<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Adversity Quotient of Jujitsu Athletes Who Have Experienced Minor Post-Competition Injuries</article-title>
        <subtitle>Adversity Quotient Atlet Jujitsu yang Pernah Mengalami Cedera Ringan Pasca Pertandingan</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-f301d821c9ac0d5f6b7cdd492f1d2677" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Lindha</surname>
            <given-names>Maretha</given-names>
          </name>
          <email>lindhamaretha80@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-9205e03f9aeb787831a496d6b3e15dd1" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Nastiti</surname>
            <given-names>Dwi</given-names>
          </name>
          <email>nastitidwi19@yahoo.co.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-11-17">
          <day>17</day>
          <month>11</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-1e5058ecdc010e94bdf075169f03974b">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-14">Atlet adalah individu yang memiliki keunikan serta bakat tersendiri yang juga memiliki kepribadian serta latar belakang kehidupan yang sangat berpengaruh pada dirinya [1] Dwiariani, 2012. Individu yang terlibat dalam aktivitas keolahragaan dengan memiliki banyak prestasi di bidang olahraga dapat dikatakan bahwa individu itulah yang disebut dengan atlet [2] Depki, 2019. Pelatih seringkali menghadapi atlet yang sebenarnya mempunyai fisik dan daya tahan yang bagus, teknik dan kemampuan berpikir yang cepat, namun pernah mengalami cedera ringan akibat pertandingan yang pernah diikuti maupun saat latihan [3] Prisma, 2018. Kondisi kondisi seperti inilah yang kemudian bisa menyebabkan atlet memutuskan berhenti mengikuti beladiri jujitsu. Jujitsu Indonesia atau yang sering dikenal sebagai IJI (Institut Jujitsu Indonesia) merupakan salah satu cabang olaraga beladiri yang ada di negara Indonesia. Jujitsu merupakan beladiri yang berasal dari Jepang yang telah diadaptasikan berdasarkan budaya yang ada di Indonesia, sehingga beladiri ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia dengan mudah. Beladiri jujitsu terdiri dari berbagai macam materi yang diajarkan kepada murid – muridnya, contohnya seperti tendangan, bantingan, pukulan, kuncian, dan bahkan <italic id="_italic-18">self defence</italic> (perlindungan diri) yang bisa digunakan ketika berada di jalana [4] sinaga, 2020.</p>
      <p id="_paragraph-15">Berdasarkan uruaian di atas dapat disimpulkan bahwa atlet adalah individu yang sudah terlatih, memiliki keunikan, serta bakat dalam cabang keolaragaan. Pelatihan jujitsu maupun pertandingannya, pasti akan ada cedera yang bisa saja dialami oleh seorang atlet, baik itu cedera ringan ataupun cedera berat, cedera di bagi menjadi 2 yaitu : cedera ringan (cedera yang tidak diikutinya kerusakan pada jaringan tubuh, misalnya kekakuan otot dan kelelahan, biasanya tidak diperlukan pengobatan yang berlebihan), dan cedera berat (cedera yang serius, dimana pada cedera ini terdapat kerusakan jaringan tubuh, misalnya seperti robeknya otot atau <italic id="_italic-19">ligament</italic> maupun patah tulang, yang membutuhkan pengobatan yang serius) [5] Rima, 2019. Latihan maupun pertandingan atlet seringkali menghadapi cedera ringan seperti keseleo, lebam di area tangan dan kaki akibat saling beradu kemampuan, kadang kala juga cedera di tubuh yang diakibatkan bantingan. Kondisi kondisi seperti inilah yang kemudian bisa menyebabkan atlet memutuskan berhenti mengikuti beladiri jujitsu. <italic id="_italic-20">Adversity quotient</italic> merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki seorang atlet [6] Utami, 2014. <italic id="_italic-21">Adversity quotient</italic> (AQ) adalah suatu konsep dimana seseorang dapat bertahan dalam menghadapi kesulitan dan bagaimana seseorang merespon kesulitan dari berbagai aspek kehidupannya [7] stolz, 2000. <italic id="_italic-22">Adversity quotient</italic> sendiri adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan, tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan. <italic id="_italic-23">Adversity quotient</italic> (AQ) juga dapat pula meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan dalam menghadapi kesulitannya [8] Wahyu, 2018. Dengan memiliki <italic id="_italic-24">adversity quotient</italic> atlet mampu berfikir secara kreatif dalam menghadapi rintangan serta menemukan cara untuk mengatasi kesulitan yang dia alami untuk mencapai keberhasilan [9] Yasinta, 2018.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-1">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-16">Pada penelitian ini, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet jujitsu dari dojo SMA Kemala Bhayangkari 3 Porong, Universitas Wijaya Putra Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang berjumlah 137 atlet. Dalam penelitian ini peneliti tidak memilih semua anggota populasi untuk dipilih menjadi sempel melainkan menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh peneliti untuk digunakan sebagai sempel penelitian. Sempel penelitian ini sebanyak 60 atlet dengan menggunakan teknik <italic id="_italic-25">purposive sampling</italic><italic id="_italic-26">. </italic>Teknik pengumpulan data yang digunakan menggunakan skala psikologi dengan model skala likert berupa skala <italic id="_italic-27">adversity quotient</italic> yang disusun oleh peneliti sendiri. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-2c103a25bf5e0a9f7355787094b5ec3c">
        <title>Hasil Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-17">Dari hasil yang didapatkan oleh peneliti mengenai skala psikologi <italic id="_italic-28">adversity quotient</italic> akan dibagi menjadi 3 kategori dengan menggunakan perhitungan statistic deskriptif dengan bantuan SPSS versi 16 <italic id="_italic-29">for windows</italic>. Adapun hasil dari perhitungan statistic deskriptif.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Standar deviasi dan <italic id="_italic-30">mean</italic></title>
            <p id="_paragraph-21" />
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-3bf38f482257e2d6e75b99260ddeb4f7">
                <td id="table-cell-cef7e417a7cab5f7a7edef7e540a8327" colspan="4">Descriptive Statistics</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0c7f082a340d7b04a75fe3c3b2c54f68">
                <td id="table-cell-375390112cca45ab6db653094dc71555" />
                <td id="table-cell-2dd40fc506dda9131cc5cf7fd8f0c4de">N</td>
                <td id="table-cell-541133625c0be140d0b6bdeb334e24b6">Mean</td>
                <td id="table-cell-be1f3de55632bbb60ab1247c06acb812">Std. Deviation</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9866b2f19e74a53a0013655b6f568a4b">
                <td id="table-cell-4edac1fa269506bef1c510a43d19a131">Adversity</td>
                <td id="table-cell-b803473bb24528e43556b3ee709a1dfe">60</td>
                <td id="table-cell-a327aae83aa981f3cb55eae9cb3fec6e">100.80</td>
                <td id="table-cell-8993579ce320c655cad936d30d3e9422">10.634</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-1ff78f33d9bd66fa8a03cf0c6d6abc61">
                <td id="table-cell-c6d16d8f9d49c522969ed93d5d0e9f1b">Valid N (listwise)</td>
                <td id="table-cell-8ef9eb2f1e56705ed31c8a741770f8ea">60</td>
                <td id="table-cell-9e06690fc3b738904d6092ae73245368" />
                <td id="table-cell-f89b1594535bcd8186ca10ff20c14915" />
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-22">Berdasarkan dari data pada tabel diatas, peneliti akan membagi skor dari skala psikologi <italic id="_italic-37">adversity quotient </italic>menjadi 3 kategori agar nantinya bisa mendapatkan gambaran dari <italic id="_italic-38">adversity quotient </italic>yang sebenarnya. Adapun tabel kategori skornya.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-3">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>Kategori skor Adversity Quotient</title>
            <p id="_paragraph-25" />
          </caption>
          <table id="_table-3">
            <tbody>
              <tr id="table-row-92610400561971fb6651d4e56ba696aa">
                <td id="table-cell-95b913aa512804748594327f64755a1c">Kategori</td>
                <td id="table-cell-3026eea7650449d072448f55000fd506">Norma</td>
                <td id="table-cell-dc4fddc0a8429ffd1499d49aa525bb5c">Skor</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-16cb91c67caaa06c52573c4332a931b3">
                <td id="table-cell-91269acb5aa766e2bc3ab3e6afc3818d">Tinggi </td>
                <td id="table-cell-a1ed27d9ebcb262e2652f29e96c349d8">X ≥ (Mean + 1SD) </td>
                <td id="table-cell-c8a6baf877893c0a08aadad784dcc1fb">≥ 111</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6bed8899e8c15054927d68b44092a929">
                <td id="table-cell-4cfaca4da73ce3a93e0d4d07a020989e">Sedang </td>
                <td id="table-cell-cc790d7ed3ea2b3d4b85e4ca7c45954b">(Mean – 1SD) ≥ X &lt; (Mean + 1SD) </td>
                <td id="table-cell-132e0d2bcaaeb769c4037a4c614cf527">90 ˢ ̸ ᵈ 111</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-49f7e0ac89e4a71b3539f7657c218aaf">
                <td id="table-cell-d79cc667bbc94f9b7e5cf355892bc848">Rendah </td>
                <td id="table-cell-f61d41bf7d8d7186be5da1b07df35285">X &lt; (Mean – 1SD) </td>
                <td id="table-cell-a9f22f6db27d43f1f15b87d14b79221e">&lt; 90</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-26">Perhitungan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa tingkat <italic id="_italic-40">adversity quotient </italic>dari atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan di Sma Kemala Bhayangkari 3 Porong, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas Wijaya Putra Surabaya adalah</p>
        <table-wrap id="table-figure-9abc01e51287bf4b5b8af1a2df566085">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>Frekuensi Tingkat Adversity Quotient</title>
            <p id="paragraph-4b0e47dfe117afbf9b59c0d4371076b7" />
          </caption>
          <table id="table-520932f1c5ed82d68ed9d816b6434d89">
            <tbody>
              <tr id="table-row-59602b0f3b52785bcd082bcc3db1161a">
                <td id="table-cell-be2e96677359f4b828e38aedbffc756a" />
                <td id="table-cell-494426bda0001a1bc3e362739f65273b" />
                <td id="table-cell-cb1bf2bf8b77ec3ed8c7ee90d14cdbf8">Frequency</td>
                <td id="table-cell-17877e417bd87489a8d6d2ab9b309bef">Percent</td>
                <td id="table-cell-031667e2df42778dd1486c5583abf9b5">Valid Percent</td>
                <td id="table-cell-7eb00371f78ac5b735fb6d375f99aa88">Cumulative Percent</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a1edf74a1813d359532f13af699ea5b8">
                <td id="table-cell-ab36ca959db50315148e82b4c79b2b8b">Valid</td>
                <td id="table-cell-5c1a8773e708172d142966c1c860124f">Rendah</td>
                <td id="table-cell-b0a702dece7269400e4dc75f09771a79"> 9 </td>
                <td id="table-cell-a0a0a0c82e46e58434b02a1435499002"> 15.0 </td>
                <td id="table-cell-4e534f42ebb24a35ea1e742f57fab29b"> 15.0 </td>
                <td id="table-cell-30b20e2e919aa1bb523bf57b6e0f2414"> 15.0 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8e3843376558a4c4f99fa9e369455c94">
                <td id="table-cell-c7dabdbce5b5a853132df7227c8673b8" />
                <td id="table-cell-3d0e2c84fa05a2dae971f744c3b3ad43">Sedang</td>
                <td id="table-cell-070066b3321138729a14b157c90397c4"> 37 </td>
                <td id="table-cell-72679e5db4061883e20d1c207930a73a"> 61.7 </td>
                <td id="table-cell-107fc277b94b8372d080ce9fb3098535"> 61.7 </td>
                <td id="table-cell-528aa5ff023e59c79fcfa4c82d4aeb2e"> 76.7 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-876b800dc4e62efe4ec83e04fd8b356e">
                <td id="table-cell-b3caa37b573e1503e06a821f75039b23" />
                <td id="table-cell-c114cae2951c1e70dce384df55f5b470">Tinggi</td>
                <td id="table-cell-5078ef1e51643de00ad93efc629824a3"> 14 </td>
                <td id="table-cell-6733a14359aaf0a79e7d81e8e993d8e0"> 23.3 </td>
                <td id="table-cell-50040434bbecf4d13b353177b4821c1b"> 23.3 </td>
                <td id="table-cell-3ffe4698fd42d6750a932a0485e7f269"> 100.0 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-47db73f0f12327550522b1ec09117383">
                <td id="table-cell-c6c84b11ebdb728a09a784da14cf52d8" />
                <td id="table-cell-b82e0ce90a5ea54c05985960f4fbeb36">Total</td>
                <td id="table-cell-36ae0822d85197bc6d302308471b8954"> 60 </td>
                <td id="table-cell-7b1e4486b2d943c93a0cba51bdd51eba"> 100.0 </td>
                <td id="table-cell-8efd106b5c0138c016f9e8cd1af65f81"> 100.0 </td>
                <td id="table-cell-e58424975a857040c952252d02c56c5b" />
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-29">Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan yang memiliki nilai <italic id="_italic-42">adversity quotient </italic>rendah yaitu dengan skor &lt;90 ada sebanyak 9 atlet dengan nilai frekuensi 15%, sedangkan untuk atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan yang memiliki nilai <italic id="_italic-43">adversity quotient </italic>sedang yaitu skor 90 ˢ ̸ ᵈ 111 ada sebanyak 37 atlet dengan nilai frekuensi 61,7%, dan untuk atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan yang memiliki nilai <italic id="_italic-44">adversity quotient</italic> tinggi yaitu dengan skor ≥ 111 ada sebanyak 14 atlet dengan nilai frekuensi 23,3%. Disimpulkan bahwa atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan memiliki tingkat <italic id="_italic-45">adversity quotient </italic>yang sedang adapun diagram batang hasil perolehan presentase tingkatan <italic id="_italic-46">adversity quotient</italic> pada atlet yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan adalah sebagai berikut.</p>
        <fig id="figure-panel-2046ea66df7db5ffdec4a88d356d4438">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title>Diagram Batang Tingkat Adversity Quotient</title>
            <p id="paragraph-032b16873383f17da85803c42ae822d8" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-a88b415a00fe08640df8606c842261bb" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="790 Ijins G1.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-32"><italic id="_italic-48">A</italic><italic id="_italic-49">dversity quotient</italic> pada 60 atlet jujitsu yang pernah mengakami cedera ringan pasca pertandingan memiliki aspek <italic id="_italic-50">control </italic>dengan kategori tinggi sebanyak 8 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 13%, lalu untuk kategori sedang sebanyak 45 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 75%, kemudian untuk kategori rendah sebanyak 7 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 12%, berikut di bawah ini diagram aspek <italic id="_italic-51">control</italic><italic id="_italic-52">.</italic></p>
        <fig id="figure-panel-6fbc7024cac1af82f97554a5e211af8f">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title>Diagram Aspek Control</title>
            <p id="paragraph-68bb80bc06583c8dd8c47cd48ae199bc" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-00fff9a80f0395a482a4cb43552edcfa" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="790 Ijins G2.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-35">A<italic id="_italic-54">dversity quotient</italic> pada 60 atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan. Memiliki aspek<italic id="_italic-55"> origin and ownership </italic>dengan kategori tinggi sebanyak 10 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 17%, lalu untuk kategori sedang sebanyak 45 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 75%, kemudian untuk kategori rendah sebanyak 5 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 8%. Berikut di bawah ini diagram aspek <italic id="_italic-56">origin and ownership</italic><italic id="_italic-57">.</italic></p>
        <fig id="figure-panel-6942fa76ea215d89e4bf74d8af255ad6">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>Diagram aspek origin and ownership</title>
            <p id="paragraph-160d726bc3247df34728333a0c3969a4" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-d0b3906d0cfbd38c24c5d7130c4710d1" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="790 Ijins G3.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-38"><italic id="_italic-59">A</italic><italic id="_italic-60">dversity quotient</italic> pada 60 atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan. Memiliki aspek<italic id="_italic-61"> reach </italic>dengan kategori tinggi sebanyak 13 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 22%, lalu untuk kategori sedang sebanyak 37 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 62%, kemudian untuk kategori rendah sebanyak 10 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 16%. Berikut di bawah ini diagram aspek <italic id="_italic-62">reach</italic><italic id="_italic-63">.</italic></p>
        <fig id="figure-panel-b81e99ce36c8c856e673a555a45dad1d">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title>Diagram aspek reach</title>
            <p id="paragraph-cf256020076f33df2e90bf5f5c6652cf" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-b6601fe76a70fb1bc3938c4e20987b8b" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="790 Ijins G4.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-41"><italic id="_italic-65">A</italic><italic id="_italic-66">dversity quotient</italic> pada 60 atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan. Memiliki aspek<italic id="_italic-67"> endurance </italic>dengan kategori tinggi sebanyak 5 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 8%, lalu untuk kategori sedang sebanyak 44 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 73%, kemudian untuk kategori rendah sebanyak 11 atlet dan memperoleh prosentase sebesar 19%. Berikut di bawah ini diagram aspek <italic id="_italic-68">Endurance</italic><italic id="_italic-69">.</italic></p>
        <fig id="figure-panel-d826fe56c6fe84889ab8ad87075d0628">
          <label>Figure 5</label>
          <caption>
            <title>Diagram aspek endurance</title>
            <p id="paragraph-4a44109ad12693aac2c4cd2a22c83bda" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-dd04ba4d0a5687ca80271c44cc229545" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="790 Ijins G5.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-44">Diketahui dari penjelasan tiap tiap aspek diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai rata rata <italic id="_italic-71">adversity quotient </italic>pada 60 atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan. Nilai rata rata tertinggi ditempati oleh aspek <italic id="_italic-72">endurance </italic>dengan nilai rata rata sebesar 27,62. Berikutnya aspek <italic id="_italic-73">reach </italic>dengan nilai rata rata 27,02. Aspek <italic id="_italic-74">origin and ownership </italic>dengan nilai rata rata 25,52, dan yang terakhir aspek <italic id="_italic-75">control </italic>dengan nilai rata rata 20,65. Adapun di bawah ini adalah diagram nilai rata ratanya.</p>
        <fig id="figure-panel-b2d3964ced7ab28674114a6fdbe5b651">
          <label>Figure 6</label>
          <caption>
            <title>Diagram Nilai Rata Rata Aspek Adversity Quotient</title>
            <p id="paragraph-e43cc10c3c82bc53098da4393cde902b" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-66a43c2187a67fcbdbee7f8b6382fe17" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="790 Ijins G6.png" />
        </fig>
      </sec>
      <sec id="heading-4aeadf3f735386e330c81e15fcb54890">
        <title>Pembahasan</title>
        <p id="_paragraph-47">Hasil penelitian menunjukkan bahwa <italic id="_italic-77">adversity quotient</italic> yang dimiliki oleh atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan yang berada di 3 dojo diantaranya di Sma Kemala Bhayangkari 3 Porong, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas Wijaya Putra Surabaya yaitu berada dalam kategori sedang. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya jumlah prosentase dari 60 atlet jujitsu yang <italic id="_italic-78">adversity quotient</italic>nya dalam kategori sedang sebesar 61,7%. Atlet yang <italic id="_italic-79">adversity quotient</italic>nya dalam kategori tinggi memiliki prosentase sebesar 23,3%, dan untuk atlet yang <italic id="_italic-80">adversity quotient</italic>nya dalam kategori rendah memiliki prosentase sebesar 15%</p>
        <p id="_paragraph-48"><italic id="_italic-81">Adversity quotient</italic> merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam berjuang menghadapi dan mengatasi masalah, kesulitan, serta hambatan yang dimilikinya yang akan mengubahnya menjadi sebuah peluang keberhasilan dan kesuksesan, maka dalam hal ini <italic id="_italic-82">adversity quotient</italic> pada atlet yang mengalami cedera ringan pasa pertandingan dapat dikatakan dalam takaran yang baik karena mereka mampu untuk dapat mengatasi masalah serta kesulitan yang terjadi di dalam dirinya menurut penelitan.</p>
        <p id="_paragraph-49">Maka dari ke 4 aspek <italic id="_italic-83">adversity quotient </italic>diatas <italic id="_italic-84">(control, origin and ownership, reach dan endurance) </italic>aspek yang paling dominan adalah aspek <italic id="_italic-85">(control</italic>). Pernyataan ini didukung dengan tingkat prosentase sebesar 75% untuk aspek <italic id="_italic-86">control </italic>dalam <italic id="_italic-87">adversity quotient </italic>pada atlet yang mengalami cedera ringan pasca pertandingan, kemudian sebesar 17% dari total keseluruhan atlet jujitsu berada pada kategori tinggi dan 12% lainnya berada pada kategori rendah dengan begitu dapat disimpulkan bahwa atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera pasca pertandingan dianggap mampu untuk dapat mengontrol/mengendalikan permasalahan atau kesulitan yang sedang terjadi dan akan tetap teguh dan ulet dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam dirinya. Menurut penelitian [10] Erlin, 2017 yang berjudul “Pengaruh adversity quotient, regulasi diri dan efikasi diri terhadap motivasi berprestasi siswa kelas khusus olaraga (kko) smp negri 13 yogyakarta” adalah cerminan dari ketahanan pribadi dalam menghadapi masalah, dalam olaraga <italic id="_italic-88">control</italic> (kenadali diri) adalah hal yang sangat penting yang akan meningkatkan performa atlet dalam kompetisi.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-ca81b4a9218916392bd342d3f472ad36">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-50">Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran <italic id="_italic-89">adversity quotient</italic> yang dimiliki oleh atlet jujitsu yang pernah mengalami cedera ringan pasca pertandingan yang berada di 3 dojo diantaranya di Sma Kemala Bhayangkari 3 Porong, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas Wijaya Putra Surabaya yaitu berada dalam kategori sedang. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya jumlah prosentase dari 60 atlet jujitsu yang <italic id="_italic-90">adversity quotient</italic>nya dalam kategori sedang sebesar 61,7%. Atlet yang <italic id="_italic-91">adversity quotient</italic>nya dalam kategori tinggi memiliki prosentase sebesar 23,3%, dan untuk atlet yang <italic id="_italic-92">adversity quotient</italic>nya dalam kategori rendah memiliki prosentase sebesar 15%</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>