Sustainable Energy Solutions for Isolated Areas: A Case Study of PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap's CSR Program
Innovation in Social Science
DOI: 10.21070/ijins.v24i.946

Sustainable Energy Solutions for Isolated Areas: A Case Study of PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap's CSR Program


Solusi Energi Berkelanjutan untuk Daerah Terisolir: Studi Kasus Program CSR PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap

PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap
Indonesia Bio
PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap
Indonesia Bio
PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap
Indonesia Bio

(*) Corresponding Author

Community Responses Corporate Social Responsibility Hybrid Power Plant Isolated Areas Sustainable Energy Solutions

Abstract

This qualitative study examines the implementation of PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap's Corporate Social Responsibility (CSR) program, focusing on sustainable energy solutions for isolated areas in Indonesia. The program, supporting the Energy Independent Village Movement, establishes a Hybrid Power Plant using solar and wind energy in Bondan Hamlet, an area lacking electricity access. The research analyzes the planning, execution, and evaluation of the CSR project, with a particular emphasis on stakeholder participation and community responses. The study concludes that the CSR program successfully aligns with the triple bottom line approach and adheres to ISO 26000 guidelines, contributing to sustainable energy development in isolated regions.

Highlights:

  1. Uneven regional development in Indonesia has left some areas isolated and lacking basic needs, including energy.
  2. The Energy Independent Village Movement, supported by PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap's CSR program, aims to address this issue by utilizing natural resources.
  3. Bondan Hamlet, an isolated area without electricity, was chosen as a pilot project for a Hybrid Power Plant program using solar and wind energy, which was successful in planning, implementing, and evaluating the project.

Pendahuluan

Program Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi program wajib yang dijalankan oleh setiap perusahaan utuk memberikan dampak sosial dan lingkungan selain menjalankan proses bisnisnya. Di Indonesia, kewajiban dalam menjalankan CSR tertulis dalam Peraturan Mentri Lingkungan Hidup No.3 Tahun 2014. Peraturan ini direvisi dan perbaharui dalam Peraturan Menteri LHK dalam No 1 Tahun 2021. Dalam konteks global, pelaksanaan progam CSR mendukung kesepakatan global dalam pemenuhan Sustainability Development Goals (SDGS). Kesepakatan SDGs menggantikan Millenium Development Goals (MDGs). Terdapat 17 dan 169 sasaran dalam SDGS, diharapakan dapat menjawab ketetinggalan pembangunan negara negara di seluruh dunia. Kesepakatan ini diakui oleh lebih dari 190 negara termasuk Indonesia. Sebagai perusahaan BUMN dan juga bagian dari unit perusahaan sklala global. PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap (PT KPI RU IV Cilacap) menuangkan komitmen dalam menjalankan CSR/TJSL yang tertuang dalam Kebijakan Program TJSL PT KPI RU IV Cilacap No.002 / KPI47000/2022-S0 pada point 6 yang berbunnyi ‘Melaksanakan Kegiatan TJSL dengan mendukung pencapaian Sustainability Development Goals (SDGs)’. CSR saat ini adalah bentuk derma yang dilakukan oleh Perusahaan. Tetapi konsep CSR merujuk dalam bentuk komitmen dalam melakukan tanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan, serta pembangunan yang berlanjut. Perkembangan CSR dahulu dilihat sebagai kegiatan bagi bagi “bantuan”. Tidak ada sebuah standar pedoman pelaksanaan CSR menjadi kendala utama dalam konsep CSR itu sendiri. Tahun 2004 badan ISO sebagai standarisasi mutu lingkup internasional membentuk working group yang melahirkan ISO:26000. Dokumen standarisasi ini CSR dinilai sebagai kelanjutan sebuah perusahaan. Dalam cakupan dokumen ini mengandung isu pokok seperti community-developemnt, konsumen, praktik lingkungan, ketenagakerjaan, HAM , dan organizational governance. Usaha ini juga berkaitan dengan tujuan pembangunan nasional, bersinergi dengan PT Pertamina (persero) menginisiasi pengembangan Desa Energi Berdikari.

Konsep terkait Desa Energi Berdikari dijelaskan bahwa kemandirian energi tidak dalam skalla yang besar, namuni diharus mulai dari desa, masyarakat desa diajak untuk memanfaatkan energi alam seperti surya, biogas, microhydro, biodiesel dan angin, untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sehingga desa bisa tumbuh berdikari dan ekonominya pun meningkat (Nicke, 2020). Kata ‘memanfaatkan’ dalam konsep desa energi berdikari merujuk pada pemanfaatan potensi alam yang ada di sekitar kita. Kendati demikian dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, masih belum cukup untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia. Jaringan Listrik di Indonesia saja baru menjangkau 85% dari jumlah keseluruhan desa yaitu sebanyak 82.190 desa. Terdapat 2.519 desa bahkan belum merasakan layanan listrik sama sekali, walaupun 2,376 diantaranya ada di Papua. Sisanya belum mendapatkan layanan secara penuh dalam 24 jam. Rasio kelistrikan di Indonesia ditargetkan meningkat menjadi 97 persen pada 2019 (Kementrian ESDM, 2016). Kondisi geografis menjadi alasan yang nyata dalam keterlambatan ini, adanya pulau pulau kecil di Indonesia menyebabkan beberapa desa menjadi disa terpencil dengan akses yang sulit. Sehingga pengembangan pada daerah tersebut dirasa sulit dilkukan oleh pihak terkait. Sehingga pemanfaatan sumber daya alam yang ada menjadi pilihan yang harus dipertimbangkan untuk bisa bertahan hidup.

Konsep Desa Berdikari yang digalangkan oleh PT Kilang Pertamina Internsional RU IV Cilacap, sejalan dengan konsep Desa Mandiri Energi, menurut Fitrin (2010) Desa Mandiri Energi bertujuan untuk membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan kegiatan ekonomi produktif. Sedangkan, tujuan utama pengembangan Desa Mandiri Energi adalah mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja untuk mensubstitusi bahan bakar minyak. Konsep Desa Berdikari yang diterapkan di Dusun Bondan melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) sebagai wilayah pengembangan CSR Kilang PT Pertamina Internasional RU IV Cilacap adalah Komitmen perusahaan dalam kontribusi pada lingkungan khususnya masyarakat. Menurut Ardianto (2011:34) CSR adalah komitmen perusahaan dalam memberikan kontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan pada ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain itu menurut Chairil (2007:285) program CSR ditujukan agar para pelaku bisnis, baik sektor industri dan korporasi, dapat turut berperan dalam pertumbuhan ekonomi yang sehat, dengan memperhatikan faktor lingkungan hidup. Secara Yuridis, penerapan CSR Oleh PT Kilaang Pertamina Internasional RU IV Cilacap berpedoman pada UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta dalam PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Sedangkan pada aturan berusaan sendiri, Tanggung Jawab TJSL

PT KPI RU IV Cilacap merupakan BUMN yang bergerak dalam industri Minyak dan Gas. PT KPI RU IV Cilacap maka dari itu menjalakan program CSR mnejadi hal wajib yang perlu diperhatikan. Komitmen ini juga tertuang dalam visi CSR ‘Mewujudkan masyarakat Kabupaten Cilacap berdaya saing unggul, inovatif dan mandiri dalam rangka peningkatan kesejahteraan serta mendukung Pertamina RU IV menjadi kilang minyak dan petrokimia berkelas dunia pada tahun 2028’

Metodologi

Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan adanya fokus pada studi kasus penerapaan program CSR berbasis EBT di dusun bondan. Penelitian ini menganalisa fenomena sosial yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Teknik pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi studi pada kepustakaan, observasi lapangan dan wawancara, selain itu itu juga dilakukan kajian teoritis pada jurnal penelitian yang relevan.Penelitian ini memiliki tiga fokus, pertama, pada tahapan perencanaan dalam hal ini penelitian mendeskripsikan terkait peran serta stakeholder dalam melakukan perancangan progam baik yang tersusun dalam rencaja kerja (Renja) maupun Rencana Strategis (Renstra). Kedua, pelaksanaan dalam hal ini penelitian menggali terkait tingkat paartisipasi beserta tanggapan dari peneriman manfaat di Dusun Bondan.

Penggalian data dilakukan dengan menilai human interest dengan wawancara yang telah tersusun. Ketiga, terkait keberhasilan termasuk di dalamnya keberlanjutan program Energy Beru Terbarukan (EBT) dalam memandirikan masyarakat, pengambilan data mengunakan purposive sampling dengan perwakilan kelompok.Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif. perumusan ini dipilih bukan tanpa sebab, tetapi memperhitungkan kecocokan pada objek yang memerlukan pendalaman data berdasarkan fenomena sosial yang terjadi. Metode kulitatif menurut (Maleong : 1998) adalah tampilan berupa kata, ucapan atau tulisan yang dicermati, dan benda yang diamati dengan detil agar dapat diuangkap makna dalam dokumen tersebut. Data yang diperoleh harusnya asli, apabila yang asli telah di dapat, maka yang duplikat tidak apa, selama ada bukti pengesahan. Data kualitatif yang disebutkan secara garis besar dibedakan menjadi dua anatara lain manusia dan bukan manusia. Manusia yang menjadi sumber daya adalah berdasarkan kepentingan peneliti. Teknik pengelolaan yang digunakan teknik purposive sampling dari Creswell 2015:) yang menyebutkan “Purposive sampling didefinisikan sebagai penarikan sample nonprobabilitas dimana unit obejek diteliti berdasarkan pertimbangan probadi dalam hal ini unit yang dianggap representatif” Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi partisipatoris, menurut Widyoko (2015:) kegiatan observasi dikatakan sebagai observasi partisiptif jika peneliti yang melakukannya ikut dalam kegiatan atau ikut dalam aktivitas orang yang sedang di teliti. Dari observasi langsung yang dilakukan peneliti melakukan pengamatan secara langsung dan melakukan perbandingan perubahan sosial secara langsung. Selain pengambilan data juga didiung dua metode lain yaitu wawancara dan dokumentasi. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan reduksi dari (Miles & Huberman : 2015) yang menyebutkan bahwa reduksi data penelitian memusatkan perhatian pada data lapangan yang telah terkumpul, data tersebut selanjutnya dipilih untuk menentukan drajat relevansinya dengan tujuan penelitian” . Sedangkan untuk teknik penyajian data dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan data data dari hasil reduksi data yang telah diolah tersebut. Sedangkan untuk membuktikan terkait kebenaran data atau validasi, dilakukan Forum Group Discussion (FGD) , menurut Sugiyono (2006: 338) mengatakan jika validasi sebuah desain penelitian pada pengembangan sebuah program kerja, atau model dan produk melalui forum dengan informan yang relevan. Desain penelitian dalam hal ini yang digunakan dihasilkan dari Focus Group Discusion (FGD)

Orisinalitas Penelitian

Adanya penelitian ini berangkat dari telaah Jurnal dari peneltitian yang pernag dilakukan Terdapat beberapa kajian jurnal terkait program pemberdayaan, kajian yang telah dilakukan diinisiasi oleh lembaga pemerintahan ataupun lembaga pemerintahan namun dengan tujuan yang sama yaitu menciptkan kemandirian melalui program pemberdayaan. Dalam hal ini program pemberdayaan yang akan dikaji dalam konteks CSR. Dalam hal ini kami menemukan beberapa kajian yang dijadikan landasan kajian Pustaka penelitian ini. Penelitian pertama, jurnal dengan judul ‘Corportae Social Responsibility. A Strategy for Social and Territorial Sustainability’ yang ditulis oleh Letizia Carrera dalam International journal of Corporate Soscial Responsibility (2022) menjelaskan bahwa dalam menjalankan progam CSR memerlukan sebuah fundamendal yang kuat untuk membentuak sebuah territorial atau lingkungan sejahtera yang mampu memiliki keberlanjutan, penelitian ini menghasilkan katalog atau ‘good practices’ yang mampu memfasilitasi perusahaan dalam melaksanakan progam CSR. Namun sayangnya dalam penelitian tidak dijelaskan secara detil menggunakan sebuah contoh kasus progam CSR yang implementatif, sehingga sulit dipahami terkait implemntasi ‘good practices ‘ yang dimaksud.

Penelitian kedua, menjelaskan implementasi progam CSR yaitu pada jurnal dengan judul ‘Evaluation of the level of corporate social responsibility of Ukrainian nuclear energy producers’ yang diteliti oleh Olena Grishnova, Kateryna Berziuk dan Yriy Bilan dalam jurnal Management & Marketing, Challenges for the Knowledge (2020). Dalam penelitian ini menjelaskan terkait evaluasi progam CSR menggunakan metode SPACE-Analysis. Metode ini merupakan metode kuantitatif adalah data yang disuguhkan berupa angka dengan rumus SPACE-Analysis. Kritik dari penelitian ini adalah tidak adanya objek yang jelas yang dilakukan guna penggunaan SPACE-Analysis, sehingga klaim peneliti terkait penggunaan metode ini pada segala objek masih diragukan. Selain itu penelitian kuantitatif masih dianggap kurang mendalam dalam menggali data real di lapangan, terlebih lagi program CSR yang sering bersinggungan dengan aspek sosial dan stakeholder, sehingga perlu memerlukan pendekatan yang lebih mendalam terhadap program dan objek penelitian dengan melakukan observasi mendalam.

Penelitian ketiga, terkait CSR dijelaskan pada jurnal dengan judul ‘Urgency Corporate Social Responsibility (CSR) Towards Corporate Development In Indonesia’ oleh Garaika dalam International Journal Of Economics, Business and Accounting Research (IJEBAR) (2020). Dalam Jurnal ini dijelaskan terkait urgensi perusahaan dalam menjalankan progam CSR di Indonesia, penelitian menggunakan literature review, hasil dari penelitian menyatakan klaim bahwa progam CSR wajib dilakukan oleh setiap perusahaan di Indoensia, kendati demikian untuk penelitian yang bersumber dari literature review, penelitian kurang menjelaskan secara detil landasan hukum yang mampu menguatakan klaim hasil penelitian tersebut, selain itu penelitian juga tidak memberikan spesifikasi program CSR hanya sebatas charity saja, dimana program bersifat charity apabila tidak adanya pendampingan dan pengembangan kapasitas penerima manfaat akan kurang memberikan dampak pada pada penerima manfaat ataupun perusahaan terkait.

Dari ketiga jurnal yang menjelaskan terkait progam CSR tersebut masih belum ada yang menjelaskan progam CSR berbasis pemberdayaan yang lebih implementatif. Sehingga perlu dilakukan penelitian lain sebagai bahan referensi untuk pengembangan penelitian berikutnya. Penelitian yang kami lakukan menjadi opsi rujukan terkait implementasi progam CSR di daerah terisolir. Dengan objek penelitian program Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) yang diinisiasi oleh PT KPI RU IV, penelitian ini akan menyajikan proses program CSR pemberdayaan yang terprogram. Menggunakan konsep keberlanjutan progam, peneliti akan menyajikan proses program mulai dari tahun pertama hingga tahun terakhir pendampingan. Berikut merupakan logical framework dalam penelitian ini :

Figure 1. Framework Penelitian

Pembahasan

Latar Belakang / Perancanaan

PT KPI RU IV Cilacap sebagai perusahaan produksi minyak bumi menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM), Non BBM dan Petrokimia, berkomitment untuk membantu dalam membangun masyarakat sekiatar area operasi RU IV melalui program CSR mengacu ISO 26000, mempertimbangkan ekspektasi semua stakeholder, patuh hukum dan konsisten dengan bisnis. Sementara itu, didalam kebijakan Program CSR PT Pertamina Internasional RU IVCilacap yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya untuk sehat, sejahtera, maju dan mandiri Bersama Pertamina melalui Program Sektor Prioritas CSR bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan bencana alam serta program CSR turut serta mensukseskan tercapainya SDG’s. Selain itu, beberapa hal lain dijadikan motif pelaksanaan dengan memberi distribusi perbaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pelaksanaan program ini adalah mendirikan hubungan baik dan kondusif stakeholder, untuk berkontribusi sebagai pencapaian tujuan perusahaan dalam mendirikan reputasi. Isu utama dalam pelaksanaan hal ini adalah pelibatan masyarakat, yang difokuskan dalam dunia pendidikan, dunia kesehatan,dunia ingkungan dan dunia pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan social mapping yang dilakukan pihak independen, Dusun Bondan Desa Ujungalang terletak di Kawasan Pesisir Kab Cilacap dengan permasalahan dan potensi di sector sosial, alam dan Human. Permasalahan aspek social diantaranya adalah Dusun Bondan belum tercover Listrik PLN, ditetapkan sebagai daerah tertinggal dan tidak ada aktifitas produktif pada malam hari. Pada aspek alam, yaitu Mayoritas lahan dusun bondan adalah lahan tambak yang belum dikelola secara optimal, harga jual hasil tambak yang fluktuatif, belum ada pengolahan hasil tambak. Sedangkan permasalahan aspek human, diantaranya adalah tingkat Pendidikan yang rendah, mata pencaharian masyarakat tidak tetap, pelajar tidak bisa belajar pada malam hari. Pelaksanaan progam EBT di dusun bondan berangkat dari hasil kajian Social Mapping (Sosmap) yang dilakukan oleh Social Developemnt Studies Centre (SODEC). Secara georafis, Dusun Bondan terletak di Desa Ujung Alang, Kabupaten Cilacap. Untuk menuju dusun bondan harus menggunakan perahu / kapal selama kurang lebih 2 jam. Aksesknya yang sulit mengakibatkan Dusun Bonan memiliki beberapa permaslahan. Pada aspek sosial, Dusun Bondan belum tercover listrik dari PLN, ditetapkan sebagai daerah tertinggal dan tidak dapat berproduksi di malam hari. Sedangkan untuk permaslaha pada aspek lingkungan yaitu terkati lahan tambak yang belum dikelola secara maksimal, harga jual dari hasil tambak juga fluktuatif yang dimainkan oleh oknum tertentu, hal ini sangat menekan para petani terlebih pada saat itu belum ada kegiatan produktif untuk mengolah hasil tambak disana.. Permasalahan lainnya yaitu terkait tingkat pendidikan yang sangat rendah, di Dusun Bondan hanya terdapat Sekolah Dasar dan itupun harus menginduk pada Sekolah Dasar di pusat kota. Adapun potensi aspek sosial adalah terdapat modal sosial masyarakat yang kuat, Terdapat institusi social yaitu kelompok Tani Tambak Mandiri, serta gotong royong kuat antar masyarakat. Potensi pada aspek alam yaitu antara lain; Potensi angin dan sinar matahari yang melimpah, perpaduan tambak dengan vegetasi mangrove. Sedangkan potensi aspek human antara lain adalah memiliki 53% penduduk usia produktif dan tingginya tingkat bertahan hidup masyarakat Dusun Bondan. Diketahui dengan pasti permasalahan dan kendala yang dihadapi di lapangan, Maka berdasarkan hasil tersebut PT KPI RU IV Cilacap memulai merintis program CSR guna mempersiapkan kehidupan ekonomi masyarakat yang mandiri di wilayah pengembangan Dusun Bondan yang dimulai dari penyusunan Rencana Strategis (renstra) 5 tahun yang dilakukan Bersama dengan masyarakat dan stakeholder terkait seperti Pemerintah Desa, dan perguruan tinggi negeri di Cilacap yaitu Politeknik Negeri Cilacap. Dari Renstra yang telah disetujui bersama kemudian dirinci lagi program setiap tahunya melalui Penyusunan Dokumen Rencana Kerja (Renja).

Permasalahan utama yang di sampaikan oleh masyarakat adalah masalah listrik, sehingga PT KPI RU IV Cilacap fokus terhadap permasalahan tersebut dahulu sebagai sumber energi bagi Dusun Bondan. Solusi yang dihadirkan adalah dengan membuat pembangkit listrik dari tenaga angin dan tenaga matahari metode (Hybrid Energy One Pole) Program E-Mas Bayu dan E-Mbak Mina (Energi Mandiri Tenaga Surya & Angin dan Energi Mandiri Tambak Ikan) merupakan program CSR yang digagas oleh PT KPI RU IV Cilacap. Program ini merupakan salah satu program unggulan dari Implementasi Program CSR yang dilaksanakan PT Kilang Pertamina Ingternasional RU IV Cilacap, salah satu kegiatanya yaitu diwujudkan dalam pembangunan PLTH. Program ini dilaksankan di Dusun Bondan, merupakan dusun termuda di Desa Ujungalang. Desa Ujungalang terletak di Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap. Dusun ini berada di luar blok permukiman Desa yang letaknya kurang lebih setengah jam dari pusat Pemerintahan Desa dan hanya dapat ditempuh dengan moda transportasi air menggunakan perahu. Dusun Bondan awalnya hanyalah tanah timbul yang dikelola oleh Perhutani.Tanah-tanah tersebut memang tanah-tanah tidak bertuan. Baru pada tahun 1998, banyak pendatang terutama dari Karawang yang tinggal di dusun tersebut yang bertujuan untuk membuka tambak. Periode tersebut berbarengan dengan booming-nya usaha-usaha tambak yang terjadi di Desa Ujungalang, yang menurut keterangan terjadi pada tahun 1994 sampai 1999-an. Tidak heran apabila hari ini hampir seluruh penduduk di Dusun Bondan justru berasal dari Karawang. Jumlahnya kurang lebih 77 Kepala Keluarga dari total 80 Kepala Keluarga yang ada di dusun tersebut. Secara administrasi, Desa Ujungalang terbagi ke dalam empat dusun, yaitu Dusun Motean, Dusun Paniten, Dusun Lempong Pucung dan Dusun Bondan dengan 12 RW, dalam RW tersebut ada 39 RT. Desa Ujungalang sendiri memiliki nama lain Bejagan yang memiliki arti penjagaan. Menurut keterangan nama tersebut muncul dari cerita sejarah yang menyebutkan bahwa dahulu terdapat beberapa pasukan dari Kerajaan Mataram yang menjaga wilayah tersebut. Desa Ujungalang secara administratif tercatat seluas 6.487 Ha, mayoritas luasan lahan ditumbuhi pohon mangrove. Adanya daratan di Desa Ujungalng merupakan tanah timbul yang merupakan bentukan geomorfologi fluvial berupa tanah sungai sungai kecil yang tersedimentasi. Jarak lokasi Desa ke pusat pemerintah kecamatan sejauh 3km, jarak ke pusat desa sejauh 17 km ke pusat pemerinthan Kabupaten, akses akses tersebut hanya dapat ditempuh menggunakan perahu.

Figure 2.Peta Administrasi Desa Ujungalang Sumber : Data Sekunder Studi Inovasi 2018

Hasil observasi di lapangan dan juga kajian studi yang dilakukan, progam ini menganut triple bottom line dengan orientasi pada pembangunan berkelanjutan. John Elkington dalam Enjang (2012:6) menyampaikan bahwa initi dari implementasi CSR mengandung tiga pilar pembangunan yaitu manusia, planet, dan keuntungan, hal ini adalah tujuan utama dari pelaksanaan pembangunan.

Tahap Implementasi Program CSR

Setelah perencanaan dilakukanlah implementasi program. Pada tahun 2017 memperkenalkan inovasi HEOP yang diberikan kepada masyarakat Dusun Bondan yang terdiri dari 15 kincir dan 24 panel surya untuk 78 KK di Dusun Bondan. Teknologi HEOP memiliki arus listrik berupa AC yang dapat dimanfaatkan untuk penerangan rumah-rumah warga Dusun Bondan.

Figure 3.Inovasi HEOPSumber : Data Sekunder PT KPI RU IV Cilacap

Pada Tahun 2018 dilakukan pengembangan dari teknologi HEOP bekerja sama dengan Politeknik Negeri Cilacap berupa pembangunan PLTH dengan kapasitas tahap pertama adalah sebesar 6.000 WP dengan arus DC sehingga tidak hanya untuk penerangan saja namun dapat digunakan alat elektronik yang lain.

Figure 4.PLTH Tahap I Sumber : Data Sekunder PT KPI RU IV Cilacap

Pembangunan PLTH tahap pertama terdiri dari penambahan 3 kincir dan 12 panel surya yang dapat menyalurkan energi terbarukan ke 22 rumah. Pada Tahun 2019 dilakukan penambahan kapasitas sebesar 6.000 WP sehingga total Kapasitas PLTH sebesar 12.000 WP dengan penambahan 2 kincir dan 12 panel surya sehingga mampu menyalurkan energi terbarukan dengan arus DC ke 15 rumah, 1 sekolah, 1 masjid, dan 2 tempat produksi UMKM.

Figure 5.PLTH Tahap IISumber : Data Sekunder PT KPI RU IV Cilacap

Selain itu, PT KPI RU IV Cilacap juga mengadakan sharing knowledge mengenai perawatan PLTH apabila dikemudian hari terjadi kerusakan melalui engineer Pertamina dan dari Perguruan Tinggi Politeknik Negeri Cilacap. Hal ini dapat meciptakan kemandirian terhadap masyarakat khsusunya Pengelola PLTH apabila terdapat kerusakan sudah tidak bergantung lagi kepada Pertamina maupun Politeknik Negeri Cilacap.

Figure 6.Sharing Knowledge Sumber : Data Sekunder PT KPI RU IV Cilacap

Setelah adanya PLTH sebagai inovasi teknologi di Dusun Bondan, lahir inovasi social dimana masyarakat mengadakan tabungan setiap kk sebesar 25.000 per bulan untuk keberlanjutan dari PLTH. Tabungan tersebut untuk mengganti komponen dari PLTH jika ada kendala. Selain itu dari pihak Desa juga merespon baik dengan membuat Perdes mengenai PLTH energi terbarukan yang ada di Dusun Bondan. Hal ini mendandakan adanya respon yang baik dari pemerintah khsusunya pemerintah desa. Dampak lain yang dihasilkan setelah adanya PLTH adalah lahirnya 2 institusi sosial yang baru yaitu Ibu Mandiri dan Ibu Mekar Jaya. Di mana mayoritas penduduk perempuan sebelumnya tidak memiliki mata pencaharian dan kegiatan produktif, karena disamping tidak adanya energi listrik yang tersalur di Dusun Bondan, Ibu-ibu sebagai istri dari petambak jika tiba saatnya ikan di tambak usia panen, hasil tambak tersebut langsung dijual kepada tengkulak yang harganya ditetapkan oleh tengkulak. Setelah adanya PLTH ibu-ibu istri petambak mempunyai inisiatif untuk mengolah hasil tambak dari suaminya untuk diolah menjadi makanan yang diproduksi menggunakan alat-alat elektronik yang didapatkan dari energi terbarukan seperti freezer dan alat masak elektronik lainya.

Figure 7.Produk Olahan Makanan Ibu Mekar Jaya Sumber : Data Sekunder PT KPI RU IV Cilacap

Evaluasi

Dalam pelaksanaan program CSR tersebut, Pertamina RU IV Cilacap rutin dalam memantau program pada sektor kerja jika belum maksimal. Evaluasi bertujuan untuk mendapatkan data maupun informasi yang ada di lapangan, selain itu dilakukan pula rancangan solusi agar program berjalan baik. Hadi (2011) dalam Enjang (2012 : 11) mengatakan bahwa dalam kegiatan evaluasi ini program CSR perusahaan, dilakukan sebagai upaya memperoleh data dan informasi. Informasi yang didapatkan dijadikan acuan pemantapan dan penetapan kebijakan. Evaluasi juga meningkatkan kualitas progam.

Figure 8.Kegiatan Monitoring & Evaluasi ProgramSumber : PT KPI RU IV Cilacap

Penilaian Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap setiap kelompok program, khususnya untuk Penerima Masyarakat Dusun Bondan masuk ke dalam kategori “Sangat Baik”. Penilaian tersebut didasarkan pada Nilai IKM Konversi yang mencapai 86,86%. Dalam melakukan survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) ini responden yang diwawancarai berjumlah 77 orang, dengan nilai penimbang yang digunakan adalah 0,55. Dapat disimpulkan bahwa program CSR ini terlaksana secara proposional pada setiap aspeknya baik perencanaan, penerapan serta keberlanjutanya. Hasil evaluasi melalui Indeks Kepuasan menghasilkan hasil sebagai berikut :

Masyarakat Dusun Bondan

  1. Jumlah responden: 77
  2. Nilai Penimbang : 0,55
  3. Nilai Indeks : 3,47
  4. Nilai IKM konversi : 86,86%
  5. Kategori : “Sangat Baik”

Kesimpulan

Implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap, yang bertujuan untuk mendukung Gerakan Desa Mandiri Energi melalui pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan, telah berhasil dalam mengatasi kebutuhan energi di daerah terisolir di Indonesia. Proyek percontohan program Hybrid Power Plant di Dusun Bondan, yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik, menunjukkan efektivitas penggunaan energi surya dan angin dalam mendukung desa-desa berdikari secara energi. Program CSR ini menunjukkan perencanaan yang cermat, pelaksanaan yang efisien, dan evaluasi yang komprehensif, sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan triple bottom line. Tingkat partisipasi dan kepuasan masyarakat yang tinggi, serta kontribusi dari berbagai pihak terkait seperti masyarakat lokal, perusahaan, dan lembaga seperti desa dan Politeknik Negeri Cilacap, merupakan faktor kunci keberhasilannya. Hasil positif dari inisiatif ini menunjukkan potensi untuk mengadopsi proyek serupa di daerah terisolir lainnya, dengan implikasi yang lebih luas dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di negara ini. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi skalabilitas program semacam ini, menilai dampak jangka panjang terhadap perkembangan dan kesejahteraan masyarakat, serta mendalami aspek sosial-ekonomi dan lingkungan dari perluasan inisiatif energi terbarukan di daerah-daerah terpencil.

References

  1. E. Ardianto and D. M. Machfudz, "Efek Kedermawanan Pebisnsi dan CSR Berlipat-lipat." Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011.
  2. D. W. F. Fittrin, "Desa Mandiri Energi: Solusi Perekonomian Indonesia di Abad 21." KOMUNITAS MAHASISWA SENTRA ENERGI, Feb. 14, 2010. [Online]. Available: https://www.kamase.org/?p=954. [Accessed Jul. 17, 2023].
  3. B. P. S. K. Cilacap, "Kecamatan Kampung Laut dalam Angka." Badan Pusat Statistik Kabupaten Cilacap, 2018.
  4. E. P. Irawan, "Program CSR berbasis pemberdayaan masyarakat pada PT PLN." Jurnal Tesis tidak diterbitkan, Universitas Padjadjaran, Sumedang, 2011.
  5. C. N. Siregar, "Analisis Sosiologis Terhadap Implementasi Corporate Social Responsibility Pada Masyarakat Indonesia." Sostek, vol. 6, no. 12, pp. 285–288, 2007.
  6. S. Sodec, "Laporan Studi Inovasi Pengembangan Masyarakat di Desa Ujungalang PT Pertamina RU IV Cilacap." Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2019.
  7. S. Sugiyono, "Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D." Jakarta: Alfabeta, 2006.
  8. L. Carrera, "Corporate Social Responsibility. A Strategy for Social and Territorial Sustainability." International Journal of Corporate Social Responsibility, vol. 7, no. 1, p. 7, Nov. 2022, doi: 10.1186/s40991-022-00074-0.
  9. O. Grishnova, K. Bereziuk, and Y. Bilan, "Evaluation of the Level of Corporate Social Responsibility of Ukrainian Nuclear Energy Producers." Management & Marketing, vol. 16, no. 2, pp. 152–166, Jun. 2021, doi: 10.2478/mmcks-2021-0010.
  10. G. Garaika, "Urgency Corporate Social Responsibility (CSR) Towards Corporate Development in Indonesia." International Journal of Economics, Business and Accounting Research (IJEBAR), vol. 4, no. 02, Jun. 2020, doi: 10.29040/ijebar.v4i02.1105.