<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Correlation between Leukocyte Count and Lymphatic Neutrophil Ratio to Procalcitonin in Covid-19 Confirmed Patients at Gresik Regional General Hospital</article-title>
        <subtitle>Hubungan Jumlah Leukosit dan Rasio Neutrofil Limfosit Terhadap Procalcitonin pada Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Gresik</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-3c35c00b1a9c31f2445e28ff174e35ed" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Verdiana</surname>
            <given-names>Verdiana</given-names>
          </name>
          <email>Verdiana0205@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-f9e6995b5439bbde2d5d8b863f910471" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Puspitasari</surname>
            <given-names>Puspitasari</given-names>
          </name>
          <email>puspitasari@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-12-18">
          <day>18</day>
          <month>12</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-58aebc007b6ae43287c2007829fef9d7">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Pandemi Covid-19 terjadi sejak akhir tahun 2019 yang menyerang berbagai negara dan masih belum dapat dihentikan. Kasus pneumonia berat pertama kali dilaporkan pada Desember tahun 2019 yang belum diketahui penyebabnya. Identifikasi dilakukan pada 7 januari 2020 untuk menemukan penyebab dari kasus pneumonia berat tersebut. Penyebab dari kasus tersebut diidentifikasi sebagai Coronavirus yang mempunyai kesamaan &gt;70% dengan virus <italic id="_italic-26">Severe Acute Coronavirus </italic>(SARS-CoV). Menurut <italic id="_italic-27">World Health Organization</italic> (WHO) menyebutkan virus yang menyebar tersebut sebagai Novel Viral Pneumonia “<italic id="_italic-28">Coronavirus Disease 2019</italic>” (Covid-19). Virus penyebab penyakitnya disebut “<italic id="_italic-29">Severe Acute Coronavirus-2</italic>” (SARS-CoV-2) [1].</p>
      <p id="_paragraph-13">Di Indonesia sendiri kasus Covid-19 dari 34 Provinsi per tanggal 10 Maret 2021 terjadi penambahan 5.144 kasus sehingga total kasus dapat dikonfirmasi menjadi 1.403.722 dimana di dalamnya tercatat 141.070 kasus tengah aktif, 1.224.603 kesembuhan dan 38.049 kematian [2]. Tercatat tanggal 3 Agustus 2021 bahwa kasus covid-19 yang terjadi dilaporkan sebanyak 3.496.700 kasus positif dan sebanyak 98.889 jiwa meninggal dunia [3]. Kemenkes RI melaporkan dalam laporan mingguan periode 28 Agustus-3 September 2021 di Pulau Jawa-Bali tercatat sebanyak 27.644 kasus baru dengan persentase 45,7% dan jumlah kematian sebanyak 2.408 dengan persentase 58,0%. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang menjadi kontribusi tertinggi di Jawa-Bali sebanyak 6.454 kasus baru dengan persentase 23,3% dengan jumlah kematian sebanyak 922 dengan persentase 38,3% [4].</p>
      <p id="_paragraph-14">Beberapa kasus yang terjadi menunjukkan bahwa pasien Covid-19 akan mengalami gangguan respon imun pada kasus yang berat. Kondisi tersebut disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan adanya perkembangan peradangan. Diharapkan pada pasien dengan kondisi yang berat agar segera melakukan pemeriksaan laboratorium sebagai penanda adanya inflamasi dan diharapkan dapat memperbaiki angka mortalitas yang terjadi. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menggambarkan status inflamasi dan imun dikarenakan inflamasi terjadi diakibatkan karena adanya infeksi. Hal ini dapat berguna sebagai prediktor yang potensial dalam prognosis pasien yang terkonfirmasi covid-19 [5].</p>
      <p id="_paragraph-15">Menurut penelitian yang dilakukan [6] pasien yang terkonfirmasi covid-19 dalam kasus yang berat hasil pemeriksaan laboratoriumnya cenderung mengalami peningkatan jumlah leukosit dan rasio neutrofil-limfosit serta terjadinya penurunan persentase monosit, eosinofil, basofil dan limfosit. Jumlah neutrofil yang meningkat menunjukkan intensitas respon inflamasi, sedangkan jumlah limfosit menurun menunjukkan kerusakan sistem kekebalan tubuh [7]. Dalam penelitian [8] memaparkan bahwa pasien covid-19 yang mengalami kasus berat juga akan mengalami peningkatan procalcitonin, ferritin dan <italic id="_italic-30">C-Reactive Protein</italic> sebagai penanda adanya infeksi. Hasil pemeriksaan hematologi yang dilakukan pada pasien covid-19 didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan neutrofil dan limfosit yang dimana menjadi salah satu respon pertahanan tubuh saat tubuh mengalami infeksi sistemik.</p>
      <p id="_paragraph-16">Menurut penelitian yang dilakukan oleh [9] menjelaskan procalcitonin adalah salah satu parameter yang berperan penting untuk menilai tingkat keparahan reaksi inflamasi terhadap infeksi yang disebabkan oleh mikroba yang sedang terjadi. Ketika infeksi yang terjadi diakibatkan oleh virus maka kadar procalcitonin akan tetap normal dan sebaliknya apabila infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri maka kadar procalcitonin akan mengalami peningkatan. Menurut penelitian [10] mengatakan bahwa pada pasien dengan gejala berat kadar procalcitonin 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien gejala sedang, sedangkan pada gejala kritis akan 8 kali dibandingkan dengan pasien gejala sedang.</p>
      <p id="_paragraph-17">Pemeriksaan laboratorium yang mudah serta sederhana dibutuhkan untuk mendiagnosis adanya infeksi virus SARS-CoV-2 seperti pemeriksaan hematologi rutin yang digunakan untuk memonitoring progresifitas penyakit terutama pada pasien tanpa gejala [11]. Apabila seseorang terinfeksi virus tersebut, maka segera bisa dilanjutkan pemeriksaan serologi dan molekuler dengan hasil yang lebih akurat [5] Hal ini diharapkan dapat mencegah derajat keparahan penyakit tersebut. Penelitian ini dilakukan karena penelitian yang membahas tentang biomarker yang digunakan untuk memprediksi tingkat keparahan maupun mortalitas pasien Covid-19 hingga saat ini hanya sedikit. Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara jumlah leukosit dan rasio neutrofil limfosit terhadap procalcitonin pada pasien yang terkonfirmasi Covid-19 di RSUD Ibnu Sina Gresik.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-1">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="heading-554c1ccc7ac2f306618c6bf16410d392">A. Metode</p>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian ini menggunakan desain penelitian <italic id="_italic-31">cross sectional</italic> dengan menggunakan data sekunder. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan surat keterangan lolos kaji etik dari RSUD Ibnu Sina Gresik dengan no: 071/043/437.76/2022</p>
      <p id="paragraph-eb00d020bef8e6042f4e8d64ee129189">B. Variabel Bebas</p>
      <p id="_paragraph-19">Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah leukosit dan rasio neutrofil limfosit.</p>
      <p id="paragraph-01cb7aa62fd109904bb946706e808e41">C. Variabel Terikat</p>
      <p id="paragraph-32b4a48dc2b102d891df35c87e9fa37a">Variabel terikat dalam penelitian ini adalah procalcitonin.</p>
      <p id="paragraph-53f385d319fd19c1979620fae1562aa1">D. Populasi dan Sampel</p>
      <p id="_paragraph-20">Populasi penelitian ini yaitu pasien yang terkonfirmasi Covid-19 yang sedang menjalani pengobatan di RSUD Ibnu Sina Gresik. Sedangkan Sampel dari penelitian ini yaitu sebanyak 30 sampel pasien yang terkonfirmasi Covid-19.</p>
      <p id="paragraph-7f576c554d89c3d26f979ee4fae87d8b">F. Analisis Data</p>
      <p id="_paragraph-21">Data penelitian dilanjutkan dengan uji non parametrik yaitu uji korelasi <italic id="_italic-32">Spearman.</italic></p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-22">Karakteristik subjek pasien yang terkonfirmasi Covid-19 dari 30 sampel yang digunakan menunjukkan bahwa sebagai mana dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Karakteristik Subjek Penelitian</title>
          <p id="_paragraph-24" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-300aba8e440467e29dccd8284770be82">
              <td id="table-cell-8a23e930e538f02391b203e3b355fbe0">Karakteristik</td>
              <td id="table-cell-3dd1c51b4e209ddd75444ac84e78ed0d">Kriteria</td>
              <td id="table-cell-03735a59594ee5d92a3aa78a0e73eb85">N</td>
              <td id="table-cell-97886304345e76800663bc4190bbfe64">%</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5ad136624e8855a32917eee69a565624">
              <td id="table-cell-74cd2a82f26b6bf882b6a1a0a4f5d7ba">Usia</td>
              <td id="table-cell-af4447289ca7c0f42b9ad5d27c4e035b">26 – 40 Tahun</td>
              <td id="table-cell-14fbbc9746e1ed48247410fa5f555ce1">7</td>
              <td id="table-cell-644ac31c04050ddbe5975fd34395e9a9">23,3</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-cfe0020d90c500c8cb4e659046d95aa4">
              <td id="table-cell-a2840c84ae1e9ca95c18f5d5e2da3630" />
              <td id="table-cell-7804678f928c096b8f227cb80bc481e7">41 – 50 Tahun</td>
              <td id="table-cell-1f2d4f501b2042ac88b70ee57981e394">8</td>
              <td id="table-cell-841e16880cefe11714534a5359d19116">26,7</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-d2432af35751d0477dd67f2e7b8c9e81">
              <td id="table-cell-d41a267c0c289e3bfc28476a9bee3e4b" />
              <td id="table-cell-05f6cd863f61fdf908b11bb415580ae8">51 – 65 Tahun</td>
              <td id="table-cell-1064f5984e7c73d1923d0a4842d1dc0f">15</td>
              <td id="table-cell-d0e5e7142d516041f36ff0ddf95b4f02">50,0</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-9080ef10e5601104f2d3d9aba25e524a">
              <td id="table-cell-2818a10338a9484e03353e86fe0b45df">Jenis Kelamin</td>
              <td id="table-cell-536b4eb441ffeb615e68bfc36b03fd9d">Laki-laki</td>
              <td id="table-cell-deea5a024933544de41b5109df2aabbe">16</td>
              <td id="table-cell-568470daba15351cb1ccd35b7ada84b4">53,3</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-34336036b265476caf46c88d834435a6">
              <td id="table-cell-62ca7e1c213451ec61869ccbfaa545b6" />
              <td id="table-cell-fa827c72b4a15ccabcbf3661e73e376f">Perempuan</td>
              <td id="table-cell-de4194d0bc4ee82c01f14c7ff5eab6fc">14</td>
              <td id="table-cell-492439b4d2b00920d8e6c06edd31a835">46,7</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-9a4758262acc8f9c47a1902109da0302">
              <td id="table-cell-78f10d70427f690435934db676c403b8">Leukosit</td>
              <td id="table-cell-32967f8db70caf5c7bffc331f2424eda">Normal (3.800–10.600 sel/µl)</td>
              <td id="table-cell-723309165b393f64a042405387f91d97">14</td>
              <td id="table-cell-3e15d8951f38677cd905b0b19809f04d">46,7</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-796e752692cf269fa4f58f1367bc1da8">
              <td id="table-cell-7f5a6027f6c5f2205a12d582016b7392" />
              <td id="table-cell-4560092e0780fb0dd7b3a2aa27bd225c">Tinggi (˃10.600 sel/µl)</td>
              <td id="table-cell-b96db5fb43862e26ab34e48b5bde5123">16</td>
              <td id="table-cell-0cbe03fef6b7e1a37ff57a84d31922e2">53,3</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-6b44310ae50e47fda17577a12c5db12e">
              <td id="table-cell-351ee5764f61f6b575f6699d956efafe">Rasio Neutrofil Limfosit</td>
              <td id="table-cell-c6416b7800447c85cd1d63da212f6ed9">Beresiko (&gt;3,3)</td>
              <td id="table-cell-8f3e59858fa25fc7293cf99e1cc95d53">26</td>
              <td id="table-cell-d82928c6ac80f61977f08bd8467cbd54">86,7</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-17e11cfeaf19e19d0bb8212f6607570f">
              <td id="table-cell-803ec59e110014086b10c4e6883c7cfe" />
              <td id="table-cell-b5d3435fb7036cb6527cb97fd2d23188">Tidak beresiko (≤3,3)</td>
              <td id="table-cell-d18f60b9100afe555cbae8d4cfd1c3fc">4</td>
              <td id="table-cell-64d3d3b913f4c883ce7cc5b3808b4183">13,3</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-2319da15ebcea806cab1578ec581048a">
              <td id="table-cell-35a10cf372ac9fee2f242e0c26c709ed">Procalcitonin</td>
              <td id="table-cell-f0ce9206ee8f738137cc2e8bfdc78020">Normal (0,0-0,5 ng/ml)</td>
              <td id="table-cell-c6a9cc35f35cd3a6910f568b235de919">27</td>
              <td id="table-cell-0da0344157530aeb165c7e3190e970bd">90,0</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-94b4aa0eae4e40e0e0ced6b8125694e8">
              <td id="table-cell-aa5b8d0b6c46a1a6678993a030eb8762" />
              <td id="table-cell-3699a8b2b36aad1c8fc4137829b52bf4">Tinggi (≥0,5 ng/ml)</td>
              <td id="table-cell-389a8ffeb3cf0a0962a1af8356bf80aa">3</td>
              <td id="table-cell-94f075cc8a2a29f2f8d17cd09f038c44">10,0</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-25">Subjek penelitian dengan kategori usia yang terkonfirmasi Covid-19 dengan rata-rata usia 26-40 tahun sebesar 23,3%, sedangkan usia 41-50 sebesar 26,7% dan usia 51-65 sebesar 50%. Pasien yang terkonfirmasi Covid-19 dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 53,3% sedangkan perempuan sebesar 46,7%. Pasien yang terkonfirmasi Covid-19 dalam penelitian ini yang memiliki jumlah leukosit normal (3.800-10.600 sel/µl) 14 pasien dengan persentase sebesar 46,7% sedangkan yang memiliki jumlah leukosit tinggi yaitu 16 pasien dengan persentase sebesar 53,3%. Pasien terkonfirmasi Covid-19 yang memiliki nilai rasio neutrofil limfosit tidak beresiko (&lt;3,3) yaitu sebanyak 4 pasien dengan persentase 13,3% sedangkan nilai rasio neutrofil limfosit yang beresiko (≤3,3) sebanyak 26 pasien dengan persentase 86,7%. Adapun nilai procalcitonin normal (0,0-0,5 ng/ml) pada pasien yang terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 27 pasien dengan persentase 90%, sedangkan nilai procalcitonin yang tidak normal (≥0,5 ng/ml) sebanyak 3 pasien dengan persentase 10%.</p>
      <p id="_paragraph-26">Tabel 2 dari hasil korelasi <italic id="_italic-33">Spearma</italic><italic id="_italic-34">n</italic> antara jumlah leukosit terhadap procalcitonin pada pasien terkonfirmasi Covid-19 menunjukkan bahwa nilai <italic id="_italic-35">p</italic> = 0,481 yang menandakan bahwa hasil tersebut tidak signifikan secara statistik dengan koefisien korelasi (r) menunjukkan nilai negatif 0,134 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sangat lemah antara jumlah leukosit terhadap procalcitonin pada pasien yang terkonfirmasi Covid-19. Penurunan jumlah leukosit sebesar 1 sel/µl dapat menigkatkan kadar procalcitonin sebesar 0,134 ng/ml.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-2">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <title>Uji korelasi <italic id="_italic-36">Spearman</italic> hubungan jumlah leukosit terhadap procalcitonin pada pasien Covid-19</title>
          <p id="_paragraph-28" />
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-5d6d76ba6f6687e30a3117e0e776d81f">
              <td id="table-cell-4994ceb529d2d25e5051c8922c773492">Parameter</td>
              <td id="table-cell-9b3e575409f83a0d1ef66db4232fb0f4">R</td>
              <td id="table-cell-f3d5ec80d0ad79cf9f811638370f1cbc">p Value</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-7f83d619b9832beeb0367c9f7edac685">
              <td id="table-cell-41c386c364c1f66c9319c5e728c68c49">LeukositProcalcitonin</td>
              <td id="table-cell-60639d01e88e9c2acbd4d17a55f84957">-0,134</td>
              <td id="table-cell-a5e5b7f0e048d038a6cdc0b0f15d7a19">0,481</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-29">Tabel 3 dari hasil korelasi <italic id="_italic-38">spearma</italic><italic id="_italic-39">n</italic> menunjukkan bahwa hasil penelitian didapatkan <italic id="_italic-40">p</italic> = 0,491 menunjukkan bahwa hasil tersebut tidak signifikan secara statistik dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,131 menunjukkan nilai positif sehingga nilai tersebut dapat menandakan bahwa terdapat korelasi sangat lemah antara hubungan rasio neutrofil limfosit terhadap procalcitonin pada pasien yang terkonfirmasi Covid-19.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-3">
        <label>Table 3</label>
        <caption>
          <title>Uji korelasi<italic id="_italic-41"> Spearman </italic>hubungan nilai rasio neutrofil limfosit terhadap procalcitonin pada pasien Covid-19</title>
          <p id="_paragraph-31" />
        </caption>
        <table id="_table-3">
          <tbody>
            <tr id="table-row-0fe3d51e2859ddbe458356871b9f0889">
              <td id="table-cell-c1b7d6947da719ff08f897d543e26da2">Parameter</td>
              <td id="table-cell-4a348251fde3fa62007e9377ab70fc0b">R</td>
              <td id="table-cell-de09c09d7b8adc39fe020fb48c18e855">p Value</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ab1950ac9dbd2373293e3db9962b184c">
              <td id="table-cell-308eb2f60aa46a0f7938b6e327940d02">Rasio neutrofil limfosit Procalcitonin</td>
              <td id="table-cell-84c33dee77aa2d9c750918740ecae937">0,131</td>
              <td id="table-cell-455551e1b5c1f5360c2c91dcaa00fd5e">0,491</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-32">Berdasarkan analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah leukosit terhadap procalcitonin dengan nilai signifikan sebesar 0.481 yang menunjukkan tidak signifikan secara statistik dengan koefisien korelasi (r) menunjukkan nilai negatif 0,134 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sangat lemah antara jumlah leukosit terhadap procalcitonin pada pasien yang terkonfirmasi Covid-19. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan [12] mengatakan bahwa pasien yang mengalami jumlah leukosit meningkat juga akan mengalami peningkatan konsentrasi procalcitonin, CRP dan IL-6 dalam serum.</p>
      <p id="_paragraph-33">Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan [9] mengatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah leukosit terhadap procalcitonin. Hal ini disebabkan karena procalcitonin akan lebih spesifik sebagai penanda infeksi bakteri, sedangkan leukosit akan mengalami peningkatan apabila infeksi yang disebabkan oleh bakteri ataupun virus. Untuk memantau perkembangan penyakit dan keberhasilan terapi dapat dipantau secara berkala dengan pengukuran procalcitonin. Peningkatan procalcitonin disebabkan karena aktivitas penyakit yang berkelanjutan. Kadar procalcitonin akan mengalami penurunan dikarenakan adanya respon penyembuhan terhadap infeksi. Pengukuran procalcitonin dipergunakan juga untuk mengukur ke efektivitasan antibiotik, sehingga pemeriksaan rutin dapat digunakan untuk menilai terapi antibiotik dapat dimulai atau dihentikan [9].</p>
      <p id="_paragraph-34">Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa nilai <italic id="_italic-43">p</italic> = 0,491 yang menunjukkan tidak signifikan secara statistik dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,131 sehingga menunjukkan korelasi sangat lemah antara hubungan rasio neutrofil limfosit terhadap procalcitonin pada pasien yang terkonfirmasi Covid-19. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan [13] mengatakan bahwa tidak menemukan adanya hubungan yang bermakna antara kadar procalcitonin dengan kondisi rasio neutrofil/limfosit (<italic id="_italic-44">p</italic> = 0,879 dan nilai r = –0,024) pada pasien sepsis yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi selama periode penelitian. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang juga berpengaruh terhadap kadar procalcitonin yaitu, etiologi infeksi, waktu pengukuran procalcitonin dan pneumonia dengan komorbiditas. Periode terbaik untuk mengevaluasi konsentrasi procalcitonin yaitu pada hari ke 0 hingga ke 3. Kadar serum procalcitonin telah terbukti akan mengalami peningkatan setelah 6 hingga 12 jam pada awal terjadi infeksi bakteri. Waktu paruh procalcitonin diantara 20 hingga 24 jam oleh karena itu saat respon imun dan terapi antibiotik diberikan maka kadar serum procalcitonin menurun hingga 50% selama 24 jam [14].</p>
      <p id="_paragraph-35">Secara fisiologis transkripsi gen Calc-1 terbatas pada sel neuroendokrin di kelenjar tiroid dan paru-paru. Hal ini yang menyebabkan kadar procalcitonin sangat rendah pada orang yang sehat. Diproduksinya procalcitonin disebakan karena terjadinya peningkatan kalsium, glukokortikoid, glukagon, dan gastrin yang kemudian procalcitonin akan dipecah menjadi CT. Pada kondisi sepsis bakterial akan terjadi peningkatan ekspresi gen Calc-1 dan procalcitonin akan dilepaskan oleh hampir semua jaringan tubuh yang memiliki sel-sel adiposit seperti hati, paru-paru, ginjal, dan usus. Kombinasi produk mikroba dan sitokin proinflamasi IL-1β, TNF-α, dan IL-6 yang menyebabkan terjadinya peningkatan procalcitonin dimana dalam kondisi ini procalcitonin tidak dipecah menjadi CT. induksi procalcitonin dapat dilemahkan oleh IFN-γ yang berperan penting dalam awal pertahanan inang untuk melawan virus. Hal ini yang menyebabkan konsentrasi procalcitonin serum dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus [15].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-5607a730e728ff276c87c15362942106">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-36">Kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh adalah terdapat korelasi yang sangat lemah antara jumlah leukosit terhadap procalcitonin dengan nilai koefisien korelasi (r) menunjukkan nila negatif 0,134 dan tidak signifikan secara statistik (<italic id="_italic-45">p</italic> = 0,481) pada pasien konfirmasi Covid-19 yang dirawat di RSUD Ibnu Sina Gresik dan Terdapat korelasi yang lemah antara rasio neutrofil limfosit terhadap procalcitonin dengan nila koefisien korelasi (r) sebesar 0,131 dan tidak signifikan secara statistik (<italic id="_italic-46">p</italic> = 0,491) pada pasien konfirmasi Covid-19 yang dirawat di RSUD Ibnu Sina Gresik.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>