Mahfud Suhairi Luthfi (1), Hidayatulloh (2)
General Background Education functions to develop human resources and establish moral character to counter the moral challenges of the globalization era. Specific Background Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil actively builds a religious environment through routine spiritual activities and strong leadership coordination. Knowledge Gap Despite recognizing general leadership roles, the specific interactive strategies and communication models utilized by principals to construct this religious culture require comprehensive analysis. Aims This research analyzes the communication patterns applied by the madrasah headmaster to shape religious culture. Results Qualitative analysis involving observation, interviews, and documentation reveals that the headmaster implements an open and inclusive communication pattern. This strategy includes providing direct exemplary modeling in daily worship, facilitating interactive dialogues through regular meetings, and developing structured religious programs such as congregational prayers and Quranic memorization. Furthermore, this communication approach actively involves parents and the surrounding community to create a holistic learning center. Novelty The study elucidates a comprehensive communication framework that seamlessly integrates direct spiritual role-modeling with community-wide inclusive dialogue within an educational institution. Implications These findings provide a practical guide for educational practitioners and school leaders to strengthen interactive strategies in establishing sustainable religious environments.
Highlights:
The principal demonstrates direct exemplary behavior by actively participating in daily worship routines to motivate the educational community.
Interactive dialogues and regular meetings facilitate open discussions regarding moral values among staff, students, and parents.
Structured spiritual programs function as practical media for instilling Islamic teachings into daily student life.
Keywords: Headmaster Communication, Religious Culture, Islamic Educational Institutions, Spiritual Modeling, Character Building
Pendidikan menempati posisi yang sangat penting di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Mutu pendidikan menjadi harapan utama masyarakat di setiap negara. Sejarah menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci utama sebuah perubahan setiap masa. Pendidikan menjadi fondasi utama bagi suatu bangsa untuk memperoleh pencapaian kesuksesan masa depan. Oleh karena itu diperlukan pemberdayaan pendidikan, yang dapat dilakukan dengan peningkatan mutu SDM semaksimal mungkin [1]–[3] .
Menurut ketentuan Undang-Undang No. 20 tahun 2003, terdapat dua aspek utama yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan, yakni pengembangan kemampuan dan pembentukan karakter. Mengembangkan kemampuan terkait dengan dimensi intelektual, sementara pembentukan karakter berkaitan dengan dimensi emosional. Prestasi akademik yang berkualitas dihasilkan dari pengembangan kemampuan, sementara produksi lulusan dengan moral dan etika yang baik merupakan hasil dari pembentukan karakter (Fitriani, Masriva L; Bakri, 2019; Kurniawan, 2017; Prasetiya, 2021; Salim, 2015).
Pergeseran nilai maupun norma masyarakat semakin menjauh dari prinsip-prinsip ajaran Islam, dipicu oleh pengaruh budaya Barat yang merambah ke Indonesia. Dalam usaha untuk membentuk dan menjaga budaya Islam di lingkungan pendidikan, peran kepala madrasah dalam mengoordinasikan seluruh elemen di Madrasah menjadi hal yang sangat krusial (Article, 2023; Kadarwati, 2016; Muslikhin, 2019; Nudin, 2015; Rukmana, 2019). Keberhasilan sebuah organisasi dalam menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien bergantung pada kemampuan kepemimpinan dari pemimpinnya. Suatu organisasi bisa mencapai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibanding organisasi lainnya karena dipengaruhi oleh kepemimpinannya. Sebagai seorang pemimpin dan pengembang budaya religius, kepala madrasah bukan hanya menjadi contoh yang diikuti di lembaga tersebut, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam peningkatan kualitas SDM [4]–[7].
Kepala madrasah juga diharapkan mampu menciptakan atmosfer keislaman yang kuat di lingkungan madrasahnya, dengan memiliki sejumlah keterampilan seperti peran sebagai pendidik, manajer, wirausaha, pengawas, pembentuk iklim kerja, dan penyedia layanan bimbingan konseling (Ansar et al., 2019; Fitria et al., 2017; Prestiadi et al., 2019; Sun & Henderson, 2017). Membangun budaya keagamaan berarti menciptakan lingkungan yang dipenuhi dengan nilai-nilai keagamaan. Pengaruh dari lingkungan tersebut akan mempengaruhi implementasi nilai-nilai keagamaan, baik dalam rutinitas harian maupun dalam keterampilan yang diterapkan dalam komunitas madrasah. Keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan ini sangat bergantung pada peran kepala madrasah yang memiliki otoritas untuk mengatur, mengarahkan, dan mengkoordinasikan sumber daya pendidikan yang ada. Kepemimpinan kepala madrasah akan menjadi sebuah faktor yang menentukan dalam mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran yang dirancang dengan program madrasah dengan perencanaan yang cermat.
Pola komunikasi kepala madrasah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk budaya religius di lingkungan madrasah. Budaya religius mencakup nilai-nilai, norma-norma, dan praktik keagamaan yang dihayati dan dijalankan oleh seluruh anggota madrasah [8]–[10]. Pola komunikasi kepala madrasah seharusnya bersifat terbuka dan membangun. Kepala madrasah perlu mendengarkan pandangan dan aspirasi seluruh anggota madrasah tanpa diskriminasi. Menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa dihargai dan didengar dapat memperkuat identitas keagamaan dan meningkatkan kepatuhan terhadap nilai-nilai keagamaan [11]
Kepala madrasah juga diharapkan mampu menciptakan suasana keislaman yang kokoh di dalam lembaga pendidikan tersebut, dengan memiliki sejumlah kompetensi seperti peran sebagai pendidik, manajer, wirausaha, pengawas, pembentuk iklim kerja, dan penyedia layanan bimbingan konseling (Anshori, 2017; Kahar et al., 2019; Oktradiksa et al., 2018; Rukmana, 2019; Salim, 2015). Pembentukan budaya keagamaan mengindikasikan upaya menciptakan lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Pengaruh dari lingkungan tersebut akan memengaruhi perkembangan kehidupan sehari-hari yang diatur oleh ajaran Islam dan nilai-nilai keagamaan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam keterampilan yang diterapkan dalam masyarakat madrasah (Andhini et al., 2019; Djoko et al., 2019; Handayani & Utami, 2020; Ribuwati et al., 2019). Keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan ini sangat tergantung pada peran kepala madrasah yang memiliki kewenangan untuk mengelola, membimbing, dan mengkoordinasikan sumber daya pendidikan yang ada. Kepemimpinan kepala madrasah menjadi faktor kunci dalam mewujudkan visi, misi, tujuan, serta sasaran yang dirancang melalui program madrasah dengan perencanaan yang cermat.
Lembaga pendidikan merupakan suatu lingkungan yang sangat signifikan dalam membentuk karakter siswa. Sebagai pemimpin dan anggota masyarakat sekolah, kita memiliki peran sentral dalam memberikan contoh yang positif kepada siswa (Prasetiya, Benny; Rofi, 2018; Suwito, 2012). Dalam kerangka ini, diperlukan usaha untuk mengembangkan kebiasaan yang positif demi menggalakkan budaya keagamaan di dalam lembaga tersebut. Sebagai ilustrasi, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, dapat diadakan pembacaan surah Yasin bersama-sama dan istighosah, yang kemudian diikuti oleh pelaksanaan sholat dhuha berjamaah.
Dalam era globalisasi yang tengah berlangsung, nilai-nilai dan norma-norma Islam menghadapi tantangan karena dampak budaya Barat yang telah merambah ke Indonesia. Keberhasilan lembaga pendidikan dalam membentuk dan mempertahankan budaya Islami sangat tergantung pada peran kepala madrasah dalam mengoordinasikan seluruh aspek madrasah (Aziz, 2017; Kusno, Joko, Purwanto, 2014; Supardi, 2013). Oleh karena itu, kepala madrasah, sebagai pemimpin organisasi pendidikan di lembaga tersebut, memiliki peran yang sangat krusial dalam mewujudkan budaya keagamaan.
Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai efisiensi dan efektivitasnya secara substansial bergantung pada kemampuan dan kepintaran pemimpinnya. Tingkat kesuksesan suatu organisasi dapat melampaui organisasi lainnya karena dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki. Sebagai pemimpin dan pengelola budaya keagamaan, Kepala Madrasah memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus semua aspek pendidikan, mulai dari proses belajar mengajar di dalam kelas hingga manajemen keseluruhan unit pendidikan. Oleh karena itu, seorang kepala madrasah harus memiliki keterampilan kepemimpinan yang memadai (Kahar et al., 2019; Rukmana, 2019, 2019).
Kemampuan dalam mempengaruhi, mengatur, dan menginspirasi orang lain yang terlibat dalam pelaksanaan dan kemajuan pendidikan dikenal sebagai kepemimpinan pendidikan. Ini adalah cara dimana tujuan pendidikan atau sekolah dapat dicapai dengan sukses. (Amirudin, 2018; Anekasari, 2015; Kahar et al., 2019). Oleh karena itu, tindakan pemimpin sekolah harus mendukung pekerjaan guru dengan menunjukkan rasa persahabatan, kekeluargaan, dan perhatian terhadap mereka sebagai individu. Seluruh siswa dapat terinspirasi, dibimbing, dan dimotivasi untuk berkolaborasi guna mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah apabila kepala sekolah menunjukkan perilaku yang positif.
Pembentukan budaya religius di madrasah ini diterapkan melalui tiga metode, yaitu mengajak, mempraktikkan, dan menanamkan kebiasaan (Almu’tasim, 2016). Tujuan utama dari pembentukan budaya madrasah adalah membantu dalam pengembangan peserta didik. Membimbing peserta didik agar tumbuh menjadi individu yang matang dan memiliki moral yang baik adalah salah satu tujuan utama yang dapat dicapai melalui pembentukan tradisi keagamaan di madrasah tersebut.
Pelaksanaan pendidikan di madrasah tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai, norma, keyakinan, perilaku, dan tradisi keagamaan. Ketika budaya ini diterapkan di madrasah, akan memberikan dampak yang signifikan pada kinerja lembaga. Pembentukan tradisi keagamaan dalam lembaga pendidikan memerlukan kerjasama dari semua komponen di dalamnya, mulai dari kepala Madrasah sebagai pemimpin, guru, staf, hingga peserta didik. Keseluruhan komunitas madrasah memegang peran yang sangat penting dalam keberhasilan penciptaan tradisi keagamaan ini, karena mereka yang mengimplementasikan budaya tersebut dalam kegiatan sehari-hari di madrasah (M. L. Abdullah & Syahri, 2019b).
Dalam usaha memperkuat budaya keagamaan di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil, Kepala Madrasah telah merancang berbagai program dengan berlandaskan pada pemahaman terhadap tujuan pendidikan. Salah satu langkah yang diambil oleh kepala madrasah adalah melibatkan siswa dalam kegiatan keagamaan, seperti membiasakan mereka untuk bersama-sama membaca Surah Yasin, dilanjutkan dengan pembacaan istighosah dan pelaksanaan shalat dhuha setiap hari. Selain itu, program-program tersebut juga mencakup shalat zuhur berjamaah setiap hari, membaca asmaul husna secara rutin setiap Jumat, dan membaca asmaul husna akbar pada Jumat terakhir setiap bulan. Semua ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen Kepala Madrasah dalam memperkuat budaya keagamaan di sekolah. Tindakan ini menunjukkan keberhasilan Kepala Madrasah dalam mencapai tujuan pendidikan dan mengakomodasi visi madrasah melalui implementasi program-program keagamaan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian awal yang dilakukan, kepala madrasah menerapkan strategi untuk mengembangkan budaya keagamaan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan lembaga madrasah yang ingin dicapai. Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil secara aktif berusaha membentuk budaya keagamaan, sebagai bagian dari upaya strategis kepala madrasah untuk memajukan budaya keagamaan di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merujuk pada jenis penelitian deskriptif yang cenderung menggunakan analisis deskripstif. Arikunto (2006) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai suatu metode penelitian yang difokuskan pada pemahaman fenomena sosial di masyarakat, dengan menekankan perspektif partisipan sebagai gambaran utama dalam meraih hasil penelitian. Proses dan makna (dalam perspektif subjek) lebih ditekankan dalam penelitian ini.
Sumber data dari penelitian ini meliputi, yaitu: (1) data primer yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian, termasuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pengawas sekolah, guru mata pelajaran, pegawai tata usaha, dan staf perpustakaan di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil; dan (2) data sekunder sebagai data pendukung yang diambil dari dokumen-dokumen, data statistik, serta berbagai studi dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data melibatkan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil. Subyek penelitian melibatkan Kepala Madrasah, Guru, Tata Usaha, dan perwakilan siswa, dengan karakteristik khusus seperti kondisi lingkungan sekolah, jumlah peserta didik, dan fasilitas prasarana yang tersedia di sekolah. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober- Desembers 2023,
Proses analisis data melibatkan pengaturan urutan data, organisasi data dalam pola tertentu, kategorisasi, dan pengelompokan data menjadi unit-unit tertentu. Metode analisis data yang diterapkan adalah analisis deskriptif. Untuk memastikan validitas data, teknik triangulasi digunakan, yang merupakan metode pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sumber lain di luar data itu sebagai sarana pemeriksaan atau pembanding data tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan triangulasi sumber, sebagaimana dikemukakan oleh Patton seperti yang dijelaskan dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatif oleh Lexy J. Moloeng (2006).
Triangulasi digunakan dalam penelitian kualitatif, dan melibatkan perbandingan dan penilaian tingkat keandalan informasi atau data yang diperoleh dengan menggunakan metode dan alat yang berbeda. Penelitian ini membandingkan data observasi dengan data wawancara dan mencocokkan temuan wawancara dengan informasi relevan dari dokumen untuk menilai tingkat keandalan informasi yang diperoleh dari sumber.
Pendidikan memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengembangkan kemampuan, membentuk watak, dan karakter anak bangsa, serta membangun peradaban yang bermartabat guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya ini terus dilakukan sejalan dengan tujuan mengoptimalkan potensi peserta didik agar menjadi individu yang bertaqwa.
Dalam konteks membangun budaya religius pada peserta didik, kepala madrasah memiliki peran krusial. Kepala madrasah bertanggung jawab dalam melaksanakan setiap kegiatan pendidikan dan memimpin penyelenggaraan pendidikan di madrasah. Fokus utama kepala madrasah adalah membangun budaya religius di lingkungan madrasah, yang mencakup nilai-nilai seperti beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab. Strategi yang diterapkan oleh kepala madrasah dalam membangun budaya religius di madrasah menjadi faktor kunci yang sangat penting, dan hal ini dapat dicapai melalui optimalisasi perannya dalam proses pendidikan.
Melalui pola komunikasi yang tepat, seorang kepala madrasah dapat memainkan peran kunci dalam membentuk budaya religius yang kuat dan berkelanjutan di madrasah. Komunikasi yang berfokus pada nilai-nilai keagamaan, kesalingpengertian, dan keteladanan akan membantu menciptakan lingkungan madrasah yang mempromosikan penghayatan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil, sebagai lembaga pendidikan Islam, mengimplementasikan pola komunikasi kepala madrasah yang efektif dalam membentuk budaya religius. Kepala madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil memiliki peran sentral dalam memastikan bahwa nilai-nilai keagamaan menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari di madrasah tersebut.
Berikut adalah implementasi pola komunikasi yang diterapkan oleh Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil:
Kepala madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil menunjukkan keteladanan melalui praktik keagamaan yang konsisten. Ia secara rutin melaksanakan shalat berjamaah di masjid madrasah, membaca Al-Qur'an, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi. Hal ini menjadi contoh positif bagi seluruh staf dan siswa, menciptakan atmosfer yang memotivasi untuk menginternalisasi nilai-nilai keagamaan.
Sebagai kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil, tanggung jawabnya dalam menjalankan peran sebagai pendidik sangatlah besar. Hasil wawancara peneliti dengan Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil, menyatakan bahwa:
"Saya harus menjadi teladan, terutama bagi guru-guru, siswa, dan seluruh elemen di lingkungan madrasah, sebelum memberikan perintah atau ajakan. Sebagai contoh, dalam pelaksanaan sholat berjamaah di madrasah, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengambil wudhu dan kemudian mengajak peserta didik lain untuk ikut serta dalam sholat berjamaah. Tindakan ini dilakukan dengan harapan dapat menumbuhkan rasa empati dari para guru untuk turut melaksanakan hal yang sama (Wawancara dengan Ibu Sumarlik)."
Dengan demikian, kepala madrasah tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga sebagai pemimpin rohani yang memberikan teladan nyata dalam pengamalan ajaran Islam sehari-hari. Penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan pribadi kepala madrasah menciptakan budaya sekolah yang menghargai dan mendorong praktik keagamaan, memberikan dampak positif pada pembentukan karakter religius sisw.a
Penerapan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar dapat dijalankan melalui dua pendekatan, yakni secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect). Pada pendekatan langsung, pendidik secara aktif menunjukkan dan mewujudkan dirinya sebagai contoh teladan yang positif bagi anak didik. Sementara itu, pada pendekatan tidak langsung, metode keteladanan diimplementasikan dengan memberikan contoh-contoh teladan melalui cerita atau narasi, seperti riwayat para nabi, kisah-kisah orang besar, pahlawan, dan syuhada [14]–[18].
Dalam penerapan secara langsung, pendidik secara aktif menunjukkan praktek-praktek positif dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan ini bertujuan agar anak didik dapat melihat dan menginternalisasi nilai-nilai yang dihayati oleh pendidik sebagai teladan yang baik. Pendidik berperan sebagai model yang memberikan inspirasi dan membentuk karakter positif bagi peserta didik(Mujayyanah et al., 2021; Prasetiya, Benny;Maulid, 2021; Prasetiya, 2018b).
Kepala madrasah membuka saluran komunikasi yang terbuka dengan staf, guru, siswa, serta orang tua. Melalui rapat-rapat berkala, pertemuan kelompok, dan dialog interaktif, Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil membuka ruang bagi diskusi mengenai nilai-nilai keagamaan, peran madrasah dalam membentuk karakter religius, serta cara menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil mengambil inisiatif untuk membuka saluran komunikasi yang bersifat terbuka dan inklusif. Dalam upayanya untuk membangun hubungan yang erat dengan seluruh anggota madrasah, termasuk staf, guru, siswa, dan orang tua, Kepala Madrasah menjalankan sejumlah kegiatan komunikasi yang efektif.
Melalui rapat-rapat berkala, pertemuan kelompok, dan dialog interaktif, Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil memberikan ruang yang memungkinkan untuk diskusi terbuka. Di dalam forum ini, para peserta dapat mengeksplorasi dan bertukar pikiran mengenai nilai-nilai keagamaan yang ingin diterapkan di madrasah tersebut. Pada setiap rapat berkala, dimasukkan agenda diskusi mencakup aspek-aspek seperti peran madrasah dalam membentuk karakter religius dan strategi menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Nurul hadi selaku Wakil kepala sekolah bidang kurikulum
“kepala sekolah selalu membuat ruang untuk diskusi baik waktu rapat maupun pertemuan non formal. Kita biasanya diskusi untuk membahas beberapa masalah siswa, kurikulum maupun pembelajaran. Juga biasanya kami mendiskusikan cara untuk membentuk karakter religus siswa.”
Keterbukaan komunikasi ini menciptakan lingkungan di mana ide-ide dan pandangan dari berbagai pihak dapat didengar dan dihargai. Diskusi mengenai nilai-nilai keagamaan tidak hanya menjadi topik utama tetapi juga mencakup upaya bersama untuk memahami dan menerapkan ajaran Islam dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Kepala Madrasah, dengan pendekatan komunikatif ini, secara aktif mendorong partisipasi semua pihak terkait, menciptakan iklim yang mendukung dan memperkaya pemahaman bersama mengenai budaya religius yang ingin dibangun. Keberhasilan saluran komunikasi terbuka ini memastikan bahwa setiap anggota komunitas madrasah merasa memiliki peran dalam membentuk karakter religius dan nilai-nilai keagamaan di Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil.
“Kepala Madrasah selalu mendorong partisipasi aktif semua pihak... ini supaya budaya religius di Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil terjaga dengan baik. Beliau selalu komunikatif, dan terbuka.(interview dengan Nurul hadi Wakil kepala Sekolah Bagian kurikulum) ."
Komunikasi terbuka dan dialog interaktif memiliki peran yang sangat penting dalam konteks madrasah, terutama ketika membicarakan pembentukan budaya religius [23], [24]. Pembentukan karakter dalam pendidikan memiliki hubungan erat dengan konteks ruang lingkung agama, sosial, dan budaya, yang saling terkait satu sama lain. Oleh karena itu, peran pendidikan menjadi sangat dinamis dalam melakukan rekonstruksi terus-menerus terhadap berbagai kebijakan pembentukan nilai dan moral. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan perspektif budaya, sosial, dan agama, sehingga dapat mencapai optimalisasi pembentukan karakter yang holisti [25]–[27]
Pola komunikasi kepala madrasah dalam pengembangan program keagamaan memainkan peran kunci dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program tersebut. Kepala madrasah aktif terlibat dalam pengembangan program keagamaan di madrasah. Ia bekerja sama dengan dewan guru untuk merancang kurikulum yang memasukkan ajaran agama secara menyeluruh. Program keagamaan melibatkan kegiatan-kegiatan seperti pengajian, kajian kitab kuning, dan kegiatan sosial keagamaan yang bertujuan memperkuat identitas keislaman siswa. Hal ini selaras dengan yang dinyatakan oleh Abd Manaf bagian kemahasiswaan
“Kepala madrasah, bersama team pengembang kurikulum Menyusun bersama kalender Pendidikan untuk memasukkan program-program keagamaan sebagai upaya peningkatan budaya religious di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil.”
Kepala madrasah secara jelas menyampaikan visi dan misi terkait program keagamaan kepada seluruh staf dan pengajar agama. Komunikasi yang efektif dalam hal ini dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang tujuan dan arah yang ingin dicapai dalam pengembangan program keagamaan. Kepala madrasah membentuk kelompok diskusi atau forum konsultasi yang melibatkan para pengajar agama dan staf terkait. Melalui dialog dan konsultasi, kepala madrasah dapat mendengar masukan, ide, dan pandangan dari mereka yang terlibat langsung dalam pengembangan program keagamaan, sehingga program tersebut dapat lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh sumarlik
“Selaku Kepala madrasah, saya selalu memberikan motivasi pada guru dan karyawan. Motivasi itu dilakukan setiap saat bukan hanya pada saat rapat saja namun setiap ada moment.”
Salah satu strategi yang diterapkan oleh Kepala Madrasah adalah membuat program-program yang mengubah lingkungan madrasah menjadi suasana yang penuh nuansa keagamaan. Sebagai contoh, pada pagi, Kepala Madrasah memulai kegiatan dengan pembacaan Istighosah. Pembacaan Istighosah dilakukan pada setiap apel pagi dengan tujuan untuk berdoa dan berkomunikasi dengan Allah. Istighosah merupakan salah satu bentuk zikir yang secara rutin dilakukan pada setiap apel pagi, khususnya zikir pagi. Zikir ini memiliki tujuan untuk mengingat Allah. Peserta didik diarahkan untuk membiasakan diri dengan berzikir sebelum memasuki kelas, sehingga mereka terbiasa mengingat Allah dan selalu menjaga kesadaran spiritual.
Istighosah adalah bentuk dzikir yang dilakukan pada setiap apel pagi. Pelaksanaan Istighosah bertujuan agar peserta didik terbiasa membaca ayat-ayat Al-Quran dan selalu ingat kepada Allah, sehingga nilai-nilai kebaikan terus mengalir dalam kepribadian masing-masing peserta didik. Pembacaan Istighosah menjadi bagian dari program yang telah dibuat oleh kepala madrasah, bertujuan untuk membangun budaya keagamaan di lingkungan madrasah.
Selain istighosah di Madrasah Tsanawiyah ini juga ditegakkan sholat dzuhur berjamaah yang dilaksanakan di Aula Madrasah. Menegakkan sholat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim pada waktu-waktu yang telah ditetapkan. Sholat juga merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang kedua, oleh karena itu, setiap individu yang beriman kepada Allah diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima kali sehari. Sholat dzuhur berjama’ah termasuk dalam program yang dijalankan oleh kepala madrasah untuk memupuk budaya keagamaan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Kepala Madrasah "upaya untuk membentuk budaya keagamaan di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil dilakukan melalui sejumlah program, salah satunya adalah pelaksanaan kegiatan sholat dzuhur berjama’ah."
Selain program istighosah dan shalat dhuhur berjamaah di Madrasah ini juga dikembangkan program yang terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler, antara lain program banjari dan tahfidz.
Program Banjari dibuat dengan tujuan membantu peserta didik dalam mengembangkan bakat yang dimiliki. Program ini berfungsi sebagai wadah untuk memungkinkan peserta didik menyalurkan bakat seni mereka, sehingga dapat diarahkan sesuai dengan prinsip-prinsip dan ajaran Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Madrasah.
“Program Banjari merupakan salah satu langkah konkrit dalam membangun budaya keagamaan. Dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat seni mereka, program ini memastikan bahwa bakat-bakat tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prinsip-prinsip dan ajaran agama. Jika pendekatan ini terus diterapkan, peserta didik diharapkan akan merasa senang dan antusias dalam bersholawat, serta selalu mengingat dan mencintai Rasulullah”.
Program tahfidz adalah inisiatif untuk mengajarkan dan membiasakan peserta didik membaca serta menghafal Al-Qur'an. Kegiatan tahfidz secara khusus dikaitkan dengan proses menghafal Al-Qur'an. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur'an kepada peserta didik.
Berdasarkan wawancara dengan peneliti di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil, disampaikan bahwa, meskipun program 5S (salam, senyum, sapa, sopan, dan santun) belum dijadikan sebagai kewajiban di madrasah tersebut, namun sebagian besar peserta didik telah mengimplementasikannya. Dari hasil observasi peneliti, ditemukan fakta relevan di lapangan, yaitu sejumlah peserta didik secara rutin memberikan salam, senyum, menyapa dengan sopan, dan berbicara dengan kata-kata yang lembut ketika bertemu dengan guru mereka.
Melalui implementasi pola komunikasi yang efektif, Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan budaya religius. Upaya tersebut tidak hanya terbatas pada ruang kelas, melainkan juga meresap ke dalam kehidupan sehari-hari siswa dan melibatkan partisipasi aktif dari seluruh komunitas madrasah.
Pola komunikasi kepala madrasah di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil, terlihat jelas betapa pentingnya peran kepala madrasah dalam membentuk budaya religius di lingkungan pendidikan. Kepala madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil telah secara aktif mengambil inisiatif untuk membangun komunikasi yang efektif dengan seluruh stakeholder madrasah, termasuk staf, guru, siswa, dan orang tua.
Melalui saluran komunikasi yang terbuka, Kepala Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil mendorong diskusi dan dialog interaktif tentang nilai-nilai keagamaan, peran madrasah dalam membentuk karakter religius, dan implementasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi yang proaktif ini menciptakan lingkungan yang mendukung pertukaran ide, pemahaman bersama, dan keterlibatan seluruh komunitas madrasah dalam membentuk budaya religius.
Pentingnya komunikasi yang terbuka dan dialog interaktif juga tercermin dalam upaya melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar. Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil secara aktif menjalin kemitraan dengan orang tua siswa melalui pertemuan rutin dan memberikan informasi mengenai nilai-nilai keagamaan yang diterapkan di madrasah. Selain itu, melibatkan masyarakat dalam kegiatan keagamaan bersama memperluas dampak positif budaya religius ke luar lingkungan madrasah.
Dengan demikian, pola komunikasi yang diterapkan oleh kepala madrasah di Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil bukan hanya menciptakan pemahaman yang mendalam mengenai budaya religius, tetapi juga membentuk iklim yang mendukung partisipasi aktif seluruh komunitas madrasah dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan. Melalui langkah-langkah konkret ini, Madrasah Tsanawiyah Sunan Kalijaga Krucil berhasil menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai keagamaan tetapi juga menjadikannya landasan dalam membentuk karakter religius peserta didik.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi penting dalam penelitian ini. Tanpa kerjasama dan bantuan yang luar biasa, pencapaian ini tidak akan mungkin terjadi. Terima kasih kepada tim penelitian yang telah bekerja keras dengan penuh dedikasi. Setiap anggota tim memberikan kontribusi unik mereka, menghadirkan keahlian dan semangat kolaboratif yang sangat berharga. Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada responden atau subjek penelitian yang telah bersedia berpartisipasi. Kerjasama mereka adalah kunci untuk mengumpulkan data yang relevan dan menjadikan penelitian ini lebih bermakna.
H. Mahmudah, “Transmisi ideologi fundamentalisme dalam pendidikan,” TAJDID: J. Pemikir. Keislam. dan Kemanus., vol. 1, no. 2, pp. 200–216, 2017.
R. H. Abdur Rahman Wahid, B. Prasetiya, and H. [nama tidak lengkap], “Peran guru Madrasah Diniyah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an,” J. Pendidik. Dasar dan Kegur., vol. 6, no. 2, pp. 41–46, 2021, doi: 10.47435/jpdk.v6i2.693.
S. Kahar et al., “Peran kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan di MTs. Swasta Miftahul Falah Sunggal Kabupaten Deli Serdang,” Anthropos: J. Antropol. Sos. dan Budaya, vol. 4, no. 2, pp. 170–178, 2019.
S. Pratama, Arifuddin Siraj, and M. Y. T., “Pengaruh budaya religius dan self-regulated terhadap perilaku keagamaan siswa,” Edukasi Islami, vol. 8, no. 2, pp. 331–346, 2019.
M. Mushfi, E. Iq, and Fadilah, “Internalisasi karakter religius di Sekolah Menengah Pertama Nurul Jadid,” J. Mudarrisuna, vol. 9, no. 1, pp. 1–25, 2019.
Irwanto, “Penanaman nilai-nilai religius dalam pembentukan karakter mahasiswa: Studi di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Garut, Jawa Barat,” UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2018, doi: 10.20961/ge.v4i1.19180.
S. Narulita, Rihlah Nur Aulia, and Firdaus Wajdi, “Pembentukan karakter religius melalui wisata religi,” in Pros. Semin. Nas. Tah. Fak. Ilmu Sos. Univ. Negeri Medan, vol. 1, no. 1, p. 166, 2017.
D. Sri Nanti, Leni Suryanti, and Muharnis, “Komunikasi efektif kepala sekolah sebagai upaya untuk menumbuhkan motivasi kerja guru,” J. Pendidik. Tambusai, vol. 6, no. 2, pp. 14432–14437, 2022.
I. Gading Puspaningtyas, “Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, komunikasi organisasi, motivasi, dan lingkungan kerja terhadap kinerja guru di SMP Negeri 16 Semarang,” Econ. Educ. Anal. J., vol. 4, no. 3, pp. 833–846, 2015.
I. Octaviarnis, “Pengaruh kepemimpinan visioner kepala sekolah dan komunikasi internal terhadap komitmen guru,” J. Akuntabilitas Manaj. Pendidik., vol. 9, no. 2, pp. 125–135, 2021.
S. F. Ahmad, “Strategi peningkatan kualitas komunikasi publik di level pemerintahan desa,” J. Inov. Penelit., vol. 1, no. 4, pp. 1689–1699, 2020.
Amirudin, “Gaya kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kedisiplinan guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 16 Jombang,” J. Educ. Manag. Stud., vol. 1, no. 1, pp. 21–26, 2018.
R. Anekasari, “Paradigma pendidikan Islam multidimensional: Konsep dan implikasinya dalam PAI di sekolah/madrasah,” Hikmatuna, vol. 1, no. 1, pp. 99–130, 2015.
T. Taklimudin and F. Saputra, “Metode keteladanan pendidikan Islam dalam perspektif Quran,” BELAJEA: J. Pendidik. Islam, vol. 3, no. 1, p. 1, 2018, doi: 10.29240/bjpi.v3i1.383.
I. D. Harefa, A. Tabrani, S. Tinggi, A. Kristen, and T. Pesat, “Problematika pendidikan karakter, antara konsep dan realita,” Shamayim, vol. 1, no. 2, pp. 148–156, 2021.
Hafsah Sitompul, “Metode keteladanan dan pembiasaan dalam penanaman nilai-nilai dan pembentukan sikap pada anak,” J. Darul ‘Ilmi, vol. 4, no. 1, pp. 54–62, 2016.
M. S. Ibnu Waqfin, “Konsep keteladanan guru dan implementasinya dalam perspektif pendidikan Islam,” Dinamika: J. Kaji. Pendidik. dan Keislam., vol. 4, no. 1, 2019, doi: 10.32764/dinamika.v4i01.367.
U. Wahyuningtyas, “Internalisasi nilai-nilai agama Islam melalui metode keteladanan dan pembiasaan: Studi multikasus di SMA Negeri 2 Pare Kediri dan SMA PSM Plemahan Kediri,” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2015.
B. Prasetiya and Maulid, “Student morality behavior: A contribution of social godliness and religiosity,” J. Pendidik. Agama Islam, vol. 18, no. 2, pp. 375–388, 2021.
B. Prasetiya, “Pemberian hukuman dalam perspektif pendidikan Islam,” J. Imtiyaz, vol. 2, no. 2, pp. 15–33, 2018.
B. Prasetiya, “Dialektika pendidikan akhlak dalam pandangan Ibnu Miskawaih dan Al-Gazali,” Intiqad: J. Agama dan Pendidik. Islam, vol. 10, no. 2, pp. 249–267, 2018.
F. Mujayyanah, B. Prasetiya, and N. Khosiah, “Konsep pendidikan akhlak Luqmanul Hakim,” vol. 6, no. 1, pp. 44–51, 2021.
H. M. Devy, “Implementasi pendidikan humanisme religiusitas dalam pendidikan agama Islam di era Revolusi Industri 4.0,” J. Edumaspul, vol. 4, no. 2, pp. 122–131, 2020.
M. Kusno Joko and Purwanto, “Model pendidikan karakter religius berbasis pada pengetahuan matematika sekolah,” Khazanah Pendidik., vol. 7, no. 1, pp. 1–11, 2014, doi: 10.1038/132817a0.
F. Muin, Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik & Praktik. Yogyakarta, Indonesia: Ar-Ruzz Media, 2016.
P. Yati, “Pendidikan karakter anak usia dini melalui metode pembelajaran field trip,” Lentera, vol. 18, no. 1, pp. 123–139, 2016.
Sumasrifah, “Peningkatan kemampuan pembelajaran berdasarkan standar proses berbasis karakter bagi guru PAI sekolah dasar di Pajangan Bantul TA 2016/2017,” J. Pendidik. Agama Islam, vol. 15, no. 2, 2018.