Login
Section Innovation in Education

Principal Managerial Innovation: Quality Improvement Strategy of Islamic Educational Institutions


Inovasi Manajerial Kepala Sekolah: Strategi Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Farid Bilal (1), Anita Puji Astutik (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background The development of Islamic educational institutions heavily relies on the urgent and critical role of school principals, who must possess executive expertise within their managed organizations. Specific Background This research describes and analyzes the managerial role of the school principal in improving the quality of Islamic education institutions at SMP Boarding School 09 Tanggulangin Sidoarjo. Knowledge Gap Previous literature lacks detailed qualitative investigations into the comprehensive administrative phases school leaders utilize to coordinate multiple organizational subdivisions simultaneously within Islamic boarding school settings. Aims This study aims to describe and analyze the principal's managerial role in improving the quality of Islamic education institutions. Results The qualitative findings indicate that the principal's managerial efforts encompass curriculum and learning management, human resource management, student management, facilities and infrastructure management, financial management, and public relations management. Novelty The systematic synchronization of six core administrative sectors under a unified boarding school leadership model provides a comprehensive framework for institutional quality advancement. Implications These findings demonstrate that proficient administrative coordination across multiple operational domains serves as an essential prerequisite for sustaining educational excellence and institutional growth in Islamic schools.


Highlights:




  • Principal managerial efforts encompass curriculum and learning, human resources, and student affairs management.




  • Facilities, infrastructure, financial systems, and public relations coordination drive operational success.




  • Systematic planning, implementation, and evaluation frameworks ensure quality standards across institutional sectors.




Keywords: Islamic Education Institution, Managerial, Quality Improvement, School Principal, Curriculum Management

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Peran kepala sekolah sebagai faktor kunci penentu kualitas pendidikan padasuatu pendidikan yang dipimpin, baik dalam lembaga pendidikan formal keagamaan maupun sekolah yang berafiliasipada Kemetrian Pendidikan[1]. keberhasilan suatu lembaga pendidikan tergantung dari bagaimana cara seorang kepala seklah dalam menjalankan kepemimpinannya[2]. kepala sekolah dipandang sebagai faktor kunci untuk meningkatkan efektifitas dan performa sekolah [3]. Pelaksanaan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan dari peranan kepala sekolah. Tertulis dalam peraturan mentri pendidikan nasional nomor 28 tahun 2010 tentang penugasan kepala sekolah / madrasah dalam pasal 1 disebutkan bahwadalam jabatan kepala sekolah diduduki oleh guru yang mendapatkan tugas tambahan menjadi kepala sekolah untuk upaya peningkatan mutu pendidikan [4]. Selain mendapat tuntutan sebagai guru profesional, kepala sekolah harus mampu sekaligus sebagai manajer yang memimpin penyelengaraan sekolah. KepalaSekolah merupakan salah satu komponen sumber daya manusia dalam bidang pendidikan yang bertanggung jawab atas pengaturan dan pengendalian potensi sekolah, bertanggung jawab atas peningkatan kualitas atau mutu pendidikandalam sekolah, serta merupakan sosok penting pengelola maju mundurnya pendidikan dalam sekolah[5]. Kepala sekolah mempunyai fungsi yang berdimensi luas, diantara fungsi dimensi luas adalah berfungsi sebagai : edukator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator dan entrepeneur [6].

Keterampilan manajerial kepala sekolah merupakan keterampilan yang muncul dari diri/personal seorang kepala sekolah dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen yang memiliki beban kerja tinggi di bidang pendidikan, yaitu sekolah. Beberapa keterampilan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan fungsi- fungsi manajemen antara lain : pertama, kemampuan perencanaan. Dimana indikator perilakunya yakni memiliki kemampuan untuk melaksanakan perencanaan secara efektif, mulai dari kemampuan menyusun dan menerapkan strategi. Kedua, kemampuan pengorganisasian. Dimana indikator perilakunya yakni memiliki kemampuan untuk mengelola SDM, termasuk membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing peran. Ketiga, kemampuan pelaksanaan tugas. Dimana indikatorperilakunya yakni memiliki kemampuan untuk fokus terhadap masalah yang dihadapinya, yakni pada saat mengkomunikasikan permaslaahan serta mengambil sebuah keputusan. Keempat, kemampuan dalam pengawasan. Dimana indikator perilakunya yakni memiliki kemampuan untuk mengawasi, mengelola, dan mengendalikan secara operasional apa yang sudah ditetapkan dalam tujuan bersama agar berjalan secara efektif.[7] Manajerial peningkatan mutu sekolah hakikatnya merupakan strategi untuk memperbaiki mutu pendidikan dengankewenangan dan tanggiung jawab dibebankan kepada kepala sekolah dengan melibatkan beberapa partisipasi baik individual sekolah maupun masyarakat sekitar [8]. Peranan kepala sekolah sangat amat berpengaruh dalam pertubuhandan pengembangan pendidikan, dengan peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan kepala sekolah dengan guru beserta tenaga kependidikan, yang mana secara keseluruhan merupakan tanggung jawab terhadap manajemen sekolah[9]. Tidak dapat dipungkiri bahwa Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk individu masyarakat, terlebih untuk mengembangkan keterampilan kognitif maupun sosial.

Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan agama islam disekolah perlu adanya pengembangan sumber daya manusia dalam hal ini adalah pendidik. Disamping perlunya juga mengembangkan mutu pendidikan agama islam didalam suatu pembelajaran, pengembangan sarana prasarana juga dapat memperlancar upaya peningkatan mutu pendidikan agama islam [10]. Melihat urgensi pendidikan agama islam yang begitu kompleks secara tidak langsung menuntut pemimpin untuk meningkatkan mutu pendidikan agama islam. Sekolah sebagai lembaga penyelengara pendidikan berperan aktif untuk meningkatkan mutu pendidikan agama islam [11]. Pengembangan serta peningkatan kualitas lembaga pendidikan merupakan harapan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya. Akan tetapi peningkatan kualitas pada lembaga pendidikan tidaklah mudah, setidaknya harus memperhatikan beberapa hal diantaranya peranan kepala sekolah dalam merancang serta merumuskan visi misi yangdapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas lembaga tersebut[12]. Dalam hal ini kepala sekolah perlumelakukan indentifikasi masalah, kekuatan serta kelemahan pada lembaga, serta peluang lembaga pendidikan[13]. Kepala sekolah dalam kepemimpinananya selalu meningkatkan mutu pendidikan agama islam melalui pengembangan budaya agama islam dilingkup sekolah, sehingga ini merupakan bentuk peranan yang sentral dari kepala sekolah dalam upaya meningkatkan mutu dari pendidikan agama islam disuatu lembaga yang dipimpin [11]. Keterampilan dari seroang kepala sekolah merupakan modal dalam megemban tugas kepemimpinannya. Ada tiga tugas pokok kecerdasan yang harus dimiliki soerang kepala sekolah, yaitu : kecerdasan perofesional,kecerdasan personal, dan kecerdasan manajerial agar dapat bekerja sama dan mampu bersinergi dengan orang lain. Dengan demikian manajemen kepala sekolah yang profesional diharapkan mampu menyusun program sekolah yang efektif, menciptaka iklim sekolah yang kondusif dan dapat meningkatkan profesional guru [14].

Beberapa penelitian terdahulu yang peneliti gunakan sebagai bentuk komparasi pada penelitian ini dengan tujuansebagai penguat serta dapat menemukan celah kesamaan dan persoalan apa yang ada pada penelitian kali ini. Dalam jurnal yang berjudul fungsi manajemen kepala sekolah, motivasi, dan kinerja gurupada Yayasan As-Syifa Al Khoeriyah Subang. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa berpengaruhnya manajemen kepala sekolah, motivasi guru, dan kinerja guru. Dalam penelitian ini kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi yang memiliki otoritas dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Dalam perannya sebagai pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kinerja para guru dan tenaga kependidikan lainnya serta selalumemberikan motivasi dalam bekerja agar kinerja dari para guru dan tenaga kependidikan dapat berjalan dengan optimal[15].

Senada dengan penelitian sebelumnya, penelitian dengan judul manajemen startegis supervise kepala sekolah dalam membangun pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah swasta di NTT. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa da tujuh strategi pada kepala sekolah dalam menanamkan nilai-nilai kepada siswa diantaranya sifat jujur, sifatcinta kepada tuhan, tanggung jawab, hormat dan santun, dermawan, tolong menolong dan gotong royong, percaya diri, kreatif, serta kerja keras. Selain itu ada faktor lain pendukung keberhasilan penanaman nilai karakter pendidikandiantaranya adalah adanya keterbukaan serta responsible, pengarahan serta bimbingan yang diberikan[16]. Lain halnya dengan penelitian dengan judul Implementasi dan Evaluasi Manajemen Strategis Kemenag Kabupaten Serang dalam pengembangan Madrasah. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa strategi dalam pengembangan madrasah yang dilakukan oleh Kemenag Kabupaten Serang secara garis besar telah dilaksanakan dengan baik mulai dari tahapan-tahapan yang dilakukan sesuai dengan aturan dan regulasi yang sesuai.Baik memulai melalui tahapan perancangan (yang mencakup perumusan visi misi, analisis lingkungan internal dan eksternal) tahapan implementasi (sistem rencana program dan kegiatan, penganggaran, sistem pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan) serta tahapan evaluasi[17]. Dalam penelitian ini cenderung berbeda dengan dua peneleitian sebelumnya yang selalu melibatkan peranan kepala sekolah dalam pengembangan mutu dan visi misi lembaga.

Hasil dari penelitian terdahulu banyak menjelaskan tentang manajemen strategis kepala sekolah dalam pengembangan lembaga pendidikan. Jika pada penelitian pertama membahas tentang perumusan visi dan misi, analisislingkungan internal dan eksternal, pemilihan strategi,serta penetapan sasaran tujuan dan strategi. Sedangkan pada penelitian yang kedua banyak menerangkan tentang sikap-sikap penunjang pendidikan karakter. Lalu pada penelitianketiga menerangkan tentang konsep manajerial kepemimpinan yang utuh.

Pada penelitian kali ini, peneliti mengambil fokus penelitian pada SMP Muhammdiyah Boarding School Tanggulangin Sidoarjo dengan fokus pembahasan tentang manajerial kepala sekolah dalam lingkup lembaga pendidikan Islam. SMP Muhammadiyah Boarding School 09 Tanggulangin memiliki visi : Terwujudnya generasi muslim yang Tangguh sebagai rahmatan lilalamin dan misi :

(1) Menenanamkan aqidah Islamiyah

(2) Mengajarkan ibadah Syariah

(3) Membentuk akhlakul kharimah.

(4) Menanamkan kesadaran berdakwah.

(5) Membentuk generasi berprestasi dan unggul dalam kehidupan. Melalui visi misi yang sudah dipaparkan diatas diharapakan sekolah mampu memberikan mutu yang baik bagi masyarakat melalui kompetensi- kompetensi dari pihak kepala sekolah, guru, serta tenaga pendidik lainnya.

II. Metode

Dalam penelitian ini metode yang dipakai menggunakan pendekatan kualitatif. Karena dalam penelitian ini peneliti melakukan aktivitas observasi dalam kelompok yang berkaitan dengan hal perubahan dan perilaku[18].definisi dari pendekatan kualitatifsendiri merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari objekpenelitian yang dapat diamati. Penelitian ini ingin mendeskripsikan tentang begaimana peranan manajerial kepala sekolah SMP Boarding School Tanggulangin Sidoarjo dalam pengembangan mutu lembaga pendidikan Islam[19].

Subyek penelitian dapat dibaratkan benda, hal atau individu dan tempat yang dimana data yang dipersoalkan melekat, Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah: Kepala Sekolah untuk memperoleh data dilapangan, peneliti menggunakan beberapa metode, diantaranya : Observasi, penelitian ini mengumpulkan data atau informasi sebanyak mungkin padafokus masalah. Wawancara, peneliti melakukan wawacaran kepada Kepala Sekolah sebagai objek utama pada penelitian saat ini berkenaan dengan manajerial kepala sekolah dalam pengembangan mutu lembaga pendidikan Islam[20].

Analisis dilaksanakan dengan melakukan pengamatan terhadap fenomena atau peristiwa secara keseluruhan. Maupun terhadap bagian-bagian yang dilakukan setelah data yang diperlukan terkumpul. Dengan demikian pada tahapan kali ini peneliti berupaya menyelaraskan data yang diperoleh dalam bentuk catatan lapangan dan dokumentasi.Analisis data adalah proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan analisis data kualitatif yang akan digunakan penelitidalam penelitian ini berdasarkan pada model Miles dkk yang mengemukankan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitaif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas[21].

III. Hasil dan Pembahasan

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti di SMPBS Muhammadiyah 09 Tanggulangin mendapatkan beberapa data terkait manajerial kepala sekolah dalam pengembangan mutu Pendidikan agama Islam , diantara nya adalah manajerial dari kurirkulum sekolah , pembelajaran,, peserta didik, humas, keuangan dan sarana prasarana : Manajerial kurikulum pembelajaran Menjadi sesuatu yang penting pada Lembaga Pendidikan Islam, hal ini diakibatkan karna seluruh aspek kegiatan Pendidikan berasal dari manajemen kurikulum pembelajaran. Oleh sebab itu pentingnya bagi kepala sekolah untuk memahami kurikulum pembelajaran. Dapat difahami bahwasnya manajemen kurikulum pembelajaran merupakan suatu hal yang penting dan harus menjadi perhatian oleh pihak sekolah. Kepala sekolah memiliki andil besar dalam melakukan manajerial kurikulum pembelajaran.

Dari hasil penelitian yang didapat setidaknya ada dua peran utama kepala sekolah dalam manajerial dibidang kurikulum pembelajaran. Pertama, kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga Pendidikan dalam mengatur dan mengelola pembelajaran. Kedua, kepala sekolah memberikan arahakan kepada guru-guru dalam kegiatan Menyusun program mengajar jangka Panjang maupun jangka pendek bererta program pengayaan. Peneliti juga menemukan hasil dalam manajemen kurikulum yang dilakukan kepala sekolah ada beberapa tahapan, pertama adalah tahap perencanaan tahap perencanaan merupakan Langkah awal yang harus diambil dan dilakukan oleh kepala sekolah dan jajarannya diantaranya adalah dengan membentuk struktur program, penyususnan jadwal pelajaran, Menyusun kalender paendidikan, pembagian tugas guru, penempatan siswa, rencana mengajar dan pelaksanaan kurikulum yang telah dibuat. Dari beberapa pemaparan diatas, dapat dilihat perencanaan sekolah terbagi sebagai berikut : Susunan pembelajaran yang dijadikan landasan untuk membentuk jadwal. Penyusunan jadwal pembelajaran sebagai bentuk pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh guru dan seluruh peserta didik. Pembentukan kalender Pendidikan yang bertujuan untuk membentuk waktu yang efisien dalam jangka waktu satu tahun untuk menyiapkan dan melaksanakan beberapa agenda sekolah diantaranya, penerimaan peserta didik baru, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstra kulikuler. (1) Pembagian tugas guru, yang dilaksanakan diawal semester dengan tujuan sebagai bentuk pengembangan dari kopetensi dan keilmuan yang dimilikin oleh guru tersebut. (2) Penemptan dan pembagian siswa berdasarkan potensi dan minat dari siswa. (3) Penyusunan rencana mengajar, diantara tahapan menyusun rencana mengajar membuat program tahunan, membuat program semester, penyususnan pekan efektif, silabus dan stuan pelajaran. (4) Dalam pelaksanaan kurikulum ada tiga tahapan yaitu, tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan, tahapan penutup.Dalam upaya memaksimalkan peran manajerial, kepala sekolah dan jajarannya diharapkan melakukan kontroling dengan melakukan evaluasi kurikulum , yang mana evalusai kurikulilum dilakukan setiap akhir semester dan akhir tahun pembelajaran. Hasil wawancara dengan kepala sekolah yang penelitit lakukan bahwadengan adanya evaluasi pada bidang kurikulum sekolah untuk menganalisis sejauh mana implementasi dari kurrikulum yang sudah direncanakan, apakah sudah berjalan secara maksimal atau tidak. Kurikulum merupakan rencana tertulis yang berisikan mengenai ide-ide dan gagasan-gagasan yang dirumuskan oleh setiap pengembang kurikulum. Rencan tertulis itu kemudian dijadikan dokumen kurikulum yang membentuk suatu sistem kurikulum yang terdiri atas komponen- komponen yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain[22].

Manajemen Sumber Daya Manusia Peranan penting penting Pendidikan dalam pembangunan bangsa dengan jelas telah dilakukan secara yuridis formal dan praktik empiris oprasional. Sumber daya manusia yang diperlukan saat ini dibidang Pendidikan tentu yang memiliki kualitas dalam berfikir dan berbuat. Maka sumber daya manusia yang menguasai IPTEK dan mampu mengembangkan kemampuan secara konseptual dan kemampuan teknis. Makadari itu manajemen suber daya manusia memiliki peran penting dan strategis dalam transformasi Pendidikandan sosial. [23] Dalam pengembangan manajemen sumber daya manusia yang ada dilingkup Lembaga Pendidikan peranan kepala sekolah menjadi sangat penting. Sumber daya manusia menjadi salah satu komponen yang wajib diperhatikan pula oleh kepala sekolah, mengatur serta mengelola kopetensi sesuai dengan bidang-bidangnya. Prinsip pengelolaan manajeman sumberdaya manusia harus dilaksanakan secara maksimal, agar terciptanya suatu lembaga Pendidikan yang kondusif. Aktivitas manajemen sumber daya manusia di SMP Muhammadiyah 09 Boarding School Tanggulanginmencakup beberapa factor, diantaranya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Proses pelaksanaan sumber daya manusia yang efektif dan efisien dilakukan secara sistematis dan terorganisasi, dengan membagi sesuai dari potensi dan konsentrasi keilmuan.

Manajemen peserta didik merupakan pengabungan dari keberhasilan beberapa Tindakan yang dilakukan Lembaga Pendidikan dalam upaya mencapai tujuan Bersama. Terlaksanakannya kegiatan perencanaan program manajemen peserta didik sangat membantu kegiatan yang berajalan secara efektif dan efisien [24]. Manajerial dalam lingkup peserta didik merupakan bagian penting dalam lebaga Pendidikan karena Lembaga Pendidikan diperuntukan sebagai wadah peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajarmengajar. Dalam hal ini peserta didik merupakan sentral layanan dalam Lembaga Pendidikan, maka perlunyasarana dan prasarana yang memadai, pengembangan kurikulum Pendidikan yang relevan, serta tata Kelola Lembaga Pendidikan yang baik agar menciptakan kondusitas dalam Lembaga tersebut. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah mengutarakan bahwan manajemen peserta didik memilikiupaya pengatur dan mengelola kegiatan peserta didik untuk membentuk proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dan peneliti menemukan hasil bahwa peserta didik di SMP Muhammadiyah 09 Tanggulangin akan melakukan pemetaan pada setiap peserta didik disetiap tahun ajaran baru. Bertujuan untuk mengindentifikasiterkait dengan gaya belajar peserta didik. Beberapa poin terkait manajerial peserta didik yang dilakukan kepala sekolah adalah :

(1) Analisis ini dilakukan bertujuan untuk menentukan jumlah siswa yang dibutuhkan Lembaga Pendidikan. Kegiatan ini dilakukan sebagai Langkah perencanaan terhadap jumlah siswa sebagai bahan untuk Menyusun program pembelajaran. (2) Pengenalan lingkungan sekolah kepada peserta didik. Pada kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kondisi sekolah, dalam pengenalan lingkup ini mencakup bentuk fisik lingkungan, keadaan social, lingkungan fisik meliputi halaman sekolah, rute jalan menuju sekolah dan beberapa sarana yang dimiliki oleh sekolah. Untuk lingkup social meliputi kepala sekolah, dewan guru, dan semua yang berkaitan dalam Lembaga Pendidikan. (3) Penempatan peserta didik Kegiatan penempatan dilakukan untuk pengelompokan peserta didik berdasarkan beberapa aspek,diantaranya minat dan bakat, umur, jenis kelamin, sehingga dalam pembagian dapat dibagi secara menyeluruh serta dapat menghasilkan pembelajaran, pembinaan, dan pencatatan hasil belajar siswa. (4) Sarana Pendidikan merupakan peralatan dan perlengkapan yang secara keseluruhan dijadikan penunjang peroses Pendidikan. Sarana dan prasarana Pendidikan merupakan fasilitas yang tidak bisa diabaikan dalam proses Pendidikan tidak akan mampu berjalan dengan baik. [25].

Dalam pengembangan sebuah Lembaga Pendidikan, manajemen sarana dan prasarana menjadi salah satu tolak ukur akan kemajuan suatu Lembaga Pendidikan. Dalam hal ini proses manajemen sarana prasaran yang dimaksud adalah proses pengaturan, pengelolaan dan pengawasan fasilitas secara menyeluruh, sehingga dapat dipastikan fasilitas yang ada dilembaga Pendidikan tersebut bisa dikoordinir dengan baik. Manajemen sarana dan prasarana merupakan cakupan dari proses pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan yang bertujuan untuk kemajuan Lembaga Pendidikan. Adapun untuk kegiatan manajemen sarana dan prasarana dapat meliputi : (1) Perencanaan. Perencanaan yang dimaksud meliputi rancangan pembelian, pengadaan, rehabilitas, distribusi atau pengembangan proses pralatan sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, perencanaan sarana dan prasarana Pendidikan dapat terindetifikasi secara menyeluruh untuk kemajuan Lembaga Pendidikan. (2) Pengadaan, Kebutuhan sarana dan prasaran dapat berkaitan dengan beberapa jenis spesifikasi, jumlah, waktu, serta harga sumber yang bisa untuk dipertanggungjawabkan. Pengadaan dilakukan sebagai bentuk upaya realisasi dari perencanaan yang sudah disusun sebulumnya. Dengan maksud sebagai penujangproses Pendidikan supaya berjalan dengan efektif. (3) Penyimpanan. Kegiatan ini dilakukan oleh satuan kerja atau yang bertugas untuk melakukan pemeliharaaninventaris baik hasil dari pengadaan Lembaga sendiri ataupun pemberian dari instansi lain[26] . Dalam hal ini , kepala sekolah berperan penting dalam upaya penyaluran sarana dan prasarana dilingkupPendidikan yang dikelola. Koordinasi dengan pihak yang mengadakan sarana dan prasarana merupakan langkah strategis yang dilakukan kepala sekolah , dengan tujuan mempermudah proses kegiatan yang berbasickulikuler maupun ekstrakulikuler.

Berdasarkan hasil wawancara, kepala sekolah SMP BS Muhammadiyah 09 Tanggulangin menlakukan proses manajemen sarana prasarana diantaranya: (1) Merencanakan dan melakukan kebutuhan sarana. Perencanaan sarana dan prasarana merupakan kegiatan yang melibatkan kepala sekolah. Karna kebutuhan dari sarna dan prasarana dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan yangakan dilaksanakan. Perencanaan yang dilakukan oleh kepala sekolah dilakukan dengan tujuan untkmengetahui besaran dari angaran dana yang dipersiapkan. Koordinasi dengan pihak dewan guru danbeberapa jajaran terkait untuk merealisasikan kegiatan tersebut. (2) Anggaran dan pendanaan. Penyusunan anggaran dan pembiayaan menjadi hal yang harus dilakukan oleh kepala sekolah. Kebutuhan sarana dan prasarana harus dihitung dengan detail, agar nantinya bisa diperkirakan mengenai biaya yang akan dikeluarkan dengan skala prioritas dari biaya yang sudah disepakati. (3) Pemeliharaan sarana dan prasarana. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan semua barang terpakai dan terawat dengan baik. Dari data temuan pemeliharaan disini dilakukan dengan du acara, yaitu pemeliharaan harian dan berkala. Adapun barang yang menjadi pemeliharaan harian berupa computer, toilet, meja dan kursi,ruang kelas, tolilet serta beberapa inventaris yang bersifat harian dalam pengunaannya. Sedangkan bentuk pemeliharaan berkala dilakukan pada Gedung, peralatan laboratorium dan lainnya. (4) Penghapusan. Penghapusan inventaris bertujuan untuk melihat barang-barang apa saja yang memang tidak diperlukan dan untuk memaksimalkan anggaran dana Lembaga Pendidikan agar lebih efisisen.

Manajemen keuangan. Pemasukan keuangan pada sekolah secara umum terbagi atas tiga sumber, yaitu Pemerintah, baik dari pemerintah pusat, daerah maupun dari dua sumber tersebut, ada yang bersifatumum atau khusus yang diperuntukan untuk kepentingan pendidikan. Wali siswa / orang tua murid. Penduduk sekitar, baik yang terikat maupun tidak. Sumber keuangan sekolah ada dua macam, dari pemerintah maupun non pemeritah. Keuangan dari pemerintah meliputi uang rutin maupun uang pembangunan, sedangkan uang nonpemerintah berupa SPP, bantuan dari orang tua siswa dan masyarakat, ataupun melalui komite sekolah yang disalurkan lewat kepalasekolah. Karena masalah keuangan merupakan masalah yang sensitif, maka perlu dikelola secara cermat dan berhati-hati. Untuk itu perlu adanya pembukuan yang rapi tentang penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah. Penanggungjawab keuangan perlu diberikan penekanan terhadap pembukuan keuangan sekolah, baik secara procedural maupun pertanggungjawaban.[27] Dalam pengembangan suatu Lembaga pendidikan, manajemen keuangan menjadi aspek yang tidak bisadipisahkan, pengelolaan secara terbuka menjadi kunci efektifas suatu Lembaga pendidikan. Semua sumber dana yang didapatkan harus dikelola dengan baik agar dalam aspek pembangunan, pemberdayaan sarana danprasana, dan pengembangan peserta didik berjalan secara terstruktur. Proses manajemen keuangan sekolah terdapat beberapa perancanaan, yaitu dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) yang merupakan bagian dari perencanaan kegiatan sekolah dalam jangka waktu yang akan datang, baik dalam jangka Panjang maupun jangka pendek. Kosistensi perencanaan pendanaan menjadi penentu masa depan suatu Lembaga pendidikan. Pada semestinya optimalisasi kegiatan sekolah berlandaskan pada pengeloaan keuangan yang baik. Penyususnan RPS diharapkan bisa menjadi rancangan untuk keoptimalan dalam pengelolaan alokasi dana sekolah.[28].

Dari uraian diatas dapat dipahami mengenai manajemen keuangan merupakan suatu hal yang memiliki sifat urgensitas pengembangan dalam suatu Lembaga pendidikan. Walaupun keuangan bukan menjadi salah satu factor penentu mutu suatu Lembaga pendidikan, akan tetapi hendaknya manajemen keuangan tersebut dapat mempengaruhi mutu pendidikan. Dalam hal ini, kegiatan yang dilakukan dalam lingkup Lembaga pendidikan, baik berupa pengembangan internal maupun ekstrenal membutuhkan asupan dana dan pembiayaan sebagai upaya memperlancar kegiatan yang diinginkan. Oleh sebab itu manajemen keuangan harus dilaksanakan dan dikelola dengan sebaik mungkin, sehingga pembiayaan dan oprasional berjalan sesuai dengan anggaran yang telah disusun pihak lembaga. Pada SMP Muhammadiyah 09 Boarding School Tanggulangin, manajemen keuangan dibagi menjadi dua sumber, yaitu pembiayaan rutin dan pembiayaan oprasional pembangunan. Pembiayaan rutin merupakanpembiyaan yang dialokasikan untuk gaji guru, gaji karyawan, perlengkapan alat belajar mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya pembangunan digunakan untuk penambahan fasilitas Gedung belajar, perluasantanah, renovasi Gedung dan pengadaan sarana dan prasarana yang lain seperti mobil oprasional sekolah danbeberapa kebutuhan lainnya. Dengan demikian, kepala sekolah hendaknya memnyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Anggaran Sekolah (RAPBS) dengan tujuan sebagai kontroling keuangan sekolah, apakah sudah teralokasikan sesuai dengan kebutuhan yang sudah dirancang dan untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran dana sekolah.

Hubungan masyarakat dapat disebut sebuah upaya yang dilakukan sebuah lembaga dalam membangun suatu konikasi yang efektif dengan masyarakat sekitar, sehingga dengan jalinan komunkasi yang intensif agar dapat tercapai tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga. Selain itu juga menjalin hubungan dengan masyarakat akan mampu membantu lembaga dalam mensukseskan program-program yang telah direncanakan oleh lembaga itu sendiri. Pada era modern, peranan lembaga pendidikan diharuskan mampu memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya kebutuhan masyarkat akan layanan lembaga pendidikan yang berkualitas. Pada umumnya masyarakat sekarang sebagai pengguna jasa pendidikan lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan. Dalam hal ini, lembaga pendidikan diharapkanmampu menganalisis kebutuhan masyarakat sebagai pengguna jasa lembaga pendidikan yang mana tuntutan lembaga pendidikan itu sendiri harus mampu melibatkan partisispasi masyarakat dalam pengelolaan lembagapendidikan.[29].

Peranan dari humas menjadi sangat penting pada suatu lembaga, baik secara skala kecil maupun besar. Cakupan dari kegiatan humas yang dilakukan suatu lembaga yaitu dengan membentuk struktur dan komikasi yang menciptakan antara pihak lembaga dan masyarakat. Humas sendiri dipandang sebagai sarana yang membentuk hubungan dengan pihak-pihak tertentu yang dianggap mampu memajukan lembaga pendidikan, secara komunikasi pihak humas juga harus terencana, baik komunikasi internal maupun eksternal. Dalam urusan ini, peranan humas adalah meningkatkan komunikasi antara lembaga pendidikan dan masyarakat melalui jajaran atau pihak sekolah dalam upaya menganalisis kondisi keluarga dan lingkungan peserta didik. Humas juga secara peraanan diharpkn meningkatkan pemahaman masyarakat akan tujuan dansasaran yang akan direalisasikan lembaga pendidikan. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keadaan lembaga, meningkatkan pemahaman sekolah tentang keadaan serta menampung aspirasi masyarakatterkait sekolah, meningkatkan usaha orang tua dan guru dalam memenuhi kebutuhan peserta didik, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas orang tua dan guru terhadap kegiatan dilembaga pendidikan. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran memajukan lembaga Pendidikan merupakan titik sentral dari tugas humas dilembaga pendidikan.

Terjaganya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan menjadi tanggungjawab tersendiri untuk kepala sekolah dan jajaranya. Dukungan serta bantuan dari masyarakat dalam hal ini sangatlah penting untuk upaya memperoleh sumber-sumber yang diperlukan sekolah guna meneruskan dan meningkatkan program sekolah[30]. Dalam hal ini membangun hubungan secara baik dengan masyarakat merupakn strategi yang dapat membantu pengembangan suatu lembaga pendidikan. Secara umum masyarakat merupakan sumber daya pendidikan yang memiliki nilai urgentsitas yang penting dalam perkembangan lembaga pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari realitas yang ada, bahwa ketidak berkembangan suatu lembaga pendidikan dikarnakan kurangnya mendapat dukungan dari masyarakat sekitar [31].

IV. Simpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan di SMP Muhammadiyah Boarding School Tanggulangin Sidoarjo, bisa disimpulkan Manajerial kurikulum pembelajaran Menjadi sesuatu yang penting pada Lembaga Pendidikan Islam, hal ini diakibatkan karna seluruh aspek kegiatan Pendidikan berasal dari manajemen kurikulum pembelajaran. Dapat difahami bahwasnya manajemen kurikulum pembelajaran merupakan suatu hal yang penting dan harus menjadi perhatian oleh pihak sekolah. Peneliti juga menemukan hasil dalam manajemen kurikulum yang dilakukan kepala sekolah ada beberapa tahapan, pertama adalah tahap perencanaan tahap perencanaan merupakan Langkah awal yang harus diambil dan dilakukan oleh kepala sekolah dan jajarannya diantaranya adalah dengan membentuk struktur program, penyususnan jadwal pelajaran, Menyusun kalender paendidikan, pembagian tugas guru, penempatan siswa, rencana mengajar dan pelaksanaan kurikulum yang telah dibuat.

Bentuk upaya memaksimalkan peran manajerial, kepala sekolah dan jajarannya diharapkan melakukan kontroling dengan melakukan evaluasi kurikulum, yang mana evalusai kurikulilum dilakukan setiap akhir semester dan akhir tahun pembelajaran. Pada kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kondisi sekolah, dalam pengenalan lingkup ini mencakup bentuk fisik lingkungan, keadaan social, lingkungan fisik meliputi halaman sekolah, rute jalan menuju sekolah dan beberapa sarana yang dimiliki oleh sekolah. Untuk lingkup social meliputi kepala sekolah, dewan guru, dan semua yang berkaitan dalam Lembaga Pendidikan. Penempatan peserta didik Kegiatan penempatan dilakukan untuk pengelompokan peserta didik berdasarkan beberapa aspek, diantaranya minat dan bakat, umur, jenis kelamin, sehingga dalam pembagian dapat dibagi secara menyeluruh serta dapat menghasilkan pembelajaran, pembinaan, dan pencatatan hasil belajar siswa. Sarana dan prasarana Pendidikan merupakan fasilitas yang tidak bisa diabaikan dalam proses Pendidikan tidak akan mampu berjalan dengan baik.

Dalam hal ini proses manajemen sarana prasaran yang dimaksud adalah proses pengaturan, pengelolaan dan pengawasan fasilitas secara menyeluruh, sehingga dapat dipastikan fasilitas yang ada dilembaga Pendidikan tersebut bisa dikoordinir dengan baik. Manajemen sarana dan prasarana merupakan cakupan dari proses pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan yang bertujuan untuk kemajuan Lembaga Pendidikan.Semua sumber dana yang didapatkan harus dikelola dengan baik agar dalam aspek pembangunan, pemberdayaan sarana dan prasana, dan pengembangan peserta didik berjalan secara terstruktur. Proses manajemen keuangan sekolah terdapat beberapa perancanaan, yaitu dengan Rencana Pengembangan Sekolah yang merupakan bagian dari perencanaan kegiatan sekolah dalam jangka waktu yang akan datang, baik dalam jangka Panjang maupun jangka pendek.

Ucapan Terima Kasih

Penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik karena ada berbagai pihak yang turut membantu dalam pelaksanaan penelitian ini, oleh karena itu penulis mengucapkan limpah terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang sudah membantu dan mensupport penuh agar terselesaikan penelitian ini

References

Z. Yusuf and D. Mardiana, “Manajemen berbasis sekolah sebagai landasan kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan agama Islam,” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, vol. 12, no. 1, pp. 71–78, 2020, doi: 10.37680/qalamuna.v12i01.152.

D. Sormin, “Manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP Muhammadiyah 29 Padangsidimpuan,” Al-Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman, vol. 2, no. 1, pp. 129–146, 2017, doi: 10.31604/muaddib.v2i1.159.

Harliansyah and L. Amon, “Analisis kompetensi manajerial kepala sekolah dalam perencanaan peningkatan mutu pendidikan menengah kejuruan,” JIMAK, vol. 1, no. 1, pp. 147–162, 2022.

K. D. Ningsih, E. Harapan, and D. Destiniar, “Pengaruh komite sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah terhadap peningkatan mutu pendidikan,” JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan), vol. 6, no. 1, 2020, doi: 10.31851/jmksp.v6i1.3921.

I. Prasetyo, “Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di MTs Nurul Ikhlas Kota Bekasi,” Al-Mutsla, vol. 2, no. 2, pp. 172–185, 2020, doi: 10.46870/jstain.v2i2.41.

S. Yunita and D. A. Dewi, “Urgensi pemenuhan hak dan kewajiban warga negara dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang,” Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 1, no. 12, pp. 1–8, 2021.

S. Suyitno, “Pengaruh keterampilan manajerial kepala sekolah dan peran komite terhadap efektivitas manajemen berbasis sekolah,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 3, pp. 1564–1576, 2021, doi: 10.31004/basicedu.v5i3.970.

M. Juliantoro, “Peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan,” 2017.

Y. I. Rosyadi and P. Pardjono, “Peran kepala sekolah sebagai manajer dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP 1 Cilawu Garut,” Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 124–133, 2015, doi: 10.21831/amp.v3i1.6276.

U. Ustina, A. A. Cholil, and A. B. Tjahjono, “Manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam,” TA’DIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 4, no. 2, p. 156, 2021, doi: 10.30659/jpai.4.2.51-60.

H. Hamdani and M. Mawardaniah, “Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam di sekolah menengah pertama,” at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 2, no. 2, p. 111, 2021, doi: 10.31958/atjpi.v2i2.4822.

J. H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2011.

A. Daryanto, Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran. Yogyakarta, Indonesia: Gava Media, 2011.

N. Muhajiri, A. Sukandar, and M. Setiawan, “Management of school principles in improving the functions of PAI teachers: Qualitative descriptive studies at Al-Muttaqien Islamic Middle School and Bani Ahmad Islamic Middle School,” vol. 2, no. 2, 2022.

R. Lisnawati, “Fungsi manajemen kepala sekolah, motivasi, dan kinerja guru,” JP (Jurnal Pendidikan) Teori dan Praktik, vol. 2, no. 2, pp. 143–149, 2017.

M. F. H. Metarum and A. Majid, “Manajemen strategis supervisi kepala sekolah dalam membangun pendidikan karakter di madrasah ibtidaiyah swasta,” Dirasat: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 23–34, 2021.

A. Fauzi, “Manajemen strategis Kementerian Agama Kabupaten Serang dalam pengembangan madrasah,” Akademika: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 3, no. 1, pp. 1–18, 2021.

J. Raco, Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik dan Keunggulannya, 2018.

L. J. Moleong, Methodology of Qualitative Research. Bandung, Indonesia: Remaja Rosda Karya, 2010.

K. Roulston, “Analysing interviews,” in The SAGE Handbook of Qualitative Data Analysis, pp. 297–312, 2014.

M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage, 2014.

A. R. Syam, “Posisi manajemen kurikulum dan pembelajaran dalam pendidikan,” MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman, vol. 7, no. 1, pp. 33–46, 2011, doi: 10.24269/muaddib.v7n1.2017.33-46.

E. Ningrum, “Pengembangan sumber daya manusia bidang pendidikan,” Jurnal Geografi Gea, vol. 9, no. 1, 2016, doi: 10.17509/gea.v9i1.1681.

D. Khasanah and D. D. Prasetyo, “Manajemen kesiswaan dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan non akademik peserta didik,” Al-Fahim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 5, no. 1, pp. 155–172, 2023, doi: 10.54396/alfahim.v5i1.484.

M. H. Ginanjar, Rahman, and M. Jundullah, “Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran di SMA Al-Minhaj Bogor,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 6, no. 5, pp. 103–118, 2023, doi: 10.30868/im.v4i02.3693.

N. W. Sutisna and A. Effane, “Fungsi manajemen sarana dan prasarana,” Jurnal Karimah Tauhid, vol. 1, no. 2, pp. 227–233, 2022.

N. Rahmah, “Prinsip-prinsip manajemen keuangan sekolah,” Kelola: Journal of Islamic Education Management, vol. 1, no. 1, pp. 73–77, 2016, doi: 10.24256/kelola.v1i1.430.

T. Rachman, “Peran manajemen keuangan sekolah di dalam pendidikan,” pp. 10–27, 2018.

I. Ningsih, A., and H., “Strategi manajemen humas dalam meningkatkan citra sekolah di SMPN 1 Tellu Siattinge,” Jurnal Mappesona, vol. 5, no. 1, pp. 11–21, 2022, doi: 10.30863/mappesona.v5i1.2495.

R. I. Akmal, M. H. Ritonga, and M. Jailani, “Peran manajemen humas dalam mempromosikan integritas sekolah SMK Tritech Informatika kepada masyarakat Kota Medan,” Communication & Social Media, vol. 3, no. 1, pp. 21–27, 2023, doi: 10.57251/csm.v3i1.994.

A. P. Astutik and B. Haryanto, “Peranan guru PAI dalam mengatasi kenakalan siswa SMP,” Jurnal Universitas Batanghari, vol. 1, p. 437.