Zulik Astutik (1), Nurdyansyah (2)
General Background Reading forms the foundation for nations to build superior human resources, document experiences, and solve problems, yet lower reading literacy poses a primary challenge in Indonesian education. Specific Background This descriptive qualitative study examines the strategies for utilizing school reading corners, along with supporting and inhibiting factors in fostering reading interest among students at SD Muhammadiyah 1 Babat. Knowledge Gap Although literacy habits and reading corners are vital for educational quality, practical implementations often suffer from unoptimized facilities, unattractive spatial arrangements, and limited book collections. Aims This study aims to determine utilization strategies, supporting factors, and inhibiting factors regarding reading corners in growing students' reading interest. Results Findings show that utilization strategies involve equipping every classroom with reading corners featuring varied reading sources, implementing reward programs to motivate students, and optimizing the fifteen-minute reading habit before learning activities, while internal factors include students' reading abilities and external factors encompass existing reading corners despite inadequate facilities and book collections. Novelty This work details the practical integration of classroom reading corners with school literacy habits and reward programs within an Islamic primary school setting. Implications These findings establish that upgrading reading corner facilities, diversifying book collections, and maintaining reading habituation programs are essential for successfully cultivating student literacy and academic performance.
Highlights:
Equipping every classroom with a reading corner featuring varied literature sources and reward programs successfully motivates students to engage in literacy activities.
Student reading capabilities serve as key internal supporting factors, whereas existing reading corner spaces provide basic external modal despite optimization challenges.
Inadequate facilities, poor book collections, and unattractive spatial layouts act as primary inhibiting factors that require targeted collection adjustments and spatial improvements.
Keywords: Strategy, Reading Corner, Interest in Reading, Literacy, Students
Membaca merupakan dasar suatu bangsa untuk membangun sebuah Sumber Daya Manusia yang unggul. Dalam lingkup lebih kecil, membaca tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan saja, melainkan membaca dapat mendokumentasikan sebagian pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki hasil dari membaca dapat dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwasanya dalam meningkatkan budaya gemar membaca dapat dilakukan dengan mengembangkan serta memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi dan sumber belajar sepanjang hayat. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan dan digunakan oleh pembaca untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.[1] Membaca merupakan suatu jalan menuju sukses, untuk itu kebiasaan membaca sangat dianjurkan bagi siapa saja. Terbukti bahwa orang yang memiliki kebiasaan membaca yang tinggi pasti memiliki wawasan yang luas, membaca dapat juga membuat seseorang mengenal, mengetahui serta memahami apa yang belum dikenal, diketahui dan dipahami.[2] Membaca merupakan upaya yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Membaca merupakan salah satu langkah yang sangat mnentukan berhasil tidaknya proses belajar mengajar yang diharapkan. Masyarakat yang maju dapat didukung oleh budaya membaca. Semua ilmu yang diperoleh tidak dapat diperoleh tanpa membaca, oleh karena itu budaya membaca perlu dikembangkan sejak dini. Keterampilan membaca memegang peranan penting dalam kehidupan karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai siswa dengan baik sejak dini untuk mengembangkan budaya membaca.
Namun selain membaca, kemampuan lebih dalam dari sekedar membaca adalah kemampuan dalam literasi. Karena literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, literasi juga memiliki kesamaan arti dengan belajar dan memahami sumber bacaan. Literasi adalah suatu kemampuan seseorang dalam menggunakan keterampilan dan potensi dalam mengelolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca, menulis, berhitung serta memecahkan masalah dalam kehidupan sehai-hari.[3] Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan suatu kemampuan menulis dan membaca, ataupun pengetahuan serta keterampilan maupun kemampuan seseorang dalam mengolah informasi serta pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dalam konteks lama, literasi mencakup kompetensi dalam membaca, menulis, dan menghitung. Namun dalam perkembangan modern saat ini literasi data, literasi teknologi dan manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif.[4] Dari hal tersebut maka sangat penting sekali dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa. Selain dapt menambah ilmu pengetahuan, literasi juga mampu mendorong seseorang untuk berfikir kritis, analitis, dan juga inovatif.
Untuk mendorong kemampuan literasi yang baik bagi generasi saat ini, perlu dimulai dari dini dengan memperkenalkan gerakan literasi disekolah. selain gerakan literasi sangat penting dalam meningkatkan minat baca siswa, literasi juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan siswa sehingga pembelajaran berlangsung lebih bermakna, menyenangkan dan berkualitas. Gerakan literasi termasuk dalam pendidikan karakter berbasis potensi diri bagi peserta didik, dengan cara promosi.[5] Kegiatan literasi yang rutin dan terprogram akan meningkatkan kualitas pribadi yang akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak untuk berliterasi adalah dengan menggunakan sudut baca di kelas. Sudut baca adalah ruangan yang terletak di sudut ruangan yang dilengkapi dengan koleksi buku dan berfungsi sebagai perpanjangan dari fungsi perpustakaan. Melalui sudut baca, siswa dan pengunjung dilatih untuk membiasakan diri membaca buku sehingga menjadi gemar membaca. Menurut Mijiatun Sri Hartyatni, sudut adalah ruangan yang menyediakan banyak atau sedikit buku untuk dibaca, dipinjam, dan dilakukan kegiatan membaca. Tujuan adanya sudut baca yaitu sebagai penumbuhan minat membaca pada siswa. Untuk melihat ketercapaian pemanfaatan dan pengembangan sudut baca, dapat dilihat dalam indicator antara lain: 1) terdapat sudut baca di setiap kelas dengan koleksi bahan pustaka; 2) meningkatnya frekuensi membaca pada siswa; 3) adanya pemanfaatan sudut baca dalam proses pembelajaran; 4) sudut baca kelas tertata dan terkelola setiap akhir pembelajaran; 5) koleksi bahan pustaka di sudut baca kelas diperbarui secara berkala; 6) ada kegiatan guru membacakan buku dengan nyaring atau siswa membaca mandiri dengan memanfaatkan koleksi sudut baca kelas.[6]
Salah satu sekolah di kabupaten Lamongan yang menerapkan sudut baca disekolah adalah SD Muhammadiyah 1 Babat. Namun dari hasil observasi awal s udut baca di SD Muhammadiyah 1 Babat belum optimal dari segi sarana dan prasarana, misalnya kurangnya koleksi buku, rak buku dengan penataan yang mengganggu kegiatan membaca anak di sudut baca, tidak adanya hiasan dinding di sudut baca, sehingga kurang menarik minat anak-anak untuk pergi ke sudut baca. Sangat penting mengoptimalkan sarana dan prasarana dari sudut baca ini untuk meningkatkan minat baca siswa. Sudut baca yang menarik dengan fasilitas yang cukup akan mampu menarik anak dan akan meningkatkan minat baca siswa. Sudut baca yang menarik seperti penataan buku yang rapi dan buku yang beragam, akan mampu menarik anak untuk datang ke sudut baca. Pojok yang berkualitas semakin tinggi pula minat baca siswa.[7) Sekolah harus bisa memfasilitasi berbagai sarana yang dapat meningkatkan minat baca siswa. hal ini dikarenakan bahwa rendahnya minat baca disebabkan oleh beberapa hal diantaranya mahalnya harga buku dan terbatasnya fasilitas terpustakaan.[8]
Dengan melihat kondisi sudut baca yang ada di SD Muhammadiyah 1 Babat sangat berbeda dengan yang peneliti jelaskan di atas membuat peneliti termotivasi kami untuk melakukan penelitian di SD Muhammadiyah 1 Babat adalah untuk menganalisis strategi pemanfaatn sudut baca dalam menumbuhkan minat baca pada peserta didik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pemanfaatan sudut baca, Faktor pendukung dan factor penghambat dalam menumbuhkan minat baca peserta didik di SD Muhammadiyah 1 Babat. Sehingga dari latar belakang dan tujuan diatas, peneliti tertantang untuk meneliti dengan judul “Strategi Pemanfaatan Sudut Baca Sekolah dalam Menumbuhkan Minat Baca Peserta Didik”.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian diskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini menonjolkan penggunaan landasan teori sebagai pemandu agar focus penelitian sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.[9] Data yang terkumpul/tersaji adalah dalam bentuk kalimat bukan angka, seperti hasil dari wawancara, catatan observasi lapangan, dokumen pribadi, catatan singkat, serta dokumen lain yang dibutuhkan untuk mencapai target penelitian ini, yakni bertujuan untuk mendeskripsikan serta menginterpretasikan sasaran penelitian sesuai dengan hasil penelitian. Maka dari itu, pengkajian masalah dalam penelitian ini dianggap lebih sesuai dengan penelitian deskriptif kualitatif.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.[10] Ruang lingkup penelitian ini adalah sudut baca di ruang SD Muhammadiyah 1 Babat. Sasaran penelitian ini adalah bagaimana peran sudut baca dalam upaya menumbuhkan minat baca siswa, dan pengunjung di ruang SD Muhammadiyah 1 Babat. Lokasi yang menjadi obyek penelitian terletak di Jl. Tanggulrejo No.2 Kelurahan Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.
Data yang dibutuhkan dalam penelitian kualitatif yang didapatkan dari hasil wawancara, pengamatan, serta data sekunder akan diolah dengan cara kualitatif. Teknik dalam mengolah data yang digunakan merujuk pada pendapat ahli Miles dan Hubermen (1994) antara lain: (1) reduksi data, (2) display data, (3) pengambilan kesimpulan atau validasi. Setelah olah data, akan didapatkan hasil yang dapat diartikan dan dijelaskan sebagai temuan penelitian.[10]
Pada tahun 2013, Kementerian pendidikan dan kebudayaan mencanangkan gerakan literasi yang digagas melalui peraturan menteri pendidikan republik Indonesia no 23 tahun 2023. Dengan gerakan ini, sekolah akan membantu siswa dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah. Gerakan literasi nasional merupakan kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan sesuatu secara melalui berbagai kegiatan antara lain, membaca, melihat, memulis, berbicara.[11] Kompetensi literasi pada kelas tinggi menekankan siswa untuk mampu melakukan tiga analisis secara kritis, seperti melakukan wawancara, pengamatan lingkungan, menulis laporan, dan melakukan observasi.[12] Literasi akan mampu meningkatkan budaya baca siswa. Dengan adanya budaya ini, siswa dapat memperoleh berbagai informasi penting yang dapat digunakan dalam kehidupan.
Salah satu langkah yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca dan literasi adalah dengan mengadakan sudut baca di kelas. Sudut baca merupakan sebuah ruangan yang terletak disudut kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku dan berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan.[13] sudut baca memungkinkan anak mudah dalam menemukan berbagai sumber bacaan. Melalui sudut baca ini, akan memberikan kesempatan peserta didik untuk melatih diri dan membiasakan membaca buku, sehingga menjadikan peserta didik gemar dalam membaca. Sudut baca didesain dengan tampilan yang menarik sehingga peserta didik lebih berminat untuk membaca buku tersebu. Sudut baca didesain dengan tampilan yang menarik sehingga peserta didik lebih berminat untuk membaca buku tersebut.[14]
SD Muhammadiyah 1 Babat merupakan salah satu SD yang ada di Kabupaten Lamongan yang telah menerapkan sudut baca sebagai salah satu strategi dalam menumbuhkan minat baca siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Babat menunjukkan bahwa meskipun telah ada sudut baca di masing-masing kelas namun penerapannya belum begitu baik. Menurut kemendikbud, ada 3 strategi yang dapat diterapkan dalam menunjang budaya literasi di sekolah. Antara lain mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi. Lingkungan fisik disini adalah bagaimana sekolah difasilitasi dan mendukung kegiatan literasi. Salah satunya dengan membuat sudut baca. Namun yang perlu diperhatikan juga kelengkapan dan fasilitas yang ada dalam sudut baca tersebut. Hal ini karena fasilitas perpustakaan atau sudut baca sekolah berpengaruh positif terhadap terhadap minat baca siswa.[15] Fasilitas sekolah disa dilakukan dengan mendesain sudut baca agar menarik untuk dikunjungi.
Strategi yang kedua adalah mengupayakan lingkungan sosial dan efektif. Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Dengan adanya dukungan yang yang optimal dari sekolah akan memberikan motivasi dan semangat kepada siswa untuk menumbuhkan minat bacanya. Salah satunya dengan memberikan penghargaan kepada siswa yang aktif dalam kegiatan literasi ini. Hal ini karena Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemberian reward terhadap peningkatan minat baca.leni Afifa Milda, “Pengaruh Reward Terhadap Peningkatan Minat Baca Di Dayah Modern Darul ‘Ulum Banda Aceh,” Fakultas Adab Dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. (2019). Di SD Muhammadiyah ini, belum menerapkan strategi ini guna meningkatkan minat baca siswa. Sehingga langkah demikian perlu diterapkan selain memperbaiki fasilitas yang ada.
Strategi terakhir adalah mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat. Dimana kegiatan literasi ini dijalankan oleh seluruh warga sekolah dengan melakukan pembiasaan. Salah satunya dilakukan dengan menerapkan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Namun ini juga belum efektif dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Babat. Siswa-siswi masuk ke kelas kemudian membaca doa bersama, membaca juz ‘Amma dan barulah pembelajaran dimulai. Peneraan strategi membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran akan mengajarkan anak pembiasaan baik yang diulang setiap hari. Hal ini kerena membaca 15 menit sebelum pelajaran berpengaruh positif terhadap minat baca siswa.[17]
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pengoptimalan sudut baca penting dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Babat, yaitu dengan memperbaiki fasilitas sudut baca dengan melakukan hiasan maupun memperbanyak koleksi buku fiksi maupun non fiksi. Kemudian perlu memberikan penghargaan kepada siswa bagi yang konsisten melakukan literasi pada sudut baca dan terakhir adalah melakukan pembiasaan kepada siswa dalam berliterasi yaitu dengan membiasakan membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
Program sudut baca dalam menstimulasi minat baca siswa menunjukkan bahwa pelaksanaan Program sudut baca dilakukan melalui 2 tahapan yaitu: a. Perencaanaan yang dilakukan yaitu menyusun program sudut baca langkah pertama yang dilakukan adalah kepala sekolahbersama tim yang menyusun program sudut baca, memberikan fasilitas seperti buku, perpustakaan, dan ruang baca. b. Pelaksanaan pengadaan pojok baca dilakukan di setiap sudut ruang kelas, dan ruang tunggu orang tua, pemanfaatan sudut baca dalam proses pembelajaran, jam wajib baca, kegiatan pembiasaan membaca, memberikan lingkungan yang nyaman untuk membaca, penyediaan koleksi bahan pustaka, tata kelola pojok baca setiap akhir pembelajaran, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dikolaborasikan dengan kegiatan program pojok baca, peran guru dalam kegiatan membaca.[18] Sudut baca bertujuan untuk meningkatkan minat siswa dalam membaca. Minat baca sangat berkaitan dengan individu yang akan menjalankan kesukaannya dalam membaca. Minat ini perlu adanya suatu dorongan yang nantinya akan penting dan menjadi salah satu motivasi dari dirinya untuk melaksanakan kesukaannya.[19] Minat baca seorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu fakor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri yang meliputi motivasi, keinginan dan kebutuhan diri. Sedangkan faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar, misalnya ketersediaan fasilitas, lingkungan, serta dorongan dari orang tua, guru dan teman.[20]
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Muhammadiyah Babat 1 bahwa terdapat beberapa factor pendorong baik dari faktor intern maupun ektern. Dari faktor intern, bahwasanya semua sistwa telah mampu untuk memaca dan memahami teks bacaan. Hanya pada kelas 1 SD saja yang perlu adanya bimbingan guru agar proses membaca dan literasi dapat erjalan baik. Hal ini karena pada kelas 1, untuk kemampuan membaca anak belum sempurna dan baru mulai dalam proses belajar membaca. Kemampuan anak menjadi modal penting dalam kegiatan literasi. Semakin baik kemampuan anak dalam memaca, maka akan mudah dalam meningkatkan minat anak dalam membaca. Karena salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan minat membaca adalah kemampuan anak tersebut.[20] Kemampuan membaca menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya minat membaca yang berasal dari dalam diri siswa. Siswa yang belum mempunyai kemampuan membaca yang baik tentunya akan terganggu dalam proses membaca sehingga dapat mengurangi minat dalam membaca.[21]
Sedangkan dari faktor eksternal di SD Muhammadiyah 1 Babat adalah telah ada fasilitas perpustakaan dan di masing-masing kelas telah memiliki sudur baca. Meskipun penggunaan sudut baca belum begitu optimal namun ini menjadi salah satu modal utama dalam mengembangkan minat baca siswa Dengan adanya sudut baca ini, siswa dapat menemukan bahan bacaan kapan saja saat ada disekolah. berbeda dengans ekolah yang tidakmemiliki fasilitas pojok aca. Siswa akan sulit dalam menemukan buku bacaan dan merieka harus keperpustakaan yang berada diluar kelas mereka. Sudut baca berbeda dengan perpustakaan karena sudut yang milik siswa dan merupakan bagian dari kelas mereka yang mana buku mudah diakses mereka. siswa memiliki kebebasan memilih buku-buku untuk diri mereka sendiri dan membaca berbagai buku-buku menarik yang ditampilkan.[22] Namun untuk benar-benar mengoptimalkan sudut baca agar mampu meningkatkan minat baca, perlu dilakukan perbaikan baik secara penampilan maupun dalam hal koleksi buku. Penampilan sudut baca yang menarik disertai dengan pencahayaan yang bagus akan mampu menarik siswa untuk dating dan membaca buku di sudut baca. Sedangkan koleksi buku yang menarik dan disukai siswa juga akan mampu menignkatkan miant siswa dalam membaca. Sudut baca harus memiliki ruangan yang menarik dan pencahayaan yang tepat. agar siswa merasa nyaman pada saat membacaserta miliki koleksi yang menarik untuk siswa yang memperhatikan kebutuhan dan kepentingan siswa serta tingkat pemahaman siswa.[7]
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa di SD Muhammadiyah 1 Babat, terdapat 2 faktor pendukung dalam meningkatkan minat baca siswa. faktor pendorong tersebut berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor interen berasal dari siswa yaitu kemampuan siswa di SD Muhammdiyah 1 Babat telah mampu untuk membaca hanya perlu perhatian khusus kepada siswa kelas 1 SD. Dan faktor ekternal adalah telah adanya sudut baca disekolah meskipun belum optimal. Keberadaan sudut baca ini memudahkan siswa menemukan buku yang menarik untuk dibaca. Namun perlu perbaikan agar sudut baca benar-benar menarik siswa untuk datang dan membaca buku.
Rendahnya literasi membaca siswa menjadi masalah utama dalam pendidikan di Indonesia. Literasi membaca merupakan dasar yang harus ditanamkan dalam diri siswa. Membaca merupakan suatu kemauan, minat baca diperoleh oleh siswa sekolah dasar rmelalui adanya pembiasaan dalam membaca sejak dini agar tumbuh dalam dirinya suatu minat untuk selalu dan mau membaca. Terdapat dua faktor penghambat yakni faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri siswa yaitu kemampuan membaca, memahami makna yang terkandung dalam bacaan, kurangnya membiasakan membaca, membaca buku atas perintah guru, siswa jarang mencari buku atau bahan bacaan sesuai dengan kebutuhannya, siswa yang menyelesaikan tugas melalui internet tanpa buku. Sedangkan faktor eksternal merupakan yang disebabkan oleh oleh diri siswa sendir i yaitu lingkungan sekolah kurang mendukung, program literasi belum berjalan maksimal, mading sekolah yang tidak pernah diperbaharui, sekolah tidak memiliki tempat khusus untuk membaca selain di perpustakaan, peran perpustakaan sekolah yang belum maksimal, dan pengaruh pengunaan smarthphone.[23]
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan faktor penghambat minat baca di SD Muhammdiyah 1 Babat antara lain dari factor internal adalah masih rendahnya kemampuan siswa membaca untuk kelas 1 SD. Hal ini memang karena kelas 1 SD merupakan siswa kelas awal yang baru belajar membaca. Oleh karena itu perlu pendampingan khusus kepada siswa dan siswi kelas 1 SD selama kegiatan membaca. Disamping itu belum adanya waktu atau hari khusus yang ditentukan saat kegiatan literasi (membaca 15 menit), hal ini menyebabkan warga sekolah tidak dapat terlibat dalam kegiatan membaca 15 menit. Kegaitan pembiasaan ini akan memberikan budaya baru kepada anak. Dengan pembiasaan ini, nantinya anak akan terbiasa dalam membaca buku. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa dengan melakukan literasi dan menggunakan perpustakaan mini dalam hal ini pojok baca dapat meningkatkan minat baca siswa.[24] Lebih jauh lagi dari sekedar dapat meningkatkan minat baca, membaca 15 menit sebelum pemelajaran juga mampu meningkatkan hasil belajar siswa.[25]
Sedangkan faktor eksternal adalah fasilitas fisik sudut baca yang masih kurang. Kondisi sudut baca yang masih sederhana dengan tampilan apa adanya memuat ketertarikan anak dalam membaca rendah. Disamping itu koleksi uku yang ada masih perlu penambahan jenis buku baik fiksi maupun non fiksi. Buku juga perlu disesuaikan dengan keutuhan dan kemampuan anak. Seperti pada kelas 1 dimana kemampuan siswa membaca masih rendah, sehingga perlu pengadaan buku yang banyak menampilkan gambar yang menarik. fasilitas perpustakaan/sudut baca sekolah akan berdampak terhadap minat membaca siswa sehingga akan mempengaruhi kebiasaan siswa membaca. Jadi, semakin baik fasilitas maka akan meningkatkan minat baca siswa.[26]
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa faktor penghambat dalam menerapkan strategi dalam memanfaatkan sudut baca dalam meningkatkan minat baca anak adalah fasilitas sudut baca yang kurang memadai dan koleksi buku yang kurang baik fiksi maupun non fiksi. Disamping itu penataan ruang sudut baca juga kurang menarik siswa. sehingga untuk mengatasinya, perlu menyediakan buku yang mengarik dan disesuaikan denan kemampuan dan minat anak.
Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, strategi pemanfaatan sudut baca yang dilakukan adalah dengan melengkapi setiap kelas dengan sudut baca. Dimana terdapat berbagai buku bacaan yang dapat dibaca anak kapanpun saat dikelas. Namun perlu perbaikan agar sudut baca yang ada dikelas lebih menarik dengan dilengkapi berbagai sumber bacaan yang bervariatif. Disamping itu perlu juga merancang program yang memberikan reward atau penghargaan kepada siswa agar mereka lebih termotivasi melakukan literasi dikelas, dan juga tidak kalah pentingnya adalah dengan mengoptimalkan gerakan membaca 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Faktor pendukung yang dimiliki oleh SD Muhammadiyah 1 Babat adalah dari faktor internal dan eksternal. Faktor interen berasal dari siswa yaitu kemampuan siswa di SD Muhammadiyah 1 Babat telah mampu untuk membaca hanya perlu perhatian khusus kepada siswa kelas 1. Dan faktor ekternal adalah telah adanya sudut baca disekolah meskipun belum optimal. Sedangkan faktor penghambat dalam menerapkan strategi dalam memanfaatkan sudut baca dalam meningkatkan minat baca anak adalah fasilitas sudut baca yang kurang memadai dan koleksi buku yang kurang baik fiksi maupun non fiksi. Disamping itu penataan ruang sudut baca juga kurang menarik siswa. sehingga untuk mengatasinya, perlu menyediakan buku yang menarik dan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada suamiku sayang Zudi Hariyanto, anak-anakku yang cantik Hasna’ Fadiyah El Z dan Firyal Malda El Z, kedua orangtuaku, kedua mertua, dosen pembimbing serta kawan-kawan yang sudah support sehingga terselesaikan artikel ini. Semoga Allah swt. senentiasa memberkati kita semua. Aamiin.
Tarigan HG. Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa; 2015.
Saleh T. Pentingnya membaca dan menggunakan perpustakaan dalam mengubah kehidupan manusia. Jupiter [Internet]. 2014;XIII(1):24–28. Available from: https://journal.unhas.ac.id/index.php/jupiter/article/view/1672
Ginting ES. Penguatan literasi di era digital. Pros Semin Nas PBSI-III Tahun 2020 [Internet]. 2020:35–38. Available from: https://www.nfra.ac.uk/publication/FUTL06/FUTI.06.pdf
Fitriani Y, Aziz IA. Literasi era Revolusi Industri 4.0. SENASBASA (Seminar Nasional Bahasa dan Sastra). 2019;3(1):100–104.
Budiharto, Triyono, Suparman. Literasi sekolah sebagai upaya penciptaan masyarakat pebelajar yang berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Seuneub Lada J Ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan [Internet]. 2018;5(1):153–166. Available from: http://ejurnalunsam.id/index.php/jsnbl/index
Kemendikbud. Panduan gerakan literasi sekolah di sekolah dasar. Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar; 2016. p. 1–90.
Rofi’uddin MA, Hermintoyo H. Pengaruh pojok baca terhadap peningkatan minat baca siswa di SMP Negeri 3 Pati. J Ilmu Perpust. 2017;6(1):281–290.
Pradana FAP. Pengaruh budaya literasi sekolah melalui pemanfaatan sudut baca terhadap minat membaca siswa di sekolah dasar. J Pendidikan dan Konseling. 2020;2(1):81–85.
Ramadhan M. Metode penelitian. Surabaya: Cipta Media Nusantara (CMN); 2021.
Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta; 2017.
Faizah DU. Panduan gerakan literasi sekolah di sekolah dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 2016.
Widodo S, dkk. Membangun kelas literat berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk melatihkan kemampuan literasi siswa di sekolah dasar. Pros Semin Nas Pendidikan. 2015.
Mantu KS. Pengelolaan sudut baca dalam menumbuhkan minat baca peserta didik kelas III SD Negeri 04 Popayato Barat. 2021;7(3):877–884.
Kemendikbud. Panduan pemanfaatan dan pengembangan sudut baca kelas dan area baca sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta, Indonesia: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 2016.
Muhammad J, Amrah, Nurfaizah. Pengaruh fasilitas perpustakaan sekolah terhadap minat baca siswa SDN 111 Kassi Buta Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Makassar: Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar; 2023.
Afifa Milda L. Pengaruh reward terhadap peningkatan minat baca di Dayah Modern Darul ‘Ulum Banda Aceh. Banda Aceh: Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam; 2019.
Zulham M, Sarianti. Pengaruh membaca lima belas menit sebelum pembelajaran terhadap minat baca siswa. J Pendidikan Bahasa dan Sastra. 2022.
Setiawati S, Mahmud ME. Studi analisis program pojok baca dalam menstimulasi minat baca siswa di Madrasah Ibtidaiyah Darul Da’wah Wal Irsyad Tani Aman tahun ajaran 2019–2020. J Tarb dan Ilmu Kegur Borneo. 2020;1(2):85–98.
Mulyani ET. Analisis faktor-faktor pendukung minat baca mahasiswa jurusan tari di perpustakaan. Libr J Perpust. 2018;6(2):401.
Banowati EN, Mudrikatunnisa, Maula AR, Fajrie N. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa kelas II di SDN 2 Kedungsarimulyo. ALFIHRIS J Inspirasi Pendidikan. 2023;1(4):116–127.
Sari CP. Faktor-faktor penyebab rendahnya minat membaca siswa kelas IV. J Pendidikan Guru Sekolah Dasar [Internet]. 2018;7(32):3128–3137. Available from: http://journal.student.uny.ac.id/ojs/ojs/index.php/pgsd/article/viewFile/13875/13400
Marg SA. Reading corner in schools of Mathura District, Uttar Pradesh. Department of Elementary Education; 2016.
Simon Paulus Olak Wuwur E. Faktor penghambat minat baca siswa sekolah dasar. J Sains dan Teknologi. 2020;1(2):248–253.
Prayoga RA, Budiarto HA, Afif MF, Pradipta AS, Lestari AS. Peningkatan minat baca siswa melalui pekan literasi dan pembiasaan 15 menit membaca: studi kasus MI Mulyadarama Girimukti. War LPM. 2023;26(4):388–400.
Purwati S. Program literasi membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai untuk meningkatkan hasil belajar membaca dan menghafal surah pendek. J Ilmu Pendidikan Sosial, Sains, dan Humaniora. 2018;4(1):173–187.
Rosmalah R, Irfan M, Murnianti A, Nurdin M. Hubungan fasilitas perpustakaan sekolah dengan minat baca siswa kelas V SD Gugus 32 Kecamatan Citta. JPPSD: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar. 2022;1(4):247.