<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Steam Assisted Waste Oil Stove Produces High Velocity Flow</article-title>
        <subtitle>Kompor Minyak Limbah Bertenaga Uap Menghasilkan Aliran Berkecepatan Tinggi</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Fernanda</surname>
            <given-names>Ardhi Shefta</given-names>
          </name>
          <email>mulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <given-names>Mulyadi</given-names>
          </name>
          <email>mulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Widodo</surname>
            <given-names>Edi</given-names>
          </name>
          <email>mulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Akbar</surname>
            <given-names>Ali</given-names>
          </name>
          <email>mulyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-4"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <institution>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-4">
        <institution>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-05-03">
          <day>03</day>
          <month>05</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>02</day><month>05</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  <body>
    <p>
      <bold>
        <italic>Design Planning of Organic Waste Melting Stove by Utilizing Used Oil as Fuel and Water Vapor as Combustion Booster </italic>
      </bold>
    </p>
    <p>
      <bold>[</bold>
      <bold>Perencanaan Desain </bold>
      <bold>Kompor Pelebur Sampah Organik </bold>
      <bold>D</bold>
      <bold>engan Pemanfaatan Oli Bekas </bold>
      <bold>S</bold>
      <bold>ebagai Bahan Bakar </bold>
      <bold>D</bold>
      <bold>an Uap Air </bold>
      <bold>S</bold>
      <bold>ebagai Pendorong Pembakaran</bold>
      <bold>]</bold>
    </p>
    <p>Ardhi Shefta Fernanda<sup>,</sup><sup>1</sup><sup>)</sup>, Mulyadi<sup>,</sup><sup>*,</sup><sup>2)</sup>, Edi Widodo<sup>3)</sup>, Ali Akbar<sup>4)</sup></p>
    <p><sup>1</sup><sup>)</sup>Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</p>
    <p><sup>2)</sup>Program Studi Teknik mesin, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</p>
    <p>*Email Penulis Korespondensi : <ext-link xlink:href="mailto:mulyadi@umsida.ac.id">mulyadi</ext-link><ext-link xlink:href="mailto:mulyadi@umsida.ac.id">@umsida.ac.id</ext-link> </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Abstract</italic>
      </bold>
      <italic>.  </italic>
      <italic>Organic waste and used oil are two types of waste that continue to increase in number in Indonesia, but have not been optimally utilized. This research aims to design an energy-efficient organic waste burning stove by utilizing used oil and water as alternative fuels. The system is designed using a 2 bar pressurized steam boiler that replaces the function of a blower or compressor, so it does not require additional electrical energy. The research method includes thermodynamic design of the boiler, steam flow simulation using CAD software, and analysis of energy requirements and boiler structure. The calculation results show that the system is able to produce a steam production rate of 0.0170 kg/s with a used oil consumption of </italic>
      <italic>1,2</italic>
      <italic> kg/hour. The steam flow velocity generated at the nozzle reaches an average of 432.2 m/s, sufficient to improve combustion efficiency. Stainless Steel 201 was used as the boiler material with a wall thickness of 2.14 mm to ensure safety and resistance to pressure and corrosion. The system is considered economical, environmentally friendly, and worthy of further development through physical tests and performance optimization.</italic>
    </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Keywords - </italic>
      </bold>
      <italic>Steam Boiler, Used Oil,</italic>
      <italic> Heat Transfer</italic>
      <italic>,</italic>
      <italic> Combution Efficiency,</italic>
      <italic>CFD Simulation</italic>
    </p>
    <p><bold><italic>Abstrak</italic></bold><italic>. </italic>Limbah organik dan oli bekas merupakan dua jenis limbah yang jumlahnya terus meningkat di Indonesia, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kompor pembakar sampah organik yang hemat energi dengan memanfaatkan oli bekas dan air sebagai bahan bakar alternatif. Sistem dirancang menggunakan ketel uap bertekanan 2 bar yang menggantikan fungsi blower atau kompresor, sehingga tidak memerlukan energi listrik tambahan. Metode penelitian meliputi perancangan termodinamika ketel, simulasi aliran uap menggunakan perangkat lunak (<italic>Computational Aided Design) CAD</italic>, serta analisis kebutuhan energi dan struktur ketel. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan laju produksi uap sebesar 0,0170 kg/s dengan konsumsi oli bekas sebesar 1,2 kg/jam. Kecepatan aliran uap yang dihasilkan pada nozzle mencapai rata-rata 432,2 m/s, cukup untuk meningkatkan efisiensi pembakaran. Material <italic>Stainless Steel</italic> 201 digunakan sebagai bahan ketel dengan ketebalan dinding 2,14 mm untuk menjamin keamanan dan ketahanan terhadap tekanan dan korosi. Sistem ini dinilai ekonomis, ramah lingkungan, dan layak dikembangkan lebih lanjut melalui uji fisik dan optimalisasi performa.</p>
    <p><bold>Kata Kunci – </bold>Ketel Uap, Oli Bekas, Perpindahan Panas, Efisiensi Pembakaran, Simulasi  CFD</p>
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan </title>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Dalam transformasi sosial-ekonomi Indonesia yang luar biasa, ditandai oleh urbanisasi yang pesat dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, negara ini menghadapi tantangan mendesak dalam mengelola limbah organik secara efektif <xref ref-type="bibr" rid="bib1">1</xref>. Limbah organik, sebagai produk sampingan yang tak terelakkan dari pembangunan yang dinamis, memiliki berbagai aspek kompleks yang membutuhkan pendekatan komprehensif untuk mengatasi dimensi permasalahannya secara menyeluruh.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Kombinasi pertumbuhan pesat populasi Indonesia dan meningkatnya aktivitas ekonomi telah secara signifikan mendorong peningkatan produksi limbah organik. Kondisi ini menimbulkan tantangan lingkungan yang mendesak, sekaligus menjadi pendorong untuk menciptakan inovasi dan solusi berkelanjutan guna mengurangi dampak negatif yang besar terhadap ekosistem nasional <xref ref-type="bibr" rid="bib2">2</xref>.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor pembakar sampah organik merupakan salah satu pendekatan inovatif dalam mengatasi timbunan sampah sekaligus dapat memanfaatkan limbah oli bekas dari kendaraan bermotor dan industri mulai dari logama berat, sianida, pestisida, minyak dan lainnya. Dimana pada tahun 2019 data yang dikumpulan oleh Dirjen Pengelola Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, keseluruhan limbah dari kegiatan industri dikelola sebesar 44.883.734,2 ton sedangkan limbah yang dibiarkan tidak termanfaatkan sebesar 285.410,3 ton <xref ref-type="bibr" rid="bib3">3</xref>. Oli bekas yang selama ini berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan atau hanya digunakan secara terbatas, seperti sebagai pelumas rantai, seringkali berakhir sebagai limbah berbahaya. Dengan pengolahan yang tepat, oli bekas dapat dimanfaatkan secara lebih produktif, sekaligus membantu mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan <xref ref-type="bibr" rid="bib4">4</xref>. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Salah satu inovasi dalam pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar adalah menggunakannya untuk menghasilkan uap yang dapat meningkatkan suhu api <xref ref-type="bibr" rid="bib5">5</xref>. Uap ini dihasilkan melalui proses pemanasan air di dalam kompor, yang kemudian berfungsi untuk mempercepat pembakaran dan meningkatkan intensitas nyala api. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi proses pembakaran, tetapi juga secara signifikan mengurangi emisi berbahaya, seperti partikulat dan oksida nitrogen, sehingga lebih ramah lingkungan <xref ref-type="bibr" rid="bib6">6</xref>. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Penelitian yang menggunakan metode <italic>external forced convection</italic> menunjukkan model alat yang memanfaatkan bahan bakar LPG dengan tambahan blower untuk meningkatkan tekanan udara saat api menyala. Penambahan ini bertujuan untuk meningkatkan suhu nyala api, dengan variasi buka-tutup blower dilakukan untuk mengamati perbedaan suhu yang dihasilkan <xref ref-type="bibr" rid="bib7">7</xref>. Selain itu, spesifikasi kompor (<italic>burner</italic>) berbahan bakar oli bekas dirancang dan diuji, menghasilkan nyala api yang stabil dengan suhu pembakaran mencapai 354,20°C. Pengujian menunjukkan bahwa komposisi bahan bakar berupa campuran 50% oli bekas dan 50% solar memberikan tingkat efisiensi tertinggi, dengan <italic>air-fuel ratio</italic> (AFR) sebesar 24,69 <xref ref-type="bibr" rid="bib8">8</xref>. Penelitian lebih lanjut mengintegrasikan penggunaan kompresor sebagai alat penguat tekanan udara <xref ref-type="bibr" rid="bib9">9</xref>. Desain awal kompor berbahan bakar oli bekas yang menggunakan kompresor ini berhasil mendorong inovasi dalam sistem penyediaan tekanan udara <xref ref-type="bibr" rid="bib10">10</xref>. Sebagai alternatif, blower listrik dimanfaatkan untuk memberikan tekanan pada kompor, khususnya dalam aplikasi yang memanaskan sampah plastik menggunakan bahan bakar oli motor bekas. Pendekatan ini menawarkan solusi yang lebih fleksibel dan efisien untuk meningkatkan kinerja sistem pembakaran <xref ref-type="bibr" rid="bib11">11</xref>.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Oleh karena itu, pada penelitian ini menjadi alternatif, salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah merancang desain kompor pembakar sampah yang menerapkan prinsip kerja ketel uap, di mana uap air dimanfaatkan untuk menghasilkan tekanan udara yang dimanfaatkan dalam proses pembakaran. Pendekatan ini lebih hemat biaya yang mana memungkinkan penggunaan limbah oli bekas lebih mudah diakses untuk mendapatkannya. Selain itu, sistem berbasis ketel uap cenderung lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan energi panas secara optimal dan mengurangi ketergantungan pada perangkat mekanis yang memerlukan daya listrik serta memerlukan perawatan berkala.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode Penelitian</title>
      <fig id="fig1">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image1.jpeg"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 1</bold>.Diagram Alir Penelitian</p>
      <p>Pada pengembangan konsep kompor ini, didasarkan pada konsep refrensi yang didesain oleh Annasruddin Pratama., Basyirun., Yohan Widhi Atmojo., Gilang Wahyu Ramadhan., Alif Rivan Hidayat, seperti ditunjukkan pada Gambar 2 <xref ref-type="bibr" rid="bib10">10</xref>. Alat ini merupakan sebuah alat kompor (<italic>burner</italic>) berbahan bakar oli bekas, <italic>burner</italic> yang dirancang memiliki bentuk yang dapat dikombinasikan dengan blower untuk memperbesar nyala apinya. Dalam hal ini kompresor juga dapat digabungkan dalam penggunaan kompor/burner dalam menyediakan ketersediaan oksigen tambahan di sekitar area bahan bakar, yang mengarah pada pembakaran yang efisien dan nyala api yang lebih besar. </p>
      <fig id="fig2">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image2.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 2</bold>.Referensi Desain Kompor</p>
      <p>Namun, sebuah inovasi menarik ditemukan dalam penelitian ini, yaitu penggantian blower dan kompresor dengan ketel uap sebagai sumber tekanan udara. Ketel uap, yang umumnya digunakan untuk menghasilkan uap dalam aplikasi industri, dapat dimodifikasi untuk menghasilkan udara bertekanan tinggi. Udara bertekanan yang dihasilkan oleh ketel uap ini berpotensi untuk memperkuat semburan api pada kompor, dengan memanfaatkan tekanan uap sebagai alternatif dari perangkat mekanik seperti blower dan kompresor. Pendekatan ini tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan energi dari ketel uap, tetapi juga memberikan solusi yang lebih terintegrasi dan efisien dalam sistem pembakaran. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan ketel uap untuk memperkuat nyala api dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan menghasilkan pembakaran yang lebih bersih, dengan mengurangi ketergantungan pada perangkat eksternal seperti blower atau kompresor yang memerlukan energi listrik tambahan.</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Diagram Alir</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Referensi Desain</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Perpindahan Panas</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Perpindahan panas sendiri yakni ilmu yang memprediksi perpindahan energi akibat perbedaan temperatur antar benda atau material. Ilmu ini tidak hanya menerangkan bagaimana suatu energi panas berpindah dari benda ke benda lain, melainkan juga dapat memperkirakan laju perpindahan panas dalam kondisi tertentu<xref ref-type="bibr" rid="bib12">12</xref>. Proses perpindahan panas yang terjadi pada ketel uap melibatkan tiga proses utama, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.</p>
      <p>Konduksi merupakan salah satu metode yang fundamental dalam perpindahan panas, di mana energi termal berpindah melalui bahan padat akibat perbedaan temperatur tanpa menggerakkan zat tersebut. Dalam proses konduksi, partikel-partikel di dalam material berinteraksi, sehingga energi dari partikel yang lebih panas akan ditransfer ke partikel yang lebih dingin. Karakteristik ini sangat vital dalam banyak aplikasi, mulai dari memasak, di mana panas berpindah dari panci ke makanan, hingga dalam industri, di mana efisiensi perpindahan panas sangat mempengaruhi kinerja alat. Untuk menggambarkan laju konduksi panas dalam suatu material, kita dapat menggunakan rumus yang dikenal sebagai hukum Fourier.</p>
      <p>(1)</p>
      <p>dimana : </p>
      <p>Q<sub>kond</sub>: Laju perpindahan panas konduksi (W)</p>
      <p>k: Konduktivitas termal material (W/m.K˚)</p>
      <p>A: Luasan penampang material (m<sup>2</sup>)</p>
      <p>ΔT: Selisih temperatur (˚C)</p>
      <p>Δx: Selisih ketebalan material (m)</p>
      <p>Konveksi adalah perpindahan panas yang melalui media fluida (cairan atau gas). Pada ketel uap sendiri perpindahan secara konveksi terjadi antara gas panas hasil pembakaran dengan permukaan pipa/plat dan antara air dengan permukaan pipa/plat. Rumus perpindahan panas konveksi adalah :</p>
      <p>(2)</p>
      <p>dimana : </p>
      <p>Q<sub>konv</sub>: Laju perpindahan panas konveksi (W)</p>
      <p>h: Koefisien perpindahan panas konveksi(W/m2.˚C)</p>
      <p>A: Luas permukaan(m2)</p>
      <p>ΔT: Selisih temperatur(˚C)</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Konduksi </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p> Konveksi</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p> Radiasi</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Radiasi adalah perpindahan panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Pada penerapanya pada ketel uap proses perpindahan panas secara radiasi terjadi saat gas hasil pembakaran dan nyala api mengenai permukaan dinding dari ketel uap. Adapun rumus perpindahan panas radiasi adalah :</p>
      <p>(3)</p>
      <p>dimana : </p>
      <p>σ: Konstanta Stefan-Boltzmann(W/m2.˚C4)</p>
      <p>ϵ: Emisivitas material</p>
      <p>A: Luasan permukaan(m2)</p>
      <p>T<sub>1</sub> dan T<sub>2</sub>: Temperatur absolute permukaan dan lingkungan(˚C)</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Ketel Uap</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>ketel uap merupakan sistem tertutup yang mengubah energi panas menjadi energi uap melalui proses perpindahan panas. Dalam hal ini, efisiensi dari suatu ketel uap sangat bergantung pada usaha sistem dalam mengubah panas dari sumber panas ke air. Uap yang dihasilkan oleh ketel sendiri dapat dimanfaatkan untuk beberapa aplikasi, seperti penggunaannya seebagai sumber tenaga pada mesin uap dan turbin, sebagai penyedia tekanan rendah untuk mendukung proses produksi industri(pabrik gula, dll)<xref ref-type="bibr" rid="bib13">13</xref>.  Dalam perancangan ketel uap sederhana terdapat beberapa parameter utama yang perlu dihitung:</p>
      <p>(4)</p>
      <p>Ket :</p>
      <p>ṁ: Laju produksi uap(kg/jam)</p>
      <p>Q: Laju perpidahan panas(kW)</p>
      <p>H<sub>fg</sub>: Enthalpi penguapan(kJ/kg)</p>
      <p>Bahan bakaaar pada ketel uap memiliki berbagai macam jenis, tergantung pada jenis ketel, kebutuhan energi serta ketersediaan sumber daya/bahan bakar. Bahan bakar yang dapat digunakan untuk sumber panas antara lain yakni, bahan bakar padat (batubara, kayu bakar, briket,dll) kemudian ada bahan bakar cair (solar, minyak tanah, kerosin,dll), ada juga yang berbahan bakar gas (gas alam, LPG). Untuk kebutuhan bahan bakar dapat dihitung dengan rumus. </p>
      <p>(5)</p>
      <p>Ket :</p>
      <p>ṁ<sub>fuel</sub>: Laju konsumsi bahan bakar(kg/jam)</p>
      <p>Q: Laju perpindahan panas(kW)</p>
      <p><italic>HV</italic>: Nilai kalor bahan bakar(kJ/kg)</p>
      <p>ղ: Efisiensi pembakaran (%)</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Kapasitas Produksi Uap</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bahan Bakar</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Perhitungan Konstruksi Ketel</p>
        </list-item>
      </list>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Ketebalan dinding ketel</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Dalam perancangan ketel uap, aspek yang harus diperhatikan adalah ketebalan plat yang digunakan sebagai dinding bejana. Ketebalan plat mempengaruhi kekuatan struktur ketel uap dala menahan tekanan uap yang dan menjaga keamanan opeasional. Ketebalan minimum plat ditentukan berdasarkan tekanan maksimum, diameter ketel, serta material yang akan digunakan. Oleh karena itu, ketebalan ketel uap harus dirancang secara teliti agar ketel uap dapat dinyatakan aman pada saat beroperasikan<xref ref-type="bibr" rid="bib14">14</xref>. Ketebalan minimum atau tekanan kerja maksium yang diizinkan dari dinding silinder harus lebih besar atau lebih kecil dari tekanan yang diberikan oleh tegangan keliling. Ketika ketebalan tidak melebihi setengah dari radius dalam, atau P tidak melebihi 0,385SE, maka berlaku rumus berikut ini.</p>
      <p>(6)</p>
      <p>Ket :</p>
      <p>t: Ketebalan minimum dinding yang dibutuhkan (mm)</p>
      <p>P: Tekanan desain internal</p>
      <p>R: Jari-jari dalam dari dinding</p>
      <p>S: Tegangan maksimum yang diperbolehkan dari material</p>
      <p>E: Efisiensi sambungan las</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Desain Awal</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Jika fungsi sebuah kompresor yang menghasilkan tekanan digantikan dengan ketel uap, maka ketel tersebut harus mampu menyediakan tekanan yang setara agar dapat berfungsi dengan optimal. Ketel uap merupakan komponen utama dari sistem pembakar sampah organik yang memanfaatkan oli bekas dan air sebagai bahan bakar alternatif. Untuk mencapai hal ini, ketel uap harus dirancang dengan sistem yang dapat menghasilkan dan mengatur uap secara stabil, memastikan suplai yang konsisten, serta mempertahankan kinerja yang baik. Desain ini bertujuan untuk memastikaan terjadinya perpindahan panas yang optimal dari bahan bakar ke air yang dididihkan sehingga menghasilkan uap dengan suhu dan tekanan yang sesuai dalam menggantikan peran kompresor/blower.</p>
      <fig id="fig3">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image3.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig4">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image4.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 3</bold>.Desain Awal Ketel Uap</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Prinsip kerja Ketel Uap</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Ketel uap bekerja dengan memanfaatkan panas hasil pembakaran oli bekas dan air untuk mengubahnya menjadi uap. Proses ini terbagi menjadi 2 tahap, yakni. </p>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Pemanasan air yang hingga titik didihnya (100˚C jika berada pada tekanan 1 atmosfer).</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Penguapan air menjadi uap, jika air telah mecapai titik didih maka fasenya berubah menjadi uap jenuh.</p>
        </list-item>
      </list>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Komponen Utama Ketel Uap</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Ada beberapa komponen ketel yang dibutuhkan dalam desain ini, hal tersebut berjuan agar keetel uap dapat berfungsi secara maksimal. Adapun komponen yang diperlukan, yakni.</p>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Ruang bakar, yakni tempat terjadinya pembakaran bahan bakar.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bejana air/tangki air, komponen ini beerfungi sebagai tempat peampungan air yang akan dipanaskan.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Cerobong, komponen ini sebagai jalan yang dilalui api.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nozel, digunakan untuk menyemburkan uap ketel</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Pipa saluran uap berfungsi menyalurkan uap hasil pemanasan dari dalam ketel menuju nozel.</p>
        </list-item>
      </list>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Kekurangan dan kelebihan dari sistem yang digunakan</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Berikut adalah tabel yang merinci kelebihan dan kekurangan dari penggunaan berbagai komponen dalam sistem kompor pembakar sampah, khususnya yang melibatkan kompresor, blower, dan ketel uap untuk menghasilkan tekanan udara yang dapat memperkuat semburan api. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dengan cara mempercepat aliran udara yang masuk ke dalam ruang bakar, yang memungkinkan proses pembakaran terjadi lebih cepat dan lebih sempurna.</p>
      <p><bold>Tabel 1</bold>. Kekurangan dan kelebihan masing-masing penggunaan komponen</p>
      <table-wrap id="tbl1">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <bold>Kompoen</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Kelebihan</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Kekurangan</bold>
            </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kompresor</td>
            <td>Menghasilkan tekanan udara tinggi untuk pembakaran lebih cepat dan efisien.Meningkatkan efisiensi pembakaran dengan aliran udara terkontrol.Dapat mengatur laju semburan udara secara presisi.</td>
            <td>Membutuhkan konsumsi energi yang lebih tinggiBiaya pembelian dan pemeliharaan yang lebih  tinggiMemerlukan perawatan rutin untuk mencegah kerusakan atau kebocoran udara</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Blower</td>
            <td>Biaya pemasangan dan operassional lebih murah dibandingkan kompresorPengoperasian lebih sederhana dan mudahPemeliharaan lebih mudah dan lebih terjangkau</td>
            <td>Lebih sedikit dalam menghasilkan tekanan udara sehingga dapat mempengaruhi efisiensi pembakaranKurang efisien dalam aplikasi yang membutuhkan semburan udara kuat dan konsisten</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Ketel uap</td>
            <td>Menghasilkan uap panas yang dapar mempercepat proses pembakaran Efisien dalam mengonversi energi dari bahan bakar menjadi uap untuk mendukung proses pembakaranMegurangi emisi dengan pembakaran yang lebih sempurna</td>
            <td>Rawan terhadap korosi</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Perencanaan Desain</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Untuk mencapai tekanan yang mengacu pada besarnya tekanan yang dikeluarkan oleh kompor bertekanan tinggi, maka ketel uap yang dirancang mampu menghasilkan tekanan sebesar 30 psi atau sama dengan 2 bar. Sehingga proses perancangan melibatkan perhitungan kapasitas ketel, kebutuhan uap serta konstruksi ketel. Untuk pemodelan awal didasarkan pada pengamatan dan telah diperhitungkan. Spesifikasi awal perencanaan ketel dapat disebutkan sebagai berikut.</p>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Jenis ketel : ketel uap sederhana</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Lebar ketel : 40 cm </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Diameter cerobong api: 2 inch</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tekanan kerja: 2 bar (direncanakan)</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bahan bakar : Oli bekas</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Material ketel: Stailess Steel 201</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Pemilihan material sebagai bahan pembuatan ketel uap didasarkan pada materialnya yang tahan karat serta memiliki kekuatan mekanik yang memadai sehingga cocok untuk aplikasi ketel uap skala kecil. Berikut spesifikasi bahan yang digunakan untuk pembuatan ketel.</p>
      <p><bold>Tabel </bold><bold>2</bold> Spesifikasi material ketel uap</p>
      <table-wrap id="tbl2">
        <table>
          <tr>
            <td>Parameter</td>
            <td>Nilai</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Modulus of Elasticity</italic>
            </td>
            <td>193 Gpa</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Yield Strength</italic>
            </td>
            <td>205 MPa</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Tensile Strength</italic>
            </td>
            <td>515 MPa</td>
          </tr>
          <tr>
            <td><italic>Thermal Conductivity</italic>(<italic>annealed</italic>)</td>
            <td>16,2 W/m.K</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Specific Heat</italic>
            </td>
            <td>500 J/kg.K</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Perhitungan Parameter Desain</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Kapasitas ketel uap ditentukan berdasarkan volume total dan volume air yang akan diisikan.</p>
      <p>Dengan pengisian air tidak lebih dari 60% yang bertujuan agar dapat memiliki ruang ekspansi bagi uap yang cukup. Hal ini diperhitungkan agar dalam praktiknya desain ketel mencegah kelebihan volume sehingga air memasuki pipa saluran uap.</p>
      <p>Untuk laju produksi uap pada ketel:</p>
      <p>dalam memperhitungkan laju produksi uap, perencaanan material elemen pemanas (bidang yang terkena panas) yang digunakan adalah <italic>stailess steel </italic>201 yang direnacakan sehingga dapat mengubah air menjadi uap pada suhu 100 ˚C(pada 1 atm). Maka langkah pertama yang dilakukan yaitu menghitung luas permukaan elemen pemanasnya. Sedangkan komponen yang terkena panas yakni alas dari ketel uap dan juga cerobongnya. Komponen pertama, alas ketel berbentuk persegi (sesuai yang direncanakan) dengan panjang tiap sisi (S) = 40 cm, maka luas permukaan yang terkena panas dapat diketahui.</p>
      <p>dengan memperhatikan spesifikasi pada tabel 2 kemudian dilanjutkan pada perhitungan laju perpindahan panas, diketahui suhu titik didih air sebesar 100 ˚C(T<sub>ak</sub><sub>h</sub>) dan suhu mula-mula air sebesar 25 ˚C (T<sub>aw</sub>). Perbedaan suhu (∆T) kemudian dapat diketahui, yakni sebesar (∆T = T<sub>akh</sub> – T<sub>aw</sub> = 100 – 25 = 75 ˚C). Setelah diketahui nilai besaran perbedaan temperatur dilanjutkan menghitung laju perpindahan panasnya menggunakan rumus.</p>
      <p>diketahui nilai konduktivitas termal material (k) untuk <italic>Stainless Steel</italic>201 adalah 16,2 (W/m<sup>2</sup>K) dengan tebal plat (∆x) 2mm (direncanakan). Maka</p>
      <p>sedangkan untuk besaran nilai laju perpindahan pada bagian cerobong didapatkan dengan cara sama seperti perhitungan di atas. Diketahui diameter pipa (D) 5,8 cm dengan panjang/ketinggian pipa yang terkena air (L) 20 cm dengan ketentuan tidak sampai melebihi tinggi pipa saluran uap dengan material dan ketebalan yang digunakan sama seperti perhitungan sebelumnya. Sama seperti langkah di atas mencari nilai luas dari permukaan elemen panas(pipa cerobong) dan laju perpindahan panasnnya.</p>
      <p>Jadi, untuk laju perpindahan panas dari komponen cerobong sebesar.</p>
      <p>Total keseluruhan laju perpindahan panas dari elemen pemanas dapat diketahui sebesar.</p>
      <p>Pada langkah terakhir menentukan jumlah panas yang dibutuhkan untuk mengubah 1kg air menjadi uap dengan menggunakan panas laten penguapan sebesar 2257 kJ/kg pada suhu sekitar 100˚C. Sedangkan besar laju produksi uap (ṁ) dalam satuan kg/jam dengan membagi laju perpindahan panas (Q) dengan kapasitas panas (C) dan mengkonversikannya ke kg/jam maka berlaku rumus.</p>
      <p>Jadi, diketahui untuk laju produksi uap di dalam ketel sekitar 0.0170 kg/s</p>
      <p>Kebutuhan energi (bahan bakar) ketel uap untuk mempertahankan produksi uap sebesar 0,0170 kg/s diperlukan pasokan energi berupa panas sebesar 38.382 W. Dengan besar nilai kalor oli jika diasumsikan memiliki nilai kalor sebesar 38 MJ/kg <xref ref-type="bibr" rid="bib15">15</xref>. Maka untuk menghitung kebutuhan dari bahan bakar untuk ketel juga perlu dihitung jika efisiensi pembakaran dari bahan bakar 60% (diasumsikan).</p>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Dimensi bejana ketel (direncanakan): 40x40x40cm, sehingga volume ketel didapat yakni.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Volume air (diisi 60% dari total volume)</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Volume uap (40% dari sisanya).</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Laju produksi uap</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Pembakaran oli bekas</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Ketebalan dinding ketel</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Untuk memenuhi standar untuk desain bejana bertekanan, ketebalan minimum dinding ketel dihitung menggunaakan beberapa parameter desain yang meliputi tekanan kerja (P = 2 bar (0,2 MPa direncanakan), jari-jari dalam desain ketel ini dianggap menggunakan panjang sisi terjauh dari titik tengah bejana itu sendiri (R) = 20 cm, tegangan material (S) = 50 MPa (pada suhu 100 ˚C untuk <italic>Stainless Steel</italic>201), efisiensi las (E) = 0,7. Setelah didapatkan parameter dalam perhitungan kemudian dapat dinyatakan:</p>
      <fig id="fig5">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image5.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>4</bold>.Menentukan tebal dinding </p>
      <p>Agar memastikan ketel mampu menahan tekanan kerja sebesar 2 bar dengan aman sekaligus memberikan ketahanan terhadap korosi, perlu ditambahkan factor korosi (C) = 1 untuk memberikan margin keamanan tambahan terhadap korosi. Jadi ketebalan material yang aman digunakan untuk dinding ketel yakni t = 1,14 mm + 1 = 2,14 mm. </p>
      <p>Setelah dilakukan langkah perhitungan di atas, maka didapat perolehan nilai yang disajikan pada tabel berikut.</p>
      <p><bold>Tabel 3</bold>. Hasil Perhitungan</p>
      <table-wrap id="tbl3">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <bold>No.</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Perhitungan</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Referensi </bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Nilai</bold>
            </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1.</td>
            <td>Daya total yang dibutuhkan elemen pemanas</td>
            <td>Pers 1</td>
            <td>38.382 W</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2.</td>
            <td>Laju massa uap</td>
            <td>Pers 4</td>
            <td>0,0170 kg/s</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3.</td>
            <td>Massa bahan bakar yang dibutuhkan</td>
            <td>Pers 5</td>
            <td>1,2 kg/jam</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3.</td>
            <td>Ketebalan dinding bejana ketel</td>
            <td>Pers 6</td>
            <td>2,14 mm</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Konsep Desain</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Dari perhitungan dan perencaan di atas maka ditetapkan Komponen utama yang diperlukan untuk membangun sebuah kompor bertenaga ketel uap sederhana terdiri dari beberapa bagian penting. </p>
      <list list-type="bullet">
        <list-item>
          <p>Wadah bahan bakar berfungsi sebagai tempat pembakaran bahan bakar oli bekas. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bejana berisi air digunakan untuk menampung air yang akan dipanaskan hingga menghasilkan uap.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Pipa saluran uap bertugas mengalirkan uap dari bejana ke titik penggunaan.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nozzel uap berperan mengatur aliran dan tekanan uap yang keluar.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Cerobong saluran api diperlukan untuk mengarahkan asap dan gas sisa pembakaran keluar secara aman.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Rangka kompor berfungsi sebagai struktur penopang yang memastikan stabilitas dan keamanan seluruh komponen selama operasi.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Semua komponen ini harus dirancang menggunakan material yang tahan panas dan korosi agar kompor dapat bekerja secara efisien dan memiliki daya tahan yang baik.</p>
      <p><bold>Tabel 4</bold>. Spesifikasi Komponen Kompor</p>
      <table-wrap id="tbl4">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <bold>No.</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Komponen Kompor</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Dimensi</bold>
            </td>
            <td>
              <bold>Material</bold>
            </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1.</td>
            <td>Wadah Bahan Bakar</td>
            <td>30x30x20 cm</td>
            <td><italic>Stainless Steel</italic> 201 2 mm</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2.</td>
            <td>Bejana Ketel</td>
            <td>40x40x40 cm</td>
            <td><italic>Stainless Steel</italic> 201 2 mm</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3.</td>
            <td>Pipa Saluran Uap</td>
            <td>∅ 3/4 inch</td>
            <td><italic>Stainless Steel</italic> 201 2 mm</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>4.</td>
            <td>Nozzel Uap</td>
            <td>∅ 4 mm</td>
            <td>Kuningan</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>5.</td>
            <td>Cerobong</td>
            <td>∅ 2 inch</td>
            <td><italic>Stainless Steel</italic> 201 2 mm</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>6.</td>
            <td>Rangka Kompor</td>
            <td>46x46x70 cm</td>
            <td>Hollow 40x40x1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>7.</td>
            <td>Tong Sampah</td>
            <td>∅ 60x90 cm</td>
            <td>-</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Ketel uap dirancang berbentuk kubus dengan dimensi 40 × 40 × 40 cm, yang memberikan volume total sebesar 0.064 m³. Sistem kompor pembakar sampah organik ini beroperasi melalui rangkaian komponen yang terintegrasi, mulai dari proses pembakaran bahan bakar hingga pembuangan gas sisa. Proses dimulai dengan pembakaran oli bekas dalam ruang pembakaran, yang menghasilkan energi panas untuk memanaskan air di dalam ketel uap. Ketel uap berfungsi sebagai wadah pemanas yang mengubah air menjadi uap bertekanan tinggi setelah mencapai titik didih. Uap yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui pipa saluran uap menuju nosel, yang berfungsi sebagai penyemprot uap bertekanan tinggi ke dalam ruang pembakaran kemudian disalurkan lagi menuju cerobong. Penyemprotan ini meningkatkan suplai udara dan oksigen di sekitar nyala api, sehingga memperkuat intensitas pembakaran.</p>
      <fig id="fig6">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image6.jpeg"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>5</bold>.Desain Kompor Pembakar Sampah</p>
      <fig id="fig7">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image7.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig8">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image8.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>6</bold>.Hasil Desain Kompor</p>
      <p>(Gambar 7) menunjukkan gambaran alur dari sistem pembakaran dialirkan ke ketel uap untuk menghasilkan uap bertekanan, yang kemudian digunakan untuk meningkatkan pembakaran. Sistem ini dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi termal, keamanan, dan keberlanjutan. Pemilihan material, parameter desain menjadi bagian penting untuk memastikan ketel uap bekerja dengan baik dalam tekanan kerja tertentu, sehingga mampu menghasilkan pembakaran yang efisien dan aman. Kompor pembakar sampah dengan sistem ketel uap dirancang untuk meningkatkan efisiensi pembakaran sekaligus memanfaatkan energi secara optimal. Ketel uap dipilih karena mampu menghasilkan tekanan udara yang dapat memperkuat nyala api tanpa memerlukan perangkat mekanik tambahan seperti blower atau kompresor.</p>
      <fig id="fig9">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image9.jpeg"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>7</bold>.Diagram Sistem Kompor</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Analisa dan Pembahasan</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Untuk mengetahui bahwa desain yang dibuat efektif dalam menghasilkan semburan yang mirip dengan aliran udara dari kompresor atau blower maka dilakukanlah proses uji aliran fluida sehingga dapat mengetahui nilai kecepatan alirannya. Berdasarkan hasil perhitungan serta maka dilakukan dengan metode CFD proses pengujian dari desain yang dibuat dengan menggunakan <italic>software SolidWork Flow Simulation</italic>, dengan analisis serta perhitungan awal guna menentukan parameter-parameter yang dibutuhkan sebagai acuan pada simulasi. Kemudian didapat parameter pada Tabel 3 dan diperoleh hasil simulasi ditunjukkan pada (Gambar 8). Hasil analisis menunjukkan bahwa aliran uap dengan laju massa sebesar 0,0170 kg/s dengan tekanan kerja 2 bar melalui pipa berdiameter 3/4 inch dan nozzel berdiameter dalam 4 mm menunjukkan kecepatan aliran sebesar 52,8 m/s yang dapat ditunjukan pada aliran yang berwarna biru yang mengalir sepanjang saluran pipa. Distribusi kecepatan aliran bervariasi dari 52,8 m/s hingga 531 m/s dengan perbedaan kecepatan yang signifikan pada pipa menuju ke nozzel. Hal ini mengindikasikan adanya percepatan aliran saat mendekati nozzle, yang disebabkan oleh penyempitan diameter saluran sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem saluran pada pipa dapat  menghasilkan perubahan energi termal dari kompor menjadi energi kinetik uap yang dikeluarkan melalui nozel.</p>
      <fig id="fig10">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image10.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig11">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image11.jpeg"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar </bold><bold>8</bold>.Hasil <italic>Flow Simulation</italic></p>
      <p>Nilai kecepatan tertinggi terjadi di dekat nozzel yang ditunjukkan oleh aliran yang berwarna merah, sementara kecepatan terendah berada di area awal pipa. Hasil ini sesuai dengan prinsip venturi, dimana penyempitan saluran meningkatkan kecepatan aliran fluida (uap). Dengan demikian, desain sistem ini mampu menghasilkan aliran uap berkecepatan tinggi guna membantu memperkuat semburan pada kompor.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>IV. Simpulan</title>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Pada desain ini terdiri dari beberapa komponen utama yakni, a.) wadah oli, b.) ketel uap terdiri dari (bejana ketel, pipa saluran uap, nozel, dan cerobong) yang dirakit menjadi satu kesatuan, c.) rangka, d.) tong sampah.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Berdasarkan analisis dan perhitungan yang telah dilakukan, kompor berpendorong ketel uap sederhana berbahan bakar oli bekas berhasil dirancang dan diuji untuk dapat menghasilkan uap berkecepatan tinggi guna mendukung efisiensi pembakaran pada kompor. Ketel ini memiliki dimensi 40x40x40 cm dengan volume air yang dapat ditapung 38,4 liter (60% dari volume total) dan 25,6 liter (40% dari volume total), menggunakan material stainless steel 201 yang tahan korosi. Laju produksi uap dari ketel dapat mencapai 0,0170 kg/s dengan kebutuhan daya pemanas sebesar 38.382 W yang dipasok dari oli bekas dengan konsumsi bahan bakar 1,2 kg/jam dengan (asumsi efisiensi 60%).</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Simulasi aliran uap menunjukkan kecepatan tertinggi sebesar 531 m/s berada pada nozzle dengan distribusi kecepatan awal antara 52,821 m/s pada sepanjang pipa saluran uap. Desain sistem ini memenuhi kriteris keamanan termasuk ketebalan dinding ketel minimal 2,14 mm untuk menahan tekanan kerja sebesar 2 bar. Secara keseluruhan, rancangan ini terbukti efektif dalam menghasilkan uap bertekanan dan dengan memanfaatkan energi termal dari kompor itu sendiri. Rekomendasi untuk pengembangan selanjutnya meliputi uji fisik dan optimasii efisiensi pembakaran.</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Ucapan Terima kasih</title>
      <p>Ucapan terima kasih sebesar-besarnya diucapkan kepada kedua orang tua yang senantiasa sabar menunggu penyelesaian penelitian untuk menuju kelulusan penulis. Kedua, mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing skripsi serta dukungan dari semua teman-teman yang membarengi proses penelitian khususnya keenam kawan penulis yang sangat istimewa.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-6">
      <title>Referensi</title>
      <p>[2]N. Utaminingsih and A. R. Cangara, “The half-dead of earth,” <italic>IOP Conf. Ser. Earth Environ. Sci.</italic>, vol. 575, no. 1, 2020, doi: 10.1088/1755-1315/575/1/012250.</p>
      <p>[3]Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, “Statiska 2019,” <italic>Dinas Lingkung. Hidup dan Kehutan.</italic>, p. 16, 2019.</p>
      <p>[4]M. Algusri, “Thermoelectric Untuk Daya Blower Pemanas Kandang Ayam Oli Bekas,” <italic>Sigma Tek.</italic>, vol. 2, no. 1, p. 106, 2019, doi: 10.33373/sigma.v2i1.1896.</p>
      <p>[5]P. E. T. Berbahan, B. Oli, A. Hata, I. Azmy, and H. D. Adityo, “6825-27818-2-Pb,” vol. 9, no. 2, 2023.</p>
      <p>[6]Wijianto, “Variasi Kecepatan Aliran Udara Pada Tungku Gasifikasi Limbah,” <italic>4th Universty Res. Coloquium 2016</italic>, pp. 43–48, 2016.</p>
      <p>[7]R. Bangun, T. Pembakar, S. Organik, M. Metode, E. Forced, and C. Amin, “Program studi teknik mesin fakultas teknik dan informatika universitas pgri semarang 2022,” 2022.</p>
      <p>[8]I. Febriana, Yuka Fari Saputra, Najib Nursal Alfarabi, Erlinawati, and I. Yunanto, “Uji Kinerja Prototype Kompor Oli Bekas Ditinjau Dari Komposisi Oli Terhadap Laju Alir Bahan Bakar,” <italic>J. Redoks</italic>, vol. 9, no. 1, pp. 62–68, 2024, doi: 10.31851/redoks.v9i1.13143.</p>
      <p>[9]G. W. Ramadhan and B. Basyirun, “Pengaruh Tekanan Udara Terhadap Temperatur Pembakaran Oli Bekas pada Kompor,” <italic>J. Din. Vokasional Tek. Mesin</italic>, vol. 5, no. 2, pp. 163–168, 2020, doi: 10.21831/dinamika.v5i2.34804.</p>
      <p>[10]A. Pratama, B. Basyirun, Y. W. Atmojo, G. W. Ramadhan, and A. R. Hidayat, “Rancang Bangun Kompor (Burner) Berbahan Bakar Oli Bekas,” <italic>Mek. Maj. Ilm. Mek.</italic>, vol. 19, no. 2, p. 95, 2020, doi: 10.20961/mekanika.v19i2.42378.</p>
      <p>[11]Alex Surapati, Angky Puspawan, Yanolanda Suzantry Handayani, and Fitrilina, “The Processing of LDPE Plastic Waste into Renewable Fuel Using Waste Motor Oil,” <italic>J. Ris. Teknol. Pencegah. Pencemaran Ind.</italic>, vol. 14, no. 3, pp. 12–20, 2023, doi: 10.21771/jrtppi.2023.v14.no3.p12-20.</p>
      <p>[12]J.-C. Han and L. M. Wright, “Heat Conduction Equations,” <italic>Anal. Heat Transf.</italic>, pp. 1–19, 2022, doi: 10.1201/9781003164487-1.</p>
      <p>[13]K. Asyari D. Yunus Teknik Mesin Universitas Darma Persada - Jakarta, Uap and S. Boiler, “Ketel uap (steam boiler),” <italic>Asyari D. Yunus Tek. Mesin Univ. Darma Persada - Jakarta</italic>.</p>
      <p>[14]The American Society of Mechanical Engineers (ASME), “SECTION VIII 2023 ASME Boiler and Pressure Vessel Code Division 1,” 2023, [Online]. Available: www.asme.org/cer</p>
      <p>[15]L. K. Mangalla, J. Teknik, M. Fakultas, T. Universitas, and H. Oleo, “OPTIMASI PEMBAKARAN OLI MESIN BEKAS DAN SOLAR DALAM TUNGKU VERTIKAL : SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK ENERGI DAN LINGKUNGAN,” pp. 20–24.</p>
    </sec>
  </body>
  <back>
    <ref-list>
      <ref id="bib1">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Kastolani</surname>
              <given-names>W.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Darsiharjo</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Setiawan</surname>
              <given-names>I.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Supriatna</surname>
              <given-names>U.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Feasibility study of microbial organic waste processing business in Sukasari district, Bandung city</article-title>
          <source>IOP Conference Series: Earth and Environmental Science</source>
          <volume>683</volume>
          <issue>1</issue>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1088/1755-1315/683/1/012018</pub-id>
          <issn>17551315</issn>
          <year>2021</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib2">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Utaminingsih</surname>
              <given-names>N.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Cangara</surname>
              <given-names>A. R.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>The half-dead of earth</article-title>
          <source>IOP Conference Series: Earth and Environmental Science</source>
          <volume>575</volume>
          <issue>1</issue>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1088/1755-1315/575/1/012250</pub-id>
          <issn>17551315</issn>
          <year>2020</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib3">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya</surname>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Statiska 2019</article-title>
          <source>Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan</source>
          <page-range>16</page-range>
          <year>2019</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib4">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Algusri</surname>
              <given-names>Missyamsu</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Thermoelectric Untuk Daya Blower Pemanas Kandang Ayam Oli Bekas</article-title>
          <source>Sigma Teknika</source>
          <volume>2</volume>
          <issue>1</issue>
          <page-range>106</page-range>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.33373/sigma.v2i1.1896</pub-id>
          <issn>2614-5979</issn>
          <year>2019</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib5">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Berbahan</surname>
              <given-names>P E T</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Oli</surname>
              <given-names>Bakar</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Hata</surname>
              <given-names>Achmad</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Azmy</surname>
              <given-names>Ilham</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Adityo</surname>
              <given-names>Hilman Dwi</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>6825-27818-2-Pb</article-title>
          <volume>9</volume>
          <issue>2</issue>
          <year>2023</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib6">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Wijianto</surname>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Variasi Kecepatan Aliran Udara Pada Tungku Gasifikasi Limbah</article-title>
          <source>The 4th Universty Research Coloquium 2016</source>
          <page-range>43-48</page-range>
          <year>2016</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib7">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Bangun</surname>
              <given-names>Rancang</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Pembakar</surname>
              <given-names>Tungku</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Organik</surname>
              <given-names>Sampah</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Metode</surname>
              <given-names>Menggunakan</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Forced</surname>
              <given-names>External</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Amin</surname>
              <given-names>Choirul</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Program studi teknik mesin fakultas teknik dan informatika universitas pgri semarang 2022</article-title>
          <year>2022</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib8">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Febriana</surname>
              <given-names>Ida</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Yuka Fari Saputra</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Najib Nursal Alfarabi</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Erlinawati</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Yunanto</surname>
              <given-names>Isnandar</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Uji Kinerja Prototype Kompor Oli Bekas Ditinjau Dari Komposisi Oli Terhadap Laju Alir Bahan Bakar</article-title>
          <source>Jurnal Redoks</source>
          <volume>9</volume>
          <issue>1</issue>
          <page-range>62-68</page-range>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.31851/redoks.v9i1.13143</pub-id>
          <issn>2477-2747</issn>
          <year>2024</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib9">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Ramadhan</surname>
              <given-names>Gilang Wahyu</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Basyirun</surname>
              <given-names>Basyirun</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Pengaruh Tekanan Udara Terhadap Temperatur Pembakaran Oli Bekas pada Kompor</article-title>
          <source>Jurnal Dinamika Vokasional Teknik Mesin</source>
          <volume>5</volume>
          <issue>2</issue>
          <page-range>163-168</page-range>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.21831/dinamika.v5i2.34804</pub-id>
          <issn>2598-392X</issn>
          <year>2020</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib10">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Pratama</surname>
              <given-names>Annasruddin</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Basyirun</surname>
              <given-names>Basyirun</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Atmojo</surname>
              <given-names>Yohan Widhi</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Ramadhan</surname>
              <given-names>Gilang Wahyu</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Hidayat</surname>
              <given-names>Alif Rivan</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Rancang Bangun Kompor (Burner) Berbahan Bakar Oli Bekas</article-title>
          <source>Mekanika: Majalah Ilmiah Mekanika</source>
          <volume>19</volume>
          <issue>2</issue>
          <page-range>95</page-range>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.20961/mekanika.v19i2.42378</pub-id>
          <issn>1412-7962</issn>
          <year>2020</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib11">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Alex Surapati</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Angky Puspawan</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Yanolanda Suzantry Handayani</surname>
            </name>
            <name>
              <surname>Fitrilina</surname>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>The Processing of LDPE Plastic Waste into Renewable Fuel Using Waste Motor Oil</article-title>
          <source>Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri</source>
          <volume>14</volume>
          <issue>3</issue>
          <page-range>12-20</page-range>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.21771/jrtppi.2023.v14.no3.p12-20</pub-id>
          <issn>2087-0965</issn>
          <year>2023</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib12">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Han</surname>
              <given-names>Je-Chin</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Wright</surname>
              <given-names>Lesley M.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Heat Conduction Equations</article-title>
          <source>Analytical Heat Transfer</source>
          <page-range>1-19</page-range>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1201/9781003164487-1</pub-id>
          <year>2022</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib13">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Asyari D. Yunus Teknik Mesin Universitas Darma Persada - Jakarta, Uap</surname>
              <given-names>Ketel</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Boiler</surname>
              <given-names>Steam</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Ketel uap (steam boiler)</article-title>
          <source>Asyari D. Yunus Teknik Mesin Universitas Darma Persada - Jakarta</source>
          <year/>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib14">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>The American Society of Mechanical Engineers (ASME)</surname>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>SECTION VIII 2023 ASME Boiler and Pressure Vessel Code Division 1</article-title>
          <year>2023</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib15">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Mangalla</surname>
              <given-names>Lukas Kano</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Teknik</surname>
              <given-names>Jurusan</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Fakultas</surname>
              <given-names>Mesin</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Universitas</surname>
              <given-names>Teknik</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Oleo</surname>
              <given-names>Halu</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>OPTIMASI PEMBAKARAN OLI MESIN BEKAS DAN SOLAR DALAM TUNGKU VERTIKAL : SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK ENERGI DAN LINGKUNGAN</article-title>
          <page-range>20-24</page-range>
          <year/>
        </element-citation>
      </ref>
    </ref-list>
  </back>
</article>
