Akhmad Halim Ilmanto (1), Imam Fauji (2)
General Background Islamic boarding schools are institutions that have survived from the birth of the nation to significant changes in the era of globalization, keeping up with progress and continuously improving quality in education. Specific Background This study examines how kyai management creates role models for the discipline of santri and the wider Islamic boarding school community at Pondok Pesantren An-Nur Sidoarjo. Knowledge Gap Previous research lacks comprehensive qualitative analysis detailing the specific administrative phases, main operational components, and supporting or inhibiting factors of kyai leadership in enforcing institutional discipline. Aims This research aims to find out how kyai management creates role models for the discipline of santri and the wider Islamic boarding school community. Results The qualitative descriptive research shows that the main aspects of discipline creation comprise the kyai serving as a role model (uswah), formulating and socializing regulations, conducting evaluations, and providing rewards and punishments, supported by unified instructions and parental advice, alongside challenges from a lack of self-awareness and security control. Novelty The integration of a four-phase management approach (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) directly led by a charismatic kyai establishes a robust framework for instilling structured religious and behavioral discipline. Implications These findings indicate that structured managerial leadership by religious figures can effectively maintain institutional longevity and cultivate high moral standards among students in traditional educational environments.
Highlights:
Kyai implement structured planning, organizing, actuating, and controlling frameworks to sustain institutional order.
Primary disciplinary mechanisms involve exemplary modeling, systematic rule socialization, periodic evaluations, and balanced rewards and punishments.
Administrative success relies heavily on unified leadership instructions and parental guidance despite individual student self-awareness challenges.
Keywords; Ldeadership, Kyai, Islamic Boarding School, Discipline, Management
Pendidikan menjadi modal awal berdirinya bangsa Indonesia, pada awal saudagar islam masuk ke perairan nusantara, sembari berdagang mereka juga melakukan penyebaran islam mulai dari dengan kelompok-kelompok kecil hingga melahirkan sebuah kelompok besar yang menjadi modal awal pendidikan pesantren berada[1], sehingga perjalanan syiar islam mulai menyebar dengan gaya klasik atau tradisional, dari seorang kyai yang menyebarkan santrinya ke berbagai daerah dan santri mengamalkan ke penjuru nusantara. Awal sejarah berdirinya pesantren dengan mendeklarasikan diri sebagai lembaga yang terfokuskan dalam pengajaran, penyebaran agama islam dan kaderisasi ulama[2]. Sebelum abad ke 20 pesantren hanya menggunakan pemahaman kitab dan mengarakhkan perbedaan pembelajaran yang dikategorikan dengan perbedaan kitab semata[3]. Sehingga dalam perjalanannya pesantren mengalami perekembangan yang luar biasa dengan menghadirkan pendidikan formal dan kurikulum nasional didalamnya[4]. Secara nyata muncul beberapa odel pesantren yang berkembang, pondok pesantren tradisional atau yang berarti salaf, lama, terdahulu, model pesantren ini mempertahankan ciri khasnya dengan mengajarkan berbagai kitab karya ulama pada abad 15 dengan Bahasa arab. Kemudian ada model pondok pesantren modern, dalam pelaksaan pendidikannya tidak meninggalkan ciri lama tetapi menambahkan muatan-muatan kurikulum nasional, perkembangan pesantren ini diharapkan agar bisa menumbuhkan pesantren yang berawasan universal atau global[5], sehingga lembaga pesantren dapat bersaing dalam era globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri[6].
Undang-undang dasar (UUD) 1945 di dalam pembukaan mengamanatkan bahwa pendidikan pada dasarnya bertujuan mencerdaskan bangsa. Dengan berbagai model lembaga dan Indonesia kaya akan lembaga pendidikan formal maupun non-formal.lamanya lahir pesantren di Indonesia mulai dari abad 13M jauh sebelum lahirnya bangsa Indonesia dan memberikan pengetahuan berbentuk tata nilai kehidupan yang bersifat aplikatif [7]. Dan menjadi saksi perkembangan negara[8] Pesantren sendiri berasal dari kata “santri” dengan tambahan awal “pe” dan di akhir “an” yang berarti tempat. [9]. Pesantren merupakan lembaga pendidikan sekaligus penyiaran islam[10]juga sebagai tempat unutk mempelajari, mendalami serta mengamalkan ajaran islam dengan mengutamakan moral keagamaan dalam sehari-hari . Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang efektif dan terus mengalami perkembangan sesuai dengan era dalam pembentukan, pembeinaan generasi, karena lingkungan yang mendukung tiap sudutnya dan pendidikan multi komponen, agama, social, kepemimpinan, kemandirian, maka sisi positifnya santri akan mandiri ditengah masyarakat.[11] pesantren juga berperan pending dalam mengakomodir perubahan social ditengah perubahan dinamika yang berlansung pesantren sendiri juga memiliki unsur sesuai dengan undang-undang no.18 tahun 2019 yaitu; kyai, santri, masjid, kitab, dan pondok.dengan ruanglingkup dakwah, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.[12]sehingga semkain berkembangnya teknologi dan modernisasi oleh karenya pesantren harus menyesuaikan dengan system pendidikan yang diantaranya kepemimpinan dan kurikulum, karenanya itu akan berpengaruh terhadap eksistensi pesantren[9]
Dalam perjalanan pesantren, santri hidup berkumpul dengan belajar bimbingan guru[11], biasa disebut kyai, maka sosok kyia ini lah yang akan mengarahkan pesantren berlabu, singkatnya model kepemimpinan dari figure kyai dalam mengembangkan pesantren[13]. Kepemimpinan kyai dalam mengembangkan pesantren juga bias disebut seni dalam arti seni menggunakan manfaat dari dana,tenaga,saran untuk mencapai visi misi pesantren[14] dengan adanya gaya kharismatik yang dimiliki seorang kyai mampu mengelola lembaga, sehingga kyai menjadi sosok sentral dalam kepemimpinan sebuah pesantren[15] adapun santri akan dapat merubah karakternya ketika figure kyai didapatkan dalam pesantren, kyai dalam figurnya membentuk diri santri dengan keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaran dan kebebasan dalam memtukan kehidupan dan perjuangan[9] dengan bgeitu peran kyai mengharuskan memiliki banyak strategi dalam membentuk karakter dasi seorang santri dalam nilai-nilai islam, dapat memberikan contoh serta mandiri.[7]
Manifestasi yang paling menonjol dalam figure kyai yaitu dengan perilaku keseharian kyai dalam ucapan, tingkah laku ,teladan atau role model tersebut adalah cara menggerakkan dan mengarahkan unsur masyarakat pesantren untuk berbuat sesuai kehendak pemimpin pesantren dalam rangka mencapai tujuan pesantren[16]. Pemimpin yang di maksud bukanlah setiap warga pesantren, melainkan kyai pengasuh yang menjadi tokoh kunci atau pemimpin pesantren[17].Keberadaan seorang kyai sebagai pemimpin pesanren, ditinjau dari tugas dan fungsinya dapat dipandang sebagai fenomena kepemimpinan yang unik. Legitimasi kepemimpinan seorang Kyai secara langsung diperoleh dari masyarakat yang menilai tidak saja dari segi keahlian ilmu-ilmu agama seorang kyai melainkan dinilai pula dari kewibawaan (kharisma) yang bersumber dari ilmu, kesaktian, sifat pribadi dan seringkali keturunan[18]. Kepemimpinan kyai adalah kepemimpinan kharismatik yang mempunyai kewenangan penuh untuk mengelola pesantren yang didirikannya. Kyai berperan sebagai perencana, pelaksana dan pengevaluasi terhadap semua kegiatan yang dilaksanakan di pesantren Pada sistem yang seperti ini, Kyai memegang pimpinan mutlak dalam segala hal[19].
Disiplin secara etimologi dalam Bahasa latin disciplina-discipulu yang memiliki arti perintah-peserta didik, dan secara etimologi berarti Tindakan yang menunjukan perilaku taat pada aturan tertentu[20]. Displin ada terdiri beberapa unsur, peraturan, hukuman, penghargaan serta konsistensi[21]. tujuan disiplin ialah membuat atau membentuk peserta didik atau santri terlatih dan terkontrol dengan mengajarkan nbentuk tingkah laku baik pantas ataupun tidak pantas yang asing bagi peserta didik atau santri. Sedangkan untuk jangka waktu yang lama adalah pengembangan dari pengendali diri ubtuk tidak terpengaruh dari dunia luar[22]. Disiplin sendiri akan memiliki manfaat menjadi pribadi yang unggu bertanggung jawab serta dapat diandalkan dan memiliki produktivitas tinggi[23]. Dalam KBBI disebutkan makna disiplin adalah ketaantan pada tata terbit dan aturan yang berlaku, serta perubahan tingkah laku yang teratur dan terarah dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas dan tidak melanggar aturan yang dibuat Bersama dan disiplin sendiri terbagi dalam 4 muatan yaitu, disiplin waktu, ibadah, belajar dan sikap[14]
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh diana nadifa dan ahmad ihawul dalam artikel berjudul pembetukan karakter disiplin santri melalui amaliah yaumah di pondok pesantren nurul huda, beliau menggunakan metode kuantitatif dengan hasil menunjukkan dengan pembentukan disiplin demokratis dan ototarian dengan kendala santri yang malas dan lasan sakit. Kemudian penelitian kedua dilakukan oleh khylda rosyda dalam penelitiannya berjudul peran pengurus dalam menerapkan disiplin belajar pada santri menunjukkan hasil disiplin dengan adanya jadwal pesantren yg tersrtuktur dan peran andil pengurus santri mengawal sikap disiplin dalam 24 jam. Kemudian penelitian yang ketiga dilakukan oleh afidah nur dan syamsul rijal dalam judul peran kyai dalam meningkatkan disiplin sholat berjamaah dengan metode dan pendekatan kualitatif menunjukan bahwasannya peran aktif kyai dalam sholat berjamaah sebagai sinyal komando secara lansung dalam setiap momentnya. Dan pada kesempatan ini peneliti akan melalukan penelitiannya di pondok Pesantren An-Nur Sidoarjo dalam sektor kesidiplinan atau upaya kyai dalam menciptakan role model bagi masyarakat pesantren yaitu antara santri dan asatidz-asatidzah yang didalam mauapun diluar dari pesantren.
Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif berupa lisan dari sikap dan perilaku orang yang dapat diamati atau kata-kata tertulis. Peneliti sebagai alat utama dan hasil penelitian lebih mengutamakan makna daripada generalisasi[24]. Peneliti mengambil penelitian ini dengan maksud dan tujuan untuk mendeskripsikan, memaparkan data manajemen kepemimpinan kyai dalam menjadi role model disiplin bagi masyarakat pesantren. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian kualitatif deskriptif. Artikel ini menguraikan tentang permasalahan kepemimpinan kyai dalam mencontokan sikap disiplin. Dalam penerapannya dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan data, mengelola data, dan menyajikan data secara faktual dan rasional. Subjek penelitian adalah kyai, musyrif dan santri pondok pesantren Annur Sidoarjo.
Dalam teknik pengumpulan data pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi tentang kepemimpinan kyai dalam keseharian dalam pesantren, dokumentasi, dan wawancara dengan kyai, musyrif dan santri tentang kepemimpinan kyai dalam keseharian. Berdasarkan teknik pengumpulan data yang digunakan, maka ketiga instrument akan di triangulasi dengan menggunakan analisa yang di kembangkan miles dan hubbermain yaitu dengan reduksi data dan dalam penelitian ini adalah data manajemen kepemimpinan kyai dalam menjadi role model disiplin bagi masyarakat pesantren[25]. Instrumen yang dimaksud adalah observasi, wawancara dan dokumen terkait manajemen kepemimpinan kyai sebagai role model. Berdasarkan teknik pengumpulan data, maka instrumen dalam penelitian ini terkait data manajemen kepemimpinan kyai dalam menjadi role model disiplin bagi masyarakat pesantren. Kemudian data tersebut akan dikumpulkan, dianalisis, dan disimpulkan sesuai dengan kebutuhan yang akan terjadi dan tahap data manajemen kepemimpinan kyai dalam menjadi role model disiplin bagi masyarakat pesantren.
Pesantren merupakan lembaga tradisional yang berkembang secara mengikuti zaman di indonesia yang telah memainkan posisi perannya dalam pembinaan serta pembentikan karakter dan moral masyarakat[26]. seorang kyai yang sebagai pimpinan dalam lembaga pesantren mempunyai kendali penuh tanggung jawab mulai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan atau biasa dalam manajemen disebut dengan POAC (planning, organizing, actuating, controling) hingga berjalannya lembaga pesantren, serta mengarahkan, membimbing dan mendidik santri, dan kunci utama role modelnya adalah bagaimana sosok kyai bisa memainkan perannya motivator, mediator bahkan supervisor bagi masyarakat pesantren dalam kehidupan sehari-hari maupun proses kegiatan pembelajaran berlansung.
Table.1 POAC Pesantren An-Nur Sidoarjo
Sumber. Kyai dan Musyrif
Planning: Fokus pada merencanakan dan menetapkan standar disiplin serta mengatur kegiatan yang mendukung penerapannya. Organizing: Mengatur struktur dan sumber daya untuk mendukung penerapan disiplin, termasuk membentuk tim dan menyediakan materi. Actuating: Melaksanakan rencana dengan melibatkan kyai sebagai role model, serta menerapkan dan mengomunikasikan aturan disiplin. Controlling: Mengendalikan dan mengevaluasi penerapan disiplin untuk memastikan aturan diikuti dan melakukan penyesuaian jika diperlukan. Kepemimpinan kyai dalam pondok pesantren merupakan pilar yang membentuk karakter, moral, spiritual bagi masyarakat pesantren[27]. Maka peneliti dalam membahasnya dituangkan dalam bentuk table dibawah ini agar dapat memberi pemaham secara mendalam.
Tabel 2. Analisis Temuan Kepemimpinan Kyai
Sumber. Wawancara Kyai
Pertama, kyai sebagai usawah dalam kedisiplinan. Dalam pelaksanaan kegiatan dalam dan luar pesantren kyai telah memberikan ushwah atau teladan yang baik bagi masyarakat pesantren, ini dibuktikan dengan kehadirannya setiap moment atau kegiatan yng berlansung selama di pondok pesantren dengan on time pada waktunya. Dengan perilaku tersebut kyai secara tidak lansung memberikan uswah kepada masyarakat pondok pesantren untuk selalu disiplin apapun kegiatannya, baik formal ataupun non-formal, sehingga masyarakat pondok pesantren mampu untuk melaksanakan peraturan/tata tertib dengan sesuai kesepakatan dan kesadaran diri penuh. Dalam dunia pendidikan terlebih dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sosok uswah menjadi penting sebagai faktor keberhasilan kyai dalam upaya role model disiplin bagi masyarakat pesantren[28]. Kedua, membuat peraturan dan sosialisasi. Adanya peraturan di buat dan di rancang kyai dan pengurus pondok pesantren dalam sesuai visi misi pondok pesantren an-nur sidoarjo berdampak baik kepadan seluruh masyarakat pesantren dalam pelaksaan disiplin. Peraturan pesantren bagi santri, asatidz-asatidzah dan masyarakat pesantren tertulis rapi dan lengkap sehingga dapat dipahami dan menjadi pedoman dalam aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM) pondok pesantren an-nur secara formal maupun non-formal. Pembuatan peraturan tersebut tidak semeta-mata kepentingan kyai, tetapi dari hasil evaluasi tiap kegiatan belajar mengajar atau aktifitas lainnya dalam dunia pondok pesantren. Disaat peraturan tersebur lahir maka yang selanjutnya dilakukan kyai yaitu mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat pesantren, di tiap ajaran baru atau awal tahun kalender akademik pesantren atau tiap semester guna selalu ingat bagi seluruh masyarakat pesantren. Hal tersebut juga akan dijelaskan per-item oleh kyai hingga masyarakat paham dan mampu melaksanakannya, karena peraturan sudah disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan bagi masyarakat pesantren. Sosialisai peraturan akan berjalan dengan tepat, sebab dalam pertemuan mingguan atau bulanan akan selalu di refresh agar masyarakat tidak lupa dengan adnya peraturan, jika dalam perjalannya ditemukan baik sengaja maupun tidak dalam pelanggaran peraturan maka ada diberikan sanksi, baik peringatan maupun teguran. Ketiga, evaluasi. Ketika peraturan sudah dipahami dan dipegang oleh masyarakat pesantren, maka komponen yang penting dilakukan yaitu dengan adanya evaluasi dengan pengecekan secara continue atau berkelanjutan agar mengetahui kedisiplinan masyarakat pesantren dalam menjalankan peraturan yang telah dibuat dan disepakati bersama, dalam fase ini kyai melakukannya dalam mingguan bersama dengan masyarakat pesantren yang diwakili oleh asatidz-asatidzah. Selaras dengan yang dikemukakan barnawi yaitu pengecekan peraturan yang sudah dilaksanakan untuk kesesuaian fakta dilapangan dengan adanya peraturan selama proses kegiatan belajar mengajar (KBM) baik formal maupun non-formal di dalam pondok pesantren an-nur, jika ditemukan pelanggaran maka akan diberikan peringatan. Dengan adanya evaluasi, kyai akan merekam dan mencatat seluruh macam bentuk pelanggaran pada peraturan yang telah dibuat dan disepakati bersama untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat pesantren yang melanggar. Peringatan tersebut nantinya akan berupa teguran dari kyai, berupa terguran individu atau keseluruan seperti dalam forum evaluasi mungguian atau bulanan. Teguran yang diberikan oleh kyai bagi masyarakat pesantren yang melanggar peraturan disampaikan dengan lugas,baik, sungguh-sungguh dan tegas, tanpa adanya dendam ataupun emosi, semua hanya berdasarkan peraturan yang telah disepakati demi kemajuan pondok pesantren, sebab kyai berpegang pada prinsip teguran merupakan intropeksi diri. Kelima, reward bagi yang terbaik menjalankan peratruran disiplin. Reward akan selalu bersanding dengan punishment sebab keduanya sebagai keseimbangan berjalannya sebuah peraturan disiplin berjalan[29]. Pernghargaan atau hadiah yang diberkan kyai bagi masyarakat pesantren bagi yang melaksanakannya dengan menjadi motivator bagi masyarakat pesantren yang lain, sehingga dapat meningkatkan kinerja serta mutu pendidikan yang dilaksanakan dalam pondok pesantren an-nur sidoarjo. Seiring dengan apa yang disampaikan shoffa Muhammad yaitu reward adalah sesuatu yang membahagiakan atau menyenangkan, yang diberikan keapda masyarakat pesantren dalam menjalankan kedisiplinan, sehingga bisa menjadi uswah atau role model bagi masyarakat pesantren lainnya.
Table 3. Hasil Wawancara Dengan Masyarakat Pesantren
Sumber. Santri dan Musyrif
Berdasarkan table penelitian diatas dengan hasil wawancara santri kelas 9 dan musyrif yang tinggal dalam pondok pesantren An-Nur Sidoarjo memperlihatkan bahwasannya kyai memegang kendali atau peran utama dalam pembentukan karakter masyarakat pesantren, sosok kyai diperlukan bukan hanya sebagai pimpinan manajerial tetapi juga role model, figure, uswah dalam keseharian, baik didalam maupun diluar pesantren. Kefektivan kepemimpinannya ditunjukan dengan gaya pendekatan yang halus, tegas, disiplin serta konsisten sehingga tercipta lingkungan yang penuh dengan kedisiplinan. Kemudian metode yang digunakan kyai dalam upaya role model bagi masyarakat pesantren yaitu dengan ceramah, kajian rutin, bahkan bimbingan individual yang di rencanakan sedemikian rupa untuk intelektual dan karakter masyarakat pesantren, dan tidak lupa kyai juga selau memberi ruang kepada siapa saja yang akan diskusi demi terciptanya ikatan yang kuat atau chemistry. Dan dampaknya sangat terlihat dengan signifikan, kedisiplinan terus meningkat, spiritualitas berkembang, sikap tanggung jawab makin tumbuh dikalangan masyarakat pesantren. Dan jika ditarik akarnya yaitu dalam manajemen kepemimpinan kyai tidak hanya terfokus dalam pesantren tetapi juga berupaya dalam menyiapkan peran role model disiplin di masyarakat luar pesantren dengan bentuk pribadi yang berkarangter serta integritas tinggi.
Pertama, Komponen pendukung upaya kyai dalam upaya role model disiplin. Segala usaha atau upaya untuk mentaati dan mengikuti peraturan yang berlaku dengan kesadaran dalam diri yang membawa kebaikan dan kegunaan serta keberhasilan diri itulah yang disebut disiplin. Bentuk lahirnya pesantren adalah guna menumbuhkan dan menanamkan kedisiplinan sedini mungkin. Dalam peraturan disiplin dipondok pesantren An-Nur Sidoarjo ada hal-hal yang menjadi Komponen pendukung terhadap disiplin masyarakat pesantren. Komponen pendukung dan yang didukung oleh Fathur Rahman terhadap kedisiplinan masyarakat pesantren An-Nur Sidoarjo adalah satu intruksi (perintah) kyai. Ketika problematika muncul dalam masyarakat pesantren maka intruksi satu ini dapat muncul dan bisa cepat terselesaikan tanpa harus menunggu larutnya rapat pimpinan yang terkesan lamban, sehingga problematika yang terjadi tidak menghambat jalannya kedisiplinan masyarakat pondok pesantren An-Nur Sidoarjo. Kemudian komponen kedua adalah peran nasihat orang tua baik wali santri atau pengasuh dan yang lainnya, dengan adanya nasehat dari orang tua yang lebih tua dapat memberikan nasihat-nasihat positif. Adapun kewajiban orang tua mendidik dan memberikan petuah nasihat, nasihat adalah upaya cara dalam mengarahkan atau membimbing seseorang untuk senantiasa dalam kebaikan dan dijalan yang sesuai tuntunan[30]. Dengan hadirnya nasihat dapat merubah kehidupan seseorang, dan nasihat menjadi peran penting sebab dapat memberikan perubahan baik dalam bermasyarakat pesantren maupun luar pesantren nantinya.komponen ketiga adalah dengan adanya reward and punishment, penghargaan dan hukuman. Salah satu kunci dalam kedisiplinan yaitu hukuman, dengan catatan hukuman sesuai dengan keadaan atau layak dengan kondisi dari penerima hukuman. Adanya hukuman tersebut untuk memberhentikan perilaku,sikap yang salah, keliru dan mengajarkan untuk mendorong menghentikan sendiri perilaku yang salah supaya bisa mengarahkan diri sendiri yang benar[31]. Dengan kehadirannya hukuman ini diharapkan pelaku pelanggaran peraturan dilingkungan pesantren merasa jenuh dan jerah serta takut untuk melanggar kedua kalinya bahkan seterusnya. Menghentikan tingkah laku salah itu adalah fungsi dari hukuman. Begitupun sebaliknya hadiah akan diberikan kepada siapa saja yang mampu mentati serta menjalankan peraturan disiplin sesuia dengan ketentuan yang berlaku.dengan adanya hadiah atau perhargaan diharapkan dapat memicu jiwa disiplin bagi masyarakat pesantren sehingga adanya fastabiqol khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Begitu juga dengan hukuman tadi, hukuman yang diberikan yang tidak membuat sakit hari, tetapi bernilai positif dan edukatif bagi pribadi yang melanggar[32].
Kedua, komponen Komponen penghambat upaya kyai dalam upaya role model disiplin. Dari segala upaya telah dilakukan sudah menajdi hal umum jika tidak selalu berjalan dengan sesuai rencana atau tidak sesuai dengan aturan yang dibuat. Dalam hal ini sudah menjadi pembahsan komponen penhambat upaya kyai dalam menciptakan role model disiplin masyarakat pondok pesantren An-Nur Sidoarjo. Selaras dengan yang diungkangkan KH Munif Hasan ada dari sisi santri dan ada juga dari asatidz-asatidzahnya. Masyarakat pesantren disini yang pertama santri dengan latar belakang yang berbeda dan dengan niatan yang berbeda pula, jika seorang santri sudah melanjukan, dirinya untuk melanjutkan pendidikan dalam pesantren maka otomatis santri tersebut akan lebih mudah diarahkan dan menerima arahan atau nasihat dari asatidz-asatidazah ataupun pengurus santri sendiri, tetapi sebaliknya jika santri tersebut berangkat dengan tidak ada niat dengan kata lain keinginan bahkan paksaan dari orangtua atau walisantri, maka sumber daya seperti ini yang menjadi penyakit nantinya, ditambah juga santri yang meliki sikap,pelrilaku yang sulit diatur, sehingga perlu bimbingan khusus atau treatment dan dilatih agar dapat terbiasa[33]. Santri tersebut akan melakukan semaunya sendiri tanpa mengiharaukan peraturan yang ada dan telah disepakati bersama, karena santri tersebut akan berupaya dengan berbagai cara agar dapat keluar dari bagian pesantren atau bahkan sengaja melanggar aturan agar keinginan tidak melanjutkan pendidikan dalam pesantren ia dapatkan[34]. Ini merupakan komponen penghambat yang cukup central jika tidak ada solusi cepat dan tepat, yang awalnya hanya satu seorang santri jika tidak ada arahan, nasihat dan bimbingan dari pengurus santri dan asatidz-asatidzah makan agar merambah kesantri yang lainnya dan mempengaruhi sisi buruk dari santri yang telah ada komponen disiplin yang telah ditanamkan dalam diri. Selain itu komponen penghambat dalam upaya kyai menciptakan role model displin adalah adanya asatidz-asatidzah yang tidak satu tujuan, hal ini akan menjadi benalu juga nantinya jika tidak diberekan dengan tepat, hal tersebut muncul dengan adanya sikap kecemburuan social yang terjadi dalam masyarakat pesantren, kan tetapi komponen ini lebih ringan penananganannya sebab dengan pendekatan pedagogi seorang asatidz-asatidzah lebih mudah ditemukan solusi bersama. Dilajukan dengan pendapat dari seorang santri,asatidz-asatidzah yaitu kesadaran diri, diantara santri tidak ada rasa yang kuat untuk berubah atau bisa disebut keinginan diri, sebab komponen dalam menggapai kesuksesan adalah kemauan dalam diri, jika ada tekad yang kuat maka dengan apapun akan berusaha merubah lebih baik dari sebelumnya.
Setelah melakukan penelitian , penulis mengambil kesimpulan bahwa manajemen kepemimpinan kyai Upaya Menciptakan Role Model Disiplin Untuk Masyarakat Pesantren menggunakan komponen yaitu, 1). Komponen utama yang terdiri dari a).Uswah atau teladan, b). Pembuatan peraturan serta sosialisasi peraturan kepada seluruh masyarakat pesantren, c). Evaluasi dan d). Pemberian reward, punishment dan 2). komponen pendukung yaitu, a). Intruksi kyai sebagai pimpinan satu suara, b). Nasehat orang tua, dan penghambat yaitu c). kurangnya segi kesadaran diri dalam pengontrolan, pengawalan kegiatan serta keamanan.
Penulis mengucapkan kepada pihak-pihak terkait dari pimpinan, asatidz-asatidzh, santri dan seluruh masyarakat pondok pesantren An-Nur Sidoarjo yang telah berkenan menerima dan mengizinkan peneletian, penulisan karya tulis ilmiah. Ucapan terima kasih juga ditujukan keapada pihak-pihat terkait dalam penyelesaian ini.
N. Novrizal and A. Faujih, “Sejarah Pesantren Dan Tradisi Pendidikan Islam Di Indonesia,” AL Fikr. J. Pemikir. dan Pendidik. Islam, vol. 2, no. 1, pp. 1–13, 2022.
Z. D. Farhan Hidayat, Tansri Rizieq Hilman Afif, “Sejarah Peradaban Islam Kontemporer Di Indonesia,” vol. 2, pp. 92–99, 2024.
Inayatillah, Kamaruddin, and M. Anzaikhan, “The History of Moderate Islam in Indonesia and Its Influence on the Content of National Education Inayatillah, * Kamaruddin ** & M. Anzaikhan ***,” J. Al-Tamaddun, vol. 17, no. 19, pp. 213–226, 2022.
H. Harmathilda, Y. Yuli, A. R. Hakim, and C. Supriyadi, “Transformasi Pendidikan Pesantren Di Era Modern : Antara Tradisi Dan Inovasi,” Karimiyah, vol. 4, no. 1, pp. 33–50, 2024.
L. A. Husna, “Digitalisasi Pembelajaran Sejarah Pada Pesantren Era New Normal,” J. Pendidik. Dompet Dhuafa, vol. 11, no. 1, pp. 27–33, 2021.
Nur Rohma Hayati, “Manajemen pesantren dalam menghadapi Dunia Global,” pp. 97–106.
L. I. Nik Haryanti, “Karakter jujur dan Disiplin Santri IAIN Pangeran Diponegoro Nganjuk ; 2 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Pendahuluan Pesantren sebagai pusat pembelajaran Islam setelah adanya masjid . Menurut Mastuhu pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam dalam m,” vol. 10, pp. 121–136, 2022.
Muh. Asroruddin al Jumhuri, “Peran Pondok Pesantren Dalam Mengembangkan Karakter Disiplin Santri,” vol. 4, no. 1, pp. 34–58, 2019.
M. Masrur, “Figur Kyai dan Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren,” vol. 01, pp. 272–282, 2017.
Rofiatun dan Mohammad Thoha, “Manajemen Pembinaan Kedisiplinan Santri Dalam Mengikuti Kegiatan Keagamaan di Pondok Pesantren Nurus Shibyan Ambat Tlanakan Pamekasan,” re-JIEM, vol. 2, no. 2, pp. 278–287, 2019.
M. A. Amrizal, N. Fuad, and N. Karnati, “Manajemen Pembinaan Akhlak Di Pesantren,” no. April, pp. 356–370, 2022.
R. Indonesia, “undang-undang no.18 th.2019,” no. 006344, 2019.
Z. Rosyida Nurul Anwar, “Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Berkebutuhan Khusus,” J. CARE, vol. 6, no. 1, pp. 47–57, 2019.
S. R. Afidah Nur Aini, “Peran Kepemimpinan Kyai Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat Berjama’ah Santri Putra Di Pesantren Siti Nur Sa’adah Di Wonomelati Krembung Sidoarjo,” vol. 8, no. 1, 2022.
D. M. R. Mustaan, “Majanemen kepemimpinan dan Pembaharuan yang dilakukan Kyai di Pondok Pesantren Al Muayyad surakarta,” edunomika, vol. 06, no. 02, pp. 1–13, 2022.
imam safii, “Model Kepemimpinan Kyai dalam Membentuk Santri Mandiri di era 4.0,” vol. 3, no. 2, pp. 218–240, 2020.
E. F. F. Achmad Ziddanial Muqodash Badrie, “Implementasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Untuk Meningkatkan Karakter Kepemimpinan Siswa Di Mi Muhammadiyah 3 Penatarsewu,” vol. 3, no. Ix, 2020.
N. Q. Izazy, S. Aflahah, and Y. Libriyanti, “Modernisasi Manajemen Pesantren,” vol. 21, no. 1, pp. 17–30, 2023.
moch iqbal Heriyadi, “Kebijakan Pendidikan Pesantren di Indonesia,” vol. 2, no. 2021, pp. 1–9, 2022.
maskuri, “Pendidikan Karakter Disiplin Di Lingkungan Sekolah,” vol. 2, no. 1, pp. 340–363, 2018.
S. Darnius, M. Yamin, and S. Ainun, “Implementasi Disiplin dalam Proses Pembelajaran Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Siswa SD Negeri 2 Banda Aceh,” Serambi Konstr., vol. 1, no. 2, pp. 88–94, 2019.
rosyid anwar, “Kedisiplinan Belajar Pesantren,” no. 16, pp. 112–118.
S. Anggi Kartika Putri, “Disiplin kerja staf unit sekretaris perusahaan di perusahaan umum jaminan kredit indonesia,” J. Mhs. Bina Insa., vol. 4, no. 2, pp. 165–174, 2020.
akhmad halim ilmanto, “the problem of online learning : the role of parent during the covid 19 pandemic.”
M. Mustangin, “Analisis Proses Perencanaan Program Pendidikan Nonformal bagi Anak Jalanan di Klinik Jalanan Samarinda,” Pepatudzu Media Pendidik. dan Sos. Kemasyarakatan, vol. 16, no. 1, p. 1, 2020.
D. Fikriyyah and I. Fauji, “Prinsip Dasar Manajemen Pendidikan Dalam Al-Qur’an Dan Hadist,” IMTIYAZ J. Ilmu Keislam., vol. 7, no. 2, pp. 222–230, 2023.
I. Fauji et al., “Implementasi Kegiatan Sholat Dhuha Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Implementation of Dhuha Prayer Activities to Improve Student Discipline,” pp. 1–8.
W. C. Kartika and I. Fauji, “Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam untuk Menanamkan Kecerdasan Spiritual Dalam Mematuhi Peraturan Sekolah,” J. Ilm. Univ. Batanghari Jambi, vol. 24, no. 1, p. 408, 2024.
E. F. Fahyuni and M. B. U. B. Arifin, “Child-Friendly Through Hizbul Wathan in Indonesia Muhammadiyah School,” Proc. 1st Paris Van Java Int. Semin. Heal. Econ. Soc. Sci. Humanit. (PVJ-ISHESSH 2020), vol. 535, pp. 132–139, 2021.
M. Imron Haris, I. Istikomah, E. F. Fahyuni, B. Prasetiya, and . Hanafi, “Students’ Character Building in Islamic Full-day Elementary School,” KnE Soc. Sci., vol. 2022, pp. 243–251, 2022.
Muhammad Fendik and Eni Fariyatul Fahyuni, “Manajemen Praktik Kerja Lapangan Dan Islamic Culture Terhadap Perubahan Soft Skills Peserta Didik,” Risâlah, J. Pendidik. dan Stud. Islam, vol. 8, no. 3, pp. 987–1002, 2022.
W. Alvin Nurul Khusna, “Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosional Dengan Kedisiplinan Santri Dalam Menjalankan Peraturan Di Pondok Pesantren,” vol. 4, no. 6, pp. 0–7, 2021.
dan R. F. M Yusup, O Abdurakhman, “Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Pondok Pesantren Darussyifa Al-Fithroh Yaspida Sukabumi,” vol. 2, no. April, 2018.
A. W. Supiana, Heris Hermawan, “Manajemen Peningkatan Karakter Disiplin Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler,” vol. 4, no. 2, pp. 193–208, 2019.