Sunam (1), Hidayatulloh (2)
General Background Character education within madrasahs plays an essential role in fostering individuals characterized by integrity, ethics, and responsibility. Specific Background This research investigates the role of the madrasah head in designing and implementing holistic character education programs at MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo. Knowledge Gap Previous literature lacks detailed qualitative insight into how specific leadership functions and scheduled religious activities are systematically coordinated by madrasah heads to instill core moral traits among students. Aims This study aims to explore the phenomena experienced by research subjects and describe the role of the madrasah head in student character development along with its resulting outcomes. Results The qualitative findings reveal that the madrasah head successfully formulates strategic policies and enforces consistency by engaging teachers as rotational prayer leaders, which actively instills three core student characters: religious, disciplined, and responsible. Novelty The direct integration of administrative policy formulation with active managerial oversight and rotational teacher-led spiritual practices constructs a cohesive framework for character cultivation. Implications These findings demonstrate that proactive madrasah head leadership serves as a foundational model for establishing a disciplined religious culture and moral resilience in Islamic educational institutions.
Highlights:
Madrasah leadership extends beyond administrative functions to encompass the strategic design and implementation of holistic character education.
Character cultivation initiatives successfully instill core behavioral traits including religious devotion, discipline, and personal responsibility.
Administrative consistency and rotational teacher involvement in daily religious practices reinforce institutional culture and student compliance.
Keywords: Madrasah Head, Character Development, Student Morality, Islamic Education, Leadership Role
Pendidikan berperan sebagai pilar utama dalam membentuk masa depan suatu bangsa. Investasi dalam pendidikan yang berkualitas merupakan langkah strategis untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk individu menjadi masyarakat yang berdaya, berwawasan luas, dan berkontribusi positif pada pembangunan nasional. Sistem pendidikan nasional telah mengalami transformasi untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial budaya. [1].
Pendidikan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ini dapat membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yangmendukung perkembangan holistik siswa, tidak hanya dari segi pengetahuan akademis tetapi juga dalam hal karakter, moralitas, dan keterampilan yang sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan zaman modern. Prinsip-prinsip pendidikan yang mencakup kesatuan dan keutuhan nasional, penghormatan terhadap kepribadian bangsa, moralitas, kreativitas, dan keterampilan, amat penting demi terciptanya generasi yang mumpuni dan berdaya saing. Pendidikan juga harus mampu memfasilitasi perkembangan karakter dan etika, sehingga lulusan dapat menjadi insan yang bertanggung jawab [2][3][4].
Pendidikan holistik membantu menciptakan individu yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara emosional, bertanggung jawab, dan memiliki kualitas kepemimpinan. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan pribadi siswa, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Pentingnya pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek akademis, tetapi juga melibatkan pengembangan aspek sosial, emosional, dan karakter. Pendidikan yang holistik akan menghasilkan individu yang bukan hanya pintar secara keilmuan, akan tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan nilai-nilai moral yang baik. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa akses terhadap pendidikan merata di seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan prinsip kesetaraan dan keadilan. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi pendorong utama dalam mencapai pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup bagi seluruh masyarakat. [5][6][7].
Pendidikan harus diselenggarakan dengan memperhatikan kebutuhan dan lingkungan peserta didik. Ini mencerminkan prinsip-prinsip pendidikan yang berorientasi pada pembangunan kompetensi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekitar serta kebutuhan individu. Pendidikan di madrasah yang mana pendidikan Islam menjadi fokus utama, peran kepala madrasah, guru, dan peraturan tata tertib sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan nilai-nilai Islami dan perilaku yang sesuai. [8][9].
Peran kepala madrasah memiliki dampak besar terhadap pengelolaan dan perkembangan pada lembaga pendidikan. Beberapa peran kunci yang dilaksanakan oleh kepala madrasah : 1) Sebagai Pimpinan Akademis, kepala madrasah bertanggung jawab untuk memastikan kualitas pendidikan Islam yang dilaksanakan di madrasah. Hal ini mencakup pengawasan terhadap kurikulum, metode pengajaran, dan penilaian siswa; 2) Manajer Lembaga, mengelola sumber daya manusia, anggaran, fasilitas fisik, dan aset lainnya serta memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan strategis yang mendukung keberlanjutan dan perkembangan madrasah; 3) Pemimpin Rohani, kepala madrasah berperan sebagai pemimpin rohani yang memberikan inspirasi dan dukungan moral bagi staf dan siswa. Mereka sering membimbing dalam hal nilai-nilai Islam, etika, dan moralitas; 4) Koordinator Program Ekstrakurikuler, untuk memastikan pengembangan siswa secara menyeluruh, kepala madrasah dapat menjadi koordinator program ekstrakurikuler, termasuk kegiatan keagamaan, olahraga, dan seni; 5) Hubungan dengan Komunitas, kepala madrasah berperan dalam menjaga hubungan yang baik dengan komunitas lokal dan orang tua siswa. Ini mencakup komunikasi terkait program pembelajaran, perkembangan siswa dan kegiatan madrasah, 6) Inovator dan Pengembang, sebagai inovator, kepala madrasah mendorong penggunaan teknologi dan metode pembelajaran terkini; 7) Pengelolaan Konflik, kepala madrasah berperan dalam menangani dan meredakan konflik di antara guru, staf, siswa, atau orang tua; 8) Pengawasan Evaluasi dan Penilaian, kepala madrasah bertanggung jawab untuk memastikan bahwa proses evaluasi dan penilaian terhadap staf dan siswa dilakukan secara adil dan transparan; 9) Keamanan dan Keselamatan, memastikan keamanan dan keselamatan siswa, guru dan staf di lingkungan madrasah adalah tanggung jawab utama kepala madrasah; 10) Kepala Perencanaan dan Pengembangan, kepala madrasah terlibat dalam perencanaan jangka panjang dan pengembangan madrasah, termasuk strategi pertumbuhan dan peningkatan kualitas.
Peran kepala madrasah tidak hanya terletak pada fungsi administratifnya tetapi juga dalam membentuk visi, misi, dan budaya organisasi yang mendukung tujuan pendidikan Islam. Seorang kepala madrasah yang efektif dapat menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan memotivasi baik guru, staf maupun siswa untuk mencapai prestasi terbaik mereka. Dengan peran kepala madrasah yang mendukung, maka madrasah dapat menjadi lingkungan yang merangsang pertumbuhan spiritual dan moral peserta didik, serta membantu mereka menjadi individu yang berkontribusi positif pada masyarakat dengan landasan nilai-nilai Islami. Keadaan yang mencerminkan tantangan serius yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya dalam hal moralitas di kalangan pelajar dan mahasiswa. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan fenomena ini termasuk pengaruh budaya asing, pergaulan bebas, dan kurangnya penghargaan terhadap nilai-nilai tradisional, termasuk norma-norma keluarga.
Penguatan pendidikan karakter di madrasah memiliki peran yang sangat penting untuk membentuk siswa menjadi individu yang berintegritas, beretika, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter di madrasah membantu menanamkan landasan moral dan etika yang kuat pada peserta didik[14][15]. Hal ini penting untuk membentuk individu yang memiliki prinsip-prinsip moral yang benar dan etika yang baik sehingga sesuai dengan ajaran agama Islam. Madrasah bertanggung jawab membentuk akhlak mulia pada peserta didiknya. Dengan penguatan pendidikan karakter, siswa diajarkan untuk menjadi individu yang jujur, adil, sabar, dan penuh kasih sayang, sesuai dengan nilai-nilai Islam[16][17]. Pendidikan karakter juga membantu meningkatkan kesadaran sosial peserta didik terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat. Mereka diajarkan untuk peduli terhadap kebutuhan orang lain dan berkontribusi positif dalam membangun masyarakat.
Pengembangan karakter membantu dalam pembentukan kepemimpinan yang berbasis pada nilai-nilai keadilan, tanggung jawab, dan integritas. Pemimpin yang memiliki karakter baik cenderung lebih dihormati dan diikuti oleh orang lain. Pendidikan karakter tidak hanya tentang perilaku eksternal, tetapi juga melibatkan pemberdayaan pribadi. Peserta didik diajarkan untuk mengenali potensi dan kekuatan internal mereka untuk menghadapi tantangan hidup. Penguatan pendidikan karakter di madrasah bukan hanya menciptakan individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga membentuk kepribadian yang kuat dan bermoral sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini sangat penting dalam menciptakan generasi yang dapat memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan memperkuat nilai-nilai ke-Islaman di dalamnya.
Tujuan utama dari pendidikan karakter adalah untuk membangun bangsa yang berakhlakul karimah, bermoral, tangguh, toleransi dan bergotong royong. Dengan demikian, perlu diterapkan nilai-nilai pendidikan karakter di lembaga pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, Pancasila dan kebudayaan masyarakat.
Penelitian yang dilaksanakan di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo adalah fokus utamanya pada bagaimana peran kepala madrasah dalam pengembangan karakter siswa yang melalui langkah-langkah yang telah diterapkan oleh kepala MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo dengan menggalakkan kedisiplinan beragama di kalangan guru dan siswa melalui berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh madrasah, antara lain melaksanakan shalat dhuha berjamaah, pembacaan rotibul haddad, tausiah, shalat dhuhur berjamaah, serta berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran secara rutin setiap hari. Hal ini menunjukkan peran kepala madrasah dalam mengelola MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo sesuai dengan tujuan pendidikan dan visi misi madrasah.
Meskipun demikian, hasil observasi lapangan mengindikasikan bahwa sebagian siswa belum mematuhi budaya madrasah, melanggar aturan, diantaranya belum mengikuti shalat berjamaah. Selain itu, kurang dalam menjaga kebersihan dan kedisiplinan berpakaian juga menjadi perhatian.
Sebagai pemimpin utama di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo, kepala madrasah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Dengan visi yang kuat dan dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan karakter, kepala madrasah berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai agama, kearifan lokal, dan aspek-aspek positif dalam perkembangan pribadi siswa.
Oleh karena itu, langkah penting dalam mengembangkan budaya keagamaan dan menanamkan sifat keagamaan di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo dimulai dari kepala madrasah. Karena kepala madrasah sebagai teladan yang memberikan contoh bagi seluruh komunitas madrasah, termasuk guru, tenaga kependidikan lainnya, staf, dan masyarakat di sekitar, demi terciptanya lingkungan yang kental dengan nuansa keagamaan.
Dari uraian diatas maka penelitian ini mengangkat judul “Peran Kepala Madrasah dalam Pengembangan Karakter Siswa di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo” dengan tujuan utamanya adalah untuk mendeskripsikan: (1) Peran Kepala Madrasah dalam pengembangan karakter siswa di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo; (2) Hasil dari Pengembangan Karakter Siswa di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo.
Metode dalam pengkajian penelitian ini mengenai kepemimpinan dan peran kepala madrasah dalam pengembangan karakter merupakan pendekatan deskriptif, khususnya dalam bentuk studi kasus. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian dengan bertujuan untuk mendalami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan faktor-faktor lainnya[18]. Pendekatan ini bersifat holistik dan dilakukan melalui deskripsi secara verbal dalam bentuk perkataan dan bahasa, terutama dalam konteks khusus yang alamiah. Penelitian ini menggunakan berbagai metode ilmiah untuk menyelidiki dan memahami aspek-aspek yang kompleks dari fenomena yang diteliti.[19].
Data penelitian ini dihimpun dari berbagai metode, diantaranya adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi[20]. Observasi dilakukan untuk mencatat pola perilaku subyek, baik itu guru, staf pimpinan madrasah, atau siswa, dalam konteks pelaksanaan kerja dan hasil kerja. Wawancara dilakukan secara langsung antara peneliti dan responden untuk mendapatkan informasi lisan yang menjelaskan permasalahan penelitian. Studi dokumentasi melibatkan pengamatan dengan dokumen yang terkait dengan topik penelitian, termasuk arsip dan dokumen histori[21][22].
Analisis data penelitian mengacu pada model Milles dan Huberman, seperti reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Pada tahap-tahap awal, fokus penelitian masih umum dan luas, namun seiring waktu, observasi yang terstruktur digunakan agar didapatkan data yang spesifik.[23][24].
Kepala madrasah bukan hanya sekedar seorang administrator, tetapi juga pemimpin spiritual yang memimpin dengan teladan dalam kehidupan beragama. Dalam setiap tindakan dan keputusan, mereka mencerminkan nilai-nilai etika Islam dan memberikan inspirasi kepada seluruh warga madrasah, termasuk siswa, untuk mengikuti jejak yang benar. Salah satu peran utama kepala madrasah adalah merancang dan mengimplementasikan program pendidikan karakter yang holistik. Bekerja sama dengan tim pengajar untuk mengintegrasikan nilai karakter tersebut pada kurikulum dan kegiatan di madrasah ataupun di rumah. Program ini dirancang untuk membantu siswa tidak hanya dalam mencapai keunggulan akademis tetapi juga dalam membentuk kepribadian yang kuat, berintegritas, dan bertanggung jawab. Kepala madrasah juga menjadi peran kunci dalam membina etos kerja dan kedisiplinan di kalangan siswa. Dengan memberikan pedoman yang jelas dan mendukung guru dalam menegakkan aturan, mereka menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran dan perkembangan karakter yang positif. Kedisiplinan yang diterapkan tidak hanya bersifat otoriter tetapi juga didasarkan pada pemahaman dan pembelajaran.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala MTs Tarbiyatus Shibyan, Bapak Chumaidi, S.Pd. terdapat beberapa peran utama dalam pengembangan karakter siswa, sebagaimana diungkapkan dalam pernyataannya :
“ Kepala madrasah memiliki tanggung jawab penuh dalam merumuskan dan menentukan kebijakan terkait konsep dan tujuan pengembangan karakter siswa. Yang di dalamnya mencakup nilai-nilai religius, disiplin dan tanggung jawab, serta norma-norma yang diinginkan sesuai dengan visi misi madrasah, kebijakan yang telah ditetapkan kemudian diimplementasikan”.
Selain dari itu, kepala madrasah perlu memastikan konsistensi dalam penerapan kebijakan pengembangan karakter. Ini mencakup pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan dan penyesuaian kebijakan jika diperlukan. Sesuai dengan hasil wawancara dengan guru Fikih yaitu Bapak M. Zainuddin Romli, S.Pd. :
“Guru-guru di sini diperintah dan dijadwal oleh kepala madrasah setiap hari secara bergantian untuk menjadi imam pada kegiatan sholat dhuha dan pembacaan rotibul haddad, setelah itu wajib memberikan tausiah kepada siswa sebelum masuk kelas, kemudian dilanjutkan dengan sholat dhuhur berjamaah, selain itu juga diwajibkan memimpin siswa untuk melaksanakan dan menjaga kebersihan madrasah”.
Seiring dengan hal tersebut, hasil wawancara dengan Ketua Yayasan Tarbiyatus yakni K. Hasyim Asy’ari S.Pd.I beliau mengemukakan bahwa :
“Alhamdulillah kepala MTs yayasan ini amanah dalam melaksanakan tugasnya, beliau sangat serius dalam mengembangkan karakter siswa agar mereka menjadi siswa yang memiliki akhlakul karimah, bertanggung jawab, sejalan dengan apa telah pengurus yayasan konsep, beliau juga aktif dalam mensosialisasikan pada siswa, guru, pada forum pertemuan dengan wali murid, serta selalu selalu memantau kegiatan yang dilaksanakan dan mengevaluasi pada setiap bulannya”.
Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran Kepala MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo sangat signifikan dalam pembentukan karakter siswa. Berikut adalah poin-poin yang dapat disimpulkan dari peran kepala madrasah:
a. Bertanggung Jawab dalam Pengelolaan Madrasah:
Kepala madrasah bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap pengelolaan madrasah, termasuk pengambilan keputusan strategis terkait pendidikan dan karakter peserta didik.
b. Keserasian Keputusan dan Konsep dengan MTs Tarbiyatus Shibyan :
Keputusan-keputusan dan konsep-konsep yang diambil oleh Kepala Madrasah memiliki keserasian dengan nilai-nilai dan identitas madrasah, seperti yang terlihat dalam konsistensi dengan MTs Tarbiyatus Shibyan .
c. Merumuskan Konsep Karakter:
Kepala madrasah memiliki peran dalam merumuskan konsep karakter yang akan ditanamkan kepada peserta didik. Dalam hal ini, konsep karakter yang diutamakan adalah religius, disiplin, dan tanggung jawab.
d. Sosialisasi dan Peningkatan Karakter:
Kepala madrasah aktif dalam melakukan sosialisasi dan peningkatan terkait karakter religius, disiplin dan tanggung jawab. Hal ini dapat melibatkan penyampaian pengarahan dalam berbagai forum dan kegiatan madrasah yang dijadwalkan.
e. Forum atau Kegiatan Terjadwal:
Kepala madrasah menggunakan forum atau kegiatan yang telah dijadwalkan untuk menyampaikan arahan dan informasi terkait karakter religius, disiplin dan tanggung jawab kepada seluruh komunitas madrasah.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa Kepala MTs Tarbiyatus Shibyan memiliki peran utama dalam membentuk karakter peserta didik dengan menetapkan konsep karakter, melakukan sosialisasi, dan memberikan arahan secara terjadwal pada berbagai forum atau kegiatan di madrasah. Hal ini mencerminkan komitmen kepala madrasah terhadap pembentukan karakter religius, disiplin dan tanggung jawab di lingkungan lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
Proses pembentukan dan pengembangan nilai-nilai moral, etika, dan kepribadian yang baik pada individu. Pendidikan karakter dimulai dengan pemahaman akan pentingnya memiliki nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Metode-metode pendidikan karakter dapat bervariasi, tetapi seringkali melibatkan pendekatan yang holistik, mencakup pembelajaran formal dan informal. Pembelajaran formal dapat terjadi melalui kurikulum sekolah yang menyertakan materi tentang nilai-nilai moral, diskusi, role-playing, dan kegiatan lainnya. Sementara itu, pembelajaran informal dapat terjadi melalui contoh yang diberikan oleh orang tua, guru, dan figur otoritas lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Dampak dari pendidikan karakter dapat sangat luas, termasuk pembentukan individu yang lebih sadar akan tanggung jawab mereka terhadap diri sendiri dan masyarakat, peningkatan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis, dan kontribusi positif terhadap perkembangan sosial dan ekonomi suatu negara.
Pengembangan karakter peserta didik merupakan aspek penting dalam keberhasilan pendidikan. Pendidikan bukan hanya berfokus pada pemberian kemampuan akademis, tetapi juga bertujuan menjadikan pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Karakter yang baik dapat mencakup berbagai aspek seperti religius, disiplin, dan tanggung jawab. Di MTs Tarbiyatus Shibyan memiliki filosofi dan pendekatan tersendiri dalam pegembangan karakter siswa. Hal ini mencerminkan nilai-nilai inti, visi dan misi lembaga di MTs Tarbiyatus Shibyan yang memiliki ciri khas tersendiri dalam pengembangan karakter siswa, ciri khas tersebut terlihat dari beberapa karakter yang telah diterapkan pada siswa-siswanya, seperti hasil wawancara dengan Kepala MTs Tarbiyatus Shibyan yaitu Bapak Chumaidi, S.Pd. beliau mengemukakan bahwa:
”Ini merupakan implementasi dari visi misi madrasah, dengan tujuan agar dapat mengembangkan karakter pada siswa, yang menunjukkan komitmen lembaga dalam mengembangkan aspek moral dan kepribadian siswa. Penanaman karakter tersebut diantaranya adalah siswa dilatih menjadi insan yang religius, disiplin dan tepat waktu melaksanakan sholat dhuha berjamaah pada jam 06.30 pagi, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan rotibul haddad dan tausiah, serta melaksanakan sholat dhuhur berjamaah setiap hari. Selain itu siswa dilatih untuk bergotong-royong seperti membersihkan lingkungan madrasah dan tempat-tempat umum lainnya”.
Selain itu, hasil wawancara dengan guru Bahasa Arab yaitu Bapak M. Rasyidi, S.Pd.I beliau menyampaikan:
“Budaya yang ada diterapkan di MTs Tarbiyatus Shibyan adalah budaya pesantren, mereka dibiasakan dengan kegiatan-kegitan yang religius atau selalu menjaga akhlakul karimah, disiplin, serta menjaga asas kebersamaan dalam kegiatan di madrasah. Karakter yang telah termuat pada visi misi MTs Tarbiyatus Shibyan memiliki keserasian dengan kultur dan budaya pondok pesantren”.
Seiring dengan wawancara tersebut di atas, peneliti juga mewawancarai siswa MTs Tarbiyatus Shibyan M. Luthfy Fadly yang menyampaikan bahwa:
“Semua siswa wajib melaksanakan sholat dhuha, membaca rotibul haddad, mengikuti tausiah dan sholat dhuhur berjamaah setiap hari, apabila ada yang telat dan tidak mengikuti kegiatan, maka diwajibkan melaksanakan kebersihan lingkungan madrasah”.
Dari berbagai pendapat tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa karakter yang ditanamkan pada siswa di MTs Tarbiyatus Shibyan adalah sebagai berikut :
1. Karakter religius, yaitu siswa dibiasakan melaksanakan sholat dhuha, membaca rotibul
haddad, mengikuti tausiah serta sholat dhuhur berjamaah.
2. Karakter Disiplin, yaitu wajib melaksanakan semua kegiatan tersebut secara rutin setiap
hari.
3. Karakter Tanggung jawab, yaitu bagi siswa yang terlambat datang dan tidak mengikuti semua kegiatan tersebut, maka mereka secara sadar akan melaksanakan kegiatan untuk membersihkan lingkungan yang ada di sekitar.
Kesimpulan dari penelitian yang dilaksanakan di MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan mencakup peran kepala madrasah dalam pengembangan karakter, karakter-karakter yang ditanamkan pada siswa. Selain itu, perlunya pemberian motivasi kepada tenaga pendidik untuk meningkatkan kualitas metode-metode pembelajaran dengan menanamkan nilai-nilai karakter dalam setiap proses pembelajaran. Diantaranya adalah sebagai berikut : 1). Pelibatan orang tua dalam kegiatan pendidikan karakter, pelatihan khusus untuk guru dalam mengimplementasikan metode pembelajaran karakter, atau pengembangan program khusus; 2). Pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk generasi yang memiliki nilai-nilai positif dan berkontribusi positif bagi masyarakat; 3). Menekankan urgensi peningkatan metode pengajaran dengan penanaman nilai-nilai karakter; 4) Melibatkan pihak-pihak terkait seperti komite sekolah, dewan guru, dan masyarakat dalam mendukung upaya pengembangan karakter di lingkungan pendidikan tersebut.
Syukur alhamdulillah atas selesainya penelitian ini , Saya ucapkan terimakasih kepada :
(1) Seluruh Dosen dan Staff Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang selalu memberikan motivasi serta dukungan selesainya penelitian ini.
(2) Kepala MTs Tarbiyatus Shibyan Guyangan Krucil Probolinggo
(3) Semua dewan guru baik yang menjadi informan serta para staf MTs Tarbiyatus Shibya Guyangan Krucil Probolinggo yang telah mendukung atas terselesainya penelitian ini.
(4) Teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan motivasi serta dukungan terselesainya penelitian ini.
G. Santoso, A. A. Karim, B. Maftuh, and M. Murod, “Kajian integrasi nasional dalam NKRI tidak dapat diubah dan Sumpah Pemuda Indonesia abad 21,” Jurnal Pendidikan Transformatif (Jupetra), vol. 2, no. 1, pp. 270–283, 2023.
A. F. Djollong, “Peran guru pendidikan agama Islam dalam penanaman nilai-nilai toleransi antar umat beragama peserta didik untuk mewujudkan kerukunan,” Al-Ibrah, vol. 8, no. 1, pp. 72–92, 2019.
M. Sari and M. Haris, “Penanaman nilai-nilai agama Islam dalam pembentukan karakter dan etika siswa di tingkat sekolah dasar,” Islamic Education Journal, vol. 1, no. 1, pp. 54–71, 2023. [Online]. Available: https://ejournal.stai-alkifayahriau.ac.id/index.php/almujahadah/article/view/230/48
E. Suryanto, “Model pendidikan budi pekerti berbasis cerita anak untuk penanaman nilai etis-spiritual,” Litera, vol. 12, no. 2, pp. 235–245, 2014, doi: 10.21831/ltr.v12i02.1581.
P. T. Rezekiah, I. Safitri, and R. D. Harahap, “Analisis nilai-nilai karakter mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika,” Cendekia, vol. 6, no. 2, pp. 1251–1267, 2022.
T. Izma and V. Y. Kesuma, “Peran pendidikan kewarganegaraan dalam membangun karakter bangsa,” Wahana Didaktika: Jurnal Ilmu Kependidikan, vol. 17, no. 1, p. 84, 2019, doi: 10.31851/wahanadidaktika.v17i1.2419.
S. O. Lestari and H. Kurnia, “Peran pendidikan Pancasila dalam pembentukan karakter,” Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 5, no. 1, p. 25, 2022, doi: 10.12928/citizenship.v5i2.23179.
H. Jamin, “Upaya meningkatkan kompetensi profesional guru,” At-Ta’dib, vol. 10, no. 1, pp. 19–36, 2018.
R. Z. Gunawan, U. Fatma, and U. Najicha, “Peran pendidikan kewarganegaraan dalam membangun karakter moral pelajar di era modern,” Jurnal Kewarganegaraan, vol. 6, no. 1, pp. 422–427, 2022.
M. H. Lau, “Peran kepala sekolah dalam pembinaan karakter siswa di SMAK Gabriel Wanibesak,” PENSOS: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Pendidikan Sosiologi, vol. 2, no. 1, pp. 39–48, 2024, doi: 10.59098/pensos.v2i1.1530.
D. Mahanani, M. Mustari, E. Kurniawansyah, and B. Alqadri, “Peran kepala sekolah dan guru PPKn dalam implementasi karakter disiplin siswa di SMPN 1 Kuripan,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 8, no. 2, p. 3, 2023.
U. D. Ajeng Lara Sati, Marhamah, and Nurhot, “Representasi nilai Pancasila dalam kehidupan berbudaya,” vol. 1, no. 2, p. 6, 2021.
Y. Setyaningrum, R. Rais, and E. S. Setianingsih, “Peran guru kelas dalam pembentukan karakter disiplin pada siswa,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru, vol. 3, no. 3, p. 520, 2020, doi: 10.23887/jippg.v3i3.29752.
M. Kholik, M. Mujahidin, and A. A. Munif, “Menanamkan nilai-nilai akhlak dalam pergaulan siswa di lingkungan madrasah,” Ngaos: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 2, no. 1, pp. 54–65, 2024, doi: 10.59373/ngaos.v2i1.12.
H. K. Astuti, “Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai ibadah di Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Polorejo Babadan Ponorogo,” MA’ALIM: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 3, no. 2, pp. 187–200, 2022, doi: 10.21154/maalim.v3i2.4891.
I. Irwanto, S. Susrianingsih, H. Habibi, and A. Ardat, “Manajemen lembaga pendidikan Islam di madrasah: Analisis tentang model dan implementasinya,” Fitrah: Journal of Islamic Education, vol. 4, no. 1, pp. 162–174, 2023, doi: 10.53802/fitrah.v4i1.396.
A. Mawardi, “Edukasi pendidikan agama Islam dalam pemanfaatan sumber-sumber elektronik pada siswa madrasah ibtidaiyah,” Journal of Education, vol. 6, no. 1, pp. 8566–8576, 2023. [Online]. Available: https://www.jonedu.org/index.php/joe/article/view/4290
N. W. A. Rusitayanti, N. W. Ariawati, N. L. P. Indrawathi, and N. L. G. Widiantari, “Faktor-faktor kesulitan mahasiswa menyusun skripsi pada Prodi Penjaskesrek FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia di era adaptasi kebiasaan baru tahun 2021,” Jurnal Administrasi Pendidikan Indonesia, vol. 12, no. 2, pp. 138–148, 2021.
O. A. Ulfah, “Pengaruh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor terhadap hasil belajar peserta didik,” Al-Amar, vol. 2, no. 1, pp. 1–9, 2021.
D. Ardiansyah and B. Basuki, “Pencegahan radikalisme melalui implementasi moderasi beragama dalam perspektif Piagam Madinah,” Fahima, vol. 2, no. 2, pp. 117–128, 2023, doi: 10.54622/fahima.v2i2.103.
M. Imran, R. Ilato, F. H. Yulia, M. Panigoro, A. Ardianyah, and S. Sudirman, “Pengaruh pengajaran remedial terhadap pencapaian kriteria ketuntasan minimal pada mata pelajaran IPS terpadu,” Journal of Economic and Business Education, vol. 1, no. 3, pp. 111–122, 2023, doi: 10.37479/jebe.v1i3.20332.
D. Aldridge, “The Qualitative Researcher’s Companion review: Michael Huberman & Matthew B. Miles (Eds.) (2002),” Forum Qualitative Sozialforschung / Forum: Qualitative Social Research, vol. 3, no. 4, p. 410, 2002.
E. Nurhidin, “Peran guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kualitas literasi membaca Quran siswa sekolah menengah atas,” Edudeena, vol. 6, no. 1, pp. 1–11, 2022.
I. Sri Annisa and E. Mailani, “Analisis faktor penyebab kesulitan siswa dalam pembelajaran tematik,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 3, no. 2, pp. 6469–6477, 2023. [Online]. Available: https://j-innovative.org/index.php/Innovative