Login
Section Innovation in Education

Prophetic Leadership Innovation: Character Education Development Strategy in Vocational High Schools


Inovasi Kepemimpinan Profetik: Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Kejuruan
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Zakiatul Erna Erna (1), Imelda Dian Rahmawati (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Leadership holds a vital role in institutional transformation and growth across diverse scales, locations, and timeframes. Specific Background This research examines the implementation of prophetic leadership within the context of character education at SMK Negeri 1 Gending, Probolinggo Regency. Knowledge Gap Previous literature lacks detailed qualitative analysis on how specific prophetic leadership dimensions, particularly personal excellence and the value of shiddiq, are internalized to strengthen teacher and student character within vocational school ecosystems. Aims This research uses a qualitative case study approach to explain how the school principal and teachers apply the principles of prophetic leadership in shaping students' characters. Results The findings indicate that prophetic leadership, focusing on the value of shiddiq (honesty), positively shapes students' religious character, while the principal successfully integrates religious programs, maintains a clean environment, and provides direct motivation. Novelty The integration of prophetic leadership traits with a humanistic approach and personal excellence constructs a holistic educational ecosystem that merges spiritual values with administrative management. Implications These findings demonstrate that prophetic leadership practices serve as an essential model for educational institutions seeking to balance academic achievement with robust moral character development.


Highlights:




  • Prophetic leadership principles are operationalized through prophetic characteristics such as honesty, trustworthiness, effective communication, and wisdom.




  • School principals function as innovators by establishing religious programs, maintaining clean environments, and providing direct motivation to staff and students.




  • Integrating religious values and character education creates a comprehensive educational ecosystem that supports holistic student transformation.




Keywords: Prophetic, Leadership, School Principal, Character Education, Vocational School

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Kepemimpinan memiliki peranan penting dalam proses transformasi dan pertumbuhan organisasi di berbagai skala, lokasi, dan rentang waktu[1][2][3]. Dalam kerangka Islam, peran sentral kepemimpinan telah ada selama berabad-abad, dengan Rasulullah SAW sebagai teladan utama. Sejarah yang sangat luar biasa ini seharusnya menjadi pedoman untuk memahami karakteristik kepemimpinan yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim[4][5]. Dalam wilayah kepemimpinan, setiap pemimpin perlu mengikuti konsep kepemimpinan yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Seorang pemimpin yang terampil harus memperhatikan tiga faktor utama, yaitu aspek kepemimpinan itu sendiri, anggota tim atau staf, dan situasi-situasi yang dihadapi[1][6]. Contoh yang sangat patut diteladani dalam konteks kepemimpinan adalah model kepemimpinan yang diterapkan oleh Nabi (pemimpin nabi). Kepemimpinan yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan contoh yang paling sukses dan memiliki dampak yang besar dalam sejarah.

Kepemimpinan profetik memiliki keterkaitan yang kuat dengan pembahasan tentang kenabian dan kerasulan[7][8][9]. Istilah "prophetic" berasal dari kata "prophet," yang mengacu pada nabi atau rasul, sehingga "kepemimpinan profetik" merujuk pada jenis kepemimpinan yang mencerminkan karakteristik kenabian. Kepemimpinan profetik dapat dijelaskan sebagai model kepemimpinan yang mencontohkan sifat-sifat kenabian[10][11][12]. Kepemimpinan profetik secara historis pada dasarnya lahir dikalangan kepemimpinan pondok pesantren, jika kepemimpinan profetik maupun transformatif dimaknai sebagai upaya terjadinya perubahan dan peka terhadap kepentingan organisasi atau perubahan tingkah laku atau karakter[10][13]. Kepemimpinan profetik telah menjadi trend yang menarik perhatian. Terutama dikaitkan dengan semangat pengembangan pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Bentuk nyata kepemimpinan profetik di sekolah dapat dilihat dalam beberapa aspek yaitu: transparansi pengelolaan keuangan, pengelolaan sarana prasarana, pengembangan kurikulum, pemberdayaan tenaga kependidikan, pengelolaan kesiswaan, dan pengelolaan hubungan masyarakat.

Kepemimpinan profetik yang efektif yang dimaksud dalam pasar global di atas mesti dikawal oleh nilai-nilai moral yang kuat, terutama nilai moral yang bersumber dari ajaran agama yang di bawa oleh para Nabi. Dalam pengelolaan lembaga pendidikan, perpaduan nilai-nilai agama dengan semangat transformational itu dapat dilihat praktiknya dalam[7][14]. Berbeda dengan teori kepemimpinan konvensional yang tujuan utamanya adalah pengejaran duniawi, kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan dalam Islam yang berupaya memulihkan sifat manusia sebagai khalifah dan abdu-llāh. Gagasan kepemimpinan profetik dimaksudkan agar umat Islam sebagai orang terbaik dapat mewujudkan tiga cita-cita yang menjadi nilai-nilai kepemimpinan profetik, yaitu humanisasi, pembebasan, dan transendensi. Paradigma kapitalis telah menjebak subyek lembaga pendidikan Islam dalam tujuan materialis[10][15]. Karena itu, proses internalisasi kepemimpinan profetik menjadi keharusan dalam upaya menjadikan lembaga pendidikan Islam terbebas dari perilaku non-etis. Nilai-nilai kepemimpinan profetik ini dapat diinternalisasi baik melalui kegiatan pembelajaran subjek atau melalui kegiatan manajerial dalam lembaga pendidikan Islam. Internalisasi membutuhkan paradigma bersama oleh para pemimpin, staf, dan guru. Dibutuhkan seorang pemimpin teladan yang memiliki paradigma teologis sehingga proses internalisasi nilai-nilai kepemimpinan profetik dapat benar-benar diwujudkan[14][10].

Konstruksi kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam yang selama ini berkiblat pada teori-teori kepemimpinan konvensional yang cenderung materialistik dan mengejar tujuan duniawi, harus dikembalikan kiblatnya pada nilai-nilai profetik sebagaimana kepemimpinan para Nabi, terutama kepemimpinan nabi Muhammad SAW[8]. Dengan demikian, nilai-nilai kepemimpinan profetik tersebut dapat mengarahkan pada pencapaian tujuan, baik profan maupun transedental atau antara tujuan dunia dan akhirat. Sudah menjadi sunnatullah, setiap manusia adalah pemimpin, baik hanya bagi mereka sendiri maupun bagi orang lain. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi: ―Setiap kamu adalah pemimpin dan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya (al- Bukhārī). Karenanya, proses internalisasi kepemimpinan profetik menjadi keniscayaan dalam upaya menjadikan lembaga pendidikan Islam terbebas dari perilaku-perilaku non-etis [14][5].

Sejumlah penelitian pendahuluan terkait kepemimpinan profetik telah dilakukan, seperti karya Anwar yang membahas "Tipe Kepemimpinan Profetik: Konsep dan Implementasinya dalam Kepemimpinan di Perpustakaan." Penulisan ini merupakan hasil studi literatur yang memiliki tujuan untuk menemukan model kepemimpinan yang sesuai bagi seorang pemimpin di lingkungan perpustakaan. Dalam konteks agama Islam, penulis berusaha untuk mengevaluasi apakah konsep kepemimpinan profetik bisa dijadikan model kepemimpinan yang tepat untuk pemimpin perpustakaan[16][14]. Penelitian profetik yang lain dilakukan oleh yang mendeskripsikan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sifat-sifat nabi banyak melahirkan keputusan-keputusan penting dalam pengelolaan pendidikan antara lain: transparansi pengelolaan keuangan, pemanfaatan sarana dan prasarana, pengembangan kurikulum, pemberdayaan guru, tenaga kependidikan, manajemen kesiswaan, dan manajemen hubungan masyarakat. Kepemimpinan profetik juga dapat membentuk kecerdasan[17] sosial dan karakter warga sekolah, religiusitas serta meningkatkan toleransi dan kepedulian sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat[6][18].

Hasil observasi pendahuluan ditemukan bahwa implementasi kepemimpinan kepala sekolah di SMK Negeri 1 Gending menunjukkan nilai-nilai kepemimpinan profetik dan pengembangan pembentukan karakter diwujudkan dalam bentuk keterbukaan, mengedepankan musyawarah, pelibatan guru, menjadi teladan dan menjaga profesionalisme dalam bekerja. Dalam asumsi penulis, fakta- fakta ini terhubung dengan kinerja tinggi dan prestasi sekolah tersebut. Hal ini sejalan dengan prinsip dalam kepemimpinan transformasional bahwa pemimpin adalah penentu baik buruk organisasi. Peneliti melihat adanya upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam menumbuhkan nilai-nilai keislaman yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. sebagai utusan Allah di muka bumi dalam gaya kepemimpinannya.

Riset penelitian sebelumnya berbeda dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu disamping locus yang berbeda fokus kepemimpinan profetik dan pegembangan pembentukan karakter warga sekolah dalam hal ini adalah guru. Sehingga akan mengungkap sejauh mana impelementasi kepemimpinan profetik dalam penguatan karakter guru dan tenaga kependidikan di SMKN 1 Gending.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus [7][17]. Pemilihan metode penelitian ini didasarkan pada realitas sosial maupun objeknya secara mendalam, seperti yang peneliti pergunakan untuk mengetahui bagaimana 1) Kepemimpinan Profetik dan Pengembangan Pendidikan Karakter. 2) Implementasi Kepemimpinan Profetik dan Pengembangan Pendidikan Karakter di SMK Negeri 1 Gending Kab. Probolinggo.

Jenis penelitian deskriptif menurut peneliti dapat menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah yang telah ditetapkan oleh peneliti. Metode ini digunakan agar peneliti memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai implementasi Kepemimpinan Profetik dan Pengembangan Pendidikan Karakter, di sekolah. Unit analisis dalam penelitian ini adalah implementasi Kepemimpinan Profetik dan Pengembangan Pendidikan Karakter, di SMK Negeri 1 Gending Kab. Probolinggo.

Peneliti ingin menggali lebih dalam apakah implementasinya sesuai dengan tingkat perkembangan anak di SMK dan tata laksana Pendidikan Karakter Kepemimpinan Profetik. Adapun pemilihan SMK Negeri 1 Gending Kab. Probolinggo sebagai subyek adalah karena sekolah ini merupakan Sekolah yang memiliki tagline: School of Future Islamic leader. Jadi Sumber data untuk penelitian ini melibatkan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, semua guru sebagai informan dan subjek penelitian .

Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu wawancara dan dokumentasi. Peneliti merupakan instrumen utama dengan menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara. Pedoman wawancara adalah tabel yang berisi konsep, dimensi, indikator, serta pertanyaan- pertanyaan peneliti untuk membantu mengumpulkan data yang dibutuhkan. Jadi analisis data dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data. Oleh karena itu, tugas peneliti melibatkan penulisan, pengeditan, pengklasifikasian, reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Langkah-langkah tersebut mencakup pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi data untuk memastikan keabsahan informasi yang ditemukan. Triangulasi merupakan metode untuk memverifikasi data dari berbagai sumber melalui pendekatan yang berbeda dan dalam periode waktu yang berlainan. Ada tiga jenis triangulasi yang digunakan, yaitu triangulasi sumber yang melibatkan kepala sekolah, waka kurikulum, dan guru sebagai sumber informasi, triangulasi teknik yang melibatkan pengecekan data wawancara dengan dokumen terkait, dan triangulasi waktu yang melibatkan pengecekan data dari wawancara dan observasi yang dilakukan dalam waktu dan situasi yang berbeda [5].

III. Hasil dan Pembahasan

1. Kepemimpinan Profetik Kepala SMKN 1 Gending

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang penerapan karakter kepemimpinan profetik yang memiliki akar dalam sifat-sifat kenabian. Ada empat sifat kenabian yang dijelaskan, yaitu Siddiq (kejujuran dan kebenaran), Amanah (kepercayaan dan dapat dipercaya), Fatonah (kecerdasan), dan Tabligh (kemampuan menyampaikan pesan). Penelitian ini pula ingin menunjukkan bahwa konsep kepemimpinan profetik dengan mengintegrasikan sifat-sifat kenabian tersebut dapat diimplementasikan, diajarkan, diaplikasikan, dan diinternalisasikan dengan sukses. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan wawasan teoritis, tetapi juga membuktikan secara empiris bahwa konsep kepemimpinan profetik dapat diadopsi dan berhasil diaplikasikan dalam konteks tertentu.

Konsep kepemimpinan profetik yang diambil sebagai pedoman oleh kepala sekolah SMKN 1 Gending dan diterapkan di lingkungan sekolahnya dapat dijelaskan secara sederhana sebagai upaya untuk meneladani Nabi Muhammad SAW. dengan mempertimbangkan kapasitas dan kebutuhan umat manusia. Pendekatan ini umumnya melibatkan peniruan empat sifat utama Nabi, yaitu kejujuran (shidiq), amanah, penyampaian dakwah (tablīgh), dan kebijaksanaan (faţânah). Dalam prakteknya, kepemimpinan profetik ini mencerminkan komitmen untuk menjalankan tugas kepemimpinan dengan jujur dan penuh integritas (shidiq), bertanggung jawab dan dapat dipercaya (amanah), serta aktif dalam menyampaikan nilai-nilai positif kepada anggota sekolah (tablīgh). Selain itu, kepemimpinan profetik juga menekankan kebijaksanaan (faţânah) dalam pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan bersama dengan mengutamakan kebaikan dan keadilan.

Dengan menggandeng prinsip-prinsip kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW., kepala sekolah berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis, penuh kepercayaan, dan memotivasi anggota sekolah untuk berkembang secara holistik. Dalam esensi, konsep ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengelola tugas administratif, tetapi juga tentang menjadi teladan yang menginspirasi, memotivasi, dan memandu seluruh komunitas sekolah menuju kesuksesan dan kebaikan bersama. Kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. dianggap sebagai model. Ini mencakup sifat-sifat seperti kejujuran, kepercayaan, kecerdasan, dan kemampuan menyampaikan pesan dengan baik (tabligh). Dengan menggandeng prinsip-prinsip ini, kepala sekolah berusaha membangun fondasi kepemimpinan yang kuat dan bermakna.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Edi Hananto Eko, S.Pd., M.Pd. sebagai kepala Sekolah SMKN 1 Gending sebagai berikut :

“makna kepemimpinan sesungguhnya ibadah. Bagaimana ibadah itu hanya mengarapkan ridho Allah SWT. Kita harus bertanggungjawab terhadap amanah itu untuk bekal di akherat kelak”

Salah satu prinsip yang mendasari konsep kepemimpinan profetik adalah menjadikan setiap aktivitas yang dilakukan sebagai bentuk ibadah, dengan tujuan mengharap ridha Allah. Pendekatan ini juga diterapkan oleh kepala Sekolah SMKN 1 Gending dalam menjalankan tanggung jawabnya di sekolah. Baginya, setiap tindakan yang diambil dalam pekerjaannya diinisiasi dengan niatan untuk beribadah, semata-mata dengan harapan mendapatkan keberkahan dan ridha Allah SWT. Dengan demikian, ia meyakini bahwa melakukan pekerjaan dengan niat ibadah membawa dua keuntungan sekaligus: keuntungan dunia dan pahala di akhirat.

Konsep ini tercermin dalam pernyataan Bapak Edi Hananto Eko, S.Pd., M.Pd. saat berbicara dalam kegiatan rapat rutin kepala sekolah dan guru. Dalam pernyataannya, Bapak [Edi Hananto Eko, S.Pd., M.Pd.] menegaskan bahwa setiap tugas yang dijalankan di sekolah seharusnya menjadi amal ibadah yang diniatkan untuk meraih keridhaan Allah SWT. Dengan menanamkan kesadaran ini, kepala sekolah berharap agar setiap langkah yang diambil oleh staf dan guru di sekolah menjadi sebuah ibadah yang dilandasi oleh niat tulus untuk mencapai ridha Ilahi.

Pendekatan ini tidak hanya menciptakan atmosfer kerja yang bermakna di sekolah, tetapi juga meresapi nilai-nilai spiritual dalam setiap aspek kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, kepala sekolah merintis jalan untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya unggul dalam aspek akademis, tetapi juga memberikan ruang bagi perkembangan spiritual dan moral seluruh anggota sekolah.

Prophetic leadership, yang dapat diartikan sebagai bentuk kepemimpinan yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan bersama, tercermin dalam kemampuan kepala SMKN 1 Gending dalam mengajak seluruh komunitas sekolah untuk secara efektif melaksanakan berbagai program keagamaan. Salah satu strategi yang diterapkan dalam menjalankan kepemimpinan profetik ini adalah melalui pendekatan humanistik. Dengan menerapkan pendekatan ini, kepala sekolah berusaha menciptakan suasana yang membuat anggota sekolah merasa nyaman dan terhubung secara dekat dengan kepemimpinan. Hal ini bertujuan agar berbagai informasi terkait kebijakan dapat disampaikan dengan baik dan diterima oleh seluruh komunitas sekolah.

Penggunaan pendekatan humanistik ini membuka ruang bagi anggota sekolah untuk merasa lebih dekat dan nyaman dengan kepemimpinan. Pernyataan Ibu Yunita, seorang guru di SMKN 1 Gending, mencerminkan pengakuan akan keberhasilan pendekatan humanistik yang diterapkan oleh kepala sekolah. Ia menyatakan bahwa melalui pendekatan ini, para anggota sekolah dapat merasakan kedekatan personal dengan pimpinan, sehingga penyampaian kebijakan menjadi lebih efektif.

Dengan demikian, konsep prophetic leadership yang diimplementasikan oleh kepala sekolah tidak hanya membangun hubungan yang positif antara kepemimpinan dan anggota sekolah, tetapi juga mengoptimalkan efektivitas komunikasi dalam pelaksanaan program-program keagamaan dan pencapaian tujuan bersama.

Hal ini disampaikan oleh Wakil kepala sekolah bidang Kurikulm yang menyampaikan bahwa model kepemimpinan profetik yang diadopsi oleh kepala sekolah di SMKN 1 Gending didasarkan pada contoh teladan Nabi Muhammad SAW, yang mencakup empat sifat utama, yaitu kejujuran (shidiq), amanah, dakwah (tablīgh), dan kebijaksanaan (faţânah). Selain itu, model ini juga diarahkan untuk mencari keridhaan Allah SWT. Kepala sekolah SMKN 1 Gending, dalam membimbing seluruh komunitas sekolahnya, menggabungkan konsep prophetic leadership dengan orientasi utama untuk mencapai keridhaan Allah.

Salah satu strategi yang digunakan oleh kepala sekolah tersebut dalam melibatkan seluruh warga sekolah dalam pelaksanaan berbagai program keagamaan adalah melalui pendekatan humanistik. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang memungkinkan anggota sekolah merasa nyaman dan terhubung secara dekat dengan kepemimpinan. Dengan adanya keterlibatan dan kenyamanan ini, diharapkan informasi terkait kebijakan dan program-program keagamaan dapat tersampaikan dengan baik kepada seluruh komunitas sekolah.

Secara keseluruhan, kepala sekolah tidak hanya mengambil inspirasi dari sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. dalam menjalankan kepemimpinannya, tetapi juga menekankan pentingnya mencari keridhaan Allah SWT. Melalui pendekatan humanistik, kepemimpinan profetik ini diimplementasikan dengan harapan dapat membentuk lingkungan sekolah yang tidak hanya menjalankan program keagamaan dengan efektif, tetapi juga menciptakan kesejahteraan dan keterlibatan aktif seluruh anggota sekolah dalam mencapai tujuan bersama yang lebih luas.

2. Nilai-nilai karakter yang dikembangkan pada SMKN 1 Gending

Ada beberapa nilai-nilai religius yang dikembangkan pada SMKN 1 Gending diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Religiusitas

Religiusitas merupakan nilai ketakwaan seorang hamba untuk senantiasa selalu melaksanakan yang diperintahkan oleh Allah dan selalu berusaha menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Begitu juga dengan siswa - siswi SMKN 1 Gending, nilai ketakwaan ini tercermin dari berbagai perilaku anak seperti menjalankan shalat fardhu maupun shalat sunnah secara berjamaah, menutup aurat dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibu Suhartatik selaku Guru Agama.

Religiusitas dapat diartikan sebagai tingkat ketakwaan seseorang yang menunjukkan kesungguhan dalam melaksanakan perintah Allah serta berupaya menjauhi segala larangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Di SMKN 1 Gending, nilai ketakwaan ini tercermin dalam berbagai perilaku siswa-siswi. Mereka menunjukkan ketakwaan dengan melaksanakan shalat fardhu dan shalat sunnah secara berjamaah, serta menjalankan praktik menutup aurat, dan tindakan-tindakan lain yang mencerminkan komitmen terhadap prinsip-prinsip agama.

Religiusitas bukan sekadar tindakan ibadah formal, melainkan mencakup juga sikap dan perilaku sehari-hari yang sesuai dengan ajaran agama. Siswa-siswi di SMKN 1 Gending menunjukkan ketakwaan mereka dengan konsistensi dalam menjalankan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah, dan dengan menjaga kesopanan dan kepatuhan terhadap norma-norma agama, seperti menutup aurat.

Dengan demikian, di SMKN 1 Gending, religiusitas tidak hanya menjadi aspek ritual ibadah semata, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata siswa-siswi untuk mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran dan komitmen siswa-siswi terhadap nilai-nilai keagamaan yang dijunjung tinggi di lingkungan sekolah tersebut.

Hal ini mencerminkan tingginya nilai ketaqwaan di kalangan siswa-siswi SMKN 1 Gending, sebagaimana yang diamati oleh peneliti pada pukul 06.45. pada waktu tersebut, siswa-siswi dengan kesadaran sendiri melaksanakan shalat sunnah dhuha. Pemandangan ini menunjukkan bahwa para siswa memahami pentingnya ibadah sunnah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT., bahkan di luar jam pelajaran resmi.

Kemudian, pada pukul 12.00 siang, suasana sekolah berhenti sejenak ketika salah satu siswa mengumandangkan Adzan Dhuhur. Kegiatan belajar mengajar pun terhenti untuk melaksanakan shalat Dhuhur secara berjamaah. Para siswa tidak hanya menjalankan ibadah fardhu secara berjamaah, tetapi juga menunjukkan organisasi yang tertata dengan baik dalam menentukan imam shalat. Umumnya, imam shalat dipegang oleh Bapak guru PAI, namun jika ada halangan, tanggung jawab tersebut dapat dilaksanakan oleh Bapak guru kelas, bahkan terkadang salah satu siswa dipilih untuk menjadi imam.

Tidak hanya sebatas melaksanakan shalat sunnah dan fardhu berjamaah, nilai ketaqwaan siswa-siswi SMKN 1 Gending juga terlihat dari kebiasaan mereka dalam melaksanakan istighasah menjelang ujian nasional. Pada momen tersebut, mereka mengundang tokoh agama dari desa setempat sebagai pembimbing spiritual. Selain itu, kegiatan hataman Al-Qur’an di sekolah menjadi kebiasaan rutin ketika menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan ini menunjukkan kesungguhan siswa dalam membaca dan menghafal Al-Qur'an sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai ketaqwaan tidak hanya tercermin dalam ibadah harian, tetapi juga melalui kegiatan-kegiatan keagamaan dan spiritual yang dilakukan oleh siswa-siswi SMKN 1 Gending. Ini menandakan adanya kesadaran dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai agama di lingkungan sekolah tersebut.

2. Kejujuran

Kejujuran merupakan nilai karakter religius yang ditekankan dan diterapkan di SMKN 1 Gending, dan nilai ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari siswa-siswi, baik dalam perkataan maupun tindakan. Salah satu implementasi nyata dari nilai kejujuran ini adalah adanya kantin kejujuran di lingkungan sekolah, tempat di mana beberapa jenis makanan dijual. Siswa-siswi diharapkan untuk mengambil makanan yang mereka inginkan dan meletakkan uang pembayaran mereka pada tempat yang telah disediakan.

Inisiatif pendirian kantin kejujuran oleh pihak sekolah bertujuan untuk membentuk karakter siswa-siswi, sehingga mereka tidak hanya menjadi individu yang pintar dan sukses secara akademis, tetapi juga pribadi yang jujur dan memiliki budi luhur. Melalui pengalaman ini, sekolah berupaya menciptakan suasana di mana nilai kejujuran tidak hanya diajarkan dalam teori, melainkan diimplementasikan dalam tindakan sehari-hari.

Diharapkan bahwa dengan menciptakan lingkungan yang mendorong kejujuran, lulusan dari SMKN 1 Gending kelak akan membawa nilai-nilai ini sebagai modal utama dalam menghadapi kehidupan di masyarakat. Selain itu, kesadaran akan kejujuran juga diharapkan menjadi landasan bagi siswa-siswi dalam membuat keputusan dan menjalani kehidupan sehari-hari mereka, sehingga mereka dapat menjadi individu yang tidak hanya sukses secara profesional, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat.

3. Kedisiplinan

Sebagai lembaga pendidikan yang mengusung konsep Adiwiyata, SMKN 1 Gending menjadikan kebersihan dan kedisiplinan sebagai dua elemen utama yang tidak hanya mencerminkan keunggulan fisik lingkungan sekolah, tetapi juga sebagai nilai karakter religius yang diintegrasikan dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Kedua aspek ini dianggap sebagai ikon penting dalam upaya pembentukan karakter siswa-siswi.

Observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti terhadap kondisi kebersihan dan kedisiplinan di lingkungan sekolah menunjukkan hasil yang sangat positif. Kebersihan tampak terjaga dengan baik, tidak hanya di area halaman sekolah, tetapi juga di dalam kelas dan bahkan di bagian belakang kelas serta area toilet. Keadaan yang bersih ini mencerminkan komitmen sekolah untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi seluruh anggota sekolah.

Selain itu, SMKN 1 Gending menerapkan peraturan-peraturan yang cukup ketat terkait dengan disiplin siswa. Pemberian reward dan punishment menjadi bagian dari budaya disiplin yang diterapkan di sekolah ini. Melalui pendekatan ini, sekolah berusaha membentuk karakter siswa dengan nilai-nilai disiplin yang kuat, sejalan dengan nilai karakter religius yang ditekankan. Pemberian reward menjadi bentuk apresiasi terhadap siswa yang menunjukkan tingkat disiplin yang baik, sedangkan punishment diimplementasikan sebagai konsekuensi terhadap perilaku yang melanggar aturan.

Kombinasi antara kebersihan lingkungan dan budaya disiplin yang diterapkan memberikan dampak positif dalam pembentukan karakter siswa-siswi di SMKN 1 Gending. Selain menciptakan lingkungan yang bersih dan teratur, sekolah juga berhasil membentuk siswa-siswi yang memiliki nilai karakter religius, termasuk kedisiplinan, sebagai bagian integral dari pendidikan mereka.

Dari hasil penelitian di atas, tergambar jelas kontribusi personal excellence (siddiq) dalam kepemimpinan profetik yang diemban oleh kepala sekolah SMKN 1 Gending. Salah satu bentuk kontribusi tersebut terlihat melalui implementasi program-program keagamaan yang diinisiasikannya, menjadikannya seorang inovator yang memberikan sentuhan unik pada SMKN 1 Gending. Kebijakan tersebut bukan hanya sebagai suatu aturan formal, melainkan telah berhasil menjadi bagian dari budaya karakter di SMKN 1 Gending.

Melalui program-program keagamaan tersebut, kepala sekolah menjadi motor penggerak yang memberikan inspirasi dan inovasi kepada para guru untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan. Hal ini dapat dianggap sebagai langkah nyata dalam menciptakan budaya karakter di sekolah, khususnya dalam konteks nilai-nilai keagamaan. Sebagai hasilnya, apa yang awalnya tidak ada di SMKN 1 Gending, kini menjadi bagian integral dari kehidupan sekolah.

Dalam upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter religius pada siswa-siswi, kepala sekolah tidak hanya menjadi pembuat kebijakan, tetapi juga menjadi penggerak yang memberikan motivasi langsung kepada guru dan siswa. Dengan memberikan contoh dan teladan secara langsung, kepala sekolah memberikan dorongan positif kepada siswa untuk menjalankan tugas-tugas mereka dengan kesadaran dan semangat yang tinggi.

Hasilnya terlihat dalam perubahan perilaku siswa, di mana mereka menjadi lebih rajin dalam menjalankan shalat baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Selain itu, siswa juga menunjukkan semangat yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini mencerminkan bahwa kepemimpinan profetik yang diimplementasikan oleh kepala sekolah tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah secara keseluruhan, tetapi juga secara khusus membentuk karakter dan sikap siswa terhadap nilai-nilai keagamaan.

Kontribusi personal excellence (siddiq) dalam kepemimpinan profetik yang diemban oleh kepala sekolah SMKN 1 Gending menonjol sebagai sebuah inovasi yang telah memberikan sentuhan khusus dalam lingkungan sekolah. Kepala sekolah ini berhasil menjadi seorang inovator, menghadirkan ide-ide baru dan kebijakan yang berfokus pada kegiatan-kegiatan keagamaan, sesuatu yang sebelumnya belum ada di SMKN 1 Gending. Melalui kepemimpinannya, inovasi tersebut telah berhasil meresap dan menjadi budaya religius yang melekat kuat di SMKN 1 Gending.

Upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter religius pada siswa-siswi dilakukan melalui motivasi dan contoh teladan langsung yang diberikan oleh kepala sekolah bersama-sama dengan para guru. Kepala sekolah tidak hanya sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga sebagai pemimpin yang memberikan inspirasi positif. Melalui tindakan nyata, ia memotivasi siswa untuk dengan bersemangat dan ikhlas menjalankan tugas-tugas mereka, baik yang berkaitan dengan amal ibadah maupun tugas-tugas sekolah.

Contoh paling nyata dari dampak positif ini terlihat dalam perubahan perilaku siswa. Mereka tidak hanya menjadi lebih rajin dalam menjalankan shalat, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, tetapi juga menunjukkan semangat tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini mencerminkan bahwa kepala sekolah dengan kepemimpinan profetik nya, terutama melalui sifat shiddiq, memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan karakter religius siswa.

Pengaruh kepemimpinan profetik ini menciptakan lingkungan sekolah yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral siswa. Dengan menjadi contoh yang hidup, kepala sekolah berhasil menciptakan atmosfer yang mendukung dan memotivasi siswa untuk mengembangkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dalam konteks kepemimpinan profetik, tindakan konkret yang mencerminkan sifat-sifat shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah (dari pendekatan kepemimpinan yang ideal Islam) dapat tercermin dalam berbagai aspek tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Gending, Probolinggo. Berikut adalah narasi hasil penelitian mengenai bentuk konkret tindakan kepala sekolah berdasarkan empat sifat tersebut:

1. Shidiq (Jujur dan Benar)

Kepala Sekolah menunjukkan sifat shidiq dengan berkomunikasi secara terbuka dan jujur kepada seluruh stakeholder sekolah. Misalnya, dalam menyampaikan informasi terkait kebijakan sekolah, penggunaan dana sekolah, atau hasil evaluasi pendidikan kepada guru, siswa, dan orang tua. Kepala Sekolah juga menjadi teladan dalam berbicara dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai etika dan kejujuran. Kepala Sekolah secara terbuka menyampaikan laporan keuangan sekolah dan mengadakan pertemuan rutin dengan para guru untuk membahas hal-hal terkait pengelolaan sekolah secara transparan.

2. Amanah (Dipercaya dan Bertanggung Jawab)

Kepala Sekolah menunjukkan sifat amanah dengan mengelola sumber daya sekolah secara efisien dan transparan. Dia bertanggung jawab atas kebijakan dan keputusan yang diambil, serta memastikan dana sekolah digunakan sesuai dengan tujuan pendidikan. Kepala Sekolah secara hati-hati mengelola anggaran sekolah untuk memaksimalkan manfaatnya bagi siswa dan menunjukkan akuntabilitas dengan memberikan laporan berkala kepada komite sekolah.

3. Tabligh (Menyampaikan Amanah dan Pesan dengan Jelas)

Kepala Sekolah menunjukkan sifat tabligh dengan mengkomunikasikan visi, misi, dan nilai-nilai sekolah secara efektif kepada seluruh komunitas sekolah. Dia memberikan arahan yang jelas dan inspiratif untuk memotivasi staf dan siswa. Kepala Sekolah secara teratur mengadakan pertemuan sekolah dan ceramah motivasi untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan nilai-nilai karakter kepada seluruh staf dan siswa.

4. Fathanah (Cerdas dan Inovatif)

Kepala Sekolah menunjukkan sifat fathanah dengan memimpin inovasi dan perubahan positif dalam pengelolaan sekolah. Dia mendorong penggunaan teknologi pendidikan dan metode pembelajaran yang kreatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala Sekolah menginisiasi program pengembangan kurikulum yang inovatif untuk mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan dunia kerja modern. Dia juga mendukung penggunaan teknologi dalam pembelajaran di kelas.

3. Dampak Kepemimpinan Profetik bagi siswa dan Guru

SMKN 1 Gending merupakan sekolah menengah kejuruan yang memiliki visi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang holistik, tidak hanya fokus pada prestasi akademis tetapi juga pada pengembangan karakter siswa. Dalam konteks ini, pengaruh prestasi siswa dan guru terhadap kepemimpinan profetik dan pengembangan pendidikan karakter di SMKN 1 Gending memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan pendidikan di sekolah tersebut.

Pertama-tama, prestasi siswa di SMKN 1 Gending memiliki dampak positif terhadap kepemimpinan profetik. Siswa yang mencapai prestasi tinggi menjadi sumber inspirasi bagi siswa lainnya. Kepemimpinan profetik guru dan staf sekolah menciptakan lingkungan di mana prestasi siswa diakui dan dihargai secara tidak hanya akademis tetapi juga karakter. Guru-guru di SMKN 1 Gending memberikan keteladanan dengan menunjukkan integritas, dedikasi, dan semangat untuk memotivasi siswa agar meraih prestasi sebaik mungkin.

Kepemimpinan profetik di SMKN 1 Gending juga tercermin dalam upaya guru untuk memberdayakan siswa dalam pengambilan keputusan terkait pembelajaran dan kehidupan sekolah. Guru mempraktikkan pola kepemimpinan yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, mendorong partisipasi aktif, dan memberikan tanggung jawab kepada mereka. Hal ini bertujuan untuk membentuk siswa sebagai pemimpin masa depan yang memiliki kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis.

Pengembangan pendidikan karakter di SMKN 1 Gending juga diintegrasikan dengan prestasi siswa. Guru secara konsisten membimbing siswa untuk tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, tetapi juga pada perkembangan karakter moral dan etika. Melalui program-program ekstrakurikuler, kegiatan sosial, dan proyek kelas, siswa diajak untuk mengembangkan nilai-nilai seperti kerjasama, integritas, dan tanggung jawab.

Pengaruh guru terhadap siswa di SMKN 1 Gending menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan pendidikan karakter. Guru memainkan peran yang aktif dalam membentuk sikap positif, perilaku, dan nilai-nilai siswa. Kepemimpinan profetik guru menciptakan lingkungan di mana setiap guru memahami peran penting mereka dalam membentuk karakter siswa.

Dalam konteks prestasi guru, SMKN 1 Gending memberikan perhatian khusus pada pengembangan profesionalisme dan kualitas pengajaran. Guru yang terlibat dalam kegiatan pengembangan diri terkait metode pengajaran dan pendekatan pembelajaran yang inovatif. Peningkatan kualitas pengajaran ini berdampak langsung pada prestasi siswa, menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan dinamis.

Secara keseluruhan, interaksi antara prestasi siswa, kepemimpinan profetik, dan pengembangan karakter di SMKN 1 Gending menciptakan ekosistem pendidikan yang komprehensif. Prestasi siswa dan guru berkontribusi pada pembentukan lingkungan belajar yang positif, di mana pengembangan karakter menjadi landasan utama. Oleh karena itu, SMKN 1 Gending menerapkan pendekatan holistik dalam pendidikan, menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan siap menghadapi tantangan di dunia nyata.

Di SMKN 1 Gending, kepemimpinan profetik yang dicontohkan oleh para guru memiliki dampak yang signifikan dalam memberikan motivasi dan inspirasi kepada siswa. Guru-guru di sekolah ini bukan hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan yang memotivasi siswa untuk mencapai prestasi terbaiknya.

Guru-guru di SMKN 1 Gending menunjukkan sifat-sifat kepemimpinan profetik, seperti integritas, keadilan, dan keteladanan. Mereka tidak hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga terlibat aktif dalam membimbing dan memotivasi siswa. Sikap positif dan semangat kerja guru menjadi sumber inspirasi bagi siswa untuk berusaha lebih keras dan meraih prestasi yang lebih tinggi.

Melalui pendekatan kepemimpinan profetik, guru di SMKN 1 Gending menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif. Mereka memahami peran penting mereka dalam membentuk pola pikir dan sikap siswa. Dengan menunjukkan dedikasi, guru membantu siswa untuk melihat bahwa usaha keras dan komitmen dapat membawa mereka menuju kesuksesan.

Motivasi yang diberikan oleh kepemimpinan profetik guru bukan hanya terbatas pada aspek akademis, tetapi juga mencakup pengembangan karakter siswa. Guru berupaya membimbing siswa dalam mengembangkan nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab. Mereka mendorong siswa untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan integritas pribadi.

Dampak positif dari kepemimpinan profetik ini terlihat dalam peningkatan prestasi akademis siswa di SMKN 1 Gending. Rata-rata pemahaman siswa terhadap semua materi pelajaran meningkat, mencapai 75% dari jumlah keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi dan inspirasi yang diberikan oleh guru telah menggerakkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap berbagai mata pelajaran. Peningkatan ini juga mencerminkan adanya keseimbangan antara pencapaian akademis dan pengembangan karakter. Siswa tidak hanya diarahkan untuk meraih nilai tinggi, tetapi juga didorong untuk menjadi individu yang memiliki kualitas kepribadian yang baik

Keterkaitan antara kepemimpinan profetik dengan kemampuan siswa (peran guru dan transformasi siswa) di SMK Negeri 1 Gending, Probolinggo, merupakan aspek yang penting untuk dipahami dalam konteks pengembangan pendidikan karakter.

Peran Guru dalam Kepemimpinan Profetik: Kepemimpinan profetik di SMK Negeri 1 Gending mendorong peran guru untuk menjadi teladan yang kuat dalam membentuk karakter siswa. Guru sebagai agen utama dalam proses pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menerjemahkan nilai-nilai kepemimpinan profetik ke dalam tindakan nyata di kelas dan di luar kelas. Mereka diharapkan tidak hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga menjadi model yang memperlihatkan integritas, empati, kejujuran, dan sikap bijaksana dalam berinteraksi dengan siswa.

Dalam konteks kepemimpinan profetik, guru bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pembimbing moral yang dapat menginspirasi dan membimbing siswa dalam mengembangkan karakter yang kuat dan bertanggung jawab. Kepemimpinan profetik memotivasi guru untuk memperhatikan aspek sosial, moral, dan spiritual dalam proses pembelajaran, sehingga mempengaruhi transformasi siswa secara positif.

Transformasi Siswa melalui Kepemimpinan Profetik: Kepemimpinan profetik memiliki potensi besar untuk mengubah paradigma dan perilaku siswa di SMK Negeri 1 Gending. Pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam kepemimpinan profetik membantu siswa mengembangkan kualitas pribadi yang lebih baik. Keteladanan dan pendekatan pedagogis yang dijalankan oleh pemimpin sekolah dan guru menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter positif siswa.

Ketika siswa terpapar dengan kepemimpinan profetik yang mencerminkan nilai-nilai moral yang kuat, mereka cenderung terinspirasi untuk mengikuti jejak tersebut. Kepemimpinan profetik dapat merangsang refleksi diri dan pertumbuhan pribadi siswa, membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai seperti integritas, keadilan, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.

Transformasi siswa melalui kepemimpinan profetik juga dapat terlihat dalam perubahan perilaku, sikap, dan interaksi sosial mereka. Siswa yang dipengaruhi oleh kepemimpinan profetik cenderung lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, lebih bersedia berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan memiliki kesadaran moral yang lebih tinggi dalam membuat keputusan.

Keterkaitan antara kepemimpinan profetik dengan peran guru dan transformasi siswa di SMK Negeri 1 Gending, Probolinggo, menggambarkan pengaruh yang kuat dari nilai-nilai kepemimpinan dalam membentuk pendidikan karakter. Guru yang menerapkan kepemimpinan profetik secara konsisten mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter siswa secara holistik. Melalui teladan dan bimbingan yang diberikan, kepemimpinan profetik memberikan landasan moral yang kokoh bagi transformasi positif siswa, mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang berkontribusi secara positif dalam masyarakat.

Pendekatan pengembangan pendidikan karakter yang diintegrasikan dengan prestasi siswa merupakan langkah positif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang holistik. Dengan memasukkan nilai-nilai moral dan etika ke dalam proses pembelajaran, sekolah dapat membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang baik [19]–[22].

Dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam program pendidikan, sekolah dapat menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki nilai-nilai moral dan etika yang kuat. Pendekatan ini mendukung pembentukan individu yang siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan dengan sikap yang positif dan bertanggung jawab [23]–[25].

Secara keseluruhan, kepemimpinan profetik yang dicontohkan oleh guru di SMKN 1 Gending tidak hanya berfokus pada mencetak siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga menghasilkan individu yang memiliki nilai-nilai moral yang kuat. Motivasi dan inspirasi yang diberikan oleh guru menciptakan lingkungan belajar yang memacu siswa untuk berkembang secara holistik, sehingga mereka siap menghadapi tantangan di dunia pendidikan dan kehidupan lebih lanjut.

IV. Simpulan

Kepala sekolah SMKN 1 Gending dengan penuh dedikasi menerapkan kepemimpinan profetik dengan menonjolkan sifat shiddiq atau kejujuran sebagai landasan utama. Kepala sekolah ini berhasil menjadi inovator yang menghadirkan kebijakan baru, khususnya dalam pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah, yang sebelumnya tidak ada dan kini telah menjadi budaya religius yang kuat di SMKN 1 Gending.

Kontribusi personal excellence (siddiq) dari kepemimpinan profetik ini terwujud dalam implementasi program-program keagamaan yang diinisiasinya. Lebih dari sekadar aturan formal, program ini telah berhasil menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, teratur, dan penuh dengan kegiatan keagamaan. Kepala sekolah tidak hanya memberikan kebijakan, tetapi juga memberikan motivasi dan contoh langsung kepada para guru dan siswa.

Melalui pendekatan personal excellence, kepala sekolah berhasil menginspirasi siswa untuk dengan bersemangat menjalankan tugas-tugas mereka, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun tugas sekolah. Hal ini tercermin dalam peningkatan kedisiplinan siswa, seperti lebih rajin dalam melaksanakan shalat, baik di sekolah maupun di rumah, serta semangat yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas akademis.

Dengan demikian, kepemimpinan profetik yang diterapkan oleh kepala sekolah SMKN 1 Gending dengan fokus pada nilai shiddiq atau kejujuran, telah memberikan dampak positif dalam membentuk karakter religius siswa-siswi. Hal ini menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengutamakan aspek akademis, tetapi juga memprioritaskan pembentukan karakter dan moral, sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang ditekankan.

V. Saran

Diperlukan Penelitian lanjutan secara mendalam untuk memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman kepemimpinan profetik dan pengembangan karakter di sekolah menengah kejuruan. Implikasi praktis dapat terkait dengan penyempurnaan kebijakan dan praktik di SMK Negeri 1 Gending, sedangkan implikasi teoritis dapat mengenai konsep kepemimpinan profetik dan karakter dalam literatur pendidikan. Di samping itu perlu mempertimbangkan untuk merancang penelitian eksperimental untuk menguji secara lebih langsung sebab-akibat dari penerapan prinsip-prinsip kepemimpinan profetik pada pengembangan karakter siswa. Ini dapat melibatkan kelompok kontrol yang tidak menerapkan prinsip-prinsip tersebut.

VI. Ucapan Terima Kasih

Penghargaan paling dalam saya tujukan kepada Ibu Dr. Imelda Dian Rahmawati.,SE.Ak.M.Ak.CA, selaku pembimbing atas waktu, upaya, dan pengertian beliau dalam membantu saya menyelesaikan penulisan tesis ini. Kebijaksanaan serta pengalaman beliau telah menginspirasi saya selama merampungkan penulisan tugas akhir.

Selain itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Eni Fariyatul Fahyuni, M.Pd.I. yang telah mendampingi dan membersamai kami selama menempuh proses Pendidikan ini. Terima kasih juga kepada semua teman di program S2 ini, atas kemurahan hati, dorongan mereka, waktu yang saya lewati bersama mereka benar-benar bermanfaat.

Sebagai penutup, saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT., orang tua, teman-teman, suami dan anak-anak saya. Tanpa dukungan mereka, mustahil bagi saya untuk menyelesaikan penelitian ini.

References

A. Herminingsih, “The role of visionary leadership in quality culture development through the implementation of internal quality assurance system as a mediation: An empirical study in Indonesian private higher education,” Dinasti International Journal of Education Management and Social Science, vol. 2, no. 3, pp. 427–439, 2021, doi: 10.31933/dijemss.v2i3.754.

S. Usman, Radikalisme Agama di Indonesia: Pertautan Ideologi Politik Kontemporer dan Kekuasaan. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2014, pp. 1–240. [Online]. Available: http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/28248/Bab%20I%20Pendahuluan.pdf?sequence=1

W. B. Sulfemi, “Pengaruh rasa percaya diri dan gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru,” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 157–179, 2020, doi: 10.31538/ndh.v5i2.557.

U. Hidayah, “Rekonstruksi evaluasi pendidikan moral menuju harmoni sosial,” Jurnal Pedagogik, vol. 5, no. 1, pp. 69–81, 2018. [Online]. Available: http://ejournal.unuja.ac.id/index.php/pedagogik/article/view/220

Zainab and Khoiriyah, “Penanaman nilai-nilai keagamaan orang tua sebagai buruh pabrik (Eratek Djaja) dalam mendidik anak: Study kasus para buruh pabrik di Kelurahan Sumbertaman Kota Probolinggo,” Ar-Risalah: Media Keislaman, Pendidikan dan Hukum Islam, vol. 19, no. 2, pp. 1–23, 2021. [Online]. Available: https://www.ejournal.iaiibrahimy.ac.id/index.php/arrisalah/article/view/948/612

A. Y. Mansyur, “Peningkatan produktivitas kerja dengan model kepemimpinan profetik,” Jurnal Intervensi Psikologi, vol. 6, no. 2, pp. 213–224, 2014, doi: 10.20885/intervensipsikologi.vol6.iss2.art6.

N. Ariyanti and U. Z. A. Himsyah, “Melalui kegiatan kepramukaan,” Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah, vol. 6, no. 1, pp. 27–40, 2021.

M. Fadhli, “Internalisasi pendidikan profetik,” pp. 116–127.

A. Amiruddin, S. R. Nasution, S. Hutasuhut, M. Isa, and F. Zaini, “Pola kepemimpinan kepala madrasah di MTs PAB-1 Sampali,” Jurnal Muara Pendidikan, vol. 7, no. 1, pp. 9–13, 2022, doi: 10.52060/mp.v7i1.649.

L. Faishol, “Kepemimpinan profetik dalam pendidikan Islam,” Eduprof: Islamic Education Journal, vol. 2, no. 1, pp. 39–53, 2020, doi: 10.47453/eduprof.v2i1.30.

M. H. Lau, “Peran kepala sekolah dalam pembinaan karakter siswa di SMAK Gabriel Wanibesak,” PENSOS: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Pendidikan Sosiologi, vol. 2, no. 1, pp. 39–48, 2024, doi: 10.59098/pensos.v2i1.1530.

N. Haq, I. Tolkhah, and A. Primarni, “Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan efikasi diri guru terhadap kinerja guru (studi kasus pada guru di Gugus IV Gunung Sari Kecamatan Pamijahan),” Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal, vol. 1, no. 2, pp. 173–188, 2021.

L. Z. Rahman and A. Hamdi, “Analisis kepemimpinan profetik dalam manajemen berbasis sekolah di MI Miftahul Ulum Anggana,” Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, vol. 11, no. 1, pp. 84–95, 2021. [Online]. Available: http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/idaroh

B. Nasukah, R. Harsoyo, and E. Winarti, “Internalisasi nilai-nilai kepemimpinan profetik di lembaga pendidikan Islam,” Dirasat: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam, vol. 6, no. 1, pp. 52–68, 2020.

Z. Kouni, M. Koutsoukos, and D. Panta, “Transformational leadership and job satisfaction: The case of secondary education teachers in Greece,” Journal of Education and Training Studies, vol. 6, no. 10, p. 158, 2018, doi: 10.11114/jets.v6i10.3451.

M. Zaini, “Manajemen kepemimpinan profetik upaya meningkatkan kinerja dan tanggung jawab guru di lembaga pendidikan Islam,” Southeast Asian Journal of Islamic Education Management, vol. 2, no. 1, pp. 74–85, 2021, doi: 10.21154/sajiem.v2i1.45.

K. Wahidin, D. Sukhet, and F. R. Alfarizi, “Nilai-nilai kepemimpinan profetik perspektif pendidikan,” Al-Mufassir, vol. 4, no. 1, pp. 48–57, 2022, doi: 10.32534/amf.v4i1.2672.

Badarwan and Supriadin, “Nilai-nilai profetik dalam gaya kepemimpinan kepala sekolah di SDN 1 Ranomeeto Konawe Selatan,” Shautut Tarbiyah, vol. 27, no. 2, pp. 236–259, 2021.

N. K. S. L. D. Puspita, “Implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar,” Jurnal DIKDAS BANTARA, vol. 2, no. 1, pp. 57–72, 2019.

Benny Prasetiya and Rofi, “Pendidikan nilai: Konsep dan implementasinya dalam dunia pendidikan,” Jurnal Imtiyaz, vol. 2, no. 1, pp. 15–33, 2018.

J. Evinna, C. Hendriana, and A. Arnold, “Implementasi pendidikan karakter di sekolah melalui kegiatan pembiasaan dan keteladanan,” Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, vol. 1, no. 2, pp. 25–29, 2016, doi: 10.32678/tarbawi.v3i02.1952.

A. Sofanudin, “Internalisasi nilai-nilai karakter bangsa melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada SMA eks-RSBI di Tegal,” SMART, vol. 1, no. 2, Dec. 2015, doi: 10.18784/smart.v1i2.248.

T. Lickona, “Character education: The cultivation of virtue,” in Instructional-Design Theories and Models: A New Paradigm of Instructional Theory, vol. II, 1999, doi: 10.13140/2.1.5149.6002.

D. I. Walker, “The character gap: How good are we?,” British Journal of Educational Studies, vol. 67, no. 1, pp. 132–134, 2019, doi: 10.1080/00071005.2018.1529958.

T. Lickona, “Educating for character: A comprehensive approach,” in The Construction of Children’s Character, 1997.