Login
Section Innovation in Education

Academic Supervision Innovation: Principal Strategy in Enhancing Student Wellbeing

Inovasi Supervisi Akademik: Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Student Wellbeing
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Rizna Maharani (1), Taufiq Churrahman (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Educational environments require positive school climates and dedicated educator support to foster comprehensive personal growth and mental health among adolescents. Specific Background This research investigates the role and operational steps of principal academic supervision in promoting student wellbeing at SMA Muhammadiyah 4 Porong. Knowledge Gap Previous literature lacks detailed qualitative assessments regarding how structured principal supervision frameworks directly coordinate with student emotional satisfaction and learning fulfillment in secondary settings. Aims This research aims to analyze the role and identify the steps of the principal's academic supervision in improving student wellbeing at SMA Muhammadiyah 4 Porong. Results The qualitative findings reveal that instructional supervision operates through systematic planning, classroom observation, and evaluation, successfully establishing conducive learning conditions where the majority of teachers and students reach favorable achievement levels. Novelty The integration of customized student wellbeing survey instruments within a three-stage supervisory model bridges pedagogical quality control with adolescent emotional health metrics. Implications These findings indicate that optimized academic supervision serves as an essential administrative mechanism for driving instructional excellence and securing sustainable student welfare.


Highlights:




  • Principal supervision operates through structured preparation, systematic classroom observation, and comprehensive post-observational evaluation.




  • Instructional quality assessments demonstrate a direct positive correlation with student happiness, comfort, and learning satisfaction.




  • Optimized administrative guidance creates conducive school environments that support both teacher professionalism and adolescent emotional health.




Keywords: Academic Supervision, Student Wellbeing, Teaching Quality, Principal Leadership, Learning Environment

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Student wellbeing merupakan elemen penting dalam konteks pendidikan yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan hasil akademik. Student wellbeing dapat didefinisikan sebagai keadaan suasana hati dan sikap positif yang berkelanjutan, ketahanan, dan kepuasan terhadap diri sendiri, hubungan, dan pengalaman di sekolah[1]. Hal ini ditunjukkan oleh sejauh mana siswa menunjukkan fungsi akademik, sosial dan emosional yang efektif serta perilaku yang sesuai di sekolah[2]. Student wellbeing juga merupakan keadaan kesejahteraan emosional berkelanjutan yang ditandai dengan sikap positif (suasana hati), perilaku positif, hubungan positif dengan teman sebaya dan guru, ketahanan, harga diri dan sikap optimis, serta kepuasan terhadap pengalaman belajar di sekolah[3]. Student Wellbeing adalah kondisi mental dan emosional yang relatif stabil, yang ditandai dengan beberapa ciri: 1) perasaan dan sikap positif; 2) hubungan baik dengan orang lain di lingkungan sekolah; 3) ketahanan; 4) pengembangan diri yang optimal; dan 5) tingkat kepuasan tinggi terhadap pengalaman belajar[4].

Sekolah memainkan peran penting dalam meningkatkan student wellbeing dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan pribadi[5]. student wellbeing yang baik dapat berdampak positif pada prestasi akademik, kesehatan mental, dan kualitas hidup secara keseluruhan[6]. Peningkatan student wellbeing sangat penting untuk pengembangan holistik dan keberhasilan akademis mereka[7]. tingginya tingkat student wellbeing berkaitan dengan peningkatan prestasi akademik, kehadiran di sekolah, perilaku prososial, rasa aman di sekolah, dan kesehatan mental. Student wellbeing yang baik dapat meningkatkan motivasi belajar, kinerja akademik, dan kualitas hidup secara keseluruhan bagi siswa[6].

Rendahnya student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong tercermin dari kurangnya perasaan dan sikap positif siswa terhadap kegiatan belajar mengajar. Hubungan antar siswa serta antara siswa dan guru di lingkungan sekolah sering kali tidak harmonis, mengakibatkan rendahnya dukungan sosial. Siswa menunjukkan daya tahan yang lemah dalam menghadapi tekanan akademis dan sosial, yang berdampak negatif pada ketahanan mereka. Pengembangan potensi diri siswa tidak optimal, terlihat dari minimnya partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan keterampilan. Akibatnya, tingkat kepuasan siswa terhadap pengalaman belajar mereka di sekolah ini sangat rendah, mempengaruhi motivasi dan prestasi akademis.

Faktor yang dapat mempengaruhi student wellbeing antara lain : Hubungan siswa dengan guru; lingkungan sekolah seperti keamanan, dukungan sosial, dan iklim sekolah; Kesehatan mental guru; kehadiran guru yang konsisten dan terlibat dalam pembelajaran; dukungan sosial dari teman sebaya, keluarga, dan komunitas[8]. Sedangkan Faktor internal yang dapat menghambat kesejahteraan siswa antara lain masalah kesehatan fisik, pembelajaran yang kurang optimal, prestasi akademik yang tidak memadai, kebutuhan materi yang tidak terpenuhi, dan perilaku negatif seperti malas, sombong, malu, dan tidak patuh. Faktor eksternal yang dapat menghambat kesejahteraan siswa antara lain lingkungan yang tidak menyenangkan, perlakuan yang kurang menyenangkan, dan tantangan dalam mewujudkan potensi diri karena pengaruh dari lingkungan sekitar, seperti batasan orang tua, teguran guru, atau pengaruh teman sebaya[7]. Keberhasilan dalam pembelajaran tentu berpengaruh pada tingkat student well-being. Pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengatasi berbagai masalah pembelajaran, khususnya pada tahap akhir proses pembelajaran[9].

Pembelajaran yang menerapkan model terbukti dapat meningkatkan student wellbeing[9]. Proses pembelajaran dianggap baik ketika guru menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan optimal, yaitu dengan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia secara efektif dan mampu melakukan pengembangan diri, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai[10]. Untuk meningkatkan student wellbeing, dapat dilakukan dengan cara pembelajaran berdeferensiasi karena siswa akan belajaran lebih menyenangkan dan tanpa tekanan sesuai dengan bakat minat masing-masing[11]. Peningkatan student wellbeing juga bisa dicapai dengan menerapkan pembelajaran yang menggunakan media[3].

Supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah memiliki dampak positif terhadap kualitas pendidikan. Dengan supervisi yang sistematis dan objektif, kompetensi profesional guru dan kualitas pengajaran dapat ditingkatkan, sehingga menghasilkan hasil pembelajaran yang lebih baik[12]. Supervisi akademik yang dilaksanakan oleh kepala sekolah berperan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran guru dan hasil belajar siswa[13]. Supervisi akademik dapat membantu meningkatkan kinerja guru dalam pembuatan administrasi dan perencanaan pembelajaran sehingga keaktifan siswa dalam belajar juga meningkat[14]. Supervisi akademik memberikan kerangka kerja bagi kepala sekolah untuk mendukung dan mengembangkan guru menjadi pendidik yang profesional, pada akhirnya bermanfaat bagi kualitas pendidikan dan perkembangan siswa[15]. Karakteristik pembelajaran dapat dipengaruhi oleh kinerja guru, sebab peningkatan kinerja guru dihasilkan dari kegiatan supervisi akademik dan komunikasi yang efektif kepala sekolah[16].

Supervisi akademik oleh kepala sekolah adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh kepala sekolah dengan tujuan untuk membantu guru dalam mengelola proses pembelajaran guna mencapai tujuan akademik, termasuk penggunaan bahan ajar, metode mengajar, dan penilaian pengajaran, yang semuanya berkontribusi positif terhadap pencapaian tujuan sekolah[17]. Indikator-indikator supervisi kepala sekolah meliputi: Pengarahan, Membantu menyelesaikan masalah guru, Memberikan petunjuk pelaksanaan kerja, Melaksanakan pengawasan, Menciptakan hubungan antarpribadi, dan Penilaian hasil kerja. Supervisi dalam konteks pendidikan mengacu pada proses pengawasan dan bimbingan yang dilakukan oleh supervisor atau pengawas pendidikan terhadap kegiatan pembelajaran dan kinerja guru di sekolah. Tujuan supervisi pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mendukung pengembangan profesionalisme guru, dan memastikan bahwa standar pendidikan terpenuhi. Proses supervisi mencakup observasi, pemberian umpan balik, bimbingan, dan evaluasi kinerja guru, sehingga dapat memberikan dukungan dan arahan yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah[18].

Pendekatan supervisi akademik bisa dilakukan dengan 3 cara, yakni : pertama, pendekatan direktif merupakan pendekatan langsung terhadap masalah melibatkan supervisor yang memberikan arahan secara langsung, sehingga perilaku supervisor memiliki pengaruh yang lebih dominan. Pendekatan direktif ini didasarkan pada pemahaman psikologi behavioristis, yang berprinsip bahwa semua tindakan berasal dari refleks, yaitu respons terhadap rangsangan atau stimulus. Kedua, pendekatan non direktif merupakan pendekatan secara tidak langsung, dimana guru menjadi pusat untuk menentukan perbaikan pada dirinya sediri. Supervisor hanya membantu memotivasi guru agar dapat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya. Ketiga, pendekatan kolaboratif yang menggabungkan pendekatan direktif dan non-direktif menjadi sebuah metode baru. Dalam pendekatan ini, supervisor dan guru bekerja sama untuk menyepakati struktur proses dan kriteria dalam membahas masalah yang dihadapi guru. Pendekatan ini didasarkan pada psikologi kognitif, yang berpendapat bahwa pembelajaran adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya, yang pada akhirnya mempengaruhi pembentukan aktivitas individu[19].

Penelitian ini didukung oleh beberapa hasil penelitian yang relevan antara lain : penelitian yang telah dilakukan oleh saldi dkk (2021) yang berjudul “Analisis Peran Supervisi Akademik Kepala Sekolah kepada Guru IPA di SMP Negeri 20 Kupang”. Berikutnya penelitian yang dilakukan Doharman (2023) dalam penelitiannya yang berjudul “Peran Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru”, dan masih banyak hasil penelitian lain. Penelitian ini dilakukan dengan judul Peran Supervisi Akademik Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Student Wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong. Adapun pentingnya dilakukan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong dan mengidentifikasi langkah – langkah supervisi kepala sekolah dalam meningkatkan student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif[20]. Metode kualitatif diterapkan untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai peran dan mampu mengeksplorasi secara mendetail langkah-langkah supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong. Pendekatan fenomenologis digunakan karena memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif para informan dan memahami bagaimana mereka memaknai peran supervisi akademik dalam konteks student wellbeing[20]. Penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 4 Porong Sidoarjo, yang dipilih sebagai lokasi penelitian karena relevansi dan keterkaitannya dengan fokus penelitian. Sumber data penelitian ini meliputi sumber data primer yaitu wawancara mendalam dengan kepala sekolah/waka kurikulum dan sumber data sekunder yaitu dokumentasi berupa rencana kerja tahunan sekolah dan laporan hasil pelaksanaan supervisi kepala sekolah . Data-data ini dipilih untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai dinamika supervisi akademik dan dampaknya terhadap student wellbeing. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dokumentasi dari rencana kerja tahunan yakni memperodeh data rencana program supervisi kepala sekolah, sedangkan dari laporan supervisi kepala sekolah diperoleh data hasil ketercapaian proses pembelajaran dan student wellbeing serta instrumen yang digunakan untuk mengukur ketercapaian tersebut. Proses analisis data dilakukan dalam tiga tahap[21]: pertama, reduksi data dengan merangkum dan memilih informasi penting yang relevan dengan pelaksanaan supervisi akademik; kedua, penyajian data dengan mengorganisir informasi secara sistematis untuk memudahkan integrasi dan analisis hubungan antar data dalam menggambarkan proses supervisi akademik di sekolah; dan ketiga, penarikan kesimpulan.

III. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data, bahwa peran kepala sekolah dalam meningkatkan student wellbeing antara lain : 1) kepala sekolah perperan sebagai edukator, hal ini dibuktikan dengan kepala sekolah selalu memberikan pemahaman tentang karakter dan edukasi kepada siswa saat kegiatan breafing dan kegiatan pertemuan rutin untuk guru yang dilaksanakan setiap hari jum’at siang; Kepala sekolah memberikan pembinaan kepada guru tentang metode pembelajaran yang dapat meningkatkan student wellbeing. 2) Kepala sekolah berperan sebagai manajer, hal ini dibuktikan dengan kepala sekolah melakukan perencenaan program kerja sekolah. Kepala sekolah melakukan pembentukan struktur organisasi beserta tugas pokok dan fungsinya. 3) Kepala sekolah berperan sebagai supervisor. Kepala sekolah telah melakukan perencanaan program supervisi akademik dan supervisi manajerial. Kepala sekolah melakukan supervisi. Kepala sekolah telah mampu memanfaatkan hasil supervisi. 4) Kepala sekolah berperan sebagai Leader. Yakni peran dalam memberi pengaruh positif kepada guru dan siswa. Hal ini dibuktikan dengan kepala sekolah memiliki kompetensi sosial dan kepribadian yang kuat. Kepala sekolah memimpin guru dan tenaga kependidikan untuk memberi pelayanan yang maksimal baik kepada siswa maupun orang tua.5) Kepala sekolah berperan sebagai Inovator. Kepala sekolah selalu menginovasi terkait kebijakan pendidikan yang dinamis. Kepala sekolah juga menginovasi guru agar selalu melaksanakan pembelajaran yang efektif. 6) Kepala sekolah berperan sebagai motivator. Hal ini dibuktikan dengan kepala sekolah selalu mendorong guru dan karyawan untuk melaksanakan tugas dengan profesional.kepala sekolah melakukan pengambilan kebijakan yang tidak memihak.

Berdasarkan studi dokumen rencana kerja tahunan (RKT), kepala sekolah melakukan kegiatan supervisi berdasarkan rencana program sebagai berikut :

Tabel 1 : Program Kerja Tahunan Kepala Sekolah

Berdasarkan studi dokumen laporan supervisi kepala sekolah, diperoleh data instrumen supervisi yang diterapkan kepala sekolah untuk menilai tingkat student wellbeing yakni :

Tabel 2 : Instrument Survei Student Wellbeing

Kepala sekolah dalam melakukan supervisi akademik menghasilkan data sebagai berikut :

Grafik 1 : hasil ketercapaian supervisi akademik kepala sekolah

Grafik 2 : hasil ketercapaian student wellbeing

Adapun langkah-langkah supervisi akademik yang dilakukan kepala Sekolah dalam meningkatkan student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong sebagai berikut :

Gambar 1 : Langkah-langkah Supervisi Akademik

Supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan student wellbeing perperan sangat penting. Hal ini didukung dengan interpretasi grafik yang menunjukkan hubungan antara hasil supervisi akademik dengan ketercapaian student wellbeing, yakni mayoritas guru (8) mencapai tingkat ketercapaian C, menunjukkan hasil yang cukup baik dalam pelaksanaan pembelajaran. Tidak ada guru yang berada pada tingkat ketercapaian D, yang mengindikasikan bahwa tidak ada guru yang mengalami kesulitan signifikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan Mayoritas siswa (9) berada pada tingkat ketercapaian C dalam student wellbeing, yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa cukup sejahtera. Tingkat ketercapaian A dan D masing-masing memiliki 3 siswa, menunjukkan adanya variasi dalam tingkat student wellbeing. Ketercapaian kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru berdampak positif terdadap ketercapaian student wellbeing. Artinya peran supervisi akademik kepala sekolah berdampak pada kualitas pembelajaran sehingga mempengaruhi juga terhadap student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong.

Gambar 2 : peran supervisi akademik terhadap student wellbeing

Supervisi akademik kepala sekolah berperan penting dalam meningkatkan student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong. Sehubungan dengan hal tersebut, hingga saat ini belum ada penelitian yang membahas peran supervisi akademik oleh kepala sekolah terhadap kesejahteraan siswa. Meskipun demikian, penelian yang dilakukan oleh (Chairunnisa, 2019) bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SMAN 1 Tarik Sidoarjo, guru diyakini memegang peran penting dalam menentukan kualitas pendidikan. Kepala sekolah berupaya meningkatkan profesionalisme guru melalui beberapa cara, yaitu melalui kepemimpinan, pendampingan, pelatihan, sertifikasi, dan evaluasi kegiatan guru. Guru dibimbing untuk memilih bahan ajar, metode, dan media pembelajaran yang tepat sehingga dapat memudahkan siswa dalam proses belajar[22]. penelitian (Doharman, 2023) menjelaskan bahwa Kepala Sekolah SMK Pelayaran Sinar Bahari Palembang telah berperan penting sebagai edukator dalam meningkatkan profesionalisme guru. Guru menjalankan kegiatan yang berfokus pada pembentukan karakter yang didasarkan pada nilai-nilai pendidikan. Sebagai manajer, Kepala Sekolah mengelola sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan institusi. Dalam perannya sebagai administrator, beliau memastikan pengelolaan sumber daya untuk mencapai tujuan institusi dilakukan dengan efisien. Sebagai supervisor, Kepala Sekolah membantu mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan lainnya. Sebagai pemimpin, beliau mempengaruhi orang-orang untuk bekerja sama dalam mencapai visi dan tujuan bersama. Selain itu, sebagai inovator, Kepala Sekolah adalah sosok yang dinamis dan kreatif, mampu melaksanakan reformasi untuk perbaikan. Terakhir, sebagai motivator, beliau memberikan dorongan sehingga seluruh komponen pendidikan dapat berkembang secara profesional[23]. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh (Tamim, 2022) Peran kepala sekolah adalah mengoordinasikan program belajar mengajar dan tugas-tugas staf, serta mengoordinir setiap upaya sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dengan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan sekolah. Kepala sekolah harus mampu berperan sebagai konsultan bagi para guru, memberikan bantuan dalam pemecahan masalah atau kesulitan yang mereka hadapi. Sebagai supervisor, kepala sekolah berperan sebagai konsultan dalam pengembangan kurikulum, manajemen sekolah, teknologi pembelajaran, serta pengembangan staf. Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus bisa mengembangkan keterampilan kerja kelompok, baik yang dilakukan untuk kelompok, oleh kelompok, maupun dalam kelompok. Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai evaluator yang mampu menilai hasil kerja guru dalam proses mengajar dan menilai kurikulum yang sedang dikembangkan[24]. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Rohana, 2023) bahwa supervisi akademik kepala sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran guru dan hasil belajar siswa di SMP Muhammadiyah Balikpapan memainkan peran penting, praktik supervisi akademik yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan merupakan hal yang penting dalam Upaya peningkatan kualitas pendidikan di sebuah lembaga pendidikan[13]. Penelitian (Dewi, 2019) supervisi kepala sekolah berperan sangat penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. Semakin intensif supervisi kepala sekolah, semakin meningkat efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, sekolah perlu mengoptimalkan kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah[17].

Adapun langkah-langkah supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan student wellbeing di SMA Muhammadiyah 4 Porong adalah: 1) Perencanaan Supervisi: Menyusun program supervisi yang terstruktur dan berkelanjutan. setelah tersusun jadwal terdiri dari nama guru, mapel, kelas serta jam pembelajaran. Kemudian jadwal disosialisasikan terlebih dahulu kepada guru, agar guru mempersiapkan diri dan perangkat pembelajarannya. 2) Pelaksanaan Supervisi: dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, Pra observasi yaitu dengan melakukan wawancara dengan mengisi instrumen perencanaan pembelajaran untuk mengukur persiapan melakukan pembelajaran. Tahap kedua yakni Observasi; kepala sekolah melakukan kunjungan kelas sesuai jadwal yang ditentukan dengan mengisi instrumen proses pembelajaran, adapun instrumen observasi terdiri dari proses kegiatan pendahuluan apakah guru sudah mempersiapkan suasana kelas dan siswa dengan baik, memberi motivasi dan menyampaiakan tujuan pembejaran serta menginformasikan kepada siswa tentang pentingnya mempelajari materi tersebut. Pada Kegiatan inti apakah guru sudah melaksanakan pembelajaran menggunakan media dan model pembelajaran yang berdampak pada siswa. Kegiatan penutup apakah guru telah melakuakn refleksi dan menginformasikan tentang kegiatan pada pertemuan selanjutnya. Tahap ketiga yakni pasca observasi dengan melakukan wawancara dengan guru tentang hasil observasi dan melakukan refleksi. 3) Evaluasi Hasil Supervisi : kepala sekolah mengevaluasi hasil supervisi untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru, kemudian digunakan sebagai bahan untuk melakukan tindak lanjut, sebagai rekomendasi untuk perencanaan program kerja sekolah.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Saldi, 2021) Supervisi akademik telah dilaksanakan dengan baik, di mana kepala sekolah telah menyusun rencana yang matang dengan menyiapkan instrumen dan jadwal supervisi. Selanjutnya pelaksanaan supervisi ini menggunakan berbagai teknik dan prinsip, serta telah dilakukan evaluasi dan tindak lanjut melalui diskusi bersama para guru. Selain itu, sekolah juga telah mengadakan workshop untuk meningkatkan kompetensi guru[10]. Adapun langkah-langkah supervisi akademik hasil penelitian (Namlul, 2024) adalah pengawasan terhadap disiplin guru dilakukan melalui kunjungan kelas, pembinaan internal dan teknis bagi guru yang bermasalah, serta evaluasi hasil laporan yang dijadikan masukan dalam perencanaan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran[25].

Dari hasil penelitian diperlukan Upaya tindak lanjut antara lain : Dari hasil evaluasi supervisi akademik, kepala sekolah dapat menyusun program pelatihan yang lebih tepat sasaran untuk guru yang membutuhkan peningkatan keterampilan, sehingga efektivitas pembelajaran terus meningkat dan berdampak positif pada student wellbeing. Langkah-langkah supervisi yang telah dilakukan di SMA Muhammadiyah 4 Porong menunjukkan efektivitasnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, di mana mayoritas guru dan siswa mencapai tingkat ketercapaian yang cukup baik dalam pelaksanaan pembelajaran dan student wellbeing. Pengoptimalan perencanaan dan pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan student wellbeing, sebagaimana terlihat dari distribusi tingkat ketercapaian yang menunjukkan mayoritas siswa merasa cukup wellbeing. Dengan melibatkan guru dalam tahap pra-observasi dan pasca-observasi, kepala sekolah dapat mengidentifikasi secara lebih akurat area yang membutuhkan perbaikan, sekaligus memberikan umpan balik konstruktif yang membantu guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Hasil supervisi yang terstruktur dan berkelanjutan memungkinkan kepala sekolah untuk membuat rekomendasi yang lebih efektif dalam perencanaan program kerja sekolah, yang pada gilirannya memastikan bahwa upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan student wellbeing berjalan secara berkesinambungan.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yakni : Penelitian ini hanya dilakukan di satu sekolah, yaitu SMA Muhammadiyah 4 Porong, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasikan untuk sekolah-sekolah lain dengan kondisi yang berbeda. Selain itu penelitian juga tidak mempertimbangkan faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti lingkungan keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan dukungan eksternal lainnya yang bisa mempengaruhi kesejahteraan siswa dan kualitas pembelajaran.

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMA Muhammadiyah 4 Porong, dengan menerapkan instrumen yang berbasis karakteristik sekolah, diperoleh bahwa terjadi hubungan yang sebanding antara ketercapaian proses pembelajaran yang dilakukan guru dengan ketercapaian student wellbeing yang rasakan siswa. Yakni mayoritas guru dan siswa mencapai tingkat ketercapaian yang cukup baik. Hal ini mengindikasikan bahwa peran supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah di SMA Muhammadiyah 4 Porong berkontribusi positif terhadap kualitas pembelajaran dan student wellbeing. Dengan perencanaan yang terstruktur, pelaksanaan yang sistematis, serta evaluasi yang tepat, supervisi akademik terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan meningkatkan profesionalisme guru. Penelitian ini menegaskan pentingnya optimalisasi kegiatan supervisi akademik untuk mencapai tujuan peningkatan kualitas pembelajaran dan student wellbeing secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan : Pertama, sekolah perlu terus mengoptimalkan perencanaan supervisi dengan melibatkan semua pemangku kepentingan agar program yang disusun lebih komprehensif dan relevan dengan kebutuhan guru dan siswa. Kedua, keterlibatan siswa dalam proses evaluasi pembelajaran juga perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan perspektif yang lebih holistik mengenai kesejahteraan mereka. Ketiga agar penelitian di masa depan melibatkan sampel yang lebih luas dan beragam, mencakup berbagai sekolah dengan karakteristik yang berbeda, untuk meningkatkan generalisasi temuan. Keempat, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor eksternal seperti lingkungan keluarga dan kondisi sosial ekonomi, yang mungkin mempengaruhi kesejahteraan siswa dan efektivitas pembelajaran, dalam analisis. Terakhir, disarankan agar peneliti selanjutnya mengkaji lebih dalam mengenai mekanisme spesifik bagaimana supervisi akademik dapat meningkatkan student wellbeing, serta mengeksplorasi intervensi tambahan yang dapat mendukung tujuan ini. Dengan memperhatikan saran-saran ini, diharapkan penelitian di masa mendatang dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan student wellbeing.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penelitian ini mulai dari perencanaan hingga penyelesaian penelitian ini. Kepada UMSIDA kampus yang selalu memberi pencerahan dan telah memproses kami sampai diakhir studi. Kepada Dekan FAI, kajur MPI, pembimbing, dan para dosen, yang telah memberi ilmu dan tidak lelah memberi motivasi untuk menyelesaikan penelitian ini. Kepada SMA Muhammadiyah 4 Porong beserta stakeholder yang telah menfasilitasi pengambilan data. Selain itu, penghargaan dan rasa terima kasih kami sampaikan kepada seluruh staf dan manajemen SMA Muhammadiyah 4 Porong yang telah menyediakan fasilitas dan dukungan yang diperlukan selama penelitian berlangsung. Kami juga berterima kasih kepada para guru dan siswa yang telah bersedia menjadi partisipan dan memberikan informasi yang sangat berharga bagi keberhasilan penelitian ini. Tanpa dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, penelitian ini tidak akan dapat terlaksana dengan sukses. Kepada keluarga tercinta penulis juga sangat berterimaksih karena telah merelakan waktu dan kasih sayangnya agar penelitian ini dapat terselesaikan.

References

D. Elena R., “Student wellbeing in the teaching and learning environment: A study exploring student and staff perspectives,” vol. 10, no. 4, pp. 103–115, 2020, doi: 10.5539/hes.v10n4p103.

A. Kindekens, V. Romero, and F. De Backer, “Enhancing student wellbeing in secondary education by combining self-regulated learning and arts education,” Procedia - Social and Behavioral Sciences, vol. 116, pp. 1982–1987, 2014, doi: 10.1016/j.sbspro.2014.01.507.

S. A. Aziz, “Penggunaan media pembelajaran fisika berbasis literasi untuk student well-being pada siswa kelas XII MIA.1 MAN Bantaeng Sulsel,” vol. 2, no. 1, pp. 570–593, 2023.

A. Setiyo, “Penerapan pembelajaran diferensiasi kolaboratif dengan melibatkan orang tua dan masyarakat untuk mewujudkan student’s well-being di masa pandemi,” Bioma: Jurnal Ilmiah Biologi, vol. 11, no. 1, pp. 61–78, 2022, doi: 10.26877/bioma.v11i1.9797.

Z. Ramdani and B. H. Prakoso, “Integritas akademik: Prediktor kesejahteraan siswa di sekolah,” Indonesian Journal of Educational Assessment, vol. 2, no. 1, p. 29, 2019, doi: 10.26499/ijea.v2i1.14.

N. F. N. M. Ahkam A1 and D. R. Suminar, “Kesejahteraan di sekolah bagi siswa SMA: Konsep dan faktor yang berpengaruh,” vol. 5, no. 2, 2020.

A. Ianah, R. Latifa, R. Kolopaking, and M. N. Suprayogi, “Kesejahteraan siswa: Faktor pendukung dan penghambatnya,” Business, Economic, Communication, and Social Sciences Journal, vol. 3, no. 1, pp. 43–49, 2021, doi: 10.21512/becossjournal.v3i1.7028.

S. Harding et al., “Is teachers’ mental health and wellbeing associated with students’ mental health and wellbeing?,” Journal of Affective Disorders, vol. 253, no. April, pp. 460–466, 2019, doi: 10.1016/j.jad.2019.03.046.

M. F. Apetatu and I. Sibala, “Penerapan model direct instruction untuk meningkatkan kemampuan speaking dan student well-being materi expression of offering service/help siswa kelas XII IPA Madrasah Aliyah Negeri Alor,” vol. I, no. 01, 2023. [Online]. Available: https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/JPM

S. S. Ballu, L. Manu, and A. M. Meha, “Analisis peran supervisi akademik kepala sekolah kepada guru IPA di SMP Negeri 20 Kupang,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 20–26, 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i1.161.

E. Sasmito, “Upaya mewujudkan student well being melalui peningkatan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di SMA Negeri 1 Talun Kabupaten Blitar,” Jurnal Terapan Pendidikan Dasar dan Menengah, vol. 3, no. 1, pp. 131–139, 2023, doi: 10.28926/jtpdm.v3i1.542.

I. Asmadi, R. Romansyah, M. Farid, A. Aman, and A. Rahman, “Supervisi akademik kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan: Studi kasus di SMA Terpadu Riyadlul Ulum,” vol. 6, pp. 819–825, 2023.

A. Rohana and R. Soe’oed, “Supervisi akademik kepala sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran guru di SMP Muhammadiyah Balikpapan,” vol. 5, no. 2, pp. 5440–5450, 2023.

M. Ihsan, “Upaya peningkatan mutu pembelajaran melalui supervisi akademik di MTs Assalafiyah Sitanggal semester gasal tahun pelajaran 2022/2023,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 4, no. 1, pp. 66–77, 2023, doi: 10.36418/japendi.v4i1.1542.

M. Munawar, “Supervisi akademik: Mengurai problematika profesionalisme guru di sekolah,” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 3, no. 1, pp. 135–155, 2019, doi: 10.33650/al-tanzim.v3i1.522.

R. K. Wardani, D. Rahmawati, and H. Santosa, “The role of academic supervision and communication on teacher performance,” Journal of Education Research and Evaluation, vol. 5, no. 2, p. 302, 2021, doi: 10.23887/jere.v5i2.30212.

D. Nurpuspitasari, S. Sumardi, R. Hidayat, and S. Harijanto, “Efektivitas pembelajaran ditinjau dari supervisi akademik kepala sekolah dan budaya sekolah,” Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 7, no. 1, pp. 762–769, 2019, doi: 10.33751/jmp.v7i1.962.

H. Sanoto, M. C. Paseleng, and D. Kusuma, “The effectiveness of Si Sagu (Teacher Academic Supervision System) in academic supervision process for teachers at 3T area,” Journal of Innovation in Educational and Cultural Research, vol. 3, no. 4, pp. 548–553, 2022, doi: 10.46843/jiecr.v3i4.157.

C. Taufiq, Supervisi Pendidikan Islam. Sidoarjo, Indonesia: UMSIDA Press, 2022.

F. Eni and W. Aktim, Penelitian Manajemen Pendidikan Islam, 2021.

R. A. Ambarwati and S. Sumartik, Buku Ajar Metode Penelitian Manajemen, 2022, doi: 10.21070/2022/978-623-464-048-9.

C. Amelia, A. Aprilianto, D. Supriatna, I. Rusydi, and N. E. Zahari, “The principal’s role as education supervisor in improving teacher professionalism,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 144–155, 2022, doi: 10.31538/ndh.v7i1.2075.

D. L. Tungkup, S. Martono, A. Yulianto, and I. Iwan, “Peran supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru,” Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana, vol. 6, no. 1, pp. 211–216, 2023. [Online]. Available: https://proceeding.unnes.ac.id/snpasca/article/view/2124

T. Mulloh and A. Muslim, “Analisis peran supervisi pendidikan dalam meningkatkan profesionalitas guru,” Jurnal Publicuho, vol. 5, no. 3, pp. 763–775, 2022, doi: 10.35817/publicuho.v5i3.29.

N. Wadi and U. A. Prenduan, “Peran supervisi akademik dalam meningkatkan profesionalisme guru MTs TMI Putra Al-Amien Prenduan,” vol. 15, no. 1, pp. 33–45, 2024.