Login
Section Innovation in Education

Synergy Between Parents and Teachers in Homeschooling Group Learning

Sinergitas Orang Tua dan Guru pada Pembelajaran Homeschooling Group
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Adelia Fadillah Purwianto (1), Anita Puji Astutik (2)

(1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Modernization and globalization have created an educational crisis by generating high cognitive outputs while degrading moral, social, and religious values, causing parental anxiety regarding ideal school standards. Specific Background This study investigates parent-teacher synergy implemented in homeschooling group learning at Homeschooling Group SD Mutiara Ummah (HSGSD Mutiara Ummah). Knowledge Gap Although alternative non-formal education frameworks like homeschooling groups attempt to address the monotony and shortcomings of conventional schools, detailed explorations of how parents and teachers actively collaborate as learning centers remain necessary. Aims This study aims to determine how parent-teacher synergy is implemented in learning at HSGSD Mutiara Ummah. Results Utilizing a qualitative phenomenological method, the findings reveal that parent-teacher synergy takes the form of learning assistance, parent participation in extracurricular activities, controlling contact books, and active communication between teachers and parents. Novelty This work details the practical synchronization of family-centered education with Islamic values and structured homeschooling group frameworks. Implications These findings establish that active parent-teacher collaboration is a prerequisite for supporting successful learning outcomes and overcoming developmental hurdles in alternative education.


Highlights:




  • Homeschooling group learning relies on parents as the center of learning, which requires strong synergy between parents and teachers to achieve educational goals.




  • Collaborative practices include learning assistance, parent participation in extracurricular activities, contact book monitoring, and active communication.




  • Parental support and intensity of communication directly impact student attendance, engagement, and mastery of learning materials.




Keywords: Synergy, Learning, Homeschooling, Parents, Teachers

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Pada era globalisasi saat ini, telah terjadi pembaharuan dan modernitas di berbagai bidang kehidupan. Termasuk bidang pendidikan. Terbukanya siklus budaya asing menjadi budaya lokal yang sangat cepat membawa dampak tersendiri terhadap pendidikan Islam di Indonesia [1]. Pendidikan mengalami krisis esensial karena kerap menghasilkan output dengan kualitas kognitif yang tinggi, namun nilai moral, sosial, dan keagamaan terdegradasi [2]. Tidak hanya itu, pengaruh buruk globalisasi juga menjadikan orientasi pendidikan dan pembelajaran yang semula menekankan pada proses, berubah berorientasi pada pencapaian hasil [3]. Secara tidak langsung mengajarkan kepada siswa untuk berpikir pragmatis dan serba instan. Hasilnya sekolah cenderung menghasilkan output yang mengalami kepribadian pecah (split personality) dengan segala implikasi dan dampak negatifnya [4]. Di sisi lain modernisasi pendidikan mengakibatkan disorientasi tujuan pendidikan yang kini menjadi sebatas pencapaian profit. Problematika ini memunculkan berbagai kekhawatiran orang tua terhadap pendidikan anak dalam upaya menentukan standar sekolah ideal [5].

Beragam upaya harus dilakukan semaksimal mungkin dalam menunjang pembelajaran siswa, hingga tahap pembelajaran tersebut dapat mengarahkannya menjadi pribadi yang lebih baik. Sinergi antara keluarga (orang tua), sekolah (guru), dan masyarakat sangat diperlukan [6]. Tatkala anak-anak berinteraksi dengan dunia luar, maka tumbuhlah antusiasme mereka dalam mempelajari hal baru. Pada saat ini muncul ketergantungan keluarga pada sekitarnya. Sinergi orang tua menjadi prasyarat penunjang keberhasilan pembelajaran yang memberi pengaruh multidimensi pada anak [7]. Terutama pada usia sekolah dasar, anak-anak membutuhkan banyak pengalaman dan stimulus dalam beradaptasi dengan sekitarnya [8]. Oleh karena itu, sinergi orang tua bukan dimaksudkan membatasi anak, melainkan mengurangi dampak buruk yang terjadi di kemudian hari. Tanpa mengurangi hak dan kebutuhan mereka dalam mempelajari hal baru.

Di tengah banyaknya persoalan modernisasi pendidikan Islam di Indonesia, muncul salah satu konsep pendidikan yang semakin populer belakangan ini adalah homeschooling group berbasis Islam [9]. Keberadaanya sebagai salah satu kritik dari sistem pendidikan nasional yang terkesan monoton dan memberatkan [10]. Adanya homeschooling group berbasis Islam merupakan respon atas ketidakpuasan para aktivis muslim di Indonesia terhadap lembaga-lembaga pendidikan dan dampak buruk globalisasi yang mengakibatkan lemahnya penanaman nilai-nilai karakter Islami pada siswa [11]. Di saat yang sama keberadaan homeschooling dapat menjadi alternatif pendidikan nonformal bagi orang tua yang ingin memberikan pembelajaran spesifik kepada anak mereka [12].

Kebutuhan pembelajaran siswa penting untuk dipenuhi [13]. Sebagai upaya mengantarkan pada kesadaran tingkah laku dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah [14]. Pengetahuan siswa dibangun dengan cara partisipasi aktif dengan lingkungan, refleksi pembelajaran, serta pengalaman belajar [15]. Pada usia sekolah dasar, siswa membutuhkan banyak pengalaman dan stimulus dalam beradaptasi dengan sekitarnya [8]. Pada proses ini sinergi antara keluarga (orang tua), sekolah (guru), dan masyarakat sangat diperlukan [6]. Sebagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai konsep Tri Sentra Pendidikan, yakni sentra keluarga, lembaga, dan masyarakat [16].

Homeschooling Group SD Mutiara Ummah, sebagai salah satu sistem pendidikan berbasis Islam berusaha mengembalikan tujuan pendidikan sebagaimana konsep awal tujuan manusia diciptakan. Yaitu sebagai Khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi yang mengemban amanah menyebarluaskan kebaikan. Homeschooling Group SD Mutiara Ummah merupakan lembaga pendidikan jenjang tingkat dasar yang berada di bawah naungan yayasan Mutiara Ummah (HSGSD Mutiara Ummah). Dalam pelaksanaan pembelajarannya, HSGSD Mutiara Ummah bersinergi dengan orang tua sebagai pendidik utama, sebagaimana konsep pendidikan dalam Islam [17]. Selaras dengan itu, penelitian yang dilakukan Mashita dkk (2023), menyebutkan apabila proses pembelajaran melibatkan sinergitas orang tua dan guru dapat memudahkan tercapainya tujuan pendidikan secara optimal [18].

HSGSD Mutiara Ummah memandang bahwa pembentukan kepribadian Islami dan pemahaman pembelajaran sangat membutuhkan keterlibatan orang tua dan guru. Sebab perubahan perilaku bukan sesuatu yang terbentuk dalam sekejap [19]. Sinergi orang tua dan sekitarnya menjadi prasyarat penunjang keberhasilan pembelajaran yang memberi pengaruh multidimensi pada anak [7]. Anak-anak membutuhkan pendampingan dan stimulus dalam bereksplorasi, serta beradaptasi dengan sekitarnya [8]. Namun faktanya, tidak jarang orang tua berlepas tangan, menganggap pendidikan semata-mata hanya tanggung jawab pihak sekolah [20].

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui bagaimana sinergitas orang tua dan guru pada pembelajaran di homeschooling group. Diharap penelitian ini mampu memberikan gambaran konseptual pentingnya sinergitas orang tua dan guru dalam dunia pendidikan. Serta menjelaskan bagaimana proses pembelajaran homeschooling group sebagai pendidikan alternatif.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan rangkaian data deskriptif yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan subjek. Metode ini tepat digunakan untuk mengetahui makna tersembunyi suatu fenomena [21]. Sedangkan pendekatan fenomenologi yakni melihat dan mendengar secara langsung subjek beserta objek yang sedang dikaji untuk memperoleh data deskriptif lebih rinci [22]. Fokus penelitian didasarkan pada pengalaman peneliti dalam memaknai suatu fenomena tertentu [23]. Dilakukan pada situasi yang alami sehingga dapat mengungkapkan suatu fenomena secara holistik [24].

Penggunaan metode ini dilatar belakangi bahwa topik penelitian merupakan fenomena yang membutuhkan pengamatan mendalam. Serta menekankan interpretasi pada fenomena yang dikaji untuk memperoleh pemahaman terstruktur dan eksistensial [25]. Pendekatan fenomenologi mampu menggambarkan pengalaman yang dialami oleh subjek berdasarkan pengalaman yang terjadi di kehidupannya. Sehingga peneliti berupaya menggambarkan hal tersebut secara jelas dan menguraikan permasalahan dalam penelitian. Latar belakang lainnya, yaitu dikarenakan ada kedekatan dan kemudahan akses terhadap informasi penelitian. Kedekatan antara peneliti dan responden membuat pemberian informasi menjadi lebih terbuka dan transparan sehingga data yang diperoleh akan lebih rinci [22].

Penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi berusaha memahami makna suatu peristiwa dan kaintannya dengan orang lain dalam isituasi tertentu. Maka penelitian ini, hendak mengkaji peristiwa pengalaman sinergitas orang tua dan guru pada pembelajaran homeschooling group beserta kendala yang dihadapi. Sementara itu, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan pendampingan orang tua dan guru pada pembelajaran homeschooling group. Sekaligus mengamati dan menelaah beragam peristiwa yang terjadi selama pendampingan pembelajaran. Selanjutnya dari pengamatan tersebut akan dilakukan identifikasi problematika sesuai peristiwa yang terjadi.

Penulis memperoleh data tertulis melalui kajian sejumlah artikel ilmiah, buku, dan data tertulis lainnya yang berkaitan dengan topik penelitian. Sumber data lain diperoleh dari penelitian lapangan, yaitu dengan terlibat langsung dalam kegiatan yang diteliti. Mendeskripsikan dan mengilustrasikan realitas yang ada, serta mendekati sumber data. Penelitian di lakukan di Homeschooling Group SD Mutiara Ummah (HSGSD Mutiara Ummah). Terletak di perumahan Jaya Persada Blok B-23, Kalipecabean, Kec. Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Homeschooling Group SD Mutiara Ummah adalah lembaga pendidikan nonformal yang berada di bawah naungan yayasan Mutiara Ummah Sidoarjo. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara kepada kepala sekolah, guru-guru, orang tua, dan bebebrapa informan terkait.

Peneliti mengumpulkan data dengan teknik wawancara berupa in-depth interview semiterstruktur. Dengan harapan informan lebih terbuka sehingga dapat menguak fakta lebih mendalam dibanding wawacara terstruktur [26]. Observasi atau pengamatan dilakukan dengan cara partisipasi aktif dan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran, sehingga perolehan data dapat bersifat kompleks dan komprehensif. Sebagai pendukung penelitian, peneliti juga menggali informasi tambahan melalui kepala sekolah, siswa, dan iforman lain yang terkait.

Setelah tahap pengumpulan data. Peneliti akan mereduksi data dan melakukan eliminasi data yang tidak diperlukan. Mencocokkan keseuaian fenomena dengan hasil wawancara dan observasi. Kata-kata yang tidak jelas, pengulangan, dan duplikasi dikurangi, serta dihilangkan [27]. Kemudian data diklasifikasikan berdasarkan kesamaan topik pembahasan. Selanjutnya masuk pada tahap penyajian data. Tahapan ini menyajikan data hasil reduksi agar mudah dipahami dan dipaparkan dalam bentuk narasi sesuai dengan rumusan masalah [28]. Terakhir adalah penarikan kesimpulan. Kesimpulan yang disajikan berupa narasi pemaparan hasil penelitian dilengkapi dengan hasil penelitian terdahulu, serta didukung oleh teori-teori yang telah ada.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Profil Sekolah

Peningkatan popularitas homeschooling di sejumlah negara sering kali dipicu oleh kesadaran mendalam para orang tua akan keinginan untuk memberikan pendidikan yang paling optimal bagi anak-anak mereka. Terutama di Amerika Serikat dan Kanada, banyak orang tua merasa khawatir terkait ajaran moral dan nilai-nilai keimanan yang diterapkan di lingkungan sekolah konvensional [29]. Begitu pula keberadaan homeschooling di Malaysia kian berkembang, sebagian karena kesadaran orang tua akan keyakinan bahwa kurikulum yang diterapkan di sekolah negeri tidak memadai untuk mencapai standar pendidikan yang diharapkan oleh mereka [30]. Di saat yang sama terjadi inefesiensi proses pembelajaran yang tidak sesuai dengan standar pemahaman agama.

Masuknya homeschooling ke Indonesia merupakan salah satu kritik dari sistem pendidikan yang cenderung memberatkan. Homeschooling banyak dipilih sebagai alternatif pendidikan karena adanya motif ideologi (keagamaan) dan pedagogi (menghindari pengaruh negatif di lingkungan sekolah) [30]. Pembelajaran berbasis ideologi Islam menjalin sinergitas orang tua dan guru dalam mengembangkan potensi kecerdasan sesuai fitrah setiap anak, baik dari sisi intelektual, emosional, maupun spiritual. Sistem pendidikan homeschooling memposisikan peserta didik sebagai subjek, mendorong kreativitas, melatih kemandirian, dan fleksibilitas dalam pembelajaran [31].

Keberadaan Homeschooling Group SD Mutiara Ummah sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal, berdiri karena adanya motif ideologi keagamaan. Konsep pendidikan berupa yang ditawarkan berupa integrasi pembelajaran agama dengan materi umum. Menghindari pengaruh negatif globalisasi, kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah secara berkelompok. Tujuan penerapan Homeschooling Group adalah mencetak generasi pemimpin intelektual melalui lingkungan Islami dan tanggap dalam bersosialisasi. Oleh karenanya sekalipun pembelajaran berbasis rumah, penerapannya dilakukan secara berkelompok. Dan menempatkan orang tua sebagai pendidik. Sebagaimana ajaran Islam, yaitu “Ibu adalah madrasah pertama”. Seorang ibu diharap menjadi pendidik sekaligus teladan bagi anak, jika ibunya baik maka selayaknya anak menjadi baik pula dan sebaliknya [17].

Homeschooling Group SD Mutiara Ummah terletak di perumahan Jaya Persada Blok B-23, Kalipecabean, Kec. Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pada awalnya, Homeschooling Group SD Mutiara Ummah muncul sebagai lembaga pendidikan yang fokus pada tahfidz Al-Quran. Pada periode awal, tujuan utamanya adalah untuk memberikan pendidikan tahfidz yang berkualitas kepada anak-anak dan mencetak para generasi penghafal Al-Qur’an. Melihat kebutuhan siswa akan pembelajaran umum dan banyaknya anak-anak di luar sana yang mengalami degradasi moral. Muncul gagasan menggabungkan pembelajaran akademis dengan penguasaan Al-Quran dalam ranah yang lebih spesifik, berupa homeschooling grup. Gagasan ini muncul dari keinginan untuk mencetak generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan umum tetapi juga mendalami ajaran Islam dalam bentuk tahfidz Al-Quran.

Seiring berjalannya waktu, tim pengelola dan pendidik mulai melihat kebutuhan siswa terhadap mata pelajaran umum yang lebih komprehensif. Dengan memperhatikan perkembangan dan tantangan kurikulum nasional, serta respons positif dari orang tua terhadap pendekatan holistik yang diterapkan, Homeschooling Group SD Mutiara Ummah memutuskan untuk mengembangkan model pendidikan homeschooling grup di tahun 2009. Keputusan ini membuka peluang bagi Homeschooling Group SD Mutiara Ummah untuk menyediakan kurikulum yang lebih luas, mencakup mata pelajaran umum seperti Matematika, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Indonesia, dan Geografi (politik pemerintahan dan Geografi murni). Di samping tetap mempertahankan fokus pada tahfidz Al-Quran, perluasan ini memungkinkan sekolah untuk memberikan pendidikan yang lebih relevan bagi siswa.

Dengan transformasi ini, Homeschooling Group SD Mutiara Ummah sebagai sekolah non formal berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang unik, di mana siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan mereka sendiri sambil tetap memperoleh pemahaman mendalam tentang ajaran Islam. Pergeseran ini juga memungkinkan sekolah untuk lebih baik memenuhi kebutuhan dan harapan orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka. Homeschooling Group SD Mutiara Ummah terus berkomitmen untuk mengembangkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai keislaman, menciptakan landasan kuat bagi masa depan mereka, dan tetap memperhatikan nilai moral dan sosial.

Dalam perjalanan pengembangannya, HSGSD Mutiara Ummah tidak hanya sekadar menjadi lembaga pendidikan, tetapi sebuah wahana bagi pembentukan generasi pemimpin yang berkarakter dengan fondasi kuat dalam ajaran Islam. Visi sekolah ini terfokus pada pembentukan pemimpin peradaban yang dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, dan sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang mendalam. Perjalanan ini dimulai dengan kesadaran mendalam akan pentingnya menggabungkan pendidikan akademis dengan ajaran Islam sebagai landasan utama. HSGSD Mutiara Ummah memahami bahwa mencetak pemimpin yang tangguh dan berkarakter memerlukan lebih dari sekadar pengetahuan umum. Oleh karena itu, sekolah ini mengambil langkah besar dengan memfokuskan visi mereka pada integrasi nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek pendidikan.

Pengembangan ini menghasilkan lingkungan belajar yang unik, di mana siswa tidak hanya diberikan pengetahuan akademis, tetapi juga didorong untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran tidak hanya tentang meraih prestasi akademis tinggi, tetapi juga tentang pembentukan karakter yang kuat, seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Dalam menciptakan atmosfer yang memadukan pengetahuan dan spiritualitas, melibatkan siswa dalam pembelajaran yang tidak hanya menantang intelektual mereka tetapi juga memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami Islam sebagai ajaran, tetapi juga meresapi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

HSGSD Mutiara Ummah meneguhkan komitmen mereka melalui serangkaian misi yang holistik, melalui kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai Islami ke dalam setiap mata pelajaran. Kurikulum ini dirancang untuk menciptakan siswa yang memiliki pemahaman mendalam terhadap ilmu pengetahuan dengan tetap teguh memegang prinsip-prinsip Islam. Dengan meletakkan fondasi pada nilai-nilai Islami dan Al-Quran, HSGSD Mutiara Ummah merangkul misi untuk menyediakan lingkungan pendidikan yang menjadi pangkalan bagi perkembangan holistik siswa. Menyadari pentingnya pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, sekolah ini berkomitmen untuk menciptakan atmosfer yang memadukan keilmuan modern dengan nilai-nilai keagamaan.

Misi sekolah ini tidak hanya terbatas pada kecerdasan intelektual, melainkan juga melibatkan pengembangan keberanian moral dan tanggung jawab sosial. Sekolah ini bertekad untuk mencetak siswa yang bukan hanya mampu memimpin dalam bidang akademis, tetapi juga memiliki keberanian untuk memimpin dengan integritas dan rasa tanggung jawab di dalam masyarakat. Siswa diarahkan memahami dan menginternalisasi nilai-nilai keagamaan seperti keimanan, kesabaran, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Hal ini menjadi bagian integral dari proses pembelajaran, membantu siswa tumbuh menjadi individu yang berbudi pekerti luhur sebagai upaya mencetak generasi yang unggul secara akademis dan moral, tercermin dari nilai-nilai Islami yang mereka emban.

Proses penerimaan peserta didik baru di Homeschooling Group SD Mutiara Ummah berada di bawah tanggung jawab yayasan Mutiara Ummah. Sehingga pihak homeschooling group SD tidak terlibat secara penuh, namun tetap melakukan koordinasi dengan pihak yayasan. Pada tahun ajar 2023-2024 akan dibuka kuota bagi 20 calon siswa. Sedikitnya jumlah siswa yang diterima dimaksudkan agar nantinya pembelajaran dapat berjalan secara efisien. Sesuai dengan konsep pembelajaran homeschooling group, yaitu pembelajaran di sebuah rumah secara berkemlompok. Calon siswa akan mengikuti Tes Penilaian Kemampuan (PSB). Mencakup kemampuan membaca dan menulis Al-Qur'an, matematika dasar, serta tingkat kemandirian siswa. Penilaian tingkat kemandirian siswa dilakukan karena sekalipun konsep pendidikan berupa homeschooling, namun kemandirian dan nilai tanggung jawab personal sangat ditekankan selama proses pembelajaran.

Calon siswa yang lulus seleksi PSB diharapkan untuk melunasi biaya herregistrasi sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Mereka juga diwajibkan untuk memahami dan menaati aturan sekolah yang berlaku. Ini mencakup disiplin diri, kepatuhan terhadap jadwal pelajaran, dan partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah. Aturan sekolah ini akan disampaikan pada masa orientasi awal untuk memperkenalkan mereka pada lingkungan sekolah dan memberikan informasi lebih lanjut mengenai proses pembelajaran.

B. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran di HSGSD Mutiara Ummah dilakukan di sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat pembelajaran (sekolah non formal). Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada hari Senin-Kamis, yaitu pukul 07.30 WIB. Sebelum pembelajaran jam pertama dimulai, seluruh siswa akan melaksanakan kegiatan Tahfidz Qur’an dan BTQ (Baca Tulis Qur’an) sesuai dengan pembagian kelas yang telah ditentukan. Setelah Tahfidz Qur’an dan BTQ siswa akan melaksanakan pembiasaan baik, berupa sholat Dhuha empat rakaat secara berjamaah. Pelaksanaan sholat Dhuha dipimpin oleh siswa secara bergantian. Kemudian setelah melaksanakan sholat Dhuha dan istirahat, siswa akan melaksanakan pembelajaran jam pertama hingga jam keempat. Kemudian sebelum pembelajaran berakhir, siswa akan melaksanakan kegiatan Tahfidz Qur’an untuk kedua kalinya.

Pengenalan sholat Dhuha sebagai wadah pelatihan kepemimpinan di sekolah didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan dapat menjadi landasan kuat dalam membentuk karakter dan etika seseorang [32]. Para siswa diajarakan untuk memimpin sholat Dhuha secara bergiliran, memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan organisasi, komunikasi, dan kepemimpinan yang kuat [33]. Penerapan program ini telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan pribadi siswa, sekaligus ajang instropeksi diri apakah mereka sudah layak menjadi imam sholat.

Hasil pengamatan yang peneliti lakukan menunjukkan, adanya program penunjukan imam sholat menjadikan siswa lebih percaya diri dan tangguh dalam menghadapi tantangan sehari-hari. Didukung penelitian yang dilakukan oleh Brown (2022), latihan kepemimpinan dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kedisiplinan. Keduanya merupakan aspek yang sangat penting dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan [34] . Dengan menciptakan lingkungan di mana siswa diakui dan diberi tanggung jawab sebagai pemimpin kecil dalam konteks keagamaan, sekolah mendorong perkembangan jiwa kepemimpinan mereka secara holistik.

Kegiatan pembelajaran dan perkembangan siswa tercatat di buku penghubung yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara guru dan orang tua dalam memantau serangkaian aktifitas siswa di homeschooling group. Di dalamnya juga berisi tambahan catatan aktivitas yang perlu dilakukan oleh siswa di rumah sebagai tindak lanjut dari pembiasaan baik. Hal ini dikarenakan Homeschooling menerapkan konsep, bahwa orang tua merupakan pendidik utama bagi anak. Sejalan dengan teori tabula rasa yang dikemukakan oleh John Locke. Masa depan anak akan dibentuk melalui pola pendidikan yang diberikan. Dimulai dari pendidikan keluarga, sebagai dasar fondasi kehidupan yang kokoh [35].

Pelaksanaan pembelajaran di homeschooling membutuhkan dukungan dan keterlibatan ekstra dari orang tua. Umpan balik orang tua kepada anak dilakukan dengan cara menjalin sinergi dengan guru, serta pihak lain yang terlibat di dalamnya. Orang tua harus aktif melakukan kontroling kepada siswa guna menjamin mutu pembelajaran. Sinergitas orang tua berperan penting dalam kegiatan pembelajaran. Dukungan dan keterlibatan orang tua terhadap kegiatan pembelajaran siswa terlihat dari kontribusi orang tua dalam mengisi buku penghubung secara rutin. Anak yang mendapat dukungan dan keterlibatan dari orang tua akan lebih besar kemungkinannya untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Sebaliknya, jika orang tua kurang melakukan pendampingan, anak akan kecewa dan merasa tidak mendapat perhatian [36].

Hasil observasi di HSGSD Mutiara Ummah menunjukkan bahwa sinergi antara orang tua, guru, dan lingkungan sekolah memiliki dampak positif pada perkembangan siswa, terutama dalam mencapai target hafalan Al-Qur'an. Orang tua yang secara aktif terlibat, mendampingi pembelajaran, dan memantau kemajuan anaknya memainkan peran kunci dalam mencapai tujuan tersebut. Keterlibatan orang tua dalam pembelajaran memberi dampak positif bagi siswa. Buku penghubung yang dipantau dan ditanda tangani oleh orang tua cenderung menunjukkan kemajuan lebih cepat dalam kemampuan membaca Al-Qur'an. Selain itu, keterlibatan orang tua juga mempengaruhi kemampuan siswa dalam menangkap materi penjelasan mengenai pembelajaran umum lainnya.

Siswa yang tidak mendapat dukungan dan perhatian intensif dari orang tua, tetap mampu terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran di homeschooling. Akan tetapi, kurang dapat menguasai materi yang disampaikan. Tentunya ini berpengaruh terhadap hasil evaluasi pembelajaran. Sekalipun siswa setiap hari mengikuti pembelajaran di kelas, berkolaborasi dengan teman sebaya. Namun seringkali mereka tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru dan kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Terlebih, ada salah satu siswa yang bermasalah dalam kehadirannya. Pihak homeschooling telah meninjau permasalahan ini. Didapati orang tua siswa yang mengalami permasalahan tersebut kurang mendukung dan kurang terlibat dalam melakukan pendampingan proses pembelajaran, sehingga siswa tidak melakukan pengulangan materi yang telah diajarkan. Akibatnya, tujuan pembelajaran tidak tercapai, siswa tidak mampu menyerap pembelajaran secara utuh, dan pembiasaan baik tidak terlaksana secara optimal.

Siswa yang kurang mendapat perhatian dari orang tua memliki masalah terkait kehadiran dan keaktifan pembelajaran. Kerap bersikap agresif, memprovokasi temannya, sukar menerima nasehat, bahkan mengajak temannya untuk melakukan tindakan tercela [37]. Tatkala disampaikan kepada orang tua terkait permasalahan ini, ada orang tua yang memang mengakui bahwa mereka kurang maksimal dalam melakukan pendampingan dan bimbingan. Namun tidak jarang orang tua terkejut dan tidak menerima kebenaran, bahwa anak mereka termasuk siswa problematik. Alasan pertama, sikap yang ditunjukkan siswa di sekolah berbeda dengan sifat yang mereka tunjukkan di rumah. Ketika berada di rumah anak-anak bersikap sebagai anak yang penurut, sopan, dan ramah. Kedua, orang tua merasa bahwa mereka telah melakukan pembinaan dan pengawasan maksimal terhadap anak. Namun karakter anak juga dibentuk dari lingkungan pertemanan. Sehingga bisa jadi, lingkungan pertemanan itulah yang mendominasi dalam diri anak dan membawa pengaruh yang kurang baik bagi mereka [38].

Pada penelitian yang kami lakukan, terdapat permasalahan yang bersifat kasuistik. Yakni orang tua telah melakukan pendampingan dan bimbingan secara penuh, namun tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara maksimal. Kasus ini terjadi pada beberapa siswa. Pertama, siswa yang mengalami gangguan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Siswa yang mengalami gangguan ADHD menunjukkan perilaku kurang fokus terhadap apapun di sekitarnya, hiperaktif, dan impulsif [39]. Tatkala dijelaskan materi pembelajaran, siswa ini kurang mampu menangkap informasi secara utuh, akibatnya dia mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan temannya yang lain. Namun, hal unik terjadi pada pembelajaran Tahfidz Qur’an. Siswa ini mampu menghafal Qur’an sebanyak 2 juz. Ingatannya lebih kuat saat menghafal Al-Qur’an. Berbeda pada saat ia menyerap materi pembelajaran lain yang terkesan lamban dan tertinggal. Disinilah peran homeschooling memfasilitasi siswa kebutuhan. Tatkala mengetahui keunikan ini, orang tua bersama guru memfokuskan tujuan pembelajaran siswa tersebut pada pembelajaran Tahfidz Qur’an. Sekalipun, tujuan pembelajaran mata pelajaran lain tidak tercapai secara maksimal.

Permasalahan kasuistik kedua terjadi pada siswa slow learner. Beberapa siswa slow learner mengalami kesulitan pada beberapa aspek, meliputi membaca, menulis, dan berhitung. Aspek akademik ini dipertimbangkan berdasarkan komponen hambatan untuk memenuhi standar kelas yang sesuai dan kesulitan teknis dalam keterampilan pembelajaran seperti membaca, menulis, dan berhitung [40]. Pada kasus ini, siswa slow learner bukan tidak mendapat pendampingan dari orang tua. Akan tetapi kemampuan mereka menangkap informasi memang terbatas. Terlihat dari salah satu siswa learner yang mengalami kesulitan dalam membaca Al-Qur’an. Seluruh siswa pada awal masuk pembelajaran Al-Qur’an (BTQ) berada pada tingkatan yang sama. Seirirng berjalannya waktu, siswa slow learner mengalami kesulitan untuk berada pada tingkatan yang sama dengan teman sebayanya. Kemudian guru mengkomunikasikan permasalahan ini kepada orang tua agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan maksimal. Orang tua pun telah mengambil tindakan pendampingan dan selalu rutin mengisi buku penghubung. Namun siswa tetap mengalami hambatan belajar.

Berbeda dengan orang tua yang tidak bersinergi dalam menunjang kualitas pembelajaran. Siswa ADHD dan slow learner, bukanlah siswa yang problematik. Mereka tetap bisa mengikuti kegiatan pembelajaran selayaknya teman-temannya dan mereka bukanlah anak yang membawa dampak buruk. Hanya saja, penanganan keduanya berbeda dengan siswa yang lain. Apabila orang tua dan pihak homeschooling telah mengetahui potensi siswa yang mengalami hambatan belajar, lalu mengasah potensi tersebut. Bisa jadi siswa tersebut akan lebih unggul dari yang lain pada aspek tertentu. Menyikapi fenomena yang terjadi, diharap orang tua memiliki kesadaran dan kesabaran dalam mendampingi dan membimbing siswa. Harapannya ketika melihat upaya yang dilakukan oleh orang tua, siswa dapat termotivasi dan meningkatkan semangat belajar.

Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan pada hari Jum’at. Mengintegrasikan kegiatan olahraga sebagai bagian vital dari kurikulum sekolah, menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti dengan antusias oleh seluruh siswa. Setiap pekan, siswa-siswi terlibat dalam berbagai jenis olahraga, seperti bulu tangkis dan olah raga tradisional. Hal ini bertujuan untuk tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik mereka, tetapi juga untuk memupuk semangat sportivitas, kerjasama tim, dan disiplin diri [41]. Melalui kegiatan olahraga ini, mereka belajar nilai-nilai penting seperti fair play, tanggung jawab, dan pantang menyerah [42]. HSGSD Mutiara Ummah juga menyelenggarakan kegiatan berenang setiap dua bulan sekali. Renang sebagai olahraga utama dalam kegiatan ini dapat meningkatkan daya tahan kardiovaskular, mengembangkan kekuatan otot, dan meningkatkan keseimbangan tubuh.

Mengusung konsep pembelajaran ilmu terapan sederhana, memberikan siswa pengalaman langsung dengan dunia nyata. Mulai dari kunjungan ke perpustakaan, cooking class, kegiatan menanam sayur yang sekaligus menjalin kebersamaan di antara siswa dan orang tua, dan sebagainya. Siswa tidak hanya belajar mengenai pertanian dan ekologi, tetapi juga menggali nilai-nilai tentang tanggung jawab keberlanjutan. Mereka belajar merawat tanaman, memahami siklus hidup tanaman, dan merasakan kepuasan ketika hasil jerih payah mereka bisa dinikmati bersama. Siswa didorong aktif mengenal lingkungan dan mengambil peran di dalamnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zuhrieh dan Enas (2020), kegiatan semacam ini dapat mengahasilkan korelasi positif antara praktek pengalaman langsung dengan pencapaian akademik siswa dalam sains [43].

Pembelajaran tidak terbatas pada lingkup alam. HSGSD Mutiara Ummah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelajahi tempat-tempat yang berkaitan dengan struktur pemerintahan. Siswa dan guru mengunjungi kantor pemerintahan setempat, mendiskusikan peran dan tanggung jawab pemerintah, serta mendapatkan wawasan langsung tentang proses pengambilan keputusan dalam skala yang lebih besar. Sejalan dengan ini, penelitian yang dilakukan Ni’mah dan Mintohari (2013) mengenai peningkatan keterampilan pengambilan keputusan siswa melalui pembelajaran langsung. Menunjukkan terdapat peningkatan sekitar 61,54% pada tahap pertama, dan tahap kedua, peningkatan mencapai 80,77%. Selain itu, hasil penelitian juga mencerminkan peningkatan dalam aktivitas guru, yakni sekitar 85% pada tahap pertama dan 88,75% pada tahap kedua. Sementara itu, peningkatan yang terjadi pada aktivitas siswa adalah sekitar 78,75% pada tahap pertama dan mencapai 93,75% pada tahap kedua [44].

Dengan ekstrakurikuler yang menggabungkan pembelajaran ilmu terapan, kegiatan eksplorasi, dan partisipasi orang tua, HSGSD Mutiara Ummah berkomitmen untuk membentuk siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan praktis dan pemahaman mendalam tentang dunia di sekitar mereka. Berusaha menciptakan sinergi yang kuat antara sekolah dan orang tua. Orang tua tidak hanya mendampingi anak-anak mereka dalam setiap kegiatan, tetapi juga berperan aktif dalam pembelajaran. Hal ini memberikan inspirasi berharga kepada siswa sebagai generasi penerus [45]. Sebab pada kegiatan ini orang tua berperan pendidik, pelindung, sekaligus teladan bagi mereka [46].

Homeschooling membangun sinergitas dan komunikasi aktif kepada orang tua dan guru. Sinergi tersebut berupa penyelenggaran kelas-kelas parenting, kegiatan evaluasi bersama guru dan orang tua, keterlibatan orang tua dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta menjalin komunikasi aktif secara langsung, maupun secara daring. Sekecil apapun permasalahan yang dihadapi siswa pada saat pembelajaran berlangsung, akan disampaikan kepada orang tua. Ini dimaksudkan agar permasalahan dapat segera terselesaikan, sekaligus diharap pembelajaran dapat berjalan secara optimal.

Guru menggunakan berbagai strategi komunikasi untuk mengelola kegiatan pembelajaran, termasuk kemampuan memahami materi, berdiskusi, dan melibatkan orang tua. Program-program sinergi ini dapat terlaksana dengan baik, apabila orang tua berupaya maksimal mendampingi tumbuh kembang siswa [47]. Untuk itu diperlukan komunikasi aktif antara guru dengan orang tua siswa agar pembelajaran berjalan secera efektif dan efisien [48]. Sebab komunikasi yang efektif menjadi pondasi utama dalam mengatasi setiap permasalahan yang mungkin muncul selama proses pembelajaran. Selain itu hasil pengamatan menunjukkan, bahwa intensitas komunikasi orang tua dan guru berdampak pada keaktifan siswa selama pembelajaran. sejalan dengan ini Juniarti (2023) dalam penelitiannya menyampaikan, bahwa komunikasi orang tua dan guru berpengaruh terhadap keaktifan siswa, keterampilan sosial, motivasi meningkat, tercipta lingkungan belajar yang kondusif, serta mendekatkan hubungan guru dan siswa [49].

Salah satu upaya HSGSD Mutiara Ummah dalam membangun sinergitas adalah melalui penyelenggaraan kelas parenting setiap enam bulan sekali. Orang tua tidak hanya mengawasi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Melalui kelas ini, orang tua memperoleh pemahaman lebih dalam mengenai metode pembelajaran yang diterapkan dan dapat berpartisipasi aktif dalam membimbing perkembangan akademis anak-anak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Maza pada tahun 2022, menyatakan peran parenting dibutuhkan dalam pembentukan karakter siswa, menyalurkan bakat, serta menumbuhkan minat wirausaha [50].

Melalui parenting, HSGSD Mutiara Ummah berusaha menyampaikan pesan bahwa kewajiban mendidik bukan hanya tugas guru. Melainkan juga perlu sinergi dan pendampingan orang tua. Hal mendasar yang menjadi perbedaan homeschooling group dengan sekolah formal adalah keterlibatan orang tua dalam pembelajaran. Oleh karena itu, ketika pembelajaran berlangsung siswa diharap sudah memiliki sedikitnya wawasan dasar mengenai materi yang akan diajarkan. Wawasan tersebut berdasarkan catatan sebelumnya yang telah diberikan oleh guru kepada orang tua di rumah yang disampaikan melalui buku penghubung ataupun pesan Whatsapp. Begitupun pada pembelajaran Tahfidz Qur’an. Proses menghafal dan menambah hafalan (ziyadah) lebih banyak dilakukan siswa di rumah. Sehingga saat di sekolah, siswa hanya perlu melakukan murojaah (pengulangan) dan setoran hafalan.

IV. Simpulan

Sinergitas antara orang tua dan guru dalam pembelajaran di sekolah memiliki dampak positif pada perkembangan siswa, terutama dalam mencapai target hafalan Al-Qur'an. Sedangkan siswa yang tidak mendapat dukungan intensif dari orang tua dapat tetap terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran di homeschooling, tetapi kurang mampu menguasai materi yang disampaikan, berdampak pada hasil evaluasi pembelajaran. Orang tua yang kurang terlibat dapat menyebabkan siswa tidak melakukan pengulangan materi yang telah diajarkan, menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Siswa juga memiliki masalah terkait kehadiran dan keaktifan, kerap bersikap agresif, sulit menerima nasehat, dan terlibat dalam perilaku negatif.

Permasalahan kasuistik menunjukkan bahwa beberapa siswa dengan kondisi khusus, seperti ADHD dan slow learner, menghadapi tantangan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Meskipun orang tua dan guru berusaha memberikan dukungan, terdapat hambatan unik yang mempengaruhi kemampuan siswa dalam menangkap materi pembelajaran secara umum. Namun hambatan tersebut dapat teratasi dengan manjalin sinergi yang baik antara guru dan orang tua.

Dengan demikian, pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam homeschooling terlihat dalam pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Sementara itu, tantangan yang dihadapi oleh siswa dengan kondisi khusus menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih individualized dan adaptasi dalam metode pembelajaran homeschooling.

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Terima kasih kepada orang tua yang telah memberikan dukungan dan motivasi untuk menyelesaikan penelitian ini. Kepala HSGSD Mutiara Ummah yang berkenan mengizinkan peneliti terlibat langsung dalam pembelajaran, rekan-rekan guru yang membantu peneliti memperoleh data, serta para orang tua/wali murid yang berpartisipasi. Tak lupa juga terima kasih banyak kepada teman-teman yang bersedia memberikan masukan dan arahan sehingga penelitian ini dapat selesai hingga akhir.

References

S. W. Agustinah and D. Indriyani, “Dampak globalisasi terhadap perilaku belajar siswa di SMK Negeri 1 Cianjur,” Integralistik, vol. 30, no. 1, pp. 53–62, 2019.

A. S. M. Amadi, “Pendidikan di era global: Persiapan siswa untuk menghadapi dunia yang semakin kompetitif,” Educatio, vol. 17, 2022.

Q. Amini, K. Rizkyah, S. Nuralviah, and N. Urfany, “Pengaruh globalisasi terhadap siswa sekolah dasar,” J. Pendidik. dan Dakwah, vol. 2, no. 3, pp. 375–385, 2020.

Sulistyarini, “Membangun karakter siswa melalui pembelajaran kontekstual,” Media Neliti, 2017.

S. M. Nasution and I. Choli, “Homeschooling and Islamic education in Indonesia,” Al-Risalah, vol. 13, no. 2, pp. 248–264, 2022.

T. M. Feranina and C. Komala, “Sinergitas peran orang tua dan guru dalam pendidikan karakter anak,” J. Perspekt., vol. 6, no. 1, p. 1, Jul. 2022.

U. Dedih, “Adolescent moral development in families,” J. Pendidik. Islam, vol. 4, no. 2, pp. 63–76, 2019.

A. P. Pradevi, “Hubungan pengawasan orang tua dalam penggunaan gadget dengan kemampuan empati anak,” J. Pendidik. Anak, vol. 9, no. 1, 2020.

I. Rosyidah, T. Hermansah, D. Afianty, D. M. Darajat, Z. Muttaqin, and T. Rohayati, Homeschooling Ketahanan dan Kerentanan, 1st ed. Jakarta: Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, 2020.

I. Afida, E. Diana, and D. M. Agus Puspita, “Merdeka belajar dan pendidikan kritis Paulo Freire dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” FALASIFA J. Stud. Keislam., vol. 12, no. 02, 2021.

S. Purnama, “The reconstruction of educational basis in homeschooling group Khoiru Ummah,” Nadwa, vol. 1, no. 1, p. 51, 2019.

Z. Afiat, “Homeschooling; pendidikan alternatif di Indonesia,” Univ. Bina Bangsa Getsempena, vol. 1, no. 1, 2019.

A. Djamaluddin and Wardana, Belajar dan Pembelajaran, 2019.

J. de Houwer, D. Barnes-Holmes, and A. Moors, “What is learning? On the nature and merits of a functional definition of learning,” Psychon. Bull. Rev., vol. 20, no. 4, pp. 631–642, 2013.

M. Asad Ali and A. Masih, “Enhancing the quality of learning through changes in students’ approach to learning,” Int. J. Asian Educ., vol. 2, no. 3, pp. 455–461, 2021.

M. S. Jailani, “Teori pendidikan keluarga dan tangung jawab orang tua dalam pendidikan anak usia dini,” Tarb. Kegur., pp. 1–13, 2015.

M. S. A. Lubis and H. S. Harahap, “Peranan ibu sebagai sekolah pertama bagi anak,” J. Ilmu Pendidik., vol. 2, no. 1, pp. 6–13, 2021.

S. M. Mashita, D. Rostyaningsih, and H. Lestari, “Sinergitas stakeholder dalam program Kampung Tematik Kuliner di Kelurahan Jatingaleh Kota Semarang,” J. Public Policy Manag. Rev., vol. 12, no. 2, pp. 2–19, 2023.

S. Nurhasanah, “Manajemen kurikulum homeschooling group berbasis Islam,” UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2017.

R. A. Listyaningrum et al., “Pelatihan creative parenting dan pembuatan APE mandiri bagi orang tua muda di Kecamatan Bendo Magetan,” E-Dimas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 12, no. 3, 2021.

R. S. Wardani, “Studi fenomenologi: Problematika guru dan wali murid saat pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 di sekolah dasar,” JPGSD, vol. 9, no. 2, pp. 1634–1646, 2021.

Y. Setyowati, “Analisis peran religiusitas dalam peningkatan akuntabilitas dan transparansi lembaga amil zakat (studi kasus pada Rumah Zakat Jakarta Timur),” Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, 2020.

M. Hajaroh, “Paradigma, pendekatan dan metode penelitian fenomenologi,” J. Pendidik. Univ. Negeri Yogyakarta, pp. 1–21, 2010.

M. R. Fadli, “Memahami desain metode penelitian kualitatif,” HUMANIKA, vol. 21, no. 1, 2021.

A. Sudarsyah, “Kerangka analisis data fenomenologi,” J. Penelit. Pendidik. UPI, vol. 13, no. 1, 2017.

D. Hasim, “Studi komparatif tereduksinya Kampung Nelayan di Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate Provinsi Maluku Utara (studi kasus Kelurahan Tomalou dan Kelurahan Sangaji),” J. Ekon. Pembang., vol. VI, no. 1, p. 27, 2018.

A. Suryana, “Tahap-tahapan penelitian kualitatif,” Prodi Administrasi Pendidikan, Fak. Ilmu Pendidikan, Univ. Pendidikan Indonesia, Bandung, pp. 5–10, 2007.

M. Devera, “Pengelolaan program ekstrakurikuler di MTs. Negeri 1 Tulang Bawang,” UIN Raden Intan Lampung, 2017.

P. Basham, J. M. Hepburn, and C. R., “Sekolah di rumah: Dari yang ekstrim hingga mainstream,” 2007.

T. Naimah, “Konsep dan aplikasi homeschooling dalam pendidikan keluarga Islam,” Islam. J. Pemikir. Islam, p. 177, 2019.

Tiaresaputra, R. Jaramaya, and Krisdyatmiko, “Homeschooling sebagai salah satu pendidikan alternatif,” Universitas Gajah Mada, 2011.

S. Alice, “The role of religious activities in character development,” J. Educ. Ethics, vol. 10, no. 2, pp. 45–57.

J. Benjamin and E. Al, “Leadership training through religious practices: A case study in secondary education,” Int. J. Educ. Dev., vol. 15, no. 4, pp. 321–335, 2022.

B. Chloe, “The impact of leading Dhuha prayer on personal development,” J. Leadersh. Stud., vol. 8, no. 1, pp. 67–82, 2022.

M. Parhan and D. P. D. Kurniawan, “Aktualisasi peran ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak di era 4.0,” JMIE (Journal Madrasah Ibtidaiyah Educ.), vol. 4, no. 2, p. 157, 2020.

Q. Qomaruddin, “Pendampingan orangtua terhadap pendidikan anak,” CENDEKIA J. Stud. Keislam., vol. 3, no. 1, 2018.

P. Elsya, “Hubungan antara keharmonisan keluarga dengan perilaku agresif pada remaja di SMA Swasta Eria Medan,” Universitas Medan Area, 2023.

E. Salsabilla, “Pengaruh pergaulan teman sebaya terhadap karakter cinta damai anak di RW 06 Rempoa,” 2022.

L. Núñez-Jaramillo, A. Herrera-Solís, and W. V. Herrera-Morales, “ADHD: Reviewing the causes and evaluating solutions,” J. Personalized Med., vol. 11, no. 3, 2021.

E. S. C. Mumpuniarti, S. Rudiyati, and Sukinah, “Kebutuhan belajar siswa lamban belajar,” Educ. Inf., pp. 1–15, 2012.

E. Rudiansyah and R. Saputra, “Peran kepemimpinan dalam olah raga untuk membangun nilai karakter bangsa,” J. Pendidik. Jasm. Kesehat. dan Rekreasi, vol. 10, no. 2, pp. 90–106, 2023.

T. Prasetyo, “Aktivitas olahraga dalam mengidentifikasi karakter siswa SMA Negeri 1 Durai Kabupaten Karimun,” Universitas Islam Riau, 2021.

Z. Shana and E. S. Abulibdeh, “Science practical work and its impact on students’ science achievement,” J. Technol. Sci. Educ., vol. 10, no. 2, pp. 199–215, 2020.

R. F. Ni’mah and Mintohari, “Model pembelajaran langsung untuk meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan siswa sekolah dasar,” JPGSD, vol. 1, no. 2, 2013.

K. Cotton, “School improvement research series: Developing employability skills,” 1993.

S. Su’dadah, “Peran orang tua dalam pendidikan Islam,” Afeksi J. Penelit. dan Eval. Pendidik., vol. 3, no. 1, 2022.

I. J. Triwardhani, W. Trigartanti, I. Rachmawati, and R. P. Putra, “Strategi guru dalam membangun komunikasi dengan orang tua siswa di sekolah,” J. Kaji. Komun., vol. 8, no. 1, 2020.

R. Permana, “Pengaruh pelaksanaan kebijakan pendidikan SD IT terhadap komunikasi guru dengan orang tua siswa dalam mewujudkan partisipasi orang tua siswa pada pelaksanaan program pembelajaran keagamaan,” Khazanah Akad., vol. 5, no. 02, 2022.

C. E. Juniarti, “Pentingnya komunikasi efektif dalam pengelolaan kelas yang sukses,” Pendidikan, vol. 1, no. 1, p. 12, 2023.

D. Maza R. and E. Erianjoni, “Peran parenting dalam pendidikan anak di SD Negeri Percobaan Kota Padang,” J. Perspekt., vol. 5, no. 3, 2022.