<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Implementation	of	the	SNC	(Student	Need	Care)	Program	in Overcoming Reading Literacy Deficiencies</article-title>
        <subtitle>Implementasi Program SNC (Student Need Care) dalam Mengatasi Ketertinggalan Literasi Membaca</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Amroini</surname>
            <given-names>Dluha Muthiatul</given-names>
          </name>
          <email>naktikmecca@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Univesitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-02-05">
          <day>05</day>
          <month>02</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>11</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-d6944bc4cbd8ae582a1cfddef261a5f8">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-13">Komponen utama dalam peningkatan mutu sumber daya manusia adalah pendidikan. [1] Salah satu komponen dasar dalam pendidikan adalah literasi, yang mencakup kemampuan membaca dan menulis. Literasi yang baik tidak hanya mendukung proses belajar di sekolah, tetapi juga mempengaruhi kemampuan individu dalam memahami informasi, berkomunikasi, dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.[2] Namun, di banyak daerah, terutama di kawasan dengan keterbatasan ekonomi dan pendidikan, masih banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam menguasai keterampilan membaca.[3] Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya pengajaran di usia dini hingga minimnya dukungan dari lingkungan sekitar, yang akhirnya menyebabkan ketertinggalan dalam pencapaian literasi.[4]</p>
      <p id="_paragraph-14">Permasalahan rendahnya kemampuan literasi membaca juga ditemukan di madrasah yang berada di wilayah pedesaan. MI Fajrul Islam 02 Pulo merupakan madrasah ibtidaiyah yang terletak di lingkungan dengan karakteristik sosial ekonomi menengah ke bawah. Sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai pengrajin kemasan dan pekerja di toko emas dengan jam kerja yang panjang, sehingga pendampingan belajar di rumah belum dapat dilakukan secara optimal. Kondisi tersebut berdampak pada kesiapan literasi awal siswa, khususnya pada kelas rendah, yang masih menunjukkan kemampuan membaca yang belum merata.</p>
      <p id="_paragraph-15">Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, MI Fajrul Islam 02 Pulo melaksanakan program Student Need Care (SNC), yaitu program pendampingan membaca yang dirancang dan dikembangkan oleh pihak sekolah sebagai upaya untuk mengatasi ketertinggalan kemampuan membaca pada siswa kelas rendah. Program SNC difokuskan pada siswa yang membutuhkan perhatian khusus dalam literasi awal melalui pemetaan kemampuan membaca awal, pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan, serta penambahan waktu membaca di luar jam pelajaran reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan program SNC di MI Fajrul Islam 02 Pulo, dengan tujuan memahami proses implementasi program, mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya, serta menganalisis kontribusi SNC dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa.</p>
      <p id="_paragraph-16">Adapun penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa program remedial membaca efektif dalam meningkatkan literasi siswa. Penelitian oleh Isma dkk [5] menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kesulitan membaca dapat meningkatkan kemampuan literasi mereka secara signifikan dengan berpartisipasi dalam program membaca perbaikan yang ditawarkan secara berkelompok di kelas bawah dan satu lawan satu di kelas atas. Selain itu, penelitian oleh Siti Maisaroh dkk [6] menyimpulkan bahwa evaluasi berkala dalam program pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar, karena memungkinkan penyesuaian pembelajaran sesuai dengan perkembangan siswa. Penelitian oleh Sahiruddin Sahiruddin dan Sri Herminingum [7] lebih lanjut menjelaskan betapa pentingnya bagi orang tua untuk mendorong pembelajaran di rumah, yang terbukti dapat mempercepat peningkatan kemampuan membaca siswa yang terlibat dalam program membaca tambahan. Penelitian yang akan dilakukan ini mengembangkan temuan-temuan tersebut dengan lebih fokus pada implementasi program Student Need Care (SNC) di Madrasah pedesaan, yang mencakup evaluasi berkala, keterlibatan orang tua, dan kendala yang dihadapi dalam menjalankan program SNC ini.</p>
      <p id="_paragraph-17">Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa program remedial membaca dan evaluasi berkala bisa membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa, masih sedikit yang memfokuskan diri pada pengalaman nyata dan tantangan yang dihadapi oleh madrasah kecil di daerah pedesaan, terutama dalam menerapkan program seperti SNC.[8] Banyak hal yang belum benar-benar dipahami, seperti sejauh mana peran orang tua, kendala yang dihadapi guru, serta bagaimana strategi yang tepat untuk membuat program ini berhasil dan berkelanjutan di lingkungan dengan sumber daya terbatas.[9] Kurangnya data dan pengalaman langsung dari lapangan membuat kita belum tahu pasti apa yang benar-benar efektif, serta bagaimana cara terbaik mengatasi hambatan yang muncul. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan agar dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dan nyata tentang bagaimana program ini berjalan di lapangan, serta solusi yang dapat membantu meningkatkan kualitas literasi siswa di madrasah seperti ini.[10]</p>
      <p id="_paragraph-18">Di sebuah madrasah yang berlokasi di wilayah pedesaan, persoalan rendahnya kemampuan membaca pada siswa kelas 1 dan 2 menjadi tantangan pendidikan yang cukup serius.[11] Sebagian besar anak memasuki jenjang sekolah dasar tanpa memiliki keterampilan membaca dasar, karena pada tingkat pendidikan anak usia dini seperti TK, kegiatan membaca belum diajarkan secara sistematis maupun formal.[12] Dalam upaya mengatasi kondisi tersebut, madrasah melalui program Student Need Care (SNC) menyediakan waktu tambahan khusus untuk pembelajaran membaca bagi siswa yang membutuhkan pendampingan intensif. Meskipun demikian, hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan program ini masih memerlukan penguatan agar dampaknya lebih optimal. Beberapa aspek yang perlu ditingkatkan antara lain pelaksanaan evaluasi berkala untuk memetakan perkembangan siswa, peningkatan komunikasi antara guru dan orang tua agar terdapat kesinambungan belajar di</p>
      <p id="_paragraph-19">rumah, serta pengelompokan siswa sesuai tingkat kemampuan membaca mereka sehingga pendampingan dapat lebih terarah dan individual. Dengan adanya dukungan orang tua serta kerja sama yang baik antara sekolah dan keluarga, program SNC memiliki peluang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan membaca secara lebih optimal. Selain itu, program ini juga dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan literasi di lingkungan madrasah pedesaan.[13]</p>
      <p id="_paragraph-20">Oleh karena itu, terdapat beberapa hal yang perlu dikaji lebih lanjut terkait pelaksanaan Program Student Need Care (SNC) di madrasah pedesaan. Pertama, kajian ini perlu melihat bagaimana pelaksanaan program SNC dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca siswa, khususnya pada kelas I dan II, serta mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul selama proses pelaksanaannya. Kedua, perlu ditelaah bagaimana pelaksanaan evaluasi berkala terhadap siswa peserta program SNC dapat mendukung peningkatan efektivitas pembelajaran membaca. Selain itu, keterlibatan orang tua juga menjadi aspek penting untuk mengetahui sejauh mana dukungan yang diberikan dalam membantu perkembangan kemampuan membaca siswa di rumah. Terakhir, kajian ini diarahkan untuk memahami bagaimana program SNC secara keseluruhan dapat mengoptimalkan hasil pembelajaran dan mengurangi perbedaan kemampuan membaca antar siswa.</p>
      <p id="_paragraph-21">Madrasah yang terletak di daerah pedesaan dengan mayoritas masyarakat memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah, sehingga hal tersebut menjadi tantangan besar dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, terutama dalam hal kemampuan membaca. Banyak siswa di kelas 1 dan 2 yang masih kesulitan membaca, yang tentunya menjadi hambatan dalam proses belajar mereka. [14] Selain itu, kurangnya dukungan dari orang tua juga memperburuk keadaan, karena tidak semua orang tua mampu memberikan bantuan dalam belajar di rumah.[15] Di kelas 1 dan 2, pengajaran membaca biasanya dilakukan oleh wali kelas masing-masing, namun masih banyak siswa yang membutuhkan perhatian ekstra. Untuk itu, program Student Need Care (SNC) hadir sebagai solusi. Program ini menyediakan tambahan waktu membaca bagi siswa kelas 1 dan 2 yang didampingi langsung oleh wali kelas masing-masing. Pendampingan tersebut bertujuan membantu siswa menguasai keterampilan membaca secara bertahap sesuai dengan kemampuan mereka. Selain itu, siswa kelas 3 hingga 6 yang masih mengalami kesulitan membaca juga memperoleh pendampingan khusus dan diberi guru khusus dalam pelaksanaan program ini, sehingga tidak ada siswa yang tertinggal dalam belajar membaca. [16] Dengan adanya program SNC, diharapkan ketertinggalan literasi siswa madrasah desa, menciptakan suasana belajar yang lebih mendukung, serta memberikan perhatian penuh bagi siswa yang membutuhkan bantuan lebih.[17]</p>
      <p id="_paragraph-22">Model pembelajaran literasi awal yang dijadikan dasar dalam penelitian ini mengacu pada pedoman resmi yang disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, yaitu Model Pembelajaran Literasi untuk Pembaca Awal [18]. Pedoman ini menjelaskan bahwa pembelajaran membaca awal perlu dirancang secara berjenjang dan kontekstual, dimulai dari pengenalan huruf dan suku kata, penggabungan kata, hingga membaca kalimat sederhana secara bermakna, dengan tujuan meningkatkan kapasitas literasi dasar siswa kelas awal. Buku pedoman ini juga menekankan pentingnya kegiatan membaca yang menyenangkan, pemanfaatan sumber bacaan yang sesuai tingkat keterampilan siswa, serta pembiasaan membaca secara konsisten di lingkungan sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran literasi dasar. [19] Pendekatan tersebut selaras dengan pelaksanaan program Student Need Care (SNC) yang diterapkan di MI Fajrul Islam 02 Pulo, di mana kegiatan membaca dirancang berdasarkan pemetaan kemampuan awal siswa, dilakukan secara individual atau berkelompok, dan disesuaikan dengan kebutuhan belajar masing-masing siswa untuk mencapai keterampilan membaca yang lebih baik. Dengan demikian, implementasi SNC dapat dipahami sebagai wujud konkrit penerapan prinsip pembelajaran literasi awal yang dianjurkan oleh Kemendikbud [20].</p>
      <p id="_paragraph-23">Penelitian ini bertujuan untuk 1. Menganalisis implementasi SNC di MI Fajrul Islam 02 Pulo, 2. Mengidentifikasi tantangan pelaksanaan SNC di MI Fajrul Islam 02 Pulo, 3. Mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program SNC.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-1f9f4e95e4b961f4fd12bdb5f5a87447">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-25">Penelitian ini memberikan gambaran mendalam mengenai pelaksanaan program Student Need Care (SNC) di Madrasah pedesaan melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung proses pelaksanaan program, serta studi dokumentasi untuk memperoleh informasi yang komprehensif terkait dinamika pelaksanaan SNC di lapangan. Tujuh informan dipilih secara purposive karena keterlibatan langsung mereka dalam pelaksanaan program, yaitu dua guru kelas 1 dan 2 yang bertanggung jawab pada pengajaran membaca awal, satu guru pendamping khusus membaca yang menangani siswa kelas 3 hingga 6, dua orang tua sebagai representasi dukungan keluarga, bagian kurikulum sebagai penyusun program, serta kepala madrasah sebagai pengambil kebijakan strategis. Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini berupaya menjelaskan bagaimana proses evaluasi pelaksanaan SNC berlangsung, tantangan yang muncul selama pelaksanaannya, serta upaya optimalisasi yang dapat dilakukan untuk menjadikan program SNC lebih efektif dan berkelanjutan.[21]</p>
      <p id="_paragraph-26">Tiga langkah utama model analisis kualitatif Miles dan Huberman digunakan untuk menjalankan prosedur pemrosesan data. Penyaringan dan pengklasifikasian informasi dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sesuai dengan fokus penelitian seperti penerapan SNC, kesulitan, penilaian, dan keterlibatan orang tua—merupakan langkah awal dalam proses reduksi data. Kedua, untuk memudahkan peneliti mengidentifikasi tren dan hubungan antar data, data disajikan menggunakan tabel tematik dan narasi deskriptif. Ketiga, untuk menjamin keabsahan dan integritas data, simpulan dan verifikasi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan dengan membandingkan data dari beberapa sumber. Triangulasi data digunakan sebagai upaya menjaga validitas hasil penelitian. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan gambaran utuh dan mendalam tentang efektivitas serta potensi pengembangan program SNC (Student need care) di madrasah tersebut. [22]</p>
    </sec>
    <sec id="heading-ae9bd1b638152ef52ca7134199fda087">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-4af08dece17dbccf9867a131e31d6943">
        <title>
          <bold id="bold-3201fcbb1e88c4aa63d3510740123f29">A.Hasil</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-29">Program Student Need Care (SNC) di Madrasah Ibtidaiyah pedesaan dirancang sebagai upaya pemenuhan kebutuhan literasi dasar bagi siswa kelas 1 dan 2 yang masih mengalami hambatan dalam keterampilan membaca. Perbedaan kemampuan membaca dasar banyak ditemukan di wilayah pedesaan. Sebagian besar orang tua bekerja sepanjang hari, sehingga waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah menjadi terbatas. Kondisi sosial dan ekonomi tersebut berdampak pada minimnya stimulasi literasi awal yang seharusnya diperoleh anak sejak usia dini.</p>
        <p id="_paragraph-30">Pada tahap awal pelaksanaan program SNC, guru melakukan asesmen awal/ diagnostik untuk mengetahui kemampuan membaca siswa. Hasil asesmen tersebut kemudian digunakan untuk memetakan kemampuan dan mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat keterampilan membaca. Melalui langkah ini, guru dapat memahami kebutuhan belajar masing-masing siswa dan merancang pendampingan yang lebih sesuai. Selanjutnya, pembelajaran dilaksanakan dengan memadukan latihan fonik, pengenalan suku kata, pendekatan pendekatan pembelajaran yang melibatkan dua atau lebih indera secara bersamaan/ multisensori (penglihatan/visual, pendengaran/auditori, perabaan/taktil, gerakan/kinestetik), serta latihan yang disusun secara bertahap agar kegiatan belajar sejalan dengan kemampuan dasar setiap anak.</p>
        <p id="_paragraph-31">SNC dilaksanakan melalui tambahan waktu membaca selama kurang lebih satu jam di luar jam pelajaran utama. Pada waktu ini, guru memiliki kesempatan untuk mendampingi siswa secara lebih dekat, terutama siswa yang masih kesulitan mengenal huruf dan menggabungkan suku kata. Kegiatan membaca ini umumnya dilakukan dalam kelompok kecil agar guru dapat memberi perhatian lebih pada setiap siswa. Latihan dilakukan secara bertahap dan diulang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Pola pendampingan seperti ini dinilai sesuai dengan kondisi madrasah pedesaan yang memiliki keterbatasan sarana, namun tetap berupaya membangun kemampuan literasi dasar siswa secara optimal.</p>
        <p id="_paragraph-32">Gambar 1</p>
        <fig id="figure-panel-42bf747cf137e3ed5be8a9aff9434117">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-55352c489387489c09ab25223f7a5b71"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-44c8f16c6f0a389881233300021bde63" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="1975-1.jpg"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-33">Gambar 2</p>
        <fig id="figure-panel-332d955f7e83c7d27c5fc2010382ce49">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-21a9fc2592edfc2a6c63cbc84c0e628c"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-be2e91aa610775c855e7fa70a789d61d" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="1975-2.jpg"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-34">Berdasarkan Gambar , terlihat perbandingan perkembangan kemampuan membaca siswa kelas 1 dan kelas 2 setelah mengikuti program Student Need Care (SNC). Pada kelas 1, persentase siswa yang belum lancar membaca pada awal tahun pembelajaran mencapai sekitar 70%, kemudian menurun menjadi sekitar 40% pada akhir tahun setelah mendapatkan pendampingan membaca melalui program SNC. Sementara itu, pada kelas 2, persentase siswa yang belum lancar membaca juga mengalami penurunan, dari sekitar 40% pada awal tahun menjadi sekitar 20% pada akhir tahun. Penurunan persentase tersebut menunjukkan bahwa program SNC memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan membaca siswa secara bertahap dan berkelanjutan pada kedua jenjang kelas.</p>
        <p id="_paragraph-35">Meskipun demikian, implementasi SNC dihadapkan pada sejumlah tantangan khas daerah pedesaan, dimana durasi sekolah yang panjang menyebabkan banyak siswa mengalami kelelahan ketika memasuki sesi tambahan, sehingga berdampak pada tingkat fokus dan retensi mereka. Sebagian siswa juga memperlihatkan perkembangan yang lambat akibat daya ingat yang lemah, kesulitan konsentrasi, serta kebiasaan belajar yang belum terbentuk. Keterbatasan keterlibatan orang tua semakin memperkuat hambatan ini. Sebagian besar orang tua bekerja sepanjang hari dan belum memahami pentingnya penguatan literasi di rumah, sehingga siswa tidak memperoleh latihan lanjutan setelah belajar di sekolah. Situasi tersebut mencerminkan persoalan struktural yang sering dihadapi madrasah pedesaan dalam melaksanakan program pendampingan literasi.</p>
        <p id="_paragraph-36">Keberhasilan SNC sangat dipengaruhi oleh peran guru dalam mengelola pembelajaran secara fleksibel. Dalam pelaksanaannya, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendampingi siswa sesuai dengan kemampuan dan cara belajar masing-masing. Guru memanfaatkan pendekatan multisensori, permainan edukatif, serta latihan yang dilakukan secara berulang untuk membantu siswa mengenal huruf, suku kata, dan kalimat sederhana. Meskipun demikian, hasil pembelajaran sangat bergantung pada kreativitas guru dalam menyederhanakan materi dan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekolah sebagai media belajar.</p>
        <p id="_paragraph-38">Selain faktor yang berasal dari sekolah, kondisi keluarga dan lingkungan sosial juga berpengaruh terhadap keberlanjutan proses belajar siswa. Rendahnya budaya literasi di rumah menyebabkan siswa tidak memperoleh penguatan setelah kegiatan membaca di sekolah. Banyak orang tua masih menganggap bahwa pengembangan kemampuan membaca sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru, akibatnya, latihan membaca di luar sekolah tidak berlangsung secara konsisten, sehingga perkembangan kemampuan membaca siswa berjalan lebih lambat. Temuan ini memperkuat hasil sebelumnya bahwa keberhasilan program SNC tidak hanya ditentukan oleh strategi pembelajaran di sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan dari lingkungan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang lebih intensif antara guru dan orang tua untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendampingan membaca di rumah, khususnya di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan sosial dan ekonomi.</p>
        <p id="_paragraph-39">Pelaksanaan program SNC perlu didukung oleh perencanaan yang jelas, pengaturan jadwal yang menyesuaikan kondisi sekolah, serta upaya peningkatan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran literasi dasar. Apabila kerja sama antara berbagai pihak dapat berjalan dengan baik, program SNC memiliki peluang untuk berkembang sebagai upaya bersama dalam memperkuat kemampuan literasi awal di madrasah. Dengan demikian, program SNC di Madrasah Ibtidaiyah pedesaan dapat menjadi salah satu model pendampingan literasi yang relevan dalam menjawab kesenjangan pendidikan di wilayah pedesaan.</p>
        <p id="_paragraph-40">Tabel 1</p>
        <table-wrap id="table-figure-e1c586ff7f56f51bbe131c16ecc8c91a">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-16ad3ff0cda251a8daa271aa1b81d345"/>
          </caption>
          <table id="table-eeb700c506a69205e4a0be543930d6e5">
            <tbody>
              <tr id="table-row-d151fd6dbe5ed3ac0625d0de30b55bc4">
                <th id="table-cell-6820800cfbe013e84701d245797d2e94"> Hambatan </th>
                <th id="table-cell-f7743ae136fa7345703033fe0baa4b41"> Penyebab </th>
                <th id="table-cell-7beb5b45fed5acf6d642691846277d95"> Dampak </th>
                <th id="table-cell-8345c720f937772979e94eb7285a4866"> Solusi SNC </th>
              </tr>
              <tr id="table-row-0f404db42dea39f1975bb363d6c46d73">
                <td id="table-cell-7f7347f300fd0126193f592c01a87d54"> Kelelahan siswa saat sesi tambahan </td>
                <td id="table-cell-06f8b0915a1addcdb455776ee9bdaffc"> Jadwal belajar reguler terlalu padat </td>
                <td id="table-cell-c036701cef0e4bf51b969b5006100fcb"> Siswa tidak fokus, cepat lelah, sulit menerima   materi </td>
                <td id="table-cell-858b70f7db499703e018a787dcb0d7f1"> Penjadwalan ulang sesi SNC, pendekatan   pembelajaran interaktif &amp; menyenangkan </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-690860dd1f7a5f81479dbf9f8d2c26c9">
                <td id="table-cell-f6191de07c26fc9fcc221679476ebc5b"> Daya ingat dan konsentrasi rendah </td>
                <td id="table-cell-a08fa28e1aaa7b1878c7038a2cadde27"> Kurangnya latihan berulang dan metode pembelajaran yang variatif </td>
                <td id="table-cell-4c9ad3add445e9e78808f625725cfaaa"> Perkembangan literasi lambat, siswa sering lupa materi </td>
                <td id="table-cell-a8a3b2f84a65e02af8b5a4f6f4d8c87b"> Penggunaan metode multisensori, pengulangan terstruktur, game edukatif </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b33ababdf3312da7910cdda8db3a91ea">
                <td id="table-cell-a746a3b41475ec5e0d42b1fdeef113f6" rowspan="2"> Minimnya keterlibatan orang tua </td>
                <td id="table-cell-da4499e18be3df5d4a982e23f292d9bb" rowspan="2"> Orang tua sibuk bekerja, kurang paham pentingnya literasi di rumah </td>
                <td id="table-cell-2f72f38bc7582cb5cd942b9b4cced783" rowspan="2"> Siswa tidak mendapat penguatan belajar di rumah </td>
                <td id="table-cell-fa3ca4f5efaea719dee67a5c865f6df4"> Meningkatkan komunikasi sekolah-orang tua, edukasi </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-afee6f89adeb082abaaf0c777c5959c6">
                <td id="table-cell-41e73aee5846cd6174210641f27ba112"> Pentingnya peran keluarga dalam membaca </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b48fb33727356daad234bff3c6098495">
                <td id="table-cell-149d7d4235361c248bd73778abe7500e"> Beban kerja guru tinggi </td>
                <td id="table-cell-39ae50ce2d943a9d852b891d3b0f898c"> Guru   menangani kelas reguler + program SNC tanpa tambahan SDM </td>
                <td id="table-cell-db29843c263d00c848f0d768b9765fee"> Kualitas pendampingan kurang optimal, risiko kelelahan guru </td>
                <td id="table-cell-82220354fe73808d5139ed0bd64f3d32"> Pelatihan manajemen waktu guru, pembagian tugas, pelibatan guru pendamping </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c44ed98c08dc50bc4e84245acfed23d8">
                <td id="table-cell-1aac0016eb224d6725664b3f5c64e71f"> Media belajar terbatas </td>
                <td id="table-cell-d7eb2347381558b795c83b9f222af27d"> Sumber daya sekolah terbatas, tidak   ada anggaran khusus </td>
                <td id="table-cell-c752f53fc35de24f2eede4d0910bfe01"> Guru kesulitan mengembangkan metode   yang menarik </td>
                <td id="table-cell-6b3e0f8d7ebe3bc26e2c02c6d7b27692"> Pemanfaatan bahan sederhana jadi media belajar kreatif, pelatihan guru dalam inovasi pembelajaran </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9ccd8bd5ec9fe960abf5c9b494a07874">
                <td id="table-cell-a2a4eb33e823249cd728c7e6fffc39cd"> Perbedaan kemampuan antar siswa </td>
                <td id="table-cell-844a5774245d804662051f1b123a06a0"> Latar belakang literasi awal siswa sangat Beragam </td>
                <td id="table-cell-d52590e4c7d7533c5278c96e77ae55c6"> Progres tidak merata, beberapa siswa tertinggal </td>
                <td id="table-cell-7cbc216d568e5723d2a5c39af03a9ca9"> Pemetaan awal, pengelompokan level kemampuan,   evaluasi berkala individual </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5133a4da90dedafe1ff20516d1c38de8">
                <td id="table-cell-bf37fe2221d19b8f5ef1f90f5b035b73"> Kurangnya   evaluasi sistematis awal </td>
                <td id="table-cell-af6147a4cfe815df8f6126ac55e70ea8"> Evaluasi tidak dilakukan   secara berkala sebelum SNC Disempurnakan </td>
                <td id="table-cell-0840aad34628bb2b0d65c89a798d805c"> Tidak terpantau perkembangan siswa, sulit menentukan metode   terbaik </td>
                <td id="table-cell-de6bf7bba8e7c4dcde66df72b76eda77"> Evaluasi mingguan &amp; bulanan, catatan   perkembangan tiap siswa, koordinasi guru-wali kelas-orang tua </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <sec id="heading-76a8e50bca7def0878895932ca7d3ab4">
          <title>
            <bold id="bold-868d291e7eef87be81f707690fcb7182">B.Pembahasan</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-58">Gambar 3</p>
          <p id="_paragraph-59">
            <bold id="bold-a13ea46e20bde93157af45b1c0dae8c0">Diagram Lingkaran: Standar Keberhasilan Program Membaca</bold>
          </p>
          <fig id="figure-panel-14b1c5ab793b282aac430ddabf1bd004">
            <label>Figure 3</label>
            <caption>
              <p id="paragraph-89a107f69133452d16b596ababc5a8a6"/>
            </caption>
            <graphic id="graphic-c6539f7b29d6012d0849cd9c72941f42" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="1975-3.jpg"/>
          </fig>
          <p id="_paragraph-61">Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pelaksanaan Program Student Need Care (SNC) di Madrasah Ibtidaiyah yang berada di wilayah pedesaan menunjukkan kondisi dan tantangan yang beragam. Walaupun program ini dijalankan dengan keterbatasan sarana dan waktu, pelaksanaannya tetap memberikan kontribusi dalam mendukung perkembangan literasi awal siswa pada kelas rendah. Salah satu bentuk kegiatan utama adalah penambahan waktu membaca selama kurang lebih satu jam setelah pembelajaran reguler. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk berlatih membaca secara lebih terarah, terutama bagi siswa yang masih berada pada tahap awal, seperti belum mengenal huruf, membaca dengan sangat lambat, atau belum mampu menggabungkan suku kata. Dengan pendekatan bertahap, mulai dari pengenalan huruf, latihan fonik, penggabungan suku kata, hingga membaca kata dan kalimat sederhana, siswa menunjukkan perkembangan yang signifikan.[23] Temuan ini selaras dengan jurnal ―Pendampingan Belajar Membaca dan Menulis" yang melaporkan peningkatan substansial dalam kemampuan membaca setelah satu bulan pendampingan intensif; keselarasan ini menunjukkan bahwa SNC telah menerapkan prinsip pedagogis yang terbukti efektif dalam konteks pendidikan dasar. [24]</p>
          <p id="_paragraph-62">Namun penelitian lapangan juga menemukan bahwa keberhasilan program tidak terlepas dari tantangan yang khas bagi sekolah-sekolah di pedesaan, yang tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sarana dan prasarana, tetapi juga berkaitan erat dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat yang memengaruhi proses belajar siswa. Banyak siswa datang ke sesi pendampingan dalam keadaan lelah setelah mengikuti kegiatan belajar reguler sepanjang hari, sehingga tingkat fokus mereka menurun. Faktor lain seperti daya ingat lemah, kurangnya kepercayaan diri, dan lemahnya motivasi intrinsik memperlambat perkembangan sebagian siswa. Dari sisi humanity, kondisi ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional dan psikologis; setiap anak membawa latar belakang, beban, dan pengalaman pribadi ke dalam ruang belajar, sehingga membutuhkan pendekatan yang humanis, empatik, dan memahami ritme perkembangan masing-masing individu. Hasil kajian pada jurnal pembanding menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis siswa setelah pelaksanaan pendampingan membaca. Berdasarkan data yang disajikan pada halaman 4, kualitas tulisan siswa mengalami perkembangan setelah satu bulan pendampingan. Dari delapan siswa yang diamati, dua siswa berada pada kategori cukup baik, dua siswa pada kategori baik, dan empat siswa mencapai kategori sangat baik. Peningkatan tersebut berkaitan dengan kemampuan membaca yang semakin baik, terutama dalam mengenali huruf dan memahami struktur kata, yang selanjutnya berdampak pada keterampilan menulis siswa. Fakta ini sangat relevan untuk lingkungan madrasah pedesaan, di mana banyak siswa menghadapi masalah ganda: membaca dan menulis dengan benar dan rapi.[25]</p>
          <p id="_paragraph-63">Selain tantangan pada siswa, guru di MI Pedesaan juga menghadapi beban kerja yang cukup berat karena harus menangani kelas reguler sekaligus memberikan pendampingan tambahan. Mereka bekerja dalam kondisi media pembelajaran yang terbatas dan harus mengandalkan kreativitas untuk merancang kegiatan literasi yang menarik dengan menggunakan bahan sederhana.[26] Hal ini memperlihatkan bahwa peran guru dalam konteks pedesaan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping perkembangan anak yang memahami kemampuan, emosi, dan kebutuhan belajar mereka. Tantangan semakin besar ketika dikaitkan dengan konteks keluarga; sebagian besar orang tua bekerja sepanjang hari dan tidak memiliki waktu untuk melakukan pendampingan membaca di rumah. Minimnya budaya literasi di lingkungan keluarga membuat siswa tidak mendapatkan penguatan setelah belajar di sekolah. Temuan penelitian lapangan ini memperlihatkan bahwa proses pembelajaran di sekolah pedesaan berlangsung dalam ekosistem yang tidak ideal, di mana tanggung jawab literasi mayoritas bertumpu pada guru. Hal ini menjadi isu humanity yang penting, karena keberhasilan SNC tidak hanya bergantung pada metode, tetapi juga pada sejauh mana sekolah, keluarga, dan komunitas dapat berbagi tanggung jawab dalam mendukung perkembangan anak.</p>
          <p id="_paragraph-64">Evaluasi yang dilakukan setiap minggu dan setiap bulan menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan program SNC. Temuan lapangan menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi membantu guru memantau perkembangan masing-masing siswa secara lebih jelas, termasuk siswa yang mengalami perlambatan atau memerlukan pendampingan tambahan. Melalui evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan, guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran, seperti memperkuat latihan fonik, menggunakan pendekatan multisensori, atau menambahkan permainan pembelajaran agar siswa lebih tertarik mengikuti kegiatan membaca. Selain itu, kegiatan evaluasi juga membuka ruang kerja sama antara guru SNC, wali kelas, dan orang tua. Ketika terdapat siswa yang perkembangannya belum sesuai harapan, guru biasanya menjalin komunikasi yang lebih intens dengan orang tua untuk mendiskusikan bentuk pendampingan yang dapat dilakukan di rumah. Kondisi ini menunjukkan bahwa program SNC tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga menumbuhkan pemahaman bahwa perkembangan belajar anak merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Dalam konteks ini, evaluasi berfungsi sebagai sarana untuk memastikan bahwa setiap siswa, termasuk yang berada di lingkungan pedesaan dengan keterbatasan fasilitas, tetap memperoleh perhatian dan pendampingan sesuai kebutuhannya.</p>
          <p id="_paragraph-65">Dengan demikian, penelitian lapangan menunjukkan bahwa SNC memiliki keselarasan kuat dengan prinsip-prinsip keberhasilan pendampingan literasi yang ditemukan dalam jurnal pembanding. Program ini berpotensi menjadi model pendampingan literasi yang efektif bagi sekolah pedesaan lainnya, asalkan terus didukung dengan inovasi metode pembelajaran, pelatihan guru, komunikasi sekolah-rumah yang lebih intensif, serta evaluasi berkala yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca siswa, tetapi juga menghadirkan pendekatan yang lebih humanis yang melihat siswa bukan hanya sebagai individu yang harus mencapai standar akademik, tetapi sebagai anak-anak dengan kebutuhan emosional, keluarga, dan sosial yang perlu dipahami dan didukung. Dengan penguatan aspek-aspek tersebut, SNC dapat menjadi langkah strategis dalam mengurangi kesenjangan literasi di wilayah pedesaan dan memberikan peluang lebih luas bagi anak-anak untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya dengan kemampuan literasi dasar yang lebih baik.[27] Untuk menilai program SNC, standar keberhasilan dari jurnal pembanding digunakan sebagai acuan. Ini menunjukkan bahwa SNC telah menggunakan pendekatan yang sejalan. Kemampuan menulis, kecepatan membaca, dan kelancaran membaca meningkat secara bertahap pada siswa yang mengikuti SNC. Meskipun perkembangan siswa tidak selalu seragam, strategi SNC dapat membangun fondasi literasi yang lebih kuat; indikator keberhasilan ini menjadi tolak ukur penting bagi guru untuk mengetahui sejauh mana siswa bergerak menuju target literasi dasar.</p>
          <p id="_paragraph-66">Tetapi beberapa siswa berkembang lebih lambat dan membutuhkan pendampingan dan evaluasi lebih lanjut. SNC menggunakan evaluasi mingguan dan bulanan, yang merupakan alat penting untuk melacak perkembangan individu. Jika guru SNC, wali kelas, dan orang tua bekerja sama, proses pendampingan dapat semakin optimal.[28] Program SNC di Madrasah Ibtidaiyah Pedesaan berpotensi menjadi model pendampingan literasi yang berkelanjutan dan efektif jika komunikasi, metode pembelajaran, dan pemahaman orang tua diperbaiki.[29] Program ini juga dapat diterapkan pada madrasah pedesaan lainnya.</p>
          <p id="_paragraph-67">Di madrasah pedesaan, pelaksanaan program Student Need Care (SNC) dihadapkan pada berbagai tantangan yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Dari sisi guru, pendampingan membaca tambahan sering terkendala oleh keterbatasan waktu setelah jam pelajaran, beban mengajar yang cukup padat, serta metode pembelajaran yang belum selalu bervariasi. Kondisi tersebut membuat pelaksanaan pendampingan membaca belum dapat dilakukan secara optimal di setiap pertemuan. Sementara itu, banyak siswa mengalami kelelahan setelah jam sekolah biasa, tidak fokus, lupa bahan dengan cepat, dan kurang dorongan untuk belajar. Semua ini menyebabkan siswa lambat belajar. Dari sisi orang tua, sebagian besar bekerja setiap hari, sehingga mereka tidak memiliki waktu, pengetahuan, atau konsistensi untuk mendampingi anak-anak mereka berlatih membaca di rumah.[30] Mereka juga tidak dapat berkomunikasi dengan guru, yang berarti mereka tidak dapat memberikan dukungan yang optimal kepada anak-anak mereka. Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan SNC tidak hanya bergantung pada pendekatan guru; kondisi siswa dan lingkungan keluarga yang unik untuk masyarakat pedesaan juga berperan.</p>
          <p id="_paragraph-68">Siswa yang mengikuti program Student Need Care (SNC) memanfaatkan evaluasi berkala untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca. Dalam pelaksanaannya, guru SNC melakukan evaluasi mingguan dan bulanan. Ini termasuk koordinasi rutin dengan wali kelas dan pencatatan perkembangan individu. Pengenalan huruf, penggabungan suku kata, dan kemampuan membaca kata dan kalimat sederhana semuanya dinilai melalui evaluasi rutin ini. Dengan melakukan evaluasi yang sistematis, guru dapat segera mengetahui siswa yang mengalami stagnasi dalam perkembangan literasinya, membutuhkan intervensi tambahan, atau sebaliknya siswa sudah siap untuk kembali ke kelas reguler sesuai dengan kemampuan akademiknya. Evaluasi berkelanjutan ini membuat proses pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, yang dapat meningkatkan efektivitas program.</p>
          <p id="_paragraph-69">Pelaksanaan evaluasi secara berkala memengaruhi pilihan metode pembelajaran yang digunakan guru, sekaligus membantu pemetaan kemampuan membaca siswa. Melalui hasil evaluasi, guru dapat menilai apakah penggunaan latihan fonik, pengenalan suku kata, pendekatan multisensori, atau pembelajaran berbasis permainan sudah sesuai dengan kebutuhan siswa atau masih perlu disesuaikan. Berdasarkan temuan di lapangan, guru SNC menyampaikan bahwa beberapa siswa cenderung mudah lupa atau kurang fokus saat belajar. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menerapkan latihan yang diulang secara bertahap serta memanfaatkan pendekatan multisensori agar materi lebih mudah diingat oleh siswa. Data yang terus diperbarui memungkinkan guru untuk menyesuaikan program pengajaran setiap pekan untuk memenuhi kebutuhan unik siswa. Metode ini secara langsung meningkatkan kualitas pembelajaran karena setiap siswa menerima perlakuan yang sesuai dengan masalah yang mereka hadapi.</p>
          <p id="_paragraph-70">Selain itu, evaluasi berkala meningkatkan kerja sama antara guru SNC, wali kelas, dan orang tua. Guru dapat segera menghubungi orang tua melalui pesan atau langsung untuk meminta dukungan belajar di rumah ketika perkembangan siswa tidak signifikan. Hal ini meningkatkan kesadaran bahwa meningkatkan literasi adalah tanggung jawab guru dan keluarga. Evaluasi berkala masih dapat membantu orang tua menjadi lebih terlibat dalam membaca di rumah, meskipun komunikasi di pedesaan banyak terhambat oleh kesibukan orang tua. Ini adalah kerja sama sekolah-rumah yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja program SNC.</p>
          <p id="_paragraph-71">Oleh karena itu, evaluasi rutin memengaruhi pembelajaran membaca siswa dalam tiga cara: (1) menunjukkan kemampuan yang tepat untuk menentukan intervensi, (2) mengubah metode pengajaran sesuai dengan perkembangan siswa, dan (3) meningkatkan kolaborasi antara guru dan orang tua. Program SNC berhasil meskipun banyak masalah di lapangan berkat ketiga komponen tersebut. Evaluasi berkala menjadi alat penting yang memungkinkan guru menemukan kesulitan setiap siswa dan membuat rencana yang tepat untuk mereka. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa siswa yang belajar di madrasah pedesaan dengan keterbatasan fasilitas dan dukungan keluarga memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka, terutama bagi mereka yang belajar di madrasah pedesaan dengan evaluasi yang dilakukan secara teratur dan konsisten.</p>
        </sec>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-3751c3b08a8b0d9d62248fb04a207c70">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-73">Student Need Care (SNC) di Madrasah Ibtidaiyah Pedesaan dimaksudkan untuk membantu siswa kelas rendah yang mengalami kesulitan membaca karena mereka tidak menerima banyak stimulasi sejak dini dan tidak memiliki banyak dukungan belajar di rumah. Meskipun berada dalam kondisi sarana dan sumber daya yang terbatas,</p>
      <p id="_paragraph-74">SNC terbukti mampu memberikan pendampingan yang lebih terarah melalui pemetaan kemampuan awal, pengelompokan siswa berdasarkan tingkat, dan memberikan satu jam tambahan membaca setelah pembelajaran utama. Berbagai masalah, seperti siswa yang tidak termotivasi, kelelahan setelah sekolah, daya ingat yang buruk, dan keterlibatan orang tua yang rendah, menunjukkan bahwa keberhasilan program juga dipengaruhi oleh tindakan guru dan keadaan sosial ekonomi masyarakat pedesaan secara keseluruhan.</p>
      <p id="_paragraph-75">Program SNC masih efektif karena banyak tantangan. Namun, evaluasi mingguan dan bulanan dan evaluasi berkala menunjukkan bahwa siswa secara bertahap lebih baik dalam menulis, membaca, dan mengeja. Dengan evaluasi ini, guru dapat mengubah strategi pembelajaran mereka, melacak perkembangan individu, dan meningkatkan hubungan mereka dengan orang tua. Ketika dibandingkan dengan standar keberhasilan jurnal pendampingan membaca, SNC tampaknya telah menggunakan strategi yang berbeda untuk meningkatkan kecepatan membaca, kelancaran membaca, dan kemampuan menulis sebagai dampak lanjutan. SNC dapat menjadi model program literasi yang efektif dan berkelanjutan di madrasah-madrasah pedesaan dengan memperkuat komunikasi sekolah-rumah dan mengembangkan metode pembelajaran baru.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
