M. Sande Ariawan (1), Budi Haryanto (2)
General Background School principals act as primary leaders responsible for educational success, organizational management, and teacher competence enhancements. Specific Background This descriptive qualitative study investigates the strategic management implemented by the principal at SMK Negeri Widang Tuban Regency to support teacher performance, alongside monitoring evaluations and associated obstacles. Knowledge Gap Although administrative strategies are crucial, practical execution often suffers from constraints such as inadequate facilities, limited teacher technology mastery, and suboptimal monitoring schedules. Aims This study aims to identify and analyze principal strategies, monitoring evaluations, and strategic implementation obstacles. Results Findings show that principals utilize motivation and training strategies, combined with observational monitoring, interviews, and discussions, though faced with infrastructure shortages, low technology proficiency, and scheduling issues. Novelty This work details the practical synchronization of personal familial approaches, work motivation, and structured academic supervision within a vocational secondary school setting. Implications These findings establish that reinforcing principal leadership approaches, upgrading school facilities, and improving supervisory scheduling are vital for overcoming performance barriers and optimizing educator effectiveness.
Highlights:
Principal strategies rely on personal familial approaches, work motivation, and professional training programs to foster educator development and work ethic.
Monitoring and evaluations are executed via classroom observations, instructional interviews, and evaluative discussions to measure institutional program success.
Primary implementation barriers include inadequate infrastructural facilities, low technological mastery among teachers, and rigid supervisory scheduling.
Keywords: Principal Strategy, Monitoring and Evaluation Teacher Performance, School Management, Vocational Education
Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting untuk diperhatikan. Kualitas Pendidikan akan menjadi cermin kualitas warga negaranya. Perkembangan Pendidikan yang baik akan memberikan dampak pada perbaikan peradaban masayrakatnya. Untuk menuju kualitas Pendidikan yang baik maka Lembaga Pendidikan harus memiliki beberapa kekuatan pendukung, salah satu diantaranya adalah kekuatan finansial (Dewi et al. 2021). Kebutuhan akan dana tidak dapat dilepaskan dalam sebuah Lembaga Pendidikan. Sekolah dengan kekuatan finansial yang baik memudahkann dalam melakukan percepatan program sekolah sehingga dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lain disekitarnya. Kekuatan finansial ini akan menjadi tombak utamanya bagi sekolah swasta karena sekolah swasta dituntut memiliki kemandirian dalam pengelolaan keuangan.
Dalam sistem sekolah, manajemen keuangan memiliki peran sangat penting dalam strategi untuk memperoleh pendapatan sebagai sumber dana agar perjalanan dalan mencapai tujuan suatu Lembaga Pendidikan tidak terjadi kesalahan dalam pencatatan keuangan pemasukan dan pengeluaran (Istiqomah 2020). Merujuk pernyataan tersebut menunjukan betapa pentingnya sebuah sistem pengelolaan keuangan dalam Lembaga Pendidikan. Proses pengelolaan keuangan tidak hanya dalam pencatatan secara keadministrasian saja, namun juga perlu pengelolaan strategi manajemen keuangan dalam memperbanyak pendapatan dan memaksimalkan potensi pembelanjaan. Manajemen pembiayaan atau juga dalam istilah lain manajemen keuangan Lembaga Pendidikan adalah beberapa kegiatan yang berhubungan dengan cara memeiliki pendapatan finansial, memaksimalkan daya pendapatan keuangan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan secara maksimal oleh Lembaga pendidikan(Komariah 2018). Sebuah Lembaga Pendidikan secara ideal harus menggunakan sistem pengelolaan yang baik dan manajemen yang benar, terlebih dalam manajemen penggunaan anggaran atau keuangan, pengelolaan keuangan yang tepat akan berpengaruh pada efektifitas serapan anggaran yang digunakan untuk memksimalkan program kegiatan sekolah dalam mencapai tujuan secara efektif (Musnawi, 2019).
Kajian tentang manajemen keuangan Pendidikan sangat penting sekali agar kualitas dan mutu Pendidikan semakin meningkat. Lembaga Pendidikan dapat mengkaji potensi sumber keuangan yang didapat. Sebuah Lembaga Pendidikan terutama sekolah swasta dapat mengkaji dari mana saja sum1ber keuangan yang diperoleh. Banyak ditemukan permasalahan yang muncul pada sekolah swasta terkait dengan sumber pendapatan keuangan. Sumber dana secara swadaya yang menjadi sumber utama untuk kelangsungan hidup Lembaga Pendidikan. Meskipun dapat memperoleh dana bantuan pemerintah seperti Bantuan Operasional Sekolah dan bantuan lainnya, namun sekolah swasta harus bekerja keras demi mendapat sumber dana yang maksimal.
Problematika manajemen keuangan tidak hanya terhenti dari system pengelolaan saja, namun kultur masyarakat juga berpengaruh dalam perolehan pendapatan sekolah. Sekolah swasta yang berada di kultur pedesaan akan lebih sulit lagi dalam mengelola keuangan sekolah yang hanya bersumber pada dana orang tua murid. Faktanya di lingkungan masayarakat pedesaan dengan tingkat ekonomi rata-rata mengah ke bawah lebih tertarik pada Pendidikan dengan system biaya yang rendah, terlebih gratis (Banyumas 2020). Kondisi ini sangat miris apabbila sekolah tidak memiliki kekuatan finansial, maka membutuhkan pemikiran ekstra untuk memaksimalkan kelangsungan program sekolahnya. Segala program yang ditujukan untuk perkembangan sekolah sudah pasti berkeitan dengan sumber dana. Manajemen pengelolaan keuangan sekolah meskipun bukan Lembaga yang berorientasi pada keuntungan namun akan lebih bagus jika dalam satu tahun anggaran dapat memberikan saldo. Break Event Point dapat ditargetkan dalam manajemen keuangan Lembaga Pendidikan. Besaran yang didapat menyesuaikan dengan kekuatan dan kemampuan finansial sebuah Lembaga Pendidikan.
SMP Muhammadiyah 1 Babat merupakan sekolah swasta yang berada diwilayah kecamatan Babat dan sebagian besar orang tua murid ada pada kultur masyarakat pedesaan. Adanya kultur tersebut menjadikan tantangan sendiri bagi SMP Muhammadiyah 1 Babat dalam mempertahankan bahkan meningkatkan Break Event Point keuangan sekolah. Pengertian tentang Breaak event point sebagaimana yang dijelaskan oleh Riyanto, (1997.359) adalah suatu perangkat yang difungsikan untuk mempelajari keterkaitan antara biaya tetap, biaya penjualan dan keuntungan(Galingging and Ds n.d.). Break Event point penelitian sebelumnya oleh Haryono (2014) menemukan Break event Point yang ada di SMK Negeri 1 Karanganyar pada tahun akademik 2012/2013 terdapat dua jenis Break Event Point yaitu Break Event Point dalam bentuk rupiah dan Break Event Point dalam bentuk satuan kuantitas dimana pada tahun tersebut mengalami kondisi impas pada biaya Pendidikan siswa(Haryono 2014). Sebagian besar orang tua murid masih memiliki kecenderungan memilih sekolah dengan biaya murah atau bahkan gratis, sementara tuntutan kegiatan dan kualitas sangat besar. Penelitian ini merupakan identifikasi problematika yang ditemuka di SMP Muhammadiyah 1 Babat dalam manajemen keuangan sebagai upaya dalam mempertahankan Break Event Point biaya kegiatan dan program siswa.
Salah satu tantangan berat sekolah adalah dalam mempertahankan Break Event Point manajemen keuangan sekolah dengan keadaan orang tua murid dalam kultur masyarakat pedesaan. Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan Pendidikan tidak menjadi hal yang utama melainkan pekerjaan yang layak untuk kemapanan kehdupanlah hal yang utama.(Nur 1967). Kondisi ini akan berlawanan dengan peran pendidikan yang sesungguhnya dapat menjadi tameng dari glamour nya kehidupan di kota(P. Pendidikan et al. n.d.). SMP Muhammadiyah 1 Babat merupakan sekolah dengan latar belakang orang tua murid diwilayah pedesaan. Kondisi rata-rata ekonomi menengah ke bawah dengan mayoritas pekerjaan petani dan pekerja serabutan berdampak dengan ketuntasan biaya sekolah. Faktanya masih ditemukan orang tua murid yang belum lancar dalam menuntaskan biaya Pendidikan putra-putrinya. Pada akhir tahun anggaran sekolah dapat dilihat tunggakan yang cukup besar yang dimliki oleh orang tua murid, beberapa diantaranya mencakup biaya SPP dan biaya kegiatan lainnya. Kondisi ini sudah tentu akan berpengaruh dengan break event point di SMP Muhammadiyah 1 Babat.
Tujuan ditulisnya peelitian ini adalah untuk mengidentifikasi problematika manajemen keuangan sekolah swasta dalam mempertahankan break event point ditengah kultur masyarakat pedesaan. Proses pengelolaan keuangan sekolah swasta yang tidak mudah dalam mempertahankan break event point yang berada pada kultur masayarakat pedesaan. Hasil penetlitian yang berjudul (Factors Affecting Financial Management Practices In Public 2016) mendapati bahwa pengelolaan keuangan disekolah bergantung pada kemampuan kepala sekolah dalam mengendalikannya, pada penenlitian ini juga ditemukan permasalahan sekolah dalam menerima pembayaran tunai sementara sekolah tidak memiliki brankas untuk penyimpanan uang tunai tersebut. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh, Myende (2020) yang menyatakan bahwa dalam peanganan masalah manajemen keuangan kepala sekolah perlu mengikuti berbagai pelatihan terkait dengan pengelolaan keuangan, rata-rata permasalahan keuangan muncul saat periode awal jabatan kepala sekolah sehingga pemahaman tentang pengelolaan keuangan sangat diperlukan sekali. Selanjutnya pada penelitian Pendidikan, Jurnal (J. A. Pendidikan, Universitas, and Kuala 2015) mendapati permasalahan pengelolaan keuangan yaitu adanya ketidaksesuaian antara pendapatan dan pengeluaran di rencana keuangan dengan kenyataan di lapangan sehingga merubah item anggaran dipos keuangan lain agar Break Event Point keuangan sekolah tetap terjaga. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Adillah (2016), pengelolaan keuangan di SMP Negeri 1 Tebat Kerai masih melakukan cara pengelolaan keuangan model lama, yaitu tanpa melalui tahapan Planning, organizing, actuating dan controlling, Pada sekolah ini juga belum memiliki terobosan-terobosan terkait dengan pola manajemen keuangan. Penelitian tentang manajemen keuangan juga dilakukan oleh As and Azizi (2020) yang menemukan hambatan manajemen keuangan di Lembaga Pondok Pesantren Balekambang, yaitu tidak menentunya pendapatan keuangan meskipun di pondok pesantren ini sudah memiliki badan usaha.
Penelitian yang dilakukan oleh Oktafia and Haryanto (2018) menghasilkan pengelolaan keuangan yang ada di Pondok Pesantren Sunan Drajad yang merupakan Lembaga Pendidikan formal dan non formal, memiliki beberapa unit usaha sebagai penopang keuangan di lembaga ini. Adapun bidang usaha yang dimaksud adalah jasa, pertanian, peternakan dan media. Penelitian ini mengangkat permasalahn problematika apa saja yang dijumpai dalam pengelolaan keuangan Lembaga Pendidikan swasta yang berbasis masyarakat desa. Dari tema penelitin ini menemukan novelty tentang beberapa problematika sistem keuangan Lembaga Pendidikan swasta pada masyarakat pedesaan.
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah analisis deskriptif kualitatif. Mengamati keadaan yang ada di SMP Muhammadiyah 1 Babat terkait dengan manajemen keuangan. Analisis deskritip kualitatif dilakukan oleh peneliti untuk menjelaskan hasil permasalahan manajemen keuangan kaitannya dengan upaya mempertahankan Break Event point di SMP Muhammadiyah 1 Babat. Adanya kondisi orang tua murid dengan kultur masyarakat pedesaan yang relatif minim perhatian terhadap biaya sekolah, sementara pihak sekolah sendiri harus mempertahankan titik impas biaya Pendidikan agar stabilitas keuangan tetap terjaga.
Subyek penelitian ini adalah bendahara sekolah, orang tua murid dan guru. Peneliitian ini merupakan analisis fenomenologi yaitu pengumpulan data sebanyak-banyaknya dengan memandang substansi apa saja yang terkait dengan judul penelitian ini
Dunia Pendidikan dalam melaksanakan misi pendidikannya secara ideal mengalami transformasi perihal pembinaan peserta didik, transformasi yang dimaksud adalah menjadikan peserta didik sebagai manusia terdidik. Tujuan umum ini harus melibatkan semua komponen Pendidikan yang berjalan sesuai dengan tupoksi nya masing-masing namun tetap bersinergi seiring berjalan. (Agus Santoso, Triana Hermawati, and Siti Wasfina Nur 2020). Manajemen keuangan sekolah dikelola berpedoman pada prinsip Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 48 yang menyatakan pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip efisiensi, transparan dan akuntabilitas. Pengelolaan keuangan menjadi titik utama dalam sebuah Lembaga Pendidikan. Salah satu diantaranya dengan adanya Rencana Anggaran Belanja dan Pendapatan Sekolah. Peranan RAPBS ini memiliki fungsi kendali dalam melakukan sirkulasi keuangan.
Dalam sebuah Lembaga Pendidikan ada beberapa sumber keuangan yang didapat yaitu dari pemerintah orang tua atau peserta didik dan masyarakat. Pada pelaksanaannya sumber dana dari pemerintah berupa dana bantuan seperti BOS, Dana Alokasi Khusus (DAK) sedangkan partisipasi orang tua murid berupa Infaq, SPP atau iuran biaya operasional lainnya. Lembaga Pendidikan sedapat mungkin melakukan segala upaya agar ketiga sumber dana tersebut dapat terserap dengan maksimal karena sumber dana menjadi hal pokok untuk melakukan kegiatan operasional sekolah (Istiqomah 2020). Stabilitas keuangan sekolah menjadi factor keberlangsungan operasional sekolah.
Lembaga Pendidikan memiliki misi yang sangat mulia. Berperan dalam mencerdaskan anak bangsa tentu tidak serta merta memiliki misi yang mengarah pada keuntungan semata, maka sekolah dikategorikan sebagai organisasi nirlaba. Selain sekolah organisasi nirlaba meliputi masjid, rumah sakit, klinik kesehatan, institute riset dan musem tergolong organisasi nirlaba(Isak et al. 2021). Meskipun organisasi nirlaba yang lebih kepada bergerak dibidang social, sebagai Lembaga Pendidikan yang harus melaksanakan segala program yang direncanakan harus memiliki kekuatan secara keuangan. Salah satu indicator dari adanya kekuatan keuangan ini maka Lembaga Pendidikan dapat mempertahankan atau meningkatkan nilai Break Event point.
Break Event Point adalah suatu upaya yang dilakukan dalam sebuah perhitungan dengan tujuan membantu seorang pengelola melakukan perencanaan penjualan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.(Enak 2021). Apabila sebuah perusahaan menghendaki perolehan keuntungan maka jumlah penjualan dimaksimalkan melebihi dari sebelumnya. Meskipun barang dan jasa merupakan hasil produksi yang pertama jika sudah melalui Analisa BEP maka manajer akan mudah menentukan target produksi dan target keuntungan yang akan dicapai. Langkah untuk melakukan Analisa BEP ini dapat menyimpulkan sebuah perusahaan dalam keadaan untung atau rugi.(Utami and Adita 2019) Analisa BEP hamper dlakukan oleh setiap perusahaan karena memang memperoleh laba adalah tujuan dari sebuah perusahaan. Lembaga Pendidikan tidak berorientasi pada keuntungan, sehingga jarang sekali atau bahkan belum ada penelitian yang menjukukan sebuah Lembaga Pendidikan melakukan Analisa Break Event point. Lembaga Pendidikan yang dinaungi oleh Dinas Pendidikan meskipun sudah di topang dengan Dana Bos utamanya bagi sekolah Negeri sehingga muncul adanya kebijakan biaya Pendidikan gratis (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2020) dipandang perlu melakuakan analisis Break Event Point sebagai ukuran pencapaian target keuangan yang ingin dicapai. Kebrhasilan analisis Break Event Point ini harus berimbang antara apa yang diperoleh adalah pendapatan dengan beban yang dikeluarkan untuk operasional sekolah(Awaludin, Bahri, and Muslih 1978).
Berdasarkan ilustrasi tentang Break Event Point terhadap Lembaga Pendidikan maka akan sulit sekali diterapkan kepada sekolah yang berada pada wilayah pedesaan. Pembangunan Pendidikan yang diharuskan merata memiliki hambatan yang besar, terutama pada daerah yang sedang berkembang atau wilayah masyarakat pedesaan. Sebgaimana yang disampaikan (Cikulur and Alfarisi n.d.) bahwa minimya tingkat kepedulian masyarakat desa terhadap perkembangan Pendidikan, menjadi salah satu penghambat berkembangnya Pendidikan dan tentunya juga akan berpengaruh terhadap mengahmbatnya perkembangan kesejahteraan masyarakat desa. Mayoritas pemikiran masyrakat desa lebih mengutamakan bekerja daripada menjalankan Pendidikan setinggi mungkin, bahkan tidak jarang sampai melakukan perantauan agar dapat memiliki penghasilan yang dirasa cukup besar (Nur 1967).
SMP Muhammadiyah 1 Babat merupakan sekolah yang berada di wilayah utama kecamatan Babat, namun tujuh puluh persen dari jumlah siswa berasal dari daerah pedesaan. Murid yang berasal dari daerah pedesaan harus menggunakan kendaraan untuk menuju ke sekolah dengan jarak rata – rata sekitar tujuh sampai sepuluh kilo meter. Akses kendaraan yang digunakan sangat berragam mulai dari sepeda motor hingga angkutan umum dan mobil sekolah yang dimiliki oleh SMP Muhammadiyah 1 Babat.
Ditengah berlakunya kebijakan pendaftaran dengan sistem zonasi tidak merubah minat warga Muhammadiyah yang lebih memilih melanjutkan Pendidikan jenjang berikutnya di sekolah Muhammadiyah daripada sekolah negeri. Meskipun sistem zonassi ini berdampak kepada sekolah swasta yang memarginalkan keberadaanya dengan kondisi ekonomi orang tua siswa. Namun, orang tua murid yang rumahnya jauh menyekolahkan anak-anaknya atas dasar loyalitas dengan Muhammadiyah. Desa tempat mereka tinggal sudah terapat beberapa sekolah setingkat SMP, namun sekolah Muhammadiyah tetap menjadi prioritas pilihan para murid dan orang tua murid. Tingginya kepedulian dan loyalitas terhadap sekolah Muhammadiyah tidak menjadikan jarak yang jauh sebagai halangan untuk mendaftarkan sekolah di Muhammadiyah. Orang tua murid berkeinginan agar pembinaan yang sudah dilaksanakan sejak masa sekolah dasar di Muhammadiyah dapat berkelanjutan di jenjang SMP Muhammadiyah pula, sehingga nilai keagamaannya yang didapat tidak terputus namun semakin bertambah matang. Selain daripada itu orang tua murid meyakini kektika mendaftarkan anaknya di sekolah Muhammadiyah, maka di masa depan anak-anak mereka dapat melanjutkan untuk melaksanakan misi da’wah sebagaimana yang sudah dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah yaitu KH. Ahmad Dahlan.
Minat masyarakat terhadap sekolah Muhammadiyah tidak terlepas dari tujuan Pendidikan Muhammadiyah sebagaimana pada penelitian (Ali 2014) yang menjelaskan bahwa Pendidikan Muhammadiyah yang bercorak modern memiliki tujuan Pendidikan yang lebih dominan dalam melakukan pendekatan teori yang bersifat progresif namun masih lekat denga nilai religius. Meskipun demikian, kondisi orang tua murid yang berasal dari wilayah desa tergolong dalam ekonomi menengah bawah. Dengan rata-rata yang berprofesi sebagai petani, mereka harus menunggu waktu panen untuk dapat menuntaskan biaya sekolah. Rentang antara masa tanam menuju panen menjadi masa yang sulit bagi orang tua murid yang dari pedesaan, karena selama mas itu mereka tidak memiliki penghasilan. Hal ini menjadi problematika tersendiri bagi SMP Muhammadiyah 1 Babat untuk mendapatkan serapan dana yang harus dibayarkan oleh orang tua murid. Tercatat dalam laporan keuangan sekolah pada tahun ajaran 2021/2022 jumlah tunggakan muri mencapai angka kisaran empat puluh juta rupiah. Sebagai sekolah yang tergolong relative kecil jumlah tunggakan ini akan menjadi beban yang sangat berat bagi kelangsungan operasional SMP Muhammadiyah 1 Babat.
SMP Muhammadiyah 1 Babar memiliki sistem pengelolaan keuangan yang tertata dan rapi di bawah kendali Majelis Dikasmen PCM Babat. Pegelolaan keuangan menggunakan program akuntansi yang dilaksanakan secara terpadu antara beberapa sekolah seperti SD Muhammadiyah 1 Babat, SMA Muhammadiyah 1 Babat dan SMK Muhammaiyah 5 Babat. Penerapan pengelolaan keuangan sekolah Muhammadiyah ada yang memiliki system keuangan terpadu antara beberapa Amal Usaha Muhammadiyah baik yang bergerak dalam bidang Pendidikan maupun yang lainnya dan ditempatkan pada bank yang berlabel syari’ah yang telah di tunjuk oleh Pimpinan Muhammadiyah(Ahmad Said, Eko Susanto 2022).
Adanya sistem pengelolaan keuangan seperti ini memudahkan sekolah dalam penggunaan belanja operasional sekolah. Pihak sekolah dapat mengajukan bantuan dana ketika kebutuhan operasional membutuhkan biaya sementara kondisi kas tunai sekolah belum memadai. Pergerakan keuangan berbasis aplikasi ini dapat diketahui oleh Yayasan yang ada, sehingga sekolah dapat melaksanakan tertib administrasi dengan baik dalam bentuk Laporan pertanggung jawaban yang dibuat setiap bulannya. Sebagai kendali dalam pengelolaan keungan sekolah, setiap akhir tahun ajaran dilaksanakan rapat laporan pertanggung jawaban dari unsur pimpinan sekolah dan majelis Pendidikan dasar dan menengah beserta Pimpinan Cabang Muhammadiyah. Setiap laporan akhir tahun yag disampaikan pihak sekolah dituntut untuk surplus anggaran. Saldo anggaran tersebut yang nantinya tetap akan menjadi perputaran keungan untuk tahun ajaran berikutnya. Ketetapan surplus anggaran menjadi indicator bahwa sekolah yang dikelola menunjukan kondisi yang sehat secara keuangan. Namun akan menjadi sebuah permasalahan ketika serapan pendapatan yang diperoleh SMP Muhammadiyah 1 Babat sangat minim sekali. Situasi ini akan bertolak belakang antara harapan Yayasan dengan realitas keadan orang tua murid.
Sisi lain yang menjadi sebuah kemudahan bagi SMP Muhammadiyah 1 Babat yang menggunakan sistem pengelolaan keuangan terpada adalah adanya dana talangan yang diperuntukan bagi sekolah jika kondisi kas tunai yang dimiliki tidak mencukupi untuk kegiatan operasional sekolah. Untuk memperoleh dana talangan ini pihak sekolah dapat mengajukan permohonan kepada majelis dikdasmen sesuai dengan jumlah kebutuhan.
Berikut ini adalah grafik alur keuangan sekolah yang ada di SMP Muhammadiyah 1 Babat
Berdasarkan grafik diatas dapat disekripsikan bahwa sekolah yang merupakan penyelenggara pendidikan berada dibawah naungan Majelis dikdasmen PCM Babat. Sekolah melakukan laporan pertnggungjawaban kepada Majelis Dikdasmen atas pengelolan keuangan. Sekolah melaksanakan kegiatan belajar mengajar diperuntukan oleh siswa. Dalam proses pembayaran biaya sekolah terutama bagi yang belum dapat melunasi pihak sekolah percaya bahwa orang tua pasti akan memenuhi kewajibannya untuk membayar biaya sekolah. Dari pihak orang tua memegang komitmen bahwa mereka harus melunasi biaya sekolah meskipun harus mengajukan tempo pembayaran karena kondisi ekonomi yang belum stabil.
Melihat dari problematika tersebut akan menjadi problem yang besar bagi sekolah. Sulit bagi sekolah untuk mempertahankan Break Event Point sementara income anggaran dari sekolah masih dirasa sulit setidaknya untuk memenuhi kebutuhan secara impas menjadi sebuah permasalahan yang harus diatasi terlebih memberikan saldo anggaran akan menjadi problem yang bertingkat lagi bagi SMP Muhammadiyah 1 Babat.
Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan Analisa pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa SMP Muhammadiyah 1 Babat memiliki problematika dalam manajemen keuangan sekolah dalam rangka mempertahankan Break Event Point dengan kondisi kultur masyarakat orang tua murid dalam wilayah pedesaan. Adapun problematika yang dihadapai adalah sulitnya income dari orang tua murid yang dalam kondisi ekonomi menengah kebawah. Keadaan ini diperkuat dengan semakin meningkatnya jumlah tagihan atau tunggakan yang dimiliki oleh siswa. Kondisi ini dikarenakan mayoritas orang tua murid yang berprofesi sebagai petani sehingga butuh tempo waktu untuk melunasi biaya sekolah hingga masa panen tiba. Problematika lain yang dihadapi adalah dengan keadaan yang berlawanan pihak sekolah dituntut harus surplus anggaran setiap tahunnya. Pihak sekolah harus bekerja ekstra untuk mengatasi problematika tersebut demi menjaga stabilitas keuangan sekolah.
Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi sekaligus bahan evaluasi bagi pemangku kebijakan sekolah dalam hal ini adalah kepala sekolah dan juga pengurus Yayasan yang menaungi sekolahnya. Sehingga dari dasar problematika diatas dapat diambil sebuah perencanaan yang bersifta strategis dalam memaksimalkan sumber keuangan yang tidak hanya bergantung pada orang tua murid dan bantuan pemerintah, sehingga kondisi keuangan sekolah dapat stabil bahkan surplus.
Puji sukur yang senantaiasa kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya artikel ini telah diterbitkan. Kami menucapkan terima kasih kepada SMP Muhammadiyah 1 Babat yang telah berkenan menjadi tempat pada penelitian kami. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada orang tua siswa SMP Muhammadiyah Babat yang telah berkenan menjadi narasumber dalam penelitan kami. Terkhusus ucapan terima kasih kepada keluarga kami yang telah mendukung sepenuhnya dalam memproses artikel ini.
C. T. Dewi et al., “Manajemen keuangan pendidikan (analisis investasi pendidikan),” J. Idaarah, vol. 1, no. 1, pp. 343–346, 2021, doi: 10.55123/mamen.v1i1.59.
A. Istiqomah, “Manajemen keuangan sekolah di TK Aisyiyah Nyai Ahmad Dahlan Full Day,” J. Manaj. Pendidik., vol. 7, no. 2, pp. 218–222, 2020.
N. Komariah, “Konsep manajemen keuangan,” Manaj. Keuang. Pendidik., vol. 6, pp. 67–94, 2018.
K. Banyumas, “Penulis adalah dosen MPI FTIK IAIN Purwokerto,” vol. 9, no. 1, pp. 1–19, 2020.
R. Galingging and M. Ds, “Kajian dasar perencanaan laba berdasarkan break even point pekerjaan cutting sticker pada pencetakan stiker di PT. YXY.”
S. Haryono, “Analisis break event point di SMK Negeri I Karanganyar tahun pelajaran 2012/2013,” J. Akunt. dan Sist. Teknol. Inf., vol. 10, no. 1, pp. 88–96, 2014.
A. Nur, “Paradigma masyarakat dan keredupan masa depan pendidikan di desa,” Gastron. Ecuatoriana y Tur. Local., vol. 1, no. 69, pp. 5–24, 1967, doi: 10.17605/OSF.IO/V47QK.
P. Pendidikan, M. Desa, A. Patue, K. Bone, and S. Selatan, “No title.”
“Factors affecting financial management practices in public,” no. November, 2016.
P. E. Myende, “School financial management development programme for Eswatini principals: Lessons, challenges and implications,” vol. 40, no. 4, pp. 1–11, 2020.
J. A. Pendidikan, P. Universitas, and S. Kuala, “Meningkatkan mutu pembelajaran pada MTsN,” vol. 3, no. 4, pp. 123–129, 2015.
G. Adillah, “Manajemen keuangan sekolah,” Manaj. Keuang. Sekol., vol. 10, no. 4, pp. 343–346, 2016.
A. S. and M. H. Azizi, “Pengembangan manajemen keuangan pesantren Balekambang Jepara dan Amsilati Darul Falah Bangsri Jepara di era digital,” vol. 17, no. 1, pp. 17–30, 2020.
R. Oktafia and B. Haryanto, “Pengelolaan keuangan unit usaha: Strategi pengembangan kapasitas pondok pesantren,” Al-Uqud: J. Islam. Econ., vol. 2, no. 2, pp. 141–151, 2018, doi: 10.26740/al-uqud.v2n2.p141-151.
A. Santoso, T. Hermawati, and S. W. Nur, “Problematika manajemen pendidikan Islam (telaah input, proses, dan output dalam pendidikan Islam),” Turots J. Pendidik. Islam, vol. 2, no. 2, pp. 74–84, 2020, doi: 10.51468/jpi.v2i2.40.
I. Isak, N. I. R. Laba, P. Organisasi, and N. O. N. Laba, “Jurnal Bisnis dan Akuntansi Unsurya,” vol. 6, no. 2, pp. 94–107, 2021.
J. Enak, “No title,” vol. 6, 2021.
N. S. Utami and M. D. Adita, “Pengenalan analisis break even point (BEP) sebagai bekal bagi mahasiswa ilmu dan teknologi pangan dalam menumbuhkan jiwa wirausaha,” Randang Tana: J. Pengabdi. Masy., vol. 2, no. 1, pp. 1–88, 2019.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “Rencana strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020–2024,” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pp. 1–129, 2020.
R. F. Awaludin, S. Bahri, and M. Muslih, “Penerapan Zachman Framework dalam perancangan sistem informasi manajemen keuangan sekolah,” vol. 15, no. 1, pp. 55–66, 1978.
M. K. Cikulur and A. S. Alfarisi, “Jurnal Aksioma Ad-Diniyah,” vol. 4, no. 1, pp. 103–126.
M. Ali, “Membedah tujuan pendidikan Muhammadiyah,” pp. 43–56, 2014.
A. A. Ahmad Said and E. Susanto, “Analisis penerapan sistem pengelolaan dana terpadu Muhammadiyah,” Ekon. Islam, vol. 13, no. 1, pp. 98–112, 2022.