<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Ahmad Muhammad Hidayatulloh Strategi Pembelajaran Guru PAI dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa : (Study Kasus Di MI Hasyim Asy’ari Sukodono Sidoarjo)</article-title>
        <subtitle>Indonesia</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Ahmad</surname>
            <given-names>Ahmad Muhammad Hidayatulloh</given-names>
          </name>
          <email>kanghidayatulloh7@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Umsida</surname>
            <given-names>Hidayatulloh</given-names>
          </name>
          <email>hidayatullah@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Umsida</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>umsida</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-02-09">
          <day>09</day>
          <month>02</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>11</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-2">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-10">Pendidikan memiliki peran yang sangat vital dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan individu, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa. Sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang unggul agar dapat membangun bangsa yang maju dan bersaing negara-negara lain. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-11">Kedisiplinan adalah faktor keberhasilan dari suatu pendidikan yang berkualitas. Tanpa kedisiplinan, peserta didik tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, sehingga akan ditemukan pelanggaran-pelanggaran yang mengganggu aktivitas pembelajaran. Sikap disiplin sangat membantu siswa dalam membentuk kebiasaan belajar yang teratur, mengatur waktu secara efisien, ketekunan, serta konsistensi dalam mengejar tujuan akademik. Kebiasaan-kebiasaan tersebut mendukung siswa dalam meraih hasil belajar yang maksimal[1]. Melalui disiplin siswa belajar untuk mematuhi aturan dan norma yang berlaku, yang pada gilirannya membentuk karakter dan rasa tanggung jawab. Karakter yang baik seperti disiplin, dapat mempengaruhi keberhasilan akademik dan kesuksesan hidup siswa di masa depan[2].</p>
      <p id="_paragraph-12">Dalam Kamus Bahasa Indonesia, disiplin dapat diartikan “<italic id="_italic-13">tata</italic><italic id="_italic-14">tertib,</italic><italic id="_italic-15">ketaatan</italic><italic id="_italic-16">pada</italic><italic id="_italic-17">peraturan</italic>”. Berdisiplin berarti “<italic id="_italic-18">mentaati tata tertib</italic>”[3]. Kedisiplinan belajar merupakan sikap yang mencerminkan ketaatan siswa dalam menjalankan aturan dan tata tertib dalam kegiatan belajar mengajar[4]. Disiplin mencakup unsur kepatuhan, ketaatan, loyalitas, keteraturan, dan ketertiban. Artinya, seseorang yang disiplin akan menaati peraturan, mengikuti arahan, serta mampu mengendalikan diri agar berperilaku tertib.</p>
      <p id="_paragraph-13">Disiplin memiliki peranan penting baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini, pendidikan berfungsi sebagai sarana penanaman nilai dan norma agar tercipta manusia yang memiliki rasa tanggung jawab. Baik tanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Guru memegang peran sentral dalam membentuk tanggung jawab belajar siswa, antara lain melalui pemberian tugas-tugas yang dapat menstimulasi daya pikir, kreativitas, kemandirian, serta rasa tanggung jawab siswa[5]. Kedisiplinan dalam pembelajaran dapat ditingkatkan dengan menerapkan pola pembelajaran yang terstruktur dan konsisten[6].</p>
      <p id="_paragraph-14">Untuk menumbuhkan sikap disiplin siswa tentu membutuhkan peran guru dan rencana yang strategis. Strategi adalah suatu rencana yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia strategi adalah <italic id="_italic-19">“ilmu siasat perang”</italic>, <italic id="_italic-20">“tipu muslihat untuk mencapai sesuatu maksud dan</italic><italic id="_italic-21">tujuan yang</italic><italic id="_italic-22">telah</italic><italic id="_italic-23">direncanakan[3] </italic>. Strategi merupakan rencana yang disusun secara cermat untuk melaksanakan serangkaian kegiatan demi mencapai tujuan tertentu. Strategi juga dapat dipahami sebagai kumpulan tindakan yang dijalankan secara unik atau lebih unggul dibandingkan pesaing, guna memberikan nilai lebih kepada pelanggan dan mencapai target jangka menengah maupun panjang organisasi[7].</p>
      <p id="_paragraph-15">Guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan kepada siswa, dimulai dari penerapan disiplin dalam dirinya sendiri serta membimbing siswa agar terhindar dari kebiasaan yang dapat menimbulkan masalah kedisiplinan. Upaya ini bertujuan agar siswa mampu menaati peraturan sekolah dan menghindari perilaku indisipliner. Selain itu, pembentukan karakter disiplin pada siswa perlu mendapat dukungan dari lingkungan sosial mereka, seperti keluarga dan masyarakat, untuk memperkuat penerapan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari[8].</p>
      <p id="_paragraph-16">Strategi pembelajararan yang diterapkan dengan tepat bisa menjadi cara efektif dalam upaya internalisasi nilai-nilai kedisiplinan pada siswa. Contohnya, pendekatan student center seperti discovery learning dan inkuiri, akan dapat mendorong siswa ikut aktif dalam proses pembelajaran serta menanamkan sikap tanggung jawab pada diri siswa. Sebagaimana pandangan Roy Killen yang menyatakan bahwa pendekatan yang berpusat pada siswa menurunkan strategi discovery dan inquiry dalam pembelajaran[9].</p>
      <p id="_paragraph-17">Strategi pembelajaran yang dirancang secara adaptif terhadap kebutuhan emosional dan sosial peserta didik memiliki peran signifikan dalam membentuk kedisiplinan belajar. Pendekatan sosial-emosional dalam pembelajaran berfokus pada penguatan kemampuan regulasi emosi, pengembangan empati, serta internalisasi tanggung jawab sosial, yang secara berkelanjutan mendorong kepatuhan siswa terhadap tata tertib dan terciptanya keteraturan dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, penerapan prinsip-prinsip psikologi pendidikan, seperti penggunaan penguatan positif serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, terbukti menjadi alternatif strategis dalam meningkatkan perilaku disiplin siswa [10].</p>
      <p id="_paragraph-18">Strategi pembelajaran yang disusun melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara terstruktur berperan penting dalam membentuk perilaku disiplin peserta didik. Dalam praktik pembelajaran, upaya guru untuk meningkatkan kedisiplinan siswa dapat diklasifikasikan ke dalam tiga komponen utama, yaitu tahap perencanaan, tahap implementasi, dan tahap evaluatif. Pada tahap perencanaan, guru merumuskan tujuan program pembelajaran sekaligus menetapkan ketentuan dan aturan yang dijadikan sebagai acuan perilaku peserta didik. Tahap implementasi mencakup proses penyampaian dan internalisasi program kepada siswa serta orang tua, disertai dengan pengawasan yang konsisten dan pemberian keteladanan oleh guru. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari program kedisiplinan peserta didik[11].</p>
      <p id="_paragraph-19">Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai tanggung jawab moral dan spiritual untuk menginternalisasi nilai-nilai agama, termasuk menanamkan jiwa kedisiplinan pada siswa. Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran inti dalam kurikulum nasional yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, dan akhlak mulia peserta didik. Tujuan utama dari PAI adalah untuk menanamkan nilai-nilai keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, serta membentuk pribadi siswa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak karimah sesuai dengan ajaran Islam[12]. Muatan materi dalam mata pelajaran PAI di sekolah dasar hingga menengah mencakup beberapa aspek pokok diantaranya ; Akidah, Ibadah, Sejarah Kebudayaan Islam, al-Qur’an-Hadits. Sehingga yang dimaksudkan guru PAI dalam penelitian ini adalah guru agama yang mengampu mata pelajaran : Akidah akhlak, Fikih, SKI, Al-Quran Hadits.</p>
      <p id="_paragraph-20">Guru PAI memiliki tantangan tersendiri dalam mengajarkan nilai-nilai agama secara menyenangkan, kontekstual, dan berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, penerapan strategi pembelajaran yang inovatif dan sesuai karakteristik siswa menjadi kunci keberhasilan. Strategi pembelajaran merupakan serangkaian tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan konteks lingkungan belajar. Strategi pembelajaran merupakan kerangka atau pendekatan menyeluruh yang digunakan oleh pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Menurut Miarso, strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang berwujud pedoman umum serta kerangka kegiatan guna mencapai tujuan umum dari pembelajaran[13]. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL), yang mengaitkan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Strategi ini memungkinkan siswa untuk memahami nilai-nilai keislaman bukan sekadar hafalan, tetapi sebagai pedoman hidup nyata[14].</p>
      <p id="_paragraph-21">Dalam upaya menanamkan karakter disiplin pada siswa, strategi pembelajaran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan aspek penting dalam membentuk karakter dan perilaku positif siswa. Terdapat beberapa strategi guru PAI dalam meningkatkan kesiplinan belajar siswa. Diantaranya adalah guru memberikan kedeladanan kepada siswa. Dengan menunjukkan sikap disiplin, seperti datang tepat waktu dan mematuhi aturan sekolah, guru dapat memberikan contoh nyata yang dapat ditiru oleh siswa. Strategi ini efektif dalam membentuk karakter disiplin siswa[15]. Strategi pengelolaan kelas yang baik, termasuk pengaturan tempat duduk, penggunaan metode pembelajaran yang variatif, dan pengawasan yang konsisten, dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendorong kedisiplinan siswa[16]. Pendekatan motivasional yang melibatkan penghargaandan umpan balik konstruktif juga berkontribusi pada peningkatan kedisiplinan siswa. Selain itu, integrasi nilai-nilai Islam dalam setiap aspek pembelajaran memperkuat internalisasi karakter baik[17].</p>
      <p id="_paragraph-22">Madrasah Ibtida’yah Hasyim Asy’ari adalah salah satu sekolah dasar yang berbasis Islam. Sebagai lembaga yang berbasis madrasah dengan mengutamakan nilai-nilai islam, sekolah ini dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas pembelajaran guna menciptakan proses pendidikan yang efektif dan efisien serta menghasilkan tujuan pendidikan yang unggul dan berkualitas. Berdasarkan hasil pengamatan awal di MI Hasyim Asy’ari Sukodono, ditemukan fenomena menarik dalam proses pembelajaran, yaitu tingkat kedisiplinan peserta didik pada saat pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tampak lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran di kelas lain. Peserta didik menunjukkan kepatuhan terhadap tata tertib, ketepatan waktu, serta sikap belajar yang lebih kondusif selama proses pembelajaran PAI berlangsung. Fenomena ini mengindikasikan adanya peran strategis guru PAI, baik melalui pendekatan pedagogis, keteladanan, maupun internalisasi nilai-nilai religius yang berdampak pada pembentukan karakter disiplin peserta didik. Penelitian-penelitian sebelumnya umumnya menempatkan pendidikan karakter dan kedisiplinan sebagai hasil dari kebijakan sekolah atau budaya institusi secara umum, tanpa secara spesifik mengkaji perbedaan tingkat kedisiplinan antar mata pelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki nilai kebaharuan (<italic id="_italic-24">novelty</italic>) dengan menelaah secara mendalam bagaimana pembelajaran PAI berkontribusi secara signifikan terhadap pembentukan kedisiplinan peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran lainnya, sehingga diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam pengembangan strategi pembelajaran berbasis karakter di madrasah.</p>
      <p id="_paragraph-23">Berdasarkan pemaparan pada bagian latar belakang, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji secara mendalam strategi pembelajaran yang diimplementasikan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam upaya membentuk dan meningkatkan kedisiplinan peserta didik, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kedisiplinan tersebut. Secara lebih khusus, yang dimaksudkan kedisiplinan dalam penelitian ini adalah kedisiplinan belajar siswa, disipliplin dalam kegiatan pembelajaran.. Sejalan dengan tujuan penelitian, MI Hasyim Asy’ari Bangsri Sukodono Sidoarjo ditetapkan sebagai lokasi penelitian karena relevansinya dengan fokus kajian yang diteliti.</p>
      <p id="_paragraph-24">Hasil penelitian yang dilakukan oleh Eka Nurjannah menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan guru dalam meningkatkan kedisiplinan siswa dengan memberikan teladan, nasihat untuk berakhlak baik, adapun kondisi kedisiplinan siswa yang lemah disebabkan oleh siswa kurang introspeksi diri, masih lemahnya hukuman siswa dan rendahnya dukungan sebagian orang tua[18]. Sementara itu penelitian Dina Juliana menunjukkan strategi pembelajaran PAI dalam upaya meningkatkan kedisiplinan peserta didik dilaksanakan melalui beberapa pendekatan <italic id="_italic-25">Pertama</italic>, guru berperan sebagai teladan dalam menunjukkan perilaku disiplin yang dapat ditiru oleh siswa. <italic id="_italic-26">Kedua</italic>,</p>
      <p id="_paragraph-25">guru memberikan arahan sistematis mengenai penerapan sikap disiplin dalam konteks kehidupan sekolah. <italic id="_italic-27">Ketiga</italic>, guru menyampaikan nasihat-nasihat edukatif guna membentuk kesadaran siswa terhadap pentingnya kedisiplinan. keempat, guru menerapkan konsekuensi atau sanksi yang bersifat edukatif bagi peserta didik yang melanggar tata tertib yang telah disepakati bersama di lingkungan sekolah[19].</p>
      <p id="_paragraph-26">Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji dan menganalisis strategi pembelajaran guru PAI dalam meningkatkan kedisiplinan siswa, dan (2) mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan siswa dalam belajar, beibadah, dan waktu. Penelitian ini berfokus pada strategi pembelajaran guru PAI dalam meningkatkan kedisiplinan siswa dalam proses pembelajaran.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-27">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Bogdandan Taylor menyatakan bahwa pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau bisa dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Pada penelitian kualitatif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil, artinya pengumpulan data yang dilakukan sering memperhatikan hasil dan akibat dari berbagai variabel yang saling mempengaruhi[20]. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus sendiri merupakan strategi penelitian yang di mana peneliti menyelidiki suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau kelompok individu secara mendalam[21] .</p>
      <p id="_paragraph-28">Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi ; wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun sumber data terdiri dari sumber data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kepala madrasah, guru dan siswa Sumber data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian</p>
      <p id="_paragraph-29">Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif Miles &amp; Huberman. Yaitu aktivitas dalam analisis data kualitatif yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas analisis data model Miles &amp; Hubermen dilakukan dengan tiga langkah, yaitu ; 1).Reduksi Data (<italic id="_italic-28">Data Reduction</italic>), 2).Penyajian Data (<italic id="_italic-29">Data Display</italic>), dan 3).Penyimpulan Data (<italic id="_italic-30">Conclusion Drawing/Verification</italic>)[22]. Secara siklus dapat dilihat pada gambar 1. berikut ;</p>
      <p id="_paragraph-30">Pada tahap reduksi data, peneliti melakukan proses penyaringan dengan merangkum, memilih dan menfokuskan pada informasi yang dianggap penting, kemudian mencari topik dan pola yang muncul. Selanjutnya, pada tahap penyajian data, informasi yang telah direduksi ditampilkan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, diagram alur, atau bentuk visual lainnya. Terakhir, pada tahap penarikan kesimpulan, peneliti merumuskan kesimpulan dan melakukan verifikasi untuk memastikan keabsahan data[23]</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="paragraph-fc2623aa3555ffba9627664c6e2163f6">
        <bold id="bold-b909f13bb1a686737e56b29635a45fee">A. Strategi Pembelajaran Guru PAI dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di MI Hasyim Asy’ari Sukodono Sidoarjo.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-31">Hasil penelitian ini menunjukan bahwa strategi pembelajaran guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat dan terintegrasi dengan program madrasah. Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak-pihak terkait dapat diproleh hasil bahwa guru Pendidikan Agama Islam memeiliki beberapa upaya dan strategi dalam pembelajaran untuk menanamkan jiwa</p>
      <p id="_paragraph-32">disiplin pada peserta didik. Secara detail hasil penelitian ini, penulis memaparkan diantara strategi pembelajaran guru Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut ;</p>
      <p id="paragraph-39aec5431ffec8dc35722e409f483394">
        <bold id="bold-37d12c46c7a86d108ee0c421c5883276">1. Guru Memberikan Teladan Bagi Siswa Dalam Kedisiplinan.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-33">Keteladanan adalah metode terbaik dalam pendidikan, karena dengan memberikan keteladanan, siswa melihat secara langsung bentuk prilaku yang sedang diajarkan gurunya. Hasil Pengamatan terhadap bapak Zamroni, M.Pd.I selaku guru yang mengajar mapel agama, dimana guru menunjukkan kedisiplinan pada dirinya terlebih dahulu dalam mengajar. Guru memasuki kelas tepat waktu, sesuai dengan jam pelajaran yang telah di tentukan, dan tidak meninggalkan kelas saat mengajar. Apa yang dilakukan oleh bapak Zamroni, M.Pd.I menunjukkan sosok guru yang teladan di hadapan siswanya. Dia telah menerapkan apa yang menjadi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara “<italic id="_italic-31">Ing</italic><italic id="_italic-32">Ngarso Sung Tuladha</italic>”, di depan memberi contoh. Guru dapat juga dikatakan sebagai Modeling bagi anak-anak muridnya agar dapat di gugu dan ditiru. Guru harus dapat memberikan contoh yang baik kepada peserta didiknya baik dari perbuatan maupun ucapan[24].</p>
      <p id="_paragraph-34">Sementara hasil observasi terhadap ibu Isti’anah, S.PdI yang juga selaku guru mapel agama, menunjukkan bahwa sikap keteladanan dalam kedisiplinan yang masih kurang. Guru memasuki ruang kelas setelah beberapa menit bel masuk. Sebagaimana hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas V, mereka menyebutkan bahwa seringnya telat Ibu Isti’anah memasuki kelas dikarenakan aktifitas di luar, yakni sebagai ibu rumah tangga beliau harus menjemput anaknya pulang sekolah. Namun di sisi lain beliau tidak pernah meninggalkan kelas selama proses pembelajaran dan tidak meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran selesai. Berdasarkan hasil observasi terhadap Ibu Isti’anah, S.PdI selaku guru mata pelajaran agama, ditemukan kurangnya konsisten guru dalam memberikan keteladanan disiplin waktu. Guru tercatat beberapa kali memasuki ruang kelas setelah bel masuk berbunyi. Temuan ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan peserta didik kelas V yang menyatakan bahwa keterlambatan tersebut disebabkan oleh aktivitas guru di luar sekolah, khususnya tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga yang mengharuskan beliau menjemput anaknya pulang sekolah.</p>
      <p id="_paragraph-35">Dalam perspektif pendidikan, ketepatan waktu guru merupakan salah satu indikator penting dari keteladanan kedisiplinan. Menurut Mulyasa (2013), guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan (role model) yang perilakunya secara langsung maupun tidak langsung akan ditiru oleh peserta didik. Keterlambatan guru dalam memasuki kelas berpotensi menurunkan efektivitas pembelajaran serta memberikan pesan implisit bahwa ketidakdisiplinan waktu merupakan hal yang dapat ditoleransi[25].</p>
      <p id="_paragraph-36">Namun demikian, hasil pengamatan menunjukkan adanya komitmen yang tinggi pada diri ibu Isti’anah untuk bersikap profesional dalam mengajar. Hal ini dapat dilihat dari sikap beliau yang tidak meninggalkan kelas selama proses pembelajaran hingga waktu berakhir. Ini membuktikan adanya sikap tanggungjawab dan konsisten seorang guru dalam melaksanakan mengemban tugas mengajar.</p>
      <p id="_paragraph-37">Temuan ini sejalan dengan pandangan Sardiman (2011) yang menyatakan bahwa profesionalisme guru mencakup beberapa dimensi, antara lain tanggung jawab, komitmen, dan kedisiplinan[26]. Dalam konteks ini, guru telah menunjukkan tanggung jawab dalam mengelola kelas dan menyelesaikan pembelajaran, tetapi belum sepenuhnya optimal dalam dimensi kedisiplinan waktu sebagai bagian dari keteladanan. Hasil penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa keteladanan guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui tindakan, ucapan, dan perilaku, semakin sering siswa melihat tindakan, ucapan, dan perilaku guru, maka semakin terbentuk kedisiplinan siswa[27].</p>
      <p id="_paragraph-38">Dari hasil observasi, dapat disimpulkan bahwa keteladanan yang ditunjukkan oleh guru Pendidikan Agama Islam masih belum terlaksana secara maksimal. Satu sisi guru Pendidikan Agama Islam menunjukkan komitmen dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas mengajar, namun di sisi lain masih terdapat kekurangan, yakni pada kurang disiplin waktu. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan dalam keteladanan disiplin waktu yang ditunjukkan oleh guru di hadapan peserta didik agar bisa menjadi figur teladan. Karena dalam perspektif teori pendidikan, keteladanan adalah unsur fundamental dalam pembentukan karakter peserta didik.</p>
      <p id="paragraph-ed24c36ae9ce3f13c599b664390a8fc8">
        <bold id="bold-24c5ea62c7410d52c406c048a37d05bf">2. Strategi pembelajaran yang aktif dan inovatif.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-39">Hasil wawancara dengan bapak Zamroni, M.PdI selaku guru Pendidikan Agama Islam, melakukan model pembelajaran secara kooperatif seperti problem solving dan gabungan beberapa metode pembelajaran ; diskusi kelompok, presentasi, dan ceramah. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas VI bahwa dalam pembelajaran, bapak Zamroni sering mengajak siswa-siswi untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil diskusinya.</p>
      <p id="_paragraph-40">Strategi semacam ini sangat tepat agar siswa merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran sehingga tertanam dalam jiwanya memiliki rasa tanggung jawab terhadap belajarnya. Selain itu agar tidak ada cela untuk melakukan aktifitas indisipliner selama kegiatan pembelajaran. Dan agar tidak menimbulkan rasa</p>
      <p id="_paragraph-41">bosan pada diri siswa. Pembelajaran aktif merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses belajar, di mana mereka secara aktif terlibat baik secara mental maupun fisik. Aktivitas belajar difokuskan pada upaya peserta didik dalam memahami materi, menemukan ide pokok, memecahkan masalah, serta mengaplikasikan pengetahuan ke dalam konteks kehidupan nyata[28]. Pembelajaran inovatif adalah pendekatan yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan ide-ide kreatif dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran. Ciri utama pembelajaran ini meliputi keberanian peserta didik dalam mengemukakan pendapat, kebebasan dalam menyampaikan tanggapan terhadap gagasan orang lain, serta keterbukaan dalam menerima dan menanggapi pandangan berbeda secara konstruktif[28].</p>
      <p id="_paragraph-42">Sementara itu, hasil pengamatan dan wawancara dengan Ibu Isti’anah, S.PdI selaku guru Pendidikan Agama Islam, beliau menerapkan kontrak belajar sebelum pembelajaran dimulai. Kontrak belajar ini dibuat dan disepakati dengan siswa sejak awal semester. Hal ini beliau lakukan untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada diri siswa terhadap tugas belajar yang mereka emban. Selain itu, juga untuk menanamkan kedisiplinan pada jiwa siswa selama proses pembelajaran. Hasil penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa kontrak belajar memang salah satu strategi yang efektif untuk mencipkatan pembelajaran yang kondusif dan efektif. Siswa juga lebih disiplin dalam mengikuti intruksi guru selama proses pembelajaran[29]. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, ibu Isti’anah, S.Pd.I juga membuat dan menerapkan aturan selama proses pembelajaran. Aturan itu dimaksudkan sebagai rambu-rambu dalam proses pembelajaran agar siswa tidak melakukan prilaku indisipliner. Adapun metode yang diterapkan Ibu Isti’anah,S.PdI selama proses pembelajaran adalah ceramah, demonstrasi dan diskusi kelompok. Ketiga metode tersebut selalu dipadukan untuk mendorong siswa belajar secara aktif, sehingga tidak ada celah bagi siswa untuk melakukan tindakan yang melanggar peraturan pembelajaran.</p>
      <p id="_paragraph-43">Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan Ibu Isti’anah, S.PdI selaku guru Pendidikan Agama Islam, diketahui bahwa beliau menerapkan kontrak belajar yang disepakati bersama siswa sejak awal semester. Penerapan kontrak belajar ini menunjukkan adanya upaya sistematis guru dalam menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab pada diri siswa sebelum proses pembelajaran dilakukan. Kontrak belajar menjadi kesepakan moral dan akademik antara pendidik dan siswa agar mereka memahami hak dan kewajiban serta konsekuensi yang harus mereka lakukan selama proses kegiatan pembelajaran.</p>
      <p id="_paragraph-44">Dari sudut pandang teoretis, penerapan kontrak belajar ini relevan dengan pandangan Mulyasa (2013) yang menegaskan bahwa kontrak belajar berfungsi sebagai perangkat strategis dalam pembelajaran guna membangun suasana kelas yang kondusif serta menumbuhkan komitmen peserta didik terhadap aturan yang disepakati secara kolektif. Melalui penerapan kontrak belajar, peserta didik tidak diposisikan semata-mata sebagai penerima pembelajaran, melainkan sebagai aktor yang berpartisipasi aktif dalam perumusan ketentuan kelas, sehingga terbentuk rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan proses pembelajaran[30].</p>
      <p id="_paragraph-45">Selain kontrak belajar, Ibu Isti’anah juga menetapkan dan menerapkan aturan pembelajaran sebagai rambu-rambu perilaku siswa di kelas. Aturan tersebut bertujuan untuk mencegah munculnya perilaku indisipliner dan menjaga keteraturan selama pembelajaran. Dalam perspektif manajemen kelas, hal ini sejalan dengan teori Sardiman (2011) yang menegaskan bahwa kedisiplinan peserta didik dapat terbentuk apabila terdapat aturan yang jelas, konsisten, dan diterapkan secara adil oleh guru. Guru berperan sebagai pengelola kelas yang harus mampu menciptakan suasana belajar yang tertib tanpa menimbulkan tekanan berlebihan pada siswa[26].</p>
      <p id="_paragraph-46">Dari sisi metode pembelajaran, Ibu Isti’anah memadukan metode ceramah, demonstrasi, dan diskusi kelompok. Kombinasi metode tersebut menunjukkan penerapan pendekatan pembelajaran aktif yang berorientasi pada keterlibatan siswa. Penerapan beberapa metode pembelajaran dalam setiap tatap muka sangatlah efektif dalam upaya menghidupkan pembelajaran yang aktif dan disiplin, karena setiap siswa berkesempatan untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Djamarah dan Zain (2010), penggunaan variasi metode pembelajaran dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dan meminimalkan kejenuhan, yang sering kali menjadi pemicu munculnya perilaku indisipliner di kelas. Dengan siswa terlibat aktif dalam diskusi dan demonstrasi, peluang untuk melakukan pelanggaran aturan menjadi semakin kecil[31]. Hasil penelitian terdahulu juga menyimpulkan bahwa kombinasi model pembelajaran seperti Problem Based Learning (PBL), Make A Match, dan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa[32].</p>
      <p id="_paragraph-47">Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa penerapan kontrak belajar, aturan pembelajaran, serta penggunaan metode pembelajaran yang variatif merupakan strategi pedagogis yang efektif dalam menanamkan nilai tanggung jawab dan kedisiplinan siswa. Praktik yang dilakukan Ibu Isti’anah tidak hanya relevan secara empiris, tetapi juga memiliki landasan teoritis yang kuat sesuai dengan pandangan para pakar pendidikan.</p>
      <p id="paragraph-52d087cb040d90863468945f1f904405">
        <bold id="bold-cfd34d4a4764ace6e9d65ece65ce36ad">3. Guru PAI memberikan pengarahan dan nasehat.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-48">Untuk menanamkan sikap kedisiplinan pada jiwa siswa, Bapak Zamroni, M.PdI memberikan nasehat dan pengarahan agar siswa disiplin dalam belajar dan ibadah, terutama pada awal kegiatan pembelajaran sebagai motivasi pada siswa bahwa disiplin adalah kunci keberhasilan dalam proses belajar. Sebagaimana hasil wawancara dengan beliau ;</p>
      <p id="_paragraph-49"><italic id="_italic-33">“Pertama, yang saya sampaikan adalah nasehat, kedua adalah pembiasaan. Namun dalam memberikan nasehat, saya juga menjelaskan kepada anak-anak tentang manfaat dari apa yang dinasehatkan pada </italic><italic id="_italic-34">mereka”</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-50">Sementara itu, hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas VI, mengatakan bahwa bapak Zamroni, M.PdI secara spontan selalu memberikan teguran dan nasehat ketika melihat siswa yang tidak tertib dalam proses pembelajaran, bahkan memberikan hukuman kepada siswa.</p>
      <p id="_paragraph-51">Nasehat semacam ini bisa menjadi sentuhan terhadap jiwa siswa jika dilakukan dengan tulus dan kasih sayang. Nasehat seorang guru terhadap muridnya merupakan suatu cara mendidik siswa dengan bahasa lisan atau tulisan dalam rangka menumbuhkan kesadaran siswa. Maka seorang guru tidak hanya sebagai pengajar saja, namun harus bisa menjadi seorang penasehat, motivator pagi siswanya.</p>
      <p id="_paragraph-52">Sebagaimana hasil penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa nasihat yang diberikan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk meningkatkan kedisiplinan dalam beribadah[33]. Hasil penelitian lainnya menyatakan bahwa upaya pemberian motivasi dan dorongan yang dilakukan oleh guru kepada siswa di akhir sesi pembelajaran melalui contoh, nasehat-nasehat, motivasi ataupun apresiasi kepada siswa yang disiplin merupakan upaya positif yang dapat memberikan semnagat bagi siswa untuk terus meningkatkan kedisiplinan, baik dalam ibadah maupun aktivitas lainnya[34].</p>
      <p id="_paragraph-53">Muhajir (2015) menyatakan bahwa nasehat merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran, yang tidak boleh ditinggalkan dalam membentuk akhlak ank didik. Dalam pendidikan Islam, nasehat adalah metode dakwah dalam menumbuhkan keimanan, memperbaiki moral, spiritual serta moral anak. Sebab nasihat ini dapat membukakan mata anak-anak pada hakekat sesuatu, dan mendorongnya menuju situasi luhur, dan menghiasinya dengan akhlaq yang mulia, dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam[35].</p>
      <p id="paragraph-a757005546ac0367c1ed0802c5a70ac0">
        <bold id="bold-6ad4b2d48a52b2139cd9e7770cf89ab6">4. Memberikan hukuman.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-54">Salah satu strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa adalah memberikan hukuman (<italic id="_italic-35">punishment</italic>) pada siswa yang melanggar peraturan. Upaya ini dilakukan guru Pendidikan Agama Islam untuk menyadarkan dan memberi efek jera pada siswa agar mereka tidak mengulangi pelanggaran berikutnya. Punishment atau hukuman merupakan bentuk reinforcement yang bersifat negatif yang bertujuan untuk menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang supaya mereka jangan membuat sesuatu yang bertentangan dengan norma yang dipercaya sebagai kebenaran. Hukuman atau punishment adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum[36].</p>
      <p id="_paragraph-55">Adapun bentuk-bentuk hukuman yang diterapkan oleh bapak Zamroni, M.P.dI selaku guru Pendidikan Agama Islam adalah siswa menulis beberapa ayat al-Quran secara berulang. Misalkan menulis surat Al-Fatihah 10 kali. Sementara bentuk hukuman yang diterapkan oleh Ibu Isti’anah, S.PdI juga selaku guru Pendidikan Agama Islam adalah memberikan tugas hafalan surat-surat pendek. Hal ini dikuatkan dengan hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas VI bahwa apabila terdapat siswa yang tidak disiplin dalam pembelajaran, Bapak Zamroni marah dan memberikan hukum dengan menulis 10 hingga 60 kali. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi prilaku indispliner siswa, karena mereka tidak ada jera jika diberi hukuman secara fisik, misalkan dijewer, push up dan sebagainya.</p>
      <p id="_paragraph-56">Berdasarkan hasil wawancara penelitian tersebut, dapat dianalisis bahwa penerapan hukuman edukatif berupa penulisan ayat Al-Qur’an dan hafalan surat-surat pendek oleh guru Pendidikan Agama Islam menunjukkan pendekatan pembinaan disiplin yang bersifat pedagogis dan religius. Hukuman yang diterapkan oleh Bapak Zamroni, M.PdI dan Ibu Isti’anah, S.PdI tidak hanya berfungsi sebagai bentuk kontrol perilaku terhadap siswa yang tidak disiplin, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui aktivitas kognitif dan spiritual. Pilihan menghindari hukuman fisik dan menggantinya dengan tugas menulis serta hafalan mencerminkan upaya guru untuk menanamkan efek jera yang konstruktif, sekaligus memperkaya pemahaman keagamaan siswa. Selain itu, bentuk hukuman semacam ini lebih memberi efek jera pada siswa daripada sekedar hukuman fisik seperti jewer telinga. Selain itu, hukuman menulis ini lebih bersifat edukatif, karena melatih anak menulis ayat al-Quran dengan baik dan benar. Dengan demikian, hukuman tersebut berpotensi mengurangi perilaku indisipliner tanpa menimbulkan dampak negatif secara psikologis, serta sejalan dengan prinsip pendidikan yang menekankan pembinaan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai positif. Hal ini sejalan dengan pandangan Mulyasa (2013) yang</p>
      <p id="_paragraph-57">menegaskan bahwa hukuman dalam pendidikan seharusnya bersifat mendidik, mengarahkan, dan memberikan efek jera tanpa melukai fisik maupun psikologis peserta didik[25].</p>
      <p id="_paragraph-58">Hasil penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa penerapan hukuman melalui kegiatan membaca dan menghafal Al-Qur’an berpengaruh positif terhadap perilaku remaja. Dalam hal ini, Al-Qur’an tidak hanya diposisikan sebagai sarana pemberian sanksi, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman moral dan spiritual yang mendorong internalisasi nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Lebih lanjut, penerapan hukuman berbasis bacaan dan hafalan Al-Qur’an berpotensi memberikan dampak jangka panjang, karena remaja tidak sekadar menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan, melainkan juga memperoleh kesempatan untuk melakukan refleksi diri melalui pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan perilaku tersebut[37].</p>
      <p id="_paragraph-59">Hal ini sejalan dengan tujuan hukuman sebagaimana diungkapkan oleh Jamaal Abdur Rahman bahwa tujuan hukuman dalam pendidikan Islam adalah bimbingan dan perbaikan, bukan untuk balas dendam atau kepuasan. Karena itulah, seorang pendidik harus memperhatikan watak dan kondisi peserta didiknya menjatuhkan hukuman kepadanya. dan pendidik hendaknya terlebih dahulu memberikannya informasi tentang kesalahan yang diperbuatnya, dan tidak lupa memberikan motivasi agar ia meningkat dengan semangat, dan pendidik hendaknya dapat memaafkan kesalahan dan kesalahan anak, jika ia berhasil memperbaiki diri [38].</p>
      <p id="paragraph-b8f62089aeb8f668ba4cd3f483f9115b">
        <bold id="bold-64c8fef2eedeba6149911cb5d9f3cdef">5. Melakukan pembiasaan ibadah dan doa.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-60">Hasil wawancara dengan bapak Zamroni, M.PdI selaku guru Pendidikan Agama Islam bahwa beliau memberikan pembiasaan kepada siswa dengan memberikan penjelasan tentang apa manfaat dari kegiatan pembiasaan tersebut. Begitu pula hasil observasi, peneliti mengamati adanya pembiasaan doa dan membaca al-Quran sebelum dan sesudah pelajaran dimulai, pembiasaan salat dhuha dan salat dzuhur berjama’ah. Pembiasaan sholat dhuha berjamaah masing-masing kelas secara bergiliran dilakukan di aula atau musholla sekolah, dan dilanjutkan ngaji kitab tentang akhlak. Sementara sholat dhuhur berjamaah dilakukan setelah jam pelajaran selesai bagi kelas IV sampai VI pada pukul 12.15 di Masjid Maqomus Syakur. Pembiasaan doa dilakukan dengan membaca al-Quran, membaca kalimat-kalimat thoyyibah dan doa sebelum belajar. Hal ini dikuatkan dengan hasil wawancara dengan bapak kepala madrasah, Abdurrohman, S.Pd beliau mengatakan bahwa program pembiasaan ibadah ini sudah menjadi program madrasah sudah bertahun-tahun. Program ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai tanggung jawab dan disiplin anak terhadah agamanya.</p>
      <p id="_paragraph-61">Dari hasi observasi tersebut, dapat dianalisis bahwa pembiasaan doa, membaca Al-Qur’an, serta pelaksanaan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah menunjukkan adanya upaya sistematis sekolah dalam membentuk karakter religius dan kedisiplinan peserta didik melalui rutinitas keagamaan yang terstruktur. Kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penguatan aspek spiritual, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai-nilai akhlak, tanggung jawab, dan kebersamaan, sebagaimana terlihat dari pengaturan jadwal sholat berjamaah yang terkoordinasi dan melibatkan seluruh kelas secara bergiliran. Pembiasaan membaca Al-Qur’an, kalimat thayyibah, dan doa sebelum belajar menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif serta menanamkan kesadaran religius sejak awal aktivitas akademik. Pembiasaan semacam ini berimplikasi pada peningkatan karakter disiplin pada siswa, karena dengan pembiasaan akan tertanam ke dalam jiwa siswa karakter tanggung jawab dan jiwa spiritual yang meningkat Dengan demikian, praktik pembiasaan ini berpotensi membentuk perilaku disiplin dan berakhlak mulia secara berkelanjutan, karena nilai-nilai keagamaan ditanamkan melalui pengalaman langsung dan konsisten dalam kehidupan sekolah sehari-hari.</p>
      <p id="_paragraph-62">Sebagaimana hasil penelitian Satryo Tri Atmaja bahwa pembiasaan strategis yang diterapkan di sekolah, terbukti berjalan efektif dalam meningkatkan kedisiplinan siswa dan membangun karakter[39]. Hasil penelitian yang lain menyebutkan bahwa siswa yang melaksanakan pembiasaan shalat berjamaah awal waktu memiliki sikap disiplin dan tanggung jawab yang tinggi, sehingga memiliki prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik [39]. Secara teori, model pembiasaan (<italic id="_italic-36">Habit foarming</italic>) merupakan suatu model pembelajaran dengan menerapkan pembiasaan pada peserta didik secara terus-menerus dan terprogram. Melalui pembiasaan ini yang akhirnya menjadi bisa dan terbiasa. Sama halnya seperti kedisiplinan dimana kedisiplinan akan tertanam dalam diri peserta didik apabila diterapkan secara terus-menerus[40].</p>
      <p id="paragraph-457e55b5ed86d658bd9ebe71e6245b30">
        <bold id="bold-179fdc9134f0276e2b469a4fd54d74f2">B. Faktor yang mempengaruhi dalam peningkatan kedisiplinan siswa.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-63">Ada beberapa faktor yang memberikan pengaruh dalam peningkatan kedisiplinan siswa di MI Hasyim Asy’ari. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Istianah, S.PdI selaku guru Pendidikan Agama Islam, diperoleh informasi bahwa diantara faktor yang menghambat kedisiplinan siswa adalah kurang adanya kesadaran siswa akan pentingnya disiplinan dan tanggungjawab terhadap tugas belajarnya. Selain itu rasa malas yang ada pada siswa juga menghambat kedisiplinan siswa. Selain itu adalah faktor keluarga dan lingkungan. Masih ada beberapa keluarga siswa yang kurang memberikan dukungan terhadap pembiasaan kedisiplinan siswa, sehingga hal ini dapat menghambat peningkatan kedisiplinan siswa. Lingkungan keseharian siswa, baik lingkungan di rumah, maupun teman teman mereka, juga memberikan pengaruh terhadap kedisiplinan siswa. Sementara hasil wawancara dengan bapak Zamroni, M.PdI yang juga selaku guru Pendidikan Agama Islam mengungkapkan bahwa faktor kedisiplinan siswa selama ini dipengaruhi oleh diri siswa itu sendiri, yakni sifat malas dan kurangnya motivasi diri. Selain itu, pengaruh dari lingkungan siswa itu sendiri, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau lingkungan teman sekitar. Beliau menambahkan ;“Jika lingkungan itu baik maka memberi pengaruh yang baik pula pada siswa, sebaliknya jika lingkungan itu buruk maka memberi pengaruh buruk pada siswa itu sendiri”.</p>
      <p id="_paragraph-64">Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam, diperoleh gambaran bahwa kedisiplinan siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik yang bersumber dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan di sekitarnya. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam faktor yang menghambat dan faktor yang mendukung peningkatan kedisiplinan siswa.</p>
      <p id="paragraph-37136ee5b8c1297c655857a1eaa52b9f">
        <bold id="bold-b899bd64f3c1e278090345ba45f45d76">1. Faktor yang menghambat peningkatan kedisiplinan siswa</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-65">Hasil wawancara menunjukkan bahwa salah satu faktor utama yang menghambat peningkatan kedisiplinan siswa adalah faktor internal, yaitu rendahnya kesadaran siswa akan pentingnya disiplin serta lemahnya rasa tanggung jawab terhadap tugas-tugas belajar. Kondisi ini diperparah oleh adanya sifat malas dan rendahnya motivasi belajar siswa. Selain faktor internal, faktor eksternal juga berperan signifikan dalam menghambat peningkatan kedisiplinan siswa, terutama lingkungan keluarga dan lingkungan sosial. Kurang adanya dukungan di lingkungan keluarga dalam pembiasaan disiplin, minimnya pengawasan terhadap kegiatan belajar anak di rumah serta kurangnya konsisten dalam penerapan disiplin menyebabkan nilai-nilai disiplin tidak tertanam kuat dalam diri siswa. Padahal seharusnya keluarga menjadi lembaga pebdidikan pertama bagi siswa dalam pembentukan karakter.</p>
      <p id="_paragraph-66">Lemahnya motivasi dan kesadaran diri siswa menunjukkan rendahnya kemampuan pengendalian diri, yang selaras dengan teori self-regulated learning Zimmerman (2013) bahwa disiplin belajar sangat bergantung pada regulasi diri dan motivasi intrinsik[41]. Sardiman (2011) menegaskan bahwa motivasi intrinsik merupakan pendorong utama dalam membentuk perilaku belajar yang positif, termasuk perilaku disiplin. Siswa yang tidak memiliki motivasi dari dalam diri cenderung menunjukkan sikap acuh terhadap aturan dan kewajiban akademik, sehingga kedisiplinan sulit berkembang secara optimal[42].</p>
      <p id="paragraph-22cf6f0fa0fc8e58c5b39e7571bcd8a8">
        <bold id="bold-0fd880de030caa53c9940d67561f1653">2. Faktor yang Mendukung Peningkatan Kedisiplinan Siswa</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-67">Di sisi lain, hasil wawancara juga mengindikasikan adanya faktor-faktor yang mendukung peningkatan kedisiplinan siswa. Faktor internal yang mendukung antara lain adalah adanya kesadaran diri siswa, motivasi belajar yang baik, serta kemauan untuk bertanggung jawab terhadap tugas dan aturan sekolah. Ketika siswa memiliki motivasi intrinsik yang kuat, mereka cenderung mematuhi aturan dan melaksanakan kewajiban belajar secara konsisten tanpa harus selalu diberikan pengawasan atau hukuman. Hal ini sejalan dengan pandangan Uno (2011) yang menyatakan bahwa motivasi internal berperan penting dalam mendorong kemandirian dan kedisiplinan belajar siswa[43]. Sedangkan faktor eksternal pendukung peningkatan kedisiplinan siswa meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial yang kondusif. Dukungan di lingkungan keluarga melalui pembiasaan tugas harian di rumah, suri tauladan dari orang tua. Komunikasi yang harmonis antara orang tua dan pihak madrasah juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan kedisiplinan siswa. Lingkungan sekolah, melalui peran guru dan segenap tenaga kependidikan dalam memberikan keteladanan, pembiasaan serta penerapan peraturan madrasah yang penuh tanggung jawab.</p>
      <p id="_paragraph-68">Adapun pandangan Bapak Zamroni,M.PdI tentang baik dan buruknya lingkungan juga relevan dengan teori belajar sosial Bandura (2018), yang menekankan bahwa perilaku disiplin berkembang melalui proses keteladanan dan interaksi sosial[44]. Hasil penelitian terdahulu juga menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kedisiplinan siswa meliputi faktor intern yang mencakup minat dan emosi siswa, serta faktor ekstern yang mencakup pengaruh dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan pengaruh teman sebaya[45]. Dengan demikian, adanya sinergi antara dorongan kesadaran dan motivasi siswa serta pembiasaan disiplin di lingkungan keluarga, dan sekolah adalah suatu hal yang tak bisa dipisahkan dalam peningkatan kedisiplinan siswa.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-69">Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di MI Hasyim Asy’ari Sukodono Sidoarjo dalam meningkatkan kedisiplinan siswa bersifat holistik, terintegrasi, dan berlandaskan pada prinsip pedagogi religius. Strategi tersebut berhasil diimplementasikan melalui lima dimensi utama; 1). Keteladanan Guru (Modeling), Kedisiplinan siswa ditingkatkan melalui contoh nyata perilaku guru Pendidikan Agama Islam. 2). Manajemen Pembelajaran yang efektif, 3). Pemberian nasihat dan motivasi yang dilakukan secara persuasif berfungsi sebagai penguatan spiritual dan psikologis, dengan menanamkan pemahaman bahwa sikap disiplin merupakan faktor fundamental dalam mencapai keberhasilan belajar. 4). Penerapan hukuman edukatif, yang bersifat mendidik dan bernuansa religius, seperti kegiatan menulis atau menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, digunakan sebagai alternatif terhadap hukuman fisik, sehingga tetap berorientasi pada pembinaan perilaku dan penguatan nilai-nilai moral peserta didik. 5). Pembiasaan ibadah, Program pembiasaan ibadah (seperti salat Dhuha dan Dzuhur berjama’ah, serta doa harian) terbukti secara sistematis membentuk karakter religius, tanggung jawab, dan kedisiplinan siswa melalui rutinitas yang konsisten. Kedisiplinan siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Faktor internal meliputi rendahnya kesadaran akan pentingnya disiplin, lemahnya rasa tanggung jawab, sifat malas, serta rendahnya motivasi belajar siswa, yang menyebabkan perilaku disiplin belum terbentuk secara optimal. Sementara itu, faktor eksternal mencakup kurangnya dukungan keluarga, kurangnya konsisten pembiasaan disiplin di lingkungan rumah, serta pengaruh lingkungan sosial dan pergaulan siswa yang kurang kondusif. Di sisi lain, peningkatan kedisiplinan siswa dapat didukung oleh adanya motivasi intrinsik, kesadaran diri, serta tanggung jawab belajar yang baik, yang diperkuat melalui lingkungan keluarga dan sekolah yang positif, keteladanan guru, serta penerapan aturan yang konsisten.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
