The Effect of Intellectual Capital Disclosure Disclosure on Financial Performance and Firm Value in Banking Companies Listed on the IDX
Innovation in Economics, Finance and Sustainable Development
DOI: 10.21070/ijins.v14i.545

The Effect of Intellectual Capital Disclosure Disclosure on Financial Performance and Firm Value in Banking Companies Listed on the IDX


Pengaruh Pengungkapan Intellectual Capital Disclosure Terhadap Kinerja Keuangan dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar Di BEI

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Intelectual Capital Disclosure Kinerja Keuangan Nilai Perusahaan

Abstract

Important information for investors in making investment decisions is reflected in the financial statements. Investors certainly expect a high rate of return from the funds invested in the company. The purpose of this study was to determine the effect of intellectual capital disclosure on financial performance and firm value in banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2015 – 2019. Through the criteria in the purposive sampling method, a sample of 14 banking companies was obtained. The panel data regression analysis technique is Partial Least Square (PLS) regression analysis. The panel data will be analyzed using Partial Least Square (PLS). And obtained the results that (1) Intellectual Capital Disclosure has an effect on Financial Performance, (2) Intellectual Capital Disclosure has an effect on Firm Value.

Pendahuluan

Perubahan keadaan ekonomi Indonesia semakin cepat, memaksa beberapa perusahaan mengubah cara mereka dalam menjalankan bisnisnya. Kemampuan perusahaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor yang penting untuk memenangkan persaingan bisnis, maka dari itu perusahaan dituntut merubah strategi bisnisnya dari pola strategi yang awalnya berbasis tradisional menjadi strategi bisnis pengetahuan. Strategi bisnis tradisional yaitu strategi yang mengandalkan asset berwujud, sedangkan dalam perusahaan berbasis pengetahuan sumber terpentingnya yaitu asset tidak berwujud, yaitu modal intelektual [1].

[2] berpendapat modal intelektual merupakan modal pengetahuan yang dimana termasuk segala proses maupun asset yang tidak berwujud yang merupakan ketrampilan, pengetahuan, dan pengalaman serta dalam sistem dan prosedur organisasional yang dapat mendukung aktivitas atau kinerja perusahaan. Modal intelektual juga didefinisikan sebagai sekumpulan asset pengetahuan termasuk dari bagian atribut organisasi yang berkontribusi signifikan dalam upaya meningkatkan posisi persaingan dengan cara menambah nilai bagi pihak yang berkepentingan [3]. Dalam hal ini perusahaan akan memfokuskan pentingnya pengelolahan pengetahuan dalam mendapatkan nilai dan keuntungan bagi perusahaan, yang dimana perusahaan akan menerapkan knowledgebased business(asset pengetahuan) yang tidak lain adalah intellectual capital (modal intelektual) [4]. Modal intelektual (knowledge-based) mengalami perkembangan yang pesat khususnya di Indonesia karena modal intelektual sendiri berperan dalam pengembangan perusahaan untuk menciptakan keunggulan kompetitif dan meningkatkan nilai pasar [5].

Modal intelektual yang lebih besar akan membuat investor memberi nilai yang tinggi terhadap perusahaan [6]. Kelangsungan usaha suatu perusahaan dalam menjalankan kinerja, strategi maupun pengambilan keputusan dipengaruhi oleh pengelolahan modal intelektual yang akan berdampak pada nilai perusahaan. Modal intelektual menjadi sangatlah penting sebagai asset vital yang digunakan dalam upaya peningkatan kinerja perusahaan dan pencapaian keunggulan kompetitif [7]. Dikatakan sebagaia asset vital karena modal intelektual merupakan modal perusahaan yang berlandaskan pengetahuan yang nantinya akan mampu membuat segala aktivitas perusahaan bisa berjalan sesuai dengan harapan pihak yang berkepentingan. Banyaknya modal intelektual yang kompetitif tidak hanya dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan, melainkan juga menghasilkan kepuasan bagi pihak eksternal dan pihak internal perusahaan [8].

Topik intellectualcapitaltelah menarik perhatian para peneliti. Beberapa penelitian tentang intellectual capital telah membuktikan bahwa intellectual capital mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Akan tetapi, penelitian lain mengungkapkan hal yang berbeda. Secara teori, pemanfaatan dan pengelolaan intellectual capital yang baik oleh perusahaan dapat membantu meningkatkan kinerja keuangan Selain itu, intellectual capital juga diyakini dapat meningkatkan market value perusahaan. Perusahaan yang mampu memanfaatkan asset intelektualnya secara efisien, maka nilai pasar perusahaan akan meningkat [9].

Intellectualcapitaldalam laporan keuangan diungkapkan melalui kinerja keuangan. Dalam [10] terdapat beberapa cara menganalisis kinerja keuangan dalam laporan keuangan, salah satunya adalah analisis rasio profitabilitas. Analisis profitabilitas menggambarkan kinerja fundamental perusahaan ditinjau dari tingkat efisiensi dan efektifitas operasi perusahaan dalam memperoleh laba dan sering digunakan sebagai indikator kinerja fundamental perusahaan mewakili kinerja manajemen.

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang sesuai tentang pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan (BusinessPerformance). Bererapa peneliti terdahulu menunjukkan hasil yang sama. penelitian yang dilakukan oleh [10] menemukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antaraintellectualcapitaldengan kinerja keuangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perusahaan Perusahaan Manufaktur di BEI 2012-2014. Hasil serupa didapat dari penelitian yang dilakukan oleh [11] yang menemukan bahwa intellectualcapitalberpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan LQ45yang terdaftar di BEI.

Kinerja keuangan dalam penelitian ini diproksikan dengan ROA. Rasio ini memberikan pemahaman kepada penggunanya terkait seberapa baik sebuah perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan profit dan meningkatkan kesejahteraan pemegang sahamnya. Berikut ini adalah tingkat kinerja keuangan /profitabilitas perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2017 - 2019.

No Emiten/Perusahaan Tingkat Profitabilitas Berdasarkan ROA
2017 2018 2019
1 BMRI 13,21 14,09 13,61
2 BBRI 18,39 12,34 13,89
3 BBCA 11,04 10,12 7,48
4 BBNI 8,41 11,08 12,85
5 BBTN 12,51 18,70 16,60
Ra t a -r a ta 12,71 13,27 12,89
Table 1.Tingkat Profitabilitas Perusahaan Perbankan di BEI Tahun 2017 - 2019

Berdasarkan tabel diatas, perkembangan tingkat profitabilitas dari tahun 2017-2019 mengalami perubahan yang tidak menentu. Tingkat profitabilitas tahun mengalami penurunan pada tahun2018 ke 2019 sebesar 12,89%.Penurunan profitabilitas ini ini disebabkan adanya menurunya tingkat modal intectual dperusahaan perbankan. Perbankan tidak mempertimbnagkan intelectualcapital dalam mengelola perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan tidak maksimal.

Penelitian yang terkait tentang intellectualcapitalsudah dilakukan di beberapa penelitian dan mempunyai hasil yang beragam. Penelitian yang dilakukan oleh [12] yang berjudul “Pengaruh IntellectualCapitalTerhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Indeks Kompas di Bursa Efek Indonesia”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humancapital efficiency, structurecapital efficiency dan capitalemployedefficiencysecara parsial memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap nilai perusahaan.

Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap kinerja perusahaan yang dihubungkan dengan harga saham Meningkatnya harga saham membuat nilai perusahaan semakin meningkat pula [13]. Nilai perusahaan yang tinggi mampu membuat pasar percaya dengan kinerja perusahaan dan perkembangan maupun pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang. Hal ini tentunya akan bermanfaat bagi semua stakeholder yang berada dalam persaingan bisnis. Nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini. Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat. Menurut [14] nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham dan profitabilitas

Nilai perusahaan dapat diproksikan dengan pricetobookvalue(PBV). PBV menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan bahwa pasar semakin percaya akan prospek perusahaan tersebut. Di bawah ini terdapat tabel nilai perusahaan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017 sampai 2019 sehingga bisa dilihat dengan jelas naik turunnya yang dialami oleh perusahaan tersebut. Data nilai perusahaan (PBV) yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada website Bursa Efek Indonesia.

No Emiten/Perusahaan Nilai Perusahaan Berdasarkan PBV
2017 2018 2019
1 BMRI 2,60 2,37 1,67
2 BBRI 2,60 1,92 2,54
3 BBCA 1,14 1,20 1,16
4 BBNI 1,97 1,50 1,84
5 BBTN 4,91 4,07 3,95
Ra t a -r a ta 2,64 2,21 2,23
Table 2.Nilai Perusahaan (PBV) Perusahaan Perbankan di BEI Tahun 2017 - 2019

Dari data diatas terlihat dengan jelas bahwa besarnya nilai PBV dari tahun 2017 sampai tahun 2019 cenderungan mengalami fluktuasi. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata PBV pada tahun 2017 sebesar 2,64%, sedangkan pada tahun 2018 PBV mengalami penurunan menjadi sebesar 2,21%. Namun pada tahun 2019 mengalami kenaikan menjadi 2,23%. Fenomena ini menunjukkan adanya fluktuasi nilai perusahaan pada perusahaan perbankan yang mana tidak stabil. Ketidakstabulan perusahaan ini disebabkan karena kurang maksimalnya Intelectual capitaldiperusahaan perbankan. Perusahaan. Perusahaan kuarng memperhatikan efektifitas Intelectualcapitalserta peranananya dalam mempenegaruhiPBV.Hal ini menyebabkan perusahaan ketidakstabilan pengelolann perusahaan

Industri perbankan sebagai salah satu sektor yang paling intensif dan penting memanfaatkan modal intelektual. Berkaitan dengan adanya kinerja bank dan modal intelektual ada beberapa penelitian mengenai peran modal intelektual terhadap kinerja. Saat ini pertumbuhan sektor perbankan di Indonesia memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sektor perbankan kembali mencatat pertumbuhan di tengah pelambatan pertumbuhan perekonomian nasional dan kelesuan ekonomi global. Sektor perbankan juga berpotensi maju dan tumbuh secara berkelanjutan dengan kebijakan untuk meningkatkan nilai berbasis daya saing

[15] telah melakukan penelitian terhadap pengaruh Intellectual capitaldisclosureterhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan Indonesia selama tiga periode, 2016-2016. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif ICD terhadap kinerja keuangan perusahaan. Selain itu ICD juga memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan di masa depan. Hasil lainnya juga dapat diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan IC (therate ofgrowthofacompany’sIC-ROGIC)tidak berpengaruh terhadap kinerja keungan masa depan [16].

Penelitian lain telah berusaha menunjukan hubungan antara market value dan kinerja keuangan perusahaan salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh [17], hasil menunjukkan bahwa modal intelektual perusahaan memiliki dampak positif pada nilai pasar dan kinerja keuangan, dan dapat menjadi indikator bagi kinerja keuangan di masa depan.

[14] praktik intellectual capital disclosure dalam annual report perusahaan publik menarik dilakukan dalam konteks Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, dengan dicanangkannya program pemerintah tentang pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan proses penelitian dan pengembangan (Research and Development) sejak tahun 2003, maka diharapkan dapat meningkatkan perhatian perusahaan terhadap pentingnya intellectual capital, yang akhirnya pada intellectual capital voluntary disclosure. Alasan kedua didasarkan pada survey global yang dilakukan oleh [18] dan[19]. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa ternyata informasi mengenai “intellectual capital” perusahaan merupakan 5 dari 10 jenis informasi yang dibutuhkan user. Namun, pada kenyataannya tipe informasi yang dipertimbangkan oleh investor tersebut tidak diungkapkan sehingga menyebabkan terjadinya “information gap” [20]. Oleh karena itu perlu diteliti bagaimanakah praktik pengungkapan intellectual capital di Indonesia, khususnya pada perusahaan yang terdaftar di BEI. Yang terakhir, sebagian besar mandatory disclosure yang disyaratkan oleh profesi akuntansi (accounting profession) terkait dengan physical capital. Adanya pengakuan intellectual capital sebagai faktor yang sangat penting (pivotal factors) bagi perusahaan, menjadikan mandatory disclosure yang terkait dengan physical capital menjadi kurang relevan bagi user. Hal ini menimbulkan kesenjangan informasi terkait pengambilan keputusan investasi. Oleh karena itu, penyusun standar (standard setter) perlu menyusun pedoman bagi pengungkapan informasi intellectual capital untuk melindungi kepentingan pemakai.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2016. Perusahaan perbankan dipilih karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang berbasis intelektualitas. Menurut [21] perusahaan perbankan dan asuransi dapat dikategorikan sebagai industri yang berbasis pada intelektualitas yang berinovasi dalam produk dan jasa, serta pengetahuan dan fleksibilitas merupakan aspek kritis yang menentukan kesuksesan bisnis. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis mengambil judul “PengaruhIntellectual capitaldisclosureTerhadapNilaiPasarDanKinerja KeuanganPerusahaanPerbankanYangTerdaftarDiBursaEfekIndonesia (BEI) Tahun2015-2019”

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah Intellectual capital disclosure Disclosure berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan (ROA)?
  2. Apakah Intellectual capital disclosure Disclosure berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan?

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan data sekunder sebagai sumber data [22]. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laporan Keuangan tahunan Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di BEI Periode 2015-2019. Penelitian ini menganalisa dan menjelaskan Pengaruh Intellectual capital disclosure Terhadap Nilai Pasar Dan Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2015-2019.

Indikator Variabel

No. Va r ia b e l D e f i n isi Va r ia b e l I nd i k ator J e n is Data
1. Intellectualcapital disclosure (IC) suatu laporan yangdimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna yang dapat memertahankan persiapan laporan tersebut sehingga dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka (Abeysekera, 2016dalamUlum, 2016:148) DataRasio
ICD = (di/M)
di = Pengungkapan item- item modal intelektualM = total jumlah yangdiukur
2. Kinerja K e uangan ( R O A ) Laba setelah pajakdibagi total asset Data Rasio
3 NilaiPerusahaan Perbandingan antaraharga pasar dan nilai buku saham Data Rasio
Table 3.Indikator Variabel

Sampel

Perusahaan yang menjadi sampel dari penelitian ini dipilih menggunakan metode purposive sampling, dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu atau karakteristik tertentu.

Kriteria dari pemilihan sampel adalah sebagai berikut :

  1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2015-2019.
  2. Menyajikan laporan tahunan pada tahun 2015-2019.
  3. Memiliki informasi tentang Intellectual capital disclosure, Kinerja Keuangan (ROA) dan nilai perusahaan PBV).

Adapun untuk perusahaan perbankan yang menjadi sampel penelitian ini adalah sebagai berikut :

NO KODE NAMA PERUSAHAAN
1 BMRI PT. Bank Mandiri Tbk.
2 BBRI PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI)
3 BBCA PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
4 BBNI PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI)
5 BNGA PT Bank CIMB Niaga Tbk.
6 BDMN PT Bank Danamon Indonesia Tbk
7 BNLI PT Bank Permata Tbk
8 NISP PT. Bank OCBC NISP Tbk.
9 BBTN PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN)
10 BBKP PT. Bank Bukopin Tbk.
11 MEGA PT. Bank Mega Tbk.
12 BTPN PT. Bank Tabungan Pensiunan NasionalTbk.
13 BSIM PT. Sinarmas Tbk.
14 INPC PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk.
Table 4.Pemilihan Sampel

Teknik Analisis Data

Statistik Deskriptif

PengujianHipotesismenggunakan PLS[23]

  1. Uji t (Uji parsial )
  2. Determinasi Koefisien [24]

Hasil dan Pembahasan

Hasil

1. Statistik Deskriptif

Statistik Deskriptif merupakan bagian analisis data yang memberikan gambaran awal dari setiap variabel yang digunakan dalam penelitian. Jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 5 variabel. Variabel Independen yang digunakan adalah ICD. Variabel Dependen yang digunakan yaitu Kinerja Keuangan, dan Nilai Perusahaan. Statistik deskriptif data tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata (mean), nilai maksimum dan minimum, dan standar deviasi dari setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini [25]. Adapun hasil dari statistik deskriptif disajikan dalam tabel 5 di bawah ini:

Rata- Rata Median Minim um Maksim um StandarDeviasi Kelebihan Kurtosi s Skewn ess
KinerjaKeuanga n 10.433 0.019 -0.004 2.838 0.877 1.624 1.824
NilaiPerusaha an 221,259.73 13,304.00 262 142,048.00 26,927.34 7.29 2.525
ICD 221,259. 13,304. 262.26 142,048. 26,927. 7.29 2.525
69 12 33 33
Table 5.Statistik Deskriptif

Dari tabel 5 iatas menunjukan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil perhitungan bahwa jumlah pengamatan dalam penelitian ini ada 14 perusahaan Perbankan Konvensional yang menjadi sample dimana 14 perusahaan tersebut dikalikan periode tahun pengamatan (5 tahun), sehingga observasi dalam penelitian ini sebanyak 70 observasi (14 x 4 = 40). Berdasarkan perolehan data diketahui hasil sebagai berikut:

ICD(X)

Berdasarkan tabel 5 mempunyai nilai maksimum sebesar 142,048.33 dan nilai minimum sebesar 262.26. Nilai rata- rata untuk variabel ICD sebesar 221,259.69 lebih besar dari Nilai standar deviasi dari hasil pengujian sebesar 26,927.33. Menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel ICD sudah normal.

Kinerja Keuangan (Y1)

Berdasarkan tabel 5 mempunyai nilai maksimum sebesar 2.838 dan nilai minimum sebesar -0.004. Nilai rata- rata untuk variabel Kinerja Keuangan sebesar 10.433 lebih besar dari Nilai standar deviasi dari hasil pengujian sebesar 0.877. Menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel Kinerja Keuangan sudah normal.

Nilai Perusahaan (Y2)

Berdasarkan tabel 5 mempunyai nilai maksimum sebesar 142,048.00 dan nilai minimum sebesar 262. Nilai rata- rata untuk variabel Nilai Perusahaan sebesar 221,259.73 lebih besar dari Nilai standar deviasi dari hasil pengujian sebesar 26,927.34. Menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel - rata untuk variabel Nilai Peerusahaan sudah normal.

Outer Model atau Measurement Model

Dalam melakukan uji Outer model dengan menggunakan SEM berbasis PLS, terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan, yaitu: Convergent Validity, Discriminant Validity, dan Composite Reliability[26].

Convergent validity

Convergent validity digunakan untuk mengukur kesesuaian antara indikator hasil pengukuran variabel dan konsep teoritis yang menjelaskan keberadaan-keberadaan indikator dari variabel tersebut. Uji convergent validity dapat dievaluasi dengan melihat outer loadings.Outer loadings adalah tabel yang berisi loading factor untuk menunjukkan besar korelasi antara indikator dengan variabel laten. Loading factor paling lemah yang dapat diterima validitasnya adalah 0,7 [26]. Hasil dari pengolahan data dengan SmartPLS dapat dilihat pada tabel 6.

ICD Kinerja Keuangan Nilai Perusahaan
ICD 1.000
Kinerja Keuangan 1.000
Nilai Perusahaan 1.000
Table 6.Outer Loadings (Measurement Model) Output SmartPLS

Tabel di atas menunjukkan bahwa outer loading semuanya memberikan nilai di atas 0,7, Artinya indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah memiliki validitas konvergen yang cukup baik.

Discriminant validity

Discriminant validity adalah tingkat diferensi suatu indikator dalam mengukur konstruk-konstruk instrumen. Untuk menguji discriminat validity dapat dilakukan dengan pemeriksaan cross loading yakni koefisien korelasi indicator terhadap konstruk asosiasinya (loading) dibandingkan dengan koefisien korelasi dengan konstruk lain (cross loading). Nilai koefisien korelasi indikator harus lebih besar terhadap konstruk asosiasinya daripada konstruk lain. Nilai yang lebih besar ini mengindikasikan kecocokan suatu indicator untuk menjelaskan konstruk asosiasinya dibandingkan menjelaskan konstruk-konstruk lain. Hasil cross loading dari pengolahan data dengan SmartPLS dapat dilihat pada table 7.

ICD Kinerja Keuangan Nilai Perusahaan
ICD 0.987 0.297 0.567
Kinerja Keuangan 0.097 0.955 0.054
Nilai Perusahaan 0.678 0.789 0.900
Table 7.Nilai Cross Loading

Dari tabel 7. dapat dilihat bahwa beberapa nilai loading factor untuk setiap indikator dari masing-masing variabel laten masih memiliki nilai loading factor yang paling besar dibanding nilai loading jika dihubungkan dengan variabel laten lainnya. Hal ini berarti bahwa setiap variabel laten belum memiliki discriminant validity yang baik dimana beberapa variabel laten masih memiliki pengukur yang berkorelasi tinggi dengan konstruk lainnya.

Composite Reliability

Kriteria validity dan reliabilitas juga dapat dilihat dari nilai reliabilitas suatu konstruk dan nilai Average Variance Extracted (AVE) dari masing-masing konstruk. Konstruk dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi jika nilainya 0,70 dan AVE berada diatas 0,50 (Hair et al., 2014). Pada tabel 8. akan disajikan nilai Composite Reliability dan AVE untuk seluruh variabel.

Cronbach's Alpha rho_A Reliabilitas Komposit Rata-rata Varians Diekstrak (AVE)
ICD 1.000 1.000 1.000 1.000
Kinerja Keuangan 1.000 1.000 1.000 1.000
Nilai Perusahaan 1.000 1.000 1.000 1.000
Table 8.Composite Reliability dan Average Variance Extracted

Berdasarkan tabel 8. dapat disimpulkan bahwa semua konstruk memenuhi kriteria yang reliabel. Hal ini ditunjukkan dengan nilai composite reliability di atas 0,70 dan AVE diatas 0,50. Jika didasarkan pada nilai composite reliability, maka semua konstruk memenuhi kriteria memiliki reliabilitas yang tinggi.

Menilai Inner model (model Struktural)

Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. Model struktural di evaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Nilai R-square atau R2 digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen [26]. Semakin tinggi nilai R-square atau R2 berarti semakin baik model prediksi dan model yang digunakan.

R Square Adjusted R Square
Kinerja Keuangan 0.143 0.086
Nilai Perusahaan 0.098 0.037
Table 9.Nilai R-Square

Hasil pengolahan data dengan menggunakan SmartPLS dapat dilihat pada Tabel 9. Nilai R-square untuk Konservatisme Akuntansi sebesar 0,143, artinya bahwa pengaruh variabel bebasterhadap Konservatisme Akuntansi sebesar 14,3%. Sebesar 14,3% variabel bebasdapat menjelaskan variabel terikat, sisanya 85,7% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak terdapat dalam model penelitian. Hasil pengolahan data dengan menggunakan SmartPLS dapat dilihat pada Tabel 9. Nilai R-square untuk Kinerja Keuangan sebesar 0,098, artinya bahwa pengaruh variabel bebasterhadap Kinerja Keuangan sebesar 9,8%. Sebesar 9,8% variabel bebasdapat menjelaskan variabel terikat, sisanya 90,2% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak terdapat dalam model penelitian.

Pengujian Hipotesis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pengaruh ICD Terhadap Kinerja Keuangan dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perbankan Konvensional Yang Terdaftar di BEI Periode 2015-2019. Dari data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan metode regresi linear berganda dan diuji dengan menggunakan program SmartPLS.

Untuk seluruh hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan satu model persamaan. Adapun model pengujian hipotesis untuk semua hipotesis disajikan pada tabel 10 dibawah ini:

S am p el A sli ( O ) Rata - r ata S am p el ( M ) S t an d ar De v ia s i ( S T D EV ) T S t atis t ik ( | O / S T D E V |) P V alu e s
X 1 - > Y 1 -0.097 -0.091 0.075 1.990 0.0 0 8
X 1 - > Y 2 1.000 1.000 0.000 3.931 0.0 0 0
Table 10. K oefisien Jalur

1. ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Kinerja Keuangan (Y1)

Hipotesis pertama menyatakan bahwa PBV (X1) Berpengaruh Terhadap Harga Saham (Y1). Dilihat dari tabel 4.6, menunjukkan hasil T Statistik sebesar 1.990 > 1,96 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,008 < 0,05. Hasil pengujian menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,008 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H1yang menyatakan bahwa ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Kinerja Keuangan (Y1) diterima.

2. ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan (Y2)

Hipotesis kedua menyatakan bahwa ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan (Y2). Dilihat dari tabel 4.6, menunjukkan hasil T Statistik sebesar 3.931 > 1,96 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,000 < 0,05. Hasil pengujian menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H2yang menyatakan bahwa ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan (Y2) diterima.

No. H ip ot e sis Has i l S ta t istik
1 ICD (X1) Berpengaruh Terhadap KinerjaKeuangan (Y1) Dit e r i m a 1.990 > 1,960,008 < 0,05
2 ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan(Y2) Dit e r i m a 3.931 > 1,960,000 < 0,05
Table 11.Hasil Pengujian Hipotesis

Pembahasan

ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Kinerja Keuangan (Y1)

Pada Tabel diatas menunjukkan bahwa PBV (X1) Berpengaruh Terhadap Harga Saham (Y1). Dilihat dari tabel 4.6, menunjukkan hasil T Statistik sebesar 1.990 > 1,96 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,008 < 0,05. Hasil pengujian menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,008 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H1 yang menyatakan bahwa ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Kinerja Keuangan (Y1). Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan- aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar [27]. Dari pengertian diatas dapat dsimpulkan bahwa Kinerja keuangan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alatalat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak informasi Intellectual Capital Disclosure yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan maka semakin tinggi kinerja keuangan perusahaan. hal ini berdampak pada perhatian atau kepercayaan stakeholders kepada perusahaan dan dapat mempertahankan kesejahteraan atau kelangsungan hidup perusahaan, serta memberikan informasi yang bermanfaat kepada calon investor, kreditor maupun pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keangan perusahaan. Hasil ini diperkuat oleh penelitian terdahulu yang dilakukan [27] yang menyatakan Intellectual Capital Disclosure berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan.

ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan (Y2)

Untuk pengujian yang kedua menyatakan bahwa ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan (Y2). Dilihat dari tabel 4.6, menunjukkan hasil T Statistik sebesar 3.931 > 1,96 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,000 < 0,05. Hasil pengujian menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H2 yang menyatakan bahwa ICD (X1) Berpengaruh Terhadap Nilai Perusahaan (Y2). nilai Perusahaan adalah kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan Intelectual Capital Disclosure berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dan terbukti pasar memberikan nilai yang lebih tinggi terhadap pasar yang mampu mengelola intangible asset berupa intellectual capital yang terdapat dalam perusahaan. Intellectual capital berhasil menciptakan value added dan competitive advantages bagi perusahaan yang kemudian mempengaruhi penilaian pasar pada perusahaan.

Kesimpulan

Penelitian ini berusaha untuk menguji pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diproksikan dengan ROA dan nilai pasar yang diproksikan dengan PBV. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019. Sesuai dengan hasil pengujian yang dilakukan. Maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Intelectual Capital Disclosure berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA) dan terbukti dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dengan demikian menunjukkan dengan penggunaan seluruh asset yang dimiliki perusahaan termasuk intellectual capital, maka dapat menciptakan value added bagi perusahaan yang dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Maka, dapat disimpulkan hipotesis pertama yang menyatakan Intelectual capital disclosure berpengaruh positif terhadap ROA diterima.
  2. Intelectual Capital Disclosure berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini terbukti bahwa intellectual capital yang dikelola dengan efisien oleh perusahaan akan meningkatkan apresiasi pasar terhadap nilai perusahaan, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaannya. Serta pengelolaan dan penggunanaan intellectual capital secara efektif terbukti mampu meningkatkan nilai perusahaan. Oleh karena itu intellectual Capital (VAIC™) berpengaruh siginifikan terhadap Price to Book Value (PBV) perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2015-2019.

Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian dalam penelitian ini adalah

Populasi dan Sampel yang digunakan tidak mengelompokkan antara perusahaan yang tumbuh berkembang dan tidak tumbuh berkembang. Dan Periode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tahun 2015-2019 dengan jumlah sampel 14 perusahaan.

Saran

Adapun saran yang dapat di berikan oleh peneliti untuk penelitian dimasa mendatang adalah

  1. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan informasi tambahan dan bahan pertimbangan bagi manajemen bank agar dapat memperhatikan perlunya intellectual capital sebagai alat untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan dapat menjadi salah satu pembuktian empiris mengenai pentingnya intellectual capital
  2. Bagi investor dan calon investor agar lebih memperhatikan intellectual capitalperusahaan sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi.
  3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan populasi yang lebih besar dengan meneliti seluruh lembaga keuangan di Indonesia baik di sektor perbankan maupun non-bank agar dapat mengevaluasi kinerja intellectual capital disclosure secara menyeluruh. Selain itu, diharapkan dapat menambah variabel lain selain nilai perusahaan dan kinerja keuangan perbankan dengan rasio-rasio keuangan yang lainnya untuk memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan meningkatkan profit yang ditinjau dari operasionalnya, sehingga dapat diketahui bagaimana kinerja keuangan perbankan tersebut.

References

  1. B. Purnomosidhi, “Analisis Empiris terhadap Diterminan Praktik Pengungkapan Modal Intelektual pada Perusahaan Publik di BEJ,” Indones. J. Account. Res., vol. 9, no. 1, 2006.
  2. R. N. Aida and E. V. I. Rahmawati, “Pengaruh Modal Intelektual dan Pengungkapannya Terhadap Nilai Perusahaan : Efek Intervening Kinerja Perusahaan,” pp. 96–109, 2015.
  3. Y. Wirama and Badera, “‘Eksplorasi Kinerja Pasar Perusahaan: Kajian Berdasarkan Modal Intelektual (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia),’” 2011.
  4. N. Yudianti, “‘Pengungkapan Modal Intelektual untuk Mrningkstkan Kualitas Keterbukaan Pelaporan Keuangan’. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 2.No. 3. Pp. 271-283.,” 2000.
  5. D. C. N. A. Sudibya and M. M. D. Restuti, “PENGARUH MODAL INTELEKTUAL TERHADAP,” vol. 18, 2014.
  6. A. Widiyaningrum, “‘Modal Intelektual’. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. 1. pp. 16-25.,” 2004.
  7. Fitriyani and D. Y. Amalia, “‘Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Perusahaan Sektor Keuangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2013),’” 2018.
  8. A. Widiyaningsrum, “‘Modal intelektual’. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. I. Pp. 16-25,” 2004.
  9. M. R. Fitri, “PENGARUH MODAL INTELEKTUAL TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KINERJA KEUANGAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2012-2017,” 2018.
  10. M. Subramaniam and M. A. Youndt, “The influence of intellectual capital on the types of innovative capabilities. Academy of Management Journal, 48(3), 450–463,” 2005.
  11. S. Nimtrakoon, “The Relationship Between Intellectual Capital, Firms’ Market Value And Financial Performance: Empirical Evidence From The ASEAN,” J. Intellect. Cap., vol. 16, no. 3, pp. 587–618, 2015.
  12. T. D. Kuspita and A. Husaini, “Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.,” J. Adm. Bisnis (JAB). Vol. 56 No. 561 Maret 2018, 56(1), 164–170., 2018.
  13. K. Nahda and D. A. Harjito, “Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan dengan Corporate Governance sebagai Variabel Moderasi,” J. Siasat Bisnis, vol. 15, no. 1, pp. 1–12, 2011.
  14. N. Kamukama, “Intellectual capital: Company’s invisible source of competitive advantage,” Compet. Rev., vol. 23, no. 3, pp. 260–283, 2013.
  15. I. Ulum and N. Novianty, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Intellectual Capital Pada Official Website Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal Dan Prosiding SNA - Simposium Nasional Akuntansi, 15, 1–22.,” 2012.
  16. I. Ulum, A. Tenrisumpala, and E. D. Wahyuni, “Intellectual Capital Disclosure: Studi Komparasi Antara Universitas Di Indonesia Dan Malaysia. Akuntabilitas, 9(1), 13–26. https://doi.org/10.15408/akt.v9i1.3582,” 2016.
  17. Yosi Mela Pramelasari, “‘Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Nilai Pasar dan Kinerja Keuangan Perusahaan’ Universitas Dipenogoro : jurnal akuntansi,” 2010.
  18. C. Brătianu, “‘The intellectual capital of universities’, in Cohut, L.P. and Zmole, E. (Eds), The Annals of the University of Oradea, Oreda, Rumania, pp. 63-70.,” 2009.
  19. M. Matinfard and A. Khavari, “The Impact Of Intellectual Capital On Firm Performance: Evidence from Tehran Stock Exchange. Management Science Letters. 5, 1005–1016. https://doi: 10.5267/j.msl.2015.8.011,” 2015.
  20. Y. Ramírez-Córcoles, J. Peñalver, and Á. Ponce, “‘Intellectual capital in Spanish public universities: stakeholders’ information needs’, Journal of Intellectual Capital, Vol. 12 No. 3, pp. 356-376,” 2011.
  21. M. S. Kuncoro, “Manajemen Perbankan Teori dan Aplikasi.Yogyakarta: penerbit BPFE.,” 2002.
  22. S. Hermawan and Amirullah, Metode Penelitian. 2016.
  23. M. PH.D, Sholihin and D. Ratmono, Dwi, ANALISIS SEM-PLS DENGAN WARPPLS 3.0. 2013.
  24. Hermawan dan Amirullah, Metode Penelitian Bisnis, Cetakan pe. Malang: Media Nusa Creative, 2016.
  25. Ghozali, “Metode Penelitian,” J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2018.
  26. Hair, “Multivariate data Analysis,” Food Chemistry, vol. 232. pp. 135–144, 2014.
  27. S. Bozzolan, P. O’Regan, and F. Riccer, “Intellectual capital disclosure (ICD) A comparison of Italy and the UK. Journal of Human Resource Costing & Accounting. Vol 10 No 2, pp 92-113.,” 2006.