Login
Section Innovation in Education

Project Management Relationship Patterns Strengthening Pancasila Student Profiles and Extracurriculars in Developing Student Character


Pola Hubungan Manajemen Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Ekstrakurikuler Dalam Pengembangan Karakter Siswa
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Muhammad Dimas Bagus Nurmuzzayyin (1), Hana Catur Wahyuni (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Educational institutions implement various programs such as intracurricular and extracurricular activities to educate, foster, and build positive habits for students. Specific Background The independent curriculum introduces the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) program alongside extracurricular activities to shape student character across planned dimensions. Knowledge Gap Although schools manage intracurricular and extracurricular systems, poor communication, consultation, and coordination among staff, coaches, trainers, and student organization members often obstruct program goals. Aims This literature review aims to explain the management relationship pattern between the Pancasila Student Profile Strengthening Project and extracurricular activities to support student character development. Results The findings indicate that management relationship patterns operate through lines of instruction, coordination, and consultation involving principals, teachers, homeroom teachers, and student organizations (OSIS). Novelty This study consolidates literature from 2021-2023 to map out specific management patterns—such as coordinator-facilitator teams and block-system scheduling—linking project management with extracurricular structures. Implications Implementing periodic monitoring and evaluation ensures that these management relationship patterns function effectively as instruments for student character development.


Highlights:




  • Project management patterns link intracurricular and extracurricular frameworks through structured lines of instruction, coordination, and consultation among all involved stakeholders.




  • Character formation requires systematic monitoring and evaluation over specific timeframes to ensure program execution matches institutional expectations.




  • Collaborative school management involves principals, teachers, homeroom teachers, and student organization members to cultivate student discipline and noble character.




Keywords: Management pattern, P5, Extracurricular, Character, School management

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi wadah dalam pengembangan kemapauan kognitif, afektif dan psikomotorik. Normalnya jika ketiga aspek tersebut dapat berkembang dengan baik sesuai arahan yang ada maka akan menghasilkan peserta didik dengan standar kelulusan yang sangat ideal. Namun hal seperti ini jarang terjadi tidak sedikit lembaga pendidikan lebih mendahulukan pencapaian akademis diatas segala pencapaian yang lain termasuk dalam pembinaan dan pengembangan karakter peserta didik. Pekerjaan Rumah ( PR ) semacam ini tidak bisa dititik beratkan kepada sekolah saja, lingkungan keluarga beserta lingkungan masyarakat memiliki andil yang cukup krusial dalam pembinaan karakter.

Dari sekian banyak nilai-nilai karakter yang ada, pembinaan dan pembiasaan akan kedisiplinan. Karena hal ini disebut sebagai nilai pokok yang akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik serta mulia sehingga akan berdampak pada kehidupan yang lebih baik. Terlebih kondisi pandemi yang telah melanda Indonesia pada beberapa tahun terakhir masih menyisakan dampak yang berimbas pada penurunan karakter. Perubahan karakter terjadi pada beberapa siswa yang semula saat pembelajaran offline/luring mereka rajin dan semangat untuk belajar namun menjadi malas saat pembelajaran daring. Kebiasaan- kebiasaan disiplin pun tentu berubah, dari yang biasa bangun pagi, mandi, dan bersiap untuk berangkat ke sekolah kini berubah hanya di rumah saja, kebiasaan yang melatih disiplin seperti masuk kelas tepat waktu memakai seragam, dan potongan rambut juga hilang.[1] Dalam artikel lain dikatakan bahwa efek dari pembelajran daring selama pandemi berlangsung bergantung dengan kondisi lingkungan keluarga masing-masing, karena Sebagian keluarga membimbing anaknya selama dalam masa pembelajaran daring dan Sebagian lainnya kurang mendapatkan bimbinngan sehingga berdampak pada rendahnya implementasi dan pembiasaan karakter disiplin dalam pengerjaan dan pengumpulan tugas [2] .

Selain efek dari pembelajaran daring pengaruh dari lingkungan teman sebaya yang berada pada sekolah memiliki peran yang cukup fital dalam pembetukan baik dan buruknya karakter dari siswa dalam sebuah artikel dikatakan bahawa teman sebaya meiliki pengaruh pada pembentukan berbagai macam karakter diantranya adalah disiplin, religius, bersahabat, peduli sosial, toleransi dan agresif [3] . Namun di artikel lain dikatakan bahwa teman sebaya juga dapat berpengaruh kepada karakter yang buruk dan berpotensi terjadinya sikap berupa kenakalan remaja. Dengan dibekali rasa penasaran serta tenaga yang cukup prima remaja yang dikelilingi teman dengan kondisi kurang kondusif akan berdampak negatif terhadap perkembangan karakternya. Pada usia remaja anak akan lebih cenederung terbuka kepada lingkungan teman sebayanya dibandingkan keluarga sehingga seringkali peran keluarga akan lebih berat dalam melindungi anak dari pengaruh buruk[4]

Perkembangan zaman yang begitu pesat pada hari ini telah memunculkan berbaga macam teknologi yang memilki tujuan untuk membantu kehidupan manusia. Namun penggunaan berbagai macam hasil produk dari teknolgi berupa media sosial yang dapat dirasakan hari ini harus dibarengi dengan etika yang ada. Rendahnya pengetahuan akan etika dalam bermedia sosial telah memunculkan fenomena baru terutama pada kalangan siswa dan remaja. Dampak nyata yang terilihat dalam limgkungan pendidikan berupa munculnya sikap acuh dan rendahnya kepedulian sosial karena telah tenggelam dengan dunia maya[5]. Meskipun memunculkan dampak negatif, penggunaan media sosial seacara bijaksana dan beretika akan memberikan dampak yang baik. Dampak baik yang dilihat jika pengguanaan media sosial secara baik adalah meningkatkan pengembnagn diri serta kreatifitas anak[6].

Dari berbegai macam fenomena yang ada dan berpotensi dalam penurunan karakter-karakter baik yang seharusnya dimilki oleh anak-anak, sekolah hadir dengan berbagai macam programnya untuk mendidik, membina serta membentuk kebiasaan-kebiasaan baik sehingga dapat diemplementasikan dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Transformasi nilai-nilai baik serta ilmu pengetahuan di dalam kelas tidaklah cukup dalam membentuk karakter mulia pada siswa. Hal ini mesti didukung oleh pembinaan dan pembiasaan akan nilai-nilai karakter mulia. Pembianaan dan pembiasaan akan nilai-nilai karakter mulia pastinya sudah terprogram melalui berbagai macam aktvitas keseharian, mingguan bahkan bulanan yang ada di sekolah. Melalui hal ini akan tercipta suatu budaya-budaya baik yang dapat mengawal siswa hingga dapat terbiasa dengan karakter-karakter yang baik pula[7]. Kurikulum yang terdapat di sekolah tidak hanya mengatur tentang mata pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa, tetapi didalalmnya terdapat organisasi-organisasi yang dapat melatih dan menanamkan ideologi sehingga menghasilkan siswa bertanggung jawab serta berjiwa pemimpin. Sehingga dikatakan bahwa organisasi yang ada di sekolah menjadi wadah tempat pembentukan karakter siswa[8]. Dari sekian macam ektrakuikuler yang ada di sekolah, pramuka dianggap memiliki peran yang cukup dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa. Banyak hal yang dapat dipelajari oleh siswa Ketika ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Berdasarkan kode trisatya dan dasa dharma pramuka mengajarakna untuk peduli terhadap lingkungan sekitar dan didalam implementasi keguatanya tidak jarang siswa diajarkan untuk saling tolong menolong serta bergtong royong Ketika berkegiatan pramuka[9] . Setiap sekolah pastinya memliki karakteristk siswa yang berbeda-beda tergantung dari berbagai macam aspek sosial, ekonomi dan keluarga. Sehingga pendidikan, pembiasaan serta pembinaan karakter pada sekolah berbeda-beda. Pemberdayaan berbagai macam ektrakulikuler seperti rohis, PMR, Paskibra menjadi solusi untuk membentuk sikap religius, peduli sosial serta disiplin pada siswa. Dengan tatakelola manajemen ekstrakulikuler yang tepat diyakini dapat membantu sekolah untuk menanamkan karakter-karakater yang baik[10]

Dengan adanya berbagai macam fenomena yang ada dan disertai dengan pandemi yang melanda indonesia kementrian pendidikan mengeluarkan formula baru berupa kurikulum merdeka dengan berbagai macam program yang terkandung didalamnya. Harapan yang dicanangkan adalah adanya perbaikan terhadap kualitas hasil pendidikan khususnya setelah pandemi melanda. Salah satu program yang ditawarkan kementrian pendidikan guna memperbaiki kualitas hasil pendidikan khususnya pada masalah karakter adalah dengan terciptanya program P5 ( projek penguatan profil pelajar pancasila ). Jika pada umumnya penguatan karakter dominan dilakukan melalui program esktrakurikuler, dengan adanya kurikulum merdeka berusaha untuk menjadikan program intrakurikuler sebagai sarana yang jauh lebih akftif dan efektif untuk membentuk karakter-karakter baik. Selain dari pada itu tujuan dari diberlakukannya hal ini untuk menyederhanakan kurikulum pada tingkatan dasar dan menengah[11]. Selian dari pada itu efek dari covid -19 berupa penurunan proses pembelajran yang interaktif, struktur dan fleksibel dengan demikian maka pada kurikulum medeka muncul sebuah program P5 ( projek penguatan profil pelajar pancasila ), program ini diharpakn bisa untuk berkarya, meningkatan kemamampuan individual dan mengidentfiasi bakat. Dan poin utama program ini bukan tentang hasil akhir yang akan didapatakan siswa tetapi beroientasi pada proses pencapaian hasil tersebut[12]. Selain beberapa hal yang terjadi diatas terdapat fenomena learning loss yang didapatkan dari pandemi sehingga ditemukan learning gap yang bersumber dari faktor ekonomi, sosial budaya dan iptek. Maka dari itu perubahan kurikulum diperlukan demi menjaga kualitas pendidikan yang telah ada[13]. Dengan demikian kurikulum merdeka hadir dengan program P5 ( prrojek penguatan profil pelajar pancasila ) yang memilki berbagai dimensi karakter mulia. Dalam penenutuan dimens karakter P5 sekolah bisa menentukan sesuai dengan kebutuhan yang ingin didapatkan[14]

Meskipun sekolah telah memilki manajemen tata kelola tentang OSIS dan ektrakurikuler, tidak jarang terdapat hambatan-hambatan yang bisa berakibat pada melesetnya program-program yang telah dicanangkan. Beberapa hambatan berupa komunikasi yang buruk antar anggota OSIS, buruknya pola belajar anggota osis yang berdampak pada hal-hal akademis dan buruknya beberpa budaya organsasi yang ada didalamnya[15] Sedangkan pada kegiatan ekstrakurikuler memiliki hambatan berupa tidak sesuainya program yang telah dicanangkan dengan kegaiatan yang ada di lapangan, hal ini akan berakibat pada kurang optimalnya kegiatan ekstarkurikuler[16] Oraganisasi intra ( OSIS ) dan organisasi ekstrakulikuler merupakan dua organisasi dibawah binaan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan ( WAKASIS ). Dari sekian banyak program kesiswaan, menentukan kegiatan dan program kerja kedua organisasi sehingga dapat berjalan dengan baik dalam satu tahun ajaran merupakan tugas dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan ( WAKASIS ) beserta staffnya. Namun dalam pelaksanaannya terdapat beberpa hal yang menjadi problematika sehingga menghambat proses dan tujuan yang hendak dicapai. Beberapa problematika adalah komunikasi, konsultasi serta koordinasi yang terjadi antara staff bidang kesiswaan, pembina, pelatih hingga anggota organisasi intra dan ekstra yang kurang baik sehingga beberapa acara serta program belum dapat terlaksana dengan baik. Kegitan montoring dan evaluasi ( MONEV ) yang disertai dengan kegiatan tindak lanjut menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi problematika yang terjadi pada lembaga pendidikan teruntuk kasus yang terjadi saat ini. Dengan evaluasi yang dilaksakanak maka akan dapat diketahui beberpa permasalahan serta tindakan yang perlu ditempuh[17]

II. Metode

Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah kajian literatur, metode penelitian ini merupakan kegiatan penelusuran dari suatu penelitian ke penelitian lainnya dengan topik yang sama dan disertai pencarian titik fokus yang berbeda sehingga dapat menemukan beberapa perbedaan ditengah kesamaan topik yang diangkat. Dalam kajian literatur untuk menghasilkan peneltian berupa skripsi, tesis atau desertasi peneliti akan menjelajah berbagai macam sumber literatur yang memilki topik, masalah serta variabel yang akan diangkat oleh peneliti. kajian literatur dilaksnakan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan akan selalu berkembang dan terus bertambah sering dengan perubahan zaman dan kebutuhan. Selain itu kesadaran peneliti tentang kajian literatur adalah tantag topik, variabel serta masalah yang akan diangkat adalah hal yang pernah ditelti oleh para peneliti sebelumnya. Tujuan penelitian dengan metode studi literatur adalah sebagai berikut 1).kajian literatur diadakan dengan tujuan menciptakan sebuah artikel yang mengangkat kajian baru dalam topik tertentu, sehingga dengan adanya hal ini orang-orang yang terjun ke topik tersebut dapat mengetahui tentang rinagkasan berbagai macam literatur dengan topik yang sama. Kajian ini dapat diterbitkan sewaktu-sewaktu untuk kepentingan umum. 2) kajian literatur untuk kepentingan projek penelitian. Dalam hal ini funagsi kajian lteratur untuk memprtmudah peneliti yang menggeluti topik tersebut dalam merumuskan berbagai macam masalah, teori dan metode yang tepat sebelum melanjutkan peneltian yangakan datang. Dengan mengkaji berbagai mcam karya artikel-artikel hasil orang lain, peneliti dapat menciptakan seusatu yang baru melewati celah-celah yang ditinggalkan oleh peneliti sebelumnya.

Berdasarkan paparan tersebut, metode yang akan digunakan peneliti adalah metode kajian literatur dengan mengumpulkan bebrbagai macam artikel-artikel ilmiah dar jurnal nasioanal yang terbit pada tahun 2021-2023. Dengan demikian tahapan-tahapan yang akan diambil peneliti agar metode ini dapat berjalan dengan baiak adalalah dengan sebagai berikut :

1) Pencarian dan pengumpulanartikel. Pada tahapa ini peneliti akan mencari dan mengumpulkan berbagai macam artikel yang sesuai dengan topik. Peneliti akan mengtik beberpa kata kunci berupa Pola manjemen, projek penguatan profil pelajar pancasila ( P5 ), ekstrakulikuler, karakter melalui google scholar, garuda dan the lens

2) Memilih artikel sesuai dengan variabel-varibel yang pada topik pada tahap ini peneliti akan memilih dan mernakung hal pokok yang sesuai dengan topik sehingga akan mempermudah pepenilit dalam melakukan langkah selanjutnya dan memberikan gambaran yang lebih jelas keada peneliti tentang hal-hal yang akan dibahas.

3) Penyususnan artikel terpilih. Setelah artikel dipilih sesuai denga kebutuhan yang ada. Peneliti akan menyusun dan menyajikan dalam bentuk tabel, uraian sinkat dan hubungan antar variabel

4) pembahasan artikel. Dalam hal ini, kajian literatur yang dipilih berupa kajian teori. Jenis kajian literatur berupa kajian teori dimana penulis memaparkan beberapa teori atau konsep yang terpusat pada satu topik tertentu dan membandingkan teori atau konsep tersebut atas dasar asumsi-asumsi, konsistensi logik, dan lingkup peristiwa.

5) Kesimpulan Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil penyusunan dan pembahasan yang telah dilakukan pada langka sebelumnya[17]

Penelitian ini dilakukan dnegan menggunakan Teknik studi literatur dari jurnal-jurnal yang berkaitan dengan manajemen orgaisasi intra dan ekstra sekolah. Artikikel yang digunakan bersumber dari beberpa website diantaranya google scholar, garuda, dan the lens. Sedangkan kata kunci yang digunakan peneliti dalam penyaringan artikel adalah projek penguatan profil pelajar pancasila ( P5 ), organisasi ektrakurikuler, karakter dan kesiswaan. Studi literatur ini dilakuakan dengan menganalisi pola manajemen organisasi intra dan ekstra sekolah. Dari hasil studi literatur ini dapat diketahui bagaimana pola hubungan manajemen organisasi intra dan ekstra dalam membentuk karakter siswa

III. Hasil dan Pembahasan

Tabel 1. Hasil Penelitan Artikel

BAGAIMANA POLA HUBUNGAN MANAJEMEN PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DAN EKSTRAKURIKULER DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER

Pada artikel yang pertama dengan judul “Implementasi Pendidikan Multikultural Berbasis Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila P5 di Sekolah Dasar” memiliki hasil bahwa kepala sekolah memiliki perang vital dalam kesuksesan pelaksanaan program pendidikan mulrikultural. Di sekolah ini kepalah sekolah berusaha untuk mengajarkan rasa toleransi akan keberagaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendapatakan hasil yang maksimal maka perencanaan yang terstruktur perlu diambil hal ini terbukti dengan dibentuknya tim koordiantor, fasilitator dan guru pendamping. Dengan susunan struktur sedemikian rupa maka kegiatan perencanaan, pengawalan hingga evaluasi program P5 bisa berjalan dengan baik. Disisi lain kepala sekolah berusaha untuk mendorong ekstrakurikuler agar dapat menyajikan kegatan yang memiliki unsur-unsur multikultural yang dapat dipraktikan dilingkungan sekolah serta menyediakan fasilitas berbagai macam tempat ibadah sehingga memperkuat pemahaman akan rasa toleransi dalam kehidupan sehari-hari[18]. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa program baru berupa P5 mengakibatkan beberap kebingungan yang disarasakan oleh guru. Peran sekolah dan kepala sekolah dalam mnegadakan in hose traninig untuk para guru diharapakan bisa mngatasi bebrapa masalah yang terjadi dilanapangan sehingga para siswa bisa mendapatkan pengalaman pembelajaran yang baik dari para fasilitator guru[19]

Pada artikel kedua dengan judul “Inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar: Tinjauan Observasional Terhadap Kreativitas dan Implementasi Kurikulum Merdeka Di SD Pupuk Kujang” memiliki hasil bahwa wali kelas memilki peran yang cukup besar untuk menjalankan program P5. Dikatakan demikian karena wali kelas selalu berusaha untuk menyelipkan materi P5 disetiap mata pelajaran sehari-hari. Selain itu sekolah memberikan jam khusus terkait P5. Dengan usaha demikian rupa maka melahirkan berbagai macam inovasi yang menggambarkan muatan profil pelajar pancasila. Untuk menguatkan profil pelajar pancasila dan agar tidak berhenti pada titik ini, sekolah mewajibkan setiap siswa untuk mengikuti salah satu dari tiga esktrakurikuler yaitu pramuka, tahfidz dan renang[20]. Pada jenjang yang sama yaitu pada sekolah dasar, beberapa tema dalam projek P5 memerlukan keterampilan yan dimiliki orang tua dengan demikian orang tua memberikan perannya dalam pembelajaran P5 di jenjang sekolah dasar[21]

Pada artikel ketiga dengan judul “Peran kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mewujudkan Penguatan Profil Pelajar Pancasila ( P5 ) Di SDN Sidotopo I/48 Surabaya” memilki hasi jika kepala sekolah berperang penting dalam pembentukan tim fasilitator P5. Sama halnya dengan sekolah lain para fasilitaor dan guru berusaha untuk menyematkan materi P5 disetiap materi pelajaran yang berlangsung. Selain itu kepala sekolah berkoordinasi dengan wakil kepala bagian kurikulum untuk menjadikan program P5 dengan sistem blok. Dengan demikian menjadikan program P5 sebagai kegiatan ekstrakurikuler diluar kegiatan pembelajaran kelas[22]. Pada artikel lain menyatakan bahwa setiap guru yang sudah mendapatkan tugas berdasarkan SK ( surat keputusan ) yang diterbitkan oleh sekolah dengan arahan kepala sekolah harus untuk memperlajari tentang modul P5, dengan demikian guru tersebut menjadi fasilitatr guna tercapainya program P5 yang sesuai dengan gari besar dan petunjuk yang ada pada kurikulum merdeka[23]. Dan memang pada dasarnya guru merupakan agen perubahan yang bertanggung jawab dalam pembentukan karakte siswa demi generasi masa depan yang lebih baik. Sehingga pada kegatan pemebentukan karakter yang dituangkan pada program P5 ini gure bertindak sebeagai fasilistator, suprvisor, moderatorn narasumber hingga pendamping[24]

Pada artikel keempat dengan judul “Penguatan Karakter Peserta Didik Melalui Profil Pelajar Pancasila Pada Madrasah Ibtidaiyyah” memilki hasil bahwa setiap lembaga pendidikan memilki cara masing-masing dalam melaksankan program P5. Hal ini berkaitan dengan tenaga hingga dana yang bisa dicukupi oleh pihak sekolah. Ini semua dibuktikan dengan adanya lembaga yang berusaha mendesain sekolah dengan melibatkan elemen kesiswaan, kurikulum hingga sarpras dengan harapan segala kegaiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler bisa ditunjang dengan fasilitas yang memadai sehingga dapat mendorong terciptanya muatan profil pelajar pancasila. Tetapi di lembaga lain mengandalkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai penopang utama dalam program P5. Dengan demikian kemampuan serta jenis tujuan yang hendak digapai menjadi pembeda antara manajemen satu sekolah dengan sekolah yang lain[25]. Hal ini serupa dengan artikel lain yang mengatakan bahwa dalam prosesn pembelajaran P5 ada sekian banyak unsusr yang berprngaruh didalamnya. Dari beberapa unsur tadi meliputi kemampuan pemahaman kepala sekolah dan guru akan proseur P5, sarana dan prasarana yang akan mendukung proses pengerjaan P5 hingga penentuan tema yang sesuai dengan kondisi, keadaan dan kebutuhan siswa mapun sekolah[26]. Pada artikel lain dikatakan bahwa utuk mendapatakan pemebalajaran P5 yang seuai dengan dimensi karakter uang dituju, perlu koordinasi yang solid anatar kegatan intrakurikuler, ekstrakurikuler dan kokulikurer. Selain koordinasi yang solid penerpan yang kossisten berdampak besar daam keberhasilan kegiatan ini. Dengan demikian peran setiap lini untuk mengawal beberapa divisi secara bersamaan sangan dibutuhkan[27]. Pada artikel lain juga dikatakan guru memerlukan sarana dan prasarana untuk dapat menjadi fasilitator selama program P5 berjalan. Dan pastinya dalam pelaksanaan yang ada terdapat kendala yang juga bersumber dari guru tersebut hal ini dikarenankan adanya pemahaman yang berbeda dalam konsep P5[28]

Pada artikel kelima dengan judul “Pembentukan Civic Dispotition Melalui Kegiatan Ektrakurikuler Untuk Optimaslisasi Fungsi Manajemen Sekolah” memiliki hasil bahwa untuk menanamkan karakter bernegara kepala sekolah dan guru memiliki andil dalam pembelajaran dan pembiasaan di dalam kelas. Sedangkan OSIS dengan disertai pengawasan guru bertugas untuk menciptakan kegiatan luar kelas seagai penunjang pembentukan karakter[29]. Namun pada sekolah menegah atsas lainnya terdapat peran guru BK dalam penerapan P5 guna terciptnya karakter yang diinginkan. Kolabaorasi ini terjadi guna mengetahui kondisi peserta didik secara psikologis. Sehingga pada penerapannya para guru BK akan berusaha untuk mengamati dan masuk lebih dalam kepada para pesrta didik selama program P5 berjalan[30]

MACAM-MACAM POLA MANAJEMEN PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DAN EKSTRAKURIKULER DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA

Dari berbagai macam artikel yang ada hal utama yang perlu ditentukan sebelum merencanakan pola tata kelola antara intrakurikuler dan ekstrakurikler adalah penentuan elemen karakter P5 yang ingin dikembangkan dan kemampuan sekolah dalam menjalankan program. Pola pertama untuk manajmen intrakurikuler dan ekstrakurikuler dalam pengembangan karater siswa berupa peran kepala sekolah disertai dengan kolaborasi dengan guru dan wali kelas. Kaitannya dengan ini, kepala sekolah dapat membentuk tim berupa koodinator dan fasilitator untuk mensukseskan capaian elemen karakter profil pelajar pancasila. Selanjutnya menjadikan ekstrakurikuler sebagai kegiatan luar kelas yang menunjang penguatan elemen karakter profil pelajar pancasila. Disisi lain terdapat lembaga lain yang menjadikan kegiatan P5 sebagai ekstrakurikuler. Hal ini terjadi karena alokasi jam P5 yang dilaksanakan pengujung tahun ajaran sehingga ketika berakhirnya masa pembelajaran didalam kelas, para siswa masih harus datang ke sekolah untuk melaksanakan program P5.

Pola kedua melibatkan kepala sekolah, guru dan siswa. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab utama dalam berjalannya segala program sekolah dan dibantu oleh guru yang sudah diberi pelatihan tentang P5. Setalah adanyan kooridnasi antara kepala sekolah dan guru tentang program pembentukan karakter yang akan dituju, terdapat beberapa siswa yang tergabung dalam OSIS yang akan berusaha untuk mengadakan berbagai macam kegiatan yang dianggap sebagai penunjang dan penguat pembentukan karakter. Selama kegiatan berlangsung terdapat guru yang akan selalu mengawasi kegiatan tersebut agar berjalan dengan lancar dan menjadikan kegiatan berlangsung sebagai instrumen penilaian akan pengembangan karakter.

IV. Simpulan

Hasil dari penelitian menunjukan bahwa setiap sekolah memiliki cara masing-masing dalam menentukan tata kelola manajerial yang ada. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan, kemapuan serta jenjang pendidikan yang sedang berlangsung. Namun Kepala sekolah tetap sebagai manajer di sekolah mengelola sekolah mulai dari perencanaan program kerja sekolah, mengelola dan mendayagunakan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan demikian setiap sekolah dapat menggapai elemen karakter profil pelajar pancasila yang dituju.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada seulurh pihak yang telah berkontribus dalam penyusunan artikel ilmiah sehingga bisa beranfaat bagi pembaca, besar harapan kami untuk peneliti selanjutnya agar dapat memperdalam beberapa variabel yang belum bisa kami cantumkan terkait pengembangan karakter siswa

References

A. Y. Massie and K. R. Nababan, “DAMPAK PEMBELAJARAN DARING TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER SISWA.”

H. J. Suriadi, F. Firman, and R. Ahmad, “Analisis Problema Pembelajaran Daring Terhadap Pendidikan Karakter Peserta Didik,” EDUKATIF: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 165–173, Mar. 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i1.251.

Y. Kurniawan and A. Sudrajat, “Peran teman sebaya dalam pembentukan karakter siswa madrasah tsanawiyah,” 2018.

F. Yunere, M. Anggraini, and M. H. Ningrum, “Hubungan kedisiplinan dan pengaruh teman sebaya dengan kenakalan remaja pada remaja di SMPS-PSM Kota Bukittinggi,” vol. 3, no. 2, 2022.

I. N. Agustyn, “Dampak media sosial (Tik-Tok) terhadap karakter sopan santun siswa kelas VI sekolah dasar.”

F. Fensi, “Peran media sosial dalam pembentukan karakter siswa SMA & SMK Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta,” The Role of Social Media in the Formation of Characters for Bhineka Tunggal Ika High School, Jakarta. [Online]. Available: https://journal.ubm.ac.id/index.php/pengabdian-

H. Nisa and Suwandi, “JM-TBI: Jurnal Manajemen dan Tarbiyatul Islam.” [Online]. Available: http://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/jm-tbi

A. S. Fibrianto et al., “Peran budaya organisasi moral siswa SMA Negeri di Kota Malang,” 2020.

S. Rahmayani and Z. Hadikusuma Ramadan, “Peran ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk karakter peduli sosial siswa,” vol. 9, no. 3, pp. 475–480, 2021. [Online]. Available: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD

J. Magister Administrasi Pendidikan, M. Iqbal, and S. Ibrahim, “Budaya organisasi sekolah dalam pembentukan karakter peserta didik pada SMA Negeri 1 Kota Lhokseumawe,” Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, vol. 8, no. 4, pp. 234–241, 2018.

A. Sahnan and T. Wibowo, “Arah baru kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah dasar,” SITTAH: Journal of Primary Education, vol. 4, no. 1, pp. 29–43, May 2023, doi: 10.30762/sittah.v4i1.783.

R. Nurwidya and N. Nurjannah, “Implementasi Kurikulum Merdeka melalui Strategi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk meningkatkan budaya kerja siswa di SMK Negeri 2 Boyolangu,” 2023.

T. S. Nugraha, “Kurikulum Merdeka untuk pemulihan krisis pembelajaran,” Inovasi Kurikulum, vol. 19, no. 2, pp. 251–262, Aug. 2022, doi: 10.17509/jik.v19i2.45301.

L. Khasanah, K. Khotimah, A. Suprijono, and A. Imron, “Studi deskriptif pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema kewirausahaan pada kelas VII,” vol. 3, no. 3, pp. 257–267.

D. Wahyu Ningsih, S. Nur Halizah, F. Zameilia Aldanty, and A. Qotuz Zuhro Fitriana, “Upaya pengurus OSIS dalam mengatasi konflik antara anggota OSIS di SMA 4 Jember,” Jurnal Ekonomika dan Bisnis (JEBS), vol. 3, no. 2, p. 234, 2023, doi: 10.47233/jebs.v3i2.768.

“Manajemen konflik kebijakan pembina pramuka terhadap.”

Q. Y. Zakiyah, “Manajemen ekstrakurikuler madrasah,” Jurnal Islamic Education Manajemen, vol. 3, no. 1, pp. 41–51, 2018. [Online]. Available: http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/isema

A. Sutisnawati, A. Maksum, A. Marini, U. M. Sukabumi, and U. N. Jakarta, “Implementasi pendidikan multikultural berbasis Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila P5 di sekolah dasar,” DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik.

T. Pangestuti, N. Sisir, and K. Batu, “Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk meningkatkan kompetensi guru melalui in house training di SDN Sisir 06 Batu,” Jurnal Pendidikan Taman Widya Humaniora (JPTWH), vol. 1, no. 3, pp. 516–537, 2022. [Online]. Available: https://jurnal.widyahumaniora.org/

A. L. Alindra et al., “Inovasi pembelajaran di sekolah dasar: Tinjauan observasional terhadap kreativitas dan implementasi Kurikulum Merdeka di SD Pupuk Kujang,” Journal on Education, vol. 6, no. 1.

N. Hanifah, T. Lahera, Y. Vichaully, and P. Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, “Peran orang tua dalam penerapan P5 Kurikulum Merdeka di sekolah dasar.”

A. Maula and A. Rifqi, “Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SDN Sidotopo I/48 Surabaya,” 2023.

R. Afriani, W. G. Mulawarman, and N. Nurlaili, “Implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran di SMP Patra Dharma 2 Balikpapan,” Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan, vol. 3, pp. 123–132, Dec. 2023, doi: 10.30872/jimpian.v3iSE.2930.

J. Juraidah and A. Hartoyo, “Peran guru dalam menumbuhkembangkan kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, vol. 8, no. 2, pp. 105–118, Oct. 2022, doi: 10.31932/jpdp.v8i2.1719.

S. Sholikin and A. Prasetyo, “Penguatan karakter peserta didik melalui Profil Pelajar Pancasila pada Madrasah Ibtidaiyah,” Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, vol. 7, no. 4, p. 1941, Oct. 2023, doi: 10.35931/am.v7i4.2752.

M. A. Lathif and N. Suprapto, “Analisis persiapan guru dalam mempersiapkan kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) pada implementasi Kurikulum Merdeka,” JUPE2, vol. 1, no. 2, pp. 271–279, doi: 10.54832/jupe2.v1i2.169.

M. Fadli, A. Rivai, B. Mengge, and R. Syam, “Character dimensions and challenges in implementing the Pancasila Student Profile: A sociological review,” doi: 10.33369/jsn.9.2.119-146.

N. N. Shofia Rohmah, Markhamah, Sabar Narimo, and Choiriyah Widyasari, “Strategi penguatan Profil Pelajar Pancasila dimensi berkebhinekaan global di sekolah dasar,” Jurnal Elementaria Edukasia, vol. 6, no. 3, pp. 1254–1269, Sep. 2023, doi: 10.31949/jee.v6i3.6124.

H. Wijaya, J. Zulfa Nabila, and F. Hidayahtullah, “Pembentukan civic disposition melalui kegiatan ekstrakurikuler untuk optimalisasi fungsi manajemen sekolah,” 2023.

“Kementerian PPPA, Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tingkat Sekolah Menengah Atas,” 2022. [Online]. Available: http://ejournal.undar.or.id/index.php/thalaba