Zulkarnaen (1), Imelda Dian Rahmawati (2)
General Background Children born with congenital anomalies require specialized health interventions to optimize their communication development. Specific Background Patients undergoing palate reconstructive procedures often face functional articulation problems and require continuous therapy through a Home Exercise Program guided by their families. Knowledge Gap Existing literature provides limited exploration regarding the actual achievement rates and detailed experiences of family involvement in guiding these communication exercises at home. Aims This study investigates the implementation and outcomes of caregiver guidance in the articulation training process for children at the CLP Center Surabaya. Results Qualitative interviews with families, teenage patients, and therapists reveal that guided home practice significantly builds children's confidence, discipline, and focus during communication training. Furthermore, while the provision of training modules improved family understanding, primary obstacles included limited caregiver time, patience deficits, and difficulties in maintaining the child's practice interest. Novelty The research uniquely highlights how a structured companion model utilizing specific training modules shifts the primary therapeutic responsibility from clinical practitioners to empowered families. Implications These findings offer a comprehensive framework for other therapeutic institutions to integrate structured family bonding and home exercise protocols into standard clinical care.
Highlights:
Family guidance during home exercises significantly builds child confidence and discipline during articulation training.
Major challenges include time limitations, caregiver impatience, and maintaining motivation for continuous practice.
Utilizing structured modules shifts therapeutic responsibilities toward home caregivers, supporting communication recovery.
Keywords: Home Exercise Program, Articulation Therapy, Craniofacial Anomalies, Family Guidance, Communication Disorders
UUD 1945 Republik Indonesia Pasal 31 (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. (2). Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang [1]pendidikan telah menjadi kebutuhan pokok bagi setiap individu, Secara sederhana pendidikan dapat menjadi sarana individu supaya dapat terhindar dari kebodohan Semakin tinggi pendidikan maka akan semakin tinggi pula pengetahuan yang akan didapatkan , Ditegaskan juga didalam Standar Nasional Pendidikan pasal 35 ayat (1) [2] Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Pendidikan merupakan hal yang penting karena dengan pendidikan martabat seorang anak akan diakui di masyarakat , hal ini akan diperoleh jika menerapkan 8 ( delapan ) standar pendidikan nasional yaitu target tercapainya proses pembelajaran yaitu terjadinya perubahan yang bisa dijadiakan standar terbaru untuk proses berkelanjutan
Standar Isi bahwa kriteria minimal yang mencakup ruang lingkup materi untuk mencapai target kemampuan berujar sudah tersusun dan sudah menjadi standar nasional , pada prinsipnya kasus pasca operasi celah bibir dan langit langit sudah mengalami perbaikan secara fisik namun secara fungsional belum mendapatkan secara maksimal , Standar proses ini , bahwa Sistematika penyampaian informasi yang efektif dapat dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan Demonstrasi dengan harapan tujuan dari pembelajaran dapat tercapai hal ini dilakukan karena memiliki karakteristik bersifat luwes atau fleksible sedangkan Pendekatan yang dilakukan saat ini adalah pendekatan secara personal dan strategi pembelajaran yang afektif, Standar Penilaian dibuatkan prosedur penilaian ujran yang praktis berupa table kata dan gambar yang telah di sesuaikan dengan standar serta hasil penilaian juga bermanfaat untuk memberikan umpan balik kepada pasien Cleft Lips And Palate dan keluarga , Standar kompetensi keberhasilan akhir dalam evaluasi adalah Melakukan evaluasi setiap 3 bulan sekali dengan menerima laporan dari keluarga dan melakukan penilaian yang sangat standar ( subjective) Dan memberikan advice untuk periode pertemuan berikutnya (3 bulan berikutnya) dan selalu memperhatiakan beberapa hal yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki pasien Cleft Lips And Palate dan keluarga, Standar pendidik dan tenaga kependidikan Hal ini yang menjadi tantangan terkait dengan kompetensi bidang terapis wicara bahwa kewenangan klisnis harus diperhatikan , namun situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan sehingga mengambil alternatif modela pelayanan edukasi dan keterlibatan orang tua dalam program HEP ( standar pelayanan ), Standar Sarana Dan Prasarana Fasilitas yang tersedia dalam Cleft Lips And Palate sudah memenuhi standar Pelayanan namun fasilitas ini belum bisa dipergunakan secara maksimal di Cleft Lips And Palate Center Surabaya yang aman dan nyaman, Standar pengelolaan terkait masalah penetapkan prinsip-prinsip pengelolaan, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan dalam rangka menjalankan kegiatan pendidikan di Cleft Lift And Palate Center Surabaya secara menyeluruh sangat sesuai dengan standar hal ini terbukti semenjak tahun 2002 hingga saat ini menjadikan Center Dengan Pelayanan Paripurna dan menjadi rujukan utama di Indonesia , namun secara spesifik untuk pelayanan bidang terapi wicara masih banyak kendala, sehingga target masih banyak yang belum tercapai, Standar pembiayaan salah satu kebijakan yang diterapkan oleh center adalah bantuan yang diberikan kepada pasien. Ada pasien yang menerima bantuan penuh, namun ada pasien yang dikenakan sebagian biaya yang ditentukan berdasarkan status sosial pasien. Status sosial pasien ditentukan saat wawancara yang dilakukan oleh para social worker berbekal pedoman yang telah ditentukan.Penentuan status sosial pasien : PS0 ( tidak membayar ) , PS1 ( membayar 10% dari total biaya operasi), PS2 ( membayar 25% dari total biaya operasi), PS3 ( membayar 50% dari total biaya operasi), Pasien Privat ( membayar semua biaya operasi), Sedangkan team yang terlibat dalam pelayanan di Cleft Lips And Palate adalah team Sukarelawan dangan target Teaching Clinic
Berdasarkan Analisis kondisi & identifikasi tantangan nyata pendidikan masa depan terkait standar isi belum terlaksana secara merata , sedangkan terkait masalah proses belum terlaksana sacara merata , terkait masalah standar penilaian belum terlaksana secara merata , standar kompetensi lulusan belum terlaksana secara merata , standar pendidik dan tenaga kependidikan Perlu dilakukan evaluasi, standar sarana dan prasarana Sudah sangat baik , standar pengelolaan perlu dilakukan evaluasi yang mendasar terkait Profesi Terapi wicara , standar pembiayaan sudah sangat baik
Undang-undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan : Kesehatan adalah keadaan sehat seseorang, baik secara frsik, jiwa, maupun sosial dan bukan sekadar terbebas dari penyakit untuk memungkinkannya hidup produktif [3] namun tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan normal bahkan banyak di antara mereka ada mengalami hambatan perkembangan , gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus sebagai salah satu contonya adalah permasalahan gangguan komunikasi dan dapat dikatakan sebagai pasien sesuai dengan yang tercantum Undang-undang republik indonesia nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan bahwa Pasien adalah setiap orang yang memperoleh pelayanan kesehatan dari tenaga medis dan/ atau tenaga kesehatan [3]. Dalam Kurikulum pendidikan ahli Terapi Wicara dengan kode P1CP0610 dan berisi materi Etiologi dan karakteristik gangguan bicara karena gangguan kraniofasial program studi Mata Kuliah (TW405 ) Gangguan Bicara Akibat Celah Bibir dan Langit - langit (Disglosia) yang deberikan pada semester 4 [4] , secara kronologis celah bibir dan langit – langit merupakan kondisi belahan yang terdapat pada bagian atas bibir di mana kelainan bawaan ini juga sebenarnya dapat terjadi pada langit-langit mulut. Tidak menyatunya jaringan pada bibir bayi selama masa kehamilan sang ibu menjadi alasan dasar kondisi kelainan ini terjadi pada bayi sewaktu lahir.Bila celah terjadi pada langit-langit mulut, maka kondisi ini dikenal dengan istilah celah langit-langit. Kondisi ini disebabkan oleh tidak menyatunya langit-langit mulut bayi selama masih di dalam kandungan di mana penyatuan ini merupakan proses alami yang terjadi di trimester pertama kehamilan, Selain itu, Celah dapat pula terjadi pada bibir bagian kiri, kanan maupun tengah. Kondisi sebagaimana tersebut diatas di kenal sebagai kondisi Disglosia yaitu Gangguan komunikasi yang disebabkan anomali bentuk pada area Cranio facial , sehingga dalam rangka percepatan pencapaian indikator kesehatan, pemerintah telah menetapkan pelaksanaan upaya kesehatan yang mencakup kesehatan fisik, mental-intelektual, sosial maupun emosional. Upaya kesehatan tersebut dilaksanakan dalam tiga tingkatan upaya meliputi upaya kesehatan primer, upaya kesehatan sekunder dan upaya kesehatan tertier. Dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai jenis pelayanan kesehatan termasuk pelayanan terapi wicara .
Terapis wicara adalah[5] setiap orang yang telah lulus pendidikan terapi wicara dan memiliki kompetensi melakukan bentuk pelayanan kesehatan profesional berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dalam bidang bahasa, wicara, suara, irama kelancaran (komunikasi) dan menelan yang ditujukan kepada individu, keluarga dan atau kelompok untuk meningkatkan upaya kesehatan yang diakibatkan oleh adanya gangguan atau kelainan anatomis, fisiologis, psikologis dan sosiologis. Bicara merupakan sebuah sistem komunikasi yang dipakai untuk mengungkap dan mengerti proses berfikir yang mempergunakan simbol akustik; sistem komunikasi tersebut dihasilkan oleh getaran atau vibrasi dari pita suara dalam laring (fonasi) yang disebabkan oleh adanya aliran udara dari paru-paru (respirasi) dan terakhir akan dimodifikasi/dibentuk oleh gerakan dari bibir, lidah dan palatum (artikulasi), sehingga membutuhkan kombinasi yang adekuat dari aksi sistem neuromuskuler untuk fonasi dan artikulasi. Pasien pasca operasi Celah bibir dan langit – langit mengalami problem dalam berbicara, artikulasi merupakan rangkaian gerakan vocal tract untuk memproduksi bunyi bicara, yang memerlukan ketepatan penempatan, tempo/waktu, arah gerakan, kekuatan gerakan alat-alat ucap, kecepatan merespon dari setiap peristiwa, kesemuannya ini memerlukan keutuhan/integrasi sistem neural saraf , Sehingga perlu diberikan intervensi khusus untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi sehingga kualitas hidupnya dapat meningkat , namun masih banyak yang belum belum berkembang maksimal , terutama fungsi dasar pada proses belajar berujar sehingga perlu diberikan strategi pembelajaran secara kontiniu dengan model layanan pendampingan orang tua dalam pelaksanaan program dengan menggunakan cara yang sederhana dan bahasa yang sederhana .
Orangtua wajib diedukasi soal kesehatan mental pada anak bibir sumbing, Penolakan terhadap anak dengan bibir sumbing atau celah langit-langit mulut tak jarang dilakukan oleh keluarga terdekat, oleh karenanya sangat penting untuk memberikan edukasi kepada orangtua bahwa masalah ini dapat diperbaiki. Sangat normal jika orangtua merasa kaget dan sedih saat mengetahui anaknya mengalami bibir sumbing dan atau celah langit-langit mulut. Yang harus disadari adalah bibir sumbing dan atau celah langit-langit mulut bukanlah sebuah kutukan, mitos yang sering beredar di masyarakat. Sebab, bibir sumbing dapat diperbaiki sedini mungkin. "Kaget itu normal dan manusiawi. Ini adalah sesuatu yang bisa terjadi dalam proses kehamilan. Ingat tidak ada satu orang pun yang ingin lahir dengan kondisi sumbing dan sumbing langit-langit "Tahap berikutnya menerima apa adanya, menerima dengan tulus, kita memang tidak bisa merencanakan kelahiran, tapi kita bisa merencanakan masa depanketika seorang anak memiliki bentuk bibir yang berbeda dengan teman-temannya, secara otomatis ia akan merasa tidak percaya dini. Pada akhirnya hal ini akan mempengaruhi psikologis dan berpengaruh pada masa depannya, belum lagi jika anak tersebut mendapat penolakan dari keluarga.
Orangtua pun diharapkan bisa bertugas melindungi anak, khususnya dari perundungan . Pemberian kasih sayang pun tidak boleh berubah meski anak memiliki perbedaan fisik."Support dari keluarga ini yang paling dibutuhkan sehingga anak bisa dapat penerimaan, orangtua tidak ikut merundung, diumpetin, si anak jadi tidak mau dibawa keluar. Anak harus merasa dicintai, mendapat perlakuan yang sama, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan mental anak yang mengalami bibir sumbing dan atau celah langit-langit mulut agar kedepannya tidak ada masalah depresi.
Bagi beberapa pasien yang menjalani program Terapi Wicara , istilah home program atau home exercise program (HEP) atau dalam Bahasa Indonesia berarti program latihan di rumah mungkin bukan hal yang asing. Program latihan di rumah adalah suatu rangkaian latihan yang dapat pasien lakukan di rumah sebagai kelanjutan dari program yang diberikan di rumah sakit dengan tujuan untuk mempercepat tercapainya goal terapi. Jikalau mengandalkan program yang dilakukan di rumah sakit dengan durasi dan frekuensi terbatas saja tidak akan lebih efektif dibandingkan menambahkan latihan mandiri di rumah yang dapat dilakukan lebih sering. HEP oleh Terapis Wicara- Sebelum menentukan program latihan di rumah, seorang Terapis Wicara akan menilai terlebih dahulu apakah pasien memenuhi syarat untuk dapat melanjutkan latihan di rumah. Terapis Wicara akan melakukan uji fungsi terhadap pasien lalu menentukan pada level mana problem pasien, serta latihan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Program latihan di rumah dapat ditujukan untuk meningkatkan aktifitas fungsional, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan atau mempertahankan lingkup gerak oral motor , mempertahankan kelenturan /fleksibilitas, Persiapan HEP dan kontrol sesuai anjuran. Dalam membuat program latihan di rumah, Terapis Wicara harus berdiskusi dengan keluarga dan pasien agar dapat tercapai goal yang ditentukan. Terapis Wicara akan memastikan bahwa latihan yang diberikan di rumah adalah latihan yang aman. Pasien harus segera melaporkan ke Terapis Wicara terdapat rasa tidak nyaman selama atau setelah latihan di rumah. Pasien juga diharuskan kontrol rutin sesuai anjuran Terapis Wicara untuk penilaian ulang dengan tujuan penyesuaian frekuensi latihan, penentuan apakah program masih perlu dilanjutkan, atau tatalaksana lain seperti membuat rujukan kepada team terkait.
Penelitian – penelitian terkait tingkat keberhasilan orang tua dalam pendampingan proses belajar berujar Pada anak pasca operasi celah bibir dan langit – langit sangat terbatas dalam artikel – artikel dan Jurnal , adapun referensi yang peneliti pilih sebagai berikut : Penelitian Anggi Resina Putri1 , Nadya Susanti2 , Alviani Vivi Sutanto3 ( 2023 ) Anak dengan celah bibir dan langit-langit (CLP) dapat mempengaruhi kemampuan bahasa dan berbicara. Hal tersebut terjadi karena perubahan struktur anatomi orofasial, sehingga terdapat beberapa keterbatasan dalam kemampuan artikulasi, Penelitian Neela afifah1), Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman pendidik dalam mengenali perkembangan bahasa anak sejak dini, sehingga anak tidak mendapatkan perlakuan yang seharusnya terkait gangguan artikulasi yang dialami. Sehingga, perlu adanya strategi baru untuk membantu anak yang terdeteksi memiliki gangguan artikulasi dengan adanya penanganan khusus yang bekerjasama dengan tenaga kesehatan dan orangtua, Penelitian Rangga Asmara, ( 2017 ) Objek dalam penelitian ini berupa realisasi kata, frasa, dan kalimat bahasa Indonesia, perubahan fonem yang mengiringinya, dan fonem-fonem yang sulit diujarkan oleh penderita bibir sumbing. Berdasarkan referensi tersebut diatas maka peneliti akan melakukan penelitian tentang tingkat keberhasilan orang tua dalam pendampingan proses belajar berujar Pada anak pasca operasi celah bibir dan langit – langit. Sebagai pedoman pelaksanaan penelitian tersebut adalah berdasrkan ide terkait dengan model pembelajaran dengan pendampingan yang juga di sebutkan di dalam Standar Pelayanan Terapi Wicara diterangkan bahwa, (1) Terapis Wicara harus mematuhi standar pelayanan Terapi Wicara. (2) Modifikasi terhadap standar pelayanan Terapi Wicara hanya dapat dilakukan atas dasar keadaan yang memaksa untuk kepentingan klien, antara lain keadaan khusus klien, kedaruratan, dan keterbatasan sumber daya. (3) Modifikasi terhadap standar pelayanan Terapi Wicara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dicatat dalam dokumentasi Terapi Wicara yang merupakan satu kesatuan dengan rekam medis [6] sebagai penambah pengetahuan peneliti menggunakan referensi dengan tema yang sama. Namun sesungguhnya tema dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih bermanfaat sepenuhnya untuk kasus celah bibir dan langit langit dan memberikan hasil yang maksimal , sehingga peneliti lebih menekankan pada prinsip keterlibatan orang tua sebagai pendamping dan pemberian modul tentang proses belajar berujar yang efektif namun masih mengacu pada standar pelayanan
Permasalahan terpenting dalam penelitian ini sangat terkait dengan hal standar pendidikan nasional yaitu Apakah standar isi belum terlaksana secara merata , Apakah Proses latihan yang dilakukan di Cleft Lips And Palate Center Surabaya sudah dilakukan maksimal , Apakah proses belajar di rumah sudah dilakukan oleh keluarga pasien, Apakah ada kendala saat melakukan latihan di rumah, Apakah proses pendampingan dilaksanakan sesuai prosedur, Apakah hal – hal yang terkait masalah standar penilaian sudah dilaksana sesuai prosedur . Untuk melakukan semua rencana program pengembangan suatu Lembaga perlu menyampaikan visi dan misi , Adapun visi adalah sebagai berikut “Orang tua sebagai pendamping menjadi kunci sukses belajar berujar” sedangkan misi yang di susun adalah pelayanan sesuai protokol , pelayanan harus paripurna dengan hasil yang maksimal , monitor dan evaluasi perkembangan berkesinambuang , drill oleh orang tua menjadi strategi pelayanan , home exercise program sesuai prosedur, dokumen manual dan digital , pemeriksaan secara berkala dengan menggunakan buku penghubung
Rencana pengembangan suatu lembaga harus mempunyai tujuan , sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :Agar semua penderita celah bibir dan langit- langit mendapatkan pelayanan sesuai protokol , pasien yang berasal dari keluarga kurang mampu namun pelayanan harus paripurna guna mendapatkan hasil yang maksimal , team dan terapis wicara mudah dalam monitor dan evaluasi perkembangan , Agar dengan kondisi Kuantitas profesi terapis wicara sangat terbatas sehingga berorientasi drill dan pendampingan pada anak didik sehingga dengan harapan proses keberhasilan bisa maksimal sesuai target, Agar target tercapai setelah Home Exercise Program sesuai batas waktu, agar semua catatan perkembangan terkait materi yang diberikan secara manual maupun digital harus disiapkan oleh orang tua ( Lembar Monitoring )
Pada dasarnya, manfaat penelitian adalah bagaimana suatu penelitian bisa bermanfaat dalam bidang keilmuan, masyarakat luas, ataupun kelompok tertentu , adapun manfaat ilmiah penelitian ini adalah terkait dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI ) sudah tegas yang dituliskan bahwa SOP menjadi acuan dalam memberikan Tindakan, namun kenyataan sulit diterapkan di lahan tertentu sehingga diperlukan strategi di dalam memberikan Tindakan dengan model pendampingan sehingga bisa dikatakan manfaat secara praktis untuk peneliti khususnya dan profesi secara umum, selanjutnya adalah pengembangan dengan membuat buku panduan dengan kasus bibir sumbing dan langit – langit menjadi salah satu pemandu dalam proses keanekaragaman karakter anak didik dan keluarga sehingga perlu dilakukan modifikasi terutama dari segi bahasa . Pemanfaatan PMK No. 81 ini menjadi pengalaman dan bisa digunakan di tempat lain , pada pasal 4.2 Modifikasi terhadap standar pelayanan terapi wicara hanya dapat dilakukan atas dasar keadaan yang memaksa untuk kepentingan klien, antara lain keadaan khusus klien, kedaruratan, dan keterbatasan sumber daya sebagai pihak ke tiga dalam penelitian ini dan hal yang paling penting adalah fasilitas sarana dan prasarana yang sudah lengkap tidak menjamin sepenuhnya program belajar akan tercapai sepenuhnya, namun harus ada kontiniunitas belajar dan selalu dilakukan evaluasi rutin, namun program pengembangan ini selalu Kembali berdasarkan standar pengukuran yang baku di dalam membuat suatu kesimpulan terkait keberhasilan proses belajar berujar , namun tetap melihat kesesuaian , terkait dengan visi misi Lembaga Dimana konsep Center yang mengedepankan pelayanan sosial murni, namun dalam memberikan pelayanan tetap berprinsip pelayanan yang optimal tanpa memandang status dan lain.
Topik dalam penelitian [7]adalah tema sentral yang akan dibahas dalam penelitian tersebut. Topik ini bisa didapatkan dari berbagai sumber bacaan, pengamatan, ataupun dari hasil penelitian orang lain. Sebuah topik dalam penelitian bisa saja ditinjau dari berbagai sudut pandang. Variasi sudut pandang inilah yang kemudian akan mengerucut menjadi judul yang konkrit. Sedangkan topik dalam penelitian ini adalah belajar berujar dengan pendampingan untuk anak pasca operasi celah bibir dan langit – langit. Pertanyaan penelitian yang baik sangat penting untuk memandu makalah penelitian, proyek penelitian ataupun tesis. Ini menunjukkan dengan tepat apa yang ingin diketahui dan mengharuskan Peneliti untuk fokus serta menetapkan tujuan yang jelas dari penelitian tersebut. Semua pertanyaan penelitian harus mencakup beberapa hal di bawah ini : focus pada masalah atau isu isu di masyarakat, diteliti menggunakan sumber primer dan / atau sekunder, layak untuk di jawab dalam kerangka waktu dan kendala praktis , cukup spesifik untuk menjawab secara menyeluruh, cukup komplek untuk mengembangkan jawaban atas ruang lingkup makalah atau tesis dan relevan dengan ruang lingkup peneliti dan/ atau Masyarakat luas. Dalam penelitian ini mengikuti langkah – langkah sebagai berikut : Berfokus pada satu topik dan masalah: Pertanyaan penelitian harus mengikuti dari masalah penelitian untuk menjaga Peneliti tetap fokus namun jika Peneliti memiliki banyak pertanyaan, semuanya harus jelas terkait dengan tujuan utama ini dan dijawab menggunakan data primer atau sekunder. Peneliti harus dapat menemukan jawaban dengan mengumpulkan data kualitatif, atau dengan membaca sumber-sumber ilmiah tentang topik untuk mengembangkan argumen. Jika data semacam itu tidak dapat diakses, Peneliti harus memikirkan kembali pertanyaan Peneliti dan mengajukan sesuatu yang lebih konkret.
Desain Penelitian [8] sebagai berikut :Pertama, interview, bertujuan untuk mencatat opini, perasaan, emosi, dan hal lain berkaitan dengan individu yang ada dalam organisasi. Interview dilakukan agar peneliti memperoleh data yang lebih banyak sehingga peneliti dapat memahami situasi/kondisi sosial dan budaya melalui bahasa dan ekspresi pihak yang diinterview dan dapat melakukan klarifikasi atas hal-hal yang tidak diketahui (Seidman, 2006).,kedua analisis dokumen, hal ini merupakan bukti unik dalam studi kasus yang tidak ditemui dalam interview. Selain itu, telaah terhadap catatan organisasi dapat memberikan data tentang konteks historis setting organisasi yang diteliti. Sumber datanya dapat berupa catatan administrasi, surat-menyurat, memo, agenda dan dokumen lain yang relevan (Fitrah & Lutfiyah, 2017). Penelitian kualitatif [9] adalah suatu proses penelitian untuk memahami fenomena-fenomena manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran yang menyeluruh dan kompleks yang dapat disajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan terinci yang diperoleh dari sumber informan, serta dilakukan dalam latar setting yang alamiah (Walidin, Saifullah & Tabrani, 2015: 77). Sejalan dengan Denzin & Lincoln (1994) penelitian kualitatif merupakan penelitian menggunakan latar alamiah dengan maksud menafsirkan sebuah fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Penelitian kualitatif berusaha untuk menemukan dan menggambarkan secara naratif kegiatan yang dilakukan dan dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap kehidupan mereka . Dalam penelitian dengan mengunakan metode kualitatif, kualitas penelitian [10] sangat tergantung pada kualitas dan kelengkapan data yang dihasilkan, Pada dasarnya kegunaan data (setelah diolah dan dianalisis) ialah sebagai dasar yang objektif didalam proses pembuatan Keputusan dalam rangka untuk memecahkan persoalan. Penelitian yang dilakukan bertumpu pada triangulation data yang dihasilkan dari tiga metode : wawancara , observation, dan telaah dokumen , triangulasi sangat bermanfaat untuk memperbaiki ketidaksempurnaan instrument, meningkatkan kepercayaan hasil penelitian, mengembangkan pertanyaan- pertanyaan lanjutan untuk menggali data dengan lebih mendalam. Prosedur penelitian dilakukan dengan cara menentukan pertanyaan penelitian, menentukan metode pengumpulan data dan teknik analisis data, persiapan pengumpulan data, mengumpulkan data di lapangan, mengolah data, dan membuat laporan. Pengumpulan data menggunakan studi literature, wawancara. Subjek penelitian adalah informan yang dipilih dari penerima bantuan biaya operasi celah bibir dan langit langit di CLP Center Surabaya bekerja sama dengan smile Train Indonesia yang telah dikonsulkan untuk mengikuti pelatihan bicara yang telah terjadwal setiap 3 bulan sekali dan dilakukan pelayanan di CLP Center Surabaya Jalan Nginden Intan No.56 Surabaya, namun untuk membatasi penelitian ini mengambil dari orang Tua dari 12 ( dua belas ) anak yang yang mengikuti program intensif terapi wicara dikategorikan sebagai pendamping, 3 (tiga )orang pasien remaja yang telah mengikuti program terapis wicara yang sampai saat itu masih mengikuti program perawatan gigi dikategorikan sebagai informan remja dan 4 (empat ) profesi Terapis Wicara. Adapun material dalam penelitian ini mempergunakan adalah : Modul untuk pasien celah bibir dan langit – langit ( Terlampir ), Modul Artikulasi tes dan Terapi (Terlampir ), Lembar Penilaian Artikulasi (Terlampir), Formulir Wawancara ( terlampir ), Petunjuk Penggunaan tes awal artikulasi (terlampir). Adapun teknik pengumpulan data dengan memanfaatkan data primer dan sekunder serta menggali informasi kepada informan. Selain itu juga peneliti melakukan pengamatan dan terjun langsung dalam menggali data di lapangan. Setelah data yang dibutuhkan terpenuhi maka dilakukan sebuah analisis data.
Berdasarkan Cara Memperolehnya, data dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung oleh peneliti dari sumber datanya. Beberapa teknik pengumpulan data primer antara lain: observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus group discussion, FGD), dan penyebaran kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti: Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan sumber data lainnya [11] . Data primer dalam penelitian ini adalah data yang terkait dengan jawaban langsung dari informan , informan terdiri dari 10 orang Tua anak yang yang mengikuti program intensif terapi wicara, 2 orang terapis wicara, 1 pasien yang sudah remaja, petugas Yayasan , sedangkan data sekunder berupa , literatur , dokumen lain terkait. Peneliti akan menggunakan metode wawancara juga merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan orang yang di wawancarai, teknis pelaksanaan wawancara dapat dilakukan secara sistematis yaitu wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu peneliti menyusun instrument pedoman wawancara. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Selain itu, agar informan dapat menyampaikan informasi yang komprehensif sebagaimana diharapkan peneliti, maka wawancara yang penulis lakukan adalah wawancara terarah di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Bentuk pertanyaan dalam wawancara untuk penelitian ini adalah Bentuk-Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman atau perilaku terkait dengan Tingkat keberhasilan pendampingan proses belajar berujar dengan HEP yang sudah disiapkan
Noeng Muhadjir (1998: 104) mengemukakan pengertian analisis data sebagai “upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna.”[12] . Pengumpulan data di lapangan tentu berkaitan dengan teknik penggalian data, dan ia berkaitan pula dengan sumber dan jenis data. Sumber data dalam penelitian kualitatif berupa: (1) katakata dan (2) tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen atau sumber data tertulis, foto, dan statistik. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes, pengambilan foto, atau film. Sedangkan sumber data tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi (Moleong, 2000:112- 113). Oleh karena itu, catatan lapangan tampaknya sangat perlu untuk digunakan dalam pengumpulan data selama di lapangan, ia merupakan instrumen utama yang melekat pada beragam teknik pengumpulan data kualitatif.
Gambar 1. Kerangka berpikir
Dalam penelitian ini , peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa pasien yang sudah mendapatkan pelayanan yang saat ini kita kategorikan informan pendamping , pertanyaan dan analisa jawaban singkat dari informan sebagai pendamping menjadi dasar uraian tentang hasil dan pembahasan dalam penelitian ini , adapun informasi yang di dapat terdiri dari dua belas informan yang telah memberikan info secara deatail .
Informan pertama menyatakan pelayananan sangatlah amat membantu dan mengurangi kesedihan ,
walaupun anak akan terlambat bicara, sangau saat dan saya baru tahuorang tua juga ikut belajar , karena ibu dirumah waktu banyak, saat ini saya belum bisa menilai , buku panduan sangat membantu, sangat bersediamembantu, kesulitan pasti ada karena mood anak tidak selaras moodnya dengan saya kadang bosan, ada perubahan , bisa fokus , bisa sedikit mengerti perlu agar lebih efisien hasilnya,
Informan kedua menyatakan rasa takut terkait dengan pelayanan karena pikiran campur aduk, setelah ope rasi hati saya agak tenang , hasilnya memuaskan saat usia 11 bln anak saya operasi langit , dimana awal suara yang kurang, tapi sekarang bicaranya jelas sampai tetangga tidak percaya "kok bisa " ya ngggk dhungseng k ata orang madura, saya kurang paham dalam menilai namun setelah dijelaskan saya lebih paham dan bisa menilai, terkait buku panduan sangat membantu, kami bersedia, kesulitan kadang ada kadang saya sharing dengan ortu anak2lainnya, alhamdulillah tampak ada hasil sehingga perlu ada rutinitas untuk sekalian untuk memantau tumbuh kembang anak.
Informan ketiga menyatakan sangat terbantu dengan adanya pelayanan ini walaupun kami bukan orang mampu kami tetap dibantu dan kami sangat bangga mudah – mudahn CLP semakin besar hanya tuhan yang akan membalas, sangat banyak beda kemampuan sesudah operasi ketahap langit langit dan kami dapat memahami ujarannya walaupun awalnya tidak kurang memahami , sangat bersedia mendampingi, tidak ada kesulitan sama sekali hanya saja kadang butuh kesabaran, ada kemajuan tapi mungkin kurang maksimal, tidak karena kami takut anak akan tertekan jika terus menerus .
Informan keempat sebelum operasi tidak tau sama sekali, pelayananya sangat bagus memuaskan, orang tua dibimbing sampai tuntas, sebelum nya tidak tau sama sekali tapi setelah bergabung CLP jadi tahu apa yang harus dilakukan, tahu karena sejak awal sudah dibimbing dari CLP, sedikit bisamenilai , penyampaian mudah dimengerti , sangat bersedia membantu, tidak ada kesulitan karaena kita orang tua selalu diarahkan, sangat ada perubahan, ya harus dilaksanakam secara rutin.
Informan kelima menyatakan pelayanan sangat bagus, cara melatih anak dengan metode khusus untuk melatih anak agar bisa berbicara dengan bena, berbicara belum terlalu kosa kata mengeluarkan suara ada nafas keluar dari hidung , sesudah operasi terdengar bagus , suara tidak sengau, hanya sedikit , tapi masih ada seperti nafas keluar dari hidung, keseluruhan sudah bagus untuk anak saya karena dia bisa berbicara lancar dan jelas, saya mengerti, kurang lebih saya mengerti, sangat siap membantu melatih, kesulitan pasti ada, terdapat banyak perubahan, sangat perlu untuk perkembangan dan dirumah harus sering berlatih dengan panduan .
Informan keenam menyatakan pelayanan sangat puas, petugas membantu dalam menjelaskan prosedur yang harus kita lakukan, sebelum operasi terdengar sengaunya jelas, sesudah operasi sengaunya berkurang , mengerti tentang buku panduan, bisa menilai, sangat membantu , saya bersedia, alhamdulillah tidak ada kesulitan karena adanya tips diberikan, sangat ada perubahan , ya harus ada aktifitas dekerjakann secara rutin Informan ketujuh saya menyatakan merasa bersyukur anak2 yang lainnya bisa tersenyum,ceria dan mengikuti terapi bicara bersama dokter zul dan teman2 yang lainnya, alhamdulillah setelah dilakukan program terapi bicara dan arahan dr zul,anak saya bisa berbicara jelas huruf satu persatu sebelumnya belum jelas, belum mengerti tapi lama - lama mengerti, prinsipnya bisa menilai bagus Insyaallah saya usahakan, Insyaallah tidak ada kesulitan, perubahan anak lebih tegas , belajar dengan spontan dengan kata kata kegiatan sehari- hari .
Informan kedelapan menyatakan pelayanan sangat memberikan rasa bahagia dan puas sebelum tindakan operasi masih sangat sulit untuk menggerakan bibir apalagi sampai mengeluarkan kata-kata, tapi setelah operasi anak lebih leluasa untuk belajar mengeluarkan kata , sangat paham atas tujuan terapi , saya sangat bisa menilai, petugas sangat profesional sekali, saya selalu mendampingi serta mendidik anak hebat saya sampai kapanpun , tidak ada kesulitan sama sekali , tingkatan belajarnya pun juga tidak terlambat, ya tentu ada kesulitan , sangat setuju diadakan agar lebih tepat dan jelas.
Informan kesembilan menyatakan pelayanan sangat baik, sebelum operasi anaknya cuma bisa nangis aja, kalau sudah di operasi sudah bicara tapi belum jelas, kalau masih awal sih belum ngerti, tapi kalau sering datang terapi ya sudah mengerti, mampu menilai, buku panduan perkembangan semakin baik, sangat bersedia mendampingi, tidak kesulitan dalam mendampingi belajar, ada perubahan setuju bisa dilaksanakan secara rutin.
Informan kesepuluh menyatakan pelayanan sangat baik, ramah , sangat membantu, sebelum operasi sulit untuk berbicara, setelah operasi mengikuti terapi wicara untuk belajar artikulasi dengan benar dan mengajarkan pola bicara motorik baru. Menurut saya, terapi wicara bertujuan untuk mempelajari penempatan artikulasi dengan benar mengalami gangguan pendengaranPanduan yang diberikan oleh terapis menurut saya mudah untuk dipahami Sangat bersedia Kesulitan, sering tantrum, semaunya sendiri, dan sulit dikondisikan, keterlambatan berbicara berjalannya waktu, anak saya memang tergolong lambat, tapi tetap mengalami perkembanganPerlu
Informan kesebelas menyatakan pelayanan sangat bagus, sangat terbantu, petugas sangat ramah, sebelum operasi sengau & sebelumnya beberapa huruf konsonan, vokal, & pelafalannya semakin jelas, untuk meningkatkan kemampuan bicara perkembangan bagus, sangat membantu programnya, sangat bersediamendampingi, tidak ada perubahan yang sangat signifikansangat tindak lanjut sangat penting .
Informan kedua belas menyatakan pelayanan sangat bagus, sebelum sangat pemahaman sebagai orang tua, namun kekurang sesudah operasi dan Latihan ada perbaikan dimana bicara lebih baik, alhamdulillah meskipun saranan prasarana sederhana tapis cukup membuat nyaman, “Mereka itu akan diberikan balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka dan disana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam”. (QS. Al-Furqan Ayat 75).
Betapa sangat penting dan mulianya perilaku shalat yang dipraktikkan oleh orang orang yang beriman dengan aqidah yang tinggi semata-mata mengharapkan cinta dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta ’ala juga mengharapkan pahala dari-Nya. Sabar dalam hal ini adalah Sabar dalam Menghadapi Musibah . Sabar dalam menghadapi musibah ini yakni jika seseorang dihadapkan musibah oleh Allah SWT berupa bencana alam, kematian, kehilangan harta benda dan sebagainya Tetapi sebagai hamba Allah yang beriman mencoba bertahan mengendalikan emosi diri dengan sifat dan sikap kesabaran bahwa musibah apa pun yang menimpa diri seseorang sebenarnya harus mengitikadkan yang pada hakikatnya musibah itu tidak akan terjadi melainkan atas takdir dan kehendak Allah SWT. Cuma manusia harus terus berbuat taat kepada Allah SWT dengan sebaik mungkin dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan tidak akan melakukan kerusakan di muka bumi, yang dapat mengundang musibah itu sendiri. Jadi secara sunnatullah upaya manusia untuk berikhtiar dengan seyakin-yakinnya dan dengan sekuat tenaga supaya tidak berbuat kerusakan yang mengundang datang musibah yang dalam hubungan ini akan menimpa dirinya dan lingkungannya seperti musibah bencana alam dan lainnya yang tentu ada upaya manusia dalam hubungan ini agar dapat menjaga hubungan-hubungan seimbang melestarikan lingkungan alam dengan cara tidak berupaya melakukan kerusakan lingkungan sesuai dengan sunnatullah bahwa kalau upaya manusia bekerja dengan sebaik mungkin maka akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan lingkungannya juga kebalikannya apabila manusia suka melakukan kemungkaran dan kejahatan merusak lingkungan hidup maka secara sunatullah akan mendatangkan kepada mereka bahaya musibah. Karena itu keburukan-keburukan tentu akan datang menimpa diri mereka sendiri menyimpan oleh karena itu, manusia akan bisa berusaha berperilaku sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji dengan sengaja mengundang musibah yang disebabkan oleh kelalaian dan kejahatan terhadap perusakan lingkungan hidupnya. AlQur’an menjelaskan secara sempurna agar manusia tetap berperilaku sabar dengan dasar iman dan taqwa yang sesungguhnya dan terus berusaha mendahulukan kebaikan yang berkualitas sebanyak mungkin. Kebaikan-kebaikan terpuji dan mulia itu dapat berakibat terjadinya kebaikan terhadap kebaikan lingkungan lainnya menjadi sempurna sehingga karena itu Allah mencukupkan pahala tanpa batas untuk orang-orang yang bertakwa, tentu saja bagi orang yang terus-menerus dengan sabar melakukan kebaikan-kebaikan terpuji yang mendatangkan kemuliaan. Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar Ayat 10 menjelaskan bahwa sebagai berikut: team sangat baik sekali karena selalu ditangani oleh dokter ahli pada bidangnya, siap membantu, tidak ada kesulitan karane kita orang tua selalu diarahkan, mungkin sangat membantu sekali karena di CLP peran orang tua selalu dinomor satukan bukan hanya dokter yang bertugas, tapi orang tua juga dilibatkan, sehingga akan sangat membantu.
Dari beberapa keterangan diatas terkait tentang Pelayanan secara umum adalah sangat baik, pemahaman pada awal cenderung masih kurang namun setelah mendapatkan penjelasan dari petugas yang profesional serta adanya pemberian modul terkait hal -hal yang berhubungan dengan problem anak anak maka mulai memahami bahkan mampu memberikan penilaian serta memberikan arahan arahan untuk prose berujar, namun hala hal yang terkait proses belajar pasti mengalami kesulitan namun berkat semangat, kemauan dan panduan terkait strategi pendekatan sehingga perubahan dapat diperoleh walaupun belum maksimal. Harapan dari pendamping bahwa program ininterus berlangsung , dan juga bisa dijadikan standar pada beberapa lembaga terkait yang memberikan pelayanan untuk proses belajar berujar .
informasi – informasi yang diberikan oleh informan merupakan data yang sangat penting sekali , dapat peneliti bisa mendapatkan bahwa dukungan yang bisa diberikan pendamping pada anaknya tidak terbatas pada pemenuhan finansial saja. Namun juga kehadiran mereka ketika anak-anak sedang barlatih berujar. Bahkan, anak yang didampingi ketika barlatih berujar cenderung mendapatkan hasil yang lebih baik, dan dapat dijelaskan beberapa hal bahwa mendampingi anak barlatih berujar memberikan gambaran manfaat antara lain : (1). Anak Jadi Lebih Fokus Barlatih berujar. Tentu sebagai pendamping kita sudah tahu, jika anak cepat teralihkan fokusnya ketika barlatih berujar. Tidak lain ini dikarena rentang waktu fokus mereka masih sangat terbatas. Namun, ketika mendampingi saat barlatih berujar, bisa membantunya agar kembali fokus dan menciptakan suasana barlatih berujar yang kondusif. (2). Membangun Contoh yang Baik dan Anak Jadi Lebih Disiplin. Contoh baik yang kita berikan untuk anak-anak, akan membantu mereka memiliki kemampuan barlatih berujar yang lebih baik dan akan diingat sampai mereka besar. Salah satunya adalah ketika mendampinginya barlatih berujar . Selain itu, ketika kita ada di dekatnya ketika barlatih berujar, maka secara tidak langsung akan membantu anak-anak untuk rutin terhadap jadwal barlatih berujarnya. Sehingga nantinya, mereka akan berinisiatif untuk barlatih berujar sendiri ketika waktunya sudah tiba. (3). Anak Jadi Lebih Percaya Diri . Rasa percaya diri pada anak sangatlah penting. Hal tersebut bisa di bangun mulai dari mendampingi mereka barlatih berujar di rumah. Anak-anak yang didampingi ketika barlatih berujar, merasa lebih yakin ketika menyelesaikan berbagai soal-soal latihan. Kepercayaan diri ini juga akan membuat mereka lebih tenang ketika mengerjakan tugas di tempat latihan bicara. Rasa percaya diri yang dimiliki anak juga akan membuat mereka termotivasi untuk terus barlatih berujar. Tentu saja, hal tersebut karena kehadiran kita di dekatnya. (4). Anak Tahu Cara Mendapatkan Sumber Informasi yang Baik untuk Dirinya . Menemani anak barlatih berujar juga akan membuat mereka tahu bagaimana mencari informasi yang baik. Pada akhirnya, kitalah yang akan menjadi sumber informasi mereka. Karena anak-anak merasa, ketika mereka bertanya kita bisa memberikan jawaban yang tepat. ( 5 ). Melatih Kemampuan Berkomunikasi dan Berpikir Kritis. Saat mendampingi anak barlatih berujar, juga perlu mengajaknya berdiskusi terkait materi yang sedang dipelajarinya. Izinkan mereka untuk bertanya tentang kesulitan yang dihadapi. Dengan demikian, anak-anak juga akan terbiasa untuk berkomunikasi tentang banyak hal. Tidak dipungkiri, ketika sedang tanya jawab, kadang anak-anak akan menyampaikan hal tak terduga atau mengejutkan.Itu bukanlah masalah besar, karena berdiskusi juga mengasah kemampuannya berpikir kritis. (6). Dapat Barlatih berujar Mencari Tahu Penyebab Masalah dan Menemukan Solusi. Saat menemani anak-anak barlatih berujar, mereka juga akan terbiasa berkomunikasi tentang banyak hal. Dari sinilah, kita bisa mencari tahu apa saja masalah yang mereka hadapi. Bantu anak-anak menemukan solusinya dengan bertukar pendapat atau diskusi. Meskipun mungkin kendala yang dihadapi anak-anak terlihat sepele, tapi kondisi tersebut dibiarkan akan membuat mereka kehilangan minat barlatih berujar hingga mengganggu psikisnya. Justru, inilah momen terbaik bagi untuk menemani mereka dan membantu menyelesaikan masalahnya. ( 7). Tercipta Bonding yang Kuat antara Anak dengan Pendamping . Saat mendampingi anak barlatih berujar, kita bisa bertanya banyak hal sederhana pada mereka. Siapa terapis kesukaannya? Apa yang mereka lakukan hari ini di tempat latihan bicara? Bagaimana perasaan mereka saat di tempat latihan bicara? Membuat obrolan sederhana dengan anak saat barlatih berujar, akan menjadi “jembatan” untuk menjadi lebih dekat secara emosional dengan mereka. Mendampingi anak barlatih berujar memiliki banyak manfaat, yang tidak hanya untuk diri mereka tapi untuk kita sebagai pendamping.
Keluarga memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar dalam mendidik dan mengarahkan anak dalam proses barlatih berujar . Orang yang memikul tanggung jawab besar itu tidak lain adalah pendamping . Namun sering terjadi kekeliruan ketika anak sudah memasuki tempat latihan bicara pendamping seakan sudah lepas tanggung jawab terhadap proses barlatih berujar anaknya dan menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya hanya kepada terapis. Sehingga menyebabkan proses barlatih berujar anak menjadi tidak optimal. Oleh karna itu perlu adanya komunikasi yang baik antara pendamping dan terapis demi keberhasilan barlatih berujar anak. Anak pada dasarnya mempunyai kemampuan dalam hal barlatih berujar , tetapi karna cara barlatih berujar nya salah dan pendamping nya tidak memberikan pengarahan, akhirnya anak merasa sulit barlatih berujar . Hal ini dapat terjadi dalam keluarga yang pendamping nya terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Bahkan pendamping tidak mau tahu atas perkembangan prestasi barlatih berujar anak (Prasetyo, 2018). Kesulitan yang dialami anak dalam proses barlatih berujar nya akan menyebabkan anak menjadi kurang berhasil mencapai prestasi barlatih berujar . Apabila anak ingin mendapat prestasi barlatih berujar yang baik maka pendamping harus memberikan semangat dan pengarahan kepada anak tersebut. Pendamping yang sibuk bekerja, cenderung kurang memperhatikan proses barlatih berujar anak. Anak yang tidak mendapatkan perhatian dari pendamping nya akan bertindak semaunya sendiri dan sulit berkonsentrasi saat barlatih berujar , hal itu mengakibatkan prestasi barlatih berujar anak menurun. Pendampingan pendamping pada saat barlatih berujar terutama di rumah, dapat menciptakan ikatan emosional yang baik antara anak dengan pendamping . Secara psikologis, pendampingan pendamping membantu anak merasa tidak sendiri, merasa percaya diri, dan merasa diperhatikan. Bicara yang lebih jelas merupakan salah satu tolok ukur dalam keberhasilan barlatih berujar anak. Hal ini karna pendamping merupakan tokoh yang penting bagi anak. Bagaimana yang ditampilkan pendamping , bagaimana corak hubungan yang terjadi antara pendamping dan anak, dan juga bagaimana minat dan perhatian pendamping terhadap tempat latihan bicara semua ini akan berpengaruh pada prestasi barlatih berujar siswa. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa orangtua memberi pengaruh sebesar 70% terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya, sisanya 30% dipengaruhi oleh lingkungan [13]yaitu tempat latihan bicara dan masyarakat. Sebab, anak lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga (utamanya dengan pendamping nya). Saat ini pendamping menjadi tokoh yang cukup disoroti semenjak diterapkannya system barlatih berujar dar rumah. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah banyak dari pendamping yang masih belum mengerti tentang pentingnya pendampingan pendamping selama anak barlatih berujar di rumah. Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor seperti pendamping yang sibuk bekerja, pendamping yang kurang peduli terhadap anaknya dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal tersebut tentu akan membuat proses barlatih berujar anak kurang maksimal sehingga prestasi barlatih berujar anak pun menurun
Namun dari informasi yang diterima peneliti juga terdapat beberapa hal yang menyampaikan terkait kendala dalam mendampingi anak anak dalam proses barlatih berujar[14] ini menunjukkan bahwa semakin pentingnya peran pendamping dalam membimbing anak barlatih berujar dirumah menggantikan tugas terapis di tempat barlatih berujar berujar . Hal yang dapat menimbulkan masalah atau kendala baru yang dialami pendamping, seperti: (1). Kurangnya pemahaman materi oleh pendamping. menunjukkan bahwa pemahaman meteri oleh pendamping dalam mendampingi anak barlatih berujar, dikarena latar belakang pendidikan para pendamping berbeda sehingga peneliti mencoba membuat materi buku panduan dan cara penyampaian dengan model sangat sederhana serta kondisi anak juga yang berbeda bahkan ada beberapa hal terkait dengan perlakuan sikap sosial yang belum standar yang disebabkan budaya ditempat tinggal mereka masih menganggap bahwa anak yang bermasalah pasca operasi tidak boleh disamakan dengan anak lain yang normal, sehingga dirumah menjadi kendala dalam pelaksanaannya, ditunjukkan dengan hasil wawancara kepada pendamping yang menyatakan bahwa menyampaikan ilmu kepada anak usia dini tidaklah mudah dan membutuhkan latihan khusus., banyak pendamping yang kurang dalam memahami materi yang diberikan oleh pihak tempat latihan bicara atau terapis , pendamping menganggap tugas yang diberikan terlihat sulit sehingga mereka sulit untuk menyampaikannya kepada anak . bahkan ada beberapa pendapat bahwa Pemahaman materi yang luas yang dimiliki oleh pendamping sangat bermanfaat dalam membantu anak barlatih berujar dirumah, jadi barlatih berujar tidak bisa maksimal jika pendamping belum sepenuhnya memahami materi yang diberikan oleh terapis untuk diajarkan kepada anak. (2). Kesulitan dalam menumbuhkan minat barlatih berujar anak. Menumbuhkan minat barlatih berujar anak juga menjadi kendala yang dirasakan oleh pendamping selama mendampingi anak barlatih berujar dirumah. Hal ini tentu menjadi hambatan yang berarti, mengingat bahwa membangun motivasi anak adalah cara yang ampuh dalam membentuk hasil akademis anak yang bagus ( Jurnal Pemberian Motivasi Belajar pada Anak Melalui Keuarga memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar dalam mendidik dan mengarahkan anak dalam proses barlatih berujar . Orang yang memikul tanggung jawab besar itu tidak lain adalah pendamping . Namun sering terjadi kekeliruan ketika anak sudah memasuki tempat latihan bicara pendamping seakan sudah lepas tanggung jawab terhadap proses barlatih berujar anaknya dan menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya hanya kepada terapis. Sehingga menyebabkan proses barlatih berujar anak menjadi tidak optimal. Oleh karna itu perlu adanya komunikasi yang baik antara pendamping dan terapis demi keberhasilan barlatih berujar anak. Anak pada dasarnya mempunyai kemampuan dalam hal barlatih berujar , tetapi karna cara barlatih berujar nya salah dan pendamping nya tidak memberikan pengarahan, akhirnya anak merasa sulit barlatih berujar . (3) keluarga yang menjadi pendampingnya terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Hal ini dapat terjadi , Bahkan pendamping tidak mau tahu atas perkembangan prestasi barlatih berujar anak Kesulitan yang dialami anak dalam proses barlatih berujar akan menyebabkan anak menjadi kurang berhasil mencapai prestasi barlatih berujar . Apabila anak ingin mendapat prestasi barlatih berujar yang baik maka pendamping harus memberikan semangat dan pengarahan kepada anak tersebut. Pendamping yang sibuk bekerja, cenderung kurang memperhatikan proses barlatih berujar anak. Anak yang tidak mendapatkan perhatian dari pendamping nya akan bertindak semaunya sendiri dan sulit berkonsentrasi saat barlatih berujar , hal itu mengakibatkan prestasi barlatih berujar anak menurun. Pendampingan pendamping pada saat barlatih berujar terutama di rumah, dapat menciptakan ikatan emosional yang baik antara anak dengan pendamping . Secara psikologis, pendampingan pendamping membantu anak merasa tidak sendiri, merasa percaya diri, dan merasa diperhatikan.Bicara yang lebih jelas merupakan salah satu tolok ukur dalam keberhasilan barlatih berujar anak. Hal ini karna pendamping merupakan tokoh yang penting bagi anak. Bagaimana yang ditampilkan pendamping , bagaimana corak hubungan yang terjadi antara pendamping dan anak, dan juga bagaimana minat dan perhatian pendamping terhadap tempat latihan bicara semua ini akan berpengaruh pada prestasi barlatih berujar anak . Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa orangtua memberi pengaruh sebesar 70% terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya, sisanya 30% dipengaruhi oleh lingkungan yaitu tempat latihan bicara dan masyarakat. Sebab, anak lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga (utamanya dengan pendamping nya). Saat ini pendamping menjadi tokoh yang cukup disoroti semenjak diterapkannya sistem barlatih berujar dar rumah. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah banyak dari pendamping yang masih belum mengerti tentang pentingnya pendampingan selama anak barlatih berujar di rumah.
Dapat disimpulkan bahwa menumbuhkan minat anak untuk barlatih berujar sangat penting, dalam kegiatan berlatih berujar, anak lebih suka barlatih berujar dengan terapis nya ditempat latihan bicara sehingga tidak tertarik ketika dibimbing, anak menjadi tidak fokus karena minatnya dalam barlatih berujar sangatlah kurang. Pendamping tidak memiliki cukup waktu untuk menemani anak barlatih berujar dirumah karena harus bekerja, sebab pendamping adalah pendidik yang pertama bagi anak dalam pendidikan keluarga, maka dari itu, pendamping harus selalu berupaya semaksimal mungkin untuk membimbing anak ketika barlatih berujar dirumah , kendala yang dihadapi pendamping dalam membina anak adalah terkadang kurangnya waktu yang dimiliki orang akibat sibuk bekerja di luar. Dengan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh pendamping untuk mendampingi anak barlatih berujar dirumah, seharusnya tidak bisa menjadi penghalang momentum keluarga dan juga menjadi ekspetasi kita semua bahwa momen “barlatih berujar dari rumah” ini akan berjalan dengan sukses walaupun terkendala oleh keterbatasan waktu . (4 ). Pendamping Tidak Sabar Dalam Mendampingi Anak Barlatih berujar Dirumah, banyak pendamping dalam menemani barlatih berujar anak dirumah kurang sabar sehingga muncul kekesalan dan melampiaskannya pada anak. Sejatinya pendamping harus menjadi figur dalam memberi kesabaran pada anak, hal lain menunjukkan bahwa ternyata pendamping juga sudah merasa jenuh dengan pembarlatih berujar yang dilakukan dirumah.
Al-Qur’an memberi petunjuk kepada orang-orang Islam yang beriman supaya menetapi kesabarannya[15] dengan shalat, karena shalat adalah sarana komunikasi hamba dengan Tuhannya dan dapat membimbing manusia cara mengendalikan emosi diri dari dorongan-dorongan keinginan hawa nafsu atau syahwat untuk melakukan kejahatan yang dapat membahayakan manusia. Dalam Syari’at Islam dengan mengerjakan shalat dapat memperbaiki perbuatan keji dan munkar yakni dengan perilaku melaksanakan ajaran agama. Sabar dalam keterangan ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa manusia yang telah beriman wajib melakukan aktivitas shalat sehingga dapat membantu membimbing manusia ke arah kesadaran dan kesabaran. Bermohon sesuatu yang diinginkan manusia disertai sabar dan dengan ibadah shalat dapat berharap agar orang-orang yang shalat dan doa untuk kebaikannya dapat diterima oleh Allah S.W.T. Orang yang sempurna dalam shalatnya sudah dapat dipastikan memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dalam mengendalikan emosi atau menahan diri untuk tidak melakukan segala bentuk perbuatan keji dan munkar. Sabar ini memang dapat dikategorikan kepada tingkah laku yang memiliki tingkat dan derajat yang tinggi dalam lingkungan hidup apa pun dan di mana dia hidup serta berusaha mengembangkan diri untuk kebaikan hidupnya yang menginginkan kesempurnaan hidupnya baik di dunia maupun untuk masa depan di akhiratnya. Orang yang kuat mengendalikan diri dengan berbagai godaan dan ikhlas menetapi kesabarannya dalam berbuat taat kepada Allah SWT atau terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya dengan sempurna, akan membawa kebaikan dunia dan akhiratnya serta nantinya di akhirat kelak akan dimasukkan ke dalam Surga Jannatun Na’im. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat AlFurqan ayat 75 maka Allah SWT menerangkannya dengan jelas sebagai berikut
Artinya: “Katakanlah (Muhammad) Wahai hamba-hambaku yang beriman bertaqwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar Ayat 10). kesabaran itu sesungguhnya adalah beriman dan bertakwa kepada Allah dengan menjalankan Syari’at Islam secara kaffah dan benar, sebab itu sabar yang berdasarkan keikhlasan karena keyakinan kepada Allah melakukan ibadah yang sesungguhnya kepadaNya maka akan dapat mewujudkan kepribadian yang baik menahan emosi diri terhadap segala sesuatu keinginan dan kebutuhan yang rendah. Orang-orang yang sabar melakukan kebaikan akan mudah memperoleh kebaikan atau keutamaan diri dalam hidupnya, sehingga bisa mendorong dirinya mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan apa pun dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Dan bumi ini terasa luas dan lapang baginya karena perilaku kesabarannya banyak disukai dan disenangi orang atau lingkungan di mana saja ia berada berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan hidupnya.
Orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh atas anaknya, berhasil atau tidaknya seorang anak tentu ada peran orang tua yang mendidik dan membesarkan dari kecil hingga dewasa. Keterlibatan orang tua diartikan sebagai hal-hal yang dilakukan orang tua untuk ambil bagian dalam kehidupan anak mereka, yakni termasuk dalam membantu anak untuk mengembangkan perilaku positif, menentukan peraturan dan disiplin bagi anak, dan membantu anak dalam belajar Sesuai dengan motto yang ambil peneliti yang terdapat dalam menerangkan tentang kegaiban dan keajaiban yang sangat dekat dengan manusia, yakni kesempurnaan proses perkembangan janin. Selama manusia di dalam rahim, Allah SWT menganugerahi potensi, bakat, dan kemampuan seperti berpikir, berbahagia, mengindra, dan lain-lainnya dalam diri manusia. Setelah manusia tersebut lahir, maka anugerah tersebut kian berkembang. Mulai dari akalnya yang mampu memikirkan tentang kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, begitu pun dengan hak dan batil. Sementara melalui pendengaran dan penglihatan yang berkembang, manusia dapat mengenali dunia sekitarnya, mempertahankan hidupnya, hingga menjalin hubungan dengan sesama manusia. Semua hal tersebut merupakan anugerah dan rahmat dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Karenanya, kita sebagai hamba-Nya harus selalu bersyukur kepada Allah. Bersyukur bisa dilakukan dengan cara beriman kepada keesaan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Surat An Nahl ayat 78 menjelaskan tentang bukti kekuasaan dan pengetahuan Allah SWT yang dapat mengeluarkan manusia dari perut ibunya. "Kamu sebelumnya tidak ada, kemudian terjadilah suatu proses yang mewujudkanmu dalam bentuk janin yang hidup dalam kandungan ibu dalam waktu yang ditentukan-Nya,"
Dalam penelitian ini , peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa pasien yang sudah mendapatkan pelayanan yang saat ini kita kategorikan pasien remaja sejumlan tiga pasien remaja , pertanyaan dan analisa jawaban singkat dari informan sebagai pendamping menjadi dasar uraian tentang hasil dan pembahasan dalam penelitian ini , adapun informasi yang di dapat terdiri dari tiga informan yang telah memberikan info secara deatail .
Informan pertama menyatakan pelayanan sangat memuaskan, kami dibimbing bagaimana cara makan dan minum baik sebelum operasi maupun setelah operasi, dan kami juag berterima kasih sekali bisa mengikuti program latihan bicara di CLP Center Surabaya, sebelum operasi saat berbicara artikulasinya belum jelas, setelah dilatih sedikit demi sedikit bisa jelas dalam pengucapannya, kami mengerti terkait buku panduan yang ada , Insyaallah saya mampu mengikuti arahan buku panduan karena sangat membantu , saya bersedia mengikuti program , tidak ada kesulitan dalam menjalankan program , alhamdulillah banyak sekali perubahannya, perlu di selenggarakan dan menurut saya penting agar anak lebih percaya diri dilingkungan manapun dia berada. Informan kedua menyatakan pelayanan sangat baik, sebelum operasi bicara nya susah setelah operasi bicara lebih bisa, mengerti bagaimana menilainya karena sebelum itu sudah diberikan uraian oleh team CLP, sudah, sangat baik dan membantu, Ya bersedia tu, tidak ada kesulitan
Informan ketiga menyatakan beliau dapat informasi dari dokter bersalin, jarak lumayan dekat, tentang sarana prasarana sangat lengkap dan terbantu, tentang program sangat sesuai karena di bagi sesuai umurnya, terkait proses awal adalah sebagai berikut :"Awalnya saya tahu dari tetangga dia juga dokter dan saya memasuki CLP center sampai saat ini saya melakukan proses perawatan gigi sangat membantu."awalnya tidak jelas bicara sekarang menjadi jelas, ya sangat efektif, sangat membantu dan bermanfaar karena buku panduan itu sangat penting terkait proses perkembangan.
Dari beberapa keterangan diatas terkait sarana pelayanan yang berjarak cukup jauh dari beberapa informan tidaklah menjadi penghalang , bagi mereka kesehatan merupakan hal yang paling utama, dan jumlah pasien yang mayoritas lokasi rumah di luar Surabaya tetapi melihat agenda kedatangan untuk Latihan hampir semua hadir dalam jadwal yang diberikan. Bahkan banyak yang dating dengan senang hati karena sarana dan prasarana CLP Center Surabaya sangat Ekslusif , hal ini juga banyak yang menyatakan manfaat yang sangat besar dengan adanya model pelayanan seperti yang diberikan CLP Center Surabaya karena Prinsip keterlibatan orang tua sebagai pendamping sangat dominan, bahkan banyak yang menyatakan efektif jika diterapkan pada lembaga dimanan dengan pemberian modul berupa buku Panduan di awal kedatangan karena proses perbaikan ujaran pasca operasi pasti akan ada , para remaja ini menjadi bukti terkait dengan uraian diatas.
Dalam penelitian ini juga melakukan wawancara dengan profesi Terapi wicara yang juga memberikan pelayanan Terapi Wicara, pertanyaan dan analisa jawaban singkat dari informan sebagai Terapis Wicara menjadi dasar uraian tentang hasil dan pembahasan dalam penelitian ini , adapun informasi yang di dapat terdiri dari empat informan yang telah memberikan info secara deatail .
Informan pertama menyatakan bahwa CLP Center Surabaya merupakan Center yang team sangat professional dan sudah banyak membantu pasien terutama wilayah Jawa Timur, , beberapa pasien masih ada yang terdengar adanya substitusi artikulasi dan suara sengau, sangat setujuYa ,setuju, Ya saya rasa efektif, Ya ,setuju.
Informan kedua menyatakan Terapis Wicara menyatakan CLP Center Surabaya merupakan Center yang team sangat professional dan sudah banyak membantu pasien terutama wilayah Jawa Timur,Masih terkesan terdengar sengau sehingga menjadi kurang jelas, Setuju,Setuju efektif karena peran pendamping juga di butuhkan saat melakukan pengulangan latihan dirumah, Setuju.
Informan ketiga menyatakan CLP Center Surabaya merupakan Center yang team sangat professional dan sudah banyak membantu pasien terutama wilayah Jawa Timur, yang saya temui mereka memiliki permasalahan pada kejelasan bicara, setuju, setujuya, sangat efektif Setuju.
Informan keempat menyatakan bahwa CLP Center Surabaya merupakan Center yang team sangat professional dan sudah banyak membantu pasien terutama wilayah Jawa Timur,
Mereka memiliki masalah kejelasan bicara dan suaraSetuju, program ini bisa dilakukan daruma Setuju Setuju, peran pendamping untuk terlibat dalam proses terapi sangat dibutuhkan setuju.
Dari beberapa keterangan diatas terkait bagaimana kiprah CLP Centet Surabaya disimpulkan bahwa sarana pelayanan sudah banyak membantu pelayanan khususnya wilayah Jawa Timur terkait dengan dengan proses berujar untuk artikulasi / ujaran tingkat keberhasilan lebih baik dibandingkan dengan kasus suara yang masih di alami pada pasien post operasi, terkait Home Exercise Program (HEP) , melibatkan orang tua dan penerapan pada semua lembaga sangat setuju di terapkan dan bisa di jadikan sumber evaluasi perkembangan , terkait ketentuan yang terdapat dalam standar pelayanan yang berbunyi “Modifikasi terhadap Standar Pelayanan Terapi Wicara hanya dapat dilakukan atas dasar keadaan yang memaksa untuk kepentingan klien, antara lain keadaan khusus klien, kedaruratan, dan keterbatasan sumber daya.“ sangat setuju
Terkait dengan peran lembaga sosial menjadi sangat di butuhkan bila banyak anak yang terlahir dalam kondisi yang perlu dilakukan tindakan khusus sementara ekonomi keluarganya terbatas sehingga yang menjadi pedoman terpenting seperti yang Surat Al Maidah ayat 2 adalah ayat tentang tolong-menolong. Juga tentang beberapa larangan. Berikut ini arti, tafsir dan kandungan maknanya. Surat Al Maidah (المائدة) termasuk madaniyah. Imam Ahmad meriwayatkan, surat ini turun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang naik unta. Hampir saja paha unta itu patah karena begitu beratnya wahyu yang diterima Rasulullah. Pada ayat 2 ini, ada sejumlah aturan yang Allah turunkan mulai dari larangan melanggar syiar-syiar Allah, larangan melanggar kehormatan bulan haram, hingga larangan berbuat aniaya. Yang paling populer, ayat ini memerintahkan tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa serta melarang tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya."(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 2) Poin ketujuh dari Surat Al Maidah ayat 2 adalah kewajiban tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa.
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Pada ayat ini, Allah memfirmankan perintah tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa. Sebaliknya, Dia melarang tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, berusahalah semaksimal mungkin untuk menggapai hal-hal yang bermanfaat untukmu! Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi orang yang lemah!
Peran orang tua dan lingkungan yang kondusif juga sangat di butuhkan untu k menghantarkan anak anak yang terlahir dalam kondisi yang memerlukan tindakan khusus , orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus mendapatkan penerimaan di lingkungan sekitar. Akan tetapi, pada awalnya terdapat beberapa anak yang mengalami pengolokan oleh salah satu warga di kampung sebelah komplek rumah anak tersebut. Namun, seiring berjalanya waktu, warga kampung tersebut tidak melakukannya lagi. Orangtua tersebut memiliki cara yaitu membebaskan anak-anaknya melakukan aktivitas layaknya anak-anak normal dengan membebaskan anak-anaknya bermain dengan teman-teman di lingkungan sekitar seperti bermain sepeda, mengaji di sekolah agama dan bahkan ada pula yang anaknya mengikuti kelas karate meskipun tetap adanya pengawasan yang lebih ketat dari anak-anak normal lainnya. Namun, tidak dipungkiri juga terdapat beberapa anak yang hanya di rumah saja dikarenakan teman-teman yang seusianya sudah pindah rumah dan anak tersebut hanya nyaman dirumah saja.
Jika ada suatu musibah yang menimpamu, janganlah engkau katakan: “seandainya aku lakukan hal lain (selain yang aku lakukan tadi), maka aku akan begini dan begitu”! Namun katakanlah: “hal tersebut merupakan bagian dari takdir yang Allah telah tentukan dan Allah telah melakukan apa yang Ia kehendaki”. Ketahuilah bahwa berandai-andai itu memberi peluang kepada syetan untuk memainkan perannya.” (HR. Muslim no. 6945, Imam Ahmad no. 8777 dan 8815, Ibnu Majah no. 79 dan 4168, Nasai no. 10457, Ibnu Hibban, Baihaqi, dan lainnya) Manusia berusaha sekuat tenaga namun tetap berserah diri kepada kehendak Allah SWT. Manusia harus mengoptimalkan potensi diri, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta selalu berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan kemudahan dan keberhasilan dalam setiap usahanyaAllah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keinginan dan kesadaran untuk berbuat dan berusaha. Namun, apapun yang dilakukan oleh manusia tidak akan terwujud tanpa izin dan kehendak dari Allah SWT sendiri. Oleh karena itu, manusia perlu berusaha sekuat tenaga namun tetap berserah diri kepada kehendak Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti sering merasa putus asa ketika berjuang untuk meraih sesuatu namun tidak kunjung berhasil. Namun, perlu diingat bahwa apapun yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT pasti akan terjadi. Oleh karena itu, sebagai hamba Allah, manusia harus terus berusaha dan berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan yang terbaik. Allah SWT memberikan kemampuan kepada manusia untuk berusaha dan meraih impian dan cita-citanya. Namun, manusia tidak bisa hanya berdiam diri dan berharap segalanya akan datang dengan sendirinya. Manusia harus berusaha sekuat tenaga, mengoptimalkan potensi yang dimiliki, dan berusaha mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk meraih apa yang diinginkan. Setiap manusia memiliki potensi masing-masing, baik potensi fisik maupun intelektual. Oleh karena itu, manusia perlu mengoptimalkan potensi-potensi tersebut untuk meraih impian dan cita-citanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara belajar dan berlatih terus menerus, memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, dan mengembangkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Selain mengoptimalkan potensi diri, manusia juga perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk meraih impian dan cita-citanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membaca buku, mengikuti kursus atau pelatihan, dan mengambil pengalaman dari orang-orang yang sudah berhasil dalam bidang yang diinginkan. Meskipun manusia sudah berusaha dan melakukan yang terbaik, tidak ada jaminan bahwa semua yang diinginkan akan terwujud. Oleh karena itu, manusia perlu menyadari bahwa keberhasilan akhirnya tergantung pada kehendak Allah SWT. Manusia harus berserah diri dan selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dan keberhasilan dalam segala hal yang dilakukan. Salah satu bentuk berserah diri kepada Allah SWT adalah dengan tawakal. Tawakal artinya melepaskan segala jenis usaha dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Namun, bukan berarti manusia tidak melakukan apa-apa. Manusia tetap harus berusaha sekuat tenaga, namun tidak khawatir atau stress karena segala urusan sudah diserahkan kepada Allah SWT. Tawakal, doa juga merupakan sarana untuk berserah diri kepada kehendak Allah SWT. Dengan berdoa, manusia dapat memohon bantuan dan petunjuk dari Allah SWT. Doa juga dapat membantu manusia untuk tetap sabar dan tegar dalam menghadapi segala cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah SWT.
Terima kasih kami berikan kepada beberapa dosen pembimbing diantaranya adalah Dr. Eny Fariyatul Fahyuni, Dr. Imelda Dian Rahmawati, M.Si, Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada CLP Center Surabaya Nginden Intan No.56 Surabaya sebagai lembaga tempat saya melakukan penelitian dan semua personal didalamnya yang membantu hingga penulisan artikel ini selesai. Serta tidak lupa teman-teman seangkatan maupun lintas angkatan program Pasca Sarjana yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
M. R. Fadli, “Memahami desain metode penelitian kualitatif,” Humanika, vol. 21, no. 1, pp. 33–54, 2021, doi: 10.21831/hum.v21i1.38075.
B. Widjanarko, “Konsep dasar dalam pengumpulan data penyajian data,” SATS4213/Modul 1, pp. 1–45, 2019.
A. Wardani and Y. Ayriza, “Analisis kendala orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah pada masa pandemi Covid-19,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 5, no. 1, p. 772, 2020, doi: 10.31004/obsesi.v5i1.705.
M. Miskahuddin, “Konsep sabar dalam perspektif Al-Qur’an,” Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah, vol. 17, no. 2, p. 196, 2020, doi: 10.22373/jim.v17i2.9182.
T. Ariyati, “Parenting di PAUD sebagai upaya pendukung tumbuh kembang anak,” Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 9, no. 2, 2016.
Bastian, I. Winard, R. Djatu, Fatmawati, and Dewi, “Metoda wawancara,” in Metode Pengumpulan dan Teknik Analisis Data, pp. 53–99, 2018.
Ley 25.632, “Desain penelitian dan teknik pengumpulan data,” pp. 1–11, 2002.
A. Rijali, “Analisis data kualitatif,” Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah, vol. 17, no. 33, pp. 81–95, 2018.
T. L. M. J., “Teknik pengumpulan data metode kualitatif,” vol. 21, no. 58, pp. 99–104, 1990.
M. S. (Dosen Dr. Yenrizal, S.Sos.), “Topik penelitian,” pp. 7823–7830.
“Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,” Zitteliana, vol. 19, no. 8, pp. 159–170, 2003.
“Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Terapi Wicara,” Implement. Sci., vol. 39, no. 1, pp. 1–15, 2014.
“Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” Lembaran Negara Republik Indonesia, no. 75, 1945.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kurikulum Inti Pendidikan Diploma III Terapi Wicara, 2006.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Bidang Terapi Wicara.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan,” Undang-Undang, no. 187315, pp. 1–300, 2023.