Login
Section Innovation in Education

Building a Reading Culture in Children Through the School Literacy Programs


Membangun Budaya Membaca pada Anak melalui Gerakan Literasi Sekolah
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Arif dwi Rachmawati (1), Eni Fariyatul Fahyuni (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) , Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Low reading interest poses a fundamental challenge across educational environments, prompting governments to launch school literacy movement programs designed to cultivate student competencies through reading, listening, and speaking. Specific Background This study investigates how a school literacy program is implemented among second-grade elementary students and their homeroom teachers to foster a reading culture. Knowledge Gap Although literacy initiatives are established, comprehensive evaluations regarding their daily execution, such as fifteen-minute reading habits and classroom reading corners, require targeted field exploration. Aims This study aims to inform and disseminate information to the public regarding school literacy programs and their role in building a reading culture among children. Results Utilizing a qualitative research method with data collection via observation, interviews, and documentation analyzed through reduction, display, and conclusion drawing, the findings show that the school literacy training program is implemented effectively and efficiently, providing a positive impact on student engagement, reading habits, and critical thinking skills. Novelty This work details the practical integration of daily fifteen-minute reading sessions and class reading corners within lower elementary grade environments. Implications These findings establish that structured school literacy programs are vital for transforming reading interest and enhancing analytical, creative, and innovative thinking capabilities in young learners.


Highlights:




  • School literacy programs successfully foster a reading culture in children through daily fifteen-minute reading habits and classroom reading corners.




  • Qualitative findings reveal that systematic literacy training improves student engagement, reading interest, and language skills across receptive and active dimensions.




  • Collaborative involvement between teachers and students ensures that literacy practices run effectively and efficiently to support critical and creative thinking.




Keywords: School literacy movement, Interest in reading, Reading culture, Elementary school, Literacy program

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Budaya membaca berbanding lurus dengan kemajuan pendidikan suatu negara. Kegiatan membaca sangat penting bagi pembangunan nasional. Fenomena ini terutama disebabkan oleh kurangnya minat membaca anak dan hilangnya budaya membaca. Program Literasi Sekolah diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kecintaan membaca. Siswa tidak hanya dapat membaca dengan baik, tetapi juga dapat untuk memahaminya[1]. Salah satu kegiatan literasi yang menjadi kunci kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari jumlah anak yang memperoleh nilai bagus, namun dari jumlah anak yang gemar membaca di kelas. Kegiatan literasi merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang menarik bagi siswa[2], [3]. Pemerintah sudah menerapkan gerakan literasi sekolah dalam proses pembelajaran di sekolah. Program gerakan literasi sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 Tentang pengembangan karakter. Salah satu kegiatan gerakan ini, khususnya dalam konteks rendahnya budaya membaca adalah membaca buku non-belajar selama 15 menit sebelum Pelajaran dimulai. Tujuan gerakan literasi sekolah adalah membiasakan siswa membaca dan menulis[4]. Kegiatan gerakan literasi sekolah ditahap akademik membantu meningkatkan kemampuan berbahasa reseptif (membaca dan mendengarkan) dan aktif (berbicara dan menulis)[5], karena melalui membaca kita dapat memperoleh banyak informasi dan berbagai perkembangan teknologi informasi [6]. Minat membaca merupakan keinginan atau kecenderungan hati untuk membaca[7]. Penerapan pembiasaan membaca dan menulis pada tahap ini bertujuan untuk meningkatkan minat siswa dalam kegiatan membaca [8], [9]. Sekolah merupakan Lembaga yang bertanggung jawab mencptakan budaya membaca yang merupakan bagian penting dalam kegiatan pembelajaran. Dengan membaca secara alami kita memperoleh informasi yang luas. Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kegemaran anak dalam membaca serta dapat memotivasi siswa.

Berdasarkan pembahasan ini, terlihat bahwa zaman perkembangan sangat pesat saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di kalangan anak-anak minat membaca sangat sedikit. Kurangnya minat membaca anak disebabkan kurangnya minat membaca buku. Menanamkan budaya baca pada anak memang tidak mudah. Apalagi mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan budaya membaca yang tergolong rendah, maka perlu dilakukan pembiasaan membaca. Membaca dapat meningkatkan keinginan membaca siswa[10], [11]. Saat ini sekolah belum mampu menarik minat membaca siswa karena tradisi lisan masih mengakar kuat sehingga berdampak pula pada merosotnya budaya membaca. Peneliti melakukan observasi dengan siswa yang berjumlah 27 anak, tentang gerakan literasi pada tanggal 25 September 2023, di kelas 2 sekolah dasar. Sekolah dasar telah mendirikan sudut membaca berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan menggalakkan gerakan literasi sekolah. Program untuk belajar mengajar sambil melanjutkan kelas dan kursus tradisional.

Berdasarkan wawancara peneliti gerakan literasi sekolah dimulai, siswa sekolah dasar termasuk siswa kelas II belum berminat untuk membaca. Hal ini tercermin dari kurangnya sekolah yang memiliki fasilitas memadai dan bahan bacaan yang beragam. Mengingat rendahnya minat baca siswa dan budaya membaca, maka salah satu upaya pemerintah adalah dengan memperbaikinya. Berdasarkan hasil penelitian, maka pelaksanaan latihan literasi sekolah di sekolah dasar akan dilaksanakan pada tahap pengenalan kategori dengan syarat tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan pelatihan literasi sekolah, seperti: Perpustakaan sekolah, penyediaan buku dan bacaan di setiap kelas (reading corner). Setelah diperkenalkannya gerakan literasi di sekolah, maka di sekolah dasar daya minat membaca siswa semakin meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membangun budaya membaca pada anak melalui gerakan literasi sekolah di sekolah dasar memberikan dampak yang sangat positif terhadap peningkatan semangat, kegemaran dan minat membaca siswa. Sebelum upaya literasi sekolah dilaksanakan di sekolah, kepala sekolah merancang program literasi sekolah ada beberapa yakni : pembiasaan, pengembangan dan Pendidikan, kemudian melakukan evaluasi untuk melihat program literasinya seperti apa. Sekolah telah tercapai. Pendukung lanjutan penelitian Berdasarkan hasil di sekolah dasar gerakan literasi sekolah berhasil dilaksanakan serta fasilitas pendukung juga tersedia untuk mendukung program tersebut. Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah membangun budaya membaca pada anak melalui program literasi sekolah dengan sasaran siswa kelas 2 di sekolah dasar.

II. Metode

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Subyek penelitian ini berjumlah orang siswa kelas 2 dan walikelas 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Observasi tersebut dilakukan dalam rangka inisiatif pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Hasil observasi dianalisis terhadap aspek minat membaca siswa sekolah dasar. Teknik yang dapat digunakan untuk memeriksa keabsahan data. Dalam penelitian ini triangulasi sumber data bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peneliti dalam mengungkap hasil wawancara dengan sumber data yang berbeda dan memahami peristiwa yang ada[12]. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan setelah pengumpulan data selesai. Analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini berdasarkan Miles dan Huberman: reduksi data, penyajian data (penyajian data), penarikan kesimpulan dan validasi.

III. Hasil dan Pembahasan

Peneliti akan membahas hasil penelitian di sekolah dasar tentang membangun budaya membaca pada anak melalui program gerakan literasi sekolah berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti memilih kelas II sebagai sasaran observasinya karena perkembangan budaya membaca masih rendah dan salah satu aspek kemampuan berbahasa yaitu inisiasi membaca ditargetkan pada kelas bawah sekolah dasar. Hal ini mengarahkan para peneliti untuk menyelidiki proses membangun budaya membaca pada anak melalui program literasi sekolah. Budaya literasi yang meningkatkan minat membaca dan menulis siswa sekolah dasar merupakan budaya yang tujuan utamanya adalah untuk mendidik siswa sekolah dasar dan memperluas wawasannya. Namun budaya literasi yang ada di Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia. Meskipun media membaca berupa media cetak seperti koran, majalah. Di zaman modern ini pasti akan membawa dampak buruk bagi masyarakat[13]

Berdasarkan kegiatan observasi, peneliti menerapkan beberapa kegiatan peningkatan minat baca siswa untuk mendukung gerakan literasi sekolah bagi siswa. Kegiatan yang diterapkan seperti Kegiatan 15 menit membaca sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.

A. Kegiatan 15 menit membaca

Kegiatan 15 menit membaca bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa sehingga program gerakan literasi sekolah dapat berjalan dengan sukses. Pendahuluan sebelum pembelajaran dimulai untuk kelas rendah, siswa membaca teks bersama-sama dengan cara membaca nyaring dan untuk kelas yang lebih tinggi, siswa membaca dalam hati. Kegiatan membaca di kelas bawah dimulai pada 10-15 menit, sedangkan di kelas atas dimulai pada 15 menit. Buku yang dibaca siswa adalah buku cerita, seperti cerpen, surat kabar, cerita rakyat dan lain-lain. Setelah membaca, siswa menuliskan judul yang telah dibacanya.

Berikut deskripsi kegiatan 15 menit membaca yang diterapkan kepada para siswa.

Tabel 1. Contoh Tabel (1)

Berdasarkan hasil wawancara dengan para siswa terkait kegiatan 15 menit membaca, maka siswa kelas II berpendapat bahwa kegiatan 15 menit membaca adalah kegiatan yang menarik dan menyenangkan. Berikt beberapa data wawancara dengan siswa.

Data 1

“ aku senang dengan kegiatan ini, buku ceritanya bagus dan bergambar sangat menari.”

Data 2

“saya suka membaca, apalagi membaca Bersama dengan teman-teman.”

Data 3

“Saya suka membaca buku dengan lancer dan yang banyak gambarnya.”

Data 1 sampai dengan Data 3 menunjukan bahwa para siswa merasa senang dan tertarik dengan kegiatan 15 menit untuk membaca. Hal ini menunjukan bahwa perlu mengoptimalkan kegiatan 15 Menit Membaca yang sudah diterapkan oleh pihak sekolah. Kegiatan 15 menit membaca di setiap sekolah dapat menerapkan metode-metode untuk meningkatan minat baca. Dengan mendayagunakan kegiatan 15 Menit Membaca, program gerakan literasi Membaca dapat berjalan dengan sukses dan lancar.

B. Pojok baca

Pojok Baca merupakan salah satu program yang telah dibuat oleh pihak sekolah dasar untuk meningkatkan minat baca siswa. Kegiatan membaca melalui pojok baca atau reading corner di dalam kelas[14]. Membangun budaya literasi membaca bisa dilakukan melalui banyak hal yang salah satunya dengan memanfaatkan gerakan literasi sekolah. Budaya literasi membaca menghasilkan dua manfaat yaitu membangun minat membaca dan membangun kegiatan membaca itu sendiri. Tahap pertama adalah membuat pojok baca untuk setiap kelas. Diawali dengan pembuatan pojok baca yang merupakan simbol kegiatan membaca. Kegiatan pojok baca ini juga bertujuan untuk menarik perhatian siswa terhadap kegiatan membaca. Pojok baca ini tidak hanya menjadi ruang konstruksi tetapi juga menjadi tempat penghias dinding dengan poster edukasi untuk anak dan buku bacaan untuk siswa.

Fungsi pojok baca adalah untuk membantu siswa membiasakan untuk gemar membaca [15], [16]. Manfaat Pojok Baca adalah sebagai berikut:

1. Pojok baca merupakan fasilitas alternatif bagi siswa yang gemar membaca.

2. Pojok baca, siswa dapat dengan mudah mengakses buku bergambar dan buku cerita.

3. Di pojok baca, siswa dapat memperkenalkan buku kepada siswa yang lain.

4. Sudut membaca dapat digunakan untuk menunjang kegiatan.

C. Kegiatan literasi berbasis proyek

Mengintegrasikan keterampilan literasi ke dalam kegiatan proyek dapat menjadikan pembelajaran lebih kontekstual dan menarik. Misalnya, siswa dapat memanfaatkan bahan bacaan untuk membuat buku cerita, drama atau pajangan poster. Melibatkan orang tua dalam kegiatan literasi sekolah dapat memperluas lingkup. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan mendorong orang tua untuk membacakan buku kepada anaknya dan mengadakan kelompok diskusi literasi untuk orang tua. Pembelajaran berbasis proyek terbukti efektif dalam meningkatkan minat dan pemahaman membaca. Melibatkan siswa dalam aktivitas kreatif seperti menulis dan memerankan drama berdasarkan membaca memberikan konteks dunia nyata untuk menerapkan keterampilan literasi.

Membangun budaya membaca melalui program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi perkembangan pribadi dan sosial anak. Mereka akan menjadi pembaca yang lebih baik, pemikir kritis dan lebih sigap menghadapi tantangan didunia modern yang membutuhkan tingkat literasi yang tinggi. Dengan mengoptimalkan pojok baca, gerakan literasi sekolah dapat berjalan dengan lancar. Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Pojok baca sebagai salah satu program gerakan literasi sekolah [17]. Tujuan dari kegiatan literasi dasar adalah melalui kegiatan membaca[18], [19]. Program Gerakan Literasi Sekolah telah memberikan dampak yang signifikan dalam membangun budaya membaca pada anak. Dalam hal ini gerakan literasi sekolah dapat menjadi sebuah inovasi yang mengangkat prestasi dan minat membaca siswa dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih baik. Gerakan literasi sekolah mendorong semua siswa untuk lebih menikmati membaca. Tujuannya supaya siswa memperoleh pengetahuan baru, menambah kosa kata baru, meningkatkan prestasi dalam mata Pelajaran dan meningkatkan kreatifitas dalam menulis dan keterampilan berpikir kritis. Berdasarkan hasil analisis data atas penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa peneliti menyimpulkan bahwa program gerakan literasi di sekolah dasar berjalan secara efekif dan memberikan pengaruh positif untuk siswa dalam meningkatkan minat membaca, menulis, berbicara, dan menyimak yang bertujuan mengasah peserta didik untuk berpikir kritis, analisis, kreatif dan inovatif

Hasil wawancara dengan walikelas II mayoritas siswanya sadar akan perlunya membaca. Hal ini sering tercermin dari banyaknya siswa yang berpartisipasi waktu untuk membaca di sudut baca setiap kelas. Para siswa juga didorong untuk menggunakan sudut membaca dan para siswa dengan antusias menyelesaikan kegiatan membaca wajib 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Program literasi meningkatkan motivasi siswa menyelesaikan kegiatan membaca.

Tabel 2. Contoh Tabel (2)

Keterangan :

1= tidak pernah dilakukan

2= kadang – kadang

3= sering

4= selalu

Budaya membaca di kalangan siswa sekolah dasar sangat tinggi, rata-rata siswa meminjam satu buku dalam seminggu. Sementara itu, Bu Chasial, guru kelas II, menjelaskan bahwa membaca itu sangat penting karena melalui membaca kita memperoleh wawasan dan pengetahuan. Ketika anak-anak mulai memahami pentingnya membaca, mereka menjadi lebih bersemangat untuk berpartisipasi dalam aktivitas membaca 15 menit yang diwajibkan. Pada dasarnya siswa tertarik membaca dan membaca buku di sudut baca pada setiap kelas menciptakan lingkungan yang kaya akan teks. Hasil karya siswa sendiri selama di kelas. Berdasarkan hasil laporan penelitian di atas, maka dapat dikatakan bahwa program latihan literasi sekolah dilaksanakan di sekolah dasar. Hal ini berperan penting dalam meningkatkan minat membaca dan prestasi akademik siswa. Sekolah swasta telah melaksanakan gerakan literasi sekolah sesuai dengan pedoman indikator utama kampanye literasi sekolah di setiap tahap pelaksanaan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan latihan literasi sekolah di sekolah dasar masih kurang optimal. Hal ini terlihat dari banyaknya kendala yang muncul selama penelitian berlangsung.

I V. S impulan

Membangun budaya membaca pada anak melalui gerakan literasi sekolah bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga melibatkan peran aktif orang tua dan sekolah. Dengan memperkuat literasi, kita tidak hanya membuka pintu ilmu pengetahuan bagi anak-anak, tetapi juga membentuk karakter yang cerdas, kreatif, dan peduli terhadap lingkungank sekitar. Koleksi perpustakaan sangat lengkap dan jenisnya sangat beragam. Sudut baca dan rak buku pada sudut baca di dalam kelas tertata rapi, dan siswa terbiasa meletakkan kembali buku dengan rapi setelah membacanya. Siswa memberikan tanggapan positif terhadap semua program literasi yang mereka ikuti. Hal ini dibuktikan dengan program gerakan literasi yang selalu informatif dan tertib baik di dalam maupun di luar kelas.

Program gerakan literasi Sekolah memotivasi siswa melalui program latihan literasi rutin sehari-hari dan membiasakan mereka dalam membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Program literasi membantu siswa memahami membaca dan materi pelajaran, serta membiasakan mereka dengan kegiatan membaca dan menulis. Program literasi memungkinkan siswa berpikir kritis, analitis, kreatif dan inovatif. Hal ini terlihat ketika melihat proses pembelajaran siswa selama di kelas. Dalam konteks kemampuan literasi, potensi berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif siswa harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat bagi siswa dan lingkungan sosialnya.

Gerakan iterasi sekolah telah terbukti menjadi strategi yang efektif untuk membangun budaya membaca di kalangan anak-anak. Dengan melibatkan lingkungan sekolah, orang tua, dan siswa dalam berbagai kegiatan literasi, kita dapat menciptakan generasi yang tidak hanya mengenal huruf tetapi juga sangat tertarik dan memahami dunia literasi. Budaya membaca yang kuat ini merupakan landasan penting dalam mempersiapkan anak menghadapi tuntutan pendidikan dan kehidupan yang semakin kompleks.

Ucapan Terima Kasih

Saya Ingin menyampaikan rasa Terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang selalu membimbing dengan sabar di tengah-tengah kesibukan beliau. Saya berharap artikel ini dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak sekolah dan komunitas untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam membangun budaya literasi yang kokoh. Semoga upaya bersama ini dapat memberikan kontribusi positif yang besar bagi masa depan cerah anak-anak kita. Terima kasih sekali lagi atas artikel yang informatif dan memberdayakan ini. Semoga kesuksesan terus menyertai upaya untuk meningkatkan literasi anak-anak di seluruh dunia.

References

I. Putriani and E. D. Wahyuni, “Gaining students’ literacy through local wisdom of Blitar: Implementing of Gerakan Literasi Sekolah (GLS),” J. Iqra’: Kajian Ilmu Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 265–284, Dec. 2019, doi: 10.25217/ji.v4i2.611.

R. Hermawan and N. Rumaf, “Pengaruh literasi terhadap keterampilan membaca pada siswa kelas IV SD Inpres 12 Kabupaten Sorong,” J. Papeda, vol. 2, no. 1, 2020, doi: 10.36232/jurnalpendidikandasar.v2i1.411.

H. H. Fauziyah, M. K. Basyar, and A. Wijayanti, “Analisis Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SD Negeri Duren Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang,” J. Ilm. PGSD FKIP, vol. 8, no. 1, Jun. 2022.

S. W. L. Silvia, “Membangun budaya literasi membaca dengan pemanfaatan media jurnal baca harian,” [Online]. Available: http://print.kompas.com/baca/opini/jajak-pendapat/2015/10/27/Membaca-Jadi-Jendela-Dunia

S. R. M. Mas, “Evaluasi pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah di sekolah dasar,” J. Manaj. dan Supervisi Pendidikan, vol. 4, no. 1, 2019, doi: 10.17977/um025v4i12019p045.

S. Madeamin, “Gerakan Literasi Sekolah,” J. Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 1, 2021, doi: 10.54065/langkanae.1.1.2021.8.

N. Sudiana, “Upaya meningkatkan minat baca siswa kelas VII SMP Negeri 2 Sukasada tahun pelajaran 2017/2018 melalui Gerakan Literasi Sekolah dengan Pocari dan Puding,” J. Educ. Action Res., vol. 4, 2020, doi: 10.23887/jear.v3i4.23075.

D. C. Rohim and S. Rahmawati, “Peran literasi dalam meningkatkan minat baca siswa di sekolah dasar,” J. Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, vol. 6, no. 3, 2020. [Online]. Available: http://journal.unesa.ac.id/index.php/PD

Halimah, “Evaluasi pelaksanaan program Gerakan Literasi di sekolah dasar,” J. Tongguru: Studi Pengajaran dan Pembelajaran Pendidikan Formal, vol. 1, 2022.

L. Tahmidaten and W. Krismanto, “Permasalahan budaya membaca di Indonesia (studi pustaka tentang problematika dan solusinya),” J. Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 10, 2020, doi: 10.24246/j.js.2020.v10.i1.p22-33.

H. Friantary, “Budaya membaca sebagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat,” Disastra, vol. 1, no. 1, 2019, doi: 10.29300/disastra.v1i1.1485.

A. R. Uin and A. Banjarmasin, “Analisis data kualitatif,” J. Alhadharah, vol. 17, no. 33, 2018. [Online]. Available: https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/alhadharah/article/view/2374/1691

S. A. Jatnika, “Budaya literasi untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis,” Indonesian J. Primary Education, vol. 3, no. 2, pp. 1–6, 2019. [Online]. Available: http://ejournal.upi.edu/index.php/IJPE/index

F. Ramandanu, “Gerakan Literasi Sekolah (GLS) melalui pemanfaatan sudut baca kelas sebagai sarana alternatif penumbuhan minat baca siswa,” J. Mimbar Ilmu, vol. 24, no. 1, 2019, doi: 10.23887/mi.v24i1.17405.

D. Berliana, “Analisis Gerakan Literasi Sekolah terhadap minat baca siswa kelas II di SD Negeri 185 Palembang,” Indonesian Research J. Education, vol. 2, pp. 1–440, Nov. 2022, doi: 10.31004/irje.v2i1.250.

P. Hidayatulloh, “Peningkatan budaya literasi melalui kegiatan pojok baca di SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan Colomadu,” vol. 1, Jul. 2019.

G. Gustinawati, H. Amin, and W. O. Lusianai, “Penerapan Gerakan Literasi Dasar Sekolah untuk menumbuhkan minat membaca siswa di SD Negeri 6 Lawa Kabupaten Muna Barat,” J. Literasi Perpustakaan dan Informasi: J. Penelitian Kajian Perpustakaan dan Informasi, vol. 2, no. 3, Oct. 2022, doi: 10.52423/jlpi.v2i3.27796.

R. Kurniawati, “Prestasi belajar siswa ditinjau dari fasilitas, kedisiplinan, minat dan motivasi belajar siswa XI (study pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Sragen),” J. Pendidikan Edumaspul, vol. 6, pp. 1041–1048, 2022, doi: 10.33487/edumaspul.v6i1.2252.

Y. I. Lindawati, P. T. Dewi, U. Sultan, and A. Tirtayasa, “Pembiasaan literasi dasar melalui kegiatan membaca pada siswa SD IT El-Fatah,” J. Penelitian dan Pengabdian, vol. 10, 2022, doi: 10.15548/turast.v10i1.4541.