<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Analysis of Barge Mounted Power Plant Production Process at PT PAL Indonesia</article-title>
        <subtitle>Analisis Proses Produksi Barge Mounted Power Plant di PT. PAL Indonesia</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Wendyantoro</surname>
            <given-names>Ferdiansyah</given-names>
          </name>
          <email>ferdiansyahwendyantoro@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Wulandari</surname>
            <given-names>Indah Apriliana Sari</given-names>
          </name>
          <email>indahaprilianasari@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-10-05">
          <day>05</day>
          <month>10</month>
          <year>2026</year>
        </date>
        <date data-type="published" iso-8601-date="2026-10-05">
          <day>05</day>
          <month>10</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>05</day><month>10</month><year>2026</year><volume>25</volume></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-d3d8b11395c62f079f047b6ad0d6001d">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">PT. PAL Indonesia, merupakan bidang industri yang bergerak dalam produksi perkapalan seperti produksi kapal perang, kapal niaga, kapal tanker, kapal selam, produksi alutsista Indonesia khususnya maritim, Selain menyediakan layanan perbaikan dan pemeliharaan kapal, PT. PAL Indonesia juga bergerak di bidang non-maritim, dengan spesialisasi dalam industri minyak dan gas, industri berat, dan fasilitas pembangkit listrik. Produksi kapal merupakan proses manufaktur multi-tahap melibatkan beberapa tahapan dan memanfaatkan berbagai sumber. Fungsi yang kompleks dan standar konstruksinya tinggi [1]. Kualitas kapal sangat erat kaitannya dengan keselamatan dan manfaat ekonomi dari lalu lintas laut [2]. Dalam proses pembangunannya PT.PAL Indonesia sebagai galangan kapal milik BUMN yang memiliki pengalaman dalam pembangunan BMPP dipercaya untuk melaksanakan proyek EPCI Dual Engine Barge Mounted Power Plant 150MW tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-13">Dalam upaya mendukung peningkatan pasokan listrik di Indonesia, PT Indonesia Power (Pemilik) sebagai anak perusahaan PT. PLN yang menjalankan usaha pada di bidang pembangkit listrik di Indonesia bekerjasama dengan PT. PAL Indonesia berencana untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 60 MW sebanyak 2 unit untuk dioperasikan di Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan 1 unit 30 MW untuk dioperasikan di Sambelia (Nusa Tenggara Barat).Pembangkit listrik tersebut dirancang terapung di atas barge atau disebut Barge Mounted Power Plant (BMPP). BMPP didesain sebagai solusi fleksibel untuk ditempatkan di lokasi kepulauan yang jauh sesuai dengan kebutuhan pasokan listrik yang ditargetkan. Berbeda dengan pembangkit listrik pada umumnya yang memerlukan pekerjaan sipil yang besar di lokasi pembangkit, BMPP dapat dibangun sepenuhnya di galangan kapal untuk kemudian ditarik ke lokasi yang dipilih. Barge dilengkapi dengan transformer yang dapat terhubung ke jaringan yang ada.</p>
      <p id="_paragraph-14">Perkembangan dan intensifikasi persaingan dalam industri mendorong perusahaan untuk mempertahankan diri dengan cara meningkatkan produktivitas [3]. Pembangunan kapal melibatkan sejumlah proses dan metode yang berbeda dengan siklus yang panjang, memerlukan investasi dana yang besar dan keterpaduan yang tinggi, sehingga menghasilkan biaya konstruksi yang tinggi [4].</p>
      <p id="_paragraph-15">Artikel magang ini dilakukan untuk melakukan analisa pada alur proses produksi dan terjadi kendala apa saja pada proses produksi tahap awal di PT. PAL Indonesia. Pada proses produksi Project Barge Mounted Power Plant (BMPP) ini bersifat continuous dimana proses produksi terjadi secara terus menerus tanpa berhenti dengan karakteristik siklus yang panjang. Untuk menjalankan proses produksi yang produktif dan efisien, setiap sistem produksi biasanya merancang diagram alur kerja. Diagram ini secara sistematis menguraikan tugas-tugas kerja, sehingga memungkinkan untuk melihat secara komprehensif semua tahap yang terlibat dalam mengubah bahan mentah menjadi produk jadi [5].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-c7c6756420061ba4232d41c6fdf190a3">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-17">Metode yang digunakan dalam artikel magang ini adalah observasi karena praktek kerja lapang ini mengambil suatu perusahaan yang dijadikan studi kasus yaitu PT. PAL Indonesia. Data tersebut merupakan data primer sehingga memiliki data yang up to date. Pengumpulan data dilakukan melalui, dengan mengamati langsung proses produksi di lapangan, termasuk observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber primer dan data sekunder terdiri dari informasi, dokumen, dan catatan penting perusahaan, serta literatur terkait yang relevan [6].</p>
      <p id="_paragraph-18">Adapun tujuan dibuatnya artikel magang ini adalah melakukan analisa pada alur proses produksi dan mencari kendala apa saja pada proses produksi di PT. PAL Indonesia. Sehingga didapatkan gambaran jelas tahapan proses produksi kapal pembangkit listrik. Penyelesaian ini akan menggunakan bantuan software Microsoft Visio untuk membuat peta kerja.</p>
      <p id="_paragraph-19">
        <bold id="bold-6ba083deeae8574c954db1c14372c1d6">A.Proses Produksi Project Barge Mounted Power Plant (BMPP)</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-20">Produksi adalah semua yang mencakup kegiatan atau aktivitas yang menghasilkan produk atau layanan, serta aktivitas lain. yang membantu perusahaan menciptakan luaran lain, seperti barang atau jasa. Produksi juga mencakup proses mengubah masukan menjadi keluaran [6]. Proses produksi tidak hanya mengkonversi pemasukan menjadi keluaran, namun menemukan metode dalam membuat produksi yang sesuai dengan kapabilitas dan spesifikasi klien sambil mempertahankan biaya dan batasan manajemen lainnya [7].</p>
      <p id="_paragraph-21">Pengolahan bahan baku menjadi barang jadi, biasanya dilakukan di perusahaan industri atau pabrik dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, yaitu mesin, tenaga kerja, material, dan dana, dikenal sebagai proses produksi [8].</p>
      <p id="_paragraph-22">Ada sebagian jenis proses produksi, antara lain:</p>
      <p id="_paragraph-23">a.Jenis proses produksi ditentukan berdasarkan bentuknya, seperti produksi kimia, perubahan bentuk, perakitan, pengangkutan, dan pembuatan jasa administrasi.</p>
      <p id="_paragraph-24">b.Jenis alur proses produksi menunjukkan berbagai jenis proses, seperti proses produksi yang tidak berurutan.</p>
      <p id="_paragraph-25">c.Jenis proses produksi primer dan sekunder adalah dua jenis proses produksi yang dipertimbangkan berdasarkan prioritas proses produksi. Semua proses ini harus mengoptimalkan penggunaan sumber daya guna mencapai tujuan perusahaan secara efisien dan efektif [9].</p>
      <p id="_paragraph-26">
        <bold id="bold-6a14c3f65ab87a720c6ac85ddeafc0a5">B.Peta Kerja</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Peta kerja merupakan representasi grafis yang secara terperinci menggambarkan urutan pekerjaan. Peta kerja berguna untuk mengilustrasikan proses yang dilalui oleh suatu objek mulai dari tahap awal hingga penyelesaian produk [10]. Tujuannya adalah sebagai alat yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan-kegiatan dalam proses kerja secara jelas dan terstruktur [11].</p>
      <p id="_paragraph-28">a.Peta Aliran Proses</p>
      <p id="_paragraph-29">Peta aliran proses operasi atau operation process chart adalah diagram yang digunakan untuk menggambarkan secara visual atau suatu diagram yang menggambarkan sekuen kegiatan, waktu tunggu, fungsi penyimpanan, pemeriksaan, dan pengangkutan yang terjadi dalam setiap tahapan atau prosedur produksi [12]. Tujuan peta aliran proses operasi adalah untuk menggambarkan bagaimana perusahaan mengatur semua aliran proses produksi untuk memastikan tidak ada langkah yang terlewatkan.</p>
      <p id="_paragraph-30">b.Peta Diagram Alir</p>
      <p id="_paragraph-31">Diagram alir, juga dikenal sebagai flowchart merupakan tipe diagram yang menggambarkan proses, alur kerja, atau algoritma, serta menunjukkan langkah-langkahnya melalui simbol - simbol grafis [13]. Pembuatan</p>
      <p id="_paragraph-32">diagram alir dilakukan berdasarkan pada evaluasi terhadap peta aliran proses operasi, yang menggambarkan perjalanan material dalam produksi Barge dari persiapan alat dan bahan hingga penyimpanan produk jadi. Diagram alir digunakan sebagai alat analisis tambahan untuk memperjelas pola aliran proses produksi.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f376e4fb89c355866038f32d5311bac4">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-34">
        <bold id="bold-ed3de9eb0d48902fad67a52977da0d17">A. Penerapan Peta Kerja</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-35">Penerapan menggambarkan peta kerja pada proses produksi dalam project BMPP di PT. PAL Indonesia ini menggunakan dua macam peta kerja keseluruhan, yaitu dengan memanfaatkan peta aliran proses operasi dan diagram alir. Peta kerja di gambarkan sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-36">Tabel 3.1 Peta Aliran Proses Produksi Barge Mounted Power Plant (BMPP)</p>
      <fig id="figure-panel-1755317e2860108f87531dd588c51bcf">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-21cd4339068f683a8ce9c86c173d41e5"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-9666741930721ea54230ad79be1d878c" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="1608-1.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-37">Berikut merupakan peta diagram alir pada proses produksi Project BMPP yang ada di PT. PAL Indonesia dapat dilihat dibawah ini.</p>
      <p id="_paragraph-38">Tabel 3.2 Diagram Alir Produksi Barge Mounted Power Plant (BMPP)</p>
      <fig id="figure-panel-251a3fb058d364896a24a885daddfcb2">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-f0163b225138aa3416f903ff0b417260"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-ce2b1ad73f9d56aa54c2e3d5b601bcf6" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="1608-2.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-61">
        <bold id="bold-9e89f8240622bfc7e1d3ba59eb3913b3">B.Penjabaran Proses Produksi Barge Mounted Power Plant</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-62">Tujuan proses produksi adalah untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan rencana dalam hal jumlah, kualitas, harga, dan waktu [14]. Proses produksi sangat penting bagi perusahaan, dimana dalam proses itu akan menghasilkan suatu produk yang akan dijual, jika tidak melalui proses itu maka produk tidak akan dihasilkan dan tidak akan mendapatkan tingkat pengembalian keuntungan dari proses tersebut [15]. Berikut merupakan penjabaran mengenai alur proses produksi dalam Project Barge Mounted Power Plant (BMPP).</p>
      <p id="_paragraph-63">a.Proses Fabrikasi</p>
      <p id="_paragraph-64">Gambar 3.1 Identifikasi Material di Bengkel SSH PT PAL Indonesia.</p>
      <p id="_paragraph-65">Langkah Pertama Identifikasi material adalah proses fabrikasi di mana pelat yang akan digunakan dalam proses produksi untuk membentuk badan kapal diperiksa untuk kelayakan. Kelayakan ini dapat dilihat melalui sertifikasi (ST, grade, kimiawi), dimensi dan ukuran yang sesuai, dan tidak ada kecacatan.</p>
      <p id="_paragraph-66">b.Proses Penandaan (Marking)</p>
      <p id="_paragraph-67">Gambar 3.2 Proses Marking</p>
      <p id="_paragraph-68">Langkah kedua dari proses fabrikasi adalah penandaan, juga dikenal sebagai mould lofting, di mana komponen dicatat sesuai dengan informasi yang diberikan oleh bengkel mould loft sebelum proses pemotongan komponen, seperti pelat baja yang diberi nomor atau identifikasi. Untuk memastikan bahwa material yang diperlukan dapat dilacak, langkah ini juga mencakup membuat daftar pemakaian dan meletakkan komponen di kapal (cutting plan).</p>
      <p id="_paragraph-69">c.Proses Cutting</p>
      <p id="_paragraph-70">Gambar 3.3 Mesin Cutting Bengkel Fabrikasi PT PAL Indonesia</p>
      <p id="_paragraph-71">Langkah ketiga, Setelah proses penandaan, langkah selanjutnya adalah pemotongan. Di sini, pelat dipotong sesuai dengan garis penandaan atau pola marking dengan mempertimbangkan toleransi yang dipersyaratkan dalam rencana pemotongan pelat. Alat pemotong yang digunakan dapat berupa pemotong plasma atau CNC, tergantung pada sudut, ketebalan, dan margin pelat.</p>
      <p id="_paragraph-72">d.Proses Sub Assembly</p>
      <p id="_paragraph-73">Gambar 3.4 Bengkel Sub Assembly</p>
      <p id="_paragraph-74">Langkah Kelima, merupakan tahap sub assembly pengelasan merupakan pekerjaan yang dominan karena dalam proses ini adalah proses menyambung komponen komponen panel dengan proses pengelasan. Menggabungkan beberapa komponen kecil menjadi sebuah panel atau bagian untuk proses assembly disebut sub assembly. Komponen-komponen kecil ini dapat berupa pelat potongan lurus atau tidak lurus, pelat yang telah dilengkungkan, dan lainnya, seperti bagian pipa. Contohnya menggabungkan pelat dengan pelat untuk membuat frame.</p>
      <p id="_paragraph-75">e.Proses Assembly</p>
      <p id="_paragraph-76">Gambar 3.5 Fasilitas Crane di Bengkel Assembly</p>
      <p id="_paragraph-77">Langkah Ketujuh yakni proses Assembly merupakan tahapan setelah proses fabrikasi. Yaitu, penggabungan dan perakitan menjadi satu kesatuan atau satu unit yang lebih besar (Block). Tahapan ini melibatkan pemasangan struktur utama, lambung, dek, peralatan, sistem-sistem penting seperti sistem listrik, sistem pipa, sistem HVAC, dan komponen lainnya sesuai dengan desain kapal yang telah ditetapkan. sehingga menjadi blok yang dimana mempunyai ukuran sesuai dengan kapasitas alat angkut serta fasilitas yang ada digalangan tersebut</p>
      <p id="_paragraph-78">f.Proses Blasting and Painting</p>
      <p id="_paragraph-79">Gambar 3. 6 Kegiatan Block Blasting 105 P BMPP</p>
      <p id="_paragraph-80">Gambar 3.7 Mesin Pengecatan Primer Bengkel SSH</p>
      <p id="_paragraph-81">Langkah Kedelapan adalah Sebelum pengecatan, permukaan lambung dan geladak terbuka harus di shotblast atau dibersihkan. Pelat yang digunakan untuk fabrikasi digunakan di Sunblasting dengan standar 2,5 SA dan dicat primer dengan alat spray dengan ketebalan 25 mikron.</p>
      <p id="_paragraph-82">g.Proses Grand Assy</p>
      <p id="_paragraph-83">Gambar 3.8 Kegiatan Grand Assembly Block 1404 BMPP</p>
      <p id="_paragraph-84">Langkah Kesembilan, setelah proses blasting dan pengecatan, langkah selanjutnya adalah proses Grand Assembly. Pada tahap ini, setelah proses joint antar modul atau setelah proses erection, blok atau modul diangkat menggunakan goliath crane dengan kapasitas 300 ton. Penanganan ini dilakukan dari lapangan grand assembly dan dilanjutkan dengan proses joint erection di graving dock.</p>
      <p id="_paragraph-85">h.Proses Pre-Erection</p>
      <p id="_paragraph-86">Gambar 3.9 Proses Loading Block 206 C BMPP</p>
      <p id="_paragraph-87">Langkah kesebelas sebelum Barge dipindahkan kedalam dock dilanjutkan proses Pre-Erection yakni berbagai bagian dari kapal yang telah diproduksi atau difabrikasi secara terpisah dipersiapkan untuk proses perakitan utama. sebelum dilanjutkan ke proses Erection.</p>
      <p id="_paragraph-88">i.Proses Erection</p>
      <p id="_paragraph-89">Gambar 3.10 Loading Block for Erection 206 S BMPP</p>
      <p id="_paragraph-90">Langkah keduabelas. Proses Erection merupakan tahapan terakhir dalam proses assembly pada pembangunan kapal di mana blok-blok konstruksi yang telah terakit diposisikan secara tegak dan digabungkan menggunakan crane. Proses ini dilakukan di building berth atau kolam pembangunan kapal, dimulai dari double bottom hingga bagian superstructure kapal. Erection merupakan tahap penyelesaian yang menggabungkan blok-blok yang telah diproduksi sebelumnya, menjadikan badan kapal menjadi satu kesatuan yang utuh.</p>
      <p id="_paragraph-91">j.Proses Inspection Test</p>
      <p id="_paragraph-92">Gambar 3.11 Inspection Marine System</p>
      <p id="_paragraph-93">Langkah ketigabelas adalah biro qualiti assurance, melakukan pemeriksaan pada tahap akhir produksi barge. Material yang akan dipasang di kapal diidentifikasi melalui sertifikasi pabrik, sertifikat material (termasuk profil, bahan, pelat, peralatan, dan perlengkapan), dan sertifikasi bahan.</p>
      <p id="_paragraph-94">C.Kendala Pada Proses Produksi Barge Mounted Power Plant</p>
      <p id="_paragraph-95">Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terdapat beberapa kendala pada proses produksi khususnya dalam</p>
      <p id="_paragraph-96">Project Barge Mounted Power Plant adalah sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-97">1.Pada saat proses produksi terdapat aliran listrik yang tidak stabil yang menyebabkan pemadaman listrik di area kantor yang menjadi penghabatan pada proses produksi.</p>
      <p id="_paragraph-98">2.Adanya peraturan larangan dan pembatasaan import bahan baku untuk material baja dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang menyebabkan delivery time material tidak sesuai perencanaan produksi</p>
      <p id="_paragraph-99">3.Fasilitas di galangan kapal yang kurang memenuhi seperti keterbatas dock kapal, tata letak produksi yang cukup berjauhan dan jumlah tenaga kerja yang kurang memadai menyebabkan produksi membutuhkan waktu.</p>
      <p id="_paragraph-100">4.Reliabilitas alat bantu kerja seperti crane, trailer, forklift yang disebabkan karena kurangnya maintenance</p>
      <p id="_paragraph-101">pada masin – mesin tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-102">D.Evaluasi Kegiatan</p>
      <p id="_paragraph-103">Dalam Upaya untuk mengatasi kendala pada proses produksi khususnya dalam Project Barge Mounted Power Plant penentuan urutan kerja pada proses produksi akan mendatangkan manfaat sebagai berikut [16]:</p>
      <p id="_paragraph-104">1.Tenaga manusia, mesin dan peralatannya dapat dimanfaatkan seefektif mungkin.</p>
      <p id="_paragraph-105">2.Keterlambatan dan kemacetan dalam proses produksi dapat diminimalisir.</p>
      <p id="_paragraph-106">3.Pemanfaatan produksi dapat dilakukan dengan baik dengan membandingkan pelaksanaan produksi dengan rencana urutan yang telah disusun.</p>
      <p id="_paragraph-107">4.Total waktu dan keseluruhan proses dapat dikurangi seminimal mungkin.</p>
      <p id="_paragraph-108">5.Dapat menyeimbangkan aktivitas dengan baik</p>
    </sec>
    <sec id="heading-5d7d9aa143cf53c95be5009d3ea6091b">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-110">Seperti yang ditunjukkan oleh pembahasan di atas tentang peta aliran proses produksi yang ada di PT. PAL Indonesia. Penerapan peta kerja pada proses produksi kerja ini menggunakan peta aliran proses operasi, dan juga diagram alir. Melalui analisis proses produksi dan penerapan peta kerja, PT. PAL Indonesia dapat meningkatkan efektivitas produksi dan memastikan pengiriman proyek sesuai jadwal dan standar kualitas yang ditetapkan.</p>
      <p id="_paragraph-111">Analisis terhadap masalah di PT. PAL Indonesia mengindikasikan bahwa ada tantangan yang berasal dari beberapa faktor yakni internal dan eksternal. Faktor internal, terjadi gangguan aliran listrik menyebabkan pemadaman di area kantor menghambat proses produksi, tata letak produksi PT. PAL Indonesia teratur dan baik. Namun jarak yang cukup berjauhan menyebabkan produksi membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama, oleh karena itu memerlukan waktu dalam perpindahan atau transportasi dari tiap divisi ke divisi yang lain. sementara kurangnya perawatan pada mesin-mesin produksi menyebabkan keterlambatan dalam perencanaan yang telah disusun. Faktor eksternal, pembatasan impor bahan baku oleh Kementerian Perindustrian menyebabkan penundaan dalam pengiriman material yang tidak sesuai dengan jadwal produksi. Kurangnya komunikasi antara divisi juga menjadi penyebab utama terjadinya masalah ini.</p>
      <p id="_paragraph-112">Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan yang terfokus, termasuk investasi dalam infrastruktur dan perawatan fasilitas, penanganan gangguan listrik, dan peningkatan komunikasi antar divisi. Selain itu, upaya juga harus dilakukan untuk beradaptasi dengan peraturan dan kebijakan yang ada guna meminimalkan dampak terhadap waktu pengiriman bahan baku dan kelancaran proses produksi secara keseluruhan.</p>
      <p id="_paragraph-113">
        <bold id="bold-d60c171686168ba79df96f1501196a00">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-114">Puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat serta karunia-Nya. Sehingga dapat menyelesaikan artikel magang di PT. PAL Indonesia ini dengan baik. Kami sampaikan rasa hormat serta ucapan terima kasih kepada PT. PAL Indonesia yang telah memberikan kesempatan untuk dapat melaksanakan Praktek Kerja Lapangan/Magang ini. Terima kasih kepada bapak Mochamad Samsul Huda sebagai Head Project Control sekaligus pembimbing magang ini. Terima kasih kepada Ibu Indah Apriliana Sari Wulandari ST., MT. Selaku Dosen Pembimbing yang juga banyak memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan artikel ini. Terima kasih kepada seluruh pihak PT. PAL Indonesia yang telah membantu dan memberi semangat dalam pengerjaan laporan magang ini. Sangat mungkin bahwa artikel magang ini masih memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Kritik dan saran akan dengan senang hati diterima dan diharapkan dapat membantu menyempurnakan laporan. Semoga pembaca mendapatkan lebih banyak pengetahuan dari Laporan Magang PT. PAL Indonesia.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
