<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Ninety Ampere Welding Produced Superior Dissimilar Metal Joint Performance</article-title>
        <subtitle>Pengelasan 90 Ampere Menghasilkan Kinerja Sambungan Logam Berbeda yang Unggul</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Septian</surname>
            <given-names>Dhimas Wahyu Dwi</given-names>
          </name>
          <email>mulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <given-names>Mulyadi</given-names>
          </name>
          <email>mulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-05-03">
          <day>03</day>
          <month>05</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>02</day><month>05</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  <body>
    <p>
      <bold>
        <italic>The Effect of Current Strength on Dissimilar Metal Welding (DMW) between Carbon Steel and Stainless Steel on Tensile Strength and Macrostructure</italic>
      </bold>
    </p>
    <p>
      <bold>[</bold>
      <bold>Pengaruh Kuat Arus</bold>
      <bold> pada </bold>
      <bold>
        <italic>Dissimilar Metal</italic>
      </bold>
      <bold>
        <italic> Welding</italic>
      </bold>
      <bold>(DMW)</bold>
      <bold> antara Baja Karbon dan </bold>
      <bold>
        <italic>Stainless Steel</italic>
      </bold>
      <bold> Terhada</bold>
      <bold>p Kekuatan Tarik dan Struktur Ma</bold>
      <bold>kro</bold>
      <bold>]</bold>
    </p>
    <p>Dhimas Wahyu Dwi Septian<sup>1)</sup>, Mulyadi<sup>2)</sup></p>
    <p><sup>1</sup><sup>)</sup><sup>,2</sup><sup>)</sup>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesiadd</p>
    <p>*Email Penulis Korespondensi: mulyadi@umsida.ac.id</p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Abstract</italic>
      </bold>
      <italic>. </italic>
      <italic>Welding is a common material joining process used in various industries, such as automotive, construction, and shipping. In some applications, the combination of two different metals (dissimilar metals), such as carbon steel and stainless steel, is required to optimize strength, corrosion resistance, and cost efficiency. Carbon steel is known to be strong and economical, while stainless steel is resistant to corrosion. This study uses the Dissimilar Metal Welding (DMW) welding method with stainless steel electrodes. After welding, the specimens were cut using a CNC machine and tested through Tensile and macrostructure tests. The tensile test results showed the highest stress of 369.342 Kgf/mm² on the specimen with a current of 90A and water cooling, while the lowest stress was 116.036 Kgf/mm² at a current of 70A with air cooling. The highest strain value of 0.039 occurred at 90A current with water cooling, the lowest stress value of 0.017 in the 80A cu</italic>
      <italic>rrent strength specimen with </italic>
      <italic>water</italic>
      <italic> cooling and the highest elastic modulus of 11,610 Kgf/mm² at 90A current with air cooling, the lowest 6,107 Kgf/mm</italic>
      <italic>
        <sup>2</sup>
      </italic>
      <italic> in the 70A current strength specimen with air cooling. Macro testing showed that the best specimen was with 90A parameters and air cooling because it was free of defects, while the worst specimen was with 70A parameters and water cooling which had defects such as arc strike, underfill, porosity, and slag inclusion due to the current being too low</italic>
      <italic>. </italic>
    </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Keywords - </italic>
      </bold>
      <italic>Dissimillar Metal Welding (DMW), Carbon Steel, Stainless Steel.</italic>
    </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Abstrak</italic>
      </bold>
      <italic>. </italic>
      <italic>Pengelasan merupakan proses penyambungan material yang umum digunakan di berbagai industri, seperti otomotif, konstruksi, dan perkapalan. Dalam beberapa aplikasi, penggabungan dua logam berbeda (dissimilar metal), seperti baja karbon dan stainless steel, diperlukan untuk mengoptimalkan kekuatan, ketahanan korosi, serta efisiensi biaya. Baja karbon dikenal kuat dan ekonomis, sedangkan stainless steel tahan terhadap korosi. Penelitian ini menggunakan metode pengelasan Dissimilar Metal Welding (DMW) dengan elektroda stainless steel. Setelah pengelasan, spesimen dipotong menggunakan mesin CNC dan diuji melalui uji Tarik dan makrostruktur. Hasil pengujian tarik menunjukkan tegangan tertinggi sebesar 369,342 Kgf/mm² pada spesimen dengan arus 90A dan pendingin air, sedangkan tegangan terendah 116,036 Kgf/mm² pada arus 70A dengan pendingin udara. Nilai regangan tertinggi 0,039 terjadi pada arus 90A dengan pendingin air,</italic>
      <italic> nilai tegangan terendah 0,017 pada spesimen kuat arus 80A dengan pendingin udara</italic>
      <italic> dan modulus elastisitas tertinggi 11.610 Kgf/mm² pada</italic>
      <italic> arus 90A dengan pendingin air</italic>
      <italic>, </italic>
      <italic>terendah 6.107</italic>
      <italic> Kgf/mm</italic>
      <italic>
        <sup>2</sup>
      </italic>
      <italic> pada spesimen kuat arus 70A dengan pendingin udara</italic>
      <italic> Pengujian makro menunjukkan bahwa spesimen terbaik adalah dengan parameter 90A dan pendingin udara karena bebas cacat, sedangkan spesimen terburuk adalah dengan parameter 70A dan pendingin air yang memiliki cacat seperti arc strike, underfill, porositas, dan slag inclusion akibat arus terlalu rendah.</italic>
    </p>
    <p><bold><italic>Kata Kunci – </italic></bold><italic>Dissimillar Metal Welding</italic> (DMW), Baja Karbon, <italic>Stainless Steel</italic>.</p>
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan</title>
      <p>Pengelasan merupakan salah satu proses penyambungan material yang sering digunakan dalam berbagai industri, seperti otomotif, konstruksi, dan perkapalan, karena kemampuannya untuk menggabungkan logam secara permanen [1]. Dalam aplikasi tertentu, seringkali diperlukan penggabungan dua material yang berbeda (<italic>dissimilar metal)</italic> guna mengoptimalkan kekuatan, ketahanan terhadap korosi, serta biaya produksi [2]. <italic>Dissimilar Metal Welding</italic> (DMW) adalah pengelasan dengan dua logam dasar yang berbeda<italic>. dissimilar metal</italic> sering digunakan untuk menyambung material baja tahan karat dengan material yang lain. Hal tersebut juga sering digunakan karena perubahan sifat mekanik atau performa yang dibutuhkan. Salah satu kombinasi dissimilar metal yang banyak digunakan adalah baja karbon dan stainless steel. Baja karbon memiliki kekuatan yang baik serta biaya yang lebih rendah, sedangkan stainless steel memiliki ketahanan yang unggul terhadap korosi, sehingga penggabungan keduanya menawarkan karakteristik yang saling melengkapi untuk aplikasi di lingkungan yang ekstrem [3]. </p>
      <p>Namun, pengelasan <italic>dissimilar metal</italic> seperti baja karbon dan stainless steel memiliki tantangan tersendiri [4]. Perbedaan komposisi kimia, titik leleh, serta sifat fisik kedua logam tersebut dapat menimbulkan masalah dalam proses pengelasan, seperti ketidak sempurnaan pada sambungan dan munculnya retakan akibat tegangan termal [5]. Penggunaan elektroda stainless steel dalam pengelasan dissimilar metal ini diharapkan dapat mengurangi masalah yang timbul dan memperbaiki kualitas sambungan dengan memperbaiki distribusi elemen paduan pada area las [6]. </p>
      <p>Penelitian ini akan berfokus pada analisis kekuatan sambungan pengelasan antara baja karbon dan stainless steel menggunakan elektroda stainless steel [7]. Parameter seperti kekuatan tarik dan struktur makro pada sambungan pengelasan akan dianalisis untuk mengevaluasi kualitas pengelasan [8]. Dengan melakukan penelitian ini, diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh penggunaan elektroda stainless steel dalam pengelasan dissimilar metal antara baja karbon dan stainless steel, serta faktor-faktor yang memengaruhi kekuatan dan kualitas sambungan yang dihasilkan [9].</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode</title>
      <p>Penelitian ini akan dilakukan dengan tahapan eksperimen untuk mengetahui kekuatan dan kualitas sambungan pengelasan dissimilar metal antara baja karbon dan stainless steel menggunakan elektroda stainless steel. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dimulai dengan pemilihan material baja karbon dan stainless steel yang cocok untuk pengelasan menggunakan teknik <italic>Dissimilar Metal Welding (DMW)</italic> [10]. Parameter proses yang signifikan seperti arus pengelasan dan jenis pendingin dipelajari dengan seksama dalam variasi yang terkontrol. Setelah pengelasan selesai, dilakukan proses pemotongan menjadi bentuk spesimen dengan mesin CNC dilakukan pengukuran kekerasan material aluminium dengan uji tarik dan uji makro, data yang dihasilkan kemudian dianalisis statistik untuk mengidentifikasi hubungan parameter proses pengelasan <italic>Dissimilar Metal </italic>dengan karakteristik mekanis sambungan pengelasan baja karbon dan stainless steel [11]. Metode ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang optimalisasi proses pengelasan <italic>Dissimilar Metal</italic> untuk meningkatkan kualitas sambungan baja dalam berbagai aplikasi industri. Langkah-langkah secara detail proses penelitiannya adalah sebagai berikut:</p>
      <p>Metodologi yang digunakan dalam proses penyusunan penelitian ini digambarkan secara sistematis dalam diagram alir (<italic>flowchart</italic>). Berikut merupakan diagram alir penelitian yang dapat dilihat pada <bold>G</bold><bold>ambar 1</bold><bold>.</bold> </p>
      <fig id="fig1">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image1.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>1.</bold> Diagram Alir Penelitian</p>
      <p>Studi literatur ini di lakukan sebagai tahap awal dan juga sebagai landasan materi dengan mempelajari beberapa refrensi dari jurnal, artikel, buku, tugas akhir yang berkaitan, pengamatan scara langsung di lapangan, juga dari media internet, dan diskusi dengan dosen pembimbing yang ada kaitannya dengan besar perencanaan tinjauan parameter pengelasanDMW (<italic>Dissimilar Metal Welding</italic>) Terhadap hasil pengujian kekuatan tarik dan makrostruktur [12].</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Diagram Alir Penelitian</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Studi Literatur</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Persiapan Material dan Peralatan</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Persiapan alat dan bahan yang perludilakukan untuk melakukan pengelasan DMW (<italic>Dissimilar Metal Welding</italic>) juga pengujian kekuatan tarik dan makrostruktur spesimen yaitu sebagai berikut.</p>
      <p>Material yang digunakan untuk proses pengelasan <italic>Dissimilar Metal</italic> digunakan yaitu baja karbon ASTM A36 dan stainless steel 316. Dimensi plat yang digunakan yaitu 120 x 50 x 5 mm.</p>
      <fig id="fig2">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image2.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig3">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image3.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig4">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image4.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 2.</bold> Material Property <italic>Dissimilar Metal Welding</italic></p>
      <p>Mesin las SMAW (<italic>Shielded Metal Arc Welding</italic>) pada penelitian ini digunakan untuk proses pengelasan dengan menyambungkan antar plat baja ASTM A36 dengan Plat Stainless Steel 316 menggunakan elektroda stainless steel diameter 2,5 mm, sehingga membentuk spesimen dengan menggunakan parameter yang telah ditentukan [13]. Parameter yang dirubah dari mesin las yaitu kuat arusnya yaitu 70 A,80 A,900 A.</p>
      <fig id="fig5">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image5.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 3.</bold> Mesin las SMAW (<italic>Shielded Metal Arc Welding</italic>)</p>
      <p>Elektroda stainless steel adalah kawat las yang digunakan untuk mengelas baja tahan karat. Elektroda ini dirancang khusus untuk jenis baja tahan karat tertentu. Pada penelitian ini elektroda digunakan sebagai penyambung antara plat baja ASTM A36 dengan Plat Stainless Steel 316 [14]. Elektroda stainless steel yang digunakan diameter 2,5 mm.</p>
      <fig id="fig6">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image6.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>4</bold><bold>.</bold> Elektroda Stainles Steel</p>
      <p>Mesin CNC <italic>milling</italic> yang dipakai penelitian ini memiliki 3 axis yang berfungsi untuk melakukan pemotongan spesimen penggunaan mesin cnc milling harus memiliki program yang telah dibuat sebelumnya di aplikasi <italic>Solidwork.</italic></p>
      <fig id="fig7">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image7.jpeg"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 5.</bold> Mesin CNC Milling</p>
      <p>Uji tarik pengelasan adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tarik dan letak putusnya sambungan las. Uji tarik merupakan salah satu pengujian yang paling sering dilakukan untuk mengetahui sifat suatu material. Prinsip kerja uji tarik adalah memberikan beban pada spesimen secara bertahap hingga terjadi kegagalan atau kerusakan. Selama pengujian, dilakukan pengamatan terhadap perpanjangan yang dialami benda uji dan dihasilkan kurva tegangan-regangan [15].</p>
      <fig id="fig8">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image8.png"/>
      </fig>
      <p><bold>G</bold><bold>ambar 6</bold><bold>.</bold> Alat Uji Kekuatan Tarik</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Plat Baja ASTM A36 dan Plat Stainless Steel 316</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mesin Las SMAW (<italic>Shielded Metal Arc Welding</italic>)</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Elektroda Stainless Steel</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mesin CNC Milling</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Alat Uji Kekuatan Tarik</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Alat Uji Metalografi</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Pengujian metalografi harus membutuhkan alat khusus untuk mendapatkan hasil yang maksimal pada makrostruktur yaitu menggunakan mikroskop yang mampu melakukan pembesaran hingga 50x [5]. Alat dibawah ini bermerk OLYMPUS BX53M yang digunakan untuk melihat stuktur makro pada plat baja ASTM A36.</p>
      <fig id="fig9">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image9.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 7</bold><bold>.</bold> Mikroskop Uji Metalografi</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Proses Pengelasan </bold>
            <bold>
              <italic>Dissimilar Metal Welding</italic>
            </bold>
            <bold> (DMW)</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Spesimen plat baja ASTM A36 akan dilas dengan posisi 1G dengan beberapa parameter yang akan menjadi acuan variasi yaitu variasi kuat arus pengelasan dan variasi pendinginan setelah pengelasan.</p>
      <p><bold>Tabel 1.</bold> Parameter Proses pengelasan <italic>Dissimilar Metal Welding</italic>.</p>
      <table-wrap id="tbl1">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <bold>No, spc</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Kuat Arus (A)</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Pendingin</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Uji Kekuatan Tarik</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Uji Makrostruktur</bold>
            </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1</td>
            <td>70</td>
            <td>air</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2</td>
            <td>70</td>
            <td>Udara</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3</td>
            <td>70</td>
            <td>Oli</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>4</td>
            <td>80</td>
            <td>Air</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>5</td>
            <td>80</td>
            <td>Udara</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>6</td>
            <td>80</td>
            <td>Oli</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>7</td>
            <td>90</td>
            <td>Air</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>8</td>
            <td>90</td>
            <td>Udara</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>9</td>
            <td>90</td>
            <td>Oli</td>
            <td>-</td>
            <td>-</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Pada penelitian ini proses Pengelasan <italic>Dissimilar Metal Welding </italic>(DMW) dilakukan sebanyak 9 kali dengan perbedaan parameter yang telah ditentukan. Berikut adalah langkah –langkah proses Pengelasan <italic>Dissimilar Metal Welding </italic>(DMW)  :</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Siapkan mesin las SMAW, elektroda, meja untuk pengelasan plat baja ASTM A36 dan plat stainless steel yang akan digunakan.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Jig atau klem plat aluminium yang telah disiapkan untuk mencegah terjadiya proses pemuaian pada plat.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Atur Parameter mesin las SMAW sesuai dengan parameter yang telah ditentukan.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Lakukan proses pengelasan pada plat aluminium sebanyak 9 kali.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Pada setiap hasil pengelasan lakukan pendinginan pada hasil pengelasan sesuai dengan parameter pendingin yang ditentukan. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Kemudian lakukan pembersihan pada hasil pengelasan di area pengelasan dan memberikan nomer specimen sesuai dengan nomer parameter.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Apabila semua proses pengelasan sudah selesai lakukan pembersihan lingkungan sekitar pengelasan dan pembersihan pada alat dan bahan pengelasan.</p>
        </list-item>
      </list>
      <fig id="fig10">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image10.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar</bold><bold> 8</bold><bold>.</bold> Proses Pengelasan SMAW </p>
      <p>Uji tarik pengelasan adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tarik dan letak putusnya sambungan las. Uji tarik merupakan salah satu pengujian yang paling sering dilakukan untuk mengetahui sifat suatu material. Prinsip kerja uji tarik adalah memberikan beban pada spesimen secara bertahap hingga terjadi kegagalan atau kerusakan. Selama pengujian, dilakukan pengamatan terhadap perpanjangan yang dialami benda uji dan dihasilkan kurva tegangan-regangan [11]. Pada pengujian ini menggunakan standar ASTM E8.</p>
      <fig id="fig11">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image11.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>9</bold><bold>.</bold> Bentuk Spesimen Uji Tarik</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Pengujian Tarik </bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Pengujian Makrostruktur</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Pada Pengujian makrostruktur ini dilakukan pada spesimen dari daerah las dan daerah terpengaruh panas (<italic>heat-affected zone</italic>). Proses pengujian makrostruktur ini dilakukan dengan cara membersihkan spesimen pengelasan kemudian dilakukan pengambilan gambar spesimen dengan alat uji metalografi lalu dilakukan visualisasi cacat pengelasan pada spesimen. Analisis ini bertujuan untuk memahami pengaruh elektroda stainless steel terhadap cacat pengelasan pada sambungan <italic>dissimilar metal</italic><italic> welding</italic> [12].</p>
      <p><bold>Gambar 10</bold><bold>.</bold> Bentuk Spesimen Uji Makrostruktur</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Uji Kekuatan Tarik </bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui kekuatan tarik dan letak putusnya sambungan las . Uji tarik merupakan salah satu pengujian yang paling sering dilakukan untuk mengetahui sifat suatu material menggunakan standar ASTM E8. Prinsip kerja uji tarik adalah memberikan beban pada spesimen secara bertahap hingga terjadi kegagalan atau kerusakan. Pengujian tarik dilakukan di Labulatorium Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang. Berikut merupakan hasil pengujian kekuatann tarik. </p>
      <fig id="fig12">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image13.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 11</bold><bold>.</bold> Spesimen Pengujian Tarik</p>
      <p>Pada <bold>Gambar 11</bold><bold>.</bold> Menunjukkan proses pengujian tarik spesimen pengelasan disimilar metal dimana kedua sisi spesimen dicapit dan diberi beban tarik sampai patah yang seragam kearah vertikal. Dari hasil pengujian tarik yang didapat dilakukan pengolahan data untuk mengetahui regangan, tegangan, modulus elastisitas yang dapat dilihat pada <bold>Tabel 2.</bold></p>
      <p><bold>Tabel 2.</bold> Data Uji Tarik</p>
      <table-wrap id="tbl2">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <bold>No. Spc</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Kuat Arus (A)</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Pendingin</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Perpanjangan (mm)</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Tegangan (Kgf/mm</bold>
              <bold>
                <sup>2</sup>
              </bold>
              <bold>)</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Regangan </bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Modulus Elastisitas (Kgf</bold>
              <bold>/ mm</bold>
              <bold>
                <sup>2</sup>
              </bold>
              <bold>)</bold>
            </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1.</td>
            <td>70</td>
            <td>air</td>
            <td>5</td>
            <td>198,156</td>
            <td>0,023</td>
            <td>8.615</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2.</td>
            <td>70</td>
            <td>Udara</td>
            <td>5</td>
            <td>116,036</td>
            <td>0,019</td>
            <td>6.107</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3.</td>
            <td>70</td>
            <td>Oli</td>
            <td>5</td>
            <td>319,683</td>
            <td>0,031</td>
            <td>10.312</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>4.</td>
            <td>80</td>
            <td>Air</td>
            <td>5</td>
            <td>130,794</td>
            <td>0,017</td>
            <td>7.693</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>5.</td>
            <td>80</td>
            <td>Udara</td>
            <td>5</td>
            <td>290,775</td>
            <td>0,026</td>
            <td>11.185</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>6.</td>
            <td>80</td>
            <td>Oli</td>
            <td>5</td>
            <td>346,968</td>
            <td>0,032</td>
            <td>10.842</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>7.</td>
            <td>90</td>
            <td>Air</td>
            <td>5</td>
            <td>369,342</td>
            <td>0,036</td>
            <td>10.259</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>8.</td>
            <td>90</td>
            <td>Udara</td>
            <td>5</td>
            <td>290,269</td>
            <td>0,025</td>
            <td>11.610</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>9.</td>
            <td>90</td>
            <td>Oli</td>
            <td>5</td>
            <td>389,060</td>
            <td>0,039</td>
            <td>9.975</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Nilai Tegangan, Regangan dan Modulus Elastisitas dapat dicari dengan persamaan berikut :</p>
      <p><bold>σ = </bold><bold> ………. </bold>(1)</p>
      <p>Dimana :</p>
      <p>σ : Tegangan (Kgf/mm<sup>2</sup>)</p>
      <p>F : Gaya (Kgf)</p>
      <p>A : Luas Penampang (mm<sup>2</sup>)</p>
      <p><bold>ε = </bold><bold> ………. </bold>(2)</p>
      <p>Dimana :</p>
      <p>ε : Regangan</p>
      <p>F : Perubahan Panjang (mm)</p>
      <p>L : Panjang Penampang (mm<sup>2</sup>)</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Tegangan (<italic>Stress</italic>)</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Regangan (<italic>Strain</italic>)</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Modulus Elastisitas (<italic>Modulus young</italic>)</p>
        </list-item>
      </list>
      <p><bold>E = </bold><bold> ………. </bold>(3)</p>
      <p>Dimana :</p>
      <p>E : Modulus Elastisitas (Kgf/mm<sup>2</sup>)</p>
      <p>σ : Tegangan (Kgf/mm<sup>2</sup>)</p>
      <p>ε : Regangan</p>
      <p>Pada <bold>Tabel 2.</bold> Menunjukkan bahwa kuat arus dan pendinginan pada proses pengelasan sangat berpengaruh terhadap sifat mekanik spesimen pengelasan <italic>Dissimilar Metal Welding </italic>(DMW). Hasil pengujian tarik dari 9 spesimen didapatkan nilai tegangan tertinggi 369,342 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 90A dengan pendingin air dan nilai tegangan terendah 116,036 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 70A dengan pendingin udara. Nilai regangan tertinggi 0,039 pada spesimen kuat arus 90A dengan pendingin air dan nilai tegangan terendah 0,017 pada spesimen kuat arus 80A dengan pendingin udara. Nilai modulus elastisitas tertinggi 11.610 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 90A dengan pendingin udara dan nilai modulus elastisitas terendah 6.107 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 70A dengan pendingin udara.</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Uji Makrostruktur</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Pengujian Makrostruktur dilakukan dengan alatuji metalografimenggunakan mikroskop 50 x. Berikut hasil dari pengambilan makrostruktur pengelasan <italic>stainless steel </italic>pada <italic>dissimilar metal welding</italic> plat baja ASTM A36 dan plat stainless steel dengan uji makrostruktur. Berikut dibawah ini adalah hasil uji makrostruktur dari proses pengelasan <italic>dissimilar metal welding</italic> (DMW).</p>
      <p>
        <bold>Gambar 12</bold>
        <bold>. Makrostruktur Spesimen 1</bold>
      </p>
      <p>Sesuai dengan <bold>Gambar 12</bold><bold>.</bold> Berdasarkan parameter 70 Ampere dan pendingin air, dimana terdapat 4 cacat las. Pertama cacat las <italic>arc strike</italic> merupakan bekas elektroda menyentuk permukaan <italic>base metal</italic> spesimen pengelasan, kedua cacat las <italic>underfill </italic>yaitu cacat las kurangnya pengisian pada <italic>weld metal</italic>, ketiga cacat las porositas yaitu lubang kecil pada weld metal dan cacat las <italic>slag indusion</italic> cacat pada berhentinya pengelasan, cacat las ini terjadi karena ampere yang teralu rendah.</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Spesimen 1 atau Y1 (70 Ampere Pendingin Air)</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Spesiment 8 atau Y8 (90 Ampere Pendingin Udara)</p>
        </list-item>
      </list>
      <fig id="fig13">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image14.jpeg"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 13</bold><bold>. </bold>Makrostruktur Spesimen 8</p>
      <p>Sesuai dengan <bold>Gambar 13</bold><bold>.</bold> Berdasarkan parameter 90 Ampere dan pendingin udara, dimana tidak terdapat cacat pada spesimen pengelasan.</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Analisa dan Pembah</bold>
            <bold>asan Hasil Uji </bold>
            <bold>Kekuatan Tarik</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Untuk memudahkan pemahaman pada data dari hasil uji tarik yaitu dengan menampilkan grafik tegangan, regangan dan modulus elastisitas kemudian. dilakukan proses analisa pada hasil pengelasan <italic>dissimilar metal welding</italic> (DMW). Tujuan analisa ini guna visualisasi yang lebih baik dan lebih mudah dimengerti.</p>
      <p><bold>Gambar 1</bold><bold>4</bold><bold>. </bold>Grafik Nilai Tegangan, Regangan dan Modulus Elastisitas</p>
      <p>Dari <bold>Gambar 1</bold><bold>4</bold><bold>. </bold>Diperoleh nilai kekuatan tegangan tertinggi pada spesimen 9 dengan parameter kuat arus 90A dan pendingin oli dengan nilai 389.06 Kgf/mm<sup>2</sup>, sedangkan untuk nilai terendah pada spesimen 2 dengan parameter kuat arus 70A dan pendingin udara. Kemudian nilai kekuatan regangan tertinggi pada spesimen 9 dengan parameter kuat arus 90A dan pendingin oli dengan nilai 0,039, sedangkan untuk nilai terendah pada spesimen 4 dengan parameter kuat arus 80A dan pendingin air dengan nilai 0,017. Dan nilai kekuatan modulus elastisitas tertinggi pada spesimen 8 dengan parameter kuat arus 90A dan pendingin udara dengan nilai 11.610 Kgf/mm<sup>2</sup>, sedangkan untuk nilai terendah pada spesimen 2 dengan parameter kuat arus 70A dan pendingin udara dengan nilai 6.107 Kgf/mm<sup>2</sup>.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>IV. Simpulan</title>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Berdasarkan hasil penelitian dan analisa dari “Pengaruh Kuat Arus pada <italic>Dissimilar Metal Welding</italic> (DMW) antara Baja Karbon dan <italic>Stainless Steel</italic> Terhadap Kekuatan Tarik dan Struktur Makro” dapat disimpulkan :</p>
        </list-item>
      </list>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Hasil pengujian tarik dari 9 spesimen didapatkan nilai tegangan tertinggi 369,342 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 90A dengan pendingin air dan nilai tegangan terendah 116,036 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 70A dengan pendingin udara. Nilai regangan tertinggi 0,039 pada spesimen kuat arus 90A dengan pendingin air dan nilai tegangan terendah 0,017 pada spesimen kuat arus 80A dengan pendingin air. Nilai modulus elastisitas tertinggi 11.610 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 90A dengan pendingin udara dan nilai modulus elastisitas terendah 6.107 Kgf/mm<sup>2</sup> pada spesimen kuat arus 70A dengan pendingin udara.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Pengujian makrostruktur partikel dari 9 spesimen dengan parameter proses yang dilakukan penguji diperoleh hasil terbaik yaitu spesimen 8 dengan parameter 90 Ampere dan pendingin udara karena dimana tidak terdapat cacat pada spesimen pengelasan, kemudian hasil terburuk adalah spesimen 1 dengan parameter 70 Ampere dan pendingin air karena dimana terdapat 4 cacat las. Pertama cacat las <italic>arc strike</italic> merupakan bekas elektroda menyentuk permukaan <italic>base metal</italic> spesimen pengelasan, kedua cacat las <italic>underfill </italic>yaitu cacat las kurangnya pengisian pada <italic>weld metal</italic>, ketiga cacat las porositas yaitu lubang kecil pada weld metal dan cacat las <italic>slag indusion</italic> cacat pada berhentinya pengelasan, cacat las ini terjadi karena ampere yang teralu rendah.</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Ucapan Terima Kasih</title>
      <p>Ucapan terima kasih saya ucapkan kepda Progam Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan ilmu dan wawasan yang bermanfaat serta rekan aslab, himpunan mahasiswa dan teman-teman yang telah membantu untuk menyelesaikan penelitian ini.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-6">
      <title>Referensi</title>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>[1]      E. Wiseno, "Pengujian non-destructive variasi arus GTAW terhadap sifat pada dissimilar metal welding AISI 1020 dan AISI 304," Jurnal Ilmiah Flash, vol. 10, no. 1, 2024. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[2]  H. Kadir, R. Riswanda, A. S. Alfauzi, and B. Sumiyarso, "Pengaruh kondisi parameter pengelasan MAG sambungan las baja tidak sejenis terhadap struktur mikro dan kekerasan daerah HAZ," Jurnal Rekayasa Mesin, vol. 16, no. 3, pp. 457–466, 2021. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[3]    A. T. Wiratno, Analisa pengelasan stainless steel 304 dengan carbon steel menggunakan jenis pengelasan SMAW, GTAW dan kombinasi terhadap sifat mekanik material, Doctoral dissertation, Universitas Tridianati Palembang, 2021. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[4]      A. Sebayang, E. Tarigan, and L. Tarigan, "Pengaruh Variasi Arus Pengelasan 120 A, 130 A, 140 A, dan 150 A terhadap Kekuatan Tarik pada Material ST 37 dengan Metode Pengelasan Metal Inert Gas (MIG)," Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial, vol. 2, no. 1, pp. 118-124, 2024. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[5]   Y. R. Fauzi and M. Arsyad, "Pengaruh Post Weld Heat Treatment Proses Pengelasan MIG Terhadap Kekuatan Tarik Baja Karbon AISI 1045," Journal of Energy, Materials, &amp; Manufacturing Technology, vol. 3, no. 02, pp. 9-14, 2024. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[6]       M. M. Rizwan, E. Prahesta, and D. Supriyatna, "Analisis Pengaruh Ampere Terhadap Defect Pengelasan Pada Material Atsm 36" Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, vol. 2, no. 8, pp. 258-263, 2024. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[7]A. F. Al Faridzi, "Ketahanan Baja Astm A36 Terhadap Pengujian Tarik Dan Bending Dengan Proses Pengelasan Smaw Dan Metalografi," Rekayasa Sistem Energi dan Manufaktur (ReSEM), vol. 2, no. 2, pp. 109-118, 2024. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[8]   A. F. Al Faridzi, "Ketahanan Baja Astm A36 Terhadap Pengujian Tarik Dan Bending Dengan Proses Pengelasan Smaw Dan Metalografi," Rekayasa Sistem Energi dan Manufaktur (ReSEM), vol. 2, no. 2, pp. 109-118, 2024.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[9]R. H. Aruan, H. Pratikno, and Y. S. Hadiwidodo, "Analisis Pengaruh Suhu Material Pada Pengaplikasian Coating Epoxy Terhadap Kekuatan Adhesi Baja A36," Jurnal Teknik ITS, vol. 12, no. 1, pp. F34-F40, 2023.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[10]Setiawan, A. Penelitian Stainless Steel 304 Terhadap Pengaruh Pengelasan Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) Untuk Variasi Arus 50 A, 100 A dan 160 A Dengan Uji Komposisi Kimia, Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan Dan Uji Impact (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta). 2019.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[11]Soleh, M. Z. A., &amp; Mulyadi, M. Design and Build JIG Design on Friction Stir Welding Using Fillet Connection on AA6061-T6 Material. Indonesian Journal of Innovation Studies, 14, 10-21070. 2021.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[12]Wardana, A. I., &amp; Mulyadi, M. Analysis of Underwater Friction Stir Welding (UFSW) Process Joint on AA6005-T6 Series Alumunium Alloy on Tensile Strength and Macro Structure: Analisa Sambungan Proses Underwater Friction Stir Welding (UFSW) pada Paduan Aluminium Seri AA6005-T6 terhadap Kuat Tarik dan Struktur Makro. 2023.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[13]     Mulyadi, R. Firdaus, and R. S. Untari, “Optimization of Friction Stir Welding Parameters for AA6061-T651 Aluminum Alloy: Defect Analysis and Process Improvement,” Acad. Open, vol. 8, no. 1, pp. 1–13, doi: 10.21070/acopen.8.2023.6665. 2023.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[14] R. Ramadan, Analisa kekuatan impak dan struktur mikro pengelasan logam berbeda ASTM A36 dan AISI 316L setelah PWHT, M.S. thesis, Universitas Hasanuddin, 2023.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>[15]  Subkhan, M. F., &amp; Mulyadi, M. Confirmation Experiment of Friction Stir Welding Process on Aluminum Alloy Aa-6061-T6561 on Tensile Strength and Weld Penetration: Eksperimen Konfirmasi Proses Friction Stir Welding pada Material Alumunium Alloy Aa-6061-T6561 Terhadap Kekuatan Tarik dan Penetrasi Las. 2023.</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
  </body>
  <back/>
</article>
