Achmad Alif Rizal Fauzi (1), Taufik Churrahman (2)
General Background Educational implementation relies heavily on pedagogical competencies that are closely influenced by curriculum standards, learning processes, and student characteristics. Specific Background This research investigates the implementation of pedagogical competencies during the curriculum transition from the 2013 curriculum (K-13) to the independent curriculum among first-grade teachers and students at SD Antawirya Krian Sidoarjo. Knowledge Gap Previous literature lacks comprehensive insights regarding how pedagogical competency implementation addresses combined challenges from full-day schooling models, curriculum transitions, and diverse student learning styles in primary educational settings. Aims The aim of this research is to describe the implementation of pedagogical competencies in the transition period from the K-13 curriculum to the independent curriculum and to offer pedagogical implementation solutions. Results The qualitative findings reveal that implementation problems stem from low teacher understanding of student characteristics, inadequate curriculum development, and deficiencies in educational activities, which are directly addressed through teacher training participation, optimized information systems, learning style adaptations, traditional and modern Islamic boarding school leadership principles, and academic supervision. Novelty The integration of full-day school management with structured pedagogical solutions during a major national curriculum transition provides a targeted framework for primary school teaching optimization. Implications These findings indicate that addressing teacher competency barriers through professional education programs and tailored pedagogical strategies is crucial for maintaining educational quality during institutional and structural transitions.
Pedagogical implementation barriers include inadequate comprehension of student characteristics, insufficient curriculum development, and adaptation challenges during the national curriculum transition.
Full-day school schedules introduce student fatigue and diminished concentration levels that require dynamic modifications to classroom learning methods.
Proposed pedagogical solutions encompass educator training participation, learning style customization, institutional data optimization, traditional boarding school leadership models, and academic supervision.
Keywords: Pedagogic Implementation, Implementation Problems, Implementation Solution, Independent Curriculum, Pedagogical Competence
Proses pembelajaran berkontribusi terhadap capaian tingkat pemahaman materi, integritas dan kemampuan bersosial siswa. Faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran meliputi pengetahuan guru tentang metode mengajar dan pengembangan siswa, kemampuan mengoperasikan teknologi pembelajaran serta ketersediaan teknologi pembelajaran [1]. Sebagian besar sekolah di Indonesia saat ini menerapkam proses pembelajaran full day school (sekolah penuh waktu), yaitu proses pembelajaran yang dilaksanakan dari pagi hingga sore hari. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah [2], full day school dilaksanakan dalam jangka waktu delapan jam per hari dan lima hari dalam satu minggu. Full day school memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengoptimalkan belajar di sekolah, baik dalam bidang intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Di samping itu, proses pembelajaran ini berfungsi sebagai kontrol bagi siswa agar kegiatannya lebih terarah dan terhindar dari kegiatan yang kurang bermanfaat. Namun, efektifitas full day school perlu didalami dan dimodifikasi. Hal tersebut dikarenakan siswa full day memiliki tingkat kejenuhan belajar yang lebih tinggi dibanding non full day [3] dan kemampuan sosial siswa di lingkungan keluarga atau masyarakat menurun [4]. Kejenuhan siswa berpotensi mengganggu proses pembelajaran siswa, sehingga menghambat siswa untuk menerima dan memahami materi yang disampaikan oleh guru.
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Pada umumnya kurikulum terdiri dari rancangan beberapa bidang studi yang diajarkan dalam lingkup pendidikan dan saling berkaitan. Rancangan kurikulum di setiap negara beragam, umumnya disebabkan oleh perbedaan ideologi, kondisi sosial-budaya dan alam. Kurikulum bersifat tidak absolut, sebab pada beberapa negara terjadi perubahan seiring dinamika sosial – politik, perkembangan teknologi dan semakin kompleksnya permalasahan, seperti yang terjadi di Indonesia. Perubahan kurikulum berorientasi pada upaya yang saling berkesinambungan agar sistem pendidikan nasional dapat ideal dan diperbaiki [5]. Sejak tahun 2013 hingga tahun 2020, kurikulum yang diterapkan di Indonesia adalah Kurikulum 2013 (K-13), sedangkan di tahun 2021 terjadi perubahan menjadi kurikulum merdeka. Terdapat perbedaan di antara kedua kurikulum tersebut, jika pada K-13 lebih menekankan pada tematik dan mengutamakan konten, standar proses dan standar evaluasi, maka kurikulum merdeka lebih mengutamakan pada penguasaan capaian pembelajaran dan karakter Pancasila berbasis pada kemerdekaan belajar [6], [7]. Tahun 2023 merupakan masa transisi penerapan K-13 menuju kurikulum merdeka, sehingga membutuhkan penyesuaian dalam hal metode pelaksanaan dan teknologi. Masa transisi berdampak pada proses pembelajaran siswa, utamanya di tingkat sekolah dasar. Bentuk dampak negatif transisi ini meliputi kurang optimalnya pencapaian target pada awal penerapan dikarenakan guru memerlukan waktu untuk memahami kurikulum baru dan mempersiapkan media ajar berbasis kurikulum baru, fasilitas sekolah yang belum suportif untuk penerapan kurikulum baru dan sosialisasi kurikulum baru yang memerlukan waktu [8].
Selain kurikulum, tingkat kelas dan karakteristik gaya belajar siswa juga termasuk dalam komponen yang berkontribusi terhadap proses pembelajaran. Pemahaman guru tentang karakteristik siswa, baik berdasarkan tingkat kelas maupun gaya belajar dapat memudahkan guru untuk menstimulasi siswa agar memahami materi dengan optimal. Pengetahuan tentang karakteristik siswa membantu guru untuk merancang proses pembelajaran yang relevan dan tepat sasaran [9]. Secara umum, tingkat kelas siswa sekolah dasar terdiri dari kelas rendah (rentang usia 6 hingga 9 tahun) dan kelas tinggi (rentang usia 9 hingga 13 tahun). Siswa kelas rendah sekolah dasar membutuhkan proses pembelajaran yang atraktif dan efektif; berada pada tahap pemahaman melalui asimilasi (mengkorelasikan konsep berdasarkan objek yang terdapat pada pikiran) dan akomodasi (menafsirkan objek berdasarkan konsep yang telah ada di pikiran) serta perkembangan berpikir pada tahap pembelajaran konkrit, bersifat integratif dan hierarkis [10]. Gaya belajar siswa visual, auditori dan kinestetik berpengaruh terhadap cara berpikir siswa [11], sehingga hal ini akan berkaitan dengan proses pembelajaran.
Upaya perwujudan proses pembelajaran, kurikulum dan karakteristik siswa yang terintegratif dan menghasilkan hasil maksimal dapat diraih melalui penerapan kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik merupakan tingkat kemampuan pendidik untuk menguasari teori yang diajarkan, mendesain pembelajaran yang adaptif dengan kurikulum, mengevaluasi kemampuan peserta didik serta memahami dan peka terhadap perkembangan peserta didik. Dalam komponen aktivitas kompetensi profesional, kelompok keterampilan pedagogik diidentifikasi sebagai gnostik, konstruktif-desain, organisasi, komunikatif dan penelitian [12]. Tingkat kemampuan pedagogik pendidik menentukan keberhasilan peserta didik dalam memahami pelajaran yang diterima. Sebagai contoh prestasi peserta didik Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kuningan 1 yang berbanding lurus dengan kompetensi pedagogik yang dimiliki guru, kompetensi tersebut diindikasikan dengan pertimbangan jenis prestasi peserta didik dalam proses pembelajaran [13]. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kompetensi guru meliputi pencapaian kompetensi penguasaan karakteristik siswa, pencapaian kompetensi penguasaan teori belajar dan prinsip pembelajaran edukatif, kompetensi pengembangan kurikulum, kompetensi pembelajaran edukatif, kompetensi komunikasi dengan siswa serta kompetensi penilaian dan evaluasi siswa [14].
Ada berbagai indikator kompetensi pedagogik seorang guru. Berdasarkan permendiknas nomor 35 tahun 2010 menjelaskan bahwa terpadat tujuh indikator kompetensi pedagogik guru. Yang pertama adalah menguasai karakteristik peserta didik. Yang kedua menguasai teori belajar dan prinsip pembelajaran. Yang ketiga adalah pengembangan kurikulum. Yang keempat adalah kegiatan pembelajaran yang mendidik. Yang kelima adalah pengembangan potensi peserta didik. Yang keenam adalah komunikasi dengan peserta didik. Dan yang ketujuh adalah penilaian dan evaluasi[15].
Implementasi kompetensi pedagogik telah dikaji pada beberapa penelitian, seperti: penelitian tentang implementasi kompetensi pedagogik pada sistem pembelajaran tematik di sekolah dasar, yang menemukan fakta bahwa implementasi tersebut terhambat oleh perbedaan latar belakang guru, minimnya penggunaan media pembelajaran dan lemahnya strategi yang digunakan untuk metode pembelajaran [16]; kajian implementasi kompetensi pedagogik untuk pengelolaan pembelajaran SD Negeri 2 Fajar Indah dengan temuan meliputi rendahnya pemahaman guru untuk manajemen kelas berbasis karakter siswa, belum optimalnya penggunaan alat bantu mengajar dan jenis ekstrakurikuler yang terbatas [17]; implementasi kompetensi pedagogik pada sekolah yang menerapkan full day school juga dikaji pada penelitian Nurjanah [18], namun implementasi tersebut terhambat oleh siswa yang lelah dalam proses pembelajaran full day school dan penguasaan teknologi yang dimiliki guru belum maksimal. Namun penelitian-penelitian tersebut masih belum mengeksplor lebih dalam tentang implementasi kompetensi pedagogik berdasarkan kombinasi proses pembelajaran full day school, transisi kurikulum maupun karakter siswa.
Proses pembelajaran akan terhambat ketika mengalami transisi kurikulum, kurang efektifnya waktu pembelajaran dan belum optimalnya peran kompetensi pedagogik untuk mengatasi permasalahan tersebut. Hal ini dapat terjadi di tingkat Sekolah Dasar (SD), mengingat saat ini SD di Indonesia menerapkan full day school dan berada pada masa transisi K-13 menuju kurikulum merdeka, seperti yang terjadi di SD Antawirya. SD Antawirya merupakan sekolah dasar yang mengombinasikan konsep sekolah formal dan pesantren berbasis nilai-nilai Budaya Jawa. Berdasarkan survei pengantar, ditemukan bahwa karakteristik gaya belajar siswa di SD ini beragam, khususnya pada siswa kelas satu. Hal tersebut menarik untuk dikaji lebih dalam, mengingat kompetensi pedagogik berkaitan dengan gaya belajar, apalagi siswa kelas satu berada pada tahap peralihan masa pra sekolah menuju masa sekolah. Selain itu, implementasi kompetensi pedagogik di sekolah ini juga patut dikaji lebih dalam karena menerapkan full day school dan kurikulum merdeka untuk tingkat kelas rendah sekolah dasar. Oleh sebab itu, penelitian ini mengkaji implementasi kompetensi pedagogik guru kelas satu dalam proses pembelajaran full day di SD Antarwirya. Tujuan penelitian ini meliputi: (1) deskripsi problematika guru dalam pengembangan kompetensi pedagogik pada masa transisi K13 menuju merdeka dengan proses pembelajaran full day school, (2) menawarkan solusi implementasi pedagogik yang efektif di tengah masa transisi K13 menuju merdeka dengan proses pembelajaran full day school. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk mengimplementasikan kompetensi pedagogik.
Metode penelitian ini berbasis pada penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif analitik berbasis studi kasus. Pendekatan deskriptif analitik dipilih sebab pendekatan ini tidak hanya mendeskripsikan fenomena tertentu, namun peneliti juga berpartisipasi terhadap fenomena yang terjadi di lapangan [19], sehingga mampu menjelaskan temuan penelitian secara lebih spesifik dan mendalam. Studi kasus menjadi pilihan yang tepat untuk mencapai tujuan penelitian ini karena studi kasus cukup representatif untuk mengungkap kasus sebagai objek penelitian secara konkrit, spesifik dan mendalam [20], sesuai dengan tujuan penelitian ini yang berorientasi pada implikasi implementasi pedagogik secara spesifik. Lokasi penelitian berada di SD Antawirya, yang terletak di Kecamatan Krian, Kabupaten Siodarjo. SD ini mengusung kombinasi konsep formal nasional dan pesantren yang berbasis pada Nilai-Nilai Jawa. Subjek penelitian terdiri dari guru dan siswa SD Antawirya dengan batasan penelitian pada siswa kelas 1 SD.
Sumber data bersifat primer yang diperoleh melalui kegiatan observasi kelas, interview dan dokumentasi untuk mengetahui problematika implementasi pedagogik pada saat transisi K-13 menuju kurikulum merdeka. Adapun data sekunder diperoleh dari studi literatur untuk pengumpulan referensi yang sesuai dengan topik penelitian[21]. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti yang berperan sebagai kolektor data penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi pembelajaran. Selanjutnya untuk teknik analisis data yang digunakan pendekatan miles dan hubberman dengan langkah-langkah meliputi reduksi data, penyajian data dan verifikasi (kesimpulan) data.
Implementasi kompetensi pedagogik guru pada setiap sekolah berpotensi mengalami kendala dan hambatan. Kendala dan hambatan tersebut dapat berupa hambatan teknis, yang berkaitan dengan kemampuan guru untuk memahami materi dan teori yang akan diajarkan, keterampilan guru dalam hal pembuatan media pembelajaran yang interaktif dan fungsional, serta kemampuan guru untuk peka terhadap karakter dan perkembangan siswa, sedangkan hambatan non teknis dapat berupa kemampuan komunikasi guru kepada siswa dalam menyampaikan materi secara jelas disertai penggunaan pendekatan pengajaran yang tepat. Tantangan implementasi kompetensi pedagogik, secara garis besar dipengaruhi dua faktor, faktor yang pertama adalah faktor internal yang berasal dari guru, dapat dalam bentuk motivasi guru unntuk mengajar [22] dan profesionalitas guru untuk memahami materi, kepekaan untuk mengidentifikasi karakter – potensi siswa [23] dan mendesain media pembelajaran, sedangkan faktor eksternal dalam bentuk tata kelola kepala sekolah, intensitas supervisi kepala sekolah [22], tekad siswa untuk belajar, fasilitas sekolah, tingkat refleksitas sekolah untuk menerima perubahan kebijakan dan kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Tantangan dan faktor-faktor tersebut dimiliki setiap sekolah di Indonesia, salah satu contohnya adalah pada SD Antawirya.
Menguasai karakteristik peserta didik adalah salah satu kunci keberhasilan implementasi kompetensi pedagogik dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, seorang guru harus menguasai karakteristik peserta didik, mulai dari gaya belajar peserta didik sampai dengan bakat dan minat yang mereka miliki. Salah satu alat untuk mendukung penguasaan karakterisk peserta didik adalah dengan asesmen diagnostik[24]. Dengan asesmen ini guru mampu mengetahui bakat dan minat peserta didik dan akan berdampak pada gaya belajar siswa yang beragam. Sebelum guru melakukan asesmen diagnostik alangkah baiknya seorang guru melakukan penilaian terhadap diri sendiri sebelum menentukan langkah terbaik untuk peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Sebuah perencanaan harus diawali dengan sebuah tujuan. Tujuan ini harus ada hubungannya dengan tujuan pembelajaran. Setelah itu baru seorang dapat membuat pertanyaan awal yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Gaya belajar adalah suatu cara dalam mengelola dan menerapkan informasi dengan mudah. Gaya belajar siswa memiliki macam-macam gaya belajar sendiri. Ada tiga macam Gaya belajar siswa, yang pertama adalah gaya belajar visual, gaya belajar ini cenderung dengan melihat artinya informasi dapat diperoleh melaui sebuah gambar atau poster dan sebagainya. Gaya belajar seperti ini membutuhkan melihat langsung, jika tidak dapat melihat secara langsung maka akan menimbulkan ketidak percayaan personal yang memiliki karakter tersebut. Ada beberapa karakter siswa yang memiliki karakter visual yaitu pemahaman terhadap karya karya seni yang terlihat di hadapannya dan seringkali salah dalam mengartikan sebuah perkataan dari seseorang. Yang kedua adalah gaya belajar auditorial, gaya belajar ini lawan dari gaya belajar yang bersifat visual, gaya belajar ini gaya belajar yang mengandalkan telinga atau pendengaran. Gaya belajar yang ketiga adalah gaya belajar kinestetik, gaya belajar ini adalah gaya yang mengandalkan aktifitas gerak dari anggota tubuh. Hanya ada beberapa siswa yang memiliki karakteristik tertentu karena cenderung memiliki lebih dari satu gaya belajar[25].
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum adalah prinsip relevansi, fleksibilitas dan efektifitas. Pada tahap pengembangan kurikulum, salah satu prinsip pengembangannya adalah prinsip efektifitas. Dengan memperhatikan sejauh mana proses pengembangan kurikulum yang akan diterapkan dan tujuan yang akan dicapai[26]. Untuk mengembangkan kurikulum tersebut butuh motivasi seorang guru dalam mengajar dan profesionalitas guru untuk memahami materi[22]. Motivasi guru akan membangkitkan energi peserta didik untuk mencapai tujuan. Karena guru adalah faktor penting dalam proses pengembangan kurikulum maka profesionalitas seorang guru sangat dibutuhkan untuk beberapa kreatifitas dan inovasi yang mendidik.
Berdasarkan indikator tersebut dan observasi serta wawancara di lapangan, ditemukan problematika dalam implementasi kompetensi pedagogik, khususnya dialami oleh guru kelas satu. Hal tersebut tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Problematika Implementasi Kompetensi Pedagogik bagi Guru Kelas Satu
Sumber: Peneliti 2024
Tabel 1 menunjukkan problematika teknis dan non teknis dari implementasi kompetensi pedagogik pada siswa kelas satu SD Antawirya. Hambatan teknis dan non teknis yang dihadapi umumnya memiliki keterkaitan dengan metode pembelajaran yang belum efektif, keterampilan guru yang masih belum memenuhi standar konsep guru pembelajar, serta transisi kurikulum 2013 yang memunculkan tantangan untuk modifikasi media pembelajaran agar sesuai dengan kurikulum terbaru serta pola komunikasi guru dan siswa. Hambatan teknis dipicu oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kemampuan guru untuk mengajar, sedangkan faktor eksternal berupa dinamika politik di Indonesia, yang diindikasikan dengan pergantian lembaga eksekutif (pergantian presiden dan menteri). Pergantian tersebut diiringi dengan perubahan program kerja, orientasi pembangunan dan fokus pendidikan, seperti pada tahun 2013, menteri pendidikan Kabinet Indonesia Bersatu II merilis kurikulum 2013 bagi sekolah di Indonesia, di tahun 2017 kurikulum mengalami perbaikan dan berubah menjadi kurikulum 2013 revisi oleh menteri pendidikan pada Kabinet Kerja. Setelah mengalami pergantian kabinet menjadi Kabinet Indonesia Maju pada tahun 2019, maka menteri pendidikan merancang kurikulum merdeka yang memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengeksplor pengetahuan dan mengembangkan keterampilan dengan berbagai macam metode yang diinginkan asal dapat mencapai esensi dari tujuan pembelajaran. Pergantian kurikulum merupakan refleksi solusi yang diberikan pemerintah untuk mengatasi permasalahan pendidikan [27], seperti kebijakan kurikulum merdeka yang dilatar belakangi oleh sebagian siswa di Indonesia yang masih terbatas pada pemahaman teori dan penerapan teori di kehidupan nyata yang masih belum maksimal.
Faktor eksternal lain yaitu gaya belajar siswa yang beragam dan kebijakan full day school. Gaya belajar siswa yang beragam berdampak pada cara siswa dalam menerima materi yang diajarkan oleh guru. Kesesuaian gaya belajar dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, sehingga hal ini memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, khususnya pada sekolah yang menerapkan kurikulum merdeka yang berorientasi pada capaian pembelajaran dalam hal numerik maupun literasi. Macam gaya belajar terdiri dari visual, kinestetik dan auditori, perbedaan gaya belajar ini didorong oleh faktor keturunan yang berpengaruh terhadap kromosom; faktor lingkungan, yang berpengaruh dengan pembiasaan gaya belajar sejak kecil serta faktor campuran, kombinasi dari faktor keturunan dan lingkungan [28]. Adapun faktor penerapan full day school pada kegiatan pembelajaran siswa SD, juga berkontribusi terhadap tantangan media pembelajaran yang diterapkan, karena beberapa hal: (1) siswa kelas satu SD masih beradaptasi dari pra sekolah yang identik dengan pengenalan kehidupan dan pembelajaran dasar menuju tahap sekolah dasar yang mempelajari mata pelajaran secara formal [29], sehingga siswa merasa bosan ketika pembelajaran terlalu lama, (2) jangka waktu yang terlalu lama membuat siswa merasa lelah secara fisik dan psikologi, sehingga terjadi penurunan konsentrasi yang berdampak pada kemampuan dalam menyerap materi yang diajarkan guru.
Hambatan non teknis yang dialami di SD Antawirya sebagian besar berkaitan dengan pola komunikasi antara guru dengan siswa. Pola komunikasi ini akan berdampak pada cara guru dalam menyampaikan materi, sehingga idealnya komunikasi guru dengan siswa kelas 1 memiliki gaya komunikasi yang luwes dan menyenangkan. Namun, ditinjau dari supervisi lapangan, pola komunikasi guru masih belum sinkron dengan siswa kelas satu dan penerapan kurikulum merdeka yang masih berada pada tahap transisi. Penerapan kurikulum merdeka mengadopsi dan mendukung kebebasan bagi siswa untuk belajar, sedangkan masih ditemui beberapa guru yang menyampaikan materi secara formal. Faktor yang berpengaruh terhadap pola dan kemampuan komunikasi guru meliputi lingkungan belajar (tingkat suportifitas lingkungan belajar, umumnya lingkungan belajar yang kondusif akan melancarkan komunikasi guru dengan siswa), faktor psikologi (kondisi psikologi yang dipicu oleh kestabilan emosi guru dan respon guru dalam menghadapi masalah, ketika guru mampu mengelola emosi maka penyampaian materi akan lancar), faktor komunikasi (berkaitan dengan cara komunikasi guru melalui kemampuan penggunaan media pembelajaran), faktor bahasa (yang berkaitan dengan bahasa yang dikuasai oleh guru dan siswa), faktor kesiapan (berkaitan dengan pemahaman materi yang dikuasai oleh guru), faktor penguasaan kelas (kemampuan dan kepekaan guru untuk mengenali karakter serta kondisi kesehatan mental dan fisik siswa untuk mengikuti pelajaran) serta faktor media (media komunikasi guru dan siswa, berkaitan dengan kondisi penginderaan yang berfungsi sebagai alat komunikasi) [30].
Berdasarkan problematika implementasi kompetensi pedagogik yang ditemui pada guru kelas satu SD Antawirya, maka dibutuhkan solusi implementasi kompetensi yang efektif bagi guru kelas satu sekolah kajian. Implementasi pertama yang dapat dilakukan yakni (1) implementasi melalui maksimalisasi keikutsertaan guru pada porgram pelatihan atau Pendidikan Profesi Guru (PPG) agar lebih memahami metode pengajaran yang efektif. PPG menyediakan kurikulum bagi guru untuk mempelajari metode pengajaran secara lebih terstruktur dan terarah [31]. Pada tahap pengembangan kurikulum, salah satu prinsip pengembangannya adalah prinsip efektifitas. Dengan memperhatikan sejauh mana proses pengembangan kurikulum yang akan diterapkan dan tujuan yang akan dicapai[26]. Untuk mengembangkan kurikulum tersebut butuh motivasi seorang guru dalam mengajar dan profesionalitas guru untuk memahami materi[22] PPG juga membentuk ekosistem belajar yang menyerupai kondisi sebenarnya, baik dari sisi identifikasi karakteristik bagi siswa di kelas, manajemen kelas, komunikasi antara siswa dengan guru dan ruang diskusi antar sesama guru untuk saling bertukar informasi tentang karakteristik siswa di setiap sekolah yang pernah diajar, sehingga pengetahun karakter siswa yang dimiliki guru dapat lebih luas. Hal tersebut dapat menjadi dasar pertimbangan guru untuk merumuskan metode pembelajaran yang tepat berdasarkan karakteristik siswa, baik dari psikologis siswa tingkat kelas dan gaya belajar siswa. (2) Optimalisasi penyediaan informasi dari pihak kurikulum sekolah tentang aspek desain perancangan pembelajaran yang terdiri dari tujuan pembelajaran, kompetensi, parameter dan batasan materi; informasi tentang karakteristik siswa yang berfungsi sebagai pertimbangan untuk menetapkan strategi pembelajaran; informasi pemilihan media, terdiri dari perkembangan dari teknologi; dan informasi hasil evaluasi belajar siswa, baik secara kognitif, afektif dan psikomotorik [32]. Optimalisasi ini dapat diwujudkan melalui situs sekolah berbasis bank data satu jalan yang dapat menghimpun informasi-informasi tersebut yang dibutuhkan oleh guru. Tentunya situs informasi ini harus berbasis pada tampilan situs yang interaktif dengan dilengkapi kemudahan aksesibilitas, sehingga pihak kurikulum mudah untuk menginput data dan guru mudah untuk mengakses informasi.
(3) Modifikasi metode pembelajaran agar sesuai dengan kurikulum merdeka. Modifikasi ini dapat didasarkan pada unsur-unsur yang dimuat dalam kurikulum merdeka. Modifikasi metode pembelajaran dapat berupa desain model pembelajaran yang berorientasi pada capaian pembelajaran, dan dilengkapi dengan kompetinsi inti dan dasar. Desain ini dapat dalam bentuk materi dan soal berbasis tujuan dari pembelajaran materi, sebagai contoh: materi tentang pemahaman pancasila dapat disampaikan melalui materi utama tentang pengamalan sila dan soal yang diberikan dalam bentuk proyek pengamalan Pancasila disertai laporan terstruktur, sehingga soal yang diberikan tidak terbatas pada teori dan siswa dapat memahami secara langsung. Topik yang dapat diusung untuk materi pancasila meliputi gaya hidup berbasis berkelanjutan, kearifan lokal, Bhinneka Tunggal Ika, pembangunan kesadaran dalam memelihara kesehatan jiwa dan fisik, rekayasa maupun teknologi serta keterampilan berbisnis [33]. Penerapan kurikulum merdeka di sekolah dasar dapat melibatkan teknologi untuk kebutuhan infromasi dan komunikasi yang mampu membuat media pembelajaran lebih interaktif [34]. (4) Mengemas kegiatan pembelajaran dengan aktivitas yang diminati siswa dan sesuai dengan gaya belajar siswa untuk meredam kelelahan siswa, baik secara fisik dan mental dalam proses pembelajaran full day school. Bentuk kegiatan tersebut dapat melalui pembelajaran di lapangan yang bersifat praktikal serta penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk memvisualisasikan materi pada siswa secara lebih nyata dan menarik. Konsep SD Antawirya yang mengusung pendidikan pesantren, memberikan kesempatan bagi SD ini untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan pemberian jadwal untuk minum air putih sesuai kebutuhan siswa kelas satu SD, dengan tujuan untuk meminimalisir dehidrasi sel-sel tubuh dan kelelahan bagi siswa yang dapat menurunkan konsentrasi belajar [35]. Selain itu, menurut penelitian yang mengkaji problematika penerapan full day school pada SD Islamic Center Samarinda, solusi untuk meminimalisir kejenuhan siswa adalah melalui maksimalisasi kolaborasi antara guru dan wali murid untuk membuat siswa agar terbiasa belajar, situasi belajar yang menyenangkan dan tidak otoriter juga patut diterapkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang tidak traumatis; memberikan kesempatan bagi siswa untuk istirahat tidur siang selama 20 menit, pemberian jeda waktu melalui peregangan tubuh di sela-sela pelajaran; serta penyediaan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat dan minat siswa [36].
Implementasi selanjutnya adalah (5) mengaktualisasikan pembelajaran berbasis proyek bagi siswa kelas satu. Pembelajaran yang mengusung proyek akan memberikan makna pembelajaran secara empiris. Pembelajaran berbasis proyek juga membangun keterampilan maupun pengetahuan secara personal [37]. Proyek juga akan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi hal-hal yang tidak ditemui pada pembelajaran yang hanya terbatas pada teori. (6) Membagi kelas menjadi beberapa kelompok berdasarkan gaya belajar dan karakteristik siswa. Pengelompokkan siswa ini berfungsi untuk memudahkan guru dalam menyesuaikan metode pembelajaran yang disampaikan berdasarkan gaya belajar masing-masing siswa. Selain itu, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan melalui pemberian tugas yang cara pengerjaanya sesuai dengan gaya belajar, minat dan bakat siswa, dengan catatan tugas tersebut harus tetap dapat mencapai tujuan pembelajaran. Contoh dari penerapan ini adalah ketika guru ingin memberikan tugas tentang konsep kebugaran jasmani, maka siswa dengan gaya belajar visual dapat mengerjakan tugas tersebut dengan cara pengamatan, penggambaran atau pembuatan video gerakan olahraga tertentu, bagi siswa dengan gaya belajar audiotori dapat melalui penciptaan lagu tentang tata cara gerakan olahraga tertentu serta bagi siswa dengan gaya belajar kinestetik dapat melalui presentasi gerakan olahraga tertentu di depan kelas. Karena lokasinya berada di dalam pesantren maka kolaborasi (7) penerapan kepemimpinan pesantren salaf dan khalaf dibutuhkan. Pesantren salaf yang mengedepankan patuh pada kiai dan ajaran agama, gigih, ulet, tawadu’ dan riyadlah, sedangkan pesantren khalaf yang mengedepankan kepemimpinan yang berorientasi pada kinerja, manajerial, kolegial, kecekatan dan tidak mengandalkan garis keturunan dari kiai. [38].
(8) Setelah semua solusi terimplementasi, maka dapat dilanjutkan dengan supervisi akademik yang berfungsi untuk mengontrol dan mengevaluasi pelaksanaan kompetensi pedagogik guru. Supervisi ini dapat diukur melalui beberapa parameter, meliputi: indikator kompetensi penguasaan karakteristik peserta didik, penguasaan teori mengajar dan prinsip pembelajaran edukatif, kompetensi untuk mengembangkan kurikulum, kompetensi dan kepekaan potensi siswa, kemampuan komunikasi dengan siswa, kemampuan untuk mengevaluasi dan menilai progres siswa [14]. Parameter tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menyusun rancangan kurikulum dan peningkatan kapasitas dan kinerja guru.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa problematika implementasi kompetensi pedagogik terdiri dari kurangnya kemampuan guru dalam menguasai karakteristik peserta didik, pengembangan kurikulum yang sesuai dengan peserta didik dan membuat kegiatan pembelajaran yang mendidik. Problem tersebut didasari oleh transisi kurikulum 2013 menuju kurikulum merdeka dan pemberlakuan proses pembelajaran full day school. Adapun solusi implementasi kompetensi pedagogik dapat melalui maksimalisasi keikutsertaan guru pada porgram pelatihan atau Pendidikan Profesi Guru (PPG); optimalisasi penyediaan informasi dari pihak kurikulum sekolah tentang aspek desain perancangan pembelajaran, karakteristik siswa, pemilihan media pembelajaran yang tepat dan informasi hasil evaluasi belajar siswa, baik secara kognitif, afektif dan psikomotorik; pelaksanaan pembelajaran berbasis gaya belajar siswa; implementasi kepemimpinan pesantren berdasarkan salaf dan khalaf; serta supervisi akademik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada guru dan siswa SD Antawirya yang telah berkenan dan bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini sebagai subjek penelitian. Ucapan terima kasih juga ditujukan untuk pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian penelitian ini. Semoga bermanfaat.
L. Sumardi, “Does the teaching and learning process in primary schools correspond to the characteristics of the 21st century learning?,” vol. 13, no. 3, pp. 357–370, 2020.
M. Pendidikan, D. A. N. Kebudayaan, and R. Indonesia, “Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah,” 2017.
R. Wahyuli and I. Ifdil, “Perbedaan kejenuhan belajar siswa full day school dan non full day school,” Jurnal Aplikasi IPTEK Indonesia, vol. 4, no. 3, pp. 188–194, 2020, doi: 10.24036/4.34380.
P. Airlanda, “Dampak pelaksanaan full day school terhadap perkembangan sosial anak di sekolah dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 3, pp. 1683–1688, 2021.
I. G. N. Santika, N. K. Suarni, and I. W. Lasmawan, “Analisis perubahan kurikulum ditinjau dari kurikulum sebagai suatu ide,” Jurnal Education and Development, vol. 10, no. 3, pp. 694–700, 2022.
A. Mukminin, A. Habibi, L. D. Prasojo, A. Idi, and A. Hamidah, “Curriculum reform in Indonesia: Moving from an exclusive to inclusive curriculum,” Center for Educational Policy Studies Journal, vol. 9, no. 2, pp. 53–72, 2019, doi: 10.26529/cepsj.543.
S. Hamdi, C. Triatna, and N. Nurdin, “Kurikulum Merdeka dalam perspektif pedagogik,” SAP (Susunan Artikel Pendidikan), vol. 7, no. 1, pp. 10–17, 2022, doi: 10.30998/sap.v7i1.13015.
A. T. Mawati, Hanafiah, and O. Arifudin, “Dampak pergantian kurikulum pendidikan terhadap peserta didik sekolah dasar,” Jurnal Primar Edu, vol. 1, no. 1, pp. 69–82, 2023.
R. Lwande, C. Muchemi, and L. Oboko, “Identifying learning styles and cognitive traits in a learning management system,” Heliyon, vol. 7, no. 8, 2021, doi: 10.1016/j.heliyon.2021.e07701.
R. Zulvira, Neviyarni, and Irdamurni, “Karakteristik siswa kelas rendah sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 5, no. 1, pp. 1846–1851, 2021.
M. T. Wijayanto, F. D. Purwosetiyono, and D. Prasetyowati, “Kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan word problem ditinjau dari gaya belajar siswa,” Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, vol. 3, no. 1, pp. 37–47, 2021, doi: 10.26877/imajiner.v3i1.7026.
Z. Zhumash, A. Zhumabaeva, S. Nurgaliyeva, G. Saduakas, L. A. Lebedeva, and S. B. Zhoraeva, “Professional teaching competence in preservice primary school teachers: Structure, criteria and levels,” World Journal on Educational Technology: Current Issues, vol. 13, no. 2, pp. 261–271, 2021, doi: 10.18844/wjet.v13i2.5699.
J. F. Keguruan, I. Pendidikan, I. Artikel, and P. Guru, “Prestasi belajar peserta didik ditinjau dari implementasi kompetensi pedagogik guru,” vol. 2, no. 3, pp. 99–111, 2021.
H. Mujiono, “Supervisi akademik meningkatkan kompetensi pedagogik guru,” Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 113–121, 2020, doi: 10.26740/jdmp.v4n2.p113-121.
N. Maulidah, R. Rokhmaniyah, and S. Suhartono, “Perbedaan pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran matematika tentang volume bangun ruang di kelas V SD Negeri se-Kecamatan Alian tahun ajaran 2020/2021,” Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 9, no. 3, pp. 1–7, 2021, doi: 10.20961/jkc.v9i3.53549.
Y. Yulyani, T. Kazumaretha, Y. Arisanti, Y. Fitria, and D. Desyandri, “Implementasi kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar,” School Education Journal PGSD FIP Unimed, vol. 10, no. 2, p. 184, 2020, doi: 10.24114/sejpgsd.v10i2.18545.
J. Mandasari, M. E. Waluyo, and E. Harista, “Implementasi kompetensi pedagogik guru dalam mengelola pembelajaran di SD Negeri 2 Fajar Indah Kabupaten Bangka Selatan,” Lenternal: Learning and Teaching Journal, vol. 1, no. 1, pp. 22–30, 2020, doi: 10.32923/lenternal.v1i1.1275.
N. Nurjanah, “Analisis kompetensi pedagogik guru dalam program full day school di SMA Negeri 1,” 2019.
S. Fatmawati, C. Ainy, S. Soemantri, and U. M. Surabaya, “Meta analisis pengaruh pendekatan metaphorical,” vol. 23, no. 1, pp. 48–64, 2023.
R. H. Yustiyawan, “Penguatan manajemen pendidikan dalam mutu pendidikan tinggi: Studi kasus di STIE IBMT Surabaya,” Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan, vol. 4, no. 1, pp. 1–10, 2019, doi: 10.26740/jdmp.v4n1.p1-10.
L. Sirait, “Peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelaksanaan supervisi akademik,” Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat, vol. 6, no. 1, pp. 63–74, 2021, doi: 10.47200/jnajpm.v6i1.691.
E. Chrisvianty, Y. Arafat, and M. Mulyadi, “Pengaruh keterampilan mengajar dan motivasi kerja terhadap kinerja guru,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 4, no. 2, pp. 1634–1643, 2020, doi: 10.31004/jptam.v4i2.628.
E. Elvira, “Faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan dan cara mengatasinya (studi pada sekolah dasar di Desa Tonggolobibi),” Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan dan Keislaman, vol. 16, no. 2, pp. 93–98, 2021, doi: 10.56338/iqra.v16i2.1602.
A. C. K. Azis and S. K. Lubis, “Asesmen diagnostik sebagai penilaian pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka di sekolah dasar,” Pena Anda: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, vol. 1, no. 2, pp. 20–29, 2023, doi: 10.33830/penaanda.v1i2.6202.
E. A. Silitonga and I. Magdalena, “Gaya belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri Cikokol 2 Tangerang,” PENSA: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 2, no. 1, pp. 17–22, 2020. [Online]. Available: https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/pensa
B. M. Marzuqi and N. Ahid, “Perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia: Prinsip dan faktor yang mempengaruhi,” JoIEM (Journal of Islamic Education Management), vol. 4, no. 2, pp. 99–116, 2023, doi: 10.30762/joiem.v4i2.1284.
D. Wahyudin and A. Suwirta, “Politics of curriculum in the educational system in Indonesia,” Tawarikh, vol. 11, no. April, pp. 143–158, 2020.
M. M. Zagoto, N. Yarni, and O. Dakhi, “Perbedaan individu dari gaya belajarnya serta implikasinya dalam pembelajaran,” Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, vol. 2, no. 2, pp. 259–265, 2019, doi: 10.31004/jrpp.v2i2.481.
R. Novianti, T. Umari, T. Maemunaty, and A. Bahar, “Resiliensi sebagai pendukung kesiapan anak masuk sekolah dasar,” vol. 10, pp. 1428–1435, 2021.
W. Iskandar, “Kemampuan guru dalam berkomunikasi terhadap peningkatan minat belajar siswa di SDIT Ummi Darussalam Bandar Setia,” Wahyu Iskandar, vol. 3, no. 2, 2019.
A. Dudung, “Kompetensi profesional guru,” JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan), vol. 5, no. 1, pp. 9–19, 2018, doi: 10.21009/jkkp.051.02.
H. Silvana, G. Rullyana, and A. Hadiapurwa, “Kebutuhan informasi guru di era digital: Studi kasus di Sekolah Dasar Labschool Universitas Pendidikan Indonesia,” Baca: Jurnal Dokumentasi dan Informasi, vol. 40, no. 2, p. 147, 2019, doi: 10.14203/j.baca.v40i2.454.
D. Rahmadayanti and A. Hartoyo, “Potret Kurikulum Merdeka, wujud merdeka belajar di sekolah dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 7174–7187, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.3431.
T. S. Nugraha, “Kurikulum Merdeka untuk pemulihan krisis pembelajaran,” pp. 250–261, 2022.
S. Kusumawardani and A. Larasati, “Analisis konsumsi air putih terhadap konsentrasi,” Jurnal Holistika, vol. 4, no. 2, pp. 91–95, 2020, doi: 10.24853/holistika.4.2.91-95.
S. Hadi, F. Rahmayani, and Bahri, “Problematika sistem pembelajaran full day school di SD Islamic Center Samarinda,” Tarbiyah Wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan & Pembelajaran, vol. 7, no. 2, pp. 49–68, 2020.
S. Maifa, “Adaptasi semangat Merdeka Belajar dengan penerapan model pembelajaran Project Based Learning sebagai bentuk inovasi dalam pembelajaran,” Journal of Pedagogy and Online Learning, vol. 1, no. 2, pp. 38–46, 2022.
M. Hilmy, “Kepemimpinan modern berbasis karakter pesantren,” vol. 7, no. 2, pp. 89–106, 2019.