<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Financial Performance Analysis Before and During the Covid-19 Pandemic</article-title>
        <subtitle>Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-d7d3f95e9121b069ed690b0e55d871f2" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Arto</surname>
            <given-names>Thoriqi Juni</given-names>
          </name>
          <email>thoriqijuniarto354@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-19c12510bd7baba5ccafcdb211ac9156" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Setiyono</surname>
            <given-names>Wisnu Panggah</given-names>
          </name>
          <email>wisnu.setiyono@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-10-03">
          <day>03</day>
          <month>10</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-2">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="heading-6135626a1b20d9e90f93058fdcbc9182">Latar Belakang Masalah</p>
      <p id="_paragraph-15">Adanya <italic id="_italic-161">Corona</italic><italic id="_italic-162">Virus</italic>(COVID-19) di seluruh Dunia membuat banyak perusahaan mengalami penurunan. Kasus pertama penyebaran COVID-19 di Indonesia diumumkan oleh Presiden Ir. Joko Widodo pada 2 Maret 2020. Dalam waktu singkat menyebar cepat ke berbagai wilayah Indonesia. Krisis kesehatan akibat pandemi COVID-19 tidak dapat dielakkan memberikan dampak yang luar biasa bagi Indonesia, tidak hanya kepada aspek kesehatan dan kemanusiaan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi. Awalnya, COVID-19 memicu ketidakpastian di pasar keuangan global dan berdampak pada aliran masuk modal asing ke Indonesia yang menurun dan Rupiah yang terdepresiasi [1]. Tekanan berlanjut pada penurunan kegiatan ekonomi akibat ekspor dan perekonomian dunia yang menurun. Kebijakan PSBB, Work from Home dan protokol kesehatan yang mengurangi mobilitas manusia, barang, dan jasa mengakibatkan kegiatan ekonomi di berbagai sektor menurun tajam. Dampak covid- 19 yaitu dampak sosial-ekonomi yang terjadi pada perusahaan dibeberapa negara yang terjangkit yang juga berdampak pada perusahaan di Indonesia. Dampak sosial-ekonomi covid-19 tentunya berdampak pada beberapa sektor perekonomian baik sektor industri maupun jasa.</p>
      <p id="_paragraph-17">Perusahaan manufaktur subsektor <italic id="_italic-163">property and real estate </italic>merupakan perusahaan yang dikenal dengan sebutan perusahaan yang bertahan dalam setiap kondisi apapun karena melihat potensi jumlah penduduk yang bertambah besar sehingga semakin banyak pembangunan di sektor perumahan, apartemen, pusat-pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung perkantoran yang membuat para investor tertarik untuk menginvestasikan dananya sehingga menjadi prospek yang cerah di masa yang akan datang<italic id="_italic-164">i</italic>[2].</p>
      <p id="_paragraph-18">Berdasarkan informasi di Jakarta, Senin (2/4/2018), Kompas.com sektor properti dinilai memiliki peranan penting dalam menyumbang pertumbuhan perekonomian nasional. Bahkan sektor ini diyakini akan mampu menjadi tolak ukur pertumbuhan ekonomi suatu saat ini. Namun kenyataannya saat ini sektor properti tampaknya mesti siap untuk menghadapi satu tahun lagi pasar lesu setelah tiga tahun belakangan mengalami siklus pelemahan yang berkelanjutan. Investor pun perlu lebih waspada dan cermat memilih emiten yang tepat bila tetap ingin berinvestasi di sektor ini [3]. Terkait dengan anggapan sektor properti yang melesu adalah karena terjadi banyak miss match antara ekspektasi pengembang dengan konsumen terkait masalah harga, sehingga membuat penyerapan properti di sejumlah lokasi lambat. Perusahaan harus menggunakan sumber dana yang tepat dalam melakukan pertumbuhan ekonominya[4].</p>
      <p id="_paragraph-19">Dengan adanya beberapa kasus pada era pandemi dan perusahaan manufaktur subsektor <italic id="_italic-165">property and</italic><italic id="_italic-166">real estate </italic>merupakan perusahaan yang dikenal dengan sebutan sebuah perusahaan yang kemungkinan akan tetap bertahan dalam setiap kondisi apapun karena dengan adanya potensi kenaikan jumlah penduduk maka dengan begitu akan ada banyak pembangunan yang bersifat kebutuhan maupun keinganan seperti, apartemen, pusat-pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung perkantoran yang membuat para investor tertarik untuk menginvestasikan dananya sehingga menjadi prospek yang cerah di masa yang akan datang[5].</p>
      <p id="paragraph-d5bde188d1c1b9eb608c89af7b85b7b0">Rumusan Masalah</p>
      <list list-type="bullet" id="list-7c86343cd4931611cab804caad92ea69">
        <list-item>
          <p>Apakah terdapat perbedaan antara rasio solvabilitas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid-19?</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Apakah terdapat perbedaan antara rasio profitabilitas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid-19?</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Apakah terdapat perbedaan antara rasio likuiditas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid-19?</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Apakah terdapat perbedaan antara rasio aktivitas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid-19?</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="paragraph-57900c36fd88a7df826a27898e273656">Tujuan Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-20">a.Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara rasio solvabilitas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid- 19</p>
      <p id="_paragraph-21">b.Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara rasio profitabilitas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid-19</p>
      <p id="_paragraph-22">c.Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara rasio likuiditas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid- 19</p>
      <p id="_paragraph-23">d.Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara rasio aktivitas pada perusahaan yang tergabung pada perusahaan manufaktur sub sektor properti dan real estate sebelum dan selama pandemi Covid- 19</p>
    </sec>
    <sec id="heading-2fd8a1e5c0b44c2553fefc0bd02193d5">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-24">Adapun yang menjadi objek penelitian adalah perusahaan manufaktur untuk subsektor <italic id="_italic-167">Property</italic><italic id="_italic-168">and</italic><italic id="_italic-169">Real</italic><italic id="_italic-170">Estate</italic>selama 2019 dan 2020.</p>
      <p id="_paragraph-25">Adapun desain penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah penelitian kuantatif. Sumber data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik <italic id="_italic-171">purposive sampling </italic>dan di dapati sebanyak 46 sampel. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan yaitu menggunakan statistik deskriptif kantitatif.</p>
      <p id="paragraph-4c1b845bb0f3b880396ccac611ebc692">Rasio Solvabilitas</p>
      <p id="_paragraph-26">Menurut [6] bahwa: “rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dlikuidasi). Variabel ini diproksikan dengan <italic id="_italic-172">Debt</italic><italic id="_italic-173">to</italic><italic id="_italic-174">Equity</italic><italic id="_italic-175">Ratio</italic>Menurut [7] bahwa: “debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsinuntuk mengetahui setiap rupiiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang”. </p>
      <p id="paragraph-4a032601a397c845ecf3e2133f87fed6">Rasio Profitabilitas</p>
      <p id="_paragraph-29">Profitabilitas ialah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Penelitian ini profitabilitas diprosikan dengan <italic id="_italic-184">Return</italic><italic id="_italic-185">on Assets </italic>(ROA)[8]. <italic id="_italic-186">ROA </italic>menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. </p>
      <p id="paragraph-4b3cd70e302590841e473e61d69b70dc">Rasio Likuiditas</p>
      <p id="_paragraph-32">Likuiditas merupakan rasio yang mengukur berkaitan kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi utang ketika jatuh tempo. Tujuan adanya rasio likuiditas dalam perusahaan berguna untuk menganalisis dan mengetahui seberapa banyak utang yang akan jatuh tempo guna dapat dilakukan pembayaran secara tepat waktu[9]. Variabel ini diproksikan dengan Rasio Lancar (<italic id="_italic-192">current</italic><italic id="_italic-193">ratio).</italic></p>
      <p id="_paragraph-33">Rasio lancar <italic id="_italic-194">(Current Ratio) </italic>merupakan rasio untuk rnengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau hutang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan dengan aktiva lancar yang dimilikinya, yaitu dengan perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar[10]. Rumus <italic id="_italic-195">Current</italic><italic id="_italic-196">Ratio</italic>Sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-36">Rasio Aktifitas</p>
      <p id="_paragraph-37">Menurut [6] Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam padaaktiva-aktiva tersebut Variabel ini diproksikan dengan rasio perputaran total aktiva. Sama seperti halnya rasio perputaran aktiva tetap, rasio ini menghitung efektivitas penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukkan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi, pemasarannya, dan pengeluaran investasi atau modalnya[11]. </p>
      <p id="_paragraph-41">Rasio ini merupakan ukuran efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif perusahaan memanfaatkan aktivanya.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-efe0a3a01b3da5f9f25780958ff9fb76">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-8dfd6e487fc3bb748c5900875eda7451">
        <title>Analisis<italic id="italic-1"> </italic>Data Statistik<italic id="italic-2"> </italic>Deskriptif</title>
        <fig id="figure-panel-95a931741cc2399d34920c8867258d67">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title>Descriptive Statistics</title>
            <p id="paragraph-bffc538919dbdbdb53f62cc509ec1b8e" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-cfee7a5db5138ffe3dab6cb88dc45cd8" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT1.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-42">Variabel <italic id="_italic-200">debt to equity ratio </italic>sebelum pandemi memiliki nilai minimum 0,12, nilai maksimum 1,84, serta nilai rata-rata 0,8017 dan standar deviasi 0,49960. <italic id="_italic-201">Debt</italic><italic id="_italic-202">to</italic><italic id="_italic-203">equity</italic><italic id="_italic-204">ratio</italic>saat pandemi memiliki nilai minimum 0,04, nilai maksimum 3,48, serta nilai rata-rata 0,8843 dan standar deviasi 0,74078. Berdasarkan nilai rata-rata, <italic id="_italic-205">debt</italic><italic id="_italic-206">to</italic><italic id="_italic-207">equity</italic><italic id="_italic-208">ratio</italic>saat pandemi mengalami kenaikan dibandingkan dengan <italic id="_italic-209">debt</italic><italic id="_italic-210">to</italic><italic id="_italic-211">equity</italic><italic id="_italic-212">ratio</italic>sebelum pandemi. Hal ini berarti <italic id="_italic-213">debt</italic><italic id="_italic-214">to</italic><italic id="_italic-215">asset</italic><italic id="_italic-216">ratio</italic>sebelum pandemi lebih baik daripada <italic id="_italic-217">debt</italic><italic id="_italic-218">to</italic><italic id="_italic-219">equity</italic><italic id="_italic-220">ratio</italic>saat pandemi.</p>
        <p id="_paragraph-43">Variabel <italic id="_italic-221">return on assets </italic>sebelum pandemi memiliki nilai minimum -62,66 nilai maksimum 55,54 serta nilai rata-rata 4,8413 dan standar deviasi 30,17474. <italic id="_italic-222">Return</italic><italic id="_italic-223">on</italic><italic id="_italic-224">assets</italic>saat pandemi memiliki nilai minimum -82,22 nilai maksimum 87,72 serta nilai rata-rata -2,6183 dan standar deviasi 34,45635. Berdasarkan nilai rata-rata, <italic id="_italic-225">return</italic><italic id="_italic-226">on</italic><italic id="_italic-227">assets</italic>saat pandemi mengalami penurunan dibandingkan dengan <italic id="_italic-228">return</italic><italic id="_italic-229">on</italic><italic id="_italic-230">assets</italic>sebelum pandemi. Hal ini berarti <italic id="_italic-231">return</italic><italic id="_italic-232">on</italic><italic id="_italic-233">assets</italic>sebelum pandemi lebih baik daripada <italic id="_italic-234">return</italic><italic id="_italic-235">on</italic><italic id="_italic-236">assets</italic>saat pandemi.</p>
        <p id="_paragraph-44">Variabel <italic id="_italic-237">current</italic><italic id="_italic-238">ratio</italic>sebelum adanya pandemi memiliki nilai minimum -1,00 , nilai maksimum 0,82 , serta nilai rata-rata 0,0148 dan standar deviasi 0,44089. <italic id="_italic-239">Current ratio </italic>saat pandemi memiliki nilai minimum -3,07 , nilai maksimum 0,77, serta nilai rata-rata -0,4709 dan standar deviasi 0,89009. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa <italic id="_italic-240">current</italic><italic id="_italic-241">ratio</italic>saat pandemi mengalami penurunan dibandingkan dengan <italic id="_italic-242">current ratio </italic>sebelum pandemi. Hal ini menunjukkan bahwa <italic id="_italic-243">current</italic><italic id="_italic-244">ratio</italic>sebelum pandemi lebih baik daripada current ratio selama pandemi.</p>
        <p id="_paragraph-45">Variabel <italic id="_italic-245">total</italic><italic id="_italic-246">assets</italic><italic id="_italic-247">turnover</italic>sebelum pandemi memiliki nilai minimum 0,25 , nilai maksimum 5,50, serta nilai rata-rata 1,7891 dan standar deviasi 1,27400. <italic id="_italic-248">Total</italic><italic id="_italic-249">assets</italic><italic id="_italic-250">turnover</italic>saat pandemi memiliki nilai minimum 0,20, nilai maksimum 4,70, serta nilai rata-rata 1,3217 dan standar deviasi 1,17162. Berdasarkan nilai rata-rata, <italic id="_italic-251">total</italic><italic id="_italic-252">assets turnover </italic>selama pandemi mengalami penurunan dibandingkan dengan <italic id="_italic-253">total</italic><italic id="_italic-254">assets</italic></p>
        <p id="_paragraph-47"><italic id="_italic-255">turnover</italic>sebelum pandemi. Hal ini berarti <italic id="_italic-256">total</italic><italic id="_italic-257">assets</italic><italic id="_italic-258">turnover</italic>sebelum pandemi lebih baik daripada <italic id="_italic-259">total</italic><italic id="_italic-260">assets</italic><italic id="_italic-261">turnover</italic>selama pandemi.</p>
        <p id="paragraph-5a0bcb3c854d2b10758bbd0db7eaf20a">Uji Normalitas</p>
        <fig id="figure-panel-0672278d103e11b61450deb23b50ea26">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title>Uji Normalitas</title>
            <p id="paragraph-c41815a4bf6a59bdceac1195e5989920" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-95564deb1f40b39be8c1efec6cee9ecd" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT2.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-49">Berdasarkan tabel 4.2, Hasil uji normalitas dengan Kolmogrov-Smimov pada tabel diatas menunjukkan bahwa Sig. Variabel DER Sebelum Pandemi Covid-19, DER Saat Pandemi Covid-19, ROA Sebelum Pandemi Covid-19, ROA Saat Pandemi Covid-19, CR Saat Pandemi Covid-19 dan TATO Sebelum Pandemi Covid-19 lebih besar dari (&gt;0,05), maka dapat dinyatakan bahwa data kinerja keuangan pada periode pengamatan memiliki sebaran data yang normal, kecuali untuk variabel CR Sebelum Pandemi Covid-19 dan TATO Saat Pandemi Covid-19 memiliki data yang tidak normal karena nilai Sig lebih kecil dari (&gt;0,05). Sehingga datanya perlu ditransformasikan ke Log, Ln, Sqrt sehingga asumsi normalitas terpenuhi dan pengujian hipotesis dilaksanakan dengan analisis statistik parametik yaitu uji Paired Sample t test.</p>
        <p id="paragraph-b12582919000704a0ad1d6705c4a1d9d">Uji Hipotesis</p>
        <p id="heading-c9194a1ee726d28df613e5c512b7f390">A . Rasio Solvabilitas</p>
        <fig id="figure-panel-51168c1725b22c435d79317e950826bb">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Sample Statististic Debt to Equity Ratio</title>
            <p id="paragraph-534946c5ed120a783612aad85879077a" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-121625f3b67991ffd35fd10a2c8e9f63" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT3.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-52">Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa rata-rata debt to equity ratio sebelum pandemi sebesar 0,8017, standar deviasi sebesar 0,49960, dan rata-rata standar eror sebesar 0,10417. Sedangkan rata-rata debt to equity ratio selama pandemi sebesar 0,8843, standar deviasi sebesar 0,74078 , dan rata-rata standar eror sebesar 0,15446. Selain itu, dapat diketahui juga bahwa rata-rata debt to equity ratio sebelum pandemi lebih kecil dibandingkan dengan ratarata debt to equity ratio selama pandemi. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara debt to equity ratio sebelum pandemi dengan debt to asset ratio selama pandemi.</p>
        <fig id="figure-panel-47cfcab1be59bec26b9448b305b8b6bf">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Samples Test Debt to Equity Ratio </title>
            <p id="paragraph-4b664168e5fe368ac6e5325abb8d90ab" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-8d36380ca5681e40a5ad4234de79c0f5" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT 4.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-53">Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa t hitung dari kedua data debt to equity ratio sebesar -0,8261, degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,368. Nilai signifikansi tersebut &gt;0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara debt to equity ratio sebelum pandemi dengan debt to equity ratio selama pandemi.</p>
        <p id="_paragraph-54">B. Rasio Profitabilitas</p>
        <fig id="figure-panel-c8ffdd5eba001a6d4d12bb661c1ee91d">
          <label>Figure 5</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Sample Statististic Return On Assets</title>
            <p id="paragraph-87d876058699191606c2c8412de80653" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-57ad293a12d385b75cc1de194c10a622" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT5.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-55">Berdasarkan tabel 4.5, dapat diketahui bahwa rata-rata return on asset sebelum pandemi sebesar 4,8413 , standar deviasi sebesar 30,17474 , dan rata-rata standar eror sebesar 6,29187. Sedangkan rata-rata return on asset selama pandemi sebesar -2,6183, standar deviasi sebesar 34,45645 , dan rata-rata standar eror sebesar 7,18465. Selain itu, dapat diketahui juga bahwa rata-rata return on asset ratio sebelum pandemi lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata return on asset ratio selama pandemi. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaanantara return on asset sebelum pandemi dengan return on asset selama pandemi.</p>
        <fig id="figure-panel-c22107c64330c30669970d4cfcd2dd5a">
          <label>Figure 6</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Samples Test Return On Assets</title>
            <p id="paragraph-80edea6d9637b7ebe6fb1ff62c8188bb" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-3db9986c37902a589960074506a41b23" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT6.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-56">Berdasarkan tabel 4.6, diketahui bahwa t hitung dari kedua data return on asset sebesar -0,810, degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,427. Nilai signifikansi tersebut &gt; 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara return on assets sebelum pandemi dengan return on assets selama pandemi.</p>
        <p id="_paragraph-57">C. Rasio Likuiditas</p>
        <fig id="figure-panel-ffe5bcad2eba642ce5ca202876b99304">
          <label>Figure 7</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Sample Statististic Current Ratio</title>
            <p id="paragraph-f309b76c73df1246633c895302ae51ce" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-226d519b10e604dc5c77193f0b970ff9" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT7.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-58">Berdasarkan tabel 4.7, dapat diketahui bahwa rata-rata Current Ratio sebelum pandemi sebesar 0,0148 , standar deviasi sebesar 0,44089 , dan rata-rata standar eror sebesar 0,09193. Sedangkan rata-rata Current Ratio selama pandemi sebesar -0,4709, standar deviasi sebesar 0,89009 , dan rata-rata standar eror sebesar 0,18560. Selain itu, dapat diketahui juga bahwa rata-rata Current Ratio sebelum pandemi lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata current ratio selama pandemi. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Current Ratio sebelum pandemi dengan Current Ratio selama pandemi.</p>
        <fig id="figure-panel-65a990b0bfeb8d4845e51b59d1436b88">
          <label>Figure 8</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Samples Test Current Ratio</title>
            <p id="paragraph-42ebdaa2da4837df640991c85ad60a54" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-51d0aac2b60a5d3243169253b05e5b3c" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT8.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-59">Berdasarkan tabel 4.8, diketahui bahwa t hitung dari kedua data current ratio sebesar 3,571 , degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,002. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara current ratio sebelum pandemi dengan current ratio selama pandemi.</p>
        <p id="paragraph-bc2e750e24cfce77a8e6ab7a19e84df0">D. Rasio Aktifitas</p>
        <fig id="figure-panel-85957b56140588dd510da7eefb14b7b9">
          <label>Figure 9</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Sample Statististic Total Asset Turnover</title>
            <p id="paragraph-2dd7cd8eb916a3057a84f8d5bf7c9f95" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-ba88851411349d41bb0a939a2f4b2cb3" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT 9.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-60">Berdasarkan tabel 4.9, dapat diketahui bahwa rata-rata Total Asset Turnover sebelum pandemi sebesar 1,7891 , standar deviasi sebesar 1,27400 , dan rata-rata standar eror sebesar 0,26565. Sedangkan rata-rata Total Asset Turnover selama pandemi sebesar 1,3217, standar deviasi sebesar 1,17162 , dan rata-rata standar eror sebesar 0,24430 Selain itu, dapat diketahui juga bahwa rata-rata Total Asset Turnover sebelum pandemi lebih besar dibandingkan dengan rata-rata Total Asset Turnover selama pandemi. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Total Asset Turnover sebelum pandemi dengan Total Asset Turnover selama pandemi.</p>
        <fig id="figure-panel-a7f2f8e3a2df89df6071bdb55f746eb1">
          <label>Figure 10</label>
          <caption>
            <title>Hasil Paired Samples Test Total Asset Turnover</title>
            <p id="paragraph-f2aa6dd68146b7653f58c4418dcb4f27" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-09038403c8094338922b29580129fa11" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT10.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-61">Berdasarkan tabel 4.10, diketahui bahwa t hitung dari kedua data <italic id="_italic-270">Total</italic><italic id="_italic-271">Asset</italic><italic id="_italic-272">Turnover</italic>sebesar 2,451</p>
        <p id="_paragraph-62">, degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,023. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa <bold id="_bold-22">terdapat </bold><bold id="_bold-23">perbedaan </bold>antara <italic id="_italic-273">Total</italic><italic id="_italic-274">Asset</italic><italic id="_italic-275">Turnover</italic>sebelum pandemi dengan <italic id="_italic-276">Total</italic><italic id="_italic-277">Asset</italic><italic id="_italic-278">Turnover</italic>selama pandemi.</p>
      </sec>
      <sec id="sec-3_4">
        <title>Pembahasan</title>
        <fig id="figure-panel-cc89ce364b32a250ceb55af612df1560">
          <label>Figure 11</label>
          <caption>
            <title>Hasil Hipotesis</title>
            <p id="paragraph-fcf597a764ed91b901fad606a9db9a30" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-9f3031949c8da6f7201258f3e784271b" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="703 Ijins GT 11.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-64">Berdasarkan pada hasil penelitian yang mengacu pada pengolahan data sesuai dengan judul penelitian, permasalahan dan hipotesis penelitian, maka pada penelitian ini yang perlu dijelaskan sebagai berikut :</p>
        <p id="paragraph-6f670bab0756c619a47b130ffc4cd360">1. Perbedaan <italic id="italic-263b2b49f83f940d950f8c0104152d02">Debt to Equity Ratio </italic>sebelum pandemi Covid-19 dan Selama Pandemi Covid-19 pada Perusahaan Manufaktur subsektor <italic id="italic-5c92816242501b93820bcfb76c79a50f">Property and Real Estate </italic>yang terdaftar di BEI tahun 2019- 2020.</p>
        <p id="_paragraph-65">Pengujian variabel debt to equity ratio menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,368. Nilai signifikansi tersebut &gt; 0,05. Hal ini disebabkan laba yang diperoleh 23 perusahaan menurun dari tahun 2019 ke tahun 2020. Penurunan laba tersebut mengakibatkan ekuitas perusahaan juga menurun, karena laba yang dibawa ke akun saldo laba pada ekuitas menjadi sedikit. Ekuitas yang digunakan sebagai penyebut pada debt to equity ratio sangat mempengaruhi hasil rasio ini. Semakin tinggi ekuitas yang dimiliki perusahaan, maka semakin rendah rasio yang dihasilkan. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah ekuitas perusahaan, maka semakin tinggi rasio yang dihasilkan.</p>
        <p id="_paragraph-66">Semakin tinggi debt to equity ratio, maka semakin kurang baik keadaan perusahaan karena keuangan perusahaan yang diperoleh dari kreditor lebih besar dibandingkan dengan modalnya sendiri. Begitu juga sebaliknya semakin rendah debt to equity ratio, maka semakin baik keadaan perusahaan. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa perusahaan yang memiliki debt to equity ratio lebih baik selama adanya pandemi yang dikarenakan ekuitas perusahaan memiliki kapasitas yang tinggi untuk menjamin liabilitasnya, dibandingkan dengan debt to equity ratio sebelum adanya pandemi Covid-19 dan perusahaan yang memiliki debt to equity ratio kurang baik selama adanya pandemi yang dikarenakan ekuitas perusahaan memiliki tidak berkapasitas tinggi untuk menjamin liabilitasnya, dibandingkan dengan debt to equity ratio sebelum adanya pandemi Covid-19.</p>
        <p id="_paragraph-67">Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa t hitung dari kedua data debt to equity ratio sebesar</p>
        <p id="_paragraph-68">-0,8261, degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,368. Nilai signifikansi tersebut</p>
        <p id="_paragraph-69">&gt;0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha di tolak karena secara statistik tidak terdapat perbedaan antara debt to equity ratio sebelum pandemi dengan debt to equity ratio selama pandemi.</p>
        <p id="paragraph-4390fc470344fc52b564d0d4d5510a40">2. Perbedaan <italic id="italic-d3dd9442cd3122755235d8bd4b4762aa">Return on Assets </italic>sebelum pandemi Covid-19 dan Selama Pandemi Covid-19 pada Perusahaan Manufaktur subsektor <italic id="italic-ce7b530766fe2786f31e8f57d127cff7">Property and Real Estate </italic>yang terdaftar di BEI tahun 2019- 2020.</p>
        <p id="_paragraph-70">Pengujian variabel return on asset menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,427. Nilai signifikansi tersebut &gt; 0,05. Hal ini disebabkan laba yang diperoleh 23 perusahaan menurun dari tahun 2019 ke tahun 2020, dengan adanya penurunan laba maka perusahaan tidak dapat menambah asset perusahaan. Semakin tinggi ROA semakin baik pula kemampuan perusahaan dalam mengelola asetnya.</p>
        <p id="_paragraph-71">Berdasarkan tabel 4.6, diketahui bahwa t hitung dari kedua data return on asset sebesar - 0,810, degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,427. Nilai signifikansi tersebut</p>
        <p id="_paragraph-72">&gt; 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha di tolak karena secara statistik tidak terdapat perbedaan antara return on asset sebelum pandemi dengan return on asset selama pandemi.</p>
        <p id="paragraph-0aeeadcf645a0535c006e0954fe9ed55">3. Perbedaan <italic id="italic-d9f74c78216d738a79b6dd1b70dcb042">Current Ratio </italic>sebelum pandemi Covid-19 dan Selama Pandemi Covid-19 pada Perusahaan Manufaktur subsektor <italic id="italic-e5faa984ec5fb1d29f01839f3aa3a41a">Property and Real Estate </italic>yang terdaftar di BEI tahun 2019- 2020.</p>
        <p id="_paragraph-73">Pengujian variabel Current Ratio menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,002, nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05. Maka berdasarkan hasil pengujian terdapat perbedaan current ratio antara sebelum dan selama adanya pandemi Covid-19. Perbedaan tersebut adanya perusahaan yang memiliki current ratio kurang baik selama adanya pandemi yang dikarenakan perusahaan masih belum maksimal mengelola aset lancarnya yang menyebabkan aset lancar tersebut memiliki kontribusi yang kurang dalam menjamin liabilitas lancarnya, dibandingkan dengan current ratio sebelum adanya pandemi Covid19.</p>
        <p id="_paragraph-74">Hal ini dikarenakan pandemi yang berlangsung cukup lama, sehingga aset dari perusahan menurun dan aset lancar yang dimiliki kurang mampu untuk menutup atau melunasi liabilitas jangka pendeknya. Dengan begitu membuat perusahaan menjadi perusahaan yang kurang likuid dibandingkan dengan yang lain. Likuid atau tidaknya perusahaan dapat dilihat Ketika perusahaan mampu untuk menutup atau melunasi liabilitas jangka pendeknya menggunakan aset lancarnya. Semakin rendah current ratio, maka semakin tidak baik keadaan perusahaan karena aset lancar yang dimiliki perusahaan sedikit untuk melunasi liabilitas lancarnya. Begitu juga sebaliknya semakin tinggi current ratio, maka semakin baik keadaan perusahaan.</p>
        <p id="_paragraph-75">Berdasarkan tabel 4.8, diketahui bahwa t hitung dari kedua data current ratio sebesar 3,571 , degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,002. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha di terima karena secara statistik terdapat perbedaan antara <italic id="_italic-279">current</italic><italic id="_italic-280">ratio</italic>sebelum pandemi dengan <italic id="_italic-281">current</italic><italic id="_italic-282">ratio</italic>selama pandemi.</p>
        <p id="paragraph-3ff787d06d86ddaef13d1f38c389f488">4. Perbedaan <italic id="italic-e49d70c3416d284af292265989a1a831">Total Asset Turnover </italic>sebelum pandemi Covid-19 dan Selama Pandemi Covid-19 pada Perusahaan Manufaktur subsektor <italic id="italic-f6ffba2628a7f5a5f5e21f08214d348f">Property and Real Estate </italic>yang terdaftar di BEI tahun 2019- 2020.</p>
        <p id="_paragraph-76">Pengujian variabel Total Asset Turnover menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,023. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05. Maka berdasarkan hasil pengujian terdapat perbedaan total assets turnover antara sebelum dan selama adanya pandemi Covid-19. Perbedaan tersebut disebabkan pendapatan atau penjualan yang diperoleh mayoritas perusahaan menurun dari tahun 2019 ke tahun 2020. Di sisi lain aset perusahaan sudah dimiliki sebelum pandemi berlangsung. Dengan artian bahwa aset tetap perusahaan sudah dimiliki sebelum pandemi berlangsung dan tidak terjadi penjualan atau pembelian aset. Pendapatan atau penjualan yang digunakan sebagai pembilang pada total assets turnover sangat mempengaruhi hasil rasio ini. Semakin tinggi pendapatan atau penjualan yang dimiliki perusahaan, maka semakin tinggi rasio yang dihasilkan. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah pendapatan atau penjualan perusahaan, maka semakin rendah rasio yang dihasilkan.</p>
        <p id="_paragraph-77">Semakin rendah total assets turnover, maka semakin tidak baik keadaan perusahaan karena total aset perusahaan berkapasitas lebih yang berarti perusahaan belum bisa mengoptimalkan pengelolaan asetnya. Begitu juga sebaliknya semakin tinggi total assets turnover, maka semakin baik keadaan perusahaan karena dapat mengoptimalkan pengelolaan asetnya.</p>
        <p id="_paragraph-79">Berdasarkan tabel 4.10, diketahui bahwa t hitung dari kedua data <italic id="_italic-283">Total</italic><italic id="_italic-284">Asset</italic><italic id="_italic-285">Turnover</italic>sebesar 2,451 , degree of freedom sebesar 22, dan nilai signifikansi sebesar 0,023. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha di terima karena secara statistik terdapat perbedaanantara <italic id="_italic-286">Total</italic><italic id="_italic-287">Asset</italic><italic id="_italic-288">Turnover</italic>sebelum pandemi dengan <italic id="_italic-289">Total</italic><italic id="_italic-290">Asset</italic><italic id="_italic-291">Turnover</italic>selama pandemi.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-c2f83490a0a4b6d3dda927359b611bef">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-80">Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bukti mengenai Kinerja keuangan sebelum dan pada saat adanya Pandemi Covid-19. Adapun sampel yang digunakan sebanyak 23 perusahaan yang diobservasi selama 2 tahun dengan rentang tahan 2019 sampai dengan tahun 2020.</p>
      <p id="_paragraph-81">Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :</p>
      <p id="paragraph-54482ba59667dc2d55bd7aa460f00939">1. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan di Rasio Solvabilitas <italic id="italic-453b0498efd2bf1eec224d939b97d6a5">(Debt to Equity Ratio) </italic>pada kinerja keuangan perusahaan sebelum dan selama pandemi covid-19. Nilai signifikansi tersebut &gt;0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha di tolak.</p>
      <p id="paragraph-2">2. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan Rasio Profitabilitas <italic id="italic-efd963f5415b948ff8cd9d7d64de59cf">(Return on Asset) </italic>pada kinerja keuangan perusahaan sebelum dan selama pandemi covid-19. Nilai signifikansi tersebut &gt; 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha di tolak.</p>
      <p id="paragraph-3">3. Terdapat perbedaan yang signifikan di Rasio Likuiditas <italic id="italic-3">(Current Ratio) </italic>pada kinerja keuangan perusahaan sebelum dan selama pandemi covid-19. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha di terima.</p>
      <p id="paragraph-4">4. Terdapat perbedaan yang signifikan di Rasio Aktifitas <italic id="italic-4">(Total Asset Turnover) </italic>pada kinerja keuangan perusahaan sebelum dan selama pandemi covid-19. Nilai signifikansi tersebut &lt; 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha di terima.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>