Login
Section Innovation in Education

The The Role Of Supervision As A Strategy To Improve The Quality Of Islamic Education In Muhammadiyah 4 Zamzam Sukodono Sidoarjo

Peran Supervisi Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Islam Di Sd Muhammadiyah 4 Zamzam Sukodono Sidoarjo
Vol. 27 No. 2 (2026): April:

Satrio Ryan Ramadhan (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Manajemen Agama islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Educational supervision operates as a fundamental instrument to monitor learning achievements and shape student character within Islamic primary institutions. Specific Background Implementation at SD Muhammadiyah 4 Zamzam Sukodono involves periodic administrative and academic evaluations conducted twice annually by school leadership. Knowledge Gap Existing literature lacks comprehensive insight into how collaborative supervisory frameworks specifically resolve internal coordination barriers and infrastructure constraints. Aims This study investigates the role of supervision as a strategic approach to improve educational quality and identifies supporting and inhibiting factors. Results Qualitative findings reveal that systematic supervision successfully upgraded curriculum management, learning processes, administrative services, and school infrastructure. Novelty The research demonstrates that leadership-driven collaborative supervision directly mitigates institutional constraints through structured planning, classroom observation, and reflective evaluation. Implications Educational institutions must integrate collaborative supervisory practices with enhanced stakeholder coordination to achieve optimal institutional standards and sustainable academic development.


Key Findings Highlights

Systematic supervision execution by school leadership significantly drives improvements across curriculum management, learning processes, and administrative services.


Collaborative planning, classroom observation, and reflective evaluation serve as core mechanisms for maintaining educator professionalism.


Insufficient coordination spaces and limited facility infrastructure represent primary internal obstacles to optimizing supervisory execution.


Keywords : Educational Supervision, Islamic Education Quality, School Leadership Strategy, Collaborative Evaluation, Primary School Management

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Sekolah, pesantren sampai perguruan tinggi menjadi objek perhatian baik dibawah naungan pemerintah ataupun swasta, instansi pendidikan seharusnya membutuhkan manajemen yang tepat guna dalam aktualisasinya. Peneliti akan menelaah objek pembahasan yang merujuk pada manajemen sekolah penyelenggaran pada setiap institusi Pendidikan untuk manajemen sekolah yang dijalankan. fungsi tersebut telah cukup meliputi berbagai aktifitas manajerial dengan memadukan Sumber daya manusia material untuk mencapai tujuan, ada beberapa Fungsi manajerial diantaranya perencanaan , Kordinasi, Pergerakan, komunikasi, kepemimpinan,dan pengawasan .[1]

Supervisi dalam pengelolaan manajemen di sekolah sangatlah diperlukan karena salah satu strategi untuk menghindari kesalahan dari segi pemikiran terhadap pengelolaan yang ada didalam antara lain yaitu (kualitas, jumlah kualitas SDM, keuangan, kualitas sarana peralatan, fasilitas staf dan informasi), begitu juga pengawasan terhadap pengelolaan aktifitas mulai dari penjadwalan hingga ketetapan pelaksanaan kegiatan, sedangkan dalam pengawasan

Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License

(CC BY). The use, distribution or reproduction in other forums is permitted, provided the original author(s) and the copyright owner(s) are credited and that the original publication in this journal is cited, in accordance with accepted academic practice. No use, distribution or reproduction is permitted which does not comply with these terms.

terhadap pengeluaran (target standar produk). Sasaran pengawasan bertujuan untuk mewujudkan efektifitas ketentuan, keterlibatan dan efesiensi program, Hasil dari pengawasan bisa dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan untuk beberapa tujuan yaitu [2] :

  1. Menghentikan penyelewengan, pemborosan serta penyimpangan yang terjadi
  2. Untuk Mencegah Tindakan penyimpangan, pemborosan dan pemborosan agar tidak terulang kembali

Dalam penerapan, supervisi akademik perlu untuk diperhatikan langkah yang benar untuk tercapainya keberhasilan dalam penerapannya. pernyataan yang diteliti oleh Yari Dwikurnaningsih (2018) menyampaikan dalam penerapan supervisi akademik dengan pendekatan berkolaborasi oleh Kepala Sekolah sehingga dapat mengembangkan kualitas Pembelajaran yang diterapkan oleh guru. keberhasilan supervisi dalam bidang akademik dapat tercapai melalui Langkah-langkah yaitu :

  1. Merencanakan, yaitu melakukan komunikasi yang berawal dari supervisi dengan guru dalam membimbing untuk mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / RPP .
  2. Penerapan supervisi, Supervisi melakukan pengawasan di kelas serta dilanjutkan menganalisis serta interpretasi hasil observasi
  3. Refleksi, yaitu komunikasi akhir serta evaluasi, analisis dan diskusi.

Pendidikan Islam merupakan satuan Lembaga Pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama islam lewat suatu Pendidikan di pesantren maupun sekolah. Dalam pengelolahan Lembaga Pendidikan islam perlu adanya pengawasan atau kontrol dari seorang supervisi. Dalam pengawasan proses operasional sekolah mulai dari manajerial, akademik, keamanan dan lain-lain. Dengan hal tersebut sebagai strategi untuk meningkatkan mutu Pendidikan Islam dan juga untuk mengetahui beberapa faktor yang menjadikan penghambat dalam meningkatkan mutu Pendidikan Islam.

Supervisi pendidikan berfungsi untuk mengoptimalkan sistem pendidikan di sekolah. Namun saat penerapannya, supervisi pendidikan masih terdapat kekurangan seperti pengawas atau supervisior belum bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal, minimnya kesadaran tentang pentingnya supervisi pendidikan untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. [3]

Dalam Lembaga Pendidikan khususnya di sekolah, Peran kepala sekolah sebagai supervisor menjadi penentu kualitas dari Seorang guru untuk memotivasi, membimbing serta mengkoordinasi secara berkelanjutan perkembangan potensi yang mereka miliki di sekolah, agar lebih efektif dalam mewujudkan keseluruhan fungsi pengajaran hingga mampu mengembangkan proses Pendidikan yang lebih baik. Kemajuan Pendidikan bisa dilihat lewat kemampuan dari Masyarakat yang ada di Lembaga tersebut untuk menangkap proses informatisasi dan kemajuan teknologi.[4]

Usman (2013) mengungkapkan bahwa macam-macam pengawasan terbagi menjadi 2 macam yaitu :

1. Pengawasan Internal

Dalam Pengawasan internal supervisor mengambil penilaian secara menyeluruh dan sistematis dalam pelaksanaan dan pengendalian organisasi. Pengawasan internal yang dilakukan yaitu memberikan bantuan kepada manajemen dalam menganalisis dan mengidentifikasi sekaligus merekomendasikan permasalahan ataupun potensi kegagalan sistem dari sebuah program.

2. Pengawasan Eksternal

Dalam Pengawasan eksternal adalah bertujuan untuk peningkatan kredibilitas keberhasilan dan kemajuan organisasi. Pelaksanaan pengawas eksternal menerapkan prinsip kemitraan (partnersahip) yaitu antara pengawas dengan yang diawasi.

“Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Putri Setyawati pada tahun 2020 menyebutkan bahwa pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 002 Kec. Loa Janan Kab. Kutai Kartanegara dalam Pengawasan akademik berkaitan dengan pembinaan kepada guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran atau membimbing kualitas hasil belajar siswa. Selanjutnya faktor penghambat mutu pendidikan adalah kurangnya sarana dan prasarana yang ada, rendahnya kualitas guru di sekolah dan rendahnya prestasi siswa, serta kurangnya sarana fisik antara lain yaitu gedung yang rusak, penggunaan media belajar yang rendah serta buku perpustakan yang tidak lengkap. Terakhir rendahnya prestasi siswa, dengan keadaan yang demikian itu sehingga pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak maksimal dan memuaskan. Hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.” Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendiskripsikan peran supervisi dalam meningkatkan mutu, dan juga untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam peningkatan mutu pendidikan serta mengetahui cara mengatasi dan cara penyelesaian dari sebab dan akibat penghambat dalam peningkatan mutu Pendidikan Islam.[5]

Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh moh. Adib bahwa tujuan dari penilitian ini pimpinan madrasah menganalisis kebutuhan pembelajaran, perangkat pembelajaran, pelaksanaan supervisi serta tindak lanjut setelah supervisi di MI Al- Huda Pacitan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, berdasarkan hasil pengumpulan data bahwa menemukan temuan yang pertama, yaitu : a) menganilisis harapan para pemangku kepentingan, b) menganilisis karakter peserta didik, c) menganilisis media pembelajaran. Yang kedua, supervisi perangkat pembelajaran sebelum pelaksanaan pembelajaran. Yang ketiga, melakukan kunjungan kelas, observasi kelas dan rapat guru. Yang keempat, pembinaan langsung, dan pemantapan berupa penugasan penelitian.[6]

II. Metode

Lokasi penelitian ini adalah Sekolah SD Muhammadiyah 4 zam-zam Sukodono , yang beralamat di Dsn. Kedung RT. 21 – RW.06 Ds. Jumputrejo, Kec. Sukodono, Kab. Sidoarjo. Proses pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan mengunjungi dan observasi langsung di tempat penelitian. Proses pengumpulan data merupakan proses yang penting untuk meneliti suatu penelitian. Proses penelitian menurut Miles dan Huberman teknik analisis data kualitatif meliputi mengumpulkan data, mereduksi data, Menyajikan model data, dan penarikan kesimpulan dan Menurut Sugiyono (2018) Meliputi pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai penerapan, berbagai sumber, dan berbagai metode. Jika di lihat dari penerapannya, data di dapatkan dengan mengumpulkan berbagai macam informasi melalui metode alamiah, metode eksperimen, berbagai responden, diskusi, dan lain-lain. dari sumber data tersebut, maka pengumpulan data didapatkan dengan menggunakan sumber primer dan juga sekunder.

Berikutnya apabila diteliti dari segi cara atau teknis pengambilan data, dengan diteliti dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data bisa dilakukan dengan pengamatan, Interview, angket (Kuisioner), serta beberapa dokumentasi dengan menggabungkan keempatnya. [7]

Fokus instrumen yang akan diteliti oleh peneliti antara lain yaitu : 1) Model Pengawasan, 2) Implementasi Pengawasan di sekolah 3) Tindak lanjut Pengawasan di sekolah, 4) Bentuk pelaporan 5) Implementasi strategi dalam meningkatkan mutu, serta tujuan responden yang akan diteliti dalam pengambilan informasi yaitu antara lain : kepala Sekolah, dan pimpinan di SD Muhammadiyah 4 zam-zam Sukodono.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Peran Supervisi Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta berpendapat bahwa Supervisi dialihkan bahasanya dari Perkataan “Superivision” yang berarti pengawasan. Kepala sekolah atau pimpinan yang menjalankan tugas sebagai supervisi Pendidikan disebut sebagai supervisior. Sebagai supervisor harus menjalankan tugasnya secara professional dan akan lebih baik jika ia memiliki jabatan yang lebih tinggi diantara tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yaitu seperti kepala sekolah.

Supervisor harus memiliki kompetensi yang dikutip dari Direktorat Tenaga Pendidikan sebagai berikut :

Mampu melaksanakan supervisi sesuai dengan Prosedur dan cara yang tepat.

Mampu melaksanakan pengawasan atau monitoring, evaluasi serta pelaporan program Pendidikan sesuai dengan Prosedur.

Mampu memahami serta menghayati, tujuan dan teknik supervisi

Mampu Menyusun program supervisi Pendidikan

Mampu melaksanakan program supervisi pendidkan

Mampu memanfaatkan hasil supervisi

Mampu melaksanakan tindak lanjut dari hasil supervisi

Agar pelaksanaan supervisi menjadi efektif perlu adanya penataan dalam perencaan yang akan tertuang dalam sebuah program supervisi yang berisi berbagai macam proses, tahapan-tahapan kegiatan yang akan dilakukan dalam supervisi oleh kepala sekolah. Dalam penyusunan perencanaan program supervisi sesungguhnya merupakan suatu siklus yang dinamis dari berbagai macam pilihan yang berkenaan dengan sasaran dan teknik metode untuk mencapai sebuah tujuan yang telah disepakati dan menilai hasil dari pelaksanaanya, yang lakukan secara efektif, efisien dan berkesinambungan[8] “Supervisi menurut Rifai (1982) yaitu suatu proses rangkaian kegiatan yang diatur dalam berhubungan satu dengan yang lainnya serta diarahkan pada satu tujuan. Secara garis besar dalam proses kegiatan supervisi dapat di bagi menjadi

3 yaitu : Perencanaan, Pelaksanaan, dan evaluasi.”

Perencanaan Supervisi Pendidikan

“Perencanaan supervisi diperlukan penyusunan secara teratur oleh supervisor supaya dalam pelaksanaan supervisi dapat terarahkan. Pelaksanaan Supervisi jika di awali dengan dugaan saja dapat mengecewakan beberapa pihak seperti, guru, supervisor, bahkan siswa secara tidak langsung. Mengingat perencanaan merupakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan, oleh sebab itu ada beberapa hal yang perlu dicantumkan dalam perencanaan dalam supervisi yaitu”:

Tujuan Supervisi

Alasan mengapa kegiatan tersebut dilaksanakan

Bagaimana teknik atau metode mencapai tujuan yang telah direncanakan

Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam kegiatan yang akan dilakukan

Waktu pelaksanaan supervisi,

Sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaanya serta cara dalam memperoleh hal tersebut Pelaksanaan Supervisi Pendidikan pelaksanaan Menurut Rifai (1982), supervisi pendidikan meliputi beberapa kegiatan, antara lain yaitu :

Pengumpulan data

Proses supervisi dimulai dengan mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai kekurangan dan kelemahan guru. Data yang dikumpulkan mencakup semua aspek dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk data tentang murid, guru, program pengajaran, alat atau fasilitas, serta situasi dan kondisi yang ada. Pengumpulan data ini dilakukan melalui metode seperti observasi, mengunjungi kelas, penggunaan kuesioner, dan metode lainnya. Penilaian

Data yang telah dikumpulkan perlu diolah dan kemudian dinilai. Penilaian ini dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan murid, guru, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses kegiatan belajar mengajar.

Deteksi kelemahan “Pada tahap ini, supervisor mengidentifikasi kelemahan ataupun kekurangan guru saat mengajar. Untuk memahami kelemahan ini, supervisor memperhatikan beberapa aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas guru, yaitu: penampilan guru di dalam kelas, penggunaan metode, penguasaan materi, hubungan antara siswa dan administrasi kelas. Selanjutnya, supervisor beserta guru bersama-sama menilai kelemahan dan kekurangan yang ada pada guru tersebut.”

Evaluasi Supervisi Pendidikan

Pada Akhir dari supervisi dilakukan evaluasi, ini perlu dilakukan untuk mengetahui tujuan yang sudah dicapai, dan hal-hal yang sudah dilaksanakan dan yang belum dilaksanakan. Evaluasi supervisi dilakukan untuk semua aspek, yaitu meliputi hasil evaluasinya, serta proses dan pelaksanaanya.

Dalam evaluasi pelaksanaan supervisi, sasarannya adalah supervisor. Dalam hal ini supervisor diperlukan untuk menilai apa yang dilakukannya, mulai dari tujuan yang akan dirumuskan, metode dan teknik, serta sikap kepemimpinan dan kemampuan berkomunikasi.[9]

Berdasarkan data angket yang sudah didapatkan dalam penelitian di SD Muhammadiyah 4 ZamZam bahwa strategi pengawasan dalam supervisi yang dilakukan oleh Pak Anas Fikri selaku Kepala Sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan beserta pimpinan-pimpinan yang lain terkait dalam penelitian ini dan juga guru dalam penerepan kegiatan pembelajaran, fokus instrumen penelitian yaitu :

a. Model Pengawasan

Model Pengawasan internal yang dilakukan oleh kepala sekolah di SD Muhammadiyah 4 Zamzam yaitu dengan Pengawasan Klinik : Dalam Pengawasan internal yang dilakukan oleh kepala sekolah lewat wawancara serta data angket yang dikumpulkan bahwa sebagai kepala sekolah selalu membuat suasana yang nyaman saat awal pelaksanaan supervisi dan membahas tentang persiapan perencanaan supervisi serta memberikan penjelasan dengan adanya program supervisi, dalam hal ini juga guru perlu dilibatkan dalam penyusunan supervisi akademik serta guru juga dibimbing dalam perencanaan, pelaksanaan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

Menurutnya Kepala Sekolah bahwa langkah-langkah pelaksanaan supervisi akademik dan supervisi dalam peningkatan Mutu Pendidikan yaitu dengan melakukan pengawasan atau monitoring, evaluasi serta pelaporan program Pendidikan sesuai dengan Prosedur. Teknik supervisi akademik dan manajerial yang diterapkan yaitu teknik individual : Kunjungan kelas, Percakapan pribadi, Penyeleksi sumber materi belajar.[10]

b. Implementasi pengawasan di sekolah

Implementasi atau penerapan supervisi di SD Muhammadiyah 4 ZamZam yaitu dilakukan oleh kepala sekolah dan pimpinan dari bidang kesiswaan serta penerapan profesionalitas guru : a) Implementasi pengawasan oleh kepala Sekolah

Program supervisi selalu melibatkan guru dalam penyusunan pelaksanaan supervisi akademik serta membantu guru untuk menyusun berbagai macam kebutuhan yang diperlukan, setelah itu membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, membimbing guru tentang cara mengelola kelas dan membantu guru dalam memahami peserta didik serta membimbing guru dalam menggunakan media/alat pembelajaran.

Berdasarkan supervisi yang diterapkan oleh kepala sekolah bahwa pelaksanaan supervisi akademik dan supervisi manajerial SD Muhammadiyah 4 zamzam dilaksanakan dua kali dalam satu tahun serta teknik dalam penilaian profesionalitas pendidik menggunakan teknik individual yaitu dengan kunjungan kelas, percakapan pribadi dan penyeleksi sumber materi belajar.

b. Implementasi pengawasan oleh Kesiswaan

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari kepala kesiswaan bahwa beberapa hal yang dilaksanakan antara lain :bahwa selalu mensosialisasikan program supervisi pada awal tahun pelajaran, menjadwal supervisi, memprioritaskan kebutuhan guru dalam kegiatan supervisi, serta menggunakan pendekatan supervisi berdasarkan kondisi dan karakteristik guru.

c. Profesionalitas Guru

Hasil pengumpulan data angket mengenai profesionalitas guru bahwa sebagai guru dalam pembelajarannya meliputi, menjelaskan tujuan yang dicapai siswa setelah proses belajar mengajar dilaksanakan, selalu menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang harus dikuasai oleh siswa setelah pembelajaran , serta menjelaskan secara detail tentang istilah yang sulit dimengerti dan memberikan contoh pokok bahasan pelajaran dengan contoh yang mudah dimengerti.

Dalam penerapannya supervisi akademik perlu memperhatikan proses-proses yang akurat agat dapat tercapainya tujuan supervisi akademik. pelaksanaan menurut Yari Dwikumaningsih (2018) bahwa supervisi akademik menggunakan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru, sehingga keberhasilan supervisi akademik dapat tercapai. Berikut beberapa langkah-langkah untuk mencapai keberhasilan supervisi yaitu :

  1. Perencanaan, Melakukan persiapan dan percakapan dengan guru dan membimbing guru
  2. Pelaksanaan supervisi, guru melakukan observasi dengan menganalisis atau interpretasi hasil observasi 3. Refleksi, Melakukan analisa akhir dan berdiskusi

supervisi akademik menurut Zulfa (2018) terdiri dari tiga proses yaitu (1) perencanaan, (2) Proses

pelaksanaan, dan (3) pemberian umpan balik.[11]

c. Tindak lanjut pengawasan di sekolah

Sebagai kegiatan tindak lanjut dalam supervisi akademik yaitu kepala sekolah dan pimpinan SD Muhammadiyah 4 ZamZam membimbing guru dalam mengembangkan media atau alat pembelajaran, serta mendorong guru untuk turut serta dalam kegiatan yang menunjang kemampuan profesional.

Menurut kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik untuk membina profesionalitas pendidik yaitu dengan Selalu memberikan motivasi guru dalam kegiatan supervisi dan Membantu personel sekolah dalam mengatasi permasalahan sekolah atas dasar kemitraan, serta Mengidentifikasi dan menetapkan pendekatan supervisi akademik yang efektif dan tepat dengan masalah yang dikembangkan.

Menurut Kepala Kesiswaan bahwa tindak lanjut dalam pengawasan di sekolah yaitu menjadwalkan supervisi menggambarkan kegiatan supervisi yang baik, selalu menggunakan metode supervisi dalam program supervisi dengan menggunakan instrumen yang sesuai yang akan diukur serta aspek – aspek yang diukur dalam RPP tertera pada instrumen supervisi, supervisi dilakukan pada kegiatan seusai kalender akademik sekolah, supervisor memberikan layanan supervisi atas permintaan guru, dan kegiatan supervisi sering dilaksanakan dengan metode mendengarkan arahan langsung dari supervisor serta memberikan contoh pemecahan masalah pembelajaran pada guru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kecepatan hasil supervisi antara lain:

  1. Lingkungan masyarakat sekolah atau madrasah berada. Faktor ini mencakup apakah sekolah atau madrasah tersebut berada di kota besar, kota kecil, atau di daerah terpencil. Selain itu, juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya, apakah di lingkungan orang-orang kaya atau kurang mampu, serta jenis profesi masyarakat sekitar seperti intelek, pedagang, atau petani.
  2. Ukuran madrasah ataupun sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah atau madrasah. Ini mencakup apakah sekolah atau madrasah tersebut besar atau kecil, jumlah guru atau ustadz, murid atau santri, serta luas halaman dan tanah yang dimiliki.
  3. Tingkatan dan jenis sekolah atau madrasah. Jenis sekolah atau madrasah seperti SD atau MI, SMP atau MTS, SMA atau MA, dan SMK memerlukan pendekatan supervisi yang berbeda-beda.
  4. Keadaan guru atau ustadz serta pegawai yang tersedia. Faktor ini mencakup apakah guru atau ustadz di sekolah atau madrasah tersebut sudah memiliki otoritas, bagaimana kondisi sosial-ekonomi mereka, dan hasrat serta kemampuan mereka. Selain itu, kecakapan serta keahlian kepala sekolah atau kepala madrasah itu sendiri juga sangat berpengaruh.[12]

d. Bentuk pelaporan

Bentuk pelaporan hasil supervisi di SD Muhammadiyah 4 ZamZam dengan menyediakan waktu khusus untuk guru mengkonsultasikan permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran serta menilai penggunaan sarana pendidikan dan media pembelajaran dan meminta guru untuk melakukan evaluasi diri.

Sebagai pelaporan guru juga perlu mengemukakan permasalahannya dalam pembelajaran tanpa rasa takut, sehingga guru merasa nyaman pada saat pelaksanaan supervisi, setelah itu guru selalu mendapatkan catatan perbaikan dari supervisor serta alternatif lain dari pemecahan masalah guru selalu di bicarakan bersama dengan supervisor dan hasil supervisi dijadikan acuan dalam pembuatan program selanjutnya.

“Pelaporan adalah tahap akhir dari program supervisi pendidikan. Setelah menyelesaikan kegiatan supervisi dalam periode tertentu, supervisor perlu menyusun laporan mengenai kegiatan supervisi yang telah dilakukan. Laporan ini juga harus mencakup kondisi sekolah yang telah disupervisi. Dengan demikian, laporan ini akan menunjukkan bagaimana proses supervisi berlangsung dan bagaimana kondisi serta kemajuan sekolah setelah mendapatkan supervisi. Secara umum, tujuan laporan supervisi adalah untuk memberikan gambaran mengenai mutu sekolah setelah disupervisi. Ormston dan Shaw (1994: 104) menyatakan: "The purpose of the reports is to communicate clearly to largely nonprofessional audience the strengths and weakness of a school, its overall quality, the standards pupils are achieving, and what should be done if improve are needed." Berdasarkan definisi tersebut, dapat dipahami bahwa tujuan pelaporan supervisi adalah untuk mengkomunikasikan secara jelas kepada masyarakat non-profesional mengenai kekuatan dan kelemahan sekolah,” mencakup kualitas keseluruhannya, standar pencapaian siswa, dan tindakan yang perlu diambil untuk perbaikan yang dibutuhkan.[13]

e. Implementasi strategi dalam meningkatkan mutu

Menurut kepala sekolah dalam strategi peningkatan mutu pendidikan menerapkan kegiatan supervisi dengan melibatkan secara aktif serta berbagi tanggung jawab pengembangan pembelajaran dengan guru dan pihak lain yang relevan.

Manajemen strategik adalah suatu cara untuk mengendalikan organisasi secara efektif dan efisien , sampai kepada implementasi garis terdepan hingga mencapai tujuan dengan sasaran yang diinginkan. Sasaran manajemen strategik menurut Akdon (2017) menyatakan bahawa sasarn manajemen strategik adalah meningkatkan kualitas organisasi, efesiensi pembayaran, penggunaan sumberdaya, kualitas evaluasi program dan pemantauan kinerja serta kualiatas pelaporan. Adapun prinsip-prinsip utama dalam manjemen strategi adalah strategy formulation, strategy implementasi, dan strategy evaluation.[14]

“Dalam strategi pelaksanaan kebijakan untuk peningkatan mutu sekolah, kepala sekolah, guru, karyawan, dan komite sekolah berperan sebagai agen pelaksana. Sebagai agen pelaksana kebijakan, guru harus memiliki kompetensi sebagai guru profesional, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Menurut teori Georg C. Edward (2008), jika agen pelaksana memiliki karakteristik yang baik, mereka dapat melaksanakan kebijakan dengan efektif sehingga sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Guru sebagai agen pelaksana kebijakan juga harus mampu mendidik anak, mengajar, memberikan motivasi untuk belajar, memberikan contoh yang baik dalam sikap, perilaku, pakaian, kedisiplinan,” serta memahami minat dan bakat siswa.[15]

A. Faktor pendukung dan penghambat dalam Supervisi Pendidikan

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 ZamZam bahwa faktor pendukung antara lain yaitu warga sekolah bersikap kooperatif atau bekerjasama saling membantu mulai dari pendidik, tenaga pendidik, hingga seluruh siswa serta pelaksanaannya melibatkan secara aktif berbagi tanggung jawab pengembangan pembelajaran dengan guru dan pihak lain yang relevan. Kepala sekolah sebagai supervisor selalu memberikan motivasi kepada guru dalam kegiatan supervisi dan membantu warga sekolah dalam mengatasi permasalahan sekolah.

Keberhasilan dalam pelaksanaan supervisi kepala sekolah dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung yaitu, guru yang menjadi sasaran supervisi dengan sikap terbuka dan kooperatif terhadap proses supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Teori tersebut menunjukkan bahwa guru adalah hal paling mendukung kepala sekolah, dalam melaksanakan supervisi adalah kesiapan bagi seorang guru. Penentuan jadwal supervisi akademik yang memungkinkan untuk guru melakukan persiapan dan penyusunan perangkat pembelajaran, Kepala sekolah melaksanakan kegiatan supervisi dengan cara berkesinambungan, berprofesi yang sama sebagai guru.

adanya faktor penghambat dalam pelaksanaan supervisi antara lain yaitu :

  1. Motivasi guru yang rendah sehingga guu merasa terbebani
  2. Pemahaman kepala sekolah dan guru mengenai supervisi akademik belum sempurna
  3. Perbedaan latar belakang pendidikan guru dengan supervisor
  4. Rendahnya pengembangan kualitas diri guru[16]

Adapun faktor yang menjadi penghambat peniangkatan mutu pendidikan di SD Muhammadiyah 4 zamzam antara lain yaitu 1) kurangnya koordinasi antara guru dan karyawan lainnya sehingga dapat menghambat kegiatan peningkatan mutu yaitu diantaranya kegiatan supervisi. 2) Ruang Koordinasi yang kurang memadai dapat juga menjadi suatu masalah dalam kegiatan supervisi antara supervisor dengan guru dan karyawan. (Data Wawancara 9)

Menurut Ahmadi Komponen utama dalam Pendidikan perlu adanya mengkaji dan dikembangkan antara lain ada 4 yaitu : 1) Peserta didik sebagai masukan dasar, 2) Pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sebagai unsur pengelolaan dalam proses belajar-mengajar, 3) Program Pendidikan berupa kurikulum serta masukan alat sebagai bahan instumen input. 4) keluaran atau output Pendidikan yang handal.[6]

Peran supervisi melibatkan partisipasi seseorang dalam suatu tugas, dalam hal ini peran supervisor adalah sebagai pembimbing atau pengawas yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan. Pembinaan tersebut diberikan kepada seluruh staf sekolah atau madrasah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Menurut Getzels (1967), "Roles are defined in terms of role expectations-the normative rights and duties that define within limits what a person should or should not do under various circumstances while he is the incumbent a particular role within an institution." Berdasarkan pendapat Getzels tersebut, peran diartikan sebagai hak dan kewajiban normatif yang menetapkan batasan mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang dalam suatu organisasi. Oleh karena itu, ketika kita membahas peran seseorang dalam suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah atau madrasah, kita selalu berbicara tentang peran yang bersifat normatif atau ideal..[17]

B. Penyelesaian hambatan dalam supervisi pendidikan

Menurut Kepala sekolah SD Muhammadiyah 4 ZamZam Dalam menghadapi atau menyelesaikan hambatan dalam supervisi adalah dengan meningkatkan pelayanan yang meliputi : Pendidikan, Pembangunan, serta Pelayanan kepada murid dan wali murid.

1. Pendidikan

Pendidikan di SD Muhammadiyah 4 zamzam telah berjalan lebih dari 5 tahun akan tetapi menurut pak anas selaku kepala sekolah perlu adanya peningkatan lagi mulai dari kurikulum sarana dan prasarana pendidikan Sumber Daya Manusia meliputi guru, karyawan, staff, security dan lain-lain. Salah satu bagian terpentingnya yaitu di bidang kurikulum.

SD Muhammadiyah 4 ZamZam sudah menerapkan kurikulum merdeka namun masih ada kelas yang menggunakan K13 dengan bertujuan sebagai alat pendidikan untuk menghasilkan siswa yang berinteraksi dan berprestasi, namun menurut Fridalifia Maharani selaku Waka Kurikulum SD Muhammadiyah 4 ZamZam ada beberapa hambatan dalam melaksanakan kurikulum tersebut yaitu keterbatasana sumber daya manusia serta tantangan implementasi di tingkat sekolah.

Menurut Hamalik (1992) mengatakan supervisi nampaknya menjadi penentu yang utama untuk menyusun kurikulum, menyeleksi pola-pola organisasi Sekolah, fasilitas belajar dan menilai proses pendidikan secara menyeluruh. Oleh sebab itu diperlukan solusi yang tepat agar apa yang menjadi tujuan utama dari pelaksaan supervisi pendidikan oleh kepala sekolah dalam penerapan kurikulum di sekolah dapat sepenuhnya tercapai.[18]

Penerus bangsa perlu ditanamkan nilai dan keyakinan Islam yang murni sejak awal secara sangat komprehensif, kritis dan kreatif dan terintegrasi. Berpikir kritis dapat diupayakan dapat dikembangkan untuk pengembangan kurikulum pendidikan Islam kedepan. Menurut Kemendikbud berpikir yang kritis dilakukan oleh pelajar Pancasila.[19]

2. Pembangunan

Pembangunan yang berlangsung di Sekolah ini yaitu pembangunan gedung lantai 3, oleh karena itu perlu adanya penambahan kelas serta ruang operasional lainnya, sementara ini ruang kelas untuk tahun ini sudah tercukupi namun untuk ajaran berikutnya perlu adanya pembangunan dan penambahan ruang kelas oleh sebab itu pembangunan sekolah sangatlah penting untuk strategi meningkatkan mutu pendidikan di SD Muhammadiyah 4 ZamZam

Bangunan sekolah beserta kelas merupakan bagian penting dari sarana dan prasarana di lembaga pendidikan. Gedung sekolah dan kelas yang nyaman sangat mempengaruhi proses pendidikan. pedoman teknis Pembangunan Gedung Negara, bangunan gedung sekolah di Indonesia adalah bangunan berfungsi untuk melaksanakan kegiatan proses belajar dan mengajar.[20]

3. Pelayanan kepada murid dan wali murid

Sebagai bentuk keberhasilan dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan kepuasan dan rasa senang yang di alami murid dan wali murid selama berada di sekolah SD Muhammadiyah 4 ZamZam. Dengan hal ini perlu adanya pelayanan yang baik sesuai dengan keinginan bersama, mulai dari pelayanan pendidikan, pelayanan administrasi, pelayanan informasi dan lain-lain. Oleh sebab itu menurut pak Anas selaku kepala sekolah pelayanan sebagai faktor utama keberhasilan dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini. (Data Wawancara : 10) Pelayanan yang berkualitas sangat berpengaruh dalam rangka menghasilkan produk yang bermutu dan berkualitas sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Dengan demikian apabila kepercayaan tersebut terpenuhi dengan baik, maka partisipasi masyarakat terhadap pembangunan akan semakin meningkat, karena itu untuk menjamin pelayanan yang baik dibutuhkan seorang pemimpin dengan mempunyai komitmen terhadap pelayanan masyarakat. Menuru Ndraha (1997) terdapat empat cara yang digunakan untuk mengukur efektivitas pelayanan masyarakat, yaitu cepat, adil, baik dan murah..[21]

VI. P ANDUAN P ENULISAN K UTIPAN /R UJUKAN D ALAM T EKS A RTIKEL DAN D AFTAR R EFERENSI

Simpulan

  1. Peran Supervisi akademik di SD Muhammadiyah 4 ZamZam yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, dan pimpinan sekolah dalam Strategi meningkatkan mutu Pendidikan Islam bahwa keberhasilan dalam kegiatan tersebut pada perencanaan awal dalam penyusunan supervisi akademik serta guru dibimbing dengan menciptakan suasana yang nyaman saat pelaksanaan hingga proses evaluasi dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Faktor pendukung dalam peningkatan mutu Pendidikan Islam tergantung dengan sikap Kerjasama antara seluruh warga sekolah saat pelaksanaan supervisi meliputi : pendidik, tenaga kependidikan, karyawan, siswa dan wali siswa yang dalam pelaksanaanya melibatkan secara aktif serta berbagi tanggung jawab dalam pengembangan pembelajaran sehingga memudahkan bagi kepala sekolah sebagai supervisor dalam melaksanakan kegiatan supervisi dan membantu warga sekolah dalam mengatasi permasalahan sekolah. Sedangkan faktor penghambat yang terjadi yaitu dengan kurangnya fasilitas ruang koordinasi sehingga Kerjasama dan koordinasi antara guru dan karyawan lainnya menjadi tidak maksimal dan sesuai tujuan supervisi.
  3. Dalam penyelesaian semua hambatan yang ada peran supervisi dalam meningkatkan mutu Pendidikan yaitu dengan meningkatkan pelayanan Pendidikan mulai dari kurikulum sarana dan prasarana serta sumber daya manusia, berikutnya yaitu Pembangunan yang perlu di penuhi dalam peningkatan kualitas Pembangunan dan fasilitas Pendidikan, yang terakhir peningkatan dalam pelayanan kepada murid dan wali murid mulai dari pelayanan Pendidikan, pelayanan administrasi, pelayanan informasi dan lain sebagainya.

SARAN

  1. Perlu adanya peningkatan kualitas supervisi dalam proses pembelajaran sehingga dapat memberikan pembinaan dan bimbingan kepada guru dan karyawan binaanya, terutama pada aspek-aspek yang sangat diperlukan.
  2. Perlu adanya komitmen yang dibangun atas Kerjasama antara seluruh warga sekolah yang terkait dengan peningkatan mutu sehingga dapat menciptakan mutu Pendidikan yang lebih baik lagi.
  3. Perlu adanya program pelatihan atau pengembangan sumber daya manusia dalam peningkatan pelayanan

Pendidikan bertujuan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan tujuan Pendidikan yang berkualitas

References

Meriza, "Pengawasan (Controling) dalam institusi pendidikan," Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, pp. 37–46, 2018.

R. Abd, "Supervisi dan pengawasan dalam pendidikan," Jurnal Kajian Islam Kontemporer, vol. 12, no. 2, pp. 1–16, 2021.

Y. Flores, "Phys. Rev. E, p. 24, 2011, [Online]. Available: http://ridum.umanizales.edu.co:8080/jspui/bitstream/6789/377/4/Muoz_Zapata_Adriana_Patricia_Artculo_2011.pdf"

Nasution, M. Safitri, S. Halawa, and N. Khotimah, "Peranan supervisi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan," vol. 0, no. 01, pp. 17–26, 2023.

P. Setyawati, E. Erawan, D. Zulfiani, and M. Pendidikan, "Peran pengawas sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 002 Kecamatan Loa Janan," eJournal Administrasi Negara, vol. 8, no. 3, pp. 9208–9220, 2020.

M. Adib, "Supervisi akademik dalam peningkatan mutu pembelajaran di MI Al-Huda Pacitan," Undergraduate thesis, IAIN Ponorogo, Ponorogo, Indonesia, 2018.

STEI Indonesia, "Bab III metoda penelitian 3.1," Bab III Metode Penelitian, vol. Bab III, pp. 1–9, 2017.

M. Hasan and A. Anita, "Implementasi supervisi akademik dalam meningkatkan kompetensi dan kinerja guru di MA Al Ishlah Natar dan MA Mathlaul Anwar Cinta Mulya," At-Tajdid: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, vol. 6, no. 1, p. 85, 2022.

R. Yulia, "Proses supervisi pendidikan," Pustakailmu.Co.Id, pp. 1–6, 2020.

M. Syukron, D. Riski, S. Siregar, and S. Ratnaningsih, "Model supervisi dalam penjaminan mutu lembaga pendidikan," Jurnal Kependidikan Islam, vol. 13, no. 1, pp. 44–54, 2023.

T. Asry, R. D. W., and Y. S. B., "Saat pembelajaran luring dan daring," Satya Widya, vol. 37, no. 1, pp. 62–71, 2021.

F. Fakhriah, "Supervisi manajerial dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan Islam," Manajerial: Jurnal Inovasi Manajemen dan Supervisi Pendidikan, vol. 2, no. 3, pp. 280–287, 2022.

Kemendikbud, Pelaporan Dalam Supervisi. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2008.

S. Aimah, "Implementasi manajemen strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi Tahun Pembelajaran," JMPID, vol. 1, no. 1, pp. 1–21, 2019.

P. S. Budiarta, "Strategi implementasi kebijakan peningkatan mutu di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Srandakan," Undergraduate thesis, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia, 2018.

F. Faizatun and F. Mufid, "Supervisi akademik kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru (Studi multi kasus Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Pati)," Quality, vol. 8, no. 2, p. 241, 2020.

Turmidzi, "Implementasi supervisi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah," Tarbawi, vol. 4, no. 1, pp. 33–49, 2021.

M. Fuldiaratman and Malik, "Alternative solution problem implementation of education supervision in the course of education management chemistry education study program," Journal of Chemical Information and Modeling, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2013.

Choli, "Hakikat pengembangan kurikulum pendidikan Islam," Al-Risalah, vol. 10, no. 2, pp. 100–127, 2019.

Hambali, "Pembangunan gedung sekolah dan ruang kelas baru di Kabupaten Seluma pasca pemekaran," Manajer Pendidikan, vol. 10, no. 1, p. 21, 2016.

E. Asmi and C. Sahuri, "Pelayanan sekolah untuk meningkatkan kualitas peserta didik," Jurnal Kebijakan Publik, vol. 4, no. 1, pp. 51–58, 2013.