Login
Section Innovation in Education

Muroja’ah Management Strategies For Toddler Quran Memorization Quality


Manajemen Muroja’ah Hafalan Al-Qur’an untuk Meningkatkan Standart Mutqin di Rumah Tahfidz Balita
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Fillah Audy Syahra Ramadhana (1), Imam Fauji (2)

(1) 1) Program Studi Magister Manajemen Pendidika Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) 1) Program Studi Magister Manajemen Pendidika Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Non-formal Islamic educational institutions such as Tahfidz houses focus specifically on Quranic memorization programs for children, where proper management functions are essential for structural success. Specific Background This study investigates muroja'ah management at Markaz al-Firdaus Toddler Tahfidz House in Sidoarjo, which incorporates planning, organizing, actuating, and controlling functions to maintain memorization quality. Knowledge Gap Although numerous children participate in Quranic memorization, maintaining high-quality retention (mutqin standards) among toddlers requires targeted administrative management frameworks that address early childhood developmental complexities. Aims This study aims to examine muroja'ah management and its implementation through planning, organizing, actuating, and controlling to improve mutqin standards in toddler Tahfidz houses. Results Utilizing a descriptive qualitative approach with observation, interviews, and documentation, the findings demonstrate that Markaz al-Firdaus successfully implements systematic POAC management—including target setting, method selection, task structuring, daily repetition schedules, weekly evaluations, and structured testing—ensuring memorization meets strict fluency and phonetic criteria without substandard scores during level examinations. Novelty This work details the practical application of Tabarak memorization methods combined with computerized audio-visual support systems and progressive evaluation milestones specifically adapted for toddler Quranic education. Implications These findings establish that integrating systematic administrative functions with structured repetition routines is vital for sustaining long-term Quranic retention and achieving high standards among young learners.


Highlights:




  • Muroja'ah management relies on comprehensive planning, organizing, actuating, and controlling frameworks to establish clear targets, schedules, and teacher task structures.




  • Daily repetition routines utilizing auditory media and weekly evaluations ensure students consistently reinforce previously memorized Quranic portions.




  • Mutqin standards are successfully verified through rigorous level-increase examinations assessing recitation fluency and correct phonetic articulation.




Keywords: Muroja’ah, Mutqin Standard, Toddler Tahfidz House, Quranic Memorization, Management

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Corak lembaga pendidikan di Indonesia ada Formal, non-Formal dan In-Formal. Sedangkan dalam konteks lembaga pendidikan Islam terdapat pesantren, madrasah dan sekolah. Lembaga pendidikan Islam merupakan sebuah tempat untuk melaksanakan pendidikan dalam ruang lingkup keislaman yang bersumber dari al-Qur’an atau ajaran-ajaran Islam. Pendidikan Islam formal bisa dari sekolah dan madrasah sedangkan pendidikan Islam non-formal salah satunya bisa dari Rumah Tahfidz yang mana pembelajarannya fokus untuk menghafal al-Qur’an. Sudah menjadi rahasia umum jika pada hari ini telah menjamur rumah tahfidz ataupun lembaga pendidikan yang menjadikan menghafal al-Qur’an sebagai program unggulan mereka [1]. Sedangkan dalam sebuah pendidikan harus ada manajemen pembelajaran, dalam manajemen pembelajaran aspek penting yang harus diperhatikan adalah Pertama, planning atau perencanaan, dalam perencanaan ini terdapat bentuk pemikiran dan penetapan kegiatan terkait hal-hal yang ingin dicapai. Kedua, Organizing atau mengatur, dalam pengorganisasian terdapat suatu proses pengelompokan atau menentukan suatu aktivitas yang diperlukan sehingga tercapainya tujuang yang telah dibuat. Ketiga, Actuating atau pelaksanaan, dalam tahap pelaksanaan ini maka proses manajemen dalam mencapai tujuan sudah dimulai. Dalam pelaksanaanya akan terdapat banyak sekali hal yang akan terjadi dan sangat komplek karena kegiatan ini dilakukan oleh makhluk hidup. Keempat, Controling atau evaluasi, pada tahap ini terdapat proses pengaturan berbagai faktor dan kegiatan akhir untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan telah mencapai tujuan [1]. Jika kita menarik hal tersebut kedalam ranah pendidikan Islam non-formal yang salah satunya Rumah Tahfidz maka yang harus dipersiapkan terlebih dahulu yaitu manajemen pembelajaran Rumah Tahfidz. Ketika manajemen pembelajaran telah terbentuk maka salah satu hal yang terfokus di Rumah Tahfidz adalah bagaimana para santri memiliki hafalan yang berkualitas. Maka dari itu diharuskan adanya manajemen muroja’ah agar dapat meningkatkan standart mutqin hafalan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu kelebihan Al-Qur'an adalah siapapun bisa menghafalnya, tidak ada kitab yang bisa dihafalkan seutuhnya seperti Al-Qur'an, mulai dari huruf, kata, panjang dan pendeknyapun sama seperti yang ada di kitab Al-Qur’an [2]. Dan salah satu cara Allah menjaga kesucian Al-Qur’an adalah dengan melalui para penghafal Al-Qur’an. Menghafal al-Qur’an merupakan suatu proses dalam menjaga dan memelihara al-Qur’an tanpa melihat mushaf dengan baik dan dalam hal ini terdapat beberapa syarat dan tata cara yang telah ditentukan [3]. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hijr ayat 9:

Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi, dan Kami akan memeliharanya dari segala perubahan sampai hari kiamat.

Dari firman Allah SWT diatas sudah jelas bahwa Allah SWT sendirilah yang akan menjaga kesucian dan kemurnian al-Qur’an. Sebagai penghafal al-Qur’an, dalam upaya untuk menjaga hafalan al-Qur’an yang dimiliki maka terdapat manajemen muroja’ah yang harus dilaksanakan. Seperti yang di jelaskan diatas mengenai manajemen pembelajaran maka G.R Terry juga menyebutkan bahwa menejemen merupakan sebuah proses dari tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan [4]. Sedangkan secara estimologi muroja’ah berasal dari kata rooja’a-yurooji’u-muroja’atan yang artinya mengulang-ulang kembali [5], sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen muroja’ah merupakan sebuah tindakan yang terdapat perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dalam mengulang-ulang hafalan yang telah ditentukan. Tetapi hal yang banyak terjadi dilapangan atau permasalahan yang ditemukan oleh para penghafal al-Qu’an ialah tidak bisa menjaga hafalan yang sudah dimiliki agar dapat menjadi hafalan yang mutqin. Untuk menentukan anak tersebut sudah hafal dengan baik maka terdapat standart mutqin yang harus dimiliki. Menurut teori yang disampaikan oleh Abu Nizhan dalam bukunya yang berjudul Buku Pintar Al-Qur’an bahwa hafalan yang mutqin merupakan hafalan yang berkualitas dan dapat dibacakan kapan dan dalam keadaan apapun atau biasa disebut dengan hafalan di luar kepala. Beliau juga menjelaskan bahwa terdapat tiga indikator hafalan tersebut dikatakan mutqin yaitu ketepatan dalam hal tajwid, fashohah dan kelancaran hafalan. [6]. Maka dapat disimpulkan bahwa hafalan seseorang dapat dikatakan memenuhi standart mutqin jika telah memenuhi tiga indikator terebut. Sehingga dibutuhkannya manajemen muroja’ah agar dapat membantu dalam menjaga hafalan yang telah mereka miliki.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M. Ikhwadun dan Asmaul Husna yang mana penelitiannya dilaksanakan di pondok pesantren menjelaskan bahwa ada beberapa cara muroja’ah yang dapat dilakukan yaitu membaca dengan melihat al-Qur’an, mengulang hafalan dengan di simak oleh teman sebaya atau dengan mendengarkan murotthal para masyayikh sesuai dengan Juz atau surat yang sedang dihafal [7]. Selaras dengan penelitian tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Meirani Agustina dkk menjelaskan bahwa jika dalam pesantren, menghafal al-Qur’an mengandalkan guru pembimbing untuk dapat membantu mereka menyimak hafalan mereka dan menggunakan mushaf khusus menghafal [8]. Penelitian lain yang dilakukan oleh Annisa Nurul M dan Ayyub Iffandi I juga menyebutkan komunikasi dengan orang tua merupakan hal utama yang dapat menjadi batu loncatan untuk siswa agar dapat memiliki hafalan dengan baik. Kerjasama antara siswa, orang tua dan sekolah yang baik dapat meningkatkan prestasi menghafal siswa yaitu dengan seringnya mengulang hafalan dengan pendampingan orang tua [9]. Jika ditinjau dari aspek psikologi, menghafal merupakan sebuah aktifitas atau sebuah proses untuk mengingat sesuatu dalam memori. Memori sendiri berfungsi untuk mengolah informasi yang telah diterima. Pada proses mengafal ini terdapat 3 tahapan yang dimiliki oleh memori yaitu merekam, menyimpan, dan memanggil. Encoding atau merekam merupakan proses mencatat sesuatu melalui reseptor atau indra dan syaraf internal. Selanjutnya terdapat proses mencatat informasi yang yang di simpan dalam storage memory, proses penyimpanan ini merupakan proses yang sangat menentukan proses senjutnya yaitu proses pemanggilan atau retrieval, yaitu sebuah proses yang dilakukan untuk mengungkapkan kembali informasi-informasi yang dimiliki [10]. Senada dengan teori diatas, Ida Husnurrahmawati dan Fathin Masyhud menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Rahasia Sukses 3 Hafizh Cilik Mengguncang Dunia bahwa dalam menghafal terdapat empat tahapan hafalan masuk dalam akal kita yaitu pertama, Talaqqi merupakan proses ketika akal menerima bacaan, kedua, Ad-Dzakiroh Al-Khorijiyah merupakan proses ketika akal mulai menangkap dan mulai hafal bacaan tersebut, ketiga, Ad-Dzakiroh Ad-Dhakhiliyah merupakan proses bacaan telah kita hafal tatapi kadang lupa, dan keempat, Al-‘Umqul Batin merupakan proses menetapnya hafalan dialam bawah sadar sehingga hafalan yang seperti ini sudah dikatakan hafalan yang mutqin [11]. Hal ini menunjukan bahwa menghafal tidak bisa lepas dari muroja’ah, menurut Wade dan Tavris apabila seseorang kurang mengakses sebuah informasi yang telah berada dalam memorinya, maka yang terjadi memori tersebut akan hilang [12]. Hal tersebut bisa terjadi kepada para penghafal al-Qur’an jika mereka kurang dalam hal muroja’ah.

Dari beberapa penelitian terdahulu diatas menjelaskan bagaimana muroja’ah dilaksanakan didalam pesantren yang notabenya merupakan anak remaja sampai anak dewasa tetapi beda halnya jika penghafal al-Qur’an ini anak balita. Penangan untuk hafalan anak balita lebih kompleks sehingga dibutuhkan banyak pendampingan dan manajemen muroja’ah yang sesuai dengan mereka sehingga peneliti ingin meneliti mengenai manajemen muroja’ah untuk meningkatkan standart mutqin di Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus Candi Sidoarjo. Penelitian ini akan memfokuskan pada manajemen muroja’ah di Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus yang meliputi perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing), pelaksanaan (Actuating), dan pengendalian atau evaluasi (Controling). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam bagaimana para balita menghafal dan memuroja’ah hafalan yang telah mereka miliki, tidak hanya diperuntukan kepada para balita namun juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi para penghafal al-Qur’an yang ingin memiliki hafalan yang lebih berkualitas. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan dampak perubahan pada perkembangan hafalan para penghafal al-Qur’an sehingga target yang ditetapkan juga tercapai dengan maksimal.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan data kualitatif atau jenis penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif berupa tulisan, perkataan dan perilaku dari subjek yang diamati dalam penelitian tersebut [13]. Subjek dalam penelitian ini adalah santri dan pembimbing Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus Ngampelsari – Candi – Sidoarjo. Penelitian ini memaparkan hasil yang diperoleh mengenai manajemen muroja’ah yang dilaksanakan oleh santri Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan arsip yayasan [14]. Jika informasi telah didapatkan maka akan dilakukan analisis dengan menggunakan konsep pendekatan Miles dan Huberman yaitu dengan melakukan telaah yang mendalam terhadapa informasi-informasi yang ditemukan dilapangan, selanjutnya akan diadakan reduksi data, kemudian peneliti memilih dan memilah informasi yang sesuai dengan fokus penelitian. [15]. Sedangkan kegiatan analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini ialah teknik analisis domain. Teknis analisis domain merupakan salah satu teknik analisis data kualitatif yang berguna untuk mencari gambaran umum dari masalah penelitian. Hasil penelitian yang didapatkan jika menggunakan teknis analisis domain ialah mendeskripsikan sebuah fenomena atau fakta yang sedang diteliti.[16]. Untuk menggambarkan hasil penelitian yang lebih jelas dan terstruktur, peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian dengan melakukan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan [17]

III. Hasil dan Pembahasan

Proses perkembangan dalam sebuah lembaga pendidikan hendaknya dapat mengikuti alur yang ada di lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal. Fleksibilitas tersebut menjadikan lembaga pendidikan tidak kaku dan dapat mengikuti perkembangan zaman demi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Pengetahuan dalam sebuah lembaga pendidikan diperlukan guna terlaksananya strategi dan manajemen. Pengetahuan dapat tercipta melalui interaksi antar individual pada berbagai level didalam lembaga tersebut. Lembaga pendidikan tidak dapat menciptakan pengetahuan tanpa peran setiap individu, kenyataan telah menunjukkan jika pengetahuan individu yang tidak dibagi dengan yang lain maka individu mempunyai keterbatasan pada dampak efektivitas lembaga pendidikan, sehingga pendekatan dapat membantu dalam memahami apa yang atasan lakukan, yaitu dengan menganggap pekerjaan seperti sebuah proses. Proses adalah serangkaian tindakan untuk mencapai sesuatu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan maka atasan akan menggunakan sumber daya yang ada dan melaksanakan empat fungsi manajerial utama, yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controling). Fungsi POAC dalam sebuah lembaga pendidikan yaitu untuk meningatkan efektifitas dan efisiansi lembaga pendidikan dalam mencapai tujuan. Berikut pemaparan singkat dari setiap bagian POAC:

a. Planning

Planning merupakan sebuah pengaturan dalam mencari cara agar tercapainya tujuan yang telah dibuat. Planning juga menjadi fungsi utama dalam manajemen dan merupakan hal yang sangat penting karena banyak berperan dalam menggerakan fungsi manajemen yang lain.

b. Organizing

Organizing merupakan sebuah proses dalam memastikan kebutuhan sumber daya yang tersedia untuk menjalankan rencana dan mencapai tujuan yang berhubungan dengan lembaga tersebut.

c. Actuating

Actuating merupakan peran manajer untuk mengarahkan para anggota agar sesuai dengan tujuan lembaga. Actuating juga merupakan implementasi rencana menjadi sebuah tindakan.

d. Controlling

Controlling merupakan evaluasi atau penentu apakah rencana awal perlu direvisi dengan melihat hasil dari kinerja sebelumnya.[18]

Setelah melihat sedikit pemaparan mengenai pengertian POAC maka berikut merupakan hasil dari penelitian penulis mengenai Manajemen Muroja’ah Hafalan al-Qur’an untuk Meningkatkan Standart Mutqin di rumah Tahfidz Balita dengan menggunakan analisis POAC.

1. Pencanaan Manajemen Muroja’ah Hafalan al-Qur’an di Rumah Tahfidz al-Firdaus Sidoarjo

Markaz al-Firdaus merupakan Rumah Tahfidz Balita yang bernaung di bawah naungan Yayasan Markaz al-Firdaus Internasional. Markaz ini merupakan rumah tahfidz yang fokus pada pembelajaran al-Qur’an dan bahasa Arab. Markaz ini di pimpin oleh Ustadz. Fathin Masyhud Lc, MHI, MA dan Ustadzah Ida Husnurrahmawati, Lc, MHI. Bertempat di Perumahan Taman Candiloka Blok. H2 No. 11 Ngampelsari Candi Sidoarjo. Program tahfidz yang dilaksanakan di Markaz ini ditujukan bagi balita dengan rentan umur 3 sampai 7 tahun. Program tahfidz balita ini terdiri dari 7 level pembelajaran dengan setiap level ditempuh selama 4-6 bulan.

Dalam pelaksanaannya program tahfidz balita di Markaz al-Firdaus Sidoarjo menggunakan metode Tabarak atau dikenal dengan metode muroja’ah. Metode ini ditemukan oleh Dr. Kameel el Laboody seorang dosen lulusan Lecesseter University Inggris dari Tanta - Mesir yang telah berhasil menjadikan ketiga putranya menjadi hafidz 30 juz pada usia yang masih belia. Metode Tabarak sendiri dilakukan dengan mentalqinkan atau melafalkan bacaan yang akan dihafalkan oleh anak-anak dan mereka harus menyimak dengan seksama kemudian anak-anak menirukan bacaan tersebut. Metode Tabarak adalah metode yang bertujuan untuk memanfaatkan dan memberdayakan kemampuan anak secara optimal untuk menghafalkan al-Qur’an secara sempurna disertai dengan tajwidnya. Metode ini dilakukan dengan menggabungkankan metode menghafal yang umum dipakai yakni metode talqin, tasmi’, dan muraja’ah. Keunggulan metode ini yaiu dengan menggunakan media komputer sebagai alat penunjang hafalan yang mana nanti sudah ada video talqin dari Dr. Kameel dan video lainnya untuk menunjang muroja’ah para santri. Selain itu, para santri juga dibekali dengan beberapa media untuk menunjang muroja’ah di rumah seperti speaker yang telah dilengkapi dengan murottha para masyayikh dunia agar dapat mereka dengarkan di rumah dan juga ada aplikasi program ayat yang dapat di putar laptop untuk para santri gunakan saat para santri muroja’ah. Berdasarkan temuan di lapangan mengenai perencanaan di Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus Sidoarjo sebagai berikut:

Waktu menghafal para santri berkisar 4-6 bulan. Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus mengambil rentan waktu 6 bulan dalam 1 level, dalam 1 level terdapat 2 semester yaitu 3 bulan pertama semester awal dan 3 bulan terakhir semester akhir. Dalam rentan waktu 3 bulan pertama mereka akan fokus dengan hafalan-hafalan baru di 1,5 bulan dan 1,5 bulan selanjujutnya fokus muroja’ah. Misal pada level 1 yang menghafal Juz 30 maka akan dibagi 2 semester, yang semester pertama di 1,5 bulan menghafal dari surat an-Naba’ sampai al-Fajr dan 1,5 bulan akhir mereka muroja’ah surat tersebut kemudian akan diadakan ujian awal semester. Pada semester selanjutnya mereka akan menghafal dari surat al-Balad sampai an-Nas dengan pembagian waktu sama seperti diatas. Untuk level 2 yang menghafal Juz 29 maka di semester awal menghafal surat al-Mulk sampai Nuh dan di semester selanjutnya menghafal surat al-Jin sampai al-Mursalat.

Pembagian setiap level dapat dilihat pada kolom berikut:

Tabel 1. Pembagian level

2. Pengorganisasian Manajemen Muroja’ah Tahfidz al-Qur’an di Rumah Tahfidz Balita al-Firdaus Sidoarjo

Pengorganisasian merupakan suatu kegiatan dengan membagikan tugas yang akan dilaksanakan. Pengorganisasian Markaz al-Firdaus dimulaia dengan adanya 11 pengajar yang terbagi di level 1 ada 2 guru, level 2 ada 1 guru, level 3 ada 1 guru, level 4 ada 1 guru, level 5 ada 1 guru level 6 ada 1 guru, level 7 ada 2 guru dan level tasbit ada 2 guru. Untuk level 1 diberikan 2 guru karena umur mereka yang masih belia dan membutuhkan pendampingan disaat akan ke kamar mandi atau pun mereka sedang rewel. Jika di level tinggi dibutuhkan 2 guru karena untuk menyimak setoran mereka yang sudah lebih dari 10 Juz.

Para ustadzah di beri tugas untuk tetap mendampingi para santri agar istiqomah dalam muroja’ah hafalan yang dimiliki dan juga diharuskan untuk mendidik dan membimbing para santri dalam proses pembelajaran. Pengorganisasian di Markaz al-Firdaus dilakukan secara sistematis agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Para ustadzah diharuskan untuk selalu kompak agar dapat megendalikan para siswa agar lebih terarah. Mekanisme pembelajaran (muroja’ah) di Markaz al-Firdaus terdapat beberapa tahapan yaitu, Pertama, seluruh santri level 1 diharuskan sudah menghafal dari surat al-Qori’ah sampai an-Nas dan sudah mengenal huruf Hijaiyyah. Untuk level 2 diharuskan sudah hafal Juz 30 dan mulai membaca huruf bersambung. Kedua, level 1 memulai hafalan dari surat an-Naba’ yang mana dihafalkan dalam waktu satu minggu, begitu juga untuk surat-surat selanjutnya. Untuk level 2 memulaihafalan dari surat al-Mulk yang juga dihafalkan dalam waktu 1 minggu, begitu juga untuk surat selanjutnya. Ketiga, mulai menghafal dengan metode Tabarak dan menyetorkan hafalan tersebut setiap akhir pekan ke masing-masing ustadzah.

3. Pelaksanaan Manajemen Muroja’ah Tahfidz al-Qur’an di Markaz al-Firdaus Sidoarjo

Proses pembelajaran Tahfidz al-Qur’an di Markaz al-Firdaus tidak luput dari peran para ustadzah yang telah bersiap untuk menyambut para santri yang akan datang untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran di Markaz al-Firdaus dimulai pukul 06:30 – 12:00 WIB. Pelaksanaan pembelajaran sendiri yang meliputi pengelolaan kelas dan kegiatan pembelajaran akan diurai sebagai berikut:

Pengelolaan kelas merupakan usaha yang dilakukan guru atau ustadzah secara optimal agar tercapainya tujuan kegiatan belajar mengajar yang diinginkan. Dalam pelaksanaannya para guru atau ustadzah dapat mengarahkan para santri agar menaati tata tertib yang sudah di buat, salah satunya yaitu tidak boleh tidak boleh terlambat masuk kelas tanpa ijin dan setelah dikelas diharuskan untuk duduk dengan tenang. Jika mulai mengantuk maka para ustadzah harus dapat mengalihkan agar santri tidak tidur seperti menyuruh santri untuk membasuh muka atau berdiri.

Kegiatan pembelajaran ini terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan terlebih dahulu akan diadakan dzikir pagi, membaca Asmaul Husna, membaca Matan Tuhfatul Athfal dan Sholat Dhuha. Setelah itu para santri masuk ke kelas UMMI masing-masing untuk belajar membaca jilid dan al-Qur’an. Setelah kelas membaca UMMI selesai maka para santri masuk ke level nya masing-masing dan pembelajaran akan segera dimulai. Sedangkan untuk pembelajaran level 2 sedikit berbeda dengan level 1.

Sama halnya dengan level 1, di level 2 hanya menghafal ayat-ayat yang lebih panjang. Untuk level 2 telah tertulis materi pembelajaran di dalam mutaba’ah atau buku penghubung sehingga para orang tua bisa langsung mengetahui materi apa saja yang telah anaknya pelajari di hari tersebut.

  • Menentukan Target Hafalan
  • Pengelolaan Kelas
  • Kegiatan Pembelajaran
  • Manajemen Muroja’ah Tahfidz al-Qur’an di Markaz al-Firdaus Sidoarjo

Setelah target dan pelaksanaan pembelajaran terlaksana dengan baik maka akan ada pekan muroja’ah. Penulis lebih memfokuskan manajemen muroja’ah untuk level 2 dengan materi menghafal Juz 29.

Pada pekan pertama maka para santri sudah mulai muroja’ah surat al-Mulk. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Markaz al-Firdaus menggunakan komputer sebagai media pembelajaran maka pada pekan muroja’ah para ustadzah akan memutarkan program ayat. Pada program ayat telah di setting setiap ayatnya diputar paling sedikit 3X dan diputar sebanyak 10-20 putaran sesuai dengan waktu yang ada. Pada bagian ini akan menggunakan murotthal dari Syaikh Mahmud Khalil Al-Husshary (17 September 1917– 24 November 1980), hal ini dilakukan karena murotthal ini dilantunkan dengan sangat lambar sehingga para santri dapat mendengar dengan jelas setiap hurufnya, para santri juga dianjurkan untuk mengikuti setiap bacaan dari para masyayikh. Setelah itu, para ustadzah akan memutarkan murotthal Prof. Syekh Saud bin Ibrahim bin Muhammad Al-Syuraim, Ph.D, diputarnya murotthal ini bertujuan agar para santri dapat menggabungkan dari ayat satu ke ayat selanjutnya karena murotthal ini memiliki speed lebih cepat dari sebelumnya.

Contoh Pekan Muroja’ah Level 2

Tabel 2. Pekan Muroja’ah Level 2

Untuk menunjang muroja’ah para santri di rumah maka setiap anak telah di bekali dengan speaker al-Qur’an yang berisi murotthal para masyayikh sehingga dapat memudahkan para santri untuk muroja’ah. Tidak hanya itu, Markaz al-Firdaus juga membekali santrinya dengan sebuah program yang disebut dengan Program Ayat. Program ini dapat di install melalui laptop dan dapat diputar setiap ayatnya sesuai dengan kebutuhan santri tersebut. Program Ayat ini juga dilengkapi dengan murotthal para masyayikh dunia. Untuk muroja’ah sendiri Markaz al-Firdaus menganjurkan menggunakan murotthal dari syaikh Suraim yang berirama lebih cepat karena dapat membantu para santri menggabungkan ayat satu ke ayat selanjutnya. Markaz juga membekali para santri dengan speaker yang telah dilengkapi dengan murotthal para masyayikh dunia agar dapat mereka dengarkan di rumah. Markaz al-Firdaus juga membekali setiap siswa muthaba’ah atau lembar tugas yang harus di isi oleh para wali santri guna memudahkan mengontrol materi apa yang di ajarkan hari ini dan tugas apa yang harus di lakukan di rumah. Mengingat para santri masih sangat belia sehingga dibutuhkan pendampingan oleh kedua orang tua di rumah. Pendampingan ini tidak hanya diperuntukan ketika santri sedang muroja’ah saja tetapi juga ketika para santri akan memulai muroja’ah karena untuk menggunakan Program Ayat atau speaker al-Qur’an harus di atur terlebih dahulu.

4. Evaluasi Muroja’ah Hafalan Tahfidz Al-Qur’an di Markaz al-Firdaus Sidoarjo

Sedangkan untuk evaluasi pembelajaran di Markaz al-Firdaus Sidoarjo yaitu dilakukan dengan cara melihat hasil belajar santri dan kemampuan yang dimiliki santri. Hal ini dilakukan dengan menentukan indikator terlebih dahulu yang mana telah dirancang oleh pihak Markaz al-Firdaus. Untuk melihat kemampuan santri disesuaikan dengan kelasnya masing-masing. Adapun untuk level 1 kemamampuan yang harus di capai yaitu bisa membaca huruf Hijaiyyah, hafal 30 do’a harian, hafal bait 1 dan 2 matan Tuhfatul Athfal dan mengahafal juz 30. Untuk level 2 dapat membaca huruf hijaiyyah sambung, mengetahui ilmu tajwid, menghafal 50 do’a harian, menghafal bait 1-5 matan Tuhfatul Athfal dan menghafal Juz 29. Selama proses pembelajaran berlangsung, para santri dibimbingan oleh para ustadzah untuk terus memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan terus menambah hafalannya. Jika masih ada santri yang belum lancar maka akan ada penanganan dari wali kelas akan memberikan waktu tambahan untuk men-talqinkan atau membacakan secara mandiri ayat-ayat yang belum dihafal. Bimbingan yang diberikan ustadzah tidak dibedakan atau dikelompokan, melainkan sama terhadap semua santri yang berada di Markaz al-Firdaus.

Dalam memaksimalkan kontrol hafalan para santri maka dilakukan dilakukan setoran setiap minggunya. Ketika santri sudah menghafal 1 surat maka surat itu yang disetor, begitu juga dengan surat-surat selanjutnya. Akan diadakan rapat pekanan untuk para ustadzah agar dapat melaporkan pencapaian hafalan para santri kepada direktur. Selain kepada direktur, para ustadzah juga melaporkan hal tersebut kepada wali santri akan dapat mendampingi para santri di rumah untuk muroja’ah. Selain setoran mingguan, markaz al-Firdaus juga mengadakan ujian triwulan agar dapat mengetahui apakah para santri sudah menghafal materi pada awal semester ataupun materi akhir semester.Selain ditargetkan dalam hal hafalan terdapat juga indikator-indikator yang harus diperhatikan saat hafala, indikator atau penilaian inilah yang digunakan dalam peningkatan standart mutqin hafalan santri. Ada beberapa indikator yang ditetapkan seperti kelancaran dalam menghafal yang sesuai dengan makhorijul huruf, kemudian dalam setiap surat akan diberikan 3 pertanyaan, jika dalam 3 pertanyaan tersebut tidak adanilai yeng dhoif atau kurang maka santri dapat melanjutkan hafalan ketarget selanjutnya. Berikut standart mutqin dari beberapa lembaga pendidikan yang sudah penulis rangkum dalam tabel penelitian:

Tabel3. Standart Mutqin

Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa setiap lembaga pendidikan memiliki standart kualitas hafalan yang berbeda-beda, sehingga sudah sepatutnya untuk setiap lembaga dapat mengevaluasi pembelajaran sehingga akan ada rencana-rencana baru yang dapat diterapkan sehingga mampu memberikan dampak yang postif dalam peningkatan kualitas hafalan santri.

IV. Simpulan

Penelitian ini membahas tentang manajemen muroja’ah di Rumah Tahfidz Balita. Setelah dilakukannya observasi dan wawancara dengan direktur Markaz al-Firdaus ditemukan data dilapangan bahwa Markaz al-Firdaus menerapkan metode Tabarak dalam menghafal sedangkan dalam manajemen muroja’ah di rumah tahfidz balita menerapkan manajemen POAC (planning, organizing, actuating dan controling). Planning yang dilakukan yaitu dengan menentukan target hafalan terlebih karena terdapat 7 level di Markaz al-Firdaus maka dalam 30 Juz terbagi menjadi 7 bagian. Selanjutnya, Organizing yaitu dengan memberikan para ustadzah tugas di setiap masing-masing level sehingga dapat bekerja dengan maksimal. Untuk Actuating yaitu dengan mengulang kembali hafalan yang telah dimiliki setiap akan memulai pembelajaran dan memutarkan murotthal Syaikh Mahmud Khalil Al-Husshary yang bernada pelan agar anak dapat menghafal dan melafalkan setiap huruf dengan tepat dan memutar murotthal Prof. Syekh Saud bin Ibrahim bin Muhammad Al-Syuraim dengan nada cepat agar para santri bisa menggabungkan ayat satu ke ayat selanjutnya. Dan terakhir Controling yaitu dengan mengadakan setor hafalan disetiap minggunya dan mengadakan ujian setiap triwulan. Sedangkan pada tahap hafalan tersebut dapat dikatakan mutqin jika santri telah melalui ujian dalam memenuhi target hafalan pada setiap level yang telah teruji oleh para ustadzah dengan beberapa indikator yaitu kelancaran hafalan dangan disertai makhorijul huruf yang tepat dan tidak ada nilai dhoif atau kurang saat ujian kenaikan level. Tetapi, perlu dipahami bersama bahwa hafalan yang mutqin dibutuhkan waktu dan proses yang panjang sehingga bagi para penghafal al-Qur’an agar selalu mengulang-ulang hafalan yang dimiliki agar dapat tertanam dalam alam bawah sadarnya.

V. Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para dosen yang telah membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penelitian ini baik secara tenaga maupun gagasan-gagasan yang mendukung terciptanya penlitian ini. Kepada pihak Yayasan al-Firdaus selaku tempat penelitian dan juga kepada para fasilitator yang telah membantu dalam melengkapi data-data yang penulis butuhkan, kami ucapkan terimakasih.

References

M. Penghafal and A. A. N. Yang, “Manajemen tahfidz al-qur’an dalam membentuk penghafal al-qur’an yang mutqin,” vol. 02, no. 03, pp. 1002–1010, 2023.

A. Sopyan and N. Hanafiah, “Pembiasaan Muroja’ah Untuk Meningkatkan Hafalan Al-Qur’an,” vol. 1, no. 2, pp. 100–105, 2022.

T. Kartika, “Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an Berbasis Metode Talaqqi,” J. Isema: Islam. Educ. Manag., vol. 4, no. 2, pp. 245–256, 2019, doi: 10.15575/isema.v4i2.5988.

B. S. Nasution, “Manajemen Dalam Perspektif Al-Qur’an (Kajian Tafsir),” Al Fawatih: J. Kaji. Al-Qur’an dan Hadis, vol. 2, no. 2, pp. 44–63, 2021.

W. Astuti and S. Watini, “Implementasi Pendidikan Al-Qur’an pada Anak Usia Dini dengan Metode Muroja’ah,” PAUD Lectura: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 5, no. 1, pp. 86–95, 2021, doi: 10.31849/paud-lectura.v5i02.7711.

S. I. Afidah and F. S. Anggraini, “Implementasi Metode Muraja’ah dalam Peningkatan Kualitas Hafalan Al-Qur’an di Pondok Pesantren Amanatul Qur’an Pacet Mojokerto,” Al-Ibrah: J. Pendidik. dan Keilmuan Islam, vol. 7, no. 1, 2022.

M. Ikhwanuddin and A. Husnah, “Penerapan Metode Tikrār Dalam Menghafal Al-Quran,” Tasyri’: J. Tarbiyah-Syari’ah-Islamiyah, vol. 28, no. 1, pp. 15–29, 2021, doi: 10.52166/tasyri.v28i1.112.

M. Agustina, N. Yusro, and S. Bahri, “Strategi peningkatan minat menghafal Al-Quran santri di Pondok Pesantren Ar-Rahmah Curup,” Didaktika: J. Kependidikan, vol. 14, no. 1, pp. 1–17, 2020.

I. A. Mardhiyah and A. I. Imran, “Motivasi Menghafal Al-Qur’an pada Anak melalui Komunikasi Interpersonal,” Nyimak: J. Commun., vol. 3, no. 2, p. 97, 2019, doi: 10.31000/nyimak.v3i2.1204.

I. A. Akhmar, H. Lestari, and Z. Ismail, “Metode Efektif Menghafal Al-Qur’an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah,” El-Mujtama: J. Pengabdi. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 1–20, 2021, doi: 10.47467/elmujtama.v1i1.261.

I. Husnurrahmawati and F. Masyhud, Rahasia Sukses 3 Hafizh Qur’an Cilik Mengguncang Dunia, 3rd ed. Jakarta Timur: Zikrul Hikmah, 2016.

D. Widiastuti et al., “Implementasi Metode My Q-Map dalam Meningkatkan Hafalan Al-Qur’an (Studi di Pondok Tahfidz Bintang Quran Cirebon),” TARBAWY: Indones. J. Islam. Educ., vol. 6, no. 1, pp. 44–54, 2019.

E. Raima, “Peran Wali Kelas Dalam Memantau Muroja’ah Terhadap Peningkatan Hafalan Al-Qur’an Siswa SMPIT As-Salam Ambon,” vol. 1, no. 1, pp. 31–45, 2020.

M. Nurnaningsih, A. A. Rifa’i, and Supriyanto, “Kontribusi Metode Muroja’ah Tahfidzul Quran dengan Model Simaan Estafet pada Peningkatan Prestasi Belajar Siswa,” Al-I’tibar: J. Pendidik. Islam, vol. 8, no. 2, pp. 60–65, 2021.

D. A. Romadlon, A. Bagus, and H. Kurniawan, “Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal di Sekolah Dasar,” Procedia of Social Sciences and Humanities, vol. 3, pp. 678–685, 2022.

Musfiqon, Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan, 5th ed. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2016.

M. Nurlaili and M. Ritonga, “Muroja’ah sebagai metode menghafal Al-Quran: Studi pada Rumah Tahfiz Yayasan Ar-Rahmah Nanggalo Padang,” Menara Ilmu, vol. XIV, no. 02, pp. 1–5, 2020.

Y. Dakhi, “Implementasi POAC Terhadap Kegiatan Organisasi dalam Mencapai Tujuan Tertentu,” J. Warta, vol. 53, no. 9, pp. 1679–1699, 2016.

D. Rustiana and M. A. Ma’arif, “Manajemen Program Unggulan Tahfidz Qur’an dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Al-Qur’an Siswa,” Kharisma: J. Adm. dan Manaj. Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 12–24, 2022, doi: 10.59373/kharisma.v1i1.2.

M. Yasin, M. Ritonga, and A. Lahmi, “Huffadz Maninjau Kabupaten Agam,” Al-Muaddib: J. Ilmu-Ilmu Sos. dan Keislaman, vol. 6, no. 2, pp. 211–221, 2021.

T. Marfiyanto, U. Hasanah, and S. A. Futaqie, “Model Pembelajaran Tahfidz dalam Menguatkan Hafalan Al-Qur’an di SDI Plus Al-Azhar Kota Mojokerto,” J. Pendidik. dan Konseling, vol. 4, no. 4, pp. 3960–3975, 2022.