya, pada Market Day 2023, siswa kelas 5 SD berhasil memperoleh omzet Rp 2.500.000 dari usaha makanan ringan, sementara siswa kelas 8 SMP menghasilkan Rp 3.200.000 dari penjualan kerajinan tangan.
5. Kemampuan Bilingual:
Penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar dalam program Cambridge memberikan keunggulan tambahan, mempersiapkan siswa untuk bersaing di tingkat global.
Berdasarkan hasil dan pembahasan, strategi pengembangan Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT) dapat disimpulkan bahwa LPFDT menggunakan pendekatan manajemen strategis berbasis milestone yang terbagi menjadi tiga tahap utama: a) Jangka Pendek: Fokus pada optimalisasi fasilitas, implementasi kurikulum Cambridge di jenjang SD dan SMP, serta digitalisasi manajemen melalui platform SIMADAR (Sistem Manajemen Al Falah Darussalam) dan Al Falah Edu (Sistem Belajar Online). b) Jangka Menengah: Ekspansi kurikulum Cambridge ke jenjang SMA dan pengembangan program kewirausahaan berbasis proyek. c) Jangka Panjang: Transformasi menjadi pusat pendidikan Islami berbasis teknologi modern dengan pembangunan boarding school dan penguatan kerja sama internasional. Strategi ini berhasil memperkuat posisi LPFDT sebagai satu-satunya Cambridge International School di Kecamatan Waru, dengan integrasi kurikulum Islami dan global yang menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi.
Hambatan dan Tantangan dalam manajemen strategi pengembangan Lembaga Pendidikan Al Falah Darusssalam Tropodo adalah: 1) Hambatan Internal: a) Kebutuhan peningkatan kompetensi guru dalam teknologi pembelajaran dan metode bilingual. b) Optimalisasi implementasi digitalisasi yang membutuhkan adaptasi lebih lanjut. 2) Tantangan Eksternal: a) Persaingan dengan sekolah lain yang mulai menawarkan program serupa, seperti tahfidz dan kurikulum berbasis proyek. b) Perubahan kebijakan pendidikan nasional yang memerlukan penyesuaian kurikulum secara berkala.
Dampak Positif Strategi: Strategi pengembangan yang diterapkan telah memberikan dampak signifikan, termasuk peningkatan jumlah siswa hingga 1.591 orang pada tahun 2023, keberhasilan implementasi program tahfidz dengan capaian hafalan 92% siswa SD (Juz 30) dan 95% siswa SMP (minimal 3 Juz), serta peningkatan nilai Cambridge Primary Checkpoint hingga rata-rata 4,1 (skala 5).
Saran Pengembangan: 1) Ekspansi Infrastruktur: Mempercepat pembangunan gedung baru untuk memenuhi kebutuhan siswa. 2) Penguatan Digitalisasi: Mengintegrasikan sistem teknologi ke seluruh proses pembelajaran. 3) Promosi Internasional: Memperluas kerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan global. 4) Peningkatan Keterlibatan Orang Tua: Mengadakan lebih banyak seminar dan kegiatan kolaboratif dengan wali murid.
Ucapan Terima Kasih
Segala puji bagi Allah, artikel yang berjudul "Manajemen Strategi Pengembangan Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo" ini telah selesai. Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama penulisan artikel ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua pihak yang turut berkontribusi dalam penyelesaian artikel ini.
Apriansyah, F. N. Salsabila, I. F. Ana, S. Pebrianti, and I. Nasution, “Pentingnya manajemen strategi dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, vol. 2, no. 6, pp. 244–248, 2024.
M. Musnaeni, “Pentingnya manajemen strategi dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” Cendekia: Jurnal Ilmu Knowledge, vol. 2, no. 2, pp. 98–104, 2022, doi: 10.51878/cendekia.v2i2.1168.
R. H. Mardhiyah, S. N. F. Aldriani, M. R. Zulfikar, and F. Chitta, “Pentingnya keterampilan belajar di abad 21 sebagai tuntutan dalam pengembangan sumber daya manusia,” Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, vol. 71, no. 1, pp. 63–71, 2021.
T. Indrasutanto, “Strategi pengembangan sekolah efektif untuk implementasi kurikulum berbasis kompetensi,” Magister Scientiae, vol. 1, no. 24, pp. 100–102, 2008.
K. Kaelani, “Strategi pengembangan pendidikan Islam,” Eduprof: Islamic Education Journal, vol. 2, no. 1, pp. 101–127, 2020, doi: 10.47453/eduprof.v2i1.33.
H. G. Adilah and Y. Suryana, “Manajemen strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah ibtidaiyah,” Jurnal ISEMA: Islamic Education Management, vol. 6, no. 1, pp. 87–94, 2021, doi: 10.15575/isema.v6i1.11037.
Kholiq, “Strategi pengembangan lembaga pendidikan Islam yang unggul,” Alasma: Journal of Islamic Education, vol. 2, no. 1, pp. 23–42, 2020.
Istikomah and B. Haryanto, Management dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Sidoarjo, Indonesia: UMSIDA Press, 2021.
M. Kautsar and S. Julaiha, “Langkah-langkah manajemen strategik di lembaga pendidikan Islam,” Journal of Instructional Development Research, vol. 3, no. 1, pp. 24–28, 2023, doi: 10.53621/jider.v3i1.203.
R. P. Suci, Esensi Manajemen Strategi. Malang, Indonesia: Zifatama Publisher, 2015.
S. Sutarmizi and S. Syarnubi, “Strategi pengembangan kompetensi pedagogik guru rumpun PAI di MTs. Mu'allimin Islamiyah Kabupaten Musi Banyuasin,” Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 8, no. 1, pp. 56–74, 2022, doi: 10.19109/tadrib.v8i1.11315.
Santika, V. Paramarta, and I. Somba, “Pentingnya penerapan strategik manajemen di rumah sakit: Kajian teoritis,” Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, vol. 3, no. 3, pp. 178–185, 2023, doi: 10.55606/jikki.v3i3.2172.
H. Ainissyifa, “Development strategy of Islamic education institution,” International Journal of Scientific & Technology Research, vol. 8, no. 4, pp. 141–149, 2019.
Kholili and S. Fajaruddin, “Manajemen strategik peningkatan mutu lembaga pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Gunungkidul,” Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, vol. 8, no. 1, pp. 53–69, 2020, doi: 10.21831/jamp.v8i1.31630.
M. Handayani, I. Kintamani, C. D. Fajarini, B. S. Joko, H. N. Triyono, and Y. H. Yudha, Akreditasi Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan dan Mutu Satuan Pendidikan. Jakarta, Indonesia: Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah, 2018.
Samsirin, “Konsep mutu dan kepuasan pelanggan dalam pendidikan Islam,” Jurnal At-Ta'dib, vol. 10, no. 1, pp. 139–153, 2015.
Warisno, “Strategi pengembangan madrasah melalui manajemen mutu berbasis akhlak dalam meningkatkan mutu pendidikan (Analisis di MTs Swasta Kabupaten Lampung Tengah),” Ph.D. dissertation, Universitas Islam Negeri Raden Intan, Lampung, Indonesia, 2016.
K. A. Maslacha and Istikomah, “Analysis of strength and weakness management of Madrasah Aliyah institutions,” Indonesian Journal of Education Methods Development, vol. 18, no. 2, pp. 1–10, 2023, doi: 10.21070/ijemd.v22i.734.
Wahidmurni, “Pemaparan metode penelitian kualitatif,” Jurnal Penelitian Pendidikan, vol. 11, no. 1, pp. 92–105, 2017.
D. Assyakurrohim, D. Ikhram, R. A. Sirodj, and M. W. Afgani, “Case study method in qualitative research,” Jurnal Pendidikan Sains dan Komputer, vol. 3, no. 1, pp. 1–9, 2022.
LPFDT, Rencana Induk Pengembangan Sekolah Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo, vol. 2, no. 1. Sidoarjo, Indonesia: LPFDT Press, 2024, pp. 17–18.