Wirawan (1), Rindaningsih (2)
General Background Modern educational administration increasingly shifts toward integrating human values to nurture individual potential and school culture. Specific Background Although humanistic values are widely advocated, clear practical frameworks for principal leadership in secondary schools remain limited. Knowledge Gap Existing literature lacks empirical operational models detailing bottom-up humanistic management practices within school governance. Aims This study describes humanistic management implementation at SMP Muhammadiyah Plus Mojokerto and derives a practical operational model. Results Qualitative phenomenological evidence demonstrates that principal leadership incorporates integrity, comprehensive knowledge, human dignity, professional development, transcendence, and school sustainability through bottom-up decision-making. Novelty The research establishes a structured framework combining participatory governance, positive discipline, and stakeholder involvement in planning, execution, and evaluation. Implications Educational leaders can adopt this model to strengthen institutional capacity, cultivate supportive learning environments, and improve student character development.
School leaders execute humanistic management across integrity, human dignity, professional development, and sustainability.
Policy formulation relies on bottom-up collaboration involving teachers and administrative staff in planning, execution, and evaluation.
The approach fosters internal positive discipline and enhances institutional reputation alongside student character growth.
Keywords : Humanistic Management, School Leadership, Educational Governance, Participatory Decision-Making, Academic Institutional Development
Dalam lanskap pendidikan yang dinamis, paradigma manajemen sekolah telah mengalami perkembangan yang signifikan. Pendekatan otoritarian tradisional telah memberi jalan bagi metodologi yang lebih inklusif dan berpusat pada manusia [1]. Para ahli telah menyatakan berbagai pengertian manajemen, di antaranya George Terry menyatakan manajemen adalah mencakup kegiatan untuk mencapai tujuan, dilakukan oleh individu-individu yang menyumbangkan upayanya yang terbaik melalui tindakantindakan yang telah ditetapkan sebelumnya [2]. Manajemen jika dilaksanakan di organisasi pendidikan maka disebut manajemen sekolah. Manajemen sekolah meliputi manajemen pembelajaran, manajemen administrasi dan keuangan sekolah, manajemen sumber daya manusia pada guru, tenaga pendidikan dan peserta didik, manajemen pemasaran, manajemen hubungan masyarakat, manajemen sarana dan prasarana sekolah [3]. Fungsi manajemen sekolah, sebagaimana fungsi manajemen yang umum, adalah: Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Kepegawaian (Staffing), Motivasi (Motivating), Pengawasan (Controlling) [4]. Pendidikan sendiri merupakan suatu konsep pendidikan humanistik (humanisasi), artinya masyarakat menerima pendidikan untuk mewujudkan kehidupan manusia sesuai dengan kebudayaannya. Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk melaksanakan proses belajar manusia. Tanpa pendidikan, masyarakat tentu akan kesulitan dalam melakukan proses realisasi diri sebagai manusia terpelajar dan perlu dididik dan dibimbing [5].
"Manajemen Sekolah Humanis" mewakili perspektif yang mendalam, yang menekankan pembinaan perkembangan holistik, menciptakan budaya sekolah yang positif, dan menempatkan kesejahteraan siswa dan pendidik di posisi terdepan [6]. Melé menyatakan manajemen humanis meliputi: 1) integritas, 2) pengetahuan komprehensif, 3) martabat manusia, 4) pengembangan, 5) kebaikan umum, 6) transendensi (upaya untuk mengarahkan tujuan hidup manusia agar dapat hidup secara bermakna), dan 7) keberlanjutan. Dari pengertian tersebut manajemen humanis adalah manajemen yang menempatkan manusia sebagai pembawa tujuannya, sebagai agen perubahan, dan memanusiakan manusia [7]. Dalam mewujudkan pendidikan yang mencetak generasi bangsa memiliki nilai luhur dan holistik dibutuhkan manajemen pendidikan yang bersifat humanis. Abraham Maslow mengusulkan bahwa manajemen sekolah yang humanis harus memahami hierarki kebutuhan siswa, yang mencakup kebutuhan fisik, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Manajemen sekolah yang efektif harus membantu siswa memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini agar mereka dapat mencapai potensi penuh mereka [8]. Carl Rogers berpendapat bahwa manajemen sekolah yang humanis harus berfokus pada pemahaman dan dukungan terhadap kebutuhan individu siswa. Dalam pandangan Rogers, guru dan administrator sekolah harus menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan perkembangan siswa, di mana mereka merasa didengar, diterima, dan dihargai [9]. Nel Noddings menekankan pentingnya empati dan perhatian dalam manajemen sekolah. Menurutnya, manajemen sekolah yang humanis melibatkan hubungan yang peduli antara guru, administrator, dan siswa. Hal ini menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan moral dan sosial siswa [10]. Pendidikan humanistik adalah pendidikan yang bersifat humanistik dan memberikan ruang bagi pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan persepsi hidup. Pendidikan yang humanis menekankan nilai-nilai sosial dan spiritual serta menekankan pada pengembangan karakter siswa. Tentu saja pendidikan humaniora harus diterjemahkan sebagai pendekatan yang mencakup seluruh elemen pendidikan, mulai dari pengambil kebijakan, organisasi, masyarakat, guru dan tenaga kependidikan, hingga peserta didik yang merupakan pusat jagat pendidikan [11]. Dalam mewujudkan manajemen humanis di sekolah, kepala sekolah memiliki peran penting dalam memilah dan memilih manajemen yang humanis yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan sekolah. Dalam pelaksanaan di lapangan ditemukan pendekatan humanis dianggap baru untuk diterapkan oleh para pemimpin sekolah di Indonesia. Sebagian besar kepala sekolah di Indonesia menggunakan label pendekatan humanis, tetapi tidak ada pendekatan kepemimpinan yang jelas dalam aplikasi praktisnya, sehingga membingungkan kepala sekolah lainnya untuk melaksanakannya [12].
Pada penelitian terdahulu ditemukan bahwa strategi penerapan pendidikan humanistik di MTs Wahid Hasyim Dau dilaksanakan melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pendidikan di sekolah serta manajemen dan budaya kerja di sekolah. Hal ini sejalan dengan temuan Reza Armin Abdullah Dalimunthe tentang strategi penerapan pendidikan karakter di sekolah, dalam empat bentuk, yaitu: 1) mengintegrasikan nilai dan etika ke dalam mata pelajaran; 2) internalisasi nilai-nilai positif yang ditanamkan pada seluruh warga sekolah; 3) sosialisasi dan pelatihan, pemberian contoh dan model; 4) menciptakan dan membina suasana sekolah. [13]. Sekolah Dasar Kreativa mewujudkan pembinaan akhlak Islami siswanya dengan menerapkan lima pilar: Islami, ramah lingkungan, kepemimpinan, ramah anak dan inklusif sebagai landasan pelaksanaan program pendidikan sekolah. Keberhasilan implementasi kelima pilar untuk mencapai tujuan sekolah juga didukung oleh faktor-faktor yang mendukung terlaksananya program pendidikan di SD Kreativa antara lain sumber daya manusia, dukungan orang tua dan dukungan dana. Penerapan lima pilar SD Kreativa berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran. Hasil dari konsistensi penerapan 5 pilar sekolah terlihat melalui prestasi yang diraih sekolah dan siswanya. Selain itu juga terlihat dampak belajar di SD Kreativa terhadap kepribadian dan kebiasaan siswa di sekolah dan di rumah. Siswa lebih percaya diri, lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, dan lebih aktif dalam belajar dan beribadah. Selain itu, siswa juga lebih memperhatikan lingkungan disekitarnya [14]. MAN 4 Bantul menerapkan manajemen sekolah yang humanis dengan melaksanakan program sekolah yang sesuai untuk anak yang pengelolaannya meliputi: 1) menyusun program kerja dan menetapkan anggaran; 2) membentuk struktur organisasi yang tim beranggotakan guru dan staf untuk melaksanakan program kerja sesuai bidangnya masing-masing, di bawah pengawasan langsung kepala madrasah melalui rapat koordinasi; 3) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program ramah anak oleh GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) yang telah dilatih sebelumnya; 4) menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk menjamin keselamatan anak dan mengembangkan keterampilan dan soft skillnya; 5) menyediakan ruang partisipatif bagi anak untuk merasakan, mengevaluasi dan berkontribusi terhadap program sekolah ramah anak; 6) melibatkan orang tua/wali dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sekolah ramah anak; 7) Secara berkala dan berkala melakukan evaluasi dan koordinasi dengan baik terhadap pengelolaan sekolah ramah anak, sehingga apabila terdapat permasalahan dalam pengelolaan sekolah ramah anak dapat segera diselesaikan dan dicarikan solusi terbaiknya. [15]. Dari penelitian terdahulu belum ada yang menemukan model manajemen humanis yang diterapkan di sekolah.
SMP Muhammadiyah Plus kabupaten Mojokerto berdiri sejak tahun 2014 memiliki prestasi sebagai sekolah lulusan Ujian Nasional Berbasis Komputer se kabupaten Mojokerto di tahun 2017. Pada tahun 2022 merupakan sekolah yang melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri berbagi. Sekolah ini telah melaksanakan manajemen sekolah humanis sehingga menghasilkan lingkungan sekolah yang nyaman bagi GTK dan para peserta didik. Sisi humanis di SMP Muhammadiyah Plus ditunjukkan dengan penggunaan motto SEMAKIN PEDULI yang memberikan brand awareness bagi warga sekolah bahwa mereka masuk dalam area yang mengajarkan kepedulian bagi guru terhadap sesama rekan kerja dan kepada murid, serta bagi murid adalah kepedulian kepada sesama teman belajar dan kepada guru. Manajemen humanis di SMP Muhammadiyah Plus dimulai dari Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah mengajak guru dan tenaga kependidikan serta komite sekolah untuk merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah. Guru dan tenaga kependidikan diperbolehkan membawa anak yang masih balita jika tidak ada yang menjaganya di rumah. Selain itu di SMP Muhammadiyah Plus tidak ada PR atau tugas yang harus dikerjakan di rumah. Pembuatan jadwal pelajaran disesuaikan dengan jadwal shalat dhuhur dan ashar sehingga memungkinkan warga sekolah ikut shalat berjamaah di masjid Al Basith yang letaknya satu lokasi dengan sekolah. Guru juga mengontrol ibadah shalat wajib di rumah. Dalam proses pembelajaran guru membagi kelompok yang isinya heterogen dalam hal kemampuan peserta didik, sehingga peserta didik yang mengalami hambatan dapat lebih terbantu dengan temannya yang lebih baik dalam pemahaman belajarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi manajemen humanis di SMP Muhammadiyah Plus kabupaten Mojokerto sehingga dapat ditemukan model pelaksanaan manajemen humanis di sekolah yang sesuai dengan pendapat para ahli tentang manajemen humanis yang dapat diimplementasikan di sekolah atau dapat dijadikan kajian awal dalam penelitian berikutnya.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi. Metode penelitian kualitatif fenomenologi dapat diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal. Fenomenologi adalah studi yang dirancang untuk memahami pengalaman subjektif, pengalaman hidup, dan perspektif partisipan. Penelitian ini fokus pada fenomenologi, pada berbagai individu dan pengalaman mereka [16].
Pengumpulan data penelitian ini adalah dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil [17]. Teknik wawancara yang digunakan adalah terstruktur dan semi terstruktur. Wawancara terstruktur untuk mendapatkan informasi model pelaksanaan manajemen humanis di SMP Muhammadiyah Plus. Wawancara semi terstruktur untuk mengetahui dampak dari pelaksanaan manajemen sekolah humanis di SMP Muhammadiyah Plus. Panduan observasi digunakan agar peneliti melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Pedoman observasi disusun berdasarkan hasil observasi untuk melihat dan mengamati semua tindakan dan peristiwa secara langsung. Menurut Suharsini Arikunto [18], metode dokumentasi ialah metode mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, buku, transkip, surat kabar,prasasti, majalah, notulen rapat, agenda serta foto-foto kegiatan. Metode dokumentasi dalam penelitian ini, dipergunakan untuk melengkapi data dari hasil wawancara dan hasil pengamatan (observasi).
Analisis data dalam penelitian kualitatif fenomologi ini menggunakan triangulasi data. Menurut Sugiyono [17] triangulasi data merupakan teknik pengumpulan data yang sifatnya menggabungkan berbagai data dan sumber yang telah ada. Triangulasi data merupakan teknik pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Maka terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan triangulasi waktu.
Penerapan manajemen sekolah yang humanis diawali dengan profil dan karakter Kepala sekolah yang humanis sehingga menghasilkan kebijakan yang humanis dalam manajemennya. Kepala sekolah dinilai oleh guru di SMP Muhammadiyah Plus adalah sosok pemimpin berintegritas yang jujur terlihat dari manajemen keuangan disampaikan secara terbuka dan semua guru dan tenaga kependidikan dilibatkan dalam pembuatan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah tiap awal pelajaran. Dalam pelaporan kegiatan Kepala sekolah juga menyampaikan bukti belanja sekolah yang bisa diakses oleh semua guru dan tenaga kependidikan. Kegiatan sekolah juga berjalan sesuai RKAS dengan penyesuaian yang diketahui oleh semua guru dan tenaga kependidikan. Apa yang disampaikan Kepala sekolah dalam rapat koordinasi atau komunikasi dalam grup whatsapp dilaksanakan sesuai apa yang beliau sampaikan sehingga responden menilai konsistensi Kepala sekolah pada apa yang diucapkan sama dengan apa yang dilakukan. Kepala sekolah aktif dalam kegiatan MKKS serta dalam organisasi Muhammadiyah juga aktif sebagai anggota LPPK Pimpinan Daerah Muhammadiyah, sehingga SMP Muhammadiyah Plus selalu update pada kegiatan kedinasan serta organisasi Muhammadiyah. Dari responden guru juga ditemukan informasi bahwa Kepala sekolah bersedia menanggung resiko atas tindakan yang dilakukan guru dalam menjalankan tugasnya selama guru tersebut menjalankan sesuai instruksi Kepala sekolah. Hal ini membuat guru merasa tenang dalam menjalankan tugasnya. Dari data simPKB Kepala sekolah juga tercatat sebagai Pengajar Praktik Program Guru Penggerak Angkatan 9 tahun 2023-2024 serta sebagai Narasumber Praktik Baik Platform Merdeka Mengajar sehingga mengarahkan kebijakan di SMP Muhammadiyah Plus sesuai dengan aturan Kurikulum Merdeka. Dalam hubungan kemasyarakatan Kepala sekolah sebagai pengajar kajian di masjid Al Muqorrobin serta dipercaya menjadi khatib di masjid Al Basith sehingga masyarakat memandang beliau sebagai sosok yang mentaati norma yang berlaku di masyarakat. Responden dari guru menyatakan dia pernah mohon ijin undur diri karena harus merawat putranya yang masih balita, di luar dugaan guru tersebut, Kepala sekolah meberikan solusi dengan mengajak putra sang guru ke sekolah dan diberikan fasilitas untuk guru perempuan satu ruang untuk bisa meletakkan putranya yang masih balita sehingga guru masih bisa mengajar dan mengawasi putranya. Ketika ada peserta didik ketahuan berpacaran maka Kepala sekolah mengajak dialog peserta didik tersebut bersama orangtuanya untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan norma yang diajarkan di SMP Muhammadiyah Plus. Integritas kepala sekolah memotivasi GTK untuk aktif dalam pengembangan diri dan berintegritas melaksanakan tugas secara proaktif dan disertai tanggung jawab. Temuan tersebut sesuai dengan makna integritas yang dijelaskan Redjeki [19] menyatakan penggambaran seseorang yang berintegritas adalah dengan menggambarkan perilaku orang tersebut. Perilaku integritas meliputi: a) kejujuran; b) Konsistensi antara perkataan dan tindakan; c) Mematuhi peraturan dan etika organisasi; d) Menghargai komitmen dan prinsip yang dianggap benar; e) Bertanggung jawab atas tindakan, keputusan dan risiko terkait; f) Kualitas pribadi yang harus dihormati oleh orang lain; g) Secara teratur mematuhi prinsip-prinsip etika yang berlaku di masyarakat; h) Kebijaksanaan membedakan yang benar dari yang salah dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Dari hasil wawancara guru menjelaskan bahwa dalam manajemen sekolah dilaksanakan merancang, mengawal, mensupervisi, mengevaluasi program kerja sekolah sepanjang waktu. Pengetahuan komprehensif dari Kepala sekolah SMP Muhammadiyah Plus tersebut sesuai dengan penjelasan Fathoni [20] bahwa seorang kepala sekolah melakukan tugas-tugas konseptual, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemecahan masalah, dan kerjasama dengan guru dan masyarakat, serta mampu melakukan kegiatan praktis/teknis. Dalam bidang pendidikan, keterampilan teknis mengacu pada kemampuan kepala sekolah dalam menanggapi, memahami, dan memanfaatkan metode yang berkaitan dengan pengetahuan, keuangan, pelaporan, penjadwalan, dan pemeliharaan. Kepala sekolah juga memiliki pengetahuan komprehensif dalam latar belakang pendidikan dan keahlian guru sehingga menempatkan guru sesuai dengan kemampuannya. Rindaningsih [21] menyatakan staf pengajar dan pembelajaran lebih selaras dengan bidang keahlian dan tanggung jawab yang diberikan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi seluruh staf sekolah, baik administrasi maupun pendidikan.
Dalam hal martabat manusia responden menilai manajemen sekolah menghargai guru dan tenaga kependidikan jika melakukan pekerjaan yang baik dengan memberikan insentif tambahan atau mengajak rekreasi bersama keluarga. Peserta didik juga mendapatkan penghargaan walaupun sebuah ucapan selamat jika mendapatkan prestasi dalam lomba atau bidang lainnya. Di sisi lain, ketika ada pelanggaran professional yang dilakukan guru, atau pelanggaran aturan yang dilakukan siswa, Kepala sekolah mengajak bicara dari hati ke hati sehigga guru atau peserta didik yang melakukan pelanggaran memahami kesalahannya dan secara emosional mereka tidak sakit hati atas peringatan dari Kepala sekolah. Butar-butar [22] menyatakan rasa hormat itu penting, terlepas dari peringkat atau posisi kepemimpinan yang dipegang seseorang dalam suatu organisasi. Seorang pemimpin harus menghormati identitas dan afiliasi orang lain. Pemimpin dan bawahan sama-sama mempunyai keinginan alami untuk dihargai dan dihargai.
Di SMP Muhammadiyah Plus terdapat jadwal khusus untuk pengembangan profesi bagi guru untuk melakukan pertemuan belajar yang dikemas dalam Komunitas Belajar (Kombel) SMP Muhammadiyah Plus. Dalam kombel ini guru melaksanakan dua kegiatan: 1) mengerjakan atau mengikuti pelatihan di Platform Merdeka Mengajar, 2) mendiskusikan permasalahan pembelajaran yang mana solusi diputuskan bersama. Pengembangan ini sesuai dengan penjelasan Mulyana [23] bahwa pengembangan profesionalisme dimaksudkan untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan mengajar guru. Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, baik yang diupayakan oleh guru-guru sendiri maupun yang diupayakan oleh pimpinannya (kepala sekolah dan pengawas).
Dalam mencapai tujuan Kepala sekolah menetapkan visi dan misi SMP Muhammadiyah Plus melalui proses penggalian mimpi dan harapan stake holder sekolah, lalu data itu dimusyawarahkan dengan guru dan tenaga kependidikan sehingga visi dan misi yang dihasilkan merupakan harapan bersama dan siap diwujudkan bersama. Transendensi dalam mencapai tujuan sekolah ini sesuai penjelasan Abdul Aziz et al. [24] bahwa Kepala sekolah memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sekolah dengan mendorong sekolah mencapai tujuannya. Peran kepala sekolah adalah: Mempengaruhi guru agar melaksanakan tugasnya dengan hati dan semangat. Sebagai seorang pemimpin, bawahannya dalam organisasi, dalam hal ini organisasi sekolah, mengharapkan pemimpin mampu mengarahkan tercapainya tujuan sekolah.
Dari keterangan yang dihimpun dari guru dan tenaga kependidikan diketahui bahwa manajemen sekolah telah mengkader empat orang guru untuk bisa menjadi kepala sekolah di periode berikutnya untuk mewujudkan keberlanjutan. Dari kelima guru tersebut sudah ada dua guru yang berhasil menjadi kepala sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Tangunan dan SMP Muhamamadiyah 4 Gedeg. Sedangkan dua guru yang dikader lainnya dipertahankan menjadi wakil kepala sekolah dan koordinator kurikulum di SMP Muhammadiyah Plus. Manajemen sekolah juga melibatkan semua guru dan karyawan berpartisipasi dalam setiap kegiatan sekolah. Pengkaderan ini dapat menjamin keberlanjutan sistem sekolah berjalan secara terarah dan dinamis. Wijaya [25] menjelaskan bahwa kepemimpinan yang partisipatif dan sesuai dengan karakter yang diharapkan bawahannya merupakan kepemimpinan yang efektif dalam mencapai tujuan sekolah.
Dari temuan di atas terdapat model manajemen humanis yang diterapkan di SMP Muhammadiyah Plus yang dimulai dengan perencanaan (planning), Kepala sekolah dalam membuat perencanaan melibatkan guru dan tenaga pendidikan dan menggunakan Rapor Pendidikan sebagai dasar dalam membuat rencana kegiatan sekolah. Kegiatan sekolah juga direncanakan dengan memperhatikan norma norma agama dan kemampuan warga sekolah sehingga kegiatan dapat terlaksana sesuai rencana dan sesuai dengan karakter dan kebutuhan sekolah. Rencana kegiatan sekolah dibuat Dalam pengorganisasian (organizing) kegiatan SMP Muhammadiyah Plus proses penentuan mana yang didahulukan melalui proses musyawarah dan meminta pendapat dari GTK yang berkompeten dalam kegiatan tersebut. Dalam kepegawaian (staffing) diterapkan penempatan GTK sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian GTK sehingga GTK tidak merasa keberatan dengan tugas yang diemban. Kepala sekolah memberikan motivasi (motivating) kepada GTK bahwa dalam bekerja ada tiga macam, yaitu: 1) kerja keras maka dapat rejeki, 2) kerja cerdas maka dapat tambahan rejeki dan 3) kerja ikhlash maka rejekinya diberkahi Allah. Dalam mengontrol (controllong) diterapkan pada pelaksanaan kegiatan dengan observasi dan dokumentasi, adapun setelah kegiatan dilaksanakan evaluasi dan refleksi umtuk kemudian dibuat pertimbangan dalam kegiatan berikutnya.
Dengan demikian pada penelitian tentang manajemen humanis dibutuhkan konsistensi terakit penerapan manajemen humanis di SMP Muhammadiyah Plus. Namun demikian masih terdapat kendala seperti karakter guru yang berbeda-beda sehingga harus menggunakan perlakuan yang berbeda masing masing guru. Hal ini rawan terciptanya kecemburuan beberapa guru. Namun secara umum manajemen humanis telah dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Plus sehingga dalam rapor pendidikan 2024 komponen literasi murid, kemampuan numerasi murid, karakter murid, kondisi keamanan sekolah, kondisi kebhinekaan sekolah dan kualitas pembelajaran mendapatkan nilai baik. Dengan manajemen humanis kepercayaan masyarakat tetap tinggi ditandai dengan pemenuhan rombongan belajar sudah tercapai sebelum memasuki tahun ajaran baru tanpa adanya program gerilya atau memasang banner dalam PPDB setiap tahunnya. Peserta didik juga merasa aman dan nyaman berada di sekolah sehingga lebih memotivasi peserta didik untuk lebih giat dalam belajar.
Dari temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi manajemen humanis di SMP Muhammadiyah Plus telah dilaksanakan oleh kepala sekolah sesuai dengan indikator manajemen humanis. Kepala sekolah beserta GTK berintegritas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya secara proaktif dan bertanggung jawab. Kepala sekolah dan GTK SMP Muhammadiyah Plus memiliki pengetahuan komprehensif sehingga melaksanakan tugas mereka secara efektif dan profesional dengan mengedepankan aspek humanis memberikan kenyamanan pada peserta didik. Manajemen yang diterapkan di SMP Muhamamdiyah Plus memperhatikan aspek perbedaan individu sehingga menumbuhkan rasa dihargai dan aman ketika bekerja dan belajar di SMP Muhammadiyah Plus. Manajemen humanis yang diterapkan di SMP Muhammadiyah Plus memiliki pola sumber kebijakan dari bawah ke atas, pelibatan GTK dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan, menumbuhkan disiplin positif dari dalam diri masing masing kepala sekolah, GTK dan peserta didik SMP Muhammadiyah Plus. Manajeman yang humanis juga diungkapkan oleh guru dan tenaga kependidikan serta peserta didik SMP Muhammadiyah Plus memberikan dampak positif pada brand awareness masyarakat terhadap SMP Muhammadiyah Plus yang ramah anak.
Ucapan Terima Kasih
Terimakasih kami sampaikan kepada Samiasih Wahju Amani sebagai ibu yang selalu mendukung putranya berkembang lebih baik. Serta kepada Triananingsih sebagai istri yang mensuport suaminya untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Tidak tertinggal, Nadhifah Ummu Fatihah, Muhammad Abdillah Al Hani, Muhammad Khalid Al Mubarakfury dan Muhammad Dzulqarnain Al Jawi sebagai anak anak penghias mata.
D. Marita Sari, "Pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional," Turots: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 1, no. 2, pp. 144–169, 2019, doi: 10.51468/jpi.v1i2.13.
D. R. Syahputra and N. Aslami, "Prinsip-prinsip utama manajemen George R. Terry," Manajemen Kreatif Jurnal, vol. 1, no. 3, pp. 51–56, 2023.
M. Rifa’i, Manajemen Organisasi Pendidikan. Medan: Perdana Publishing, 2019.
G. R. Terry and L. W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen, 1st ed. Jakarta: Bumi Aksara, 2019.
U. Lutvaidah, "Pengaruh metode dan pendekatan pembelajaran terhadap penguasaan konsep matematika," Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, vol. 5, no. 3, pp. 279–285, 2016, doi: 10.30998/formatif.v5i3.653.
P. Devi Sri Raso Tampubolon, "Manajemen sekolah terkait analisis pendekatan hubungan manusia terhadap partisipasi guru pendidikan dalam pengambilan keputusan," Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan, vol. 11, no. 2, pp. 447–475, 2023, doi: 10.47668/pkwu.v11i2.756.
D. Melé, "Understanding humanistic management," Humanistic Management Journal, vol. 1, no. 1, pp. 33–55, 2016, doi: 10.1007/s41463-016-0011-5.
H. Maslow, Motivation and Personality. New York: Harper & Row, 1954.
R. Rogers, Freedom to Learn: A View of What Education Might Become. Columbus: Charles E. Merrill, 1969.
N. Noddings, Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education, 2nd ed. Berkeley: University of California Press, 2003.
S. Hudaya and A. Supriyanto, "Pendidikan humanistik holistik sebagai arah konsep pendidikan merdeka belajar di Indonesia," in Seminar Nasional Arah Manajemen pada Masa dan Pasca Pandemi Covid-19, 2020, pp. 292–299.
Y. Rustan, I. Bafadal, I. N. Degeng, and I. Arifin, "Humanistic approach to principals and its impacts in strengthening character education: Lessons from Indonesia," International Journal of Innovation, Creativity and Change, vol. 19, no. 9, pp. 1–15, 2019.
M. E. Nasrulloh and Y. Amirudin, "Strategi implementasi pendidikan humanis di MTs Wahid Hasyim Dau Malang," Andragogi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, vol. 1, no. 1, pp. 30–42, 2019, doi: 10.33474/ja.v1i1.2784.
Sugianto, G. H. Laihad, and S. Harijanto, "Manajemen sekolah berbasis 5 pilar: Islamic, green, leadership, children friendly, dan inclusive untuk mengembangkan akhlak islami peserta didik," Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 8, no. 2, pp. 64–69, 2020, doi: 10.33751/jmp.v8i2.2755.
F. Rahmawati and Supriyoko, "Manajemen program sekolah ramah anak dalam upaya pembentukan karakter siswa di MAN 4 Bantul Yogyakarta," Media Manajemen Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 182–193, 2022, doi: 10.30738/mmp.v4i2.8006.
M. Machfudz, V. M. Ekowati, and A. S. Supriyanto, Metodologi Penelitian Kualitatif (Dilengkapi dengan Contoh 'Riset' Fenomenologi). Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2016.
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta, 2015.
S. Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Rev. ed. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.
P. S. Redjeki and J. Heridiansyah, "Memahami sebuah konsep integritas," Jurnal STIE Semarang, vol. 5, no. 3, pp. 1–14, 2013.
T. Fathoni, "Strategi pembinaan dan pengembangan kepala sekolah," Global Education Journal, vol. 2, no. 1, pp. 63–71, 2024.
Rindaningsih, "Manajemen pendidikan berbasis Islam," Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 30–39, 2024.
G. M. Butar-butar, M. Y. Purba, L. Manik, and S. A. Manalu, "Hospitalitas kepemimpinan kristiani dalam falsafah elek marboru: Formasi spiritualitas pemimpin yang menghargai bawahan," Kurios: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, vol. 9, no. 2, pp. 512–524, 2023, doi: 10.30995/kur.v9i2.243.
Y. Mulyana, "Peran kepala sekolah dasar dalam pengembangan profesionalisme guru," Educational and Learning Journal, vol. 15, no. 1, pp. 165–175, 2016.
S. Abdul Aziz and M. Safwandy Nugraha, "Model keefektifan kepemimpinan kepala sekolah berbasis transendensi dalam meningkatkan kinerja guru di MA Azzainiyyah Sukabumi," Journal of Humanities and Social Studies, vol. 1, no. 1, pp. 137–149, 2023.
H. A. Wijaya, "Kepemimpinan partisipatif dalam meningkatkan mutu sekolah," Jurnal Education and Development, vol. 6, no. 1, pp. 8387–8391, 2023.