Login
Section Articles

Kotler and Fox Marketing Management Model in Islamic Boarding Schools to Increase the Number of Santri

Model Manajemen Pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo untuk Meningkatkan Jumlah Santri
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Evin Oklidiana (1), Budi Haryanto (2)

(1) Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Islamic boarding schools face intensifying educational market competition, requiring structured promotional approaches to maintain institutional survival. Specific Background Darut Taqwa Ponorogo Islamic Boarding School implements the Kotler and Fox marketing management model, combining 7P mix strategies with POAC operational functions to expand recruitment. Knowledge Gap Limited empirical research documents how traditional Islamic institutions integrate structured commercial marketing frameworks alongside religious values under dual-campus geographical constraints. Aims This study analyzes the implementation, obstacles, and effectiveness of the Kotler and Fox framework in enhancing student enrollment at Darut Taqwa Ponorogo. Results Descriptive qualitative findings reveal that 7P optimization coupled with POAC management improves institutional reputation and stakeholder trust, despite challenges in digital promotion and facility modernizations. Novelty The research establishes a conceptual model synthesizing classic academic marketing frameworks with faith-based educational leadership in traditional Islamic boarding environments. Implications Educational leaders can leverage structured digital marketing, skill-based curriculum innovations, and alumni networks to improve institutional competitiveness and enrollment growth.


Key Findings Highlights


Strategic execution of the 7P marketing mix combined with POAC principles strengthens stakeholder trust and drives enrollment growth.


Geographic separation of male and female campuses creates operational hurdles in digital marketing adoption and modern infrastructure development.


Integrating skill-based programs with digital promotional strategies provides a sustainable model for expanding traditional institution reach.


Keywords: Marketing Management, Islamic Boarding School, Student Recruitment, Educational Services, 7P Marketing Mix

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Persaingan ketat pada lembaga pendidikan di Indonesia menjadikan dunia pendidikan harus siap dalam menghadapi banyak tantangan [1]. Salah satu tantangannya adalah mempertahankan kepercayaan masyarakat, yang ditandai dengan bertambahnya peminat yang bergabung di lembaga pendidikan, tidak terkecuali pesantren yang turut melakukan pembenahan lembaganya agar dapat diterima masyarakat secara luas [2]. Pondok pesantren merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia [3]. Pesantren menjadi perisai dan alternatif untuk menjaga perilaku terpuji dan menjaga dari pergaulan bebas sehingga mengubah paradigma orang tua untuk memilih memasukkan anaknya kedalam pesantren dibandingkan dengan menyekolahkan anaknya dilingkungan sekolah negeri. Pendidikan pesantren awalnya merupakan jalur pendidikan alternatif bagi sebagian besar masyarakat, karena secara sosial budaya mereka cenderung memilih jalur pendidikan umum sebagai pilihan utama bagi pendidikan putra-putrinya [4]. Tradisi pesantren pada umumnya adalah mempelajari kitab kuning, istighosah, setoran hafalan Al-Quran, kajian rutin oleh kiai dan masih banyak tradisi yang mempu memberikan corak warna dalam dunia pendidikan [5].

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berada dibawah naungan kepemimpinan seorang kiai [6]. Persaingan pondok pesantren lebih diwarnai oleh persaingan kiai atau pengasuh pondok pesantren. Kiai memiliki pengaruh yang luas akan diikuti oleh kemampuan mengembangkan lembaga pesantren yang besar pula, demikian pula dengan kepercayaan masyarakatnya, serta akan mudah pula untuk memasarkan lembaganya di masyarakat. Manajemen pemasaran yang dilakukan oleh pesantren tradisional lebih pada pendekatan dengan tokoh-tokoh besar yang memiliki pengaruh penting pada proses pengembangan pondok pesantren seperti pendekatan kepada tokoh desa, bupati, gubernur dan lain-lain. Pendekatan oleh tokoh-tokoh nasional memberikan imbal balik yang baik bagi kemjuan pondok pesantren yang dipimpin oleh tokoh kiai. Misalkan dalam pembangunan pondok pesantren yang membutuhkan banyak dana. Dalam hal ini jika donatur dari kalangan masyarakat saja tidak cukup, maka butuh donatur yang lebih banyak untuk menunjang pembangunan pesantren dari kalangan tokoh-tokoh besar. Jika suatu pondok pesantren sudah memiliki hubungan baik dengan tokoh-tokoh besar, hal itu merupakan manajemen pemasaran yang efektif untuk diterapkan pada pondok pesantren tradisional. Pendekatan oleh tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar karena tokoh kiai sendiri dikalangan masyarakat memiliki peran penting sebagai imam, guru ngaji, dan pembimbing sehingga tumbuh keprcayaan masyarakat terhadap kiai [7].

Seiring dengan perkembangan zaman memberikan tantangan yang sangat kompleks bagi pondok pesantren. Selain dari lembaga-lembaga pendidikan Islam, pesantren juga bersaing dengan sekolah-sekolah umum, dan sekarang lembaga-lembaga pendidikan modern menawarkan berbagai program-program menarik dengan fasilitas berbagai jenis yang menjadi tools of weapon bagi pesantren-pesantren tersebut. Di sisi lain, kecenderungan orang tua dan calon santri untuk mempertimbangkan faktor-faktor tertentu seperti kualitas pendidikan, isi kurikulum, fasilitas, sosial ekonomi dan kesempatan kerja di masa depan . Demikian halnya dengan Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, sebagai pondok pesantren yang sangat akar dengan konsep pendidikan Islam. Walaupun pesantren ini telah mencapai good reputation, tetapi peluang besar masih terbuka lebar pada jumlah santri. Dengan pendekatan manajemen yang sistematis melalui penerapan teori manajemen pemasaran menurut Kotler dan Fox diharapkan bisa menjadi solusi untuk menghadapi tantangan ini, dengan mengoptimalkan strategi pemasaran yang meliputi segmentasi pasar, penentuan posisi, dan bauran pemasaran (produk, harga, tempat, dan promosi) [8]. Pemasaran dalam konteks pendidikan adalah upaya untuk memahami kebutuhan dan keinginan calon peserta didik serta menyesuaikan penawaran pendidikan agar dapat memenuhi harapan mereka. Kotler dan Fox menekankan bahwa lembaga pendidikan harus mampu memposisikan dirinya dengan jelas di pasar pendidikan, memahami segmen pasar yang dilayani, dan mengkomunikasikan nilai-nilai pendidikan yang ditawarkan kepada calon peserta didik. Dalam kasus Pond ok Pesantren Darut Taqwa, ini berarti memahami apa yang menjadi kebutuhan dan ekspektasi calon santri serta bagaimana pesantren dapat memberikan solusi melalui program-program pendidikannya. Pentingnya penerapan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox dalam dunia pendidikan Islam, khususnya di pesantren, menjadi sangat relevan di tengah kebutuhan akan peningkatan jumlah santri dan daya saing lembaga pendidikan. Dengan semakin banyaknya pilihan pendidikan bagi calon santri, pondok pesantren perlu menonjolkan keunggulan mereka dan menggunakan strategi pemasaran yang efektif untuk menarik minat calon santri [9].

Perbedaan acuan kredibilitas antara pondok tradisional dan pondok modern adalah bahwa pondok tradisional kredibilitasnya bergantung pada citra ketokohan kiai pendiri atau kiai yang sedang mengelola dan memimpin pesantren. Sedangkan pondok pesantren modern tidak terlalu bergantung pada citra ketokohan kiai tetapi mengacu kepada beberapa faktor seperti program unggulan, sistem manajemen dan akreditasi nasional [10].

Secara tidak langsung pondok pesantren modern melakukan inovasi dan startegi untuk menarik minat masyarakat terhadap pondok pesantren[11]. Hal ini merupakan bagian dari manajemen pemasaran pondok pesantren. Banyaknya pondok pesantren modern yang mulai bermunculan maka setiap pondok pesantren memiliki strategi pemasaran yang berbeda-bedan tergantung dengan sasaran yang akan dituju. Pemasaran yang digunakan juga bervariasi. Penyebaran informasi pemasaran pendidikan pondok pesantren bisa dilakukan dengan berbagai media cetak atau elektronik. Namun, pondok pesantren harus memiliki manajemen pemasaran yang cermat dan lugas untuk mempertahankan kedudukannya karena semakin berkembangnya pendidikan akan semakin memperbesar pesaing. Manajemen pemasaran adalah proses menganalisis, merencanakan, menerapkan dan mengendalikan program yang dirancang untuk mewujudkan dan memelihara transaksi yang menguntungkan dengan pelanggan yang bertujuan untuk mencapai sasaran pemasaran itu sendiri [12]. Dalam menghadapi persaingan yang ketat maka lembaga pendidikan harus fokus dalam mengelola dan menerapkan manajemen pemasaran sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat [13]. Pemasaran juga berperan penting dalam memperkenalkan jasa layanan pendidikan serta eksistensi pendidikan sehingga memikat daya tarik masyarakat terhadap produk yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Akan ada banyak pondok pesantren yang memiliki konsep yang sama antara satu dengan yang lainnya.

Beberapa contoh startegi pemasaran yang dinilai efektif dalam sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren saat ini adalah; menggunakan iklan berbayar, pemasaran transaksional seperti dengan adanya diskon, promosi, acara yang diadakan dalam skala besar, pemasaran media sosial, pemasaran interaktif, pemasaran konten SEO untuk mendapatkan traffic, dan earned media yang dilakukan dari mulut ke mulut. Berdasarkan contoh-contoh diatas teori Kotler dan Fox adalah salat satu teori yang paling mewakili gambaran pemasaran yang efektif karena Kotler dan Fox menjabarkan bahwa manajemen pemasaran jasa pendidikan dengan istilah “7P” yang sangat relevan dan dibutuhkan dalam manajemen pemasaran saat ini yaitu berkaitan dengan (produc (produk), price (harga), promotion (promosi), place (tempat), people (orang), process (proses),dan physical evidance (bukti fisik). Teori ini dijadikan landasan untuk meneliti manajemen pemasaran pondok pesantren sehingga pondok pesantren mampu mempertahankan kualitas dan minat masyarakat untuk memilih pendidikan pondok pesantren. Selain Kotler dan Fox yang terkenal dalam pemasaran pendidikan, terdapat juga pakar yang relevan dengan pemasaran pada umumnya dan kemudian dapat diaplikasikan dalam konteks pendidikan. Pertama adalah Theodore Levitt (1925–2006), Theodore Levitt populer dengan konsep marketing as a service dan marketing myopia. Secara sederhana, inti dari pemikirannya adalah bahwa perusahaan tidak menjual produknya, tetapi layanannya. Dengan kata lain, perusahaan harus memahami apa sebenarnya yang dibutuhkan orang, dan mempertaruhkan segala yang mampu mereka tawarkan sesuai kebutuhan. Dalam konteks pendidikan, alih-alih menjual produknya, suatu lembaga harus menyadari apa yang benar-benar diinginkan konsumen, siswa dan orangtua. Kedua Jerome McCarthy (1928–2015), McCarthy merupakan pemikir fiksi Ps (Product, Price, Place, Promotion), konsep yang sering digunakan sebagai dasar teori pemasaran modern. Meskipun yang sebenarnya didasarkan pada pedoman bisnis, maka struktur itu secara memiliki kompatibilitas dengan pemasaran pendidikan. Konsisten dengan kompetensi, konsep 4P dapat digunakan sebagai metode untuk mengembangkan strategi masuk: bagaimana mencapai jumlah dan memproklamirlannya. Ketiga Peter Drucker (1909–2005), Peter Drucker, yang sering disebut sebagai “bapak manajemen modern”, sangat menekankan pentingnya customer orientation. Dalam konteks pendidikan, pemikiran Drucker bisa diadaptasi untuk menempatkan siswa sebagai pusat dari strategi institusi pendidikan. Drucker juga percaya bahwa tujuan utama pemasaran adalah menciptakan pelanggan, yang dalam hal ini berarti menciptakan dan mempertahankan siswa yang puas dengan layanan pendidikan yang diberikan [14].

Manajemen pemasaran memegang peranan penting dalam keberhasilan sebuah organisasi, termasuk pondok pesantren. Dengan menerapkan konsep dan prinsip manajemen pemasaran yang tepat, pondok pesantren dapat menarik minat calon santri baru, mempertahankan santri yang sudah ada, serta membangun citra positif di masyarakat. Teori Manajemen pemasaran Kotler dan Fox menurut Philip Kotler dan Karen Fox, terdapat empat aspek utama dalam manajemen pemasaran yaitu analisis peluang pasar, perencanaan strategi pemasaran, perencanaan program pemasaran, pengelolaan upaya pemasaran. Dengan menerapkan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox, pondok pesantren dapat menyusun strategi pemasaran untuk menarik minat calon santri baru, mempertahankan santri yang sudah ada, serta membangun citra positif di masyarakat. Selain itu, pondok pesantren juga dapat memanfaatkan berbagai saluran promosi, seperti media sosial, website, atau event-event tertentu untuk mempromosikan program-program pendidikan dan kegiatan yang ditawarkan.[15]. Strategi manajemen pemasaran yang baik akan menciptakan perubahan signifikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat [16]. Manajemen pemasaran yang dikelola dengan baik akan menghasilkan produk yang unggul. Suksesnya manajeman pemasaran lembaga pendidikan tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja, namun semua faktor 7P akan saling bersinambung. Manajemen pemasaran pondok pesantren dikatakan berhasil apabila lembaga pendidikan mampu menghasilkan santri unggul sesuai dengan keinginan dan kebutuhan orang tua. Masalahnya tidak semua orang tua memiliki selera dan kebutuhan yang sama.

Setelah menelusuri beberapa referensi yang ditemukan peneliti ditemukan penelitian yang membahas tentang tinjauan manajemen pemasaran pondok pesantren dari teori Kotler dan Fox, pertama Fillah Babul Fathul Jannah, Dian Hidayat, dan Badrudin (Marketing Management of Educational Services in Improving The Image of Islamic Boarding Schools) pada tahun 2022 [17], Fokus penelitiannya adalah manajemen pemasaran untuk meningkatkan citra pesantren. Temuan penelitian ini adalah sekolah dapat mempertahankan dan meningkatkan citranya dengan mengedepankan program pembelajaran yang berkualitas, program yang terstruktur dengan baik, dan kegiatan aktif di luar kelas. Kedua Oktaviani Pemamatasari dan Ahfi Nova Ashriana, 2019 (Pengaruh Bauran Pemasaran (7P) Terhadap Pengambilan Keputusan Orang Tua Dalam Pemilihan Sekolah Berbasis Tafiz Al-Quran) Bagian Bauran Pemasaran 7P Terhadap Pengambilan Keputusan Orang Tua Penelitian ini berfokus pada pengaruh Dukungan dalam memilih sekolah berdasarkan Tafiz Al Quran. Penelitian menunjukkan bahwa produk, harga, promosi, lokasi, proses, orang, dan bukti fisik mempengaruhi pengambilan keputusan 48.2%; faktor lain mempengaruhi 51.8% [18]. Ketiga dilakukan oleh Soopiali Ade dan Heru Utomo (Pengembangan Manajemen Pemasaran Jasa di Pondok Pesantren) pada tahun 2020, penelitian ini berfokus pada konsep, strategi dan proses dalam implementasi layanan pendidikan di Pondok Pesantren Assalam modern dan Pondok Pesantren Al-Mukmin Sukoharjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pondok Pesantren Modern Asalaam dan Pondok Pesantren Al-Mukmin Sukoharjo penerapan fungsi manajemen sumber daya manusia meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian [19].

Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis bagaimana Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat mengadopsi pendekatan Kotler dan Fox dalam strategi pemasaran mereka. Penelitian ini akan mengeksplorasi berbagai elemen pemasaran, termasuk branding pesantren, strategi komunikasi, serta cara pesantren menjalin hubungan dengan masyarakat dan orang tua calon santri. Tujuannya adalah untuk menganalisis penerapan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh Pondok Pesantren Darut Taqwa dalam menerapkan strategi pemasaran guna meningkatkan jumlah santri, mengevaluasi efektivitas strategi bauran pemasaran yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Darut Taqwa dalam menarik calon santri, dan merumuskan strategi pemasaran yang optimal berdasarkan teori Kotler dan Fox untuk meningkatkan jumlah santri di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo [20].

II. Metode

Berdasarkan masalah yang diteliti dan telah diuraikan, maka peneliti menentukan bahwa jenis dari penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif naturalistik, di mana peneliti akan mempelajari fenomena manajemen pemasaran di lingkungan alami pondok pesantren tanpa adanya intervensi atau manipulasi [21]. Desain penelitian yang dilakukan adalah studi kasus, di mana peneliti akan melakukan pengamatan mendalam dan wawancara mendalam terhadap Pondok Pesantren Darut Taqwa sebagai kasus tunggal. Subjek penelitian meliputi pimpinan pondok pesantren, pengurus, tenaga pengajar, santri, dan alumni yang terlibat dalam proses manajemen pemasaran pondok pesantren. Teknik pengumpulan data dengan observasi partisipan: Peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari di pondok pesantren untuk mengamati proses manajemen pemasaran secara langsung, wawancara mendalam: peneliti melakukan wawancara dengan subjek penelitian untuk memperoleh informasi mendalam tentang manajemen pemasaran pondok pesantren, studi dokumentasi: peneliti mengumpulkan dan menganalisis dokumen-dokumen terkait manajemen pemasaran pondok pesantren, seperti brosur, website, laporan kegiatan, dan sebagainya. Analisis data dilakukan secara induktif, dimana peneliti mengidentifikasi pola-pola, kategori, dan tema-tema yang muncul dari data yang dikumpulkan. Analisis data mengacu pada teori manajemen pemasaran, seperti teori Kotler dan Fox, untuk memaknai dan menafsirkan temuan penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti dapat menggunakan teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber (membandingkan data dari berbagai sumber), triangulasi metode (menggunakan beberapa metode pengumpulan data), dan member checking (mengonfirmasi temuan dengan subjek penelitian) [22].

Hasil penelitian akan dideskripsikan secara naratif dan mendalam, dengan mengintegrasikan temuan penelitian dengan teori manajemen pemasaran yang relevan, seperti teori Kotler dan Fox. Dengan menggunakan metodologi kualitatif naturalistik, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang mendalam tentang praktik manajemen pemasaran di Pondok Pesantren Darut Taqwa dan menganalisisnya dalam konteks teori manajemen pemasaran yang ada.

III. Hasil dan Pembahasan

  1. Penerapan Teori Manajemen Pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo

Manajemen pemasaran memiliki peran signifikan dalam pengelolaan lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren. Dalam konteks Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, penerapan teori manajemen pemasaran yang dikemukakan oleh Kotler dan Fox menjadi solusi strategis untuk meningkatkan jumlah santri dan mengoptimalkan kualitas pelayanan pendidikan. Teori ini menawarkan kerangka kerja yang sistematis untuk menarik, memelihara, dan mengembangkan hubungan yang baik dengan calon santri dan orang tua mereka melalui pendekatan pemasaran yang terarah. Berikut ini adalah analisis dari penerapan teori 7P (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Physical Evidence) di Pondok Pesantren Darut Taqwa berdasarkan hasil lapangan.

1. Product (Produk)

Pondok Pesantren Darut Taqwa menawarkan berbagai program pendidikan yang komprehensif, mencakup pembelajaran ilmu agama, tahfidz Al-Quran, akidah, akhlak, tafsir, serta keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan santri. Kurikulum yang diterapkan menggabungkan pelajaran berbasis agama Islam, seperti tafsir, hadis, dan fikih, dengan pelajaran umum yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini tidak hanya memberikan dasar keislaman yang kuat, tetapi juga membuka peluang bagi santri untuk berkembang secara intelektual dan sosial. Program tahfidz Al-Quran menjadi salah satu produk unggulan yang tidak hanya bertujuan agar santri menghafal Al-Quran tetapi juga untuk membentuk karakter santri yang disiplin, sabar, dan memiliki ketekunan dalam ibadah.

Produk yang ditawarkan oleh Pondok Pesantren Darut Taqwa juga mencakup fasilitas yang mendukung proses pembelajaran, seperti asrama yang nyaman, perpustakaan, ruang belajar yang memadai, masjid, serta akses pada teknologi informasi untuk mendukung proses belajar mengajar. Penekanan pada fasilitas ini merupakan bagian dari penerapan teori Kotler dan Fox, yang menekankan bahwa kualitas dan kelengkapan produk merupakan elemen penting dalam menarik minat "konsumen," dalam hal ini para calon santri dan wali santri. Fasilitas yang memadai tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif tetapi juga meningkatkan citra pondok sebagai lembaga yang modern dan siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Selain itu, Pondok Pesantren Darut Taqwa juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan tenaga pengajar atau ustaz dan ustazah yang berkompeten. Dalam perspektif Kotler dan Fox, kualitas pengajar adalah salah satu elemen kunci yang membedakan produk pendidikan pesantren dari lembaga pendidikan lainnya. Dengan demikian, pondok pesantren ini menekankan pada rekrutmen dan pelatihan pengajar yang berkualitas dan berdedikasi tinggi, sehingga mampu memberikan bimbingan yang optimal bagi santri dalam aspek ilmu agama maupun pengembangan karakter.

Strategi manajemen Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo dapat dikembangkan dengan memadukan analisis prospek kerja bagi santri dan peran strategis yayasan dalam mendukung keberlanjutan pondok. Dari sisi prospek kerja, pesantren perlu memperluas kurikulum dengan menambahkan program pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan pasar kerja, seperti penguasaan bahasa asing, teknologi informasi, dan kewirausahaan. Selain itu, membangun kemitraan dengan dunia usaha dan industri (DUDI) akan membuka akses pelatihan, magang, serta peluang kerja bagi santri. Yayasan juga dapat membentuk lembaga khusus untuk mendampingi santri dan alumni, seperti pendampingan karir dan penguatan jaringan alumni, guna membantu mereka memasuki dunia kerja atau membangun usaha mandiri. Di sisi lain, yayasan memiliki peran strategis dalam memastikan kelancaran pengelolaan pondok melalui penerapan manajemen profesional. Langkah ini mencakup transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana, diversifikasi sumber pendanaan melalui usaha mandiri seperti koperasi atau bisnis pesantren berbasis wakaf produktif, dan pengembangan fasilitas pendidikan yang memadai. Untuk meningkatkan daya tarik pesantren, yayasan dapat mengoptimalkan strategi pemasaran berbasis media digital, sehingga dapat menjangkau calon santri dan donatur lebih luas. Dengan sinergi ini, yayasan juga dapat mengintegrasikan program keterampilan dengan pendirian unit bisnis yang melibatkan santri, misalnya agribisnis atau produk halal, yang berfungsi sebagai laboratorium kerja sekaligus sumber pemasukan tambahan bagi pondok.

Melalui pendekatan ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo tidak hanya akan mencetak santri yang unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat modern. Peran yayasan yang proaktif dan inovatif akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjadikan pesantren ini sebagai lembaga pendidikan yang mandiri, relevan, dan berdaya saing tinggi.

2. Price (Harga)

Dalam penerapan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, aspek harga menjadi salah satu elemen yang sangat krusial. Harga, dalam konteks pondok pesantren, bukan sekadar nominal yang dibayar oleh wali santri, tetapi juga cerminan dari nilai dan kualitas pendidikan serta fasilitas yang ditawarkan. Oleh sebab itu, menetapkan harga yang tepat memerlukan analisis mendalam tentang persepsi masyarakat terhadap biaya pendidikan, kemampuan ekonomi calon santri, serta keunggulan kompetitif yang dimiliki pondok pesantren ini.

Pondok Pesantren Darut Taqwa, memiliki dua lokasi asrama yang terpisah di Kecamatan Bungkal untuk putri dan Kecamatan Jenangan untuk putra, perlu mempertimbangkan perbedaan fasilitas dan kebutuhan operasional di masing-masing asrama dalam penetapan harga. Fasilitas, tenaga pengajar, dan kurikulum yang ditawarkan kepada santri putra dan putri juga harus dikalkulasikan dengan saksama untuk mencapai keseimbangan antara biaya yang dikenakan dan layanan yang diberikan. Dalam pendekatan Kotler dan Fox, penetapan harga harus sesuai dengan persepsi manfaat atau "value" yang dirasakan oleh wali santri. Oleh karena itu, penting bagi pondok untuk menunjukkan bagaimana harga yang ditetapkan sebanding dengan kualitas pendidikan, lingkungan pembelajaran yang kondusif, dan peluang bagi santri untuk memperoleh ilmu agama serta keterampilan hidup yang bermanfaat.

Selain itu, faktor persaingan juga perlu diperhatikan. Di Ponorogo, terdapat beberapa pondok pesantren lain yang juga menjadi pilihan bagi masyarakat. Agar tetap kompetitif, Pondok Pesantren Darut Taqwa memberikan potongan harga bagi keluarga kurang mampu atau menawarkan sistem beasiswa. Hal ini tidak hanya akan mendorong minat masyarakat tetapi juga dapat meningkatkan citra pondok sebagai lembaga pendidikan yang peduli pada kesejahteraan sosial.

Untuk mengoptimalkan strategi harga ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa juga mensosialisasikan terkait keterbukaan dan transparansi mengenai biaya pendidikan dan alokasi dana dapat menumbuhkan kepercayaan di kalangan calon wali santri. Untuk peningkatan fasilitas asrama, pelatihan guru, atau pembaruan kurikulum, pondok pesantren dapat mengukuhkan kepercayaan bahwa setiap rupiah yang mereka investasikan pada pendidikan anak mereka benar-benar membawa manfaat nyata. Jadi, penerapan teori Kotler dan Fox dalam aspek harga di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo bukan hanya soal nominal, tetapi lebih luas lagi dalam menciptakan persepsi nilai dan kepercayaan di mata masyarakat. Melalui pendekatan yang transparan dan fleksibel, pondok pesantren ini dapat menarik lebih banyak santri dan memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan yang kompetitif dan terpercaya di daerah Ponorogo.

3. Place (Tempat)

Penerapan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo dalam aspek tempat memainkan peran penting dalam menarik minat santri dan meningkatkan kepuasan mereka selama menempuh pendidikan di pesantren. Tempat dalam konteks pondok pesantren mencakup lokasi fisik, aksesibilitas, dan kualitas lingkungan belajar yang disediakan. Pondok Pesantren Darut Taqwa memiliki dua lokasi yang terpisah untuk asrama putra dan asrama putri, yaitu di Kecamatan Jenangan untuk asrama putra dan di Kecamatan Bungkal untuk asrama putri. Pemisahan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan ruang belajar yang aman dan kondusif, tetapi juga mempertimbangkan aspek geografis dan kenyamanan para santri.

Penentuan lokasi asrama di Kecamatan Jenangan dan Kecamatan Bungkal memungkinkan Pondok Pesantren Darut Taqwa untuk menjangkau wilayah yang luas di sekitar Ponorogo dan memberikan akses yang lebih baik bagi santri yang berasal dari berbagai daerah. Lokasi ini relatif mudah dijangkau dengan sarana transportasi umum maupun pribadi, sehingga memudahkan orang tua untuk mengunjungi putra-putri mereka dan berinteraksi langsung dengan pihak pesantren. Selain itu, lokasi yang tenang dan jauh dari keramaian kota menjadikan pondok pesantren ini sebagai tempat yang ideal bagi santri untuk berkonsentrasi dalam belajar tanpa banyak gangguan eksternal.

Selain aksesibilitas, kualitas lingkungan fisik yang ditawarkan di pondok pesantren ini menjadi bagian dari strategi place dalam manajemen pemasaran. Lingkungan yang asri, bersih, dan tertata rapi di kedua asrama dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman. Adanya taman dan area hijau di sekitar asrama memberikan suasana yang sejuk dan menyegarkan, yang bisa menjadi tempat bagi santri untuk beristirahat dan berkumpul di luar jam belajar. Pemeliharaan lingkungan fisik yang baik pada Pondok Pesantren Darut Taqwa sejalan dengan prinsip Kotler dan Fox yang menekankan pentingnya suasana dan lingkungan sebagai elemen yang mempengaruhi kepuasan konsumen atau pengguna jasa, dalam hal ini para santri dan wali santri.

Fasilitas pendukung di lokasi pondok pesantren juga menjadi bagian integral dari aspek tempat. Ruang kelas yang nyaman, masjid yang luas, perpustakaan, laboratorium komputer, dan asrama yang dilengkapi dengan fasilitas dasar yang memadai menjadi daya tarik tersendiri bagi santri. Fasilitas ini dirancang untuk menunjang proses belajar mengajar serta kegiatan ibadah dan sosial para santri. Kotler dan Fox menekankan bahwa tempat yang ideal tidak hanya memiliki akses yang baik tetapi juga mendukung berbagai kegiatan utama yang dilakukan. Oleh karena itu, Pondok Pesantren Darut Taqwa memastikan bahwa setiap fasilitas yang disediakan di kedua asrama dapat digunakan secara optimal dan memberikan kenyamanan bagi santri.

Selain aspek fisik, pondok pesantren ini juga memperhatikan suasana sosial di kedua lokasi asrama. Kehidupan sosial yang harmonis di antara santri, dengan bimbingan dan pengawasan para ustaz dan ustazah, menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan karakter dan pembentukan akhlak santri. Suasana kekeluargaan dan kedekatan antara santri dengan para pengajar menjadi nilai tambah yang sulit ditemukan di lembaga pendidikan formal lainnya. Dengan suasana sosial yang kondusif ini, para santri merasa nyaman dan betah tinggal di pesantren, yang pada akhirnya meningkatkan efektivitas pendidikan dan menciptakan hubungan yang baik antara pondok pesantren dan masyarakat sekitar.

Penerapan konsep place dalam teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo mencakup pemilihan lokasi strategis, aksesibilitas, fasilitas pendukung, serta lingkungan fisik dan sosial yang kondusif bagi perkembangan santri. Dengan kombinasi faktor-faktor ini, pondok pesantren berupaya menciptakan tempat yang tidak hanya nyaman untuk belajar, tetapi juga mendukung perkembangan karakter dan spiritual santri. Strategi ini menjadikan tempat sebagai salah satu nilai unggul pondok pesantren yang dapat menarik minat lebih banyak calon santri dan membedakannya dari lembaga pendidikan lainnya.

4. Promotion (Promosi)

Pondok Pesantren Darut Taqwa menggunakan beberapa pendekatan dalam promosi, baik secara offline maupun online. Salah satu pendekatan offline yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan acara-acara terbuka untuk masyarakat, seperti kegiatan pengajian akbar, panggung gembira yang diadakan satu tahun sekali, wisuda tahfidz, atau lomba-lomba keagamaan yang melibatkan masyarakat sekitar. Melalui acara-acara ini, pondok pesantren dapat menunjukkan kepada masyarakat kualitas pendidikan yang diberikan serta memberikan kesan langsung tentang suasana pembelajaran dan nilai-nilai yang diajarkan. Acara-acara semacam ini tidak hanya menarik calon santri tetapi juga menciptakan kedekatan emosional antara pondok pesantren dan masyarakat setempat.

Selain itu, Pondok Pesantren Darut Taqwa memanfaatkan jaringan alumni sebagai bagian dari strategi promosi. Alumni yang telah berhasil di berbagai bidang kehidupan berfungsi sebagai duta pondok yang membawa nama baik pesantren ini ke masyarakat luas. Pengalaman positif alumni selama menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darut Taqwa menjadi testimoni langsung yang efektif dalam membangun citra baik dan menarik perhatian calon santri baru. Melalui kegiatan reuni atau pertemuan alumni, pondok pesantren dapat terus menjalin hubungan dengan para lulusannya serta mendapatkan dukungan dan saran untuk pengembangan lebih lanjut.

Di era digital, promosi online juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam strategi pemasaran Pondok Pesantren Darut Taqwa. Pesantren ini memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan YouTube untuk berbagi informasi, foto, dan video kegiatan yang berlangsung di lingkungan pesantren. Melalui media sosial, pondok pesantren dapat menjangkau calon santri dan wali santri dari berbagai daerah yang mungkin tidak sempat mengunjungi langsung lokasi pesantren. Video pendek tentang kehidupan sehari-hari santri, program tahfidz, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kisah inspiratif para alumni menjadi konten promosi yang menarik dan informatif. Penggunaan media sosial ini memungkinkan Pondok Pesantren Darut Taqwa untuk berkomunikasi secara langsung dengan calon wali santri, menjawab pertanyaan, serta memperkuat hubungan mereka dengan masyarakat.

Pondok Pesantren Darut Taqwa juga menerapkan strategi promosi melalui kerjasama dengan sekolah-sekolah dasar atau madrasah sekitar. Dengan mengunjungi sekolah-sekolah tersebut dan memberikan presentasi tentang program unggulan, para ustaz dan staf pondok pesantren dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pendidikan yang ditawarkan. Selain itu, pihak pesantren dapat memberikan brosur atau leaflet yang memuat informasi lengkap mengenai kurikulum, program tahfidz, fasilitas, hingga rincian biaya. Promosi secara langsung ini memungkinkan calon wali santri untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan sekaligus menumbuhkan ketertarikan untuk mendaftarkan anak mereka ke pesantren. selain itu pondok pesantren dapat memanfaatkan jaringan dengan komunitas keagamaan, seperti majelis taklim atau organisasi keislaman di daerah Ponorogo dan sekitarnya. Melalui jaringan ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat mempromosikan program-program pendidikan dan kegiatan pesantren kepada komunitas yang lebih luas. Jaringan keagamaan ini sangat efektif dalam mempromosikan pondok pesantren di kalangan orang tua yang ingin memberikan pendidikan agama yang kuat bagi anak-anak mereka. Dalam perspektif Kotler dan Fox, kemitraan dengan komunitas adalah salah satu cara untuk memperkuat promosi dan membangun hubungan yang saling menguntungkan antara pesantren dan masyarakat.

Dengan strategi promosi yang terintegrasi antara offline dan online, Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo mampu memperkuat kehadirannya di tengah masyarakat dan meningkatkan daya tariknya bagi calon santri. Promosi yang efektif tidak hanya akan meningkatkan jumlah santri tetapi juga memperkokoh reputasi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang kredibel dan berkualitas tinggi.

5. People (Orang)

Aspek people merupakan elemen yang sangat penting karena menyangkut kualitas sumber daya manusia yang mendukung proses pendidikan dan pengembangan karakter santri. People dalam konteks pondok pesantren mencakup seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan pendidikan, yaitu para ustaz dan ustazah (tenaga pengajar), pengurus pesantren, staf administrasi, serta para santri itu sendiri. Setiap individu yang terlibat berperan dalam menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan mendukung pembentukan karakter Islami santri sesuai dengan visi dan misi pondok pesantren.

Para ustaz dan ustazah di Pondok Pesantren Darut Taqwa adalah figur sentral yang membentuk kualitas pendidikan dan pengajaran di pesantren ini. Mereka tidak hanya dituntut untuk memiliki kompetensi akademik dan keahlian mengajar, tetapi juga diwajibkan untuk menunjukkan akhlak yang baik serta menjadi teladan dalam berperilaku sehari-hari. Karena para pengajar di pesantren memainkan peran sebagai pembimbing spiritual sekaligus mentor bagi para santri, Pondok Pesantren Darut Taqwa selektif dalam proses rekrutmen dan pelatihan ustaz/ustazah. Selain memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat, para pengajar juga diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kesabaran, dan kepedulian terhadap perkembangan karakter santri. Pelatihan dan pembinaan rutin bagi tenaga pengajar dilakukan untuk memastikan bahwa mereka selalu siap menghadapi tantangan dalam membimbing para santri serta memiliki pemahaman yang mendalam tentang metode pengajaran yang efektif.

Pengurus dan staf administrasi juga memainkan peran penting dalam mendukung keberlangsungan operasional pesantren. Meskipun mereka mungkin tidak terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar, pengurus pesantren bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan belajar yang nyaman, teratur, dan kondusif bagi santri. Mereka mengelola administrasi, menjaga kebersihan, dan memelihara fasilitas pesantren, yang semuanya berdampak pada kenyamanan dan kepuasan para santri serta orang tua mereka. Pengurus yang ramah dan profesional membantu menciptakan pengalaman yang positif bagi seluruh penghuni pondok pesantren. Dengan demikian, peran pengurus dan staf administrasi juga berkontribusi dalam membangun citra pondok pesantren sebagai lembaga yang dikelola dengan baik dan penuh perhatian.

Selain para pengajar dan staf, santri juga merupakan elemen penting dalam konsep people di Pondok Pesantren Darut Taqwa. Kehidupan di pondok pesantren menuntut santri untuk saling menghargai, bekerja sama, dan membantu satu sama lain. Oleh karena itu, pengembangan karakter santri menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan di pesantren. Setiap santri didorong untuk mengamalkan nilai-nilai Islami dalam interaksi sehari-hari, seperti berakhlak baik, jujur, disiplin, dan menghormati sesama santri. Di samping itu, pesantren juga memiliki program mentoring antar-santri yang bertujuan untuk membina rasa solidaritas dan tanggung jawab. Program mentoring ini, di mana santri senior membimbing santri junior, membantu menciptakan suasana kekeluargaan yang erat, sehingga para santri merasa nyaman dan termotivasi untuk berkembang bersama

Hubungan antara wali santri dan pihak pesantren juga diperhatikan dalam aspek "people" di Pondok Pesantren Darut Taqwa. Pihak pesantren secara aktif menjalin komunikasi yang baik dengan wali santri, misalnya dengan mengadakan pertemuan rutin, mengirimkan laporan perkembangan belajar santri, atau menyelenggarakan acara keluarga di pesantren. Dengan adanya komunikasi yang terbuka dan transparan, wali santri merasa lebih yakin dan puas dengan pendidikan yang diberikan kepada anak-anak mereka. Kehadiran wali santri dalam mendukung pendidikan anak mereka juga memberi nilai tambah, karena menciptakan sinergi antara keluarga dan pihak pesantren dalam mendidik dan membina santri.

Penerapan aspek people di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo menunjukkan bahwa sumber daya manusia yang berkualitas dan berkomitmen adalah kunci untuk memberikan pelayanan pendidikan yang baik dan membentuk karakter santri. Pengelolaan tenaga pengajar yang profesional, pengurus pesantren yang berdedikasi, serta komunikasi yang baik dengan wali santri, semuanya berkontribusi untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal. Dengan memperhatikan aspek ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat memastikan bahwa setiap individu yang terlibat dalam sistem pendidikannya berperan positif dalam meningkatkan mutu pendidikan dan reputasi pondok pesantren di mata masyarakat.

6. Process (Proses)

Dalam penerapan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, aspek process merupakan komponen penting yang menggambarkan bagaimana pendidikan dan layanan diberikan kepada para santri. Proses ini meliputi serangkaian tahapan yang terencana dan terorganisir, mulai dari pendaftaran santri baru hingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi yang berkualitas. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada perencanaan yang matang, pelaksanaan yang konsisten, serta pemantauan yang berkala untuk memastikan bahwa setiap langkah berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Proses pendidikan di Pondok Pesantren Darut Taqwa dimulai dengan penerimaan dan pendaftaran santri baru. Proses ini dirancang untuk memberikan informasi yang jelas kepada calon santri dan orang tua tentang program pendidikan, kurikulum, dan fasilitas yang tersedia. Melalui kegiatan sosialisasi dan presentasi di berbagai sekolah serta acara-acara komunitas, pondok pesantren memastikan bahwa informasi mengenai pendaftaran dan prosedur yang diperlukan dapat diakses dengan mudah. Calon santri biasanya diharuskan mengikuti tes masuk yang mencakup wawancara dan ujian untuk menilai kemampuan dasar mereka, baik dalam bidang akademis maupun keagamaan. Proses ini tidak hanya menjamin bahwa santri yang diterima memiliki potensi yang baik, tetapi juga menciptakan kesan positif tentang profesionalisme dan transparansi dalam penerimaan santri.

Setelah pendaftaran, proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Darut Taqwa dilaksanakan dengan pendekatan yang berfokus pada integrasi antara pendidikan formal dan pendidikan agama. Kurikulum yang diterapkan mencakup pelajaran akidah, akhlak, al-Qur’an, hadis, serta tafsir, di samping pelajaran umum yang relevan. Metode pengajaran yang digunakan beragam, mulai dari ceramah, diskusi, hingga pembelajaran praktis, untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar santri. Proses pembelajaran ini dirancang agar santri tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Para ustaz dan ustazah, sebagai pengajar, berperan aktif dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif dan mendorong partisipasi santri selama proses belajar.

Dalam proses pendidikan ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan karakter dan akhlak santri. Program-program seperti mentoring, bimbingan akhlak, dan kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Melalui program mentoring, santri senior membantu bimbingan santri junior dalam aspek akademik dan non-akademik, menciptakan lingkungan belajar yang saling mendukung. Kegiatan ekstrakurikuler, seperti pelatihan olahraga, seni, dan kegiatan sosial, memberikan kesempatan bagi santri untuk mengembangkan bakat dan minat mereka di luar kurikulum formal. Dengan demikian, proses pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada aspek akademis tetapi juga mengedepankan pengembangan karakter, yang sangat penting dalam membentuk generasi yang berkualitas.

Setelah proses pembelajaran, evaluasi menjadi langkah penting untuk mengukur pencapaian dan perkembangan santri. Pondok Pesantren Darut Taqwa melaksanakan evaluasi secara berkala, baik melalui ujian formal maupun penilaian kinerja sehari-hari. Ujian formal biasanya dilaksanakan di akhir semester, sedangkan penilaian harian dilakukan melalui observasi aktivitas dan partisipasi santri di kelas. Evaluasi ini tidak hanya berfungsi untuk menilai sejauh mana pemahaman santri terhadap materi, tetapi juga untuk memberikan umpan balik kepada pengajar mengenai efektivitas metode pengajaran yang diterapkan. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk merencanakan perbaikan dan pengembangan kurikulum serta metode pengajaran di masa mendatang [23]

Dalam konteks manajemen pemasaran, proses di Pondok Pesantren Darut Taqwa juga mencakup layanan purna jual yang penting untuk menjaga hubungan baik dengan santri dan wali santri. Setelah menyelesaikan pendidikan, pondok pesantren tidak hanya melepaskan santri begitu saja. Melainkan, mereka tetap memberikan perhatian dengan mengadakan kegiatan alumni, pertemuan rutin, dan program pengembangan berkelanjutan bagi lulusan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa alumni tetap terhubung dengan pesantren dan merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Selain itu, dengan mendengarkan umpan balik dari alumni, Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan di masa depan.

Keseluruhan proses di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo mencerminkan integrasi yang harmonis antara berbagai elemen dalam manajemen pemasaran. Dengan memfokuskan pada penerimaan, pendidikan, evaluasi, dan layanan purna jual yang berkualitas, pondok pesantren dapat memberikan pengalaman belajar yang memuaskan bagi para santri dan membangun reputasi yang positif di mata masyarakat. Proses yang sistematis dan terencana ini menjadi salah satu faktor kunci dalam menarik minat calon santri dan mempertahankan kepercayaan wali santri, serta memastikan bahwa Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan berakhlak mulia.

7. Physical Evidence (Bukti Fisik)

Dalam konteks penerapan teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, elemen physical evidence atau bukti fisik menjadi aspek krusial yang mencerminkan kualitas pendidikan dan layanan yang ditawarkan oleh pesantren kepada para santri dan wali santri. Physical evidence di sini mencakup semua elemen fisik yang dapat dilihat dan dirasakan oleh para santri, wali santri, serta masyarakat luas yang berinteraksi dengan pondok pesantren. Unsur-unsur ini tidak hanya berperan sebagai alat untuk memperkuat citra dan reputasi pondok pesantren, tetapi juga memberikan kesan pertama yang dapat mempengaruhi keputusan calon santri dan orang tua dalam memilih Pondok Pesantren Darut Taqwa sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak mereka

Salah satu aspek penting dari physical evidence di Pondok Pesantren Darut Taqwa adalah kondisi dan kebersihan fasilitas yang ada. Lingkungan fisik pesantren yang bersih, terawat, dan nyaman sangat berpengaruh pada pengalaman belajar santri. Fasilitas seperti ruang kelas, asrama, musala, dan area bermain harus dirancang sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan dan kenyamanan santri selama menjalani proses pendidikan. Ruang kelas yang cukup luas, dilengkapi dengan alat bantu mengajar seperti papan tulis, proyektor, dan sumber belajar lainnya, memungkinkan proses belajar mengajar berjalan dengan efektif. Selain itu, asrama yang nyaman dan bersih sangat penting untuk mendukung kesejahteraan fisik dan mental santri. Asrama yang dikelola dengan baik menciptakan suasana yang mendukung santri untuk belajar dan berkembang, sehingga mereka dapat merasa betah dan fokus dalam menjalani pendidikan.

Penggunaan tanda dan branding juga merupakan bagian dari physical evidence yang dapat menciptakan identitas visual yang kuat untuk Pondok Pesantren Darut Taqwa. Papan nama yang jelas dan mudah terlihat, spanduk yang menjelaskan program-program unggulan, serta desain logo yang menarik dapat membantu meningkatkan visibilitas pesantren di masyarakat. Dengan memanfaatkan branding yang konsisten, Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat membangun citra yang profesional dan kredibel, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan orang tua dan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan. Media cetak, seperti brosur, leaflet, dan pamflet yang informatif, juga menjadi sarana untuk menyampaikan informasi kepada calon santri dan orang tua tentang program-program yang ada, prestasi santri, serta fasilitas yang dimiliki. Ini memberikan gambaran konkret mengenai apa yang dapat diharapkan oleh mereka yang ingin mendaftar ke pesantren.

Di samping itu, physical evidence juga mencakup kegiatan dan acara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Darut Taqwa. Kegiatan-kegiatan seperti pengajian, seminar, lomba-lomba keagamaan, dan acara wisuda menjadi bukti nyata dari aktivitas pendidikan yang berlangsung di pesantren. Melalui acara-acara ini, masyarakat dapat melihat langsung proses pembelajaran yang diterapkan dan hasil yang dicapai oleh para santri. Hal ini tidak hanya memperkuat kepercayaan orang tua, tetapi juga memperkenalkan pesantren kepada masyarakat luas sebagai lembaga pendidikan yang aktif dan berkomitmen dalam mencetak generasi yang berkualitas.

Aspek interaksi sosial di dalam pesantren juga merupakan elemen physical evidence yang signifikan. Kehangatan dan keterbukaan komunikasi antara pengajar, santri, dan pengurus pesantren menciptakan lingkungan belajar yang positif. Suasana saling menghargai dan kerja sama antar santri dapat dilihat melalui kegiatan-kegiatan kelompok, seperti pembelajaran berbasis proyek atau program mentoring. Dalam konteks ini, interaksi yang baik antar individu di dalam pesantren menjadi bukti nyata bahwa Pondok Pesantren Darut Taqwa tidak hanya fokus pada aspek akademik tetapi juga pada pengembangan karakter santri. Lingkungan sosial yang harmonis dan saling mendukung ini dapat dirasakan oleh santri baru dan wali santri saat mereka berkunjung ke pesantren, menciptakan rasa nyaman dan aman yang penting dalam proses belajar.

Selain itu, penggunaan teknologi juga menjadi bagian dari physical evidence yang tak kalah penting. Pemanfaatan platform digital untuk pembelajaran, komunikasi, dan informasi membuat Pondok Pesantren Darut Taqwa lebih relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan adanya sistem informasi yang memudahkan akses data pendidikan, absensi, dan perkembangan santri, pondok pesantren dapat menunjukkan bahwa mereka mengedepankan inovasi dan kemudahan dalam layanan pendidikan. Aplikasi atau website resmi yang menyediakan informasi terkait kegiatan pesantren, pengumuman, dan berita terkini juga berfungsi sebagai bukti fisik yang memberikan kemudahan bagi wali santri untuk tetap terhubung dan mendapatkan informasi yang diperlukan.

Elemen physical evidence di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo merupakan aspek yang saling mendukung dalam membangun citra dan reputasi lembaga. Dengan memperhatikan setiap detail dari fasilitas fisik, branding, kegiatan, interaksi sosial, dan penggunaan teknologi, Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat menciptakan pengalaman belajar yang positif dan memuaskan bagi para santri serta memberikan keyakinan kepada wali santri. Hal ini menjadi faktor penentu dalam menarik minat calon santri dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat, serta membuktikan bahwa Pondok Pesantren Darut Taqwa berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dan berorientasi pada pengembangan karakter yang baik.

B. Tantangan dan Hambatan Pondok Pesantren dalam Menerapkan Strategi Pemasaran

Perlu disadari bahwa setiap lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren, pasti menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan strategi pemasaran. Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo, dalam usahanya untuk meningkatkan jumlah santri, tidak luput dari berbagai hambatan yang perlu diatasi. Tantangan ini mencakup aspek internal maupun eksternal, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga persaingan dengan lembaga pendidikan lainnya. Dengan memahami dan mengidentifikasi tantangan tersebut, pondok pesantren dapat merumuskan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Pondok Pesantren Darut Taqwa menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan dalam menerapkan strategi pemasaran untuk meningkatkan jumlah santri. Salah satu tantangan utama adalah lokasi terpisah antara santri putra di Kecamatan Jenangan dan santri putri di Kecamatan Bungkal, yang menyulitkan koordinasi pemasaran yang konsisten dan efektif di kedua tempat. Persaingan dengan pesantren lain di sekitar area juga menjadi tantangan, di mana sulit untuk membedakan diri di antara banyaknya pilihan pesantren. Selain itu, terdapat perubahan preferensi pendidikan, di mana tren pendidikan modern lebih menarik bagi sebagian masyarakat, sehingga pesantren perlu bekerja ekstra untuk meyakinkan calon santri tentang relevansi pendidikan pesantren di era saat ini. Keterbatasan sumber daya juga menjadi hambatan, seperti dana, tenaga pengajar berkualitas, dan fasilitas modern, yang membuat pesantren sulit bersaing dengan lembaga pendidikan lain yang lebih besar. Kesenjangan digital adalah tantangan lain, dengan kurangnya kehadiran online dan penggunaan teknologi dalam pemasaran, sehingga sulit menjangkau calon santri yang kini lebih banyak mencari informasi secara daring. Ada juga stigma dan miskonsepsi di masyarakat tentang pesantren, yang memerlukan upaya edukasi ekstra untuk mengubah persepsi negatif tersebut.

Selain itu, keterbatasan jaringan alumni mengurangi potensi promosi melalui word-of-mouth marketing yang efektif. Kurikulum dan program pendidikan yang harus menyeimbangkan antara pendidikan agama dan keterampilan modern juga menjadi tantangan, terutama untuk meyakinkan orang tua bahwa pendidikan di pesantren tetap relevan. Di sisi lain, infrastruktur dan fasilitas yang terbatas membuat pesantren kurang menarik bagi calon santri yang mencari lingkungan belajar dengan fasilitas lengkap. Kurangnya strategi pemasaran modern menghambat pesantren dalam menjangkau dan menarik minat calon santri. Isu keamanan dan kesehatan, terutama pasca pandemi, menjadi perhatian besar bagi orang tua, sehingga pesantren perlu meyakinkan mereka tentang protokol yang diterapkan. Terakhir, keterbatasan program ekstrakurikuler dibandingkan dengan sekolah umum juga menyulitkan pesantren dalam menarik minat calon santri yang ingin mengembangkan bakat di luar pendidikan agama. Untuk mengatasi tantangan dan hambatan ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa mengembangkan strategi pemasaran yang komprehensif, memanfaatkan teknologi digital, memperkuat jaringan alumni, meningkatkan kualitas pendidikan dan fasilitas, serta aktif mengedukasi masyarakat tentang nilai-nilai dan keunggulan pendidikan pesantren di era modern.

Selain itu analisis SWOT merupakan alat yang sangat berguna untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi oleh sebuah lembaga, termasuk Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo. Dengan menganalisis empat elemen utama ini, pesantren dapat merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saingnya, memperbaiki aspek internal, serta memanfaatkan peluang yang ada di lingkungan eksternal. Analisis ini juga dapat membantu pondok pesantren untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman secara lebih efektif dalam rangka meningkatkan jumlah santri dan menjaga kualitas pendidikan. Berikut adalah analisis SWOT Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo dalam bentuk tabel.

Tabel 1. Analsisis SWOT Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo

Analisis SWOT Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo
Strengths (Kekuatan) a. Lokasi terpisah santri putra dan putri (pendidikan terpisah gender). b. Tradisi dan reputasi mapan di masyarakat. c. Fokus pendidikan agama yang kuat. d. Potensi jaringan alumni yang kuat. e. Biaya pendidikan lebih terjangkau.
Weaknesses (Kelemahan) a. Keterbatasan fasilitas dan infrastruktur modern. b. Kesulitan menyeimbangkan kurikulum agama dan pendidikan modern. c. Kurangnya tenaga pengajar berkualifikasi ganda. d. Strategi pemasaran yang belum optimal. e. Keterbatasan program ekstrakurikuler.
Opportunities (Peluang) a. Kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter dan agama meningkat. b. Potensi kerjasama dengan lembaga pendidikan atau perusahaan. c. Program pendidikan yang memadukan nilai tradisional dan keterampilan modern. d. Pemanfaatan teknologi digital. e. Pengembangan program unggulan.
Threats (Ancaman) a. Persaingan dengan lembaga pendidikan lain. b. Perubahan preferensi terhadap pendidikan berbasis karir. c. Stigma atau miskonsepsi tentang pendidikan pesantren. d. Tantangan memenuhi standar akreditasi. e. Penurunan minat generasi muda pada pendidikan pesantren tradisional.
Table 1.

Berdasarkan analisis ini, Pondok Pesantren Darut Taqwa dapat mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan inovatif dengan memperhatikan kekuatan serta peluang yang dimiliki, dan sekaligus mengatasi kelemahan serta mengantisipasi ancaman yang ada.

C. Evaluasi Efektivitas Strategi Bauran Pemasaran dalam menarik calon santri

Evaluasi efektivitas strategi bauran pemasaran Pondok Pesantren Darut Taqwa dalam menarik calon santri dapat dianalisis secara kritis melalui penerapan teori Kotler dan Fox, yang menggarisbawahi pentingnya komponen 7P: product (produk), price (harga), place (lokasi), promotion (promosi), people (orang), process (proses), dan physical evidence (bukti fisik). Dari sisi produk, Pondok Pesantren Darut Taqwa menawarkan layanan pendidikan berbasis agama, termasuk program unggulan seperti tahfidzul Quran dan pendidikan akhlak yang diintegrasikan dengan kurikulum pendidikan umum. Namun, efektivitas produk ini perlu terus dievaluasi dengan mempertimbangkan relevansi dan adaptabilitasnya terhadap kebutuhan masyarakat modern, seperti dengan menambahkan program literasi digital dan entrepreneurship islami agar lulusan pesantren lebih siap menghadapi dunia kerja dan perguruan tinggi. Kelemahan dalam pembaruan program atau kurikulum dapat menghambat peningkatan jumlah santri baru, terutama di era persaingan dengan sekolah berbasis agama lain yang menawarkan kurikulum inovatif [24].

Aspek price atau harga turut berperan signifikan dalam keputusan orang tua memilih pesantren untuk anak-anaknya. Biaya pendidikan harus seimbang dengan kualitas layanan yang ditawarkan serta disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat sekitar. Dalam hal ini, penawaran beasiswa, keringanan pembayaran, atau subsidi silang bagi keluarga tidak mampu akan meningkatkan daya tarik dan aksesibilitas. Efektivitas strategi harga dapat dinilai dari seberapa banyak calon santri yang mendaftar melalui jalur reguler dan beasiswa. Jika pesantren gagal menetapkan biaya secara kompetitif atau tidak transparan, hal ini berisiko membuat masyarakat beralih ke lembaga pendidikan lain yang dianggap lebih terjangkau.

Komponen place atau lokasi juga berperan dalam efektivitas bauran pemasaran. Dengan lokasi asrama putra di Kecamatan Jenangan dan asrama putri di Kecamatan Bungkal, aksesibilitas bagi santri dan orang tua menjadi tantangan tersendiri. Lingkungan fisik yang kondusif dan fasilitas penunjang yang memadai, seperti masjid, perpustakaan, dan laboratorium, harus ditonjolkan sebagai nilai tambah. Evaluasi efektivitas lokasi dapat dilakukan dengan melihat persepsi masyarakat terkait kemudahan akses serta kenyamanan lingkungan pesantren. Apabila lokasi dianggap terlalu terpencil atau tidak mendukung kegiatan belajar, pesantren perlu memperkuat promosi yang menekankan manfaat dari lingkungan yang aman dan jauh dari pengaruh negatif.

Dari segi promosi, Pondok Pesantren Darut Taqwa perlu memaksimalkan strategi pemasaran digital dengan memanfaatkan media sosial dan situs web untuk menyebarluaskan informasi. Promosi konvensional melalui brosur dan pamflet saja tidak lagi cukup efektif dalam menjangkau calon santri di era digital. Oleh karena itu, pesantren perlu mengadakan kegiatan seperti open house, seminar parenting, atau webinar keislaman untuk meningkatkan brand awareness. Keberhasilan strategi promosi dapat diukur dari peningkatan jumlah pendaftar dan perluasan jaringan pemasaran, termasuk kerjasama dengan komunitas alumni atau sekolah-sekolah lokal. Tanpa inovasi dalam promosi, pesantren akan kesulitan bersaing dengan lembaga serupa yang lebih aktif memanfaatkan teknologi pemasaran modern.

Aspek people atau sumber daya manusia juga sangat menentukan efektivitas pemasaran. Guru dan staf administrasi harus memiliki kompetensi tinggi serta mampu memberikan layanan prima kepada santri dan orang tua. Kepuasan dan loyalitas orang tua sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan tenaga pengajar, sehingga peningkatan kompetensi dan retensi guru harus menjadi prioritas. Evaluasi efektivitas SDM dapat dilakukan melalui survei kepuasan orang tua dan santri serta monitoring kinerja guru dan staf. Tenaga pengajar yang profesional akan mendorong promosi dari mulut ke mulut, yang sangat efektif dalam menarik calon santri baru. Selain itu, proses pendaftaran dan administrasi yang efisien juga menjadi kunci dalam menarik minat calon santri. Sistem pendaftaran yang lambat dan tidak transparan dapat menurunkan minat masyarakat. Implementasi pendaftaran online yang cepat dan mudah, serta komunikasi yang responsif dengan orang tua, akan meningkatkan pengalaman pengguna dan memperkuat citra pesantren sebagai lembaga yang profesional. Efektivitas proses ini dapat dievaluasi melalui jumlah keluhan terkait administrasi dan seberapa cepat proses pendaftaran dapat diselesaikan.

Terakhir, physical evidence atau bukti fisik berupa fasilitas dan lingkungan pesantren juga memengaruhi keputusan orang tua. Infrastruktur yang memadai, seperti asrama yang nyaman, ruang kelas bersih, dan fasilitas olahraga, akan memberikan kesan positif kepada calon santri dan orang tua. Evaluasi efektivitas bukti fisik dapat dilakukan melalui survei kepuasan dan pemantauan kondisi fasilitas secara berkala. Pesantren yang mampu menjaga dan meningkatkan kualitas fasilitasnya akan memiliki nilai lebih di mata masyarakat.

Secara keseluruhan, strategi bauran pemasaran Pondok Pesantren Darut Taqwa perlu evaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan efektivitasnya dalam menarik calon santri. Indikator utama yang harus dipantau mencakup peningkatan jumlah pendaftar, kepuasan orang tua dan santri, efisiensi proses pendaftaran, serta kualitas layanan dan fasilitas. Dengan mengoptimalkan setiap komponen dalam bauran pemasaran dan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan masyarakat, pesantren dapat memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan yang kompetitif dan relevan di masa kini. Implementasi strategi pemasaran berbasis teori Kotler dan Fox akan memberikan landasan yang kuat bagi Pondok Pesantren Darut Taqwa untuk terus berkembang dan menarik lebih banyak santri setiap tahunnya.

D. Rumusan Strategi Pemasaran berdasarkan Teori Kotler dan Fox untuk Meningkatkan Jumlah Santri

Strategi pemasaran yang optimal untuk meningkatkan jumlah santri di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo dapat dirancang dengan mengacu pada teori Kotler dan Fox, yang memprioritaskan pemahaman terhadap kebutuhan calon santri dan orang tua, serta penerapan strategi pemasaran berbasis POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Pada tahap perencanaan Planning, pesantren perlu memulai dengan analisis pasar untuk mengidentifikasi karakteristik target santri berdasarkan usia, pendidikan, wilayah, dan kebutuhan orang tua yang menginginkan pendidikan agama berkualitas serta keterampilan tambahan untuk anak-anak mereka. Selanjutnya, positioning pesantren harus diperkuat sebagai lembaga pendidikan yang unggul dalam akidah, akhlak, dan tahfidz Quran, sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman. Strategi pemasaran dapat memanfaatkan pendekatan 7P Kotler, yang meliputi product berupa program unggulan seperti tahfidz, pelatihan keterampilan, dan penguasaan bahasa asing; price berupa biaya pendidikan yang kompetitif dengan tambahan opsi beasiswa; place yang memastikan aksesibilitas lokasi dan promosi fasilitas modern; promotion melalui media sosial, website, dan testimoni alumni; people yaitu tenaga pengajar profesional; proses dengan pendaftaran yang mudah secara online maupun offline; serta physical evidence berupa lingkungan belajar kondusif dan fasilitas memadai [25].

Pada tahap pengorganisasian (Organizing), langkah strategis melibatkan pembentukan tim pemasaran yang profesional dan fokus. Tim ini harus terdiri dari gabungan staf pesantren, alumni, dan tim hubungan masyarakat (humas) dan tim penerimaan santri baru (PSB) untuk merancang dan mengelola berbagai kampanye. Pembagian tugas dalam tim meliputi penanggung jawab media digital yang mengelola konten kreatif di media sosial dan website resmi; tim kampanye offline yang mengadakan kunjungan ke sekolah, pameran pendidikan, dan penyebaran brosur; serta tim relasi alumni yang memanfaatkan jaringan mereka untuk memperluas promosi. Selain itu, yayasan perlu membangun sistem database untuk mendokumentasikan data calon santri, santri aktif, dan alumni, sehingga mempermudah pelaksanaan komunikasi, promosi, serta evaluasi. Dengan struktur organisasi yang baik, setiap aspek pemasaran dapat berjalan secara terkoordinasi dan terarah.

Tahap pelaksanaan Actuating adalah penerapan rencana yang sudah disusun. Promosi digital menjadi komponen utama, dengan fokus pada pembuatan konten kreatif seperti video profil pesantren, testimoni alumni, serta dokumentasi kegiatan harian santri yang dapat dipublikasikan di media sosial dan website. Platform seperti Instagram, Facebook, YouTube, dan Google Ads dapat digunakan untuk menjangkau audiens yang lebih luas [26]. Di sisi lain, promosi offline tetap penting dengan penyelenggaraan kegiatan seperti open house, "Try Pesantren" untuk memperkenalkan lingkungan pesantren secara langsung, serta partisipasi dalam pameran pendidikan di tingkat lokal dan nasional. Program kemitraan juga harus digencarkan, seperti menjalin hubungan dengan sekolah-sekolah formal di sekitar Ponorogo untuk memperkenalkan program unggulan pesantren. Selain itu, alumni dan santri aktif dapat dilibatkan sebagai duta pesantren untuk berbagi pengalaman mereka kepada masyarakat. Pelaksanaan strategi ini membutuhkan konsistensi agar pesan yang disampaikan kepada calon santri dan orang tua tetap kuat dan jelas.

Tahap terakhir adalah pengendalian Controlling, di mana pesantren harus memantau pelaksanaan strategi pemasaran secara berkala dan melakukan evaluasi untuk memastikan efektivitasnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan menetapkan indikator kinerja utama (KPI), seperti jumlah calon santri yang mendaftar melalui jalur online dan offline, tingkat interaksi dan jangkauan promosi di media sosial, serta tingkat konversi dari calon pendaftar menjadi santri aktif. Feedback dari calon santri, orang tua, dan masyarakat perlu dikumpulkan untuk memahami kekuatan dan kelemahan strategi yang diterapkan. Survei kepuasan terhadap fasilitas dan pelayanan pesantren juga dapat memberikan wawasan tambahan untuk perbaikan. Berdasarkan evaluasi ini, pesantren dapat menyesuaikan strategi, misalnya meningkatkan intensitas promosi di platform yang paling efektif atau memperbaiki sistem pendaftaran agar lebih ramah pengguna.

Dengan mengintegrasikan teori Kotler dan Fox dalam pendekatan POAC, Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo dapat merumuskan strategi pemasaran yang komprehensif untuk meningkatkan jumlah santri. Perencanaan yang matang, pengorganisasian tim yang solid, pelaksanaan promosi yang inovatif, dan pengendalian yang konsisten menjadi kunci keberhasilan. Strategi ini tidak hanya membantu pesantren menarik lebih banyak santri tetapi juga memperkuat citranya sebagai lembaga pendidikan yang modern, relevan, dan unggul di mata masyarakat.

Gambar 1. Model Teoritis Manajemen dan Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Jumlah Santri

Figure 1.

Gamar 2. Jumlah Santri Pondok pesantren darut Taqwa dari ajaran 2019/2020-2020/2021

Figure 2.

IV. Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa teori manajemen pemasaran Kotler dan Fox telah diterapkan di Pondok Pesantren Darut Taqwa Ponorogo melalui strategi bauran pemasaran 7P. Elemen seperti produk unggulan, promosi melalui jaringan alumni, dan fasilitas dasar yang memadai telah memberikan kontribusi positif dalam menarik calon santri. Namun, terdapat tantangan yang signifikan, seperti keterbatasan fasilitas modern, kurangnya pemanfaatan teknologi digital, dan rendahnya penetrasi promosi di masyarakat urban. Strategi pemasaran yang optimal melibatkan penguatan promosi digital, perluasan jaringan alumni, dan pengembangan program berbasis kebutuhan pasar kerja. Dengan penerapan strategi berbasis POAC yang mencakup analisis pasar, koordinasi tim pemasaran, pelaksanaan kampanye yang inovatif, serta evaluasi berkelanjutan, Pondok Pesantren Darut Taqwa diharapkan dapat meningkatkan jumlah santri sekaligus memperkuat citra sebagai lembaga pendidikan Islam yang relevan dan kompetitif.

Ucapan Terima Kasih

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan artikel dengan judul “Manajemen Pemasaran Kotler dan Fox di Pondok Pesantren untuk Meningkatkan Jumlah Santri” hingga selesai. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju Agama Islam yang sempurna seperti yang kita rasakan selama ini. Penulis juga ingin berterimakasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan support dan semangat kepada penulis sehingga dalam penulisan artikel ini bisa tuntas. Terimkasih juga penulis ucapkan kepada dosen pembimbing yang telah membantu dan membimbing dengan sabar dalam proses penulisan artikel serta kepada teman-teman yang telah mendukung penulis untuk menyelesaikan artikel ini.

References

T. Ma’sum, “Eksistensi Manajemen Pemasaran dalam Membangun Citra Lembaga Pendidikan,” Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman, vol. 10, no. 2, pp. 133–153, 2020, doi: 10.33367/ji.v10i2.1243.

Kadir, “Peranan Brainware dalam Sistem Informasi Manajemen,” Jurnal Ekonomi dan Manajemen Sistem Informasi, vol. 1, no. 1, pp. 60–69, Sep. 2018, doi: 10.31933/jemsi.v1i1.

Z. Bariroh, “Manajemen Pemasaran Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Qita Kota Malang Sebagai Lembaga Pendidikan Baru,” Ar-Rosikhun: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 1, no. 3, pp. 175–184, 2022, doi: 10.18860/rosikhun.v1i3.16317.

C. Purnomo, “Manajemen Pemasaran Pendidikan Berbasis Strategi Penentuan Pasar Sasaran,” Jurnal Sosial Humano dan Pendidikan, vol. 1, no. 2, pp. 130–137, 2022, doi: 10.55606/inovasi.v1i2.129.

M. Munir, “Manajemen Pemasaran Lembaga Pendidikan Islam,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 1, no. 2, pp. 1–37, Apr. 2018.

F. Dwiyama, “Pemasaran Pendidikan Menuju Era Revolusi Industri 5.0,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 11, no. 1, pp. 24–25, 2021.

U. Musaropah, “Kharisma Kyai Dalam Organisasi Pendidikan Pesantren Tradisional,” Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, vol. 8, no. 2, pp. 141–155, 2018, doi: 10.47200/ulumuddin.v8i2.193.

Maksum, “Model Pendidikan Toleransi Di Pesantren Modern Dan Salaf,” Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies), vol. 3, no. 1, pp. 81–108, 2016, doi: 10.15642/jpai.2015.3.1.81-108.

Dian, I. Rosbiah, and A. Prayoga, “Implementasi Strategi Pemasaran Pendidikan di Madrasah,” Dirasah: Jurnal Studi Ilmu dan Manajemen Pendidikan Islam, vol. 3, no. 1, pp. 1–14, 2020, doi: 10.29062/dirasah.v3i1.73.

H. Kariyanto, “Peran Pondok Pesantren dalam Masyarakat Modern,” Edukasia Multikultura: Jurnal Pendidikan, vol. 2, no. 2, pp. 22–23, 2020.

Alfiyanto, “Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan Berbasis Budaya Religius,” Adaara: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 10, no. 1, pp. 53–62, 2020.

M. Shobri and J. Jaosantia, “Manajemen Pemasaran Pendidikan Tinggi Islam,” in Proc. ACIEM (Annual Conference on Islamic Education Management), Dec. 2021, pp. 747–761.

Y. A. Pratama, W. Widiawati, R. Hendra, A. F. Mediwinata, and A. Alfiyanto, “Manajemen Pemasaran Pendidikan di MTs Al-Ikhlas,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 6, no. 2, pp. 10106–10111, 2022.

Kholish and M. C. A. Wafa, “Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Tradisional dan Modern sebagai Upaya Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi di Pondok Pesantren Asy Syamsuriyah Brebes),” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner, vol. 1, no. 1, pp. 1–12, 2022, doi: 10.59944/jipsi.v1i1.1.

N. Nurmalasari and I. Masitoh, “Manajemen Strategi Pemasaran Pendidikan Berbasis Media Sosial,” Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 4, no. 3, p. 543, 2020.

K. Wahyudi, “Manajemen Pemasaran Pendidikan,” Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman, vol. 5, no. 1, pp. 70–84, 2017.

F. B. F. Jannah, D. Hidayati, and Badrudin, “Marketing Management of Educational Services in Improving The Image of Islamic Boarding Schools,” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 56–66, 2023, doi: 10.33650/al-tanzim.v7i1.4353.

O. Permatasari and A. N. Ashriana, “Pengaruh Marketing Mix (7P) Terhadap Pengambilan Keputusan Orang Tua Dalam Memilih Sekolah Berbasis Tahfidz Al-Qur’an (Studi Pada SMP Al-Qur’an An-Nawawiy Mojokerto),” INOBIS: Jurnal Inovasi Bisnis dan Manajemen Indonesia, vol. 2, no. 3, pp. 382–397, 2019, doi: 10.31842/jurnal-inobis.v2i3.98.

A. Sopiali and H. H. Utomo, “Pengembangan Manajemen Pemasaran Jasa Di Pondok Pesantren,” Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 17, no. 1, pp. 1–15, 2020.

Munawaroh and A. N. Ikhsan, “Manajemen Pemasaran Di MI Darussalam 02 Kartasura,” Journal of Islamic Education Leadership, vol. 2, no. 2, pp. 143–156, 2022, doi: 10.30984/jmpi.v2i2.365.

K. Daniel and T. Harland, Higher Education Research Methodology: A Step-by-Step Guide to the Research Process. London, U.K.: Routledge, 2017, doi: 10.4324/9781315149783.

H. Hasanah, “TEKNIK-TEKNIK OBSERVASI (Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial),” At-Taqaddum, vol. 8, no. 1, pp. 21–46, 2017, doi: 10.21580/at.v8i1.1163.

H. Aminatus Syaadah and A. Wahyuni, “Quality Management of Student Affairs in Strengthening Al-Islam and Muhammadiyah in SMA Muhammadiyah 1 Taman,” Madrosatuna: Journal of Islamic Education Management, vol. 4, no. 1, pp. 27–34, 2020, doi: 10.21070/madrosatuna.v4i1.547.

M. Handoyo, N. Nurdyansyah, and B. Haryanto, “Marketing Strategy of New Schools in the Selection of New Students at AL Zamzam Sukodono Islamic Elementary School,” ICE CRS Proceedings, vol. 7, pp. 1–8, 2020, doi: 10.21070/icecrs2020367.

R. Adair, Manajemen dan Kepemimpinan. Jakarta, Indonesia: Gramedia Pustaka Utama, 2016.

M. Laily, A. P. Astutik, and B. Haryanto, “Instagram sebagai Media Pembelajaran Digital Agama Islam di Era 4.0,” Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 3, no. 2, pp. 160–174, 2022, doi: 10.31538/munaddhomah.v3i2.250.