Login
Section Innovation in Education

Innovation Of Handling Students With Special Needs In Inclusive Elementary Education


Inovasi Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus Pada Pendidikan Inklusi Sekolah Dasar
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Lizana Nadiyah (1), Budi Haryanto (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background The provision of inclusive education is a fundamental right that demands tailored pedagogical strategies to accommodate children with diverse developmental, cognitive, and physical capabilities. Specific Background SD MUMTAZ, a designated inclusive school in Sidoarjo, integrates sixty-nine special needs students—including those with Autism Spectrum Disorder and Attention Deficit Hyperactivity Disorder—within a general education environment. Knowledge Gap Despite a growing commitment to inclusive education, the specific therapeutic methods and individualized coordination strategies executed by Special Supervising Teachers to facilitate holistic integration in mainstream primary schools remain underexplored. Aims This research explores the specific coordination strategies and therapeutic interventions utilized by educational staff to support the development of special needs students at SD MUMTAZ. Results Descriptive qualitative analysis via observation and interviews reveals a comprehensive handling strategy centered around Individualized Education Plans formulated collaboratively by teachers, special supervisors, and parents. Furthermore, the school employs specialized therapies—specifically Quranic therapy to stabilize emotions, bodywork therapy for motor coordination, and clinical interventions guided by medical professionals. Novelty This study highlights a unique multidimensional approach that synergizes spiritual interventions with clinical and physical therapies within a mainstream inclusive curriculum. Implications Implementing these holistic support structures and individualized therapeutic interventions provides a replicable framework for other elementary institutions to foster effectively inclusive, emotionally stable, and academically supportive learning environments.


Highlights:




  • Special Supervising Teachers facilitate integration by designing and executing Individualized Education Plans for each special needs student.




  • The institution implements Quranic therapy as an effective spiritual intervention to stabilize emotions and reduce tantrums.




  • Collaborative coordination between special educators, parents, and medical professionals ensures holistic cognitive and motor development.




Keywords: Inclusive Education, Special Needs Students, Individualized Education Plan, Quranic Therapy, Special Supervising Teachers

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Manusia pada prinsipnya adalah makhluk yang diciptakan dengan kesempurnaan oleh Allah SWT di dunia ini, dan diberikan potensi bawaan dalam diri setiap individu tersebut. Setiap individu memiliki variasi kecerdasan yang unik. Kecerdasan merupakan kapasitas dasar yang dimiliki sejak lahir, yang menunjukkan perbedaan di antara satu anak dan yang lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan khusus dalam penanganannya. Selain faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan kecerdasan anak, faktor kesehatan juga memiliki peran penting. Anak-anak yang lahir dengan kesehatan baik dan tanpa hambatan akan mengalami pertumbuhan biologis dan kognitif yang sesuai dengan tahapan perkembangan. Namun, ketika terdapat anak yang menunjukkan perilaku yang berbeda dari rekan sebaya dan memiliki kemampuan yang lebih terbatas, kondisi ini disebut sebagai kelainan atau anak istimewa [1].

Anak istimewa merujuk kepada anak yang mempunyai kebutuhan istimewa pada perkembangan fisik, emosional, sosial, atau kognitif. Kebutuhan - kebutuhan ini mencakup berbagai kondisi, seperti gangguan dalam perkembangan, masalah kesehatan, atau kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan khusus dalam pendidikan, perawatan kesehatan, dan bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka agar mereka dapat tumbuh dan berkembang sebaik mungkin. Anak istimewa terdiri dari anak yang memiliki kebutuhan khusus permanen yang memerlukan pendidikan khusus (PK) dan anak yang memiliki kebutuhan khusus temporer yang memerlukan layanan pendidikan khusus [2].

Sistem pendidikan di Indonesia memiliki dasar yang kuat dalam upaya penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda - bedakan. Berdasarkan [3], disebutkan bahwa "Pendidikan dijalankan secara adil, demokratis, dan tidak diskriminatif, dengan menghormati hak asasi manusia, nilai-nilai agama, serta nilai-nilai budaya dan demokrasi nasional." Dalam peraturan tersebut, terlihat jelas bahwa setiap anak di Indonesia, baik yang memiliki perkembangan normal maupun anak yang memiliki kebutuhuan khusus berhak menerima pendidikan tanpa terkecuali. Dengan berpijak pada prinsip ini, anak-anak yang menghadapi kebutuhan khusus memiliki hak untuk menerima pendidikan guna mengembangkan potensi yang mereka miliki. Paling tidak, tujuan pendidikan ini adalah agar mereka dapat mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pribadi mereka. Tanggung jawab pendidikan yang bermoral berkewajiban untuk memberikan pembelajaran dan bantuan kepada para siswa dalam mengembangkan kemampuan mereka serta menanamkan nilai-nilai, baik bagi anak-anak dengan perkembangan normal maupun yang menghadapi tantangan perkembangan, baik itu dalam konteks lingkungan keluarga dan orang tua, lingkungan sekolah dan pendidik, maupun masyarakat secara keseluruhan. Ketiga pihak ini memiliki tanggung jawab yang sebanding, meskipun peran yang paling dominan dan terlihat seringkali dimainkan oleh guru karena dianggap memiliki kompetensi dan profesionalisme lebih dalam mendidik dan merawat siswa-siswa yang memiliki kebutuhan khusus [1].

Sebagai pendidik dan fasilitator pembelajaran, guru diharapkan memiliki berbagai strategi dan metode yang menarik, sesuai dengan tujuan pembelajaran, untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh [4] terdapat empat strategi pokok dalam konteks belajar mengajar, yaitu: a) mengenali dan mengapresiasi keunikan karakteristik individu siswa, b) memilih pendekatan pembelajaran yang cocok dan sesuai, c) memilih serta menerapkan metode, prosedur, dan teknik pembelajaran yang efektif, d) menetapkan standar prestasi dan kriteria keberhasilan. Namun, menjadi seorang guru yang mengajar anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah tugas yang mudah, mengingat tantangan lingkungan pembelajaran yang mungkin tidak selalu kondusif dan bisa berubah dengan cepat.

Perancangan pembelajaran diperlukan dalam mengajar anak istimewa hal ini bertujuan mempermudah pengajar dalam memberikan pembelajaran kepada anak istimewa dan dapat dijadikan pijakan reflektif dalam konteks Pendidikan inklusif. Proses pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan yang beragam dan fleksibel untuk menanggapi berbagai variasi kebutuhan yang mereka miliki, sehingga lingkungan pembelajaran menjadi kondusif. Implementasi pembelajaran ini perlu merangkul perencanaan yang terstruktur, termasuk merancang bahan pembelajaran, merencanakan pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau modul ajar, menjalankan pembelajaran dengan memperhatikan aspek-aspek kelas, aktivitas belajar siswa, dan mengevaluasi hasil pembelajaran dari sisi kognitif, afektif, dan keterampilan motorik. Kualitas perancangan pembelajaran sangat penting agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif [5].

Anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan perhatian ekstra karena menghadapi gangguan dan memiliki kelainan tertentu. Dalam konteks "disabilitas," anak spesial merujuk pada anak-anak yang memiliki keterbatasan dalam satu atau beberapa aspek kemampuan, baik fisik seperti tunanetra dan tunarungu, maupun psikologis seperti autisme, ADHD, dan gangguan perilaku. Deteksi dini sangat penting untuk anak-anak ini agar orang tua dan guru dapat memberikan perawatan yang sesuai dengan karakteristik mereka [6].

Beberapa masalah yang dihadapi oleh anak spesial meliputi kesulitan dalam mempertahankan fokus perhatian, menyebabkan mereka cenderung mudah merasa bosan selama proses pembelajaran di kelas. Mereka juga cenderung tidak aktif dalam kegiatan pembelajaran karena kesulitan dalam mempertahankan perhatian saat guru sedang menjelaskan, sehingga mereka mudah teralihkan. Selain itu, mereka mungkin enggan untuk mengajukan pertanyaan karena kurangnya motivasi atau rasa kurang percaya diri, juga mungkin sulit untuk bertahan dalam belajar dalam jangka waktu yang lebih lama, yang mengakibatkan keinginan untuk meninggalkan kelas selama pelajaran berlangsung [7].

Pada prinsipnya, anak berkebutuhan khusus atau difabel memiliki tiga jenis kebutuhan utama, yakni keperluan terkait fisik atau kesehatan, kebutuhan yang bersifat sosial emosional, serta keperluan dalam hal pendidikan. Ini disebabkan karena mereka yang mengalami difabilitas memiliki hak dan tanggung jawab yang serupa dengan warga negara lainnya. Oleh karena itu, semua pihak, termasuk pemerintah, keluarga, sekolah, dan para pendidik, memiliki tanggung jawab untuk mengatasi dan memberikan layanan yang cocok dengan kebutuhan spesifik yang diperlukan oleh anak-anak dengan difabilitas. Dalam konteks pendidikan inklusif, strategi yang khusus diperlukan untuk menangani individu dengan kebutuhan khusus. Siswa perlu mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sambil juga mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap siswa secara penuh dan efektif [8].

Pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh [9] di Sekolah Dasar Ulul Albab, terlihat bahwa sekolah ini adalah salah satu lembaga pendidikan swasta yang menerapkan model Pendidikan inklusi. Dalam lingkungan ini, terdapat siswa istimewa seperti gangguan emosi dan prilaku, gangguan penengaran, dan gangguan fisik. Berdasarkan pengamatan awal ini, diperlukan pendekatan perilaku yang melibatkan elemen-elemen seperti pujian, kritik konstruktif, penguatan positif, dan bahkan rencana untuk mengabaikan perilaku tertentu. Peran pendidik memiliki signifikansi penting dalam mengarahkan pola pikir anak-anak berkebutuhan khusus, dan pentingnya penerapan strategi pemantauan diri dan solusi masalah diperlukan untuk memastikan siswa-siswa ABK dapat mengamilasi materi pelajaran yang efektif. Oleh karena, penelitian mengenai implementasi pembelajaran untuk anak istimewa menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi pendekatan pembelajaran yang sesuai dan menganalisis peran guru dalam proses pembelajaran [10]. Indikator perencanaan pembelajaran mencakup penyususnan materi ajar, pembuatan modul ajar, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas, serta partisipasi siswa dalam proses pembelajaran [11].

SD Muhammadiyah 1-2 Taman atau yang biasa dikenal dengan SD Mumtaz merupakan lembaga pendidikan Islam swasta tertua di wilayah Taman terakreditasi A dengan visi sekolah Islami, bertalenta dan berprestasi. Mengusung 3 program unggulan Islamic value implementation, good quality academic dan multitalent Class SD Muhammadiyah 1-2 Taman berusaha menjadi sekolah yang unggul dan selalu menjadi pilihan masyarakat. Dengan jumlah siswa yang cukup banyak, sekolah ini juga mempunyai guru-guru profesional, fasilitas-fasilitas pendidikan yang cukup memadai serta banyak capaian prestasi sebagai salah satu nilai tawar pemasaran pendidikannya. Selain terkenal dengan sebutan Multitalent School, untuk saat ini SD Mumtaz juga merupakan sekolah inklusi yang menerima dan memiliki siswa berkebutuhan khusus dengan jumlah yang banyak.

Berdasarkan hasil observasi awal dan pengamatan yang dilakukan peneliti di SD Mumtaz, SD Mumtaz merupakan sekolah yang menerima siswa berkebutuhan khusus serta mengusung program inklusi menjadi salah satu program unggulan. Program inklusi di SD Mumtaz dimulai pada tahun 2017 sesuai surat dari dinas Pendidikan dan kebudayaan kabupaten Sidoarjo nomor 188/4952/404.5.1/2017 yang menjelaskan bahwa dalam penuntasan wajib belajar selama 9 tahun maka perlu di lakukan penyelenggaraan Pendidikan inklusif. Program inklusi di SD Mumtaz pada tahun 2017 setelah dikeluarkan surat penunjukan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidaorjo, SD Mumtaz menerima 2 siswa yang terindikasi diantaranya down syndrome dan diseleksia. Kemudian di tahun kedua program inklusi berjalan SD Mumtaz menerima 6 siswa berkebutuhan khusus dengan hambatan yang lebih bervarisasi dari sebelumnya. Hingga di tahun 2023 ini program inklusi di SD Mumtaz sudah menerima sebanyak 69 siswa berkebutuhan khusus dengan berbagai macam hambatan diantaranya ADHD, ASD, disleksia, Slow learner, speech delay, cerebral palsy, borderline, IDD, dan tuna rungu.

SD Mumtaz mendapatkan amanah dari pemerintah sebagai lembaga yang melayani siswa berkebutuhan khusus. SD Mumtaz juga telah berkomitmen untuk terus mengembangkan strategi dan pendekatan yang efektif dalam membantu siswa-siswa berkebutuhan khusus untuk mencapai potensi penuh mereka. Dengan kerja sama erat antara staf pendidik dan dukungan dari pemerintah, SD Mumtaz berusaha untuk menciptakan lingkungan inklusif yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan setiap siswa berkebutuhan khusus. Selain itu pada saat ini SD Mumtaz masih mencari bentuk yang ideal dalam menangani siswa spesial. Dalam penanganannya guru pembimbing khusus juga sangat berperan penting dan berkontribusi secara signifikan untuk mencapai potensi penuh mereka.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memahami dan mengetahui strategi penanganan siswa berkebutuhan khusus [12]. Salah satu lembaga pendidikan yang digunakan sebagai objek penelitian yaitu SD Mumtaz, peneliti merupakan orang dalam sehingga dalam melakukan penelitian tidak mengganggu dinamika alamiah yang terjadi atau menhubah situasi yang sedang diamati dan penelitian bisa dilakukan sewaktu – waktu. Teknik pengumpulan data terdiri dari tiga teknik utama yaitu pertama wawancara langsung dengan kepala sekolah, guru kelas dan juga guru pembimbing khusus (GPK), kedua observasi partisipan dan non partisipan dan ketiga studi dokumentasi yang meliputi gambaran umum objek penelitian, laporan perkembangan siswa, catatan harian guru, foto maupun rekaman video. Menurut beberapa ahli seperti [13], [14] dan [15] ketiga teknik tersebut merupakan teknik dasar yang selalu digunakan peneliti kualitatif di dalam melakukan penelitian-penelitiannya. Sedangkan analisis data yang digunakan yaitu teknis analisis Domain dengan langkah – langkah sebagai berikut pengumpulan data melalui wawancara, observasi dengan tujuan untuk eksplorasi yang artinya memberikan gambaran yang utuh tentang objek yang akan diteliti tanpa harus dirinci secara detail unsur – unsur yang ada dalam objek tersebut [12].

III. Hasil dan Pembahasan

Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah Waka kesiswaan, koordinator inklusi, guru kelas, dan juga GPK (guru pembimbing khusus). Peneliti mendapatkan data tentang kinerja guru dalam menanngani anak berkebutuhan khusus dengan cara mengajukan pertanyaan pokok dan mengobservasi proses pembelajaran dalam kelas. Penelitian ini pada akhirnya tidak bertujuan untuk memvonis benar atau salahnya kinerja guru kelas maupun GPK dalam menangani anak berkebutuhan khusus tetapi penelitian ini hanya mendeskripsikan kenyataan dan realita yang terjadi di sekolah berkaitan dengan kinerja guru kelas, GPK maupun warga sekolah lainnya dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Hasil dari penelitian dan wawancara dapat dijelaskan dalam beberapa point berikut :

A. Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di SD Mumtaz

SD MUMTAZ mendapatkan amanah untuk menjadi sekolah inklusi sejak menerima SK bersama sekolah Inklusi yaitu surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Nomor: 188/4592/404.5.1/2017 tentang penunjukan lembaga penyelenggara program pendidikan Inklusif. Dengan dikeluarkannya SK bersama tersebut SD MUMTAZ mulai mengembangkan program Inklusi tersebut 7 tahun yang lalu ini mulai tahun 2018 sampai saat ini di tahun 2024 SD MUMTAZ memiliki 69 siswa berkebutuhan khusus.

Siswa spesial di SD MUMTAZ ini mempunyai hambatan yang berbeda-beda diantaranya RM (Retardasi Mental), ASD (Autism Spectrum Disorders), ADHD (Atention Defcit Hyperactivity Discorder), IDD (Intellectual Developmental Disorder), Slow Learner, Cerebral Palsy, Borderline, Disleksia, Tuna Rungu, Down syndrome, Speech Delay. Berikut penjelasan dari [16] tentang berbagai macam pengertian hambatan siswa berkebutuhan khusus di SD MUMTAZ.

1. RM (Retardasi Mental) merupakan gangguan intelektual yang umumnya ditandai dengan kemampuan mental atau inteligensi yang berada di bawah rata- rata, yang muncul bersamaan dengan kurangnya perilaku adaptif, serta kemampuan beradaptasi dengan kehidupan sosial sesuai tingkat perkembangan dan budaya

2. ASD (Autism spectrum disorder) merupakan kelainan perkembangan saraf terutama dalam domain fungsi sosial, komunikasi, dan perilaku, yang memengaruhi bagaimana seseorang berkomunikasi dan berinteraksi dengan hal-hal di sekitarnya.

3. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan pemusatan perhatian/Hiperaktivitas atau gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan perilaku hiperaktif, impulsif, dan masalah perhatian.

4. IDD (Intellectual Developmental Disorder) merupakan Penurunan fungsi kognitif yang signifikan terkait dengan keterbatasan dalam pembelajaran, perilaku yang adaptif, dan kemampuan bina diri.

5. Slow Learner merupakan Kondisi dimana anak mengalami lamban belajar, lamban terampil, dan lamban mamahami suatu informasi yang diperoleh atau ditangkapnya.

6. CP (Cerebral palsy) merupakan kelainan kongenital pada gerakan, otot, atau postur atau Kondisi yang mempengaruhi otot dan saraf ini ditandai dengan kesulitan dalam menggerakan tubuhnya.

7. Borderline merupakan Gangguan mental yang membuat penderitanya sulit mengendalikan emosi. Kondisi ini bisa mempengaruhi kehidupan sehari-hari pengidapnya, yang diakibatkan oleh mood yang tidak stabil, cemas yang berlebihan, dan kesulitan menjalani hubungan sosial.

8. Disleksia merupakan gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja.

9. Tuna Rungu merupakan gangguan kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengarannya, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar dimana batas pendengaran yang dimilikinya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran.

10. Down Syndrome merupakan kelainankromosomgenetik21yang menyebabkan keterlambatan perkembangan dan intelektual [17].

SD MUMTAZ siswa yang memiliki hambatan ASD (Autism spectrum disorder) memiliki jumlah terbanyak. Jumlah siswa dengan hambatan lainnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan ASD. Misalnya, ADHD memiliki 12 siswa, RM memiliki 10 siswa, dan hambatan lainnya seperti IDD, Slow Learner, CP, Borderline, Disleksia, Tuna Rungu, Down Syndrome, dan Speech Delay masing-masing memiliki jumlah yang lebih rendah. Dari data tersebut SD MUMTAZ merupakan salah satu sekolah yang menerima siswa berkebutuhan khusus lebih banyak dibandingkan dengan sekolah-sekolah dasar lain yang ada di Sidoarjo. Hal tersebut juga yang menjadikan tantangan bagi SD MUMTAZ untuk tetap optimis dan bersemangat mencari hal – hal baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan bagi siswa berkebutuhan khusus. Dengan banyaknya jumlah tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap kemampuan sekolah dalam menangani siswa berkebutuhan khusus. Dari sekian banyak siswa berkebutuhan khusus rata – rata memiliki atau didampingi oleh Guru Pembimbing Khusus (GPK) 1 siswa 1 GPK. Apabila hambatan siswa berkebutuhan khusus tidak berat maka tidak memerlukan GPK.

Dalam menangani anak berkebutuhan khusus di SD Mumtaz mencerminkan komitmen untuk menyediakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung bagi semua murid, tanpa memandang kemampuan atau tantangan yang mereka hadapi. Dalam hal ini, sekolah telah merumuskan serangkaian kebijakan dan prosedur yang ditujukan untuk memastikan bahwa setiap anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus, mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas.

Pertama-tama, kebijakan sekolah menekankan pada pendekatan individualis dalam mendukung kebutuhan setiap murid berkebutuhan khusus. Ini berarti bahwa setiap anak akan dinilai secara individual oleh tim multidisiplin, termasuk guru, staf pendukung khusus, dan profesional kesehatan, untuk menentukan jenis dukungan dan layanan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan mereka. Selanjutnya, kebijakan sekolah menekankan pentingnya kolaborasi antara semua pemangku kepentingan, termasuk guru, staf pendukung khusus, orang tua, dan ahli terkait, dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan yang sesuai. Ini mencakup penyusunan rencana pendidikan individual (RPI) yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan memastikan bahwa semua staf sekolah terlatih dan siap untuk mendukung anak berkebutuhan khusus. Selain itu, kebijakan sekolah juga menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan mendukung, di mana semua murid merasa diterima dan dihargai melalui pelatihan anti-bullying, serta penyediaan fasilitas dan sumber daya yang dapat diakses oleh semua murid, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus [18].

Terakhir, kebijakan sekolah memastikan bahwa pendekatan pendidikan inklusif di SD MUMTAZ diintegrasikan ke dalam kurikulum dan kegiatan talent. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua murid memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan sekolah, serta untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi secara positif. Dengan menerapkan kebijakan-kebijakan ini, SD MUMTAZ berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, yang menghormati dan mengakui keunikannya setiap murid, serta memberikan dukungan yang diperlukan untuk membantu mencapai potensi mereka.

SD Mumtaz memiliki guru pembimbing khusus (GPK) sebanyak 54 orang yang bertugas untuk mendampingi siswa berkebutuhan khusus. Dari ke 54 GPK memiliki basic atau lulusan dengan jurusan yang berbeda – beda mulai dari sarjana Pendidikan, sarjana psikologi, dan juga sarjana sosial, meskipun belum ada yang lulusan Pendidikan luar biasa para GPK yang ada di SD MUMTAZ sudah banyak memiliki pengalaman dan ilmu dalam menangani siswa berkebutuhan khusus karena semuanya sudah dibekali ilmu melalui pelatihan – pelatihan atau workshop yang diadakan oleh SD MUMTAZ maupun pihak dari luar sekolah. Tidak hanya itu setiap satu minggu sekali dan paling lama satu bulan sekali semua GPK dengan didampingi oleh Waka Kesiswaan, Kaur Kesiswaan dan Koordinator inklusi melakukan kordinasi atau sharing tentang perkembangan siswa berkebutuhan khusus yang dipegang masing – masing.

Peranan GPK dalam menangani anak spesial di SD MUMTAZ sangat penting dalam mendukung pendidikan inklusif yang efektif dan holistik [19]. Berikut adalah elaborasi mengenai peran guru pembimbing khusus (GPK) :

1. Pendampingan Individual : Guru pembimbing khusus bekerja secara individu dengan setiap anak berkebutuhan khusus untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka menyediakan bimbingan dan perhatian yang intensif dalam konteks pembelajaran kelas, membantu anak-anak mengatasi hambatan akademis dan sosial yang mungkin dihadapi oleh mereka.

2. Pengembangan Rencana Individual : Bersama dengan tim pendidikan dan orang tua, guru pendamping khusus membantu dalam merancang dan mengimplementasikan rencana pendidikan individual (RPI) yang sesuai dengan kebutuhan anak. Mereka berperan aktif dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang realistis dan mengatur strategi untuk mencapainya.

3. Pendukungan Dalam Kelas : Guru pembimbing khusus berada di samping anak selama proses pembelajaran di kelas reguler untuk memberikan dukungan tambahan dalam pemahaman materi, manajemen perilaku, atau komunikasi dengan teman sekelas.

4. Adaptasi Materi dan Metode Pengajaran : Mereka berkolaborasi dengan guru kelas untuk mengadaptasi materi pembelajaran dan metode pengajaran sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan individu anak. Hal ini bisa melibatkan modifikasi tugas, penggunaan alat bantu, atau penyediaan bahan tambahan. Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan program inklusif pada dasarnya adalah menggunakan kurikulum reguler yang berlaku di sekolah umum [20]. Namun demikian karena ragam hambatan yang dialami anak berkebutuhan khusus sangat bervariasi, mulai dari yang sifatnya ringan, sedang sampai yang berat. Modifikasi atau penyelarasan kurikulum ini diterapkan pada empat komponen utama kurikulum yaitu :

1) Modifikasi tujuan : tujuan pembelajaran yang ada dalam kurikulum umum dirubah untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik berkebutuhan khusus

2) Modifikasi isi atau konten materi : materi pelajaran yang diberlakukan untuk peserta didik regular dirubah untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik penyandang disabilitas

3) Modifikasi proses : ada perbedaan dalam kegiatan pembelajaranyang dijalani oleh PDPD dengan yang dialami oleh peserta didik pada umumnya

4) Modifikasi evaluasi : ada perubahan dalam sistem penilaian untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik penyandang disabilitas

5. Kolaborasi dengan orang tua dan tim pendukung adalah penting dalam pendidikan anak. Guru pembimbing khusus berperan sebagai penghubung antara sekolah, orang tua, dan profesional lainnya yang terlibat dalam pendidikan anak. Mereka secara rutin berkomunikasi dengan orang tua untuk membahas perkembangan anak dan memberikan saran mengenai strategi pendukung yang bisa dilakukan di rumah..

6. Monitoring dan Evaluasi Kemajuan: Guru pendamping khusus secara rutin memantau kemajuan akademis dan sosial-emosional anak serta melakukan evaluasi terhadap efektivitas strategi intervensi yang diterapkan. Mereka juga berperan dalam menyusun laporan kemajuan dan merekomendasikan penyesuaian jika diperlukan.

7. Pendampingan untuk Integrasi Sosial : Selain mendukung dalam hal akademis, guru pendamping khusus juga memainkan peran penting dalam membantu integrasi sosial anak berkebutuhan khusus dengan teman sebaya dan lingkungan sekolahnya..

Dengan peran yang menyeluruh seperti ini, guru pembimbing khusus di SD Mumtaz berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif serta membantu anak berkebutuhan khusus untuk mencapai potensi maksimal mereka. Guru perlu memiliki kemampuan untuk mengubah cara berpikir mereka terhadap setiap anak spesial,setiap anaka atau individu mempunyai keunikan tersendiri dalam proses pembelajaran. Dalam setiap situasi, penting untuk menilai kebutuhan anak secara individual dan menerapkan pendekatan pendidikan yang sesuai guna mencapai potensi terbaik dalam diri mereka. Menurut [21] langkah yang harus diambil oleh guru adalah memperoleh pengetahuan yang memadai tentang anak berkebutuhan khusus dan mengambil pendekatan khusus terhadap setiap anak tersebut.

Berdasarkan wawancara dengan Waka Kesiswaan SD MUMTAZ, beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam menangani anak berkebutuhan khusus diantaranya: 1) Memberikan motivasi dan bimbingan, 2) Beradaptasi dengan siswa, 3) Meningkatkan kedekatan emosional dengan siswa, 4) Mengajarkan siswa untuk menggali potensinya sendiri, 5) Membangun kolaborasi dengan orang tua siswa, 6) Memberikan terapi [22] .

Dari beberapa penanganan yang dilakukan oleh sekolah hal yang paling menarik adalah perberian terapi terhadap anak berkebutuhan khusus diantaranya yaitu terapi Al – Qur’an, terapi olah tubuh dan terapi klinis [23]. Berikut untuk penjelasan dan juga tekniknya .

1) Terapi Al – Qur’an

Koordinator Inklusi SD MUMTAZ mengungkapkan bahwa terapi al-Quran merupakan metode yang tepat untuk membentuk pribadi yang sehat secara mental dan spiritual. Menurutnya, melalui terapi ini, anak-anak diajak untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam segala situasi, bukan hanya ketika mereka sedang mengalami tantrum atau emosi. Yanuar menjelaskan bahwa terapi ini telah terbukti efektif dalam menenangkan jiwa dan emosi anak, khususnya dalam kasus-kasus di mana anak sering mengalami tantrum atau ledakan emosi. Dia menyatakan bahwa tim GPK SD Mumtaz telah mempelajari terapi al-Quran dari Direktur Tajdied Center dengan fokus pada penerapan terapi yang sesuai untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Menurutnya, penting untuk memahami bahwa terapi al-Quran berbeda dengan rukiah. Terapi ini bertujuan untuk membantu siswa lebih akrab dengan al-Qur'an dan mengakui al-Qur'an sebagai kitab suci, serta membiasakan mereka untuk membaca dan mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran. Terapi al-Quran yang diterapkan oleh SD Mumtaz melalui tahapan berikut: 1) Memperkenalkan al-Quran kepada siswa berkebutuhan khusus (ABK) sebagai kitab suci, 2) Mendengarkan pembacaan al-Quran yang dilakukan dengan penuh khidmat oleh Guru Pembimbing Khusus (GPK), 3) Mengajak siswa ABK untuk melakukan murajaah atau membaca bersama-sama ayat-ayat al-Quran, sambil tetap memusatkan perhatian mereka, 4) Melatih siswa ABK dalam membaca al-Quran dengan tajwid yang benar, disesuaikan dengan kemampuan mereka.

Dan model yang kedua adalah dengan membacakan doa dengan cara berikut:

1. Baca syahadat:

2. Baca basmallah 3X:

3. Baca do'a furqon

4. Lalu tiupkan di telapak tangan

5. Tempelkan tangan di kepala, tengkuk, tulang ekor atau dada (atau bagian yang terasa hangat atau sakit)

6. Lalu baca:

7. atau baca 7X:

Pelaksanaan intervensi Al Quran ini dilakukan setiap hari di sekolah pada jam pembelajaran BTQ oleh masing-masing. Dan di rumah, disarankan orang tua juga melakukan secara istiqomah untuk anak-anaknya.

2) Terapi olah tubuh

Ikhtiar intervensi yang kedua adalah intervensi olah tubuh. Para Guru Pembimbing Khusus (GPK) SD MUMTAZ dibimbing oleh PAZ Indonesia melakukan olah tubuh bersama siswa berkebutuhan khusus dalam rangka intervensi memaksimalkan potensi ananda. Intervensi olah tubuh ini dilakukan dengan cara peregangan atau melakukan beberapa gerakan yoga. Intervensi olah tubuh ini dilakukan 15 menit pertama pada saat jam pembelajaran PJOK seminggu sekali.

Intervensi olah tubuh yang dilakukan oleh Guru Pembimbing Khusus (GPK) kepada anak berkebutuhan khusus merupakan bagian penting dari pendekatan pendidikan inklusif. Dalam hal ini, GPK memainkan peran kunci dalam merancang dan melaksanakan program olah tubuh individu. GPK bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk tim pendukung khusus seperti terapis fisik, terapis okupasi, dan terapis bicara, untuk memastikan bahwa program olah tubuh yang disediakan memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan perkembangan anak secara holistik.

Intervensi olah tubuh ini dirancang khusus untuk mengakomodasi kondisi fisik dan kebutuhan khusus anak. Ini bisa meliputi berbagai jenis aktivitas fisik, peregangan, gerakan sensorik, atau teknik relaksasi yang dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi motorik anak. Setiap sesi intervensi olah tubuh dipersiapkan dengan cermat dengan mempertimbangkan kemampuan dan batasan anak, serta tujuan perkembangan yang ingin dicapai.

Selain itu, GPK juga memberikan dukungan yang diperlukan kepada anak selama sesi olah tubuh, baik dalam hal bimbingan langsung maupun penggunaan alat bantu jika diperlukan. Mereka memastikan bahwa anak merasa nyaman dan aman selama melaksanakan aktivitas, serta memberikan pujian dan dukungan positif untuk mendorong partisipasi aktif dan motivasi anak.

Melalui intervensi olah tubuh yang terstruktur dan terarah ini, GPK bertujuan untuk membantu anak berkebutuhan khusus meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional mereka, meningkatkan kemandirian, dan memfasilitasi perkembangan kemampuan motorik dan sensorik mereka [24]. Dengan demikian, intervensi olah tubuh menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan holistik anak berkebutuhan khusus dalam konteks pendidikan inklusif.

3) Terapi klinis

Intervensi ini merupakan penanganan/ layanan terhadap anak yang mengalami resiko hambatan dalam aspek motorik, komunikasi dan bahasa, sosial emosi, kognisi, dan persepsi-sensori. Intervensi terapi klinis merupakan upaya yang holistik dan terarah dalam menangani anak yang mengalami risiko hambatan dalam berbagai aspek perkembangan, termasuk motorik, komunikasi dan bahasa, sosial emosi, kognisi, dan persepsi-sensori. Melalui layanan ini, para profesional terapis klinis bekerja sama dengan keluarga dan tim pendukung lainnya untuk merancang dan melaksanakan program intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan unik dan kemampuan anak.

Dalam aspek motorik, terapis klinis yang dilakukan di SD MUMTAZ yaitu terapi fisik yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot, keterampilan motorik halus dan kasar, serta koordinasi gerakan serta menggunakan berbagai teknik dan alat bantu, seperti latihan fisik terstruktur, permainan gerakan, dan terapi penggunaan alat bantu, untuk membantu anak mengembangkan keterampilan motorik yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.

Terapi klinis juga bisa membantu untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal. Mereka dapat menggunakan permainan peran, teknik penguatan suara, dan latihan interaktif lainnya untuk membantu anak memahami dan menggunakan bahasa dengan lebih lancar. Dalam hal sosial emosi, terapis klinis fokus pada pengembangan keterampilan sosial, regulasi emosi, dan pemahaman diri di mana anak dapat belajar berinteraksi dengan orang lain, mengelola emosi mereka, dan membangun hubungan yang sehat. Dalam aspek kognitif, terapis klinis dapat menyediakan berbagai latihan kognitif dan permainan pembelajaran yang dirancang untuk merangsang pemikiran kreatif, perhatian, memori, dan pemecahan masalah anak [25].

Terakhir, dalam persepsi-sensori, terapis klinis bekerja untuk mengintervensi dalam keterampilan persepsi sensori anak, seperti integrasi sensori, pengenalan stimulus, dan respons terhadap input sensori dengan menggunakan teknik stimulasi sensori dan latihan integrasi sensori untuk membantu anak mengelola dan merespons input sensori dengan lebih efektif. Dengan pendekatan yang holistik dan terarah, intervensi terapi klinis bertujuan untuk membantu anak mengatasi hambatan perkembangan mereka, memaksimalkan potensi mereka, dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Setiap anak berkebutuhan khusus bisa berbeda-beda bentuk intervensi klinisnya, disesuaikan dengan jenis hambatannya masing-masing [26]. Kemampuan GPK SD MUMTAZ dalam melakukan intervensi klinis ini dibimbing oleh tenaga ahli dan terapis dari UPTD ABK Sidoarjo dan Psikolog Siloam Hospital.

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan potensi mereka di lingkungan sekolah reguler. Salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah menerapkan pendekatan pendidikan inklusif. Pendekatan ini memberikan panduan kepada guru dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus di sekolah dengan tujuan memberikan kesempatan belajar yang setara dan bermutu bagi semua siswa. Setiap lembaga pendidikan diwajibkan untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.partisipasi serta keberhasilan semua siswa tanpa memandang kecacatan, kemampuan, atau latar belakang mereka [27].

a) Tantangan dalam Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus di SD Mumtaz

Dalam menangani siswa berkebutuhan khusus SD Mumtaz juga memiliki tantangan yang harus dihadapi diantaranya yaitu :

1. Tantangan Infrastruktur dan Fasilitas

1) Kurangnya Fasilitas Khusus : SD Mumtaz mungkin menghadapi tantangan dalam menyediakan fasilitas khusus yang diperlukan oleh siswa berkebutuhan khusus, seperti ruang sensorik atau teknologi asistif lainnya.

2) Aksesibilitas : Infrastruktur sekolah yang tidak memadai untuk siswa dengan disabilitas fisik, seperti tidak adanya ramp, pegangan tangan, atau lift, dapat menghambat mobilitas siswa.

2. Tantangan Sumber Daya Manusia

1) Guru pembimbing khusus (GPK) yang bukan sesuai dengan jurusana: Tidak semua guru pembimbing khusus (GPK) di SD Mumtaz jurusan Pendidikan luar biasa.

3. Tantangan Metode Pembelajaran

1) Metode Pengajaran : Metode pengajaran yang tidak interaktif atau tidak adaptif terhadap berbagai gaya belajar siswa berkebutuhan khusus karena juga menyesuaikan dengan siswa reguler.

4. Tantangan Sosial dan Emosional

1) Integrasi Sosial : Tantangan dalam membantu siswa berkebutuhan khusus untuk berintegrasi secara sosial dengan teman-teman sekelas mereka dapat menyebabkan kesulitan dalam pengembangan keterampilan sosial.

5. Tantangan Keterlibatan Orang Tua

1) Kurangnya Dukungan dari Orang Tua : Beberapa orang tua kurang terlibat atau kurang memahami cara terbaik untuk mendukung anak mereka

2) Komunikasi yang Efektif : Tantangan dalam menjaga komunikasi yang efektif antara sekolah dan orang tua tentang kebutuhan dan perkembangan siswa dapat menghambat kerjasama yang diperlukan untuk mendukung siswa. Karena terkadang banyak orang tua yang masih sibuk dengan pekerjaannya [28].

b) Strategi Mengatasi Tantangan

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, SD Mumtaz dapat menerapkan beberapa strategi efektif untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung perkembangan semua siswa berkebutuhan khusus (ABK). Strategi – strategi ini mencakup [29]:

1. Pelatihan Guru dan Staf : Menyediakan pelatihan berkelanjutan untuk guru dan staf tentang pendidikan inklusif dan metode pengajaran adaptif. Meningkatkan kualitas guru pembimbing khusus (GPK) adalah peluang penting bagi SD Mumtaz. Dengan mengadakan pelatihan lanjutan dan program pengembangan profesional, sekolah dapat meningkatkan disiplin dan keterampilan GPK sesuai dengan kebutuhan siswa ABK. Pelatihan ini bisa mencakup teknik pengajaran yang inovatif, strategi manajemen kelas inklusif, serta pemahaman mendalam tentang berbagai jenis hambatan yang dialami siswa ABK. Pengembangan kompetensi GPK akan memastikan bahwa mereka lebih siap dan mampu memberikan dukungan yang optimal, sehingga kualitas pendidikan dan layanan yang diterima siswa ABK meningkat secara signifikan.

2. Penyesuaian Kurikulum : Mengembangkan kurikulum yang fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan individual siswa.

3. Peningkatan Fasilitas dan Infrastruktur : Meningkatkan fasilitas dan infrastruktur sekolah agar lebih ramah disabilitas. Dengan peningkatan jumlah siswa dan kepercayaan yang terus berkembang dari wali murid, SD Mumtaz memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan memperluas program serta fasilitas yang ditawarkan. Ini mencakup tidak hanya aspek akademik, tetapi juga pengembangan bakat non-akademik siswa berkebutuhan khusus. Misalnya, sekolah dapat menambahkan program seni, olahraga, dan keterampilan hidup yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa. Fasilitas seperti ruang terapi, laboratorium keterampilan, dan area rekreasi yang ramah ABK juga bisa ditingkatkan untuk mendukung perkembangan holistik siswa.

4. Membangun Kesadaran dan Dukungan Sosial : Mengedukasi komunitas sekolah tentang pentingnya inklusi dan mengurangi stigma terhadap siswa berkebutuhan khusus.

5. Meningkatkan keterlibatan orang tua dengan mendorong partisipasi aktif dan mempertahankan komunikasi yang efektif antara sekolah dan rumah. Mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua untuk membahas perkembangan anak dan berbagi informasi tentang strategi belajar yang efektif di rumah. [30].

6. Advokasi untuk Kebijakan yang Mendukung : Bekerja sama dengan pembuat kebijakan untuk memastikan kebijakan sekolah mendukung pendidikan inklusif. SD Mumtaz memiliki peluang besar untuk menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga eksternal seperti pusat terapi, organisasi non-profit, komunitas lokal, dan ahli pendidikan khusus. Kolaborasi ini dapat membawa manfaat signifikan, seperti akses ke sumber daya tambahan, pelatihan khusus bagi staf, dan program dukungan yang lebih komprehensif untuk siswa ABK. Misalnya, kerjasama dengan lembaga terapi dapat memberikan sesi terapi tambahan di sekolah,

7. Sistem Penilaian yang Adaptif : Mengembangkan sistem penilaian yang mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan unik siswa berkebutuhan khusus.

Dengan menerapkan strategi ini, SD Mumtaz dapat mengatasi tantangan dalam pendidikan siswa berkebutuhan khusus dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung. SD Mumtaz juga dapat memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan inklusif yang unggul, menyediakan layanan holistik dan berkualitas tinggi bagi siswa ABK, serta membangun reputasi yang lebih baik di kalangan masyarakat dan wali murid.

IV. Simpulan

SD Mumtaz menerima siswa inklusi dengan terbuka, menyediakan fasilitas yang sesuai kebutuhan mereka, serta program dan guru pembimbing khusus yang kompeten untuk mendukung perkembangan akademik dan non-akademik siswa. SD MUMTAZ adalah Sekolah swasta yang menerima siswa berkebutuhan khusus dalam segala macam hambatan dan juga mampu menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pendidikan inklusif, di mana setiap anak, termasuk mereka dengan kebutuhan khusus, diterima dan diakui sebagai bagian dari komunitas sekolah. Dalam konteks ini, selain guru dan waka kesiswaan, peran Guru Pembimbing Khusus (GPK) memiliki signifikansi yang luar biasa. GPK bertanggung jawab tidak hanya memberi bimbingan siswa spesial, tetapi juga untuk memfasilitasi integrasi mereka ke dalam lingkungan pembelajaran yang ada.

Guru pembimbing khusus memainkan peran kunci dalam merancang dan menerapkan program pendidikan individu yang sesuai dengan kebutuhan dan kekuatan setiap siswa. Mereka bekerja sama dengan siswa, orang tua, dan staf sekolah lainnya untuk mengembangkan Rencana Pendidikan Individual (RPI) yang memenuhi kebutuhan belajar dan perkembangan siswa. Dengan memahami kebutuhan unik setiap siswa, guru pembimbing khusus dapat memberikan bimbingan yang diperlukan untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat mengakses kurikulum dan mencapai potensi belajar mereka secara optimal..

Berbagai jenis terapi untuk mendukung perkembangan siswa, diantaranya adalah terapi Al – Quran, terapi olah tubuh dan terapi klinis atau termasuk terapi fisik, terapi bicara, terapi okupasi, dan terapi lainnya yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus anak-anak dalam berbagai aspek perkembangan mereka. GPK dapat bekerja sama dengan profesional terapi untuk mengintegrasikan terapi ini ke dalam program pendidikan siswa dan memastikan bahwa siswa mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. Selain itu, kurikulum pencapaian belajar di sekolah ini mungkin berfokus pada pendekatan yang inklusif dan berpusat pada siswa. Kurikulum didesain untuk memberikan kesempatan bagi setiap siswa, termasuk mereka dengan kebutuhan khusus, untuk mencapai standar akademik yang ditetapkan. GPK bekerjasama dengan guru dan staf sekolah lainnya untuk menyesuaikan kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa dan memberikan dukungan tambahan atau modifikasi jika diperlukan.

Dengan demikian strategi penanganan siswa berkebutuhan khusus yang dilakukan oleh SD MUMTAZ yaitu dengan melakukan pelayanan yang totalitas dengan melibatkkan semua unsur warga sekolah atau lembaga, mengidentifikasi siswa berkebutuhan khusus sesuai dengan hambatan, pengelolahan sumber daya manusia (SDM). Program inklusi di SD Mumtaz akan menjadi salah satu ikon selain multitalent school karena SD MUMTAZ dianggap sebagai salah satu keunggulan yang membedakan sekolah ini dari yang lain. Program inklusi ini menunjukkan komitmen SD Mumtaz terhadap pendidikan yang merata dan inklusif, memastikan bahwa semua siswa, termasuk mereka dengan kebutuhan khusus, mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Dengan menjadikan program inklusi sebagai inti dari identitasnya, SD Mumtaz tidak hanya menarik perhatian orang tua yang mencari pendidikan yang berkualitas dan inklusif untuk anak-anak mereka, tetapi juga menginspirasi sekolah lain untuk mengikuti langkah mereka dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung.

Ucapan Terima Kasih

Segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, dan ketekunan sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tesis yang berjudul "Studi Eksplorasi Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus pada Pendidikan Sekolah Dasar di Sidoarjo" ini tidak akan terwujud tanpa dukungan, bimbingan, dan bantuan dari banyak pihak. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Seluruh dosen dan staf Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan selama masa studi saya.

2. Orang tua dan keluarga tercinta, yang selalu memberikan dukungan moral, material, dan doa yang tulus dalam setiap langkah saya.

3. Para Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah (kesiswaan), guru, Guru pembimbing Khusus dan staf SD Mumtaz yang telah bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini dan memberikan informasi yang sangat berharga.

4. Teman-teman dan sahabat seperjuangan yang selalu ada untuk berbagi pengalaman, suka, dan duka selama masa studi.

5. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam bentuk apapun selama proses penyusunan tesis ini.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu. Saya berharap tesis ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menangani siswa berkebutuhan khusus di tingkat sekolah dasar.

References

Abdullah and Rahmawati, “Strategi penanganan guru Pendidikan Agama Islam bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri Keleyan Socah Bangkalan,” Al-Ibrah: J. Pendidik. dan Keilmuan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 130–152, 2019.

E. S. Setianingsih, Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar (SD). Semarang, Indonesia: UPGRIS, 2018.

UUD, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,” vol. 18, no. 1, 2003.

A. Pristianto, “Griya habilitatif penanganan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten,” vol. 2, no. 3, 2018.

J. R. Harrison, D. A. Soares, and J. R. Joyce, “Inclusion of students with emotional and behavioural disorders in general education settings: A scoping review of research in the US,” Int. J. Incl. Educ., vol. 23, no. 12, 2019.

A. Ayuning, P. Pitaloka, S. A. Fakhiratunnisa, and Ningrum, “Konsep dasar anak berkebutuhan khusus,” J. Pendidik. dan Sains, vol. 2, no. 1, pp. 26–42, 2022.

D. W. Utami, M. Anwar, and Hermawan, “Pengaruh penggunaan model pembelajaran ASSURE terhadap peningkatan prestasi belajar IPA anak tunalaras,” JPI: J. Pendidik. Inklusi, vol. 2, no. 1, p. 5, 2018.

R. Arkam, “Penanganan anak berkebutuhan khusus dalam perspektif Al-Qur’an,” Mentari: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, p. 102, 2022. [Online]. Available: https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/Mentari/article/view/218

T. N. Cholifah, “Analisis pelaksanaan pembelajaran anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar,” Prim. Educ. J., vol. 3, no. 1, 2023. [Online]. Available: https://medium.com/@arifwicaksanaa/pengertian-use-case-a7e576e1b6bf

A. Saiful and H. Witono, “Strategi guru dalam mengatasi anak disleksia kelas 3 di SDN 31 Cakranegara,” J. Ilm. Pendas: Prim. Educ. J., vol. 4, no. 1, pp. 21–29, 2023, doi: 10.29303/pendas.v4i1.2716.

N. Nurdyansyah, I. Istikomah, and I. R. I. Astutik, “Modifikasi kurikulum sekolah inklusi berbasis aplikasi online,” Tadarus, vol. 9, no. 2, pp. 138–149, 2020, doi: 10.30651/td.v9i2.7525.

N. Ulfatin, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan: Teori dan Aplikasinya. Malang, Indonesia: Media Nusantara Creative, 2015.

S. R. C. Bogdan and R. C. Biklen, Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston, MA, USA, 1998.

L. J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2018.

R. Yin, Case Study Research: Design and Methods. Terjemahan M. D. Mudzakir. Jakarta, Indonesia: Raja Grafindo Persada, 2006.

Ika Febrian Kristiana, “Buku ajar psikologi anak berkebutuhan khusus 1,” pp. 1–110, 2021.

N. Kamil, Z. Zahrotul Fitri, H. Nasution, and K. Zarkasih Putro, “Memahami anak berkebutuhan khusus: Down syndrome,” Murhum: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, pp. 190–198, 2023, doi: 10.37985/murhum.v4i2.179.

A. E. Suci and E. Khairani, “Model penanganan anak berkebutuhan khusus pada sekolah SLB Osakali Kecamatan Pulau Bandring Kabupaten Asahan,” vol. 3, no. 2, pp. 49–61, 2022.

H. Hanaa and E. Mia Evani, “Peran penting guru pembimbing khusus dalam pendidikan inklusi di SDI Al-Muttaqin,” J. Rev. Pendidik. Dasar: J. Kaji. Pendidik. dan Has. Penelit., vol. 8, no. 3, pp. 167–171, 2022, doi: 10.26740/jrpd.v8n3.p167-171.

S. I. Wahyuni, “Manajemen kurikulum Pendidikan Agama Islam bagi anak berkebutuhan khusus di SLB Al Azhar Bukittinggi,” Manageria: J. Manaj. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 2, pp. 219–240, 2019, doi: 10.14421/manageria.2019.42-03.

S. E. Atmojo, “Pelatihan penanganan anak berkebutuhan khusus bagi guru sekolah dasar rujukan inklusi,” J. Abdimas BSI: J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 3, pp. 244–252, 2020.

A. P. Amasya, A. Thaharah, R. Amelia, et al., “Strategi guru dalam menangani anak yang mengalami kelainan lamban belajar,” Renjana Pendidik., vol. 3, no. 1, pp. 49–53, 2023. [Online]. Available: https://prospek.unram.ac.id/index.php/renjana/article/view/295

L. N. Farida, “Terapi menulis pada anak berkebutuhan khusus (ADHD & autis) oleh orangtua: Validasi modul,” pp. 25–28, 2021. [Online]. Available: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/200392

S. Amalia, W. E. Wahyudi, and D. Aprilianto, “Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada peserta didik berkebutuhan khusus,” J. Penelit. Pendidik. Islam, vol. 10, no. 2, p. 215, 2023, doi: 10.36667/jppi.v10i2.705.

F. F. Tantiani, “Keterlibatan orangtua dalam intervensi anak berkebutuhan khusus,” J. Sains Psikol., vol. 11, no. 1, pp. 39–45, 2020.

D. Rosita, “Terapi anak berkebutuhan khusus di Yayasan Permata Aceh Mulia (YPAM),” vol. 10, no. 1, 2024.

A. Hastomo, Terapi Inklusif untuk Anak: Pendekatan dan Metode. Jakarta, Indonesia: ABC, 2021.

P. B. Sunarya, M. Irvan, and D. P. Dewi, “Kajian penanganan terhadap anak berkebutuhan khusus,” J. Abadimas Adi Buana, vol. 2, no. 1, pp. 11–19, 2018, doi: 10.36456/abadimas.v2.i1.a1617.

A. D. W. C. Mulyani, “Strategi pembelajaran peserta didik anak berkebutuhan khusus (ABK) di SDN Antar Baru 1 Maraban,” J. Pendidik. Hayati, vol. 7, no. 4, pp. 197–216, 2021. [Online]. Available: https://mathdidactic.stkipbjm.ac.id/index.php/JPH/article/view/1597

C. R. Sari and D. Rahmasari, “Strategi komunikasi orang tua pada anak autis,” J. Penelit. Psikol., vol. 9, no. 1, pp. 171–179, 2022. [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/44862