Kushariyati (1), Imam Fauji (2)
General Background Inclusive education requires proper understanding among stakeholders and adequate academic and professional human resources to provide optimal services for students with special needs, particularly autistic children. Specific Background This study explores the implementation of strategic management based on teamwork habits to improve the academic and non-academic achievements of autistic children in inclusive schools. Knowledge Gap Although inclusive services exist, inadequate stakeholder understanding and a lack of optimized teamwork often hinder optimal service delivery and student achievement. Aims This study aims to explain strategic management, teamwork habituation, and the implementation of strategic management based on teamwork habits to improve the achievement of autistic children in inclusive schools. Results Utilizing a qualitative literature study method, the findings indicate that strategic management based on teamwork habits successfully improves both academic and non-academic achievements of autistic children, fosters an inclusive school culture, and realizes optimal services without discrimination. Novelty This work details the practical synchronization of POAC management functions with team formation stages to address special needs education within inclusive settings. Implications These findings establish that integrating strategic management frameworks with collaborative team routines is essential for eliminating discrimination and maximizing developmental outcomes for children with autism.
Highlights:
Strategic management involves continuous planning, monitoring, analysis, and evaluation to ensure inclusive educational organizations achieve their predefined goals.
Teamwork habituation bridges regular teachers and special guidance teachers through coordinated planning and cooperative actions.
Comprehensive implementation improves student achievements, fosters inclusive school cultures, and builds positive empathetic values among all school members.
Keywords: Implementation, Strategy Management, Teamwork Habituation, Achievement, Autism
Pendidikan Inklusif perlu dipahami dengan benar oleh insan pelaksana pendidikan. (Stakeholder) karena merupakan salah satu faktor penting untuk menentukan berhasil atau tidaknya pengimplementasian pendidikan inklusif. Apabila salah dalam memahami terkait pendidikan inklusif menjadikan pelaksanaan pendidikan inklusif tidak sesuai harapan karena pelaksanaannya tidak berorientasi pada pedoman-pedoman pelaksanaan pendidikan inklusif hal ini akan berdampak negative pada pelayanan yang tidak optimal dan akan merugikan semua pihak utamanya anak-anak berkebutuhan khusus. Selain itu kesalahan dalam memahami konsep terhadap pendidikan inklusif akibat proses sosialisasi yang tidak benar menjadi kontraproduktif, yaitu penolakan terhadap konsep pendidikan inklusif bahkan tidak mau menerima anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan kesempatan belajar bersama siswa regular.
Dalam system layanan pendidikan inklusif mempersyaratkan semua anak-anak yang mempuyai kelainan/gangguan dapat diterima di sekolah-sekolah terdekat untuk mendapatkan layanan, dan belajar bersama teman-teman seusianya di kelas regular. Sapon Shevin (O’Neil, John; 1994) menyatakan bahwa pendidikan inklusif sebagai pendidikan khusus harus mampu melayani seluruh siswa pendidikan khusus dan siswa lainnya dalam satu lingkungan sekolah.[1] Senada dengan pendapat diatas menyatakan konsep pendidikan inklusif bertujuan untuk memasukkan anak-anak penyandang disabilitas ke dalam kelas reguler dimana guru harus menggunakan metode pengajaran yang berbeda, berkolaborasi dan menggunakan metode penilaian yang berbeda (Rouse, 2007).[2] Sementara menurut pedoman yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar (2021), pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa pendidikan khusus untuk berpartisipasi dalam lingkungan belajar yang sama dengan siswa pada umumnya. Pelatihan inklusif juga dapat diartikan sebagai pendekatan inovatif dan strategis untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi seluruh anak berkebutuhan khusus.[3] Sistem pendidikan inklusif diatur melalui Surat Perintah Pendidikan Nomor 70 yang dikeluarkan Menteri Pendidikan pada tahun 2009. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan inklusif bagi anak penyandang disabilitas, seperti pandangan, kebijakan sekolah, kerjasama dan koordinasi kelas. guru dan pendidik khusus, khususnya keterampilan guru (Chopra, 2008). Berdasarkan beberapa faktor di atas diketahui bahwa peran pendidik khusus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran di sekolah inklusif (Giangreco, 2013).[4]
Salah satu kunci keberhasilan program pendidikan inklusif adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi akademik dan profesional sehingga dapat memberikan layanan yang optimal bagi peserta didik khususnya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Siapa saja yang termasuk ABK? Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Pasal 129 ayat (3) menetapkan bahwa, peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, memiliki gangguan motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang dan zat adiktif, serta memiliki kelainan lainnya. Namun, pada faktanya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang seharusnya mendapatkan hak pendidikan yang sama justru banyak mendapat penolakan di sekolah-sekolah. Untuk bisa memberikan layanan yang optimal kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) maka perlu adanya saling memahami, menghargai dan mengasihi kepada mereka yang mempunyai perbedaan baik fisik, emosional, mental dan social atau memilki kecerdasan dan/atau bakat istimewa sehingga nilai – nilai pendidikan inklusif dapat diimplementasikan.
Untuk dapat memberikan layanan yang optimal maka perlu dilakukan suatu upaya yaitu melalui manajemen. Istilah manajemen telah banyak dikemukakan oleh para ahli diantaranya (Herujito dan Manajemen, 2004) manajemen mempunyai tiga pengertian. Pertama manajemen, kontrol, atau penggunaan. Kedua, terampil perawatan untuk menangani sesuatu yang berupa perawatan terampil. Ketiga, gabungan kedua makna tersebut, yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan usaha rumahan atau bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan (Hasibuan, 2005) mempunyai arti manajemen adalah kemampuan mengelola dengan efektif dan efisien penggunaan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan tertentu, dan untuk mencapai tujuan tersebut kita tidak bergerak sendiri, melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.[5] Bicara manajemen otomatis terdapat 4 (empat) fungsi manajemen yaitu planning, organizing, actuacting dan controlling (POAC). Dalam dunia manajemen, menurut George R Terry, pelaksanaan fungsi manajemen yang terkenal yaitu model fungsi manajemen yang dianut, antara lain perencanaan, pengorganisasian, pengaktifan dan pengendalian, cocok digunakan di lembaga pendidikan. Kegiatan kegiatan yang dijadikan sebagai langkah-langkah pengelolaan lembaga pendidikan disusun secara sistematis dari awal sampai akhir, sehingga apabila diterapkan pada lembaga pendidikan maka tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.[6]
Dalam penelitian ini menggunakan manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork. Manajemen strategis pada hakikatnya mengelola rencana rinci dalam melaksanakan aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan. Manajemen strategis pada dasarnya merupakan inisiatif praktis sebagai strategi awal untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Siagiani (2012:27), manajemen strategis dalam bidang pendidikan dapat diartikan sebagai “suatu proses dinamis dalam organisasi pendidikan yang terjadi secara terus menerus dan menghasilkan strategi serta serangkaian keputusan yang berdaya guna dan efektif dalam menciptakan produk atau keluaran pendidikan, mampu menunjukkan hasil dan prestasi yang tinggi sesuai dengan tujuan organisasi yaitu mencapai visi dan misi.”[7] Pendapat yang lain dalam penelitiannya, Stukalina menerapkan manajemen pendidikan strategis yang mengacu pada penciptaan lingkungan pendidikan konstruktif yang mendukung pembelajaran berkelanjutan (Stukalina, 2010). Manajemen strategis dapat dikatakan mengedepankan program pelatihan inovatif yang menekankan pada sumber daya manusia. Baltabayeva menunjukkan dalam penelitiannya bahwa manajemen strategis dapat mengurangi risiko organisasi pendidikan dan mengubahnya menjadi peluang baru (Baltabayeva et al., 2020).[8]
Untuk meningkatkan prestasi anak autis selain manajemen maka yang tidak kalah penting adalah pembiasaan. Kegiatan pembentukan kebiasaan dilakukan dengan menjadikan perilaku baik menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan adalah proses pembentukan sikap dan perilaku yang bersifat permanen dan otomatis, artinya terjadi secara refleks dan sadar dalam diri seseorang melalui proses belajar yang dilakukan secara berulang-ulang, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Menurut Anis Ibnatul M dkk (2013:1) mengatakan pembiasaan adalah suatu tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga sesuatu menjadi suatu kebiasaan. Pembiasaan merupakan suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang agar seseorang terbiasa bertindak, berperilaku, dan berpikir dengan benar.[9] Senada dengan pendapat diatas yaitu menurut Liestari dkk.,( 2014) Pembiasaan adalah segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang agar masyarakat terbiasa berperilaku, bertindak dan berpikir dengan benar.[10]
Selain manajemen strategi dan pembiasaan maka faktror lain untuk meningkatkan prestasi anak autis adalah kerja sama. Kerja sama (teamwork) adalah suatu sistem kerja sama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang direncanakan bersama. Kolaborasi team diperlukan untuk kinerja dan prestasi kerja yang unggul. Kolaborasi dalam sebuah team kerja merupakan sebuah motor penggerak yang menghadirkan energi dan sinergi bagi individu-individu yang tergabung dalam team kerja tersebut. Menurut Hasibuan yang dikutip oleh Fatah Syukur, manajemen adalah suatu ilmu dan seni yang berhubungan dengan proses penggunaan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu (Syukur, 2013). Lebih jelasnya lagi, manajemen menurut Henry Fayol adalah proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian sumber daya yang tersedia untuk mencapai semua tujuan secara efektif dan efisien.[11] Pendapat lainnya menyatakan salah satu cara untuk mencapai hasil kerja yang maksimal adalah dengan membentuk forum berbagai kelompok. Jadi kerjasama tim yang tepat dan baik memainkan peran yang sangat penting terhadap waktu (Hughes et al., 2017).[12]
Manajemen diperlukan untuk tujuan meningkatkan prestasi siswa termasuk di dalamnya anak berkebutuhan khusus (ABK). Teori-teori prestasi telah banyak dikemukakan para ahli diantaranya prestasi adalah suatu capaian yang telah dikerjakan atau dilakukan dan menghasilkan nilai. Menurut Hidayat dan Erfian Junianto (2017), Prestasi belajar adalah hasil atau tingkat kemampuan yang dicapai siswa setelah melaksanakan proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu berupa perubahan perilaku, keterampilan, dan pengetahuan.[13] Senada dengan pendapat diatas menyatakan pembelajaran merupakan aspek terpenting dalam dunia pendidikan, dimana pembelajaran yang baik dapat membuka peluang yang lebih luas bagi masa depan seseorang. (Menurut Nadya et al., Riki1, Kusno2 2019) hasil belajar dikatakan memenuhi tiga aspek pembelajaran, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, yang dapat tercermin dalam hasil akhir (penilaian) yang dilakukan secara bersama-sama oleh peserta didik dan guru.[14]
Adapun teori-teori atau pengertian anak autis banyak diutarakan oleh para ahli terkait. Istilah autisme pertama kali dikemukakan pada tahun 1943 oleh Dr. Leo Kanner, seorang psikiater anak di Universitas John Hopkins, yang menggambarkan penyakit ini sebagai ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, suatu kelainan bahasa yang dimanifestasikan oleh keterlambatan pembelajaran bahasa, echolalia, bergumam dan inversi. gangguan. kalimat ., adanya aktivitas bermain yang berulang dan stereotip, jalur memori yang kuat dan keinginan obsesif untuk menjaga ketertiban di lingkungan (Dawson dan Castelee, Widihastuti 2007).[15] Senada dengan pendapat diatas yaitu anak autis merupakan salah satu jenis anak berkebutuhan khusus memiliki masalah sosial dan kemampuan komunikasi yang kurang berkembang seperti mengulang kata yang sama. Kondisi ini berlangsung sejak lahir atau masa kanak-kanak dan menghalangi anak untuk menjalin hubungan sosial dan komunikasi yang normal (Humaeroh, 2016; Nadhirah, 2017). Akibatnya, anak dapat menjadi terisolasi dari orang lain dan tenggelam dalam dunia aktivitas dan minat yang berulang dan kompulsif. Gejala ini muncul saat lahir atau pada usia dini, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.[16] Apa yang menyebabkan anak terlahir dengan kondisi autis? Anak berkebutuhan khusus yang mempunyai masalah pada aspek autisme yang disebabkan oleh faktor neurobiologis, masalah genetik, masalah kehamilan dan persalinan, keracunan logam berat, infeksi virus, dan kelebihan peptida opioid, saya pegang. Kondisi pada anak autis menyebabkan tidak tanggap terhadap orang lain, menarik diri dari pergaulan, kesulitan komunikasi yang parah, dan reaksi aneh terhadap lingkungan, seperti: B. Menggantung pada benda mati dan gerakan tubuh yang berulang-ulang , dst. B. Mengepalkan tangan, mengayun ke depan dan ke belakang, dan membenturkan kepala (Dewi, dkk, 2018).[17]
Dalam tulisan ini, penulis akan menjelajahi implementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif. Penulis akan menjelaskan apa yang dimaksud manajemen startegi, pembiasaan teamwork dan implementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif. Penulis berharap penelitian ini akan memberikan wawasan baru dan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mengimplementasikan manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork dapat meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif.
Metode penelitian dalam artikel ini menggunakan penelitian kualitatif Study Pustaka (study literatur), yaitu metode pengumpulan data dengan memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian. Menurut Musfiqon (2012) dalam bukunya Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan menyatakan “penelitian kualitatif merupakan penelitian yang jenis datanya bersifat nonangka. Bisa berupa kalimat, pernyataan, dokumen, serta data lain yang bersifat kualitatif untuk dianalisis secara kualitatif”. Sesuai pendapat Musfiqon tersebut diatas maka data yang tersaji dalam tulisan ini adalah dalam bentuk kalimat deskripsi bukan angka. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam tinjauan pustaka ini adalah mencari data tentang hal-hal dan variabel yang berupa catatan, buku, esai dan artikel, jurnal, dan lain-lain. Tujuan penelitian kepustakaan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis masalah melalui berbagai bahan tertulis diantaranya buku, pendapat ahli melalui artikel, jurnal dan lainnya. Selain itu tujuan lainnya adalah untuk memperoleh landasan teori terhadap permasalahan yang diteliti. Bahan pustaka yang diperoleh dari berbagai referensi hendaknya dianalisis secara kritis dan dianalisis secara menyeluruh untuk mendukung saran dan gagasan.
Melalui metode study pustaka, tujuan penelitian ini adalah mengumpulkan dan menyajikan bahan bacaan terkait pengimplementasian manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif.
Perkembangan dan perubahan dunia yang semakin pesat memberikan tantangan bagi lembaga pendidikan. Perkembangan pesat ini terjadi secara terus menerus. Dampak globalisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, model dan metode pembelajaran modern, perubahan demografi, ketidakpastian perekonomian global, dan tuntutan masyarakat yang semakin beragam merupakan tantangan yang harus dihadapi dan diantisipasi oleh para pemimpin lembaga pendidikan. Institusi pendidikan yang berkualitas menjadi harapan masyarakat. Namun kenyataannya, lembaga pendidikan Indonesia belum mampu menunjukkan peningkatan mutu yang konsisten dan berkelanjutan. Hal ini terlihat dari ketidakmampuan institusi pendidikan kita dalam menjamin pemerataan sumber daya manusia yang mampu bersaing di dunia internasional. Termasuk pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan inklusi yang masih banyak kendala terutama dalam memberikan layanan yang optimal untuk anak berkebutuhan khusus. Maka diperlukan manajemen strategi untuk tercapainya pendidikan yang sesuai harapan. Manajemen strategis sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Menyusun strategi yang disusun dan direncanakan sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi baik lembaga pendidikan yang bersangkutan, sekolah, maupun madrasah tercapai. Manajemen strategis biasanya dilakukan dalam jangka menengah dan panjang. Artinya bagaimana suatu lembaga atau madrasah merencanakan pengembangannya dalam jangka menengah/panjang. Hal ini diharapkan memungkinkan lembaga pendidikan yang berkualitas mencapai tujuannya
Manajemen strategis adalah perencanaan, pemantauan, analisis, dan evaluasi berkelanjutan terhadap semua persyaratan yang diperlukan organisasi untuk mencapai tujuannya. Perubahan yang cepat dan spontan dalam lingkungan organisasi menuntut organisasi untuk dapat terus mengevaluasi strateginya. Manajemen pendidikan strategis berkaitan dengan penciptaan lingkungan pendidikan konstruktif yang bertujuan mendukung proses pembelajaran berkelanjutan (Stukalina, 2010). Manajemen strategis dianggap sebagai evolusi manajemen karena dua alasan. (1) Strategi merupakan rencana besar organisasi untuk mengatasi tantangan yang ada saat ini sekaligus mencapai visi dan misi organisasi di masa depan. (2) Organisasi menerapkan manajemen strategis sebagai respons terhadap perubahan dunia. Tingkatkan daya saing Anda untuk kesuksesan masa depan. (Naution, 2018).[18] Bidang manajemen strategis menawarkan banyak peluang yang kaya dan bermanfaat untuk melakukan penelitian. Hal yang sama berlaku untuk proses pendidikan. Fakta bahwa strategi menggabungkan banyak perspektif teoretis dan mencakup banyak topik berbeda memungkinkan adanya variasi besar dalam penerapannya di lingkungan pendidikan. Penerapan manajemen strategis pada institusi komersial telah menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mencapai keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, artikel ini membahas tentang penerapan manajemen strategis pada lembaga pendidikan. Pengelolaan yang baik tentunya mengacu pada fungsi pengelolaan itu sendiri. Fungsi manajemen harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Sebab dengan menjalankan aspek manajemen maka kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara terencana, sistematis, dan berkesinambungan serta mencapai tujuannya. Target yang ditetapkan dalam fungsi manajemen ini adalah mampu mencapai standar mutu pembelajaran yang ditetapkan. (Ghar, Tariding, 2022).[19] Kemampuan dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara professional di dalam penyelenggaran pendidikan akan berpengaruh pada keberhasilan suatu lembaga pendidikan, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi. Banyak ahli yang mempunyai pandangan berbeda mengenai unsur fungsi manajemen. Namun salah satunya dibuat oleh George Terry dan disingkat menjadi POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).[20] Empat fungsi pokok manajemen sebagai berikut :
1. Planning (Perencanaan)
Perencanaan, yaitu proses untuk menentukan tujuan atau sasaran yang akan dicapai, selain itu menetapkan jalan maupun sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan dengan cara seefisien dan seefektif mungkin.
2. Organizing (Pengorganisasian)
Pengorganisasian yaitu suatu kegiatan atau aktifitas menyusun dan membentuk hubungan- hubungan kerjasama antara orang perorangan untuk mewujudkan satu kesatuan usaha untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan bersama.
3. Actuating (Pengerakan/Pelaksanaan)
Pengerakan/Pelaksanaan yaitu suatu proses secara keseluruhan untuk memberikan dorongan bekerja kepada semua karyawan agar mau bekerja sama, bekerja secara efektif, bekerja dengan ikhlas untuk mencapai tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.
4. Controlling (Pengawasan)
Pengawasan yaitu suatu proses pemeriksaan atau pemantauan aktifitas-aktifitas untuk memastikan individu-individu dan organisasi memperoleh dan memanfaatkan sumber daya pendidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Pengawasan juga mengoreksi apakah terjadi penyimpangan yang signifikan dan memberikan kolerasi apabila tujuan tidak tercapai.
Di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi (SPPI) atau sekolah inklusif sumber daya guru sangatlah berpengaruh dalam mengenali potensi dan kemampuan anak didiknya agar dapat mengembangkan secara optimal. Maka guru atau pendidik harus dapat membimbing peserta didik dalam menemukan dan mengenali potensi yang ada dalam diri peserta didik agar dapat dikembangkan sehingga dapat mengantarkan untuk meraih prestasi.
Aktivitas pembiasaan dicapai dengan menjadikan perilaku baik sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan kebiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku secara permanen dan otomatis. Artinya, hal-hal tersebut terjadi secara refleks dan sadar dalam diri seseorang melalui proses belajar yang berulang-ulang, baik dilakukan bersama-sama maupun sendiri. Menurut Anis Ibnatur M. pada tahun 2013 menyatakan bahwa “Pembiasaan adalah suatu kegiatan yang diulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan”. Pembiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang agar seseorang menjadi terbiasa dengan tingkah laku, tingkah laku, atau cara berpikir yang benar (Liestari dkk., 2014)[10]
Dalam membangun sebuah team maka perlu diperhatikan beberapa tahapan agar team yang terbentuk dapat bekerja secara efektif dan efisien sebagai berikut :
1. Tahap Pembentukan Tim (Forming)
Tahap pertama adalah membangun tim. Pada tahap ini ditentukan komposisi tim, termasuk siapa yang akan menjadi ketua, anggota, dan penyelenggara. Setelah komposisi tim terbentuk, langkah selanjutnya adalah mempertimbangkan peluang, tantangan, dan tujuan akhir. Peran masing-masing anggota tim diawali dengan mitigasi sesuai tugasnya. Semakin lengkap mitigasi, semakin baik kerja tim. Peran pemimpin sebagai trainer sangat penting disini. Pemimpin harus mampu menanggapi perselisihan di antara anggota tim dengan sedikit instruksi, namun tepat dan efektif.
2. Tahap Penentuan Aspirasi (Strorming)
Pemimpin harus independen dari perselisihan anggota tim. Perbedaan bisa menjadi kekuatan sebuah tim jika dikelola dengan baik. Tugas utama ketua tim adalah mengelola konflik yang mungkin timbul. Diskusi dan negosiasi bisa sangat membantu pada tahap ini. Oleh karena itu, kemampuan mengelola konflik dan mengelola kepercayaan pihak-pihak yang bekerja sama dalam suatu tim sangat diperlukan.
3. Tahap Penentuan Aturan (Norrming)
Aturan dan regulasi yang jelas diperlukan ketika ada perbedaan pendapat, kepribadian, atau persaingan di antara masing-masing anggota tim. Dengan demikian, anggota tim menjadi lebih kuat karena memiliki tujuan yang sama meskipun ada perbedaan dan persaingan. Tujuan dan kesepakatan bersama mengenai pembagian kerja (aksi kooperatif) telah ditetapkan. Pada tahap ini, hal terpenting bagi pemimpin kolaborasi adalah menjaga rasa saling percaya antar pihak dan memastikan semua pihak mampu menjalankan tugasnya dengan baik untuk mencapai tujuan bersama.
4. Tahap Pelaksanaan (Performing)
Pada titik ini, hasil kerja sama secara umum sudah tersedia. Namun, hal yang sama dapat terjadi lagi pada fase badai atau fase normalisasi ketika kepemimpinan berganti karena masing-masing pemimpin mungkin memiliki pandangan berbeda. Hal terpenting yang dilakukan seorang pemimpin kolaborasi adalah membantu seluruh anggota tim menyelesaikan tugasnya sebaik mungkin (mempermudah pekerjaan mereka). Selanjutnya pada tahap ini ketua tim harus terus menjaga rasa saling percaya antar anggota tim dengan mengedepankan komunikasi yang baik (contact brokering) di antara mereka.
5. Tahap Penghentian (Adjourning)
Beberapa pendapat menyatakan jika tujuan pembentukan tim sudah tercapai, maka tim tersebut harus dibubarkan. Namun, ada yang berpendapat bahwa fase penangguhan tidak diperlukan karena tim otomatis berhenti setelah mencetak gol. Proses pembubaran tim juga memprihatinkan mengingat kuatnya ikatan yang terjalin antar anggotanya. Pemimpin tim perlu melaksanakan fase ini dengan baik, termasuk mengadakan pertemuan resolusi untuk menyatakan penghargaan atas pencapaian tim secara keseluruhan dan upaya bersama.
Bekerja sama dalam satu team untuk menjalankan tugas yang ditentukan organisasi sesuai spesifikasi juga menjadi faktor penting dalam mencapai kinerja seseorang yang efektif. Setiap organsasi mempunyai tujuan yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Mencapai tujuan juga membutuhkan kerja team. Organisasi yang mempunyai kerjasama team yang baik akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cepat sehingga kinerja organisasi akan maksimal. Dalam organisasi tentu saja sumber daya manusia sangatlah banyak dan beragam. Oleh karena itu, tidak jarang bagian sumber daya manusia sendiri membentuk tim dengan tujuan untuk memaksimalkan hasil.
Kerja sama team mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Menurut Dwiarko & Pratiwi (2014), kerjasama team terdiri dari dua kata yaitu team dan kerja, jadi kerjasama team adalah sekelompok orang cerdas yang terdiri dari 2 sampai 20 orang yang saling bersinergi, yang memenuhi syarat pemahaman dan melakukan berbagai aktivitas anggota team. Pendapat ahli yang lain dalam artikel yang sama yaitu menurut Bull (2010), kerjasama team adalah kemampuan bekerja sama untuk mencapai visi bersama. Menurut Kaswan (2014), dalam sebuah team, orang anggota saling berpegangan tangan dan membentuk ikatan jiwa, dan orang saling menumbuhkan imajinasi dan kreativitas. Anggota team juga saling menyemangati, meningkatkan motivasi, dan meningkatkan upaya dan keterampilan individu (Ngrohoseno et al., 2014).[21]
Manajemen kebiasaan adalah pengorganisasian kegiatan kebiasaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan hingga tindak lanjut. Berbagai aktivitas untuk melakukan aktivitas pembentuk kebiasaan yang efektif dan efisien sehingga dapat mencapai tujuan aktivitas tertentu.
Di sekolah inklusi terdapat dua macam guru yaitu guru mapel (guru regular) dan guru pembimbing khusus (GPK). Maka dalam memberikan layanan yang optimal diperlukan pembiasaan kerja sama atau teamwork. Cara pandang guru reguler terkait bagaimana mengetahui karakteristik siswa ABK yang berada di kelas khususnya pada siswa dengan hambatan Autis bahwa mereka lebih melihat pada karakteristik atau ciri khas saat pembelajaran berlangsung. Pada umumnya siswa ABK dalam hal ini Autis akan memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang jelas dengan siswa regular pada saat pembelajaran berlangsung. Fungsi GPK sebagai guru pendamping, maka GPK harus melakukuan koordinasi dengan guru mapel (guru regular), koordinator dan wali kelas. Di dalam sekolah inklusi akan terbentuk team inklusi dan ada 1 (satu) orang sebagai koordinatornya. Koordinator inilah yang akan membuat program kerja bersama team nya termasuk GPK di dalamnya untuk memberikan layanan yang optimal kepada anak berkebutuhan khusus. Maka di dalam membuat program kerja yang bertujuan meningkatkan prestasi anak berkebutuhan khusus dengan hambatan Autis dibutuhkan suatu manajemen strategi untuk mewujudkan anak autis dapat meraih prestasinya.
Pengimplementasian manajemen strategi berbasis pembiasaan team work untuk meningkatkan prestasi anak berkebutuhan khusus dengan hambatan autis tentunya harus melibatkan semua warga sekolah. Untuk mendapat hasil yang sesuai implementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan team work maka perlu dilakukan upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah antara lain yaitu :
1. Berupaya memberi pemahaman kepada semua stakeholder, untuk tenaga pendidik dan tenaga kependidikan melalui workshop, seminar, pelatihan dan parenting secara berkala. Mengikuti workshop atau kegiatan yang diadakan oleh Sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten, Dinas Pendidikan Provinsi serta dari lembaga lainnya. Untuk siswa regular melalui sosialisai, untuk satpam (security), petugas kantin (penjual makanan minuman) dan petugas kebersihan (cleaning servis) melalui pembicaraan secara personal dan untuk wali murid melalui pertemuan secara berkala dengan kepala sekolah atau yang mewakili, tim inklusif dan GPK. Melibatkan guru, komite, wali murid dan masyarakat dalam membuat program-program sekolah sehingga tujuan pendidikan inklusif dapat tercapai. Langkah awal yaitu memberikan sosialisasi tentang layanan kepada anak berkebutuhan khusus utamanya anak dengan hambatan autis.
2. Dalam pelaksanaannya pendidikan inklusi di sekolah umum (regular) berupaya memberikan fasilitas untuk anak berkebutuhan khusus salah satunya dengan mengintegrasikan kurikulum pendidikan umum dengan sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa pendidikan yang diberikan untuk anak autis yaitu secara akademik maupun nonakademik. Maka pelaksanaannya harus menerapkan manajemen waktu pembelajarannya, artinya secara khusus menggunakan jam pembelajaran akademik untuk pelaksanaan nonakademik yang dilakukan di ruang sumber. Misalnya dalam 1 minggu mengambil waktu 2 – 4 jam untuk pelaksanaan pembelajaran nonakademik atau bisa juga dilaksanakan di luar jam pembelajaran menyesuaiakan situasi dan kondisi.
3. Berupaya mengembangkan minat dan bakat peserta didik berkebutuhan khusus utamanya anak dengan hambatan autis sehingga dapat meraih berprestasi yang dilakukan di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah bisa dilakukan di kelas, di ruang sumber, dan di halaman sekolah, mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh sekolah (misalnya pentas seni, lomba-lomba memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, lomba memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW) , sementara di luar sekolah mengikuti kegiatan pameran, peringatan hari disabilitas, mengikuti jalan sehat dan pentas seni, mengikuti Internasional Hearing Day Autism Awareness day oleh UPTD Anak Berkebutuhan Khusus sampai mengikuti out bound yang dilaksanakan oleh tim inkluisf.
Melalui implementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan team work untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusi, hasil yang telah dicapai yaitu sebagai berikut :
1. Melalui upaya-upaya tersebut di atas maka hasil implementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan team work untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusi dapat meningkatkan prestasi anak berkebutuhan khusus dengan hambatan autis baik prestasi akademik maupun nonakademik. Khususnya nonakademik anak-anak autis sering tampil di event-event baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah, hal ini menjadikan kebahagiaan tersendiri bagi pendidiknya khususnya team inklusi.
2. Terciptanya budaya Inklusi di sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusi dengan saling membantu dalam memberikan layanan untuk anak berkebutuhan khusus.
3. Mewujudkan layanan yang optimal sehingga penyelenggaraan pendidikan inklusi yang menghargai keberagaman dan tidak diskriminasi dapat terlaksana sesuai harapan.
4.Membangun nilai-nilai positif bagi semua warga sekolah sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif sehingga ikut peduli dan berempati dalam memberikan layanan untuk anak berkebutuhan khusus utamanya anak autis.
5. Melalui “manajemen strategi berbasis pembiasaan team work“ diharapkan mampu memberikan peran dan layanan bagi peningkatan prestasi anak berkebutuhan khusus utamanya anak dengan hambatan autis yang menempuh pendidikan di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa impelementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan team work untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif
dapat mencapai salah satu tujuan pendidikan inklusif, yaitu :
1. Dengan manajemen strategi dimana terdapat beberapa tahapan mulai dari perencanaan, pemantauan, analisis, dan evaluasi berkelanjutan diharapkan suatu organisasi dapat mencapai tujuan yang sudah dirumuskan bersama team.
2. Melalui pembiasaan teamwork, kebiasaan bekerja sama dalam satu team dapat menjalankan tugas yang ditentukan organisasi sesuai spesifikasi menjadi faktor penting dalam mencapai kinerja seseorang yang efektif. Dengan bekerja secara teamwork setiap organsasi mampu mencapai tujuan yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu.
3. Dengan implementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif dapat memberikan layanan yang optimal sehingga dapat meningkatkan prestasi anak autis baik prestasi akademik maupun nonakademik, terciptanya budaya inklusif di sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, mewujudkan layanan yang optimal untuk anak berkebutuhan khusus, membangun nilai-nilai positif bagi semua warga sekolah sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dan mampu memberikan peran dan layanan bagi peningkatan prestasi anak berkebutuhan khusus utamanya anak dengan hambatan autis.
Impelementasi manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif membawa manfaat yang besar bagi terciptanya peningkatan pelayanan dan budaya integrasi di sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Dengan mengimplementasikan manajemen strategi berbasis pembiasaan team work untuk meningkatkan prestasi anak autis di sekolah inklusif, maka akan tercipta lingkungan yang inklusif, saling menghargai dan mencintai. Sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif perlu terus mengasah diri untuk penyempurnaan-penyempurnaan dalam memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus utamanya anak autis. Disarankan sekolah atau organisasi penyelenggara pendidikan inklusif lainnya dapat mengambil manfaat dari nilai positif dan bimbingan berharga dalam menerapkan manajemen strategi berbasis pembiasaan teamwork sebagai motivator untuk meningkatkan prestasi anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis, baik secara akademik maupun non-akademik.
M. Irvan, “Implementasi pendidikan inklusif sebagai perubahan paradigma pendidikan di Indonesia,” Buana Pendidikan: Jurnal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, vol. 15, no. 27, pp. 67–78, 2019, doi: 10.36456/bp.vol15.no27.a1790.
A. Amka, “Inclusive education for special needs students,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 4, pp. 86–101, 2019.
R. Rahman, S. Sirajuddin, Z. Zulkarnain, and S. Suradi, “Prinsip, implementasi dan kompetensi guru dalam pendidikan inklusi,” Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, vol. 9, no. 2, pp. 1075–1082, 2023.
N. Amalia and F. Kurniawati, “Studi literatur: Peran guru pendidikan khusus di sekolah inklusi,” Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, vol. 7, no. 2, p. 361, 2021, doi: 10.33394/jk.v7i2.3730.
I. Hifsy, Firman, and Neviyarni, “Implementasi manajemen bimbingan dan konseling (POAC) untuk pelayanan bimbingan konseling yang efektif,” Education & Learning, vol. 2, no. 2, pp. 74–78, 2022, doi: 10.57251/el.v2i2.386.
N. Wijayanti and F. A. Wicaksana, “Implementasi fungsi manajemen George R dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan,” Jurnal Cerdik: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, vol. 3, no. 1, pp. 30–43, 2023, doi: 10.21776/ub.jcerdik.202.
D. Suarditini, P. D. Jasmine, T. Setiawan, and R. A. Pratama, “Implementasi manajemen strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan (studi pada SMAS Widya Nusantara, Bekasi),” Jurnal Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis: Cuan, vol. 1, no. 2, pp. 82–97, 2023, doi: 10.59603/cuan.v1i2.15.
M. Fadhli, “Implementasi manajemen strategik dalam lembaga pendidikan,” Continuous Education: Journal of Science and Research, vol. 1, no. 1, pp. 11–23, 2020, doi: 10.51178/ce.v1i1.7.
J. Jasmana, “Menanamkan pendidikan karakter melalui kegiatan pembiasaan di SD Negeri 2 Tambakan Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan,” ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 4, pp. 164–172, 2021, doi: 10.51878/elementary.v1i4.653.
F. Nurkholisah, T. W. Khusniyah, and Y. M. L. Malaikosa, “Efektivitas pendidikan karakter melalui metode pembiasaan siswa SD Negeri Tungkulrejo Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi,” JRPD (Jurnal Riset Pendidikan Dasar), vol. 5, no. 1, pp. 26–33, 2022.
S. Suharjo, T. Tabrani, A. Shabri, and M. Maspan, “Teamwork pelaksanaan pendidikan Islam,” Sultra Educational Journal, vol. 2, no. 3, pp. 229–236, 2022, doi: 10.54297/seduj.v2i3.421.
A. A. Fadillah et al., “Team work dalam kinerja guru,” Jurnal Riset Pendidikan dan Pengajaran, vol. 1, no. 1, pp. 64–69, 2022, doi: 10.55047/jrpp.v1i1.211.
J. Marpaung, “Pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa,” KOPASTA: Jurnal Program Studi Bimbingan Konseling, vol. 2, no. 2, pp. 13–17, 2016, doi: 10.33373/kop.v2i2.302.
R. Riki and K. Kusno, “Analisis motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika,” PHI: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 7, no. 2, p. 135, 2023, doi: 10.33087/phi.v7i2.269.
D. Septia, L. Mauliani, and Anisa, “Pengaruh perilaku anak berkebutuhan khusus terhadap desain fasilitas pendidikan: Studi kasus bangunan pendidikan anak autis,” Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016, vol. 2, no. November, p. 1, 2016.
Fitriyani, K. Z. Putro, Imroatun, and M. Huliyah, “Pola komunikasi guru dengan anak autis di Sekolah Khusus Fauzan,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 8, no. 2, pp. 146–154, 2023.
R. Dewi, Inayatillah, and R. Yullyana, “Pengalaman orangtua dalam mengasuh anak autis di Kota Banda Aceh,” Psikoislamedia Jurnal Psikologi, vol. 3, no. 2, pp. 288–301, 2018.
M. Musnaeni, “Pentingnya manajemen strategi dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, vol. 2, no. 2, pp. 98–104, 2022, doi: 10.51878/cendekia.v2i2.1168.
A. Zohriah and I. Farah Diba, “Pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen di lembaga pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan,” Journal on Education, vol. 6, no. 1, pp. 5449–5460, 2023.
R. P. Darmayanti, R. Fatmawati, and F. Nisa, “Fungsi manajemen organisasi pelayanan kemanusiaan dalam Yayasan Rehabilitasi Pecandu NAPZA ‘Sahabat Foundation’,” KAIS: Kajian Ilmu Sosial, vol. 3, pp. 72–81, 2022.
F. Siagian, “Pengaruh kerjasama tim terhadap kinerja pegawai di Akademi Maritim Cirebon,” Journal of Administration and Educational Management (ALIGNMENT), vol. 3, no. 1, pp. 20–26, 2020, doi: 10.31539/alignment.v3i1.1275.