Didik Hermawan (1), Didik Hariyanto (2)
General Background: Education in a disruptive era must serve as a medium to cultivate positive attitudes toward social and religious diversity. Specific Background: In multicultural school settings, implementing structured leadership strategies is critical to managing student diversity and building social cohesion. Knowledge Gap: However, practical strategies for embedding specific ethical values like Al-Musawah (equality) and Al-Rahmah (affection) into concrete school programs remain insufficiently detailed in secondary education contexts. Aims: This qualitative case study evaluates the principal’s leadership strategies in implementing multicultural Islamic education to foster Al-Musawah and Al-Rahmah attitudes among students at SMP Negeri 15 Surabaya. Results: Findings reveal that the principal implemented all-inclusive policies through structured programs, including peer counselors, P5 global diversity projects, and the Jumat Berkah Better community. Novelty: The research highlights a framework integrating religious ethics into non-discriminatory, student-led extracurricular and curricular social actions. Implications: These strategies effectively eliminate religious discrimination, intensify positive cross-cultural student interactions, and increase self-confidence among minority students.
Structured leadership strategies enable the integration of Al-Musawah and Al-Rahmah values through all-inclusive school policies.
Peer counseling, P5 global diversity initiatives, and community service projects foster empathy and cross-cultural student engagement.
All-inclusive school environments prevent religious discrimination while boosting the self-confidence of minority students.
Keywords: School Principal Leadership, Multicultural Education, Student Attitude Formation, Inclusive School Policy, Diversity Management
Pendidikan merupakan suatu proses pelatihan dan perluasan pengetahuan, keterampilan, pemikiran, sikap dan karakter guna menjadikan masyarakat negara semakin cerdas sesuai ajaran islam. [1] Tujuannya untuk menumbuhkan keterampilan dan menciptakan jati diri dan budaya bangsa yang terhormat. [2] Peserta didik harus secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya dengan tujuan agar mempunyai kekuatan spiritual, kecerdasan,pengendalian diri dan berakhlak mulia. Dengan demikian pendidikan Islam ialah usaha sadar yang terarah untuk menciptakan lingkungan belajar dan proses pembelajaran. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan hal yang sama, bahwa konsep tersebut merupakan salah satu konsep yang krusial dalam upaya mewujudkan sekolah bermutu, keterlibatan kepala sekolah dalam melaksanakan rencana tersebut merupakan salah satu faktor lainnya. [3] Pendidikan juga dapat diartikan sebagai salah satu media yang efektif untuk melahirkan generasi yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan keragaman sebagai bagian yang harus di apresiasi cara konstruktif. [4]
Pendidikan islam multikultural ialah gerakan baru dalam pendidikan yang memberikan penanaman lebih terkait dengan perbedaan dalam keragaman budaya. Pembicaraan mengenai pendidikan multikultural sebenarnya telah ada sejak lama, namun pelaksanaannya masih belum maksimal, sehingga diperlukan ide maupun strategi yang matang agar pelaksanaannya dapat dilaksanakan secara menyeluruh. Jika pendidikan multikultural benar-benar terlaksana, maka diperlukan banyak pihak yang berkontribusi dalam implementasinya. [5] Namun, Konflik dapat muncul dari permasalahan antar budaya ketika tidak adanya rasa saling menghormati dan saling mengerti. Untuk memberdayakan masyarakat yang beragam dan heterogen serta meminimalkan konflik, inisiatif pendidikan dengan sudut pandang multikultural diperlukan untuk membantu masyarakat menerima dan memahami satu sama lain serta mengembangkan karakter inklusif (terbuka terhadap suatu perbedaan). Kerangak konsep multikultural mengacu pada penerimaan suatu komunitas terhadap keragaman, pluralitas, dan perbedaan budaya, termasuk yang bersifat ras, etnis, agama, dan sebagainya. Pada penelitian ini terdapat perbedaan antara lain ialah berbeda suku etnis (madura, jawa, dan arab) serta agama (Islam). Sehingga dalam peristiwa tersebut salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan multikultural adalah melalui pendidikan yang multikultural. Dengan tujuan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam lingkup lembaga pendidikan.
Pendidikan Islam multikultural juga dapat dipahami sebagai proses pendidikan yang memiliki potensi demokrasi, kesetaraan, dan keadilan. Berfokus pada kemanusiaan, persatuan, perdamaian, dan sikap pengakuan, penerimaan, dan penghormatan terhadap keberagaman yang dikembangkan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits. Al-Quran sendiri menegaskan bahwa manusia diciptakan dari latar belakang yang berbeda-beda. [6]
Pendidikan Islam multikultural juga berarah pada kemanusiaan, kebersamaan dan kedamaian, serta menumbuhkan sikap mengakui, menerima dan menghargai keragaman budaya. [7] Oleh sebab itu pengembangan pendidikan Islam multikultural harus diterapkan dalam lembaga pendidikan sebagai salah satu langkah inovasi yang dilaksanakan secara terencana untuk meningkatkan, mengembangkan serta menyempurnakan proses pendidikan kepada peserta didik. Pendidikan Islam multikultural juga mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas performa serta eksistensi pendidikan Islam yang menekankan pada nilai-nilai dari pendidikan Islam multikultural diantaranya ialah Al-Musawah dan Al-Rahmah. Oleh karena itu, teori tersebut relevan untuk dijadikan sebagai referensi untuk penelitian.
Di masa lalu, prasangka etnis merupakan ciri sistem pendidikan di beberapa lembaga pendidikan Amerika tempat pendidikan multikultural pertama kali muncul. Baru-baru ini, pemerintah telah memberikan perhatian yang signifikan terhadap masalah ini. Tujuan pendidikan multikultural adalah untuk meningkatkan pembelajaran siswa di kelas dan lingkungan sekolah dengan memanfaatkan beragam latar belakang budaya siswa. Hal ini dimaksudkan untuk menjunjung tinggi dan memperluas gagasan keberagaman, kesetaraan, budaya, dan demokrasi. [8]
Menurut Amin Abdullah, multikultural merupakan sebuah konsep yang menjunjung tinggi hak-hak peradaban masa kini untuk tetap eksis dengan tetap menonjolkan persamaan dan kesetaraan budaya lokal. Dengan kata lain, tema sentral multikultural adalah kesetaraan budaya. Oleh karena itu, Amin Abdullah berupaya membangun kembali paradigma pendidikan Islam agar dapat menjadi landasan terciptanya sistem pendidikan tanah air. Beliau adalah seorang ilmuwan yang secara konsisten mengembangkan pendidikan Islam. [9]
Proses pendidikan islam multikultural di sekolah dapat memperoleh manfaat yang besar apabila ada keterlibatan pimpinan sekolah. [10] Selain menjabat sebagai kepala sekolah dan administrasi sekolah, kepala sekolah juga bertugas mengawasi, membimbing, dan memantau dinamika kelompok di antara guru, administrator, dan anggota staf lainnya. Dalam pengertian ini, kepala sekolah mengawasi aspek operasional administrasi sekolah selain dari proses dan hasil pembelajaran. Pada akhirnya kepala sekolah membuat corak yang berbeda dengan yang diberikan untuk pengembangan sekolah. [11]
Mengenai pembuatan kurikulum pendidikan, administrasi kepegawaian, sumber daya dan fasilitas pembelajaran, keuangan, layanan siswa, hubungan masyarakat, dan penumbuhan lingkungan sekolah, kepala lembaga pendidikan harus mampu memobilisasi sumber daya sekolah. Pimpinan lembaga pendidikanlah yang menentukan berhasil tidaknya lembaga tersebut dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan di madrasah dan sekolahnya. Sehingga sebagai kepala sekolah sekaligus guru, mempunyai tugas untuk memberikan contoh yang baik bagi seluruh pengajar dan peserta didik lainnya. Artinya, dalam mengawasi sekolah, pengelola sekolah harus memberikan contoh yang positif. [12]
Kepemimpinan yang efektif merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu Lembaga pendidikan. [13] Kepemimpinan yang baik juga dapat mempengaruhi tujuan, dan operasi internal organisasi. Oleh karena itu, orang yang dipilih menjadi pemimpin haruslah orang yang benar-benar mempunyai keunggulan dibandingkan kelompok yang dipimpinnya. Karena kemampuan seorang pemimpin untuk secara akurat membuat penilaian terhadap berbagai dinamika tantangan yang mereka hadapi akan menentukan seberapa sukses kepemimpinan mereka. Persoalan yang kini muncul dalam Lembaga Pendidikan terkait kepemimpinan kepala sekolah bahwa tidak ketersedian pemimpin yang kompeten, tidak bertanggung jawab, dan lebih memilih kepentingan pribadi daripada kepentingan dalam suatu lembaga yang dipimpin. Hal tersebut dapat mengakibatkan menurunnya pengembangan sikap peserta didik yang dapat mempengaruhi masa depannya.
Banyak masyarakat pada masa sekarang yang ingin melihat bahwa pendidikan islam multikultural mampu mempunyai kriteria kepemimpinan yang dilaksanakan di lembaga pendidikan resmi dengan lebih semangat dan berkualitas. Harapan-harapan ini berasal dari fsenomena sosial yang berkembang: kurangnya rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab peserta didik, ketidakmampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan ketidak mampuan mereka untuk mandiri, serta ketidak mampuan peserta didik dalam menerapkan sikap kesetaraan dan kasih sayang.
Kepala sekolah perlu menjadi teladan bagi semua pengajar dan peserta didik di sekolah serta sebagai pemimpin dan pendidik. [14] Prayitno (2010) menegaskan bahwa pilar dari proses pendidikan antara lain ialah harus mencakup keteladanan, serta kinerja terbaik dari seorang guru dan siswa patut diteladani. Kepala sekolah juga harus mempertegas dan mengajarkan kegiatan-kegiatan cerdas yang seluruhnya baik dan bersifat normatif dan seluruh penampilan pendidik dibangun atas dasar penerimaan dan pengakuan, kasih sayang dan kebaikan. Sehingga siswa harus mampu menerimanya dan bahkan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kepala sekolah maupun pendidik yang menggunakan materi pembelajaran dengan contoh menunjukkan konsistensi yang hal tersebut merupakan komponen penting dalam penerapan keteladanan. [15]
Kehadiran kepala sekolah di lembaga pendidikan berperan penting dalam menciptakan dan menggerakkan organisasi pendidikan yang berkualitas. Karena kepala sekolah merupakan salah satu kunci kemajuan suatu landasan instruktif dengan pribadi yang hebat dalam proses program sekolah. Untuk mengembangkan kepribadian yang baik, maka diperlukan suatu program atau kegiatan yang berkualitas sesuai dengan visi misi normal sekolah.
Al Musawah dapat diartikan sebagai kesetaraan atau kesamaan. Maknanya yaitu tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lainnya, sehingga dapat memaksakan kehendaknya. Persamaan (Al-musawah), merupakan pandangan bahwa semua manusia sama harkat dan martabatnya. Tanpa memandang jenis kelamin, ras ataupun suku bangsa. Tinggi rendahnya derajat manusia hanya berdasarkan ketakwaanya yang penilaian dan kadarnya hanya Allah yang tahu. Al Musawah mengedepankan nilai persamaan ditengah lingkungan sekolah, bukan menonjolkan adanya sebuah perbedaan antar sesama. [16] Sedangkan Al Rahmah ialah keadaan mental yang membuat perasaan atau pikiran seseorang merasa sama dengan orang lain atau kelompoknya. [17]. Sikap Al Musawah dan Al Rahmah memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa seluruh warga sekolah memiliki hak dan kewajiban yang sama sehingga tidak boleh membeda-bedakan. Nilai Musawah dan Rahmah diinternalisasikan dalam budaya 5S ini. Dengan ada nya budaya 5S ini tentu akan menumbuhkan rasa saling menyayangi dan pengertian antara siswa. Sehingga dapat hidup bersama di lingkungan sekolah dengan rukun dan damai merupakan nilai salah satu nilai multikultural beragama. Sehingga strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam pendidikan islam multikultural harus berdasarkan pada perubahan dan perkembangan lingkungan masyarakatnya dengan tetap mempertimbangkan aspek kebersamaan dan keragamaan yang merujuk pada pendidikan Islam multikultural dengan menerapkan sikap Al-Musawah dan Al-Rahmah.
Mengutip penelitian terdahulu yang relevan dengan peneliti diantaranya adalah penelitian dari Helsi Arista, dkk., yang menjelaskan bahwa Untuk mengembangkan sikap religius peserta didik dalam pendidikan multikultural adalah dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang ditetapkan oleh lembaga sekolah. Salah satu program unggulan yang diterapkan ialah dengan mengembangkan nilai-nilai keislaman sehingga mampu meningkatkan sikap religius peserta didik. Dalam hal tersebut keberhasilan pengembangan sikappeserta didik dapat dilihat ataupun diukur dari meningkatnya spiritual dari setiap individu. [18] Selanjutnya dari Mustajib dan Miksan Ansori, mengungkapkan bahwa seorang pemimpin mampu memahami dasar-dasar kepemimpinan untuk menjadi seorang pemimpin baik di lingkup keluarga, pemimpin diskusi maupun lembaga pendidikan. Strategi kepemimpinan kepala sekolah untuk membentuk sikap peserta didik terdiri dari pembiasaan,kedisiplinan diri, dan program unggulan yang diterapkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Namun, kendala yang dihadapi dalam mengembangkan pendidikan ilma multikultural peserta didik ialah sumber daya manusia. [19] Penelitian dari Lana Farhan Alafy Zulmin, bahwa Bahwa kegiatan dalam mengembangkan sikpa peserta didik dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan. Kemudian peserta didik juga dibiasakan dengan nilai-nilai spiritual dan agama seperti melakukan kegiatan do'a bersama dengan dipandu oleh pendidik serta pembentukan akhlakul Karimah dengan melakukan kegiatan pembiasaan sikap hormat kepada yang lebih tua. Kegiatan maupun pembiasaan tersebut dilakukan dipagi hari ketika pendidik menyambut peserta didik di gerbang pintu masuk sekolah dan peserta didik diharuskan untuk bersalaman dengan pendidik. [20] Selanjutnya penelitian dari Cindy Inka Rahmahdia dan Erny Roesminingsih, bahwa untuk membentuk sikap peserta didiknya, kepala sekolah harus menerapkan beberapa program antara lain program duta sekolah yang bertujuan untuk membentuk sikap pemimpin dan menggali potensi dari peserta didik. Kemudian menerapkan program kegiatan studi kontekstual yang bertuan untuk menggambarkan materi dalam dunia nyata untuk membentuk personalitas kepemimpinan dari peserta didik. Kegiatan yang dilakukan dalam program tersebut ialah fun game, outbond dan kegiatan lainnya. Yang terakhir ialah kegiatan pembiasaan Islami yang bertujuan untuk membentuk sikap positif dari peserta didik dengan membiasakan sikap disiplin. [21]
Pada penelitian yang dilaksanakan di SMP Negeri 15 Surabaya terdapat perbedaan dalam multicultural beragama yakni perbedaan suku, ras dan agama. Selain itu belum terpenuhnya pendidik untuk agama Budha. Sehingga peserta didik yang beragama budha harus mengikuti pembelajaran di agama lain. Oleh karena itu, harus ada pemenuhan guru disetiap masing-masing agama. Namun, dalam perbedaan tersebut peneliti menemukan adanya kesetaraan dan rasa kasih sayang dalam lingkungan sekolah. Peserta didik tidak membedakan antara gama satu dengan agama yang lain, yang mana hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian di SMP Negeri 15 Surabaya terkait strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam pendidikan Islam multikultural terhadap pembentukan sikap Al Musawah dan Al Rohmah peserta didik. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti menemukan bahwa kepala SMP Negeri 15 Surabaya menerapkan beberapa kebijakan dan program selama masa jabatannya. Dalam konteks ini, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh pimpinan sekolah agar dapat memberikan dampak yang sangat positif bagi siswa dalam hal multikultural agama.
Untuk merepresentasikan aktualitas dan kondisi objek penelitian sesuai dengan fakta, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yaitu penelitian yang menggambarkan kebenaran dan keadaan objek pemeriksaan sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan, dengan mengambil informasi yang bersifat apa adanya. [22] Penentuan keadaan suatu objek berdasarkan kenyataan yang ada di tempat penelitian dikenal dengan penelitian kualitatif. [23] Seperti pendapat dari Bogdan dan Tylor yang mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif merupakan suatu perilaku dalam penilaian yang akan menghasilkan data yang bersifat deskriptif. [24] Penelitian ini dilakukan di SMP Muhhammadiyah 15 Surabaya dengan melibatkan kepala sekolah sebagai informan utama.
Dalam penelitian ini, terdapat dua sumber data antara lain adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer merupakan data yang diambil langsung dari sumber utama disertakan dalam ini adalah sumber data utama. [25] Sumber data primer yang didapatkan peneliti pada saat melaksanakan penelitian di lapangan berupa data mengenai Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Pendidikan Islam Multikultural Terhadap Pembentukan sikap Al-Musawah Dan Al-Rahmah di SMP Negeri 15 Surabaya. Sedangkan sumber data sekunder yakni bersifat penunjang bagi peneliti sebagai bahan referensi yang berupa buku - buku referensi dan jurnal penelitian ataupun jurnal ilmiah yang sesuai dengan kondisi permasalahan dalam penelitian ini. [26]
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik observasi merupakan teknik yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data dari informan. Sedangkan teknik wawancara ialah teknik yang dilakukan untuk mendapatkan sumber primer tentang objek dari penelitian yakni melakukan wawancara dengan kepda kepala sekolah, waka kurikulum dan pendidik di SMP Muhhammadiyah 15 Surabaya. Teknik dokumentasi merupakan teknik untuk mendapatkan data sekunder berupa foto, video, gambar, buku-buku referensi, jurnal ilmiah, yang berkaitan dengan penelitian. Sedangkan teknik analisis dan interpretasi data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif dari teori Miles and Huberman yakni: reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. [27]
DaIam haI ini, peneIiti akan mendeskripsikan hal yang Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Pendidikan Islam Multikultural Terhadap Pembentukan Sikap Al-Musawah Dan Al-Rahmah Peserta Didik Di SMP Negeri 15 Surabaya. Hasil dan pembahasan penelitian ini merupakan kumpulan sumber bukti yang menjadi fokus data yang dikumpulkan dalam penelitian. Hal ini meliputi data dokumen, data observasi, data hasil wawancara dan arsip, serta perangkat fisik yang ditemukan selama kegiatan penelitian. Berdasarkan fokus penelitian yang telah ditetapkan, peneliti menguraikan hasil pembahasan sebagai berikut.
1.Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Pendidikan Islam Multikultural Terhadap Sikap Al Musawah
Asal usul kata “multikultural” berasal dari kata “multi” yang berarti “banyak” dan “culture” yang berarti “kebudayaan”. Multikultural berarti beragam budaya. Kebudayaan atau kebudayaan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari empat hal, yaitu agama, ras, suku, dan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan multikultural tidak hanya menyangkut perbedaan budaya saja, namun juga keberagaman agama, ras, dan suku.
Menurut Amin Abdullah, multikultural adalah suatu paham yang menitikberatkan pada perbedaan dan persamaan budaya lokal tanpa merusak hak ataupun keberadaan budaya yang ada. [28] Dengan makna lain bahwa multikultural menekankan pada kesetaraan kebudayaan. Multikultural suatu bangsa menuntut masyarakat untuk merangkul keragaman budaya sebagai kenyataan hidup. Hal ini akan terwujud dengan cara seseorang akan menjadi reseptif untuk menjalani kehidupan yang lebih baik baik secara individu maupun kolektif. Berdasarkan pemaparan di atas, menurut Amin Abdullah, pendidikan Islam multikultural merupakan agama yang bernafaskan kedamaian, peka terhadap realitas sosial, mengutamakan jaminan sosial, serta berlandaskan pada nilai-nilai persatuan dan keadilan yang terkandung dalam pendidikan Al-Quran dan hadis memampukan peserta didik untuk menerima, menghargai, dan menghargai perbedaan orang lain.
Sehingga dalam menerapkan multikulturali beragama di SMP Negeri 15 Surabaya dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki keprofesionalan. Tujuan kepemimpinan adalah prinsip untuk membimbing, memimpin, dan menunjukkan kemahiran kepala sekolah dalam mengawasi seluruh aspek sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah memimpin dalam mengembangkan program pendidikan berkualitas tinggi, khususnya yang berfokus pada pembentukan sikap. [29]
Hal tersebut juga disampaikan oleh bapak M. Ihsan selaku pendidik agama islam yang menyatakan bahwa :
“dalam lembaga pendidikan khususnya di lingkungan SMP Negeri 15 Surabaya peserta didik memiliki kesetaraan yang sama dengan yang lainnya. Dengan artian tidak membedakan peserta didik yang lainnya namun saling menghargai dan menyayangi antar sesama. Oleh karena itu, dalam lingkungan sekolah ini sudah terjamin mampu menciptakan perdamaian dan mencegah konflik antar umat beragama”.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah penggunaan seluruh keterampilan seseorang untuk mempengaruhi, menginspirasi, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain untuk bekerja dengan antusias dan percaya diri menuju tujuan bersama. (sekolah). [30] Konsep penerimaan suatu komunitas terhadap keberagaman, keberagaman, dan perbedaan budaya, suku, ras, agama, dan lain sebagainya kemudian menjadi definisi multikultural. [31] Di bawah arahannya, kepala sekolah menyusun program kerja dan kebijakan yang dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan spiritualnya, yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan multikultural siswa, khususnya dalam bidang keagamaan.
Diperlukan strategi yang tertata dan terencana dalam proses kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun multikultural agama. Secara umum strategi adalah suatu rencana yang melibatkan serangkaian tindakan, meliputi komponen-komponen yang tampak maupun yang tidak terlihat, untuk menjamin tercapainya tujuan. Selain itu, elemen pengelolaan, pengawasan, dan pengembangan kewirausahaan yang lebih besar di kalangan guru dan tenaga kependidikan lainnya merupakan bagian dari peran kepala sekolah dalam mengembangkan inisiatif. [32]
Kepala sekolah telah memulai dengan menyusun rencana kerja dan kebijakan. Salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah membuat rencana dan prosedur kerja. Hal ini sesuai dengan temuan wawancara yang dilakukan kepada kepala kurikulum SMP Negeri 15 Surabaya yang menyebutkan bahwa perancangan kebijakan dan program kerja yang ditetapkan merupakan salah satu tahapan dalam pembuatan strategi kepala sekolah. Kebijakan adalah seperangkat tujuan umum dan pedoman yang secara gabungan memungkinkan pencapaian dan pelaksanaan tujuan tersebut serta berfungsi sebagai kerangka pelaksanaan program. [33] Tujuan dari perencanaan kebijakan ini adalah untuk menjamin agar rencana kerja dapat terlaksana secara terorganisir. Adapun Kebijakan dan program kegiatan yang ditetapkan oleh kepala sekolah antara lain pelaksanaan sholat duha, sholat duha bagi siswa muslim, dan pelaksanaan muroja juz 30 setelah salat dan dibaca secara sentral. Bagi siswa Kristen/Katolik, kepala sekolah mendatangkan guru masing-masing agama untuk mengajarkan kitab agama mereka masing-masing.
Pembentukan kerangka organisasi untuk sekolah adalah langkah selanjutnya. Pembentukan organisasi sekolah sejalan dengan tanggung jawab administratif kepala sekolah, dan individu yang dipilih untuk posisi kepala harus memiliki kualifikasi yang relevan dengan bidangnya. Pekerjaan hendaknya dibagi menjadi beberapa tugas yang dapat dikelola sehingga baik individu maupun kelompok dengan rasa tanggung jawab yang kuat dapat diselesaikan dengan mudah. [34] langkah terakhir ialah Pemberian arahan kepada seluruh dewan guru merupakan langkah terakhir dalam menyusun strategi kepemimpinan penerapan multikultural agama. Hasil yang diharapkan akan meningkat secara signifikan ketika arahan diberikan sebelum pelaksanaan program kerja. Guru yang diberi bimbingan akan mampu melaksanakan program kerja yang ditetapkan dengan pemahaman yang cukup. Tujuan pengarahan adalah untuk membantu bawahan berkembang menjadi pekerja (staf) dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh perusahaan. [35] Arahan yang dikirimkan ke seluruh dewan guru harus selaras dengan tanggung jawab dan peran utama yang akan dijalankan oleh dewan guru terkait.
Strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam pendidikan islam multikultural terhadap sikap Al Musawah merupakan kesetaraan atau kesejajaran. Al Musawah memiliki makna bahwa tidak ada pihak yang merasa tinggi dari pihak lainnya. Pada hakikatnya semua manusia memiliki kedudukan yang sama dihadapan Allah SWT. Allah SWT tidak melihat fisik hambanya namun pada ketaatannya. [36] Dalam keseharian, kita harus bersikap sederhana tanpa mengubah apapun terhadap sesama. Pada dasarnya manusia memiliki 2 aspek. Pertama, status didasarkan pada suatu hubungan berdasarkan kelahiran, warna kulit, dan etnis. Hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang. Kedua, posisi yang timbul dari keterampilan dan usaha individu. Oleh karena itu, seseorang mampu melakukan perbuatan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dalam konteks multikultural beragama, Al Musawah mengingatkan kita bahwa islam merupakan agama yang Rahmahtan Lil ‘alamin atau yang biasa disebut Rahmat kepada seluruh alam. Dengan mengamalkan sikap Al Musawah, umat islam mampu menunjukkan bahwa agamanya telah mengajarkan kesetaraan, kesejajaran, perdamaian, kasih sayang serta harmonis dan mampu memeluk saudara yang berbeda agama. Penerapan sikap Al Musawah dalam kehidupan sehari-hari dapat mewujudkan masyarakat yang lebih adil, damai dan tenang. Hal tersebut sejalan dengan nilai-nilai multikultural beragama yang mengedepannya dan menjunjung tinggi nilai toleransi, saling menyayangi, saling menghormati dan keadilan bagi masyarakat.
Penerapan pendidikan Islam multikultural terhadap pembentukan sikap Al Musawah ialah adanya program konselor dengan teman sebaya yang dikomando guru BK yang bertujuan menciptakan suasana belajar yang inklusif dan kondusif yang biasanya disebut dengan pemantik. Kemudian membuat miniatur rumah, kampanye menghargai perbedaan dan program P5 dimensi khebinekaan global.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)merupakan upaya untuk menggunakan pembelajaran berbasis proyek sebagai paradigma baru untuk mendukung siswa dalam mencapai profil siswa Pancasila. Dengan mengamalkan P5, guru hendaknya mampu menunjang pembelajaran siswa sehingga dapat mengembangkan potensi dan akhlak mulia yang dituangkan dalam profil siswa Pancasila. Hal ini dimaksudkan agar anak mempunyai kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitar dan “mengalami ilmu” sebagai sarana pengembangan karakternya. Aspek profil pelajar Pancasila menunjukkan bahwa selain mengedepankan kemampuan kognitif, profil tersebut juga mempertimbangkan sikap dan perilaku yang selaras dengan jati diri pelajar sebagai warga global dan warga negara Indonesia, yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok serta memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya. [37]
Program P5 tersebut antara lain yakni peserta didik membuat poster dengan tema khebinekaan global yang bertujuan menumbuhkan rasa menghargai antar sesama peserta didik. Program kampanye tersebut dilaksanakan di semester 1 dengan menyajikan 2 tema yang berbeda. Penerapan sikap Al Musawah dalam program-program tersebut mampu menciptakan masyarakat yang adil dengan menerapkan prinsip kesetaraan, kita dapat menciptakan masyarakat yang adil di mana setiap individu diperlakukan secara sama, tanpa adanya diskriminasi dan ketidakadilan.
2.Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Pendidikan Islam Multikultural Terhadap Sikap Al Rahmah
Dua istilah pendidikan dan multikultural bergabung untuk mendefinisikan pendidikan multikultural. Pendidikan adalah proses pengembangan sikap dan perilaku seseorang dalam upaya pendewasaan melalui proses pengajaran, pelatihan, dan pendidikan. Sebaliknya, keberagaman budaya adalah definisi multikultural. Proses mendorong seseorang untuk berperilaku menghargai keberagaman akibat keberagaman suku, suku, budaya, dan agama dikenal dengan istilah pendidikan multikultural. Oleh karena itu, pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pengajaran yang bertujuan untuk menjunjung tinggi dan menghormati nilai-nilai yang melekat pada semua orang. [38]
Istilah multikultural selalu melekat dengan pendidikan yang memiliki makna secara luas bahwa multibudaya merupakan suatu pengakuan, penghargaan dan keadilan terhadap etnik minoritas baik yang menyangkut hak unuversal yang melekat pada hak individu maupun komunitasnya ya g bersifat kolektif dalam mengekspresikan kebudayaan.
Multikultural sangat penting dikembangkan dalam masyarakat yang sangat majemuk seperti di Indonesia, bahkan multikultural harus dijadikan sebagai sikap yang baik, sebab pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia berlangsung di masyarakat yang multikultural. Maknanya adalah pendidikan disajikan harus merata baik perlakuan maupun kesempatan yang sama diterima oleh para peserta djdik yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Pendidikan berbasis multikultural adalah suatu proses transmisi nilai, pengetahuan, sikap dan perilaku yang diarahkan kepada individu atau kelompok dalam suatu masyarakat yang bertujuan agar tetap menghormati keragaman kultural yang bersumber dari perbedaan suku, ras dan agama.
Pada pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan multikultural beragama, sangat penting untuk ditanamkan dalam hati. Alasan utama kepala sekolah menilai pendidikan karakter begitu penting, terutama di era digital saat ini, adalah karena hal tersebut menimbulkan ancaman bagi lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan tingkat toleransi yang tinggi terhadap rekan kerja dan guru di lingkungan sekolah. Penerapan kepemimpinan kepala sekolah dalam praktik multikultural agama merupakan upaya untuk meningkatkan kesetaraan dan mutualitas di kalangan siswa SMP Negeri 15 Surabaya serta memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjalankan aktivitas keagamaannya masing-masing. Guru sekolah, siswa, dan staf mengakui keberadaan agama dan menghormati hak umat beragama untuk menghayati dan mengamalkan tradisi agamanya masing-masing. [39]
Melalui observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada bapak Darsono, selaku kepala SMP Negeri 15 Surabaya dapat diketahui bahwa:
“pada pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam menerapkan multikultural beragama terhadap pembentukan sikap Al-Musawah dan Al-Rahmah peserta didik dilaksanakan dalam bentuk program-program yang telah ditetapkan oleh sekolah”.
Sikap Al Rahmah merupakan Empati, yaitu sikap mental yang membuat seseorang mengidentifikasi diri dengan keadaan orang atau kelompok lain, identik dengan kasih sayang. Kaitannya dengan kasih sayang, dalam berinteraksi dengan sesama, akhlak juga harus diperlukan. [40] Karena dalam akhlak yang baik akan menghasilkan suatu hubungan sosial yang baik pula dan dapat dipastikan akan menumbuhkan rasa kepedulian dan rasa kasih sayang antar sesama. Jalinan erat silaturrahmi akan menerapkan budi pekerti dan akhlak yang baik sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Dengan adanya rasa kasih sayang tersebut mampu menghilangkan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain. [41] Penerapan pendidikan Islam multikultural terhadap pembentukan sikap Al Rahmah ialah terbentuknya komunitas Jum'at berkah better (Be Nice Together).
Kegiatan komunitas Jum'at berkah di SMP Negeri 15 Surabaya yakni dimulai dengan mengumpulkan barang bekas, setelah semua barang terkumpulkan kemudian dijual dan hasilnya digunakan untuk kegiatan Jum’at berkah. Selain itu, komunitas Jum'at berkah juga membuka donasi yang dapat berupa uang atau makanan. Donasi tersebut dapat disalurkan ke masjid atau diberikan kepada teman-temannya yang biasanya tidak diberi uang saku oleh orangtuanya serta santunan kepada anak yatim. Untuk komunitas Jum'at berkah tersebut terdiri dari OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) dibawah naungan kesiswaan. Pelaksanaan Jum’at berkah yakni setiap hari Jumat dengan sistem bergilir. Sehingga kegiatan tersebut mampu menumbuhkan rasa empati terhadap sesama tanpa memandang suku, ras, etnis, agama.
Keberagaman agama dapat diwujudkan di sekolah melalui pelaksanaan program atau tahapan. agar siswa dapat mempelajari pelajaran agama tambahan selain pelajaran normal di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam menumbuhkan pemahaman antar budaya atau yang bisa disebut multikultural beragama.
3.Hasil Pelaksanaan Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Multikultural Di SMP Negeri 15 Surabaya.
SMP Negeri 15 Surabaya merupakan lembaga pendidikan yang berlokasi di Surabaya Utara. Sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah yang menerapkan multikultural beragama dengan menerapkan sikap Al Musawah dan Al Rahmah. Sikap tersebut diterapkan dan diimplementasikan khususnya dalam lingkungan sekolah yang bertujuan agar peserta didik tidak saling memandang adanya perbedaan diantara peserta didik yang lainnya. Pendidikan multikultural di SMP Negeri 15 Surabaya menentang dan menolak rasisme dan segala bentuk diskriminasi di sekolah dan masyarakat. Pendidikan multikultural yang diterapkan disekolah tersebut memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika“ yang memiliki makna berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Bahwa pendidikan multikultur di SMP Negeri 15 Surabaya menerima dan menghargai pluralisme (etnik, ras, bahasa, agama, ekonomi, gender, dll) dalam lingkungan sekolah serta menuangkan nilai-nilai multikultural.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh pendidik didalam mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah yakni pendidik telah memiliki sikap positif terhadap perbedaan dan keberagaman baik dari sisi gender, suku, ras, bahasa, budaya, dan lain-lain, Mengaitkan presfektif budaya, gender, ras, dan lain-lain ketika mengajarkan suatu topik mata pelajaran tertentu, Menjelaskan bagaiamana suatu pengetahuan atau teori tercipta dengan mengaitkan pengaruh prespektif kondisi budaya, sosial, ekonomi, dan lain-lain ketika pengetahuan tersebut dibangun, Meluruskan sikap negatif terhadap ras, gender, budaya, suku ketika terjadi pada diri siswa, sejawat ketika beraktifitas sehari-hari di sekolah, Memperlakukan semua siswa sama, adil, tanpa pandang bulu dalam proses pembelajaran maupun interaksi aktifitas sehari-hari di sekolah.
Kepala sekolah sangat berharap bahwa penerapan strategi kepemimpinannya akan membuahkan hasil yang positif. Hasil yang baik adalah hasil yang bermanfaat bagi pendidik, peserta didik, dan lembaga pendidikan. [42] Hubungan tersebut mempunyai arti bahwa kepemimpinan dapat dikatakan berhasil jika menghasilkan banyak manfaat atau hasil yang positif. SMP Negri 15 Praktik kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan multikultural agama di Surabaya telah membawa banyak manfaat dan hasil positif. Artinya siswa dan guru mengembangkan rasa toleransi dan saling menghormati terhadap siswa dan guru agama lain, pemahaman siswa terhadap perbedaan semakin dalam, kemampuan bersosialisasi siswa meningkat, dan siswa agama minoritas mengembangkan rasa toleransi dan saling menghargai bagi siswa dan guru agama lain. Mendemonstrasikan penerapan toleransi beragama dalam keberagaman dengan tidak merendahkan kelompok minoritas merupakan salah satu tujuan kepemimpinan kepala sekolah dalam mengadopsi multikultural agama.
Hal ini sesuai dengan temuan peneliti mengenai kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan multikultural agama di SMP Negeri 15 Surabaya. Tingkat toleransi dan rasa hormat terhadap guru dan siswa baik di dalam maupun di luar kelas meningkat secara signifikan setelah kepemimpinan kepala sekolah diterapkan. Terlepas dari perbedaan agama, hubungan baik antar teman sekelas menunjukkan tumbuhnya toleransi dan rasa hormat antar teman yang berbeda agama. Hal ini disebabkan karena sebagai bagian dari program kerja, peserta didik harus memahami secara utuh realitas keberbedaan melalui latihan spiritual yang dijalaninya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan diketahui bahwa SMP Negeri 15 Surabaya setelah menerapkan kebijakan kepala sekolah, siswa lebih memahami keberagaman yang ada di SMP Negeri 15 Surabaya, bahwasannya peserta didik tidak semuanya sama, tidak semua memiliki agama yang sama. Kegiatan keagamaan yang dilakukan secara bersamaan menghasilkan peningkatan pemahaman anak, yang bertujuan untuk mendidik siswa menghargai keberagaman melalui serangkaian kegiatan yang menumbuhkan multikultural.
Sehingga dampak yang dihasilkan adalah meningkatnya rasa percaya diri di kalangan pelajar agama minoritas. Percaya diri merupakan keyakinan seseorang terhadap segala aspek kekuatan dan kemampuannya untuk mencapai berbagai tujuan dalam hidupnya. [43] Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang disampaikan oleh bapak Darsono, diketahui bahwa:
“Siswa non-Muslim mengatakan mereka merasa lebih percaya diri ketika berinteraksi dengan teman sekelas dan guru lainnya. Hal ini dibuktikan dengan kedekatan seluruh guru dengan teman sekelas dan siswanya”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan multikultural beragama terhadap pembentukan sikap Al musawah adalah peserta didik bisa menghargai perbedaan suku, ras, agama dan golongan, Tidak membeda-bedakan teman hanya karena suku, ras, agama dan golongan, Tidak merasa lebih baik dari teman yang lain sehingga memaksakan kehendaknya, Tidak terjadi diskriminasi terhadap siswa. Sedangkan pada sikap Al Rahmah adalah Tidak ada bullying di antara siswa, bersedia memberi dan menerima nasihat serta tumbuhnya rasa simpati dan empati terhadap teman.
Berdasarkan temuan observasi dan wawancara, diketahui bahwa kebijakan kepala sekolah bersifat all-inclusive, yaitu memperlakukan semua orang secara setara tanpa memandang agama. Dengan kebijakan seperti itu, interaksi dan komunikasi siswa menjadi lebih intens, dan siswa mengembangkan sikap sosial yang positif. Kepala sekolah benar-benar memainkan peranan sebagai tokoh bagi para peserta didik untuk menirukan akhlak yang baik. Pendidik di SMP Negeri 15 Surabaya tidak pernah membeda-bedakan peserta didik dalam melakukan pembelajaran, datang tepat waktu, saling menghormati antar sesama guru walaupun berbeda suku, ras ataupun agama, menunjukan rasa cinta kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang. Pendidik harus selalu on the right track, pada jalan yang benar tidak menyimpang dan berbelok, sesuai dengan ajaran agama yang suci, adat istiadat yang baik dan aturan pemerintah. Karena peserta didik selalu menghormati dan mengamati tindakan gurunya. Sehingga diharapkan pendidikan multikultur akan dapat mengantarkan bangsa Indonesia mencapai keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat.
Strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam menerapkan multikultural beragama di SMP Negeri 15 Surabaya terdapat beberapa tahapan yang dilakukan, antara lain: membuat peraturan dan program kerja, membentuk struktur dan penanggungjawabnya, serta memberikan bimbingan kepada seluruh pendidik dan karyawan. Strategi pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah dalam menerapkan multikultural beragama di SMP Negeri 15 Surabaya ialah menerapkan sikap Al Musawah dan Al Rahmah. Penerapan sikap Al Musawah yakni dengan adanya program konselor dengan teman sebaya yang dikomando guru BK yang bertujuan menciptakan suasana belajar yang inklusif dan kondusif yang biasanya disebut dengan pemantik dan pengimplementasian program P5 dimensi khebinekaan global, membuat miniatur rumah dan kampanye menghargai perbedaan. Sedangkan penerapan sikap Al Rahmah ialah terbentuknya komunitas Jum'at Berkah Better (Be Nice Together).
Ucapan Terima Kasih
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam suksesnya penelitian artikel ini. Terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan yang tak ternilai, serta kepada teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung dan memberikan semangat. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua responden dan sumber data yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanpa dukungan dan kerja sama dari kalian, tesis ini tidak mungkin dapat terwujud. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
W. C. K. D. I. Fauji, “Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam untuk Menanamkan Kecerdasan Spiritual dalam Mematuhi Peraturan Sekolah,” Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, vol. 24, no. 1, pp. 408–414, 2024.
D. A. D. Siti Humaeroh, “Peran Pendidikan Kewarganegaraan di Era Globalisasi dalam Pembentukan Karakter Siswa,” Journal on Education, vol. 3, no. 3, pp. 216–222, 2021.
T. R. N. Aulia, Himpunan Perundang-Undangan Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Bandung, Indonesia: Nuansa Aulia, 2012.
S. Nurhasanah, “Integrasi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk Membentuk Karakter Toleran,” Al-Hasanah: Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 6, no. 1, pp. 133–151, 2021.
M. Amin, “Pendidikan Multikultural,” Jurnal Pilar: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, vol. 9, no. 1, 2018.
Rois, “Pendidikan Islam Multikultural Telaah Pemikiran Muhammad Amin Abdullah,” Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, vol. 8, no. 2, pp. 302–322, 2013.
Wahid, “Konsep Pendidikan Multikultural dan Aplikasinya,” Istiqra’, vol. 3, no. 2, pp. 287–294, 2016.
Murzal, “Nilai Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah,” Jurnal Kalam, vol. 6, no. 2, 2018.
Abdullah, Pendidikan Agama Era Multikultural-Multireligius. Jakarta, Indonesia: Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), 2005.
N. Hidayati, “Peran Pendidikan Kepramukaan Sebagai Media Pembentukan Karakter Kepemimpinan Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Riset Madrasah Ibtidaiyah, vol. 1, no. 1, pp. 11–20, 2021.
E. Marfinda, “Manajemen Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Peran Komite Sekolah Terhadap Kinerja Guru,” Academia: Jurnal Inovasi Riset Akademik, vol. 2, no. 3, pp. 238–248, 2022.
S. Julaiha, “Konsep Kepemimpinan Kepala Sekolah,” Tarbiyah wa Ta'lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 6, no. 3, 2019.
Fatmawati, “Komunikasi Organisasi dalam Hubungannya dengan Kepemimpinan dan Perilaku Kerja Organisasi,” Jurnal Revorma, vol. 2, no. 2, 2022.
Bawamenewi, “Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kedisiplinan Guru dan Siswa di SMA Negeri 1 Lolofitu Moi,” Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, vol. 4, no. 1, 2021.
D. I. M. Wiratnaya, “Evaluasi Pelaksanaan Program Penguatan Pendidikan Karakter,” Jurnal Administrasi Pendidikan Indonesia, vol. 11, no. 2, pp. 139–148, 2020.
S. H. D. A. E. D. Wahyuni, “Moderasi Beragama Berbasis Tradisi Pesantren pada Ma’had Aly As’adiyah Sengkang Wajo Sulawesi Selatan,” Jurnal Multikultural & Multireligius, vol. 20, no. 1, 2021.
Halimatussa'diyah, Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Multikultural. Surabaya, Indonesia: CV Jakad Media Publishing, 2020.
D. Helsi Arista, “Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik (Input, Proses dan Output),” Kharisma: Jurnal Administrasi Pendidikan Islam, vol. 2, no. 1, 2023.
M. D. M. Ansori, “Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Menerapkan Pendidikan Karakter Bagi Siswa (Studi SMK Bhakti Mulia Pare),” Dirasah, vol. 4, no. 2, pp. 135–155, 2021.
L. F. A. Zulmin, “Strategi Kepala Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik di MTs Negeri 1 Malang,” Skripsi, Universitas Islam Malang, Malang, Indonesia, 2022.
I. R. D. E. Roesminingsih, “Strategi Kepala Sekolah dalam Membentuk Karakter Pemimpin pada Peserta Didik di SD Al-Falah Surabaya,” Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan, vol. 10, no. 3, 2022.
Sholikhah, “Statistik Deskriptif dalam Penelitian Kualitatif,” Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, vol. 10, no. 2, pp. 342–362, 2016.
Musfiqon, Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta, Indonesia: Prestasi Pustaka Publisher, 2012.
U. D. O. Arifudin, “Analisis Teori Taksonomi Bloom pada Pendidikan di Indonesia,” Jurnal Al-Amar (JAA), vol. 4, no. 1, pp. 13–22, 2023.
Annisa Fauzia, “Analisis Pendidikan Karakter Novel Eiffel Cooking Battle dan Relevansinya dengan Materi Pembelajaran PKn Sekolah Dasar,” Borobudur Educational Review, vol. 2, no. 1, pp. 40–49, 2022.
S. A. A. D. M. Fauzi, “Peran Guru Sebagai Fasilitator dalam Pembelajaran di Kelas V Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), vol. 4, no. 3, pp. 2492–2500, 2022.
M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldana, Qualitative Data Analysis. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2021.
Nanda Rahayu Agustia, “Pendidikan Multikultural Perspektif Filsafat Pendidikan Islam,” At Turots: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 5, no. 1, 2023.
D. B. Haryanto, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Sidoarjo, Indonesia: Nizamia Learning Center, 2021.
M. Agustin, “Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru di Lembaga Islam,” Jurnal Studi dan Pendidikan Agama Islam, vol. 2, no. 2, 2023.
M. Asror, “Muhamad Asror,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 1, no. 1, 2022.
Mizanul Hasanah, “Analisis Strategi Perencanaan Mutu Satuan Pendidikan di Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia,” Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, vol. 5, no. 2, 2022.
O. Farhurohman, “Faktor Kunci Keberhasilan Komponen Penyusunan Manajemen Perencanaan Strategis Sekolah,” Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 77–89, 2017.
D. Sishadiyati, “Model Learning Organization dan Dynamic Capability dalam Pembaharuan Manajemen Inovasi di Perguruan Tinggi,” Dinamika Administrasi: Jurnal Ilmu Administrasi dan Manajemen, vol. 2, no. 2, 2019.
Baslini, “Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Manajemen Pendidikan,” Journal of Innovation in Teaching and Instructional Media, vol. 2, no. 2, pp. 109–115, 2022.
D. Yesi Arikarani, “Konsep Pendidikan Islam dalam Penguatan Moderasi Beragama,” Edification Journal: Pendidikan Agama Islam, vol. 7, no. 1, 2024.
D. Okpatrioka, “Inovasi Penanaman Karakter Gotong Royong Berbasis Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Jenjang Sekolah Dasar,” Garuda: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Filsafat, vol. 1, no. 3, pp. 105–118, 2023.
Muliadi, “Urgensi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Sekolah,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 1, no. 1, 2012.
Z. Hairil Wadi, “Implementasi Multikultural Antar Umat Beragama Sebagai Perwujudan Karakter di SMP 2 Lingsar,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, vol. 4, no. 1, 2019.
Munif, Multikulturalisme dalam Pendidikan Madrasah Nilai, Implikasi dan Model Pengembangannya. Surabaya, Indonesia: Imtiyaz, 2016.
D. Mutia Putri, “Manajemen Kesiswaan Terhadap Hasil Belajar,” JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), vol. 6, no. 2, pp. 119–125, 2021.
T. N. D. N. Fitria, “Pengembangan Kepercayaan Diri Melalui Metode Show and Tell pada Anak,” Jurnal Anak Usia Dini Holistic Integratif, vol. 3, no. 1, 2020.