Soebiartika Raden (1), Istikomah (2)
General Background Shaping the image and educational quality of schools requires strategic communication and public relations initiatives to build positive community perceptions and strong institutional relationships. Specific Background This research investigates the implementation of public relations management in planning, executing, and evaluating work programs to elevate school quality and community participation at PG/TK ABA Wage Sidoarjo. Knowledge Gap Previous literature lacks detailed qualitative analysis on how newly established public relations divisions in Islamic kindergarten institutions utilize collaborative community programs such as local health posyandu partnerships alongside digital media publications to drive institutional quality. Aims The aim of this research is to analyze how public relations management plans, implements, and evaluates the success of its programs in helping improve the quality of PG/TK ABA Wage Sidoarjo. Results The qualitative findings demonstrate that establishing a public relations division brings positive changes to school governance, including improved SOP compliance, increased community interest and enrollment, and enhanced public participation, backed by positive satisfaction ratings from guardians. Novelty The integration of community-based health center collaborations with structured administrative planning provides a unique framework for kindergarten branding and quality assurance. Implications These findings indicate that structured public relations management serves as an essential bridge between educational institutions and the community to secure institutional growth and stakeholder satisfaction.
Public relations programs utilize structural planning, digital media publications, and cooperative community partnerships to build positive institutional branding.
Stakeholder feedback surveys indicate high levels of parental satisfaction regarding curriculum delivery, learning methods, and school transparency.
Collaborative community initiatives successfully generate favorable public perception, higher enrollment rates, and active parental engagement.
Keywords: Public Relations Management, School Quality, Kindergarten Education, Implementation Strategy, Stakeholder Satisfaction
Sekolah merupakan tempat untuk membentuk keseimbangan antara nilai dan karakter siswa dalam proses pelaksanaan pembelajaran di sekolah baik di negeri ataupun swasta. Masing-masing sekolah berupaya untuk menunjukkan mutu sekolahnyalah yang terbaik. Hal ini menyebabkan tingkat persaingan cukup ketat antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Untuk itu maka sekolah dituntut bisa melakukan berbagai upaya inovasi dan kreasi dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi siswa-siswinya. Program dan kegiatan pendidikan yang dijalankan di setiap aspeknya harus mengutamakan bagaimana melakukan pengembangan dan pembentukan karakter siswa. Dan program kegiatan pendidikan yang dilakukan harus dapat menunjukkan kepada masyarakat sebagai produk dari sebuah sekolah yang memiliki mutu yang baik, sebab pendidikan yang akan dijalani oleh suatu masyarakat akan menentukan baik dan buruknya peradaban dari masyarakat itu sendiri [1].
Meningkatkan mutu pendidikan di sebuah sekolah di jaman globalisasi ini adalah sebuah keniscayaan. Semua pihak dituntut untuk meningkatkan kompetensinya pada semua aspek kehidupan untuk menghadapi persaingan. Mutu pendidikan yang dihasilkan dari sebuah sekolah akan dinilai oleh masyarakat, dengan melihat bagaimana tingkat kepuasan masyarakat termasuk stake holder sebagai konsumen dari layanan sekolah tersebut. Untuk itulah, meningkatkan mutu pendidikan sangat penting untuk dilakukan secara berkesinambungan dalam membangun karakter bangsa. Mutu merupakan keunggulan suatu produk baik barang maupun jasa yang dapat memenuhi harapan atau ekspektasi dari pelanggan [2] Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam konsep kualitas atau mutu yaitu; 1) sesuai ekspektasi pelanggan, 2) produk dan kepuasan layanan, 3) bergerak dinamis dalam rangka memenuhi ekspekstasi pelanggan [3]. Kualitas mutu pendidikan akan sangat baik ketika didukung oleh komponen pendidikan yang dikelola dengan baik. Komponen pendidikan meliputi terdiri input, proces dan output. Menurut Salis, sekolah yang bermutu adalah sekolah dengan karakteristik seperti : 1) punya nilai moral dan karakter positif yang tinggi, 2) menghasilkan prestasi-prestasi unggul sesuai dengan harapan, 3) mendapat dukungan dari berbagai stake holders, memiliki sumber daya yang memadai, 4) bertehnologi yang kreatif dan inovatif, 6) punya pemimpin yang visioner, 7) punya sistem yang membentuk rasa kepedulian tinggi terhadap siswa, 8) memiliki kurikulum yang relevan dengan perkembangan jaman [4]. Sekolah yang memiliki input dan output yang bermutu mulai dari jenjang TK sampai perguruan tinggipun tentu tidak datang dan muncul dengan sendiri, sehingga setiap sekolah harus ada yang namanya penjamin mutu, baik internal ataupun eksternal [5]. Penjamin mutu dari internal sekolah dapat dilakukan langsung oleh sekolah itu sendiri, dengan cara selalu mengevaluasi diri, sedangkan penjamin mutu eksternal atau pihak luar pada sebuah sekolah dilakukan oleh sebuah sistim yang kita kenal dengan istilah akreditasi.
Sekolah yang bermutu tentu membutuhkan bagian yang mampu mengkomunikasikan dan menginformasikan kepada masyarakat umum bahwa sekolah tersebut memiliki input dan output yang bermutu. Bagian yang selalu kontinyu dan terus menerus memberikan informasi tentang mutu sekolah tersebut kepada masyarakat inilah yang kita sebut sebagai Humas/Public Relation. Jadi humas punya peran untuk mengkomunikasikan atau menginformasikan produk layanan dari sebuah lembaga kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa mengetahui semua keunggulan produk yang dimiliki dari sebuah lembaga [6]. Dengan demikian adanya manajemen humas sangat penting bagi keberlangsungan sebuah lembaga. Manajemen humas merupakan manajemen yang mengelola seluruh rangkaian kegiatan sedemikian rupa yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam rangka menciptakan komunikasi antara sebuah lembaga dengan seluruh lapisan masyarakat sekitarnya. [7] Hal ini berarti manajemen humas harus berupaya membuat program kerja yang mampu menginformasikan serangkaian kegiatan atau program kerja lembaga secara berkesinambungan dan terus menerus agar terbentuk kesan/citra yang baik dari lembaga tersebut kepada masyarakat sehingga masyarakat beranggapan bahwa lembaga itu punya mutu yang baik. Benyamin Franklin menyebutkan ”dibutuhkan banyak activitas dan perilaku yang baik agar terbentuk sebuah citra yang baik, namun cukup dengan satu tindakan tercela, maka kita akan kehilangan citra baik tersebut [8]. Untuk itulah dibutuhkan berbagai program dari manjemen humas sekolah yang mengatur dan selalu mengupayakan terbentuknya citra baik bagi sekolah. Berbagai program manajemen humas dalam menciptakan kesan sebuah sekolah dengan mutu yang baik, punya peran yang sangat besar, terutama menghadapi persaingan di sekolah swasta yang semakin meningkat tajam [7].
Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa manajemen humas merupakan bidang yang diperlukan oleh setiap lembaga baik yang bersifat komersial (perusahaan) maupun non komersial seperti lembaga pendidikan, sehingga perlu selalu dilakukan evaluasi dan analisa dari setiap program humas yang telah berjalan, baik menyangkut proses maupun hasil akhir[9]. Sedangkan penelitian lainnya menyimpulkan bahwa manajemen humas dapat membangun nama baik sekolah walau tingkat persaingannya sangat ketat, namun masih dapat dilakukan dengan membuat perencanaan program yang strategis yang nantinya diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kehumasan yang bekerjasama dengan seluruh elemen sekolah [10]. Bekerjasama dengan semua elemen atinya membangun sebuah relasi atau net working. Penelitian terkait hail ini menyebutkan betapa pentingnya humas membangun relasi atau net working, untuk mempertahankan hubungan komunikasi yang harmonis kepada semua pihak yang berkepentingan sehingga dengan komunikasi yang harmonis maka semua yang menjadi program sekolah dan segala fasilitas dan kualitas layanan sekolah akan dapat diinformasikan secara baik kepada semua pihak terutama masyarakat yang menjadi sasaran segmen pasar sekolah tersebut [11]. Sedangkan hasil penelitian lainnya dari Fifin Priandono dari Universitas Nurul Jadid Probolinggo dengan Judul “Manajemen Humas Dalam Upaya Pencitraan Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan” menyimpulkan bahwa peran humas sangatlah penting dalam membangun dan menginformasikan citra positif dan kualitas sekolah, sebab sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi sebagai mitra kerja keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan tugas untuk membentuk warga masyarakat sebagaimana yang diinginkan [12]. Hubungan masyarakat dan sekolah dibidang pendidikan harus diartikan sebagai rangkaian kegiatan organisasi atau mitra kerja dalam rangka mensukseskan proses pendidikan dan pengajaran sehingga tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, maka adanya manajemen humas benar-benar mampu dijadikan sebagai alat untuk membantu lembaga dalam membangun citra dan relasi atau net working terutama dengan pihak di luar lembaga sekolah, dan memberikan segala informasi tentang lembaga pendidikan ini sebagai sebuah sekolah yang berkualitas baik.
Keberhasilan sebuah program kegiatan manajemen humas dalam membantu menciptakan kesan sebuah lembaga sekolah sebagai sekolah bermutu, akan sangat bergantung pada pengelolaan manajerialnya[13]. Pengelolaan manajerial yang baik juga dapat membantu tercapainya keberhasilan sebuah program kegiatan sesuai dengan visi dan misinya[14]. Demikian pula keberhasilan mengelola humas sebuah sekolah, sama halnya seperti mengelola bagian humas dari sebuah lembaga komersial lainnya. Dibutuhkan fungsi manajemen ketika akan menyusun program kerja humas. George F. Terry menyebutkan teori fungsi mamanajemen yang dapat digunakan adalah POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling). Planing atau merencanakan, artinya Waka Humas harus menyusun terlebih dahulu apa saja program kerja yang akan dijalankan selama setahun ke depan, apa target yang akan dicapai, selanjutnya menentukan strategi apa yang akan digunakan dalam menjalankan program tersebut, kapan waktunya, siapa saja yang harus menjalankan, berapa besaran biaya yang dibutuhkan, apa media yang akan digunakannya. Setelah penyusunan rencana kerja beserta strategi yang akan digunakan dalam menjalankannya, maka program itu harus segera direalisasikan (Actuating). Ketika program kerja sudah dijalankan, Waka humas wajib melakukan pengawasan (Controlling) atas program yang sedang dijalankan. Memastikan berjalan sesuai SOP dan ketentuan lainnya. Dan, terakhir Waka humas harus melakukan evaluasi atau (Evaluating) terhadap pelaksanaan program kerja yang telah dilakukan. Penilaian dan analisa harus dilakukan terkait apakah target dan tujuan yang diharapkan sudah tercapai. Jika belum tercapai, dianalisa apa yang menjadi penyebab sehingga target dan tujuan belum terpenuhi.
Jika umumnya penelitian terkait humas lebih banyak dilakukan di sekolah formal atau perusahaan yang lebih banyak mengandalkan teknologi digital, maka program manajemen humas di sekolah ini tidak hanya mengandalkan teknologi digital saja. Ada beberapa terobosan program baru dengan membentuk mitra kerjasama dengan posyandu-posyandu dari tiap-tiap RT (rukun tetangga) yang wilayahnya masih satu kawasan kecamatan dengan sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo. Program seperti ini masih sangat jarang dilakukan oleh sekolah PG/TK lainnya. Program ini bertujuan agar masyarakat sekitar sekolah bisa ikut berperan serta dalam memajukan dunia pendidikan. Partisipasi dan peran serta masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan memang masih sangat minim dan bukan hal yang cukup mudah. Harapannya, dengan hadirnya humas dalam sebuah sekolah dapat memudahkan masyarakat untuk ikut berperan memajukan mutu sebuah pendidikan. Hal inilah yang menarik minat peneliti untuk menganalisa sejauh mana implementasi dari program manajemen humas mampu meningkatkan mutu sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo. Contoh program humas lainnya yang telah dilakukan PG/TK ABA Wage Sidoarjo antara lain membuat publikasi dan promosi secara luas dan menyeluruh tentang seluruh kegiatan dan hal-hal yang dilakukan sekolah dengan intens dan terstruktur, memberikan edukasi dan penerangan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana input dan ouput yang berkualitas yang dimiliki oleh sekolah ini. Publikasi dan promosi dapat disampaikan atau dilaksanakan dengan menggunakan berbagai media, baik media cetak seperti membuat banner dan spanduk sekolah, publikasi lewat media sosial seperti yang lagi booming saat ini semisal publikasi dan promosi melalui instagram, youtube, twitter, tiktok, whats up, dan telegram.
Berdasarkan atas paparan di atas, maka fokus penelitian kali ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa hal-hal yang terkait: a. Mengetahui bagaimana Humas di sekolah PG/TK ABAWage sebelum dan sesudah adanya divisi manajemen humas. b. Mengetahui implementasi manajemen humas dalam membentuk dan memasyarakatkan school branding untuk membantu meningkatkan mutu pada Sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo. c. Mengetahui hasil dan dampak dari implementasi manajemen Humas dalam menciptakan school branding pada Sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mencari, menganalisis dan mengelola informasi data yang berkaitan dengan implementasi program manajemen humas dalam meningkatkan mutu sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo yang berdampak pada kepuasan wali murid secara langsung di lapangan. Subyek dalam penelitian ini sebagai sumber informasi adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, mantan kepala sekolah periode 1dan 2, beserta wali murid murid sebagai pihak pengguna jasa dari produk sekolah PG/TK ABA ini. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui survei kepuasan pelanggan yang dilakukan oleh peneliti dengan memberikan link bitly kepada beberapa wali murid serta wawancara dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah. Data sekunder pada penelitian ini digunakan untuk melengkapi informasi data yang diperoleh seperti foto kegiatan sekolah yang berkaitan dengan program manajemen humas, foto jenis publikasi dan promosi yang telah dilakukan sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada kepala dan wakil kepala sekolah, serta wali murid. Observasi dilakukan secara langsung di sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo. Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai kegiatan humas. Untuk tehnik pengumpulan data di lapangan, peneliti menggunakan tehnik observasi lapangan, wawancara dengan Kepala Sekolah, Waka Humas, Waka Kurikulum, Waka Sarpras dan wali muri dari TK ABA Wage Sidoarjo untuk menggali informasi terkait implementasi program humas dalam upayanya meningkatkan mutu sekolah. Jadi sumber informasi yang didapatkan bisa lebih akurat. Hasil dari umpan balik berupa saran dan masukan wali murid TK ABA Wage Sidoarjo lewat bitly akan menjadi bekal dari semua pihak yang terkait dan berwenang di TK ABA Wage Sidoarjo untuk meningkatkan mutu sekolah ini. Data ini yang dianalisa oleh semua manajemen terutama humas yang membuat program teaser kepuasan dan harapan wali murid terhadap mutu dan pelayanan sekolah. Untuk analisis data, penulis menggunakan analisis data Miles dan Huberman yakni melakukan analisa yang mendalam terhadap temuan-temuan dilapangan secara interaktif dan terus menerus, kemudian melakukan reduksi data dan tahap selanjutnya dipilih sesuai dengan fokus penelitiannya, dan penyajian datanya adalah kegiatan penyampaian informasi dalam bentuk teks naratif deskriptif yang dapat diperjelas dengan gambar, tabel atau grafik. Untuk mengecek keabsahan data yang telah diperoleh peneliti menggunakan tehnik triangulasi sumber data yakni melakukan penggalian kebenaran informasi dengan memakai berbagai sumber data yang didapat seperti , dokumen, arsip, hasil obsrvasi dan wawancara lebih dari satu subyek yang dianggap punya sudut pandang yang berbeda.
Manajemen humas PG/TK ABA Wage Sidoarjo, terhitung sebagai divisi manajemen yang baru bagi sekolah ini, sehingga manajemen Humas digabung dengan Manajemen Kesiswaan, dengan satu orang yang membawahinya sebagai Kaur (Kepala Urusan) yang merupakan wakil dari Kepala Sekolah yang membidangi Humas dan Kesiswaan. Sebagai sebuah bagian manajemen yang baru, tentu saja ada banyak hal perubahan yang signifikan dari ada dan tidak adanya manajemen humas. Perbedaan tersebut terlihat dari beberapa hal antara laian:
Tablel 1. Perbedaan implementasi sebelum dan sesudah adanya manjemen humas
Setelah adanya Manajemen Humas, tugas Kepala Sekolah relatif lebih mudah karena telah ada bidang khusus yang memikirkan, mengatur dan menyusun program kerja promosi dan komunikasi dengan pihak luar. Humas punya tugas dan peran melakukan berbagai program kegiatan yang dapat membentuk persepsi atau anggapan serta memelihara sikap dan tanggapan yang baik terhadap keberadaan sebuah lembaga dengan segala aktifitasnya [15] . Adapun tugas dan tanggung jawab dari Kaur Humas di PG/TK ABA Wage Sidoarjo antara lain membantu Kepala Sekolah dalam hal koordinasi dan komunikasi dengan pihak luar sekolah 5 terkait 1) Menyusun program kehumasan. 2) Mempersiapkan fasilitas jika ada kegiatan dengan pihak orang tua atau pihak luar. 3) Melayani pihak yang berkepentingan dengan sekolah. 3) Sebagai kordinator untuk kegiatan dengan pihak luar sekolah. 4) Melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh kepala sekolah. Dalam mengimplementasikan berbagai program kegiatan humas, salah satu strategi yang digunakan adalah melakukan komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh elemen sekolah meliputi, kepala sekolah, guru, komite sekolah dan murid, yang diimplementasikan ke dalam berbagai bentuk kegiatan sekolah yang selalu di-record yang setelahnya akan diunggah ke dalam medsos dan membuat banner ucapan selamat dan terima kasih atas dukungan semua pihak dengan terselenggaranya kegiatan tersebut.
Berikut ini juga adalah hasil penelitian terhadap gambaran implementasi program manajemen humas sekolah PG/TK ABA Wage dalam upayanya membantu meningkatkan mutu sekolah berdasarkan hasil temuan peneliti.
a. Perencanaan (Planning) Program Kerja Manajemen Humas.
Dalam teori ilmu manajemen, ketika kita hendak melakukan sesuatu sebaiknya direncanakan dengan matang, terstrutur dan terorganisir dengan baik. Dalam teori prinsip manajemen George F.Terry dipakai istilah POAC (Planing, Organizing, Actuating dan controlling). Sukses tidaknya sebuah organisasi sangat bergantung pada pengelolaan atau manajerial organisasi yang baik diikuti dengan melakukan berbagai terobosan menarik lainnya.[16] Dalam melaksanakan rapat kerja ketika hendak menyusun program kerja, supaya tujuan dari rapat kerja itu berjalan dengan baik, haruslah mengikuti kaidah dan aturan yang biasa dilakukan dalam sebuah agenda rapat kerja. Rapat kerjapun harus dilakukan dengan teroganisir, bukan sekedar melakukan rapat semata. Saat dilakukan rapat kerja, tentukanlah bagian tugas yang harus dilakukan, siapa mendapat tugas merencanakan apa sesuai dengan bidangnya dikomandoi oleh masing-masing kaur,[17] dengan kata lain, raker dilakukan per komisi atau bidang terlebih dahulu, setelahnya akan dibawa di rapat pleno. Hal inilah yang biasa disebut sebagai melaksanakan rapat dengan menggunakan manajemen rapat. Penting kiranya saat melakukan rapat memperhatikan tahapan mengorganisir rapat. Mengorganisir rapat berarti berusaha untuk menentukan pembagian tugas sesuai job descriotion supaya tujuan dari rapat bisa tercapai lebih efisien, menentukan siapa pemimpin rapat, sekretaris, eksekutor rapat, dsb [18]
Dari hasil temuan penelitian, menunjukkan, bahwa program kegiatan manajemen humas dirancang dan direncanakan bersama-sama antara kepala sekolah, seluruh jajaran wakil kepala sekolah dan dewan guru. Pada tahap ini manajemen sekolah PG/TK ABA Wage (Kepala sekolah, dan para wakilnya) melakukan rapat kerja bersama jajaran guru untuk membuat proram kegiatan sekolah selama setahun, baik itu program kerja bagian kurikulum, sarpras, serta humas dan kesiswaan. Program dirancang bersama-sama di dalam rapat kerja (raker).
Alur saat membuat perencanaan progam kerja baik manajemen humas dan kesiswaan, kurikulum, dan sarpras dilakukan dengan cara masing-masing wakil kepala sekolah akan memimpin rapat kerja secara bergantian sesuai dengan bidang yang akan dibahas. Peserta rapat kerja diikuti semua guru, dan mereka semua berhak untuk bertanya dan mengusulkan program kegiatan apa saja, yang akan dirancang atau direncanakan selama setahun ke depan, serta diperhitungkan juga segala kemungkinannya, apakah bisa dilakukan atau tidak, berapa besar kisaran biaya yang dibutuhkan, dari mana saja sumber dananya, siapa saja pantia di tiap-tiap program kegiatan tersebut dsb. Sebagai contoh, saat wakil kepala sekolah bagian humas dan kesiswaan harus menyusun program kegiatan kehumasan dan kesiswaan, maka Waka Humas dan Kesiswaan yang akan maju memimpin sidang rapat kerja. Semua guru punya peluang memberikan saran untuk mengajukan program humas dan kesiswaan. Semua akan dibahas dan dibicarakan serta diputuskan bersama dibawah pengawasan dan masukan dari Kepala Sekolah yang ikut mengawasi jalannya rapat kerja. Setelah didapatkan hasil kesepakatan bentuk program kegiatan apa yang akan diajukan, maka Kepala Sekolah akan membawa hasil rapat kerja Guru dan Manajemen ke Pimpinan Pengurus Ranting Aisiyah (PRA) Wage. Jika disetujui semua, maka hasil rapat kerja tersebut akan disahkan untuk menjadi program kerja sekolah selama satu tahun, namun jika masih ada yang harus dievaluasi dan direvisi, maka akan dikembalikan untuk dilakukan perbaikan sesuai arahan dan saran dari Ibu-ibu Pengurus Ranting Aisiyah Wage.
Alur ini pada kenyataannya sedikit berbeda dari prinsip manajemen rapat, dimana rapat kerja langsung dilakukan secara pleno tanpa melalui rapat tiap bidang/komisi, dan semua anggota raker bisa memberikan usulan saran dan perbaikan saat itu juga. Hal inilah yang sedikit berbeda saat pelaksanaan penyusunan rencana kerja di sekolah PG/TK ABA Wage ini yang penulis rasa, sedikit menimbulkan masalah. Masalah yang timbul adalah, setiap anggota raker dalam hal ini guru, merasa bahwa hasil raker adalah hasil perencanaan program bersama, bukan perencanaan program dari masing-masing bagian manajemen, sehingga ketika ditanya apa saja program kerja dari masing-masing kaur maka mereka merasa tiap kaur tidak memiliki program khusus karena program direncanakan oleh semuanya secara bersama sama, sehingga masalah muncul ketika harus melakukan monitoring dan evaluasi, semua merasa bahwa tiap kaur harus melakukan monitoring, jadi kesan bekerja menjadi campur aduk, tidak terlihat spesialisasi kaur ini khusus menangani bidang ini. Namun saat kamur manajemen humas meminta setiap guru bertanggung jawab mengawal suksesnya program humas, terkadang terjadi saling lempar tanggung jawab. Disinilah fungsinya diberlakukan pembagian kerja dan wewenang saat melakukan rapat kerja penyusunan program kegiatan seperti aturan dalam manajemen rapat.
Manajemen humas bisa dikatagorikan sebagai bagian manajemen yang relatif masih baru. Manajemen humas pada PG/TK ABA Wage ini baru ada sejak tahun 2021, tepat dimasa pandemi, masa dimana sekolah banyak yang menerapkan sistem belajar online, sehingga sekolah PG/TK ABA Wage harus berpikir keras agar tetap bisa memenuhi kuota siswa dalam penerimaan siswa baru. Maka disepakati untuk membuat satu bagian khusus yang menangani bidang promosi dan publikasi sekolah agar masyarakat di luar tetap bisa mengetahui bagaimana sekolah ini tetap melangsungkan pembelajaran dengan asyik dan menyenangkan walau dimasa pandemi covid. Lewat humaslah, maka semua informasi tentang sekolah tersampaikan, sehingga masyarakat masih tetap tertarik untuk mendaftarkan putra-putri mereka ke sekolah PG/TK ABA Wage. Jadi manajemen humas masih bisa dikatakan dalam taraf belajar dan terus berbenah agar tetap bisa memberikan layanan terbaik buat sekolah dan masyarakat, jadi kesalahan dan kekuranagn masih bisa diperbaiki dengan terus berbenah.
b. Mengoraganisir (Organizing) Program Kerja Manajemen Humas
Program kerja humas yang sudah direncanakan serta mendapat persetujuan dan pengesahan dari Pengurus Ranting Aisiyah (PRA) Wage setelahnya harus diimplemtasikan. Mengimplementasikan sebuah kebijakan program kerja ke dalam tindakan nyata merupakan hal yang sangat krusial. Mengutip pernyataan Edward III (1980) yang mengatakan bahwa mengimplentasikan sebuah kebijakan program kerja itu lebih utama bahkan jauh lebuh krusial dibandingkan pembuat kebijakan program itu sendiri. [19] Dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan program kerja sudah tentu akan ada banyak hambatan. Presman dan Wildasky (1973) berpendapat adanya sistem yang dibangun dalam penetapan sebuah kebijakan program kerja menjadi sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu saat merencanakan kebijakan sebuah program kerja, perlu dipertimbangkan dengan matang hal-hal yang mungkin terjadi dan menimbulkan dampak dan konsekwensi tersendiri pada saat program kerja tersebut diimplementasikan. [19]
Dalam mengimplementasikan sebuah program kerja, penting kiranya untuk melakukan pengorganisasian yang tersusun rapi. Pengorganisasian adaah sebuah kegiatan untuk mengatur semua guru dan karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, alur hubungan kerja, pendelegasian wewenang, pengintegrasian dan koordinasi dalam alur bagan organisasi [20]. Organisasi itu merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Dengan organisasi yang baik akan membantu terwujudnya tujuan secara efektif. Perlu dilakukan pembagian tugas dan wewenang kepada semua guru dan staf [21], maka selanjutnya guru yang tertunjuk menjadi panitia pelaksana di setiap kegiatan humas harus mempersiapkan proposal pengajuan program kegiatan tersebut secara lengkap dan detil, mulai latar belakang dan tujuan dilakukannya program kegiatan tersebut, susunan kepanitiannya, teknis kegiatannya seperti apa, sumber dananya dari mana saja, membutuhkan sponsorship atau tidak, kapan waktu pelaksanaan, siapa nara sumbernya sekiranya membutuhkan nara sumber dari luar, apa target kegiatannya, siapa saja pesertanya, apakah melibatkan pihak luar atau hanya warga sekolah saja, dsb. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pekerjaan, memudahkan dalam melakukan pengawasan nantinya, bahwa tugas apa menjadi tanggung jawab siapa, sehingga alur kerja dan pengawasan menjadi rapi dan mudah.
c. Menggerakkan (Actuating) program Kerja Manajemen Humas PG/TK ABA 25 Wage
Langkah selanjutnya setelah melakukan pengorganisasian adalah actuating atau menggerakkan, memobilisasi dan melaksanakan semua program yang dilaksanakan dimana semua SDM bisa terlibat dalam implementasi program yang telah direncanakan.
Di dalam manajemen, fungsi menggerakkan atau actuating ini adalah rangkaian dari perencanaan dan pengorganisasian yang dilakukan sebeumnya. Dan, tahap actuating ini merupakan tahapan yang dianggap paling urgent, seperti pendapat dari George F. Terry yang menyebutkan bahwa pelaksanaan actuating adalah upaya menggerakkan semua SDM oragnisasi agar mereka dengan sukarela bekerja dan berupaya mencapai tujuan baik tujuan individu terlebih tujuan utama dari pelakasanaan/implementasi sebuah program kerja. Jadi actuating atau pelkasnaan itu sangat vital sebab sebagus apapun sebuah perencanaan dan pengorganisasian program , tidak akan ada artinya dan tidak akan pernah mendapat hasil sesuai yang diharapkan tanpa adanya aksi/kegiatan nyata sebagai perwujudan dari pelaksanaan sebuah program kerja [22]. Senada dengan hasil penelitian Darsa Muhammad diatas, bahwa melaksanakan/mengimplementasikan sebuah kebijakan program kerja ke dalam tindakan nyata merupakan hal yang sangat krusial. Mengutip pernyataan Edward III (1980) yang mengatakan bahwa mengimplentasikan sebuah kebijakan program kerja itu lebih utama bahkan jauh lebuh krusial dibandingkan pembuat kebijakan program itu sendiri.[19] Dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan program kerja sudah tentu akan ada banyak hambatan. Presman dan Wildasky (1973) berpendapat adanya sistem yang dibangun dalam penetapan sebuah kebijakan program kerja menjadi sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu saat merencanakan kebijakan sebuah program kerja, perlu dipertimbangkan dengan matang hal-hal yang mungkin terjadi dan menimbulkan dampak dan konsekwensi tersendiri pada saat program kerja tersebut diimplementasikan. [19]
Beberapa contoh program kerja humas PG/TK ABA Wage yang pernah dilakukan antara lain membuat publikasi melalui pembuatan banner untuk pelaksanaan program PPDB, membuat konten di IG dan FB sekolah, membuat kegiatan pemeriksaan balita melalui posyandu di RT-RT sekitar sekolah, membuat kegiatan syiar yang memperkenalkan dan mempromosikan sekolah lewat kegiatan Jumat berbagi yang bekerjasama dengan takmir-takmir masjid di sekitar sekolah, menjalin kerjasama dengan Taman Penitipan Anak (TPA), Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah-sekolah Dasar (SD), dengan perangkat desa, dengan lembaga parenting, dll yang tujuannya adalah untuk membuat jaringan kerja, meluaskan mitra kerja dengan berbagai pihak, mempromosikan sekolah lewat mitra dan jarigan yang kita miliki.
Berikut ini adalah beberapa program kerja kegiatan humas di sekolah TK ABA Wage yang akan dilakukan tahun depan antara lain 1) Melakukan promosi lewat medsos dengan membuat link IG, FB dan membentuk grup W.A wali murid dan GUKAR. 2) Membuat brosur, spanduk PPDB dan dan banner kegiatan sekolah. 3) Membuat net working kerjasama denga berbagai lembaga seperti takmir-takmir masjid di sekitar sekolah, menjalin kerjasama dengan Taman Penitipan Anak (TPA), Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah-sekolah Dasar (SD), dengan perangkat desa, dengan lembaga parenting, puskesmas Taman, dll. 4) Membuat program kegiatan yang diperuntukkan bagi masyarakat sekitar sekolah seperti kegiatan sosial Jumat berbagi untuk masyarakat, berbagi takjil Ramadhan, bingkisan lebaran untuk yatim dan dhuafa, program posyandu untuk masyarakat sekitar. 5 Program kegiatan anak ceria dengan tampil di TVRI Surabaya. 6) Standard pelayanan prima kepada semua murid dan wali murid.. 7.)Memfasilitasi kebutuhan wali murid terhadap sekolah dengan menerima kritik membanun serta saran dan masukan positif dari wali murid di setiap penerimaan rapotan dengan menyediakan kotak saran.. 8)Pengadaan SDM yang khusus mengelola IG (kbtk.25abawage),FB (KB TKAisyiyah 25 Wage, dan chanel Youtube (KB TK Aisyiyah Wage).
d. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
Tahapan terakhir dari sebuah rangkaian proses program kegiatan adalah melakukan monitoring and evaluating (pengawasan dan evaluasi). Melakukan pengawasan dan evaluasi itu penting untuk dilakukan, sebab dari proses pengawasan dan evaluasi sebuah program, kita akan mengetahui, apakah program kegiatan itu bisa dilanjutkan atau tidak untuk tahun berikutnya.
Dalam proses pengimplementasian sebuah program apapun, penting untuk dilakukan sebuah monitoring atau pengawasan terhadap proses berjalannya program tersebut. Pendapat Murdick menyebutkan bahwa pengawasan itu adalah serangkaian yang sangat urgen terkait menetapakan standard saat pelaksanaan sebuah program dijalankan, membuat indikator keberhasilan pelaksanaan program kerja tersebut, dan membuat standard deviasi (tingkat kesejangan) antara realisasi program dengan dengan standard yang telah ditetapkan (Fikrie M, Faiqul M,& Fieke Tuli, 2018)[23]. Pengawasan harus dilakukan untuk membantu tetap berjalannya program kerja sesuai dengan standard yang telah ditetapkan, agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Jikapun ada kesalahan selama proses mengimplemntasikan program kerja tersebut, kesalahan itu tidak melebihi standard deviasi/kesenjangan yang bisa ditoleransi sesuai yang telah disepakati. Sedangkan menurut Blaine R.Worten dan James R. Sanders dalam Ashiong P.Munthe (2015:5-6)[24] menyebutkan bahwa evaluasi program adalah sebuah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyampaikan informasi data kepada pengambil keputusan untuk bisa dijadikan pertimbangan dalam menentukan apakah sebuah kebijakan program itu perlu diperbaiki, dilanjutkan atau dihentikan.
Pendapat dari Chianca (20008) dalam (Iin M, Tia R, Gilang C, Aris S, & Ritzka Y, 2022) [25]menyebutkan bahwa dalam melakukan sebuah evaluasi terhadap implementasi sebuah program maka ada hal-hal yang harus dijadikan tolak ukur atas keberhasilan program tersebut diantaranya adalah relevansi, efektifitas, efesiensi, serta dampak dan keberlajutan. Relevasi ini mengukur sejauh mana sebuah program sesuai dengan target dan prioritas. Efisiensi menjelaskan hal yang terkait dengan SDM dan biayanya. Efektifitas mengukur sejauh mana program tersebut mencapai target, sasaran dan tujuan yang ditetapkan. Untuk dampak berkaitan dengan sejauh mana program memberikan dampak positif bagi lembaga kususnya dan masyarakat pada umumnya. Dan yang terakir evaluasi ini harus menganalisa tentang keberlanjutan yang menilai bahwa jika sebuah program dinilai memberikan dampak positif yang besar dan layak atau tidak untuk dilanjutkan. Dan, hasil temuan penulis terhadap pengelolaan manajemen di sekolah PG/TK ABA Wage ini, walau telah dilakukan pengawasan dan evaluasi terhadap beberapa kegiatan program humas, namun belum dilakukan secara rapi dan terstruktur. Evaluasi masih dilakukan seputar kesesuaian target dan tujuan semata. Belum ada pengawasan dan evaluasi secara menyeluruh terkait bagaimana proses berjalannya, sesuai dengan sistem atau ada kend, seberapa besar deviasi/kesenjangan antara rencana dengan realita di lapangan.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab belum terlaksananya proses pengawasan dan evaluasi terhadap implementasi program humas sesuai dengan SOP yang seharusnya dari kegiatan manajemen humas sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo ini. Pengawasan dan evaluasi masih dilakukan sebatas oleh Kepala Sekolah dengan Waka humas. Itupun dilakukan sekilas sesaat setelah kegiatan, selesai dilaksanakan. Seperti yang disampaikan di awal bahwa evaluasi dilakukan masih seputar evaluasi kendala pelaksanaan yang dihadapi saat itu. Belum dilakukan lebih tertata rapi dan kontinyu di setiap program kegiatan, baik yang berbiaya besar ataupun kecil, seberapa besar dampak yang diberikan terhadap meningkatnya animo masyarakat terhadap sekolah dsb, bagaimana keterlaksanaan sistem dari program yang terlealisasi di lapangan, sesuai ataukah tidak. Evaluasi seharusnya bisa melibatkan semua guru yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung pada saat program kerja humas ini diimplementasikan di lapangan. Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dan Kesiswaan.
Semisal saat menayangkan sebuah informasi tentang program kegiatan sekolah di IG ataupun FB. Setelah konten tayang di medsos, belum dilakukan analisa dan evaluasi seberapa banyak konten dan info dilihat oleh pemirsa, berapa jumlah pengikut di setiap medsos yang dimiliki oleh sekolah, apakah semua wali murid sudah menjadi pengikut medsis sekolah, apakah semua guru sudah menyebarkan semua konten dan info sekolah di medsos masing-masing guru PG/TK ABA Wage, sebandingkah biaya semua kegiatan yang dikeluarkan dengan ketercapaian tujuan yang diinginkan dan pilihan media untuk publikasi keluar. Jika hasil yang didapat tidak sebanding dengan tujuan besarnya, dianalisa apa yang menjadi kendala semisal pengikut dan pemirsa tayangan di medsos sekolah masih minim, masyarakat masih banyak yang belum tertarik membuka medsos sekolah, maka perlu dicari dan ditelisik apa penyebabnya, bagaiman solusinya. Semua memang membutuhkan proses belajar dan terus berbenah utuk memperbaiki sistem yang ada. Menjadi sebuah manajemen yang relati baru bukan berarti bertagnan tanpa ada terobosan. Setiap elemen harus bergerak bersama, tumbuh dan belajar bersama untuk sebuah tujuan bersama.
Tujuan akhir dari pelaksanaan atau implementasi program manajemen humas adalah tercapainya target dan tujuan sekolah PG/TK ABA Wage menjadi sekolah rujukan bagi para orang tua untuk menyekolahkan putra putri mereka di PG/TK ABA Wage. Dengan demikian, ketika sekolah ini mendapatkan banyak siswa di setiap tahun pelajaran, artinya masyarakat menaruh kepercayaan kepada sekolah. Ini sangat membantu tercapainya target dan tujuan program PPDB. Ilustrasi ini bisa kita lihat dari diagram kepuasan yang didapat peneliti ketika melakukan survei kepada wali murid sekolah ini dengan membagikan link bitly yang berisi beberapa pertanyaan terkait seberapa besar tingkat kepuasan wali murid sebagai pengguna layanan dari sekolah ini, dari mana mereka mendapatkan info tentang sekolah ini, lewat lisan atau media baik cetak atau sosial dan seberapa baguskah mutu sekolah ini menurut mereka yang memilih memutuskan putra-putrinya untuk bersekolah di sekolah PG/TK ini di tengah banyaknya pilihan sekolah PG/TK lainnya di sekitarnya.. Dari sana penulis bersama Kepala Sekolah melakukan analisa media mana yang paling disukai oleh wali murid dan calon wali murid dalam mencari info seputar sekolah ini. Apa yang menjadi faktor pendorong calon-calon wali murid ini dalam memilih media untuk mencari informasi tentang sekolah PG/TK ABA Wage.
Berikut kami sajikan data survei yang diperoleh lewat link bitly yang dibagikan kepada wali murid di sekolah ini. Wali murid kami pilih secara acak, didapat 44 wali murid yang mengisi link bitly kepuasan mereka selaku pengguna layanan pendidikan di sekolah ini.
1. Kepuasan wali murid terkait dengan mutu pendidikan di PG/TK ABA Wage
Pada survei ini didapat data bahwa 60.5% wali murid beranggapan bahwa mutu dari sekolahPG/TK ABA wage Sidoarjo ini sudah sangat bagus, 30.2% beranggapan bagus dan sisanya yang memiliki anggapan cukup bagus. Alhamdulillah belum ditemukan yang beranggapan mutu sekolah ini tidak bagus. Namun demikian sekolah ini harus terus berusaha memperbaiki kualitas dengan memberikan layanan yang sangat baik dan melakukan inovasi pembelajaran terus menerus agar tidak tertinggal jaman
2. Kepuasan wali murid terkait keefektifan metode pembelajaran di sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo
Untuk survey terkait keefektifan metode pembelajaran, sejumlah 67.4% wali murid beranggan sudah sangat efektif, sisanya 32,6% menyatakan efektif. Alhamdulillah belum ditemukan yang beranggapan kurang atau tidak efektif. Namun demikian sekolah ini harus terus berupaya menjaga kualitas proses pembelajaran.
3. Ruang komunikasi termasuk saran dan masukan dari dalam dan keluar sekolah.
Hasil survey terkait keterbukaan sekolah dalam menerima kritik dan saran dari luar termasuk dari wali murid, terjaring sebanyak 60.5% menyatakan sekolah sangat terbuka dalam menerima masukan dan saran, dan selalu ada tindak lanjut dari setiap saran dan masukan yang bertujuan untuk kepentingan siswa dalam proses belajar. Sisanya sebesar 30.5% beranggapan sekolah terbuka menerima masukan dan saran dari wali murid.
4. Kurikulum sekolah yang dianggap sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Hasil survei terkait kurikulum sekolah yang sudah dianggap sesuai dengan tahap perkembangan anak terjaring data 74.4% menyatakan sudah sangat sesuai, 23.3% menyatakan sesuai dan sisanya 2.3 yang menyatakan hanya sebagian yang sesuai.
5. Mendapatkan info tentang sekolah PG/TK ABA Wage lewat bermacam media
Dari hasil survey terkait media yang paling banyak digunakan wali murid dalam mencari info tentang PG/TK ABA wage Sidoarjo, justru promosi gratis dari mulut ke mulut yang pernah merasakan sekolah di tempat ini akan mempromosikan pada teman sebesar 14%, melalui Intsagram 11%, melalu tetangga 9.3%, melalui sudara 7% sisanya melalui media sosial lainnya.
Dari sini bisa kita tarik satu kesimpulan bahwa wali murid PG/TK ABA Wage, sangat merasakan jika mutu dari sekolah ini sudah sangat baik karena mereka merasakan sangat puas atas kurikulum yang dijalankan di sekolah ini. Mereka merasa bahwa apa yang mereka rasakan dan inginkan dengan memberikan m asukan dan saran ke sekolah diterima dengan sangat terbuka dan dijadikan sebagai landasan untuk melakukan perbaikan dan perubahan.
Hasil surveypun memeperlihatkan bahwa umumnya masyarakat yang merasa terpuaskan atas kualitas dari sekolah ini akan merekimendasukan kepada yang lainnya untuk ikut mendaftarkan putra putri mereka di sekolah ini. Walaupun tetap diantara mereka membutuhkan media untuk melihat segala sarana dan prasarana yang disediakan sekolah, untuk kemudian dikroscek secara langsung dengan datang ke sekolah mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan sekolah utnuk masyarakat. Dari data diatas, juga bisa terlihat bahwa masih ada beberapa yang merasakan tidak terpuaskan, dan hal itu adalah sesuatu yang wajar karena kita pasti tidak akan mampu untuk memuaskan segala keinginan semua orang. Dan itu dianggap sebagai batas deviasi atau kesenjangan yang masih bisa ditoleransi.
Jadi kesimpulan akhir adalah adanya berbagai macam program dari humas, salah satunya lewat pembukaan kotak saran dan masukan kepada wali murid dan masyarakat, mampu membantu sekolah untuk selalu berbenah diri berupaya meningkakan mutu/kualitas, baik kurikulumnya ataupun pelayanan serta sarana dan prasaranya.
Berdasarkan data yang didapat dari penelitian, serta dilakukan analisis pembahasan tentang segala hal yang berkaitan dengan implementasi dari manajemen humas yang membantu meningkatkan mutu pendidikan PG/TK ABA 25 Wage, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Bahwa implementasi dari program kerja Manajmen Humas dan Kesiswaan dari sekolah PG/TK ABA 25 Wage dapat dikatakan sudah berjalan dengan baik dan mampu berkolaborasi dan bekerja sama dengan Manajemen lainnya untuk mensukseskan pengimplementasian program kerja manajemen humas dalam membantu meningkatkan mutu sekolah sesuai harapan dan keinginan wali murid dan masyarakat sekitar juga telah mampu menanamkan citra yang positif dari masyarakat, terbukti dengan banyaknya program kerja yang mengikutsertakan masyarakat dan wali muridnya yang juga hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar terutama dirasakan oleh warga sekolah sendiri.
2. Sekolah PG/TK ABA 25 Wage, telah cukup mampu menjalankan prinsip manajemen yakni merencanakan, mengatur, menggerakkan, serta mengawasi dan mengevaluasi program kerja manajemen Humas dan Kesiswaan, walaupun belum dilakukan dengan baik karena belum rapi dan terstruktur sesuai SOP yang seharusnya dilakukan dalam tahapan evaluasi. Setidaknya manajemen Humas dan Kesiswaan bersama kepala Sekolah telah berupaya mengevaluasi implementasi program kerja Humas walau dilaupun belum dilakukan dengan sempurna, setidaknya sudah cukup untuk bisa membuat keputusan apakah sebuah program kerja manajemen humas itu cukup layak untuk direkomendasikan untuk dilanjutkan, atau dilanjutkan dengan berbagai perbaikan atau harus dihentikan.
3. Sejak adanya Manajemen Humas, tata kelola publikasi dan promosi menjadi lebih baik karena telah ada SDM yang khusus menangani program kerja kehumasan walaupun alhirnya menimbulkan kesalahan persepsi bahwa program humas khusus dikerjakan humas, bidang lain beranggapan tidak harus ikut berperan mensukseskan program kerja humas, dan persepsi inilah yang harus diperbaiki.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga karya tulis ilmiah yang berjudul “Analisis Implementasi Manajemen Humas dalam Membantu Meningkatkan Mutu Sekolah PG/TK ABA Wage Sidoaro” dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sehubungan dengan terselesaikannya karya tulis ilmiah ini, maka penulis dengan penuh kerendahan hati menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Kakak penulis tersayang dan tercinta R. Soebiarnita dan R. Soebiarsono yang telah memberikan banyak support dalam bentuk materi dan nonmateri dalam proses menempuh studi Sarjana Master Pendidikan di UMSIDA ini.
2. Suami dan anak yang penulis sayangi dan cintai yang telah memberikan banyak dorongan semangat dan motivasi, membantu dalam banyak hal, sehingga penulis lancar dalam melakukan penelitian dan menyelesaikan studi.
3. Lembaga Pendidikan sekolah PG/TK ABA Wage Sidoarjo beserta seluruh jajarannya, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, beserta Guru dan karyawannya yang telah memberikan ijin dan mensupport penulis dalam melakukan penelitian disana sehingga kaya ilmiah ini bisa diselesaikan dengan baik.
4. Dr. Imam Fauzi, Lc., M.Pd. selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
5. Dr. Istikomah, M.Ag. selaku dosen yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi, dan berbagi ilmu selama proses pengerjaan karya tulis ilmiah ini,
6. Dr. Budi, M.Pd. selaku dosen penguji I yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan koreksi dan masukan untuk karya tulis ini
7. Dr. Eni Fariyatul , S.Pd., M.Pd.I. selaku dosen penguji II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan koreksi dan masukan untuk karya tulis ini,
8. Teman-teman dan seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi perbaikan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.
.
M. Fathurrohman, “Pengembangan budaya religius dalam meningkatkan mutu pendidikan,” Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 4, no. 1, pp. 19–42, 2016, doi: 10.21274/taalum.2016.4.1.19-42.
A. T. Kuntoro, “Manajemen mutu pendidikan Islam,” Jurnal Kependidikan, vol. 7, no. 1, pp. 84–97, 2019, doi: 10.24090/jk.v7i1.2928.
D. A. Romadlon and A. B. H. Kurniawan, “Implementasi sistem penjaminan mutu internal di sekolah dasar,” Sidoarjo, Indonesia, 2022, doi: 10.21070/pssh.v3i.200.
M. Fadhli, “Manajemen peningkatan mutu pendidikan,” Tadbir: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, vol. 1, no. 2, pp. 215–228, 2017, doi: 10.29240/jsmp.v1i2.295.
J. Iskandar, “Penerapan manajemen strategi dalam peningkatan mutu madrasah,” Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 1, no. 2, 2017.
A. Hadi, “Perkembangan dan konsep dasar manajemen humas dalam dunia pendidikan: Tinjauan historis,” At-Ta’lim: Jurnal Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 67–84, 2018, doi: 10.36835/attalim.v4i2.55.
T. Sholihah, “Strategi manajemen humas dalam menciptakan school branding pada sekolah Islam terpadu,” J-MPI, vol. 3, no. 2, pp. 72–84, 2018, doi: 10.18860/jmpi.v3i2.6455.
A. Kolah, Guru in a Bottle: Seni Memengaruhi dan Menjual. Jakarta, Indonesia: Elex Media Komputindo, 2016.
M. N. Hakim, “Manajemen hubungan masyarakat dalam mengembangkan lembaga pendidikan (studi kasus di SMK Negeri 1 Dlanggu Mojokerto),” Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 1, pp. 121–139, 2019, doi: 10.31538/ndh.v4i1.245.
R. Satria, A. Supriyanto, A. Timan, and M. A. Adha, “Peningkatan mutu sekolah melalui manajemen hubungan masyarakat,” Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, vol. 7, no. 2, 2019, doi: 10.21831/amp.v7i2.26018.
R. Maulana, H. Pramusinto, J. P. Ekonomi, and F. Ekonomi, “Strategi humas dalam menjalin good relationship dengan DU/DI,” Economic Education Analysis Journal, 2020, doi: 10.15294/eeaj.v9i1.37167.
M. Humas, P. Dalam, U. Pencitraan, S. Di, S. Menengah, and K. F. Priandono, “Media informasi pendidikan Islam,” vol. 18, no. 2, pp. 391–410, 2019, doi: 10.29300/attalim.v18i2.1740.
A. Nurindriani and A. A. Prakoso, “Penerapan pola manajemen planning, organizing, actuating, controlling di KB Bina Prestasi Penusupan Tegal,” Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, vol. 3, no. 2, p. 164, 2021, doi: 10.35473/ijec.v3i2.987.
R. D. Syahputra and N. Aslami, “Prinsip-prinsip utama manajemen George R. Terry,” Manajemen Kreatif Jurnal (MAKREJU), vol. 1, pp. 51–61, 2023.
N. Nurul, “Strategi manajemen humas dalam menyampaikan program unggulan madrasah,” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 2, pp. 36–48, 2018, doi: 10.33650/al-tanzim.v2i1.247.
N. Utami, M. Y. Aditia, and B. N. Aisyah, “Penerapan manajemen POAC (planning, organizing, actuating dan controlling) pada usaha Dawet Semar di Kabupaten Blitar,” Jurnal Penelitian Ekonomi Manajemen dan Bisnis (JEKOMBIS), vol. 2, no. 2, pp. 36–48, 2023.
M. Marianti, “Pembicara rapat selain GM adalah marketing manager, operation/manajemen rapat yang efektif dan efisien,” Jurnal Bina Ekonomi, vol. 8, no. 2, pp. 1–76, 2004, doi: 10.26593/be.v8i2.629.%25p.
M. Yusuf, “Manajemen rapat, teori dan aplikasinya dalam pesantren,” Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman, vol. 10, no. 2, pp. 154–166, 2020, doi: 10.33367/ji.v10i2.1266.
A. L. Tiza, A. Hakim, and B. S. Haryono, “Implementasi program pembangunan desa mandiri anggaran untuk rakyat menuju sejahtera (Anggur Merah) (studi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara),” Jurnal Wacana, vol. 17, no. 1, 2014.
F. Sofie, Sisca, and E. Fitria, “Identifikasi fungsi manajemen sumber daya manusia pada usaha menengah (studi pada CV. Kota Agung),” Bandung, Indonesia, 2018. [Online]. Available: www.jurnal.uniga.ac.id
E. Yusni, “Manajemen bidang hubungan masyarakat untuk meningkatkan citra SMA,” Manajer Pendidikan, vol. 9, no. 6, pp. 786–793, 2015.
D. Muhammad, “Implementasi fungsi actuating (penggerakan/pelaksanaan) dalam manajemen program bahasa Arab di MI Manarul Islam Malang,” Mahira, vol. 2, no. 1, pp. 13–32, 2022, doi: 10.55380/mahira.v2i1.194.
F. M. Bako, F. Masrurah, F. Tuli, and D. Arifah, “Pengawasan dan evaluasi program bahasa Arab di pondok pesantren,” Arabi: Journal of Arabic Studies, vol. 3, no. 1, p. 61, 2018, doi: 10.24865/ajas.v3i1.72.
A. P. Munthe, “Pentingnya evaluasi program di institusi pendidikan: Sebuah pengantar, pengertian, tujuan dan manfaat,” Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 5, no. 2, pp. 1–14, 2015, doi: 10.24246/j.scholaria.2015.v5.i2.p1-14.
I. Mayasari, T. Rahmania, G. Cempaka, A. Subagjo, and R. Driarkoro, “Monitoring dan evaluasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka sebagai peningkatan kualitas pendidikan di tingkat fakultas: Studi pada Universitas Paramadina,” Jurnal Manajemen dan Bisnis Madani, vol. 4, no. 1, pp. 1–11, 2022, doi: 10.51353/jmbm.v4i1.577.