Login
Section Innovation in Education

Innovative Psychological Rehabilitation Model for Broken Youth through Islamic Boarding Schools


Inovasi Model Rehabilitasi Psikologis Remaja Melalui Pendekatan Pondok Pesantren
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Nurul Hidayah (1), Ida Rindaningsih (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Relatively speaking, it is the oldest educational institution in Indonesia that has managed to survive following the dynamics of modern development. Specific Background Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum Tahfidzul Quran accommodates teenagers facing complex social problems including academic challenges, social media issues, free association, and drugs originating from broken homes. Knowledge Gap Previous studies lack deep investigation into how a comprehensive boarding school system manages and guides adolescents with troubled backgrounds through strict daily scheduling and moral mentoring. Aims This research aims to analyze the role of the boarding school in improving the psychology of students. Results The qualitative descriptive research shows that the role of the boarding system involves habituation, example, coaching, sincerity, providing easy-to-understand information, and being kind, which positively shapes students' moral development. Novelty The integration of strict round-the-clock regulatory discipline with compassionate mentoring methods successfully creates structured protective factors for high-risk adolescent students within a challenging urban neighborhood environment. Implications These findings suggest that implementing structured boarding school principles can serve as an effective alternative framework for managing and rehabilitating troubled youth in modern educational settings.


Highlights: 




  • Boarding schools utilize habituation, exemplary modeling, and consistent coaching to manage adolescent behavioral challenges.




  • Moral development among troubled students is positively shaped by core religious principles and structured daily routines.




  • Comprehensive supervision systems effectively establish protective factors and control risk behaviors in urban residential institutions.




Keywords: Boarding School, Psychological, Broken Santri, Islamic Institution, Moral Development

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Bagi masyarakat Indonesia, pondok pesantren merupakan institusi penting yang membantu anak-anak bangsa dalam meningkatkan karakter moral mereka.[1] Kemampuan Pondok Pesantren untuk tetap independen juga merupakan hasil dari penolakannya terhadap ideologi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Secara relatif, lembaga pendidikan paling tua di Indonesia yang berhasil bertahan mengikuti dinamika perkembangan modern. Dan lembaga pendidikan tinggi yang diharapkan mampu menawarkan solusi Islam untuk masalah-masalah yang ada saat ini karena mereka memiliki.[2]. Pesantren juga merupakan komponen dari sistem pendidikan nasional yang unik dan bercita rasa Indonesia. Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa pondok (asrama), masjid, santri, pengajaran kitab kuning (teks-teks Islam kuno), dan kiai adalah komponen-komponen esensial sebuah pesantren.[3]

Seperti yang telah diketahui bahwa pondok pesantren adalah tempat yang di penuhi dengan aktivitas keseharian santri yang produktif. Pendidikan agama ditekankan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan di pondok pesantren. Pendidikan agama memiliki dua tujua: pertama, dapat memenuhi peran kognitif pendidikan dengan mentransformasikan pengetahuan tentang aspek-aspek keagamaan. Kedua: dapat memenuhi peran efektif pendidikan dengan mentransformasikan norma-norma moral dan nilai-nilai yang dapat membentuk sikap dan mempengaruhi perilaku yang pada gilirannya mengendalikan perilaku dan membantu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.[4]

Beberapa divisi dibentuk berdasarkan tanggung jawab dan wewenang utama mereka untuk memastikan kelancaran operasional pesantren. Semua pesantren memiliki kegiatan yang hampir sama, hanya saja waktu pelaksanaannya yang sedikir berbeda.[5] Sistem pendidikan Pesantren yang komprehensif memantau kegiatan sehari-hari para santri sepanjang waktu. Sistem ini mencakup keseluruhan kehidupan santri. Selain itu, diharapkan para lulusan akan memiliki kualitas moral yang kuat yang akan langsung bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua pihak, terutama pengelola Pesantren untuk memperhatikan kesejahteraan psikologis santri-santri mereka.[6]

Ryyf dalam tulisannya Happines is Everything or is it? Exploration on the Meaning of Psychological Well Being bahwa Kemampuan seseorang untuk menerima diri mereka apa adanya, menolak tekanan sosial, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, menemukan tujuan hidup, secara konsisten mencapai potensi mereka, dan melakukan kontrol terhadap lingkungan mereka, semuanya diperlukan untuk kesejahteraan psikologis.[6][7] Kekuatan karakter tersebut adalah alat yang memainkan peran penting dalam membantu seseorang memahami cara menyelesaikan tantangan. Di antaranya, karakter siswa yang kuat memungkinkan mereka untuk bertahan hidup di kalangan pesantren, sebagaimana dibuktikan dengan keinginan kuat mereka untuk belajar selama berada di pesantren.[8]

Pondok Pesantren merupakan harapan masyarakat dan tempat menimba ilmu agar masyarakat mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul. Seperti halnya permaslahan remaja yang Broken ( Rusak / bermasalah), Remaja yang menghadapi berbagai masalah yang menantang untuk ditangani dengan tepat.[9] Namun, tampaknya pesantren itu sendiri bukannya tanpa masalah.[10] Terkait Permasalahan dipondok pesantren. Penelitian yang dilakukan oleh Ningsi ( 2021 ) mengungkapkan pemasalah santri yang ada di pondok pesantren Tarbiyatul Falah Nurul jawa barat. Masalah kesehatan yang berhubungan dengan kulit hampir setiap tahun membutuhkan tindakan proaktif untuk menurunkan kemungkinan keluhan penyakit kulit. Penelitian yang dilakukakn oleh Farhan, di Pondok Pesantren Nurul Jadid khususnya wilayahal Hasyimiyah, menerapkan program kewaliasuhan yang bertujuan untuk meningkatkan kedispilanan santri serta sebagai wadah membentuk karakter yang Islami. Program wali asuh ini, sangat membantu pengurus pesantren dalam membina akhlak santri. Hal ini sehubungan dengan kerap terjadi kasus bullying yang dialami santri di lingkungan pesantren tersebut. [11] Penelitian yang dilakukan oleh Moh Habibuddin, mengungkapkan bahwa permasalahan yang ada dipondok Pesantren Mifathul Ulum Penyepen, adalah kenakalan santri, terbagi menjadi dua: a. kenalakan ringan, masih ada sebagian santri yang terlambat ke masjid, membawa sesuatu yang dilarang. b. kenakalan sedang. Santri tidak mengikuti kegiatan berjam'ah dan sekolah, merokok, ghosob, dan keluar dari pondok tanpa izin. [12],[13].

Berdasarkan paparan permasalahan tersebut, juga pernah dialami oleh Pondok pesantren Qowiyyul Ulum Tahfidzul Qur' an yang mana mayoritas santri yang datang dipesantren tersebut adalah remaja broken ( rusak ) yang menghadapi berbagai permasalahn sosial meliputi : permasalah akademik, media sosial, pergaulan bebas, narkoba dan lainnya. faktor santri yang datang dengan berbagai macam bentuk sehinggah menimbulkan masalah juga dalam pesantren. Santri yang tidak kerasan dipondok karena kecanduan gadget. santri yang kurang fokus dalam kegiatan, belajar dan sering melanggar disebabkan karena berasal dari keluarga broken home dan pergaulan bebas. lingkungan pesantrn yang berada di daerah lokalisasi prostitusi juga sangat mempengaruhi keberadaan persantren dan kegiatan santri.

Sebagai alternatif dari metode pendidikan konvensional, pesantren telah menciptakan sistem manajemen pendidikan Islam yang mencakup pesantren, Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur'an, Madrasah Tahfidz Al-Qur'an, Pendidikan Kesetaraan, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti Jam'iyah Muballighin, Jam'iyah Sholawat, Jam'iyah Qiro'ah, dan Hadrah Al-Banjari Al-Qowiyyah. Bimbingan yang lengkap, termasuk pembinaan akhlak bagi para santri, diberikan melalui pengawasan yang dilakukan sepanjang waktu oleh pengawas sekolah di pesantren, sehingga para santri dapat langsung mempraktekkan ilmu dan teori yang telah mereka pelajari. Dengan semua program yang ditawarkan Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum Tahfidzul Qur'an, para santri hampir tidak memiliki waktu untuk bersantai, apalagi memikirkan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat seperti menggunakan alat elektronik, pergaulan bebas, atau interaksi yang tidak baik dengan dunia luar. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Peran Pondok Pesantren Dalam Membangun Psikologis Santri Yang Broken.

II. Metode

Penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif karena peneliti dan informasi memiliki hubungan kerja yang erat dan analisis kualitatif lebih banyak

menggunakan data deskriptif yang terdiri dari kata-kata. Melalui analisis keadaan, pengalaman, dan sudut pandang mereka yang terlibat dalam fenomena tersebut, penelitian kualitatif berusaha untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial secara menyeluruh. Makna, konstruksi sosial, dan kompleksitas peristiwa yang sedang dipelajari merupakan bidang perhatian utama penelitian kualitatif.[14].

Teknik pengumpulan data : dengan melakukan wawancara, pengamatan atau Observasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan partisipasi pengurus pondok pesantren serta melalui teknis dokumentasi.[15] Wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada nara sumber ( pengasuh pondok, pengurus, santri, dan wali santri ). Observasi dilakukan di Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum Tahfidz Al Qur'an dengan cara mengamati tempat penelitian secara langsung. Dokumentasi Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriptif, yang berarti bahwa data dilaporkan persis seperti yang dikumpulkan melalui penelitian tentang “peran pondok pesantren dalam membangun psikologis santri yang broken” kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melukiskan fakta-fakta sebagaimana adanya.

III. Hasil dan Pembahasan

Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum didirikan pada tahun 1985 dan pada awalnya bertempat di Desa Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya. Namun, karena jumlah Santri yang terus bertambah dan minat masyarakat yang semakin meningkat terhadap pendidikan agama Islam, maka tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan proses belajar mengajar di tiga kelas lokal setiap harinya. Sehingga para siswa dibagi menjadi kelas pagi, siang, dan malam, dan bahkan rumah-rumah penduduk dan masjid di sekitarnya digunakan sebagai fasilitas belajar mengajar. Pesantren ini direlokasi ke Jalan Genting Tambak Dalam No.18, Asemworo, Surabaya pada tahun 1992, sementara infrastruktur dan fasilitas dibangun dengan menggunakan bangunan sementara. Dan pesantren seluas 1.050 m2, yang pada awalnya terbatas pada enam penduduk setempat, tiga program studi, satu asrama putra satu asrama putri, dan satu asrama administratif di samping juga membangun masjid, awalnya hanya tiga santri yang dipindah dari madrasah sebelumnya tujuannya untuk menjadikan daya tarik kepada masyarakat sekitar pondok pesantren Qowiyyul Ulum. Dan di resmikan, mulai berfungsi dan melakukan kegiatan pendidikan pada tahun 1995.

Sekitar 100 meter di sebelah selatan sekolah adalah lokalisasi Kremmel, yang buka sepanjang waktu setiap hari. lingkungan belajar seperti ini mempengaruhi santri-santri yang ada di Pondok Qowiyyul Ulum. Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum mulai berkembang dalam hal jumlah fasilitas infrastruktur dari waktu ke waktu. Sembilan gedung kelas, empat asrama putra, tujuh asrama putri, dan tiga gedung administrasi ditambahkan. Saat ini, pesantren ini memiliki 199 santri, 77 santri putra dan 124 santri putri.

Titik fokus dari sebuah pesantren adalah santri, yang biasanya terdiri dari dua kelompok:[16]

a. Santri mukim adalah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pesantren.

b. Santri kalong adalah santri yang dari daerah sekitar yang tidak tinggal di pesantren. Mereka hanya berkunjung saat kegiatan berlangsung dan pulang setelah mengikuti kegiatan-kegiatan pesantren. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh kepala Pondok.

“Santri yang berada di Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum, Sebagian santri

ada yang mukim Jumlah saat ini 106, mayoritas santri dari daerah yang jauh ada yang dari madura, pasuruan, kediri, malang, jawa tengah dan lainnya, dan ada juga mukim yang rumahnya di sekitar pesantren. dan Sebagian santri ada yang kalong / nduduk jumlahnya 93, santri yang tidak menetap didalam pesantren yang rumahnya ada diadaerah sekitar pesantren. di pondok Qowiyyul Ulum terkait santri kalong ada tiga tingkatan 1. Santri kelas I-II datang ketika kegiatan berlangsung dan pulang setalah kegiatan. 2. Santri Kelas III datang ketika kegiatan dan harus bermalam dipondok setiap malam selasa dan malam jum`at. 3. Santri Kelas IV- tsanawiyah hanya datang ketika kegiatan dan harus mermalam dipondok setiap hari. Santri Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum juga memiliki santri yang beraneka ragam, dengan sebagian besar santri berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah yang mana orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh bejak, penjual gorengan, penjaga toko, buruh pabrik, yatim piatu, dan keluarga broken home. Latar belakang ini juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kondisi santri di Pondok Pesantren.”

Salah satu lembaga yang keberhasilannya tidak bisa dilepaskan dari peran kyai adalah Pondok Pesantren. Kyai dianggap sebagai tokoh sentral yang menjadi inspirasirr dan panutan bagi para santri setiap saat. Bagi semua santri, Kiyai menjadi panutan atau teladan. Tentu saja, sebagai panutan, pribadi dan tindakannya akan diamati oleh para santri dan orang lain di sekitarnya yang menganggap atau mengakuinya sebagai kepala pesantren. Dengan demikian, melawan radikalisme melalui posisi panutan cukup bermanfaat, tetapi harus dimulai dari awal. memerangi ekstremisme, tetapi harus dimulai dari diri sendiri.[17] sebagaimana yang dinyatakan oleh pengurus.

“Bahwa Prinsip pendidikan Pondok Pesantren Qowiyuul ulum yang didirikan oleh K.H. M. Iskandar Abdul Qowi secara konsisten menempatkan akhlaq dan adab di atas ilmu pengetahuan. Beliau selalu menginspirasi kepada para asatidz dan santri-santri yang ada dipondok dengan memberi contoh teladan. Tahfidz Al Qur'an dan

pengembangan bahasa (English area) merupakan program unggulan

Beraneka ragam santri yang ada di pondok pesantren Qowiyyul ulum sebagai berikut : Santri yang mondok adalah santri yang bermasalah seperti halnya mantan menggunakan narkoba, terlibat dalam pergaulan bebas, dan lainnya Maka dalam penerimaan santri tersebut pondok pesantren pertama dan terutama, santri merasa betah, berpartisipasi dalam kegiatan, dan menerima peningkatan khusus untuk santri.

Santri yang bermasalah di dalam pondok dikarenakan permasalahan santri sebagai berikut: masih banyak Santri yang terlambat masuk sekolah, berjamaah, dan terlambat mengikuti kegiatan yang ada di pondok , dan Santri yang tidak mengikuti kegiatan dipondok, sekolah, kursus, jam'iyah, dan lainnya dengan alasan pura-pura. Santri yang ghosob, merokok, keluar pondok tanpa izin, dan membawa sesuatu yang dilarang dipondok. Sudah ada kebijakan yang diterapkan di pondok Qowiyyul Ulum untuk memerangi permasalah santri yanga ada di pondok. Kebijakan ini tertulis, dibacakan dan ditempelkan di setiap asrama putra dan putri, dan mencakup semua peraturan, larangan, dan takziran. Dengan demikian, setiap santri diwajibkan untuk mengikuti semua kegiatan pondok peraturan pondok dan mengosongkan area terlarang. Selain itu, beratnya hukuman yang diberikan kepada santri yang melanggar juga harus diperhatikan. Hal-hal yang dilakukan oleh para santri di pesantren dapat menjadi media bagi perkembangan mental mereka.[18] kegiatan-kegiatan yang ada dipondok guna untuk mempelajarai santri dalam ketaqwahan, keistiqomahan, dan kedisiplinan.

Tabel 1. Kegiatan Santri Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum Tahfidzul Qur`an

Semua santri wajib melaksanakan kegiatan-kegiatan pondok, melaksanakan shalat lima waktu berjama`ah di masjid dg membawa tasbih, siwak dan adzkarul yaum. santri harus mematuhi semua peraturan pondok dan tidak melakukan larangan bila ada pelanggaran maka akan ditindah sesaui kebijakan keamanan. Setiap masalah pasti ada solusinya, oleh karena itu pengasuh dan pengurus di lingkungan pesantren menjadi orang pertama yang memberikan contoh yang lebih baik untuk perubahan sehingga santri dapat mengikuti jejak mereka.[13] Di Pondok Pesantren Qowiyyul Ulum dalam mengatasi masalah ada beberapa cara, Sebagai berikut :

1. Pembiasaan.

Sesuatu yang sengaja dilakukan secara rutin untuk membentuk suatu kebiasaan disebut pembiasaan. Apa pun bisa berkembang menjadi rutinitas. Jika siswa memiliki kebiasaan yang baik, maka mereka akan terbiasa untuk terus melakukan hal-hal yang baik, dan jika mereka memiliki kebiasaan yang buruk, maka mereka juga akan terbiasa untuk terus melakukan hal-hal yang buruk. Dalam buku Rumahku Sekolahku, Syafinuddin al Mandari juga menyebutkan bahwa pembiasaan adalah teknik yang sangat efektif untuk membantu orang membangun fondasi kesalehan dan keimanan yang kuat dan stabil dalam diri seseorang. Oleh karena itu, Rosulullah mengajarkan kepada kita bahwa kebiasaan harus dibentuk sejak usia dini. Sebagai contoh, orang tua harus mulai mengajak dan membiasakan anak-anak mereka untuk melakukan shalat lima waktu pada saat mereka berusia tujuh tahun.

Kebiasaan yang dilakukan dipondok pesantren dengan melakukan kegiatan pondok dengan tepat waktu, bukan hanya untuk santri tapi juga semua pengurus dan guru, sering menegur santri yang melakukan kesalahan dan tidak bosan untuk mengingatkan santri hingga santri merasa diperhatikan penuh dan mempunyai keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.

2. Keteladanan

Karena manusia adalah makhluk sosial dan akan selalu meniru orang lain, terutama orang yang mendidiknya, bagaimana mungkin disiplin di dalam kelas dapat berjalan dengan baik pengasuh dan pengurus tidak mencontohkan perilaku yang baik? Memberikan contoh yang baik kepada para santri, terutama remaja, mau tidak mau akan menanamkan idealisme dalam diri mereka. Oleh karena itu harus memberi contoh yang baik dalam ucapan dan perilaku hingga layak patut diteladani dan dicontoh.

3. Pembinaan Disiplin

Dalam mengajarkan disiplin, khususnya pengendalian diri, jika mereka ingin santri-santrinya bersikap sopan. Juga harus mampu mengajarkan disiplin kepada santri, khususnya di bidang disiplin diri. harus dapat mendukung santri dalam menciptakan pola perilaku mereka sendiri, meningkatkan standar perilaku yang dapat diterima, dan menegakkan peraturan sebagai cara untuk menjaga ketertiban.

4. Ikhlas mendidik murid

Setiap santri memiliki hak dan tanggung jawab yang harus diperhitungkan secara setara. Tidak dapat diterima jika seorang kyai dan ustadz menunjukkan sikap pilih kasih terhadap beberapa siswa dan mengabaikan siswa lainnya. Demi menegakkan hukum, kyai dan ustadz harus mengabaikan hubungan kekeluargaan di antara para santri dan memperlakukan semua santri dengan setara, bahkan jika beberapa di antara mereka

berasal dari keluarga yang terkenal.

5. Memberikan informasi yang mudah dimengerti oleh santri.

Salah satu hal yang dihargai oleh para santri dari pengasuh dan pengurus adalah kemampuan mereka untuk menjelaskan dengan jelas setiap pelajaran dan disiplin ilmu. Jika sesuatu mudah dipahami, para santri akan mengasimilasi informasi tersebut. Gaya penyampaian dibuat seinformal mungkin, idealnya dengan contoh-contoh yang mendukung.

6. Bersikap baik dan tidak marah kepada murid

Adanya pengasuh dan pengurus yang memiliki sifat-sifat yang unik; ada yang pemarah, ada juga yang baik hati. Namun, sikap tersebut harus disesuaikan dengan karakter dan kepribadian santri. Ia tidak boleh bersikap kasar kepada santri yang dibimbingnya; sebaliknya, jika ia berkomunikasi dengan lembut, santri akan mengerti dan mengikuti instruksi dengan cepat. Karena banyak santri yang membenci ustadz yang kasar, jika ustadznya lembut, santri akan menghormatinya dan sebagai hasilnya, santri akan memilih ustadz tersebut sebagai ustadz favorit mereka.

Perkembangan moral santri dipengaruhi secara positif oleh prinsip-prinsip moral yang

diajarkan di pesantren. Menurut psikologi, perkembangan moral terdiri dari tiga bagian: [19]

a. Komponen emosional atau afektif terdiri dari berbagai macam perasaan,

b. Komponen kognitif adalah pusat dari mana seorang individu memperoleh pengertian tentang baik dan buruk serta pilihan-pilihan perilaku mereka.

c. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana seseorang benar-benar bertindak ketika

dihadapkan pada godaan untuk menipu, menipu, atau melanggar hukum moral lainnya.

Banyak yang menggunakan negosiasi sebagai sarana untuk mencapai kompromi atau menyelesaikan konflik yang muncul di antara individu atau kelompok. Ketika kita terlibat dalam proses negosiasi, ini menandakan bahwa kita menggunakan komunikasi yang profesional dan sopan serta kompromi untuk memungkinkan para pihak mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Pada intinya, tujuan negosiasi adalah untuk mencapai konsensus dan mencegah perselisihan yang berkelanjutan yang tidak menghasilkan sesuatu yang produktif.[20]

Masalah seharusnya tidak menjadi hal yang menakutkan jika seorang santri telah merasakan kelegaan, kepuasan, dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah sebagai hasil dari bidang konsultasi. Di sisi lain, kesulitan pesantren adalah hambatan yang memotivasi santri untuk mempertimbangkan dan menemukan solusi yang konstruktif. Ketika berada di pesantren, kapasitas ini dapat menjadi dasar bagi strategi ramah santri untuk memperkuat faktor protektif dan mengendalikan faktor risiko. Setelah berhasil menyelesaikan dilema di pesantren, seakan memiliki akses ke domain psikologis baru yang akan meningkatkan rasa tujuan hidupnya.[21]

I V. Simpulan

Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa peran pondok pesantren qowiyyul ulum dalam meningkatkan psikologis santri yang broken sudah berhasil walau hanya sebagian. Karena Perkembangan moral santri dipengaruhi secara positif oleh prinsip-prinsip moral yang diajarkan di pesantren. penemuan ini juga bisa diterapkan di pesantren lain untuk membantu meningkatkan psikogis santri yang bermasalah menjadi lebih baik

References

M. Sundari, “Manajemen Pesantren dalam Penanganan Kenakalan Santri,” J. Stud. Islam dan Kemuhammadiyahan, vol. 2, no. 1, pp. 14–16, 2022, doi: 10.18196/jasika.v2i1.21.

Rahmatilah, “Perkembangan Pondok Pesantren di Kota Samarinda,” Borneo J. Islam. Educ., vol. 2, no. 2, pp. 165–176, 2022.

M. A. Ridho, M. Y. Mamun, and L. Malihah., “Analisis Potensi Pengembangan Ekonomi Mandiri Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru,” vol. 7, no. 1, pp. 21–30, 2023.

Muh Halifah Mustami, A. Maulana, and R. Anwar, “Pengaruh Aktivitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Fiqih Di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Gombara,” Istiqra, vol. 8, no. 2, pp. 13–22, 2022, doi: 10.24239/ist.v8i2.1146.

M. N. Alisha, “Pengaruh Kuantitas Kegiatan Pesantren Terhadap Prestasi Belajar Keagamaan Siswa Madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton Probolinggo,” vol. 1, no. 2, pp. 72–82, 2020.

J. Prasetyaningrum, F. Fadjaritha, M. F. Aziz, and A. Sukarno, “Kesejahteraan Psikologis Santri Indonesia,” Profetika J. Stud. Islam, vol. 23, no. 1, pp. 86–97, 2021, doi: 10.23917/profetika.v23i1.16796.

E. Nabilah, B. S. Arifin, and Tarsono, “Kesejahteraan Psikologis Pada Remaja Santri (Fenomena Hafalan di Pondok Pesantren Sukamiskin),” Pinisi J. Sociol. Educ. Rev., vol. 2, no. 1, pp. 1–10, 2022.

N. S. Rahadita and Y. Aslamawati, “Pengaruh Character Strength terhadap Penyesuaian Diri pada Santri Aisyiyah Boarding School,” Bandung Conf. Ser. Psychol. Sci., pp. 714–720, 2022.

M. S. Syifa and L. Halimah, “Hubungan Peer Conformity dengan Perilaku Kenakalan pada Santri Pondok Pesantren ‘X’ Ciamis,” Bandung Conf. Ser. Psychol. Sci., vol. 3, no. 2, pp. 1034–1041, 2023, doi: 10.29313/bcsps.v3i2.9488.

Ja`far, “Problematika Pendidikan Pondok Pesantren,” Evaluasi, vol. 2, no. 1, pp. 350–370, 2018.

A. Farhan, “Upaya Wali Asuh Pada Peserta Asuh Mengatasi Bullying di Pesantren Nurul Jadid Perspektif Komunikasi Persuasif,” BRILIANT J. Ris. dan Konseptual, vol. 4, no. 1, pp. 46–55, 2019.

Moh Habibuddin and Rusdi, “Fenomena Kenakalan Santri An Nashor Di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen,” DA’WA J. Bimbing. Penyul. Konseling Islam, vol. 2, no. 1, 2022, doi: 10.36420/dawa.v2i1.145.

H. Saputra, “Peran Ustadz Dalam Mengatasi Problematika Santri Di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 10 Jambi,” J. Al-Murabbi, vol. 6, no. 2, pp. 1–10, 2021, doi: 10.35891/amb.v7i1.2544.

M. Syahra Jailani Ardiansyah, Risnita, “Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian,” vol. 1, pp. 1–9, 2023.

H. B. I’if Annisatun Faiqoh, Renie Tri Herdiani, “Lingkungan Pondok Pesantren Al-Amin,” no. November 1995, pp. 116–120, 2023.

Nurul Qomariyah and Mohammad Darwis, “Peran Pondok Pesantren Salaf di Era Society 5.0,” Risalatuna J. Pesantren Stud., vol. 3, no. 2, pp. 220–234, 2023, doi: 10.54471/rjps.v3i2.2528.

Mardani, “Peran Kepemimpinan Kiai Dalam Menangkal Radikalisme Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Pasir.”

Z. Jannah, “Efektivitas Expressive Writing Therapy dalam Menurunkan Kecemasan Santri yang Mengalami Broken Home,” J. Psikol. Islam dan Budaya, vol. 5, no. 2, pp. 95–104, 2022, doi: 10.15575/jpib.v5i2.19507.

Hariyanto, “Peran Pengasuh Dalam Pembinaan Moral Santri Melalui Peraturan Asrama Di SMP Islam Integral Luqman Al-Hakim 02,” Rabit J. Teknol. dan Sist. Inf. Univrab, vol. 1, no. 1, p. 2019, 2019.

S. R. Mulyani, S. Y. Sari, and N. Nadilla, “Kebiasaan Bernegosiasi, Saling Percaya Dan Saling Memotivasi Untuk Menciptakan Suasana Aman Dan Damai Antar Santri Di Rahmatan Lil’Alamin International Islamic Boarding School,” Community Dev. J. J. Pengabdi. Masy., vol. 3, no. 2, pp. 1042–1046, 2022, doi: 10.31004/cdj.v3i2.5318.

N. Shobah, S. A. Al-Habsyi, M. Mahpur, and Y. Sholichatun, “Jekajeh: Dinamika Daya Juang Santriwati untuk Bertahan di Pondok Pesantren,” J. Psikol. Islam dan Budaya, vol. 6, no. 2, pp. 133–148, 2023, doi: 10.15575/jpib.v6i2.17634.