Azizah Izzatul Ulya (1), Nurdyansyah (2)
General Background Islamic religious education in modern secondary schools increasingly requires pedagogical innovation to move beyond passive lecture-based instruction. Specific Background Integrating international religious frameworks into national education standards presents distinct instructional opportunities for specialized madrasahs. Knowledge Gap However, empirical documentation regarding the combined application of the Al-Azhar curriculum and student-centered national frameworks remains limited. Aims This study analyzes the implementation, supporting factors, and operational challenges of integrating the Azhari curriculum with Kurikulum Merdeka at MA Darul Fikri. Results Qualitative field data reveal that combining classical Arabic texts with active learning strategies elevates student engagement, language acquisition, and practical community service outcomes. Novelty This research demonstrates an innovative hybrid model featuring intensive Arabic preparation, memorization methods, and field-based dakwah practice. Implications These findings provide strategic insights for Islamic educational institutions aiming to align traditional scholarship with modern academic requirements and global university entry standards.
Key Findings Highlights
Hybrid curriculum design successfully combines Egyptian classical Islamic texts with student-centered pedagogical practices.
Intensive language orientation programs resolve initial Arabic proficiency barriers among secondary school learners.
Field-based service initiatives translate theoretical religious concepts into practical community engagement skills.
Keywords : Azhari Curriculum, Islamic Religious Education, Curriculum Integration, Academic Competence, Educational Innovation
Pendidikan di Indonesia dewasa ini telah disempurnakan dengan keberadaan kurikulum merdeka belajar. Pembelajaran didesain dengan menggunakan ciri khas metode pembelajaran dengan metode terbaru. Ciri tersebut adalah adanya implikasi desain kurikulum merdeka belajar dengan evaluasi dalam pembelajaran Pendidikan agama Islam[1]. Pendidikan agama Islam adalah salah satu mata pelajaran penting yang termasuk didesain menggunakan kurikulum merdeka belajar. Pemerintah telah menetapkan aturan mengenai pengembangan metode belajar mengajar oleh guru yang termaktub dalam KMA 183 Tahun 2019.
Maka dari itu pembelajaran agama Islam harus mengalami perkembangan dari sisi inovasi pembelajaran. Mengapa ini penting? Karena yang telah terjadi di masyarakat terutama dunia pendidikan, pembelajaran agama Islam lebih banyak menggunakan metode klasikal atau metode ceramah[2]. Ini terbukti dari beberapa referensi yang menerangkan tentang positioning pembelajaran PAI [3]. Selain hanya dengan metode ceramah, banyak kelas yang melaksanakan kegiatan pembelajaran keagamaan hanya berfokus pada materi tanpa menginovasikan metodenya, salah satunya dalam hal ruang belajar.
Fokus hanya pada materi membuat pendidik tidak pernah mengajak peserta didik di kelasnya untuk menikmati pembelajaran di suasana baru seperti taman, atau dengan suasana menggairahkan seperti bermain dan melakukan penelitian pada lingkungan sekitar [4]. Murid hanya difahamkan tentang iman dan pentingnya beribadah tanpa memastikan apakah mereka bisa memahami itu dengan baik atau hanya menghadiri kelas sebagai tuntutan akademik. Padahal jika diberikan suatu masalah belum tentu murid dapat memberikan dalil atau hukum atas masalah tersebut
Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY). The use, distribution or reproduction in other forums is permitted, provided the original author(s) and the copyright owner(s) are credited and that the original publication in this journal is cited, in accordance with accepted academic practice. No use, distribution or reproduction is permitted which does not comply with these terms.
karena mereka hanya terbiasa menerima tanpa memahami. Peserta didik dapat mulai menemukan solusi atas suatu kejadian dengan dalil yang mereka telah fahami akan dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap esensi setiap materi [5].
Keimanan dan pemahaman peserta didik terhadap Allah dan agama Islam ini akan makin nyata di hati mereka. Inilah tujuan sebenarnya dari pendidikan agama Islam. Bagaimana nilai Islam dapat menjadi satu dengan hati dan pikiran mereka dan dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari tanpa lagi merasa tidak peduli karena pendidikan agama yang dinomer duakan. Kesiapan mereka untuk praktek di masyarakat tidak lagi berat untuk dilakukan oleh peserta didik MA Darul Fikri sebagai dai muda.
Peningkatan metode pembelajaran pendidikan agama Islam bukan hanya berfokus pada menambah besarnya anggaran untuk inovasi tertentu tetapi lebih kepada jenis pembelajaran dan bagaimana memaksimalkan metode pembelajaran yang menarik di ruangan dan fasilitas yang sudah tersedia. Memperinci secara detail tujuan dari inovasi baru tersebut sangat dibutuhkan sehingga dapat mengukur perbedaan situasi pembelajaran sebelum dan sesudah adanya inovasi [6]. Inovasi dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat tercipta melalui kebijakan sekolah yang mendukung kreativitas guru. Guru yang diberi kepercayaan dan fleksibilitas sepenuhnya oleh sekolah akan mencerminkan semangat inovasi mengajar yang tinggi [7]. Guru akan memiliki inisiatif yang tinggi dalam membuat kreasi dan inovasi belajar mengajar. Wujudnya adalah guru selalu menyiapkan pembelajaran bermakna sebelum pembelajaran dilakukan esok hari yang berarti guru lebih siap sebelum guru mengajar.
Ada urgensi yang sangat penting dan signifikan terhadap keberadaan kreativitas dalam pembelajaran PAI. Segmen yang paling tampak dan harus dikembangkan dalam pembelajaran ini termasuk pada segmen pembelajaran menengah atas. Peneliti menentukan segmen Madrasah Aliyah yang setingkat dengan Sekolah Menengah Atas sebagai target observasi pentingnya penerapan kreativitas dan inovasi guru dalam pembelajaran PAI. Segmen tersebut direalisasikan pada Madrasah Aliyah Darul Fikri.
MA Darul Fikri yang populer disebut MA Dafi Boarding School merupakan sekolah setingkat SMA di bawah naungan binaan kementrian agama. Sekolah ini memiliki program-program yang unik dan menarik untuk berkontribusi kepada dunia Pendidikan. Visi MA Dafi terwujudnya generasi pemimpin Indonesia yang hafal al quran berjiwa nasionalis dan berkompetensi global sesuai yang tertulis pada Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan MA Dafi mendorong sekolah ini memiliki program-program khusus dalam mencerdaskan peserta didiknya. Kelas Bilingual, kelas Tahfizh dan program internasional Al-Azhar adalah beberapa program pendukungnya. Dari program unggulan tersebut maka akan menarik apabila dijadikan penelitian terutama yang mendukung pembelajaran agama Islam. Diprediksi bahwa segmen peminatan Al-Azhar akan sangat mendukung proses kreasi pengembangan pembelajaran PAI. Pada dasaranya mata pelajaran tersebut selaras dengan mata pelajaran PAI.
Sebelumnya metode pembelajaran PAI yang digunakan adalah kurikulum yang dirumuskan oleh tim kurikulum internal MA Dafi dengan mengacu pada soal-soal tes lolos Timur Tengah. Hasil kurikulum yang telah dirumuskan diaplikasikan dalam proses pembelajaran kelas agama dan diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dan materi pendukung lainnya. Namun beberapa peserta didik masih mengalami kesusahan dalam mengerjakan soal- soal tes lolos Timur Tengah. Kendala tersebut karena kurangnya peserta didik dalam memahami materi agama Islam yang dibutuhkan.
Selain itu dalam proses pembelajaran PAI masih ada problematika pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Tidak semua guru memiliki keterampilan pembelajaran atau pedagogi yang baik. Ini menyebabkan kurang adanya inovasi dan pengembangan gaya mengajar kepada siswa. Bisa menjadi dampak bahwa peserta didik di kelas merasa kesulitan menerima pembelajaran. Bagi guru yang sudah mahir atau ahli dalam pembelajaran PAI banyak membuat kreasi unik untuk menggairahkan kelas [8]. Ini akan berdampak positif bahwa peserta didik akan senang dan tertarik terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Wujud ini menunjukkan bahwa guru adalah sentral yang membuat semangat peserta didik untuk belajar menjadi meningkat.
Selanjutnya memang masih ada pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang menggunakan metode lama atau klasikal. Guru lebih cenderung menggunakan teknik ceramah. Pada pembelajaran ini guru sebagai sentral untuk didengar oleh peserta didik [9]. Bagi peserta didik yang tergolong mandiri tidak akan merasakan dampak negative karena memiliki inisiatif yang tinggi. Peserta didik seperti ini sering bertanya kepada guru tersebut. Hasilnya peserta didik tetap mempertahankan prestasinya [10].
Analisa tersebut berkata lain apabila ada siswa dengan semangat dan kemandirian yang rendah [11]. Peserta didik akan merasa kesulitan dalam mengikuti dan memahami pembelajaran PAI. Pada kondisi ini peserta didik akan menjadi korban pemahaman apabila guru sebagai sentral pemahaman tidak melakukan perubahan gaya mengajar. Hasilnya peserta didik mmengalami penurunan prestasi. Minat terhadap PAI semakin berkurang karena kurangnya kemampuan peerta didik mengikuti pembelajaran dan mulai merasa bosan.
Pada penelitian terdahulu telah dibahas inovasi Pendidikan Agama Islam dengan teori pragmatisme yang menjadikan filsafat sebagai landasan proses inovasi [12]. Penelitian kali ini melakukan inovasi berupa pendalaman agama Islam melalui kurikulum Azhari dengan berlandaskan pada kutub turots atau kitab keagamaan karya ulama terdahulu. Dalam penelitian implementasi kurikulum Azhari pada pembelajaran PAI di MA Dafi ini membahas
tentang pentingnya inovasi dalam pembelajaran agama Islam serta bagaimana hasil yang baik yang bisa didapat dari inovasi pembelajaran yang dibantu dengan beberapa faktor pendukung [13]. Begitu pun melalui inovasi pembelajaran STREAMyang menginovasikan pembelajaran agama Islam dengan teknologi dan saintifik [14]. Maka pada penelitian kali ini inovasi berfokus pada kurikulum Azhari dari Mesir yang juga diintegrasikan dengan kurikulum merdeka.
Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menganalisis implementasi kurikulum Azhari pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MA Darul Fikri. 2) Faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi kurikulum Azhari pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MA Darul Fikri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi penyebab kurangnya inovasi dan gairah guru mengajar. Pada tahap ini akan menentukan informasi valid tentang bagaimana guru mengajar.
Faktor kebaruan yang ada pada penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi tentang strategi baru dan inovasi terhadap pembelajaran PAI. Di sisi lain pada penelitian yang dilakukan sebelumnya menggunakan library research atau penelitian pustaka, namun pada penelitian ini menggunakan penelitian empiris berdasarkan fakta di lapangan bagaimana tentang fenomena yang ada di sekolah tersebut. Dengan metode implikasi kurikulum Azhari wawasan peserta didik makin terbuka karena pembahasannya yang berbeda dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Antusias peserta didik di kelas menjadi bertambah.
Hal lain yang dapat meningkatkan antusias dan gairah peserta didik dalam Pendidikan Agama Islam adalah pengawalan dalam praktik PAI bagi peserta didik di lapangan. Guru haruslah memiliki pengetahuan yang mendalam terkait PAI [15]. Dengan bekal ilmu yang dimiliki seorang guru dapat dengan mudah mengawal peserta didik dalam pendalaman ilmu agama sehari-hari khususnya di luar kelas. Ini merupakan metode yang paling kuat untuk meningkatkan hasil dan pemahaman mereka. Sejauh ini peserta didik yang hanya menghafalkan teori tanpa adanya pengawalan pada praktik lapangan membuat mereka tidak memahami nilai penting dalam PAI.
Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman peserta didik dalam agama [16]. Sayangnya masih banyak sekolah yang belum bisa merealisasikan ini. Terutama untuk mewujudkan target dapat menuntun peserta didik untuk melanjutkan pendidikan agama lebih dalam lagi ke kampus dengan basis agama. Ketertarikan peserta didik pada pendidikan agama menurun karena kurangnya gairah pada pembelajaran PAI. Euforia PAI tidak tampak lebih besar daripada mata pelajaran umum lainnya. Pengetahuan peserta didik juga terbatas hanya dengan buku materi pelajaran dan belum tumbuhnya kemauan dan kesadaran untuk mendalami kitabturotsatau buku warisan para ulama terdahulu yang menjadi sandaran utamanya. Buku ini menggunakan bahasa arab dengan literasi yang membutuhkan pendalaman lebih.
MA Dafi mengaplikasikan kurikulum Azhari yang juga diintegrasikan dengan kurikulum merdeka belajar. Peserta didik mulai mengenali buku agama berbahasa arab dengan materi seperti fikih, tafsir, balaghah, dan lain sebagainya. Dengan mulai mengenal pembelajaran berbahasa arab seperti ini mulai tumbuh minat dan gairah peserta didik untuk memperdalam ilmu agama. Peserta didik pun mulai memiliki ketertarikan pada salah satu bidang khusus pada Pendidikan Agama Islam seperti fikih, tafsir, dan sebagainya karena pembahasan agama Islam pada kurikulum Azhari yang lebih mendalam.
Pada penelitian terdahulu telah dibahas mengenai pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan beberapa inovasi. Pada penelitian oleh Eka Fitriya Firdayani dan Farikh Marzuki Ammar yang berjudul The Use of Azhari Curriculum in Arabic Language Learning at Islamic Boarding School memiliki tujuan untuk mengetahui pembelajaran bahasa arab dengan kurikulum Azhari. Hasil dari penelitian tersebut adalah pembiasaan peserta didik berbahasa arab dalam kehidupan sehari-hari [17].
Pada penelitian dengan judul Pendidikan Islam di Mesir yang ditulis oleh Baidarus dan Radhiyatul Fithri, telah dibahas mengenai system Pendidikan Mesir yang meliputi kebijakan pendidikan. Hasilnya adalah pendidikan Mesir yang memiliki tujuan mewujudkan pribadi muslim yang taat dimulai dari Pendidikan akal dan jiwa didasari dengan agama yang kuat. Sehingga setelah lulus peserta didik juga sudah memahami agama [18]. Penelitian selanjutnya oleh Devi Syukri Azhari, Zihnil Afif, Syafruddin Nurdin, dan M.Kosim membahas tentang pengembangan pembelajaran PAI dengan teknologi yang berjudul Konsep Pengembangan dan Inovasi Kurikulum Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Berbasis Teknologi Informasi [19].
Perbedaan penelitian ini dengan yang lain adalah adanya kelas persiapan bahasa arab selama 2 bulan pertama pada jenjang pertama kelas Azhari di MA Darul Fikri. Kelas persiapan ini untuk memberikan bekal bahasa arab bagi peserta didik sebelum memulai pembelajaran. Dan juga adanya kurikulum Dafi yaitu integrasi antara kurikulum Azhari dan kurikulum merdeka, dan juga kurikulum sesuai minatnya. Sehingga peserta didik mendapatkan peningkatan pada pembelajaran pendidikan agama Islam sesuai dengan kurikulum di Mesir dan Indonesia. Pembentukan karakter peserta didik yang kuat juga menjadi tujuan utama pada kelas Azhari di MA Dafi. Peserta didik akan siap berkhidmat di masyarakat dengan adanya program Dai Muda Berkhidmat sebagai pendukung pembelajaran pendidikan agama Islam di MA Darul Fikri.
Urgensi penelitian ini adalah adanya inovasi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dengan mengintegrasikan kurikulum Azhari dan kurikulum merdeka. Dan juga adanya kelas persiapan bahasa bagi peserta didik di tiga bulan pertama kelas 10 Azhari. Dengan ini dapat meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan agama
Islam sekaligus kemampuan peserta didik. Fokus terhadap pendidikan agama Islam pun mulai menjadi pilihan utama peserta didik dalam menentukan jurusan yang akan diambil di bangku kuliah nanti. Pembelajaran dengan kurikulum Azhari yang biasa menggunakan metode ceramah akan lebih menarik lagi dengan kurikulum merdeka yang menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
Hal lain yang menjadi pembeda dengan kurikulum Azhari di lembaga lain selain dari program persiapan bahasa dan Dai Muda Berkhidmat adalah program wisuda tahfizh di Makkah dan Madinah. Kurikulum tahfizh MA Darul Fikri menggunakan metode Tazkiyah yang telah disusun dan dirancang oleh penjamin mutu tim Tahfizh MA Darul Fikri. Salah satu program unggulan untuk mendukung tahfizh adalah wisuda tahfizh akbar di Makkah dan Madinah. Salah satu agenda dalam program wisuda tahfizh di Makkah dan Madinah adalah mengunjungi Universitas Islam Madinah. Peserta didik mendapat pengalaman luar biasa dengan mengunjungi salah satu universitas di Timur Tengah dengan bertemu dosen dan di universitas tersebut.
Metode dalam penelitian ini mengunakan deskriptif kualitatif yang diambil dari hasil penelitian lapangan di sekolah MA Darul Fikri Sidoarjo. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi yang dilakukan untuk melihat kesesuian kejadian yang ada dilapangan, Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah dan guru PAI dan dokumentasi diambil dari beberapa dokumen sekolah, foto dan dokumen yang lainnya. Peneliti telah melakukan wawancara mendalam dengan kepada kepala sekolah, koordinator Azhari, wakil kepala sekolah bidang ulumu syari, pengajar kelas Azhari dan para peserta didik kelas Azhari tentang pembelajaran pendidikan agama Islam di kelas Azhari. Wawancara bertujuan untuk menggali informasi tentang implementasi kurikulum Azhari di MA Darul Fikri.
Adapun tehnik sampling yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan purposif sampling. Teknik analisis data menggunakan Miles and Hubberman, yang mana dalam penelitian ini mengumpulkan data dengan melakukan observasi langsung terhadap proses implementasi kurikulum Azhari di kelas dan lingkungan sekolah. Peneliti melakukan berupa kurikulum yang dipakai oleh MA Darul Fikri pada pembelajaran PAI yaitu dengan menggunakan kurikulum Azhari. Kurikulum yang dipakai disesuaikan dengan kurikulum Azhari di Mesir dan buku pembelajaran yang digunakan pun menggunakan kurikulum Azhari [20]. Soal ujian yang digunakan berbasis standar soal sesuai kurikulum Azhari di Mesir.
Adapun alur yang dilakukan dalam penelitian ini sesuai dengan teknik analisis data Miles and Hubberman adalah terdiri dari tiga alur kegiatan yang secara bersamaan dilakukan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. dari alur tersebut maka akan didapatkan data yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan peneliti. Peneliti akan menyajikan data dalam bentuk naratif untuk memudahkan pemahaman.
A. Implementasi kurikulum Azhari pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MA Darul Fikri
Kurikulum adalah salah satu alat penting yang digunakan oleh pendidik sebagai pendukung berjalannya proses pembelajaran. Peserta didik seharusnya memiliki tujuan saat memasuki kelas. Memahami ilmu, menambah wawasan, meningkatkan kecerdasan sesuai dengan levelnya, serta mengangkat kemampuan peserta didik untuk bisa selalu naik level menuju tujuan mereka dalam kehidupannya adalah beberapa tujuan yang ingin dicapai peserta didik ketika memasuki bangku sekolah. Guru sebagai fasilitator bagi peserta didik selama proses pembelajaran haruslah memahami apa yang akan dicapai peserta didik selama pembelajaran itu. Guru tidak hanya menyampaikan apa yang diketahuinya ataupun ilmu yng dikuasainya, melainkan mengimbangi kemampuan peserta didik dan menyesuaikan dengan target yang hendak dicapainya pada tingkatan tersebut.
Kurikulum merdeka yang saat ini diterapkan pada kegiatan pembelajaran di Indonesia adalah salah satu cara pemerintah untuk meningkatkan sistem Pendidikan bagi masyarakat. Peserta didik diajak untuk mulai berpikir kritis selama proses pembelajaran. Dengan berbekal profil mereka sebagai pelajar Pancasila, menerapkan budi pekerti sesuai Pancasila, peserta didik dapat merasakan berbagai macam pengalaman pembelajaran dengan berbagai metode pada kurikulum ini. Tidak lagi hanya metode ceramah yang biasa diterapkan pada kurikulum terdahulu, kurikulum merdeka kini dapat menerapkan berbagai macam metode untuk dapat menyentuh keragaman kepribadian peserta didik.
Pendidikan Agama Islam juga diterapkan di jam asrama yang menjadi pembelajaran tambahan untuk penguatan ilmu agama para peserta didik. Ada 3 pilihan program pembelajaran kelas yang diterapkan di MA Darul Fikri. Yang pertama adalah kelas bilingual yaitu program kelas dua bahasa inggris dan arab, yang kedua program kegamaan dan
ketiga program tahfizh 30 juz. Kelas dengan inovasi kurikulum dan pembelajaran pendidikan agama Islam adalah kelas Azhari. Kelas ini diminati peserta didik yang ingin mendalami pendidikan agama Islam lebih dalam lagi. Adapun implementasi kurikulum Azhari secara umum sebagai gambar berikut:
Figure 1.
penjelasan bagan diatas sebagaimana berikut:
1. Pembelajaran Kurikulum Azhari dengan Kurikulum Merdeka
MA Darul Fikri telah menerapkan kurikulum merdeka pada pembelajarannya. Kurikulum ini diterapkan pada jam pembelajaran di sekolah. Setiap kelas baik kelas Bilingual maupun kelas Keagamaan telah menerapkan kurikulum merdeka pada proses pembelajaran. Ada beberapa kesamaan konten materi pelajaran antara kurikulum Azhari dan kurikulum kementrian agama. Materi yang masih memiliki keterkaitan seperti fiqih, hadits, tafsir dan bahasa arab akan tetap menggunakan kurikulum Azhari, dan dari sini penilaian kurikulum merdeka dengan materi tersebut akan diambil sesuai yang disampaikan oleh wakil kepala sekolah bagian kurikulum Azhari di MA Dafi.
Kurikulum merdeka mulai diterapkan pada tahun 2024 adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Di awal pembelajaran pada kurikulum merdeka dilakukan asesmen untuk mengetahui kemampuan peserta didik. Prinsip pada kurikulum merdeka adalah fokus pada muatan esensial, pengembangan karakter, dan fleksibel. Kurikulum merdeka memiliki karakteristik di antaranya: pemanfaatan asesmen, kebutuhan peserta didik, kemajuan belajar, dan refleksi kolaboratif.
Pembelajaran dalam kurikulum merdeka memiliki prinsip pembelajaran intrakurikuler dengan metode diferensiasi, pembelajaran kokurikuler dengan projek penguatan profil Pancasila yang mendukung perkembangan karakter peserta didik, dan pembelajaran ekstrakurikuler yang bisa disesuaikan dengan minat bakat peserta didik. Peserta didik dapat mendalami setiap materi dan dapat menguatkan kompetensi. Pembelajaran di kelas lebih menyenangkan dan dapat diikuti oleh semua peserta didik dengan kurikulum merdeka.
Kurikulum merdeka memiliki beberapa keunggulan yaitu:
Kurikulum Azhari adalah kurikulum yang sudah bekerja sama dengan kurikulum Al-Azhar Mesir sehingga materi yang digunakan bersumber dari Mesir. Materi yang menggunakan bahasa arab sebagai bahasa pengantar membutuhkan fokus lebih bagi peserta didik untuk memahaminya. Proses pembelajaran banyak difokuskan pada
metode klasikal atau ceramah yang berfokus pada guru. Guru menjelaskan materi yang ada pada buku pembelajaran dan membimbing peserta didik dalam pemberian harakat. Guru menerjemahkan kalimat perkata untuk menambah wawasan peserta didik terkait kosakata baru. Peserta didik mulai menambah kosakata dan mengetahui cara memahami struktur kalimat dalam Bahasa arab dengan baik dan benar.
Kenyataan di MA Darul Fikri ada hal yag belum dapat terlaksana dengan baik dari komponen pendukung pada kurikulum merdeka. Pembelajaran yang sesuai minat bakat belum bisa diterapkan pada kelas Azhari. Peserta didik tetap harus mengambil semua mata pelajaran pada kelas Azhari dan mengikuti kelas tahfizh. Capaian tahfizh yang didapat peserta didik pada kelas Azhari tidak dapat disesuaikan dengan bakat mereka seperti melanjutkan hafalan yang sudah dimiliki sebelumnya, melainkan menghafal juz yang sesuai target kelas Azhari dimulai dari juz 21 sampai juz 27.
Solusi yang diberikan oleh MA Darul Fikri adalah kelas bimbingan belajar pada fase G. Peserta didik yang memiliki minat melanjutkan pendidikan di jurusan berbeda dapat mengikuti kelas bimbingan untuk pemantapan materi persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Waktu yang didapat untuk kelas ini memang tidaklah banyak sehingga peserta didik tetap membutuhkan waktu lebih untuk mendalaminya. Keaktifan peserta didik dalam mengikuti olimpiade dan lomba seputar materi yang mereka ingin fahami menjadi salah satu cara mereka untuk menguatkan pemahaman.
Pembelajaran pada kelas Azhari di MA Darul Fikri tidak membosankan. Integrasi kurikulum Azhari dengan kurikulum merdeka menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dan tidak lagi hanya mendengar ceramah materi pelajaran seperti kelas agama pada umumnya. Keaktifan peserta didik dalam mencari tahu ilmu yang sedang mereka pelajari melalui projek dan presentasi dengan bahasa pengantar bahasa arab menjadikan peserta didik lebih menguasai materi dengan baik. Peserta didik mulai berusaha memecahkan masalah sendiri dengan bimbingan guru sehingga kepercayaan diri mereka untuk membawa ilmu syari di kehidupan sehari-hari semakin besar.
Program pendukung kurikulum Azhari yang menjadi program unggulan sebagai peningkatan kompetensi peserta didik adalah program Dai Muda Berkhidmat. Peserta didik yang telah mendapatkan ilmu syari dapat langsung mengabdi kepada masyarakat. Program ini dilaksanakan dengan rutin setiap Ramadan. Selain di bulan Ramadan peserta didik juga mengabdi kepada masjid di masyarakat untuk ikut aktif dalam kegiatan masjid. Ilmu yang telah mereka dapatkan terdukung untuk dapat mereka fahami secara bermakna.
MA Darul Fikri memiliki visi yaitu mencetak generasi pemimpin penghafal al quran yang berkompetensi global sesuai yang terdapat pada Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan MA Dafi. Selain pembelajaran sesuai jurusannya peserta didik juga mendapatkan bekal pendidikan agama Islam yang matang, baik yang berada di program kegamaan, tahfizh, maupun kelas bilingual. Fokus peserta didik dalam keilmuan saintifik maupun sosial tidak menghalangi mereka untuk mendalami agama Islam. Karena ini adalah bekal utama seorang ilmuwan muslim. Dengan ilmu matang yang mereka dapatkan selama pembelajaran di sekolah, peserta didik di MA Darul Fikri siap menjadi ahli ilmu di bidangnya masing-masing yang juga dapat mendakwahkan agama Allah.
Karena itu perlu penguatan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam yang didapat oleh peserta didik di MA Darul Fikri meliputi fikih, hadits, tafsir, akidah akhlak, dan bahasa arab. Dengan kurikulum merdeka guru mengajak peserta didik mendalami ilmu agama dengan lebih menarik dan menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran mereka. Selanjutnya ada pembelajaran tambahan di jam asrama untuk menambah wawasan dan penguatan ilmu agama Islam. Peserta didik diharapkan dapat langsung bisa memahami sekaligus mempraktikkan ilmu agama dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari sekaligus dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya dalam penerapan ilmu syariat yang benar.
Berbeda dengan kelas bilingual, di kelas dengan program kegamaan peserta didik diharapkan dapat lebih memahami dan menguasai agama Islam lebih daripada kelas lainnya. Fokus mereka adalah memahami ilmu agama Islam secara umum dan khusus. Karena itu MA Darul Fikri menginovasikan implementasi kurikulum Azhari sebagai alat pembantu pembelajaran pendidikan agama Islam untuk program kegamaan yang diintegrasikan dengan kurikulum merdeka. Dengan program ini diharapkan peserta didik di MA Darul Fikri dapat menjadi ahli agama penghafal al quran dan dapat melanjutkan studi ke jenjang berikutnya di universitas timur tengah.
Universitas timur tengah seperti Al Azhar Mesir, Universitas Islam Madinah, merupakan universitas dengan pendidikan yang dikhususkan tentang syariat atau agama Islam. Misi Dafi Pesantren Al quran Science sebagai yayasan yang menaungi MA Darul Fikri dapat tercapai dengan masuknya peserta didik ke universitas tersebut. Yayasan Dafi Pesantren Al quran Science mempunyai visi mencetak pemimpin yang berkompetensi global dan hafal al quran. Para hafizh qur’an di Dafi tidak hanya menghafal al quran tetapi juga memahami makna dan tafsir ayat-ayat al quran.
Untuk memudahkan pembelajaran pendidikan agama Islam MA Darul Fikri melakukan inovasi untuk mengembangkan pencapaian peserta didik dalam Pendidikan agama Islam. MA Darul Fikri bekerja sama dengan Al– Azhar Mesir melalui Yayasan Al-Azhary Indonesia menerapkan kurikulum Azhari pada kelas peminatan keagamaan. Kelas ini selanjutnya diberi nama kelas dengan program Azhari atau kelas Azhari. Materi yang akan diterima peserta didik dalam kurikulum ini meliputi fikih syafi’i, tafsir, hadis, balaghoh, nahwu, shorof, sastra arab, bahasa arab, tsaqofah, dan lainnya.
Peneliti telah mengumpulkan data melalui wawancara yang dilakukan kepada kepala sekolah, koordinator kurikulum Azhari, wakil kepala kurikulum Ulumu Syari, dan peserta didik. Kepala Madrasah MA Darul Fikri menjelaskan tentang implementasi kurikulum azhari yang berlaku di MA Darul Fikri. Kurikulum Azhari ini adalah kurikulum merdeka yang digabungkan dengan kurikulum tambahan yang terdiri dari mata pelajaran-mata pelajaran yang akan diteskan pada seleksi ke universitas di Timur Tengah seperti Al Azhar Kairo dan universitas Timur Tengah lainnya sehingga jika dipelajari sejak kelas 10 menempuh mata pelajaran dengan tingkat kesulitan soal-soal berbasis Al Azhar maka kemungkinan besar santri akan dapat mengerjakan dengan mudah.
Implementasi kurikulum merdeka dengan tambahan kurikulum Azhari sangat berkorelasi. Ilmu agama Islam pada kurikulum Azhari cukup dalam dan dapat menjadi sandaran awal ilmu agama dengan madzhab syafii. Pembelajaran lebih menarik dengan kurikulum merdeka yang mengajak peserta didik aktif berkontribusi dalam pembahasan esensial setiap materi Azhari. Mendengarkan guru ceramah selama pembelajaran tidak lagi menjadi karakteristik utama dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di MA Dafi.
2. Standar SDM Pada Implementasi Kurikulum Azhari
Implementasi kurikulum Azhari MA Darul Fikri melakukan beberapa tahap agar inovasi pembelajaran di kelas ini dapat berjalan dengan baik. MA Darul Fikri mengirimkan utusan dari pendidik di bidang ilmu syari untuk mengikuti pelatihan pengajaran bahasa arab yang dapat membuat peserta didik lebih aktif berbahasa arab. Adanya pelatihan Bahasa Arab untuk para guru juga menguatkan pemantapan guru dalam berbahasa arab secara aktif. Selanjutnya MA Darul Fikri juga melakukan kerja sama dengan Al-Azhar Asy-Syarif di Kairo melalui Yayasan Al-Azhary Indonesia untuk menerapkan kurikulum azhari di MA Islam Terpadu Darul Fikri.
Standar SDM pada kurikulum merdeka adalah memiliki kemampuan pedagogik untuk memahami kemampuan dan kebutuhan setiap peserta didik di kelas. Guru juga harus memiliki kepribadian yang baik sehingga dapat menjadi teladan bagi peserta didik. Memiliki kompetensi profesional yang berarti menguasai pengetahuan secara luas dan mendalam juga harus dimiliki oleh guru pada kurikulum merdeka. Kompetensi sosial pun akan membantu guru dalam berinteraksi kepada peserta didik selama pembelajaran dengan karakter yang berbeda.
Pada kurikulum Dafi khususnya di kelas Azhari standar SDM sudah sesuai dengan standar SDM pada kurikulum merdeka. Guru memiliki kompetensi bahasa Arab dan syar'i yang unggul. Tidak sekadar mengajar kepada santri tentang mata pelajaran yang rata-rata hampir sama antara kurikulum Azhari dengan kurikulum Kemenag, tetapi lebih banyak berkreasi untuk memahamkan peserta didik dengan kompetensi yang lebih tinggi yang sering disebut high order thinking skill atau hots. Kesiapan guru yang memiliki kompetensi bahasa arab dan syar'i yang unggul terbukti dari guru yang terus berkreasi untuk memahamkan peserta didik.
Guru yang mengajar di kurikulum Azhari adalah lulusan dari universitas Timur Tengah seperti Universitas Al Azhar di Mesir, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Arab di Jakarta, International University of Africa di Sudan, dan lain sebagainya. Lancarnya pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas Azhari didukung dengan guru yang memiliki ilmu bahasa arab yang baik dan memiliki dasar pengetahuan agama Islam atau ilmu syari. Selain itu, proses pembelajaran di kelas menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dan tidsk lagi hanya dengan metode ceramah.
3. Rencana Pengembangan Sekolah
Untuk mendukung pendidikan di Indonesia pemerintah telah menerapkan kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka. Kurikulum yang berfokus pada materi esensial ini membantu peserta didik memahami pelajaran dengan baik. Target peserta didik untuk dapat memahami materi yang tertinggal terutama akibat dampak pandemic di tahun 2020 dapat direalisasikan dengan kurikulum merdeka ini, di mana peserta didik juga dapat memilih materi sesuai minat bakat.
Pada kurikulum Azhari peserta didik akan mendapatkan ijazah yang telah disesuaikan dengan kurikulum Al-Azhar di Mesir. Ijazah ini akan memudahkan peserta didik untuk mendaftar ke universitas di Timur Tengah seperti yang diungkapkan oleh koordinator Azhari MA Darul Fikri. Peserta didik di kelas Azhari diarahkan untuk dapat meneruskan pendidikan mendalami ulumu syari. Pembelajaran dengan materi dari Al-Azhar yang berbahasa arab yang diintegrasikan dengan kurikulum merdekan akan menambah ketertarikan mereka seputar pendidikan agama Islam.
Peserta didik tidak hanya belajar bahasa arab dari buku Al-Arobiyah Bayna Yadaik saja, tetapi juga dengan tambahan dasar ilmu Bahasa Arab lain seperti nahwu dan shorof. Nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaidah berbahasa arab yang baik. Begitu juga shorof yang mempelajari perubahan bentuk kata dalam bahasa arab yang nanti akan memengaruhi cara penggunaannya pada kalimat. Keaktifan peserta didik dalam memahami Bahasa Arab sangat membantu proses peningkatan keterampilan mereka. Ini dapat dilihat dari hasil proyek mereka yang dapat membuat
percakapan bahasa arab sendiri bermodal ilmu yang mereka dapat selama 3 bulan kelas persiapan bahasa. Peserta didik mulai dapat aktif berbicara bahasa arab dan melakukan percakapan bersama temannya.
Kemampuan Bahasa Arab juga terus berkembang dengan didukung program asrama yang membiasakan praktik Bahasa Arab pada keseharian seperti dalam halaqah tahfizh, kajian pekanan, percakapan dengan guru dan lainnya. Termasuk dengan kajian fahmul qur’an yakni kelas kajian sore rutin. Dalam kajian Fahmul Qur’an peserta didik mempelajari pemahaman al quran dengan mengetahui arti setiap kata di setiap ayat. Setiap kata dalam al quran yang berbahasa arab makin menambah wawasan dan perbendaharaan kata peserta didik dalam Bahasa Arab. Sehingga mendukung peserta didik lebih aktif dalam berbahasa arab dan memudahkan dalam memahami teks berbahasa Arab. Selain itu, program tahfizh yang ada di MA Dafi sangat mendukung perkembangan peserta didik dalam mengikuti kelas Azhari. Al-quran adalah dasar aturan hidup pertama untuk semua manusia. Sebelum memulai ilmu lain yang tampak penting, memahami al quran dan senantiasa mengingatnya lebih penting dan lebih diutamakan lebih dari apapun. MA Dafi mengharapkan peserta didik dapat menjadikan al quran sebagai bekal kehidupan
Visi Yayasan Darul Fikri yaitu menghasilkan generasi pemimpin penghafal al quran yang berjiwa nasionalis dan berkompetensi global menjadikan Dafi membuka peluang belajar dengan berbagai ragam kecenderungan. Namun tidak terlewat untuk memulai semua ilmu ini dengan al quran. Peserta didik mendapatkan kelas tahfizh atau menghafal al quran sesuai target kelasnya masing-masing. Dengan target capaian minimal 5 juz memberikan bekal pengetahuan dasar agama lebih dalam kepada peserta didik melalui tahfizh al quran.
Sebagai umat muslim salah satu dasar yang harus selalu dijaga adalah tauhid. Tauhid yang memiliki arti secara bahasa mengelompokkan beberapa komponen menjadi satu hal adalah bentuk pemaknaan manusia kepada kehidupan dan Tuhannya. Karena itu makna tauhid adalah mengesakan Allah yang berarti tidak menuhankan takdir hidup kepada selain Allah. Keimanan yang kuat hendaklah dibangun sejak dini. Karena pengenalan Allah kepada manusia sangat dibutuhkan oleh roh dan jiwanya. Akan menjadi salah jika Pendidikan dan pengenalan perta orang tua kepada anaknya di awal bukan tentang tauhid dan pengenalan Allah.
MA Darul Fikri ingin terus menjaga pendidikan awal yang telah dilakukan orang tua terhadap anaknya. Penguatan iman, karakter sebagai muslim yang bertakwa, dan melekatnya al quran sebagai landasan aturan kehidupan dikuatkan pada setiap pembelajaran di MA Darul Fikri. Termasuk dengan adanya program tahfizh untuk semua jenjang dan semua kelas. Guru juga meningkatkan hafalan al-qurannya dan mendapat pendampingan untuk penguatan hafalan.
Sebelum memulai program tahfizh peserta didik mendapatkan pembekalan terkait tajwid dan ghorib agar dapat memudahkan menghafal al quran. Menghafal al quran tidak dapat hanya dilakukan dengan kemampuan menghafal, tetapi bacaan yang benar sesuai dengan aturan tajwid juga sangat memengaruhi kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan target capaian hafalan mereka. Tidak hanya peserta didik, para guru pengajar pendampingan tahfizh pun mendapatkan pelatihan khusus wafa untuk memperkuat pemahaman tentang tajwid dan bagaimana membaca al quran dengan baik. Guru juga mendapatkan pelatihan membaca al quran dengan nada hijaz yang selanjutnya diaplikasikan dalam bacaan al quran Bersama peserta didik setiap harinya,
Sebelum memulai halaqoh atau kelompok guru mengulang pengetahuan tentang tajwid dan mentalaqqi peserta didik beberapa ayat dalam al quran tiga baris di setiap pertemuannya dengan menggunakan nada hijaz. Pembiasaan talaqqi secara rutin setiap pertemuan tahfizh di pagi hari ba’da shubuh, pembelajaran pagi di sekolah, dan malam hari ba’da magrib meningkatkan kemahiran peserta didik dalam membaca al quran dengan benar dan sesuai tajwid. Sehingga kesalahan berulang yang sering terjadi saat membaca al quran pada umumnya seperti panjang mad thabi’i yang dua harakat, mad jaiz munfashil dan mad wajib muttashil serta ghunnah dapat segera teratasi dengan talaqqi dan koreksi bacaan setiap kelas tahfizh berlangsung. Kemudahan dalam mengkhatamkan hafal al quran tidaklah lagi menjadi hal yang berat.
Selain itu, penguasaan ilmu agama Islam dapat lebih kuat dengan hafalan al quran yang mutqin. Karena itu MA Dafi melakukan ujian tasmi’ dan tashih 1 juz setelah menyelesaikan hafalan di juz tersebut. Setelah itu, peserta didik juga akan mengikuti tashih setiap kelipatan 5 juz untuk makin menguatkan hafalan al-qu’an. Karena menghafal al quran bukanlah hanya sekadar menghafal ilmu yang akan digunakan ketika mereka hidup saja, namun akan digunakan sebagai bekal hidup di dunia dan di akhirat. Al quran juga merupakan sumber utama hokum syariat untuk umat manusia. Sehingga menghafal al quran sampai mutqin dapat memudahkan peserta didik untuk memahami ilmu agama Islam.
Program lain di MA Darul Fikri yang dapat menguatkan pemahaman peserta didik dalam mengikuti kelas Pendidikan Agama Islam adalah program kajian Fahmul Quran setiap sore di asrama setengah jam sebelum magrib. Fahmul qur’an adalah kajian rutin harian yang bertujuan untuk memahami al quran. Peserta didik memahami al quran dengan mempelajari arti per kata di setiap ayatnya. Dimulai dari surat Al-Fatihah dan dilanjutkan Surat Al-Baqarah. Pemahaman al-qu’an perkata ini sangat mendukung perkembangan bahasa dan informasi peserta didik tentang ilmu agama Islam secara lebih detail dan benar. Karena semua yang ada di dalam al quran adalah kebenaran.
Saat kajian fahmul qur’an dimulai peserta didik akan membaca bersama ayat yang akan dibahas pada pertemuan tersebut. Selanjutnya guru menyebutkan setiap kata beserta maknanya pada setiap ayat dan diikuti oleh peserta didik. Setelah selesai membaca bersama perkata beserta maknanya, peserta mengulangi setiap ayat satu per satu secara
bergilir untuk memastikan informasi tentang arti setiap kata pada setiap ayat dapat mereka hafal dengan baik. Selanjutnya guru akan membahas tentang tafsir pada ayat tersebut dan hukum yang dapat diambil.
Agenda pemberian mufrodat atau kosakata bahasa arab baru setiap malam sebelum jam belajar malam saat di asrama juga menambah kemampuan Bahasa Arab mereka. Peserta didik tidak hanya mendapatkan kosakata Bahasa Arab baru setiap malam, tetapi juga contoh aplikasi kosakata tersebut dalam kalimat sempurna. Peserta didik dapat melatih kemampuan berbahasa arab mereka dengan mulai mempraktikkan penerapan kosakata baru tersebut dalam kalimat. Sehingga kecakapan mereka makin terasah dan meningkat.
Guru juga memberikan waktu khusus kepada peserta didik di jam belajar malam asrama untuk dapat mengembangkan kemampuan mereka. Dimulai dengan pendalaman materi Bahasa Arab yang suah mereka dapatkan selama pembelajaran di sekolah dan luar sekolah, guru memberikan soal-soal latihan dan peserta didik mengerjakannya pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Soal-soal yang diterima berupa soal-soal dasar untuk mengukur tingkat pemahaman mereka. Selain itu peserta didik juga dapat konsultasi terkait materi yang ingin didalami lebih lanjut. Peserta didik pun mendapat kesempatan mengerjakan latihan soal untuk materi lain yang terkait dengan ilmu agama Islam seperti fiqih, hadits, balaghah dan lain sebagainya.
Perkembangan peserta didik dalam ilmu agama Islam terus dipantau secara rutin oleh guru di MA Dafi. Ini menjadikan ilmu peserta didik makin kuat dan dapat difahami lebih dalam. Pendidikan agama Islam tidak lagi ,menjadi ilmu yang dinomer duakan. Karena di asrama selain adanya pembahasan lebih lanjut pada kajian rutin terkait ilmu agama, praktik agama juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam pantauan dan bimbingan para guru agama. Sehingga jika ada kesalahan dalam praktik kesehariannya, guru segera membenarkan dan menjelaskan bagaimana seharusnya praktik ibadah yang benar sesuai dengan al quran dan sunah.
Mencetak para pemimpin adalah salah satu visi besar yayasan Darul Fikri. Pemimpin adalah yang bisa memggerakkan tim mencapai tujuan kelompok tersebut. Tidak hanya yang menyuruh anggota melakukan target-target tertentu, bukan pula yang ingin menguasai suatu kelompok untuk kepentingan dan tujuan pribadi, tetapi yang dapat mengapresiasi sesama, menguatkan tim, dan memiliki kekuatan dan keinginan besar menuju kebaikan. Bagaimana peserta didik di MA Dafi didik untuk memiliki jiwa kepimimpinan ini adalah salah satu program besar yang mengiringi pembelajaran inti di kelas termasuk kelas Azhari dalam pendalaman pendidikan agama Islam.
MA Dafi memiliki program pembentukan karakter kepemimpinan seperti LDKS. LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa yang diikuti peserta didik sebelum dilantik menjadi anggota Osidafi atau Osis Darul Fikri adalah pelatihan dasar untuk kuat menjadi pemimpin. Dimulai dari memimpin kelompok untuk menyelesaikan misi yang didapat selama pelatihan, hingga memimpin suatu acara yang diadakan oleh peserta didik selama menjadi peserta LDKS. Acara yang diadakan ini terbuka untuk siswa di tingkat SMP seJawa Timur. Peserta didik membentuk panitia acara tersebut selama agenda LDKS ini. Dari menyusun acara, mencari peserta, hingga mengkoordinir terjalannya acara pada saat acara berlangsung.
Peserta didik mendapat pengalaman yang luar biasa selama agenda LDKS berlangsung. Peserta didik berkesempatan mendapat pengalaman untuk menjadi panitia acara dengan bimbingan guru pendamping. Kesempatan ini melatih peserta didik untuk berpikir kritis sebagai calon pemimpin dan menjadi bijak dalam mengambil tindakan serta keputusan. Kerja sama tim adalah salah satu poin penting yang mulai mereka kenali dan pelajari untuk mencapai suatu tujuan. Bukan lagi soal kesombongan karena mendapatkan pengalaman yang lebih dari yang lain atau mendapat kepercayaan lebih dari guru untuk menyelesaikan suatu target seperti mencari peserta, mencari donatur, mengumpulkan ide untuk acara, atau tampil sebagai MC maupun ketua panitia, tetapi menyelesaikan target bersama demi kesuksesan acara adalah hal yang mereka dapat untuk dipelajari sebagai bekal menjadi pemimpin nantinya.
Salah satu ciri pemimpin yang baik dan dapat dipercaya adalah yang memiliki iman yang kuat. Sebagai muslim kita telah mempelajari kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat serta nabi-nabi terdahulu. Kepimimpinan yang ada para nabi-nabi terdahulu tidaklah melanggar aturan sosial atau yang membuat tampak seperti manusia yang paling benar. Sehingga memaksa masyarakat untuk mengakuinya sebagai nabi atau memberikan keputusan kepada kaumnya yang bersifat memaksa sebagai pemimpin yang berkuasa. Justru dengan ketenangan hati dari Allah serta iman yang terus bertambah setelah mendapatkan berbagai cobaan, para nabi dan rasul dengan sabar dan ikhlas mengajak kaumnya untuk menuju kebenaran yang hakiki.
Mencetak generasi yang tangguh merupakan visi besar yang mana diperlukan sesosok pemimpin yang baik. Baik secara pikiran, jiwa maupun adab atau etikanya. Untuk itulah Dafi mempersiapkan calon pemimpin yang memiliki kompetensi global dan faham al quran. Maka tujuan manusia mendapatkan kehidupan yang tenang dan bahagia di dunia dan di akhirat akan terwujud. Kebersamaan peserta didik bersama al quran selama di MA Dafi menguatkan karakter qurani mereka dan menciptakan kesadaran iman yang lebih kuat di dalam jiwa mereka. Ini adalah salah satu hal mahal yang ditemukan pada para pemuda masa ini.
Program LDKS ini memberikan peserta didik kesempatan belajar untuk mengontrol diri dalam memberikan keputusan dan mengeluarkan kebijakan. Termasuk penentuan penanggung jawab di setiap masing-masing divisi. Tidaklah menentukan penanggung jawab ini semata-mata karena kedekatan dengan teman tersebut, tetapi karena tujuan untuk kesuksesan acara dan kebaikan kedepannya. Emosi yang didapat selama agenda LDKS berlangsung
melatih mental mereka untuk tetap kuat. Dengan banyaknya agenda serta permasalahan yang mereka temui saat berhubungan dengan masyarakat di luar MA Dafi, peserta didik mencoba menghadapinya dengan kesabaran. Dan salah satu agenda yang tidak terlewatkan adalah tahajud berjamaah di lapangan. Di tengah gelapnya malam berbintang yang syahdu, peserta didik mendapatkan pengalaman indahnya bertawakkal, menyerahkan segalanya kepada Allah di saat merasa sedang penuh dengan beban.
Penerapan tauhid dan kegiatan ibadah yang sesuai aturan menguatkan pemahaman peserta didik terhadap pendidikan agama Islam. Baik dari kelas Azhari maupun kelas Bilingual dan kelas Tahfizh. Karena di MA Dafi tujuan utama pendidikan agama Islam tidaklah hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga kuat dalam penerapan di kehidupan sehari-hari. Dan untuk kelas Azhari akan lebih memahami ilmu syariah sesuai dengan buku Azhari yang mereka baca sebagai buku pengantar.
Program MA Dafi lainnya yang mendukung peserta didik untuk menjadi pemimpin hebat dengan penerapan ilmu agama Islam adalah melalui program Dai Muda Berkhidmah atau DMB. Program ini dilaksanakan pada saat Ramadan di setiap tahunnya. Peserta didik akan mengabdikan ilmu agama yang telah mereka dapatkan dan fahami selama ini untuk masyarakat. Ini menjadikan mereka memahami pentingnya ilmu agama dan indahnya berbagi ilmu kebaikan untuk masyarakat. Doa memohon ilmu yang bermanfaat yang peserta didik baca setiap kali memulai agenda tampak Allah wujudkan melalui program ini.
Berhubungan dengan masyarakat langsung adalah pengalaman besar bagi peserta didik untuk menuju dewasa. Peserta didik langsung mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan petinggi di daerah tujuan dan beberapa sekolah yang akan mejadi ladang dakwah mereka. Dengan panduan guru pendamping peserta didik belajar hal-hal penting saat mereka akan berkegiatan di masyarakat. Dimulai dari penggunaan bahasa, adab bertamu, hingga bagaimana menghormati adat warga di lokasi DMB adalah hal yang sudah patut mereka kuasai.
Selama program DMB peserta didik bekerja sama dengan sekolah untuk mengisi kegiatan pondok Ramadan. Di mana peserta didik mengajar di tingkat SD dalam hal kegamaan atau pendidikan agama Islam seperti fiqih puasa dan shiroh nabawiyah. Selain itu peserta didik juga berkesempatan mengajar tahfizh al quran dan tajwid baik di sekolah maupun di TPA sekitar. Mengajar anak-anak di sekolah menjadikan pengalaman belajar peserta didik dalam pendidikan agama Islam bermanfaat. Bagimana mengingatkan peserta didik di jenjang SD tentang iman, pentingnya niat, dan praktik ibadah membuat makin ahli dalam pendidikan agama Islam ini.
Manajemen kelas selama menjadi guru pada agenda Dai Muda Berkhidmat ini terus terlatih dan berkembang dengan pembinaan rutin dengan guru pendamping. Sesi evaluasi di malam hari menjadi wadah peserta didik untuk saling berbagi pengalaman, memotivasi, memberi masukan, memunculkan ide-ide kreatif serta mendapat dorongan yang kuat dari guru pendamping untuk makin berkembang. Keuletan mereka terlatih, inisiatif mereka terbentuk, dan kedewasaan sebagai calon pemimpin qurani yang memiliki jiwa nasionalis dan potensi global.
Pada artikel yang ditulis oleh Indah Rumondang Manik tentang Pelaksanaan Program Praktik Pengajaran Lapangan (PPL) Sebagai Perwujudan Peningkatan Keterampilan Mengajar di SMK Negeri 1 Pematang [21], salah satu hal yang dapat meningkatkan kemampuan peserta didik adalah dengan melakukan praktek mengajar dengan mengajarkan ilmu yang sudah mereka dapatkan. Keterampilan peserta didik dalam menyampaikan ilmu yang telah mereka dapatkan dan bagaimana memecahkan masalah dalam mengontrol dan memimpin kelas. Dengan bimbingan dari guru pendamping, peserta didik dapat terus mengembangkan kemampuan dan ilmu mereka melalui program mengajar ini.
Peneliti menyimpulkan bahwa program praktek mengajar adalah salah satu sarana yang dapat mendukung pembelajaran pendidikan termasuk pendidikan agama Islam. Ilmu syariah banyak yang bersifat aplikatif dan dibutuhkan pemahaman yang kuat untuk dapat menerapkan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu ini berkaitan dengan ibadah dan pembentukan karakter yang kuat sebagai muslim. Prakter mengajar dalam agenda Dai Muda Berkhidmat ini menunjukkan karakkter kuat peserta didik di MA Dafi sebagai seorang muslim hafiz, berjiwa nasionalis dan berkompetensi global.
Banyak peminat dari kelas Peminatan Keagamaan mengharapkan dapat memahami agama Islam lebih detail dengan dalil yang benar dan sesuai dengan al quran dan hadits yang shohih. Peserta didik telah mendapatkan ilmu agama pada jenjang sebelumnya yang menjadikan mereka tidak asing dengan materi Pendidikan agama Islam.
Faktor pendukung implementasi kurikulum azhari ini dengan adanya pengajar ilmu syariah yang mumpuni. Walaupun ada siswa yang tidak memiliki pemahaman dasar berbahasa arab, MA Dafi mengadakan kelas penguatan bahasa arab melalui program Akselerasi Bahasa Arab, Kemauan siswa untuk dapat lulus tes seleksi universitas di Timur Tengah membuat siswa terus bersemangat menguasai bahasa Arab selama program akselerasi.
Guru pengajar di kelas Peminatan Keagamaan merupakan pakar di bidang keagamaan. Beberapa dari guru adalah lulusan dari universitas Timur Tengah dengan jurusan syariah, sastra arab, tafsir dan jurusan lain yag sangat membantu pembelajaran pendidikan agama Islam. Dengan ini menjadikan peserta didik makin mendapatkan wawasan tentang pengalaman guru menuntut ilmu dan bagaimana ilmu agama yang sesungguhnya, khususnya perbedaan madzhab yang dapat ditemukan di universitas Timur Tengah lain yang menerapkan madzhab berbeda dari Indonesia. [22]
Adapun faktor pendukung dalam implementasi kurikulum Azhari yaitu:
Figure 2.
1. Kelas Intensif Bahasa Arab
Implementasi Kurikulum Azhari pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelas Azhari dimulai dengan persiapan bahasa selama 2 bulan pertama pada awal semester pertama di kelas 10. Peserta didik diharapkan dapat menguasai Bahasa Arab untuk dapat memahami pembelajaran pada kurikulum Azhari yang menggunakan bahasa pengantar utama Bahasa Arab. Peserta didik yang belum memiliki keterampilan berbahasa Arab pun dapat ikut mengembangkan kemampuan berbahasa arabnya.
Pada program karantina Bahasa Arab ini peserta didik menggunakan buku Bahasa Arab Al-Arobiyah Bayna Yadaik sebagai materi pembelajaran. Buku ini sangat membantu peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Arab khususnya pemula. Karena metode pembelajaran yang dilakukan pada buku ini meliputi qiroah atau bacaan, istima’ atau pendengaran, kalam atau berbicara dan kitabah atau penulisan. Keempat keterampilan dasar berbahasa arab yang harus dikuasai peserta didik untuk mahir dan memahami Bahasa Arab didapatkan peserta didik di program karantina persiapan Bahasa Arab di 3 bulan pertama ini.
2. Sumber Daya Manusia
Guru dengan latar belakang agama Islam, pendidikan dan bahasa arab menjadi faktor pendukung implementasi kurikulum Azhari di MA Darul Fikri. Kurikulum Azhari yang menggunakan materi pembelajaran dengan buku berbahasa arab membutuhkan guru yang dapat berbahasa arab aktif dan memahami ilmu agama dengan baik. Dengan adanya guru dengan latar belakang agama Islam dan bahasa arab sangat membantu peserta didik memahami materi selama proses pembelajaran.
Pelajaran Bahasa Arab peserta didik memakai buku Al Arabiyah Baina Yadaik. Buku ini sangat membantu pembelajaran dasar untuk memahami Bahasa Arab. Bagi peserta didik dengan latar belakang yang belum pernah mempelajari Bahasa arab sebelumnya, menggunakan buku ini sebagai media pembelajaran adalah hal yang tepat dan
sangat memudahkan proses pembelajaran. Banyak praktik dan latihan yang diterapkan pada buku ini di setiap materinya. Sehingga peserta didik dapat dengan mudah terbantu dalam menguasai Bahasa Arab sebagai landasan awal pembelajaran pendidikan agama Islam.
Kurikulum merdeka dapat diimplementasikan dalam pembelajaran ini. Keaktifan peserta didik selama proses pembelejaran Bahasa arab dengan sistem kurikulum merdeka belajar mempercepat proses penguasaan mereka dalam materi Bahasa Arab. Tidak hanya itu, salah satu program unggulan MA Darul Fikri yaitu bilingual atau berbahasa inggris dan arab secara aktif juga diterapkan di asrama. Di asrama peserta didik juga dilatih untuk bisa terus aktif berbahasa arab. Dimulai dari saat saling sapa dengan teman, berbicara dengan guru, hingga menyampaikan pengumuman tentang suatu informasi kepada seluruh peserta didik juga menggunakan Bahasa arab.
Kreatifitas guru dalam mendampingi peserta didik untuk menguasai bahasa arab sangat dibutuhkan. MA Darul Fikri berharap peserta didik dapat lebih terasah dan semakin aktif berbahasa arab dengan buku Al Arobiyah Baina Yadaik. Menurut Sayid Munadi Siddiq dan Laily Fitriani dalam artikel Teaching Arabic Grammar Using The Textbook Al-Arabiyah Bayna Yadaik Series 4 At Ma’had Aly Ar Raayah, buku tersebut menggunakan Bahasa fusha yang bagus untuk menambah kosakata dan mengasah kemampuan peserta didik menggunakan struktur kaidah Bahasa Arab yang baik dan benar [23]. Berdasarkan kesimpulan pembahasan di atas peneliti menyimpulkan buku ini menjadi salah satu media pembelajaran menarik yang dapat memudahkan peserta didik untuk menguasai bahasa arab. Pembelajaran dengan empat Maharah atau keterampilan yang tersaji dalam buku ini mengembangkan kemampuan Bahasa arab peserta didik dan dapat menjadikan peserta didik mampu berbahasa arab aktif.
Pembelajaran bahasa arab dengan kurikulum merdeka belajar di MA Darul Fikri menggunakan buku Al Arobiyah Baina Yadaik sebagai media pembelajarannya membuat peserta didik mulai memecahkan masalah tentang kosakata bahasa arab yang mereka dapat baik dari video maupun audio. Peserta didik juga mulai menganalisis teks lisan maupun melakukan eksplorasi literasi digital selama proses pembelajaran. Dari sini peserta didik mulai terbiasa dan dapat memahami bahasa arab dengan mudah. Dan bagi yang sudah mempunya pengalaman dan sudah memahami beberapa kosakata dasar Bahasa arab dapat makin berkembang dengan penerapan kurikulum merdeka belajar pada pembelajaran ini.
Penguasaan peserta didik pada bahasa arab membantu mereka dalam menerima kurikulum Azhari. Di kelas peminatan keagamaan yang sekarang disebut kelas Azhari, peserta didik tidak lagi hanya belajar bahasa arab dasar. Mereka juga mulai mendalami kaidah bahasa arab seperti nahwu dan shorof. Pemahaman peserta didik terhadap kaidah dasar bahasa arab ini tidak semudah saat mereka belajar bahasa arab. Banyak kaidah Bahasa arab yang perlu dikuasai untuk mencapai tingkat bahasa arab yang bagus. Dari segi struktur kalimat, pengelompokan mudzakkar dan muannats, ketentuannya, serta pengaruh keadaan posisi kata pada struktur kalimat yang bisa mengubah harakat ataupun huruf pada suatu kata. Perubahan ini juga mempengaruhi makna pada setiap kalimat.
Peserta didik cukup merasa berat dengan ilmu baru yang harus mereka fahami untuk menguasai bahasa arab. Kaidah pada suatu bahasa memang bukanlah hal mudah untuk langsung difahami. Namun kaidah bahasa arab lebih detail dan memiliki rumus yang bermacam. Karena itu peserta didik membutuhkan fasilitas pendukung untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Dengan hadirnya para guru yang ahli di bidangnya, lulusan dari akademi timur tengah dan memiliki pengalaman bahasa arab terbaik, peserta didik mulai terbantu dan dapat mengikuti pembelajaran kaidah bahasa arab.
Peserta didik yang sudah mulai menguasai bahasa arab makin kuat dalam penguasaan kaidah bahasa arab. Mereka mulai dapat menganalisis dan memecahkan masalah kaidah bahasa arab yang terdapat pada literasi yang mereka hadapi. Guru juga mengarahkan peserta didik untuk dapat mempraktikkan pemahaman mereka dalam kaidah bahasa arab melalui praktik literasi yang mereka terapkan sendiri. Peserta didik diberi suatu tema ataupun judul lalu mereka membuat tulisan dengan kategori tertentu. Kategori yang diberikan tidaklah terlalu berat. Bagi peserta didik dengan kemampuan yang masih awal maka diminta membuat kalimat sempurna dengan satu kosakata baru yang diterima.
Ilmu agama yang telah mereka pelajari tidak hanya mereka dapatkan tetapi juga fahami, tumbuh rasa takut kepada Allah di saat melakukan kesalahan. Salah satu peserta didik dari kelas Azhari menyampaikan setelah melakukan pelanggaran. Dia merasa resah setelah melakukan pelanggaran, merasa bersalah dan segera ingin mengakui untuk mendapat konsekuensi yang sesuai dengan pelanggaran yang telah dilakukan. Padahal guru belum memanggilnya ataupun membahas terkait pelanggaran ini. Namun rasa bersalah yang timbul karena ketakutan kepada Allah dan tanggung jawab sebagai hamba atas semua amalan yang dilakukannya membuat peserta didik sadar akan pentingnya ketaatan dan kejujuran.
Keseharian yang selalu didasarkan pada al quran dan sunnah melatih peserta didik untuk terbiasa melakukan kegiatan dengan dasar yang kuat dan benar. Tidak lagi taku melakukan pelanggaran karena guru atau konsekuensi, tetapi karena peahaman mereka terhadap kebaikan yang sesungguhnya. Tidaklah lagi baik itu semata-mata karena apresiasi atau pegakuan dari orang lain, karena orang lain yang memberikan label baik hanya atas dasar penilaian sebagai manusia. Belum pasti diungkapkan karena kebenaran yang sesuai dengan al quran dan sunnah.
Adapun faktor penghambat dalam implementasi kurikulum Azhari di MA Darul Fikri adalah sebagai berikut:
Figure 3.
1. Kemampuan Bahasa Arab Peserta Didik
Faktor penghambat pembelajaran dalam implementasi kurikulum Azhari di MA Dafi adalah kemampuan berbahasa arab yang masih pemula. Kosakata tingkat tinggi yang tertulis di buku pelajaran pada kelas Azhari membuat peserta didik merasa susah. Ilmu agama yang mereka terima di kelas tidak dapat langsung mereka terima dengan baik karena fokus mereka untuk memahami tiap kosakatanya. Saat guru menjelaskan dibutuhkan pemberian arti perkata pada setiap bacaan yang ada pada buku pelajaran. Karena penjelasan secara umum pada kalimat atau paragraf belum bisa mereka fahami secara utuh. Akan masih banyak pertanyaan yang muncul dari peserta didik, bukan tentang diskusi terkait materi tetapi tentang arti setiap kata yang terdapat pada buku tersebut. Sehingga pembelajaran dan materi terhambat oleh kebutuhan kosakata untuk tingkat lanjutan ini.
Pada pembelajaran kurikulum Azhari kemampuan Bahasa arab sangat dibutuhkan. Kemampuan bahasa arab peserta didik yang masih di tingkat pemula mengharuskan mereka untuk melatihnya dengan lebih tekun. Dalam artikel Problematika Pembelajaran Mahasiswa Lulusan Sekolah Umum pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta yang ditulis oleh Nanda Pratama, Muhammad Syafii Tampubolon, dan Khanafi kemampuan bahasa arab lulusan SMA umum di Indonesia masih rendah [24]. Penulis menyimpulkan bahwa kebutuhan peserta didik khususnya dengan latar sekolah umum yang belum memiliki pengalaman belajar Bahasa arab secara maksimal membutuhkan materi lebih untuk meningkatkan emampuan mereka.
Implementasi kurikulum Azhari salah satunya adalah dengan mengintegrasikan kurikulum Azhari dan kurikulum merdeka. Peserta didik juga mendapatkan pengalaman belajar yang berpusat kepada peserta didik seperti dalam kurikulum merdeka. Peserta didik akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan mendapat materi untuk dibahas. Setiap kelompok memilih ketua kelompok mereka. Lalu mereka mulai menentukan pembagian tugas untuk diselesaikan dalam kelompok. Dimulai dari pemahaman teks buku yang berbahasa arab, memahaminya, hingga meyiapkan presentasinya. Peserta didik mulai bekera sama dalam memahami teks bahasa arab. Pembelajaran ini pun meningkatkan cara berfikir yang kritis terhadap masalah yang mereka hadapi. Sehingga pada akhirnya mereka akan memahami agama Islam dengan baik dan benar.
2. Kelas Tahfizh
Kelas tahfizh dengan metode Tazkiyah sangat mendukung peserta didik dalam mencapai target hafalan. Metode menghafal yang tidak hanya dengan menyetorkan hafalan baru atau yang biasa disebut ziyadah, peserta didik juga
memahami ayat-ayat al-quran dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menambah hafalan baru, peserta didik juga mengulang halaman yang sudah mereka setorkan. Selanjutnya peserta didik menyetorkan kembali satu juz yang telah dihafalkannya dalam satu kali duduk. Metode Tazkiyah seperti yang tertulis pada buku Tazkiyah Metode Tahfiz Al-Qur’an mempunyai empat tahap; 1. tilawah, 2. ziyadah, 3. murajaah, 4. tazkiyah.
Waktu yag diperlukan untuk mencapai target hafalan tidaklah sedikit. Memulai dengan tilawah atau membaca setiap ayat yang akan dihafal dengan tartil dan pemahaman tidak bisa dilakukan dalam sehari. Perbedaan kemampuan menghafal pada peserta didik juga berdampak pada waktu yang dihabiskan untuk menghafal. Sehingga beberapa pertemuan pada pembelajaran PAI di kelas Azhari terpakai untuk menyelesaikan target hafalan mereka.
3. Kelas yang Beragam
Kurikulum MA Dafi sangat ramah terhadap perkembangan peserta didik. Perbedaan kecenderungan peserta didik dalam ilmu pengetahuan membuat MA Dafi menyediakan beberapa kelas dengan tujuan berbeda yaitu;1. Kelas Azhari, 2. Kelas Bilingual, 3. Kelas Tahfizh. Pembelajaran dan fokus pada setiap kelas berbeda. Kelas Azhari yang memiliki fokus untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi Timur Tengah menggunakan bahasa pengantar Bahasa Arab. Kelas Bilingual yang berfokus pada ilmu non agama menggunakan bahasa pengantar Inggris dan Indonesia. Kelas Tahfizh yang berfokus pada mengkhatamkan al-qur’an berada di MA Dafi cabang yang berlokasi di Vila Griya Salam Pacet Mojokerto.
Perbedaan capaian peserta didik di setiap kelas membuat suasana belajar yang beragam saat di luar kelas atau saat penugasan dengan berkelompok antar kelas. Kebiasaan peserta didik di tiap kelas yang berbeda juga berdampak pada keaktifan untuk menerapkan bahasa pendukung pebelajaran di masing-masing kelas. Peserta didik di kelas Azhari yang terbiasa dengan bahasa pengantar Bahasa Arab merasa berat ketika harus berkomunikasi dengan kelas Bilingual yang terbiasa dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Penguasaan bahasa yang bisa dibentuk dengan pembiasaan menjadi terhambat karena perasaan peserta didik yang masih merasa berat untuk membiasakan berbahasa arab dengan temannya. Bahasa inggris yang sudah lebih familiar menjadi lebih menarik bagi yang belum terlalu menguasai bahasa arab.
Peserta didik yang sudah memiliki keberanian untuk selalu menerapkan penggunaan Bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari mampu menerapkannya dengan baik dalam keseharian. Ini dapat menjadi tekanan pada peserta didik lain yang belum mempunyai pengalaman berbahasa araba tau mempelajarinya. Karena itu peserta didik merasa berat saat mempraktekan bahasa arab, baik karena takut terlihat seperti pamer, atau merasa rekannya tidak sanggup membalas sesuai yang diharapkan, atau merasa tertekan karena tidak bisa terlalu mahir seperti lawan bicaranya.
Inovasi yang dilakukan oleh MA Dafi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam melalui kurikulum Azhari dapat meningkatkan gairah peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari minat peserta didik untuk mendalami pendidikan agama Islam dengan melanjutkan pendidikan di luar negeri seperti Mesir. Kemampuan peserta didik yang semakin meningkat dengan menggunakan buku pelajaran berbahasa arab sesuai dengan kurikulum Azhari di Mesir juga baik untuk mendukung peningkatan kemampuan peserta didik dalam menguasai pendidikan agama Islam. Pembiasaan di asrama yang disesuaikan dengan ilmu syariah yang telah mereka pelajari membantu pemahaman mereka melalui praktek dalam kehidupan sehari-hari.
Kurikulum merdeka yang memiliki prinsip pembelajaran intrakurikuler dan sesuai bakat minat belum dapat dilaksanakan dengan baik pada kelas Azhari di MA Darul Fikri. Pembelajaran akan memberikan pengaruh lebih baik kepada peserta didik jika mereka dapat fokus pada kelas Azhari tanpa tambahan materi lain dari pelajaran umum seperti matematika dan ilmu pengetahuan. Materi yang terlalu banyak akan menjadi beban bagi peserta didik dan akan susah untuk mendalami esensi setiap materi dengan baik.
Faktor pendukung yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan implementasi kurikulum Azhari di MA Dafi adalah dibangunnya kepercayaan diri kepada peserta didik dalam aplikasi bahasa arab di kehidupan sehari-hari. Menguasai bahasa arab menjadi salah satu kunci penting dalam mengikuti kurikulum Azhari. Kemampuan guru yang kompeten sudah sesuai dengan karakter guru pada kurikulum merdeka ini diharapkan dapat terus berkembang untuk mendukung perkembangan peserta didik pada kelas Azhari.
Ucapan Terima Kasih
Dengan rahmat Allah dan berkah dari-Nya karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan MA Darul Fikri Sidoarjo. Semoga keberkahan selalu menyertai keduanya
M. S. Mughni, "Desain Kurikulum Merdeka Belajar dan Transformasi Evaluasi Pendidikan Agama Islam," Jurnal Ilmiah Pendidikan, Kebudayaan dan Agama, vol. 1, no. 2, pp. 97–107, 2023, doi: 10.59024/jipa.v1i2.169.
D. F. Hidayat, "Desain Metode Ceramah Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam," Inovatif: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan, vol. 8, no. 2, pp. 141–156, 2022, doi: 10.55148/inovatif.v8i2.300.
Zaini, "Implementasi Metode Klasikal Untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar PAI Pada Siswa Di SMP Ulul Albab," Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 112–125, 2023.
M. Rafliyanto and F. Mukhlis, "Pengembangan Inovasi Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Lembaga Pendidikan Formal," TARBIYATUNA: Kajian Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 121–143, 2023.
E. Susilowati, "Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam," Al-Miskawaih: Journal of Science Education, vol. 1, no. 1, pp. 115–132, 2022, doi: 10.56436/mijose.v1i1.85.
M. N. Hadi, Syaifullah, and W. F. Yusuf, "Inovasi Pendidikan Agama Islam," Jurnal Mu'allim, vol. 4, no. 1, pp. 53–66, 2022, doi: 10.35891/muallim.v4i1.2948.
H. Kurniawan and E. Hasanah, "Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Inovasi dan Kreativitas Guru pada Masa Pandemi di SD Muhammadiyah Bantul Kota," Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran, vol. 4, no. 1, pp. 56–66, 2021.
R. Juliandari, M. Kamal, Junaidi, and Salmiwati, "Kreativitas Guru PAI dalam Menggunakan Media Pembelajaran di SMKN 4," Jurnal Multidisiplin Ilmu, vol. 1, no. 3, pp. 236–244, 2022.
Adelia and O. Mitra, "Permasalahan Pendidikan Islam di Lembaga Pendidikan Madrasah," J-Islam: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, vol. 21, no. 1, pp. 32–45, 2021.
R. E. F. Siagian, N. Marliani, and E. M. Lubis, "Pengaruh Kemandirian Belajar Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Siswa Sekolah Menengah Atas," Jurnal Educatio, vol. 7, no. 4, pp. 1798–1805, 2021, doi: 10.31949/educatio.v7i4.1597.
R. Sawani, "Rendahnya Minat Siswa SMP Negeri 28 Bengkulu Tengah Dalam Belajar Pendidikan Agama Islam," Guau: Jurnal Pendidikan Profesi Guru Agama Islam, vol. 2, no. 1, pp. 239–244, 2022.
R. R. S. Wiranata, M. Maragustam, and M. S. Abrori, "Filsafat Pragmatisme: Meninjau Ulang Inovasi Pendidikan Islam," Ta'allum: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, pp. 110–133, 2021, doi: 10.21274/taalum.2021.9.1.110-133.
Z. Nadila, M. S. Nugraha, and Tarsono, "Strategi Inovatif dalam Perencanaan Pembelajaran PAI: Memaksimalkan Hasil Pembelajaran," Cendekia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, vol. 12, no. 6, pp. 81–88, 2023.
Sanusi, Hasbiyallah, M. N. Ihsan, and A. M. Rahman, "Inovasi Pembelajaran Science, Technology, Religion, Engineering, Art, and Mathematics Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam," Jurnal Perspektif, vol. 6, no. 1, pp. 89–105, 2022.
M. Abdulloh, "Pembaharuan Pemikiran Mahmud Yunus Tentang Pendidikan Islam Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Modern," Al-Murabbi, vol. 5, no. 2, pp. 22–33, 2020, doi: 10.35891/amb.v5i2.2109.
H. Yulia, S. M. Kamal, and Arifmiboy, "Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam," Jurnal Pendidikan Kebudayaan, vol. 1, no. 4, pp. 448–460, 2021.
E. F. Fidayani and F. M. Ammar, "The Use of Azhari Curriculum in Arabic Language Learning at Islamic Boarding School," Journal of Arabic Language Teaching, vol. 6, no. 1, pp. 25–45, 2023.
R. F. Baidarus, "Pendidikan Islam di Mesir," Jurnal Islamic Education El-Madani, vol. 1, no. 1, pp. 15–30, 2021.
D. S. Azhari, Z. Afif, S. Nurdin, and M. Kosim, "Konsep Pengembangan & Inovasi Kurikulum Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Berbasis Teknologi Informasi," Jurnal Pendidikan Islam, vol. 3, no. 2, pp. 1241–1250, 2023.
Sulaiman, Rusdinal, N. Gistituati, and A. Ananda, "Sistem Pendidikan Mesir dan Perbandingannya dengan Indonesia," Ta'dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 10, no. 3, pp. 395–413, 2021, doi: 10.32832/tadibuna.v10i2.4596.
R. Manik, S. Rahayu, M. Ginting, and H. Siregar, "Pelaksanaan Program Praktik Pengajaran Lapangan (PPL) Sebagai Perwujudan Peningkatan Keterampilan Mengajar di SMK Negeri 1 Pematang Siantar," Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 4, no. 2, pp. 1376–1381, 2023.
Nurdyansyah, Media Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo, Indonesia: UMSIDA Press, 2019.
S. M. Siddiq and L. Fitriani, "Teaching Arabic Grammar Using the Textbook 'Al-Arabiyah Bayna Yadaik Series 4' at Ma'had Aly Ar Raayah," Kitaba, vol. 1, no. 3, pp. 125–134, 2023, doi: 10.18860/kitaba.v1i3.24185.
N. Pratama, M. S. Tampubolon, and K. Khanafi, "Problematika Pembelajaran Mahasiswa Lulusan Sekolah Umum pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta," Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner, vol. 1, no. 2, pp. 117–124, 2022, doi: 10.59944/jipsi.v1i2.45.