Login
Section Articles

Strategies for Developing a Culture of Quality in Islamic Educational Institutions

Strategi Pengembangan Budaya Mutu Dalam Lembaga Pendidikan Islam
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Umdatul Aeni (1), Istikomah (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Quality assurance forms the primary pillar for institutional sustainability and educational excellence in Islamic academic organizations. Specific Background: Building a robust quality culture requires leadership support, strategic planning, and structural adaptation across schools, madrasahs, and boarding institutions. Knowledge Gap: However, systematic syntheses examining integrated operational dimensions of quality culture strategies specifically within Islamic educational contexts remain limited. Aims: This study synthesized prior empirical research from 2019 to 2024 to critically analyze quality culture development strategies in Islamic educational institutions using a Systematic Literature Review (SLR) guided by PRISMA guidelines. Results: The synthesis revealed five core strategy pillars: student-centered focus, total institutional involvement, measurable evaluation systems, strong leadership commitment, and continuous quality improvement. Novelty: This research establishes a unified multi-dimensional framework bridging theoretical quality management principles with practical Islamic institutional governance. Implications: Educational leaders can implement these strategy dimensions to optimize stakeholder management, institutional competitiveness, and sustained educational performance.


Key Findings Highlights


Five fundamental pillars—student focus, total involvement, measurement, commitment, and continuous improvement—define effective quality culture development.


Professional leadership and open stakeholder communication directly strengthen institutional capacity and continuous educational adaptation.


Combining internal quality assurance systems with external supervision ensures consistent standards and long-term institutional sustainability.


Keywords: Quality Culture Development, Islamic Educational Institutions, Systematic Literature Review, Quality Management Strategies, Institutional Quality Improvement

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Mutu dalam suatu Lembaga Pendidikan Islam menjadi pilar utama yang harus dicapai oleh setiap Lembaga Pendidikan Islam yang dicantumkan dalam visi dan misi sekolah. Namun, dalam memperoleh mutu itu tentu tidak mudah karena harus ada strategi yang harus ditempuh oleh pimpinan dan pengelola lembaga. Pentingnya membangun strategi budaya mutu dilingkungan Lembaga Pendidikan Islam itu dalam rangka untuk mewujudkan kemajuan dan eksistensi lembaga.[1] Mutu merupakan suatu hal yang selalu diharapkan oleh setiap manusia baik terkait produk suatu barang maupun jasa.[2] Suatu lembaga yang ingin mewujudkan kualitas mutu lembaga dan memenangkan persaingan dengan lembaga lain adalah yang senantiasa meningkatkan dan menjaga mutunya dari waktu ke waktu. Maka untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya strategi pengembangan budaya mutu.[3] Adapun pengertian strategi pengembangan adalah suatu cara yang komprefensif dengan memerlukan dukungan dari pimpinan atau pengelola lembaga atas apa yang direncanakan untuk menghasilkan lingkungan yang bersifat kondusif dalam mewujudkan mutu Lembaga Pendidikan. Adapun upaya dalam membentuk strategi pengembangan dalam meningkatkan mutu pendidikan yang dilakukan oleh pimpinan lembaga yaitu dengan membentuk Tim pengembangan mutu sekolah, kemudian melakukan penyusunan dan perumusan visi, misi dan tujuan lembaga yang akan dicapai, selanjutnya akan dibahas dalam sebuah musyawarah yaitu rapat kerja. Dalam istilah lain strategi pengembagan merupakan suatu proses dalam upaya meningkatkan efektifitas keorganisasian dengan memadukan keinginan individu pada pertumbuhan dan perkembangan suatu tujuan.[4]

Mengenai proses strategi pengembangan yaitu suatu cara untuk adanya transfigurasi secara berencana yang meliputi suatu sistem total selama masa periode tertentu dan usaha dalam adanya perubahan yang berkaitan dengan visi, misi dan tujuan lembaga. Dalam mengadakannya, sesuatu ancaman yang akan dihadapi selalu ada, maka sangat penting untuk merumuskan sebuah strategi kedepan, kesempatan yang harus dimiliki serta bangkit dari kelemahan dan menjaga kekuatan di lembaga pendidikan. Perumusan strategi pengembangan diantaranya1) membentuk visi adalah tujuan utama yang ditetapkan. 2) Misi adalah suatu usaha dalam mencapai sebuah tujuan dalam peningkatan mutu lembaga yang dirancang dengan baik dalam menemukan tujuan yang mendasar dan dapat membedakan antara suatu lembaga yang didirikan dengan lembaga pendidikan yang lain, memahami tiap rencana yang akan dicapai serta melihat jangkauan lembaga pendidikan pada produk yang ditawarkan dan pasar yang akan disediakan. 3) Tujuan merupakann hasil terakhir dalam perumusan visi dan misi lembaga sedangkan tujuan ini adalah untuk meberikan kesimpulan pada hal-hal yang akan dituntaskan.[5]

Karakteristik sistem mutu dalam pengembangan mutu di lembaga pendidikan ada tiga diantaranya yaitu quality control atau Pengawasan sebuah mutu, quality assurance disebut penjaminan mutu, dan total quality atau mutu terpadu. Dalam penerapan karakteristik tersebut sebagaimana dijelaskan yaitu pertama, quality control merupakan ide suatu mutu yang diimplementasikan pertama kali disuatu lembaga pendidikan, akan tetapi sampai sekarang beberapa lembaga masih menerapkan quality control tersebut. Metode ini bermanfaat untuk melacak dan mengeluarkan komponen-komponen atau sebuah produk yang tidak berhasil dan tidak sesuai standard yang telah diputuskan. Kedua, quality assurance atau disebut jaminan mutu dalam penggunaanya, akan berbeda dengan metode quality control. Jaminan mutu ini bertujuan untuk menjadi penghambat akan terjadinya kekeliruan dari pertama produk itu dilakukan. Maka dari itu, jaminan mutu dirancang sedemikian rupa bertujuan untuk memastikan bahwa dalam proses produksi dapat menghasilkan prosuk yang memuaskan dari spesifikasi yang telah diputuskan sebelumnya. Jaminan mutu merupakan strategi dalam memproduksi sebuah produk yang bisa menghindar dari kesalahan. Crosby mengatakan bahwa menghasilkan produk tanpa cacat (zero defect) artinya, jaminan mutu merupakan sebuah pencapaian dari spesifikasi dengan konsisten atau berturut-turut, memproduksi yang selalu baik dari awal (right time every time), dalam hal konteks sebuah lembaga pendidikan.[6] Ketiga, yaitu total quality management atau manajemen mutu terpadu atau TQM yaitu metode dari pengembangan jaminan mutu (quality assurance). TQM merupakan suatu strategi dalam menghasilkan budaya mutu, dengan demikian dapat memberikan motifasi kepada semua stakeholder untuk memuaskan apa yang pelanggan inginkan. Dalam hal ini, manajemen mutu terpadu (MMT) yang ditemukan oleh Peters dan Wterman dalam Sallis menyatakan bahwa seorang pelanggan bagaikan seorang raja. Hal ini dalam konteks pendidikan merupakan sebuah konsep yang direncanakan dan disesuaikan dengan perubahan harapan dimasa yang akan datang untuk memenuhi dan memberikan kepuaskan apa yang diharapan para pelanggan, artinya bahwa yang menjadi tolak ukur dan proses dalam menggapai mutu dalam lembaga pendidikan selalu bergerak dengan baik dan maju, dapat berubah sesuai apa yang dibutuhkan dan perkembangan saat ini. Maka dari itu, perlu saling bertautan good relation hubungan baik dengan para orang tua siswa atau pelanggan pendidikan.[7]

Adapun pengertian Budaya mutu adalah sebuah sistem nilai (values) dalam organisasi untuk memberikan hasil lingkungan yang baik dan kondusif untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan pada mutu. Budaya mutu terdiri dari nilai-nilai (values) , prosedur, cara, haparan mengenai promosi pada mutu dan tradisi.[8] Adapun prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam mengimplementasikan budaya mutu dalam lembaga pendidikan yaitu 1) fokus pada kebutuhan pelanggan (customer) dalam hal ini orang tua, artinya lembaga harus memenuhi apa yang dibutuhkan atau yang di inginkan oleh para orang tua saat mereka memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya dilembaga tersebut. Sebagai contoh saat orang tua memutuskan memilih sekolah islam terpadu karena orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang penghafal Al-Qur’an maka lembaga harus berusaha secara maksimal untuk memenuhi harapan orang tua tersebut. 2) kepemimpinan yang proffesional untuk dapat menjalankan prinsip budaya mutu sebagaimana mestinya diperlukan. Sebagai pemimpin atau kepala sekolah yang memiliki kapasitas yang mumpuni harus mampu menjalankan sebagai leader, manajer sekaligus problem solver serta harus mampu mewujudkan visi dan misi lembaga pendidikan. Seorang kepala sekolah juga dituntut untuk mampu membangkitkan motivasi seluruh staffnya untuk mempersembahkan kinerja terbaiknya bagi lembaga pendidikan.[9] 3) keterlibatan atau partisipasi seluruh lingkungan sekolah. Budaya mutu akan terbangun dengan baik apabila seluruh pihak yang ada di sekolah berperan aktif dalam menjalankan tugas masing-masing. Hal ini dapat terwujud apabila setiap pihak menyadari betapa pentingnya peran mereka masing-masing. 4) melakukan pendekatan proses atau Process Approach adalah memastikan informasi serta seluruh sumberdaya yang dibutuhkan benar-benar tersedia sangatlah diperlukan dalam upaya membangun budaya mutu.[9] 5) Continouse Improvement atau meningkatkan kinerja etos kerja yang bekelanjutan, perubahan zaman serta berkembangnya kebutuhan masyarakat merupakan tantangan yang harus dijawab oleh lembaga pendidikan. 6) Evidence based decision making atau yang dimaksud dengan pengambilan keputusan hendaklah dilakukan berdasarkan data. Pengambilan keputusan secara cepat dan tepat akan berdampak positif pada jalannya proses secara keseluruhan. 7) Relationship Management atau manajemen hubungan yaitu menumbuhkan hubungan baik dengan seluruh stakeholder yang ada di dalam lembaga maupun di luar lembaga sangat penting untuk dilakukan. Komunikasi yang dilakukan secara terbuka akan berdampak positif dalam upaya membanbun budaya mutu di lembaga pendidikan. Setiap masukan yang disampaikan staff, orangtua, masyarakat pada umumnya sejatinya akan menjadi energi yang besar bagi tiap lembaga pendidikan untuk bergerak ke arah yang lebih baik. 8) Commitment yakni seluruh stakeholder untuk mempersembahkan kinerja terbaiknya, untuk itu seorang pemimpin harus mampu meyakinkan seluruh staffnya bahwa peran mereka sangat penting dalam menggerakkan roda organisasi tanpa adanya komitmen yang kuat akan sulit bagi lembaga dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[10]

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) adalah Lembaga yang dalam penyelenggaraanyan berdasarkan nilai-nilai Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits. Adapun wujud kongkrit Pendidikan di Indonesia adalah pesantren, sekolah dan madrasah. pondok pesantren sebagai lembaga yang memiliki pengaruh besar kepada masyarakat dan pesantren adalah sebuah produk dalam sistem pendidikan asli yang memiliki akar sejarah atau awal mula budaya dan sosial di Indonesia. Oleh karena itu, pondok pesantren menjadi pendidikan yang unik yang mewujudkan dimensi agama, sosial dan budaya.[11]Saat ini pesantren mewujudkan model dari Lembaga Pendidikan Islam yang disebut sekolah berkelas atas berbasis Islam yang meninjau pada modernis dalam arti pemikiran, aliran, Gerakan, usaha untuk mengganti pemahaman dari institusi lama agar disesuaikan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.[12] Setelah munculnya kolonialisme di Indonesia terutama dari penjajah Belanda, dikenalkanlah Pendidikan yang disebut sekolah. Sekolah adalah Yayasan swasta yang didirikan dibawah naungan Yayasan Lembaga pendidikan Islam dan mengurangi muatan materi Pendidikan agama di sebuah Lembaga Pendidikan di Indonesia yang pada akhirnya muncul gagasan untuk memadukan Pendidikan tradisional islam yaitu pesantren dengan Pendidikan modern dari produk penjajahan (Belanda) yaitu sekolah yang menghasilkan Pendidikan yang disebut Madrasah. Jadi, madrasah adalah corak Lembaga Pendidikan Islam yang memadukan antara pesantren dan sekolah. [13]

Awal munculnya madrasah dipandang sebelah mata oleh masyarakat, akan tetapi setelah bertranformasi mewujudkan suatu lembaga yang terbaik hingga menjadi favorit dan sangan diharapkan oleh Masyarakat sekitar, akan tetapi tidak semua madrasah mendadak menjadi madrasah yang banyak diminati masyarakat, namun masyarakat merasa bangga menyebut madrasah inilah di masa kebangkitan sebuah Lembaga yang disebut madrasah. Penulis menebak bahwa ada sesuatu yang baik pada Lembaga Pendidikan Islam atau madrasah yang mayoritas jumlah mata Pelajaran yang dipelajari lebih banyak daripada sekolah umum yang ada saat ini. Madrasah tersebut berstatus swasta maka dari itu, mengenai biaya Pendidikan ditanggung oleh orang tua atau wali murid tentunya akan lebih relative mahal biaya Pendidikan tersebut. Dan sejauh ini banyak madrasah yang berstatus negeri maupun swasta yang banyak diminati oleh para orang tua agar anak-anaknya bisa menimbah ilmu agama maupun ilmu pengetahuan, sehingga pada masa pendaftaran siswa baru dibuka, madrasah sebagai Lembaga Pendidikan terbaik selalu menjadi incaran Masyarakat bagi calon peserta didik.[14]

Berbagai penemuan penelitian judul diatas sudah ada yang melakukan diantaranya adalah: 1)Ainissifa yang dimuat dalam International Journal Of scientific & Technology Research tahun 2019 yang berjudul strategi pengembangan Lembaga Pendidikan slam. Dengan metode penelitian kualitatif dalam kesimpulan hasil penelitian Upaya strategi dalam pengembangan di Lembaga Pendidikan Islam dapat dilaksanakan dengan penguatan strategi dalam pengembangan Lembaga yang dilakukan upaya merumuskan visi, misi dan tujuan Pendidikan oleh pihak pengelola dan pihak manajemen yang baik, pengembangan kurikulum yang tepat, serta penerapan pembelajaran yang baik dan tepat terhadap kurikulum.[15] 2) penelitian ditulis oleh Akhmad Munir yang dimuat dalam jurnal Al-Adalah tahun 2022 dengan judul pengembangan budaya mutu madrasah metode penelitian kualitatif dengan model deskriptif studi kasus yang menyimpulkan bahwa usaha dalam pembentukan budaya mutu dilakukan untuk menyunsun civitas akademik yang memiliki kesadaran pada kualitas/mutu Lembaga, menerapkan penguasaan pada nilai-nilai kekuatan yang diarahkan pengelola, melakukan sosialisasi visi, misi dan tujuan Lembaga, serta menerapkan rencana program Lembaga yang tertulis dalam rencana kegiatan dan aggaran, terakhir adalah evaluasi.[16] 3) penelitian yang ditulis oleh Ehsan Zaini yang diterbitkan dalam jurnal media manajemen Pendidikan tahun 2022 dengan judul “Implementasi manajemen budaya mutu sekolah dalam menungkatkan mutu Pendidikan”, penelitian dengan Jenis kualitatif menggunakan Teknik wawancara mendalam. Dengan kesimpulan Implementasi manajemen perencanaan budaya mutu sekolah dalam peningkatan mutu sekolah ditempuh dengan keterlibatan dengan stakeholder dilembaga serta melakukan kewenangan pada system kerja dengan melakukan pembagian dan pelimpahan wewenang pada sistem kerja yang sesuai bidang masing-masing dan dengan prinsip keteladanan dan team work kerja sama yang baik dengan stakeholder secara kompak dan kooperatif.[17]

Dari penemuan penelitian diatas maka penelitian kami berbeda dengan penelitian yang terdahulu. Letak perbedaannya adalah penelitian kami fokus pada strategi pengembangan budaya mutu dalam Lembaga Pendidikan Islam dan jenis penelitian yang kami gunakan yaitu SLR (Systematic literature review) yang bertujuan untuk mereview atau menelaah tentang strategi pengembangan budaya mutu dan selanjutnya kami melakukan analisis kritis. Dengan kata kunci yang kami gunakan untuk menemukan berbagai penelitan terdahulu adalah 1) strategi pengembangan 2) Budaya mutu 3) Lembaga Pendidikan.

Metode

Metode penelitian dalam penulisan ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan jenis Systematic literature review (SLR). SLR merupakan metode penelitian yang sistematis untuk mengumpulkan, mengevaluasi secara kritis, dan menyajikan temuan dari berbagai penelitian tentang Stategi Pengembangan budaya mutu di Lembaga Pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan "Sistematis" ini karena mengangkat metodologi yang konsisten dan diterima secara luas. Adapun cara penelitian ini dalam tinjauan sistematis dengan menyajikan sebuah hasil dari gabungan dan hasil analisis data yang diperoleh dari berbagai penelitian terdahulu yang dilakukan dengan berdasarkan topik.[18] penggunaan metode SLR ini dapat diartikan sebagai proses untuk mengidentifikasi dan menelaah penelitian terdahulu yang bertujuan untuk mengumpulkan dan melakukan analisis data yang ada dari temuan-temuan tersebut. Dalam pengambilan data dalam penelitian ini mempunyai beberapa kriteria khusus diataranya adalah 1)artikel yang dianalisis terbitan pada tahun 2019 hingga 2024 dengan tujuan untuk menjaga relevansinya dengan perkembangan isu-isu yang terjadi saat ini. 2)dokumen berbentuk artikel penelitian yang lengkap bukan dokumen yang diperoleh dari buku atau prosiding.

Adapun tahapan-tahapan dari metode SLR sebagai berikut a. Identified search yaitu peneliti melakukan pengumpulan data dengan mencari jurnal dengan menggunakan aplikasi Publish or Perish data didalamnya dari Google scolar. Pada tahap ini peneliti melakukan pencarian dengan menggunakan kata kunci “strategi pengembangan, budaya mutu, dan Lembaga pendidikan” dan quality culture in education. Dalam pencarian dengan menggunakan kata kunci tersebut kami memperoleh data artikel sebanyak 1.147 artikel berbasis pencarian Google scolar Selain itu, kami mengumpulkan data dengan visit website Lens.org dan science direct. Dengan hal ini tujuan kami adalah untuk menambah data yang akan kami telaah dan Analisa, dalam pencarian menggunakan Science direct dengan menggunakan kata kunci yang sama seperti pada pencarian di aplikasi publish or perish kami memperoleh data tambahan sebanyak 7 artikel. Dan pencarian dengan visit website Lens.org menemukan data sebanyak 12 artikel. Artikel yang diperoleh dari visit website adalah bertipe open access.

Tahap kedua yang kami lakukan adalah melakukan penyaringan atau Extended Search yaitu menyaring kesesuaian artikel berdasarkan judul. Kemudian dilanjutkan dengan tahap ketiga yaitu kelayakan atau Eligibility dengan menganalisis berdasarkan abstrak dokumen artikel, pada proses ini artikel yang tidak relevan dengan tujuan penelitian akan dihilangkan. Tahap keempat yakni inklusi atau Inclusion isi sekaligus melakukan ekstraksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga menghasilkan kumpulan artikel yang paling relevan dengan penelitian ini. Setelah keempat tahapan di atas dilakukan, Langkah terakhir yang peneliti lakukan adalah analisis profiling and categorizing.

Berdasarkan Langkah-langkah tersebut penelitian ini mengikuti strategi Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Strategi ini dapat dimaknai sebagai analisis yang berbasis bukti dari data yang ada dan sesuai dengan topik penelitian ini. Kemudian jurnal terkait yang kami temukan maka saya menggunakan Prisma ini yang tujuannya untuk dapat membantu peneliti menganalisis basis data secara komprehensif sebagaimana gambar berikut ini.[19]

Gambar 1. Diagram Alur PRISMA

Figure 1.

Metodologi penelitian meliputi tahapan sebagai berikut:

1. Tahap 1 (Identifikasi): ditemukan 1.147 artikel saat dilakukan di beberapa platform pencarian artikel ilmiah berdasarkan judul dan kata kunci. “strategi pengembangan” “Budaya Mutu” “ dan “Lembaga pendidikan”.

2. Tahap 2 (Penyaringan): Dalam penyaringan tahap awal, ditemukan artikel tidak relevan karena berada di luar cakupan atau konteks. Selanjutnya kami melakukan penyaringan lebih ketat dengan menggunakan potongan kata kunci untuk mengidentifikasi artikel yang relevan dengan penelitian kami, kami menggabungkan kata-kata terpotong secara khusus menggunakan set berikut: Set 1: Strategi pengembangan. Set 2: budaya mutu Set 3: Lembaga Pendidikan.

3. Tahap 3 (Kelayakan): Hasil kelayakan diperoleh 275 artikel dengan menganalisis abstrak dari dokumen. Hanya studi yang relevan yang dipertahankan.

4. Fase 4 (Inklusi): Semua artikel yang tersisa (75) sekarang direkam dalam format yang terstruktur dan sistematis. Artikel-artikel itu sekarang telah dibaca, dan proses penyaringan terakhir menghilangkan semua kecuali 14 artikel.

5. Fase 5 (Tabel): Pembuatan profil Tabel dibuat untuk 14 sumber yang dianggap relevan dengan topik penelitian dan disimpan untuk analisis terperinci.

Tabel 1. Kriteria inklusi dan Eksklusi

Jenis KriteriaKriteriaInklusiEksklusi

Janis PublikasiArtikel jurnal

Prosiding

Buku

Laporan

AksesAkses bebas

Akses terbatas

Periode Publikasi2019-2024

Tempat PublikasiSeluruh dunia

Metode PenelitianKualitatif

Kuantitatif

R&D

Hasil dan Pembahasan

Budaya mutu dalam Pendidikan dilakukan dengan menguatkan pelayanan untuk memenuhi kepusan dan harapan dari para pelanggan. Pelanggan ada 2 diantaranya pelanggan internal meliputi pengelola lembaga Pendidikan seperti manajer, guru, staff, dan penyelenggara Lembaga. Sedangkan pelanggan eksternal diantaranya terdiri dari Masyarakat, pemerintah, dunia industry, serta orang tua siswa. Adapun kriteria Lembaga Pendidikan yang bermutu menjadi nilai kualitas data (Quality assessment) yang kami analisis diantaranya yaitu 1) Fokus pada siswa, karena siswa adalah subyek dari Pendidikan itu sendiri. 2) keterlibatan total, artinya fokus pada keterlibatan dalam pengelolaan Lembaga Pendidikan 3) Pengukuran brarti adanya evaluasi dalam pemantauan yang terukur, hal ini sangat penting untuk mengevaluasi program-program yang belum berjalan serta merncanakan program-program yang sekiranya menjadi Solusi dari program yang belum terlaksana.4) Komitmen menjadi hal sangat penting dalam membangun budaya mutu, menjadi Langkah awal untuk melaju, melaksanakan rangkaian program-program untuk pengembangan budaya mutu. 5) Perbaikan berkelanjutan, artinya terus diperbaiki untuk mencari alternatif dalam menghadapi tantangan.

Berdasarkan kata kunci “Strategi pengembangan, Budaya mutu, Lembaga Pendidikan” Terdapat 947 artikel dokumen yang memenuhi kriteria pencarian. Dengan menggunakan kriteria pertama, yaitu tahun penerbitan 2019-2024, peneliti menemukan 75 Artikel. Keriteria berikutnya adalah dokumen berbentuk artikel dan dokumen lengkap, peneliti menemukan 14 artikel untuk peneliti membaca satu persatu yang bertujuan untuk memastikan bahwa semua artikel yang terkumpul relevan dengan topik. Artikel – artikel tersebut tersaji dalam tabel berikut ini :

Tabel 2. Hasil penelitian transformasi instrumental input strategi pengembangan mutu di lembaga pendidikan Islam

No. Peneliti dan tahun Jurnal Hasil Penelitian QA
1. (Sholichuddin, 2023) Jurnal JIPS “Budaya mutu berhasil diimplementasikan dengan menanamkan rasa kebersamaan, memberdayakan guru disekolah,.”[20] 1,3
2. (Sulaeni, 2024) Jurnal JIPS “Hasil penelitian menemukan beberapa Faktor Kunci dalam penyunsunan budaya mutu di TK Ar-Rohman yaitu: 1)Kepemimpinan yang berkualitas 2)Pendidikan karakter, dengan menerapkan nilai-nilai agama dan moral. Adapun budaya mutu yang dikembangkan diantaranya yaitu Budaya kerja yang professional, Budaya kerja yang bekerjasama baik, dan inovatif, Budaya kerja yang menghargai perbedaan.”[21] 2,4,5
3. (Abzul, 2022) Student Journal of Education Management “Pemimpin atau kepala sekolah menerapkan pemberi pandangan dalam mengembangkan budaya mutu sekolah diantaranya, Inovasi kepala sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran, Inovasi dalam ketrampilan manajerian, dan inovasi kepala sekolah dalam pengembangan kewirausahaan.” [22] 2,4
4. (Syafaruddin, 2021) Jurnal Pendidikan Islam “pertama, merumuskan visi, misi, dan tujuan; kedua, membentuk Tim Penyusun Rencana Strategis; ketiga, proses perumusan; dan keempat, pengesahan rencanaan strategis tersebut. pertama, merumuskan visi, misi, dan tujuan; kedua, membentuk Tim Penyusun Rencana Strategis; ketiga, proses perumusan; dan keempat, pengesahan rencanaan strategis tersebut.”[23] 2,3,4,5
5. (Panjaitan, 2023) Nidhomul haq “yang dituangkan dalam tujuan madrasah yang berorientasi pada peningkatan kualitas dan profesionalisme guru, efektivitas kurikulum, lulusan yang bermutu dan menciptakan sarana dan prasarana yang baik.”[3] 1,2,3,4
6. (Ainissyifa, 2019) International Journal Of Sientific &Technology Research “Upaya strategi dalampengembangan di Lembaga Pendidikan Islam dapat dicapai dengan penguatan strategi pengembangan Lembaga Pendidikan Islam yang dilakukan melalui rumusan visi, misi dan tujuan Pendidikan oleh pihak tata Kelola dan pihak manajemen yang baik, pengembangan kurikulum yang tepat, serta pendekatan pembelajaran yang tepat terhadap kurikulum.”[15] 4,5
7. (Sonia, 2022) Jurnal Ilmu Pendidikan “Dalam mencapai mutu dalam Lembaga Pendidikan Islam harus dijalankan dengan bertanggung jawab Bersama. Dilakukan secara komitmen Bersama, direncanakan dengan baik, dan keberlanjutan. Dalam hal ini akan mampu memenangkan persaingan yang kompetitif maka Lembaga pendidikanIslam mampu berkembang pesat. Mutu dalam Pendidikan dapat diraih apabila Lembaga dalam penerapan kriteria yang dilakukan oleh lembaga Pendidikan. Sehingga ada beberapa faktor pendukung seperti manajemen yang baik, kepemimpinan yang profsional, dan peningkatan ketrampilan guru yang baik.”[14] 2,5
8. (Jami, 2022) Nidhomul Haq “Prinsip-prinsip manajemen mutu total antara lain berfokus pada pelanggan, memiliki obsesi yang tinggi terhadap mutu, memiliki komitmen jangka panjang, membutuhkan kerja sama tim, melakukan proses perbaikan berkesinambungan, memberikan pendidikan dan pelatihan, memiliki kesatuan tujuan, dan memberdayakan karyawan.”[13] 1,2,3
9. (Majid, 2023) Journal Of Nusantara Education “Hasil penelitian menemukan bahwa dalam membangun budaya mutu perlu adanya semangat berkerja sama seluruh stakeholder dan integrasi antar sesama.”[24] 2,5
10. (Anwar, 2022) Jurnal Studi Keislaman “Hasil penelitian menemukan bahwa Nilai mutu yang diterapkan oleh pemimpin dengan memahami respon terhadap kebutuhan dan masukan dari stakeholders pada sarana dan prasarana, proses pembelajaran serta pembiayaan.” [25] 1, 2,5
11. (Syaddad, 2021) Jurnal Studi Keagamaan Islam “ Hasil penelitian menemukan bahwa Karakteristik organisasi yang memiliki budaya mutu yang kuat adalah sebagai berikut:1) Manajemen yang dirapkan secara baik 2) sumber daya manusia diutamakan dalam berorganisasi 3) pemberian reward atau hadiah kepada guru yang tekun serta berprestasi 4) memilikikerjasama yang kuat antar stakeholder”[8] 2,3
12. (Zaini, 2022) Media Manajemen Pendidikan “Hasil penelitian dalam Implementasi manajemen perencanaan budaya mutu sekolah dalam peningkatan mutu Lembaga ini adalah keterlibatan seluruh stakeholder dilembaga dan kesadaran, kerja sama secara kooperatif serta guru memberikan keteladanan kepada peserta didik. ”[17] 1,2
13. (Ritaudin, 2021 Media Manajemen Pendidikan “Hasil penelitiat menyatakan bahwa ada bebrap fakor diantaranya 1) kerja sama yang baik antar kepala sekolah dengan guru yang kuat untuk menggapai literasi dalam menghadapi tantangan yang beragam seperti dalam menghadapi karakteristik siswa yang berbagai pola. 2) komitmen dan menjaga komunikasi yang baik kepada stakeholder”[26] 2,4
14. Hasibuan, 2023 Jurnal Pendidikan dan Konseling “ Hasil penelitian menyatakan bahwa dalam internal penjaminan mutu, Lembaga menggunakan Lembaga penjaminan mutu (LPM) milik sendiri. Sedangkan penjaminan mutu eksternal, Lembaga bekerja sama dengan pengawas dinas Pendidikan yang seperti biasa melakukan supervise mengenai kesiapan guru dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, penyunsunan RPP dan bahan ajar. 2) menerapkan budaya mutu dengan menciptakan nilai karakter yang sesuai dengan target yang dicapai seperti adanya program tahfidz Qur’an dan selanjutnya sering mengevalusi secara berkelanjutan.”.[27] 4,5
Table 1.

Berdasarkan data diatas, 14 dokumen yang menjadi data penelitian yang sudah sesuai topik dan memenuhi kriteria untuk menjadi dasar penentuan data penelitian ini. 14 artikel tersebut direview dan ditelaah secara mendalam sehingga dapat memaparkan terkait strategi pengembangan budaya mutu di Lembaga Pendidikan Islam.

A.Strategi pengembangan Budaya Mutu di Lembaga Pendidikan Islam

Pengembangan budaya mutu yang dapat ditingkatkan oleh pengelola atau kepala sekolah yaitu dengan memperhatikan tanggapan terhadap sejumlah kebutuhan stakeholders terhadap apa yang disampaikan, bisa mengenai peningkatan sarana prasarana, proses pembelajaran, dan pembiayaan dan lain sebagainya. [25] Berdasarkan hasil penelitian oleh Ainissyifa dengan judul “Upaya strategi dalam pengembangan di lembaga dapat diterapkan dengan penguatan strategi dengan merumuskan visi yaitu gambaran mengenai apa yang akan dicapai dimasa akan datang untuk lembaga Pendidikan yang dikelola, misi yaitu strategi yang dilakukan dalam menggapai tujuan yang direncanakan. dan tujuan Pendidikan oleh pihak pengelola dan pihak manajemen yang baik, kurikulum yang benar, serta penerapan pembelajaran yang tepat terhadap kurikulum.”[15]Artinya kepemimpinan yang proffesional untuk dapat menjalankann prinsip budaya mutu sebagaimana mestinya diperlukan. Sebagai pemimpin atau kepala sekolah yang memiliki kapasitas yang mumpuni mampu menjalankan sebagai leader, manajer sekaligus problem solver serta harus mampu mewujudkan visi dan misi lembaga pendidikan. Seorang kepala sekolah juga mampu membangkitkan motivasi seluruh staffnya untuk mempersembahkan kinerja terbaiknya bagi lembaga pendidikan serta keterlibatan atau partisipasi seluruh lingkungan sekolah. Budaya mutu akan terbangun dengan baik apabila seluruh pihak yang ada di sekolah berperan aktif dalam menjalankan tugas masing-masing. Hal ini dapat terwujud apabila setiap pihak menyadari betapa pentingnya peran mereka masing-masing. Adapun untuk meningkatkan keterlibatan selurug staff tersebut dapat dilakukan dengan cara menjaga komunikasi. Selain itu, pemberian apresiasi juga dapat dilakukan kepada staff yang dipandang mempunyai prestasi atau kontibusi yang sangat besar terhadap lembaga.

B.Prinsip dalam Pengembangan Budaya mutu dalam Lembaga Pendidikan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh jami “Prinsip-prinsip manajemen mutu total antara lain berfokus pada pelanggan, memiliki obsesi yang tinggi terhadap mutu, memiliki komitmen jangka panjang, membutuhkan kerja sama tim, melakukan proses perbaikan berkesinambungan, memberikan pendidikan dan pelatihan, memiliki kesatuan tujuan, dan memberdayakan karyawan.”[13] Artinya dalam pengembangan budaya mutu fokus pada kebutuhan pelanggan merupakan hal yang sangat penting. Dalam hal ini orang tua, lembaga harus benar-benar memahami apa yang dibutuhkan atau yang diinginkan oleh para orang tua saat orang tua tersebut memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya disekolah yang kita dirikan. Sebagai contoh saat orang tua memilih sekolah Islam terpadu karena orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang penghafal al-Qur’an, maka lembaga tersebut harus berusaha secara maksimal untuk memenuhi harapan orang tua tersebut. Bukan hanya itu harapan yang menjadi Sebagian besar orang tua semestinya dijadikan sebagai salah satu quality assurance Lembaga yang kemudian dipublikasikan secara meluas.

Manajemen hubungan tidak kalah penting, karena menjaga hubungan baik dengan seluruh stakeholder yang ada di dalam lembaga maupun diluar lembaga sangatlah penting untuk dilakukan. Komunikasi yang dilakukan secara terbuka akan berdampak positif dalam upaya membangun budaya mutu di lembaga Pendidikan. Setiap masukan yang disampaikan staff, orang tua, masyarakat pada umumnya sejatinya akan menjadi energi yang besar bagi tiap sekolah untuk bergerak kearah yang lebih baik dan meningkatkan kinerja kerja yang berkelanjutan, dimana pada perubahan zaman serta berkembangnya kebutuhan masyarakat menjadi tantangan yang harus dijawab oleh Lembaga Pendidikan, dalam hal ini peningkatan kualitas melalui berbagai inovasi yang dihasilkan akan menjadi kunci keberhasilan dalam konteks strategi pengembangan budaya mutu di lingkungan lembaga Pendidikan dengan meningkatkan kompetensi seluruh guru secara berkala dalam meningkatkan kinerja lembaga.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis Systemic Literature Review (SLR) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Strategi pengembangan budaya mutu lembaga pendidikan dapat diimplementasikan terhadap lembaga pendidikan yang didirikan diantaranya 1) Fokus pada siswa, karena siswa adalah subyek dari Pendidikan itu sendiri dan siswa merupakan input yang akan diproses dalam sebuah lembaga pendidikan 2) Keterlibatan total, artinya partisipasi seluruh lingkungan lembaga, budaya mutu akan terbangun dengan baik. 3) Pengukuran brarti adanya evaluasi dalam pemantauan yang terukur, hal ini sangat penting untuk mengevaluasi program-program yang belum berjalan serta merncanakan program-program yang sekiranya menjadi Solusi dari program yang belum terlaksana.4) Komitmen menjadi hal sangat penting dalam membangun budaya mutu, menjadi Langkah awal untuk melaju, melaksanakan rangkaian program-program untuk pengembangan budaya mutu. 5)Perbaikan berkelanjutan, artinya meningkatkan kinerja kerja yang berkelanjutan seperti adanya peningkatan kualitas melalui berbagai inovasi yang dihasilkan menjadi kunci keberhasilan lembaga dalam mempertahankan eksistensinya dalam konteks pengembangan budaya mutu dilingkungan sekolah, meningkatkan kompetensi seluruh guru secara berkala menjadi upaya strategis dalam meningkatkan kinerja lembaga.

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillah Artikel dengan judul “ Strategi Pengembangan Budaya Mutu Dalam Lembaga Pendidikan Islam” ini sudah terselesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang sudah membantu dalam penyelesaian tulisan ini. Tak lupa juga penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian penulisan artikel ini.

References

Hamdi, "Manajemen mutu program diniyah pada Pondok Pesantren Muhammadiyah Lamongan," Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 247–258, 2019, doi: 10.31538/ndh.v4i2.463.

D. A. Romadlon, A. Bagus, and H. Kurniawan, "Implementasi sistem penjaminan mutu internal di sekolah dasar," Procedia of Social Sciences and Humanities, vol. 3, pp. 678–685, 2022.

S. Panjaitan, A. Siahaan, and M. Rifa'i, "Implementing quality improvement management in Madrasah Aliyah," Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 8, no. 1, pp. 137–151, 2023, doi: 10.31538/ndh.v8i1.3068.

D. E. Malla Avila, "Peran Guru Penggerak pada Merdeka Belajar untuk memperbaiki mutu pendidikan Indonesia," Jurnal Education and Instruction (JDI), vol. 5, no. 2, pp. 2003–2005, 2022.

S. Sutarmizi and S. Syarnubi, "Strategi pengembangan kompetensi pedagogik guru rumpun PAI di MTs. Mu'allimin Islamiyah Kabupaten Musi Banyuasin," Tadrib, vol. 8, no. 1, pp. 56–74, 2022, doi: 10.19109/tadrib.v8i1.11315.

E. Maryamah, "Pengembangan budaya sekolah," Tarbawi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 2, no. 2, pp. 86–96, 2016.

Y. Supriani, "Implementasi manajemen humas dalam meningkatkan mutu madrasah," JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 5, no. 2, pp. 587–594, 2022, doi: 10.54371/jiip.v5i2.453.

Syaddad, "Budaya mutu pendidikan Islam," Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam, vol. 2, no. 2, pp. 264–283, 2021.

N. M. Triana, I. Nasution, and T. S. Fitriani Nasution, "Strategi peningkatan mutu pendidikan pada SMA Abdi Utama Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas," Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 6, no. 1, pp. 214–219, 2022.

K. Abdul, "Strategi pengembangan lembaga pendidikan Islam yang unggul," Al-Asma: Journal of Islamic Education, vol. 2, no. 1, pp. 23–42, 2020.

Istikomah, "Modernization pesantren toward superior school," Proceedings of the International Conference on Islamic Education (ICIE), vol. 4, no. 1, pp. 9–15, 2017.

Istikomah, "Reorientasi pesantren di era global," Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 3, no. 1, pp. 15–28, 2018.

D. Z. Jami and A. Muharam, "Strategy for improving the quality of Islamic religious education study programs with total quality management," Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 7, no. 2, pp. 267–283, 2022, doi: 10.31538/ndh.v7i2.2096.

N. R. Sonia, "Strategi pengembangan mutu lembaga pendidikan di era globalisasi," Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 4, no. 3, pp. 4429–4443, 2022, doi: 10.31004/edukatif.v4i3.2961.

H. Ainissyifa, "Development strategy of Islamic education institution," International Journal of Scientific & Technology Research, vol. 8, no. 4, pp. 141–149, 2019.

Munir, "Dinamika madrasah dalam usaha menggapai mutu: Pengembangan budaya mutu madrasah," Al-Adalah: Jurnal Hukum dan Politik Islam, vol. 19, no. 2, pp. 235–250, 2022.

E. Zaini, "Implementasi manajemen budaya mutu sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan," MMP: Jurnal Media Manajemen Pendidikan, vol. 5, no. 2, pp. 289–306, 2022.

D. I. Sari, T. Herman, W. Sopandi, and A. Jupri, "A Systematic Literature Review (SLR): Implementasi audiobook pada pembelajaran di sekolah dasar," Jurnal Elementaria Edukasia, vol. 6, no. 2, pp. 661–667, 2023, doi: 10.31949/jee.v6i2.5238.

F. Fahyuni, "Transformasi faktor input dalam pembelajaran di era kenormalan baru pasca COVID-19," Jurnal Pendidikan Islam, vol. 6, no. 1, pp. 45–58, 2021.

S. Shofa, Y. Yuliejantiningsih, and T. Haryati, "Implementasi budaya mutu di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Demak," Jurnal Inovasi Pembelajaran di Sekolah, vol. 4, no. 2, pp. 334–341, 2023, doi: 10.51874/jips.v4i2.120.

S. Sulaeni and N. Miyono, "Budaya mutu dan kinerja sekolah di TK Ar-Rohman," Jurnal Inovasi Pembelajaran di Sekolah, vol. 5, no. 1, pp. 95–102, 2024, doi: 10.51874/jips.v5i1.223.

O. Abzul, "Inovasi kepala sekolah dalam mengembangkan budaya mutu sekolah," Student Journal of Educational Management, vol. 2, no. 1, pp. 80–96, 2022.

S. Syafaruddin, M. Mesiono, and M. Muhammedi, "Penyusunan rencana strategis dalam pengembangan budaya mutu pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh H. Abdul Halim Hasan Al Ishlahiyah Binjai," Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 10, no. 1, pp. 121–136, 2021, doi: 10.30868/ei.v10i01.1497.

M. A. Majid, "Koagulasi nilai: Pemikiran membangun budaya mutu madrasah (suatu ikhtiar epistemologis memajukan lembaga pendidikan Islam)," Jurnal Nusantara Education, vol. 3, no. 1, pp. 39–50, 2023, doi: 10.57176/jn.v3i1.82.

S. Anwar, "Pengembangan budaya mutu dalam meningkatkan kualitas madrasah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kota Bandar Lampung," Analisis: Jurnal Studi Keislaman, vol. 14, no. 2, pp. 455–490, 2014.

Ritaudin, "Manajemen budaya mutu dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar," Media Manajemen Pendidikan, vol. 3, no. 3, pp. 397–408, 2021, doi: 10.30738/mmp.v3i3.5071.

L. H. Hasibuan, "Budaya mutu di sekolah SD IT Tahfizhil Qur'an Yayasan Islamic Center Sumatera Utara," Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 5, no. 1, pp. 1–6, 2023.