Login
Section Innovation in Education

Innovation of Teacher Role Modeling in Developing Student Character


Inovasi Keteladanan Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Sumarlik (1), Hidayatulloh (2)

(1) )Program Studi Manajemen Pendiidkan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) )Program Studi Manajemen Pendiidkan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Character education represents a fundamental pillar of national education designed to cultivate moral integrity and spiritual devotion among learners. Specific Background Secondary Islamic institutions structure daily pedagogical practices to instill Islamic values, respectful manners, and disciplined habits within school environments. Knowledge Gap Although educators guide academic instruction, empirical documentation regarding multifaceted instructional strategies combining religious curriculum delivery, behavioral reinforcement, and personal exemplarity remains underexplored. Aims This study examines teacher practices, behavioral outcomes, and contributing factors in shaping student personality at MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo. Results Findings reveal that educators function as essential role models and mentors by integrating Islamic instruction with digital tools, daily prayer habituation, and balanced reward and punishment systems. Consequently, students demonstrate strengthened religious conviction, regular observance of mandatory and voluntary worship such as sunnah fasting, and polite interpersonal etiquette. Furthermore, character development outcomes are shaped by educator dedication, family support, and community norms. Novelty This work establishes a structured character formation dynamic integrating consistent educator behavioral modeling with balanced behavioral consequences across theological, ritual, and ethical dimensions. Implications These insights provide practical guidance for secondary schools to design holistic character development frameworks through unified educator exemplarity and family-school collaboration.


Highlights:




  • Educators integrate contextual Islamic learning with balanced reward and punishment mechanisms to foster positive discipline.




  • Daily habituation practices establish consistent execution of mandatory worship rituals and voluntary fasting routines.




  • Holistic ethical internalization occurs through collaborative contributions between instructional staff, domestic households, and community environments.




Keywords: Islamic Education, Character Formation, Teacher Exemplarity, Student Akhlak, Worship Habituation

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan agar berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003) [1]–[3]. Tujuan ini menjadi falsafah hidup manusia, baik secara pribadi maupun kolektif sebagai berbangsa dan bernegara. Tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan generasi yang baik, yaitu individu yang mempunyai moral dan standar dalam kehidupannya.

Sekolah memiliki peran krusial dalam membentuk moral siswa setelah keluarga. Lingkungan sekolah menjadi tempat utama untuk mengembangkan pendidikan karakter, karena sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di sekolah [4]–[6]. Oleh karena itu, apa yang dipelajari dan dialami di sekolah akan sangat memengaruhi perkembangan karakter mereka. Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar dan mengajar, melainkan juga tempat untuk membentuk kebiasaan dan nilai-nilai moral siswa. Ini melibatkan upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai karakter agar anak-anak tumbuh menjadi individu berkarakter. Pendidikan karakter adalah bagian yang sangat penting dari proses pendidikan dan perlu diajarkan sejak dini. Hal ini bertujuan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki akhlakul karimah. Peran guru dalam membentuk karakter siswa sangatlah penting. Mereka memiliki tanggung jawab untuk mengatur, membimbing, dan menciptakan lingkungan yang mendorong minat belajar siswa serta membantu dalam pengembangan karakter siswa, khususnya karakter [7]–[11].

Sekolah dianggap mempunyai pengaruh yang signifikan sebagai mikrosistem yang terlihat jelas pada diri siswa sebagai pelajar. Secara khusus, banyak orang tua saat ini yang menaruh harapan besar terhadap sistem pendidikan yang mampu menanamkan kecerdasan dan moralitas pada anak-anaknya. Agar sekolah dapat memberikan dampak positif bagi anak-anak, sekolah harus berkualitas tinggi [12].

Pendidikan Agama Islam juga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa di sekolah. Ini dapat dicapai melalui pengoptimalan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dianggap strategis dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter adalah upaya yang disengaja dan terencana dengan tujuan menginternalisasikan nilai-nilai moral dan akhlak sehingga siswa dapat mengimplementasikan sikap dan perilaku yang baik. Melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, siswa diajarkan tentang ajaran Islam, dari pemahaman hingga keyakinan. Namun, pentingnya pendidikan ini tidak hanya terbatas pada pemahaman agama mereka sendiri, tetapi juga pada pentingnya menghormati penganut agama lain. Ini berkontribusi pada terciptanya kerukunan antar umat beragama dan memperkuat persatuan bangsa, yang merupakan hal yang sangat penting dalam konteks masyarakat yang beragam seperti Indonesia.

Karakter yang baik pada seorang anak memiliki dampak besar pada perilaku mereka. Ini dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, termasuk keluarga, sekolah, dan masyarakat [13]–[18]. Nilai-nilai merupakan bagian penting dari pendidikan karakter, mencerminkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tercermin dalam tindakan sehari-hari. Kebajikan-kebajikan ini membentuk dasar perilaku dan interaksi manusia dalam masyarakat, membantu mereka menjalani kehidupan dengan etika dan moral yang baik. Karakter adalah konsep yang menggambarkan kepribadian seseorang, yang dibentuk oleh internalisasi berbagai kebajikan [19]–[24].

Bagi siswa, guru berperan sebagai orang tua kedua. Pendidik yang menjadi teladan dalam pengembangan karakter adalah guru. Komitmen, nilai-nilai, sikap, gagasan, kehadiran, dan visi mereka merupakan aspek-aspek penting yang secara halus menanamkan prinsip-prinsip moral yang membentuk kepribadian siswa. Guru mempunyai tanggung jawab untuk menanamkan dalam diri siswanya nilai-nilai kehidupan yang baik yang bermanfaat bagi mereka baik saat ini maupun di masa depan sebagai pendidik karakter. Seorang pendidik yang kompeten dapat memberikan dampak perubahan positif, mengembangkan kecerdasan siswa, membantu mereka memahami dan memecahkan masalah, dan yang terpenting membantu mereka mengembangkan prinsip-prinsip moral yang kuat [25]–[27].

Dalam pembentukan karakter, peran guru di sekolah sangat penting. Guru harus kreatif dalam menyampaikan pembelajaran dan tidak terbatas pada ruang kelas saja. Mereka harus memotivasi siswa untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung karakter, dan bekerjasama dengan keluarga untuk mencapai tujuan ini [28]–[32]. Karena siswa menghabiskan sebagian besar waktu di sekolah, maka lingkungan ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter mereka. Oleh karena itu, peran guru dalam membentuk karakter harus diaktualisasikan dalam pendidikan agar siswa tumbuh menjadi individu yang beretika dan bertanggung jawab. Dengan upaya bersama antara keluarga, sekolah, dan guru, diharapkan siswa dapat menjadi individu yang berakhlak baik dan berkontribusi positif pada masyarakat.

Peran guru di MTS Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo mencakup beberapa aspek yang melibatkan pengajaran, bimbingan, pengembangan karakter, dan kontribusi terhadap lingkungan sekolah. Guru di MTS Sunan Kalijaga Krucil berperan sebagai agen pembentukan karakter. Mereka secara aktif mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran, membimbing siswa untuk mengembangkan akhlakul karimah, kejujuran, tanggung jawab, dan nilai-nilai moral lainnya. Program pembinaan karakter dirancang untuk menciptakan siswa yang berkarakter unggul dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya

Berdasarkan uraian diatas penelitian ini mengangkat judul “Peran guru dalam pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo”, dengan tujuan untuk mendeskripsikan: (1) Peran guru dalam pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo; (2) Hasil dari pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo; dan (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo.

II. Metode

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yang merupakan jenis penelitian deskriptif yang umumnya menggunakan analisis deskriptif. Arikunto (2006) memberikan definisi penelitian kualitatif sebagai metode penelitian yang berfokus pada pemahaman fenomena sosial dalam masyarakat, dengan penekanan pada perspektif partisipan sebagai aspek utama dalam meraih hasil penelitian. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada proses dan makna, terutama dalam pandangan subjek.

Jenis dalam penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan merupakan sebuah penelitian yang dilakukan dengan menyelidiki terjadinyas ebuah gejala-gejala yang terjadi [33].

Dalam pengumpulan data peneliti mengunakan metode pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah guru, tenaga kependidikan dan siswa.

Data yang akan dikumpulkan untuk penelitian ini adalah data kualitatif. Sebab informasi yang akan diteliti dalam penelitian ini berasal dari pernyataan verbal atau gambaran suatu hal yang diungkapkan melalui penjelasan tertulis atau lisan. Dari rumusan di atas dapat kita simpulkan bahwa pengorganisasian data merupakan prasyarat untuk melakukan analisis data. Mengikuti metode pengumpulan data dari lapangan yang disebutkan di atas, peneliti akan menggunakan analisis deskriptif-kualitatif untuk mengolah dan menganalisis data tanpa menggunakan teknik kuantitatif..

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang dikumpulkan tidak bersifat numerik; melainkan berasal dari catatan lapangan, naskah wawancara, dan dokumen resmi serta dokumen pribadi apa pun yang dimiliki subjek penelitian, jika ada. Oleh karena itu, tujuan penelitian kualitatif ini adalah untuk mendeskripsikan realitas empiris yang mendasari fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekolah khususnya di MTs Sunan Kalijaga Krucil Kabupaten Probolinggo secara rinci dan menyeluruh. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif digunakan untuk mencocokkan teori yang relevan dengan kenyataan empiris melalui metode deskriptif.

Analisis dalam penelitian ini mengunakan model Miles dan Huberman, yaitu; penumpulan data, reduksi data , peyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keasahan data peneliti mengunakan kritetiria yang di kemukan oleh Moleong sebagai berikut : (1) kepercayaan (kreadibility), (2) keteralihan (tranferability), (3) kebergantungan (dependibility), (4) kepastian (konfermability) [34]. Dalam penelitian kualitatif ini, untuk menguji keabsahan data yang telah diperoleh maka akan berkiblat pada 2 kriteria sebagai dominasi. yakni kepercayaan (kredibility) dan kepastian (konfermability).

III. Hasil dan Pembahasan

Peran guru MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai agen pembentukan karakter siswa. Guru memiliki peran yang sangat krusial dalam membimbing dan membantu siswa mengembangkan dimensi keagamaan dan moralitas. Berikut diuraikan hasil penelitian dan pembahasannya sebagai berikut:

1. Peran guru dalam pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo.

a. Pengajaran Nilai Pendidikan Agama Islam

Guru di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo bertanggung jawab untuk memberikan pengajaran agama Islam secara mendalam. Mereka menyampaikan ajaran Islam dengan baik, memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama, serta mengajarkan praktik ibadah dan akhlak Islami. Pentingnya guru-guru yang menyampaikan ajaran Islam dengan baik adalah untuk membantu siswa memahami nilai-nilai fundamental dalam agama, sehingga mereka dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dengan mengajarkan praktik ibadah, guru-guru membantu siswa memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan ibadah dengan benar. Hal ini sebagaimana di kemukakan oleh Ainun Guru bidang studi IPS “Saya harus menjadi uswah, terutama bagi siswa-siswa dan seluruh elemen dilingkungan madrasah, sebelum memberikan perintah atau ajakan. Contoh dalam pelaksanaan sholat berjamaah langkah yang pertama saya memberikan contoh pada siswa cara berwudhu yang benar”.

Hal yang sama diungkapkan oleh Laike guru bidang studi Kesenian meyampiakan bahwa guru harus menjadi teladan positif membangun hubungan yang kuat dengan siswa. Mereka tidak hanya dihormati sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sosok panutan yang dapat dipercaya.

Selain memberikan pengajaran secara mendalam, peran guru juga memberikan inspirasi, bimbingan, dan dukungan kepada siswa dalam mengembangkan kepribadian mereka. Guru bertanggung jawab dan berkomitmen membantu siswa tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, peduli, dan memiliki nilai-nilai moral yang kuat [15], [35], [36].

Implementasi penguatan pendidikan agama Islam di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo dapat melibatkan berbagai aspek, mulai dari kurikulum, metode pengajaran, hingga pembinaan karakter siswa. Pada pengembangan kurikulum, yang dikembangkan meliputi: (1) Menyusun kurikulum yang mencakup pemahaman mendalam tentang ajaran agama Islam, sejarah Islam, dan budaya Islam; (2) Memastikan kurikulum mencakup aspek praktik ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji; serta (3) Menyelaraskan kurikulum dengan nilai-nilai moral dan etika Islam. Hal ini sesuai dengan penjelasan wakil kepala sekolah bidang kurikulum bapak Agus.

Aspek metode pengajaran menekankan pada penggunaan metode pengajaran yang interaktif dan partisipatif untuk meningkatkan pemahaman siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran memanfaatkan teknologi digital yang dapat meningkatkan efektifitas pengajaran agama Islam di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo. Berikut adalah beberapa cara untuk mengintegrasikan teknologi dalam pengajaran agama Islamiyah. Guru biasanya menggunakan e-book dan materi digital untuk menyajikan teks-teks agama dan referensi Islam secara lebih interaktif dan mudah diakses. Pada asepk ini menerapkan pendekatan kontekstual agar materi agama dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Menggunakan studi kasus berbasis pengalaman siswa yang berkaitan dengan ajaran agama. Guru dapat meminta siswa untuk berbagi pengalaman pribadi mereka dan mencari solusi berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal ini sesuai dengan penjelasan Bapak Agus selaku Wakil kepala sekolah bidang Kurikulum.

Guru di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa melalui penyampaian pesan moral dan etika. Setiap harinya, guru tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan akademis, tetapi juga secara konsisten menyampaikan pesan-pesan moral yang menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Berikut adalah gambaran dari praktik ini: Setiap guru di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo secara sadar dan terencana menyertakan pesan moral dalam setiap pelajaran atau interaksi dengan siswa..Pesan moral dapat mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kasih sayang, kerjasama, dan nilai-nilai positif lainnya yang dianggap penting dalam pembentukan karakter siswa.

Penanaman nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah melibatkan berbagai komponen, termasuk pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut. Dalam konteks pendidikan karakter di madrasah, semua pemangku pendidikan, termasuk komponen-komponen internal pendidikan seperti isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan mata pelajaran, pengelolaan madrasah, pelaksanaan kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga madrasah, harus turut serta.

Proses penanaman nilai-nilai karakter ini mencakup pemahaman konsep nilai-nilai tersebut, kesadaran atau keinginan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan tindakan nyata untuk merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam setiap aspek kehidupan di madrasah. Pemangku pendidikan, baik itu guru, staf madrasah, atau pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, memiliki peran penting dalam menyosialisasikan, mengajarkan, dan mempraktikkan nilai-nilai karakter kepada seluruh warga madrasah[16], [21], [37]–[40].

b. Penguatan Guru sebagai Teladan

Guru menjadi teladan bagi siswa dalam berprilaku dan beribadah. Sikap dan perilaku guru yang mencerminkan nilai-nilai Islam akan memberikan inspirasi positif bagi siswa untuk mengembangkan karakter mereka. Di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo, peran guru dalam memberikan keteladanan sebagai model dalam pembentukan karakter sangatlah penting. Sebagai teladan utama bagi siswa, para guru memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk sikap, nilai, dan praktek agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap hari di sekolah, para guru memperlihatkan integritas dan kesetiaan terhadap ajaran agama dengan cara guru menunjukkan konsistensi dalam menjalankan ibadah sehari-hari seperti shalat, puasa, dan ibadah sunnah lainnya. Mereka sering kali mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan seperti shalat berjamaah dan membaca Al-Qur'an. Guru Relijus ,tangung jawab, mandiri memperlihatkan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Mereka mengedepankan kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan sikap empati dalam interaksi sehari-hari dengan siswa dan staf sekolah.

‘Kepala sekolah, guru, staf selalu menanamkan kejujuran, kesabaran, kerendahan hati dan sikap empati setiap membimbing murid-muridnya dalam setiap kegiatan-kegiatan yang ada dimadrasah.(informan 3).

Para guru tidak hanya mengajar materi agama, tetapi juga secara aktif membantu siswa dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka. Mereka memberikan nasihat, bimbingan, serta contoh nyata dalam menghadapi berbagai tantangan moral dan spiritual.

Dengan keteladanan yang mereka perlihatkan, para guru di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo tidak hanya mengajar tentang agama, tetapi juga menjadikan ajaran Islam sebagai bagian integral dari kehidupan mereka. Mereka menjadi panutan utama dalam membimbing siswa untuk menjadi pribadi yang memiliki karakter yang kokoh dan berintegritas.

Dalam konteks pendidikan karakter di guru di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo, keteladanan merupakan sebuah prinsip yang tidak dapat diabaikan oleh seorang guru. Pentingnya keteladanan tergambar dalam konsistensi guru dalam mematuhi perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. Guru yang menunjukkan keteladanan ini memiliki peran krusial dalam memastikan efektivitas pendidikan karakter di lingkungan pesantren.

Keteladanan guru bukan hanya sekadar contoh, tetapi juga menjadi fondasi utama yang membentuk karakter para siswa. Dengan mengamalkan ajaran agama dan menghindari larangan-larangan tersebut secara konsisten, guru memberikan teladan yang kuat bagi para santri. Kehadiran keteladanan ini tidak hanya bersifat simbolis, melainkan juga berperan aktif dalam membentuk sikap, nilai, dan moralitas santri [41]–[44].

Tanpa adanya keteladanan, pendidikan karakter di MTs Sunan Kalijaga Krucil akan kehilangan esensi terpentingnya. Pesan-pesan moral dan ajaran agama hanya akan menjadi sekadar slogan kosong, identitas pesantren hanya akan menjadi penutupan identitas semata, dan tujuan pendidikan karakter hanya akan menjadi ilusi. Oleh karena itu, keteladanan guru tidak hanya menjadi tuntutan moral, tetapi juga menjadi fondasi yang menopang keberhasilan pendidikan karakter di pesantren.

Keteladanan menjadi suatu keharusan yang esensial bagi seorang guru. Dalam konteks Pendidikan Karakter, keteladanan yang diperlukan oleh guru melibatkan karakteristik seperti konsistensi dalam menunjukkan nilai-nilai positif, kesetiaan dalam menjalankan ajaran agama dan menghindari larangan-larangannya, kepedulian terhadap mereka yang kurang beruntung, ketekunan dalam meraih prestasi baik secara pribadi maupun sosial, ketangguhan dalam menghadapi tantangan dan rintangan, serta kemampuan untuk berkembang dan beradaptasi dengan cepat (Huda, 2018; Istinganah, 2015; Rahendra Maya, 2017)

Dengan kombinasi upaya-upaya ini, MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis tentang nilai-nilai karakter, tetapi juga secara aktif memperkuat dan mengamalkan nilai-nilai tersebut melalui kegiatan-kegiatan yang dapat membentuk karakter siswa secara holistik.

Pentingnya pendidikan nilai moral terletak pada perannya sebagai garda terdepan dalam menghadapi nilai-nilai negatif yang dapat muncul, khususnya dalam konteks globalisasi. Oleh karena itu, penanaman nilai moral harus dilakukan pada peserta didik untuk memastikan bahwa mereka dapat hidup harmonis dengan sesama tanpa menimbulkan kekerasan atau konflik, terutama di era pluralitas agama dan budaya seperti saat ini [49]–[51].

c. Pemberian Reward dan Pusnisment

Peran guru melakukan pola pengembangan penguatan karakter di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo adalah melalui pendekatan Reward and punisment dengan tujuan memberikan motivasi intrinsik pada peserta didik. Hukuman yang diberikan lebih memberikan efek jera dan penyadaran bahwa apa yang dilakukan akan memberikan dampak negatif bagi peserta didik. Sedangkan ganjaran sebagai indikator pemberian motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan perilaku yang baik

Melalui reward and punishment, guru berusaha memberikan motivasi intrinsik pada peserta didik. Dengan memberikan konsekuensi yang sesuai terhadap perilaku siswa, guru menciptakan pemahaman bahwa tindakan baik akan dihargai, sementara tindakan buruk akan mendapat konsekuensi yang mendorong refleksi dan perubahan perilaku. Hukuman yang diberikan dengan tujuan memberikan efek jera dan penyadaran bertujuan untuk membuat siswa menyadari konsekuensi negatif dari perilaku yang tidak diinginkan. Hal ini dapat membantu membangun tanggung jawab dan kesadaran diri pada siswa terkait dampak dari tindakan mereka.

Guru di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo memotivasi Pemeliharaan Perilaku Baik. Penggunaan ganjaran sebagai indikator pemberian motivasi bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada siswa yang telah menunjukkan perilaku baik misalkan mengucapkan salam, sholat jamaah, capaian hafalan siswa, aktif kegiatan keagamaan dan lain sebagainya. Dengan demikian, siswa diberikan insentif positif untuk mempertahankan dan meningkatkan perilaku positif mereka.

Reward and punishment dapat menjadi instrumen yang efektif, pendekatan ini sebaiknya diterapkan dengan bijaksana dan seimbang. Penggunaannya harus selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan karakter positif siswa, dan harus ditempatkan dalam konteks pendekatan yang lebih luas untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan holistik siswa.

Hal sejalan dengan pemikiran Prasetiya, (2018 ) yang menyebutkan bahwa Konsep hukuman dan ganjaran menjadi elemen penting dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Penghargaan diberikan sebagai imbalan atas perbuatan baik, sementara hukuman diberikan sebagai tanggapan terhadap setiap kesalahan. Pendekatan ini sering ditemui di pondok pesantren, di mana metode hukuman menjadi strategi untuk membentuk santri yang berkualitas. Hukuman memiliki dampak positif dengan memberikan efek jera kepada santri, mendorong mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Menurut teori pembelajaran behavioristik, yang juga dikenal sebagai teori S-R bond (stimulus-respon), pemberian reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) merupakan bagian integral dari strategi pembelajaran untuk memperkuat atau melemahkan perilaku tertentu. Teori ini menekankan bahwa perilaku dapat dipelajari melalui asosiasi antara stimulus dan respons yang muncul sebagai akibat dari tindakan tertentu (Prasetiya, 2018b, Rachman, 2014; Rusdiana, 2006)

2. Hasil dari pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo.

Pentingnya peran para pendidik dalam internalisasi karakter terlihat melalui upaya mereka dalam membimbing siswa untuk memahami dan menerima ajaran agama (akidah), melaksanakan kewajiban ibadah secara konsisten, dan mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari (akhlak). Hal ini menciptakan lingkungan belajar di MTs Sunan Kalijaga yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter yang kuat. Dengan menjadikan akidah, ibadah, dan akhlak sebagai landasan utama, para pendidik di MTs Sunan Kalijaga berperan aktif dalam membentuk integritas dan kepribadian positif pada siswa. Penerapan nilai-nilai tersebut tidak hanya terjadi dalam kelas, tetapi juga melibatkan kegiatan ekstrakurikuler, bimbingan, serta interaksi sehari-hari antara guru dan siswa. Inilah yang membuat hasil internalisasi karakter di madrasah ini mencerminkan keberhasilan dalam menciptakan siswa yang berakhlak mulia dan berlandaskan nilai-nilai keislaman

Dalam aspek aqidah, siswa memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah SWT adalah Maha Esa dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Aqidah yang kuat ini terlihat dari keaktifan siswa dalam melaksanakan praktik ibadah baik wajib maupun sunnah.

Dalam hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah bidang Kemahasiswaan di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo, disampaikan bahwa siswa-siswa sekolah telah membentuk kebiasaan melaksanakan ibadah. Menurut beliau, siswa-siswa tidak hanya terlibat dalam rutinitas ibadah, tetapi juga menunjukkan kebiasaan tersebut secara konsisten. Mereka telah memiliki akidah yang kokoh, yang tercermin dalam ketaatan dan rasa takut kepada Allah SWT.

Wakil Kepala Sekolah menekankan bahwa kebiasaan melaksanakan ibadah ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan siswa di MTs Sunan Kalijaga. Para siswa tidak hanya menjalankan ibadah sebagai kewajiban formal, tetapi juga sebagai ungkapan dari keyakinan dan kepatuhan mereka terhadap ajaran agama Islam. Akidah yang kuat ini mencerminkan pentingnya pendidikan keagamaan di sekolah dan upaya guru dan staf dalam membimbing siswa untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Wakil Kepala Sekolah menyampaikan bahwa keberhasilan siswa dalam melaksanakan ibadah tidak hanya tercermin dalam aktivitas di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari mereka di luar sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembentukan karakter yang berbasis pada akidah telah memberikan dampak positif dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai spiritual siswa di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo.

Aspek kedua, Ibadah. Lebih lanjut, Wakil Kepala Sekolah menyampaikan bahwa keberhasilan siswa dalam melaksanakan ibadah tidak hanya tercermin dalam aktivitas di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari mereka di luar sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembentukan karakter yang berbasis pada akidah telah memberikan dampak positif dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai spiritual siswa di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo.

Rutinitas ibadah yang dilakukan secara teratur oleh siswa di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo tidak terbatas pada ibadah wajib saja. Lebih dari itu, para siswa telah membiasakan diri untuk melaksanakan beberapa kegiatan ibadah sunnah, baik dalam ibadah sholat maupun puasa. Wakil Bidang Kurikulum menyampaikan bahwa sebagian siswa di madrasah tersebut sudah menunjukkan kebiasaan melaksanakan puasa sunnah.

Dalam konteks ibadah sunnah, siswa MTs Sunan Kalijaga diarahkan untuk melakukan puasa sunnah sebagai bagian dari pembiasaan aktif dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wakil Bidang Kurikulum menekankan bahwa pembiasaan ini bukan hanya sekadar kewajiban formal, melainkan suatu bentuk pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencerminkan komitmen madrasah untuk tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga siswa yang memiliki integritas spiritual dan moral yang kokoh.

Keberadaan siswa yang telah terbiasa melaksanakan puasa sunnah memberikan gambaran positif terkait dengan pendekatan pendidikan agama di MTs Sunan Kalijaga. Dengan melakukan ibadah sunnah, siswa tidak hanya mengasah keterampilan ibadah mereka, tetapi juga membentuk karakter yang kuat, penuh ketakwaan, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap nilai-nilai keagamaan. Ini membuktikan bahwa upaya pembinaan karakter di madrasah tidak hanya berfokus pada aspek wajib, tetapi juga mencakup pengembangan nilai-nilai sunnah yang dapat membimbing siswa menuju kehidupan beragama yang lebih baik.

Aspek yang ketiga dalam pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kalijaga Krucil Probolinggo adalah Akhlak, yang secara khusus menargetkan perilaku dan moralitas siswa. Para siswa di madrasah ini menempatkan akhlak budi pekerti dan adab tata krama sebagai hal yang sangat penting. Manifestasi dari nilai-nilai akhlak ini jelas terlihat melalui berbagai kegiatan sehari-hari.

Dalam rutinitas pembiasaan, siswa di MTs Sunan Kalijaga menunjukkan penghargaan terhadap akhlak budi pekerti dan tata krama. Mereka dengan konsisten mengucapkan salam kepada guru, menjaga tata bahasa dan sikap ketika berkomunikasi dengan kepala sekolah atau guru, serta menunjukkan sopan santun kepada orang tua saat berada di rumah. Pendekatan ini menciptakan lingkungan di mana nilai-nilai akhlak menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari siswa.

Lebih dari sekadar aturan formal, pendidikan karakter di MTs Sunan Kalijaga tidak hanya berfokus pada transfer ilmu akademis. Sebaliknya, madrasah ini mengambil pendekatan yang lebih holistik dengan menekankan pengembangan nilai-nilai moral dan spiritual. Melalui penanaman akhlak yang kuat, MTs Sunan Kalijaga berkomitmen untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik, berakhlak mulia, dan dapat berkontribusi positif dalam masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan visi madrasah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mempromosikan pertumbuhan holistik siswa dari segi akademis, moral, dan spiritual. Penanaman nilai-nilai kehidupan pada murid memerlukan contoh dan teladan dari guru, orang tua, dan masyarakat. Proses ini tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan adanya keteladanan dan pengajaran nilai-nilai Kehidupan Menuju Manusia Indonesia yang Bermartabat dan Berbudaya, diharapkan nilai-nilai tersebut dapat termanifestasi. Pendidikan nilai moral memiliki peran utama dalam menangkal munculnya nilai-nilai negatif akibat berbagai faktor, termasuk dampak globalisasi ( Prasetiya; Sofyan, 2017; Hadutholabah et al., 2019; Laa, 2018; Syamsul, 2020)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo.

Pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersifat kompleks dan saling terkait. Berikut adalah tiga faktor utama yang mempengaruhi pembentukan karakter siswa di madrasah tersebut:

Peran Pendidik: Guru-guru di MTs Sunan Kali Jaga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter siswa. Melalui pendekatan pengajaran, keteladanan, dan bimbingan, para pendidik mencoba mentransfer nilai-nilai keislaman, etika, dan moral kepada siswa. Interaksi sehari-hari dalam kelas, kegiatan ekstrakurikuler, serta kegiatan keagamaan menjadi wadah di mana karakter siswa terbentuk.

Lingkungan Keluarga: Lingkungan keluarga juga menjadi faktor krusial dalam pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua, norma-norma dalam keluarga, dan interaksi keluarga menjadi pondasi penting. Ketika nilai-nilai keagamaan dan akhlak baik dipraktikkan di rumah, siswa cenderung membawa dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut ke lingkungan madrasah.

Pengaruh Masyarakat dan Lingkungan Sekitar: Interaksi siswa dengan masyarakat dan lingkungan sekitar juga memainkan peran dalam pembentukan karakter. Norma-norma sosial, adat istiadat, serta interaksi dengan teman sebaya dapat memengaruhi perilaku dan karakter siswa. Dukungan masyarakat terhadap nilai-nilai keislaman dan budaya juga dapat memperkuat proses pembentukan karakter di lingkungan madrasah.

Penting untuk diingat bahwa faktor-faktor ini saling berkaitan dan saling melengkapi. Kerjasama antara pendidikan di madrasah, nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan keluarga, dan pengaruh positif dari masyarakat dapat menciptakan lingkungan holistik yang mendukung pembentukan karakter siswa secara positif. Dengan demikian, siswa dapat menjadi individu yang berakhlak baik, memiliki kesadaran keagamaan, dan dapat berkontribusi positif dalam masyarakat.

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo memiliki peran yang sangat krusial dalam pembentukan karakter siswa. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai penyampain informasi akademis, tetapi juga sebagai agen pembentukan karakter, teladan, dan pendukung siswa dalam mengembangkan dimensi keagamaan dan moralitas.

Pengajaran nilai-nilai agama Islam menjadi fokus utama dalam membentuk karakter siswa. Guru memiliki tanggung jawab untuk mendalami ajaran agama, mengajarkan praktik ibadah, dan menyelaraskan kurikulum dengan nilai-nilai moral dan etika Islam. Pendidikan agama Islam juga berperan dalam membentuk sikap toleransi antarumat beragama dan memperkuat persatuan bangsa.

Keteladanan guru sebagai teladan utama dalam membentuk karakter siswa menjadi faktor kunci. Guru tidak hanya mengajarkan nilai-nilai karakter, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi guru dalam menjalankan ajaran agama dan menghindari larangan-larangan menjadi inspirasi positif bagi siswa.

Penggunaan pola Reward and Punishment menjadi strategi dalam membentuk karakter siswa. Ganjaran diberikan sebagai motivasi positif untuk siswa yang menunjukkan perilaku baik, sementara hukuman bertujuan untuk memberikan efek jera dan menyadarkan siswa terhadap konsekuensi negatif dari perilaku yang tidak diinginkan.

Hasil dari pembentukan karakter siswa di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo tercermin dalam keyakinan siswa terhadap ajaran agama, pelaksanaan kewajiban ibadah, dan penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Internalisasi karakter ini tidak hanya terjadi di kelas, melainkan juga melibatkan kegiatan ekstrakurikuler dan interaksi sehari-hari antara guru dan siswa.

Penelitian ini memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana guru di MTs Sunan Kali Jaga Krucil Probolinggo memainkan peran utama dalam membentuk karakter siswa melalui pendekatan yang holistik, terutama melalui pendidikan agama Islam, keteladanan, dan penggunaan pola Reward and Punishment. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa upaya ini berhasil menciptakan siswa yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter moral dan keagamaan yang baik.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah mendanai publikasi artikel serta pihak-pihak yang terkait.

References

A. Kosim, “Internalisasi pendidikan karakter berbasis school culture,” J. Wahana Karya Ilm., vol. 3, no. 1, pp. 240–251, 2019.

S. Rofi, B. Prasetiya, and B. A. Setiawan, “Pendidikan karakter dengan pendekatan tasawuf modern Hamka dan transformatif kontemporer,” Intiqad, vol. 11, no. 2, pp. 396–414, 2019.

E. Yulianti, J. Sutarto, and Sugiyo, “Sentra Nasima learning strategies to enhance religious nationalist characters in kindergarten,” J. Prim. Educ., vol. 8, no. 69, pp. 238–247, 2019.

H. Baharun, “Total moral quality: A new approach for character education in pesantren,” Ulumuna, vol. 21, no. 1, pp. 57–80, 2017, doi: 10.20414/ujis.v21i1.1167.

A. Marini, D. Safitri, and I. Muda, “Managing school based on character building in the context of religious school culture (Case in Indonesia),” J. Soc. Stud. Educ. Res., vol. 9, no. 4, pp. 274–294, 2018, doi: 10.17499/jsser.11668.

J. La Fua, Rahma, R. U. Nurlila, and I. S. Wekke, “Strategy of Islamic education in developing character building of environmental students in Indonesia,” IOP Conf. Ser. Earth Environ. Sci., vol. 175, no. 1, 2018, doi: 10.1088/1755-1315/175/1/012149.

M. Rahman and A. Aliman, “Model analysis of religious character education in state-owned Islamic school,” J. Educ. Manag. Leadersh., vol. 1, no. 1, pp. 14–21, 2020, doi: 10.33369/jeml.1.1.14-21.

T. Handayani and N. Utami, “The effectiveness of hybrid learning in character building of integrated Islamic elementary school students during the COVID-19 pandemic,” J. Educ. Sci. Technol., vol. 1, no. 1, pp. 276–283, 2020, doi: 10.26858/est.v1i1.15545.

R. T. Sataloff, M. M. Johns, and K. M. Kost, “Urgency of Islamic religious education teachers in character building for students in junior high schools,” Al-Hayat J. Islam. Educ., vol. 3, no. 2, pp. 178–199, 2019.

A. D. Nugroho, J. Jamaluddin, D. Oryza, A. Aziz, and A. Malik, “Environmental education as a media for character building at School of Alam Raya Muaro Jambi,” Adv. Soc. Sci. Educ. Humanit. Res., vol. 253, no. Aes 2018, pp. 16–19, 2019, doi: 10.2991/aes-18.2019.5.

Ribuwati, E. Harapan, and Tobari, “The principal leadership in building the students’ character,” Int. J. Sci. Technol. Res., vol. 8, no. 8, pp. 1177–1183, 2019.

Rukiyati, “Pendidikan moral di sekolah,” Humanika, vol. XVII, no. 1, 2017.

E. Komara, “Penguatan pendidikan karakter dan pembelajaran abad 21,” SIPATAHOENAN South-East Asian J. Youth, Sport. Health Educ., vol. 4, no. 1, pp. 17–26, 2018.

A. Yaqin, “Efektivitas pembelajaran afeksi di madrasah/sekolah,” Islamica: J. Stud. Keislam., vol. 6, no. 1, p. 190, 2011, doi: 10.15642/islamica.2011.6.1.190-202.

A. Susandi, B. Setiawan, A. Dirgayunita, and Y. Fadilah, “Eksistensi nilai-nilai pendidikan karakter,” Sekol. Dasar: Kaji. Teor. dan Prakt. Pendidik., vol. 31, no. 1, pp. 49–57, 2022.

I. Mustofa, “Pendidikan nilai di pesantren (Studi tentang internalisasi Pancajiwa di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo),” UIN Sunan Ampel Surabaya, 2019.

A. H. Djaswidi, “The character education in Islamic education viewpoint,” J. Pendidik. Islam, vol. 1, no. 1, pp. 98–109, 2014.

F. Y. Raudlotul and S. F. J. Mohd, “Islamic education: The philosophy, aim, and main features,” Int. J. Educ. Res., vol. 1, no. 10, pp. 1–18, 2013.

M. Fatimah, “Concept of Islamic education curriculum: A study on moral education in Muhammadiyah Boarding School, Klaten,” Didaktika Religia, vol. 6, no. 2, pp. 191–208, 2019, doi: 10.30762/didaktika.v6i2.1103.

Y. Wandasari, M. Kristiawan, and Y. Arafat, “Policy evaluation of school’s literacy movement on improving discipline of state high school students,” vol. 8, no. 4, pp. 190–198, 2019.

N. Rokhyati, “Pengaruh pembiasaan praktik keagamaan dalam pembentukan karakter siswa di SD Sokowaten Baru Banguntapan Bantul Tahun 2018,” Universitas Islam Indonesia, 2018.

A. Syamsudin, Budiyono, and Sutrisno, “Model of affective assessment of primary school students,” Res. Eval. Educ., vol. 2, no. 1, p. 25, 2016, doi: 10.21831/reid.v2i1.8307.

M. Barni and D. Mahdany, “Al Ghazāli’s thoughts on Islamic education curriculum,” Dinamika Ilmu, vol. 17, no. 2, pp. 251–260, 2017, doi: 10.21093/di.v17i2.921.

M. F. Zaini and S. Syafaruddin, “The leadership behavior of madrasah principals in improving the quality of education in MAN 3 Medan,” J. Iqra’: Kaji. Ilmu Pendidik., vol. 5, no. 2, pp. 95–106, 2020, doi: 10.25217/ji.v5i2.649.

P. S. Sosiologi, T. Ilmu, P. Sosial, F. Ilmu, T. Dan, and S. H. Jakarta, “Mengembangkan sikap religiusitas remaja (Studi kasus pada warga Kelurahan Karang Timur, Kota Tangerang),” 2022.

T. Sunarti, Zamroni, and Dkk., “The internalization and actualization of character values in the students of junior high schools in phenomenological perspective,” J. Pembang. Pendidik.: Fondasi dan Apl., pp. 181–195, 2009.

B. Prasetiya, S. Rofi, and B. A. Setiawan, “Penguatan nilai ketauhidan dalam praksis pendidikan Islam,” J. Islamic Educ., vol. III, no. 1, pp. 1–15, 2018.

U. A. Izzati, B. S. Bachri, M. Sahid, and D. E. Indriani, “Character education: Gender differences in moral knowing, moral feeling, and moral action in elementary schools in Indonesia,” J. Educ. Gift. Young Sci., vol. 7, no. 3, pp. 547–556, 2019, doi: 10.17478/jegys.597765.

B. Prasetiya, Metode Pendidikan Karakter Religius Paling Efektif di Sekolah. Lamongan: Academia Publication, 2021.

S. D. Maharani, Z. MS, and N. Nadiroh, “Transformation of the value of religious characters in civic education learning in elementary schools,” Int. J. Multicult. Multireligious Underst., vol. 6, no. 2, p. 295, 2019, doi: 10.18415/ijmmu.v6i2.683.

B. Prasetiya, “The critical analysis of moral education in the perspective of Al-Ghazali, Kohlberg and Thomas Lichona,” Zawiyah J. Pemikir. Islam, vol. 6, no. 1, pp. 20–37, 2020.

P. Z. Salahuddin, “Character education in a Muslim school: A case study of a comprehensive Muslim school’s curricula,” 2011, doi: 10.25148/etd.FI11080803.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Renika Cipta, 2006.

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.

M. Arfin, “Implementasi nilai-nilai pendidikan karakter pada SD Negeri Mannuruki Makassar,” 2017.

U. Hidayah, “Rekonstruksi evaluasi pendidikan moral,” J. Pedagog., vol. 5, no. 1, pp. 69–81, 2018.

N. Hidayat, “Konsep pendidikan Islam menurut Q.S. Luqman ayat 12–19,” Ta’allum: J. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 2, pp. 359–370, 2016, doi: 10.21274/taalum.2016.4.2.359-370.

Muslikhin, “Nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran pendidikan agama Islam,” Al-Bahtsu, vol. 4, no. 1, pp. 143–149, 2019.

C. Naimah and U. Hidayah, “Reorientasi pendidikan Islam untuk harmonisasi sosial: Hidden curriculum sebagai sebuah tawaran,” Proc. Annu. Conf. Muslim Sch., no. Seri 2, pp. 726–732, 2017.

A. Z. Mubarok, “Model pendekatan pendidikan karakter di pesantren terpadu,” Ta’dibuna, vol. 8, no. 1, pp. 134–145, 2019, doi: 10.32832/tadibuna.v8i1.1680.

A. Z. Mubarok, “Model pendidikan pesantren terpadu dalam membina karakter di era globalisasi,” Quality, vol. 7, no. 1, pp. 191–204, 2019.

F. I. M. Nur, Khosiah, and Yulina, “Model pembelajaran tematik melalui metode bercerita untuk meningkatkan berpikir kritis siswa sekolah dasar,” Al-Muaddib, vol. 2, no. 2022, pp. 284–298, 2022.

B. Prasetiya, M. Hasan, P. D. W. Sitaresmi, and A. E. Dheasari, “The contribution of the intensity of playing online games and the supervision of both working parents towards children’s religiosity,” J. Pendidik. Agama Islam, vol. 17, no. 2, pp. 171–186, 2020, doi: 10.14421/jpai.2020.172-05.

B. Prasetiya, “Dialektika pendidikan akhlak dalam pandangan Ibnu Miskawaih dan Al-Gazali,” Intiqad: J. Agama dan Pendidik. Islam, vol. 10, no. 2, pp. 249–267, 2018.

“Pengaruh keteladanan guru dan karakter siswa terhadap kedisiplinan shalat di MTs Miftahul Ulum,” Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, 2018, pp. 1–106.

K. Huda, “Hubungan antara keteladanan orang tua, keberagamaan siswa dan kecerdasan emosional dengan kesantunan siswa kepada guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Manyaran Kabupaten Wonogiri,” IAIN Surakarta, 2018, doi: 10.20961/ge.v4i1.19180.

I. Istinganah, “Pengaruh keteladanan guru Aqidah Akhlak dan keteladanan orang tua terhadap nilai-nilai akhlakul karimah siswa di MTsN se-Kabupaten Blitar,” IAIN Tulungagung, 2015, doi: 10.1017/CBO9781107415324.004.

Rahendra Maya, “Pemikiran pendidikan Muhammad Quthb tentang metode keteladanan,” J. Edukasi Islam: J. Pendidik. Islam, vol. 6, no. 11, 2017.

L. Umi and Muzayanah Wahyu, “Pengembangan instrumen penilaian karakter mata pelajaran PAI SMP,” J. Educ. Eval., vol. 3, no. 1, pp. 47–53, 2014.

H. Muhammad, Ahyar Ma’arif, and Abdul, “Pembelajaran berbasis karakter pendidikan Islam,” An-Nisa, vol. 11, no. 1, pp. 93–104, 2018.

R. R. Aprilia, “Pada pembelajaran pendidikan agama Islam,” Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri, 2017.

B. Prasetiya, “Pemberian hukuman dalam perspektif pendidikan Islam,” J. Imtiyaz, vol. 2, no. 2, pp. 15–33, 2018.

H. Rusdiana, “Reward dan punishment dalam perspektif pendidikan Islam,” Ittihad, vol. 4, no. 5, pp. 65–77, 2006.

A. Rachman, “Punishment dalam perspektif pendidikan Islam modern,” J. Fikr., vol. 7, no. 2, pp. 1–17, 2014.

B. Prasetiya, “Dialektika pendidikan akhlak dalam pandangan Ibnu Miskawaih dan Al-Gazāl,” Intiqad: J. Agama dan Pendidik. Islam, vol. 10, no. 2, pp. 249–267, 2018.

R. Benny Prasetiya and Sofyan, “Pendidikan nilai: Konsep dan implementasinya dalam dunia pendidikan,” J. Imtiyaz, vol. 1, no. 2, pp. 15–33, 2017.

R. Laa, “Pola asuh anak dalam keluarga petani di Domloli Kabupaten Alor,” Al-Asasiyya: J. Basic Educ., vol. 3, no. 1, pp. 76–104, 2018.

M. A. Hadutholabah et al., “Habituasi nilai-nilai Islam inklusif di Pesantren Ma’hadutholabah dan Darul Khair Babakan Tegal,” J. Al-Qalam, vol. 25, no. 1, pp. 93–106, 2019.

H. A. S. S. B. Syamsul, “Penanaman pendidikan karakter peserta didik guru pendidikan kewarganegaraan dan guru pendidikan jasmani,” Al-Muaddib, vol. II, no. 1, pp. 42–70, 2020.